=====================
"Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya."
Jika saat ini ada sayur yang terhidang di atas meja makan anda, berterima kasihlah kepada petani. Peran mereka sungguh besar terutama dalam mencukupi kebutuhan kita akan pangan. Ketika kita selalu ingin kulit kita putih dan iklan-iklan 'whitening' alias pemutih bertebaran di televisi, para petani tidak mempedulikan kulit mereka menjadi hitam karena harus bekerja di bawah terik matahari. Mereka terus bekerja dari pagi hingga petang di ladang masing-masing. Mereka bekerja agar mampu menghidupi keluarganya dengan menghasilkan berbagai hasil pertanian yang kita nikmati di atas meja makan setiap hari. Sepertinya pekerjaan mereka sederhana saja, tetapi itu pun jelas merupakan kerja keras yang sangat pantas kita hargai. Ketika kita sering merasa risih dengan hal-hal yang bisa mengotori tangan atau pakaian kita, kaki mereka terendam, tangan mereka berlumur tanah, keringat menetes dimana-mana agar bisa menghasilkan panen yang baik. Rasanya tidak ada petani yang cuma duduk bermalas-malasan tapi bisa menghasilkan panen besar. Jika ingin mendapatkan panen yang besar, mereka tentu harus bekerja keras mulai dari menanam, mengurus, memupuk, mengairi hingga memanen dan menjual hasil jerih payah mereka. Tanpa itu semua, niscaya tidak akan ada sesuatu yang mereka hasilkan. Hasil yang diperoleh petani yang bekerja keras dengan petani yang malas tentu berbeda. Di daerah-daerah yang masih sulit dijangkau kendaraan, seringkali para petani ini pun harus mengantar hasil panennya ke kota terdekat baik dengan mengendarai sepeda motor atau bahkan berjalan kaki. Terima kasih pak dan bu petani, kita bisa menikmati sayuran segar berkat jerih payah mereka. Salah satu ayat dalam Amsal Salomo berkata "Pada musim dingin si pemalas tidak membajak; jikalau ia mencari pada musim menuai, maka tidak ada apa-apa." (Amsal 20:4). Petani yang malas dan memilih untuk tidak mengerjakan segala sesuatu pada musim tanam tidak akan memperoleh apa-apa ketika musim panen tiba. Lewat kerja keras dan jerih payah petani ada banyak yang bisa kita pelajari untuk diaplikasikan dalam kehidupan keimanan kita. Tanpa usaha dari kita untuk menjaga dan menumbuhkan iman kita untuk terus lebih dekat dan lebih dalam lagi dengan Kristus, kita tidak akan pernah bisa menuai apa-apa ketika waktunya tiba. Jika petani harus sabar menunggu hingga musim panen tiba, sesuatu yang tidak mungkin terjadi hanya dalam semalam, demikian pula kita harus bersabar dalam proses pertumbuhan iman kita. Dalam proses itu apa yang kita hadapi seringkali tidak mudah. Ada begitu banyak rintangan dan penderitaan yang harus kita lalui, tidak jarang ada pengorbanan-pengorbanan yang harus kita lakukan. Tapi semua itu pantas karena apa yang dijanjikan Tuhan pada akhirnya sungguh indah. Kita bisa saja bermalas-malasan, tapi ingatlah jika itu yang kita pilih, maka hasil akhirnya nanti hanyalah akan menyisakan penyesalan.
Belajarlah dari petani. Inilah yang diingatkan oleh Paulus dalam suratnya kepada Timotius. "Seorang petani yang bekerja keras haruslah yang pertama menikmati hasil usahanya." (2 Timotius 2:6). Hanya petani yang menabur banyak dan rajin mengusahakan pertaniannya lah yang berhak berharap panen besar. Berbicara mengenai menabur, kitapun seharusnya rajin-rajin menabur, agar kita bisa menuai banyak. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga." (2 Korintus 9:6). Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya untuk ditabur, Dia pula yang akan memberkati kita lewat apa yang kita tabur. "Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami." (ay 11-12).
Segala kemalasan kita tidak akan pernah mendatangkan kebaikan, sebaliknya hanyalah akan merugikan. Tuhan tidak menyukai orang-orang malas. Begitu kerasnya Paulus menegaskan hal ini. "Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Ia juga mengingatkan agar kita tidak terperosok ke dalam perilaku banyak orang yang hanya sibuk melakukan sesuatu yang tidak berguna saja. Menumbuhkan iman dalam hidup tidak terjadi hanya dalam semalam. Untuk bisa terus meningkatkannya, kita perlu fokus yang benar dan dibutuhkan keseriusan, komitmen dan kerja keras dari kita. Disiplinkan diri dalam berdoa, bersaat teduh, membaca dan merenungkan Firman Tuhan, dan mengaplikasikannya secara nyata dalam hidup kita. Semua itu merupakan proses yang tidak sebentar, kadang kala menyakitkan, terkadang butuh pengorbanan, namun pada akhirnya semua itu akan mendatangkan kebaikan dan sukacita melimpah untuk selamanya. Apa yang dikatakan Paulus mengenai "jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan" berlaku pula dalam kehidupan iman kita. Jika kita tidak mau berusaha untuk lebih dalam lagi bersekutu denganNya dengan sungguh-sungguh, jangan harap kita bisa mendapatkan sesuatu kelak.
