Wednesday, January 7, 2009

Tuhan Beserta Kita

Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:2
=======================
"TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya."

tuhan beserta kitaBeberapa hari yang lalu saya menuliskan mengenai pentingnya penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Saya merasakan sendiri betapa damainya dan amannya hidup jika Tuhan beserta kita, jika hidup kita ada dalam perlindunganNya. Nothing to fear, nothing to worry, meskipun kita belum melihat apa yang membentang di hadapan kita. Jika Tuhan memelihara hidup kita, maka kita pun bisa berjalan dengan tenang menyongsong hari depan tanpa rasa khawatir. Sekarang pertanyaannya, kapan Tuhan menyertai kita? Ayat bacaan hari ini menjelaskan bahwa Tuhan akan selalu beserta kita selama kita beserta Dia, selama kita bertekun mencariNya.

Ada banyak orang yang selalu menyebut-nyebut nama Tuhan. Ketika kaget, dalam suka, dalam duka, bahkan ketika mengumpat. Apakah dengan terus menyebut nama Tuhan itu berarti seseorang ada beserta Tuhan? Tidak. Lihatlah ayat ini: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Kenyataannya banyak orang yang salah kaprah dengan melakukan pembenaran atas tindakan mereka yang sesat dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka berusaha meyakinkan orang untuk membenarkan perbuatan mereka dengan membawa-bawa nama Tuhan. Bahkan tidak jarang, mereka berusaha meyakinkan Tuhan bahwa apa yang mereka perbuat adalah benar, bukan sebaliknya, mengikuti kebenaran firman Tuhan secara mutlak. Beserta dengan Tuhan berarti kita mengetahui apa yang menjadi keinginan Tuhan. Apa yang menjadi kehendakNya. Pastikan bahwa kita selalu menginginkan penyertaanNya, menginginkan Dia secara pribadi, bukan hanya mengharapkan berkatNya, bukan butuh Tuhan hanya agar segala keinginan, keluhan dan kebutuhan kita dikabulkan. Motivasinya adalah karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi bahkan segenap kekuatan kita (Markus 12:30), seperti yang diajarkan Kristus sendiri. Orang yang mengasihi Tuhan akan selalu rindu untuk berada dekat denganNya, rajin berdoa, rajin membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Percaya pada Kristus sebagai Juru Selamat dan hidup senantiasa dalam tuntunan Roh Kudus. Selama itu kita sadari dan lakukan, maka kita akan selalu beserta Dia, dan dengan demikian, Tuhan pun akan selalu beserta kita.

Tuhan Yesus mengajarkan "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Kita perlu terus melatih diri kita untuk terus intim dengan Tuhan, baik lewat puji-pujian, penyembahan maupun doa sebagai wujud rasa syukur dan kasih kita kepadaNya. Kita harus terus memelihara diri kita agar tetap berada dalam kasih Allah. "Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Yudas 1:21). Dengan demikian, Tuhan akan selalu ada beserta kita, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Betapa indahnya hidup dalam penyertaan Tuhan. Pastikan bahwa kita selalu beserta denganNya, mendengarkan dan melakukan firmanNya, maka Tuhan pun akan selalu beserta kita.

Tuhan selalu ada bersama setiap orang yang setia padaNya dan mengasihiNya dengan sungguh-sungguh

Tuesday, January 6, 2009

Sistem Timbangan Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 114:3
====================
"Ya TUHAN, apakah manusia itu, sehingga Engkau memperhatikannya, dan anak manusia, sehingga Engkau memperhitungkannya?"

timbangan Tuhan, kita berharga, Tuhan mengasihi kitaDalam beberapa kali belanja kebutuhan dapur terakhir, saya tiba-tiba tertarik pada timbangan. Timbangan yang dipakai ketika menimbang daging, menimbang cabe, telur, dan lain-lain. Awalnya saya tidak tahu pasti mengapa saya mengamati jalannya timbangan-timbangan itu. Namun malam ini sebelum tidur, semua menjadi jelas. Saya bertemu dengan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, dan saya pun segera mengucap syukur dan berterimakasih karena Tuhan sangat memperhatikan kita, sangat memperhitungkan kita, sangat mempedulikan kita, dan tentu saja, sangat mengasihi kita. Dan saya segera bergegas menunda waktu tidur saya untuk menuliskan renungan ini. Dalam timbangan Tuhan, kita ternyata punya berat yang jauh melebihi apapun.

