(sambungan)
Akan halnya elastis dan fleksibel terhadap anak, mari kita ambil contoh kecil saja, antara generasi X yang lahir di jaman sekitar 1960an hingga 1980an dengan generasi Y yang disebut juga dengan Millenial Generation, mengacu kepada generasi yang lahir di tahun 80an sampai awal 2000an. Antara dua generasi ini saja ada banyak perbedaan nyata yang akan sulit dipahami jika memaksakan kebiasaan atau pola pikir generasi anda ke dalam generasi setelahnya. Seperti apa contohnya? Misalnya dalam hal menyikapi hobi dan profesi. Generasi X cenderung mengatakan bahwa kerja dahulu baru menyalurkan hobi jika sempat. Generasi X masih berpusat pada gelar-gelar kesarjanaan klasik seperti dokter, insinyur dan sebagainya. Sedang pada generasi Y, hobi sudah bukan lagi sesuatu yang dilakukan hanya kalau ada waktu luang tetapi bisa dijadikan profesi. Tidaklah heran jika ada banyak orang tua yang tidak mengerti keinginan anaknya. Mereka terus memaksakan kehendak mereka, mengadopsi kebiasaan dan pola pikir generasinya ke dalam zaman si anak. Mereka sulit mengerti bahwa hobi sudah bisa menjadi profesi yang bisa memberi kehidupan stabil bagi anak-anaknya. Pendidikan-pendidikan era baru seperti desain grafis/desain komunikasi visual, menjadi chef atau juru masak, musisi, ini bagi generasi X hanyalah dianggap bagian dari hobi yang tidak menjamin masa depan anaknya. Padahal di generasi Y semua ini menjadi bidang-bidang profesi yang menarik dan menjanjikan. Itu baru generasi X dan Y, bagaimana jika generasi X dihadapkan dengan generasi digital hari ini? Masalah yang lebih besar tentu akan muncul.
Karena itulah orang tua sebaiknya diharapkan untuk bisa memahami/mengerti generasi apa yang tengah dihidupi oleh anaknya. Anda perlu tahu dunia pekerjaan hari ini seluas apa, anda perlu tahu bidang yang sesuai bakat atau hobi mereka, anda perlu juga tahu tentang hiburan-hiburan apa yang mereka nikmati hari ini seperti lagu-lagu misalnya. Jumlah lagu yang berisi lirik negatif semakin banyak, sehingga anda perlu tahu apa yang mereka dengar agar bisa mengingatkan mereka tentang hal-hal buruk yang diajarkan lewat lagu-lagu yang sedang 'in' tersebut. Bersikap menentang dengan keras akan membuat anak semakin berjarak dan tertutup dari anda, bersikap cuek atau tidak peduli akan membuat mereka terseret ke dalam pusaran kesesatan yang ditawarkan dunia. Jadi jangan terlalu sibuk mengatur gaya, trend, mode atau hobi, minat dan bakat mereka dan kemudian menjadi terlalu kaku sehingga gagal dalam menyiapkan busur yang kuat dan elastis. Meski mungkin tidak sesuai dengan selera anda, selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, anda harus bisa bertoleransi. Bentuk mendidik atau mendisplinkan yang terlalu kaku dan memaksakan kehendak berlebihan hanyalah akan membuat anak-anak hidup dalam ketakutan, menjauh dari anda dan membuat mereka tidak bisa berkembang. Sebuah sikap fleksibel akan mampu menjembatani hubungan antar generasi, antara anda dan anak-anak, dan itu akan membuat anda mampu mengarahkan mereka, bagai pahlawan yang mengarahkan anak panahnya menuju sasaran.
3. Mengarahkan anak panah ke tempat yang tepat
Seorang pemanah tentu ingin menembakkan anak panahnya mengenai target secara tepat. Tapi bisakah si pemanah mengenai sasaran apabila ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi targetnya? Pada kenyataannya ada banyak orang tua yang hanya menerapkan peraturan secara buta tanpa tahu apa yang menjadi tujuan. Mereka tidak mau dilarang, tidak memberi contoh yang baik, tapi mereka menerapkan secara keras terhadap anak-anaknya. Mereka belum jelas tentang kebenaran Firman Tuhan tapi bersikap layaknya pemimpin diktator dalam rumah tangga. Ini bukanlah gambaran yang baik jika mau mendidik anak-anak untuk menjadi orang-orang terampil yang berhasil dan takut akan Tuhan dalam hidupnya.
Apa yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah sejauh mana orang tua memahami prinsip-prinsip Kerajaan Allah dan mengaplikasikan semua itu secara nyata dalam keluarga. Bagaimana mau anak tidak merokok kalau orang tuanya saja bebas merokok didepan mereka? Mau bagaimana mendidik mereka agar tidak menghakimi orang lain kalau orang tuanya jago gosip? Mau bagaimana mendidik moral dan akhlak anak-anak kalau orang tuanya menunjukkan pola hidup yang tidak baik seperti korupsi, berbuat curang atau mempertontonkan keahlian mencari keuntungan dengan merugikan yang lain? Anak-anak akan melihat keteladanan dari orang tuanya. Itu yang sering dilupakan oleh banyak orang tua. Mereka cenderung bersikap otoriter karena menyangka posisinya diatas sehingga merasa berhak bersikap seenaknya terhadap anak-anak.
Para orang tua harus ingat bahwa mencari Tuhan bukanlah berarti mencari peraturan saja tetapi lebih jauh itu berarti mengenal Tuhan. Ketetapan Tuhan dijadikan kesukaan bagi kita yang diterapkan sebagai prinsip-prinsip hidup yang akan menginspirasi dan diteladani oleh anak-anak.
Selain itu orang tua juga diharapkan mampu menemukan minat, bakat atau potensi anak-anak yang tertinggi dan kemudian mengarahkan mereka dengan baik, bukan memaksakan obsesi pribadi. Anak-anak harus diasah untuk tajam dan diarahkan untuk melesat ke arah yang benar, dan itu artinya kita memberi visi kehidupan yang tepat bagi mereka. Kita harus ingat bahwa peraturan hanyalah membatasi dari luar, tetapi prinsip-prinsip Kerajaan yang diadopsi dengan baik dalam kehidupan nyata bisa merubah seseorang dari dalam dan akan hidup di dalam mereka untuk waktu yang lama.
Dari seluruh isi renungan yang saya sampaikan ini kita bisa melihat bahwa untuk menjadi orang tua sama sulitnya seperti menjadi pemanah ulung. Itu butuh proses, butuh perjuangan dan seringkali butuh pengorbanan. Tapi itulah yang bisa menjadikan kita tampil sebagai pahlawan-pahlawan di mata Tuhan. Jika kita sudah melakukan semua ini, kelak bukan hanya anak-anak kita yang hidupnya baik dan berhasil, tapi kita sebagai orang tua pun akan merasa bangga dan bahagia. "Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mazmur 127:4). Dalam Amsal dikatakan "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Anda siap untuk menjadi pahlawan pemanah? Jika ya, arahkanlah anak-anak panah anda menuju sasaran, sehingga selain hidup mereka diberkati mereka pun bisa berdampak bagi kesejahteraan lingkungan sekitar, kota, bangsa dan negara bahkan hingga memberkati dunia.
Anda adalah pahlawannya Tuhan jika berhasil mengarahkan anak-anak panah anda ke sasaran yang benar
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, July 14, 2013
Saturday, July 13, 2013
Pahlawan Pemanah (1)
Ayat bacaan: Mazmur 127:4
===================
"Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."
