Wednesday, March 7, 2012

Tuhan Maha Besar

Ayat bacaan: Mazmur 96:4
====================
"Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, Ia lebih dahsyat dari pada segala allah."

Tuhan maha besar, julukan TuhanDiantara sesama teman dekat biasanya kita memiliki julukan atau panggilan akrab tersendiri. Panggilan akrab itu biasanya akan mengacu kepada sesuatu yang menggambarkan siapa mereka dalam satu kata atau dari nama yang dipelesetkan untuk tujuan bercanda yang menunjukkan kedekatan. Sebuah julukan juga biasanya mengacu kepada pengenalan kita akan diri seseorang, atau pengenalan seseorang akan diri kita. Apa yang menonjol, bagaimana sifat, karakter dan keistimewaan dari seseorang. Dalam dunia olah raga seperti kesebelasan sepak bola atau petinju misalnya, mereka akan memiliki julukan-julukan tersendiri. The Real Deal disematkan buat Evander Holyfield, Iron Mike, The Baddest Man on the Planet atau di Indonesia julukan Si Leher Beton diberikan buat Mike Tyson. Tim Setan Merah atau Red Devil buat Manchester United, Los Blancos buat Real Madrid, The Busby Babes diberikan untuk tim Manchester United dibawah kepemimpinan pelatih Matt Busby di tahun 50an dan sebagainya. Dalam dunia musik pun juga seringkali demikian. Dan kerap kali dari julukan ini mereka justru lebih dikenal. Dari nama julukan ini kita bisa mengetahui sifat seseorang, karakternya, "warna"nya, apa yang istimewa dari mereka atau dari mana mereka berasal.

Pernahkah kita berpikir sebesar apa Tuhan itu sebenarnya? Apa saja sebutan atau julukan yang bisa kita utarakan untuk menggambarkan kebesaran, keagungan dan kemuliaanNya? Pemazmur tampak jelas memiliki kedekatan, hubungan yang sangat erat dengan Tuhan, sehingga dari kedekatan itu ia bisa memberi begitu banyak sebutan yang menggambarkan atau mendeskripsikan kehebatan Tuhan dalam kitab Mazmur. Jika anda membaca sepertiga Mazmur saja anda sudah menemukan begitu banyak gambaran kedahsyatan atau kebesaran Tuhan dalam berbagai sebutan atau julukan. Mari kita lihat apa saja sebutan yang menggambarkan berbagai sifat Tuhan beserta kehebatannya yang tercatat sepanjang Mazmur 1 sampai 48.

Tuhan adalah perisai yang melindungi aku, kemuliaan yang mengangkat kepalaku (a shield for me, my glory and the lifter of my heart) (3:4), yang membiarkan aku diam dengan aman (the source of safety) (4:98), Rajaku dan Allahku (my King and my God) (5:3), Hakim (the Judge) (7:9. 9-9), Yang Maha Tinggi (The Most High) (7:18), tempat perlindungan (our refuge and high tower, a stronghold) (9:10), penolong anak yatim (the helper of the fatherless) (10:14), Raja untuk seterusnya dan selama-lamanya (King forever and ever) (10:16), adil (righteous) (11:7). Tuhan adalah bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku (my Rock, my Fortress and my Deliverer) (18:3, 31:3-4), sandaranku (my stay and support) (18:19), Penebusku (my Redeemer) (19:15). Tuhan adalah gembalaku (sheperd) (23:1), Raja Kemuliaan (the King of Glory) (24:7), Maha Kuasa (the Lord of hosts) (24:10), Penyelamat (25:5), terangku dan keselamatanku (my salvation) (27:1), gunung batuku (my Rock) (28:1), kekuatanku dan perisaiku (my Strength and my Shield) (28:7), benteng keselamatan bagi yang diurapi (the Stronghold of salvation) (28:8). Tuhan adalah Allah yang mulia (Lord of Glory) (29:3), Allah yang setia (God of truth and faithfulness) (31:6), Allah yang hidup (the living god) (42:3), penolong dalam kesesakan (very present and well-proved help in trouble) (46:2), Mahatinggi dan dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi  (the Most High, a great King all over the earth) (47:3).

Semua itu barulah daftar julukan yang tertulis dalam sepertiga Mazmur saja. Dalam Yesaya kita bisa melihat pula julukan Kristus yang sudah dinubuatkan sebelum Yesus turun ke dunia untuk menebus kita. "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai." (Wonderful Counselor, Mighty God, Everlasting Father [of Eternity], Prince of Peace.) (Yesaya 9:5).

"Besarlah Tuhan dan sangat terpuji di kota Allah kita!" "Great is the Lord and highly to be praised in the city of our God." begitulah yang disebutkan dalam Mazmur 48:1. Dalam kitab 1 Tawarikh kita bisa membaca seruan Daud berikut: "Sebab TUHAN maha besar dan terpuji sangat, dan lebih dahsyat Ia dari pada segala allah." (1 Tawarikh 16:25) yang juga terdapat dalam Mazmur 96:4. Ada begitu banyak kebesaran dan kemuliaan Tuhan yang menggambarkan pribadi Allah kita yang dahsyatnya luar biasa. Tidak akan ada habisnya untuk kita renungkan, tidak akan ada habisnya untuk kita syukuri dan puji.

Mengacu kepada "sedikit" dari sekian banyak gambaran Allah yang tercatat kekal di dalam alkitab di atas, sudahkah kita memakai waktu kita secara khusus untuk memuji dan menyembahNya? Sudahkah kita bersyukur dengan memiliki Tuhan yang berkuasa di atas segalanya? Lihatlah ada begitu banyak dasar atau alasan bagi kita untuk memuji Tuhan dan mengucap syukur kepadaNya. Karena itu mari kita sama-sama menghampiri Tuhan hari ini untuk mengucap syukur atas segala kebaikanNya kepada kita. Great is the Lord, and most worthy of praise!