Saya baru saja keluar, langit terlihat cerah bertaburan bintang. Ada berapa banyak bintang di langit? Ada saat-saat ketika saya kecil, saya berusaha untuk menghitung jumlah bintang di langit. Para ahli astronomi dibantu dengan teleskop, berusaha mengungkap tabir angkasa luar, gugus tata surya dan sebagainya. Mereka menemukan galaksi demi galaksi, bahkan menemukan fakta bahwa ada bintang-bintang yang berukuran jauh lebih besar dari bumi, atau malah lebih besar dari matahari. Bintang super raksasa ini membuat ukuran bumi tidak lebih dari ukuran sebutir debu aja. Apalagi kita manusia yang diam di dalam planet bernama bumi ini. Begitu luar biasanya Tuhan yang menciptakan segala sesuatu. Saya yakin masih ada banyak ciptaan Tuhan yang masih berupa misteri yang belum mampu diungkap lewat kepintaran manusia.

Jauh sebelum teleskop ditemukan, Daud sudah menyadari bahwa segala ukuran super raksasa di angkasa luar itu tidaklah sebanding dengan ukuran nilai seorang manusia. Kita manusia, meskipun ukurannya sangat jauh lebih kecil ketika dibandingkan dengan ukuran bumi, matahari atau benda tata surya lainnya, tapi bernilai jauh lebih besar dibandingkan itu semua. Kita adalah objek yang sangat penting di mata Tuhan. Sebegitu pentingnya, sehingga Dia sangat peduli akan keselamatan kita, sampai-sampai merasa perlu untuk menganuhgrahkan Kristus agar kita tidak binasa dan beroleh hidup yang kekal. Sebuah permisalan menarik dibuat Yesus sendiri: "Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?" (Matius 6:26). Selanjutnya Yesus juga berkata: "Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?" (ay 30). Jika semua yang lain saja diperhatikan Tuhan, masa kita luput dari perhatianNya? Lihatlah dalam Matius pasal 10. "Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namun seekorpun dari padanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu." (10:29) Kita sangat Dia kasihi. Bahkan rambut di kepala kita pun Dia ketahui jumlahnya, dan tidak akan jatuh tanpa persetujuanNya (ay 30), kita telah dilukiskan dalam telapak tangan Tuhan, dan ada dalam ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Lebih tegas lagi, sejak awal Tuhan menyatakan bahwa kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26). Lihatlah betapa berharganya kita dimata Tuhan.

Kembali kepada timbangan, bayangkanlah sebuah timbangan. Letakkan segala bintang dan benda alam semesta di satu sisi, dan diri anda, dalam sisi yang lain. Dalam sistem timbangan Tuhan, anda lebih berat dibanding segala bintang dan benda alam semesta! Hari ini, marilah kita semua bersyukur pada Tuhan karena Dia telah memilih untuk mencintai kita semua lebih dari segalanya. Tuhan sungguh mengasihi anda, dan anda semua merupakan ciptaanNya, masterpiece Nya yang paling berharga. Sudahkah anda mempercayakan hidup anda sepenuhnya pada perlindungan Tuhan yang sangat mengasihi anda?

