Tuesday, October 26, 2010

Mengucap Syukur

webmaster | 8:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:18
==============================
"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu."

Umpatan saat ini bukan lagi hanya sebagai ungkapan kekesalan atau kemarahan terhadap seseorang saja, tetapi dalam pergaulan kata-kata umpatan itu seringkali hanya berfungsi sebagai kata sisipan atau sela yang akan terlontar begitu saja dengan sendirinya tanpa direncanakan. Di kota tempat saya tinggal sekarang, kata makian bisa terdengar ratusan kali ketika sekumpulan anak-anak muda sedang hang out bareng. Di tengah tiap candaan akan terlempar begitu banyak kata yang kasar dan sangat tidak pantas keluar dari mulut kita. Memang mereka bukan sedang memaki siapa-siapa, tetapi tetap saja kata itu seharusnya tidak diucapkan. Tidak hanya orang yang sudah dewasa, tetapi di kalangan anak-anak kecil bahkan balita sekalipun sekarang sudah terbiasa mengumpat. Dari mana mereka belajar? Bisa jadi dari lingkungan sekitar dan ironisnya tidak jarang pula sikap ini mereka tiru dari anggota keluarganya sendiri.

"Dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:10). Ucapan syukur ataupun umpatan bisa keluar dari mulut yang sama, dan Firman Tuhan mengingatkan hal seperti ini tidaklah boleh kita lakukan. Apa yang seharusnya keluar dari anak-anak Tuhan seharusnya hanyalah ucapan syukur. Mungkin mudah bagi kita untuk mengucap syukur ketika kita sedang diberkati, tetapi bisakah kita tetap mengeluarkan ucapan yang sama ketika kita sedang mengalami berbagai masalah? Padahal itulah yang seharusnya kita lakukan. Tetap memenuhi hati, pikiran dengan ucapan syukur yang kemudian akan berimbas kepada kata-kata yang kita keluarkan dari mulut. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Perhatikanlah kata dalam segala hal, itu artinya bukan pada saat baik saja, tetapi dalam keadaan sulit atau dalam penderitaan sekalipun kita harus pula mampu memandangnya dari sisi positif, sehingga kita bisa tetap mengucap syukur. Itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Yesus untuk dilakukan.

Pertanyaannya bagaimana mungkin kita bisa mengucap syukur ketika sedang berada dalam keadaan yang tidak baik? Caranya adalah dengan mengisi diri kita sepenuhnya dengan pengharapan. Daripada dipakai untuk mengeluh atau meratapi nasib, saat-saat sulit akan sangat baik jika kita pergunakan untuk merenungkan kembali apakah kita selama ini sudah menjalani ketetapan-ketetapan Tuhan atau belum. Di saat seperti itulah kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan lebih dari biasanya. Saat sulit adalah saat yang paling baik untuk menyaksikan sendiri bagaimana kuasa Tuhan turun dalam hidup kita. Apabila apa yang terjadi tidak juga seperti apa yang kita inginkan, bukankah keselamatan kekal yang telah diberikan kepada kita secara cuma-cuma lewat Kristus adalah sesuatu yang tetap harus disyukuri? Dan Penulis Ibrani pun mengingatkan kita akan hal itu. "Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut." (Ibrani 12:28).

Cara hidup Yesus ketika hadir di muka bumi ini menunjukkan keteladanan mengenai ucapan syukur. Dalam banyak kesempatan Yesus mencontohkan sendiri bahwa ucapan syukur selayaknya muncul dari mulut kita. Lihatlah ketika Yesus hendak menggandakan lima roti dan dua ikan. "Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka." (Markus 6:41). Mengucap berkat, atau dikatakan "mengucap syukur kepada Allah" (BIS). Dalam keadaan kesulitan, dimana hanya ada lima roti dan dua ikan sementara yang hendak diberi makan berjumlah ribuan orang, Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kita tetap harus mengucap syukur terhadap apa yang masih ada, meski sedikit sekalipun. Dan lihatlah bagaimana ucapan syukur itu bisa menjadi awal dari terbukanya pintu berkat dari Tuhan untuk kita.

Apa yang keluar dari mulut kita hari-hari ini? Apakah sudah berisi ungkapan syukur, kata-kata yang memberkati, menyemangati dan membangun atau justru bersungut-sungut, keluh kesah, meratapi nasib bahkan makian atau kutukan kepada orang lain atau diri sendiri? Berhati-hatilah agar kita tidak jatuh ke dalam sikap bangsa Israel di jaman Musa yang terus bersungut-sungut, meski mereka berulang kali menyaksikan sendiri kebesaran Tuhan dalam perjalanan mereka. Peringatan Tuhan turun lewat Paulus berbunyi seperti ini "Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut." (1 Korintus 10:10). Sebaliknya, hendaklah kita terus mengeluarkan ucapan syukur dari mulut kita, karena itulah yang dikehendaki Tuhan dalam Kristus Yesus. Mulai saat ini, mari kita mengawasi mulut kita, agar tidak ada lagi kata-kata yang tidak berkenan di hadapan Tuhan keluar dari sana lagi, baik secara sadar maupun tidak.

Hati yang bersukacita akan mengeluarkan perbendaharaan kata-kata yang baik termasuk ucapan syukur

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker