========================
"Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya?"
Menjelang akhir era 70an ada seorang anak remaja yang sontak menjadi idola di Amerika. Banyak orang menganggapnya sebagai boyband pertama di dunia. Suaranya yang merdu, penampilannya yang cakap membuatnya menjadi terkenal dalam waktu singkat. Sayangnya di tengah kesuksesan itu ia kemudian terlibat dalam obat-obatan terlarang dan membuat pelanggaran di beberapa tempat umum. Beberapa kali ia lolos dari penjara dan mendapat hukuman rehabilitasi dan denda, tapi itu tidak membuatnya kapok. Akhirnya ketika ia membuat pelanggaran kembali, ia pun harus mendekam di penjara selama sekitar sebulan setengah. Disana ia kemudian mendapatkan pelajaran berharga. "Tampaknya saya memang harus rela mendekam di penjara, dan disana saya bisa melakukan itrospeksi terhadap segala kesalahan yang sudah saya lakukan. Jika mau hidup baik, kita harus menjauhi obat-obat terlarang." katanya kemudian dalam sebuah wawancara. Sebuah hukuman memang tidak enak untuk dijalani. Tapi jika itu demi kebaikan, kita harus rela menanggung konsekuensinya dan belajar dari hal itu. Hari ini ia sudah menjadi seorang yang dewasa dan kembali hidup normal. The turning point for him came when he was sentenced into prison. Ia kini bisa berkata bahwa lebih baik hukuman itu ia terima ketimbang ia harus mati akibat overdosis, kecelakaan karena mengemudi dalam keadaan "fly"/mabuk dan lainnya.Ketika anda masih kecil tentu ada waktu-waktu dimana anda dihukum orang tua karena berbuat salah. Hukuman bisa terasa menyakitkan, bahkan sebagian orang masih mengingat pengalaman tersebut hingga dewasa. Meski tidak enak, tapi itu semua adalah demi kebaikan sendiri juga. Ada yang mengatakan bahwa tanpa pernah jatuh seseorang tidak akan pernah bisa naik sepeda, dan sama seperti itu, kita tidak akan bisa menjadi siapa diri kita hari ini tanpa pernah mendapatkan hukuman dari orang tua di saat kita masih kecil, atau dalam proses perjalanan hidup kita hingga hari ini.
Sama seperti orang tua yang terpaksa harus mendisiplinkan anaknya lewat hukuman, Tuhan sebagai Bapa yang penuh kasih pun terkadang perlu untuk mendisiplinkan kita. Ketika menjalaninya bisa jadi terasa menyakitkan. Kita terkadang mengeluh bahkan berteriak karena menganggap Tuhan terlalu keras atau malah menuduhNya tidak adil. Ketika Dia menghukum kita, kita menganggap bahwa Tuhan berlaku kasar dan tidak sesuai dengan sosokNya yang penuh kasih. Tentu tidak seperti itu. Kita harus tahu bahwa terkadang kita bisa melakukan kesalahan, dan karenanya kita butuh ditegur atau bahkan dihukum. Itu bukan dengan tujuan menyakiti kita, melainkan untuk membangun diri kita agar menjadi layak di hadapanNya, seperti apa yang Dia rindukan bagi kita semua. All for our own sake. Dan itu akan jauh lebih baik ketimbang kita dibiarkan terus melenceng dan kemudian harus kehilangan keselamatan yang sudah diberikan Kristus bagi kita.
