Sunday, October 14, 2012

Petani

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:6
=====================
"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."

Jika saat ini ada sayur yang terhidang di atas meja makan anda, berterima kasihlah kepada petani. Peran mereka sungguh besar terutama dalam mencukupi kebutuhan kita akan pangan. Ketika kita selalu ingin kulit kita putih dan iklan-iklan 'whitening' alias pemutih bertebaran di televisi, para petani tidak mempedulikan kulit mereka menjadi hitam karena harus bekerja di bawah terik matahari. Mereka terus bekerja dari pagi hingga petang di ladang masing-masing. Mereka bekerja agar mampu menghidupi keluarganya dengan menghasilkan berbagai hasil pertanian yang kita nikmati di atas meja makan setiap hari. Sepertinya pekerjaan mereka sederhana saja, tetapi itu pun jelas merupakan kerja keras yang sangat pantas kita hargai. Ketika kita sering merasa risih dengan hal-hal yang bisa mengotori tangan atau pakaian kita, kaki mereka terendam, tangan mereka berlumur tanah, keringat menetes dimana-mana agar bisa menghasilkan panen yang baik. Rasanya tidak ada petani yang cuma duduk bermalas-malasan tapi bisa menghasilkan panen besar. Jika ingin mendapatkan panen yang besar, mereka tentu harus bekerja keras mulai dari menanam, mengurus, memupuk, mengairi hingga memanen dan menjual hasil jerih payah mereka. Tanpa itu semua, niscaya tidak akan ada sesuatu yang mereka hasilkan. Hasil yang diperoleh petani yang bekerja keras dengan petani yang malas tentu berbeda. Di daerah-daerah yang masih sulit dijangkau kendaraan, seringkali para petani ini pun harus mengantar hasil panennya ke kota terdekat baik dengan mengendarai sepeda motor atau bahkan berjalan kaki. Terima kasih pak dan bu petani, kita bisa menikmati sayuran segar berkat jerih payah mereka.

Salah satu ayat dalam Amsal Salomo berkata "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." (Amsal 20:4). Petani yang malas dan memilih untuk tidak mengerjakan segala sesuatu pada musim tanam tidak akan memperoleh apa-apa ketika musim panen tiba. Lewat kerja keras dan jerih payah petani ada banyak yang bisa kita pelajari untuk diaplikasikan dalam kehidupan keimanan kita. Tanpa usaha dari kita untuk menjaga dan menumbuhkan iman kita untuk terus lebih dekat dan lebih dalam lagi dengan Kristus, kita tidak akan pernah bisa menuai apa-apa ketika waktunya tiba. Jika petani harus sabar menunggu hingga musim panen tiba, sesuatu yang tidak mungkin terjadi hanya dalam semalam, demikian pula kita harus bersabar dalam proses pertumbuhan iman kita. Dalam proses itu apa yang kita hadapi seringkali tidak mudah. Ada begitu banyak rintangan dan penderitaan yang harus kita lalui, tidak jarang ada pengorbanan-pengorbanan yang harus kita lakukan. Tapi semua itu pantas karena apa yang dijanjikan Tuhan pada akhirnya sungguh indah. Kita bisa saja bermalas-malasan, tapi ingatlah jika itu yang kita pilih, maka hasil akhirnya nanti hanyalah akan menyisakan penyesalan.

Belajarlah dari petani. Inilah yang diingatkan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius. "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya." (2 Timotius 2:6). Hanya petani yang menabur banyak dan rajin mengusahakan pertaniannya lah yang berhak berharap panen besar. Berbicara mengenai menabur, kitapun seharusnya rajin-rajin menabur, agar kita bisa menuai banyak. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6). Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya untuk ditabur, Dia pula yang akan memberkati kita lewat apa yang kita tabur. "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami." (ay 11-12).

