(bersambung)
Satu hal lagi yang juga pantas menjadi perhatian kita adalah membereskan segala kesalahan dan masalah kita di masa lalu. Ini sangatlah penting, karena sesungguhnya hidup dengan hati yang tertuduh pun bisa merampas sukacita dari diri kita. Lihatlah ayat berikut ini: "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau hati kita tidak menuduh kita, maka kita mempunyai keberanian percaya untuk mendekati Allah" (1 Yohanes 3:21). Seringkali perasaan tertuduh dan bersalah membuat kita ragu untuk mendekati Tuhan, dan akibatnya kita tidak lagi merasakan sebentuk sukacita yang berasal dariNya. Iblis sangat senang memperdaya kita dengan terus menuduh kita atas segala kesalahan di masa lalu. Bisa begitu intensnya tuduhan itu hingga kita lupa bahwa Tuhan sebenarnya sudah mengampuni kita ketika kita bertobat.
Yesus sudah mengingatkan kita: "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:10). Jika kita membereskan semua kesalahan kita, mengakuinya di hadapan Tuhan dan membereskan dengan orang-orang yang berkaitan dengan itu, memberikan pengampunan bagi mereka yang pernah menyakiti kita, kita pun akan terbebas dari perasaan tertuduh itu. Iblis tidak akan bisa mendakwa apa-apa lagi dari kita, ia tidak akan bisa lagi memperdaya kita.. Kita bisa membangun kembali hubungan kita dengan Tuhan, dan dengan demikian sukacita daripadaNya akan kembali mengalir ke dalam diri kita.
Siapapun orangnya, pada suatu kali bisa saja mengesalkan kita. Situasi sulit bisa kapan saja menimpa diri kita. Semua orang punya kelemahan masing-masing, baik dari sifat, perilaku, kebiasaan dan lainnya. Tapi tidakkah mereka juga punya kelebihan sendiri-sendiri? Mungkin suami anda bukanlah orang yang rapi, tapi dia setia dan begitu menyayangi anda. Mungkin dia mendengkur, tapi itu karena ia mati-matian membanting tulang demi memenuhi kebutuhan anda. Mungkin istri anda pada suatu ketika terlambat bangun dan menyiapkan sarapan, tapi tidakkah anda bahagia ketika melihat senyumannya menyambut anda pulang kerja? Mungkin dia punya sifat cuek dan kurang romantis, tapi bayangkan hidup tanpa dirinya. In the end we have to realize that nobody's perfect. They make mistakes, so do we.
Jangan dasarkan sukacita kita kepada orang atau situasi terkini yang kita hadapi, tetapi dasarkanlah kepada Tuhan. Itulah sumber sukacita yang sebenarnya, yang sejati. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita, karena semua itu berasal dari Tuhan dan itu letaknya sangat jauh di atas segala permasalahan atau orang-orang yang mengecewakan kita. Begitu banyak orang yang keliru meletakkan sukacitanya hingga Firman Tuhan pun mengingatkan hingga berulang dalam ayat yang sama. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Lalu dalam kesempatan lain: "Bersukacitalah senantiasa." (1 Tesalonika 5:16). Percayalah bahwa kita punya Tuhan yang jauh lebih besar dari semua masalah, yang telah memberikan kita sukacita sejati terlepas dari apapun keadaan kita hari ini dan siapapun yang kita hadapi saat ini. Oleh karenanya, jangan biarkan sukacita kita dirampas. Let's set our mind towards the real joy from the real source. "Bersukacitalah senantiasa.Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:16-18). Apakah anda siap untuk menerima kembali sukacita dalam diri anda? Dasarkanlah pada sumber yang benar. Are you ready? Let's rejoice!
Sukacita sejati itu berasal dari Tuhan dan bukan dari orang lain atau situasi terkini yang kita alami
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 7, 2012
Monday, February 6, 2012
Perampas Sukacita (1)
Ayat bacaan: Mazmur 33:21
======================
"Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya."
Pernahkah anda bertemu dengan orang yang sikapnya berubah secara mendadak menjadi negatif? Saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang seperti ini. Tadinya periang, suka senyum dan menyenangkan, tapi tiba-tiba mereka berubah menjadi pemurung, menghindar dari orang lain dan pendiam. Kalaupun menjawab hanya seadanya saja dengan singkat. Adda juga yang berubah menjadi pribadi pemarah dengan emosi tak terkontrol. Mereka tidak segan-segan menunjukkan amarahnya di depan orang lain yang bisa terpicu dalam hitungan detik saja. Ada yang menjadi dingin dan kaku. Pendeknya, mereka mengalami perubahan sikap ke arah negatif yang membuat suasana disekitar mereka tiba-tiba menjadi gelap, muram atau bahkan panas. Beberapa dari mereka saya kenal cukup dekat, dan saya sendiri cukup kaget melihat perubahan sikap seperti ini dalam waktu relatif singkat. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Kesimpulan saya dari semua orang yang mengalami ini bermuara pada satu hal: mereka kehilangan sukacita. There are things that can steal your joy, dan itu akan membuat perilaku dan sikap orang bisa langsung berubah dari terang menjadi gelap, bagaikan mendung yang mendadak datang menutupi cerahnya langit.
Kita hidup di dunia yang sulit. Terkadang dunia itu bisa begitu mengerikan bagaikan penuh dengan ranjau-ranjau yang bisa meledakkan kita dalam setiap langkah. Di dunia yang sulit ini pula kita bertemu dengan orang-orang yang siap membuat kita kehilangan kesabaran dan membuat situasi yang sudah buruk bertambah parah. Lalu bagaimana? Bukankah kita setiap saat harus berhadapan dengan itu semua dan kita ini hanyalah manusia biasa yang terbatas daya tahan dan kesabarannya? Tentu saja. Tetapi ada satu cara yang jitu untuk bisa mengatasi ini semua, dan itu bermuara pada pemahaman kita tentang asal muasal dari sebuah sukacita itu. Apapun penyebabnya, semua itu biasanya berasal dari kekeliruan kita dalam meletakkan atau menumpukan sukacita kita sendiri. Jika kita mendasarkan sukacita kita kepada manusia maka cepat atau lambat kita akan kehilangan sukacita tersebut dari dalam diri kita. Manusia bisa mengecewakan, orang terdekat kita sekalipun pada suatu waktu bisa menyinggung perasaan kita lalu membuat kita terluka, merasa tidak dipeduli, dikhianati dan sebagainya. Tapi dengarlah. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Pemazmur adalah juga manusia seperti kita yang tentu saja tidak luput dari berbagai permasalahan termasuk di dalamnya berhadapan dengan orang-orang sulit yang siap membuat sukacita kita lenyap dari diri kita. Tapi lihatlah bagaimana ia berseru. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Tidak hanya dikatakan sebagai tempat perlindungan dan kekuatan dan penolong dalam kesesakan, tapi juga sangat terbukti.
