==================
"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu."
Saya pertama mengenal gema ketika pada suatu kali ayah saya mengajak saya ke atas gunung saat saya masih kecil. Di sana ia menyuruh saya mencoba meneriakkan sesuatu. Betapa kagetnya saya mendengar suara saya kembali terdengar berulang-ulang. Ayah saya hanya tertawa dan kemudian menjelaskan bahwa itu adalah gema atau echo, sebuah refleksi atau pantulan suara kita yang terjadi ketika gelombang suara kita menumbuk suatu permukaan. Fenomena echo atau gema ini memang menakjubkan. Saat itu pun saya kemudian berulang-ulang meneriakkan sesuatu dan kemudian merasa senang ketika saya kembali mendengarkan pantulannya kembali kepada saya. Apapun yang saya teriakkan akan kembali persis sama. Jika saya meneriakkan "Halo", makan yang kembali pun pasti "Halo", dan tidak akan pernah "apa kabar" atau kata lainnya. Itulah fenomena gema, yang sebenarnya bisa kita aplikasikan pula dalam kehidupan kita. Apa yang bisa anda katakan mengenai diri anda sendiri hari ini? Syukurlah jika itu adalah kata-kata yang positif. Pada kenyataannya ada banyak orang yang menilai citra dirinya terlalu rendah, buruk dan merasa tidak sanggup untuk melakukan apa-apa. Aku memang bodoh, aku tidak mampu, aku tidak kuat, dan sebagainya. Malah ada banyak orang yang belum memulai sudah langsung merasa gagal. Tidak jarang pula ada orang yang terbentuk dengan percaya diri yang rendah karena sejak kecil sudah terlalu sering dikatai bodoh, baik oleh orang tuanya sendiri, saudara, kerabat atau sahabat. Seperti echo atau gema tadi, apa yang kita teriakkan kepada diri kita sendiri akan kembali kepada kita. Jika kita meneriakkan kata-kata negatif kepada diri kita, maka itulah yang akan terbentuk dalam diri kita. Apa yang kita katakan kepada orang lain pun bisa sedikit banyak mempengaruhi mereka. Apakah kita mengeluarkan kata-kata membangun, menyemangati dan memotivasi, atau merendahkan, mematahkan semangat atau menyepelekan, itu akan memberi pengaruh kepada mereka. Oleh karena itulah sangat penting untuk selalu berpikir atau mengatakan hal-hal yang positif, baik itu untuk orang lain, terutama untuk diri kita sendiri, agar kita terbentuk menjadi orang-orang yang bermental baja dan mampu memandang hidup dari perspektif yang positif pula. Dan itu sejalan dengan apa yang dikatakan firman Tuhan dalam Alkitab.
Kepada jemaat Filipi, Paulus berpesan "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan lebih jelas: "think on and weigh and take account of this things [fix your minds on them]". Pikirkanlah itu, tekankanlah pada diri anda, dan jangan lupa ubahlah paradigma yang mungkin sudah terlanjur negatif pada pikiran anda. Paulus adalah tipe motivator ulung yang selalu berusaha untuk menyuarakan dan memberi keteladanan positif kepada jemaat-jemaat yang dilayaninya. Ia pun mengatakan "Dan apa yang telah kamu pelajari dan apa yang telah kamu terima, dan apa yang telah kamu dengar dan apa yang telah kamu lihat padaku, lakukanlah itu. Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu." (ay 9). Keteladanannya sungguh luar biasa. Tidaklah gampang untuk menjadi seorang Paulus pada saat itu. Ia mengalami banyak penderitaan, namun ia tidak pernah surut untuk memotivasi para jemaat. Think positive, and keep saying all the positive things to yourself and others.
Tekanan permasalahan memang bisa membuat kita melemah lalu kehilangan motivasi atau keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri. Elia pernah mengalaminya. Ia berkata "Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku." (1 Raja Raja 19:4) Bayangkan jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, apa jadinya Elia? Kepada diri kita sendiri pun demikian. Apabila kita terus mengucapkan hal-hal negatif terhadap diri kita sendiri, mau jadi apa kita nanti? Dan kepada Elia, Tuhan segera bertindak cepat. Dia mengutus malaikat untuk menyuruh Elia segera "bangun", "makan", dan "meneruskan perjalanannya". "Stand up, fill yourself up and keep walking! Don't give up!" Itu kira-kira pesan Tuhan secara singkat, dan itu sudah kita bahas panjang lebar beberapa waktu yang lalu. Lihatlah bahwa dalam keadaan apapun, Tuhan itu ada dan peduli. Jika menyadari bahwa Tuhan menyertai kita, mengapa kita harus merasa pesimis dalam memandang hidup? Mengapa kita harus membiarkan citra diri kita terus semakin rusak, baik akibat perkataan orang lain atau perkataan diri kita sendiri yang negatif?
