Thursday, February 7, 2013

Coffee Cupper

Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."

Pernahkah anda mendengar profesi "coffee cupper" atau "coffee taster"? Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa dan aroma dari secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup. Sekalipun anda tidak berprofesi sebagai coffee cupper tetapi anda telah berhubungan bertahun-tahun dengan yang namanya kopi, anda akan memiliki kepekaan tersendiri akan kualitas kopi. Saya sering berbincang-bincang dengan seorang penjual kopi generasi ke tiga. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentang kopi, maka ia tumbuh menjadi orang yang peka dan ahli di bidangnya. Ia selalu bersemangat dalam menerangkan jenis-jenis kopi, rasa yang akan di dapat atau tajam/tidaknya aroma dari masing-masing jenis kopi. Itu di dunia kopi.  Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah "wine taster", orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.

Kepekaan bisa terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Itu sama dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka. Kita tidak akan secara instan bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
 (Efesus 5:10). Bagaimana bisa menguji jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran? Lebih lanjut Paulus berkata, untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Istilah "anak terang" dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (ay 13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya bisa bermacam-macam, jalan masuknya pun demikian. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Dan itu bisa dicapai dengan tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan "coffee-cupper" dan "wine taster" yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 6, 2013

Pernikahan = Peternakan?

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
====================
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Seorang teman datang kepada saya dan menangis, karena suaminya baru saja meminta persetujuannya untuk kawin lagi. Alasannya? "Karena setelah 3 tahun menikah saya belum juga bisa memberinya anak.." katanya sambil terus menangis. Ini adalah potret buram di negara kita seperti halnya di beberapa negara lainnya. Ironis sekali karena ketika saya tanya apakah mereka sudah pernah ke dokter untuk mengetahui letak permasalahannya, ia berkata belum. "Suamiku tidak mau diperiksa" katanya. Sangatlah tidak adil bagi teman saya itu, karena bisa jadi permasalahan bukan terletak pada dirinya tapi mungkin saja sang suami yang punya masalah dengan kesuburannya. Betapa sempitnya jika kesuksesan sebuah pernikahan hanyalah diukur dari ada tidaknya anak. Itu terlalu sempit. Benar, kita tentu mendambakan buah hati sebagai penerus keturunan, tetapi itu bukanlah hal yang terpenting dari sebuah ikatan dari dua menjadi satu dimana Tuhan sendirilah yang bertindak sebagai saksi atas ikrar yang kita ucapkan dalam sebuah pernikahan (Maleakhi 2:14).  Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak. Pernikahan bukanlah peternakan.

Dari pengalaman pahit teman saya di atas dan banyak kasus lain mengenai kegagalan rumah tangga akibat tidak mendapat keturunan, saya melihat adanya kekeliruan atau salah kaprah mengenai tujuan utama mendirikan lembaga pernikahan. Mereka memandang pernikahan layaknya sebuah peternakan, dimana kita bisa mengembangbiakkan keturunan kita sebanyak yang kita mau. Sekali lagi, lembaga pernikahan bukanlah peternakan. Lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga yang sakral dimana Tuhan sendiri yang memateraikan pembentukannya, dan lembaga ini punya tujuan yang jauh lebih penting daripada sekedar memiliki keturunan. Apalagi jika dasarnya hanyalah "kejar tayang" atau takut disebut bujang lapuk bagi pria atau perawan tua bagi wantia, akibat nafsu, gengsi, desakan orang tua/keluarga dan lain-lain. Itu semua bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan menurut firman Tuhan.