Segala kemalasan kita tidak akan pernah mendatangkan kebaikan, sebaliknya hanyalah akan merugikan. Tuhan tidak menyukai orang-orang malas. Begitu kerasnya Paulus menegaskan hal ini. "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Ia juga mengingatkan agar kita tidak terperosok ke dalam perilaku banyak orang yang hanya sibuk melakukan sesuatu yang tidak berguna saja. Menumbuhkan iman dalam hidup tidak terjadi hanya dalam semalam. Untuk bisa terus meningkatkannya, kita perlu fokus yang benar dan dibutuhkan keseriusan, komitmen dan kerja keras dari kita. Disiplinkan diri dalam berdoa, bersaat teduh, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, dan mengaplikasikannya secara nyata dalam hidup kita. Semua itu merupakan proses yang tidak sebentar, kadang kala menyakitkan, terkadang butuh pengorbanan, namun pada akhirnya semua itu akan mendatangkan kebaikan dan sukacita melimpah untuk selamanya. Apa yang dikatakan Paulus mengenai "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" berlaku pula dalam kehidupan iman kita. Jika kita tidak mau berusaha untuk lebih dalam lagi bersekutu denganNya dengan sungguh-sungguh, jangan harap kita bisa mendapatkan sesuatu kelak.

Belajarlah dari petani, baik dari segi kerja kerasnya maupun kesabaran mereka menanti usaha mereka hingga musim panen tiba. "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Kalau kita tidak pernah mau mulai menanam dan mengusahakan dengan serius, bagaimana mungkin kita bisa berharap untuk menuai? Jangan buru-buru putus asa dan patah semangat, tapi bersabarlah seperti halnya petani menanti tuaian mereka pada waktunya. "Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!" (ay 8). Kita harus belajar dan terus berusaha untuk tekun bekerja dan rajin menabur, karena nanti pada saatnya kita sendirilah yang akan menuai hasilnya. Jangan menjadi lemah dalam prosesnya, tetaplah bersabar. Tidak ada janji Tuhan yang tidak Dia tepati. Karenanya lakukanlah apa yang menjadi bagian kita dengan usaha yang sungguh-sungguh agar kita bisa menuai tepat seperti yang dianugerahkan Tuhan kelak di kemudian hari.

Belajarlah dari para petani yang rajin menanam dan bekerja keras serta sabar menanti hingga musim panen tiba

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 13, 2012

Berlatih

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:8
=====================
"Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

Efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedang yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara. Pada suatu kali di sebuah kantor lift mendadak mati, sehingga saya bersama beberapa orang harus turun dari lantai 8 menuju ke dasar. Maka terlihat jelaslah orang yang sering berlatih kebugaran dengan yang tidak, terutama setelah mencapai lantai bawah. Usia tidak membawa pengaruh berarti, karena ada beberapa diantara mereka yang sudah cukup lanjut usia ternyata mampu 'mengalahkan' yang lebih muda dari segi kebugaran.

Olahraga atau latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan mampu menjaga dan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat, segar dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun atau naik turun tangga. Jika latihan jasmani atau badani saja sudah memberikan perbedaan signifikan terhadap daya tahan dan kebugaran tubuh, ibadah adalah lebih penting lagi. Mengapa? Sebab disaat latihan jasmani terbatas gunanya, yaitu hanya untuk kehidupan kita di dunia ini, latihan ibadah akan membawa manfaat baik pada hidup kita saat ini maupun kehidupan yang akan datang. Itulah yang diingatkan pula oleh Paulus. Karenanya ia menyerukan pentingnya sebuah komitmen untuk melatih diri kita dalam beribadah. "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8).