Lantas kemana seharusnya kita menggantungkan sukacita kita? Sebuah sukacita yang sejati itu sesungguhnya berasal dari TUHAN, dan bukan dari manusia, bukan pula tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami. Artinya, kita tidak harus menggantungkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita kepada manusia lain di sekeliling kita, atau pada keadaan kita saat ini, melainkan menggantungkannya kepada Tuhan, Allah kita yang tidak akan pernah mengecewakan anak-anakNya. Ayat berikut ini menyatakan kunci tersebut dengan sangat jelas dan sederhana. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Dari sini kita bisa melihat bahwa hati kita bersukacita bukan tergantung dari orang lain atau situasi yang kita hadapi, tapi tergantung dari sejauh mana kita percaya pada Tuhan dan mempercayakanNya sebagai sumber sukacita kita yang sejati. Kita tidak akan pernah bisa menghempang masalah, kita tidak akan bisa menghindari persinggungan dengan orang lain. Masalah boleh hadir, orang-orang yang sulit ini bisa kapan saja hadir di depan hidung kita, tapi sukacita tidak boleh hilang karenanya. Mengapa? Karena sukacita sesungguhnya berasal dari Tuhan, bukan dari orang atau situasi di sekeliling kita.
(bersambung)
======================
"Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya."

Kita hidup di dunia yang sulit. Terkadang dunia itu bisa begitu mengerikan bagaikan penuh dengan ranjau-ranjau yang bisa meledakkan kita dalam setiap langkah. Di dunia yang sulit ini pula kita bertemu dengan orang-orang yang siap membuat kita kehilangan kesabaran dan membuat situasi yang sudah buruk bertambah parah. Lalu bagaimana? Bukankah kita setiap saat harus berhadapan dengan itu semua dan kita ini hanyalah manusia biasa yang terbatas daya tahan dan kesabarannya? Tentu saja. Tetapi ada satu cara yang jitu untuk bisa mengatasi ini semua, dan itu bermuara pada pemahaman kita tentang asal muasal dari sebuah sukacita itu. Apapun penyebabnya, semua itu biasanya berasal dari kekeliruan kita dalam meletakkan atau menumpukan sukacita kita sendiri. Jika kita mendasarkan sukacita kita kepada manusia maka cepat atau lambat kita akan kehilangan sukacita tersebut dari dalam diri kita. Manusia bisa mengecewakan, orang terdekat kita sekalipun pada suatu waktu bisa menyinggung perasaan kita lalu membuat kita terluka, merasa tidak dipeduli, dikhianati dan sebagainya. Tapi dengarlah. Tuhan tidak akan pernah mengecewakan kita. Pemazmur adalah juga manusia seperti kita yang tentu saja tidak luput dari berbagai permasalahan termasuk di dalamnya berhadapan dengan orang-orang sulit yang siap membuat sukacita kita lenyap dari diri kita. Tapi lihatlah bagaimana ia berseru. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Tidak hanya dikatakan sebagai tempat perlindungan dan kekuatan dan penolong dalam kesesakan, tapi juga sangat terbukti.
Lantas kemana seharusnya kita menggantungkan sukacita kita? Sebuah sukacita yang sejati itu sesungguhnya berasal dari TUHAN, dan bukan dari manusia, bukan pula tergantung dari situasi, kondisi atau keadaan yang tengah kita alami. Artinya, kita tidak harus menggantungkan kebahagiaan dan kegembiraan dalam hidup kita kepada manusia lain di sekeliling kita, atau pada keadaan kita saat ini, melainkan menggantungkannya kepada Tuhan, Allah kita yang tidak akan pernah mengecewakan anak-anakNya. Ayat berikut ini menyatakan kunci tersebut dengan sangat jelas dan sederhana. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Dari sini kita bisa melihat bahwa hati kita bersukacita bukan tergantung dari orang lain atau situasi yang kita hadapi, tapi tergantung dari sejauh mana kita percaya pada Tuhan dan mempercayakanNya sebagai sumber sukacita kita yang sejati. Kita tidak akan pernah bisa menghempang masalah, kita tidak akan bisa menghindari persinggungan dengan orang lain. Masalah boleh hadir, orang-orang yang sulit ini bisa kapan saja hadir di depan hidung kita, tapi sukacita tidak boleh hilang karenanya. Mengapa? Karena sukacita sesungguhnya berasal dari Tuhan, bukan dari orang atau situasi di sekeliling kita.
(bersambung)
Sunday, February 5, 2012
Berdoa dengan Ucapan Syukur
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
=========================
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."
Sebuah video dokumenter tentang sejarah jazz menggambarkan bagaimana musik itu terbentuk dari orang-orang yang tertindas, yaitu para budak kulit hitam lebih dari seabad yang lalu. Mereka hidup dalam tekanan dan penuh penderitaan, yang bagi sebagian besar dari mereka sudah berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Menariknya, justru ditengah kehidupan penuh penderitaan inilah lahir genre musik blues yang merupakan akar dari segala musik modern yang ada di dunia hari ini, dan dari blues kemudian lahirlah jazz dengan masuknya pengaruh musik gospel, marching band dan sebagainya. Narasumber di dalam video dokumenter itu mengatakan seperti ini: "Para budak ini bisa menangis, mengeluh meratapi nasibnya, atau mereka bisa menumpahkannya dalam bentuk kreatifitas lewat musik. Mereka memilih pilihan kedua." Ya, dia benar. Apabila para budak ini memilih untuk meratapi nasib saja dari satu generasi ke generasi berikutnya maka bisa dibayangkan bagaimana hampanya musik sekarang ini. Jika anda penggemar blues dan jazz, itu berasal dari para budak yang masih bisa menunjukkan tabahnya mereka menghadapi hidup dengan memainkan musik di tengah penderitaan. Jika anda penggemar rock, RnB, pop, funk dan jenis-jenis lainnya, itu pun berakar dari blues yang notabene menjadi "curhat"an para budak kulit hitam pada masa itu. Lihatlah bagaimana pilihan kita dalam menyikapi hidup bisa membuat perbedaan yang begitu nyata yang menentukan arah perjalanan sejarah dunia.
Sangat mudah bagi kita untuk meratapi nasib, tapi betapa sulitnya untuk mengucap syukur. Ada banyak orang yang hanya mengisi doanya dengan berbagai keluhan atau hanya terus meminta dengan daftar yang panjang. Berdoa mengeluarkan isi hati di hadapan Tuhan itu tentu saja baik. Kita memang harus jujur mencurahkan perasaan kita kepada Tuhan. Tidak salah juga untuk memohon Tuhan meneguhkan dan melepaskan kita dari berbagai beban hidup akibat berbagai masalah. Tapi seandainya anda ada di pihak Tuhan, senangkah anda jika mendengar orang yang hanya datang mengeluh tanpa pernah berterimakasih atau bersyukur, meski anda telah begitu banyak menolong mereka? Jika anda merasa kecewa, seperti itu jugalah perasaan Tuhan apabila kita hanya datang menghadapNya dengan membawa rasa mengasihani diri, ratapan, keputusasaan, ketidakpuasan, ketidaksabaran atau bahkan kemarahan. Bayangkan bagaimana perasaan Tuhan jika ini dilakukan oleh sebagian besar anak-anakNya sementara setiap saat Dia tidak pernah berhenti mencurahkan kasihNya kepada kita. Dan ini merupakan masalah klasik manusia sejak dulu. Kita tahu sikap bangsa Israel yang sangat "tersohor" itu di zaman Musa. Mereka menari dan bersorak-sorak dengan cepat ketika pertolongan Tuhan datang, tapi secepat itu pula mereka kembali mengeluh, protes dan bersungut-sungut ketika kembali menemui situasi sulit. Manusia memang mudah mengeluh tapi sulit bersyukur. Jika dalam keadaan baik saja sering lupa, apalagi ketika tengah menghadapi masalah. Ada banyak orang yang memohon pertolongan dari Tuhan, tetapi setelah pertolongan datang mereka pun lupa untuk bersyukur karena terlena dalam kenyamanan setelah lepas dari masalah.
