Monday, February 11, 2013

Seperti Untuk Tuhan

Ayat bacaan: Kolose 3:23
================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia."

Ada sebuah kutipan dari perkataan Martin Luther King, Jr yang bagi saya sangatlah penting untuk kita renungkan. "If a man is called to be a street sweeper, he should sweep streets even as Michelangelo painted, or Beethoven composed music, or Shakespeare wrote poetry. He should sweep streets so well that all the hosts of heaven and earth will pause to say, here lived a great street sweeper who did his job well." Ini adalah sebuah himbauan agar kita tidak menilai besar kecilnya pekerjaan terlalu sempit, lalu bisa menghargai pekerjaan itu seberapapun kecilnya menurut pandangan kita. Ada banyak orang yang menganggap tingkat keseriusan bekerja itu berbanding lurus dengan upah yang mereka dapatkan. Mereka cukup bekerja ala kadarnya atau bahkan asal-asalan apabila pekerjaan itu dinilai terlalu ringan atau mungkin juga karena upahnya dianggap terlalu kecil bagi mereka. Saya mengerti jika orang akan lebih termotivasi jika mereka mendapatkan upah yang memadai, apalagi jika disertai insentif. Itu akan membuat orang lebih bersemangat untuk memberi yang terbaik bukan? Bisa jadi ya. Saya juga mengerti, ada banyak pimpinan yang memanfaatkan karyawannya secara keterlaluan, menyuruh mereka melakukan lebih dari apa yang menjadi job description mereka. Itu terjadi di dunia terlebih akhir-akhir ini, dan karenanya saya tidak ingin pula serta merta menyalahkan orang yang mengukur tingkat keseriusannya sesuai apa yang mereka dapatkan. Apa yang ingin saya bagikan hanyalah untuk mengingatkan bagaimana kita harus bekerja menurut firman Tuhan.

Martin Luther King, Jr mengatakan bahwa jika seseorang memang dipanggil untuk menyapu jalan, mereka seharusnya bersyukur untuk itu dan mengerjakan sebaik-baiknya, sebaik dan seindah Michaelangelo melukis atau Beethoven mengkomposisi karyanya. Kita mungkin bertanya, bagaimana mungkin tukang sapu bisa melakukan karya seni seindah kedua maestro legendaris sepanjang masa ini? Tapi sesungguhnya jika kita renungkan, hasilnya tentu bisa menjadi sangat baik dan sangat indah, apapun itu yang kita kerjakan, apabila kita melakukannya dengan sepenuh hati, dengan serius dan melakukannya seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Dan itulah yang sesungguhnya sudah diingatkan sejak lama kepada kita semua. Ayatnya berbunyi: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ini adalah sebuah ayat yang sebenarnya tidak asing lagi bagi kita tapi sangatlah jarang untuk diterapkan.

Mari saya bagikan sedikit pengalaman saya pribadi. Di awal karir saya sebagai pengajar, saya memulainya dari tingkat bawah hanya sebagai asisten. Pendapatannya sangat tidak layak, dan banyak yang mengatakan bahwa saya bodoh untuk mau serius dengan upah yang tidak sepadan seperti itu.  Tapi saya memutuskan untuk tetap melakukan yang terbaik, karena saya percaya, ada sesuatu yang jauh lebih bernilai daripada sekedar uang. Apa itu? Saya butuh Tuhan berkenan atas hidup saya dan terhadap apa yang saya kerjakan. Saya berpikir untuk memuliakan Tuhan atas segala hal yang saya perbuat. Itu yang menjadi motivasi saya, dan itulah yang mendorong saya untuk melakukan segala yang terbaik dalam setiap hal yang saya kerjakan. Dan keputusan saya itu ternyata tidak salah. Tuhan ternyata mencukupkan segalanya sehingga saya dan istri tidak pernah kekurangan suatu apapun. Dia memang Tuhan yang menyediakan. Puji Tuhan untuk itu.

Pekerjaan apapun, selama pekerjaan itu baik dan benar, lakukanlah sungguh-sungguh seperti kita melakukannya untuk Tuhan. Tuhan sanggup memberkati pekerjaan anda dan memberi kelimpahan jika Dia berkenan atas usaha anda. Itu adalah sesuatu yang sifatnya pasti. Pekerjaan yang dianggap rendah sekalipun oleh manusia, akan berharga sangat tinggi untuk Tuhan, jika kita melakukannya untuk Tuhan, atas kasih dan rasa syukur kita pada penyertaanNya dalam hidup kita, dalam namaNya. Kita lihat ayat sebelum ayat bacaan hari ini: "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (Kolose 3:22) Memang apa yang dinyatakan Paulus ditujukan untuk hamba-hamba mengenai ketaatan akan tuan mereka, namun apa yang dinyatakan sudah sepantasnya berlaku bagi setiap profesi atau pekerjaan. Semua itu akan sangat berarti di hadapanNya, dan merupakan persembahan yang harum jika kita mempersembahkannya untuk Tuhan.

