Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"
Apa bedanya mengajar dan mendidik? Bagi sebagian orang dianggap hanya padanan kata, atau ada juga yang bilang beti alias beda tipis. Mungkin bedanya memang tipis, tapi lumayan mendasar. Mengajar lebih kepada sebuah kegiatan yang teknis sifatnya, mentransfer ilmu kepada seseorang membuat mereka dari tidak tahu menjadi tahu. Sedangkan mendidik lebih mengacu kepada sasaran jangka menengah maupun panjang, mengubah pola laku agar menjadi lebih baik dan menyiapkan mereka untuk menjadi orang-orang yang siap di masa mendatang. Mendidik bukan cuma berhenti pada transfer ilmu pengetahuan tetapi juga pada akhlak, kecerdasan pikiran maupun nilai-nilai. Secara garis besar, kalau mengajar merupakan transfer of knowledge, mendidik lebih kepada transfer of value. Kalau mengajar cuma butuh kepintaran untuk menyampaikan sebuah ilmu agar orang yang diajarkan mengerti, mendidik seringkali harus disertai dengan keteladanan. Baik guru maupun orang tua apabila mau membentuk anak-anak yang cerdas dan berintegritas tidak cukup dengan pintar mengajar tetapi haruslah meningkatkan peran hingga menjadi pendidik. Artinya, diperlukan keteladanan agar transfer nilai-nilai kebenaran bisa membawa anak-anak tidak cuma sekedar pintar tapi juga cerdas secara ilmu tapi juga baik dalam akhlak, budi pekerti, kejujuran, menjadi pribadi-pribadi berintegritas yang mengaplikasikan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya.
Perbedaan antara mengajar dan mendidik memang tipis tapi bisa nyata terlihat. Ada banyak orang yang pintar tapi tidak disertai dengan akhlak atau perilaku yang baik. Sebaliknya ada orang yang mungkin tingkat pendidikannya rendah tetapi mereka punya integritas dalam menjalani hidupnya. Jago menasihati dan menegur tapi tidak menjadi teladan, dalam artian tidak ada kesesuaian antara apa yang diajarkan dengan perilaku nyata dalam kehidupan sehari-hari, itu menunjukkan bahwa seseorang belumlah siap menjadi teladan sehingga akan sulit sekali mengharapkan mereka bisa mendidik generasi dibawahnya. Ada banyak orang yang bisa mengajar, tetapi sedikit yang bisa menjadi teladan. Apabila kita ingin anak-anak kita tumbuh menjadi sosok menginspirasi dan mengadopsi nilai-nilai kebenaran, tidak bisa tidak kita harus bisa menjadi teladan. Bukan cuma mengajarkan mereka pada kebenaran tetapi juga memberi contoh nyata dalam hidup kita. Kita melarang mereka keluar sampai larut malam, tidak boleh minum minuman keras, tidak boleh merokok, tapi kita melakukannya, itu berarti kita gagal membentuk mereka. Orang tua mengajar anaknya agar santun berkata dan tidak boleh membentak, tapi mereka sering membentak orang lain di depan anaknya, atau jangan-jangan sering saling membentak saat bertengkar, itu pun tidak akan baik dalam proses pendidikan anak.
Di dalam Alkitab ada begitu banyak tokoh yang memberi keteladanan menembus waktu. Ribuan tahun keteladanan mereka terus menginspirasi manusia dari satu generasi ke generasi berikutnya, sehingga bukan saja kita bisa belajar dari mereka, tapi kita juga bisa melihat kesesuaian antara apa yang mereka katakan atau ajarkan dengan perbuatan dan keputusan-keputusan yang mereka ambil secara nyata.
Menyambung renungan kemarin, salah satu tokoh yang menginspirasi adalah Paulus. Adalah menarik jika kita melihat bagaimana Paulus sanggup berkata tegas kepada jemaat Korintus untuk meneladaninya. Paulus berkata demikian: "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16). Kalimat ini sangatlah singkat, tetapi sesungguhnya bukan main-main. Paulus tidak mungkin berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apa-apa dalam hidupnya sama sekali.
Paulus memang merupakan sosok teladan yang luar biasa. Ia mengalami transformasi hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat setelah perjumpaannya langsung dengan Kristus. Berawal dari masa lalu yang buruk, Saulus kemudian 'bertemu' dengan Yesus dan lewat pengalaman spiritualnya ia pun bertobat menjadi Paulus dan membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Kisahnya bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 9:1-19. Dari seorang pembunuh kejam dan penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai ke Asia kecil. Jarak tempuh pelayanannya hingga ribuan kilometer, dan tidak ada pesawat, mobil, bus atau travel yang mampu mengantar orang ke tempat jauh dalam waktu singkat pada masa hidupnya. Tidak ada pula sarana internet, teleconference dan sebagainya yang bisa mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain di belahan dunia lain.
(bersambung)
Sunday, July 9, 2017
Saturday, July 8, 2017
Untuk Apa Kita Hidup? (3)
(sambungan)
Orang bisa punya alasan berbeda untuk memaknai hidupnya, tapi Paulus mengingatkan bahwa buat umat Tuhan, setiap kesempatan hidup yang masih diberikan seharusnya dimaknai dengan kesempatan untuk terus menghasilkan buah. Tidak ada waktu untuk kecewa, berlama-lama, bermalas-malasan, kuatir dan sebagainya, melainkan terus dipakai untuk berbuah. Dalam beberapa renungan terdahulu saya sudah menyampaikan pula bahwa buah adalah bukti kita berakar, dan buah juga merupakan tanda dari iman. Dari buahlah akan terlihat apakah iman kita kuat berakar dan tumbuh dalam Kristus atau tidak, dari buahlah kita bisa menunjukkan apakah kita sudah menjadi muridNya yang benar atau tidak.
Kita setiap hari berjuang, bergumul dan bersinggungan dengan segala bentuk kesulitan. Ada kalanya kita harus mengalami ketidakadilan, merasakan beratnya masalah ditengah banyaknya godaan, disamping harus struggle dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup. Ada banyak hal yang menyita pikiran, hati, tenaga, perasaan dan waktu setiap hari. Kalau tidak hati-hati, kita bisa melenceng dari alasan paling mendasar kenapa kita masih diijinkan Tuhan ada hari ini. Dan itu adalah menghasilkan buah.
Ayat bacaan kita hari ini penting untuk menyadarkan kita tentang:
- Kenapa Tuhan masih memberi kesempatan buat kita hidup, apa tujuan kita hidup.