Penulis Ibrani menjelaskan mengenai bentuk pendisplinan dan pengajaran Tuhan serta tujuannya. "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (Ibrani 12:5-6). Tuhan menegur kita bukan karena punya sifat kejam, namun justru karena Dia mengasihi kita. Justru karena kita dianggapNya sebagai anak-anakNya, yang harus diajar agar benar hidupnya, tidak melenceng keluar jalur. Para orang tua tentu paham pentingnya mengganjar anak-anak mereka yang masih kecil dengan hukuman sekali waktu, agar mereka bisa belajar dari kesalahannya dan tidak mengulangi lagi perbuatannya. Seperti itu pula-lah kita dimata Tuhan. Betapa inginnya Tuhan menjadikan kita anak-anakNya yang tidak bercela, karenanya Tuhan menganggap perlu untuk mendisplinkan kita jika berbuat salah. "Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (ay 7,8). It shows His concern and His love. Kalau begitu, seharusnya bukan saat kita ditegur dan didisplinkan kita harus bersedih, tapi bersedihlah jika Tuhan justru tidak menunjukkan teguran apapun, dan membiarkan kita terus terseret arus kesesatan semakin jauh.
Paulus dalam suratnya kepada jemaat Roma berkata: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Kita sering melihat ayat ini dan menganggap bahwa ini adalah ayat yang berbicara hanya soal "kebaikan" seperti kenyamanan, pertolongan Tuhan, hidup tanpa masalah dan sebagainya. Tapi ingatlah bahwa sebentuk teguran, peringatan atau hukuman, lembut atau keras, semua itupun termasuk hal-hal yang bertujuan untuk mendatangkan kebaikan. Kita ditegur agar lebih baik, kita dimarahi agar tidak terus melakukan kesalahan, kita dihukum agar tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. Itu juga mendatangkan kebaikan. Tuhan menyesah orang yang diakuiNya sebagai anak, menghajar anak-anakNya agar menjadi pribadi yang benar, sehingga layak di hadapanNya dan bisa menerima janji-janjiNya secara utuh. Tidak selamanya hidup ini mudah dan menyenangkan.
Ada masa-masa dimana kita harus menangis akibat dihukum. Jangan bersungut-sungut, jangan menyerah, jangan putus asa, jangan pula mengeraskan hati dan membangkang. Yakobus mengingatkan hal ini, dan menganjurkan agar kita merasa beruntung dan tetap bertekun ketika mengalami pencobaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan.Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Mengalami pendisiplinan Tuhan harusnya kita pandang sebagai sesuatu yang membahagiakan. Itu diingatkan Yakobus untuk kita cermati. Itu merupakan "masa-masa di padang gurun" yang harus kita lewati agar layak memasuki "tanah terjanji". Jika anda tengah mengalaminya, tetaplah bertekun hingga memperoleh buah yang matang, hingga anda kembali ke jalur jalan yang benar dan bisa mencapai garis akhir dengan kemenangan yang gilang gemilang. Pada saatnya, anda akan diangkat keluar dan dinyatakan lulus sebagai manusia baru yang telah layak untuk menerima kemuliaan Tuhan.
Bersyukurlah ketika Tuhan menegur, karena itu tandanya Dia mengasihi kita sebagai anak-anakNya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
"Saya tidak bisa kemana-mana biarpun punya beberapa orang pegawai..." kata seorang teman menampik ajakan reuni teman-teman SMA beberapa waktu lalu. Apa yang menjadi masalahnya? Ia berkata bahwa sulit mempercayai kinerja dan kejujuran pegawainya tanpa ada yang mengawasi. Jika ia ada disana, semua berjalan dengan baik dan lancar. Tetapi ketika ia meninggalkan tempat, maka ada saja masalah yang terjadi disana. Ia bercerita bahwa pernah ada barang yang hilang, jumlah uang yang kurang, atau konsumen yang protes karena tidak mendapat pelayanan yang sigap. Ini mungkin menjadi keluhan banyak orang yang membuka usaha hari ini. Tidak sulit untuk mencari orang yang pintar, tetapi alangkah sulitnya mencari orang yang jujur. Ketika diawasi mereka bekerja baik, tetapi ketika tidak ada yang melihat maka mereka pun mulai memanfaatkan kesempatan untuk berbuat hal-hal yang buruk. Lembaga-lembaga pengawas terus berdiri di mana-mana, tapi lembaga-lembaga seperti ini pun tidak 100% bersih. Lembaga pengawas diawasi oleh lembaga pengawas lain, dan begitu seterusnya, itupun tidak serta merta membuat semuanya berjalan seperti apa yang diharapkan. Hingga batas tertentu angka korupsi mungkin bisa ditekan, tetapi layaknya tikus, mereka akan selalu mampu mencari lubang atau celah baru. Begitu menemukan jalan baru, atau ketika tidak diawasi, maka penipuan akan kembali terjadi.
