(sambungan)
Meski tidak dibayar dan tidak mendapat penghargaan, Daud menunjukkan bagaimana komitmennya dalam mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah kumpulan hewan yang tidak seberharga nyawanya sebagai manusia, bahkan hewan-hewan itu pun bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas demi binatang yang digembalakannya? Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang kepadanya diberi tanggung jawab hilang atau mati. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga. Ia terus berkomitmen bahkan saat harus berhadapan dengan bahaya. Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.
Keputusan Daud kelak menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).
Dalam Galatia 6 Paulus mengingatkan kita untuk terus memeriksa segala sesuatu yang kita kerjakan dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan apa yang dilakukan orang lain. "Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain." (ay 4). Mengapa? Ayat selanjutnya berkata: "Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri." (ay 5). Dalam versi BIS dikatakan "Sebab masing-masing orang harus memikul tanggung jawabnya sendiri." atau dalam versi lain dikatakan "Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life." [The Message]. Dari versi The Message kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita memandang sebuah tanggung jawab, yaitu memikulnya dengan melakukan bagian kita dengan sekreatif dan sebaik mungkin, dengan segenap hidup kita sendiri. Inilah model sejati dari cara orang percaya memikul tanggung jawab yang mereka emban.
Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik dalam bekerja, belajar maupun melayani. Apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan, maka itu harus dipegang dengan komitmen tinggi. Perhatikan ayat berikut ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini secara jelas mengingatkan kita bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Itu harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima. Itulah tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya. Mungkin kompensasinya belum terlihat secara langsung, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Dan kalau Tuhan menghargai, Dia bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan. Bisa jadi hasilnya tidak langsung terlihat, bisa jadi ada pengorbanan-pengorbanan besar di awal, bisa jadi itu terlihat bodoh di mata orang. So be it. Karena sebuah tanggung jawab memang harus dijalankan dengan keseriusan dan komitmen yang tinggi, dan saat kita memberi yang terbaik dan memuliakan Tuhan di dalamnya, jangan heran kalau kelak kita akan memetik buah yang luar biasa dari sana.
Apabila ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab, keep doing your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangung jawab anda dengan sebaik-baiknya. Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah, karena segala sesuatu yang anda lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia.
"Your life begins to change the day you take responsibility for it." Steve Maraboli, bestselling author and behavioral science academic
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, March 13, 2015
Thursday, March 12, 2015
Mengemban Tanggung Jawab Ala Daud (1)
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."
Ada seorang musisi yang pernah berkata: "Saya merasa bahwa adalah tanggungjawab saya untuk menyampaikan musik yang bermutu." Ia menyadari panggilannya dan tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya. Saya mengenal anak muda ini dengan sangat dekat. Pada mulanya ia tidak mendapat dukungan dari orang tuanya yang menginginkan ia kuliah dan bekerja seperti layaknya banyak orang, bukan hidup tidak jelas sebagai musisi. Karena ia bersikukuh dengan pilihan hidupnya, orangtuanya pun tidak lagi bisa memaksa. Tapi ia harus berjuang sendirian tanpa dibantu. Pada awal karirnya ia sempat morat marit dan tidak jarang harus menjual beberapa benda miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan menjadi kaya dalam waktu instan yang ia cari, tetapi bagaimana agar ia bisa menjalankan apa yang menjadi panggilannya dan berkomitmen penuh kepada tanggung jawab yang ia emban. Beberapa tahun bergumul, hari ini ia berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa pilihannya tidaklah salah. Ia sukses bukan saja di negaranya sendiri tapi berdiri sejajar dengan para musisi senior di luar sana.
Dari pengalaman hidup musisi muda tadi kita bisa melihat bahwa tanggung jawab memerlukan pengorbanan dan keberanian. Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memenuhi tanggung jawab yang kita pikul. Banyak orang yang belum apa-apa sudah menyerah dan meninggalkan tanggung jawab kalau sudah mulai terasa berat. Lantas banyak pula yang mau menerima dengan senang hati sebuah tanggung jawab kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, menggantungkan tanggung jawab kepada tinggi rendahnya kompensasi atau upah saja?
Pengalaman Daud dalam mengatasi Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab ala Daud. .
Apa yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini merupakan jawaban Daud kepada Saul saat Saul meragukan kemampuannya mengatasi Goliat. Ketika Daud maju dan mengatakan bahwa ia siap mewakili bangsa Israel untuk menghadapi Goliat, Saul berkata: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (1 Samuel 17:33). Kalau hanya memakai logika, kita pun akan berkata sama seperti Saul. Sebab, bukankah Goliat dan pasukannya sudah berhari-hari mencemooh tentara Israel yang merasa takut untuk maju berperang? Logikanya, kalau tentara dengan perlengkapan dan kemampuan untuk berperang saja sudah tidak berani, bagaimana mungkin Daud belia yang masih kemerah-merahan bisa mengatasi raksasa dan bala tentaranya itu?
Daud merespon seperti ini. "Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (ay 34-37).
Apa yang menjadi dasar Daud untuk berani tampil di depan? Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya bukan karena ia hebat dalam berkelahi, punya otot baja tulang kawat, pintar membidik dengan senjata dan lain-lain, tetapi semata-mata karena pengalamannya bersama Tuhan. Ia percaya bahwa mengandalkan Tuhan itu luar biasa hasilnya. Kalau beruang dan singa saja bisa ia kalahkan dengan adanya penyertaan Tuhan, kenapa Goliat dan pasukannya tidak?
Selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya, meski hanya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Mungkin sekedar terima kasih pun tidak. Tapi perhatikan bagaimana besarnya komitmen Daud dalam melakukan tanggungjawabnya, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika melihat Goliat Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat.
Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Kalau dia tidak serius mengemban tanggung jawabnya dalam menggembala, ia tidak akan pernah merasakan hebatnya penyertaan Tuhan dalam mengatasi kemustahilan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah ada.
(bersambung)
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."
Ada seorang musisi yang pernah berkata: "Saya merasa bahwa adalah tanggungjawab saya untuk menyampaikan musik yang bermutu." Ia menyadari panggilannya dan tahu apa yang menjadi tanggung jawabnya. Saya mengenal anak muda ini dengan sangat dekat. Pada mulanya ia tidak mendapat dukungan dari orang tuanya yang menginginkan ia kuliah dan bekerja seperti layaknya banyak orang, bukan hidup tidak jelas sebagai musisi. Karena ia bersikukuh dengan pilihan hidupnya, orangtuanya pun tidak lagi bisa memaksa. Tapi ia harus berjuang sendirian tanpa dibantu. Pada awal karirnya ia sempat morat marit dan tidak jarang harus menjual beberapa benda miliknya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bukan menjadi kaya dalam waktu instan yang ia cari, tetapi bagaimana agar ia bisa menjalankan apa yang menjadi panggilannya dan berkomitmen penuh kepada tanggung jawab yang ia emban. Beberapa tahun bergumul, hari ini ia berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa pilihannya tidaklah salah. Ia sukses bukan saja di negaranya sendiri tapi berdiri sejajar dengan para musisi senior di luar sana.
Dari pengalaman hidup musisi muda tadi kita bisa melihat bahwa tanggung jawab memerlukan pengorbanan dan keberanian. Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita akan sangat menentukan sejauh mana kita bisa memenuhi tanggung jawab yang kita pikul. Banyak orang yang belum apa-apa sudah menyerah dan meninggalkan tanggung jawab kalau sudah mulai terasa berat. Lantas banyak pula yang mau menerima dengan senang hati sebuah tanggung jawab kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, menggantungkan tanggung jawab kepada tinggi rendahnya kompensasi atau upah saja?
Pengalaman Daud dalam mengatasi Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab ala Daud. .