Orang yang berolahraga akan terus meningkatkan porsinya secara perlahan dalam sesi latihan yang rutin. Tidak akan ada orang yang akan langsung bisa menyelesaikan lari 10 km pada saat pertama kali berolah raga. Mungkin dimulai dari jalan beberapa kilometer, kemudian lari bertahap dibarengi jalan, dan pada saatnya mereka akan mampu mencapai 10 km dengan berlari tanpa merasa letih atau mengalami pegal dan sebagainya. AWalnya mungkin terasa malas, tetapi dengan terus mendisplinkan dan melatih diri maka lama-lama tubuh akan terbiasa untuk berolahraga, malah nanti terasa seperti ada yang kurang jika tidak melakukan itu pada waktu dimana biasanya kita melakukannya. Seperti halnya diri kita yang harus dilatih untuk memiliki kebiasaan berolah raga dan kemudian bisa terbiasa untuk itu, demikian pula dengan ibadah. Kita harus memiliki komitmen untuk melatih diri kita agar kita terbiasa dan rajin beribadah. Sebuah hidup yang diisi dengan kebiasaan beribadah yang teratur akan kuat menghadapi berbagai masalah dan tekanan yang mampir ke dalam hidup mereka. Orang yang dekat dengan Tuhan dan mempunyai iman yang teguh tidak akan gampang goyah ketika diterpa masalah.Tidak berhenti disitu, ibadah yang baik dan teratur juga menjanjikan sebuah keselamatan untuk hidup bersifat kekal yang akan menjadi fase berikutnya setelah kehidupan di dunia ini selesai. Maka jelaslah betapa pentingnya sebuah komitmen untuk terus melatih diri agar beribadah secara rutin dan teratur. Melatih diri untuk beribadah juga harus dipenuhi rasa cukup dengan ucapan syukur. Bersyukurlah atas berkat Tuhan, atas segala yang telah Dia bekali bagi kita dalam hidup. Paulus mengingatkan pula bahwa ibadah yang disertai rasa cukup, itu akan mendatangkan keuntungan besar. (1 Timotius 6:6).

Dalam Alkitab tertulis: "Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja." (Amsal 14:23). Dalam surat untuk jemaat Korintus dikatakan: "Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia." (1 Korintus 15:58). Jerih payah yang kita lakukan akan selalu memberi keuntungan. Termasuk pula di dalamnya jerih payah kita membangun sebuah hubungan dengan Tuhan. Selanjutnya, Yesus pun mengajarkan kita agar tidak bersikap apatis. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Meminta, mencari, mengetuk, itu adalah bagian dari usaha kita yang harus terus kita latih. "Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (ay 8). Lihatlah betapa besar keuntungan yang bisa didatangkan dari ketaatan kita untuk tekun beribadah dan melatih diri kita untuk tetap melakukannya dengan disiplin dan teratur. Beribadah tentu saja bukan hanya rajin ke Gereja, tapi juga melakukan saat teduh secara teratur, rajin membaca dan mendalami firman Tuhan, taat menuruti perintah Tuhan, terus mengasihi sesama seperti Yesus telah mengasihi kita dan bentuk-bentuk aplikasi langsung terhadap apa yang menjadi tugas kita seperti yang digariskan Tuhan di dunia ini, itu semua adalah ibadah yang berkenan di hadapan Tuhan. Jadikan ibadah menjadi sebuah gaya hidup, lalu tuai manfaatnya. Bukan saja sangat berguna bagi kekuatan dan ketahanan kita menghadapi masalah, namun juga akan mengarahkan kita kepada keselamatan yang kekal.

Rajin melatih diri untuk melakukan ibadah akan bermanfaat bagi hidup yang sekarang maupun yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.comz/dailyrho

Friday, October 12, 2012

Mengenal Tuhan (2)

(bersambung)

Apabila kita hanya mengandalkan tata cara peribadatan dan tradisi serta kebiasaan dan rutinitas dalam menjalankan ibadah saja, itu belumlah mencerminkan usaha kita yang cukup untuk mengenal Allah dengan baik dan benar. Yesus menyinggung hal ini dengan keras. "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga." (Matius 7:21). Hanya rajin berseru tapi tidak mencerminkan terang dalam hidup itu artinya tidak mengenal Tuhan. "Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?" (ay 22). Bahkan meski kita berpikir bahwa kita sudah melakukan banyak pekerjaan Tuhan, tapi hati kita sebenarnya tidak tulus melakukan itu dan bukan berbuat itu demi kemuliaan Tuhan, jika kita rajin beribadah namun sebatas dibibir saja tanpa aplikasi nyata dalam hidup, maka semua itu sesungguhnya sia-sia, dan kita pun sebenarnya akan kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. Jika kita tidak mengenal Tuhan, maka Tuhan pun tidak akan mau mengenal kita. "Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (ay 23).