Segala sesuatu yang kita kerjakan adalah baik jika kita lakukan untuk memuliakan Tuhan. "Kita melakukan pekerjaan Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah." (1 Korintus 10:31). Kita juga harus melakukan pekerjaan dengan kasih. "Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!"(1 korintus 16:14). Dan lakukanlah perkerjaan kita dalam nama Yesus disertai ucapan syukur. "Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita."(Kolose 3:17). Ingatlah bahwa pekerjaan sekecil apapun yang kita peroleh merupakan pemberian yang baik dan sempurna dari Allah. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." (Yakobus 1:17). Dan karenanya itu pantas kita syukuri. Tidak ada cara yang lebih indah untuk berterimakasih atas pemberianNya dengan bekerja sungguh-sungguh sebaik mungkin dan memuliakanNya di atas segalanya, dengan senantiasa dipenuhi ucapan syukur dalam nama Kristus. Selain itu, lewat cara dan etos kerja kita pula-lah kita bisa mengenalkan Yesus kepada teman-teman yang belum mengenalNya, seperti yang digambarkan pada ayat berikut: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." (1 Tesalonika 4:11-12).

Semua pekerjaan yang baik dan benar merupakan berkat luar biasa dari Tuhan, tidak perduli kecil atau besar. Ketika kita bisa mempertanggungjawabkan tugas kecil, maka Tuhan pun sanggup mempercayakan tugas-tugas yang lebih besar lagi.

Segala pekerjaan yang baik dan benar adalah berkat dari Tuhan, karenanya lakukanlah dengan sepenuh hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 10, 2013

Lahirnya Kehidupan Baru

Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

Memindahkan pohon yang sudah terlanjur berakar di sebuah tempat ke lokasi yang baru bisa jadi riskan. Beberapa diantaranya bisa mengalami stres, dan jika itu yang terjadi maka pohon itu bisa berbulan-bulan tidak berdaun seolah mati, meski ia masih bisa bertahan hidup. Saya pernah mengalami hal itu ketika memindahkan sebuah pohon ke tempat lain. Pohon tersebut sempat tidak bereaksi apa-apa selama berbulan-bulan. Tidak ada apapun yang tumbuh, hanya batang yang botak tanpa memperlihatkan adanya gejala kehidupan sama sekali. Saya mulanya ragu apakah pohon itu masih hidup atau tidak, apakah pohon itu sudah saatnya saya cabut dan buang atau masih bisa selamat dan berdaun/berbunga lebat kembali. Saya pun memutuskan untuk membiarkan dahulu untuk sementara waktu sambil terus diberi pupuk dan disiram secara teratur. Untunglah saya tidak memutuskan untuk membuangnya, karena setelah beberapa bulan kemudian dari pohon itu mulai muncul tunas dan daun. Sejak saat itu pohon itu seperti terlahir kembali dan dengan cepat bercabang-cabang dengan daun yang segar. Bahkan bunganya pun kemudian tumbuh dengan suburnya. Hari ini pohon tersebut terlihat sangat indah dengan rangkaian bunga putih yang wangi. Apa yang terjadi pada pohon ini mengingatkan saya akan sebuah gambaran kehidupan baru yang lahir dari sesuatu yang sudah mati.

Berbicara tentang pohon, saya teringat akan sebuah pohon yang cukup sering disebutkan di dalam Perjanjian Lama yaitu pohon badam alias almond tree. Pohon ini punya keistimewaan luar biasa karena bisa tetap tumbuh dalam keempat musim, termasuk di dalam musim salju ketika sebagian besar tanaman lainnya akan meranggas. Dalam bahasa Ibrani kata badam ini berarti "yang berjaga" atau "yang bangun", menggambarkan karakteristik pohon badam yang berbeda dari pohon-pohon lainnya, terutama atas kemampuannya untuk bisa terus produktif dalam keempat musim berbeda. Hari ini mari kita lihat ketika pohon ini disebutkan di dalam Alkitab pada jaman Musa dan Harun, yaitu dalam kitab Bilangan pasal 17.

Pada saat itu Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Dalam pesan itu secara spesifik Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu lalu diperintahkan untuk ditaruh di dalam Kemah Pertemuan di mana peti yang berisi tabut Perjanjian berada. Tuhan lalu bersabda: "Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi." (Bilangan 17:5). Lalu yang terjadi selanjutnya adalah sebagai berikut. "Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam." (ay 8). Ternyata tongkat Harunlah yang mengeluarkan tunas. Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, "Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati." (ay 10).