Lihatlah apa yang dijanjikan Tuhan kepada kita. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Ini adalah sebuah janji penting yang disertai dengan langkah-langkah yang harus kita ikuti jika kita mau mendapatkan apa yang menjadi rencana Tuhan bagi kita. Sikap negatif jika kita biarkan hanyalah akan membuat kita semakin menjauh dari janji-janji dan rencana-rencana yang telah Tuhan rancangkan bagi kita. Melakukan perintah Allah dengan setia, tidak menyimpang, tidak menyembah allah-allah lain, semua itu akan membawa kita mendapatkan apa yang menjadi kehendak Allah bagi kita. Mungkin tidak mudah bagi orang yang sudah terlalu lama hidup dengan pola pikir negatif untuk bisa merubahnya secara instan. Tapi renungkanlah selalu firman Tuhan, siang dan malam, seperti yang juga dianjurkan Daud dalam Mazmur 1:2, dan tanamlah janji Tuhan itu secara kuat dalam hidup kita. Tetaplah fokus kepada janji-janji Tuhan, dengan demikian kita bisa terus hidup dalam pengharapan dan mampu memandang hidup secara positif meski saat ini masih dalam keadaan sulit. Seperti gema yang memantulkan kembali suara kita di atas gunung, siapkah kita menggemakan hal-hal yang benar, mulia, adil, suci, manis, sedap didengar, kebajikan, patut dipuji, dan sebagainya, alias hal-hal yang positif ke dalam hidup kita? Let's think, weight and take account of these things!
Berpikir positif akan membentuk citra diri positif pula
Belum lama ini sebuah sabun cuci atau deterjen bermerek terkenal meluncurkan inovasi terbarunya yaitu mengklaim mampu membersihkan noda-noda membandel yang melengket pada baju kotor hanya dalam sekali kucek. Mereka bahkan membuat demonstrasi akan hal itu di banyak supermarket dan juga di televisi. Tidak ada orang yang mau memakai baju kotor, tetapi dalam melakukan pekerjaan, bermain dan sebagainya ada kalanya baju kita menjadi penuh noda dan bercak. Tersemprot lumpur di jalan ketika hujan misalnya, terkena kuah makanan dan sebagainya. Baju itu tentu akan kita cuci terlebih dahulu hingga noda-nodanya hilang sebelum dipakai kembali. Apabila noda itu menempel akan sulit bagi kita untuk menghilangkan semuanya dan membuat baju kita kembali seperti baru. Produsen mengetahui hal itu. Itulah sebabnya berbagai produk deterjen akan terus berlomba-lomba membuat inovasi yang mampu membersihkan dengan cara yang paling mudah, hemat dan cepat.
Betapa terkejutnya saya hari ini mendengar kabar bahwa salah seorang sepupu saya baru saja mengalami kekerasan dalam rumah tangga alias dipukul oleh suaminya. Kejadian ini sebenarnya adalah akumulasi dari berbagai permasalahan yang terus dibiarkan berlarut-larut sejak mereka menikah. Seorang pria memukul wanita, apalagi istrinya sendiri, itu jelas salah. Tetapi agar adil, sebenarnya kita pun harus melihat terlebih dahulu permasalahannya secara lebih jelas, sedapat mungkin menuju kepada akar-akar permasalahannya, karena bisa jadi perlakuan kasar suami dipicu oleh perilaku atau sikap yang kurang baik dari istri, yang mungkin sudah terjadi selama bertahun-tahun. Apapun penyebabnya, yang jelas kita melihat semakin banyak keluarga-keluarga yang mengalami kehancuran meski usia pernikahannya masih relatif singkat. Dan ini pun tidak lagi jarang terjadi di kalangan umat Kristen sendiri. Iblis memang sangat suka merusak hubungan antar pasangan, terlebih ketika kita sudah memasuki zaman akhir seperti sekarang ini. Bentuk penyebab pecahnya sebuah hubungan bisa bermacam-macam, dan kita memang seharusnya melihat kasus per kasus. Tapi mari kita lihat sebuah pertanyaan yang mungkin sering dilontarkan orang, dan jelas dibutuhkan setiap pasangan. Adakah sebuah kunci yang akan mampu membuat sebuah hubungan antara suami dan istri senantiasa harmonis? Adakah rahasia kesuksesan sebuah hubungan yang akan mampu melewati badai seperti apapun tanpa mengalami keretakan di dalamnya? Jawabannya ada.
