====================
"Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah."
Diantara sesama teman dekat biasanya kita memiliki julukan atau panggilan akrab tersendiri. Panggilan akrab itu biasanya akan mengacu kepada sesuatu yang menggambarkan siapa mereka dalam satu kata atau dari nama yang dipelesetkan untuk tujuan bercanda yang menunjukkan kedekatan. Sebuah julukan juga biasanya mengacu kepada pengenalan kita akan diri seseorang, atau pengenalan seseorang akan diri kita. Apa yang menonjol, bagaimana sifat, karakter dan keistimewaan dari seseorang. Dalam dunia olah raga seperti kesebelasan sepak bola atau petinju misalnya, mereka akan memiliki julukan-julukan tersendiri. The Real Deal disematkan buat Evander Holyfield, Iron Mike, The Baddest Man on the Planet atau di Indonesia julukan Si Leher Beton diberikan buat Mike Tyson. Tim Setan Merah atau Red Devil buat Manchester United, Los Blancos buat Real Madrid, The Busby Babes diberikan untuk tim Manchester United dibawah kepemimpinan pelatih Matt Busby di tahun 50an dan sebagainya. Dalam dunia musik pun juga seringkali demikian. Dan kerap kali dari julukan ini mereka justru lebih dikenal. Dari nama julukan ini kita bisa mengetahui sifat seseorang, karakternya, "warna"nya, apa yang istimewa dari mereka atau dari mana mereka berasal.Pernahkah kita berpikir sebesar apa Tuhan itu sebenarnya? Apa saja sebutan atau julukan yang bisa kita utarakan untuk menggambarkan kebesaran, keagungan dan kemuliaanNya? Pemazmur tampak jelas memiliki kedekatan, hubungan yang sangat erat dengan Tuhan, sehingga dari kedekatan itu ia bisa memberi begitu banyak sebutan yang menggambarkan atau mendeskripsikan kehebatan Tuhan dalam kitab Mazmur. Jika anda membaca sepertiga Mazmur saja anda sudah menemukan begitu banyak gambaran kedahsyatan atau kebesaran Tuhan dalam berbagai sebutan atau julukan. Mari kita lihat apa saja sebutan yang menggambarkan berbagai sifat Tuhan beserta kehebatannya yang tercatat sepanjang Mazmur 1 sampai 48.
Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, kemuliaan yang mengangkat kepalaku (a shield for me, my glory and the lifter of my heart) (3:4), yang membiarkan aku diam dengan aman (the source of safety) (4:98), Rajaku dan Allahku (my King and my God) (5:3), Hakim (the Judge) (7:9. 9-9), Yang Maha Tinggi (The Most High) (7:18), tempat perlindungan (our refuge and high tower, a stronghold) (9:10), penolong anak yatim (the helper of the fatherless) (10:14), Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (King forever and ever) (10:16), adil (righteous) (11:7). Tuhan adalah bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku (my Rock, my Fortress and my Deliverer) (18:3, 31:3-4), sandaranku (my stay and support) (18:19), Penebusku (my Redeemer) (19:15). Tuhan adalah gembalaku (sheperd) (23:1), Raja Kemuliaan (the King of Glory) (24:7), Maha Kuasa (the Lord of hosts) (24:10), Penyelamat (25:5), terangku dan keselamatanku (my salvation) (27:1), gunung batuku (my Rock) (28:1), kekuatanku dan perisaiku (my Strength and my Shield) (28:7), benteng keselamatan bagi yang diurapi (the Stronghold of salvation) (28:8). Tuhan adalah Allah yang mulia (Lord of Glory) (29:3), Allah yang setia (God of truth and faithfulness) (31:6), Allah yang hidup (the living god) (42:3), penolong dalam kesesakan (very present and well-proved help in trouble) (46:2), Mahatinggi dan dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi (the Most High, a great King all over the earth) (47:3).
Semua itu barulah daftar julukan yang tertulis dalam sepertiga Mazmur saja. Dalam Yesaya kita bisa melihat pula julukan Kristus yang sudah dinubuatkan sebelum Yesus turun ke dunia untuk menebus kita. "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Wonderful Counselor, Mighty God, Everlasting Father [of Eternity], Prince of Peace.) (Yesaya 9:5).
"Besarlah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita!" "Great is the Lord and highly to be praised in the city of our God." begitulah yang disebutkan dalam Mazmur 48:1. Dalam kitab 1 Tawarikh kita bisa membaca seruan Daud berikut: "Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, dan lebih dahsyat Ia dari pada segala allah." (1 Tawarikh 16:25) yang juga terdapat dalam Mazmur 96:4. Ada begitu banyak kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang menggambarkan pribadi Allah kita yang dahsyatnya luar biasa. Tidak akan ada habisnya untuk kita renungkan, tidak akan ada habisnya untuk kita syukuri dan puji.
