==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
Pernahkah anda mendengar profesi "coffee cupper" atau "coffee taster"? Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa dan aroma dari secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup. Sekalipun anda tidak berprofesi sebagai coffee cupper tetapi anda telah berhubungan bertahun-tahun dengan yang namanya kopi, anda akan memiliki kepekaan tersendiri akan kualitas kopi. Saya sering berbincang-bincang dengan seorang penjual kopi generasi ke tiga. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentang kopi, maka ia tumbuh menjadi orang yang peka dan ahli di bidangnya. Ia selalu bersemangat dalam menerangkan jenis-jenis kopi, rasa yang akan di dapat atau tajam/tidaknya aroma dari masing-masing jenis kopi. Itu di dunia kopi. Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah "wine taster", orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.Kepekaan bisa terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Itu sama dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka. Kita tidak akan secara instan bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
(Efesus 5:10). Bagaimana bisa menguji jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran? Lebih lanjut Paulus berkata, untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Istilah "anak terang" dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (ay 13).
Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya bisa bermacam-macam, jalan masuknya pun demikian. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Dan itu bisa dicapai dengan tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan "coffee-cupper" dan "wine taster" yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.
Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Seorang teman datang kepada saya dan menangis, karena suaminya baru saja meminta persetujuannya untuk kawin lagi. Alasannya? "Karena setelah 3 tahun menikah saya belum juga bisa memberinya anak.." katanya sambil terus menangis. Ini adalah potret buram di negara kita seperti halnya di beberapa negara lainnya. Ironis sekali karena ketika saya tanya apakah mereka sudah pernah ke dokter untuk mengetahui letak permasalahannya, ia berkata belum. "Suamiku tidak mau diperiksa" katanya. Sangatlah tidak adil bagi teman saya itu, karena bisa jadi permasalahan bukan terletak pada dirinya tapi mungkin saja sang suami yang punya masalah dengan kesuburannya. Betapa sempitnya jika kesuksesan sebuah pernikahan hanyalah diukur dari ada tidaknya anak. Itu terlalu sempit. Benar, kita tentu mendambakan buah hati sebagai penerus keturunan, tetapi itu bukanlah hal yang terpenting dari sebuah ikatan dari dua menjadi satu dimana Tuhan sendirilah yang bertindak sebagai saksi atas ikrar yang kita ucapkan dalam sebuah pernikahan (Maleakhi 2:14). Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak. Pernikahan bukanlah peternakan.
Hari ini ketika berjalan-jalan di supermarket, saya melihat sederetan botol-botol minuman dengan berbagai merek, kemasan dan rasa. Semuanya tentu mengandung air, tetapi harganya beragam. Sesama air mineral saja bisa berbeda harga. Ada yang karena mereknya, ada pula yang ditambahi oksigen sehingga dikatakan akan lebih sehat dan segar untuk diminum dibandingkan air biasa. Cukup lama saya mengamat-amati berbagai jenis minuman ini, sehingga saya pun berpikir, jika air mineral saja sudah lebih mahal dibanding air putih biasa, bagaimana jika dibandingkan dengan anggur? Tentu harganya akan jauh lebih tinggi. Sama-sama air, sama-sama minuman, tapi jauh berbeda nilainya. Saya pun teringat ketika Yesus mengadakan mukjizat merubah air menjadi anggur di sebuah pesta perkawinan yang tercatat dalam Alkitab.
Ada dua jenis pohon yang disebutkan berbarengan di dalam Alkitab untuk menunjukkan seperti apa seharusnya orang benar itu berperan di lingkungannya masing-masing, atau bahkan di dunia. Kedua pohon yang menggambarkan peran dari orang benar ini tertulis di dalam kitab Mazmur. Dalam Mazmur 92:13 yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini, Pemazmur mengatakan "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon" (Mazmur 92:13). Adalah menarik melihat bahwa orang benar dikatakan akan:
Sebuah acara tentang singa di televisi menunjukkan adegan ketika mereka memburu sekumpulan kerbau liar untuk dimangsa. Sergapan mendadak di tengah kegelapan malam membuat kerbau-kerbau itu panik dan berlarian kocar-kacir. Ada satu kerbau yang akhirnya berakhir menjadi santapan sang singa betina, dan naratornya mengatakan bahwa kerbau malang itu adalah kerbau yang terlemah. Di adegan memang jelas terlihat bahwa si korban kebingungan mau lari kemana, mungkin termakan oleh rasa paniknya sendiri. Narator film dokumenter itu pun kemudian meneruskan bahwa dalam melakukan sergapan, singa mampu dengan cepat melihat mangsa yang terlemah diantara kumpulan itu sehingga mereka tidak akan kehilangan mangsanya.
Ada seorang malang yang tengah dirasuk roh jahat ketika ia keluar dari area pekuburan. Roh jahat yang masuk ke dalam orang itu begitu banyaknya hingga disebutkan sebagai sebuah legiun. Tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya, bahkan rantai sekalipun tidak mampu menahannya. Kisah ini tertulis dalam perikop berjudul "Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa" dalam Markus 5:1-20. Adalah Yesus yang pada akhirnya sanggup melepaskan orang malang dari Gerasa ini. Begitu bersukacitanya si orang malang setelah dilepaskan, maka untuk mengungkapkan rasa syukurnya ia pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Tapi lihatlah reaksi menarik Yesus terhadap permintaannya itu. "Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19). Mengapa Yesus tidak mengijinkan orang ini untuk mengikutinya, seperti halnya para murid? Lantas apa yang diminta Yesus untuk ia lakukan? Ayat di atas dengan sangat jelas memberikan alasannya.