Tidak akan pernah ada kata yang cukup untuk memuji kebesaran Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 6, 2012

Deterjen

Ayat bacaan: 1 Yohanes 1:9
======================
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

mengampuni dan menyucikan, deterjenDeterjen mana yang bisa mencuci paling bersih dalam waktu tercepat dan cara temudah? Jawaban bagi masing-masing orang tentu bisa berbeda-beda tergantung pengalaman, selera dan kebiasaan. Yang jelas produsen produk deterjen pencuci pakaian terus bersaing mengedepankan ketiga hal ini. Bersih kalau repot mengucek lama tidak akan laris di pasar, cepat tapi kurang bersih juga demikian, atau bersih tapi harus direndam lama terlebih dahulu pun akan menjadi penghambat bagi produk tersebut untuk bisa sukses. Orang semakin lama berlomba semakin cepat. Pesaing semakin banyak. Dan karena itulah produsen harus pintar-pintar menyiasati produknya, setidaknya harus tahu mengedepankan apa dalam iklan-iklan mereka. Sebersih-bersihnya baju kita cuci, setiap waktu baju itu bisa kembali terkena noda termasuk noda yang membandel. Kesibukan membuat kita tidak bisa berlama-lama dalam membuat baju kita bersih kembali seperti semula, apalagi jika yang terkena kotoran baju seragam kerja atau sekolah. Karena itulah kita butuh deterjen yang bisa dengan cepat menjadi solusi agar kita tidak terkendala dalam beraktivitas.

Ketika kita bertobat dan lahir baru, Tuhan menjanjikan sebuah transformasi diri kita dari diri yang lama kepada diri yang baru. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17) We are said to be transformed as a new person. Selanjutnya kita pun harus menjaga agar kita tidak kembali menjadi kotor setelah diperbaharui secara total. Masalahnya dalam menghadapi dunia yang memasang begitu banyak tawaran yang menjebak, tidak ada jaminan apapun bagi kita untuk bisa selalu tetap bersih seperti ketika kita lahir baru. manusia seringkali lemah sehingga ada kalanya kita kembali terjerumus untuk berbuat dosa demi dosa. Jika saya ibaratkan diri kita seperti baju, maka baju yang sudah bersih tadi bisa menjadi kotor kembali dengan noda-noda yang hinggap di atas baju kita. Seperti halnya noda yang mengotori baju, ada yang mudah dibersihkan, ada pula yang membandel. Seperti itu pula dosa-dosa siap mengotori diri kita yang sudah bersih seperti baru. Lantas, apakah masih ada kesempatan bagi kita setelah menjadi orang percaya untuk mendapatkan pengampunan Tuhan kembali? Tentu saja. Tuhan tetap membuka pintu kesempatan selebar-lebarnya kepada siapapun untuk berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan kebenaran yang mengarah kepada keselamatan. Bagi orang yang belum bertobat Tuhan akan tetap membuka tanganNya untuk menerima mereka kembali, kepada anak-anakNya yang sempat tersesat pun demikian pula.

Kitab 1 Yohanes berisi pesan bagi orang-orang percaya. Kitab ini dipercaya sebagai hasil tulisan Yohanes sendiri yang kita tidak tahu pasti ditujukan untuk siapa atau untuk jemaat mana. Tapi satu hal yang pasti, surat tulisan Yohanes ini ditujukan untuk orang-orang percaya dan bukan kepada orang yang belum bertobat. Dengan kata lain, surat ini dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen. Yohanes tahu bahwa setelah kita bertobat, selalu saja ada godaan yang berpotensi membawa kita kembali masuk ke dalam dosa. Apakah dengan kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kita tinggalkan ketika kita ditransformasikan menjadi ciptaan yang baru atau dosa-dosa baru yang sebelumnya belum pernah kita lakukan, semua itu bisa membuat kita kembali kotor penuh noda meski sebelumnya sudah diperbaharui menyeluruh. Lantas apa yang akan diperbuat Tuhan kepada para orang percaya yang terpeleset kembali ke dalam dosa? Puji Tuhan atas segala kebaikan dan kesabaranNya menghadapi kita. Tuhan mengatakan demikian: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Dua hal yang siap Tuhan berikan adalah: 1. Mengampuni segala dosa kita, dan 2. Menyucikan kita dari segala kejahatan. Mengampuni dan menyucikan, "deterjen" seperti itulah yang siap diberikan Tuhan untuk kembali mentahirkan kita dari segala noda yang kembali mengotori hidup kita. Dan itu akan segera Tuhan berikan apabila kita mengakui dosa kita. Begitu baiknya Tuhan sehingga pintu pengampunan masih Dia bentangkan lebar-lebar terhadap anak-anakNya yang kembali tersesat.

Kemudian Yohanes melanjutkan hal ini dalam pasal selanjutnya. "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:1-2). Yohanes mengatakan sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi kalaupun kita kembali terjebak, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Ini janji Tuhan yang dihadirkan lewat Yohanes dan ditujukan buat kita, orang-orang percaya. Ketika kita kembali berbuat dosa artinya kita kembali hidup dalam penghukuman. Arah jalan pun berbelok menuju jurang kebinasaan. Tetapi Tuhan siap mengampuni, tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita apabila kita mengakui dosa kita di hadapanNya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca janji Tuhan yang berkaitan dengan hal ini. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Tuhan siap mengembalikan diri kita yang telah ternoda untuk kembali putih mengkilap seperti baru.