- Apa panggilan dan tugas kita, dan buah seperti apa yang bisa kita hasilkan dari sana.
Paulus mengingatkan kita bahwa apabila Tuhan masih mengijinkan kita bernapas, itu jelas bukan dimaksudkan agar kita bisa hidup semau kita atau sekehendak hati kita. Bukan juga agar kita tetap sibuk menggejar pemenuhan kebutuhan, terus menimbun harta lantas mengabaikan tujuan terutama kita. Benar, kita memang harus terus berjuang, tetapi ingatlah bahwa diatas semua itu, apabila kita masih diberi kesempatan hidup kita harus bisa menghasilkan buah melalui profesi atau panggilan kita masing-masing. Iman yang berakar teguh akan membuat kita tidak mudah digoyang angin kencang sekalipun.
Kita bisa meneladani Paulus yang terus berbuah hingga akhir meski situasi faktual yang ia alami terlihat sangat tidak kondusif. Ia tidak kecewa, tidak kepahitan, karena ia terus mengarahkan pandangannya pada Tuhan. Ia tahu bahwa apa yang ia tuju bukanlah di dunia yang fana ini melainkan berada pada sebuah kehidupan kekal sesudah fase ini selesai. Karenanya saat akhirnya tiba, Paulus bisa dengan lantang berkata: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Hingga batas akhir tiba, Paulus membuktikan bahwa ia mencapai garis akhir sebagai pemenang. Ia telah berhasil terus memelihara iman dan ia masih terus menghasilkan buah.
Hingga hari ini dan generasi-generasi yang akan datang bisa terus belajar tentang esensi hidup seorang pengikut Kristus lewat pesan dan keteladanan Paulus. Sudahkah motivasi kita dalam bekerja dan melayani benar? Apakah kita tahu apa yang menjadi panggilan kita? Apakah kita berakar kuat di dalam Kristus dan tumbuh di atasNya? Apakah kita sudah atau masih berbuah? Kalau kita masih hidup saat ini, itu artinya kita harus berbuah. Berbuahlah dengan subur dalam bidang pekerjaan dan pelayanan anda masing-masing.
"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Orang bisa punya alasan berbeda untuk memaknai hidupnya, tapi Paulus mengingatkan bahwa buat umat Tuhan, setiap kesempatan hidup yang masih diberikan seharusnya dimaknai dengan kesempatan untuk terus menghasilkan buah. Tidak ada waktu untuk kecewa, berlama-lama, bermalas-malasan, kuatir dan sebagainya, melainkan terus dipakai untuk berbuah. Dalam beberapa renungan terdahulu saya sudah menyampaikan pula bahwa buah adalah bukti kita berakar, dan buah juga merupakan tanda dari iman. Dari buahlah akan terlihat apakah iman kita kuat berakar dan tumbuh dalam Kristus atau tidak, dari buahlah kita bisa menunjukkan apakah kita sudah menjadi muridNya yang benar atau tidak.
Kita setiap hari berjuang, bergumul dan bersinggungan dengan segala bentuk kesulitan. Ada kalanya kita harus mengalami ketidakadilan, merasakan beratnya masalah ditengah banyaknya godaan, disamping harus struggle dalam usaha memenuhi kebutuhan hidup. Ada banyak hal yang menyita pikiran, hati, tenaga, perasaan dan waktu setiap hari. Kalau tidak hati-hati, kita bisa melenceng dari alasan paling mendasar kenapa kita masih diijinkan Tuhan ada hari ini. Dan itu adalah menghasilkan buah.
Ayat bacaan kita hari ini penting untuk menyadarkan kita tentang:
- Kenapa Tuhan masih memberi kesempatan buat kita hidup, apa tujuan kita hidup.
- Apa panggilan dan tugas kita, dan buah seperti apa yang bisa kita hasilkan dari sana.
Paulus mengingatkan kita bahwa apabila Tuhan masih mengijinkan kita bernapas, itu jelas bukan dimaksudkan agar kita bisa hidup semau kita atau sekehendak hati kita. Bukan juga agar kita tetap sibuk menggejar pemenuhan kebutuhan, terus menimbun harta lantas mengabaikan tujuan terutama kita. Benar, kita memang harus terus berjuang, tetapi ingatlah bahwa diatas semua itu, apabila kita masih diberi kesempatan hidup kita harus bisa menghasilkan buah melalui profesi atau panggilan kita masing-masing. Iman yang berakar teguh akan membuat kita tidak mudah digoyang angin kencang sekalipun.
Kita bisa meneladani Paulus yang terus berbuah hingga akhir meski situasi faktual yang ia alami terlihat sangat tidak kondusif. Ia tidak kecewa, tidak kepahitan, karena ia terus mengarahkan pandangannya pada Tuhan. Ia tahu bahwa apa yang ia tuju bukanlah di dunia yang fana ini melainkan berada pada sebuah kehidupan kekal sesudah fase ini selesai. Karenanya saat akhirnya tiba, Paulus bisa dengan lantang berkata: "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman." (2 Timotius 4:7). Hingga batas akhir tiba, Paulus membuktikan bahwa ia mencapai garis akhir sebagai pemenang. Ia telah berhasil terus memelihara iman dan ia masih terus menghasilkan buah.
Hingga hari ini dan generasi-generasi yang akan datang bisa terus belajar tentang esensi hidup seorang pengikut Kristus lewat pesan dan keteladanan Paulus. Sudahkah motivasi kita dalam bekerja dan melayani benar? Apakah kita tahu apa yang menjadi panggilan kita? Apakah kita berakar kuat di dalam Kristus dan tumbuh di atasNya? Apakah kita sudah atau masih berbuah? Kalau kita masih hidup saat ini, itu artinya kita harus berbuah. Berbuahlah dengan subur dalam bidang pekerjaan dan pelayanan anda masing-masing.
"Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah murid-murid-Ku." (Yohanes 15:8)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, July 7, 2017
Untuk Apa Kita Hidup? (2)
(sambungan)
Melihat garis besar hidup Paulus di atas, saya rasa kita harus belajar banyak dari dia. Sudah melayani Tuhan, sudah harus membiayai sendiri masih harus merasakan tekanan dan siksaan hingga akhirnya mendekam di penjara menunggu waktu eksekusi. Bagaimana ia bisa tetap memiliki iman yang tidak tergoyahkan sedikitpun? Ada banyak orang yang aktif dalam pelayanan berharap mereka mendapat keistimewaan di mata Tuhan. Bisnisnya jadi diberkati, masalah dijauhkan. Kalau yang terjadi sebaliknya, mereka akan segera cabut dari pelayanan karena kecewa pada Tuhan bahkan dengan berani mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal apa yang mereka alami belumlah seujung kuku dari apa yang harus dilalui Paulus dalam hidupnya.