Hari ini saya melihat sebuah buku karya Donald Trump berjudul "Think Like a Champion." Saya tidak sempat membuka-buka halaman di dalamnya, tetapi saya percaya Trump berusaha mengajak kita untuk mengubah paradigma berpikir kita agar bisa mencapai sukses. Saya setuju dengan Trump. Betapa seringnya kita gagal justru sejak awal. Belum apa-apa kita sudah yakin kalah. Bagaimana mungkin kita berani melakukan sesuatu jika paradigma berpikir kita sudah seperti orang yang kalah? Untuk memiliki mental pemenang kita harus memulainya dari cara berpikir seperti layaknya seorang pemenang pula. Jika tidak, maka kita tidak akan pernah bisa memulai apapun.
Sebuah email diforward teman kepada saya. Isinya bagus, merefleksikan bagaimana pemikiran banyak orang mengenai keberadaan dan kepedulian Tuhan. Kita bertemu dengan banyak orang yang skeptis mengenai hal ini. Ada yang tidak percaya sama sekali, ada yang ragu-ragu, ada yang percaya memang Tuhan ada tetapi tidak cukup peduli, ada pula yang berpikir bahwa perhatian Tuhan terlalu tinggi untuk diraih. Dahulu saya termasuk orang yang tidak peduli akan ada atau tidaknya Tuhan. Saya hanya percaya terhadap kerja keras dan usaha saya sendiri. Keberhasilan memang pernah saya raih, tapi umurnya tidaklah lama. Semua yang telah saya capai dan dapatkan akhirnya hilang tak berbekas. Di saat itulah saya mengalami jamahan Tuhan Yesus secara langsung. Dan hari ini saya tahu bahwa kasih Allah itu sungguh sangat besar adanya. Dia ada, Dia mengasihi kita, dan Dia peduli. Sangat peduli, sehingga Dia merelakan Yesus untuk turun menggantikan kita semua di atas kayu salib. Hari ini kita bisa hidup dengan sukacita, merasakan hadirat Allah yang begitu indah, mendapat jaminan keselamatan sepenuhnya, semua itu adalah bukti besarnya kasih Allah yang dianugerahkan lewat anakNya yang tunggal, Yesus Kristus. Mari kita lihat kisah seorang pelanggan dan tukang cukur seperti yang di email kepada saya.
Sudah beberapa bulan terakhir saya tertimbun oleh pekerjaan yang bertumpuk. Pekerjaan menyita waktu bahkan sampai lewat tengah malam. Akibatnya saya jadi jarang punya waktu untuk santai, apalagi untuk ngobrol antar tetangga. Tapi malam ini saya diingatkan Tuhan untuk meluangkan waktu sejenak berkumpul dengan tetangga. Saya pun duduk ngobrol santai selama sejam. Ternyata hal itu mampu membuat saya sedikit rileks. Bercanda, tertawa, tapi juga banyak mendengar informasi-informasi yang belum saya ketahui sebelumnya. I found it quite refreshing and informative. Ada kalanya ditengah banyaknya kesibukan kita jadi terpusat kepada pekerjaan dan kehilangan jati diri kita sebagai mahluk sosial. Kita akan mulai menarik diri dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita, dan lama kelamaan kita akan kehilangan teman.
Saya selalu menyempatkan untuk membagikan kisah hidup dalam berbagai kesempatan di kala mengajar. Mengapa harus demikian? Karena sesuatu yang disampaikan hanya secara teoritis biasanya tidak akan mampu berbicara banyak untuk memotivasi seseorang. Berbagi pengalaman hidup akan jauh lebih bermanfaat sebagai sarana motivasi karena itu merupakan kisah nyata dari pengalaman pribadi yang membagikannya. Tidak jarang saya mengutip firman Tuhan yang teraplikasi dalam berbagai pengalaman hidup saya tanpa menyebutkan ayatnya. Dan respon positif sering saya terima, termasuk pula beberapa mantan murid yang datang kembali untuk berterima kasih karena mereka berhasil sukses setelah mengalami perubahan mindset atau pandangan yang berawal dari pengalaman hidup yang pernah saya bagikan kepada mereka.