Kita akan kembali ke jalur yang benar setelah kita disucikan dari segala noda yang kembali mengotori kita.Sebagai ciptaan baru kita seharusnya meninggalkan masa lalu kita yang penuh dosa dan menatap ke depan untuk menuai janji-janji Tuhan. Namun dalam prakteknya di kehidupan kita, ada kalanya kita kembali terjebak dan berbuat dosa. Apabila itu yang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita orang yang sudah percaya untuk mengakui dosa mereka di hadapan Tuhan. Jika itu kita lakukan, maka Tuhan sendiri yang akan mengambil langkah: mengampuni dan menyucikan. Sekali lagi, itu bisa kita peroleh apabila kita mengakui dengan jujur atas segala dosa yang kita perbuat. Meski demikian, kita harus tetap berusaha sebaik-baiknya untuk menjaga kekudusan. Jangan sampai kita memanfaatkan atau menyalahgunakan kebaikan Tuhan ini untuk terus bolak balik berbuat dosa. Jika ada diantara teman-teman yang kembali ternoda, hari ini juga marilah datang kepadaNya dan mengakui semua dosa yang sudah kita lakukan. Tidak peduli setebal apapun noda yang ada pada anda saat ini, Tuhan siap mengampuni dan menyucikan anda kembali dan akan bersukacita menyambut kepulangan anakNya.

Bertobatlah segera selama kesempatan masih ada dan berusahalah agar jangan kembali ternoda oleh dosa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 5, 2012

Kaya dalam Kemurahan

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
=======================
"Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan."

kaya dalam kemurahanSeberapa besar keinginan kita untuk memberi? Ada banyak orang yang merasa belum sanggup untuk itu karena merasa diri mereka belum cukup kaya untuk bisa melakukannya. "Nantilah kalau sudah kaya.." kata mereka dengan ringan. Sementara manusia cenderung untuk terus merasa tidak pernah cukup. Cukup apa dulu? Cukup untuk makan? berlibur ke luar negeri? Beli rumah? mobil? gadget-gadget terbaru? berfoya-foya? Kata cukup sangatlah relatif dan bisa ditarik hingga selebar mungkin, sehingga kalau ini yang menjadi pola pikir kita, bisa-bisa kita tidak akan pernah mau memberi. Ada banyak orang yang ingin yang terbaik bagi dirinya sendiri tetapi berhitung dengan sangat kikir ketika itu berhubungan dengan orang lain. Lihatlah reaksi istri teman saya terhadap seorang buruh tua seperti yang sudah saya tulis dalam renungan kemarin. Upah perhari sekitar 60.000 rupiah, ia bekerja mulai jam 11 pagi, dan siangnya sempat hujan selama dua jam, artinya ia cuma layak mendapat sekitar 40.000, begitu perhitungan istri teman saya itu. Ia tidak mempertimbangkan bahwa bapak tua itu harus bekerja mengangkat batu-batu besar di tengah terik panas dan hujan. Terlebih ia tidak berpikir berdasarkan kasih, sesuatu yang sesungguhnya menjadi kewajiban bagi setiap anak Tuhan di muka bumi ini. Rajin berdoa, rajin membuka Alkitab ternyata tidak serta merta menjamin orang untuk melakukan tindakan nyata dalam hidup mereka berdasarkan kasih. Mereka lupa bahwa Tuhan tidak melihat apa yang dilihat manusia melainkan melihat hati. Bagaimana hati mereka bisa mendapat pembenaran dari Tuhan dan berharap doa-doa mereka didengar Tuhan apabila mereka hidup begitu kikir tanpa pernah memperhatikan sesamanya? Ketika Yesus berkata: "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 5:40), dan kita menolak melakukan apapun untuk mereka, pantaskah kita berharap untuk terus diberkati Tuhan? Dan pertanyaan berikutnya, apakah kita harus kaya raya terlebih dahulu untuk bisa mulai membantu sesama kita?

Seringkali pemberian yang diberikan orang hanya didasarkan pada untung-rugi semata. Kita royal ketika memberi kepada orang-orang yang dekat dan berjasa pada kita, ketika kita bersenang-senang, atau jika itu menguntungkan bagi kita, namun sulit memberi ketika hal itu tidak berkaitan secara langsung pada kesenangan kita. Apalagi jika sedang merasa kekurangan. Bukan benar-benar kekurangan, tapi perasaan kita saja yang mengatakan bahwa kita masih belum cukup untuk bisa dikatakan cukup. Atau mungkin mudah memberi ketika kita sedang berlebih, namun sulit ketika kita sedang dalam kekurangan. Ada banyak orang yang berkata, "jangankan memberi, untuk diri sendiri saja belum cukup." Padahal seperti yang saya sebut tadi, ukuran cukup dan tidak ini sangatlah bias dan sangat subjektif sifatnya. Kita seringkali lupa bahwa di saat kita merasa tidak cukup, ada banyak yang justru untuk makan satu kali sehari saja sulitnya bukan main. Bayangkan seorang bapak tua yang masih harus bekerja di usia senjanya untuk membiayai rumah tangganya dan anak-anak dan menantunya yang menumpang hidup kepadanya. Bagaimana kita bisa tega berhitung secara sempit bagi orang yang membutuhkan seperti bapak ini?