Banyak orang yang berpikir bisa menyogok Tuhan kalau melayani. Aku sudah bekerja untukMu kan? Sekarang gantian, limpahi aku dengan apapun yang aku minta! Terdengar bodoh? Kenyataannya ada banyak orang yang berpikiran seperti ini. Atau, melayani karena ingin terlihat hebat, mencari pujian, pamor dan popularitas di mata orang dan keuntungan-keuntungan lainnya. Mereka ini adalah contoh orang yang masih memiliki motivasi sangat keliru akan hakekatnya menjadi rekan sekerja Tuhan. Mereka mengira bahwa dengan melayani artinya mereka akan mendapat keistimewaan dan keuntungan. Tidaklah mengherankan apabila ada banyak orang yang mudah kecewa pada Tuhan. Apa jadinya kalau mereka ada di posisi Paulus? Untung itu Paulus, bukan mereka. Kalau tidak entah bagaimana jadinya kebangunan jemaat mula-mula.
Ada begitu banyak ayat di dalam surat Filipi yang menunjukkan sekuat dan seteguh apa iman Paulus. Gambarkan sosok pria berusia sekitar 60 tahun sedang duduk di dalam penjara yang gelap, pengap dan lembab. Ia tengah menanti hukuman mati dengan cara sadis, atas apa? Atas kerja kerasnya melayani Tuhan selama puluhan tahun. Dan ia tengah menulis beberapa surat untuk jemaat di beberapa tempat dalam keadaan seperti itu. Surat-surat seperti apa yang ia tulis? Surat berisi kebencian? Kekecewaan? Kesedihan? Hebatnya, surat Filipi merupakan suatu 'surat sukacita' (misalnya 4:4 yang mengingatkan "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" diantara banyak lagi ungkapan dan seruan sukacita dalam surat Filipi). Selain itu ada banyak hal esensial yang bisa menjadi pondasi kokoh buat kita. Misalnya seruan untuk jangan kuatir (4:6), kekuatan dari Tuhan akan memampukan kita menanggung segala perkara (4:13), bersyukur dan bersukacita dalam segala keadaan hingga bagaimana seharusnya seorang pengikut Kristus itu hidup: sehati, sepikir, sejiwa, satu tujuan, hidup dalam kasih, memiliki belas kasih, rendah hati dan meneladani Kristus menjadi seorang hamba yang melayani (pasal 2). Bukan main besarnya pelajaran yang bisa kita ambil dari Paulus pada saat-saat akhir hidupnya.
Satu lagi tulisannya yang sangat penting yang bisa dijadikan esensi dari kehidupan orang percaya adalah ayat bacaan kita hari ini. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (1:22a). Paulus bilang: kalau ia masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, itu artinya ia harus berbuah. Dalam keadaan jauh dari baik seperti itu, ia masih bisa mengingatkan hakekat dari hidup. Tujuan, arti dari hidup.
(bersambung)
Melihat garis besar hidup Paulus di atas, saya rasa kita harus belajar banyak dari dia. Sudah melayani Tuhan, sudah harus membiayai sendiri masih harus merasakan tekanan dan siksaan hingga akhirnya mendekam di penjara menunggu waktu eksekusi. Bagaimana ia bisa tetap memiliki iman yang tidak tergoyahkan sedikitpun? Ada banyak orang yang aktif dalam pelayanan berharap mereka mendapat keistimewaan di mata Tuhan. Bisnisnya jadi diberkati, masalah dijauhkan. Kalau yang terjadi sebaliknya, mereka akan segera cabut dari pelayanan karena kecewa pada Tuhan bahkan dengan berani mempertanyakan keadilan Tuhan. Padahal apa yang mereka alami belumlah seujung kuku dari apa yang harus dilalui Paulus dalam hidupnya.
Banyak orang yang berpikir bisa menyogok Tuhan kalau melayani. Aku sudah bekerja untukMu kan? Sekarang gantian, limpahi aku dengan apapun yang aku minta! Terdengar bodoh? Kenyataannya ada banyak orang yang berpikiran seperti ini. Atau, melayani karena ingin terlihat hebat, mencari pujian, pamor dan popularitas di mata orang dan keuntungan-keuntungan lainnya. Mereka ini adalah contoh orang yang masih memiliki motivasi sangat keliru akan hakekatnya menjadi rekan sekerja Tuhan. Mereka mengira bahwa dengan melayani artinya mereka akan mendapat keistimewaan dan keuntungan. Tidaklah mengherankan apabila ada banyak orang yang mudah kecewa pada Tuhan. Apa jadinya kalau mereka ada di posisi Paulus? Untung itu Paulus, bukan mereka. Kalau tidak entah bagaimana jadinya kebangunan jemaat mula-mula.
Ada begitu banyak ayat di dalam surat Filipi yang menunjukkan sekuat dan seteguh apa iman Paulus. Gambarkan sosok pria berusia sekitar 60 tahun sedang duduk di dalam penjara yang gelap, pengap dan lembab. Ia tengah menanti hukuman mati dengan cara sadis, atas apa? Atas kerja kerasnya melayani Tuhan selama puluhan tahun. Dan ia tengah menulis beberapa surat untuk jemaat di beberapa tempat dalam keadaan seperti itu. Surat-surat seperti apa yang ia tulis? Surat berisi kebencian? Kekecewaan? Kesedihan? Hebatnya, surat Filipi merupakan suatu 'surat sukacita' (misalnya 4:4 yang mengingatkan "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" diantara banyak lagi ungkapan dan seruan sukacita dalam surat Filipi). Selain itu ada banyak hal esensial yang bisa menjadi pondasi kokoh buat kita. Misalnya seruan untuk jangan kuatir (4:6), kekuatan dari Tuhan akan memampukan kita menanggung segala perkara (4:13), bersyukur dan bersukacita dalam segala keadaan hingga bagaimana seharusnya seorang pengikut Kristus itu hidup: sehati, sepikir, sejiwa, satu tujuan, hidup dalam kasih, memiliki belas kasih, rendah hati dan meneladani Kristus menjadi seorang hamba yang melayani (pasal 2). Bukan main besarnya pelajaran yang bisa kita ambil dari Paulus pada saat-saat akhir hidupnya.