Percaya atau tidak, perawatan kecantikan seseorang bisa menyita sebagian besar pendapatan maupun waktu. Facial, manicure, pedicure, bonding dan banyak lagi sudah menjadi kebutuhan utama bagi banyak orang. Itu belum termasuk make up, busana dan aksesorisnya juga tas, sepatu, perhiasan, parfum dan lain-lain. Jika itu belum cukup, mereka juga membutuhkan berbagai jenis perawatan lainnya seperti body slimming, cellulite treatment, peeling secara reguler. Jika dahulu urusan seperti ini didominasi kaum wanita, sekarang pria pun demikian. Malah terkadang para pria ini bisa lebih pesolek dibanding wanita. Ada seorang pria yang saya kenal saking parahnya bisa berganti baju 4 sampai 5 kali sehari, dan setiap berganti pakaian ia pun harus menyesuaikan ikat pinggang, kaos kaki, sepatu dan atribut lainnya agar "matching" dengan baju yang ia pakai. Para pria ini seolah menjadi gambaran pria modern yang sangat peduli terhadap penampilan fisiknya. Baik pria maupun wanita yang sangat mementingkan penampilan, biayanya bisa mencapai jutaan atau bahkan puluhan juta sebulan.
Kemiskinan sering diasosiasikan dengan keadaan finansial yang berada jauh di bawah rata-rata. Orang yang hidup kekurangan, tidak punya rumah, hanya mampu makan sekali sehari dan sebagainya, itulah yang dikatakan orang sebagai orang miskin. Tapi benarkah kemiskinan hanya melulu soal harta atau kondisi finansial saja? Sesungguhnya tidak. Terlalu sempit jika kita menganggap kemiskinan hanya sebatas itu. Ada banyak lagi bentuk-bentuk kemiskinan lainnya yang tidak hanya berbicara soal kondisi ekonomi seseorang. Lantas kemiskinan apa yang dikatakan sebagai kemiskinan yang paling miskin? Apakah ini mengacu kepada orang yang paling tidak punya uang sama sekali? Bunda Teresa memiliki jawabannya."We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."
Seperti apa rasanya hidup tanpa pengharapan? Bagi saya pribadi itu rasanya mengerikan. Seandainya saya berjalan tanpa adanya harapan, tanpa impian dan cita-cita, maka segala yang saya lakukan hari ini tentu sia-sia saja. Jika saya masih berusaha hari ini, itu karena saya punya pengharapan. Apakah berusaha untuk bekerja lebih giat dan lebih baik lagi, berusaha mengasihi keluarga lebih dari sebelumnya, berusaha melayani Tuhan dengan lebih dalam dan tentu saja berusaha semakin mendekati citra Kristus, semua itu karena ada pengharapan yang saya nantikan. Ini bukanlah dalam artian pamrih, karena segala yang dilakukan atau diusahakan untuk sebuah pengharapan disini adalah dengan rasa takut atau hormat akan Tuhan, bukan dengan menghalalkan segala sesuatu termasuk menabrak larangan Tuhan. Tidak semua orang hidup dalam pengharapan. Ada banyak yang bekerja bagai robot. Bekerja setiap hari seperti jalannya sebuah program rutin tanpa memiliki tujuan, harapan atau impian. Mereka ini akan tampil sebagai orang-orang yang air mukanya keruh, tanpa kegembiraan. Seperti itulah beberapa orang yang saya kenal dan tahu bahwa mereka berjalan tanpa arah tujuan dalam hidup mereka.
