==================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik."
Saya baru saja pulang dari sebuah pertemuan informal di sebuah cafe dengan beberapa unsur terkait dalam dunia musik. Sebuah sesi obrolan santai selama 4 jam penuh canda tawa, tetapi tetap dipenuhi tukar pikiran dari masing-masing yang hadir. Ada hal yang saya tahu, ada banyak pula yang saya tidak tahu. Dengan obrolan yang hanya berlangsung selama beberapa jam itu saja ada begitu banyak ide yang terlontar, ide-ide, saling memberi masukan dan sebagainya. Saya membayangkan bagaimana seandainya masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tentu akan sulit bagi kita untuk bisa maju, setidaknya tidak akan bisa maksimal. Sejatinya manusia memang diciptakan bukan menjadi mahluk yang tahu segalanya. Kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling berinteraksi dan terintegrasi dengan orang lain. Itu sejak awal sudah menjadi pandangan Tuhan, yang mengatakan "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.." (Kejadian 2:18). Dalam pekerjaan kita butuh rapat-rapat untuk melihat sampai sejauh mana denyut nadi perusahaan dalam jangka waktu tertentu, dalam berorganisasi kita butuh hal yang sama agar semua bisa berjalan seirama dan mengevaluasi sampai dimana pencapaian saat ini dan sebagainya. Kita adalah bagian dari masyarakat, pada suatu ketika kita akan menyadari bahwa kita butuh orang lain untuk bertahan hidup. Firman Tuhan dalam banyak kesempatan mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri-sendiri, menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian. "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya...Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan." (Pengkotbah 4:9-10,12). Dalam hal-hal kerohanian pun demikian. Sebuah teamwork yang kokoh dibutuhkan bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.
Kita tidak bisa berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Cepat atau lambat kita akan kehabisan bensin, kelelahan dan menjadi lemah. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah teamwork yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Seperti itulah idealnya. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Tidakkah itu terdengar sangat indah?
Dalam Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24) Inilah kuncinya. Saling memperhatikan, saling mendorong, dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Untuk itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 bisa kita jadikan cerminan akan hal ini.
Untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian. Masing-masing kita telah dikaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika disinergikan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.." (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (ay 16).
Ke Gereja sekali seminggu itu tidaklah cukup, apalagi jika anda belum tertanam di satu Gereja pun untuk bertumbuh. Membaca firman Tuhan sekali-kali itu pun belum cukup. Kita perlu mengisi hari-hari kita dengan merenungkan firman Tuhan, membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan lewat pertemuan, telepon, email, sms dan sebagainya agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada, dan temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan dalam hidup setiap kita, pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dimana Tuhan bisa kita permuliakan di dalamnya.
There's no superman, but there's superteam
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Bagi penggemar sepak bola, tentu nama Paolo di Canio tentu tidaklah asing meski ia sudah mengundurkan diri dari lapangan rumput tiga tahun yang lalu. Paolo dikenal memiliki tempramen meledak-ledak sehingga label "bad boy" pun sempat disematkan kepadanya. Tetapi uniknya, Paolo juga dikenang sebagai sosok dengan gelar "A Gentlemen Conduct of Sportmanship" dan membawanya memperoleh FIFA Fair Play Award di tahun 2001. Apa yang membawanya untuk memperoleh penghargaan itu? Kejadiannya di tahun 2000 ketika Paolo masih bermain untuk West Ham. Dalam sebuah pertandingan melawan Everton menjelang menit-menit akhir, Paolo mendapat sebuah umpan matang yang seharusnya tidak sulit untuk dia lesakkan ke gawang. Pada saat itu kiper Everton Paul Gerrard tengah tergeletak, sehingga gawang Everton kosong melompong tanpa penjaga. Situasi itu seharusnya sangat menguntungkan bagi Di Canio dan West Ham, karena hanya dengan sekali tendang saja ia bisa mencetak gol dengan mudah. Tetapi apa yang dilakukan Di Canio? Mencengangkan. Ia ternyata memilih untuk menangkap bola dan meminta agar pertandingan dihentikan dahulu untuk menolong kiper Everton yang cedera. Dengan keputusannya itu West Ham harus puas dengan hasil imbang 1-1. Kemenangan yang sudah didepan mata bisa diperoleh jika Paolo memanfaatkan situasi tersebut, tetapi lebih daripada menginginkan kemenangan, Paolo memilih untuk melakukan hal yang lebih penting yaitu bersikap sportif sesuai peraturan bermain bola dan tentu saja rasa keadilan. Apa yang ia lakukan tetap dikenang orang hingga hari ini. Sebuah iklan fair play yang begitu sering diputar pada saat Piala Dunia 2010 lalu pun kemudian menggambarkan peristiwa sportivitas Di Canio tersebut secara sangat mirip.