Apa yang saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini merupakan jawaban Daud kepada Saul saat Saul meragukan kemampuannya mengatasi Goliat. Ketika Daud maju dan mengatakan bahwa ia siap mewakili bangsa Israel untuk menghadapi Goliat, Saul berkata: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (1 Samuel 17:33). Kalau hanya memakai logika, kita pun akan berkata sama seperti Saul. Sebab, bukankah Goliat dan pasukannya sudah berhari-hari mencemooh tentara Israel yang merasa takut untuk maju berperang? Logikanya, kalau tentara dengan perlengkapan dan kemampuan untuk berperang saja sudah tidak berani, bagaimana mungkin Daud belia yang masih kemerah-merahan bisa mengatasi raksasa dan bala tentaranya itu?
Daud merespon seperti ini. "Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (ay 34-37).
Apa yang menjadi dasar Daud untuk berani tampil di depan? Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa tidak ada keraguan sedikitpun dalam dirinya bukan karena ia hebat dalam berkelahi, punya otot baja tulang kawat, pintar membidik dengan senjata dan lain-lain, tetapi semata-mata karena pengalamannya bersama Tuhan. Ia percaya bahwa mengandalkan Tuhan itu luar biasa hasilnya. Kalau beruang dan singa saja bisa ia kalahkan dengan adanya penyertaan Tuhan, kenapa Goliat dan pasukannya tidak?
Selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggung jawab akan pekerjaannya, meski hanya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Mungkin sekedar terima kasih pun tidak. Tapi perhatikan bagaimana besarnya komitmen Daud dalam melakukan tanggungjawabnya, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika melihat Goliat Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat.
Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Kalau dia tidak serius mengemban tanggung jawabnya dalam menggembala, ia tidak akan pernah merasakan hebatnya penyertaan Tuhan dalam mengatasi kemustahilan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah ada.
(bersambung)
Wednesday, March 11, 2015
Posisi Tuhan dalam Rubrik Hidup Kita
Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:1
=========================
"Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi."
Sebuah harian atau majalah biasanya memiliki tajuk utama alias headlines, berita-berita penting dan berita/artikel tambahan yang dijadikan pelengkap dari sebuah edisi. Sebuah tajuk utama biasanya akan menempati posisi penting pada bagian cover dan terletak pada bagian strategis dari majalah. Bisa di halaman depan, bisa pula agak ke tengah. Tentunya janggal kalau sebuah berita diletakkan di halaman belakang. Kalau hidup diibaratkan sebuah majalah atau harian, maka ada begitu banyak "kolom" atau "rubrik" dalam setiap periode perjalanan hidup kita dengan masing-masing kepingan. Ada yang menjadi tajuk utama, ada bagian penting dan ada pula bagian-bagian pelengkap. Kalau begitu, dimana letak kolom Tuhan dalam hidup kita? Apakah itu terletak di halaman utama, mengisi setiap lembar atau hanya berada pada satu halaman kecil saja? Jangan-jangan kolom tersebut malah terletak kecil saja di halaman paling belakang.
Secara logika dan kepantasan, orang percaya seharusnya sudah pasti menempatkan Tuhan pada rubrik utama. Sayangnya pada kenyataannya ada banyak diantara orang percaya yang meletakkan Tuhan hanya selintas pada kolom kecil, bahkan diletakkan pada halaman belakang saja. Kita hanya berdoa pada saat kita punya waktu luang atau yang tersisa saja. Kita mendahulukan kesibukan-kesibukan pekerjaan, jadwal yang padat, tugas-tugas yang menumpuk dan aktivitas-aktivitas lainnya bahkan untuk bermain terlebih dahulu lalu mempergunakan waktu yang tersisa untuk Tuhan. Itupun dengan catatan kalau kita tidak keburu terlalu lelah dan langsung ambruk tertidur. Kehidupan kerohanian bagi sebagian orang hanya berlaku hari Minggu saja, selama kurang lebih dua jam. Setelahnya maka mereka kembali masuk ke dalam dunia masing-masing. Setelah dua jam yang dianggap hanya kewajiban liturgi itu, Tuhan kembali dipinggirkan atau dicoret dari daftar mereka. Sekarang coba bayangkan, seandainya Tuhan yang berlaku seperti itu pada kita, kalau Tuhan hanya peduli kepada kita dua jam saja dalam seminggu. Bukankah kita tidak mau itu terjadi? Tidak satupun orang yang mau seperti itu. Kita ingin Tuhan selalu hadir dengan penyertaanNya setiap saat, tetapi mengapa kita membalasnya dengan memberikan hanya sedikit waktu yang tersisa saja untuk Tuhan? Kita menuntut yang terbaik dari Tuhan, tapi tidak mau memberikan yang terbaik kepadaNya. Apakah itu adil dan pantas?
Dalam sebuah kesempatan Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika akan pentingnya sebuah kesungguhan untuk memiliki hidup yang berkenan kepada Tuhan. "Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi." (1 Tesalonika 4:1). Sudah mulai berpikir untuk hidup berkenan kepada Allah itu tentu merupakan awal yang baik. Tetapi hendaklah kita tidak berhenti mengusahakannya dan terus berupaya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Adalah baik jika kita sudah secara rutin beribadah di hari Minggu, juga bagus jika kita sudah meluangkan waktu untuk berdoa, apalagi disiplin dalam bersaat teduh, tetapi marilah kita terus meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, sehingga pada suatu ketika kita bisa sampai kepada sebuah tahap yang tidak lagi dibatasi oleh waktu atau dirintangi oleh kesibukan-kesibukan kita sehari-hari.
Di dalam Alkitab kita bisa mendapati banyak kisah mengenai kedekatan banyak tokoh dengan Tuhan. Kita bisa melihat sebutan "bergaul karib dengan Tuhan" yang diberikan kepada Henokh (Kejadian 5:24), Nuh (Kejadian 6:9) dan Ayub (Ayub 29:4). Kita bisa melihat pula hubungan yang sungguh sangat dekat lewat pribadi Musa, Abraham, Yusuf, Daud, Daniel dan banyak lagi. Dan kita menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan mereka dibandingkan orang-orang lain yang hidup sejaman dengan mereka. Lewat para tokoh ini kita bisa melihat bagaimana sebuah kedekatan dengan Tuhan itu membawa pengaruh yang besar. Singkatnya, bagaimana kualitas hubungan kita dengan Tuhan akan sangat menentukan siapa diri kita sebenarnya, bagaimana pencapaian dalam hidup kita dan kemana kita mengarah selanjutnya.
Kembali kepada surat Tesalonika di atas, kita bisa melihat apa yang sebenarnya menjadi panggilan Allah kepada kita. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Pada ayat sebelumnya pun dikatakan "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.." (ay 3). Panggilan ini bukanlah merupakan panggilan yang hanya singkat batas waktunya, seperti hanya dua jam dalam satu minggu, atau hanya beberapa menit dalam sehari saja. Ini adalah panggilan yang harus berlaku setiap saat kepada kita semua tanpa terkecuali. Kehidupan yang berkenan di hadapan Allah adalah sebuah kehidupan yang utuh dalam kekudusan. Dan hal ini akan sulit kita wujudkan apabila kita masih cenderung mementingkan kehidupan di dunia ini ketimbang membangun sebuah hubungan yang karib dengan Tuhan.
Tidak hanya Paulus, Petrus juga mengingatkan kita pula akan hal ini. "..hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Tuhan selalu menantikan kita untuk mau mulai membangun hubungan yang erat denganNya. Dan lihatlah apa yang dikatakan Tuhan: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Tuhan siap membuka mata hati kita untuk mengerti rahasia-rahasia dan rencana-rencanaNya, tetapi itu tidak akan bisa kita peroleh tanpa membangun sebuah hubungan yang erat dan karib terlebih dahulu.
Jika hidup ini diibaratkan sebagai harian atau majalah, maka penting bagi kita untuk memperhatikan dimana posisi Tuhan di dalamnya dan seberapa besar porsinya. Sudahkah Tuhan mengisi lembar demi lembar hidup kita, menempati posisi-posisi utama atau letak Tuhan masih sangat kecil, atau berada di posisi belakang atau malah tidak ada dalam setiap edisinya sama sekali? Hari ini marilah kita mulai membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan dan menjadikannya sebagai sesuatu yang mendapat perhatian khusus. Hiduplah dalam kekudusan, bangunlah hubungan yang akrab, sehingga kita tidak gampang goyah dalam menghadapi hari-hari sulit ke depan.