Jika anda sudah menonton film The Avengers, anda tentu mengenal salah satu tokoh disana yang bernama Hawkeye. Tokoh ini bukanlah seorang dengan kekuatan superhero seperti halnya Hulk, tetapi ia piawai dalam menggunakan panah dan disebut sebagai pemanah terbaik dalam dunia komik Marvel. Di dalam film memanah itu sepertinya terlihat mudah, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Menurut seorang teman saya yang menggeluti dunia panah, untuk bisa menjadi pemanah ulung haruslah melalui banyak latihan dan butuh persiapan yang tidak ringan. Untuk menjaga agar tidak sampai cedera kita harus tahu betul prosedur dan cara yang benar dalam melakukannya, demikian juga agar panah bisa diarahkan tepat ke sasaran. Posisi tangan yang membidik dengan yang memegang busur harus sejajar, bagaimana menarik busur dengan tiga jari dan cara melepaskannya, berbagai peralatan pengaman seperti pelindung tangan, dada (jika diperlukan, terutama bagi wanita) dan sebagainya, itupun perlu mendapat perhatian khusus. "Menjadi pemanah butuh persiapan dan latihan matang, karena salah-salah bukan hanya bisa meleset dari sasaran tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri." kata teman saya.
Hawkeye adalah salah satu pahlawan dalam film The Avengers yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ia hanyalah tokoh fiktif hasil imajinasi pencipta tokohnya. Kita bukan Hawkeye dan hidup di dunia nyata, itu benar. Tapi tahukah anda bahwa di mata Tuhan anda pun sama dianggap para pahlawan apabila bisa mengarahkan anak-anak anda menuju sasaran yang benar? Tuhan menggambarkan peran anda para orang tua dan calon orang tua seperti Hawkeye, yaitu pahlawan yang bisa membuat anak-anak 'panah'nya untuk bisa tepat sasaran, membawa dampak positif dimanapun mereka ditempatkan.
Kata pahlawan sebagai sebutan bagi orang tua yang bisa mengarahkan anak benar-benar disebutkan di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab Mazmur 127:4. "As arrows are in the hand of a warrior, so are the children of one's youth." Dalam bahasa Indonesianya dikatakan "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda." Dikatakan anak-anak pada masa muda, karena kita harus mulai mengarahkan mereka sejak di usia dini. Biasanya anak-anak sudah sulit diatur apabila sudah mulai beranjak dewasa atau memasuki masa puber, oleh karena itu yang terbaik adalah mengenalkan mereka kepada Tuhan dan kebenaran-kebenaran FirmanNya, mengajarkan tata krama, kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku dan sebagainya sejak mereka masih kecil. Kita bisa melihat bahwa sesungguhnya peran orang tua terhadap masa depan anaknya sangatlah krusial. Benar, jika kita melihat ayat sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan bahwa anak adalah milik pusaka, pemberian atau anugerah dari Tuhan (ay 3), tetapi ingatlah bahwa kita yang dititipkan punya tanggungjawab besar untuk mengarahkan mereka menghadapi arus dunia yang penuh dengan kesesatan. Siapa anak-anak kita kelak akan sangat tergantung dari bagaimana kita mengarahkannya, apakah kita sudah menjadi sosok pahlawan (warrior) seperti yang diinginkan Tuhan atau membiarkan mereka terseret arus dan menjadi orang-orang yang tidak berdampak atau malah mengganggu lingkungan.
Buat saya, peran orang tua yang disimbolkan bagai pahlawan yang berjuang dengan panah ini sangatlah menarik karena bisa mengilustrasikan koneksi orang tua dan anak beserta peran didalamnya secara tepat. Agar anda bisa menjadi pemanah ulung yang bisa membawa harum nama bangsa, anda butuh persiapan dan latihan yang matang. Mari kita lihat satu persatu dan kaitannya dengan peran orang tua ini.
1. Persiapkan tali busur, busur dan anak panah yang kuat
Seorang pemanah harus memperhatikan peralatan yang mereka pergunakan, demikian juga dengan anak panahnya. Jika hanya terbuat dari bahan yang mudah lapuk, tipis atau patah, tentu itu akan menggagalkan anda dalam mengenai sasaran. Seperti itulah persiapan orang tua agar dapat mengarahkan anaknya. Tidak ada anak yang akan bisa diarahkan jika orang tuanya masih lemah dalam memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah. Jadi orang tua perlu terlebih dahulu mengerti nilai dan prinsip dan tidak hanya berhenti disana tapi juga menjadi teladan langsung lewat contoh perbuatan dalam hidup sehari-hari agar bisa mempersiapkan anak-anak muda yang kuat dalam menghadapi masalah.
2. Tali busur harus fleksibel dan elastis
Anda tidak akan bisa memanah jika tali busurnya tidak elastis. Tanpa adanya gaya pegas dari keelastisan tali, panah tidak akan bisa melesat jauh menuju sasaran. Sebagai orang tua, kita harus bisa bersikap fleksibel dan elastis terhadap anak-anak yang notabene berada dalam generasi yang berbeda dengan orang tuanya. Maksud elastis atau fleksibel disini bukanlah bersikap lunak membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka perbuat, tetapi mengacu kepada pemahaman/mengerti tentang generasi seperti apa yang tengah dialami oleh anak-anak kita.
(bersambung)
===================
"Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda."
Jika anda sudah menonton film The Avengers, anda tentu mengenal salah satu tokoh disana yang bernama Hawkeye. Tokoh ini bukanlah seorang dengan kekuatan superhero seperti halnya Hulk, tetapi ia piawai dalam menggunakan panah dan disebut sebagai pemanah terbaik dalam dunia komik Marvel. Di dalam film memanah itu sepertinya terlihat mudah, tapi sebenarnya tidaklah demikian. Menurut seorang teman saya yang menggeluti dunia panah, untuk bisa menjadi pemanah ulung haruslah melalui banyak latihan dan butuh persiapan yang tidak ringan. Untuk menjaga agar tidak sampai cedera kita harus tahu betul prosedur dan cara yang benar dalam melakukannya, demikian juga agar panah bisa diarahkan tepat ke sasaran. Posisi tangan yang membidik dengan yang memegang busur harus sejajar, bagaimana menarik busur dengan tiga jari dan cara melepaskannya, berbagai peralatan pengaman seperti pelindung tangan, dada (jika diperlukan, terutama bagi wanita) dan sebagainya, itupun perlu mendapat perhatian khusus. "Menjadi pemanah butuh persiapan dan latihan matang, karena salah-salah bukan hanya bisa meleset dari sasaran tapi juga bisa mencelakakan diri sendiri." kata teman saya.
Hawkeye adalah salah satu pahlawan dalam film The Avengers yang menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ia hanyalah tokoh fiktif hasil imajinasi pencipta tokohnya. Kita bukan Hawkeye dan hidup di dunia nyata, itu benar. Tapi tahukah anda bahwa di mata Tuhan anda pun sama dianggap para pahlawan apabila bisa mengarahkan anak-anak anda menuju sasaran yang benar? Tuhan menggambarkan peran anda para orang tua dan calon orang tua seperti Hawkeye, yaitu pahlawan yang bisa membuat anak-anak 'panah'nya untuk bisa tepat sasaran, membawa dampak positif dimanapun mereka ditempatkan.
Kata pahlawan sebagai sebutan bagi orang tua yang bisa mengarahkan anak benar-benar disebutkan di dalam Alkitab, yaitu di dalam kitab Mazmur 127:4. "As arrows are in the hand of a warrior, so are the children of one's youth." Dalam bahasa Indonesianya dikatakan "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda." Dikatakan anak-anak pada masa muda, karena kita harus mulai mengarahkan mereka sejak di usia dini. Biasanya anak-anak sudah sulit diatur apabila sudah mulai beranjak dewasa atau memasuki masa puber, oleh karena itu yang terbaik adalah mengenalkan mereka kepada Tuhan dan kebenaran-kebenaran FirmanNya, mengajarkan tata krama, kesopanan dalam berbicara dan bertingkah laku dan sebagainya sejak mereka masih kecil. Kita bisa melihat bahwa sesungguhnya peran orang tua terhadap masa depan anaknya sangatlah krusial. Benar, jika kita melihat ayat sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan bahwa anak adalah milik pusaka, pemberian atau anugerah dari Tuhan (ay 3), tetapi ingatlah bahwa kita yang dititipkan punya tanggungjawab besar untuk mengarahkan mereka menghadapi arus dunia yang penuh dengan kesesatan. Siapa anak-anak kita kelak akan sangat tergantung dari bagaimana kita mengarahkannya, apakah kita sudah menjadi sosok pahlawan (warrior) seperti yang diinginkan Tuhan atau membiarkan mereka terseret arus dan menjadi orang-orang yang tidak berdampak atau malah mengganggu lingkungan.
