Monday, February 18, 2013

Pelajaran dari Belalang (2)

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands"

Satu ekor belalang kecil bisa terlihat lemah. Jika mau, kita bisa menghabisinya dengan sangat mudah hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya, datang dalam satu kelompok besar. Apa jadinya jika kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang sekaligus? Bagi para petani, itu merupakan bencana. Serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalang pun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin mengenai pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari belalang. Jika kemarin saya menyoroti masalah keteraturan atau taat peraturan termasuk didalamnya peraturan yang langsung berasal dari Tuhan, hari ini mari kita lihat mengenai kekuatan lewat sebuah kebersatuan dimana kerjasama merupakan faktor yang penting didalamnya.

Ada baiknya jika kita melihat sejenak mengenai apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, nyatanya Firaun tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya sebagai konsekuensinya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Apa yang terjadi tepatnya sebagai berikut. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Terdengar sangat mengerikan bukan? Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan bahkan beresiko membawa bencana. Agur bin Yake mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) dikatakan: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang  tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam kelompoknya secara kolektif untuk satu tujuan tertentu. Apa yang kita lihat belakangan ini adalah situasi dimana manusia semakin lama semakin sulit untuk bersatu, terus mementingkan ego dan selalu memperbesar jurang perbedaan. Bahkan seringkali kita menyaksikan betapa sulitnya kita yang seiman sekalipun untuk bersatu. Karenanya kita patut malu terhadap belalang ini. Mungkin di dunianya, masing-masing belalang punya kepentingan dan pendapatnya sendiri-sendiri juga, tetapi mereka bisa mengesampingkan itu semua demi kepentingan bersama. Mereka bisa bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu, dan hasilnya bisa sangat luar biasa besar. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.

Walaupun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding tembok kita sendiri tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah seperti belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, sudah seharusnya kita lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang diinginkan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).

Demikian pentingnya persekutuan, karenanya itu jangan sampai kita abaikan atau nomorduakan. Disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Apabila kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, seharusnya kita menyadari kekuatan yang bisa hadir lewat sebuah kerjasama. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu selanjutnya dikatakan: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 17, 2013

Pelajaran dari Belalang (1)

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
"belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur"

Salah satu tipikal karakter manusia yang sering kita jumpai adalah sulit diatur, tapi sebaliknya senang mengatur. Orang senang mengatur karena dengan demikian mereka seakan memiliki otoritas dan kewenangan sehingga berada di atas orang lain. Sebaliknya harga diri seakan anjlok ke titik nadir jika harus hidup dibawah aturan atau perintah orang lain. Maka kita melihat banyak orang yang melanggar berbagai peraturan-peraturan seenaknya meski mereka tahu bahwa itu baik. Ada banyak orang yang senang membangkang bahkan mudah untuk melawan karena merasa harga dirinya terpijak jika berada di bawah perintah orang lain. Dalam dunia pekerjaan kita melihat sebuah syarat yang hampir selalu ada selain jenjang pendidikan minimal, yaitu "mampu untuk bekerja sama dalam tim". Ini menjadi semakin penting karena manusia tampaknya semakin kehilangan sifat sosialnya digantikan oleh ego yang semakin tinggi. Dalam rumah tangga hal yang sama pun terjadi. Ada banyak rumah tangga yang akhirnya hancur berantakan karena anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua, atau suami/istri yang sama-sama mempertahankan ke-egoisannya. Itulah salah satu sifat negatif manusia yang seringkali menjerumuskan ke jurang kehancuran. Egois, individualis dan sulit untuk diatur.

Dalam hal ini manusia harusnya malu terhadap belalang. "Belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur" (Amsal 30:27), demikian kata Agur bin Yake. Belalang yang tidak punya raja saja ternyata bisa teratur, sedangkan kita yang memiliki Raja di atas segala Raja, malah hidupnya tidak punya aturan. Belalang bukanlah hewan yang punya senjata mematikan atau tenaga yang kuat. Belalang adalah hewan yang lemah dan sangat rentan terhadap bahaya. Jika seekor belalang masuk ke dalam rumah, kita tidak akan kesulitan untuk menangkapnya bukan? Tapi cobalah lihat betapa bahayanya jika belalang datang berkelompok untuk menghancurkan pertanian. Dan hebatnya, mereka bisa teratur untuk bekerja dalam satu tim untuk satu tujuan yang sama.