Kehadiran Yesus dan karya penebusanNya merupakan bukti nyata kasih terbesar Tuhan pada manusia

Monday, January 5, 2009

Penyertaan Tuhan

Ayat bacaan: Ulangan 28:3
====================
"Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang."

penyertaan TuhanPagi ini ketika saya bangun, sebuah pertanyaan hadir di dalam hati saya, yang kira-kira berbunyi, "apakah yang paling kamu perlukan saat ini." Saya menjawab dalam hati saya, yang paling saya perlukan adalah penyertaan Tuhan, agar Tuhan memberkati setiap usaha dan pekerjaan saya, agar Tuhan berkenan pada segala sesuatu yang saya lakukan. Soal harta kekayaan, biarlah itu menjadi bagian Tuhan, karena saya tidak mau kaya jika tidak ada penyertaan Tuhan di dalamnya, di dalam hidup saya dan di dalam keluarga saya. Meskipun saya tahu bahwa Tuhan sanggup, dan sudah menjanjikan sebuah hidup yang berkelimpahan bagi siapapun yang menerima Kristus (Yohanes 10:10), tapi saya hanya mau menerimanya jika saya sudah dianggap layak dan mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saya. Bagi saya, penyertaan Tuhan yang mencukupkan segala sesuatu yang kami butuhkan, itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak butuh sesuatu yang berlebihan, kami juga tidak ingin sampai kekurangan. Cukup. Itu saja, dan saya percaya penyertaan Tuhan akan selalu mencukupkan segala sesuatu. Haleluya. Itu fakta yang menjadi bagian hidup saya hingga hari ini. Saya tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan. Saya cukup makan, saya bisa berusaha dan bekerja, saya bisa bersukacita, ada Tuhan yang bertahta di atas keluarga, dan itu jauh lebih indah dibandingkan sebuah kekayaan berlimpah tapi tanpa rasa sukacita, bahagia, damai dan sebagainya, yang bisa terjadi jika tidak ada penyertaan Tuhan, dan tanpa berkat Tuhan turun atas segala sesuatu yang kita hasilkan. Panjang lebar saya menjawab dalam hati, intinya adalah saya hanya membutuhkan "penyertaan Tuhan". Dan begitu saya selesai menjawab, sebuah motor melintas di depan saya dengan sebuah stiker bertuliskan: "working to win". Saya merasakan sebuah sukacita dalam hati saya.

Ayat hari ini berbicara, jika kita mendengarkan suara Tuhan, melakukan dengan setia segala perintahNya, maka pekerjaan dan kehidupan kita akan diberkati. (Ulangan 28:1-3). Tidak berhenti sampai disitu saja, bahkan berbagai berkat lain susul menyusul hingga ayat 14. Sebaliknya, ayat 15-46 berbicara mengenai kutuk, yang akan turun ketika kita tidak mendengarkan suara Tuhan dan tidak melakukan perintah/ketetapanNya. Kembali pada ayat 3, kata diberkati disana tidak hanya berhenti pada masalah kelimpahan materi, tapi saya percaya itu lebih luas lagi. Berkat Tuhan juga menyangkut akan terbukanya kesempatan-kesempatan, hikmat yang turun atas kita agar bisa berhasil, bahkan kuasa untuk menikmati pun adalah karunia dari Tuhan. "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19). Alangkah sempitnya pikiran kita jika kita hanya berhenti pada sebuah kekayaan materi saja. Perkataan Tuhan memberkati baik di kota maupun di ladang juga berbicara mengenai adanya penyertaan Tuhan, sehingga berkatNya turun atas kita. Bayangkan jika kita memperoleh uang dengan jalan pintas seperti korupsi, penipuan, pemerasan dan lain-lain. Harta bisa banyak, tapi tidak ada berkat diatasnya, sehingga hidup kita pun tidak akan pernah damai sejahtera. Bayangkan pula jika tidak ada kesempatan yang terbuka bagi kita. Jangankan berusaha, peluang pun tidak ada. Atau bayangkan ini: segala yang dimiliki tidak bisa dinikmati. Harta datang dan pergi, seperti roller coaster, orang menjadi hamba uang, hanya memikirkan untuk menumpuk uang tapi tidak mendapat kebahagiaan dan kedamaian apapun dari itu semua. Saya pribadi tidak ingin demikian. Saya hanya ingin ada penyertaan Tuhan dalam setiap usaha dan perbuatan saya, dalam hidup saya, menaungi keluarga saya. That's all. Dengan adanya berkat Tuhan, saya bisa berusaha, saya bisa "work to win", segalanya dicukupkan agar saya bisa maksimal, sehingga apapun nantinya yang saya hasilkan adalah yang terbaik, sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dalam beribadah pun demikian. "Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Beribadah pun perlu proses pembiasaan diri agar rajin berdoa, saat teduh atau membaca serta mendalami Alkitab. Selanjutnya bagaimana melakukan apa yang kita dengar dan baca dari firman Tuhan untuk diterapkan dalam hidup sehari-hari. Semua itu butuh proses. Life is a process. Dalam setiap proses itu, adalah penting untuk memastikan bahwa penyertaan Tuhan ada di sana hingga akhir. Bekerjalah sungguh-sungguh, hiduplah dengan benar. Hal-hal lain akan dengan sendirinya mengikuti, dan saya tahu pasti bahwa segala sesuatu dimana ada penyertaan Tuhan didalamnya akan menghasilkan sesuatu yang baik, bahkan luar biasa. Let God be with you, and bless you, in everything you do. The rest will follow.