Sebuah tongkat pada masa itu terbuat dari sebatang kayu yang sudah mati. Apa yang dialami oleh Harun menjadi momen bagi Tuhan untuk menunjukkan kuasaNya yang ajaib, untuk memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang notabene benda mati berbicara mengenai kehidupan baru yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi orang percaya, hidup ditengah keduniawian yang "mati" secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati. Kita mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah seperti halnya pohon badam. Selain daripada itu, jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita,  mengalami banyak "kematian" dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam jalan lurus lewat pertobatan menyeluruh dan sungguh-sungguh.

Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita telah dimatikan dari dosa dan kehidupan buruk kita yang lama kemudian menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru. We become a whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, teapt seperti tongkat Harun yang berasal dari batang yang sudah mati tetapi kemudian bertunas dan berbunga, hidup kembali. Jika kita masih berselubung dosa maka lahir baru itu pun menjadi kehilangan makna. Kita tidak menjadi ciptaan baru yang benar-benar baru jika masih menghidupi kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk yang penuh dosa. Maka kelahiran baru yang dianugerahkan Tuhan harusnya menjadi titik awal bagi kita untuk memulai sebuah hidup baru yang bersih, bukan sebaliknya malah dicemari lagi dengan dosa-dosa seperti dahulu.

Paulus pun mengingatkan hal ini. "Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru." (Roma 6:2-4). Kita semua yang dibaptis dalam Kristus telah mengenakan Kristus. (Galatia 3:27). Dengan demikian seharusnya tidak ada lagi tempat bagi dosa untuk terus hinggap dan tinggal dalam hidup kita kita. Hidup dalam Kristus akan membuat kita bisa bertunas dan berbuah sepanjang musim, tanpa peduli apa kondisi, situasi atau iklim yang tengah kita hadapi.

Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bahwa Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Itu adalah kesempatan emas yang seharusnya tidak kita lewatkan. Pertobatan adalah awal dari pemulihan. Tidak peduli sesulit atau separah apapun masa lalu kita, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai "kematian" baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan mampu memulihkan kita dari beragam kematian dan menumbuhkan tunas-tunas segar baru dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 9, 2013

Yosua dan Kemuliaan Tuhan

Ayat bacaan: Keluaran 33:11
===========================
"Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu."

Mengalami kemuliaan Tuhan dan merasakan hadiratNya tentu merupakan kerinduan setiap orang percaya. Masalahnya, berbagai kesibukan yang menyita waktu membuat kita menomor duakan menjalin hubungan dengan Tuhan, melewatkan saat-saat teduh, lupa berdoa, dan akhirnya tidak lagi menempatkan Tuhan sebagai prioritas tertinggi dalam hidup. Maka kita pun semakin sulit saja mengalami kemuliaan Tuhan dalam hidup kita. Belum lagi berbagai dosa dan godaan dunia, dan keinginan daging pun dapat menyebabkan orang kehilangan kemuliaan Tuhan dalam hidupnya. Dalam renungan kali ini saya ingin mengajak teman-teman untuk melihat kisah Yosua yang menyaksikan langsung kemuliaan Tuhan ketika tengah menjadi abdi Musa.

Yosua adalah abdi atau hamba Musa yang setia, yang selalu mengikuti kemanapun Musa pergi. Pada periode kehidupan di padang gurun pun, Yosua selalu hadir di dekat Musa dan melihat segala yang terjadi. Salah satu saat terpenting yang ia alami adalah melihat sendiri peristiwa perjumpaan Musa dengan Tuhan seperti yang tertulis dalam Keluaran 33:11: "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu."
Dari ayat diatas kita bisa melihat sebuah kejadian yang menarik. Pada saat itu Musa sebenarnya sudah selesai berbicara langsung dengan Tuhan dan sudah meninggalkan kemah. Tetapi perhatikanlah bahwa Yosua anak Nun ternyata memilih untuk tetap tinggal di kemah. Mengapa ia tetap tinggal? Sepertinya Yosua takjub dengan apa yang ia saksikan dan rasakan, yakni hadirnya kemuliaan Tuhan di dalam kemah itu. Yosua tidak ingin berpisah dari hadirat Tuhan yang hadir disana. Saya yakin sejak saat itu Yosua semakin gigih berusaha untuk belajar bagaimana agar dia bisa semakin intim dengan Tuhan. Tidak hanya sebagai penonton dari jauh tapi ia rindu untuk bisa tumbuh sebagai pelaku, tetap berada dalam kemuliaan itu dan mengalami seperti Musa. Tidaklah mengherankan apabila selanjutnya kita tahu bahwa ia dipilih Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel untuk masuk ke tanah terjanji, Kanaan. "Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."(Ulangan 31:23). Yosua sejak muda sudah belajar untuk mengejar kemuliaan Tuhan, dan lihatlah bahwa hasilnya tidak sia-sia.