Dari mana kita bisa mengenal Tuhan? Pengenalan akan Tuhan bisa kita dapati dengan mengenal diriNya melalui firman-firman Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Alkitab bukanlah buku usang yang membosankan dan kuno untuk dibaca. Ada banyak tuntunan hidup dan rahasia-rahasia keselamatan di dalamnya yang mampu membuat kita semakin dekat mengenal pribadi Tuhan dan teramat sangat aplikatif menjawab berbagai permasalahan yang terjadi dalam hidup kita. Disana kita bisa mendapati janji-janji Tuhan dan bagaimana untuk memperolehNya. Ada tuntunan-tuntunan hidup baik saat ini maupun untuk kehidupan kekal nanti yang disampaikan secara lengkap sebagai panduan kita. Jangan berhenti hanya sampai membaca, tapi renungkan dan perbuatlah apa yang telah kita baca itu dalam kehidupan nyata. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya."(Yakobus 1:25)

Kemudian ingatlah bahwa kita bisa mengenal Bapa lewat Yesus. "Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." (Yohanes 14:7). Tanpa mengenal Kristus, kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan, dan dengan demikian kita tidak akan pernah bisa datang menghampiriNya dan menerima janji-janjiNya. Yesus berkata "Kata Yesus kepadanya: "Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku." (ay 6).

Sudahkah kita serius untuk lebih mengenal Allah? Teruslah kenali pribadi dan isi hatiNya baik lewat Alkitab, kotbah, bacaan-bacaan rohani dan sumber lainnya, dan tentu saja, miliki pengenalan yang benar tentang Kristus. Selanjutnya jangan berhenti sampai disitu saja, tetapi kemudian aplikasikanlah semua yang telah kita baca, dengar dan tahu itu ke dalam hidup kita sehari-hari. Kenali Tuhan, temukan apa yang menjadi kehendakNya hari ini. dan lakukan tepat seperti itu Jadilah anak-anakNya yang setia, penuh kasih dan sungguh-sungguh mengenalNya.

Mengenal Allah akan menghindarkan kita dari kebinasaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 11, 2012

Mengenal Tuhan (1)

Ayat bacaan: Hosea 4:6a
===================
"Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah"

Jalan makin semrawut, selain karena jumlah kendaraan bertambah banyak, tapi salah satu penyebab utamanya adalah ketidak-patuhan pengendara terhadap peraturan berlalu lintas. Perhatikanlah, semakin banyak orang yang 'nyelonong' seenaknya tanpa peduli peraturan dan etika mengemudi. Bikin SIM sistim tembak lewat calo, tidak mau repot, akhirnya semakin banyak orang yang tidak paham betul mengenai peraturan atau rambu-rambu. Masih mending jika hanya bikin macet dan semrawut. Bagaimana jika itu mendatangkan bahaya baik kepada diri sendiri atau juga membahayakan nyawa orang lain? Sekedar bisa mengemudi saja tidaklah cukup. Pengetahuan umum mengenai rambu dan tata cara berkendara lainnya pun wajib kita ketahui jika kita mau selamat di jalan. Pengenalan yang benar selain bisa menjaga ketertiban dan kelancaran di jalan tapi juga mampu menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya.

Dalam hal kerohanian hal ini pun berlaku. Alangkah bahayanya jika kita mengaku percaya Tuhan, tapi sesungguhnya tidak cukup mengenalNya, atau malah tidak mengenalNya sama sekali. Mungkin kita berkata, kita kan sudah ke gereja, atau kita sudah berdoa? Tapi kenyataannya ada banyak orang yang melakukan itu semua bukanlah atas dasar yang benar melainkan sekadar menjalankan rutinitas, karena disuruh orang tua, karena kebiasaan, tradisi dan alasan-alasan lainnya selain ingin mengenal Tuhan secara lebih dalam lagi. Hal-hal seperti ini jika tidak dicermati akan membuat kita tidak kunjung mengenal Allah, dan ketidaktahuan itu bisa mengarahkan kita kepada kebinasaan.