Semua sia-sia tanpa penyertaan Tuhan

Sunday, January 4, 2009

Kerendahan Hati

Ayat bacaan: 1 Korintus 4:6
======================
"Saudara-saudara, kata-kata ini aku kenakan pada diriku sendiri dan pada Apolos, karena kamu, supaya dari teladan kami kamu belajar apakah artinya ungkapan: "Jangan melampaui yang ada tertulis", supaya jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri dengan jalan mengutamakan yang satu dari pada yang lain."

kerendahan hati, direndahkan orang"ah kamu tahu apa.." sebuah kalimat yang sangat singkat ini, yang diucapkan oleh seorang dosen ternyata menimbulkan kepahitan pada seorang teman saya. Ia merasa segala usahanya disepelekan dan dianggap rendah. Padahal selama setahun penuh saya tahu betul dia sudah berusaha dengan semampunya. Terkadang manusia sulit mengontrol perkataan dan perbuatannya, apalagi ketika mereka sudah mampu mencapai sebuah tingkatan tertentu dalam perjalanan hidupnya. Teman saya itu sekarang sudah meninggal dunia akibat leukemia, dan saya ingat betul sehari sebelum ia meninggal, ia masih menyebutkan sakit hatinya akibat ucapan dosen itu.

Mungkin di dunia pekerjaan atau pendidikan kita kerap bertemu dengan orang-orang yang, baik sengaja maupun tidak sengaja, bernada atau berkesan merendahkan. Mungkin kita pun pernah secara tidak sadar melakukan hal yang sama. Ironisnya di dalam gereja pun hal seperti ini terjadi. Ada seorang teman yang pindah berjemaat ke Gereja lain karena ia merasa diremehkan dan tidak dihargai sebagai seorang pianis di Gerejanya. Ada pendeta yang berkata bahwa ia ingin jemaatnya bertumbuh, namun ketika jemaatnya menerima mukjizat, mereka curiga dan tidak percaya. Ada Gereja-gereja yang "rel" nya bergeser, tidak lagi memuliakan Tuhan di atas segalanya tapi fokus kepada program-program wajib yang harus diikuti jemaat. Jika tidak ikut, itu artinya tidak "holy". Dalam persekutuan-persekutuan, selalu ada saja orang yang merasa dirinya lebih tahu dari yang lain, mungkin dari segi usia, lamanya melayani Tuhan dan sebagainya. Padahal, itu tidaklah serta merta menjadikan seseorang lebih dari yang lain, karena Tuhan mampu mencurahkan hikmatNya dan memakai seseorang yang tadinya tidak ada apa-apanya menjadi berkat luar biasa bagi sesama. From zero to hero.. seperti Paulus.