Ayat bacaan hari ini diambil dari kitab paling awal dalam Alkitab yang menyatakan jelas tujuan Tuhan dalam penciptaan segala sesuatu, termasuk manusia. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ayat ini menyatakan dengan jelas tujuan Allah menciptakan pasangan wanita buat pria, yaitu sebagai penolong. Bukan sekedar penolong lalu berada di bawah pria, tetapi seorang penolong yang sepadan. "Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging." (ay 21). Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Itu menggambarkan sebuah hubungan erat, bahwa istri adalah bagian hidup suami, bukan sekedar alat pemuas nafsu dan "pabrik" pembuat anak.Tuhan melengkapi kita dengan seorang pasangan agar kita bisa saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling menolong dalam menjalani hidup dengan segala perbuatan baik yang memuliakanNya diatasnya. Dalam sebuah pernikahan yang diberkati Tuhan, kita bisa mengalami, menikmati dan saling berbagi sukacita dan cintakasih. Kita bisa saling support ketika salah satu tengah mengalami kesulitan. Kita bisa menghidupkan sebuah persekutuan dengan memuliakan Allah diatas segalanya. Janji pernikahan yang kita ucapkan pun menyatakan hal itu, bukan menyatakan bahwa kita menikah untuk membuat anak. Memiliki penerus garis keturunan adalah penting dan merupakan dambaan hampir setiap orang, namun itu bukanlah yang satu-satunya tujuan untuk menikah, setidaknya menurut rencana Tuhan sejak semula.

Firman Tuhan selanjutnya berkata: "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN.." (Mazmur 127:3). Anak adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan dan bukan produk buatan kita. Jangan tawar hati jika anda sampai saat ini belum saatnya untuk dikaruniai anak. Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Tuhan, Sang Pencipta. Yang penting adalah kita menyadari hakekat dari sebuah pernikahan sesuai apa yang difirmankan Tuhan. Jangan merasa bahwa tanpa anak, lembaga pernikahan yang anda bangun sebagai sebuah kegagalan. Karena ada Allah yang bertahta di atasnya, yang telah memberkati dan mengikat penyatuan hubungan antara suami dan istri. Jadikan pernikahan sebagai tempat dimana anda bisa bersinergi dengan pasangan untuk memuliakan Tuhan, dan bersama-sama seiring sejalan melakukan kehendak Allah atas kehidupan kita. Pernikahan yang gagal bukanlah pernikahan yang tidak melahirkan anak, melainkan pernikahan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ada anak atau tidak, tetaplah miliki pernikahan yang sukses penuh dengan kebahagiaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 5, 2013

Dari Air Menjadi Anggur

Ayat bacaan: Yohanes 2:9
=====================
"Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya"

Hari ini ketika berjalan-jalan di supermarket, saya melihat sederetan botol-botol minuman dengan berbagai merek, kemasan dan rasa. Semuanya tentu mengandung air, tetapi harganya beragam. Sesama air mineral saja bisa berbeda harga. Ada yang karena mereknya, ada pula yang ditambahi oksigen sehingga dikatakan akan lebih sehat dan segar untuk diminum dibandingkan air biasa. Cukup lama saya mengamat-amati berbagai jenis minuman ini, sehingga saya pun berpikir, jika air mineral saja sudah lebih mahal dibanding air putih biasa, bagaimana jika dibandingkan dengan anggur? Tentu harganya akan jauh lebih tinggi. Sama-sama air, sama-sama minuman, tapi jauh berbeda nilainya. Saya pun teringat ketika Yesus mengadakan mukjizat merubah air menjadi anggur di sebuah pesta perkawinan yang tercatat dalam Alkitab.

Melanjutkan renungan mengenai orang benar kemarin, hari ini saya mengangkat kisah mengenai kisah kehadiran Yesus di pesta perkawinan di Kana yang terdapat dalam Yohanes 2:1-11. Ada banyak implikasi yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, tapi hari ini saya secara khusus hari ini saya ingin fokus kepada mukjizat yang dilakukan Yesus dengan mengubah air menjadi anggur. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Mungkin tamu yang hadir membludak jauh dari yang diperkirakan, sehingga mereka kehabisan anggur. Mari kita lihat situasi disana. "Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung." (Yohanes 2:6). Dua-tiga buyung itu kira-kira setara dengan 20-30 galon, kira-kira 100 liter bisa ditampung dalam masing-masing tempayan. "Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh." (ay 7). Setelah itu, Yesus meminta mereka untuk menyendok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. (ay 8). Lalu inilah yang terjadi. "Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya". (ay 9). Si pemimpin pesta pun terheran-heran. Segera ia memanggil mempelai pria, dan berkata: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."(ay 10). Ini ringkasan dari mukjizat awal sebagai permulaan dari pelayanan Kristus secara langsung di dunia.