Tuhan akan selalu memperhatikan orang yang selalu rindu untuk berbicara dengan Dia, bukan sekedar berbicara tentang Dia. Kita bisa belajar dari orang-orang yang selalu merindukan Tuhan seperti Yosua. Firman Tuhan dalam Mazmur berkata "Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau." (Mazmur 84:5). Selanjutnya dalam Perjanjian Baru kita melihat bahwa bagi orang-orang seperti ini, Tuhan berjanji akan memberitahukan banyak hal. "Kepada mereka Allah mau memberitahukan, betapa kaya dan mulianya rahasia itu di antara bangsa-bangsa lain, yaitu: Kristus ada di tengah-tengah kamu, Kristus yang adalah pengharapan akan kemuliaan!" (Kolose 1:27). Dalam bahasa Inggrisnya (Amplified) lebih jelas, "Christ within and among you", "Kristus ada di dalam kita dan berada diantara kita". Ini yang membedakan antara anak-anak Tuhan dengan warga dunia lainnya, yaitu kehadiran Tuhan berjalan bersama dengan kita. Ini pula yang dikatakan Musa. "Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami, sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi ini?" (Keluaran 33:16).

Yosua menyadari hal itu. Ia memiliki kerinduan untuk terus bertumbuh semakin dekat dengan Tuhan. Dari pengalaman hidup Yosua ini kita bisa belajar tentang beberapa hal yang bisa membawa kita merasakan kemuliaan Tuhan dan mengalami perjalanan bersama Tuhan sepanjang hidup kita.

1. Setia dalam melayani

Yosua adalah hamba yang setia pada Musa, dan kesetiaannya itu menjadikan dirinya sebagai pewaris Musa. Kita harus memiliki hati hamba yang selalu rindu untuk melayani. Begitu pula Yesus datang ke dunia untuk melayani dan bukan dilayani bahkan memberi nyawaNya untuk menebus banyak orang. (Markus 10:45)
2. Mencintai Hadirat Tuhan
Yosua tidak meninggalkan kemah karena ia benar-benar rindu untuk terus merasakan hadirat Tuhan hadir dalam hidupnya. Jangan sampai Tuhan menjadi prioritas kesekian dalam hidup. Kita harus terus tekun berdoa dan hidup dari firman Tuhan (Matius 4:4).
3. Punya iman penuh dan tetap percaya
Ingatlah bahwa Yosua adalah salah satu yang diutus Musa untuk mengintai situasi Kanaan. Ketika 10 orang pesimis, hanya Yosua dan Kaleb yang punya iman teguh pada Tuhan dan merasa yakin mereka pasti akan mampu merebut tanah terjanji. (Bilangan 13:30). Ia pula yang memimpin peperangan melawan orang Amalek di Rafidim.(Keluaran 17:8-16).

Iman penuh akan Kristus akan membuat kita mampu merasakan kasih karunia, dan dengan demikian kita akan selalu hidup dalam pengharapan dan menerima kemuliaan Allah.(Roma 5:2). Yosua mengalami langsung peristiwa yang menakjubkan di dalam kemah dan dengan imannya ia kemudian terpilih menggantikan Musa untuk menjalankan sebuah tugas yang mulia. Mari kita belajar dari pengalaman Yosua dan mari sama-sama alami betapa luar biasanya ketika kemuliaan Tuhan turun atas kita.

Teruslah berkomitmen untuk hidup dalam kekudusan dan keintiman dengan Tuhan agar kemuliaan Tuhan selalu hadir dalam diri kita


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 8, 2013

Samgar vs 600 Orang

Ayat bacaan: Hakim Hakim 3:31
=============================
"Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel."

Film action di tahun 80an seringkali mengisahkan cerita heroik yang rasa-rasanya tidak masuk akal apabila kita cerna dengan akal sehat. Para jagoan ini seperti penuh keberuntungan karena ratusan peluru tidak pernah satupun mengenai mereka, sementara jika mereka yang menembak maka hampir pasti akan mengena pada sasaran. Itulah yang membuat saya tersenyum ketika melihat film Rambo diputar di sebuah toko dvd di salah satu mal belum lama ini. Iseng-iseng saya membuka data statistik tentang musuh yang berhasil dibunuh oleh Rambo, dan jumlahnya ternyata meningkat mulai dari Rambo pertama (First Blood) sampai ke 4 yang mencapai jumlah 236 orang. Tentu saja ini film fiksi semata. Tapi tahukah anda bahwa alkitab pernah mencatat kisah yang lebih mencengangkan? Jika Rambo menggunakan senapan, panah dan alat-alat perang lainnya, ada tokoh yang bernama Samgar di dalam kitab Hakim Hakim yang mampu menewaskan banyak orang Filistin hanya dengan tongkat penghalau lembu. Berapa total musuh yang ia taklukkan? Jumlahnya hampir 3 kali lipat, yaitu 600 orang. "Sesudah dia, bangkitlah Samgar bin Anat; ia menewaskan orang Filistin dengan tongkat penghalau lembu, enam ratus orang banyaknya. Demikianlah ia juga menyelamatkan orang Israel." (Hakim Hakim 3:31).