Lebih baik atau tidakkah negara kita setelah reformasi yang telah berlangsung lebih dari satu dekade? Anda bisa punya jawaban sendiri-sendiri dengan argumen masing-masing. Keran kebebasan memang telah dibuka sejak kita memasuki era reformasi. Saya sendiri melihat ternyata tidak semua orang siap menghadapi arti reformasi. Bagi banyak orang, reformasi artinya bisa melakukan apapun semaunya tanpa batas, termasuk di dalamnya memaksakan kehendak, kalau perlu dengan kekerasan. Kata saling pengertian dan toleransi semakin lama semakin menghilang dari muka bumi Pertiwi ini. Menyuarakan aspirasi tentu saja tidak salah. Itu hak setiap warga negara. Tapi sebuah kemerdekaan tanpa rambu-rambu jelas akan membahayakan bahkan menghancurkan, bukan saja diri kita tetapi juga orang banyak atau bahkan negara. Kemerdekaan yang dijalankan atas kepentingan pribadi atau golongan akan menimbulkan banyak masalah. Bayangkan jika setiap orang merasa dirinya paling benar dan berhak menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka, apa jadinya dunia ini? Dunia ini merupakan sebuah titipan Tuhan kepada manusia. Kita diijinkan untuk menikmatinya, tetapi jangan lupa bahwa ada tugas penting bagi kita untuk mengelola bumi dengan segala isinya dengan sebaik-baiknya, dan itu sudah digariskan Tuhan sejak pada awal penciptaan. (Kejadian 1:26,28). Bagaimana bentuk pertanggungjawaban kita kelak seandainya kita malah ambil bagian dari proses kehancuran bumi yang semakin tua ini?
Sadarkah anda bahwa keberhasilan kita akan sangat tergantung dari cara pandang atau pikiran kita? Ada keterkaitan kuat antara seberapa besar daya tahan, semangat, daya juang, mental kita dengan apa yang ada di pikiran kita. Seringkali pikiran-pikiran negatif menghambat kita untuk mengalami peningkatan dalam hidup. Bisa saja kita tetap percaya Tuhan, tetapi isi pikiran kita hanya dipenuhi hal-hal yang negatif, atau tidak jarang pula orang mengukur dirinya terlalu rendah di dalam pikirannya. "Ah, saya ini siapa, mana mungkin saya sanggup melakukan itu?" Ada banyak orang yang membatasi dirinya untuk maju karena merasa tidak sanggup. Akibatnya mereka pun membuang peluang yang sebenarnya sudah ada di depan mata. Tuhan selalu merencanakan yang terbaik bagi kita. Tuhan selalu membuka peluang atau jalan agar kita bisa menapak maju, terus naik dan bukan turun. Tetapi seringkali apa yang ada di dalam pikiran kitalah yang akan membawa pengaruh, apakah kita menangkap peluang-peluang itu atau malah terus menyia-nyiakannya, terus membiarkan semua itu berlalu dari hadapan kita dengan sia-sia. Ironisnya, mereka kemudian malah menyalahkan Tuhan pula. Hati, itu adalah sesuatu yang sangat penting untuk kita perhatikan, karena firman Tuhan dalam Amsal menyebutkan bahwa hati merupakan sumber kehidupan yang harus kita jaga. (Amsal 4:23). Itu sungguh benar. Namun disamping itu, pikiran kita pun harus bisa kita kendalikan. Jangan sampai pikiran-pikiran kita berjalan liar tanpa terkendali karena itu bisa sangat berbahaya. Disamping itu jika pikiran-pikiran kita hanya berisi hal-hal negatif, maka kita pun akan terus berjalan di tempat, atau bahkan mundur, karena pikiran kita terus membatasi kita untuk maju.
