========================
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands"
Satu ekor belalang kecil bisa terlihat lemah. Jika mau, kita bisa menghabisinya dengan sangat mudah hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan apa yang terjadi jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya, datang dalam satu kelompok besar. Apa jadinya jika kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang sekaligus? Bagi para petani, itu merupakan bencana. Serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalang pun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka. Saya ingin melanjutkan renungan kemarin mengenai pembelajaran yang bisa kita dapatkan dari belalang. Jika kemarin saya menyoroti masalah keteraturan atau taat peraturan termasuk didalamnya peraturan yang langsung berasal dari Tuhan, hari ini mari kita lihat mengenai kekuatan lewat sebuah kebersatuan dimana kerjasama merupakan faktor yang penting didalamnya.
Ada baiknya jika kita melihat sejenak mengenai apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, nyatanya Firaun tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya sebagai konsekuensinya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Apa yang terjadi tepatnya sebagai berikut. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Terdengar sangat mengerikan bukan? Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.
Satu belalang mungkin tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan bahkan beresiko membawa bencana. Agur bin Yake mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) dikatakan: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam kelompoknya secara kolektif untuk satu tujuan tertentu. Apa yang kita lihat belakangan ini adalah situasi dimana manusia semakin lama semakin sulit untuk bersatu, terus mementingkan ego dan selalu memperbesar jurang perbedaan. Bahkan seringkali kita menyaksikan betapa sulitnya kita yang seiman sekalipun untuk bersatu. Karenanya kita patut malu terhadap belalang ini. Mungkin di dunianya, masing-masing belalang punya kepentingan dan pendapatnya sendiri-sendiri juga, tetapi mereka bisa mengesampingkan itu semua demi kepentingan bersama. Mereka bisa bekerja sama dalam mencapai tujuan tertentu, dan hasilnya bisa sangat luar biasa besar. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.
Walaupun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding tembok kita sendiri tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah seperti belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, sudah seharusnya kita lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang diinginkan Tuhan sesungguhnya jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).
Demikian pentingnya persekutuan, karenanya itu jangan sampai kita abaikan atau nomorduakan. Disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Apabila kita menyadari bahwa kita hanyalah manusia yang lemah, seharusnya kita menyadari kekuatan yang bisa hadir lewat sebuah kerjasama. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu selanjutnya dikatakan: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.
Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Salah satu tipikal karakter manusia yang sering kita jumpai adalah sulit diatur, tapi sebaliknya senang mengatur. Orang senang mengatur karena dengan demikian mereka seakan memiliki otoritas dan kewenangan sehingga berada di atas orang lain. Sebaliknya harga diri seakan anjlok ke titik nadir jika harus hidup dibawah aturan atau perintah orang lain. Maka kita melihat banyak orang yang melanggar berbagai peraturan-peraturan seenaknya meski mereka tahu bahwa itu baik. Ada banyak orang yang senang membangkang bahkan mudah untuk melawan karena merasa harga dirinya terpijak jika berada di bawah perintah orang lain. Dalam dunia pekerjaan kita melihat sebuah syarat yang hampir selalu ada selain jenjang pendidikan minimal, yaitu "mampu untuk bekerja sama dalam tim". Ini menjadi semakin penting karena manusia tampaknya semakin kehilangan sifat sosialnya digantikan oleh ego yang semakin tinggi. Dalam rumah tangga hal yang sama pun terjadi. Ada banyak rumah tangga yang akhirnya hancur berantakan karena anak-anak yang tidak patuh kepada orang tua, atau suami/istri yang sama-sama mempertahankan ke-egoisannya. Itulah salah satu sifat negatif manusia yang seringkali menjerumuskan ke jurang kehancuran. Egois, individualis dan sulit untuk diatur.
Ada empat ekor anjing di rumah saya yang cukup terlatih sehingga mengerti ketika disuruh, dipuji atau ditegur jika salah. Saya tidak bisa mengkomunukasikannya langsung karena tentu saja bahasa kita dengan hewan seperti anjing itu berbeda. Beberapa jenis hewan yang pintar memang bisa dilatih untuk mengerti beberapa dari bahasa kita, tapi itu tidak akan bisa sepenuhnya. Lantas bagaimana caranya menjembatani komunikasi untuk bisa saling mengerti? Apa yang menjadi dasar atau awalnya? Tentu hubungan personal antara kita dan hewan peliharaan harus dibina terlebih dahulu. Jika tidak, maka mustahil mereka mau menuruti apa yang kita perintahkan. Membina hubungan memerlukan sebuah awal pula, dan awal yang terbaik untuk itu menurut pengalaman saya adalah kasih. Itu yang kami terapkan di rumah, dan kini keempat anjing ini sangat mengerti apa yang benar dan salah. All started with love. Mereka tahu bahwa mereka dikasihi, dan mulai belajar segalanya bermula dari kasih. Jika kepada hewan saja kasih mampu menciptakan sebuah ikatan dengan tujuan kebaikan, apalagi kepada sesama manusia. Singkatnya, saya percaya satu hal yang juga ditekankan oleh alkitab, dan rasanya ini tepat untuk diangkat di hari kasih sayang tahun ini, yaitu bahwa sebuah Kasih tidak akan pernah gagal.