Hari ini saya mengajak teman-teman untuk merenungkan nasihat Paulus agar kita senantiasa rendah hati. Kita tahu bagaimana beratnya penderitaan yang dialami Paulus dan kawan-kawan dalam mewartakan injil. Lihatlah apa kata Paulus: "Sebab, menurut pendapatku, Allah memberikan kepada kami, para rasul, tempat yang paling rendah, sama seperti orang-orang yang telah dijatuhi hukuman mati, sebab kami telah menjadi tontonan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia. Kami bodoh oleh karena Kristus, tetapi kamu arif dalam Kristus. Kami lemah, tetapi kamu kuat. Kamu mulia, tetapi kami hina." (1 Korintus 4:9-10). Paulus melayani jemaat Korintus yang terkenal kuat, berani dan mulia dengan sebuah kerendahan hati luar biasa. Hanya orang rendah hati lah yang sanggup berkata seperti Paulus. Sebab orang yang tinggi hati akan selalu mencari posisi lebih dari orang lain dan menuntut perlakuan penuh hormat dari orang lain, bahkan selalu menghakimi/menilai orang lain.

Perkataan Paulus ini mengajarkan kita agar tidak bermegah diri di hadapan orang, tidak iri hati kepada orang lain dan selalu hidup dengan rendah hati. Orang yang mempunyai kasih Kristus dalam dirinya seharusnya mampu hidup rendah hati, mampu bersyukur atas karunia Tuhan pada orang lain. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4). Tuhan tidak pernah menginginkan keselamatan yang dianugrahkanNya pada kita sebagai dasar untuk sombong, meninggikan diri. Tuhan mengingatkan bahwa semua itu adalah atas dasar kasih karunia pemberian Allah. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah,itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9). Mari kita jalani hidup dengan sebuah kerendahan hati, baik dalam kondisi apapun.

Runtuhkan tembok keegoisan dan kesombongan, gantikan dengan kerendahan hati

Saturday, January 3, 2009

Old and New

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:17
======================
"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang."

manusia baru, tahun baruKata "Old and New" identik dengan sebuah perayaan menjelang Tahun Baru. Kita meninggalkan tahun lama dan menyongsong tahun yang baru. Detik-detik menjelang pergantian tahun biasanya dihitung mundur, dan terompet serta kembang api biasanya segera menyemarakkan suasana begitu tahun berganti, disertai peluk cium atau jabat tangan dari teman-teman. Sms atau telepon pun biasanya langsung sibuk dipenuhi ucapan selamat. Menjelang tahun baru, ramai orang yang mulai sibuk menyusun "new year's resolution" mereka, menuliskan apa kebiasaan jelek yang hendak dirubah, atau menyusun rencana-rencana yang hendak dicapai untuk tahun depan. Sayangnya kebanyakan "new year's resolution" itu tidak berumur panjang. Mungkin seminggu atau sebulan, kebiasaan-kebiasaan buruk itu kembali lagi. Seringkali kita punya tekad untuk menjadi manusia baru dengan pola kehidupan baru yang lebih baik, namun dalam waktu singkat akhirnya kembali lagi kepada diri kita yang lama, yang dikuasai oleh berbagai keinginan daging yang sulit untuk dilepaskan.