Kita bisa belajar dari bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia yang bisa kita ketahui lewat kesaksian Paulus. Mungkin ada banyak orang yang beranggapan seperti di atas, hanya memberi ketika mereka sedang berkelimpahan. Ketika jemaat Makedonia memberi begitu banyak pun, mungkin mudah bagi kita untuk beranggapan bahwa mereka adalah jemaat yang kaya raya. Tapi lihatlah faktanya. Paulus menjelaskan sebaliknya. Paulus berkata seperti ini: "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Ini keteladanan luar biasa yang seharusnya menjewer keras telinga orang-orang yang terus merasa tidak cukup/tidak puas dan terus menghitung untung dan rugi dalam memberi. Kemurahan hati yang mereka miliki jelas bukan berasal dari atau didasarkan atas harta kekayaan mereka, namun justru berasal dari sukacita yang mereka miliki, meski secara realita mereka tengah berada dalam kemiskinan dan penderitaan! Apa yang membuat mereka mampu memberi dengan sukacita? Itu tidak lain karena mereka sadar betul atas kasih karunia yang dianugerahkan oleh Tuhan. Mereka boleh saja miskin harta, tetapi mereka kaya dalam kemurahan. Hati mereka tetap penuh dengan rasa syukur yang meluap tanpa memandang situasi nyata yang tengah mereka hadapi. Mereka tahu bahwa Tuhan ada beserta mereka dan menjanjikan mereka keselamatan, dan untuk itu tidak ada yang perlu mereka kuatirkan sama sekali. Mereka akan memberi, mereka akan terus memberi, dan mereka tahu pasti bahwa Tuhan akan memelihara hidup mereka sehingga tidak akan berkekurangan meski mereka sendiri sedang dalam kemiskinan.

Miskin dan kaya itu relatif, tergantung bagaimana kita mensyukuri apa yang ada pada hidup kita hari ini. Kita bisa saja lebih miskin dari tetangga kita atau orang lain, namun itu bukan berarti kita harus miskin iman pula untuk percaya kepada penyertaan Tuhan. Dan itu bukan berarti bahwa kita tidak akan pernah bisa memberi. Kembali kepada jemaat Makedonia, Paulus mengatakan "Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. ereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami."(ay 3-5). Adalah sangat inspiratif ketika kita melihat hal seperti ini datang justru bukan dari orang-orang yang hartanya berlebihan, tapi justru datang dari orang yang miskin secara materi.

Firman Tuhan berkata "Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Perasaan lebih bahagia ketika memberi ketimbang menerima ini hanya akan muncul jika kita memiliki iman yang teguh, iman yang sungguh percaya bahwa Tuhan sanggup mencukupkan kita akan segala sesuatu, dan hanya bisa ada jika kita memiliki dan merasakan kasih Kristus dalam hidup kita. Tanpa itu, kita hanya akan terus merasa kekurangan, terus menimbun harta tanpa ada rasa cukup, dan cepat atau lambat kita akan menghamba kepada uang tanpa pernah merasa puas. Tidak akan ada lagi sukacita, meski harta berlimpah. Orang mungkin berpikir bahwa hidup akan begitu mudah ketika segalanya berlimpah, padahal mereka lupa bahwa disamping kekayaan harta, kita perlu pula kuasa untuk menikmatinya, dan itu pun juga karunia Tuhan. "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19). Tanpa itu, niscaya segala yang kita kumpulkan tidak akan pernah bisa membahagiakan kita. Melimpah harta belum tentu membuat kita bisa merasa puas, dan Alkitab justru berkata kebahagiaan itu justru akan muncul ketika kita dengan tulus mau memberi. Karena itu, mengapa kita harus takut dan berpelit-pelit untuk memberkati orang lain yang lebih sulit hidupnya daripada kita? Tuhan Yesus sendiri mengajarkan demikian: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Dalam kisah tentang ibu janda miskin yang memberi dalam kemiskinannya yang tertulis pada Lukas 21:1-4 kita melihat hal yang sama juga. Ia memang memberi hanya dua peser. Namun dibanding orang-orang kaya yang memberi banyak ke dalam kotak persembahan, Yesus mengatakan bahwa si ibu janda yang miskin ternyata dianggap memberi lebih banyak dari semua yang kaya itu. Alasannya, "Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya." (ay 4). Kembali kita melihat bahwa meski ibu janda ini miskin harta, namun ia kaya dalam kemurahan.

Tidak ada tempat bagi egoisme dan ketidakpedulian atau ketidakpekaan dalam prinsip Kerajaan Allah. Iman belumlah sempurna jika kita belum tergerak untuk membantu atau memberi kepada sesama kita. Meski kita berdoa siang malam tanpa henti, itu hanyalah akan sia-sia apabila kita tidak melakukan aplikasi nyata atas iman kita untuk bisa menyentuh dan memberkati orang lain lewat apa yang kita punya. Menjadi kaya dalam kemurahan bukan hanya ditujukan untuk orang-orang yang hartanya berlebih dan melimpah, tetapi itu merupakan panggilan bagi setiap orang yang merasa mengenal Tuhan tanpa terkecuali. Secara tegas Alkitab mengingatkan "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Kita bisa belajar dari sikap hati jemaat Makedonia dan mulai belajar untuk mengaplikasikan iman kita secara benar dalam kehidupan nyata sehari-hari. Adakah orang-orang yang membutuhkan disekitar anda saat ini? Sudahkah anda terpikir untuk membagi berkat bagi mereka?

Jadilah orang yang kaya dalam kemurahan seperti jemaat Makedonia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 4, 2012

Iman Kosong yang Mati

 Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=========================
"Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."

iman kosong matiPada suatu kali teman saya bercerita bahwa istrinya baru saja marah ketika ia melebihkan bayaran kepada bapak tua yang bekerja memperbaiki jalan di depan rumahnya. Ia geleng-geleng kepala karena istrinya marah melihatnya memberi lebih dari upah pekerja harian yang wajar. "Bapak itu sudah tua, saya kasihan melihatnya, apakah salah jika saya memberi upah lebih atas dasar kasih karena ia bekerja di bawah terik panas dua hari penuh?" katanya. Istrinya adalah orang percaya yang rajin berdoa, rajin ke gereja bahkan sering membaca Alkitab. Tetapi ketika berhadapan dengan situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, ternyata ia belumlah mencerminkan seorang pengikut Kristus yang sejati. Ada banyak orang yang berperilaku sama seperti ini. Di satu sisi mereka rajin berdoa, menunjukkan keimanan mereka yang tinggi dengan melakukan ibadah-ibadah secara rajin dan teratur, tetapi di sisi lain mereka kerap menghitung untung rugi tanpa memiliki rasa iba atau belas kasihan terhadap orang lain. Hal seperti ini bukanlah gambaran ideal dari para pengikut Kristus, karena Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap eksklusif, hanya mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri saja, atau juga hanya mementingkan keuntungan pribadi. Jika kita hanya berpikir mengenai keselamatan sendiri tanpa memiliki kasih terhadap sesama, itu sesungguhnya salah besar. Tidak ada tempat bagi egoisme dan ketidakpedulian terhadap orang lain dalam Kekristenan. Di dunia memang kita terbiasa diajarkan untuk bertindak seperti itu, tetapi tidak bagi Kerajaan Allah.