Karena itulah lewat perkataan Agur bin Yake ini kita diajak untuk belajar dari belalang mengenai keteraturan. Belajar mematuhi aturan dan belajar untuk hidup disiplin sesuai firman Tuhan. Kita harus mampu melatih diri kita untuk mau hidup teratur dalam berdoa, saat teduh, membaca alkitab dan sebagainya. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Ya, tanpa mematuhi firman Tuhan, kita tidak akan mampu untuk tumbuh secara rohani dan tidak akan diselamatkan.

Teratur seringkali tidak mudah. Bisa sangat sulit bagi kita untuk mau mulai untuk patuh terhadap aturan Firman Tuhan, namun ingatlah bahwa apa yang akan kita peroleh pun sebanding. Betapa indahnya jika sebuah keluarga saling mengasihi dan hidup sesuai aturan, dan mau bersepakat bersama-sama membangun sebuah mesbah doa keluarga. Apa yang akan kita peroleh? Demikian firman Tuhan: "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 18:19). Sama seperti belalang di dunia hewan, kita pun merupakan mahluk yang lemah dan rentan terhadap bahaya. Kita tidak akan bisa berbuat apa-apa jika hidup menuruti ego dan berjalan sendiri-sendiri, apalagi jika menjadi orang yang sulit diatur atau sulit mematuhi aturan, termasuk di dalamnya peraturan-peraturan Tuhan. Disiplin adalah sesuatu yang harus dilatih. Hari ini marilah kita mulai melatih diri untuk memiliki hidup yang teratur agar hidup kita berkenan di hadapan Tuhan.

Belalang tidak punya pemimpin saja mampu hidup teratur, kita yang memiliki Raja di atas segala raja seharusnya bisa lebih


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 16, 2013

Love Never Fails

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
===================
"Love never fails" (Amplified Bible)

Ada empat ekor anjing di rumah saya yang cukup terlatih sehingga mengerti ketika disuruh, dipuji atau ditegur jika salah. Saya tidak bisa mengkomunukasikannya langsung karena tentu saja bahasa kita dengan hewan seperti anjing itu berbeda. Beberapa jenis hewan yang pintar memang bisa dilatih untuk mengerti beberapa dari bahasa kita, tapi itu tidak akan bisa sepenuhnya. Lantas bagaimana caranya menjembatani komunikasi untuk bisa saling mengerti? Apa yang menjadi dasar atau awalnya? Tentu hubungan personal antara kita dan hewan peliharaan harus dibina terlebih dahulu. Jika tidak, maka mustahil mereka mau menuruti apa yang kita perintahkan. Membina hubungan memerlukan sebuah awal pula, dan awal yang terbaik untuk itu menurut pengalaman saya adalah kasih. Itu yang kami terapkan di rumah, dan kini keempat anjing ini sangat mengerti apa yang benar dan salah. All started with love. Mereka tahu bahwa mereka dikasihi, dan mulai belajar segalanya bermula dari kasih. Jika kepada hewan saja kasih mampu menciptakan sebuah ikatan dengan tujuan kebaikan, apalagi kepada sesama manusia. Singkatnya, saya percaya satu hal yang juga ditekankan oleh alkitab, dan rasanya ini tepat untuk diangkat di hari kasih sayang tahun ini, yaitu bahwa sebuah Kasih tidak akan pernah gagal.

Kita bisa membaca ayat tersebut dalam 1 Korintus 13:8. Benar, dalam Alkitab kita ayatnya berbunyi: "Kasih tidak berkesudahan." Tetapi jika kita melihat versi Amplified Bible, disana ayat ini berbunyi "Love never fails". Kasih atau love tidak akan pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik. Seorang pendeta pernah berkata bahwa apabila Alkitab ini seperti sebuah jeruk, apabila diperas habis maka sari yang akan kita peroleh adalah kasih. Dan itu benar adanya. Semua bermuara kepada kasih. Kasih pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40).