Ketika kita ada di dalam Kristus, kita menjadi ciptaan baru. Yang lama sudah berlalu, dan yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17). Sebuah hubungan baru dengan Tuhan, sebuah perdamaian pun kita peroleh lewat Kristus (ay 18). Kita pun dilayakkan untuk menerima janji-janji Tuhan, hingga memperoleh kehidupan kekal. Kita sekarang bisa masuk ke hadirat Tuhan, bisa menikmati hubungan indah denganNya. Sebagai sebuah ciptaan baru, yang seharusnya bisa menaklukkan keinginan daging dan hidup oleh Roh. Kehidupan seorang ciptaan baru sudah seharusnya memiliki Roh yang terus berbuah. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, penguasaan diri..." (Galatia 5:22-23). Inilah buah-buah Roh yang harus terus kita hasilkan, dan harus semakin ditingkatkan memasuki tahun yang baru.

Malam ini saya berdoa, kiranya saya dan teman-teman sekalian bisa memasuki tahun yang baru dengan lebih baik lagi, seperti ayat berikut: "supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:23-24). Momen memasuki tahun yang baru hendaknya bisa dijadikan sebuah momentum untuk sebuah perubahan kepada kehidupan dalam Roh yang berkenan di hadapan Tuhan. Mari kita tinggalkan diri kita yang lama dengan kebiasaan-kebiasaan buruk kita, dan masuklah ke dalam masa depan sebagai manusia baru yang terus berbuah lebih lagi. Be more fruitful this year!

Jadilah manusia baru, hiduplah dalam Roh dan teruslah berbuah mulai sekarang

Friday, January 2, 2009

Firman Tuhan Meneguhkan

Ayat bacaan: Mazmur 119:28
======================
"Jiwaku menangis karena duka hati, teguhkanlah aku sesuai dengan firman-Mu"

firman Tuhan meneguhkan, kemiskinanDalam perjalanan ke Jakarta untuk meliput event jazz besar bulan lalu saya melihat sebuah pemandangan yang kontras. Sebuah perjalanan nyaman menuju Jakarta dalam kendaraan ber-AC, melintasi jalan tol mulus yang dipenuhi mobil-mobil mewah, gedung-gedung megah di Jakarta, semua itu berbanding terbalik dengan realita gubuk-gubuk di pinggiran sungai, pengemis, pengamen di lampu merah. Sebuah kekontrasan yang nyata, ketika ada banyak yang setidaknya bisa menikmati hidup dengan kecukupan, saudara-saudara kita lainnya saat ini tengah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Ketika kita berpikir bagaimana bulan depan, atau tahun depan, mereka mungkin sulit melihat bagaimana mereka harus hidup esok hari. Bagaimana mereka bisa mengais sedikit rejeki untuk mengisi perut. Pikiran saya menerawang, bagaimana seorang pencuri ayam akhirnya ditembak kakinya karena mereka harus memberi makan anak dan istrinya, disisi lain koruptor kaya menikmati "hotel prodeo", penjara dengan fasilitas mewah, full AC, televisi dan akses lainnya setelah mengemplang uang negara milyaran bahkan trilyunan. Itu gambaran hidup di dunia yang jauh dari ideal dan adil. Di Istora, ketika orang dengan gegap gempita menonton pagelaran jazz di dalam, di luar ada banyak orang berjualan dan mengemis. Pemandangan yang sungguh ironis terbentang tidak hanya disana, tapi rasanya hampir di setiap jarak pandang kita bisa melihat hal seperti itu.

Saya diteguhkan oleh sebuah firman Tuhan dalam kitab Mazmur seperti yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ketika jiwa menangis karena duka hati, firman Tuhan meneguhkan. Saya segera sadar bahwa pengharapan ada dalam Kristus, Roh Kudus membimbing, dan kekuatan serta hikmat ada dari Tuhan, yang salah satunya kita peroleh lewat firman-firmanNya. Ketika kita mampu, ada banyak saudara-saudara kita yang masih sangat membutuhkan uluran tangan. Karena itu, ingatlah selalu bahwa kita bisa menjadi representasi kasih Yesus kepada sesama kita. Apapun yang kita buat untuk mereka, walau sekecil apapun, artinya kita melakukannya untuk Yesus (Matius 25:40). Dan ingat pula bahwa semua itu merupakan korban yang berkenan di hadapan Bapa. "Dan janganlah kamu lupa berbuat baik dan memberi bantuan, sebab korban-korban yang demikianlah yang berkenan kepada Allah." (Ibrani 13:16).