Satu lagi tulisannya yang sangat penting yang bisa dijadikan esensi dari kehidupan orang percaya adalah ayat bacaan kita hari ini. "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (1:22a). Paulus bilang: kalau ia masih diberikan kesempatan untuk hidup di dunia ini, itu artinya ia harus berbuah. Dalam keadaan jauh dari baik seperti itu, ia masih bisa mengingatkan hakekat dari hidup. Tujuan, arti dari hidup.
(bersambung)
Thursday, July 6, 2017
Untuk Apa Kita Hidup? (1)
Ayat bacaan: Filipi 1:22a
====================
"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."
Untuk apa sih kita hidup? Jawaban orang bisa jadi berbeda-beda. Suatu kali saya melakukan perenungan akan hal ini. Saya ingin memastikan apa yang menjadi panggilan saya, apa hal positif yang sudah saya buat dan apa yang belum. Saya kemudian sampai pada kesimpulan bahwa saya ingin agar apapun yang saya kerjakan bisa dinikmati atau bermanfaat bagi orang lain lebih lama dari umur saya. Saya ingin hasil kerja saya baik dalam profesi, sharing maupun pelayanan yang ternyata dua-duanya berhubung dengan menulis tetap bisa diakses lama setelah saya sudah menyelesaikan perjalanan saya di dunia ini. Itu yang saya rindukan sehubungan dengan panggilan yang diberikan Tuhan pada saya. Simply put, I wish to leave valuable legacy when I still have the chance.
Karena terus memandang monitor komputer dalam menulis (mengetik), mata saya lumayan jadi korban. Kalau dulu masih optional, sekarang kacamata menjadi benda wajib agar saya bisa meneruskan pekerjaan saya. Tapi tidak apa-apa, karena saya tahu bahwa selalu ada harga yang harus dibayar dalam mengerjakan apapun jika ingin maksimal didalamnya. Kembali kepada perenungan saya di atas, saya sampai pada kesimpulan justru sebelum saya bertemu dengan sebuah ayat yang ditulis Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Filipi yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ayat ini kemudian meneguhkan perenungan saya dan dengan sendirinya menjadi salah satu ayat emas dalam hidup saya.
Paulus mengatakan: "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). Ini sama seperti pohon buah, yang harus berjuang keras agar akarnya bisa menembus lapisan tanah yang keras agar bisa mendapat air. Untuk apa pohon itu hidup dan tumbuh? Pada akhirnya sebuah pohon buah harus bisa menghasilkan buah agar bisa dinikmati dan menyehatkan orang yang memakannya. Jika anda membeli pohon mangga tapi tidak kunjung tumbuh, anda tentu kecewa bukan? Pohon tersebut akan sia-sia hidupnya, karena tidak menghasilkan buah.
Mari kita lihat sekilas tentang saat Paulus menulis surat ini. Tidak ada catatan pasti dimana dan kapan Paulus menulisnya. Tapi yang pasti adalah Paulus menulisnya saat berada di dalam penjara dan sewaktu-waktu harus siap menghadapi hukuman mati. Ada yang memperkirakan bahwa saat menulis surat untuk jemaat dari gereja yang ia dirikan sendiri ini, Paulus sudah berusia sekitar 60 tahun, yang artinya ia sudah berada dalam pelayanan sekitar 30 tahunan. Segala suka dan duka sudah ia lalui.
Meski ia menjadi duta Kerajaan yang aktif dan berani mewartakan kabar gembira tentang Kristus, ia tetap masih harus bekerja sendiri mencukupi pelayanannya, dan tidak jarang ia harus menghadapi tekanan bahkan siksaan dalam perjalanannya. Dipenjara, dipukuli, dipasung, diusir, itu biasa ia alami dan terbukti tidak melemahkan langkahnya sedikitpun. Jika Paulus kalah dalam menghadapi beratnya melayani, bayangkan jadi seperti apa Alkitab kita, dan berapa banyak kita akan kehilangan Firman yang diilhamkan Tuhan, terutama mengenai sendi-sendi dasar dan standar kehidupan Kekristenan. Bayangkan pula apa jadinya penyebaran kabar gembira ini tanpa Paulus, karena ia sanggup mencapai Asia Kecil (sekarang kira-kira di Turki bagian Asia) dan Yunani. Jarak tempuhnya tidak kurang dari 25 ribu kilometer. Menariknya, Paulus bukanlah orang yang terlahir sebagai Kristen. Pada mulanya ia justru seorang penganiaya orang Kristen yang juga keturunan orang Farisi. Tapi dalam Kisah Para Rasul kita bisa menemukan cerita pertobatannya yang luar biasa. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis menjadi hamba Tuhan yang kuat, radikal dan setia sampai akhir hidupnya.
(bersambung)
====================
"Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah."
Untuk apa sih kita hidup? Jawaban orang bisa jadi berbeda-beda. Suatu kali saya melakukan perenungan akan hal ini. Saya ingin memastikan apa yang menjadi panggilan saya, apa hal positif yang sudah saya buat dan apa yang belum. Saya kemudian sampai pada kesimpulan bahwa saya ingin agar apapun yang saya kerjakan bisa dinikmati atau bermanfaat bagi orang lain lebih lama dari umur saya. Saya ingin hasil kerja saya baik dalam profesi, sharing maupun pelayanan yang ternyata dua-duanya berhubung dengan menulis tetap bisa diakses lama setelah saya sudah menyelesaikan perjalanan saya di dunia ini. Itu yang saya rindukan sehubungan dengan panggilan yang diberikan Tuhan pada saya. Simply put, I wish to leave valuable legacy when I still have the chance.
Karena terus memandang monitor komputer dalam menulis (mengetik), mata saya lumayan jadi korban. Kalau dulu masih optional, sekarang kacamata menjadi benda wajib agar saya bisa meneruskan pekerjaan saya. Tapi tidak apa-apa, karena saya tahu bahwa selalu ada harga yang harus dibayar dalam mengerjakan apapun jika ingin maksimal didalamnya. Kembali kepada perenungan saya di atas, saya sampai pada kesimpulan justru sebelum saya bertemu dengan sebuah ayat yang ditulis Paulus dalam suratnya untuk jemaat di Filipi yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. Ayat ini kemudian meneguhkan perenungan saya dan dengan sendirinya menjadi salah satu ayat emas dalam hidup saya.
Paulus mengatakan: "Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah." (Filipi 1:22a). Ini sama seperti pohon buah, yang harus berjuang keras agar akarnya bisa menembus lapisan tanah yang keras agar bisa mendapat air. Untuk apa pohon itu hidup dan tumbuh? Pada akhirnya sebuah pohon buah harus bisa menghasilkan buah agar bisa dinikmati dan menyehatkan orang yang memakannya. Jika anda membeli pohon mangga tapi tidak kunjung tumbuh, anda tentu kecewa bukan? Pohon tersebut akan sia-sia hidupnya, karena tidak menghasilkan buah.