Yesus mengubah air menjadi anggur. Bukan sekedar anggur biasa atau ala kadarnya, tapi jelas dikatakan anggur yang baik. (ay 10). Anggur yang baik ini kemudian dinikmati dan menjadi berkat bagi banyak orang yang hadir disana. Akan sangat jauh berbeda tentunya jika yang dihidangkan hanya air putih biasa. Dari kisah terkenal ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Seperti apakah kita saat ini? Apakah kita masih seperti air biasa atau seperti air yang sedang dalam proses pemurnian? Seperti halnya Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia sanggup mengubah kita yang "biasa-biasa" saja untuk menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati, membawa sukacita bagi banyak orang.

Bagaimana caranya? Dari kisah di atas kita bisa melihat bahwa awalnya tempayan-tempayan itu disuruh Yesus sendiri untuk diisi dengan air. Ini berbicara mengenai pentingnya kita mengisi diri kita secara teratur dengan firman Tuhan yang hidup. Firman Tuhan sungguh penting dalam hidup kita, "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Dan jangan lupa sebelum air diperintahkan Yesus untuk masuk ke tempayan, ada sebuah pesan penting yang disampaikan ibu Yesus. "Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (ay 5). Dari sini kita bisa melihat bahwa ketaatan pada Yesus menjadi kunci utama pula. Jadi secara singkat kita bisa melihat bahwa jika kita manusia berada di tangan Yesus, taat kepadaNya dan kemudian mengisi diri kita dengan air yang adalah firman Tuhan, maka kita bisa diubahkan untuk menjadi anggur atau berkat bagi orang lain.

Menjalani sebuah proses pengubahan seringkali tidak menyenangkan. Ada kalanya kita harus mengalami berbagai hal berat dan menyakitkan ketika sedang dibentuk. Tetapi kemudian setelahnya kita bisa diubahkan Tuhan menjadi anggur berkualitas yang bisa memberkati banyak orang. Hidup kita yang biasa-biasa saja bisa diubahkan dan dipakai Tuhan agar bermakna bagi orang lain. Untuk itu kita harus rela ditegur, dikoreksi, diajar atau bahkan dihajar apabila perlu. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, Tuhan bisa pakai itu semua untuk menjadi berkat. Yang dibutuhkan adalah kerelaan kita untuk diubahkan dan dipakai agar menjadi berkat. Ketaatan kita secara penuh, melakukan apa yang Dia perintahkan, lalu mengisi diri kita dengan firman Allah, itulah dasar yang akan mengarahkan kita menjadi anggur berkualitas. Seperti air jenis apakah kita saat ini? Mari kita sama-sama terus bertumbuh hingga bisa menjadi anggur baik yang memberkati orang banyak.

Jadilah anggur yang baik yang membawa sukacita dan berkat bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 4, 2013

Orang Benar: Seperti Pohon Korma dan Pohon Aras (2)

 (sambungan)

Dalam kitab Raja Raja kita dapat mendapatkan gambaran mengenai pohon aras ini. Salomo banyak menggunakan pohon aras yang berasal dari Libanon ini dalam membangun istananya. Di dalam istananya, "Ia mendirikan gedung "Hutan Libanon", seratus hasta panjangnya dan lima puluh hasta lebarnya dan tiga puluh hasta tingginya, disangga oleh tiga jajar tiang kayu aras dengan ganja kayu aras di atas tiang itu. Gedung itu ditutup dari atas dengan langit-langit kayu aras, di atas balok-balok melintang yang disangga oleh tiang-tiang itu, empat puluh lima jumlahnya, yakni lima belas sejajar." (1 Raja Raja 7:2-3). Istana Salomo yang megah ternyata disangga oleh tiang-tiang kayu aras. Jadi demikianlah orang benar, diharapkan untuk menjadi pribadi-pribadi yang kuat yang bisa bertindak sebagai tiang penyangga bagi kehidupan sesama kita, demi kemuliaan Tuhan.