Buat saya, peran orang tua yang disimbolkan bagai pahlawan yang berjuang dengan panah ini sangatlah menarik karena bisa mengilustrasikan koneksi orang tua dan anak beserta peran didalamnya secara tepat. Agar anda bisa menjadi pemanah ulung yang bisa membawa harum nama bangsa, anda butuh persiapan dan latihan yang matang. Mari kita lihat satu persatu dan kaitannya dengan peran orang tua ini.
1. Persiapkan tali busur, busur dan anak panah yang kuat
Seorang pemanah harus memperhatikan peralatan yang mereka pergunakan, demikian juga dengan anak panahnya. Jika hanya terbuat dari bahan yang mudah lapuk, tipis atau patah, tentu itu akan menggagalkan anda dalam mengenai sasaran. Seperti itulah persiapan orang tua agar dapat mengarahkan anaknya. Tidak ada anak yang akan bisa diarahkan jika orang tuanya masih lemah dalam memahami nilai-nilai dan prinsip-prinsip kebenaran Kerajaan Allah. Jadi orang tua perlu terlebih dahulu mengerti nilai dan prinsip dan tidak hanya berhenti disana tapi juga menjadi teladan langsung lewat contoh perbuatan dalam hidup sehari-hari agar bisa mempersiapkan anak-anak muda yang kuat dalam menghadapi masalah.
2. Tali busur harus fleksibel dan elastis
Anda tidak akan bisa memanah jika tali busurnya tidak elastis. Tanpa adanya gaya pegas dari keelastisan tali, panah tidak akan bisa melesat jauh menuju sasaran. Sebagai orang tua, kita harus bisa bersikap fleksibel dan elastis terhadap anak-anak yang notabene berada dalam generasi yang berbeda dengan orang tuanya. Maksud elastis atau fleksibel disini bukanlah bersikap lunak membiarkan pelanggaran-pelanggaran yang mereka perbuat, tetapi mengacu kepada pemahaman/mengerti tentang generasi seperti apa yang tengah dialami oleh anak-anak kita.
(bersambung)
Friday, July 12, 2013
Menjadi Pelaku Firman (2)
(sambungan)
Pentingnya menjadi pelaku firman adalah hal mendasar yang harus selalu kita perhatikan. Adalah sangat baik jika anda sudah mulai mau menyimak kotbah di gereja secara serius dan meluangkan waktu teratur untuk membaca Firman Tuhan di dalam Alkitab, lewat membaca renungan, lewat mendengar kotbah di radio atau rekamannya. Semua itu sangatlah baik. Tetapi janganlah berhenti hanya sampai di situ saja. Langkah selanjutnya adalah mengaplikasikan ketetapan-ketetapan Tuhan yang telah kita baca atau dengar untuk teraplikasi secara nyata dalam kehidupan kita. Jika tidak, semua akan menguap sia-sia atau dikatakan sama dengan orang yang sedang menipu dirinya sendiri, yang kata Yakobus ibarat orang yang mematut diri di cermin lalu kemudian langsung lupa seperti apa rupanya tepat setelah beranjak dari cermin.
Selanjutnya mari kita perhatikan. Apakah Firman-firman itu sudah tertanam dan teraplikasi dalam hidup kita akan terpancar dari bagaimana cara kita hidup. Jika belum ada perubahan, itu artinya Firman belumlah berfungsi apa-apa dalam kehidupan kita. Adalah menarik jika kita bisa melihat keluhan Paulus tentang sulitnya untuk menaklukkan keinginan daging yang menginginkan berbagai perbuatan dosa seperti yang bisa kita baca dalam kitab Roma. Katanya: "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Apa maksudnya? Demikian penjelasan Paulus: "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." (ay 22-23). Bukankah konflik batin itu sering terjadi pula dalam hidup kita? Hati mungkin sangat haus akan firman Tuhan dan rindu untuk mengalami transformasi, berubah semakin baik dan lebih baik lagi, tapi berbagai keinginan daging bisa dengan segera menghambat dan menggagalkan. Walaupun kita sangat ingin berubah, kita masih saja gagal dan kembali jatuh pada dosa yang sama.
Ingatlah bahwa kita sebenarnya sudah dimerdekakan oleh Yesus sendiri. Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31-32). Kemerdekaan sudah dianugerahkan kepada kita lewat mengetahui kebenaran. Akan tetapi bila kita tidak mengaplikasikan firman-firman itu secara nyata dalam setiap langkah kita, maka berbagai kedagingan kita akan siap mengembalikan kita kepada pelanggaran-pelanggaran atau kebiasaan lama kita yang buruk, kembali menempatkan kita sebagai tawanan dosa dan kehilangan kemerdekaan yang sudah dikaruniakan itu. Karena itulah kita harus selalu berjuang mengatasi keinginan daging, dan itu bisa kita lakukan lewat aplikasi secara langsung atas Firman-firman yang telah tertanam dengan lembut di hati kita di dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan.
Firman Allah itu sesungguhnya bukanlah hanya kumpulan huruf yang mati melainkan sesuatu yang hidup, kuat dan tajam. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman yang kita aplikasikan itu akan sanggup memberi perbedaan nyata dan membuat kita tahu mengenai apa yang benar dan mana yang salah. Firman Allah merupakan senjata yang ampuh untuk melawan segala godaan dosa dan memampukan kita untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus dan kebenaran Kerajaan yang Dia sampaikan.
Kembali kepada Yakobus, ia juga mengatakan bahwa "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25). Tekun beribadah tapi tidak mampu menjaga lidah, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri, dan hanyalah akan membawa kesia-siaan belaka. (ay 26). Kita tahu bahwa kita harus mengasihi dan berdampak bagi lingkungan, tapi jika hanya sebatas tahu tanpa dilakukan maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita tahu bahwa kita harus hidup kudus, tapi jika kita terus terseret dalam kecemaran yang ditawarkan dunia, maka semua hanyalah akan sia-sia.
Maka Yakobus mengingatkan betapa pentingnya untuk meningkatkan keseriusan kita agar tampil sebagai orang-orang yang melakukan atau menerapkan Firman dalam kehidupannya alias menjadi pelaku Firman agar kita bisa terhindar dari kecemaran dunia. Dengan kata lain, ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah adalah ibadah yang menerapkan atau mengaplikasikan firman-firman Tuhan yang telah kita dengar, yang telah tertanam dalam hati kita, dalam setiap sendi kehidupan kita, menghidupi Firman-Firman itu secara nyata yang bisa membawa dampak luar biasa bagi lingkungan. Itulah yang akan memerdekakan kita dan akan mendatangkan kebahagiaan surgawi baik dalam hidup kita pribadi maupun orang-orang disekitar kita.
Be doers of the Word and not hearers only
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Pentingnya menjadi pelaku firman adalah hal mendasar yang harus selalu kita perhatikan. Adalah sangat baik jika anda sudah mulai mau menyimak kotbah di gereja secara serius dan meluangkan waktu teratur untuk membaca Firman Tuhan di dalam Alkitab, lewat membaca renungan, lewat mendengar kotbah di radio atau rekamannya. Semua itu sangatlah baik. Tetapi janganlah berhenti hanya sampai di situ saja. Langkah selanjutnya adalah mengaplikasikan ketetapan-ketetapan Tuhan yang telah kita baca atau dengar untuk teraplikasi secara nyata dalam kehidupan kita. Jika tidak, semua akan menguap sia-sia atau dikatakan sama dengan orang yang sedang menipu dirinya sendiri, yang kata Yakobus ibarat orang yang mematut diri di cermin lalu kemudian langsung lupa seperti apa rupanya tepat setelah beranjak dari cermin.