Tuhan telah menganugerahkan kasih kepada setiap manusia sejak semula. Mulai dari ciptaan yang pertama, yang pernah ada, yang hidup saat ini sampai kepada generasi-generasi selanjutnya. Ini adalah sebuah pemberian yang luar biasa besarnya dan indahnya, karena bisa kita bayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kasih. Tidak saja memberikan kasih kepada manusia, tapi Tuhan sendiri telah terlebih dahulu menunjukkan kasihNya yang teramat sangat besar justru di kala manusia masih hidup berselubung dosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Sebagai bukti kasihNya kepada kita, Yesus pun hadir di dunia ini, rela mengorbankan segalanya demi diri kita semua. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Itu sebentuk kasih yang sungguh besar yang bahkan sulit untuk ditiru oleh manusia. Dan lihatlah bahwa adalah kasih pula yang sanggup menggerakkan Allah untuk rela melakukan hal seperti itu. Mungkin kita mau mengorbankan nyawa demi anak atau istri/suami, orang tua atau saudara, tapi maukah kita memberikan nyawa bagi orang yang tidak kita kenal sama sekali? Atau kepada orang yang berperilaku jahat? Rasanya tidak satupun dari kita yang mau, tapi Tuhan mau. Itu adalah bukti dari kasihNya yang begitu besar, yang sudah Dia lakukan bagi kita semua. Jika hari ini kita hidup dalam sebuah kehidupan yang dekat secara pribadi dengan Tuhan, jika hari ini kita memiliki Roh Kudus yang senantiasa menuntun kita agar tidak salah melangkah, jika hari ini kita sudah diberikan kunci kerajaan Surga, artinya diberikan keselamatan lengkap dengan petunjuk melangkah agar semua itu terjadi dalam kepastian, itu semua adalah berkat Yesus yang rela turun ke dunia mengambil rupa seorang hamba, dan itu adalah penggenapan dari kehendak Allah yang didasari kasih kepada semua manusia.

Jika Allah mengasihi kita sebegitu besar, bukankah kita pun harus mengasihi Tuhan kembali, dan harus pula bisa mengaplikasikan kasih yang sama kepada sesama? Tidakkah keterlaluan apabila kita justru lebih tertarik mengisi hidup dengan banyak kebencian, iri hati, dengki dan sejenisnya? Firman Tuhan tegas berkata: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Dan itu wajar mengingat Allah sendiri mengasihi kita semua dengan kasih setiaNya yang melimpah. Lalu jika ada yang berkata bahwa ia tidak memiliki kasih seperti itu dalam hidupnya? Alkitab sudah menyebutkan bahwa kita semua telah memiliki bentuk kasih yang seperti itu dalam hidup kita! Dalam Roma 5:5 kita bisa membaca dengan jelas bahwa kasih Tuhan telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Lihatlah bahwa yang dipakai adalah "telah dicurahkan", bukan akan, bakal atau mudah-mudahan dicurahkan. Artinya, semua itu sebenarnya sudah kita miliki sepenuhnya lewat Roh Kudus. Tinggal kita yang memutuskan apakah kita mau berjalan dalam hidup ini dengan digerakkan oleh kasih atau kita masih terus berpusat pada kepentingan diri sendiri dan sulit untuk mengasihi dan bersyukur buat orang lain.

Kasih merupakan elemen terpenting yang seharusnya menjadi pola dasar kehidupan kekristenan, dan dengan sendirinya menjadi cerminan nyata dari kehidupan orang percaya. Ketika yang lain akan berakhir, tidak demikian halnya dengan kasih. "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap...Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:8,13). Kasih akan terus menuntun kita ke dalam koridor yang benar menuju keselamatan, dan masih akan berlaku di kehidupan kekal nanti. Seperti itulah pentingnya kasih yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita semua.

Adakah diantara anda yang saat ini tengah frustasi karena keluarga anda tidak kunjung mengalami pemulihan? Apakah anda mulai putus asa melihat anggota keluarga yang terus terjerumus dalam dosa? Komunikasi yang sepertinya sulit terbangun diantara anda, atau anda stres akibat berbagai permasalahan yang seakan tidak selesai? Ingatlah bahwa firman Tuhan sudah berkata bahwa kasih tidak pernah gagal. Kasih mampu mengatasi berbagai permasalahan dan menjaga agar sukacita senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Jika anda lelah menghadapi orang-orang yang sulit, frustasi karena mereka tidak kunjung berubah, merasa putus asa dalam kesedihan, atau bahkan kecapaian sendiri dengan membenci atau iri hati terhadap orang lain, mengapa tidak menggantikannya dengan kasih? Ingatlah kasih tidak pernah gagal. Kasih mampu membawa berbagai berkat dari Tuhan, damai sukacita bahkan pemulihan dalam hidup kita.Sentuhlah orang lain dengan kasih yang berasal dari Tuhan, dan saksikanlah bagaimana kasih mampu mengubahkan segalanya menjadi sangat baik. Apapun yang anda alami saat ini, tetaplah dasarkan segalanya dalam kasih. Keep living in/with love, because love never fails.