Mari kita lihat sekilas tentang saat Paulus menulis surat ini. Tidak ada catatan pasti dimana dan kapan Paulus menulisnya. Tapi yang pasti adalah Paulus menulisnya saat berada di dalam penjara dan sewaktu-waktu harus siap menghadapi hukuman mati. Ada yang memperkirakan bahwa saat menulis surat untuk jemaat dari gereja yang ia dirikan sendiri ini, Paulus sudah berusia sekitar 60 tahun, yang artinya ia sudah berada dalam pelayanan sekitar 30 tahunan. Segala suka dan duka sudah ia lalui.
Meski ia menjadi duta Kerajaan yang aktif dan berani mewartakan kabar gembira tentang Kristus, ia tetap masih harus bekerja sendiri mencukupi pelayanannya, dan tidak jarang ia harus menghadapi tekanan bahkan siksaan dalam perjalanannya. Dipenjara, dipukuli, dipasung, diusir, itu biasa ia alami dan terbukti tidak melemahkan langkahnya sedikitpun. Jika Paulus kalah dalam menghadapi beratnya melayani, bayangkan jadi seperti apa Alkitab kita, dan berapa banyak kita akan kehilangan Firman yang diilhamkan Tuhan, terutama mengenai sendi-sendi dasar dan standar kehidupan Kekristenan. Bayangkan pula apa jadinya penyebaran kabar gembira ini tanpa Paulus, karena ia sanggup mencapai Asia Kecil (sekarang kira-kira di Turki bagian Asia) dan Yunani. Jarak tempuhnya tidak kurang dari 25 ribu kilometer. Menariknya, Paulus bukanlah orang yang terlahir sebagai Kristen. Pada mulanya ia justru seorang penganiaya orang Kristen yang juga keturunan orang Farisi. Tapi dalam Kisah Para Rasul kita bisa menemukan cerita pertobatannya yang luar biasa. Sejak saat itu kehidupannya berubah drastis menjadi hamba Tuhan yang kuat, radikal dan setia sampai akhir hidupnya.
(bersambung)
Wednesday, July 5, 2017
Iman yang Terombang - Ambing (2)
Apa yang disebutkan di dalam Yakobus 1:5 itu paralel dengan apa yang saya bahas dalam renungan kemarin yang saya fokuskan pada kisah saat Petrus berjalan di atas air menuju Yesus di tengah badai angin sakal. Awalnya ia benar mengalami mukjizat, tapi sayangnya hanya sebentar. Bukan hanya gagal menuju tujuan tapi juga tenggelam. Perhatikan bahwa yang mula-mula mengganggu Petrus saat mengalami mukjizat adalah rasa takut, tapi kemudian rasa takut itu menyebabkan imannya melemah. Ia menjadi kurang percaya dan bimbang atau ragu. Saat Yesus menolongnya, Yesus menegur Petrus bukan soal rasa takutnya tetapi karena ia kurang percaya dan bimbang. (Matius 14:31).
Kalau kita hubungkan dengan Kolose 2:7, maka perihal iman yang teguh ini akan semakin jelas. Ayatnya berbunyi: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." Perikop yang berbicara mengenai bagaimana agar kita bisa mengalami kepenuhan Kristus mengingatkan benar bahwa kita harus berakar di dalam Kristus dan dibangun diatasNya. Kita harus terus bertambah teguh dalam iman, bukan sebaliknya menjadi bimbang dan kurang percaya. Lalu dalam Filipi 4:6 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." Kita sudah diingatkan agar jangan kuatir, sekarang kita juga harus melatih diri untuk tidak bimbang atau ragu agar kita tidak gagal mengalami Tuhan dan menggenapi rancanganNya bagi kita.
Berulang kali Yesus mengajarkan pentingnya sebuah kepercayaan yang penuh dan utuh dalam iman dalam meminta sesuatu lewat doa. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22), lalu: "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Kebimbangan itu kebalikan keyakinan, dan karenanya kebimbangan akan membawa hasil sebaliknya. Pikirkanlah, betapa sayangnya jika kita sudah menjaga diri kita untuk hidup dalam kekudusan tetapi kita tetap saja gagal menerima sesuatu dari Tuhan hanya karena kita membiarkan kebimbangan berkuasa atas diri kita. Tentu sungguh sangat disayangkan jika itu yang kita pilih.
Mazmur Daud mengingatkan juga agar kita tidak perlu kuatir, jika kita memiliki hidup yang mentaati Tuhan. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:10-11). Dalam kesempatan lain, Daud kembali mengingatkan: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (Mazmur 37:23-26). Tuhan begitu luar biasa mengasihi kita. Dia tahu, Dia peduli terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dia siap dan sanggup menopang kita, memberkati kita, melepaskan kita, memberi jalan keluar dan sebagainya.
Kalau begitu, kenapa kita harus bimbang? Ingatlah bahwa Alkitab sudah mendefenisikan iman sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Pengertian iman ini haruslah kita pegang secara mutlak tanpa rasa bimbang atau ragu didalamnya. Iman yang benar-benar teguh akan membuat perbedaan nyata. Kita tidak perlu ragu untuk melangkah maju, karena apabila kita hidup berkenan kepada Tuhan, maka Dia akan menopang kita untuk melangkah, bahkan diatas kemustahilan sekalipun. Mari bebaskan diri anda dari belenggu kebimbangan, dan serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan, karena Dia sanggup, bahkan lebih dari sanggup untuk memelihara hidup kita.
Doubt kills more dreams than failure ever will
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Kalau kita hubungkan dengan Kolose 2:7, maka perihal iman yang teguh ini akan semakin jelas. Ayatnya berbunyi: "Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur." Perikop yang berbicara mengenai bagaimana agar kita bisa mengalami kepenuhan Kristus mengingatkan benar bahwa kita harus berakar di dalam Kristus dan dibangun diatasNya. Kita harus terus bertambah teguh dalam iman, bukan sebaliknya menjadi bimbang dan kurang percaya. Lalu dalam Filipi 4:6 dikatakan: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." Kita sudah diingatkan agar jangan kuatir, sekarang kita juga harus melatih diri untuk tidak bimbang atau ragu agar kita tidak gagal mengalami Tuhan dan menggenapi rancanganNya bagi kita.