Selanjutnya mari kita perhatikan. Apakah Firman-firman itu sudah tertanam dan teraplikasi dalam hidup kita akan terpancar dari bagaimana cara kita hidup. Jika belum ada perubahan, itu artinya Firman belumlah berfungsi apa-apa dalam kehidupan kita. Adalah menarik jika kita bisa melihat keluhan Paulus tentang sulitnya untuk menaklukkan keinginan daging yang menginginkan berbagai perbuatan dosa seperti yang bisa kita baca dalam kitab Roma. Katanya: "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Apa maksudnya? Demikian penjelasan Paulus: "Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku." (ay 22-23). Bukankah konflik batin itu sering terjadi pula dalam hidup kita? Hati mungkin sangat haus akan firman Tuhan dan rindu untuk mengalami transformasi, berubah semakin baik dan lebih baik lagi, tapi berbagai keinginan daging bisa dengan segera menghambat dan menggagalkan. Walaupun kita sangat ingin berubah, kita masih saja gagal dan kembali jatuh pada dosa yang sama.
Ingatlah bahwa kita sebenarnya sudah dimerdekakan oleh Yesus sendiri. Yesus berkata: "Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." (Yohanes 8:31-32). Kemerdekaan sudah dianugerahkan kepada kita lewat mengetahui kebenaran. Akan tetapi bila kita tidak mengaplikasikan firman-firman itu secara nyata dalam setiap langkah kita, maka berbagai kedagingan kita akan siap mengembalikan kita kepada pelanggaran-pelanggaran atau kebiasaan lama kita yang buruk, kembali menempatkan kita sebagai tawanan dosa dan kehilangan kemerdekaan yang sudah dikaruniakan itu. Karena itulah kita harus selalu berjuang mengatasi keinginan daging, dan itu bisa kita lakukan lewat aplikasi secara langsung atas Firman-firman yang telah tertanam dengan lembut di hati kita di dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan.
Firman Allah itu sesungguhnya bukanlah hanya kumpulan huruf yang mati melainkan sesuatu yang hidup, kuat dan tajam. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman yang kita aplikasikan itu akan sanggup memberi perbedaan nyata dan membuat kita tahu mengenai apa yang benar dan mana yang salah. Firman Allah merupakan senjata yang ampuh untuk melawan segala godaan dosa dan memampukan kita untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus dan kebenaran Kerajaan yang Dia sampaikan.
Kembali kepada Yakobus, ia juga mengatakan bahwa "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:25). Tekun beribadah tapi tidak mampu menjaga lidah, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri, dan hanyalah akan membawa kesia-siaan belaka. (ay 26). Kita tahu bahwa kita harus mengasihi dan berdampak bagi lingkungan, tapi jika hanya sebatas tahu tanpa dilakukan maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita tahu bahwa kita harus hidup kudus, tapi jika kita terus terseret dalam kecemaran yang ditawarkan dunia, maka semua hanyalah akan sia-sia.
Maka Yakobus mengingatkan betapa pentingnya untuk meningkatkan keseriusan kita agar tampil sebagai orang-orang yang melakukan atau menerapkan Firman dalam kehidupannya alias menjadi pelaku Firman agar kita bisa terhindar dari kecemaran dunia. Dengan kata lain, ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah adalah ibadah yang menerapkan atau mengaplikasikan firman-firman Tuhan yang telah kita dengar, yang telah tertanam dalam hati kita, dalam setiap sendi kehidupan kita, menghidupi Firman-Firman itu secara nyata yang bisa membawa dampak luar biasa bagi lingkungan. Itulah yang akan memerdekakan kita dan akan mendatangkan kebahagiaan surgawi baik dalam hidup kita pribadi maupun orang-orang disekitar kita.
Be doers of the Word and not hearers only
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, July 11, 2013
Menjadi Pelaku Firman (1)
Ayat bacaan: Yakobus 1:23-24
=========================
"Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya."
Practice makes perfect adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk terus berlatih dalam proses kontinu agar bisa mencapai hasil sempurna. Kita tidaklah bisa langsung mencapai hasil maksimal. Ada proses yang harus kita jalani, dimana keseriusan dan ketekunan akan sangat menentukan apakah itu akan berhasil atau tidak. Orang yang sudah terlatih dalam pekerjaannya akan mendapat nilai lebih dalam dunia pekerjaan, itulah sebabnya pengalaman kerja menjadi salah satu poin penting yang sering disorot oleh perusahaan dalam merekrut tenaga kerja baru.
Beberapa aktor/aktris film yang harus memerankan karakter berat biasanya harus melakukan observasi menyeluruh terlebih dahulu agar aktingnya bisa bersinar. Dustin Hoffman yang memerankan tokoh penderita savant syndrome dalam film Rain Man masih terbawa aktingnya setelah film selesai bahkan setelah ia menerima penghargaan piala Oscar di akhir tahun 80an. Anthony Hopkins pemeran Dr Hannibal Lecter yang kejam dalam film Silence of the Lambs membuat banyak teman-temannya sempat takut bertemu karena karakternya begitu menyatu. Seorang aktor dari negara kita sendiri pernah bercerita kepada saya bagaimana sulitnya untuk memerankan tokoh yang sakit jiwa. Ia bercerita bahwa ia harus berhari-hari mengobservasi rumah sakit jiwa bahkan mencoba menetap di salah satu selnya. Setelah itu ia harus mengadopsi gerak gerik dan cara berbicara penderita lewat latihan berulang-ulang agar ia tidak lupa ketika di depan kamera. "Saya harus benar-benar menyatu dengan karakter itu agar akting saya terlihat nyata." katanya.
Di sisi lain apabila anda belajar tentang sesuatu dan tidak pernah mempraktekkannya, anda akan mudah lupa. Coba ingat-ingat pelajaran anda semasa SMA atau kuliah, bukankah anda sudah melupakan banyak pelajaran yang dahulu anda tahu? Sedangkan apa yang anda kerjakan saat ini setelah melewati proses dan perjalanan waktu yang signifikan tentu akan melekat di benak anda. Semua ini menunjukkan pentingnya untuk mengaplikasikan apa yang kita pelajari secara langsung dalam kehidupan nyata agar membawa manfaat yang baik dan tidak cepat kita lupakan.
Demikian pula dalam menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita perlu menerapkan apa yang kita pelajari secara langsung baik dalam pekerjaan maupun kehidupan agar semua tidak menguap percuma dan bisa membawa kebaikan dalam hidup kita. Kemarin saya sudah mengangkat pentingnya untuk tidak hanya berhenti mendengar Firman saja tetapi hendaklah kita menindaklanjutinya dengan menerapkan apa yang kita dengar dalam kehdupan nyata sehari-hari. Rajin beribadah raya, rajin mendengar kotbah, rajin mencatat, rajin baca Alkitab, itu semua tentu baik. Tapi itu semua cepat atau lambat akan menguap jika tidak diterapkan langsung dalam cara hidup kita. Hari ini mungkin masih ingat, tapi besok lusa bisa hilang ditelan waktu. Rajin mendengar kotbah itu amat baik. Mencatatnya, lebih baik lagi. Rajin membaca Alkitab dan mereview ulang catatan kotbah itu baik. Tapi semua itu tidak akan membawa manfaat apa-apa jika tidak dilakukan.
Yakobus sudah menyampaikan betapa pentingnya hal ini untuk kita perhatikan sejak pasal awal. Pertama-tama ia mengingatkan kita agar membersihkan segala kotoran di dalam hati kita agar bisa menerima firman dengan lembut di sana. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:21). Tapi itu belumlah cukup karena ia mengingatkan agar kita jangan berpuas diri hanya sampai disitu saja. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (ay 22). Bukan hanya sia-sia, Yakobus menggambarkannya sama seperti orang yang menipu diri sendiri. Alasannya? "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay 23-24).