Bertumbuhlah dalam kasih sebab kasih tidak pernah gagal

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 15, 2013

Menyatakan Kasih secara Nyata

Ayat bacaan: 1 Yohanes 4:7
===========================
"Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah."

"Apa yang saya suka di hari Valentine adalah mal, restoran dan tempat-tempat lainnya didesain bernuansa pink, penuh lambang cinta dan lagu-lagu romantis." kata teman saya. Benar, itu menjadi pemandangan dimana-mana menjelang perayaan Valentine setiap tahunnya. Di sisi lain, ada pula teman yang berseberangan dan menganggap Valentine hanyalah produk pasar semata. "Kalau mau sayang, ya nggak usah pakai hari khusus..setiap hari juga bisa. Itu bisa-bisanya pebisnis saja." katanya enteng. Saya tidak ingin memperdebatkan hal ini. Idealnya tentu saja kalau kita bisa menyatakan kasih kepada orang-orang terdekat kita dan juga menyentuh orang lain secara luas setiap hari. Tapi terkadang 24 jam sehari itu tidak cukup untuk bisa merealisasikan hal itu. Jika anda tinggal di kota yang berbeda dengan orang tua atau saudara, anda tentu akan tahu bahwa itu sulit dilakukan. Dengan adanya sebuah hari yang diberi label hari kasih sayang, setidaknya sehari dalam seminggu kita bisa memiliki sebuah hari yang khusus didekasikan untuk orang yang kita cintai atau kasihi. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa lewat kartu yang dikirim lewat pos, e-card, ucapan lewat berbagai social networking, sepucuk surat cinta, sms, telepon atau yang lebih menyenangkan lagi tentu merayakannya secara langsung. Terutama yang punya kekasih, banyak yang punya tradisi untuk mengajak orang yang dicintai ke restoran menikmati candle light dinner, menyatakan lewat seikat bunga mawar, bertukar kado dan sebagainya. Ada banyak restoran menawarkan paket Valentine lengkap dengan sekuntum bunga dan paket-paket acara spesial lainnya, toko-toko dan mal pun biasanya membuat dekorasi khusus Valentine.

Seringkali kita mengabaikan pentingnya menyatakan ungkapan kasih kepada orang-orang terdekat kita karena hidup kita sudah terlalu padat dengan aktivitas pekerjaan atau rutinitas-rutinitas lainnya. Ada banyak pasangan yang merasa itu tidak penting lagi karena mereka sudah cukup lama hidup bersama. Ada yang mengabaikannya karena merasa masih ada banyak waktu nanti untuk itu. Dan saya pun bertemu, mendengar atau membaca kisah tentang banyak orang yang menyesal belum sempat menyatakan kasih mereka secara baik selagi orang yang mereka cintai masih hidup. Ambil contoh ketika tragedi 9/11 terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Ada begitu banyak orang menyadari bahwa mereka tidak seharusnya menunda lebih lama lagi untuk menyampaikan ucapan cinta kepada orang-orang terdekatnya. Dan ketika tragedi itu datang, mereka pun menyesal karena semuanya sudah terlambat. Mungkin sudah sifat manusia untuk terlena ketika semuanya masih ada, kemudian baru sadar ketika kesempatan untuk itu sudah tidak ada lagi. Tidak perlu ada hari khusus jika kita sanggup menyatakan kasih kita kepada pasangan, keluarga dekat dan teman-teman kita setiap hari. Tetapi jika kita menyadari betapa hari-hari kita begitu padat sehingga tidak sempat untuk itu, maka hari valentine bisa kita pakai sebagai sebuah momen yang indah untuk mengungkapkan kasih kita pada mereka.