Ada kalanya kita mengeluh ketika matahari bersinar sangat terik menyinari bumi, tetapi sadarkah kita bahwa kehidupan di muka bumi ini tidak akan bisa berlangsung tanpa adanya sinar matahari? Salah satu aspek penting yang saya tekankan ketika mencari rumah setahun lebih yang lalu adalah banyaknya ventilasi atau jendela. Saya tidak menyukai rumah yang tertutup rapat, karena selain pengap dan gelap rumah itu akan terlihat jauh dari kesan cerah dan tentu saja tidak sehat. Rumah yang saya tempati saat ini adalah sebuah rumah dengan begitu banyak jendela, termasuk pintu menuju taman di belakang yang setengahnya terbuat dari kaca transparan. Begitu juga pintu di depan, kamar tidur dan dapur. Tidak perlu besar, tidak perlu mewah, tetapi banyaknya ventilasi merupakan hal yang saya anggap sangat penting. Matahari merupakan sebuah anugerah luar biasa dari Tuhan yang sangat bermanfaat bahkan vital dalam hampir semua aspek kehidupan. Tidak ada proses fotosintesis bisa berlangsung tanpa adanya matahari, energi pun bisa dihasilkan lewat panas matahari. Tidak usah jauh-jauh, bagaimana kita bisa menjemur pakaian tanpa itu? Saya pun tidak bisa membayangkan tinggal di dalam rumah tanpa adanya jendela yang cukup. Masuk tidaknya matahari ke dalam rumah itu tergantung dari banyaknya jendela atau ventilasi yang memadai. Sinar matahari itu bersinar untuk semuanya, tetapi hanya rumah dengan jendela yang bisa menerima sinarlah yang akan mampu memperolehnya.
Setiap manusia ingin mengalami peningkatan dalam hidup. Peningkatan kemakmuran, kesejahteraan, pangkat, jabatan bahkan popularitas. Untuk popularitas sekarang justru jauh lebih mudah dengan adanya berbagai sarana atau media yang menyediakan jalur-jalur super cepat. Betapa banyaknya orang bisa mencapai ketenaran lewat youtube misalnya. Bukan saja di luar negeri, tetapi di Indonesia pun fenomena ini sudah terjadi. Jika dahulu orang harus terlebih dahulu bersusah payah untuk menapak selangkah demi selangkah, sekarang mereka bisa memanfaatkan fasilitas youtube yang gratis ini untuk bisa menjadi terkenal dalam waktu singkat. Berbagai acara pencari bakat pun terus bermunculan di mana-mana yang mampu membuat orang terkenal dan kaya hanya dalam sekejap mata. Salahkah apabila kita ingin sukses, bertambah kaya atau populer? Tentu saja tidak. Tetapi sangatlah penting bagi kita untuk memperhatikan betul jalan yang kita tempuh untuk mencapainya, karena ketahuilah bahwa iblis sangat senang bermain-main di area ini. Coba bayangkan seandainya anda memasang perangkap tikus, apa yang akan anda pasang sebagai umpannya? Keju, ikan, atau potongan makanan lainnya. Semua itu enak bukan? Dan tikus cepat atau lambat akan masuk ke dalam perangkap jika ia dikalahkan oleh keinginannya. Seperti itu pula jebakan iblis untuk memangsa manusia lewat berbagai pancingan yang terlihat indah, menarik dan nikmat.