Jika ayat ini agak membingungkan, maksud Yakobus adalah sebagai berikut. Bayangkan jika anda sedang bercermin. Anda hanya akan melakukan itu dalam waktu singkat hingga semuanya terlihat beres, lalu anda pun akan beranjak pergi dan tidak lagi mengingat-ingat apa yang barusan anda lihat. Selang beberapa waktu, wajah mungkin mulai berkeringat dan terlihat berminyak, rambut mulai kehilangan kerapiannya, dan itu tidak akan anda ketahui apabila anda tidak kembali bercermin. Itulah ilustrasi yang diberikan Yakobus. Orang yang berhenti hanya sampai mendengar firman tanpa melakukan ibarat orang yang hanya bercermin dalam waktu yang singkat kemudian sesaat kemudian tidak lagi ingat seperti apa rupa mereka.
(bersambung)
=========================
"Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya."
Practice makes perfect adalah sebuah ungkapan yang menggambarkan betapa pentingnya bagi kita untuk terus berlatih dalam proses kontinu agar bisa mencapai hasil sempurna. Kita tidaklah bisa langsung mencapai hasil maksimal. Ada proses yang harus kita jalani, dimana keseriusan dan ketekunan akan sangat menentukan apakah itu akan berhasil atau tidak. Orang yang sudah terlatih dalam pekerjaannya akan mendapat nilai lebih dalam dunia pekerjaan, itulah sebabnya pengalaman kerja menjadi salah satu poin penting yang sering disorot oleh perusahaan dalam merekrut tenaga kerja baru.
Beberapa aktor/aktris film yang harus memerankan karakter berat biasanya harus melakukan observasi menyeluruh terlebih dahulu agar aktingnya bisa bersinar. Dustin Hoffman yang memerankan tokoh penderita savant syndrome dalam film Rain Man masih terbawa aktingnya setelah film selesai bahkan setelah ia menerima penghargaan piala Oscar di akhir tahun 80an. Anthony Hopkins pemeran Dr Hannibal Lecter yang kejam dalam film Silence of the Lambs membuat banyak teman-temannya sempat takut bertemu karena karakternya begitu menyatu. Seorang aktor dari negara kita sendiri pernah bercerita kepada saya bagaimana sulitnya untuk memerankan tokoh yang sakit jiwa. Ia bercerita bahwa ia harus berhari-hari mengobservasi rumah sakit jiwa bahkan mencoba menetap di salah satu selnya. Setelah itu ia harus mengadopsi gerak gerik dan cara berbicara penderita lewat latihan berulang-ulang agar ia tidak lupa ketika di depan kamera. "Saya harus benar-benar menyatu dengan karakter itu agar akting saya terlihat nyata." katanya.
Di sisi lain apabila anda belajar tentang sesuatu dan tidak pernah mempraktekkannya, anda akan mudah lupa. Coba ingat-ingat pelajaran anda semasa SMA atau kuliah, bukankah anda sudah melupakan banyak pelajaran yang dahulu anda tahu? Sedangkan apa yang anda kerjakan saat ini setelah melewati proses dan perjalanan waktu yang signifikan tentu akan melekat di benak anda. Semua ini menunjukkan pentingnya untuk mengaplikasikan apa yang kita pelajari secara langsung dalam kehidupan nyata agar membawa manfaat yang baik dan tidak cepat kita lupakan.
Demikian pula dalam menerapkan nilai-nilai Kerajaan Allah. Kita perlu menerapkan apa yang kita pelajari secara langsung baik dalam pekerjaan maupun kehidupan agar semua tidak menguap percuma dan bisa membawa kebaikan dalam hidup kita. Kemarin saya sudah mengangkat pentingnya untuk tidak hanya berhenti mendengar Firman saja tetapi hendaklah kita menindaklanjutinya dengan menerapkan apa yang kita dengar dalam kehdupan nyata sehari-hari. Rajin beribadah raya, rajin mendengar kotbah, rajin mencatat, rajin baca Alkitab, itu semua tentu baik. Tapi itu semua cepat atau lambat akan menguap jika tidak diterapkan langsung dalam cara hidup kita. Hari ini mungkin masih ingat, tapi besok lusa bisa hilang ditelan waktu. Rajin mendengar kotbah itu amat baik. Mencatatnya, lebih baik lagi. Rajin membaca Alkitab dan mereview ulang catatan kotbah itu baik. Tapi semua itu tidak akan membawa manfaat apa-apa jika tidak dilakukan.
Yakobus sudah menyampaikan betapa pentingnya hal ini untuk kita perhatikan sejak pasal awal. Pertama-tama ia mengingatkan kita agar membersihkan segala kotoran di dalam hati kita agar bisa menerima firman dengan lembut di sana. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu." (Yakobus 1:21). Tapi itu belumlah cukup karena ia mengingatkan agar kita jangan berpuas diri hanya sampai disitu saja. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (ay 22). Bukan hanya sia-sia, Yakobus menggambarkannya sama seperti orang yang menipu diri sendiri. Alasannya? "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (ay 23-24).
Jika ayat ini agak membingungkan, maksud Yakobus adalah sebagai berikut. Bayangkan jika anda sedang bercermin. Anda hanya akan melakukan itu dalam waktu singkat hingga semuanya terlihat beres, lalu anda pun akan beranjak pergi dan tidak lagi mengingat-ingat apa yang barusan anda lihat. Selang beberapa waktu, wajah mungkin mulai berkeringat dan terlihat berminyak, rambut mulai kehilangan kerapiannya, dan itu tidak akan anda ketahui apabila anda tidak kembali bercermin. Itulah ilustrasi yang diberikan Yakobus. Orang yang berhenti hanya sampai mendengar firman tanpa melakukan ibarat orang yang hanya bercermin dalam waktu yang singkat kemudian sesaat kemudian tidak lagi ingat seperti apa rupa mereka.
(bersambung)
Wednesday, July 10, 2013
Mendengar dan Melakukan
Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya."
"Saya ingin setiap orang yang mendengar lagu saya terinspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi." Demikian ujar seorang penyanyi ketika ditanya tentang apa yang ia inginkan lewat album terbarunya. Ia ingin menginspirasi banyak orang, dan itu sejalan dengan pemilihan lirik yang positif. Ditengah-tengah maraknya lagu berisi pesan negatif, jalan yang dipilih penyanyi ini seperti melawan arus. Tapi itu adalah pilihan yang ia ambil dan tentu saja itulah yang baik.
Kita harus mengakui bahwa media musik bisa dipakai sebagai media yang efektif. Apakah itu untuk sesuatu yang inspiratif atau membangun, hanya bertujuan menghibur dengan menceritakan kejadian sehari-hari atau untuk sesuatu yang provokatif, menghasut atau menyampaikan pesan negatif dan hal-hal jahat lainnya untuk meracuni generasi muda. Bagaimana kita seharusnya menyikapi kandungan lagu? Tentu kita sendiri yang memutuskan apakah kita mau menyeleksi atau tidak. Seharusnya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik dan termotivasi lewat pesan yang ada didalamnya, sebaliknya menjaga agar tidak terpengaruh racun yang dibawa lewat pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi, semua tergantung dari kita. Lagu tetaplah lagu yang bisa saja hanya didengar karena menyukai musiknya atau menyukai suara penyanyinya tanpa mempedulikan apa yang ada di dalam lagu-lagu itu.
Jika pesan yang dikandung sebuah lagu tergantung dari kita apakah bisa mempengaruhi atau tidak, demikian pula kotbah yang anda dengar setiap minggunya di gereja. Apakah kotbah yang disampaikan itu bermakna positif dan mengubahkan anda menjadi lebih baik serta bertumbuh dalam Firman atau anda tergolong orang yang sering terkantuk-kantuk di gereja lalu menyalahkan pendetanya? Apakah anda termasuk yang mendapat pelajaran baru setiap minggunya atau langsung lupa tentang apa yang disampaikan begitu meninggalkan ruangan? Kita bisa serius mendengar lalu mencatat kemudian di rumah merenungkan kembali dan setelahnya mengaplikasikan apa yang kita dengar dalam hidup sehari-hari atau hanya menganggap angin lalu segala yang disampaikan pendeta di mimbar tanpa mempedulikannya sama sekali. Alangkah sayangnya apabila Firman yang kita dengar itu hanyalah bagaikan "lagu merdu" yang terdengar indah tapi tanpa makna, karena tidak ada iman dan keseriusan yang menyertai kita dalam menerima Firman-Firman Tuhan tersebut. Hanya berhenti sampai mendengar atau membaca, tapi tidak menjadi pelaku Firman itu akan menjadikan semuanya sia-sia belaka, bahkan dikatakan menipu diri sendiri seperti yang disebutkan dalam Yakobus 1:22. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."
