(sambungan)
Akan hal ini, mari kita lihat sekali lagi peristiwa heroik sekaligus meragukan dari empat orang yang menggotong sahabat mereka yang lumpuh untuk bertemu dengan Tuhan. Semoga teman-teman belum bosan melihat lagi kisah ini, karena ada sisi lain yang rasanya jarang diulas dan ini berasal dari perenungan saya.
Kisah ini setidaknya tertulis dalam Injil Matius, Markus dan Lukas. Saat itu Yesus tengah berada di Kapernaum. Mendengar Yesus ada di sana, orang pun datang berkerumun. Yesus pun mulai mengajar. Injil Lukas mencatat bahwa bukan hanya rakyat yang datang, tapi ada beberapa orang Farisi dan ahli Taurat juga yang turut mendengarkan. Mereka ini datang dari semua desa di Galilea, Yudea dan Yerusalem. (ay 17). Masih di ayat yang sama dikatakan bahwa "kuasa Tuhan menyertai Yesus sehingga Ia dapat menyembuhkan orang sakit."
Lalu terjadilah kisah heroik dan mengharukan itu. Datanglah seorang lumpuh yang digotong oleh beberapa temannya. Berapa orang yang menggotong? Injil Markus menyebutkan berapa jumlahnya, yaitu empat orang (2:3).
Tapi ternyata yang terjadi tidaklah semudah itu. Mereka tidak dapat langsung bertemu Yesus karena ayat sebelumnya mengatakan disana sudah tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Dan yang terjadi selanjutnya menunjukkan bagaimana determinasi yang dimiliki oleh keempat orang ini demi menolong sahabat mereka yang lumpuh.
"Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus." (Lukas 5:19).
(bersambung)
Thursday, October 31, 2024
Sukacita Kedua (4)
Wednesday, October 30, 2024
Sukacita Kedua (3)
(sambungan)
Saya menyadari adanya sukacita kedua saat saya baru saja dihubungi oleh sahabat saya yang sudah melayani sebagai pendeta selama lebih dari 20 tahun. 20 tahun lalu, ia bertobat setelah mendengar apa yang terjadi pada saya. Bagaimana saya mengalami rentetan pengalaman spiritual hingga bertemu Yesus. Mungkin melihat saya yang modelnya luar biasa bandel dan keras kepala bisa bertobat seperti itu, ia tergerak pula untuk mengikuti jejak saya. Hebatnya, ia bergerak jauh lebih dibanding saya. Ia mengambil sekolah Alkitab kemudian menjadi pendeta.
20 tahun lebih berlalu, ia masih tetap setia melayani. Kami masih suka bertukar cerita, berbagi pengalaman dan saling menguatkan. Setelah selesai berbincang via telepon, saya merasakan sebuah sukacita. Sukacita yang kali ini bukan berasal dari diri saya melainkan dari diri teman saya. Sukacita itu hadir melihat bagaimana setelah ia bertobat, ia terus aktif melayani dengan penuh semangat. Dan saya menyebutnya sebagai jenis sukacita kedua.
Bagaimana reaksi kita saat kita melihat ada orang yang dijamah Tuhan, saat ada pertobatan, saat ada yang mengalami mukjizat? Apakah kita turut bergembira dan bersukacita bersama mereka atau kita malah iri melihatnya? Pertanyaan selanjutnya, apakah kita berpikir untuk bisa menghadirkan itu semua pada orang lain lewat kita? Apakah kita mau berusaha melakukan sesuatu untuk itu?
Lantas yang perlu juga kita renungkan, apakah saat orang lain mengalami kuasa Tuhan tapi sedikit banyak merugikan kita, apakah kita bisa tetap bersukacita bagi mereka atau kita marah dan menuntut mereka? Merugikan kita? Mungkin terdengar sedikit aneh, tapi itu bisa terjadi.
(bersambung)
Tuesday, October 29, 2024
Sukacita Kedua (2)
(sambungan)
Saya terus berproses untuk tetap bisa bersukacita dalam pengertian yang sungguh-sungguh, bukan pura-pura, meski himpitan beban hidup bagai membuat saya sesak nafas. Saya terus mengingatkan hati dan pikiran saya bahwa sukacita itu seharusnya tidak memandang pada kesulitan-kesulitan dalam hidup, melainkan mengarahkan pandangan saya untuk tertuju pada Bapa.