Mengacu kepada "sedikit" dari sekian banyak gambaran Allah yang tercatat kekal di dalam alkitab di atas, sudahkah kita memakai waktu kita secara khusus untuk memuji dan menyembahNya? Sudahkah kita bersyukur dengan memiliki Tuhan yang berkuasa di atas segalanya? Lihatlah ada begitu banyak dasar atau alasan bagi kita untuk memuji Tuhan dan mengucap syukur kepadaNya. Karena itu mari kita sama-sama menghampiri Tuhan hari ini untuk mengucap syukur atas segala kebaikanNya kepada kita. Great is the Lord, and most worthy of praise!
Tidak akan pernah ada kata yang cukup untuk memuji kebesaran Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Deterjen mana yang bisa mencuci paling bersih dalam waktu tercepat dan cara temudah? Jawaban bagi masing-masing orang tentu bisa berbeda-beda tergantung pengalaman, selera dan kebiasaan. Yang jelas produsen produk deterjen pencuci pakaian terus bersaing mengedepankan ketiga hal ini. Bersih kalau repot mengucek lama tidak akan laris di pasar, cepat tapi kurang bersih juga demikian, atau bersih tapi harus direndam lama terlebih dahulu pun akan menjadi penghambat bagi produk tersebut untuk bisa sukses. Orang semakin lama berlomba semakin cepat. Pesaing semakin banyak. Dan karena itulah produsen harus pintar-pintar menyiasati produknya, setidaknya harus tahu mengedepankan apa dalam iklan-iklan mereka. Sebersih-bersihnya baju kita cuci, setiap waktu baju itu bisa kembali terkena noda termasuk noda yang membandel. Kesibukan membuat kita tidak bisa berlama-lama dalam membuat baju kita bersih kembali seperti semula, apalagi jika yang terkena kotoran baju seragam kerja atau sekolah. Karena itulah kita butuh deterjen yang bisa dengan cepat menjadi solusi agar kita tidak terkendala dalam beraktivitas.
Seberapa besar keinginan kita untuk memberi? Ada banyak orang yang merasa belum sanggup untuk itu karena merasa diri mereka belum cukup kaya untuk bisa melakukannya. "Nantilah kalau sudah kaya.." kata mereka dengan ringan. Sementara manusia cenderung untuk terus merasa tidak pernah cukup. Cukup apa dulu? Cukup untuk makan? berlibur ke luar negeri? Beli rumah? mobil? gadget-gadget terbaru? berfoya-foya? Kata cukup sangatlah relatif dan bisa ditarik hingga selebar mungkin, sehingga kalau ini yang menjadi pola pikir kita, bisa-bisa kita tidak akan pernah mau memberi. Ada banyak orang yang ingin yang terbaik bagi dirinya sendiri tetapi berhitung dengan sangat kikir ketika itu berhubungan dengan orang lain. Lihatlah reaksi istri teman saya terhadap seorang buruh tua seperti yang sudah saya tulis dalam renungan kemarin. Upah perhari sekitar 60.000 rupiah, ia bekerja mulai jam 11 pagi, dan siangnya sempat hujan selama dua jam, artinya ia cuma layak mendapat sekitar 40.000, begitu perhitungan istri teman saya itu. Ia tidak mempertimbangkan bahwa bapak tua itu harus bekerja mengangkat batu-batu besar di tengah terik panas dan hujan. Terlebih ia tidak berpikir berdasarkan kasih, sesuatu yang sesungguhnya menjadi kewajiban bagi setiap anak Tuhan di muka bumi ini. Rajin berdoa, rajin membuka Alkitab ternyata tidak serta merta menjamin orang untuk melakukan tindakan nyata dalam hidup mereka berdasarkan kasih. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia melainkan melihat hati. Bagaimana hati mereka bisa mendapat pembenaran dari Tuhan dan berharap doa-doa mereka didengar Tuhan apabila mereka hidup begitu kikir tanpa pernah memperhatikan sesamanya? Ketika Yesus berkata: "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 5:40), dan kita menolak melakukan apapun untuk mereka, pantaskah kita berharap untuk terus diberkati Tuhan? Dan pertanyaan berikutnya, apakah kita harus kaya raya terlebih dahulu untuk bisa mulai membantu sesama kita?
Pada suatu kali teman saya bercerita bahwa istrinya baru saja marah ketika ia melebihkan bayaran kepada bapak tua yang bekerja memperbaiki jalan di depan rumahnya. Ia geleng-geleng kepala karena istrinya marah melihatnya memberi lebih dari upah pekerja harian yang wajar. "Bapak itu sudah tua, saya kasihan melihatnya, apakah salah jika saya memberi upah lebih atas dasar kasih karena ia bekerja di bawah terik panas dua hari penuh?" katanya. Istrinya adalah orang percaya yang rajin berdoa, rajin ke gereja bahkan sering membaca Alkitab. Tetapi ketika berhadapan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, ternyata ia belumlah mencerminkan seorang pengikut Kristus yang sejati. Ada banyak orang yang berperilaku sama seperti ini. Di satu sisi mereka rajin berdoa, menunjukkan keimanan mereka yang tinggi dengan melakukan ibadah-ibadah secara rajin dan teratur, tetapi di sisi lain mereka kerap menghitung untung rugi tanpa memiliki rasa iba atau belas kasihan terhadap orang lain. Hal seperti ini bukanlah gambaran ideal dari para pengikut Kristus, karena Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap eksklusif, hanya mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri saja, atau juga hanya mementingkan keuntungan pribadi. Jika kita hanya berpikir mengenai keselamatan sendiri tanpa memiliki kasih terhadap sesama, itu sesungguhnya salah besar. Tidak ada tempat bagi egoisme dan ketidakpedulian terhadap orang lain dalam Kekristenan. Di dunia memang kita terbiasa diajarkan untuk bertindak seperti itu, tetapi tidak bagi Kerajaan Allah.