Selalu mengagumkan melihat orang-orang yang visioner dan optimis memandang masa depan, apalagi di tengah dunia yang semakin lama semakin banyak dipenuhi orang-orang yang pesimistis. Orang-orang yang visioner dan penuh optimisme akan selalu bersikap positif meski kondisi secara realita sepertinya tidak mendukung. Hidup yang semakin lama semakin sulit akan mudah membuat kita kehilangan semangat. "Mau bagaimana bisa yakin kalau situasinya serba tidak menentu seperti ini..." kata seorang teman yang membuka toko pada suatu kali. Sebaliknya orang-orang yang optimis tetap memiliki semangat juang tanpa memandang situasi dan kondisi terkini. Saya katakan visioner, karena mereka ini biasanya bisa memandang jauh ke depan melebihi jarak pandang orang awam. Bukan karena mereka punya mata yang lebih dari kita, bukan pula karena kehebatan supranatural dan sebagainya. Salah seorang tipe visioner ini pernah membagi rahasianya kepada saya. "Saya memandang dengan iman, bukan dengan mata biasa. Selama saya melakukan apa yang dikehendaki Tuhan, mengapa saya harus ragu tentang kesuksesan di masa depan?" katanya sambil tersenyum. Luar biasa. Inilah sebenarnya rahasia yang sepertinya mudah untuk dikatakan, mungkin juga tidak asing lagi bagi telinga kita, tetapi seringkali sulit untuk dilakukan.
Kemarin kita sudah melihat bagaimana seekor induk rajawali mengajar anak-anaknya untuk menjadi dewasa. Anak-anak rajawali tentu akan terus berharap mereka bisa tinggal nyaman di dalam sarang, berleha-leha sementara induknya yang pergi kesana kemari mencari makan buat mereka. Pada suatu saat ketika anak-anak ini dirasa sudah cukup umur, sang induk akan melatih mereka untuk mandiri. Sarang dibongkar dan digoncang sehingga anak-anak ini tidak lagi punya pilihan lain kecuali belajar terbang. Otot-otot mereka yang lemah mulai terlatih untuk mampu mengepak sayap agar bisa terbang tinggi. Induk mereka akan dengan telaten mengajar mereka. Jika mereka meluncur jatuh ke bawah, sang induk akan segera menangkap dan membawa mereka naik lagi ke atas. Demikian seterusnya hingga otot-otot sayapnya terlatih untuk bisa terbang sendiri tanpa rasa takut lagi.
Tepat di depan rumah saya ada seorang bapak sedang mengajari anaknya naik sepeda roda dua. Ia dengan sabar dan telaten menuntun anaknya perlahan. Sesekali ia mencoba melepas pegangan dan membiarkan anaknya mengayuh, dan begitu si anak kelihatan oleng ia dengan cekatan menopang anaknya. Saya menyaksikan sang ayah yang sedang mengajar anaknya naik sepeda tersebut ketika saya hendak menuliskan renungan, dan saya pun tersenyum. Tidaklah mudah untuk belajar naik sepeda roda dua, terutama ketika masih kecil dimana kaki belum cukup panjang untuk menjejak ketika sepedanya oleng. Itu butuh keseimbangan dan memerlukan proses dalam latihan. Jatuh ketika belajar seimbang biasa terjadi, dan itu bisa jadi sakit rasanya. Tapi saya membayangkan sebentar lagi anak ini akan senang karena ia bisa bermain lebih jauh bersama teman-temannya karena sudah bisa naik sepeda.