Dengan demikian jelaslah bahwa Pemazmur tidak sembarangan mengambil perumpamaan. Ada tujuan yang sangat jelas dalam menggunakan kedua jenis pohon ini untuk menggambarkan pribadi orang benar. Seperti itulah orang benar diharapkan untuk hidup. Berakar kuat, mampu mengatasi hambatan untuk terus bertumbuh, mampu hidup di tengah kesulitan, mampu berbuah dan menjadi penyegar yang mendatangkan sukacita bagi orang-orang disekitarnya. Kemudian mampu pula menjadi tiang penyangga yang kuat dalam kehidupan. Inilah yang bisa dicapai dan seharusnya dilakukan oleh orang-orang benar.

Bagaimana agar kita bisa tumbuh dan berbuah? Yesus memberikan caranya. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Yesus kemudian melanjutkan, "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Ay 5). Untuk bisa berbuah dan menjadi berkat bagi sesama, kita hendaklah tinggal dan berakar kuat di dalam Kristus. Tanpa itu, semua hanyalah akan sia-sia. Hanya ketika kita berbuah banyaklah kita bisa memuliakan Tuhan. "Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (ay 8).

Lantas panggilan untuk menjadi garam (Matius 5:13) dan terang (ay 14-16) pun menjadi keharusan bagi orang-orang benar. Agar bisa menjadi garam dan terang kita harus mampu memiliki prinsip bertunas seperti pohon korma dan tumbuh subur pohon aras. Orang-orang benar akan mampu menjadi saluran berkat bagi sesamanya, dan tidak akan pernah menyimpan berkat itu sendirian saja untuk kepentingan diri sendiri. Ingatlah firman Tuhan bahwa hakekat kita menerima berkat sesungguhnya adalah untuk memberkati orang lain. "....hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat." (1 Petrus 3:9)

Sudahkah kita menjadi oase di padang gurun, menjadi pohon korma berbuah lebat yang memberi sukacita dan berkat bagi banyak orang atau kita malah ikut-ikutan menjadi tandus dan kering? Sudahkah kita menjadi tiang penyangga yang kuat bagai kayu pohon aras, tumbuh subur dengan kekuatan yang luar biasa, atau kita masih gampang goyang diterpa angin kecil sekalipun, dan justru selalu goyah butuh penyangga dari orang lain? Orang benar pada hakekatnya haruslah bisa mengacu kepada pertumbuhan pohon korma dan kesuburan pohon aras. Disanalah kita akan mampu memuliakan Tuhan lewat segala sesuatu yang kita kerjakan.

Bertunaslah dan berbuahlah subur agar menjadi berkat dan penyangga yang kuat bagi lingkungan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 3, 2013

Orang Benar: Seperti Pohon Korma dan Pohon Aras (1)

Ayat bacaan: Mazmur 92:13
======================
"Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon"

Ada dua jenis pohon yang disebutkan berbarengan di dalam Alkitab untuk menunjukkan seperti apa seharusnya orang benar itu berperan di lingkungannya masing-masing, atau bahkan di dunia. Kedua pohon yang menggambarkan peran dari orang benar ini tertulis di dalam kitab Mazmur. Dalam Mazmur 92:13 yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini, Pemazmur mengatakan "Orang benar akan bertunas seperti pohon korma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon" (Mazmur 92:13). Adalah menarik melihat bahwa orang benar dikatakan akan:
1. Bertunas sepeerti pohon korma, dan
2. Tumbuh subur seperti pohon aras.
Mengapa dikatakan bertunas seperti pohon korma, dan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon? Bagaimana sebenarnya karakteristik kedua pohon ini dan bagaimana hubungannya dengan sebuah kehidupan orang benar di dunia?