Nama Samgar mungkin tidaklah sepopuler Daud, Gideon, Musa, Paulus dan nama-nama besar lainnya yang sudah sangat kita kenal. Hal tersebut tidaklah mengherankan, karena Samgar hanya muncul dua kali dalam alkitab, yaitu pada kitab Hakim Hakim 3:31 yang menjadi ayat bacaan hari ini, dan kemudian disebutkan lagi dalam nyanyian Debora yang tertulis dalam Hakim Hakim 5:6. Namun meski demikian, apa yang dilakukan Samgar secara spektakuler tetap tercatat di dalam alkitab. Ia mampu menewaskan 600 orang Filistin dengan hanya bersenjatakan tongkat penghalau lembu. Rasanya pendekar-pendekar kungfu bersenjata tongkat yang paling hebat pun bakal sulit menyamainya. Apakah Samgar jago kungfu? Saya yakin tidak. Apakah dia ahli ilmu bela diri? Itupun tidak ada datanya, dan rasa-rasanya tidak juga. Tapi apa yang membuatnya mampu mengalahkan demikian banyak? Saya percaya semua itu karena bantuan Tuhan. Dia percaya pada penyertaan Tuhan, dia siap dan maju menghadapi lawan-lawannya, dan dia memenangkan peperangan dengan mencengangkan. Hasil akhirnya, tidak saja Samgar yang selamat, tapi juga menyelamatkan orang Israel dari kebinasaan.

Kita pun setiap hari sebenarnya berjuang dan berperang. Bukan melawan manusia, tetapi melawan iblis atau roh-roh jahat di udara yang setiap saat ingin menyesatkan dan membinasakan. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Dalam hidup sehari-hari pun kita tidak luput dari perjuangan menghadapi berbagai masalah dan kesulitan, yang terkadang datang bertubi-tubi. Tapi ingatlah bahwa kata mencengangkan, mengherankan, ajaib, itu semua bukanlah hal baru bagi Tuhan. Baik di masa lalu, seperti yang tertulis sepanjang alkitab yang tebal ini, bahkan hingga hari-hari ini, Tuhan terus menunjukkan bahwa Dia mampu menjungkirbalikkan logika manusia dengan rangkaian mukjizat dan keajaiban yang terus Dia lakukan.

Yesus pun berkata: "Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah." (Lukas 18:27). In simple words, there's nothing impossible with God. Samgar mampu mengalahkan 600 orang, kita pun bisa mengalahkan 600 masalah sekalipun apabila kita percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Jika kita mengacu pada yang dicatat dalam Alkitab, Tuhan telah berulang kali menunjukkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dan tidak mampu Dia lakukan. Selain kisah Samgar, lihatlah siapa yang Dia pilih untuk mengalahkan raksasa Goliat yang juga orang Filistin. Bukan panglima perang tinggi besar, bukan ahli perang bersenjatakan lengkap, tapi Daud, yang ketika itu masih muda, yang bahkan dikatakan masih kemerah-merahan. (1 Samuel 17:42). Contoh lainnya, lihatlah kisah Gideon (Hakim-Hakim 6-8), bagaimana Tuhan menyuruh Gideon mengumpulkan hanya 300 prajurit saja, untuk menghadapi orang Midian dan Amalek yang seperti belalang banyaknya atau bahkan seperti pasir di tepi laut banyaknya. Dari yang bukan kisah peperangan pun sama. Yusuf dijual saudaranya ke Mesir, ia hanya sendirian, namun ia memenangkan perjuangan hidup dan menjadi raja. Nuh disuruh membangun kapal yang luar biasa besar pada usianya yang sudah lanjut, ia hanya sendirian, mungkin hanya dibantu oleh anak-anaknya, namun ia mampu. Banyak lagi kisah-kisah yang bisa mendasari kita untuk mampu tampil sebagai pemenang mengatasi berbagai persoalan, bahkan yang kelihatannya tidak mungkin sekalipun. Intinya, dengan adanya penyertaan Tuhan, jika kita percaya sepenuhnya pada Tuhan, maka kita pasti berhasil mengatasi masalah apapun. Mungkin kita pun sendirian bergumul saat ini dengan permasalahan, namun sebenarnya kita tidak pernah sendirian, karena Yesus tetap ada bersama kita. "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."(Matius 28:20)