Masih saja ada orang-orang yang suka mendengar kotbah tapi tidak mau melakukan. Mereka senang dan tertawa ketika kotbah terdengar lucu, menganggap mimbar hanyalah panggung hiburan dan berharap pendetanya tampil kocak bagai stand up comedian. Mereka tidak berminat menangkap esensi Firman Tuhan yang terkandung di dalam kotbah tersebut. Yehezkiel adalah seorang nabi yang pernah berhadapan dengan orang-orang bertipe seperti itu. Ia berbicara dan terus berbicara pada sekelompok orang yang hanya suka mendengar tapi tidak mau atau tidak tergerak untuk melakukan pesan yang ia sampaikan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: "Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." (Yehezkiel 33:31-32). Jangan salah, kelompok orang-orang Israel dengan tipe seperti ini sangat suka mendengar pesan Tuhan. Mereka duduk berkerumun seperti kita yang tengah mengikuti ibadah hari Minggu di gereja. Mereka familiar dengan suara Tuhan, bahkan mereka bisa mengatakan kata-kata berisikan cinta kasih, tetapi sesungguhnya semua itu hanya berhenti di telinga dan paling jauh di bibir saja. Mereka terus berbuat dosa, mereka tetap tidak menuruti atau melakukan Firman yang mereka dengar lewat Yehezkiel.
Jangan lupa, Firman Tuhan sudah mengingatkan kita bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan berarti mati. (ay 26). Adalah baik untuk rajin membaca firman Tuhan, rajin mendengar kotbah baik dalam ibadah Minggu atau lewat rekaman-rekaman, tapi akan sangat jauh lebih baik lagi kalau kita mau mengaplikasikannya secara nyata dalam hidup.
Menjadi pelaku firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita dan berarti membangun sebuah fondasi kehidupan yang kokoh. Yesus berkata: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27). Perhatikanlah bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan "mendengar", tapi melanjutkan kalimat dengan "melakukannya". Itulah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi problem apapun yang bisa saja menghadang di depan sana.
Mari kita periksa seperti apa sikap kita hari ini. Apakah kita tahu mengenai peringatan Tuhan agar kita jangan takut tetapi masih saja hidup dicekam kekhawatiran, apakah kita masih saja ragu menghadapi masa depan meski kita sudah tahu bahwa Tuhan siap menyertai setiap langkah kita, apakah kita masih sulit membantu sesama meski sudah sering mendengar bahwa orang percaya seharusnya memberkati dan berdampak bagi orang lain, apakah kita masih suka berburuk sangka dan pesimis walaupun tahu bahwa Firman Tuhan sangat menentang sikap seperti itu dan lain-lain. Jika kita masih bersikap seperti ini, artinya kita masih menganggap Firman Tuhan hanyalah bagaikan musik merdu tanpa makna dan harus segera mengubah sikap. Jangan biarkan Firman Tuhan berlalu hanya bagai lagu yang merdu tanpa makna, tetapi biarlah itu semua bergema dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.
Jangan berhenti hanya sebagai pendengar tapi terapkanlah Firman Tuhan dalam segala aspek kehidupan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
======================
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya."
"Saya ingin setiap orang yang mendengar lagu saya terinspirasi untuk menjadi orang yang lebih baik lagi." Demikian ujar seorang penyanyi ketika ditanya tentang apa yang ia inginkan lewat album terbarunya. Ia ingin menginspirasi banyak orang, dan itu sejalan dengan pemilihan lirik yang positif. Ditengah-tengah maraknya lagu berisi pesan negatif, jalan yang dipilih penyanyi ini seperti melawan arus. Tapi itu adalah pilihan yang ia ambil dan tentu saja itulah yang baik. Kita harus mengakui bahwa media musik bisa dipakai sebagai media yang efektif. Apakah itu untuk sesuatu yang inspiratif atau membangun, hanya bertujuan menghibur dengan menceritakan kejadian sehari-hari atau untuk sesuatu yang provokatif, menghasut atau menyampaikan pesan negatif dan hal-hal jahat lainnya untuk meracuni generasi muda. Bagaimana kita seharusnya menyikapi kandungan lagu? Tentu kita sendiri yang memutuskan apakah kita mau menyeleksi atau tidak. Seharusnya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik dan termotivasi lewat pesan yang ada didalamnya, sebaliknya menjaga agar tidak terpengaruh racun yang dibawa lewat pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi, semua tergantung dari kita. Lagu tetaplah lagu yang bisa saja hanya didengar karena menyukai musiknya atau menyukai suara penyanyinya tanpa mempedulikan apa yang ada di dalam lagu-lagu itu.
Jika pesan yang dikandung sebuah lagu tergantung dari kita apakah bisa mempengaruhi atau tidak, demikian pula kotbah yang anda dengar setiap minggunya di gereja. Apakah kotbah yang disampaikan itu bermakna positif dan mengubahkan anda menjadi lebih baik serta bertumbuh dalam Firman atau anda tergolong orang yang sering terkantuk-kantuk di gereja lalu menyalahkan pendetanya? Apakah anda termasuk yang mendapat pelajaran baru setiap minggunya atau langsung lupa tentang apa yang disampaikan begitu meninggalkan ruangan? Kita bisa serius mendengar lalu mencatat kemudian di rumah merenungkan kembali dan setelahnya mengaplikasikan apa yang kita dengar dalam hidup sehari-hari atau hanya menganggap angin lalu segala yang disampaikan pendeta di mimbar tanpa mempedulikannya sama sekali. Alangkah sayangnya apabila Firman yang kita dengar itu hanyalah bagaikan "lagu merdu" yang terdengar indah tapi tanpa makna, karena tidak ada iman dan keseriusan yang menyertai kita dalam menerima Firman-Firman Tuhan tersebut. Hanya berhenti sampai mendengar atau membaca, tapi tidak menjadi pelaku Firman itu akan menjadikan semuanya sia-sia belaka, bahkan dikatakan menipu diri sendiri seperti yang disebutkan dalam Yakobus 1:22. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri."
Masih saja ada orang-orang yang suka mendengar kotbah tapi tidak mau melakukan. Mereka senang dan tertawa ketika kotbah terdengar lucu, menganggap mimbar hanyalah panggung hiburan dan berharap pendetanya tampil kocak bagai stand up comedian. Mereka tidak berminat menangkap esensi Firman Tuhan yang terkandung di dalam kotbah tersebut. Yehezkiel adalah seorang nabi yang pernah berhadapan dengan orang-orang bertipe seperti itu. Ia berbicara dan terus berbicara pada sekelompok orang yang hanya suka mendengar tapi tidak mau atau tidak tergerak untuk melakukan pesan yang ia sampaikan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: "Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." (Yehezkiel 33:31-32). Jangan salah, kelompok orang-orang Israel dengan tipe seperti ini sangat suka mendengar pesan Tuhan. Mereka duduk berkerumun seperti kita yang tengah mengikuti ibadah hari Minggu di gereja. Mereka familiar dengan suara Tuhan, bahkan mereka bisa mengatakan kata-kata berisikan cinta kasih, tetapi sesungguhnya semua itu hanya berhenti di telinga dan paling jauh di bibir saja. Mereka terus berbuat dosa, mereka tetap tidak menuruti atau melakukan Firman yang mereka dengar lewat Yehezkiel.
Jangan lupa, Firman Tuhan sudah mengingatkan kita bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan berarti mati. (ay 26). Adalah baik untuk rajin membaca firman Tuhan, rajin mendengar kotbah baik dalam ibadah Minggu atau lewat rekaman-rekaman, tapi akan sangat jauh lebih baik lagi kalau kita mau mengaplikasikannya secara nyata dalam hidup.