Mari kita lihat pohon korma terlebih dahulu. Para pengembara di gurun pasir tentu akan sangat bergembira jika melihat pohon korma tentu akan sangat menggembirakan. Tentu saja, karena ketika mereka melihat pohon korma, maka itu artinya mereka akan segera bertemu dengan oase atau mata air. Seringkali ditengah panas terik, yang mereka hadapi adalah sebuah fenomena yang dikenal sebagai fatamorgana. Fatamorgana adalah sebuah tipuan mata yang acap kali dialami oleh para pengembara yang berada di tengah terik gurun pasir yang menyengat. Maka mereka pasti sangat gembira saat bertemu dengan pohon korma yang nyata dalam perjalannya. Korma dikenal sebagai buah yang mengandung begitu banyak nutrisi di dalamnya sehingga menjadi sebuah makanan yang memberi kekuatan dan kesehatan jika dikonsumsi. Sebuah pohon korma tidak akan mungkin hidup tanpa air. Artinya, dimana ada pohon korma, maka sumber air pasti ada disekitar sana. Itulah sebabnya para sangat senang karena pasti sebentar lagi akan menemukan mata air.

Bagaimana pohon korma bisa tumbuh di gurun pasir yang tandus? Itu karena cara hidupnya yang unik. Ketika biji korma di tanam, akarnya akan terus menembus tanah untuk mencari air, bahkan hingga puluhan meter. Setelah mendapatkan air, barulah pohon korma ini mulai tumbuh. Dan sekali lagi, dimana pohon korma berada, biasanya disana akan terdapat oase atau mata air. Inilah yang digambarkan oleh Pemazmur dengan mengatakan bahwa orang benar akan bertunas seperti pohon korma. Orang benar akan memiliki akar yang kuat. Orang benar akan mampu tegar berdiri ditengah berbagai hambatan, dan akan mampu untuk terus bertumbuh dan menghasilkan buah. Seperti layaknya pohon korma yang menyegarkan, orang-orang benar pun seharusnya bisa menjadi penyegar bagi lingkungan yang "tandus", menjadi oase di tengah padang gurun, menjadi berkat yang mendatangkan sukacita bagi sesama.

Sekarang mari kita lihat apa yang digambarkan Pemazmur tentang orang benar sebagai pohon aras yang tumbuh subur di Libanon. Pada masa itu pohon aras, atau kita kenal dengan pohon cemara memang tumbuh subur di Libanon. Pohon aras ini dikenal sangat kuat dan tidak mudah lapuk. Semakin tua kayunya akan semakin kuat. Pohon ini juga tahan terhadap perubahan cuaca. Tidaklah mengherankan kalau masa itu pohon aras sering dipakai untuk tiang penyangga istana bahkan Bait Allah.


(bersambung)

Saturday, February 2, 2013

Mengatasi Kelemahan

Ayat bacaan: Ibrani 12:12-13
========================
"Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh."

Sebuah acara tentang singa di televisi menunjukkan adegan ketika mereka memburu sekumpulan kerbau liar untuk dimangsa. Sergapan mendadak di tengah kegelapan malam membuat kerbau-kerbau itu panik dan berlarian kocar-kacir. Ada satu kerbau yang akhirnya berakhir menjadi santapan sang singa betina, dan naratornya mengatakan bahwa kerbau malang itu adalah kerbau yang terlemah. Di adegan memang jelas terlihat bahwa si korban kebingungan mau lari kemana, mungkin termakan oleh rasa paniknya sendiri. Narator film dokumenter itu pun kemudian meneruskan bahwa dalam melakukan sergapan, singa mampu dengan cepat melihat mangsa yang terlemah diantara kumpulan itu sehingga mereka tidak akan kehilangan mangsanya.