Teruslah bangun itu hingga kita bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tuhan sudah menganugerahkan AnakNya sendiri demi keselamatan kita, melimpahi kita dengan segala berkat dan rahmatNya yang baru setiap pagi, berjalan bersama kita meski saat kita berada dalam lembah kekelaman. Dia rindu untuk benar-benar dekat dengan kita dan rindu untuk melihat kita menjadi lebih dari pemenang hingga memasuki garis akhir dengan gemilang. sekarang giliran kita untuk menjawab kerinduan Tuhan. Teruslah berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Allah dan mari sama-sama untuk terus meningkatkan usaha kita.
Hendaknya Tuhan berada pada posisi penting dan mengisi setiap lembar dalam kehidupan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=========================
"Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi."
Sebuah harian atau majalah biasanya memiliki tajuk utama alias headlines, berita-berita penting dan berita/artikel tambahan yang dijadikan pelengkap dari sebuah edisi. Sebuah tajuk utama biasanya akan menempati posisi penting pada bagian cover dan terletak pada bagian strategis dari majalah. Bisa di halaman depan, bisa pula agak ke tengah. Tentunya janggal kalau sebuah berita diletakkan di halaman belakang. Kalau hidup diibaratkan sebuah majalah atau harian, maka ada begitu banyak "kolom" atau "rubrik" dalam setiap periode perjalanan hidup kita dengan masing-masing kepingan. Ada yang menjadi tajuk utama, ada bagian penting dan ada pula bagian-bagian pelengkap. Kalau begitu, dimana letak kolom Tuhan dalam hidup kita? Apakah itu terletak di halaman utama, mengisi setiap lembar atau hanya berada pada satu halaman kecil saja? Jangan-jangan kolom tersebut malah terletak kecil saja di halaman paling belakang.
Secara logika dan kepantasan, orang percaya seharusnya sudah pasti menempatkan Tuhan pada rubrik utama. Sayangnya pada kenyataannya ada banyak diantara orang percaya yang meletakkan Tuhan hanya selintas pada kolom kecil, bahkan diletakkan pada halaman belakang saja. Kita hanya berdoa pada saat kita punya waktu luang atau yang tersisa saja. Kita mendahulukan kesibukan-kesibukan pekerjaan, jadwal yang padat, tugas-tugas yang menumpuk dan aktivitas-aktivitas lainnya bahkan untuk bermain terlebih dahulu lalu mempergunakan waktu yang tersisa untuk Tuhan. Itupun dengan catatan kalau kita tidak keburu terlalu lelah dan langsung ambruk tertidur. Kehidupan kerohanian bagi sebagian orang hanya berlaku hari Minggu saja, selama kurang lebih dua jam. Setelahnya maka mereka kembali masuk ke dalam dunia masing-masing. Setelah dua jam yang dianggap hanya kewajiban liturgi itu, Tuhan kembali dipinggirkan atau dicoret dari daftar mereka. Sekarang coba bayangkan, seandainya Tuhan yang berlaku seperti itu pada kita, kalau Tuhan hanya peduli kepada kita dua jam saja dalam seminggu. Bukankah kita tidak mau itu terjadi? Tidak satupun orang yang mau seperti itu. Kita ingin Tuhan selalu hadir dengan penyertaanNya setiap saat, tetapi mengapa kita membalasnya dengan memberikan hanya sedikit waktu yang tersisa saja untuk Tuhan? Kita menuntut yang terbaik dari Tuhan, tapi tidak mau memberikan yang terbaik kepadaNya. Apakah itu adil dan pantas?
Dalam sebuah kesempatan Paulus mengingatkan jemaat Tesalonika akan pentingnya sebuah kesungguhan untuk memiliki hidup yang berkenan kepada Tuhan. "Akhirnya, saudara-saudara, kami minta dan nasihatkan kamu dalam Tuhan Yesus: Kamu telah mendengar dari kami bagaimana kamu harus hidup supaya berkenan kepada Allah. Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi." (1 Tesalonika 4:1). Sudah mulai berpikir untuk hidup berkenan kepada Allah itu tentu merupakan awal yang baik. Tetapi hendaklah kita tidak berhenti mengusahakannya dan terus berupaya untuk lebih bersungguh-sungguh lagi. Adalah baik jika kita sudah secara rutin beribadah di hari Minggu, juga bagus jika kita sudah meluangkan waktu untuk berdoa, apalagi disiplin dalam bersaat teduh, tetapi marilah kita terus meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Tuhan, sehingga pada suatu ketika kita bisa sampai kepada sebuah tahap yang tidak lagi dibatasi oleh waktu atau dirintangi oleh kesibukan-kesibukan kita sehari-hari.
Di dalam Alkitab kita bisa mendapati banyak kisah mengenai kedekatan banyak tokoh dengan Tuhan. Kita bisa melihat sebutan "bergaul karib dengan Tuhan" yang diberikan kepada Henokh (Kejadian 5:24), Nuh (Kejadian 6:9) dan Ayub (Ayub 29:4). Kita bisa melihat pula hubungan yang sungguh sangat dekat lewat pribadi Musa, Abraham, Yusuf, Daud, Daniel dan banyak lagi. Dan kita menyaksikan sendiri bagaimana perbedaan mereka dibandingkan orang-orang lain yang hidup sejaman dengan mereka. Lewat para tokoh ini kita bisa melihat bagaimana sebuah kedekatan dengan Tuhan itu membawa pengaruh yang besar. Singkatnya, bagaimana kualitas hubungan kita dengan Tuhan akan sangat menentukan siapa diri kita sebenarnya, bagaimana pencapaian dalam hidup kita dan kemana kita mengarah selanjutnya.
Kembali kepada surat Tesalonika di atas, kita bisa melihat apa yang sebenarnya menjadi panggilan Allah kepada kita. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Pada ayat sebelumnya pun dikatakan "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu.." (ay 3). Panggilan ini bukanlah merupakan panggilan yang hanya singkat batas waktunya, seperti hanya dua jam dalam satu minggu, atau hanya beberapa menit dalam sehari saja. Ini adalah panggilan yang harus berlaku setiap saat kepada kita semua tanpa terkecuali. Kehidupan yang berkenan di hadapan Allah adalah sebuah kehidupan yang utuh dalam kekudusan. Dan hal ini akan sulit kita wujudkan apabila kita masih cenderung mementingkan kehidupan di dunia ini ketimbang membangun sebuah hubungan yang karib dengan Tuhan.
Tidak hanya Paulus, Petrus juga mengingatkan kita pula akan hal ini. "..hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:15-16). Tuhan selalu menantikan kita untuk mau mulai membangun hubungan yang erat denganNya. Dan lihatlah apa yang dikatakan Tuhan: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Tuhan siap membuka mata hati kita untuk mengerti rahasia-rahasia dan rencana-rencanaNya, tetapi itu tidak akan bisa kita peroleh tanpa membangun sebuah hubungan yang erat dan karib terlebih dahulu.
Jika hidup ini diibaratkan sebagai harian atau majalah, maka penting bagi kita untuk memperhatikan dimana posisi Tuhan di dalamnya dan seberapa besar porsinya. Sudahkah Tuhan mengisi lembar demi lembar hidup kita, menempati posisi-posisi utama atau letak Tuhan masih sangat kecil, atau berada di posisi belakang atau malah tidak ada dalam setiap edisinya sama sekali? Hari ini marilah kita mulai membangun hubungan yang berkualitas dengan Tuhan dan menjadikannya sebagai sesuatu yang mendapat perhatian khusus. Hiduplah dalam kekudusan, bangunlah hubungan yang akrab, sehingga kita tidak gampang goyah dalam menghadapi hari-hari sulit ke depan.
Teruslah bangun itu hingga kita bisa mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tuhan sudah menganugerahkan AnakNya sendiri demi keselamatan kita, melimpahi kita dengan segala berkat dan rahmatNya yang baru setiap pagi, berjalan bersama kita meski saat kita berada dalam lembah kekelaman. Dia rindu untuk benar-benar dekat dengan kita dan rindu untuk melihat kita menjadi lebih dari pemenang hingga memasuki garis akhir dengan gemilang. sekarang giliran kita untuk menjawab kerinduan Tuhan. Teruslah berusaha sungguh-sungguh untuk hidup berkenan kepada Allah dan mari sama-sama untuk terus meningkatkan usaha kita.
Hendaknya Tuhan berada pada posisi penting dan mengisi setiap lembar dalam kehidupan kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, March 10, 2015
Saling Memperhatikan dan Menolong
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25
======================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."
Seberapapun kuatnya kita, tidak ada kekuatan yang sanggup mengatasi berbagai masalah hidup sendirian saja. Untuk sementara mungkin, tapi untuk jangka waktu lama tentunya akan sangat sulit. Cepat atau lambat kita bisa kehabisan bensin untuk terus maju. Tekanan dari berbagai beban hidup memang bukan untuk ditanggung sendirian. Untuk bisa menapak naik kita butuh bantuan dan dukungan dari orang lain. Untuk berhasil kita perlu berhubungan dengan banyak orang yang saling melengkapi. Itu sejalan dengan hakekat manusia saat diciptakan Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan manusia sebagai mahluk-mahluk individualis melainkan sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang lebih baik. Dalam kitab paling awal yaitu kitab Kejadian 2:18 Tuhan bahkan mengatakan bahwa tidak baik manusia itu sendirian aja. Itu artinya manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk, dari kumpulan orang yang hidup pada sebuah masa, bagian dari perjalanan sejarah. Seberapapun tangguhnya kita, suatu saat kita akan tahu bahwa kita butuh orang lain untuk bisa maju, bahkan untuk sekedar bertahan hidup. Lingkungan yang sulit, dunia yang jahat dan sebagainya setiap saat akan membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan dan membantu.
Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Alangkah menyedihkan jika kita tidak memiliki teman. Seorang teman yang baik akan ada bersama kita dalam suka maupun duka. Mereka siap membantu saat kita butuh, kita bisa saling dukung dan saling menasehati, memberi masukan, mengingatkan dan menegur kalau salah satu keluar jalur, melenceng dari kebenaran Firman Tuhan. Keberadaan teman-teman yang membuat kita tahu bahwa kita tidak sendirian tentu membuat kita jauh lebih kuat menghadapi segala problema yang hadir dalam hidup.
Sebuah pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sangat baik untuk dijadikan tempat dimana kita bisa saling mengenal satu sama lain. Sangat disayangkan jika kitamenganggap beribadah itu hanyalah kewajiban atau rutinitas semata, atau malah dianggap tidak ada gunanya. Alangkah ruginya apabila dalam ibadah raya kita hanya datang, duduk, diam, dengar dan lalu pulang. Itu sama saja dengan melewatkan sebuah kesempatan untuk membina hubungan dengan saudara-saudara seiman.
Paulus mengingatkan hal ini. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:24-25). Paulus menyadari betul bahwa sebagai manusia kita akan lemah dan jatuh bila tidak saling memperhatikan dan saling mendorong satu sama lain. Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli orang-orang yang mungkin duduk di sekeliling anda. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita untuk membangun hubungan erat dengan saudara-saudari kita sehingga dalam keakraban itu kita bisa saling menasihati dan mengingatkan.
Alkitab berulang kali mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Sebuah contoh menarik bisa dilihat pada saat ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Yesus di Kapernaum yang dicatat dalam Lukas 2:1-12. Pada saat itu ada begitu banyak orang mengerumuni Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi kita tahu pada akhirnya dia berhasil bertemu Yesus kemudian mendapat mukjizat kesembuhan. Bagaimana ia melakukan itu? Alkitab mencatat bahwa ada empat orang teman si lumpuh yang bersedia menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. Itu membutuhkan kerjasama yang apik agar orang yang lumpuh tidak jatuh karena tidak seimbang saat diturunkan. Bayangkan jika seandainya si lumpuh tidak punya teman yang mau repot-repot mengangkutnya agar bisa bertemu Yesus. Ada banyak lagi kisah-kisah dimana kita melihat pentingnya sebuah kebersamaan yang positif diantara kita. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar gembira pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua atau berpasang-pasangan. (Markus 6:7). Iman kita akan gampang merosot dan melemah jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya teman-teman yang saling berbagi, kita akan mampu bertahan dan tetap kuat. Betapa pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu dan saling mengingatkan apalagi ketika kita memasuki akhir jaman seperti sekarang.
Dalam surat Roma dikatakan: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.." (Roma 12:4-6). Ini adalah nasihat agar kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya. Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Kepedulian merupakan bagian dari kasih yang seharusnya memenuhi hati orang percaya. Beban yang ditanggung manusia sesungguhnya tidak ringan dan lama kelamaan mampu membuat iman kita memudar. Cepat atau lambat seseorang bisa kehilangan pengharapan jika didera masalah terus menerus. Karena itu kita diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian dikatakan itu artinya kita memenuhi perintah Yesus. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Karenanya penting bagi kita untuk menjalin hubungan dengan anggota-anggota tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah, di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan membangun hubungan saling menguntungkan satu sama lain.
Datang ke gereja saja tidak cukup apabila kita tidak memikirkan pentingnya membangun hubungan dengan saudara-saudari disana. Jika saat ini anda masih mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan, tentukanlah Gereja dimana anda bisa bertumbuh dan berbuahlah disana. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian yang baik dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan, dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Tidak ada satupun manusia yang kuat berjalan sendirian. Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita.
Tidak ada manusia kuat menghadapi hidup seorang diri
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
======================
"Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."
Seberapapun kuatnya kita, tidak ada kekuatan yang sanggup mengatasi berbagai masalah hidup sendirian saja. Untuk sementara mungkin, tapi untuk jangka waktu lama tentunya akan sangat sulit. Cepat atau lambat kita bisa kehabisan bensin untuk terus maju. Tekanan dari berbagai beban hidup memang bukan untuk ditanggung sendirian. Untuk bisa menapak naik kita butuh bantuan dan dukungan dari orang lain. Untuk berhasil kita perlu berhubungan dengan banyak orang yang saling melengkapi. Itu sejalan dengan hakekat manusia saat diciptakan Tuhan. Tuhan tidak pernah menciptakan manusia sebagai mahluk-mahluk individualis melainkan sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung dan terintegrasi agar dapat terus berjalan ke arah yang lebih baik. Dalam kitab paling awal yaitu kitab Kejadian 2:18 Tuhan bahkan mengatakan bahwa tidak baik manusia itu sendirian aja. Itu artinya manusia memang diciptakan sebagai mahluk sosial yang saling terkait dengan sesamanya. Kita adalah bagian integral dari masyarakat majemuk, dari kumpulan orang yang hidup pada sebuah masa, bagian dari perjalanan sejarah. Seberapapun tangguhnya kita, suatu saat kita akan tahu bahwa kita butuh orang lain untuk bisa maju, bahkan untuk sekedar bertahan hidup. Lingkungan yang sulit, dunia yang jahat dan sebagainya setiap saat akan membuat kita semakin lama semakin lemah. Disaat seperti itu kita butuh teman-teman yang sanggup menguatkan, meneguhkan, mengingatkan dan membantu.
Ada waktu kita butuh dikuatkan, sebaliknya ada saat ketika kita bisa menguatkan. Alangkah menyedihkan jika kita tidak memiliki teman. Seorang teman yang baik akan ada bersama kita dalam suka maupun duka. Mereka siap membantu saat kita butuh, kita bisa saling dukung dan saling menasehati, memberi masukan, mengingatkan dan menegur kalau salah satu keluar jalur, melenceng dari kebenaran Firman Tuhan. Keberadaan teman-teman yang membuat kita tahu bahwa kita tidak sendirian tentu membuat kita jauh lebih kuat menghadapi segala problema yang hadir dalam hidup.