Tuhan dapat memakai siapapun secara luar biasa. Kita mungkin bukanlah superhero, kita bukan bangsawan, orang super kaya, mencapai jenjang pendidikan yang tertinggi yang pernah ada di dunia dan lain-lain. Kita mungkin hanyalah orang biasa yang tidak dikenal orang, namun kita bisa menjadi orang biasa seperti Samgar, yang mengandalkan Tuhan dan percaya sepenuhnya dalam menghadapi masalah dan keluar sebagai pemenang. Bagi orang dunia mungkin kita yang mengandalkan Tuhan sepenuhnya tidaklah terkenal, bahkan mungkin direndahkan, namun percayalah, Tuhan mengenal dan berkenan pada anak-anakNya yang mengasihi dan percaya padaNya. Berbagai hal ajaib Tuhan pakai untuk menyatakan diriNya. Bahkan Tuhan lebih suka memakai orang-orang lemah atau bodoh untuk menunjukkan siapa Dia. "Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat" (1 Korintus 1:27). Semua ini mengajarkan kita agar menggantungkan iman bukan kepada akal dan logika manusia, tetapi pada kekuatan Allah. (1 Korintus 2:5). Untuk mampu dipakai Allah secara luar biasa dan untuk mampu lepas dari masalah, kuncinya hanyalah tetap berusaha sebaik-baiknya sambil terus mengandalkan hikmat Allah, bukan pada kekuatan sendiri atau kemampuan manusia yang terbatas. Untuk itu, janganlah pernah putus asa, jangan pernah menyerah, jangan pernah kecil hati, karena dengan iman yang benar, Tuhan pun akan mampu melakukan pekerjaan-pekerjaan yan ajaib lewat hidup kita, lebih dari yang anda kira.

Tuhan memakai orang biasa untuk melakukan perkara luar biasa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 7, 2013

Coffee Cupper

Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."

Pernahkah anda mendengar profesi "coffee cupper" atau "coffee taster"? Mereka adalah para ahli kopi yang sangat peka pada cita rasa dan aroma dari secangkir kopi. Mereka dapat menjelaskan secara terperinci tentang kopi yang mereka minum atau dari aroma yang mereka hirup, meski dengan mata tertutup. Sekalipun anda tidak berprofesi sebagai coffee cupper tetapi anda telah berhubungan bertahun-tahun dengan yang namanya kopi, anda akan memiliki kepekaan tersendiri akan kualitas kopi. Saya sering berbincang-bincang dengan seorang penjual kopi generasi ke tiga. Sejak kecil ia sudah terbiasa dengan segala sesuatu tentang kopi, maka ia tumbuh menjadi orang yang peka dan ahli di bidangnya. Ia selalu bersemangat dalam menerangkan jenis-jenis kopi, rasa yang akan di dapat atau tajam/tidaknya aroma dari masing-masing jenis kopi. Itu di dunia kopi.  Di dunia anggur (wine) pun kita mengenal istilah "wine taster", orang yang ahli membedakan jenis-jenis anggur lewat penciuman dan lidah perasa yang peka.

Kepekaan bisa terbentuk dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa dua hal tersebut. Itu sama dengan kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka. Kita tidak akan secara instan bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, atau peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak. Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."
 (Efesus 5:10). Bagaimana bisa menguji jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran? Lebih lanjut Paulus berkata, untuk mampu menguji, jemaat Efesus harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Istilah "anak terang" dipakai untuk menunjuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Jika kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (ay 13).

Kita hidup di sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya bisa bermacam-macam, jalan masuknya pun demikian. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam kegelapan. Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Dan itu bisa dicapai dengan tetap hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan. Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Seperti halnya kepekaan "coffee-cupper" dan "wine taster" yang mampu menguji kopi dan anggur, demikianlah kita harus mempunyai kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan mengungkap kegelapan dengan cahaya terang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 6, 2013

Pernikahan = Peternakan?

Ayat bacaan: Kejadian 2:18
====================
"TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia."

Seorang teman datang kepada saya dan menangis, karena suaminya baru saja meminta persetujuannya untuk kawin lagi. Alasannya? "Karena setelah 3 tahun menikah saya belum juga bisa memberinya anak.." katanya sambil terus menangis. Ini adalah potret buram di negara kita seperti halnya di beberapa negara lainnya. Ironis sekali karena ketika saya tanya apakah mereka sudah pernah ke dokter untuk mengetahui letak permasalahannya, ia berkata belum. "Suamiku tidak mau diperiksa" katanya. Sangatlah tidak adil bagi teman saya itu, karena bisa jadi permasalahan bukan terletak pada dirinya tapi mungkin saja sang suami yang punya masalah dengan kesuburannya. Betapa sempitnya jika kesuksesan sebuah pernikahan hanyalah diukur dari ada tidaknya anak. Itu terlalu sempit. Benar, kita tentu mendambakan buah hati sebagai penerus keturunan, tetapi itu bukanlah hal yang terpenting dari sebuah ikatan dari dua menjadi satu dimana Tuhan sendirilah yang bertindak sebagai saksi atas ikrar yang kita ucapkan dalam sebuah pernikahan (Maleakhi 2:14).  Wajar jika kita berharap akan lahirnya anak-anak dari pernikahan kita. Namun yang ingin saya sampaikan adalah, tujuan utama sebuah pernikahan bukanlah untuk mempunyai anak. Pernikahan bukanlah peternakan.