Dalam ilmu peperangan diajarkan untuk menyerang titik terlemah terlebih dahulu jika ingin menang. Dalam pertandingan olah raga seperti tinju, bela diri, gulat dan sebagainya pun hal yang sama tetap berlaku. Lihatlah bagaimana strategi seorang petinju untuk mencari titik lemah lawannya lalu fokus terhadap kelemahan itu untuk bisa keluar sebagai pemenang. Sebuah kelemahan memang sangatlah rawan, bahkan berbahaya karena akan menjadi bulan-bulanan lawan agar bisa memukul jatuh. Sadar atau tidak, kita seringkali membiarkan titik-titik lemah ini terus berada dalam diri kita. Sepanjang perjalanan hidup saya hingga hari ini saya bertemu dengan beberapa orang yang menjadi lemah akibat luka masa lalu mereka. Luka yang masih belum sembuh ternyata membawa pengaruh buruk bagi kehidupan mereka. Kehilangan jati diri, kehilangan harga diri, merasa diri tidak berharga, sehingga mereka gampang dipermainkan dan dimanfaatkan orang lain. Ironisnya, banyak diantara mereka yang merasa tidak sanggup melepaskan diri dari orang-orang yang terus menyakiti mereka dan terus menjadi bulan-bulanan. Tidak hanya luka masa lalu, namun berbagai permasalahan dalam hidup yang bertubi-tubi pun bisa membuat tubuh, hati dan jiwa kita. Bahkan ketika iman kita menjadi merosot, roh kita pun akan melemah. Jika tidak hati-hati, hidup bisa hancur bahkan membuat kita kehilangan kans untuk menerima janji Tuhan tentang sebuah kehidupan yang kekal bersamaNya kelak.

Kita tidak boleh membiarkan kelemahan itu terus bercokol dan menekan kita. Kita harus bisa bangkit dan berusaha mengatasi  berbagai tekanan hidup yang bisa jadi datangnya bertubi-tubi, juga harus mampu belajar dari pelajaran pahit di masa lalu dan terus melangkah menatap ke depan. Ada saatnya mungkin kita harus menerima konsekuensi atas kesalahan kita sendiri, merasakan teguran dan didikan Tuhan yang bisa saja perih rasanya. Penulis Ibrani mengatakan, "Sebab mereka (orang tua kita) mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." (Ibrani 12:10). Ketika kita didisplinkan tentu tidak nyaman rasanya. Namun semua itu bertujuan baik untuk mematangkan dan mendewasakan kita. "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (ay 11). Selanjutnya Penulis Ibrani mengatakan: "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh." (ay 12-13). Kita tidak boleh membiarkan diri kita untuk menjadi lemah dan goyah agar kita bisa terus berjalan lurus dalam kondisi baik dan tidak pincang. Sadarilah bahwa iblis akan terus mencari kesempatan untuk merusak hati dan pikiran kita ketika kita sedang dalam keadaan lemah. Bukan saja iblis, tapi orang-orang yang jahat pun siap memanipulasi kita, memanfaatkan diri kita demi keuntungan mereka apabila kita lemah. Karena itu kita tidak boleh membiarkan kelemahan kita terus terekspos. Kita harus menggantikannya dengan kekuatan dan ketegaran.

Selain merugikan diri kita sendiri, orang yang mudah menyerah dan memilih untuk terus terperangkap dalam keadaan lemah dan pincang tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." (Ibrani 10:38) Penulis Ibrani mengingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya kita ada dalam posisi yang penuh ketekunan dan ketaatan sebagai orang-orang percaya sehingga beroleh keselamatan. (ay 39). Mungkin hingga saat ini kita tidak cukup kuat untuk melepaskan diri baik dari belenggu masa lalu, berbagai kepahitan atau permasalahan. Manusia memang terbatas, namun Yesus sanggup melakukan itu semua! Adalah penting untuk memperkuat diri kita agar tidak mudah diserang. Dan caranya adalah dengan memenuhi diri kita dengan Firman Tuhan secara terus menerus. Rajin-rajinlah mendengar dan membaca firman Tuhan, rajinlah berdoa, dekatkan diri kepada Tuhan, teruslah mengucap syukur dan fokuskan pandangan senantiasa kepadaNya. Jadikan iman kita pada Kristus sebagai pegangan hidup. Itu akan membuat kita tidak gampang jatuh menjadi lemah dan mudah goyah. Secara singkat Daud menyebutkannya demikian: "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mazmur 16:8). Seperti halnya satu atau dua bagian tubuh yang mengalami masalah bisa menimbulkan kesulitan besar bagi kita, begitu pula ketika tubuh, jiwa atau roh kita menjadi lemah. Iblis akan terus mengincar titik-titik lemah kita sebagai pintu masuk untuk menghancurkan kita. Begitu pula orang-orang yang punya niat buruk. Karenanya, tetaplah jaga tubuh, jiwa dan roh kita agar tetap kuat. Jangan beri kesempatan kepada yang jahat. Tetaplah berdiri tegar agar kita bisa terus melangkah dengan benar hingga akhir.