Apakah kita cukup menyatakan kasih hanya kepada pasangan kita saja? Itu tidaklah cukup menurut standar Tuhan. Seharusnya kita tidak berhenti hanya sampai disitu saja. Ingatlah bahwa ada orang-orang yang sangat bermakna dalam hidup kita. Orang tua kita, kakek dan nenek, saudara, sahabat dan teman-teman, mungkin juga tetangga, dosen/guru atau bahkan orang-orang lain yang hidupnya masih tidak merasakan kasih, baik kasih manusia maupun kasih Allah.  Ayat bacaan hari ini menyatakan jelas akan hal itu. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah." (1 Yohanes 4:7). Ayat ini mengajak kita untuk saling mengasihi secara luas karena seharusnya kasih Allah itu ada di dalam kita begitu kita lahir dari Allah dan mengenalNya dengan baik. Kasih berasal dari Allah, kita lahir dari Allah. Jadi sudah seharusnya kasih berada di dalam diri kita.  Yesus pun mengajarkan yang sama. "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Yesus memberi sebuah dimensi baru mengenai kasih, yaitu sebuah kasih seorang yang begitu besar hingga sanggup memberikan nyawa untuk sahabat-sahabatnya. (Yohanes 15:13). Tidak hanya teoritis saja, tetapi Yesus telah melakukannya sendiri lewat karya penebusanNya di atas kayu salib, karena Dia begitu mengasihi kita.

Valentine's day is a day of love. Berikan perhatian khusus dan ucapan atau ungkapan kasih anda pada semua orang-orang terdekat anda. Ini saatnya untuk menyatakan kasih secara luas, setidaknya jadikan hari ini sebagai momentum untuk menghidupi kasih secara nyata dalam hidup kita. Ada banyak orang yang kehilangan kasih di sekitar kita. Orang yang tidak memperoleh kasih sayang dari orang tuanya, keluarga broken home, suami/istri yang bermasalah, orang-orang yang hidupnya begitu susah, dan sebagainya. Alangkah indahnya jika hari ini tidak hanya dipakai untuk kerabat terdekat saja, tapi sebagai titik tolak untuk membagikan sebentuk kasih yang kita terima dari Allah. "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." (1 Yohanes 4:11). Jika kita saling mengasihi, Allah ada di dalam kita dan kasihNya sempurna di dalam kita. (ay 12). Selain itu, anda bisa memanfaatkan hari kasih ini untuk memperbaiki hubungan dengan orang lain yang sedang retak. This is the moment. Let's celebrate the day of love by sharing God's love to each other. Happy Valentine's day!

Nyatakan kasih secara khusus hari ini, sebelum semuanya terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 14, 2013

Menyenangkan Hati Tuhan

Ayat bacaan: Hosea 6:6
===================
"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."

Seorang musisi senior baru saja dengan bangga bercerita tentang anaknya yang berprestasi dalam pendidikan musiknya di luar sana. Ia belajar disana dengan beasiswa dan biaya hidupnya ditanggung oleh sebuah departemen di Indonesia. Si anak ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Dalam waktu singkat ia pun segera menuai banyak prestasi disana. Tapi meski bangga, sang ayah bercerita bahwa ia merindukan kehadiran anaknya didekatnya. Untunglah teknologi jaman sekarang memungkinkan orang untuk bisa berhubungan dengan lebih mudah, murah dan cepat. Surat elektronik pun menjadi alternatif bagi mereka untuk bisa melepas rindu. Komunikasipun tidak lagi menjadi masalah dengan adanya internet. "Itu sangat bisa mengobati kerinduan saya. Lelah sehabis mengajar pun tidak lagi terasa ketika saya mendapat email dari dia." kata sang ayah. Ternyata kehadiran, kepedulian atau setidaknya kontak rutin dari seorang anak mampu membuat orang tua bersukacita. Itu membuat mereka gembira dan kembali segar meski kesibukan sehari-hari mungkin menguras energi mereka.

Jika orang tua kita bisa merasa senang ketika kita tetap menjalin hubungan yang erat dengan mereka, Tuhan, Bapa yang penuh kasih pun demikian. Dia selalu menantikan dan memiliki kerinduan agar kita datang kepadaNya dan menyenangkan hatiNya. Masalahnya banyak orang yang tidak tahu bagaimana caranya. Apakah kita bisa mengirim email kepadaNya? Bertelepon? Memeluk? Atau membuat secangkir kopi? Bukankah itu tidak bisa kita lakukan karena Tuhan tidak berada secara fisik di dekat kita seperti halnya ayah kita di dunia? Lalu bagaimana caranya? Sesungguhnya Alkitab sudah menyebutkan apa yang bisa menyenangkan hati Tuhan.