Dalam kitab Hosea kita bisa melihat mengapa Israel akhirnya binasa. Kelakuan mereka yang buruk berlarut-larut kemudian mendatangkan murka Tuhan. Alasannya jelas dikemukakan Tuhan secara singkat dan jelas. "Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah" (Hosea 4:6a). Tidak mengenal bagaimana? Hosea pasal 4 berjudul "Menentang imam dan bangsa yang tidak setia". Tidak setia, itu salah satu tanda bahwa kita tidak mengenal Tuhan, Kita tidak tahu bagaimana kesetiaan itu menjadi sebuah dasar utama untuk menerima anugerahNya dan tidak tahu pula bahwa pembangkangan akan menjauhkan kita dari itu semua bahkan menjadi sumber kehancuran bagi kita sendiri. Pasal ini dimulai dengan: "Dengarlah firman TUHAN, hai orang Israel, sebab TUHAN mempunyai perkara dengan penduduk negeri ini, sebab tidak ada kesetiaan dan tidak ada kasih, dan tidak ada pengenalan akan Allah di negeri ini." (ay 1). Tiga alasan penting yang saling berhubungan dan membuat Tuhan marah disebutkan dengan jelas, yaitu:
- Tidak setia
- Tidak memiliki kasih
- Tidak mengenal Allah.
Apa yang dilakukan orang Israel pada masa itu sungguh keterlaluan. Mereka "hanya mengutuk, berbohong, membunuh, mencuri, berzinah, melakukan kekerasan dan penumpahan darah menyusul penumpahan darah." (ay 2). Dalam ayat 6 disebutkan pula bahwa para imam yang seharusnya jadi tulang punggung justru melupakan ajaran Tuhan. Kegagalan para imam tidak hanya berbicara mengenai para pendeta, pelayan Tuhan, tapi lebih luas lagi berbicara mengenai semua anak-anak Tuhan, kita semua yang menjabat status sebagai "imamat yang rajani" (1 Petrus 2:9) atau seperti yang disebutkan dalam kitab Wahyu: "Dan dari Yesus Kristus, Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya--dan yang telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, --bagi Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin." (Wahyu 1:5-6). Semua pembangkangan ini membuat Israel akhirnya harus menanggung konsekuensinya.

Berkaca dari apa yang dialami bangsa Israel yang tegar tengkuk, kita bisa melihat bahwa menolak pengenalan akan Tuhan bisa mendatangkan bahaya besar. Ada banyak orang yang hanya mengandalkan pendeta atau pelayan Tuhan saja tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih jauh dalam hidupnya. Ada banyak yang menunda-nunda karena masih mau "menikmati" hidup, ada yang menganggap bahwa urusan kerohanian hanya urusan orang yang tua saja. Padahal Tuhan telah memperlihatkan bahwa tanpa keinginan untuk mengenal Dia akan membuat kita menuai bencana.

(bersambung)

Wednesday, October 10, 2012

Pemenang

Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita."

Tanyakan kepada olahragawan manapun apakah mereka pernah ingin bertanding untuk kalah atau sekedar menjadi penggembira saja. Tentu saja pikiran seperti itu tidak pernah ada di benak mereka. Mereka melakukan usaha dan latihan serius dalam waktu yang panjang tentu dengan harapan untuk bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Para atlit pasti ingin mengukir prestasinya sebagai yang terdepan di cabang yang mereka geluti. Tidak ada satupun olahragawan yang bersiap untuk kalah , semua berlomba untuk menang dan keluar menjadi juara. Tidak hanya atlit, tetapi dalam kehidupan kita masing-masing kitapun ingin mengukir prestasi setinggi mungkin. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan "gelanggang-gelanggang" pertandingan yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi dan berhasil di dalamnya. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya dengan segudang usaha keras. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk bisa mengukir prestasi. Tanpa itu maka jangan harap prestasi mampu diraih.