Menunggu bagi banyak orang merupakan sesuatu yang membosankan. Tidak jarang pula orang menjadi kesal ketika menunggu. Baik ketika mengantri di bank, kasir dan sebagainya, menunggu kedatangan seseorang yang sudah melewati waktu sesuai perjanjian, menunggu giliran di rumah sakit atau praktek dokter dan lain-lain. Saya mengenal pula beberapa orang yang menjadikan menunggu sebagai sebuah isu penting bagi diri mereka. Maksud saya, apa yang paling mengganggu bagi diri mereka lebih dari hal lainnya adalah apabila mereka harus menunggu. Berbeda beberapa menit saja bagi mereka sudah merupakan sebuah gangguan yang bisa menimbulkan kekesalan bahkan kemarahan. Bagaimana ketika kita menanti jawaban dari Tuhan disaat kita mengalami masalah berat? Seringkali jawaban Tuhan datang tidak secepat yang kita inginkan, dan banyak orang yang menjadi lemah karena ketidaksabarannya.
Sejak menikah saya memberikan seluruh gaji dan pendapatan saya kepada istri. Sama sekali tidak ada rasa terpaksa untuk itu, saya malah merasa bersukacita setiap kali saya membawa pulang penghasilan saya untuk diberikan kepadanya. Itu saya lakukan dengan sukarela tanpa paksaan, ia bahkan tidak pernah meminta saya melakukan itu. Mengapa saya mau bekerja banting tulang lalu menyerahkan seluruhnya kepada istri saya tanpa menyimpan sepeserpun? Alasan saya lebih dari sekedar tanggung jawab sebagai seorang suami, tetapi karena saya mencintainya dengan seluruh jiwa dan raga saya. Nyawa saya pun siap saya berikan untuknya, mengapa tidak untuk sekedar gaji?
Tidak seorangpun dari kita ingin hidup dalam negara yang kondisinya carut marut. Tetapi apakah kita sudah berbuat semaksimal mungkin untuk negara kita? Ini sebuah pertanyaan yang sangat penting untuk kita simak, karena ada banyak orang yang begitu mudahnya mengeluh tetapi keberatan untuk memberi kontribusi terhadap kemakmuran negaranya sendiri. Mereka hanya memikirkan apa yang bisa menguntungkan diri mereka sendiri, bahkan tega merugikan negaranya apabila hal itu bisa menguntungkan mereka secara pribadi. Yang disayangkan, dikalangan anak-anak Tuhan pun sikap seperti ini begitu mudah kita jumpai. Padahal firman Tuhan banyak berbicara mengenai hal ini. Kita diminta untuk menjadi terang dan garam, dan itu artinya diminta untuk bisa menjadi berkat bagi orang lain. Negara tidak akan pernah bisa sejahtera jika kota tidak sejahtera, kota tidak bisa sejahtera jika lingkungan di kota itu tidak sejahtera. Semua itu berhubungan, dan kita sebagai bagian dari masyarakat tentu bisa mulai berpikir untuk berbuat sesuatu sebelum kita mengeluh terlalu cepat akan kondisi yang dialami bangsa kita.
Menyaksikan berita di televisi, surat kabar dan sebagainya saat ini sama seperti menyaksikan luapan kemarahan orang pada situasi dan kesempatan yang berbeda. Setiap hari kita disuguhi berbagai gambaran anarkis dengan wajah-wajah penuh kemarahan, dan itu adalah sebuah gambaran kehidupan di dunia saat ini yang semakin lama semakin menganggap wajar untuk memupuk kemarahan. Berbagai alasan pun bisa timbul sebagai dasar mentolerir kemarahan ini. Aspirasi yang tidak kunjung didengar, diperlakukan tidak adil, merasa dirugikan, bahkan ada pula yang menjadi murka karena merasa orang lain tidak sepaham dengan mereka. Alasan-alasan dipakai untuk jadi pembenaran. Kemarahan membuat orang tidak lagi bisa berpikir jernih, dan pada akhirnya bukan saja kemarahan itu bisa merugikan orang lain, tetapi untuk diri sendiri pun kemarahan bisa menimbulkan banyak masalah yang pada suatu ketika kelak akan kita sesali.