Berulang kali Yesus mengajarkan pentingnya sebuah kepercayaan yang penuh dan utuh dalam iman dalam meminta sesuatu lewat doa. "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22), lalu: "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Kebimbangan itu kebalikan keyakinan, dan karenanya kebimbangan akan membawa hasil sebaliknya. Pikirkanlah, betapa sayangnya jika kita sudah menjaga diri kita untuk hidup dalam kekudusan tetapi kita tetap saja gagal menerima sesuatu dari Tuhan hanya karena kita membiarkan kebimbangan berkuasa atas diri kita. Tentu sungguh sangat disayangkan jika itu yang kita pilih.
Mazmur Daud mengingatkan juga agar kita tidak perlu kuatir, jika kita memiliki hidup yang mentaati Tuhan. "Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatupun yang baik." (Mazmur 34:10-11). Dalam kesempatan lain, Daud kembali mengingatkan: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (Mazmur 37:23-26). Tuhan begitu luar biasa mengasihi kita. Dia tahu, Dia peduli terhadap segala masalah yang kita hadapi. Dia siap dan sanggup menopang kita, memberkati kita, melepaskan kita, memberi jalan keluar dan sebagainya.
Kalau begitu, kenapa kita harus bimbang? Ingatlah bahwa Alkitab sudah mendefenisikan iman sebagai "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1). Pengertian iman ini haruslah kita pegang secara mutlak tanpa rasa bimbang atau ragu didalamnya. Iman yang benar-benar teguh akan membuat perbedaan nyata. Kita tidak perlu ragu untuk melangkah maju, karena apabila kita hidup berkenan kepada Tuhan, maka Dia akan menopang kita untuk melangkah, bahkan diatas kemustahilan sekalipun. Mari bebaskan diri anda dari belenggu kebimbangan, dan serahkanlah semuanya ke tangan Tuhan, karena Dia sanggup, bahkan lebih dari sanggup untuk memelihara hidup kita.
Doubt kills more dreams than failure ever will
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, July 4, 2017
Iman yang Terombang - Ambing (1)
Ayat bacaan: Yakobus 1:6-7
=====================
"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."
Apa yang ada dibenak anda saat mendengar kata terombang-ambing? Saya langsung membayangkan sebuah perahu yang terapung naik turun tak tentu arah dibawa ombak. Tidak jelas destinasinya kemana, tidak ada yang mengarahkan. Perahu yang tidak jelas arahnya ini entah kapan bisa berhasil mencapai daratan. Bayangkan kalau ada orang di dalamnya, ia tentu dalam keadaan bahaya apabila tidak cepat menemukan daratan atau mendapatkan pertolongan.
Kebimbangan seringkali menjadi salah satu penghambat terbesar kita untuk maju. Tentu baik apabila saat kita tidak yakin akan sesuatu kita akan memikirkan lagi masak-masak dan membawa dalam doa sebelum kita memutuskan sesuatu, tetapi saat kita membiarkan kebimbangan bercokol dalam diri kita berlarut-larut, kegagalan dan kerugianlah yang kita peroleh. Kita tidak akan bisa maju, karena kebimbangan hanya akan membawa kita bagaikan gelombang yang naik turun diombang-ambingkan angin. Tak tentu arah, tanpa tujuan. Ada seorang teman yang bimbang dalam menentukan pilihan apakah harus menerima atau menolak sebuah peluang kerja hanya karena ia ragu akan kemampuannya sendiri. Kebimbangannya membuat kesempatan emas itu terbuang sia-sia. Disaat ia bimbang, orang lain dengan sigap mengambil posisi itu dan dalam waktu singkat menjadi sukses. Sedang teman saya gigit jari, menyesal karena membuang kesempatan baik yang ia lewatkan hanya karena bimbang.
Apa saja yang bisa diakibatkan kebimbangan? Selain kita tidak akan pernah maju, kerugian yang sama akan kita peroleh jika kebimbangan itu kita biarkan meracuni iman kita. Sangatlah menarik saat membaca ayat dalam Alkitab yang menyamakan orang yang bimbang dengan gelombang air laut yang terombang-ambing oleh angin. Ayatnya ada di dalam Yakobus 1:6-7 yang bunyinya "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."
Alkitab sudah memberi peringatan bahwa kita tidak akan bisa menerima sesuatu dari Tuhan jika terus menerus bimbang atau ragu dengan iman yang lemah. Kebimbangan akan menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat, pertolongan atau jawaban dari Tuhan. Ayat bacaan kita hari ini menyatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat, hendaklah kita memintanya pada Allah. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Syaratnya hanyalah kita harus meminta dalam iman, dan jangan pernah biarkan kebimbangan masuk didalamnya, sebab kebimbangan itu ibarat gelombang laut yang diombang ambingkan angin kesana kemari, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan orang yang demikian, jangan berharap akan menerima apa-apa dari Tuhan (Yakobus 1:6-7). Ia kemudian melanjutkan bahwa orang yang mendua hati pun tidak akan pernah tenang dalam hidupnya. (ay 8).
Seperti apakah iman yang terombang ambing bak gelombang laut itu? Iman yang terombang ambing adalah iman yang tidak kokoh tertambat pada Tuhan. Iman yang terombang-ambing antara percaya atau tidak akan janji Tuhan. Iman yang tidak yakin bahwa Tuhan akan bertindak. Iman yang mudah dibelokkan ke kiri dan kanan baik oleh orang lain maupun keadaan. Sebentar percaya, tapi sesaat kemudian menjadi ragu atau bahkan sama sekali jadi tidak percaya. Merasa Tuhan tidak adil, lama mengulurkan tangan, tidak menjawab, atau tidak peduli. Iman yang tidak menjadikan Tuhan sebagai yang pertama dan terutama, menjadikan Tuhan hanya satu dari alternatif bersama dengan hal-hal yang ditawarkan oleh dunia, atau jangan-jangan juga dengan si jahat. Iman seperti ini, kata Firman Tuhan, jangan harap bisa menerima apa-apa dari Tuhan. Dengan kata lain, iman yang terombang-ambing menghalangi kita untuk bisa menerima dan mengalami Tuhan.
(bersambung)
=====================
"Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."
Apa yang ada dibenak anda saat mendengar kata terombang-ambing? Saya langsung membayangkan sebuah perahu yang terapung naik turun tak tentu arah dibawa ombak. Tidak jelas destinasinya kemana, tidak ada yang mengarahkan. Perahu yang tidak jelas arahnya ini entah kapan bisa berhasil mencapai daratan. Bayangkan kalau ada orang di dalamnya, ia tentu dalam keadaan bahaya apabila tidak cepat menemukan daratan atau mendapatkan pertolongan.