Apakah Paulus sempat menjadi atlit, hobi olah raga, atau merupakan pengamat olah raga seperti orang-orang yang selalu kita lihat dalam setiap siaran pertandingan olah raga di televisi? Entahlah. Tapi yang pasti Paulus banyak mengambil perumpamaan lewat beberapa jenis olah raga. Selain tinju, lari merupakan satu diantaranya. Lihat apa kata Paulus berikut: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24). Paulus mengingatkan hal ini karena dia menyadari betul bahwa hidup ini pun bagaikan sebuah perlombaan. Tidak semua orang mampu mencapai garis finish dan keluar sebagai pemenang, semua tergantung keseriusan, kerja keras dan usaha sungguh-sungguh kita untuk bisa menjadi pemenang. Seperti itulah Paulus menggambarkan kehidupan iman kita. Perjuangan yang harus dihadapi sepanjang hidup sama sekali tidak mudah. Selalu saja ada hambatan atau halangan yang harus kita lewati, dan itu bukan hal yang sepele. Sedikit saja lengah kita bisa terjatuh dan gagal untuk mencapai garis akhir. "Karena itu larilah begitu rupa, do your very best in it, sehingga kamu memperolehnya." kata Paulus.

Seperti apakah hadiah yang disediakan bagi pemenang dalam menghadapi perlombaan di dalam kehidupan kerohanian kita? Mari kita baca kelanjutan kata-kata Paulus diatas. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana seperti segala bentuk mahkota yang terhebat atau paling prestisius yang bisa kita miliki di dunia ini, melainkan sebuah MAHKOTA YANG ABADI. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan dan cabaran hingga mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Selanjutnya, mental juara pun menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan kita dalam melewati segala tantangan. Betapa seringnya kita menyaksikan para atlit atau tim yang sebenarnya punya skill tinggi dan mampu bermain baik, tetapi mereka gagal karena tidak punya mental juara. Karena itu, kita pun harus terus membangun mental seperti seorang juara sedini mungkin. Bagaimana caranya? Ada ayat yang sangat baik untuk kita renungkan agar mental juara ini bisa tumbuh dalam diri kita. Sebuah ayat yang menggambarkan seperti apa hakekat kita yang sebenarnya. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Seperti itulah sebenarnya kita dicanangkan. Bukan hanya sekedar menang, tapi justru lebih dari pemenang. Kita harus tahu dengan benar seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." (1 Korintus 9:26). Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia alias tidak berguna. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Mental juara jelas dibutuhkan untuk itu. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasi yang sedang dan akan anda hadapi, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, Keep running on the right track, and do your best in it. Jangan melenceng sedikitpun, dan berlombalah sebaik-baiknya. Jangan terganggu oleh apa yang ada dibelakang sana, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita untuk mencapai garis finish, bahkan mungkin bisa menjadikan kita gagal. "Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Perlombaan sesungguhnya sedang kita hadapi, dan tidak semua orang bisa mencapai garis kemenangan dan memperoleh mahkota abadi. Teruslah berjuang, dan jadilah pemenang.

Seperti seorang atlit, miliki mental juara dalam bertanding untuk memperoleh mahkota yang dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 9, 2012

Hal Memberi (2)

(sambungan)

Lalu lihat bagaimana cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam kitab Kisah Para Rasul. "Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (Kisah Para Rasul 2:44-45). Tidak dikatakan bahwa yang kekayaannya luar biasa melimpah yang membantu, tapi mereka secara kolektif saling berbagi sesuai kemampuan masing-masing. Ada yang kaya, ada yang cukup, berapapun yang ada pada mereka, semua mereka pergunakan untuk kepentingan bersama dalam kebersatuan yang begitu indah. Hal ini kembali disinggung dalam pasal 4. "Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama." (4:32). Kembali kita melihat disini bahwa tidak ada batasan kaya untuk memberi, dan kita bisa melihat bagaimana Tuhan memberkati jemaat mula-mula ini dalam banyak hal, terutama dalam hal pertumbuhan jumlah jemaat. 

Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat Firman Tuhan yang berbunyi: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." (2 Korintus 9:8 BIS). Tuhan selalu rindu untuk mengucurkan berkat kepada kita, tetapi kita harus tahu untuk apa sebenarnya berkat itu diberikan kepada kita. "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Itulah hakekatnya mengapa kita diberkati, yaitu untuk memberkati orang lain. Banyak sedikit uang yang dimilikinya bukanlah menjadi ukuran, tetapi kerelaan hatinya dalam memberi atas dasar belas kasih, itulah yang seharusnya menggerakkan kita untuk berbuat baik dan beramal. Ini sesuai dengan bunyi Firman Tuhan bahwa kita diminta untuk memberi "menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan." Mengapa? "Sebab Tuhan mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." Ini bisa kita baca dalam 2 Korintus 9:7. Artinya, besar kecilnya pemberian kita, dalam bentuk apapun, berapapun yang kita punya saat ini, selama kita memberi dengan kerelaan dan sukacita, maka Tuhan akan menghargai itu dengan sangat besar.

Anda merasa tidak punya cukup untuk diberikan? Anda merasa kemampuan anda terbatas dan anda merasa tidak ada yang istimewa dengan kemampuan anda itu? Berhentilah berpikir seperti itu, karena itu  tidak akan pernah bisa menjadi alasan untuk tidak memberi. Sesungguhnya jika kita mau melihat atau memeriksa kembali apa yang kita punya, Tuhan sudah melengkapi kita untuk melakukan setiap perbuatan baik. (2 Timotius 3:17). Artinya kita tinggal memiliki sebentuk hati yang penuh kasih, yang rindu untuk menolong orang lain, siapapun mereka. Selebihnya sudah disediakan langsung oleh Tuhan. Mari luangkan waktu untuk meresapi ayat berikut: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Kita tidak akan pernah kekurangan setelah memberi dengan kerelaan hati dan sukacita, Tuhan justru akan terus melipat gandakan agar selain kita mampu mencukupi kebutuhan kita, tetapi terlebih pula agar kita mampu memberkati orang lain lebih dan lebih lagi. Kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Hati yang bersukacita dalam memberi tidak akan memandang kekurangan atau keterbatasan diri sendiri, tetapi mampu melihat dengan penuh rasa syukur bagaimana Tuhan selama ini telah memberkati kita.

Jadilah orang murah hati seperti Bapa adalah murah hati

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 8, 2012

Hal Memberi (1)

Ayat bacaan: 2 Korintus 8:2
===========================
"Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan."

Haruskah kita kaya terlebih dahulu untuk bisa bergerak menolong orang lain dengan memiliki hati penuh belas kasih? Pertanyaan tersebut akan berlanjut kepada: seberapa banyak dahulu harta kekayaan yang akan dianggap cukup untuk memberi pertolongan kepada orang lain? Banyaknya harta yang kita anggap cukup itu relatif sifatnya, karena ada orang yang sebenarnya sudah lebih dari cukup tapi masih terus saja merasa kekurangan. Sebaliknya ada orang-orang yang secara garis besar hidup pas-pasan, tapi mereka masih tetap bisa memberi dengan sukacita. Dengarlah kisah seorang teman saya yang hidup pas-pasan tapi rela memberikan semua uang bulanannya untuk membantu teman kosnya yang tengah kesulitan dana. Ia tidak berpikir bagaimana ia bisa makan dan memenuhi kebutuhan bulanannya. "Saya tahu Tuhan tidak akan membiarkan saya jadi susah karena menolong teman saya.. hati saya tergerak, dan karena itu saya dengan sukarela memberikan apa yang ada pada saya." katanya. Apa yang terjadi selanjutnya tepat seperti imannya. Ia kemudian mendapat rejeki tak terduga dalam pekerjaan yang ia lakukan dan memperoleh hampir dua kali lipat lebih banyak. Ini sebuah kesaksian bahwa janji Tuhan bukanlah hanya pepesan kosong tanpa makna. Dan ini pun bisa menjadi bukti bahwa bukan soal jumlah harta yang menentukan kerelaan kita untuk memberi, tetapi itu semua tergantung dari kondisi dan sikap hati, apakah memiliki kasih di dalamnya atau tidak. 