Membiarkan diri dalam kondisi lemah berlarut-larut berarti membuka peluang bagi yang jahat untuk menghancurkan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 1, 2013

Orang Gerasa dan Pentingnya Kesaksian

Ayat bacaan: Markus 5:19
=====================
"Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!"

Ada seorang malang yang tengah dirasuk roh jahat ketika ia keluar dari area pekuburan. Roh jahat yang masuk ke dalam orang itu begitu banyaknya hingga disebutkan sebagai sebuah legiun. Tidak ada satupun orang yang sanggup melepaskannya, bahkan rantai sekalipun tidak mampu menahannya. Kisah ini tertulis dalam perikop berjudul "Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa" dalam Markus 5:1-20. Adalah Yesus yang pada akhirnya sanggup melepaskan orang malang dari Gerasa ini. Begitu bersukacitanya si orang malang setelah dilepaskan, maka untuk mengungkapkan rasa syukurnya ia pun kemudian meminta agar ia diperkenankan mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi. Tapi lihatlah reaksi menarik Yesus terhadap permintaannya itu. "Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19). Mengapa Yesus tidak mengijinkan orang ini untuk mengikutinya, seperti halnya para murid? Lantas apa yang diminta Yesus untuk ia lakukan? Ayat di atas dengan sangat jelas memberikan alasannya.

Perhatikan bahwa Yesus meminta orang dari Gerasa yang baru dilepaskan itu untuk kembali ke kampungnya lalu memberi kesaksian disana mengenai apa yang telah Tuhan lakukan atas dirinya, dan kemudian menceritakan pula bagaimana Tuhan mengasihaninya. Ini dengan jelas menunjukkan betapa pentingnya sebuah kesaksian bagi orang percaya yang telah mengalami langsung jamahan dan belas kasih Tuhan itu untuk dibagikan kepada sesama kita lainnya di mata Yesus. Begitu penting, sehingga Yesus menyuruh si orang yang baru mengalami pelepasan ini untuk lebih baik pulang ke kampungnya dan bersaksi ketimbang terus mengikuti Yesus kemanapun Dia pergi.

Lantas bagaimana reaksi dari orang Gerasa itu? Ia ternyata patuh dan menurut. "Orang itupun pergilah dan mulai memberitakan di daerah Dekapolis segala apa yang telah diperbuat Yesus atas dirinya dan mereka semua menjadi heran." (ay 20). Apa yang dialami oleh orang Gerasa tersebut adalah sebuah pengalaman luar biasa mengenai bagaimana Tuhan sanggup melakukan apapun dan betapa besarnya belas kasihan Tuhan. Tentu saja hal seperti itu akan menjadi sebuah kesaksian indah yang akan mampu memberkati orang-orang lain, karena itulah Yesus kemudian memintanya untuk kembali dan menyampaikan kesaksian tentang apa yang baru saja ia alami. Area Dekapolis terdiri dari 10 kota, dan dari ayat 20 kita bisa melihat bahwa orang yang disembuhkan itu ternyata berkeliling ke 10 kota untuk menyampaikan kesaksiannya. Kita tidak tahu berapa orang yang kemudian bertobat setelah kesaksian itu, tapi saya percaya ada banyak yang diberkati dan kemudian memutuskan untuk menerima Yesus.