"Ah masih lama dikumpulnya, nanti saja kalau sudah mepet.." demikian ujar salah seorang teman saya yang masih kuliah. Dua minggu setelahnya saya mendapatinya tengah kelabakan harus mengerjai seluruh tugas yang bertumpuk. "Tidak mungkin selesai kalau begini ceritanya.." katanya panik. Ia pun harus siap-siap memilih beberapa dari tumpukan tugas itu dan harus rela gagal lulus dalam beberapa mata kuliah karena tugasnya tidak akan sempat dikerjakan lagi hingga batas waktu yang ditetapkan. Itulah akibatnya ketika kita memilih untuk menunda pekerjaan atau tugas. Seandainya ketika tugas hadir kita langsung mulai menyicil mengerjakan, maka kita tidak perlu jungkir balik mendekati tenggat waktu yang ditetapkan. Ada banyak orang yang kemudian harus lembur bergadang dalam keadaan stres karena suka menunda-nunda, tapi lucunya mereka tidak kunjung kapok. Jika untuk hal-hal yang berhubungan dengan diri kita sendiri saja kita berlaku demikian, apalagi untuk sesuatu bagi orang lain. Dengarlah seorang teman yang mengomel panjang lebar hanya gara-gara seorang pengamen bernyanyi di depannya. "Mengganggu saja. Apa dia kira aku kaya? Nantilah kalau sudah benar-benar kaya, mungkin aku akan mempertimbangkannya." katanya di antara omelan-omelan selanjutnya. Seandainya ia memberi sedikit, katakanlah seribu rupiah, apakah ia benar-benar tidak sanggup untuk itu atau bakalan jatuh miskin instan setelahnya? Tentu saja tidak. Memangnya harus berapa kaya dulu baru bisa memberi untuk pengemis atau pengamen? Jika itu saja berat, bagaimana dengan bantuan-bantuan lebih besar bagi orang-orang yang tengah terdesak karena berhadapan dengan situasi hidup atau mati? Memberi sesungguhnya bukan masalah sanggup atau tidak, tapi adalah masalah hati, apakah kita rela karena mengasihi atau tidak.
Ada banyak artis-artis muda pendatang baru yang meramaikan pentas musik nasional, tetapi ada banyak pula para senior yang sudah beberapa dasawarsa aktif bermain masih menunjukkan semangat yang sama dengan saat mereka masih muda dulu. Mereka masih aktif tampil dari panggung ke panggung tanpa kenal lelah, meski fisik mereka mungkin sudah mulai habis dimakan usia. Saya mengenal salah seorang musisi sangat senior yang sudah lebih dari setengah abad meniti karir di dunia musik jazz. Suatu kali saya bertanya kepadanya, tidakkah ia merasa lelah masih harus aktif di usia senjanya? Ia tersenyum dan berkata bahwa tugasnya belum selesai. "Panggilan saya adalah memberkati orang lewat talenta saya di bidang musik, tugas saya belum selesai. Tidak mudah untuk terus bermain di usia seperti ini, tetapi saya yakin Tuhan akan selalu menggendong saya dalam melakukan panggilan saya." katanya. Saya kagum terhadap semangat dan iman sang musisi senior ini. Itulah sebabnya ia tetap bermain lepas dan terlihat sangat menikmati penampilannya. Tuhan akan selalu menggendongnya. Bukan kekuatannya tapi kekuatan Tuhanlah yang ia andalkan. Ketika banyak orang yang mudah menyerah atau gampang mengeluh atas kondisi fisik yang melemah, kita bisa belajar dari sang musisi legendaris ini untuk mengandalkan kekuatan Tuhan yang tentu mampu memberi semangat juang yang berbeda yang jauh mengatasi kondisi fisik secara aktual. Apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab sejak ribuan tahun yang lalu.
Sebuah ungkapan tentang pandangan kita terhadap sesuatu sering digambarkan orang lewat contoh gelas yang setengah penuh/setengah kosong. Half empty and half full glass. Gelasnya sama, setengahnya berisi air. Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh, itu menggambarkan cara pandang anda terhadap sebuah situasi. Dalam meliput sebuah acara saya kerap menyaksikan perbedaan pandangan seperti ini. Ada wartawan yang menganggap bahwa penonton memenuhi sebagian dari ruangan, sebagian lagi menyebutkan bahwa hanya setengah ruangan yang terisi. Ruangannya sama, waktunya sama, tetapi cara pandangnya bisa berbeda terhadap orang yang berbeda. Pertanyaan tentang cara pandang terhadap gelas yang setengah berisi setengah kosong ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.