Saya harus terus melatih mata hati dan pikiran saya untuk memandang kepadaNya, juga memandang kepada putri saya yang lucu dan pintar, istri saya tersayang, dan segala apa yang masih Tuhan percayakan untuk kami punyai. Sebagai manusia biasa, ada kalanya saya merasa down, tapi saya tidak akan membiarkannya berlarut-larut, atau berlama-lama.
Saya terus melatih diri untuk bisa merasakan sebuah sukacita yang Tuhan ingin kita miliki, yaitu sebuah sukacita yang tidak terpengaruh oleh apapun yang tengah dialami saat ini. Sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan, karena Tuhan dan tidak tergantung dari situasi dan kondisi yang sedang dihadapi.
Lewat momen-momen perenungan, saya kemudian juga menyadari bahwa sukacita sebagai sebuah kemampuan luar biasa yang dianugerahkan Tuhan kepada kita. Coba bayangkan kalau kita tidak dianugerahi rasa sukacita. Suram, kelam, sedih, perih, lantas takut, kalut, cemas, kuatir terus menerus, itu tentu tidak enak sama sekali.
Tentu saja sukacita akan jauh lebih mudah dirasakan saat hidup sedang berada dalam keadaan baik. Tanpa masalah, tanpa pergumulan, tanpa kendala. Baik ketika tidak mengalami masalah maupun karena merasakan kehadiran Tuhan, orang yang bersukacita akan mudah terlihat dari raut mukanya.
Senyum merekah, hati riang dan hidup pun terasa ceria. Ini adalah reaksi normal dari orang yang sedang berbahagia, atau bersukacita. Dan saya mau bisa tetap seperti itu tanpa terpengaruh situasi sulit yang sepertinya belum mau beranjak pergi dari hidup saya. Sekali lagi, saya terus latih diri saya untuk tidak salah mengarahkan pandangan. Bukan kepada masalah tetapi kepada Tuhan yang saya percaya tidak akan pernah meninggalkan kami.
Hari ini, saya menyadari satu hal, yaitu bahwa semua sukacita seperti ini adalah jenis sukacita pertama. Sukacita pertama? Ya, saya menyebutnya seperti itu. Lantas, kalau ada sukacita pertama, tentu ada sukacita kedua. Seperti apa bentuk sukacita kedua?
(bersambung)
Monday, October 28, 2024
Sukacita Kedua (1)
Ayat bacaan: Lukas 5:19
==================
"Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. "
Belakangan ini saya merasa bahwa otot-otot iman saya tengah digembleng habis-habisan. Bukan hanya dalam hal tetap memegang teguh pengharapan dan kuat saat berada di masa kesukaran, tetapi terlebih dalam hal sukacita.
Ada kalanya saya sudah benar-benar kehilangan mood untuk bisa tetap ceria, tapi mau tidak mau saya harus tetap bisa ceria dan ramah dalam melayani pembeli, dan tentu saja, saat saya pulang ke rumah dan 'ditodong' putri tercinta saya untuk bermain bersamanya. "Hore papa pulang! Ayo main, pa." Begitulah sambutannya begitu melihat saya ada di depan pintu. Terkadang saya sudah merasa terlalu letih, baik fisik maupun mental, kalau ditanya saya lebih memilih untuk bisa langsung beristirahat, calling it a day and look forward to a new day with new chance tomorrow. Tapi bagaimana mungkin saya bisa mengecewakannya?
Dan kemarin, saat anak saya memimpin doa sebelum tidur, saya sempat kaget sekaligus terharu. Ia membuka doanya dengan "Tuhan Yesus, terima kasih karena hari ini saya bisa bermain lama sama papa. Terima kasih sudah mendengarkan doa saya tadi malam."
Itu membuat saya kaget, karena saya tidak menyangka bahwa ia ternyata secara khusus berdoa agar ia dapat kesempatan untuk bisa bermain bersama saya dalam jangka waktu yang cukup untuk membuatnya puas. Saya pun merasa lega bahwa saya tidak menolak untuk meluangkan waktu bersamanya meski saya merasa sangat letih dari segala arah. Dan itu mendatangkan sukacita dalam hati saya.
(bersambung)
Sunday, October 27, 2024
Rekan Setim Tuhan (7)
(sambungan)
Seperti kisah di atas, si lumpuh tidak akan sembuh kalau tidak ada kerjasama yang padu dari keempat temannya, tapi meski ia ditolong temannya, ia tetap tidak sembuh apabila tidak ada Tuhan dilibatkan disana. Lihatlah sebuah kerjasama antar manusia yang melibatkan Tuhan, membangun network dan teamwork dengan Tuhan, itu akan membawa hasil luar biasa.