Sebuah pertemuan-pertemuan ibadah dimana kita sama-sama bersatu menyembah Tuhan sangat baik untuk dijadikan tempat dimana kita bisa saling mengenal satu sama lain. Sangat disayangkan jika kitamenganggap beribadah itu hanyalah kewajiban atau rutinitas semata, atau malah dianggap tidak ada gunanya. Alangkah ruginya apabila dalam ibadah raya kita hanya datang, duduk, diam, dengar dan lalu pulang. Itu sama saja dengan melewatkan sebuah kesempatan untuk membina hubungan dengan saudara-saudara seiman.
Paulus mengingatkan hal ini. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:24-25). Paulus menyadari betul bahwa sebagai manusia kita akan lemah dan jatuh bila tidak saling memperhatikan dan saling mendorong satu sama lain. Pertemuan-pertemuan ibadah janganlah hanya berpusat pada diri sendiri tanpa peduli orang-orang yang mungkin duduk di sekeliling anda. Semakin dekat hari kedatangan Tuhan, maka seharusnya semakin giat pula kita untuk membangun hubungan erat dengan saudara-saudari kita sehingga dalam keakraban itu kita bisa saling menasihati dan mengingatkan.
Alkitab berulang kali mengisyaratkan agar kita bekerjasama satu sama lain untuk mencapai satu tujuan. Sebuah contoh menarik bisa dilihat pada saat ada orang lumpuh yang ingin menjumpai Yesus di Kapernaum yang dicatat dalam Lukas 2:1-12. Pada saat itu ada begitu banyak orang mengerumuni Yesus, sehingga tidak mungkin si lumpuh bisa menerobos kerumunan. Tapi kita tahu pada akhirnya dia berhasil bertemu Yesus kemudian mendapat mukjizat kesembuhan. Bagaimana ia melakukan itu? Alkitab mencatat bahwa ada empat orang teman si lumpuh yang bersedia menggotongnya ke atas atap dan menurunkan dirinya yang terbaring di atas tilam dari atas atap. Itu membutuhkan kerjasama yang apik agar orang yang lumpuh tidak jatuh karena tidak seimbang saat diturunkan. Bayangkan jika seandainya si lumpuh tidak punya teman yang mau repot-repot mengangkutnya agar bisa bertemu Yesus. Ada banyak lagi kisah-kisah dimana kita melihat pentingnya sebuah kebersamaan yang positif diantara kita. Ketika Yesus mengutus murid-muridNya untuk mewartakan kabar gembira pun kita melihat mereka diutus bukan untuk berjalan sendirian, tapi berdua-dua atau berpasang-pasangan. (Markus 6:7). Iman kita akan gampang merosot dan melemah jika kita menghadapi masalah demi masalah sendirian. Tapi dengan adanya teman-teman yang saling berbagi, kita akan mampu bertahan dan tetap kuat. Betapa pentingnya sebuah kebersamaan yang saling bantu dan saling mengingatkan apalagi ketika kita memasuki akhir jaman seperti sekarang.
Dalam surat Roma dikatakan: "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.." (Roma 12:4-6). Ini adalah nasihat agar kita tetap sadar bahwa kita adalah bagian dari tubuh Kristus yang merupakan bagian integral yang tidak terpisahkan dari saudara-saudara seiman lainnya. Selain itu Tuhan juga mengingatkan bahwa kita harus saling mengasihi, karena Tuhan sendiri begitu mengasihi kita. (1 Yohanes 4:11). Kepedulian merupakan bagian dari kasih yang seharusnya memenuhi hati orang percaya. Beban yang ditanggung manusia sesungguhnya tidak ringan dan lama kelamaan mampu membuat iman kita memudar. Cepat atau lambat seseorang bisa kehilangan pengharapan jika didera masalah terus menerus. Karena itu kita diwajibkan untuk saling tolong menolong, dan dengan demikian dikatakan itu artinya kita memenuhi perintah Yesus. "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Karenanya penting bagi kita untuk menjalin hubungan dengan anggota-anggota tubuh Kristus lainnya dalam persekutuan-persekutuan, baik di Gereja, di kantor, di sekolah, di lingkungan dan sebagainya. Jangan melewatkan waktu-waktu beribadah di Gereja dimana kita bisa berinteraksi dan bersatu dalam kesatuan untuk menyembah Tuhan dan membangun hubungan saling menguntungkan satu sama lain.
Datang ke gereja saja tidak cukup apabila kita tidak memikirkan pentingnya membangun hubungan dengan saudara-saudari disana. Jika saat ini anda masih mengabaikan salah satu pesan penting Tuhan untuk memiliki iman yang terus bertumbuh dalam persekutuan yang manis dengan Tuhan, tentukanlah Gereja dimana anda bisa bertumbuh dan berbuahlah disana. Ambil waktu untuk saling mengenal satu sama lain. Jadilah bagian yang baik dari sebuah tubuh Kristus, bersekutulah dalam doa, pujian dan penyembahan, dan hendaklah saling bantu, saling mengingatkan dan saling menasihati. Tidak ada satupun manusia yang kuat berjalan sendirian. Mari kita bersatu dalam kasih, saling menguatkan dalam persekutuan-persekutuan kita.
Tidak ada manusia kuat menghadapi hidup seorang diri
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, March 9, 2015
Nobody Understand?
Ayat bacaan: Mazmur 139:1
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku"
"Nobody understands.." Demikian status BB salah seorang teman yang masih belia beberapa waktu lalu. Ketika saya tanya, ia bercerita bahwa orang tuanya tidak mengerti apa impiannya sejak kecil dan memaksakannya untuk masuk ke jurusan sesuai keinginan orang tuanya tersebut. Dari pihak keluarga lainnya, ternyata mereka pun sama saja. Ia merasa sendirian menghadapi semua orang, bagaikan satu lawan seribu katanya. Kasihan juga, tapi saya tidak berani mencampuri urusan keluarga orang lain. Saya hanya berpesan agar ia membawa dalam doa masalah ini dan meminta Tuhan untuk membukakan jalan yang terbaik baginya. Bisa jadi orang tuanya justru melihat potensi si anak yang ia sendiri belum tahu, atau mungkin saja orang tuanya memang hanya memaksakan tanpa melihat kemana minat dan bakat anaknya. Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, seperti yang saya bilang kepadanya, disaat ia merasa tidak ada orang yang mengerti, selalu ada Tuhan yang mengerti dia. Tuhan mengenalnya dan tahu apa yang terbaik untuk ia jalani. Maka membawa masalah dalam doa merupakan langkah yang paling baik di atas hal lainnya.
Apa yang ia rasakan mewakili keadaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi pula pada kita. Terkadang kita sulit mengharapkan orang untuk mengerti atau peduli keadaan kita. Mungkin mereka pun sedang bergumul dengan banyak masalah juga sehingga sulit membagi waktu untuk mencoba mengerti kita. Atau mungkin mereka peduli, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya sehingga terlihat seperti tidak bagi kita. Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan pula mereka memang tidak peduli dan tidak mau mengerti, dan kita tidak bisa memaksa mereka.
Apabila anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, alangkah baiknya jika anda pegang satu poin penting ini: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik, lebih dari apapun yang anda ketahui tentang diri anda sendiri. Potensi-potensi terpendam, hal istimewa dalam diri anda yang anda belum temukan, kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang tersembunyi bagiNya. Dia tahu isi hati kita yang terdalam. Dia sudah merencanakan yang terbaik dan sudah membekali masing-masing dengan keistimewaan sendiri-sendiri. Apalagi Tuhan sendiri yang menciptakan kita, tentu Dia-lah yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan yang luar biasa, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita.
Daud menyadari betul akan hal ini. Maka ia menulis: "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku" (Mazmur 139:1). Ayat ini adalah pembuka dari sebuah perikop yang berjudul "Doa di hadapan Allah yang maha tahu" (Mazmur 139:1-24). Rangkaian ini menggambarkan pemahaman Daud akan pengenalan Tuhan tentang dirinya secara penuh. Lanjut Daud lagi: "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (ay 2-3).
Ada sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 yang menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? Jika orang tua kita di dunia saja mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa di Surga.
Tuhan sungguh sangat mengenal kita dengan baik. Dia sungguh peduli, tetapi masalahnya, kitalah yang seringkali tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Ketika kita merasa sendirian, kita tidak mau mencoba untuk datang kepadaNya. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu."Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung kepada sesuatu yang sia-sia.
Penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus sendiri yang mengenal hati BapaNya dengan sangat baik. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa menurut gambarNya sendiri. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang sampai tahu jumlah rambut kita? Tapi Tuhan tahu berapa persisnya jumlahnya. Itu menunjukkan bahwa kepedulian dan pengenalanNya akan kita adalah sangat detail.
Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Dalam kitab Ulangan dikatakan: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Atau lihatlah ayat berikut: "Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.." (Mazmur 37:27-28). Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (11:28). Ini janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.
Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Meski anda tengah merasa sendirian dan punya hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk diucapkan, Tuhan mengetahui semua itu. Tuhan sungguh mendengar dan selalu mengerti. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan peduli.
Tuhan mengenal, mengerti dan peduli pada kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku"
"Nobody understands.." Demikian status BB salah seorang teman yang masih belia beberapa waktu lalu. Ketika saya tanya, ia bercerita bahwa orang tuanya tidak mengerti apa impiannya sejak kecil dan memaksakannya untuk masuk ke jurusan sesuai keinginan orang tuanya tersebut. Dari pihak keluarga lainnya, ternyata mereka pun sama saja. Ia merasa sendirian menghadapi semua orang, bagaikan satu lawan seribu katanya. Kasihan juga, tapi saya tidak berani mencampuri urusan keluarga orang lain. Saya hanya berpesan agar ia membawa dalam doa masalah ini dan meminta Tuhan untuk membukakan jalan yang terbaik baginya. Bisa jadi orang tuanya justru melihat potensi si anak yang ia sendiri belum tahu, atau mungkin saja orang tuanya memang hanya memaksakan tanpa melihat kemana minat dan bakat anaknya. Entahlah. Tapi satu hal yang pasti, seperti yang saya bilang kepadanya, disaat ia merasa tidak ada orang yang mengerti, selalu ada Tuhan yang mengerti dia. Tuhan mengenalnya dan tahu apa yang terbaik untuk ia jalani. Maka membawa masalah dalam doa merupakan langkah yang paling baik di atas hal lainnya.
Apa yang ia rasakan mewakili keadaan yang sewaktu-waktu bisa terjadi pula pada kita. Terkadang kita sulit mengharapkan orang untuk mengerti atau peduli keadaan kita. Mungkin mereka pun sedang bergumul dengan banyak masalah juga sehingga sulit membagi waktu untuk mencoba mengerti kita. Atau mungkin mereka peduli, tetapi mereka tidak tahu bagaimana menunjukkannya sehingga terlihat seperti tidak bagi kita. Dan tentu saja tidak menutup kemungkinan pula mereka memang tidak peduli dan tidak mau mengerti, dan kita tidak bisa memaksa mereka.
Apabila anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, alangkah baiknya jika anda pegang satu poin penting ini: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik, lebih dari apapun yang anda ketahui tentang diri anda sendiri. Potensi-potensi terpendam, hal istimewa dalam diri anda yang anda belum temukan, kelebihan dan kekurangan, tidak ada yang tersembunyi bagiNya. Dia tahu isi hati kita yang terdalam. Dia sudah merencanakan yang terbaik dan sudah membekali masing-masing dengan keistimewaan sendiri-sendiri. Apalagi Tuhan sendiri yang menciptakan kita, tentu Dia-lah yang paling tahu segalanya tentang kita. Dan yang luar biasa, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita. Bentuk kasih itu pun diwujudkan dengan kepedulian yang luar biasa besar pula terhadap anak-anakNya. Dia siap tertawa gembira bersama kita, Dia pun turut bersedih bersama kita.
Daud menyadari betul akan hal ini. Maka ia menulis: "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku" (Mazmur 139:1). Ayat ini adalah pembuka dari sebuah perikop yang berjudul "Doa di hadapan Allah yang maha tahu" (Mazmur 139:1-24). Rangkaian ini menggambarkan pemahaman Daud akan pengenalan Tuhan tentang dirinya secara penuh. Lanjut Daud lagi: "Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (ay 2-3).
Ada sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 yang menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, mungkinkah Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? Jika orang tua kita di dunia saja mengenal kita secara pribadi dan mendalam, apalagi Bapa di Surga.
Tuhan sungguh sangat mengenal kita dengan baik. Dia sungguh peduli, tetapi masalahnya, kitalah yang seringkali tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita malah tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Ketika kita merasa sendirian, kita tidak mau mencoba untuk datang kepadaNya. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak akan pernah mengecewakan. Karenanya, andalkanlah Tuhan selalu."Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Ayat ini menyebutkan dengan jelas bahwa menaruh pengharapan kepada Tuhan tidak akan pernah berujung kepada sesuatu yang sia-sia.
Penegasan lainnya disampaikan pula oleh Yesus sendiri yang mengenal hati BapaNya dengan sangat baik. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah,bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Kalau burung saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang diciptakan secara sangat istimewa menurut gambarNya sendiri. Sedekat-dekatnya dan sepeduli-pedulinya manusia, adakah yang sampai tahu jumlah rambut kita? Tapi Tuhan tahu berapa persisnya jumlahnya. Itu menunjukkan bahwa kepedulian dan pengenalanNya akan kita adalah sangat detail.
Betapa indahnya janji Tuhan akan penyertaan dan perlindunganNya atas kita yang tertulis berulang kali di dalam Alkitab. Dalam kitab Ulangan dikatakan: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati." (Ulangan 31:8). Atau lihatlah ayat berikut: "Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik, maka engkau akan tetap tinggal untuk selama-lamanya; sebab TUHAN mencintai hukum, dan Ia tidak meninggalkan orang-orang yang dikasihi-Nya. Sampai selama-lamanya mereka akan terpelihara.." (Mazmur 37:27-28). Peringatan yang disampaikan Penulis Ibrani pun mengacu akan hal ini: Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5). Tuhan Yesus sendiri sudah berjanji untuk menyertai kita senantiasa sampai kepada akhir zaman (Matius 28:20), dan siap memberi kita kelegaan. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (11:28). Ini janji yang menunjukkan betapa Tuhan mengenal kita dan betapa Dia peduli terhadap segala pergumulan kita.
Ketika tidak ada orang mengerti, ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Meski anda tengah merasa sendirian dan punya hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk diucapkan, Tuhan mengetahui semua itu. Tuhan sungguh mendengar dan selalu mengerti. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, dan peduli.
Tuhan mengenal, mengerti dan peduli pada kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, March 8, 2015
Populer?
Ayat bacaan: Lukas 6:26
=====================
"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."
Seberapa pentingkah sebuah popularitas? Kalau ditanyakan kepada orang, kebanyakan akan mengatakan bahwa itu sangat penting. Seorang teman yang saya tanyakan berkata "wah, penting banget... hidup akan jauh lebih mudah, lebih bahagia kalau terkenal." Apalagi di jaman sekarang, popularitas semakin menjadi primadona yang didambakan orang. Lihatlah berbagai ajang pencari bakat di televisi yang menjanjikan ketenaran dalam waktu instan. Artis-artis berebut untuk bisa masuk dalam infotainment, kalau perlu bayar, supaya mereka bisa populer. Ukuran kesuksesan pun terarah pada ketenaran yang menjanjikan banyak keuntungan mulai dari secara finansial sampai hal-hal lainnya seperti memilih pasangan hidup misalnya. Tapi di sisi lain, betapa seringnya kita melihat orang-orang populer yang bagai komet, melesat naik tapi sekejap kemudian sudah hilang. Ada pula yang mentalnya tidak siap sehingga terjatuh pada berbagai pelanggaran hukum dan berakhir di penjara. Tapi fakta ini tampaknya tidak menyurutkan niat orang untuk berlomba-lomba mengejar popularitas di mata manusia lainnya. Tidak jarang orang rela untuk melakukan hal-hal yang melanggar perjanjian dengan Tuhan dan melawan kebenaran agar popularitas bisa digenggam. Berkompromi dengan sesuatu yang salah, bahkan menggadaikan Tuhan, semua demi popularitas semata. Mengapa sampai berani seperti itu? Tentu, karena popularitas itu sangat penting bagi mereka.