Akan hal ini kita bisa melihat kisah 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus dalam Lukas 17:11-19. Mereka berteriak kepada Yesus: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (ay 12). Mendengar ratapan mereka, Yesus pun menyembuhkan ke 10 orang itu. Lalu apa yang terjadi? Datang kepada Yesus mengucap syukur, berterimakasih atas mukjizat kesembuhan sebagai anugerah luar biasa yang mereka terima? Ternyata tidak. Hanya satu orang, itupun orang Samaria, yang datang kembali mengucap syukur kepada Yesus. (ay 16). Betapa ironis dan menyedihkan. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (ay 17-18). Betapa kecewanya Tuhan menghadapi perilaku semacam ini. Datang ketika butuh, lalu meninggalkan ketika hidup aman dan nyaman. Ini gambaran dari perilaku banyak orang di jaman sekarang, bahkan masih saja terjadi di kalangan anak-anak Tuhan.
Kita bisa belajar dari Paulus mengenai mengucap syukur. Coba perhatikan. Kurang apa Paulus mendapat tekanan? Pergumulan, siksaan, penderitaan, ancaman, dan tekanan lainnya terus menerpa dirinya setiap saat dalam menyampaikan Injil dari satu tempat ke tempat lain. Ia begitu menderita, mungkin jauh lebih berat dari apa yang kita alami sekarang ini. Tapi lihatlah apa yang diajarkan Paulus. Ia tidak membiarkan hidupnya terus dipenuhi keluh kesah dan rasa kecewa dalam mengalami situasi sulit sepanjang perjalanannya. Dari Paulus kita malah memperoleh ajaran tentang sebuah prinsip doa yang disertai ucapan syukur. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Dalam banyak kesempatan lain di surat-surat berbeda Paulus tetap mengingatkan akan hal ini. "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." (Kolose 4:2) atau seperti ini: "Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:17-18). Tetap berdoa sambil mengucap syukur dalam segala hal, itulah yang sesungguhnya diinginkan Allah untuk didengar dari kita. Ada banyak lagi ucapan-ucapan Paulus yang mengajarkan pola hidup berdoa yang dipenuhi ucapan syukur. Tuhan akan lebih berkenan jika kita datang kepadaNya membawa permohonan kita dengan disertai hati yang sabar dan diisi dengan keyakinan penuh serta ucapan syukur.
Hari ini marilah kita sama-sama memeriksa diri. Apa yang mendominasi isi doa kita saat ini? Sudahkah kita benar-benar bersyukur atas perlindungan dan penyertaan Tuhan? Apakah porsi permohonan dan daftar permintaan kita masih jauh lebih banyak dibanding ucapan syukur? Meminta Tuhan memberkati hidup, keluarga, pekerjaan atau pelayanan kita berikut daftar-daftar permintaan yang lebih rinci memang tidak salah. Tapi yang salah adalah apabila kita hanya tahu meminta tanpa berterimakasih dan bersyukur. Tidak saja sekedar mengucap syukur, tapi berikan pula puji-pujian kepada Tuhan dengan bermazmur baginya. Perhatikanlah ayat berikut: "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:16-17). Meskipun saat ini kita masih berhadapan dengan kejadian yang seolah merugikan, situasi-situasi sulit dan beratnya beban hidup, ingatlah bahwa Tuhan itu selalu baik, selalu peduli dan tidak pernah berubah. Berkali-kali Dia sudah membuktikan mukjizatNya. Apabila dulu Dia bisa, sekarang pun sama. Tuhan tetap sanggup mengubah masalah seberat apapun menjadi kebahagiaan. Doa dengan ucapan syukur merupakan doa yang dinaikkan dengan iman, yang percaya bahwa Tuhan sanggup mengubahkan keadaan apapun. Karenanya, berhentilah mengisi setiap doa dengan keluh kesah dan permintaan tanpa henti. Gantilah dengan ucapan syukur, dan lihatlah bagaimana Tuhan akan menjawab doa-doa anda.
Berhentilah mengeluh, sertailah setiap doa dengan ucapan syukur
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=========================
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Sangat mudah bagi kita untuk meratapi nasib, tapi betapa sulitnya untuk mengucap syukur. Ada banyak orang yang hanya mengisi doanya dengan berbagai keluhan atau hanya terus meminta dengan daftar yang panjang. Berdoa mengeluarkan isi hati di hadapan Tuhan itu tentu saja baik. Kita memang harus jujur mencurahkan perasaan kita kepada Tuhan. Tidak salah juga untuk memohon Tuhan meneguhkan dan melepaskan kita dari berbagai beban hidup akibat berbagai masalah. Tapi seandainya anda ada di pihak Tuhan, senangkah anda jika mendengar orang yang hanya datang mengeluh tanpa pernah berterimakasih atau bersyukur, meski anda telah begitu banyak menolong mereka? Jika anda merasa kecewa, seperti itu jugalah perasaan Tuhan apabila kita hanya datang menghadapNya dengan membawa rasa mengasihani diri, ratapan, keputusasaan, ketidakpuasan, ketidaksabaran atau bahkan kemarahan. Bayangkan bagaimana perasaan Tuhan jika ini dilakukan oleh sebagian besar anak-anakNya sementara setiap saat Dia tidak pernah berhenti mencurahkan kasihNya kepada kita. Dan ini merupakan masalah klasik manusia sejak dulu. Kita tahu sikap bangsa Israel yang sangat "tersohor" itu di zaman Musa. Mereka menari dan bersorak-sorak dengan cepat ketika pertolongan Tuhan datang, tapi secepat itu pula mereka kembali mengeluh, protes dan bersungut-sungut ketika kembali menemui situasi sulit. Manusia memang mudah mengeluh tapi sulit bersyukur. Jika dalam keadaan baik saja sering lupa, apalagi ketika tengah menghadapi masalah. Ada banyak orang yang memohon pertolongan dari Tuhan, tetapi setelah pertolongan datang mereka pun lupa untuk bersyukur karena terlena dalam kenyamanan setelah lepas dari masalah.
Akan hal ini kita bisa melihat kisah 10 orang kusta yang disembuhkan Yesus dalam Lukas 17:11-19. Mereka berteriak kepada Yesus: "Yesus, Guru, kasihanilah kami!" (ay 12). Mendengar ratapan mereka, Yesus pun menyembuhkan ke 10 orang itu. Lalu apa yang terjadi? Datang kepada Yesus mengucap syukur, berterimakasih atas mukjizat kesembuhan sebagai anugerah luar biasa yang mereka terima? Ternyata tidak. Hanya satu orang, itupun orang Samaria, yang datang kembali mengucap syukur kepada Yesus. (ay 16). Betapa ironis dan menyedihkan. "Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (ay 17-18). Betapa kecewanya Tuhan menghadapi perilaku semacam ini. Datang ketika butuh, lalu meninggalkan ketika hidup aman dan nyaman. Ini gambaran dari perilaku banyak orang di jaman sekarang, bahkan masih saja terjadi di kalangan anak-anak Tuhan.