Beriman kepada Kristus dan rajin berdoa, membaca dan merenungkan Alkitab, itu tentu saja baik. Sangat baik malah. Tetapi itu semua tidak akan ada gunanya apabila iman itu tidak disertai dengan perbuatan nyata, diaplikasikan ke dalam kehidupan sehari-hari secara aktual. Alkitab berkata bahwa iman tanpa disertai perbuatan sesungguhnya tidaklah ada artinya, alias sia-sia. Yakobus menyatakan dengan tegas bahwa "...Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong" (Yakobus 2:20). Sebelumnya Yakobus juga mengatakan seperti ini: "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (ay 15-17). Atau lihat pula ayat berikut: "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (Yakobus 2:26). Iman tanpa disertai perbuatan adalah iman yang kosong bahkan iman yang mati, bagaikan tubuh tanpa roh.

Firman Tuhan mengingatkan kita hakekatnya kita diberkati. "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." (2 Korintus 9:8 BIS). Berbuat baik dan beramal, itulah yang menjadi keharusan bagi anak-anak Allah, dan untuk tujuan itulah sebenarnya Tuhan memberkati kita melimpah ruah. Alasan bahwa kita masih belum melimpah ruah kemudian sering dipakai orang untuk melalaikan tugasnya sebagai orang percaya. Tapi apakah benar kita sama sekali tidak bisa memberi sedikitpun atau harus berhitung untung rugi sesempit-sempitnya terhadap orang lain? Tentu saja tidak, karena kerelaan memberi bukanlah masalah kita punya banyak atau tidak tetapi tergantung dari hati. Firman Tuhan yang tertanam dalam hati kita seharusnya menumbuhkan iman dengan subur, dan kemudian dari hati yang sehat seperti itu kita pun akan penuh dalam kasih lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata untuk membagi berkat bagi sesama tanpa memandang siapa mereka. Seperti itulah seharusnya sikap hidup kita. Lihatlah bagaimana Paulus berpesan kepada Timotius. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17). Allah sendiri telah melengkapi kita untuk melakukan segala perbuatan baik. Semua itu bukan untuk disimpan sendiri tetapi sudah seharusnya kita pakai untuk membagi berkat kepada sesama.

Lihatlah firman Tuhan berikut ini: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Kita tidak akan lebih baik jika hanya menimbun saja. Tuhan akan selalu melihat ketulusan hati kita, apakah kita punya rasa belas kasih dan mau memberi atau hanya berhitung untung rugi dan tidak peduli terhadap orang lain. Seperti yang sudah saya sebutkan kemarin, aspek memberi dalam kebaikan itu begitu penting di mata Kristus sehingga ia berkata "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Kita bahkan tidak diperbolehkan untuk menunda-nunda atau menahan kebaikan selama kita mampu (Amsal 3:27) dan juga tidak boleh mempersulit orang terlebih dahulu sebelum kita memberi sesuatu kepada mereka (ay 28). Dari semua ini kita bisa melihat bahwa iman yang hanya ditelan sendiri tidak akan pernah bernilai apapun di mata Tuhan. Bagi Tuhan itu hanyalah iman kosong yang mati, yang tidak punya nilai apapun jika tidak dibarengi dengan perbuatan-perbuatan nyata yang keluar dari hati yang tulus atas dasar kasih.

Jangan puas dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang taat dan percaya. Kita tidak ubahnya seperti orang munafik yang berpikir bahwa mereka bisa selamat hanya dengan berdoa panjang-panjang dan tidak perlu peka terhadap penderitaan sesama. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih. Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena memberi atas dasar kasih. Tuhan akan selalu memperhitungkan semuaNya itu dan Dia akan selalu siap memberkati anda lebih lagi. Tuhan sendiri yang akan memelihara anda sesuai janjiNya, dan untuk itu anda tidak perlu kuatir akan kekurangan. Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tidak hanya lewat berdoa setiap waktu tetapi juga harus secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita, dan diaplikasikan dalam tindakan-tindakan nyata.

Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong dan mati, bagaikan tubuh tanpa roh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 3, 2012

Jangan Menunda

Ayat bacaan: Amsal 3:27
=======================
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."