Menjadi pelaku firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita dan berarti membangun sebuah fondasi kehidupan yang kokoh. Yesus berkata: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27). Perhatikanlah bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan "mendengar", tapi melanjutkan kalimat dengan "melakukannya". Itulah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi problem apapun yang bisa saja menghadang di depan sana.
Mari kita periksa seperti apa sikap kita hari ini. Apakah kita tahu mengenai peringatan Tuhan agar kita jangan takut tetapi masih saja hidup dicekam kekhawatiran, apakah kita masih saja ragu menghadapi masa depan meski kita sudah tahu bahwa Tuhan siap menyertai setiap langkah kita, apakah kita masih sulit membantu sesama meski sudah sering mendengar bahwa orang percaya seharusnya memberkati dan berdampak bagi orang lain, apakah kita masih suka berburuk sangka dan pesimis walaupun tahu bahwa Firman Tuhan sangat menentang sikap seperti itu dan lain-lain. Jika kita masih bersikap seperti ini, artinya kita masih menganggap Firman Tuhan hanyalah bagaikan musik merdu tanpa makna dan harus segera mengubah sikap. Jangan biarkan Firman Tuhan berlalu hanya bagai lagu yang merdu tanpa makna, tetapi biarlah itu semua bergema dalam kehidupan nyata kita sehari-hari.
Jangan berhenti hanya sebagai pendengar tapi terapkanlah Firman Tuhan dalam segala aspek kehidupan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, July 9, 2013
Syalom (3)
(sambungan)
Akan halnya menyebar ke luar kalangan orang percaya hingga ke seluruh penjuru bumi, adakah Tuhan ingin kita memberkati dan mendoakan orang lain di luar komunitas orang percaya? Pedulikah Tuhan terhadap mereka? Jawabannya, ya, Tuhan peduli, sangat-sangat peduli. Tuhan mengasihi semua orang tanpa terkecuali, dan Yesus datang untuk menyelamatkan siapapun tanpa memandang asal-usul, latar belakang, suku, ras dan sebagainya.
Dalam banyak bagian yang tertulis di dalam Alkitab kita bisa menemukan kasih Tuhan terhadap ciptaanNya, meski mereka belumlah bisa dijangkau untuk selamat. Salah satu contoh bisa kita lihat dalam Kejadian 41. Pada bagian ini kita bisa membaca kisah ketika Firaun mendapat mimpi dan menjadi gelisah karena tidak mengerti makna dari mimpi itu. Ia pun kemudian memanggil Yusuf untuk menjelaskan arti dari mimpinya. "Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." (Kejadian 41:15). Lalu apa jawaban Yusuf? "Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (ay 16). Tuhan juga mau syalom kepada Firaun, dan itu disampaikan lewat Yusuf. Seperti inilah gambaran syalom yang mengalir dari diri kita menuju keluar.
Dalam Yesaya 11:9 dikatakan "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya." Tuhan rindu seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, for the earth to be filled fully with God's knowledge, seperti air memenuhi laut, as the waters cover the sea. Dengan kata lain, Tuhan rindu bumi penuh dengan syalom, penuh kedamaian, keamanan, perlindungan, kesejahteraan, kemakmuran, sentosa dan bukan berbagai perang, kebencian, dendam, iri hati, kekejaman, kemunafikan dan sebagainya yang mengatasnamakan perbedaan.
Tuhan kita bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia bukan Tuhan yang hanya memberkati sebagian dan mengutuk yang lain. Tidak, sama sekali tidak. Tuhan kita adalah Allah yang mengasihi semua orang tanpa terkecuali dan rindu untuk memberi berkat hingga kepenuhan dan kelimpahan bagi semuanya. Jika sebagian dari orang dunia masih bersikap diskriminatif dalam mengucap berkat bagi sesamanya, bahkan dianggap dosa apabila mengucapkan itu kepada orang diluar komunitas mereka, tidaklah demikian bagi kita. Kita harus menjadi saluran berkat baik di kalangan sendiri maupun keluar tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Ucapan doa sejahtera, sebuah syalom hendaklah mengalir mulai dari kita, lalu menyebar diantara orang percaya dan kemudian bermultiplikasi secara luas hingga mampu menjangkau orang-orang diluar. Menjadi saluran berkat lewat ucapan, tindakan, perbuatan, dan berdampak bagi lingkungan tempat tinggal, pekerjaan/pendidikan, kota, bangsa dan negara hingga dunia. Seperti itulah besarnya peran orang-orang percaya dalam perluasan Kerajaan Allah di muka bumi.
Ucapan syalom bukanlah sekedar sapaan seperti 'apa kabar', tetapi memiliki makna dan implikasi yang luas dari bentuk doa yang kita sampaikan kepada orang lain. The world today needs it more than ever. Alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa berfungsi atau berdampak sama sekali. Kita dipanggil untuk mengikuti keteladanan Kristus, no matter what it cost (1 Petrus 2:21), kita juga dipanggil untuk menerima berkat daripadaNya dan kemudian bergerak memberkati orang lain.
Dalam bentuk yang paling sederhana dan relatif tanpa harus mengeluarkan tenaga maupun biaya, sebuah ucapan syalom bisa membawa berkat besar bagi orang yang kita ucapkan. Jadi kalau anda mengucapkan syalom lagi kepada orang lain, pahamilah maknanya dan besarnya kandungan doa yang ada didalamnya. Dalam ucapan salam ada doa, dibalik perkataan ada kuasa. Mari kita sama-sama belajar untuk saling memberkati dan mendoakan. Syalom bagi anda semua, kiranya segala kebaikan Tuhan tercurah bagi anda. Tuhan memberkati.
Syalom berisi doa sejahtera yang punya arti luas dan besar agar yang diucapkan dipenuhi kebaikan Tuhan dalam segala hal
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Akan halnya menyebar ke luar kalangan orang percaya hingga ke seluruh penjuru bumi, adakah Tuhan ingin kita memberkati dan mendoakan orang lain di luar komunitas orang percaya? Pedulikah Tuhan terhadap mereka? Jawabannya, ya, Tuhan peduli, sangat-sangat peduli. Tuhan mengasihi semua orang tanpa terkecuali, dan Yesus datang untuk menyelamatkan siapapun tanpa memandang asal-usul, latar belakang, suku, ras dan sebagainya.
Dalam banyak bagian yang tertulis di dalam Alkitab kita bisa menemukan kasih Tuhan terhadap ciptaanNya, meski mereka belumlah bisa dijangkau untuk selamat. Salah satu contoh bisa kita lihat dalam Kejadian 41. Pada bagian ini kita bisa membaca kisah ketika Firaun mendapat mimpi dan menjadi gelisah karena tidak mengerti makna dari mimpi itu. Ia pun kemudian memanggil Yusuf untuk menjelaskan arti dari mimpinya. "Berkatalah Firaun kepada Yusuf: "Aku telah bermimpi, dan seorangpun tidak ada yang dapat mengartikannya, tetapi telah kudengar tentang engkau: hanya dengan mendengar mimpi saja engkau dapat mengartikannya." (Kejadian 41:15). Lalu apa jawaban Yusuf? "Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun." (ay 16). Tuhan juga mau syalom kepada Firaun, dan itu disampaikan lewat Yusuf. Seperti inilah gambaran syalom yang mengalir dari diri kita menuju keluar.
Dalam Yesaya 11:9 dikatakan "Tidak ada yang akan berbuat jahat atau yang berlaku busuk di seluruh gunung-Ku yang kudus, sebab seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan TUHAN, seperti air laut yang menutupi dasarnya." Tuhan rindu seluruh bumi penuh dengan pengenalan akan Tuhan, for the earth to be filled fully with God's knowledge, seperti air memenuhi laut, as the waters cover the sea. Dengan kata lain, Tuhan rindu bumi penuh dengan syalom, penuh kedamaian, keamanan, perlindungan, kesejahteraan, kemakmuran, sentosa dan bukan berbagai perang, kebencian, dendam, iri hati, kekejaman, kemunafikan dan sebagainya yang mengatasnamakan perbedaan.