Tidak ada seorang pun manusia yang ingin hidupnya dipenuhi problem. Tidak ada yang mau berada dalam tumpukan persoalan. Tapi namanya hidup, tentu ada saat-saat dimana kita tidak bisa mengelak dari hal tersebut. Benar, itu tidak nyaman, bisa menyakitkan, apalagi kalau datangnya tidak satu-satu melainkan sekaligus, beruntun dan bertumpuk. Titik terang penyelesaiannya pun tidak terlihat, seolah kita tiba-tiba berada di sebuah lorong gelap tanpa ada cahaya apapun. Dalam situasi seperti ini ada saat-saat kita menjadi lemah akibat tertekan beban berat, dan pada saat seperti itu jika tidak hati-hati kita bisa lupa kepada tuhan. Kita tidak lagi ingat bahwa kuasa dan kemampuan Tuhan tidak terbatas, juga lupa kepada kebaikan, kasih setiaNya dan janji-janjiNya. Himpitan masalah penuh penderitaan berkepanjangan akan mulai mengaburkan pandangan kita tentang kebaikan Tuhan, dan mulai menganggap bahwa Tuhan mungkin sudah tidak lagi peduli dengan hidup kita, atau bahkan mulai mempertanyakan keberadaanNya. Di saat-saat seperti itu kita perlu diingatkan kembali akan keajaiban kuasa Tuhan yang tidak terbatas, seperti Tuhan mengingatkan Ayub di saat penderitaan yang ia alami berada pada titik puncak.
Kapan seseorang merasa layak untuk berpikir sebagai seorang juara? Ada banyak kriteria yang mungkin akan berbeda bagi setiap orang. Bisa dari ukuran tingginya pendidikan, bisa dari pengalaman di lapangan, bisa dari kemampuan finansial, relasi dan lain-lain, dan tidak jarang pula gabungan dari beberapa diantaranya. Ada banyak orang juga yang begitu tidak percaya diri dan selalu ragu, sehingga tidak peduli potensi apapun yang mereka miliki, mereka tetap berpikir bahwa semua itu tidak akan cukup untuk membuat mereka berhasil. Masalahnya, seringkali orang terhambat untuk sukses bukan karena ketidakmampuan mereka atau ada tidaknya kriteria-kriteria di atas, tapi justru berasal dari paradigma berpikir yang dipasang terlalu rendah. Bukan karena orang lain atau faktor-faktor teknis, tapi justru faktor non teknis dari diri sendiri. Setiap saya bertemu dengan tokoh-tokoh yang sukses dalam bisnis, pekerjaan maupun hidupnya, pelajaran yang mereka berikan selalu mengarah pada satu kesimpulan bahwa kita harus mulai dari men-set pikiran kita sebagai seorang juara. Think like a champion, then you'll become a champion. Think like a loser, you'll be one. Itu kata salah seorang dari mereka yang saya ingat sampai sekarang.Jika belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana caranya kita bisa menang? Atlit atau tim olahraga manapun tidak akan bisa menang kalau mereka sejak awal sudah tidak yakin mampu menjadi juara. Bagaimana mungkin kita berharap menang jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Keraguan seperti itu akan menghalangi kita untuk mulai melakukan sesuatu, sehingga beberapa tahun kemudian kita masih saja berjalan di tempat, atau malah mundur. Padahal jika sudah dimulai sejak awal bisa jadi kita sudah memetik buah dari apa yang dibangun tersebut. Singkatnya, untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula.
Seperti apa proses pemurnian perak? Seorang pengrajin perak pernah menerangkan caranya. Perak dipanaskan di atas api, dan harus dijaga agar perak itu tetap berada di tengah-tengah, dimana suhunya paling panas. Itu harus dilakukan agar perak dapat dimurnikan dari kotoran-kotoran yang menempel seperti debu, serpihan batu, pasir dan sebagainya. Satu hal lagi, karena perak itu harus dijaga, maka si pengrajin harus duduk sepanjang waktu memperhatikan peraknya hingga mencapai kemurnian yang diharapkan. Waktunya pun harus tepat. Telat sedikit saja, perak akan menjadi rusak.