Untuk siapakah Yesus turun ke dunia dan melakukan karya keselamatan? Untuk siapa Yesus menanggung penderitaan dan siksaan sampai mati di atas kayu salib? Sebagian orang berpendapat bahwa semua itu hanyalah untuk sebagian orang saja. Menurut pandangan mereka Yesus hanya menebus dosa sekelompok orang pilihan saja, dan tidak ada peluang apapun bagi orang di luar kelompok itu untuk menerima keselamatan. Jika memang benar demikian, alangkah menyedihkannya ketika kita dilahirkan dalam kelompok dimana keselamatan itu tidak diberikan. Artinya, Tuhan itu pilih kasih dan berlaku semena-mena. Tapi untunglah Tuhan yang kita sembah tidak berpikir seperti itu. Firman Tuhan berulang-ulang menyatakan bahwa anugerah keselamatan itu diberikan bukan hanya untuk segelintir orang saja, tetapi berlaku secara luas untuk siapapun, untuk semua orang tanpa terkecuali. Kesempatan untuk menerima keselamatan terbuka luas bagi seluruh manusia di segala penjuru dunia.
Hari ini saya mendengar sebuah lagu di radio yang berjudul "His Eye is on the Sparrow" dibawakan oleh Lauryn Hill. Lagu ini tidak asing lagi bagi kita, karena sudah dibawakan oleh banyak artis dari satu generasi ke generasi lainnya sejak lagu ini pertama kali ditulis pada tahun 1905. Betapa melegakannya mendengar lirik-lirik dari lagu ini yang terus mengingatkan kita agar tidak perlu takut atau khawatir dalam keadaan apapun, sebab ada Tuhan yang selalu mengawasi kita. Sepenggal liriknya berbunyi seperti ini:
Kasih yang sejati itu baik adanya dan mengacu kepada kebenaran serta pengharapan.
Mana yang lebih baik, dicintai atau mencintai? Apapun jawaban anda, pertanyaan ini sebenarnya menggambarkan kebutuhan orang akan cinta. Tema lagu atau film dari masa ke masa selalu didominasi oleh cinta. Tetapi di sisi lain, ada banyak pasangan suami istri yang mulai kehilangan rasa ini di antara mereka, atau dalam hubungan-hubungan lain kadar kasih bisa pula menurun. Hari kasih sayang yang kita peringati kemarin bisa menjadi titik awal pemulihan hubungan yang mulai retak. Cinta atau kasih punya kekuatan sangat besar yang terkadang tidak kita sadari. Saking besarnya, bahkan Tuhan sendiri sampai rela membiarkan AnakNya yang tunggal untuk turun ke bumi, menderita siksaan dan mati dalam cara yang begitu hina di atas kayu salib demi kita, dan satu-satunya yang mampu menggerakkan Tuhan seperti itu hanyalah kasih. (Yohanes 3:16). Cinta dan kasih ini bisa membuat perbedaan yang begitu besar dalam hidup kita. Bayangkan dunia dimana manusia yang ada di dalamnya hidup dengan saling mengasihi satu sama lain. Tidak akan ada perang, pembunuhan, penipuan, kekerasan, dendam dan sebagainya. Berapa indahnya dunia jika itu yang terjadi. Tapi pada kenyataannya sikap-sikap yang bertentangan dengan kasih justru yang semakin lama semakin berkuasa dalam hidup manusia. Semakin kita menjauh dari kasih, maka semakin besar pula potensi kita untuk sesat dan terjerumus ke dalam berbagai bentuk dosa. Penekanan akan pentingnya kasih tersebar begitu banyak di dalam Alkitab menunjukkan bahwa kasih merupakan sebuah hal yang sangat krusial untuk kita.