Kita bisa belajar dari Paulus mengenai mengucap syukur. Coba perhatikan. Kurang apa Paulus mendapat tekanan? Pergumulan, siksaan, penderitaan, ancaman, dan tekanan lainnya terus menerpa dirinya setiap saat dalam menyampaikan Injil dari satu tempat ke tempat lain. Ia begitu menderita, mungkin jauh lebih berat dari apa yang kita alami sekarang ini. Tapi lihatlah apa yang diajarkan Paulus. Ia tidak membiarkan hidupnya terus dipenuhi keluh kesah dan rasa kecewa dalam mengalami situasi sulit sepanjang perjalanannya. Dari Paulus kita malah memperoleh ajaran tentang sebuah prinsip doa yang disertai ucapan syukur. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6). Dalam banyak kesempatan lain di surat-surat berbeda Paulus tetap mengingatkan akan hal ini. "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." (Kolose 4:2) atau seperti ini: "Tetaplah berdoa. Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:17-18). Tetap berdoa sambil mengucap syukur dalam segala hal, itulah yang sesungguhnya diinginkan Allah untuk didengar dari kita. Ada banyak lagi ucapan-ucapan Paulus yang mengajarkan pola hidup berdoa yang dipenuhi ucapan syukur. Tuhan akan lebih berkenan jika kita datang kepadaNya membawa permohonan kita dengan disertai hati yang sabar dan diisi dengan keyakinan penuh serta ucapan syukur.
Hari ini marilah kita sama-sama memeriksa diri. Apa yang mendominasi isi doa kita saat ini? Sudahkah kita benar-benar bersyukur atas perlindungan dan penyertaan Tuhan? Apakah porsi permohonan dan daftar permintaan kita masih jauh lebih banyak dibanding ucapan syukur? Meminta Tuhan memberkati hidup, keluarga, pekerjaan atau pelayanan kita berikut daftar-daftar permintaan yang lebih rinci memang tidak salah. Tapi yang salah adalah apabila kita hanya tahu meminta tanpa berterimakasih dan bersyukur. Tidak saja sekedar mengucap syukur, tapi berikan pula puji-pujian kepada Tuhan dengan bermazmur baginya. Perhatikanlah ayat berikut: "Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu. Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita." (Kolose 3:16-17). Meskipun saat ini kita masih berhadapan dengan kejadian yang seolah merugikan, situasi-situasi sulit dan beratnya beban hidup, ingatlah bahwa Tuhan itu selalu baik, selalu peduli dan tidak pernah berubah. Berkali-kali Dia sudah membuktikan mukjizatNya. Apabila dulu Dia bisa, sekarang pun sama. Tuhan tetap sanggup mengubah masalah seberat apapun menjadi kebahagiaan. Doa dengan ucapan syukur merupakan doa yang dinaikkan dengan iman, yang percaya bahwa Tuhan sanggup mengubahkan keadaan apapun. Karenanya, berhentilah mengisi setiap doa dengan keluh kesah dan permintaan tanpa henti. Gantilah dengan ucapan syukur, dan lihatlah bagaimana Tuhan akan menjawab doa-doa anda.
Berhentilah mengeluh, sertailah setiap doa dengan ucapan syukur
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, February 4, 2012
Menyukacitakan Tuhan
Ayat bacaan: Mazmur 104:31
=====================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"
Salah seorang murid saya merupakan anggota dari mahasiswa pencinta alam. Apa yang menggerakkannya untuk aktif dalam perkumpulan ini adalah kerinduannya untuk menikmati bagian alam yang masih asri, indah dan segar yang tentu sulit diperoleh di kota-kota besar terutama kota industri. Untuk itu ia siap menempuh perjalanan jauh lengkap dengan segala resiko di dalamnya. "Perjuangannya berat, tetapi semua itu terlupakan begitu saya melihat keindahan alam yang tidak dilihat oleh orang lain." katanya ringan sambil tersenyum. Kota semakin padat, setiap sisi diubah menjadi gedung-gedung dan alam yang indah pun semakin tergerus oleh pertumbuhan kota. Bagi kita yang tinggal di kota terutama kota besar, kita pun harus terlebih dahulu mengambil waktu khusus untuk berlibur agar bisa menikmati suasana yang jauh dari hingar bingar dan polusi di kota-kota besar ini.
Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan teramat sangat indah. Itu adalah anugerah yang amat besar yang terlebih dahulu Dia sediakan sebelum Dia menciptakan manusia. Mengapa? Supaya ketika manusia hadir, keindahan itu sudah bisa dinikmati secara langsung. Tuhan pun sudah menyatakan sejak semula bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Alam semesta beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi lihatlah bahwa otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Kata menguasai disini bukan berarti kita boleh bertindak semena-mena dengan melakukan apapun seenaknya, tapi justru sebaliknya, kita diminta untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur, bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya?
Sedikit melanjutkan renungan kemarin, mari kita lihat sebuah ayat dari Mazmur 104 yang berbunyi: "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31). Pemazmur merenungkan segala kebesaran kasih Tuhan lewat segala ciptaanNya yang sangat baik dan indah di bumi ini seperti yang ia pandang dari pagi hingga malam. Seyogyanya atas semua itu Tuhan bisa bersukacita. Bukankah semua yang Dia ciptakan itu baik adanya? Itulah yang disampaikan Pemazmur. Hendaklah kita tahu membuat Tuhan bersukacita atas ciptaanNya atau perbuatan-perbuatanNya. Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya yang indah itu hari ini? Sayangnya apa yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
Sangat memprihatinkan melihat bagaimana destruktifnya manusia yang terus merusak alam demi keuntungan sesaat dan kepentingan pribadi. Semakin lama kita semakin sulit menemukan alam yang masih segar. Apa yang terjadi hari-hari ini agaknya sulit membuat Tuhan bersukacita atas ciptaan-ciptaanNya. Manusia terus saja merusak kelestarian lingkungan. Membuang sampah sembarangan, sungai-sungai tercemar limbah industri dan buangan dari rumah-rumah pemukiman penduduk, asap kotor yang keluar dari cerobong pabrik-pabrik dan knalpot kendaraan, semua itu merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozone membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Segala tumbuhan hijau dan segar musnah digantikan oleh besi-besi dalam berbagai bentuk. Semakin lama manusia yang diciptakan Allah secara istimewa semakin tidak menghargai karya Penciptanya. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia malah berani saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia sama-sama ciptaan Tuhan yang sangat berharga bahkan mulia dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa itu dihargai sangat murah, letaknya berada sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana mungkin Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?