Kebimbangan seringkali menjadi salah satu penghambat terbesar kita untuk maju. Tentu baik apabila saat kita tidak yakin akan sesuatu kita akan memikirkan lagi masak-masak dan membawa dalam doa sebelum kita memutuskan sesuatu, tetapi saat kita membiarkan kebimbangan bercokol dalam diri kita berlarut-larut, kegagalan dan kerugianlah yang kita peroleh. Kita tidak akan bisa maju, karena kebimbangan hanya akan membawa kita bagaikan gelombang yang naik turun diombang-ambingkan angin. Tak tentu arah, tanpa tujuan. Ada seorang teman yang bimbang dalam menentukan pilihan apakah harus menerima atau menolak sebuah peluang kerja hanya karena ia ragu akan kemampuannya sendiri. Kebimbangannya membuat kesempatan emas itu terbuang sia-sia. Disaat ia bimbang, orang lain dengan sigap mengambil posisi itu dan dalam waktu singkat menjadi sukses. Sedang teman saya gigit jari, menyesal karena membuang kesempatan baik yang ia lewatkan hanya karena bimbang.
Apa saja yang bisa diakibatkan kebimbangan? Selain kita tidak akan pernah maju, kerugian yang sama akan kita peroleh jika kebimbangan itu kita biarkan meracuni iman kita. Sangatlah menarik saat membaca ayat dalam Alkitab yang menyamakan orang yang bimbang dengan gelombang air laut yang terombang-ambing oleh angin. Ayatnya ada di dalam Yakobus 1:6-7 yang bunyinya "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin. Orang yang demikian janganlah mengira, bahwa ia akan menerima sesuatu dari Tuhan."
Alkitab sudah memberi peringatan bahwa kita tidak akan bisa menerima sesuatu dari Tuhan jika terus menerus bimbang atau ragu dengan iman yang lemah. Kebimbangan akan menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat, pertolongan atau jawaban dari Tuhan. Ayat bacaan kita hari ini menyatakan bahwa jika kita kekurangan hikmat, hendaklah kita memintanya pada Allah. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Syaratnya hanyalah kita harus meminta dalam iman, dan jangan pernah biarkan kebimbangan masuk didalamnya, sebab kebimbangan itu ibarat gelombang laut yang diombang ambingkan angin kesana kemari, tanpa arah, tanpa tujuan. Dan orang yang demikian, jangan berharap akan menerima apa-apa dari Tuhan (Yakobus 1:6-7). Ia kemudian melanjutkan bahwa orang yang mendua hati pun tidak akan pernah tenang dalam hidupnya. (ay 8).
Seperti apakah iman yang terombang ambing bak gelombang laut itu? Iman yang terombang ambing adalah iman yang tidak kokoh tertambat pada Tuhan. Iman yang terombang-ambing antara percaya atau tidak akan janji Tuhan. Iman yang tidak yakin bahwa Tuhan akan bertindak. Iman yang mudah dibelokkan ke kiri dan kanan baik oleh orang lain maupun keadaan. Sebentar percaya, tapi sesaat kemudian menjadi ragu atau bahkan sama sekali jadi tidak percaya. Merasa Tuhan tidak adil, lama mengulurkan tangan, tidak menjawab, atau tidak peduli. Iman yang tidak menjadikan Tuhan sebagai yang pertama dan terutama, menjadikan Tuhan hanya satu dari alternatif bersama dengan hal-hal yang ditawarkan oleh dunia, atau jangan-jangan juga dengan si jahat. Iman seperti ini, kata Firman Tuhan, jangan harap bisa menerima apa-apa dari Tuhan. Dengan kata lain, iman yang terombang-ambing menghalangi kita untuk bisa menerima dan mengalami Tuhan.
(bersambung)
Monday, July 3, 2017
Takut - Ragu - Tenggelam (2)
(sambungan)
Petrus mulai merasa takut ketika angin mulai menerpa dirinya dalam perjalanan menuju Yesus. Ketika rasa takut itu menguasai dirinya, imannya mulai goyah. Rasa takut ia respon dengan keraguan atau kebimbangan, dan yang terjadi sesudahnya ia pun seketika itu juga mulai tenggelam. Perhatikanlah, bukankah hal seperti ini sering terjadi pada kita? Ketika masalah mulai datang menerpa dari segala arah seperti angin yang menerpa Petrus, kita cenderung bereaksi sama seperti Petrus. Kita membiarkan rasa takut tumbuh membesar sehingga keyakinan kita pelan-pelan berubah menjadi kebimbangan, menggoyang keyakinan kita kepada Tuhan. Kuatir lalu takut, dari takut lalu ragu, dari ragu menjadi semakin tidak percaya. Dan di saat itu terjadi, kita pun tenggelam.
Kabar baiknya, dari ayat 31 kita bisa melihat pula bahwa Yesus mengulurkan tanganNya. Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita. Dia mengulurkan tanganNya, siap mengangkat kita keluar. Dia siap untuk memerdekakan kita dari segala hal yang negatif, termasuk di dalamnya merdeka dari kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, kebimbangan, kegelisahan dan lain-lain.
Dalam 1 Petrus 5:7 dikatakan: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Segala, semua, seluruhnya, bukan sedikit, setengah, sebagian. We should cast all of our anxieties, worries, concerns on Him because He cares for us. Bukankah menjadi sangat ironis bahwa Petrus masih mengalami kekurang-percayaan yang mengakibatkan kebimbangan berawal dari rasa kuatir atau takut tepat setelah ia melihat langsung bagaimana Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan ribuan orang dan sempat mengalami mukjizat secara langsung dengan berjalan di atas air? Bukankah ironis saat semua itu sudah ia alami, tapi imannya goyah justru pada saat ia tengah berjalan di atas badai menuju Yesus? Kita pun bisa mengalami hal yang sama. Seringkali badai dalam kehidupan ini begitu keras menggoyang hingga kita mulai merasa ketakutan. Tanpa sadar kita mulai ragu apakah Tuhan akan menolong kita, apakah kita akan bisa melewati badai dengan selamat. Dan saat itu terjadi, kita pun tenggelam. Jangan-jangan kita malah kemudian menyalahkan Tuhan dan makin hancur imannya.
Apakah Tuhan akan menjawab doa-doa kita dan mengangkat kita keluar dari sana? Kisah dalam Matius 14:22-33 ini menunjukkan dengan jelas bahwa:
1. saat kita menghadapi masalah Tuhan datang dan menjawab kita.