Valentine's day is here. Sebagian orang merayakannya bersama kekasih dengan sesuatu yang romantis. Hadiah berbentuk hati, candle light dinner, warna pink mewarnai berbagai suasana, dan tidak jarang pula yang menyatakan cinta lewat sebentuk puisi, ungkapan rasa, ada pula yang menjadikannya sebuah momen untuk memperbaharui komitmen. Di sisi lain ada pula yang kontra, menganggap Valentine tidak lebih dari sekedar momen yang dimanfaatkan untuk komersil, atau menolaknya karena menganggap hari kasih sayang ini sebagai sebuah produk agama tertentu saja. Sebagian lainnya yang kontra menganggap bahwa tidak perlu ada hari kasih sayang. Apapun pendapat dan keputusan orang harus kita hargai, tetapi bagi saya pribadi sebuah hari kasih sayang seperti ini sangat perlu. Seperti kebanyakan dari kita, saya ditimbun kesibukan, jadwal pekerjaan, rutinitas dan berbagai aktivitas setiap hari sehingga harus diakui ada banyak hari dimana saya tidak lagi punya waktu untuk menyatakan kasih kepada istri, orang tua, atau orang-orang terdekat saya. Sebuah hari spesial seperti Valentine menjadi sebuah hari yang saya dedikasikan buat menyatakan kasih dan perhatian saya kepada mereka, terutama kepada istri yang telah hadir dalam hidup saya sebagai sebuah anugerah yang luar biasa indah dari Tuhan.
Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat ini. Dan memang demikianlah adanya, karena pada suatu ketika, kita akan menyadari bahwa seberapa hebatnya kemampuan kita dan sematang-matangnya rencana kita, tetap saja kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Tidak jarang ada banyak orang yang sudah mengeluarkan biaya dan usaha yang tidak sedikit, namun akhirnya harus berakhir dengan kerugian karena ternyata itu tidak sejalan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan. Saya sendiri pernah mengalami hal itu. Mengambil jalan yang tidak tepat, bahkan mengisinya dengan berbagai kecurangan, pada akhirnya semuanya harus habis ludes, dan saya kemudian memulai lagi dari nol. Hari ini saya bisa menyadari sepenuhnya bahwa apa yang terbaik adalah ketika kita menjalani hidup seturut dengan kehendakNya, seperti yang sudah Dia rencanakan jauh hari, bahkan sebelum kita dilahirkan. Firman Tuhan berkata "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16).
Punya anak anjing kecil empat ekor yang baru saja mulai lincah membuat saya sering meluangkan waktu untuk menyaksikan mereka bermain. Disamping mengawasi agar mereka tidak melakukan hal-hal bodoh, seperti menggigit kabel listrik misalnya, memperhatikan mereka agar tidak buang air sembarangan di lantai, saya juga bisa melihat kepribadian masing-masing. Ada yang hyperaktif, sangat lincah, ada yang pintar, ada yang pendiam dan ada pula yang senang menjahili saudara-saudaranya. Saya cukup mengawasi dari atas agar bisa melihat polah dan tingkah laku keempatnya. Itu terhadap empat ekor anak anjing kecil, bagaimana dengan manusia? Teknologi yang semakin maju saat ini sudah memungkinkan kita untuk bisa memantau situasi dari jarak ribuan kilometer sekalipun. Alat-alat seperti webcam, cctv dan sebagainya bisa membuat kita mampu untuk memantau tanpa terbatas lagi oleh jarak. Kamera satelit bisa menangkap gambar dari berbagai belahan dunia dengan cukup detail. Jika hari ini teknologi sudah bisa seperti itu, bagaimana lagi satu dasawarsa ke depan?