Segala keindahan alam sejak semula Dia ciptakan sebagai gambaran kasihNya kepada kita. Itu hadiah yang luar biasa indahnya yang diberikan kepada kita. Seharusnya Tuhan bisa bersukacita melihat semua ciptaanNya hidup dengan baik, harmonis, damai dan penuh kasih. Gambaran yang sebaliknya tentu membuatNya sangat kecewa. Dia menciptakan yang indah, tetapi kita merusaknya. Lalu ketika bencana datang silih berganti, kita malah masih berani menyalahkan Tuhan. Pemazmur sudah menyerukan agar kita mau mulai berpikir untuk membuat Tuhan bisa bersukacita atas ciptaanNya. Itu bisa dilakukan dengan menjaga kelestarian lingkungan, mengambil bagian dalam gerakan-gerakan penghijauan dan tidak ikut-ikutan mencemarkan lingkungan dengan perilaku-perilaku kita yang buruk. Bersyukurlah jika hari ini masih bisa melihat alam yang indah meski tidak lagi mudah. Tetapi apakah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikannya? Tuhan menitipkan milikNya kepada kita untuk dikelola, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Jika kita mau melakukannya, disanalah Allah akan bersukacita melihat seluruh ciptaanNya di muka bumi ini dapat saling bekerjasama dalam menghormati hasil karyaNya yang agung. Jika anda melihat sekeliling anda hari ini dan masih mendapati sesuatu yang indah, bersyukurlah untuk itu dan mari kita jaga bersama-sama agar anak cucu kita dan dengan sendirinya merasakan bentuk cinta kasih Tuhan lewat anugerahNya atas alam yang indah. masih bisa menyaksikan keindahan alam itu.
Buatlah Tuhan tersenyum bahagia dengan menjaga kelestarian alam ciptaanNya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=====================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Sesungguhnya Tuhan telah menciptakan alam semesta beserta isinya dengan teramat sangat indah. Itu adalah anugerah yang amat besar yang terlebih dahulu Dia sediakan sebelum Dia menciptakan manusia. Mengapa? Supaya ketika manusia hadir, keindahan itu sudah bisa dinikmati secara langsung. Tuhan pun sudah menyatakan sejak semula bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Alam semesta beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi lihatlah bahwa otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Kata menguasai disini bukan berarti kita boleh bertindak semena-mena dengan melakukan apapun seenaknya, tapi justru sebaliknya, kita diminta untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur, bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya?
Sedikit melanjutkan renungan kemarin, mari kita lihat sebuah ayat dari Mazmur 104 yang berbunyi: "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31). Pemazmur merenungkan segala kebesaran kasih Tuhan lewat segala ciptaanNya yang sangat baik dan indah di bumi ini seperti yang ia pandang dari pagi hingga malam. Seyogyanya atas semua itu Tuhan bisa bersukacita. Bukankah semua yang Dia ciptakan itu baik adanya? Itulah yang disampaikan Pemazmur. Hendaklah kita tahu membuat Tuhan bersukacita atas ciptaanNya atau perbuatan-perbuatanNya. Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya yang indah itu hari ini? Sayangnya apa yang terjadi hari ini justru sebaliknya.
Sangat memprihatinkan melihat bagaimana destruktifnya manusia yang terus merusak alam demi keuntungan sesaat dan kepentingan pribadi. Semakin lama kita semakin sulit menemukan alam yang masih segar. Apa yang terjadi hari-hari ini agaknya sulit membuat Tuhan bersukacita atas ciptaan-ciptaanNya. Manusia terus saja merusak kelestarian lingkungan. Membuang sampah sembarangan, sungai-sungai tercemar limbah industri dan buangan dari rumah-rumah pemukiman penduduk, asap kotor yang keluar dari cerobong pabrik-pabrik dan knalpot kendaraan, semua itu merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan dan menipisnya lapisan ozone membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Segala tumbuhan hijau dan segar musnah digantikan oleh besi-besi dalam berbagai bentuk. Semakin lama manusia yang diciptakan Allah secara istimewa semakin tidak menghargai karya Penciptanya. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia malah berani saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia sama-sama ciptaan Tuhan yang sangat berharga bahkan mulia dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa itu dihargai sangat murah, letaknya berada sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana mungkin Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?
Segala keindahan alam sejak semula Dia ciptakan sebagai gambaran kasihNya kepada kita. Itu hadiah yang luar biasa indahnya yang diberikan kepada kita. Seharusnya Tuhan bisa bersukacita melihat semua ciptaanNya hidup dengan baik, harmonis, damai dan penuh kasih. Gambaran yang sebaliknya tentu membuatNya sangat kecewa. Dia menciptakan yang indah, tetapi kita merusaknya. Lalu ketika bencana datang silih berganti, kita malah masih berani menyalahkan Tuhan. Pemazmur sudah menyerukan agar kita mau mulai berpikir untuk membuat Tuhan bisa bersukacita atas ciptaanNya. Itu bisa dilakukan dengan menjaga kelestarian lingkungan, mengambil bagian dalam gerakan-gerakan penghijauan dan tidak ikut-ikutan mencemarkan lingkungan dengan perilaku-perilaku kita yang buruk. Bersyukurlah jika hari ini masih bisa melihat alam yang indah meski tidak lagi mudah. Tetapi apakah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikannya? Tuhan menitipkan milikNya kepada kita untuk dikelola, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Jika kita mau melakukannya, disanalah Allah akan bersukacita melihat seluruh ciptaanNya di muka bumi ini dapat saling bekerjasama dalam menghormati hasil karyaNya yang agung. Jika anda melihat sekeliling anda hari ini dan masih mendapati sesuatu yang indah, bersyukurlah untuk itu dan mari kita jaga bersama-sama agar anak cucu kita dan dengan sendirinya merasakan bentuk cinta kasih Tuhan lewat anugerahNya atas alam yang indah. masih bisa menyaksikan keindahan alam itu.
Buatlah Tuhan tersenyum bahagia dengan menjaga kelestarian alam ciptaanNya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, February 3, 2012
Menyatakan Kasih Kepada Tuhan
Ayat bacaan: Mazmur 104:24
==================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."
Bulan Februari adalah salah satu bulan favorit saya. Di bulan ini kita akan merayakan hari kasih sayang, dan seperti banyak orang, saya merasakan bulan yang penuh dengan cinta. Love is in the air. Jika anda pergi ke pusat-pusat perbelanjaan atau restoran, maka anda akan menemukan berbagai hiasan yang melambangkan cinta. Serba merah, serba pink dengan logo hati yang bertebaran. Orang pun akan sibuk menyiapkan hadiah khusus buat orang-orang yang mereka cintai, mempersiapkan makan malam spesial dengan lilin yang akan terasa sangat romantis bersama pasangan masing-masing. Apakah Februari harus dijadikan satu-satunya bulan yang dijadikan bulan sepesial untuk cinta kasih? Tentu saja tidak. Alangkah baiknya jika kita bisa menjadikan setiap bulan seperti halnya bulan Februari, membuat orang-orang di sekitar kita merasakan kasih yang besar dari kita. Tetapi berbagai kesibukan pekerjaan dan kegiatan-kegiatan lain seringkali menyita waktu kita dan membuat kita tidak cukup waktu untuk berbagi kasih dan kebahagiaan dengan orang-orang yang kita kasihi dan juga kepada orang lain. Setidaknya dalam setahun ada sebuah momen khusus yang bisa kita pakai untuk menyatakan kasih kepada orang-orang terdekat kita.