"Apa yang saya suka di hari Valentine adalah mal, restoran dan tempat-tempat lainnya didesain bernuansa pink, penuh lambang cinta dan lagu-lagu romantis." kata teman saya. Benar, itu menjadi pemandangan dimana-mana menjelang perayaan Valentine setiap tahunnya. Di sisi lain, ada pula teman yang berseberangan dan menganggap Valentine hanyalah produk pasar semata. "Kalau mau sayang, ya nggak usah pakai hari khusus..setiap hari juga bisa. Itu bisa-bisanya pebisnis saja." katanya enteng. Saya tidak ingin memperdebatkan hal ini. Idealnya tentu saja kalau kita bisa menyatakan kasih kepada orang-orang terdekat kita dan juga menyentuh orang lain secara luas setiap hari. Tapi terkadang 24 jam sehari itu tidak cukup untuk bisa merealisasikan hal itu. Jika anda tinggal di kota yang berbeda dengan orang tua atau saudara, anda tentu akan tahu bahwa itu sulit dilakukan. Dengan adanya sebuah hari yang diberi label hari kasih sayang, setidaknya sehari dalam seminggu kita bisa memiliki sebuah hari yang khusus didekasikan untuk orang yang kita cintai atau kasihi. Bentuknya bisa bermacam-macam. Bisa lewat kartu yang dikirim lewat pos, e-card, ucapan lewat berbagai social networking, sepucuk surat cinta, sms, telepon atau yang lebih menyenangkan lagi tentu merayakannya secara langsung. Terutama yang punya kekasih, banyak yang punya tradisi untuk mengajak orang yang dicintai ke restoran menikmati candle light dinner, menyatakan lewat seikat bunga mawar, bertukar kado dan sebagainya. Ada banyak restoran menawarkan paket Valentine lengkap dengan sekuntum bunga dan paket-paket acara spesial lainnya, toko-toko dan mal pun biasanya membuat dekorasi khusus Valentine.
Seorang musisi senior baru saja dengan bangga bercerita tentang anaknya yang berprestasi dalam pendidikan musiknya di luar sana. Ia belajar disana dengan beasiswa dan biaya hidupnya ditanggung oleh sebuah departemen di Indonesia. Si anak ternyata tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga ini. Dalam waktu singkat ia pun segera menuai banyak prestasi disana. Tapi meski bangga, sang ayah bercerita bahwa ia merindukan kehadiran anaknya didekatnya. Untunglah teknologi jaman sekarang memungkinkan orang untuk bisa berhubungan dengan lebih mudah, murah dan cepat. Surat elektronik pun menjadi alternatif bagi mereka untuk bisa melepas rindu. Komunikasipun tidak lagi menjadi masalah dengan adanya internet. "Itu sangat bisa mengobati kerinduan saya. Lelah sehabis mengajar pun tidak lagi terasa ketika saya mendapat email dari dia." kata sang ayah. Ternyata kehadiran, kepedulian atau setidaknya kontak rutin dari seorang anak mampu membuat orang tua bersukacita. Itu membuat mereka gembira dan kembali segar meski kesibukan sehari-hari mungkin menguras energi mereka.
Jika anda masuk ke restoran-restoran yang menyediakan makanan Jepang, anda tentu akan bertemu dengan kompor kecil/kompor portabel yang juga disebut dengan portable gas stove yang biasanya dipakai untuk menu set shabu-shabu. Kompor kecil ini mampu membuat air tetap panas sehingga urusan rebus merebus ini bisa dilakukan sambil terus bersantap bersama teman dan keluarga di meja masing-masing. Bayangkan seandainya pengusaha restoran hanya menyediakan air mendidih tanpa adanya kompor kecil ini. Air akan segera menjadi dingin dan kemudian mustahil kita bisa merebus berbagai jenis hidangan pilihan kita.
Apa yang anda lakukan jika rumah anda kemasukan ular? Seorang teman yang tinggal di Australia baru saja bercerita bahwa ia kaget ketika melihat ular jenis tiger snake. Ular ini dikenal memiliki bisa mematikan yang bisa merusak sistem syaraf dan membunuh dalam waktu sekejap. Ular itu berada di dapurnya, dan ia hampir diserang ketika hendak memanggang roti. Tidak seorangpun dari kita yang ingin rumah kita kemasukan hewan berbahaya yang jelas-jelas tidak diundang seperti itu. Tapi ada kalanya kita lengah sehingga hewan itu bisa masuk dan mengancam keselamatan di rumah kita sendiri.Kita tentu merasa takut jika ada benda atau mahluk hidup yang punya potensi membahayakan masuk ke dalam rumah, yang artinya masuk ke dalam kehidupan kita. Masalahnya, banyak yang lupa bahwa ada pula dosa yang mungkin tidak terlihat nyata sebagai sebuah dosa, tapi bisa diam-diam menyelinap ke dalam hidup dan kemudian bisa menyerang dan akibatnya mematikan. Salah satunya jelas disebutkan di dalam Alkitab, yaitu dosa iri hati.