Belajarlah dari petani, baik dari segi kerja kerasnya maupun kesabaran mereka menanti usaha mereka hingga musim panen tiba. "Karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi." (Yakobus 5:7). Kalau kita tidak pernah mau mulai menanam dan mengusahakan dengan serius, bagaimana mungkin kita bisa berharap untuk menuai? Jangan buru-buru putus asa dan patah semangat, tapi bersabarlah seperti halnya petani menanti tuaian mereka pada waktunya. "Kamu juga harus bersabar dan harus meneguhkan hatimu, karena kedatangan Tuhan sudah dekat!" (ay 8). Kita harus belajar dan terus berusaha untuk tekun bekerja dan rajin menabur, karena nanti pada saatnya kita sendirilah yang akan menuai hasilnya. Jangan menjadi lemah dalam prosesnya, tetaplah bersabar. Tidak ada janji Tuhan yang tidak Dia tepati. Karenanya lakukanlah apa yang menjadi bagian kita dengan usaha yang sungguh-sungguh agar kita bisa menuai tepat seperti yang dianugerahkan Tuhan kelak di kemudian hari.
Belajarlah dari para petani yang rajin menanam dan bekerja keras serta sabar menanti hingga musim panen tiba
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedang yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara. Pada suatu kali di sebuah kantor lift mendadak mati, sehingga saya bersama beberapa orang harus turun dari lantai 8 menuju ke dasar. Maka terlihat jelaslah orang yang sering berlatih kebugaran dengan yang tidak, terutama setelah mencapai lantai bawah. Usia tidak membawa pengaruh berarti, karena ada beberapa diantara mereka yang sudah cukup lanjut usia ternyata mampu 'mengalahkan' yang lebih muda dari segi kebugaran.
Jalan makin semrawut, selain karena jumlah kendaraan bertambah banyak, tapi salah satu penyebab utamanya adalah ketidak-patuhan pengendara terhadap peraturan berlalu lintas. Perhatikanlah, semakin banyak orang yang 'nyelonong' seenaknya tanpa peduli peraturan dan etika mengemudi. Bikin SIM sistim tembak lewat calo, tidak mau repot, akhirnya semakin banyak orang yang tidak paham betul mengenai peraturan atau rambu-rambu. Masih mending jika hanya bikin macet dan semrawut. Bagaimana jika itu mendatangkan bahaya baik kepada diri sendiri atau juga membahayakan nyawa orang lain? Sekedar bisa mengemudi saja tidaklah cukup. Pengetahuan umum mengenai rambu dan tata cara berkendara lainnya pun wajib kita ketahui jika kita mau selamat di jalan. Pengenalan yang benar selain bisa menjaga ketertiban dan kelancaran di jalan tapi juga mampu menghindarkan kita dari kecelakaan dan berbagai musibah lainnya.
Tanyakan kepada olahragawan manapun apakah mereka pernah ingin bertanding untuk kalah atau sekedar menjadi penggembira saja. Tentu saja pikiran seperti itu tidak pernah ada di benak mereka. Mereka melakukan usaha dan latihan serius dalam waktu yang panjang tentu dengan harapan untuk bisa menjadi yang terbaik di bidangnya. Para atlit pasti ingin mengukir prestasinya sebagai yang terdepan di cabang yang mereka geluti. Tidak ada satupun olahragawan yang bersiap untuk kalah , semua berlomba untuk menang dan keluar menjadi juara. Tidak hanya atlit, tetapi dalam kehidupan kita masing-masing kitapun ingin mengukir prestasi setinggi mungkin. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan "gelanggang-gelanggang" pertandingan yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi dan berhasil di dalamnya. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya dengan segudang usaha keras. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk bisa mengukir prestasi. Tanpa itu maka jangan harap prestasi mampu diraih.
Haruskah kita kaya terlebih dahulu untuk bisa bergerak menolong orang lain dengan memiliki hati penuh belas kasih? Pertanyaan tersebut akan berlanjut kepada: seberapa banyak dahulu harta kekayaan yang akan dianggap cukup untuk memberi pertolongan kepada orang lain? Banyaknya harta yang kita anggap cukup itu relatif sifatnya, karena ada orang yang sebenarnya sudah lebih dari cukup tapi masih terus saja merasa kekurangan. Sebaliknya ada orang-orang yang secara garis besar hidup pas-pasan, tapi mereka masih tetap bisa memberi dengan sukacita. Dengarlah kisah seorang teman saya yang hidup pas-pasan tapi rela memberikan semua uang bulanannya untuk membantu teman kosnya yang tengah kesulitan dana. Ia tidak berpikir bagaimana ia bisa makan dan memenuhi kebutuhan bulanannya. "Saya tahu Tuhan tidak akan membiarkan saya jadi susah karena menolong teman saya.. hati saya tergerak, dan karena itu saya dengan sukarela memberikan apa yang ada pada saya." katanya. Apa yang terjadi selanjutnya tepat seperti imannya. Ia kemudian mendapat rejeki tak terduga dalam pekerjaan yang ia lakukan dan memperoleh hampir dua kali lipat lebih banyak. Ini sebuah kesaksian bahwa janji Tuhan bukanlah hanya pepesan kosong tanpa makna. Dan ini pun bisa menjadi bukti bahwa bukan soal jumlah harta yang menentukan kerelaan kita untuk memberi, tetapi itu semua tergantung dari kondisi dan sikap hati, apakah memiliki kasih di dalamnya atau tidak.