jangan menunda"Ah masih lama dikumpulnya, nanti saja kalau sudah mepet.." demikian ujar salah seorang teman saya yang masih kuliah. Dua minggu setelahnya saya mendapatinya tengah kelabakan harus mengerjai seluruh tugas yang bertumpuk. "Tidak mungkin selesai kalau begini ceritanya.." katanya panik. Ia pun harus siap-siap memilih beberapa dari tumpukan tugas itu dan harus rela gagal lulus dalam beberapa mata kuliah karena tugasnya tidak akan sempat dikerjakan lagi hingga batas waktu yang ditetapkan. Itulah akibatnya ketika kita memilih untuk menunda pekerjaan atau tugas. Seandainya ketika tugas hadir kita langsung mulai menyicil mengerjakan, maka kita tidak perlu jungkir balik mendekati tenggat waktu yang ditetapkan. Ada banyak orang yang kemudian harus lembur bergadang dalam keadaan stres karena suka menunda-nunda, tapi lucunya mereka tidak kunjung kapok. Jika untuk hal-hal yang berhubungan dengan diri kita sendiri saja kita berlaku demikian, apalagi untuk sesuatu bagi orang lain. Dengarlah seorang teman yang mengomel panjang lebar hanya gara-gara seorang pengamen bernyanyi di depannya. "Mengganggu saja. Apa dia kira aku kaya? Nantilah kalau sudah benar-benar kaya, mungkin aku akan mempertimbangkannya." katanya di antara omelan-omelan selanjutnya. Seandainya ia memberi sedikit, katakanlah seribu rupiah, apakah ia benar-benar tidak sanggup untuk itu atau bakalan jatuh miskin instan setelahnya? Tentu saja tidak. Memangnya harus berapa kaya dulu baru bisa memberi untuk pengemis atau pengamen? Jika itu saja berat, bagaimana dengan bantuan-bantuan lebih besar bagi orang-orang yang tengah terdesak karena berhadapan dengan situasi hidup atau mati? Memberi sesungguhnya bukan masalah sanggup atau tidak, tapi adalah masalah hati, apakah kita rela karena mengasihi atau tidak.

Kita sebenarnya sudah diingatkan sejak awal bahwa tidaklah baik jika menunda-nunda untuk berbuat baik.  "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27). Ayat ini berkata dengan sangat jelas bahwa kita tidak boleh menunda perbuatan baik ketika kita sanggup melakukan itu, dan juga tidak boleh mempersulit orang terlebih dahulu sebelum kita membantu mereka. Ayat selanjutnya berkata "Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu." (ay 28). Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Berbuat baik tidak sekedar berbicara mengenai memberi sedekah atau sumbangan dalam wujud uang, tetapi bisa hadir lewat berbagai hal. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, dan kita mau membaginya kepada orang lain, sesungguhnya kita sudah melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya. Dalam situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu apalagi harus mempersulit mereka yang butuh terlebih dahulu demi kepuasan kita, karena alasan malas dan sebagainya. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya. Itu termasuk sebuah kebohongan dan kebohongan tidak pernah mendapat tempat apapun di hadapan Tuhan, dengan alasan apapun.

Kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Ini adalah sistem Kerajaan Surga. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 mengingatkan kita akan hal ini. Firman Tuhan berkata "..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3b-4). Mengapa harus demikian? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya meneladaniNya dalam mengasihi sesama kita. Yesus tidak pernah menunda apapun dalam menjalankan tugasNya seperti yang telah digariskan Bapa. Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita sebagai pengikutNya justru kerap berlaku sebaliknya yaitu senang menunda-nunda untuk melakukan segala sesuatu termasuk dalam berbuat baik?

Kerelaan memberi sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan iman kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Bagaimana cara Yesus mengasihi kita? Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa lewat cara yang sangat kejam dan tidak berperikemanusiaan. Lebih dari itu, Dia rela memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan Dia sudah membuktikan itu secara langsung. Mengacu kepada firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Kita harus berhenti bersikap kikir, berhenti untuk merasa diri selalu berkekurangan. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur, dan mempergunakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan untuk memberkati sesama kita. Aspek memberi dalam kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya sampai Tuhan pun berkata "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Tuhan tidak butuh uang kita. Dan tentu saja kita tidak akan mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita. Tetapi jika kita ingin membalas kebaikan Tuhan atau ingin menunjukkan bagaimana kita mengasihi Tuhan secara nyata, Alkitab menganjurkan kita untuk melakukannya melalui perbuatan baik kita kepada orang lain yang membutuhkan. Kita pun seharusnya mampu mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang dikatakan Paulus: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35).

Tuhan begitu peduli pada kita dan sudah menunjukkan betapa besar kasihNya kepada kita. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai alasan? Janda miskin yang hanya memiliki harta dua peser dalam Markus 12:41-44 mungkin masuk dalam kategori tidak sanggup dalam penilaian kita, tetapi ternyata ia masih sanggup memberi dari kekurangannya. Mari periksa diri kita, apakah kita sudah tergerak oleh kasih untuk menolong sesama kita atau masih suka menunda-nunda dengan berbagai alasan? Berhentilah menunda-nunda, selagi hari masih siang, marilah kita mengalirkan kasih Kristus kepada sesama kita sekarang juga.

Don't wait till tomorrow what you can do today

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 2, 2012

Dalam Gendongan Tuhan

Ayat bacaan: Yesaya 46:4
====================
"Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu."

gendongan TuhanAda banyak artis-artis muda pendatang baru yang meramaikan pentas musik nasional, tetapi ada banyak pula para senior yang sudah beberapa dasawarsa aktif bermain masih menunjukkan semangat yang sama dengan saat mereka masih muda dulu. Mereka masih aktif tampil dari panggung ke panggung tanpa kenal lelah, meski fisik mereka mungkin sudah mulai habis dimakan usia. Saya mengenal salah seorang musisi sangat senior yang sudah lebih dari setengah abad meniti karir di dunia musik jazz. Suatu kali saya bertanya kepadanya, tidakkah ia merasa lelah masih harus aktif di usia senjanya? Ia tersenyum dan berkata bahwa tugasnya belum selesai. "Panggilan saya adalah memberkati orang lewat talenta saya di bidang musik, tugas saya belum selesai. Tidak mudah untuk terus bermain di usia seperti ini, tetapi saya yakin Tuhan akan selalu menggendong saya dalam melakukan panggilan saya." katanya. Saya kagum terhadap semangat dan iman sang musisi senior ini. Itulah sebabnya ia tetap bermain lepas dan terlihat sangat menikmati penampilannya. Tuhan akan selalu menggendongnya. Bukan kekuatannya tapi kekuatan Tuhanlah yang ia andalkan. Ketika banyak orang yang mudah menyerah atau gampang mengeluh atas kondisi fisik yang melemah, kita bisa belajar dari sang musisi legendaris ini untuk  mengandalkan kekuatan Tuhan yang tentu mampu memberi semangat juang yang berbeda yang jauh mengatasi kondisi fisik secara aktual. Apa yang ia katakan sesuai dengan apa yang dikatakan Alkitab sejak ribuan tahun yang lalu.