Dari pengalaman pahit teman saya di atas dan banyak kasus lain mengenai kegagalan rumah tangga akibat tidak mendapat keturunan, saya melihat adanya kekeliruan atau salah kaprah mengenai tujuan utama mendirikan lembaga pernikahan. Mereka memandang pernikahan layaknya sebuah peternakan, dimana kita bisa mengembangbiakkan keturunan kita sebanyak yang kita mau. Sekali lagi, lembaga pernikahan bukanlah peternakan. Lembaga pernikahan adalah sebuah lembaga yang sakral dimana Tuhan sendiri yang memateraikan pembentukannya, dan lembaga ini punya tujuan yang jauh lebih penting daripada sekedar memiliki keturunan. Apalagi jika dasarnya hanyalah "kejar tayang" atau takut disebut bujang lapuk bagi pria atau perawan tua bagi wantia, akibat nafsu, gengsi, desakan orang tua/keluarga dan lain-lain. Itu semua bukanlah tujuan utama sebuah pernikahan menurut firman Tuhan.

Ayat bacaan hari ini diambil dari kitab paling awal dalam Alkitab yang menyatakan jelas tujuan Tuhan dalam penciptaan segala sesuatu, termasuk manusia. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ayat ini menyatakan dengan jelas tujuan Allah menciptakan pasangan wanita buat pria, yaitu sebagai penolong. Bukan sekedar penolong lalu berada di bawah pria, tetapi seorang penolong yang sepadan. "Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging." (ay 21). Tuhan menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Itu menggambarkan sebuah hubungan erat, bahwa istri adalah bagian hidup suami, bukan sekedar alat pemuas nafsu dan "pabrik" pembuat anak.Tuhan melengkapi kita dengan seorang pasangan agar kita bisa saling melengkapi, saling menyempurnakan dan saling menolong dalam menjalani hidup dengan segala perbuatan baik yang memuliakanNya diatasnya. Dalam sebuah pernikahan yang diberkati Tuhan, kita bisa mengalami, menikmati dan saling berbagi sukacita dan cintakasih. Kita bisa saling support ketika salah satu tengah mengalami kesulitan. Kita bisa menghidupkan sebuah persekutuan dengan memuliakan Allah diatas segalanya. Janji pernikahan yang kita ucapkan pun menyatakan hal itu, bukan menyatakan bahwa kita menikah untuk membuat anak. Memiliki penerus garis keturunan adalah penting dan merupakan dambaan hampir setiap orang, namun itu bukanlah yang satu-satunya tujuan untuk menikah, setidaknya menurut rencana Tuhan sejak semula.

Firman Tuhan selanjutnya berkata: "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN.." (Mazmur 127:3). Anak adalah pemberian dan anugerah dari Tuhan dan bukan produk buatan kita. Jangan tawar hati jika anda sampai saat ini belum saatnya untuk dikaruniai anak. Biarlah itu terjadi sesuai kehendak Tuhan, Sang Pencipta. Yang penting adalah kita menyadari hakekat dari sebuah pernikahan sesuai apa yang difirmankan Tuhan. Jangan merasa bahwa tanpa anak, lembaga pernikahan yang anda bangun sebagai sebuah kegagalan. Karena ada Allah yang bertahta di atasnya, yang telah memberkati dan mengikat penyatuan hubungan antara suami dan istri. Jadikan pernikahan sebagai tempat dimana anda bisa bersinergi dengan pasangan untuk memuliakan Tuhan, dan bersama-sama seiring sejalan melakukan kehendak Allah atas kehidupan kita. Pernikahan yang gagal bukanlah pernikahan yang tidak melahirkan anak, melainkan pernikahan yang tidak berjalan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Ada anak atau tidak, tetaplah miliki pernikahan yang sukses penuh dengan kebahagiaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 5, 2013

Dari Air Menjadi Anggur

Ayat bacaan: Yohanes 2:9
=====================
"Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya"

Hari ini ketika berjalan-jalan di supermarket, saya melihat sederetan botol-botol minuman dengan berbagai merek, kemasan dan rasa. Semuanya tentu mengandung air, tetapi harganya beragam. Sesama air mineral saja bisa berbeda harga. Ada yang karena mereknya, ada pula yang ditambahi oksigen sehingga dikatakan akan lebih sehat dan segar untuk diminum dibandingkan air biasa. Cukup lama saya mengamat-amati berbagai jenis minuman ini, sehingga saya pun berpikir, jika air mineral saja sudah lebih mahal dibanding air putih biasa, bagaimana jika dibandingkan dengan anggur? Tentu harganya akan jauh lebih tinggi. Sama-sama air, sama-sama minuman, tapi jauh berbeda nilainya. Saya pun teringat ketika Yesus mengadakan mukjizat merubah air menjadi anggur di sebuah pesta perkawinan yang tercatat dalam Alkitab.