Jangan bersikap sombong dan selalu mau menang sendiri, jangan bersikap antipati, saling curiga dan memusuhi seperti sebagian orang yang tidak mengenal Kristus, tapi ingatlah bahwa kita diajar unuk selalu bersikap rendah hati, lembut dan sabar, serta menyatakan kasih kita kepada sesama manusia dengan jalan saling membantu. (Efesus 4:2).
Sesuai dengan hakekat manusia sebagai mahluk sosial, demikianlah kita diciptakan Tuhan, hendaklah kita peka terhadap keadaan sesama manusia setidaknya yang berada di sekitar kita. Bantulah mereka jika butuh, karena dengan itulah kita memenuhi hukum Kristus. Menjadi terang dan garam. Suatu waktu nanti kita pun akan butuh bantuan orang lain, dan di saat itu orang lain akan menjadi berkat buat anda. Libatkan Tuhan di dalamnya untuk ambil bagian, dan lihatlah bedanya.
Kerjasama antar manusia yang terjalin kompak dan kemudian terjalin pula secara harmonis dengan Tuhan akan mendatangkan mukjizat yang luar biasa.
Kerjasama yang melibatkan Tuhan akan membawa hasil luar biasa
Saturday, October 26, 2024
Rekan Setim Tuhan (6)
(sambungan)
Jangan cuek, jangan menutup mata dari permasalahan saudaramu. Ingatlah bahwa meski Tuhan mampu menurunkan mukjizatNya secara langsung, namun di sisi lain Tuhan pun bisa memakai anda! Tuhan sangat ingin membangun teamwork bersama anak-anakNya. Tuhan ingin kita menjadi rekan sekerjaNya, rekan satu tim.
Saling tolong menolong menunjukkan sikap mengasihi, dan ini sesuai dengan hukum Kristus. Kepada jemaat Roma pun Paulus mengingatkan hal yang sama. "Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya." (Roma 15:1-2).
Sudah saatnya kita berhenti untuk mencari kesenangan atau kepuasan diri sendiri saja. Sekarang waktunya bagi kita untuk mulai peduli pada keadaan di sekitar kita. Ada begitu banyak orang yang sedang membutuhkan uluran tangan. Bahkan ada banyak orang yang belum mengenal siapa Yesus sesungguhnya.
Bertolong-tolonglah. Bekerjasamalah. Bersepakatlah. Baik dalam pekerjaan maupun pelayanan. Dan diatasnya, lakukanlah semua dalam nama Yesus, dimana dalam setiap kerjasama yang anda lakukan, ada Tuhan yang dilibatkan dan dimuliakan di dalamnya.
(bersambung)
Friday, October 25, 2024
Rekan Setim Tuhan (5)
(sambungan)
Perhatikan ketika Yesus mengutus kedua belas rasulnya untuk melakukan tugas pelayanan. "Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua." (Markus 6:7a). Tuhan Yesus tidak mengutus mereka sendiri-sendiri, atau membiarkan mereka menentukan sendiri, tapi secara spesifik Yesus mengutus mereka berpasangan. Yesus tahu betul bahwa manusia punya keterbatasan dan tergolong lemah, sehingga jika mereka pergi berdua, ada satu yang akan menguatkan seandainya yang satu menjadi lemah. Dari sini kita pun bisa melihat bahwa Tuhan menginginkan bentuk kerjasama di antara anak-anakNya.
Dalam ayat selanjutnya Yesus malah berpesan agar mereka tidak membawa apa-apa. Tidak bekal, tidak uang, tidak juga baju ganti. Hanya tongkat yang Dia ijinkan (ay 8).
Apa yang saya tangkap dari kisah ini adalah sebuah penekanan dari Tuhan bahwa kerjasama di antara manusia itu akan mampu mengatasi masalah yang bisa jadi pada suatu ketika akan merintangi jalan kita menuju kesuksesan. Selengkap dan sekaya atau sepintar apapun seorang manusia, semua itu tidaklah berguna apabila hidup sendirian. Namun adanya kesepakatan dan keakraban dengan sesama manusia lainnya, itu akan membawa manfaat yang jauh lebih besar daripada kelengkapan secara harta, materi, intelegensia dan sebagainya.
Kita pun sampai pada sebuah pertanyaan: sudahkah kita peduli pada saudara-saudara kita yang mungkin sedang melemah baik fisik maupun rohaninya? Rasul Paulus mengingatkan "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2).
(bersambung)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