Apa yang dikatakan Firman Tuhan akan hal ini? Ternyata Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas. Populer di mata orang lain itu sama sekali tidak penting, bahkan berpotensi mencelakakan. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Lihatlah betapa kerasnya sehingga muncul kata 'celaka'. Kenapa? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberi yang menciptakan kita. Popularitas bisa menyilaukan sehingga kita tidak lagi bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Silaunya popularitas bisa mengalihkan fokus kita terhadap rencana Tuhan yang indah pada diri kita, menggantikan sesuatu yang kekal demi kepentingan sesaat. Apa untungnya kita populer hanya sebentar tetapi harus kehilangan anugerah keselamatan yang sudah diberikan lewat Kristus?
Firman Tuhan menyampaikan bahwa apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itu yang diinginkan bagi kita, bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya sementara saja sifatnya.
Selanjutnya, Alkitab juga mengajarkan bahwa semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil dan Allah sendirilah yang harus semakin besar. Contoh yang baik ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis. Ia bisa saja membanggakan diri sebagai sosok yang membaptis Yesus, tetapi lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia.
Jika memang kita harus dianggap aneh oleh dunia atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan, biarkan saja. Itu jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi sebagai anak terang. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Mengapa demikian? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan ini berlaku untuk sesuatu yang kekal. An everlasting, eternal life, no sorrow anymore with God in heaven. Itu yang dijanjikan oleh Kristus, dan untuk itulah Dia datang ke dunia. Dan itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Tepat seperti apa yang dikatakan Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apalah artinya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah?
Semakin jauh kita bertumbuh, semakin banyak pula kita akan berhadapan dengan pilihan demi pilihan. Melakukan sesuatu yang benar tapi beresiko dibenci atau disisihkan banyak orang, atau sebaliknya melakukan hal yang salah tapi akan dipuja-puja orang lain. Semua tergantung kita. Tidak mudah memang untuk tampil benar di dunia yang jahat. Tidak mudah untuk tampil lurus di lingkungan yang bengkok. Tapi itulah yang menjadi panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai dan menerima keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar. Tidak salah untuk menjadi orang sukses, Tuhan sendiri menginginkan kita untuk itu. Tapi jangan sampai kita mengejar-ngejar ketenaran lalu mengesampingkan atau malah menggadaikan Tuhan dan kebenaran firmanNya. Fokus kita harus terus terarah kepada jalan yang benar dan tidak membuka kompromi kepada hal-hal yang salah dengan iming-iming apapun. Setiap peningkatan hendaknya dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Alangkah indahnya kalau kita bisa dikenal sebagai orang sukses yang benar-benar melakukan firman.
Popularitas bukan hal terpenting, tapi menjadi orang benar, itulah yang penting
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=====================
"Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu."
Seberapa pentingkah sebuah popularitas? Kalau ditanyakan kepada orang, kebanyakan akan mengatakan bahwa itu sangat penting. Seorang teman yang saya tanyakan berkata "wah, penting banget... hidup akan jauh lebih mudah, lebih bahagia kalau terkenal." Apalagi di jaman sekarang, popularitas semakin menjadi primadona yang didambakan orang. Lihatlah berbagai ajang pencari bakat di televisi yang menjanjikan ketenaran dalam waktu instan. Artis-artis berebut untuk bisa masuk dalam infotainment, kalau perlu bayar, supaya mereka bisa populer. Ukuran kesuksesan pun terarah pada ketenaran yang menjanjikan banyak keuntungan mulai dari secara finansial sampai hal-hal lainnya seperti memilih pasangan hidup misalnya. Tapi di sisi lain, betapa seringnya kita melihat orang-orang populer yang bagai komet, melesat naik tapi sekejap kemudian sudah hilang. Ada pula yang mentalnya tidak siap sehingga terjatuh pada berbagai pelanggaran hukum dan berakhir di penjara. Tapi fakta ini tampaknya tidak menyurutkan niat orang untuk berlomba-lomba mengejar popularitas di mata manusia lainnya. Tidak jarang orang rela untuk melakukan hal-hal yang melanggar perjanjian dengan Tuhan dan melawan kebenaran agar popularitas bisa digenggam. Berkompromi dengan sesuatu yang salah, bahkan menggadaikan Tuhan, semua demi popularitas semata. Mengapa sampai berani seperti itu? Tentu, karena popularitas itu sangat penting bagi mereka.
Apa yang dikatakan Firman Tuhan akan hal ini? Ternyata Alkitab tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar popularitas. Populer di mata orang lain itu sama sekali tidak penting, bahkan berpotensi mencelakakan. Firman Tuhan dengan tegas mengatakan "Celakalah kamu, jika semua orang memuji kamu; karena secara demikian juga nenek moyang mereka telah memperlakukan nabi-nabi palsu." (Lukas 6:26). Lihatlah betapa kerasnya sehingga muncul kata 'celaka'. Kenapa? Karena semua itu bisa membuat kita lupa diri kemudian melupakan Sang Pemberi yang menciptakan kita. Popularitas bisa menyilaukan sehingga kita tidak lagi bisa melihat mana yang benar dan mana yang tidak. Silaunya popularitas bisa mengalihkan fokus kita terhadap rencana Tuhan yang indah pada diri kita, menggantikan sesuatu yang kekal demi kepentingan sesaat. Apa untungnya kita populer hanya sebentar tetapi harus kehilangan anugerah keselamatan yang sudah diberikan lewat Kristus?
Firman Tuhan menyampaikan bahwa apa yang dituntut dari kita adalah terus berupaya menjadi orang benar, semakin sempurna seperti Bapa di sorga (Matius 5:48), menghayati keberadaan kita sebagai manusia baru yang terus diperbaharui untuk lebih mengenal Allah dengan lebih dalam (Kolose 3:10) dan terus semakin menyerupai Yesus dengan pertolongan Roh Kudus yang telah dianugerahkan untuk diam di dalam diri kita. (2 Korintus 3:18). Itu yang diinginkan bagi kita, bukan untuk mengejar popularitas di mata manusia yang hanya sementara saja sifatnya.
Selanjutnya, Alkitab juga mengajarkan bahwa semakin tinggi kita menapak naik, kita seharusnya semakin kecil dan Allah sendirilah yang harus semakin besar. Contoh yang baik ditunjukkan oleh Yohanes Pembaptis. Ia bisa saja membanggakan diri sebagai sosok yang membaptis Yesus, tetapi lihatlah apa katanya. "Kamu sendiri dapat memberi kesaksian, bahwa aku telah berkata: Aku bukan Mesias, tetapi aku diutus untuk mendahului-Nya...Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:28,30). Kemuliaan Allah harus terus semakin besar lewat pribadi kita dan dalam saat yang sama kita harus terus semakin rendah hati dan tidak tergiur oleh dorongan mencari popularitas di mata manusia.
Jika memang kita harus dianggap aneh oleh dunia atau malah harus menghadapi resiko disingkirkan atau dikucilkan, biarkan saja. Itu jauh lebih baik ketimbang kita mentolerir berbagai bentuk pelanggaran yang akan semakin menjauhkan kita dari posisi sebagai anak terang. Yesus bahkan telah mengingatkan "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Mengapa demikian? "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya." (Matius 16:25). Dan ini berlaku untuk sesuatu yang kekal. An everlasting, eternal life, no sorrow anymore with God in heaven. Itu yang dijanjikan oleh Kristus, dan untuk itulah Dia datang ke dunia. Dan itulah yang jauh lebih pantas kita usahakan ketimbang mencari popularitas di dunia yang sifatnya hanya sementara ini. Tepat seperti apa yang dikatakan Yesus selanjutnya: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya? Dan apakah yang dapat diberikannya sebagai ganti nyawanya?" (ay 26). Apalah artinya popularitas di dunia dibandingkan dengan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang terberkati dalam Kerajaan Allah?