Melanjutkan renungan mengenai orang benar kemarin, hari ini saya mengangkat kisah mengenai kisah kehadiran Yesus di pesta perkawinan di Kana yang terdapat dalam Yohanes 2:1-11. Ada banyak implikasi yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, tapi hari ini saya secara khusus hari ini saya ingin fokus kepada mukjizat yang dilakukan Yesus dengan mengubah air menjadi anggur. Dikisahkan pada waktu itu Yesus dan murid-muridNya hadir disana, begitu pula ibu Yesus. Mungkin tamu yang hadir membludak jauh dari yang diperkirakan, sehingga mereka kehabisan anggur. Mari kita lihat situasi disana. "Di situ ada enam tempayan yang disediakan untuk pembasuhan menurut adat orang Yahudi, masing-masing isinya dua tiga buyung." (Yohanes 2:6). Dua-tiga buyung itu kira-kira setara dengan 20-30 galon, kira-kira 100 liter bisa ditampung dalam masing-masing tempayan. "Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: "Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air." Dan merekapun mengisinya sampai penuh." (ay 7). Setelah itu, Yesus meminta mereka untuk menyendok air itu dan membawanya kepada pemimpin pesta. (ay 8). Lalu inilah yang terjadi. "Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu--dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya". (ay 9). Si pemimpin pesta pun terheran-heran. Segera ia memanggil mempelai pria, dan berkata: "Setiap orang menghidangkan anggur yang baik dahulu dan sesudah orang puas minum, barulah yang kurang baik; akan tetapi engkau menyimpan anggur yang baik sampai sekarang."(ay 10). Ini ringkasan dari mukjizat awal sebagai permulaan dari pelayanan Kristus secara langsung di dunia.

Yesus mengubah air menjadi anggur. Bukan sekedar anggur biasa atau ala kadarnya, tapi jelas dikatakan anggur yang baik. (ay 10). Anggur yang baik ini kemudian dinikmati dan menjadi berkat bagi banyak orang yang hadir disana. Akan sangat jauh berbeda tentunya jika yang dihidangkan hanya air putih biasa. Dari kisah terkenal ini kita bisa mengambil pelajaran penting. Seperti apakah kita saat ini? Apakah kita masih seperti air biasa atau seperti air yang sedang dalam proses pemurnian? Seperti halnya Yesus sanggup mengubah air menjadi anggur, Dia sanggup mengubah kita yang "biasa-biasa" saja untuk menjadi anggur yang baik yang bisa memberkati, membawa sukacita bagi banyak orang.

Bagaimana caranya? Dari kisah di atas kita bisa melihat bahwa awalnya tempayan-tempayan itu disuruh Yesus sendiri untuk diisi dengan air. Ini berbicara mengenai pentingnya kita mengisi diri kita secara teratur dengan firman Tuhan yang hidup. Firman Tuhan sungguh penting dalam hidup kita, "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Dan jangan lupa sebelum air diperintahkan Yesus untuk masuk ke tempayan, ada sebuah pesan penting yang disampaikan ibu Yesus. "Tetapi ibu Yesus berkata kepada pelayan-pelayan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (ay 5). Dari sini kita bisa melihat bahwa ketaatan pada Yesus menjadi kunci utama pula. Jadi secara singkat kita bisa melihat bahwa jika kita manusia berada di tangan Yesus, taat kepadaNya dan kemudian mengisi diri kita dengan air yang adalah firman Tuhan, maka kita bisa diubahkan untuk menjadi anggur atau berkat bagi orang lain.

Menjalani sebuah proses pengubahan seringkali tidak menyenangkan. Ada kalanya kita harus mengalami berbagai hal berat dan menyakitkan ketika sedang dibentuk. Tetapi kemudian setelahnya kita bisa diubahkan Tuhan menjadi anggur berkualitas yang bisa memberkati banyak orang. Hidup kita yang biasa-biasa saja bisa diubahkan dan dipakai Tuhan agar bermakna bagi orang lain. Untuk itu kita harus rela ditegur, dikoreksi, diajar atau bahkan dihajar apabila perlu. Siapapun kita, apapun latar belakang kita, Tuhan bisa pakai itu semua untuk menjadi berkat. Yang dibutuhkan adalah kerelaan kita untuk diubahkan dan dipakai agar menjadi berkat. Ketaatan kita secara penuh, melakukan apa yang Dia perintahkan, lalu mengisi diri kita dengan firman Allah, itulah dasar yang akan mengarahkan kita menjadi anggur berkualitas. Seperti air jenis apakah kita saat ini? Mari kita sama-sama terus bertumbuh hingga bisa menjadi anggur baik yang memberkati orang banyak.

Jadilah anggur yang baik yang membawa sukacita dan berkat bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...