Tuhan kita bukanlah Allah yang pilih kasih. Dia bukan Tuhan yang hanya memberkati sebagian dan mengutuk yang lain. Tidak, sama sekali tidak. Tuhan kita adalah Allah yang mengasihi semua orang tanpa terkecuali dan rindu untuk memberi berkat hingga kepenuhan dan kelimpahan bagi semuanya. Jika sebagian dari orang dunia masih bersikap diskriminatif dalam mengucap berkat bagi sesamanya, bahkan dianggap dosa apabila mengucapkan itu kepada orang diluar komunitas mereka, tidaklah demikian bagi kita. Kita harus menjadi saluran berkat baik di kalangan sendiri maupun keluar tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Ucapan doa sejahtera, sebuah syalom hendaklah mengalir mulai dari kita, lalu menyebar diantara orang percaya dan kemudian bermultiplikasi secara luas hingga mampu menjangkau orang-orang diluar. Menjadi saluran berkat lewat ucapan, tindakan, perbuatan, dan berdampak bagi lingkungan tempat tinggal, pekerjaan/pendidikan, kota, bangsa dan negara hingga dunia. Seperti itulah besarnya peran orang-orang percaya dalam perluasan Kerajaan Allah di muka bumi.
Ucapan syalom bukanlah sekedar sapaan seperti 'apa kabar', tetapi memiliki makna dan implikasi yang luas dari bentuk doa yang kita sampaikan kepada orang lain. The world today needs it more than ever. Alangkah sayangnya apabila kita tidak bisa berfungsi atau berdampak sama sekali. Kita dipanggil untuk mengikuti keteladanan Kristus, no matter what it cost (1 Petrus 2:21), kita juga dipanggil untuk menerima berkat daripadaNya dan kemudian bergerak memberkati orang lain.
Dalam bentuk yang paling sederhana dan relatif tanpa harus mengeluarkan tenaga maupun biaya, sebuah ucapan syalom bisa membawa berkat besar bagi orang yang kita ucapkan. Jadi kalau anda mengucapkan syalom lagi kepada orang lain, pahamilah maknanya dan besarnya kandungan doa yang ada didalamnya. Dalam ucapan salam ada doa, dibalik perkataan ada kuasa. Mari kita sama-sama belajar untuk saling memberkati dan mendoakan. Syalom bagi anda semua, kiranya segala kebaikan Tuhan tercurah bagi anda. Tuhan memberkati.
Syalom berisi doa sejahtera yang punya arti luas dan besar agar yang diucapkan dipenuhi kebaikan Tuhan dalam segala hal
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, July 8, 2013
Syalom (2)
(sambungan)
Agar sebuah syalom dapat berfungsi baik, syalom harus dimulai dari orang percaya. Yesus mengatakan "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:9-10). Lihatlah bahwa Tuhan mau datang ke dunia bukan cuma sekedar supaya kita selamat tapi agar kita memiliki hidup yang penuh dengan segala kelimpahan, being able to have and enjoy life, and have it in abundance. Kata kelimpahan atau abundance ini berarti to the full, until it overflows, alias hingga mencapai kepenuhan hingga melimpah keluar.
Dari orang percaya, syalom kemudian harus menyebar ke komunitas orang percaya lainnya. Dari Mazmur 122:1-9 yang kita baca kemarin jelas terlihat bahwa doa sejahtera harus saling disampaikan/dibagikan satu sama lain. "Berdoalah bagi kesejahteraan Yerusalem," kata Daud dalam ayat 6, "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa." Yerusalem hari ini mengacu kepada komunitas orang percaya, Israel-israel secara rohani. Jadi biasakanlah mengucap syalom secara tulus dan serius kepada sesama orang percaya. Saling memberkati, saling mendoakan, saling meminta kiranya Tuhan memberkati secara berkepenuhan dan melimpah atas kehidupan satu sama lain.
Dari sebaran di komunitas orang percaya, selanjutnya syalom harus menyebar ke luar orang percaya hingga ke seluruh ujung bumi. Agar ini bisa kita lakukan dan punya makna, kita harus tahu betul tentang maksud dan tujuan ketika syalom kita ucapkan. Ingatlah bahwa dengan mengucapkan syalom, itu pun menggambarkan kesepakatan atau setuju dengan Tuhan. Ketika kita sepakat dengan Tuhan, maka yang keluar adalah ucapan syukur, sukacita dan memberi rasa damai, tentram dalam hati kita. Disamping itu kita perlu pula membangun pola pikir dan tindakan dalam Firman Tuhan karena mustahil bagi kita untuk bisa menjadi berkat dan memberkati apabila kita sendiri masih belum beres dalam memahami kebenaran dan ketetapanNya.
Jadi secara ringkas kita bisa melihat bahwa syalom dari Tuhan merupakan sebuah ucapan doa agar kiranya Tuhan memberkati orang yang kita ucapkan dengan segala kebaikan dalam aspek kehidupannya, baik kesejahteraan, sentosa, keamanan, proteksi atau perlindungan, kesehatan, kemakmuran, ketentraman dan lain-lain yang harus dimulai dari kehidupan orang percaya, kemudian menyebar kepada komunitas orang percaya dan akhirnya harus bisa menjangkau orang-orang diluar hingga mencapai ujung bumi. Seperti itulah syalom seharusnya yang diinginkan Tuhan.
(bersambung)
Agar sebuah syalom dapat berfungsi baik, syalom harus dimulai dari orang percaya. Yesus mengatakan "Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan." (Yohanes 10:9-10). Lihatlah bahwa Tuhan mau datang ke dunia bukan cuma sekedar supaya kita selamat tapi agar kita memiliki hidup yang penuh dengan segala kelimpahan, being able to have and enjoy life, and have it in abundance. Kata kelimpahan atau abundance ini berarti to the full, until it overflows, alias hingga mencapai kepenuhan hingga melimpah keluar.
Dari orang percaya, syalom kemudian harus menyebar ke komunitas orang percaya lainnya. Dari Mazmur 122:1-9 yang kita baca kemarin jelas terlihat bahwa doa sejahtera harus saling disampaikan/dibagikan satu sama lain. "Berdoalah bagi kesejahteraan Yerusalem," kata Daud dalam ayat 6, "Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa." Yerusalem hari ini mengacu kepada komunitas orang percaya, Israel-israel secara rohani. Jadi biasakanlah mengucap syalom secara tulus dan serius kepada sesama orang percaya. Saling memberkati, saling mendoakan, saling meminta kiranya Tuhan memberkati secara berkepenuhan dan melimpah atas kehidupan satu sama lain.
Dari sebaran di komunitas orang percaya, selanjutnya syalom harus menyebar ke luar orang percaya hingga ke seluruh ujung bumi. Agar ini bisa kita lakukan dan punya makna, kita harus tahu betul tentang maksud dan tujuan ketika syalom kita ucapkan. Ingatlah bahwa dengan mengucapkan syalom, itu pun menggambarkan kesepakatan atau setuju dengan Tuhan. Ketika kita sepakat dengan Tuhan, maka yang keluar adalah ucapan syukur, sukacita dan memberi rasa damai, tentram dalam hati kita. Disamping itu kita perlu pula membangun pola pikir dan tindakan dalam Firman Tuhan karena mustahil bagi kita untuk bisa menjadi berkat dan memberkati apabila kita sendiri masih belum beres dalam memahami kebenaran dan ketetapanNya.
Jadi secara ringkas kita bisa melihat bahwa syalom dari Tuhan merupakan sebuah ucapan doa agar kiranya Tuhan memberkati orang yang kita ucapkan dengan segala kebaikan dalam aspek kehidupannya, baik kesejahteraan, sentosa, keamanan, proteksi atau perlindungan, kesehatan, kemakmuran, ketentraman dan lain-lain yang harus dimulai dari kehidupan orang percaya, kemudian menyebar kepada komunitas orang percaya dan akhirnya harus bisa menjangkau orang-orang diluar hingga mencapai ujung bumi. Seperti itulah syalom seharusnya yang diinginkan Tuhan.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...