Salah satunya bisa kita lihat dalam kitab Hosea. Disana dikatakan  "..Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Kasih yang setia yang tidak lekang dimakan jaman, tidak gampang pudar karena godaan duniawi, dan kerinduan kita tanpa henti untuk semakin mengenal pribadi Bapa, itulah yang menyenangkan Tuhan, lebih dari segala perbuatan baik kita atau amal kita. Kita bahkan tidak perlu repot-repot mempersembahkan korban-korban sembelihan, karena itu tidaklah menyenangkanNya lebih daripada kasih setia yang tulus dari kita sendiri. Hal senaada disampaikan oleh Pemazmur. Dalam Mazmur dikatakan "TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya." (Mazmur 147:11). Menyenangkan hati Tuhan ternyata bisa kita lakukan dengan hidup takut akan Tuhan dan terus percaya penuh kepadaNya tanpa keraguan, tanpa banyak tanya. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Lewat pengenalan akan Tuhan, mengasihiNya dengan setia, menyadari dan percaya sepenuhnya kasih setia Tuhan dalam kondisi apapun yang kita alami, dan terus menjalani hidup dengan rasa takut akan Tuhan, itulah yang bisa kita perbuat untuk menyenangkan hati Tuhan.

Disamping itu kita pun harus terus mewaspadai setiap langkah dalam hidup ini karena ada begitu banyak keinginan daging yang akan selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan. Seringkali kita terjebak dan memberi toleransi kepada keinginan-keinginan kedagingan, dan mengira bahwa itu tidaklah apa-apa. Padahal Tuhan sama sekali tidak berkenan kepada orang-orang yang memilih untuk hidup dalam daging dan menomor duakan keinginan Roh! "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:8). Kemudian, apakah kita sudah berkenan meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain, untuk pemerintah, bangsa dan negara kita? Sudahkah kita menaikkan doa syafaat dan ucapan syukur buat orang lain, buat pemimpin-pemimpin kita? Hal ini pun penting untuk kita cermati, karena firman Tuhan berkata "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita" (1 Timotius 2:3).

Lebih dari korban bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia kita dan usaha kita untuk semakin jauh mengenal pribadiNya. Tuhan rindu untuk dapat bergaul karib dengan kita, dan seharusnya kita bisa menyikapi hal ini secara serius. Kepada kita yang menyenangkan hatiNya, yang berkenan di hadapanNya, Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia tidak akan menahan-nahan berkatNya untuk tercurah. "Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela." (Mazmur 84:11). Ini janji Tuhan kepada setiap anakNya yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya semata-mata karena mengasihi Tuhan lebih dari segala sesuatu. Tuhan akan sangat senang jika kita menjadikan diriNya prioritas utama dalam hidup kita. Dia akan sangat bangga jika kita mempersembahkan ibadah sejati kita dengan mempersembahkan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya. (Roma 12:1). Tetap percaya dan berpegang teguh kepadaNya dalam kondisi dan situasi seperti apapun. Selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, tetap bersukacita dan bersyukur meski dalam kesesakan sekalipun, dan tentunya tidak sekali-kali menomorduakan apalagi meninggalkan Tuhan demi kepentingan sesaat. Hari ini mari kita sama-sama belajar untuk menyenangkan hati Bapa lebih dari sebelumnya.

Bukan korban sembelihan dan bakaran, tetapi kasih setia dari orang benar, itulah yang menyenangkan hatiNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 13, 2013

Kompor Kecil Portable

Ayat bacaan: Matius 24:12
=====================
"Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin."

Jika anda masuk ke restoran-restoran yang menyediakan makanan Jepang, anda tentu akan bertemu dengan kompor kecil/kompor portabel yang juga disebut dengan portable gas stove yang biasanya dipakai untuk menu set shabu-shabu. Kompor kecil ini mampu membuat air tetap panas sehingga urusan rebus merebus ini bisa dilakukan sambil terus bersantap bersama teman dan keluarga di meja masing-masing. Bayangkan seandainya pengusaha restoran hanya menyediakan air mendidih tanpa adanya kompor kecil ini. Air akan segera menjadi dingin dan kemudian mustahil kita bisa merebus berbagai jenis hidangan pilihan kita.