Apa yang dijanjikan Tuhan memang sangat luar biasa. Ketika hari ini manusia cenderung hanya mengurus dirinya sendiri dan melupakan orang yang berusia lanjut, Tuhan menjanjikan sebuah perlindungan penuh kasih sayang kepada setiap orang hingga masa tuanya, memberi mereka kekuatan bahkan mengatakan siap menggendong mereka, dan itulah yang dikutip oleh sang musisi tadi. Lihatlah apa kata Tuhan yang tertulis dalam kitab Yesaya berikut: "Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:3-4). Seperti itulah sayangnya Tuhan kepada kita. Sejak dalam kandungan sampai rambut habis memutih seluruhnya Tuhan menyatakan masih akan menggendong kita. Dia akan selalu menolong dan menyelamatkan kita. Tuhan sangat mengasihi dan menghargai setiap ciptaanNya, terutama kita manusia yang telah Dia ciptakan dengan begitu spesial. Jika demikian mengapa kita harus menyerah dalam keterbatasan? Kekuatan kita memang terbatas, tetapi dengan mengandalkan Tuhan yang tidak terbatas maka kita akan mampu berbuat lebih. Mungkin dunia menganggap kita sudah habis atau tidak akan bisa melakukan apa-apa lagi, tapi kita bisa membuktikan sebaliknya jika kita berada dalam tangan Tuhan, mengandalkan Tuhan dan kekuatanNya untuk terus berjalan sesuai panggilan kita.

Yesus juga mengingatkan bagaimana berharganya manusia di mata Bapa. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Apabila burung pipit yang murah dan kecil saja Tuhan perhatikan, jika jumlah rambut di kepala kita pun dianggap penting oleh Tuhan sampai-sampai Dia merasa perlu untuk menghitungnya, mengapa kita harus takut dan menyerah karena keterbatasan-keterbatasan kita? Kembali pada kitab Yesaya, kita bisa melihat bagaimana Tuhan menyatakan betapa berharga dan istimewanya manusia bagi diriNya. "Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:16). Sebesar itulah Tuhan mengasihi kita. Bukan saja kita telah dianugerahkan keselamatan kekal lewat PuteraNya sendiri Yesus Kristus, tetapi sepanjang hidup pun Dia menjanjikan penyertaan, pengawalan, pertolongan dan perlindungan sepanjang hidup kita. Dengan lembut Tuhan akan selalu rindu menggendong kita, mendukung kita menghadapi arus deras dunia dengan segala rintangannya sampai masa hidup kita di dunia selesai.

Dengan janji kebaikan yang begitu indahnya dari Tuhan, tidakkah kita seharusnya bersyukur dan mulai berpikir untuk tidak terlalu cepat menyerah? Dan tidakkah kita seharusnya berpikir untuk membalas segala kebaikan Tuhan itu dengan menyatakan kasih dan kemuliaan Tuhan kepada sesama kita lebih lagi? Sang musisi senior menyadari hal itu. Ia tahu bahwa apabila ia masih diberi nafas kehidupan di muka bumi ini, itu berarti ia masih harus bekerja untuk memberi atau menghasilkan buah. (Filipi 1:22). Bukan tenaga dan kemampuan kita yang terbatas yang dibutuhkan Tuhan, tetapi kesediaan kita. Seringkali bukan soal mampu atau tidak, tetapi mau atau tidak. Tuhan akan menggendong kita dengan kekuatanNya yang mengatasi segalanya untuk memampukan kita menyelesaikan panggilan kita dengan hasil yang terbaik. Ada saat anda mungkin lemah tak berdaya, kondisi sudah tidak memungkinkan, kemampuan sangat terbatas, tetapi anda berada di atas bahu Tuhan yang terus menggendong anda dengan kekuatanNya yang tanpa batas. Anda dibawanya terus berjalan melewati segala liku-liku kehidupan, mengatasi lembah jurang dan bukit curam, terus mendaki hingga anda bisa mencapai puncaknya dimana kelak anda akan bersama dengan Dia menikmati sukacita yang kekal tanpa ratap tangis penderitaan. Apakah anda merasa lemah hari ini, merasa tidak mampu berbuat apapun dan merasa tidak memiliki harapan? Ingatlah bahwa anda bukan hanya berpijak di bumi saja, tetapi anda sedang berada dalam gendongan Tuhan yang akan terus memikul diri anda hingga sampai ke akhir perjalanan anda. Apakah anda masih muda atau sudah tua, apakah anda dalam fisik yang masih baik atau mengalami sesuatu kendala, semua itu tidak masalah, sebab Tuhan akan terus memangku anda dengan tanganNya sendiri. Apabila saat ini anda sedang merasa lemah, kehilangan motivasi, semangat atau merasa tidak sanggup, anda bisa mulai belajar untuk mengerti bahwa anda bisa bersandar di tanganNya dan mengandalkanNya lebih dari apapun. You can lean yourself on His loving arms dan menyadari bahwa dalam kondisi seperti inilah kita bisa justru menyadari betapa beruntungnya kita memiliki Kristus.

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28)


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 1, 2012

Setengah Penuh atau Setengah Kosong?