Ada ratusan bahkan jutaan orang yang saat ini tengah bergumul dengan kesusahan dan penderitaan. Ada begitu banyak orang yang belum mengenal Yesus, masih hidup dalam ketidakpastian tanpa adanya secercah pengharapan. Mungkin bagi kita juga, ada saat-saat dimana kita bergumul dengan masalah dan kehilangan pengharapan. Tapi lihatlah ada begitu banyak pesan Tuhan dalam firman-firmanNya yang meneguhkan, dan mengingatkan kita bahwa kita tidak perlu takut jika Yesus ada beserta kita. Ayat-ayat pada kitab Mazmur 119 pun meneguhkan kita. Ketika jiwa kita "melekat pada debu", kita dihidupkan kembali lewat firman Tuhan (Mazmur 119:25). Ketika jiwa kita berduka, kita diteguhkan lewat firman Tuhan (ay 28). Ketika jalan dusta mengancam kita, kita bisa mengikuti kebenaran firmanNya (ay 29-30). Dan hati kita pun bisa menjadi lapang dan lega, dibebaskan dari segala kesesakan, jika kita menuruti firman Tuhan. (ay 32). Dalam menghadapi beban masalah seberat apapun, berpeganglah pada janji-janji Tuhan. Ada pengharapan, bimbingan dan petunjuk yang mampu menolong dalam setiap saat, dan semuanya ada dalam firman Tuhan. Berpeganglah teguh.

Firman Tuhan itu mampu menyegarkan jiwa yang kering

Thursday, January 1, 2009

Belajar Dari Masa Lalu

Ayat bacaan: Matius 16:8
===================
"Dan ketika Yesus mengetahui apa yang mereka perbincangkan, Ia berkata: "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya!"

Kemarin saya sudah panjang lebar menuliskan tentang bagaimana kita seharusnya bersikap menyongsong tahun baru yang secara logika kita akan jauh lebih sulit dibanding sebelumnya dan penuh dengan ketidakpastian serta ancaman krisis. Hari ini saya kembali diteguhkan lewat ayat bacaan hari ini, dan saya ingin membagikannya dengan teman-teman sekalian.