Sulitkah mengajar anak yang bandel? Tanyakan kepada sepupu saya, maka ia akan langsung bercerita panjang lebar bagaimana lelahnya dia setiap hari mengasuh anaknya. Ketiganya masih balita dengan kenakalan yang kurang lebih sama. Mereka akan berlari kesana kemari. Meleng sedikit saja sesuatu bisa terjadi pada mereka. Kemarin ketika kami makan siang bersama, ketiga anaknya saling berebutan sendok dan garpu lalu melemparkannya ke segala arah. Lalu salah satu terjatuh dan langsung menangis keras. Sepupu saya pun menghampiri anaknya dan berkata, "itulah, siapa suruh bandel? Lain kali dengar kata-kata mama supaya kamu tidak jatuh dan sakit.." Semua orang tua akan senang sekali jika anak-anak mereka mau mendengarkan nasihat mereka. Masalahnya, sebagai anak kita sebenarnya mendengar, namun hanya sedikit yang patuh dan mau menurutinya. Telinga kita mendengar, namun sikap, tindakan dan perbuatan kita sama sekali tidak mencerminkan apa yang kita dengar. Dan akibatnya, ada banyak kerugian yang akan kita alami berawal dari ketidak-acuhan kita terhadap petuah atau nasihat orang tua.
Sebuah lagu lawas kembali saya dengar lewat radio ketika berada dalam perjalanan menuju tempat kerja saya hari ini, "Aku Melangkah Lagi." Lagu yang dinyanyikan Vina Panduwinata ini bercerita tentang orang yang baru saja kembali menemukan semangatnya untuk memulai hidup baru setelah melewati kegagalan dalam hubungan cinta. Bagi saya lagu ini punya makna lebih dari sekedar hubungan percintaan dan akan cukup baik untuk memberikan motivasi, karena pada kenyataannya ada begitu banyak orang yang tidak bisa menemukan ritme hidup mereka kembali untuk memulai langkah baru setelah mengalami kegagalan akan sesuatu hal. Apakah itu dalam hubungan cinta, pekerjaan/karir, pendidikan dan berbagai sisi kehidupan lainnya, seringkali sulit bagi kita untuk kembali bangkit setelah jatuh. Ada banyak orang yang kemudian mengalami trauma dan tidak lagi berani untuk mengambil langkah awal yang baru. Di sisi lain, ada banyak pula orang yang tidak kunjung berhasil bukan karena mereka kurang pintar, bukan pula karena mereka miskin ide, melainkan karena ketidak beranian dalam mengambil langkah. Ide-ide brilian bisa banyak, namun hanya sedikit yang berani melangkah untuk melakukannya. Kebanyakan orang akan berhenti sebatas wacana dan akan terpengaruh oleh keraguan apakah bisa berhasil atau tidak, apakah mereka sanggup atau tidak. Tapi hari ini dengarlah, Tuhan tidak menghendaki kita berhenti. Tuhan tidak mau kita menyerah. Dia mau kita terus melangkah agar kita bisa menerima penggenapan janjiNya.
Ada beberapa aktor dan aktris serius yang rela mengorbankan ketampanan dan kecantikannya demi sebuah peran yang mereka mainkan. Ambil contoh bagaimana Robert deNiro menggemukkan dirinya dalam film untuk memerankan tokoh petinju dalam film "Raging Bull" tahun 1980. Sylvester Stallone pernah melakukan hal yang sama untuk film "F.I.S.T." Christian Bale menguruskan dirinya secara drastis hingga membahayakan kesehatannya demi peran dalam film "The Machinist". Akrtis Charlize Theron rela membuat dirinya terlihat jelek untuk memerankan tokoh dalam film "Monster." Ini adalah beberapa contoh dari keseriusan aktor dan aktris dalam memerankan karakter mereka. Ketika sebagian besar artis ingin terlihat cantik dan tampil glamor, mereka rela mengorbankan itu semua demi peran. Bisa jadi mereka akan ditertawakan orang yang berpapasan dengan mereka, tapi itu tidak mereka pedulikan. Bagi para pemeran film ini, pencapaian atau hasil yang bisa mereka raih jauh lebih penting ketimbang hanya sekedar terlihat indah secara fisik saja.