2. Tuhan siap menolong kita dan membuat kita mampu berjalan mengatasi badai hingga bisa kembali mengarungi kehidupan dengan tenang.
3. Tapi kita tidak boleh membiarkan rasa takut berkecamuk dalam hati dan pikiran kita sehingga kita menjadi ragu.
4. Kita harus memiliki iman yang kuat berakar di dalam Kristus dan dibangun di atasNya seperti yang disebutkan dalam Kolose 2:7 sebagai syarat mutlak untuk bisa mengalami kuasa Tuhan secara penuh.
Jika diantara anda ada yang saat ini tengah merasa takut, dicekam kekuatiran akan sesuatu, mulai ragu akan eksistensi dan perkenanan Tuhan untuk menolong anda, berhentilah sekarang juga. Ingatlah bahwa Tuhan sudah meminta kita untuk menyerahkan Segala kekuatiran itu kepadaNya. Ketakutan yang kemudian disusul dengan keraguan akibat tergerusnya rasa percaya kita bisa mendatangkan bahaya. Perhatikan pula bahwa Tuhan tidak menjanjikan untuk mengambil kekhawatiran itu dari kita, melainkan kitalah yang diminta untuk memberikan semua itu kepada Tuhan. Jika anda menyerahkan segala perasaan yang mengganggu itu kepada Tuhan, Dia akan segera menggantikannya dengan sukacita. Karena itu lepaskanlah semua ketakutan, kekuatiran dan keraguan anda, serahkan kepadaNya. Teruslah latih iman anda agar berakar kuat di dalam Tuhan dan tumbuhlah di atasNya. Disanalah anda akan mengalami dan merasakan keberadaan Tuhan dengan kuasaNya secara nyata dalam hidup anda, termasuk saat anda berada di tengah badai terburuk sekalipun.
Never, ever doubt that God is much bigger than whatever you are worried about
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Petrus mulai merasa takut ketika angin mulai menerpa dirinya dalam perjalanan menuju Yesus. Ketika rasa takut itu menguasai dirinya, imannya mulai goyah. Rasa takut ia respon dengan keraguan atau kebimbangan, dan yang terjadi sesudahnya ia pun seketika itu juga mulai tenggelam. Perhatikanlah, bukankah hal seperti ini sering terjadi pada kita? Ketika masalah mulai datang menerpa dari segala arah seperti angin yang menerpa Petrus, kita cenderung bereaksi sama seperti Petrus. Kita membiarkan rasa takut tumbuh membesar sehingga keyakinan kita pelan-pelan berubah menjadi kebimbangan, menggoyang keyakinan kita kepada Tuhan. Kuatir lalu takut, dari takut lalu ragu, dari ragu menjadi semakin tidak percaya. Dan di saat itu terjadi, kita pun tenggelam.
Kabar baiknya, dari ayat 31 kita bisa melihat pula bahwa Yesus mengulurkan tanganNya. Dia tidak membiarkan kita tenggelam dalam ketakutan-ketakutan kita. Dia mengulurkan tanganNya, siap mengangkat kita keluar. Dia siap untuk memerdekakan kita dari segala hal yang negatif, termasuk di dalamnya merdeka dari kekhawatiran, ketakutan, kecemasan, kebimbangan, kegelisahan dan lain-lain.
Dalam 1 Petrus 5:7 dikatakan: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Segala, semua, seluruhnya, bukan sedikit, setengah, sebagian. We should cast all of our anxieties, worries, concerns on Him because He cares for us. Bukankah menjadi sangat ironis bahwa Petrus masih mengalami kekurang-percayaan yang mengakibatkan kebimbangan berawal dari rasa kuatir atau takut tepat setelah ia melihat langsung bagaimana Yesus menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk memberi makan ribuan orang dan sempat mengalami mukjizat secara langsung dengan berjalan di atas air? Bukankah ironis saat semua itu sudah ia alami, tapi imannya goyah justru pada saat ia tengah berjalan di atas badai menuju Yesus? Kita pun bisa mengalami hal yang sama. Seringkali badai dalam kehidupan ini begitu keras menggoyang hingga kita mulai merasa ketakutan. Tanpa sadar kita mulai ragu apakah Tuhan akan menolong kita, apakah kita akan bisa melewati badai dengan selamat. Dan saat itu terjadi, kita pun tenggelam. Jangan-jangan kita malah kemudian menyalahkan Tuhan dan makin hancur imannya.
Apakah Tuhan akan menjawab doa-doa kita dan mengangkat kita keluar dari sana? Kisah dalam Matius 14:22-33 ini menunjukkan dengan jelas bahwa:
1. saat kita menghadapi masalah Tuhan datang dan menjawab kita.
2. Tuhan siap menolong kita dan membuat kita mampu berjalan mengatasi badai hingga bisa kembali mengarungi kehidupan dengan tenang.
3. Tapi kita tidak boleh membiarkan rasa takut berkecamuk dalam hati dan pikiran kita sehingga kita menjadi ragu.
4. Kita harus memiliki iman yang kuat berakar di dalam Kristus dan dibangun di atasNya seperti yang disebutkan dalam Kolose 2:7 sebagai syarat mutlak untuk bisa mengalami kuasa Tuhan secara penuh.
Jika diantara anda ada yang saat ini tengah merasa takut, dicekam kekuatiran akan sesuatu, mulai ragu akan eksistensi dan perkenanan Tuhan untuk menolong anda, berhentilah sekarang juga. Ingatlah bahwa Tuhan sudah meminta kita untuk menyerahkan Segala kekuatiran itu kepadaNya. Ketakutan yang kemudian disusul dengan keraguan akibat tergerusnya rasa percaya kita bisa mendatangkan bahaya. Perhatikan pula bahwa Tuhan tidak menjanjikan untuk mengambil kekhawatiran itu dari kita, melainkan kitalah yang diminta untuk memberikan semua itu kepada Tuhan. Jika anda menyerahkan segala perasaan yang mengganggu itu kepada Tuhan, Dia akan segera menggantikannya dengan sukacita. Karena itu lepaskanlah semua ketakutan, kekuatiran dan keraguan anda, serahkan kepadaNya. Teruslah latih iman anda agar berakar kuat di dalam Tuhan dan tumbuhlah di atasNya. Disanalah anda akan mengalami dan merasakan keberadaan Tuhan dengan kuasaNya secara nyata dalam hidup anda, termasuk saat anda berada di tengah badai terburuk sekalipun.
Never, ever doubt that God is much bigger than whatever you are worried about
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...