Apa yang saya dapat hari ini tepatnya adalah sebuah ajakan Tuhan untuk bercermin pada apa yang pernah diperbuat Tuhan di masa lalu. Saya diingatkan tentang sejarah bangsa Israel ketika lepas dari Mesir menuju tanah yang dijanjikan. Lihatlah betapa baiknya Tuhan. Dia menurunkan tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari sehingga bangsa Israel bisa berjalan siang dan malam. (Keluaran 13:21). Dalam Keluaran 16, diceritakan bahwa Tuhan memberikan manna, roti yang turun dari langit, agar mereka semua mendapat makanan dalam perjalanan mereka. Begitu baiknya Tuhan, tapi mereka pun masih bersungut-sungut. Mereka bukannya berterimakasih, malah mengeluh bahwa mereka bosan makan manna, dan mulai menyesalkan keputusan mereka untuk keluar dari Mesir. Lebih baik jadi budak di Mesir ketimbang jadi raja di tanah yang dijanjikan Tuhan. Itulah yang terdengar. Lalu kisah yang sudah sangat kita kenal, bagaimana Tuhan melepaskan mereka dari kejaran Firaun dan bala tentaranya lewat Musa yang membelah Laut Teberau alias Laut Merah sehingga mereka bisa melintasinya, sedangkan Firaun dan tentara-tentaranya habis ditenggelamkan ketika melewati belah lautan yang sama. (Keluaran 14:1-31). Cukupkah itu untuk menenangkan dan meyakinkan bangsa Israel? Ternyata tidak. Sesaat setelah mereka dilepaskan, mereka kembali mengeluh karena tidak mendapat air ketika melintasi padang gurun Syur. Lihatlah betapa bangsa Israel terus menerus fokus pada permasalahan. Ketika masalah datang, mereka bukannya melihat apa yang pernah-dan bisa- dilakukan Tuhan, tapi malah fokus pada permasalahan dengan terus bersungut-sungut, mengeluh dan protes. Padahal begitu banyak kisah luar biasa akan mukjizat Tuhan turun atas mereka sepanjang perjalanan. Ini baru kisah bangsa Israel. Jika kita lihat dalam Alkitab, ada banyak lagi kuasa Tuhan yang luar biasa mengatasi masalah bertabur di sana. Hal-hal yang ajaib, yang sudah diluar nalar dan logika, tapi mampu dilakukan Tuhan. Bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Tapi mungkin sudah menjadi sifat dasar manusia untuk cenderung khawatir dan takut ketika logikanya menghadapi sebuah ketidakpastian masa depan. Murid-murid Yesus pun sama. Mereka pernah menyaksikan bagaimana Yesus mampu memecahkan 5 roti hingga sanggup memberi makan 5000 orang laki-laki, belum termasuk wanita dan anak-anak. Tapi mereka masih juga memperbincangkan soal kelupaan mereka membawa roti ketika menyeberangi danau. Dan Yesus pun menegur mereka. "Mengapa kamu memperbincangkan soal tidak ada roti? Hai orang-orang yang kurang percaya! Belum juga kamu mengerti? Tidak kamu ingat lagi akan lima roti untuk lima ribu orang itu dan berapa bakul roti kamu kumpulkan kemudian?" (Matius 16:8-9). Perhatikan perkataan "Hai orang-orang yang kurang percaya!" Kalimat ini kembali diulangi Yesus ketika angin ribut melanda perahu yang sedang Dia tumpangi bersama murid-muridNya. Para murid ketakutan melihat angin ribut dan gelombang badai. Dan Yesus menegur dengan kalimat yan sama: "Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?"(Matius 8:26).

Memang kita tidak boleh terbelenggu dengan masa lalu dan terus menatap ke depan. Itu benar. Tapi kita pun tidak boleh melupakan segala berkat dan mukjizat Tuhan yang sudah pernah Dia lakukan dalam sejarah panjang manusia, bahkan dalam kehidupan kita masing-masing. Jika Tuhan mampu melakukan itu di masa lalu, sekarang pun Dia sanggup, dan di masa depan pun Dia tetap sanggup. Tuhan tahu betul tahun-tahun ke depan akan semakin sulit, tapi Dia pun ingin agar kita tahu betul bahwa penyertaanNya mampu mengangkat kita lebih tinggi dari persoalan dan krisis. Ingin bukti? Berbagai kisah dalam Alkitab, salah satunya kisah bangsa Israel di atas adalah bukti kuat akan kuasa Tuhan. Kesaksian-kesaksian yang dialami banyak orang hingga hari ini pun bisa menjadi bukti nyata bahwa Tuhan masih terus bekerja hingga kini. Belajarlah dari bukti penyertaan Tuhan di masa lalu agar kita kuat melangkah ke depan tanpa rasa takut. Kita harus tetap percaya dengan iman yang teguh, terus bersyukur dan memuliakan Tuhan, bertekun dalam doa, rajin membaca, merenungi dan melakukan firman Tuhan, sambil terus giat bekerja. Percayalah, Tuhan tidak akan membiarkan satu pun anak-anakNya terlantar. Jika anda merasa khawatir, serahkanlah semuanya pada Tuhan dan pegang janjiNya. "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Mari masuki Tahun Baru dengan pengharapan baru. Damai sukacita dan penyertaan Tuhan akan selalu menyertai anda semua.

Fear not, because God is always be with you

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...