Ketika kita bersiap untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepada kekasih, pasangan atau orang-orang yang kita cintai, apakah kita ingat untuk memberikan apresiasi kasih kita kepada Tuhan juga? Banyak orang yang lupa untuk itu. Padahal seandainya kita mau sedikit lebih merenungkan dan memperhatikan, kita sesungguhnya berjumpa dengan kasih Allah yang total setiap hari dalam banyak hal. Kesehatan yang masih kita rasakan, kesempatan yang masih diberikan, berbagai pertolongan dalam kesesakan, itu merupakan bentuk kasih Allah kepada kita. Udara yang bisa kita hirup dengan gratis, organ-organ tubuh yang berfungsi normal, akal budi, pikiran dan lain-lain, itupun merupakan bentuk kasihNya. Tuhan sangat mengasihi kita, begitu mengasihi hingga Dia pun rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi kita. (Yohanes 3:16). Bagaimana dengan pemandangan yang indah? Bunga-bunga yang berwarna warni dan harum, padang rumput yang hijau, langit biru, awan, bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua itu pun seakan menjadi surat cinta tersendiri dari Tuhan kepada manusia.
Pemazmur agaknya mengambil waktu sepanjang hari dari pagi sampai malam untuk mengagumi kasih Tuhan lewat penciptaan alam semesta beserta isinya ini seperti yang bisa kita lihat dalam Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis sebagai ungkapan kekagumannya. Bacalah Mazmur 104 secara utuh dan anda akan dibawa oleh penulisnya untuk merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang setiap saat bisa kita nikmati ini. Dan Pemazmur pun berkata, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Karena itulah ia mengingatkan jiwanya agar senantiasa memuji Tuhan. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar!" (ay 1). Dan tidak lupa pula ia mengingatkan kita untuk tetap menyukakan hati Tuhan, karena apa yang telah Dia berikan kepada kita sesungguhnya sangatlah indah. "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).
Alam semesta yang indah merupakan buah tangan Tuhan yang sungguh menunjukkan bukti ke-Ilahian Tuhan yang bisa kita nikmati secara kasat mata. Paulus pun menyinggung hal itu. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Jika banyak orang yang meragukan eksistensi Tuhan, sesungguhnya lewat seisi dunia ini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa Tuhan memang ada, dan Dia memang mengasihi kita secara begitu mendalam.
Jika demikian, apa yang bisa kita berikan kepadaNya sebagai balasan atas segala kebaikanNya? Perhatikan ayat berikut ini. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Atas semua keindahan luar biasa sebagai bukti ke-Ilahian Tuhan dan segala kebaikan lainnya yang Dia berikan kepada kita, apa yang diminta Tuhan sebenarnya sangatlah sederhana. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itulah yang bisa menyukakan hati Tuhan, membuatNya bersukacita atas kita. Betapa sedihnya Tuhan apabila kita menolak melakukan ini setelah Dia memberikan begitu banyak kebaikan sebagai bukti kasihNya setiap hari kepada kita. Bulan Februari adalah bulan yang spesial untuk menyatakan cinta dan kasih kita kepada orang-orang terdekat yang kita cintai. Itu sangatlah baik. Tetapi jangan lupakan pula untuk datang kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita secara langsung. Tuhan akan sangat senang jika kita datang kepadanya tidak hanya membawa daftar permintaan atau permohonan, tetapi untuk mengucap syukur dan menyatakan bahwa kita menyadari kasihNya yang begitu besar kepada kita, dan menyampaikan kasih kita pula kepadaNya lewat keadilan, kesetiaan dan sebentuk hidup yang selalu rendah hati. Manfaatkanlah momen spesial di bulan kasih ini untuk menyatakan kasih kita bukan hanya kepada orang-orang yang dicintai, tetapi juga kepada Tuhan.
Tuhan menyatakan kasihNya setiap hari, apakah kita sudah menyatakan kasih kita kepadaNya?
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

Ketika kita bersiap untuk memberikan sesuatu yang istimewa kepada kekasih, pasangan atau orang-orang yang kita cintai, apakah kita ingat untuk memberikan apresiasi kasih kita kepada Tuhan juga? Banyak orang yang lupa untuk itu. Padahal seandainya kita mau sedikit lebih merenungkan dan memperhatikan, kita sesungguhnya berjumpa dengan kasih Allah yang total setiap hari dalam banyak hal. Kesehatan yang masih kita rasakan, kesempatan yang masih diberikan, berbagai pertolongan dalam kesesakan, itu merupakan bentuk kasih Allah kepada kita. Udara yang bisa kita hirup dengan gratis, organ-organ tubuh yang berfungsi normal, akal budi, pikiran dan lain-lain, itupun merupakan bentuk kasihNya. Tuhan sangat mengasihi kita, begitu mengasihi hingga Dia pun rela mengorbankan AnakNya yang tunggal demi kita. (Yohanes 3:16). Bagaimana dengan pemandangan yang indah? Bunga-bunga yang berwarna warni dan harum, padang rumput yang hijau, langit biru, awan, bahkan matahari, bulan dan bintang-bintang, semua itu pun seakan menjadi surat cinta tersendiri dari Tuhan kepada manusia.
Pemazmur agaknya mengambil waktu sepanjang hari dari pagi sampai malam untuk mengagumi kasih Tuhan lewat penciptaan alam semesta beserta isinya ini seperti yang bisa kita lihat dalam Mazmur 104. Disana ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan secara sangat puitis sebagai ungkapan kekagumannya. Bacalah Mazmur 104 secara utuh dan anda akan dibawa oleh penulisnya untuk merasakan betapa indahnya ciptaan Tuhan yang setiap saat bisa kita nikmati ini. Dan Pemazmur pun berkata, "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Karena itulah ia mengingatkan jiwanya agar senantiasa memuji Tuhan. "Pujilah TUHAN, hai jiwaku! TUHAN, Allahku, Engkau sangat besar!" (ay 1). Dan tidak lupa pula ia mengingatkan kita untuk tetap menyukakan hati Tuhan, karena apa yang telah Dia berikan kepada kita sesungguhnya sangatlah indah. "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).
Alam semesta yang indah merupakan buah tangan Tuhan yang sungguh menunjukkan bukti ke-Ilahian Tuhan yang bisa kita nikmati secara kasat mata. Paulus pun menyinggung hal itu. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Jika banyak orang yang meragukan eksistensi Tuhan, sesungguhnya lewat seisi dunia ini kita bisa menyaksikan sendiri bahwa Tuhan memang ada, dan Dia memang mengasihi kita secara begitu mendalam.
Jika demikian, apa yang bisa kita berikan kepadaNya sebagai balasan atas segala kebaikanNya? Perhatikan ayat berikut ini. "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Atas semua keindahan luar biasa sebagai bukti ke-Ilahian Tuhan dan segala kebaikan lainnya yang Dia berikan kepada kita, apa yang diminta Tuhan sebenarnya sangatlah sederhana. Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapanNya. Itulah yang bisa menyukakan hati Tuhan, membuatNya bersukacita atas kita. Betapa sedihnya Tuhan apabila kita menolak melakukan ini setelah Dia memberikan begitu banyak kebaikan sebagai bukti kasihNya setiap hari kepada kita. Bulan Februari adalah bulan yang spesial untuk menyatakan cinta dan kasih kita kepada orang-orang terdekat yang kita cintai. Itu sangatlah baik. Tetapi jangan lupakan pula untuk datang kepada Tuhan dan menyatakan kasih kita secara langsung. Tuhan akan sangat senang jika kita datang kepadanya tidak hanya membawa daftar permintaan atau permohonan, tetapi untuk mengucap syukur dan menyatakan bahwa kita menyadari kasihNya yang begitu besar kepada kita, dan menyampaikan kasih kita pula kepadaNya lewat keadilan, kesetiaan dan sebentuk hidup yang selalu rendah hati. Manfaatkanlah momen spesial di bulan kasih ini untuk menyatakan kasih kita bukan hanya kepada orang-orang yang dicintai, tetapi juga kepada Tuhan.