Begitu pentingnya sebuah kesaksian di mata Tuhan. Dan itu tidaklah aneh, karena jelas sebuah kesaksian tentu akan sanggup berbicara jauh lebih banyak ketimbang sesuatu yang sifatnya hanya teoritis saja. Berbagi pengalaman hidup akan jauh lebih bermanfaat sebagai sarana motivasi karena itu merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi yang membagikannya. Sebuah kesaksian akan keajaiban perbuatan Tuhan dalam hidup manusia akan mampu berbicara banyak mengenai kebaikan Tuhan secara langsung. Bahkan sebuah kesaksian yang paling sederhana sekalipun akan lebih efektif ketimbang mengkotbahi orang panjang lebar tanpa disertai contoh. Manusia akan lebih mudah menangkap ilustrasi dari sebuah kehidupan nyata dan akan lebih mudah mencerna hingga mengaplikasikannya ketimbang hanya disuruh menelan bulat-bulat segala sesuatu yang sifatnya teoritis saja. Ada banyak peneliti yang sudah pernah melakukan observasi mengenai hal ini, dan mereka akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa sebuah pengalaman pribadi tentang sesuatu akan memiliki kekuatan tersendiri untuk menggerakkan seseorang. Dalam kerohanian pun demikian. Ada waktu-waktu dimana kita butuh mendengar berbagai kesaksian dari orang-orang yang mengalami mukjizat untuk menguatkan kita di saat kita goyah. Ada begitu banyak janji Tuhan yang diberikan dalam Alkitab, dan ketika kita tengah mengalami masalah seringkali kita terasa jauh dari berbagai janji itu. Itulah sebabnya berbagai kesaksian biasanya mampu menguatkan kita dan memulihkan iman kita untuk kembali dipenuhi pengharapan yang kokoh terhadap janji Tuhan.

Kembali kepada pentingnya sebuah kesaksian di mata Yesus, Dia juga menyampaikan sebuah pesan terakhir sebelum terangkat naik kembali ke tahtaNya di surga. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Bagi kita diberikan sebuah tugas yang tidak mudah. Kita diminta bertindak menjadi saksi Kristus baik di lingkungan tempat tinggal atau pekerjaan, kemudian meningkat kepada kota-kota atau desa-desa di sekitar kita, menjangkau saudara-saudara kita yang belum mengenal Kristus atau bahkan hingga ke seluruh bumi. Kita tidak harus menjadi pendeta untuk bersaksi, kita tidak harus berkotbah panjang lebar di jalan-jalan untuk menjalankan tugas ini. Kita bisa melakukan itu dengan memberi kesaksian bagaimana campur tangan Tuhan dalam kehidupan kita membuat perbedaan.

Dalam Wahyu kita bisa membaca bahwa kesaksian adalah salah satu alat yang mampu membunuh iblis dan perbuatan-perbuatan jahatnya. "Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut." (Wahyu 12:11). Ini menggambarkan betapa pentingnya sebuah kesaksian untuk menghancurkan tipu muslihat iblis dan kuasa-kuasa kegelapan yang sangat ingin membuat lebih banyak lagi orang untuk dilemparkan ke dalam neraka yang menyala-nyala. Sebuah kesaksian tidak harus selalu berisikan mukjizat-mukjizat seperti kesembuhan sakit penyakit, pelepasan, pemulihan, berkat-berkat dan sebagainya. Sebuah kesaksian kecil mengenai bagaimana kita bisa tetap hidup dalam pengharapan di kala kesesakan, bagaimana kita bisa tetap teguh dalam iman di saat sulit, itupun bisa menjadi berkat yang memberi kekuatan tersendiri bagi orang lain. Tidak ada satu orangpun yang tidak memiliki kesaksian. Masalahnya adalah, maukah kita membagikannya kepada orang lain agar mereka bisa mengenal siapa Yesus sebenarnya? Bukan kemampuan kita berbicara atau ilmu  yang kita miliki yang dibutuhkan, tetapi pakailah kuasa Allah yang bekerja di dalam diri kita. Kalau demikian, maukah anda untuk menceritakan kabar baik kepada orang lain?

Kesaksian kita sekecil apapun akan sanggup memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...