=======================
"TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya."
Beberapa hari yang lalu saya menuliskan mengenai pentingnya penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Saya merasakan sendiri betapa damainya dan amannya hidup jika Tuhan beserta kita, jika hidup kita ada dalam perlindunganNya. Nothing to fear, nothing to worry, meskipun kita belum melihat apa yang membentang di hadapan kita. Jika Tuhan memelihara hidup kita, maka kita pun bisa berjalan dengan tenang menyongsong hari depan tanpa rasa khawatir. Sekarang pertanyaannya, kapan Tuhan menyertai kita? Ayat bacaan hari ini menjelaskan bahwa Tuhan akan selalu beserta kita selama kita beserta Dia, selama kita bertekun mencariNya.Ada banyak orang yang selalu menyebut-nyebut nama Tuhan. Ketika kaget, dalam suka, dalam duka, bahkan ketika mengumpat. Apakah dengan terus menyebut nama Tuhan itu berarti seseorang ada beserta Tuhan? Tidak. Lihatlah ayat ini: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.” (Mat 7:21). Kenyataannya banyak orang yang salah kaprah dengan melakukan pembenaran atas tindakan mereka yang sesat dengan mengatasnamakan Tuhan. Mereka berusaha meyakinkan orang untuk membenarkan perbuatan mereka dengan membawa-bawa nama Tuhan. Bahkan tidak jarang, mereka berusaha meyakinkan Tuhan bahwa apa yang mereka perbuat adalah benar, bukan sebaliknya, mengikuti kebenaran firman Tuhan secara mutlak. Beserta dengan Tuhan berarti kita mengetahui apa yang menjadi keinginan Tuhan. Apa yang menjadi kehendakNya. Pastikan bahwa kita selalu menginginkan penyertaanNya, menginginkan Dia secara pribadi, bukan hanya mengharapkan berkatNya, bukan butuh Tuhan hanya agar segala keinginan, keluhan dan kebutuhan kita dikabulkan. Motivasinya adalah karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi bahkan segenap kekuatan kita (Markus 12:30), seperti yang diajarkan Kristus sendiri. Orang yang mengasihi Tuhan akan selalu rindu untuk berada dekat denganNya, rajin berdoa, rajin membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Percaya pada Kristus sebagai Juru Selamat dan hidup senantiasa dalam tuntunan Roh Kudus. Selama itu kita sadari dan lakukan, maka kita akan selalu beserta Dia, dan dengan demikian, Tuhan pun akan selalu beserta kita.
Tuhan Yesus mengajarkan "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Kita perlu terus melatih diri kita untuk terus intim dengan Tuhan, baik lewat puji-pujian, penyembahan maupun doa sebagai wujud rasa syukur dan kasih kita kepadaNya. Kita harus terus memelihara diri kita agar tetap berada dalam kasih Allah. "Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Yudas 1:21). Dengan demikian, Tuhan akan selalu ada beserta kita, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Betapa indahnya hidup dalam penyertaan Tuhan. Pastikan bahwa kita selalu beserta denganNya, mendengarkan dan melakukan firmanNya, maka Tuhan pun akan selalu beserta kita.
Tuhan selalu ada bersama setiap orang yang setia padaNya dan mengasihiNya dengan sungguh-sungguh
Dalam beberapa kali belanja kebutuhan dapur terakhir, saya tiba-tiba tertarik pada timbangan. Timbangan yang dipakai ketika menimbang daging, menimbang cabe, telur, dan lain-lain. Awalnya saya tidak tahu pasti mengapa saya mengamati jalannya timbangan-timbangan itu. Namun malam ini sebelum tidur, semua menjadi jelas. Saya bertemu dengan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, dan saya pun segera mengucap syukur dan berterimakasih karena Tuhan sangat memperhatikan kita, sangat memperhitungkan kita, sangat mempedulikan kita, dan tentu saja, sangat mengasihi kita. Dan saya segera bergegas menunda waktu tidur saya untuk menuliskan renungan ini. Dalam timbangan Tuhan, kita ternyata punya berat yang jauh melebihi apapun.