Tuhan menyatakan kasihNya setiap hari, apakah kita sudah menyatakan kasih kita kepadaNya?
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, February 2, 2012
Stepping into a Quiet Place (2)
(sambungan)
Kalau anda melihat Injil, maka anda pun akan mendapatkan keteladanan yang sama dari Yesus sendiri. Kita tahu bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya hampir setiap saat, bahkan ada yang hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya atau juga di malam hari misalnya ketika Nikodemus menemuinya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kita bisa melihat betapa dunia pada saat itu persis sama seperti sekarang. Ada begitu banyak orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi pertolongan, kesembuhan, kelepasan. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan jiwa, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus melayani sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Dia menjangkau semua orang tanpa terkecuali, tanpa peduli siapa ataupun apa latar belakangnya. Tapi lihatlah bahwa Yesus pun mencari waktu-waktu khusus untuk dipakai berdoa kepada Bapa. Alkitab mencatat bahwa berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka." (Matius 14:13). Tetap saja Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan, "maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." (ay 14). Mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang belum termasuk wanita dan anak-anak juga merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain: "Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka." (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa jeda. Rakyat biasa, para rasul, pejabat, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan diasingkan seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, mereka semua mengalami perjumpaan dengan Kristus. Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab segala ratapan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa kepada Bapa di Surga. Dan seringkali itu tidak mudah, karena untuk mencari keheningan dan kesunyian Yesus harus rela repot naik ke atas bukit. Disanalah Dia bisa mengambil waktu sejenak jauh dari kerumunan dan keramaian untuk bersekutu dengan Bapa.
Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop "Pencobaan di padang gurun." (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, kita bisa melihat bahwa Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan "Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa." (ay 14a:BIS). Semua ini menunjukkan contoh dari Yesus sendiri akan pentingnya ,engambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk dan tenang dalam berdoa, merenung dan mendengar Tuhan. Sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.
Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Jika demikian pertanyaan bagi kita selanjutnya adalah, sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai tugas dinas, rapat, tugas-tugas yang menuntut deadline atau malah berbagai sarana hiburan lewat berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja membuat kita rela mengesampingkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk memperoleh itu, kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke tengah gurun untuk itu. It's just a matter of taking a step into our own room and finding a quiet time, as simple as that. Kalaupun ada orang-orang yang berbagi ruangan dengan kita, pasti selalu ada saat yang bisa kita cari untuk itu. Pada akhirnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, tidak masalah subuh, siang, sore atau malam, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan.
Jangan abaikan pentingnya mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kalau anda melihat Injil, maka anda pun akan mendapatkan keteladanan yang sama dari Yesus sendiri. Kita tahu bagaimana sibuknya Yesus melayani ditengah kerumunan orang kemanapun Dia pergi. Begitu banyak orang berbondong-bondong mendatangiNya hampir setiap saat, bahkan ada yang hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya atau juga di malam hari misalnya ketika Nikodemus menemuinya seperti yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kita bisa melihat betapa dunia pada saat itu persis sama seperti sekarang. Ada begitu banyak orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi pertolongan, kesembuhan, kelepasan. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan jiwa, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yesus melayani sepanjang waktu tanpa kenal lelah. Dia menjangkau semua orang tanpa terkecuali, tanpa peduli siapa ataupun apa latar belakangnya. Tapi lihatlah bahwa Yesus pun mencari waktu-waktu khusus untuk dipakai berdoa kepada Bapa. Alkitab mencatat bahwa berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka." (Matius 14:13). Tetap saja Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan, "maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." (ay 14). Mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang belum termasuk wanita dan anak-anak juga merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain: "Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka." (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa jeda. Rakyat biasa, para rasul, pejabat, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan diasingkan seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya, mereka semua mengalami perjumpaan dengan Kristus. Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab segala ratapan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa kepada Bapa di Surga. Dan seringkali itu tidak mudah, karena untuk mencari keheningan dan kesunyian Yesus harus rela repot naik ke atas bukit. Disanalah Dia bisa mengambil waktu sejenak jauh dari kerumunan dan keramaian untuk bersekutu dengan Bapa.
Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus seperti yang kita lihat dalam renungan kemarin. "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop "Pencobaan di padang gurun." (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, kita bisa melihat bahwa Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan "Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa." (ay 14a:BIS). Semua ini menunjukkan contoh dari Yesus sendiri akan pentingnya ,engambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk dan tenang dalam berdoa, merenung dan mendengar Tuhan. Sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.
Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Jika demikian pertanyaan bagi kita selanjutnya adalah, sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai tugas dinas, rapat, tugas-tugas yang menuntut deadline atau malah berbagai sarana hiburan lewat berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja membuat kita rela mengesampingkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk memperoleh itu, kita tidak perlu melakukan perjalanan jauh ke tengah gurun untuk itu. It's just a matter of taking a step into our own room and finding a quiet time, as simple as that. Kalaupun ada orang-orang yang berbagi ruangan dengan kita, pasti selalu ada saat yang bisa kita cari untuk itu. Pada akhirnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, tidak masalah subuh, siang, sore atau malam, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk membangun hubungan yang sangat erat dengan Tuhan.
Jangan abaikan pentingnya mengambil waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, February 1, 2012
Stepping into a Quiet Place (1)
Ayat bacaan: Matius 6:6
==================
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."
Jika anda seperti saya yang tinggal di kota besar, anda tentu merasakan bahwa kepadatan penduduk terjadi dimana-mana. Jalanan yang macet, ribuan orang yang berada di sebuah tempat dalam waktu yang sama seperti di pusat perbelanjaan, itu menjadi bagian kehidupan kita sehari-hari. Hampir di setiap sudut kita akan bertemu dengan orang lain. Setiap hari kita bersinggungan dengan begitu banyak orang yang terkadang dalam situasi yang sibuk, bising atau bahkan hingar bingar. Apalagi bagi saya yang berprofesi sebagai wartawan musik. Ditengah kesibukan dan keramaian dunia, ada saat-saat dimana saya merindukan suasana yang tenang dan sunyi, menikmati hubungan dengan Tuhan dan berdiam di hadiratNya dalam kesunyian yang syahdu. Itu adalah hal yang semakin lama semakin sulit untuk bisa diperoleh, karena yang sering terjadi adalah urusan sudah menumpuk begitu saya terbangun dari tidur. Tidak hanya saya, tetapi ada seorang artis yang bahkan merilis album dengan mengangkat kerinduannya untuk menikmati kesendirian dalam kesunyian, trying to find her solitude out from all the crowds and hectic world. Tidakkah itu yang seringkali kita butuhkan? There comes a point when we need to find our solitude, the part of stillness with ourselves, withdrawn from the crowds, taking up a moment to be alone, far from everyone else?