Semakin jauh kita bertumbuh, semakin banyak pula kita akan berhadapan dengan pilihan demi pilihan. Melakukan sesuatu yang benar tapi beresiko dibenci atau disisihkan banyak orang, atau sebaliknya melakukan hal yang salah tapi akan dipuja-puja orang lain. Semua tergantung kita. Tidak mudah memang untuk tampil benar di dunia yang jahat. Tidak mudah untuk tampil lurus di lingkungan yang bengkok. Tapi itulah yang menjadi panggilan kita. Tuhan memanggil kita untuk melakukan apa yang benar dan bukan untuk menjadi populer di mata dunia. Meski di mata orang lain kita dianggap bodoh, ingatlah bahwa Allah selalu menghargai dan menerima keputusan kita untuk tetap tampil sebagai orang benar. Tidak salah untuk menjadi orang sukses, Tuhan sendiri menginginkan kita untuk itu. Tapi jangan sampai kita mengejar-ngejar ketenaran lalu mengesampingkan atau malah menggadaikan Tuhan dan kebenaran firmanNya. Fokus kita harus terus terarah kepada jalan yang benar dan tidak membuka kompromi kepada hal-hal yang salah dengan iming-iming apapun. Setiap peningkatan hendaknya dipakai untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Alangkah indahnya kalau kita bisa dikenal sebagai orang sukses yang benar-benar melakukan firman.
Popularitas bukan hal terpenting, tapi menjadi orang benar, itulah yang penting
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, March 7, 2015
Gesekan (2)
(sambungan)
Jika kita melihat para Nabi baik di Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita pun akan melihat bahwa pelayanan mereka seringkali disertai berbagai permasalahan, penuh penderitaan dan berbagai gejolak yang setiap saat mampu melemahkan mereka hingga ke titik terendah. Dari Nuh, Musa hingga Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya, semua mengalami berbagai masalah yang tidak mudah untuk dihadapi. Namun mereka tidak patah semangat, dan tetap tegar melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Mereka tetap tekun melayani sepenuh hati. Malah tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa mereka, bahkan kebanyakan malah harus rela menjadi martir. Tapi mereka tetap setia hingga akhir. Mengapa? Karena visi mereka jelas, yaitu menempatkan Tuhan di atas segalanya dalam apapun yang mereka lakukan. Meski ditempatkan pada posisi kehilangan nyawa sekalipun, visi yang benar akan membuat mereka tidak melenceng sedikitpun. Mereka punya sikap hati yang lebih mementingkan keinginan Tuhan di atas segalanya.Kita bisa meneladani mereka. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (Yakobus 5:10). Kedatangan Yesus ke dunia pun tidak lepas dari berbagai penderitaan. Tapi karena kasihNya yang luar biasa besar bagi kita, Dia menggenapkan kehendak Bapa hingga tuntas, mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. .
Perselisihan dalam pelayanan bisa terjadi kapan saja. Gesekan-gesekan akan selalu ada ketika kita berada dalam sekelompok orang yang sama setiap hari. Itu sangat wajar. Gesekan menimbulkan panas, itu benar. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah sikap hati kita dalam menghadapi hal itu. Alangkah ironisnya jika kita menjadi sulit membedakan mana yang menjadi keinginan Tuhan dan mana yang berasal dari ego dalam diri kita.
Lantas bagaimana jika terjadi gesekan atau perselisihan? Yang terbaik adalah berusaha secepatnya untuk berdamai dan saling memaafkan. Seperti apa yang diingatkan oleh Paulus, kita harus selalu berusaha menghindari perpecahan. "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10). Seperti halnya Tuhan selalu siap membukakan pintu pengampunanNya bagi kita, demikian pula kita harus selalu siap untuk saling memaafkan satu sama lain. Dan itupun ada ayatnya. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Lalu dengarkan pula nasihat Paulus kepada Timotius berikut: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran." (2 Timotius 2:24-25).
Jika dalam menghadapi gesekan belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, seperti mengundurkan diri dari pelayanan, menghujat atau yang lebih ekstrim langsung lompat pagar pindah gereja, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan, dan itu juga berarti bahwa kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya. Ingatlah bahwa di atas segalanya kita melayani karena mengasihi Kristus lebih dari segalanya. Taklukkanlah hal-hal lain yang mungkin merintangi pelayanan kita dengan kasih dan saling memaafkan dan fokuslah kembali pada tujuan dan visi yang sesungguhnya. Jangan biarkan motivasi menjadi kabur lalu membiarkan hal-hal negatif muncul karena adanya pergeseran arah tujuan pelayanan. Pastikan semuanya berjalan benar, dalam koridor dan motivasi yang benar, sehingga nama Tuhan bisa dipermuliakan dalam setiap pelayanan kita.
Sikapi gesekan dengan baik lewat menjaga motivasi melayani yang benar
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Jika kita melihat para Nabi baik di Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita pun akan melihat bahwa pelayanan mereka seringkali disertai berbagai permasalahan, penuh penderitaan dan berbagai gejolak yang setiap saat mampu melemahkan mereka hingga ke titik terendah. Dari Nuh, Musa hingga Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya, semua mengalami berbagai masalah yang tidak mudah untuk dihadapi. Namun mereka tidak patah semangat, dan tetap tegar melakukan apa yang menjadi kehendak Bapa. Mereka tetap tekun melayani sepenuh hati. Malah tidak sedikit yang mempertaruhkan nyawa mereka, bahkan kebanyakan malah harus rela menjadi martir. Tapi mereka tetap setia hingga akhir. Mengapa? Karena visi mereka jelas, yaitu menempatkan Tuhan di atas segalanya dalam apapun yang mereka lakukan. Meski ditempatkan pada posisi kehilangan nyawa sekalipun, visi yang benar akan membuat mereka tidak melenceng sedikitpun. Mereka punya sikap hati yang lebih mementingkan keinginan Tuhan di atas segalanya.Kita bisa meneladani mereka. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (Yakobus 5:10). Kedatangan Yesus ke dunia pun tidak lepas dari berbagai penderitaan. Tapi karena kasihNya yang luar biasa besar bagi kita, Dia menggenapkan kehendak Bapa hingga tuntas, mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. .
Perselisihan dalam pelayanan bisa terjadi kapan saja. Gesekan-gesekan akan selalu ada ketika kita berada dalam sekelompok orang yang sama setiap hari. Itu sangat wajar. Gesekan menimbulkan panas, itu benar. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah sikap hati kita dalam menghadapi hal itu. Alangkah ironisnya jika kita menjadi sulit membedakan mana yang menjadi keinginan Tuhan dan mana yang berasal dari ego dalam diri kita.
Lantas bagaimana jika terjadi gesekan atau perselisihan? Yang terbaik adalah berusaha secepatnya untuk berdamai dan saling memaafkan. Seperti apa yang diingatkan oleh Paulus, kita harus selalu berusaha menghindari perpecahan. "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10). Seperti halnya Tuhan selalu siap membukakan pintu pengampunanNya bagi kita, demikian pula kita harus selalu siap untuk saling memaafkan satu sama lain. Dan itupun ada ayatnya. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Lalu dengarkan pula nasihat Paulus kepada Timotius berikut: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran." (2 Timotius 2:24-25).
Jika dalam menghadapi gesekan belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional, seperti mengundurkan diri dari pelayanan, menghujat atau yang lebih ekstrim langsung lompat pagar pindah gereja, itu artinya kita belum sampai pada visi yang benar dalam melayani Tuhan, dan itu juga berarti bahwa kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya. Ingatlah bahwa di atas segalanya kita melayani karena mengasihi Kristus lebih dari segalanya. Taklukkanlah hal-hal lain yang mungkin merintangi pelayanan kita dengan kasih dan saling memaafkan dan fokuslah kembali pada tujuan dan visi yang sesungguhnya. Jangan biarkan motivasi menjadi kabur lalu membiarkan hal-hal negatif muncul karena adanya pergeseran arah tujuan pelayanan. Pastikan semuanya berjalan benar, dalam koridor dan motivasi yang benar, sehingga nama Tuhan bisa dipermuliakan dalam setiap pelayanan kita.
Sikapi gesekan dengan baik lewat menjaga motivasi melayani yang benar
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...