Pagi ini ketika saya bangun, sebuah pertanyaan hadir di dalam hati saya, yang kira-kira berbunyi, "apakah yang paling kamu perlukan saat ini." Saya menjawab dalam hati saya, yang paling saya perlukan adalah penyertaan Tuhan, agar Tuhan memberkati setiap usaha dan pekerjaan saya, agar Tuhan berkenan pada segala sesuatu yang saya lakukan. Soal harta kekayaan, biarlah itu menjadi bagian Tuhan, karena saya tidak mau kaya jika tidak ada penyertaan Tuhan di dalamnya, di dalam hidup saya dan di dalam keluarga saya. Meskipun saya tahu bahwa Tuhan sanggup, dan sudah menjanjikan sebuah hidup yang berkelimpahan bagi siapapun yang menerima Kristus (Yohanes 10:10), tapi saya hanya mau menerimanya jika saya sudah dianggap layak dan mampu bertanggung jawab terhadap segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan pada saya. Bagi saya, penyertaan Tuhan yang mencukupkan segala sesuatu yang kami butuhkan, itu sudah lebih dari cukup. Kami tidak butuh sesuatu yang berlebihan, kami juga tidak ingin sampai kekurangan. Cukup. Itu saja, dan saya percaya penyertaan Tuhan akan selalu mencukupkan segala sesuatu. Haleluya. Itu fakta yang menjadi bagian hidup saya hingga hari ini. Saya tidak berlebihan, tapi juga tidak kekurangan. Saya cukup makan, saya bisa berusaha dan bekerja, saya bisa bersukacita, ada Tuhan yang bertahta di atas keluarga, dan itu jauh lebih indah dibandingkan sebuah kekayaan berlimpah tapi tanpa rasa sukacita, bahagia, damai dan sebagainya, yang bisa terjadi jika tidak ada penyertaan Tuhan, dan tanpa berkat Tuhan turun atas segala sesuatu yang kita hasilkan. Panjang lebar saya menjawab dalam hati, intinya adalah saya hanya membutuhkan "penyertaan Tuhan". Dan begitu saya selesai menjawab, sebuah motor melintas di depan saya dengan sebuah stiker bertuliskan: "working to win". Saya merasakan sebuah sukacita dalam hati saya.
"ah kamu tahu apa.." sebuah kalimat yang sangat singkat ini, yang diucapkan oleh seorang dosen ternyata menimbulkan kepahitan pada seorang teman saya. Ia merasa segala usahanya disepelekan dan dianggap rendah. Padahal selama setahun penuh saya tahu betul dia sudah berusaha dengan semampunya. Terkadang manusia sulit mengontrol perkataan dan perbuatannya, apalagi ketika mereka sudah mampu mencapai sebuah tingkatan tertentu dalam perjalanan hidupnya. Teman saya itu sekarang sudah meninggal dunia akibat leukemia, dan saya ingat betul sehari sebelum ia meninggal, ia masih menyebutkan sakit hatinya akibat ucapan dosen itu.
Kata "Old and New" identik dengan sebuah perayaan menjelang Tahun Baru. Kita meninggalkan tahun lama dan menyongsong tahun yang baru. Detik-detik menjelang pergantian tahun biasanya dihitung mundur, dan terompet serta kembang api biasanya segera menyemarakkan suasana begitu tahun berganti, disertai peluk cium atau jabat tangan dari teman-teman. Sms atau telepon pun biasanya langsung sibuk dipenuhi ucapan selamat. Menjelang tahun baru, ramai orang yang mulai sibuk menyusun "new year's resolution" mereka, menuliskan apa kebiasaan jelek yang hendak dirubah, atau menyusun rencana-rencana yang hendak dicapai untuk tahun depan. Sayangnya kebanyakan "new year's resolution" itu tidak berumur panjang. Mungkin seminggu atau sebulan, kebiasaan-kebiasaan buruk itu kembali lagi. Seringkali kita punya tekad untuk menjadi manusia baru dengan pola kehidupan baru yang lebih baik, namun dalam waktu singkat akhirnya kembali lagi kepada diri kita yang lama, yang dikuasai oleh berbagai keinginan daging yang sulit untuk dilepaskan.
Dalam perjalanan ke Jakarta untuk meliput event jazz besar bulan lalu saya melihat sebuah pemandangan yang kontras. Sebuah perjalanan nyaman menuju Jakarta dalam kendaraan ber-AC, melintasi jalan tol mulus yang dipenuhi mobil-mobil mewah, gedung-gedung megah di Jakarta, semua itu berbanding terbalik dengan realita gubuk-gubuk di pinggiran sungai, pengemis, pengamen di lampu merah. Sebuah kekontrasan yang nyata, ketika ada banyak yang setidaknya bisa menikmati hidup dengan kecukupan, saudara-saudara kita lainnya saat ini tengah berjuang mati-matian untuk bertahan hidup. Ketika kita berpikir bagaimana bulan depan, atau tahun depan, mereka mungkin sulit melihat bagaimana mereka harus hidup esok hari. Bagaimana mereka bisa mengais sedikit rejeki untuk mengisi perut. Pikiran saya menerawang, bagaimana seorang pencuri ayam akhirnya ditembak kakinya karena mereka harus memberi makan anak dan istrinya, disisi lain koruptor kaya menikmati "hotel prodeo", penjara dengan fasilitas mewah, full AC, televisi dan akses lainnya setelah mengemplang uang negara milyaran bahkan trilyunan. Itu gambaran hidup di dunia yang jauh dari ideal dan adil. Di Istora, ketika orang dengan gegap gempita menonton pagelaran jazz di dalam, di luar ada banyak orang berjualan dan mengemis. Pemandangan yang sungguh ironis terbentang tidak hanya disana, tapi rasanya hampir di setiap jarak pandang kita bisa melihat hal seperti itu.