Seperti halnya air menjadi dingin, kasih dalam diri kita pun bisa menjadi dingin. Tuhan Yesus sejak jauh hari sudah mengingatkan kemungkinan ini. Demikian bunyi Firman Tuhan: "Dan karena makin bertambahnya kedurhakaan, maka kasih kebanyakan orang akan menjadi dingin." (Matius 24:12). Dikatakan disana bahwa menjelang kesudahan dunia akan semakin banyak kedurhakaan. Kejahatan merajalela di mana-mana, kesesatan tumbuh subur. Dan berbagai hal itu akan mengakibatkan kasih kebanyakan orang menjadi dingin. Hal seperti ini sudah sering kita lihat di jaman sekarang. Kasih seringkali terbatas pada slogan saja, hanya disinggung dan dibicarakan, tapi jarang diaplikasikan dalam kehidupan secara nyata. Kita sering hanya terbawa kebiasaan dalam dunia, mengacu pada teori ekonomi semata berdasarkan prinsip untung rugi. Secara sadar atau tidak, kita sering terbawa ke dalam hal seperti ini. Bukan lagi memberi atau menolong karena kasih, tapi karena ada motivasi-motivasi atau alasan-pertimbangan lain di balik itu. Firman Tuhan berbicara jelas mengenai hal ini seperti apa yang dikatakan Paulus. "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." (1 Korintus 13:1-3). Tanpa kasih, semuanya tidak akan berguna alias sia-sia.

Jika tidak hati-hati, kasih bisa menjadi dingin. Meskipun kita melakukan berbagai perbuatan baik, tapi jika tidak disertai dengan dasar yang benar yaitu kasih, maka semua itu tidaklah berarti apa-apa. Hal ini bisa timbul di jaman sekarang ketika ada begitu banyak penyesatan dimana-mana, baik yang nyata-nyata kelihatan maupun yang samar-samar atau terselubung lewat berbagai bentuk yang bisa sangat menipu. Oleh karena itulah dalam menghadapi hidup di jaman yang sulit ini kita harus tetap memastikan bahwa kasih dalam diri kita jangan sampai menjadi dingin, terus menjaga kasih agar tetap hangat. Seperti air untuk shabu-shabu pada ilustrasi pembuka di atas, kita harus bisa menjaga 'air' kasih agar tetap mendidih, demikian pula kita harus bisa memastikan kasih dalam diri kita. Caranya tidak lain adalah dengan terus menjaga kedekatan hubungan kita dengan Tuhan. Terus rajin berkomunikasi denganNya lewat doa-doa kita, senantiasa bersyukur, memuji dan menyembahNya, tekun membaca dan merenungkan Firman  Tuhan, ini semua bisa memastikan kasih di dalam diri kita akan terus hangat.

Pengenalan akan Tuhan menjadi kunci utama untuk membuat kasih ini tidak menjadi dingin. Sebuah untaian kata yang ditulis Yohanes menjelaskan hal ini dengan sangat indah. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:7-8). Kasih bukan saja menjadi sifat Allah, tapi kasih itu sejatinya adalah pribadiNya sendiri. Karena itulah ketika kita mengenal Allah, yang tidak lain adalah kasih, kita pun dengan sendirinya akan terus memiliki kasih yang menyala-nyala dalam diri kita. Ketika Allah yang adalah kasih tinggal di dalam diri kita, maka hidup kita pun akan senantiasa memiliki kasih.

Kasih merupakan hukum yang terutama dalam kekristenan. Tuhan Yesus sendiri telah terlebih dahulu memberi teladan. Dia rela memberikan nyawaNya bagi kita ketika kita masih berdosa, dan oleh karena Dia kita diselamatkan. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Oleh karenanya tepatlah jika Yesus mengajarkan "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kasih dikatakan akan membuat perbuatan-perbuatan baik kita bermakna, juga bermakna di hadapan Tuhan. Kasih pun mampu membuat kita terhindar dari jebakan berbagai jenis dosa. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." (1 Petrus 4:8). Selain itu, kasih pun bisa menjadi jendela bagi orang-orang di sekitar kita untuk mengenal dan mengalami Tuhan lewat diri kita. "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Tetap dekat dengan Tuhan, mengenal pribadiNya terus lebih dalam lagi, itu akan berfungsi sebagai kompor portabel bagi kehangatan kasih di dalam diri kita. Jangan abaikan saat teduh, jangan lewatkan waktu-waktu berdoa dan bersekutu denganNya, jangan lupa bersyukur, tekunlah membaca dan merenungkan Firman Tuhan, dan jangan hindari pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita bisa terus bertumbuh dan saling membangun dengan saudara-saudara seiman. Mari pastikan kasih dalam diri kita tetap menyala, jangan sampai menjadi dingin.