Ayat bacaan: Bilangan 13:27
=====================
"Mereka menceritakan kepadanya: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya..."

setengah penuh setengah kosongSebuah ungkapan tentang pandangan kita terhadap sesuatu sering digambarkan orang lewat contoh gelas yang setengah penuh/setengah kosong. Half empty and half full glass. Gelasnya sama, setengahnya berisi air. Apa yang anda lihat dari gambar di sebelah kiri, gelas setengah kosong atau setengah penuh, itu menggambarkan cara pandang anda terhadap sebuah situasi. Dalam meliput sebuah acara saya kerap menyaksikan perbedaan pandangan seperti ini. Ada wartawan yang menganggap bahwa penonton memenuhi sebagian dari ruangan, sebagian lagi menyebutkan bahwa hanya setengah ruangan yang terisi. Ruangannya sama, waktunya sama, tetapi cara pandangnya bisa berbeda terhadap orang yang berbeda. Pertanyaan tentang cara pandang terhadap gelas yang setengah berisi setengah kosong ini bisa dipakai sebagai sebuah tes kecil bagaimana sikap kita dalam memandang hidup. Orang yang punya pola pikir positif atau optimis akan melihatnya sebagai gelas yang setengah penuh, sebaliknya mereka yang pola pikirnya negatif atau pesimis akan melihatnya setengah kosong. Dalam sebuah gambar dengan kondisi yang sama, kesimpulan bisa berbeda, tergantung dari pola pikir yang mendasari diri seseorang.

Kita bisa melihat contohnya dalam sebuah kisah dalam kitab Bilangan pasal 13, yaitu ketika Musa mengutus 12 orang untuk mengintai tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan lewat Abraham (Kejadian 17:8). Pengintaian mereka selama 40 hari menyimpulkan hal yang sama, yaitu bahwa tanah yang dijanjikan Tuhan memang tanah yang makmur, berlimpah susu dan madunya. "Mereka menceritakan kepadanya: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya..." (Bilangan 13:27). Sampai di sini kesimpulan yang diperoleh kedua belas pengintai adalah sama. Tapi selanjutnya terjadi perbedaan pendapat dengan persentase yang tidak sebanding. 10 orang berkata bahwa bangsa yang tinggal disana adalah raksasa-raksasa yang jauh lebih kuat, menjadikan bangsa Israel hanya seperti belalang kecilnya dibanding mereka. "Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana. Orang Amalek diam di Tanah Negeb, orang Het, orang Yebus dan orang Amori diam di pegunungan, orang Kanaan diam sepanjang laut dan sepanjang tepi sungai Yordan." (ay 28-29). "Tidak ada harapan, tidak ada peluang..there's no chance at all" itu kira-kira yang dikatakan 10 orang. Hanya Kaleb dan Yosua yang berpandangan beda dengan iman yang teguh pada Tuhan. Karena tanah itu adalah tanah yang dijanjikan Tuhan, maka ada penyertaan Tuhan yang akan membuat mereka PASTI (bukan mungkin atau mudah-mudahan) mampu menduduki tanah terjanji itu. "Kemudian Kaleb mencoba menenteramkan hati bangsa itu di hadapan Musa, katanya: "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Dua belas pasang mata mengarah pada satu tempat yang sama selama 40 hari, tetapi kesimpulan akhir yang diperoleh berbeda. Sayangnya suara terbanyak yang pesimis lah yang akhirnya didengar. Bagaimana akibatnya? Itu menjadi keputusan yang fatal. Yang menjadi konsekuensinya tidak main-main: mereka harus berputar-putar di padang gurun selama 40 tahun sebelum akhirnya bisa memasuki Kanaan. Sebuah fakta lain, diantara orang-orang yang ketika itu sudah dewasa sebelum mengalami 40 tahun di padang gurun, hanya Yosua dan Kaleb lah yang kemudian berhak memasuki tanah Kanaan.

Jika kita fokus pada Kaleb, kita melihat bahwa Kaleb mempunyai sikap positif dengan dasar iman teguh yang percaya sepenuhnya pada Tuhan. Ketika ia diutus untuk mengintai usianya masih 40 tahun. 45 tahun berikutnya, ketika usianya telah menginjak 85 tahun ia ternyata masih tetap bersikap sama, memiliki iman yang tetap percaya penuh pada Tuhan. Pada usia 85 tahun dia masih siap dengan semangat tinggi untuk menduduki Hebron yang banyak raksasanya. 40 tahun berada di padang gurun tidak sedikitpun meruntuhkan imannya. Kaleb memiliki mental seorang pemenang, penuh sikap positif karena imannya sangat kokoh. "Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini;pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (Yosua 14:10-11) Apakah Kaleb kemudian memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan? Tentu saja. Iman yang ia miliki mengantarnya untuk memperoleh keberhasilan tepat seperti apa yang telah dijanjikan Tuhan sebelumnya.

Kita tentu sudah sering mendengar janji-janji Tuhan mengenai keselamatan, perlindungan dari bahaya, kelepasan dari kesesakan dan lain-lain. Semua itu tidaklah baru lagi dalam pendengaran kita. Tapi seberapa banyak diantara kita yang bisa bersikap seperti Kaleb? Apakah kita mampu selalu menghadapi setiap permasalahan dengan sikap positif, mempercayai semua janji Tuhan secara penuh seperti halnya Kaleb atau kita masih lebih banyak bersikap pesimis dengan mental kalah sebelum bertanding seperti 10 pengintai lainnya? Lihatlah bahwa pandangan pesimis dari 10 orang pengintai bukan saja berakibat hanya pada mereka, tapi juga berdampak pada konsekuensi sangat berat dan fatal yang harus ditanggung seluruh bangsa Israel. Hari ini marilah kita belajar dari sikap positif Kaleb karena sikap tersebut akan memberikan perbedaan yang nyata ke arah yang lebih baik bukan saja kepada diri sendiri, tapi juga pada orang lain. Mari kita belajar memandang gelas di atas sebagai gelas yang setengah penuh, bukan setengah kosong.

Miliki sikap positif yang berasal dari iman yang teguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...