Hal seperti itu sesungguhnya penting, terutama dalam membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan. Hal itu akan sulit dilakukan apabila kita terus berada dalam keramaian dan kesibukan sehari-hari. Dimana kita bisa memperoleh hal itu? Yesus mengatakan itu bisa kita peroleh di kamar kita. "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6). Our room is our perfect solitude. Disanalah kita bisa benar-benar fokus tanpa terganggu oleh apapun. Hanya kita dengan Tuhan, just you and God alone. Itu waktu yang indah dimana kita bisa merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari hiruk pikuk yang biasa menyertai kita kemanapun kita berada. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan di dalam kesunyian yang syahdu itu kita bisa mendapatkan pegangan lewat terbangunnya hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan.
Lalu perhatikan kembali ayat Matius 6:6 di atas. "...Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu." Tuhan menghargai keseriusan kita dalam berhadapan denganNya. Dia bisa melihat apakah kita benar-benar fokus dengan sungguh-sungguh atau melakukannya sambil lalu saja. Salahkah jika kita berdoa ketika sedang berada di tengah keramaian, atau misalnya sambil mengemudi? Tentu tidak. Kita bisa kapan saja berdoa dan berhubungan dengan Tuhan. Dia selalu membuka diri untuk itu. Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan akan sangat menghargai jika dalam 24 jam ada waktu-waktu khusus yang kita dedikasikan kepadaNya, atas dasar kerinduan dan kasih kita kepadaNya. Tidakkah anda lebih senang apabila orang yang berbicara dengan anda benar-benar fokus kepada anda? Dan sebaliknya, tidakkah anda kesal jika lawan bicara anda mendengar sambil lalu saja sembari mengutak-atik telepon genggamnya, sambil mengetik/menulis atau sambil melakukan hal-hal lainnya? Seperti itu juga Tuhan. Maka dari ayat ini kita bisa jelas melihat bagaimana Tuhan akan senang jika kita melakukan itu. Dan Tuhan akan membalas kepada kita. Itu jelas dikatakan oleh ayat ini. Bukan untuk melarang kita berhubungan denganNya di waktu-waktu lain, tetapi untuk mengajarkan kita untuk menaruh hormat yang pantas dengan meluangkan waktu secara khusus untuk berdiam dalam persekutuan yang erat dan indah dengan Bapa.
Mari kita lihat salah satu pernyataan dari Daud yang dicatat dalam kitab Mazmur. "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa." (Mazmur 57:8-10). Daud tahu kesibukan akan segera datang di siang hari, maka ia mengambil waktu di waktu subuh untuk bermazmur dan memuji Tuhan. Daud memilih untuk membangun hubungan di pagi hari sebelum ia mulai beraktivitas sepanjang hari. Itu bisa memberinya kekuatan dan tenaga dalam menjalani hari. Alangkah baiknya jika kita bisa mengikuti gaya hidup Daud ini. Di pagi hari kita biasanya bisa lebih mudah mendapatkan saat-saat yang tenang dan sunyi ketimbang di siang hari ketika semua orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetapi mungkin tidak semua orang lebih suka memilih pagi, dan itu tidaklah masalah. Apa yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa kita harus menyediakan waktu khusus untuk bersaat teduh, untuk berdiam di hadiratNya, merasakan kasihNya dan mendengar suaraNya serta berbagi cerita mengenai apa yang sedang kita alami atau rasakan. Mungkin anda merasa lebih suka melakukannya di siang hari, sore atau malam? Tidak apa-apa, selama anda bisa betul-betul fokus tanpa terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar anda.
(bersambung)
==================
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

Hal seperti itu sesungguhnya penting, terutama dalam membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan. Hal itu akan sulit dilakukan apabila kita terus berada dalam keramaian dan kesibukan sehari-hari. Dimana kita bisa memperoleh hal itu? Yesus mengatakan itu bisa kita peroleh di kamar kita. "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6). Our room is our perfect solitude. Disanalah kita bisa benar-benar fokus tanpa terganggu oleh apapun. Hanya kita dengan Tuhan, just you and God alone. Itu waktu yang indah dimana kita bisa merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari hiruk pikuk yang biasa menyertai kita kemanapun kita berada. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan di dalam kesunyian yang syahdu itu kita bisa mendapatkan pegangan lewat terbangunnya hubungan yang erat dan intim dengan Tuhan.
Lalu perhatikan kembali ayat Matius 6:6 di atas. "...Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalas kepadamu." Tuhan menghargai keseriusan kita dalam berhadapan denganNya. Dia bisa melihat apakah kita benar-benar fokus dengan sungguh-sungguh atau melakukannya sambil lalu saja. Salahkah jika kita berdoa ketika sedang berada di tengah keramaian, atau misalnya sambil mengemudi? Tentu tidak. Kita bisa kapan saja berdoa dan berhubungan dengan Tuhan. Dia selalu membuka diri untuk itu. Tapi perhatikanlah bahwa Tuhan akan sangat menghargai jika dalam 24 jam ada waktu-waktu khusus yang kita dedikasikan kepadaNya, atas dasar kerinduan dan kasih kita kepadaNya. Tidakkah anda lebih senang apabila orang yang berbicara dengan anda benar-benar fokus kepada anda? Dan sebaliknya, tidakkah anda kesal jika lawan bicara anda mendengar sambil lalu saja sembari mengutak-atik telepon genggamnya, sambil mengetik/menulis atau sambil melakukan hal-hal lainnya? Seperti itu juga Tuhan. Maka dari ayat ini kita bisa jelas melihat bagaimana Tuhan akan senang jika kita melakukan itu. Dan Tuhan akan membalas kepada kita. Itu jelas dikatakan oleh ayat ini. Bukan untuk melarang kita berhubungan denganNya di waktu-waktu lain, tetapi untuk mengajarkan kita untuk menaruh hormat yang pantas dengan meluangkan waktu secara khusus untuk berdiam dalam persekutuan yang erat dan indah dengan Bapa.
Mari kita lihat salah satu pernyataan dari Daud yang dicatat dalam kitab Mazmur. "Hatiku siap, ya Allah, hatiku siap; aku mau menyanyi, aku mau bermazmur. Bangunlah, hai jiwaku, bangunlah, hai gambus dan kecapi, aku mau membangunkan fajar!Aku mau bersyukur kepada-Mu di antara bangsa-bangsa, ya Tuhan, aku mau bermazmur bagi-Mu di antara suku-suku bangsa." (Mazmur 57:8-10). Daud tahu kesibukan akan segera datang di siang hari, maka ia mengambil waktu di waktu subuh untuk bermazmur dan memuji Tuhan. Daud memilih untuk membangun hubungan di pagi hari sebelum ia mulai beraktivitas sepanjang hari. Itu bisa memberinya kekuatan dan tenaga dalam menjalani hari. Alangkah baiknya jika kita bisa mengikuti gaya hidup Daud ini. Di pagi hari kita biasanya bisa lebih mudah mendapatkan saat-saat yang tenang dan sunyi ketimbang di siang hari ketika semua orang mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tetapi mungkin tidak semua orang lebih suka memilih pagi, dan itu tidaklah masalah. Apa yang penting bagi kita adalah menyadari bahwa kita harus menyediakan waktu khusus untuk bersaat teduh, untuk berdiam di hadiratNya, merasakan kasihNya dan mendengar suaraNya serta berbagi cerita mengenai apa yang sedang kita alami atau rasakan. Mungkin anda merasa lebih suka melakukannya di siang hari, sore atau malam? Tidak apa-apa, selama anda bisa betul-betul fokus tanpa terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar anda.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...