Kasih akan senantiasa ada selama Tuhan ada dan diam bersama-sama dengan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 12, 2013

Iri Hati

Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Apa yang anda lakukan jika rumah anda kemasukan ular? Seorang teman yang tinggal di Australia baru saja bercerita bahwa ia kaget ketika melihat ular jenis tiger snake. Ular ini dikenal memiliki bisa mematikan yang bisa merusak sistem syaraf dan membunuh dalam waktu sekejap. Ular itu berada di dapurnya, dan ia hampir diserang ketika hendak memanggang roti. Tidak seorangpun dari kita yang ingin rumah kita kemasukan hewan berbahaya yang jelas-jelas tidak diundang seperti itu. Tapi ada kalanya kita lengah sehingga hewan itu bisa masuk dan mengancam keselamatan di rumah kita sendiri.Kita tentu merasa takut jika ada benda atau mahluk hidup yang punya potensi membahayakan masuk ke dalam rumah, yang artinya masuk ke dalam kehidupan kita. Masalahnya, banyak yang lupa bahwa ada pula dosa yang mungkin tidak terlihat nyata sebagai sebuah dosa, tapi bisa diam-diam menyelinap ke dalam hidup dan kemudian bisa menyerang dan akibatnya mematikan. Salah satunya jelas disebutkan di dalam Alkitab, yaitu dosa iri hati.

Iri hati adalah sebuah perasaan tidak puas yang timbul akibat keuntungan atau kesuksesan orang lain. Iri hati yang hinggap pada seseorang akan membuat mereka merasa tidak nyaman ketika ada orang lain yang lebih dari hebat, lebih kaya, lebih sukses dari mereka. Hal ini rasanya sepele, dan sangat mungkin kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan mungkin tanpa sadar kita rasakan, dan kita menganggapnya seolah-olah hanya sebuah ekspresi kekesalan sesaat yang alamiah, manusiawi dan tidak berbahaya. Kita cenderung memaklumi perasaan iri hati sebagai sesuatu yang wajar, Tapi berhati-hatilah. Iri hati adalah racun dari iblis yang mampu mengubah kasih menjadi kebencian, menghilangkan kasih dan akibatnya melumpuhkan iman dalam kehidupan kita.

Ayat bacaan hari ini berkata "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Artinya iri hati akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Perbuatan jahat seperti apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang terbuka ini? Jawabannya ada banyak sekali, mulai dari "sekedar" cemburu, depresi bahkan pembunuhan.

Pembunuhan seringkali merupakan akibat fatal yang diawali dari iri hati. Kita bisa melihat contohnya dalam Alkitab, yaitu pada kitab Kejadian mengenai Kain dan Habel. Kita lihat apa yang terjadi ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya "kalah". Hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. (Kejadian 4:5). Apa kata Tuhan melihat reaksi Kain tersebut? Inilah kata Tuhan. "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 7). Tuhan tidak berkata, "Kain, tidak apa-apa, itu adalah hal yang wajar. Jadi santai saja.." Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: "Kain, dosa sudah mengintip di depan pintu." Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Kain menyerah pada roh jahat, dan berawal dari iri hati, ia pun membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah, akibat dan konsekuensi yang timbul berawal dari iri hati yang dicatat alkitab.

Iri hati jelas adalah masalah yang serius, yang harus kita singkirkan sepenuhnya dan secepat mungkin, tanpa kompromi. Jika kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap "lebih serius" seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sadarilah betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena waktunya tidak lama lagi. Paulus mengatakan: "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:12-13). Yes, it's time to wake up. Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa kegelapan pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita lewat hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. "Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. "Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:14). Kita tidak ingin ular berbisa masuk dan membunuh kita, hal yang sama pun seharusnya kita terapkan untuk dosa-dosa yang kita anggap biasa atau kecil seperti iri hati.

Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...