Ada seorang teman yang suka menebar janji tapi jarang menepati. Ia begitu mudah mengatakan kata-kata seperti "ya saya pasti datang", "ok, nanti kita ketemu", atau bahkan berani mengatakan jam dan tempatnya, namun ketika ditunggu ia tidak datang. Di awal-awal saya kecewa melihat sikapnya ini. Saya pun sempat mengingatkan, dan ia hanya meminta maaf, tetapi terus saja ingkar janji. Sepertinya itu sudah menjadi gaya hidupnya sehingga sulit untuk diubah. Saya tetap berteman namun saya tidak mau memandang serius lagi janjinya agar tidak kecewa. Ketika ia mengatakan ya, atau berjanji sesuatu, saya hanya akan tersenyum tanpa berharap bahwa itu benar. Ada banyak orang-orang yang gemar ingkar janji seperti ini, minimal jam karet alias datang melebihi waktu yang dijanjikan. Berhadapan dengan orang seperti ini bisa sangat mengecewakan dan membuat kita kehilangan kepercayaan atas mereka. Jika mau tetap berteman, setidaknya anda harus siap dengan sifat buruk mereka ini agar tidak menjadi kecewa atau bahkan sakit hati.
Ada banyak orang yang cepat meminta tolong namun kemudian melupakan orang yang sudah berjasa bagi mereka. Pelajaran sejarah bukanlah merupakan pelajaran yang populer di sekolah. Itu menunjukkan ketidakinginan para siswa untuk mengenal pahlawan-pahlawan yang sudah berkorban jiwa sehingga mereka bisa menikmati apa yang ada hari ini. Dalam dunia musik pun sama. Berapa banyak orang yang masih mengenal nama-nama seperti Ismail Marzuki, Mochtar Embut, Ibu Sud dan sebagainya? Padahal mereka inipun merupakan pahlawan di dunia musik yang seharusnya kita kenang, hormati dan hargai. Jika itu masih terlalu tinggi, bagaimana dengan orang tua kita sendiri? Kita masih suka melawan orang tua padahal kita lahir, dibesarkan, disekolahkan oleh mereka, dan tidak jarang mereka harus bekerja mati-matian demi membesarkan kita. Bayangkan betapa hancur perasaan orang tua apabila anaknya bersikap demikian. Di salah sebuah channel tv kabel yang saya tonton, ada seorang anak yang bahkan melempar ayahnya dengan benda-benda berat termasuk benda tajam seperti pisau hanya karena ditegur pulang larut malam. Bukankah ini keterlaluan? Realita seperti ini sudah menjadi hal yang terlihat biasa di tengah masyarakat. Orang tidak lagi menganggap penting untuk mengingat jasa para pahlawan baik bagi bangsa dan negara maupun bagi mereka secara pribadi. Hal seperti ini bukanlah merupakan ciri orang-orang percaya, karena Tuhan sudah mengingatkan kita untuk menghargai mereka yang berjasa.
Ada sebuah dongeng bahasa Inggris berjudul Kelinci dan Rubah. Ada seekor kelinci yang sangat pintar, tetapi sangat gesit dan sulit ditangkap. Pada suatu hari, seekor serigala bersekongkol dengan rubah untuk menangkap dan memangsa kelinci itu. Serigala berkata kepada sang rubah: "Aku punya ide agar kita bisa menangkap kelinci itu. Kamu pulang dan naik ke tempat tidur dan pura-pura mati. Aku akan bilang kepada kelinci bahwa rubah sudah mati. Begitu ia datang melihat, terkam dan tangkap dia." Rubah pun setuju dan melakukan persis seperti itu. Lalu serigala pun menjumpai kelinci untuk menjalankan rencananya. Kelinci itu pun datang ke rumah rubah dan mengintip dari jendela. Ternyata kelinci cukup cerdik. Ia memakai akalnya untuk menguji terlebih dahulu kebenaran dari apa yang dikatakan serigala. "Hai serigala, anda berkata bahwa rubah itu sudah mati, tapi dari apa yang aku lihat ia tidak tampak seperti rubah mati. Seekor rubah yang mati mulutnya selalu terbuka." Sang rubah mendengar perkataan kelinci dan berpikir, "wah...begitu ya, kalau begitu aku harus buka mulut supaya ia benar-benar mengira bahwa aku sudah mati." Begitu rubah itu membuka mulut, kelinci pun tahu bahwa semua itu hanyalah jebakan saja. Ia pun kemudian lari sekencang-kencangnya menjauh dari rumah itu.