Di dalam Alkitab terdapat banyak kisah mengenai orang yang dimata dunia mungkin "tidak punya apa-apa", tetapi kerelaan mereka dalam memberi mendapat perhatian khusus dari Tuhan sehingga merekapun tertulis di dalam Alkitab yang masih bisa kita baca hingga hari ini. Salah satu contoh nyata adalah janda miskin yang memberikan persembahan "hanya" dua peser dalam Markus 12:41-44. Pada saat itu ada banyak orang kaya memberi dalam jumlah yang besar. Janda yang miskin ini memberikan jumlah yang mungkin sangat tidak sebanding nilai nominalnya. Tetapi apa kata Yesus? "Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan." (ay 43). Mengapa Yesus menghargai pemberian janda ini jauh lebih tinggi dari yang lain? Markus mencatat alasan yang diberikan Yesus sendiri: "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44).

Contoh lain dapat kita baca lewat kisah seorang wanita bernama Tabita (Dorkas dalam bahasa Yunani).  "Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita--dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah." (Kisah Para Rasul 9:36). Tabita bukanlah orang yang kaya raya. Apa yang ia punya sepertinya biasa saja, yaitu keahlian menjahit. Itu disebutkan dalam ayat 39, dimana ketika ia meninggal para janda semuanya menangis dan mengenangnya dengan menunjukkan pakaian-pakaian yang dia jahitkan untuk para janda ini semasa hidup. Dia tidak memberi uang dalam jumlah besar, ia pun tidak pintar berkotbah seperti halnya para rasul yang pergi mewartakan kabar keselamatan kemana-mana pada saat itu. Tetapi hal sederhana yang ia lakukan dengan menjahitkan baju-baju buat para janda miskin semasa hidupnya ternyata bermakna sangat besar bagi mereka. Tuhan pun berkenan akan hal itu. Ketika ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal, para janda pun sangat merasa kehilangan. Lalu mereka mendengar Petrus rupanya tengah melayani di sebuah kota yang tidak jauh dari tempat Tabita. Mereka segera mengutus dua orang untuk menjumpai Petrus. Petrus pun datang ke rumah dimana Tabita disemayamkan. Dan mukjizat pun terjadi. "Tetapi Petrus menyuruh mereka semua keluar, lalu ia berlutut dan berdoa. Kemudian ia berpaling ke mayat itu dan berkata: "Tabita, bangkitlah!" Lalu Tabita membuka matanya dan ketika melihat Petrus, ia bangun lalu duduk. Petrus memegang tangannya dan membantu dia berdiri. Kemudian ia memanggil orang-orang kudus beserta janda-janda, lalu menunjukkan kepada mereka, bahwa perempuan itu hidup." (ay 40-41). Tabita dibangkitkan. Bayangkan jika ia bukan orang yang rajin berbuat baik dan memberi sedekah. Mungkin tidak ada orang yang peduli untuk jauh-jauh pergi meminta Petrus untuk datang, maka tidak akan ada mukjizat kebangkitan disana. Tapi perbuatan baik yang ia lakukan dengan tulus, sedekah yang ia berikan lewat menjahitkan baju bagi janda-janda ternyata membuat cerita yang berbeda. Tuhan tidak menutup mata atas kebaikan hati Tabita dan segala yang ia lakukan untuk menolong sesamanya. Tabita pun akhirnya hidup lagi dan menjadi kesaksian yang membuat banyak orang menjadi percaya pada Yesus. (ay 42).

Lalu mari kita lihat jemaat Makedonia menurut catatan Paulus. Kepada jemaat Korintus, Paulus bersaksi mengenai bagaimana pertumbuhan kasih karunia yang terjadi pada jemaat di Makedonia pada masa itu. Mungkin ada banyak orang yang beranggapan bahwa kewajiban memberi hanya berlaku apabila sedang berkelimpahan, tapi jemaat Makedonia menunjukkan sikap yang berbeda. Mereka bukanlah jemaat yang kaya raya. Mereka justru dikatakan sebagai jemaat yang sedang bergumul dalam berbagai penderitaan dan hidup dalam kemiskinan. Tapi itu semua ternyata tidak menghalangi mereka untuk tetap memberi dengan penuh sukacita. Paulus bersaksi: "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (2 Korintus 8:2). Mereka miskin materi, tapi kaya raya dalam kemurahan. Sekali lagi kita melihat contoh luar biasa lewat jemaat Makedonia yang sama sekali jauh dari kemakmuran materi.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...