"Ini Medan, bung!" adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan betapa kerasnya kehidupan di ibukota Sumatera Utara itu. Udara yang panas cenderung membuat orang akan mudah terbakar emosi, sehingga memang tidak mudah untuk berlalu-lintas disana bagi pendatang. Kita pun tahu cuplikan sebuah lagu yang kemudian dijadikan "branding" untuk sebuah bentuk kehidupan serba sulit di ibukota Jakarta. "Siapa suruh datang Jakarta", demikian bunyinya. Sementara banyak orang mendambakan kehidupan yang lebih layak dengan datang ke ibukota, tetapi ternyata tingkat kesulitan yang tinggi dan semakin tidak pedulinya orang terhadap sesamanya membuat perjuangan disana kerap menghasilkan air mata bagi orang-orang yang hendak mencoba mencari penghidupan lebih baik ketimbang di daerahnya sendiri. "Kejamnya ibu tiri tak sekejam ibu kota", demikian bunyi salah satu ungkapan lainnya. Ada pula sebuah kota di Indonesia yang bertindak begitu kejam kepada sesama saudaranya, sesama warga negara sendiri. Aneh memang ketika saudara sebangsa justru tertolak di negerinya sendiri, tetapi begitulah gambaran kehidupan di zaman akhir ini. Orang akan rela berbuat apa saja demi kepentingan diri sendiri, bahkan jika harus, mengapa tidak mengorbankan orang lain? Dan gambaran zaman akhir seperti ini sebenarnya sudah ditulis ribuan tahun yang lalu di dalam Alkitab.
Pernahkah anda berpikir betapa enaknya jika ada alarm yang bisa berbunyi nyaring tepat sebelum kita melakukan sebuah kesalahan? Teman saya kemarin mengatakan hal itu sambil tertawa. Betapa sulit katanya untuk selalu ingat mana yang baik dan tidak, selalu saja ada godaan untuk lupa terhadap garis batas yang telah ditetapkan Tuhan dalam hidup ini. Ketika sesuatu terlihat nikmat, maka sikap memberi toleransi terhadap dosa pun bisa kita berikan dengan luwes. Oleh karena itulah teman saya berkata bahwa hidup pasti jauh lebih mudah apabila ada alarm yang akan berbunyi nyaring apabila kita mulai berpikir untuk berbuat dosa. Apakah memang tidak ada? Sebenarnya ada. Selain Roh Kudus yang akan selalu mengingatkan kita dalam setiap langkah, selain pagar Firman Tuhan yang akan berfungsi banyak untuk membantu kita menjaga batas-batas perjalanan agar tetap berada dalam koridor yang benar, Tuhan pun sebenarnya telah memberikan sesuatu dalam diri kita yang bisa berfungsi sebagai alarm awal untuk menghindari dosa, sesuatu yang Dia beri dalam hati kita. Kita mengenalnya dengan sebutan hati nurani.
Salah satu penemuan terbesar bagi saya adalah bola lampu dan listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kedua unsur ini, terutama bagi orang seperti saya yang menghabiskan sebagian besar waktu dengan perangkat-perangkat elektronik dalam pekerjaan saya sehari-hari. Betapa terbantunya kita untuk bekerja di malam hari dengan adanya lampu. Tanpa adanya penerangan seperti ini tentu akan sangat sulit bagi kita untuk melakukan pekerjaan di saat tidak ada cahaya matahari lagi untuk membantu kita melihat dalam terang. Karena itulah saya sangat bersyukur kepada kegigihan seorang penemu bernama Thomas Alva Edison. Baik sadar atau tidak, kita harus mengakui betapa tergantungnya kita pada lampu dalam kehidupan sehari-hari.
Pernahkah anda merasa sangat kosong dalam diri anda sehingga anda tidak merasa bahagia meski secara umum anda sedang tidak menderita apa-apa? Seorang teman saya sedang mengalaminya. Lewat email ia bercerita bahwa meski ia sedang tidak mengalami masalah dalam kehidupannya, ia sedang merasakan kekosongan dalam dirinya yang membuatnya merasa tidak bahagia. Ia memiliki pekerjaan, penghasilannya cukup, punya mobil, punya tabungan, tetapi ternyata semua itu pada suatu ketika tidak sanggup membuatnya hidup bahagia. "Mungkin aku sedang jenuh, mungkin aku merasa kesepian, tetapi yang pasti aku tidak merasa bahagia." katanya. Banyak orang mungkin akan tertawa ketika mendengar hal itu, dan mungkin akan segera menganggap teman saya itu sebagai orang yang tidak bersyukur. Bukankah ia sudah memiliki banyak hal seperti pekerjaan, kehidupan, harta dan sebagainya, yang bagi sebagian orang masih merupakan impian untuk diraih? Tetapi apa yang ia alami bukanlah hal baru. Mungkin kita pun pernah mengalaminya.