=================
"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."
Dalam pertandingan-pertandingan olah raga kita sering mendengar para komentator menyebutkan kata beruntung dan kurang beruntung. Beruntung atau tidak itu ada diluar skill atau kemampuan, teknik atau penguasaan dan sebagainya. Skill oke, tapi ternyata bola melenceng diluar gawang, atau bola menyangkut di net dalam pertandingan bulu tangkis, itu artinya kurang beruntung. Penjagaan ketat, tapi bisa menjebol gawang, itu namanya beruntung. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang pun menggantungkan alasan pada faktor keberuntungan ini. Lucunya ada banyak orang yang hanya berkata bahwa mereka belum beruntung tapi sesungguhnya mereka belumlah sepenuhnya serius dalam mengusahakan sesuatu. Faktor keberuntungan setiap orang pun kita anggap beragam. Ada yang selalu, ada yang sering, ada yang jarang malah ada yang merasa bahwa ia justru sebaliknya, sial melulu. Orang biasa menganggap bahwa keberuntungan itu adalah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi ternyata Alkitab mengatakan bahwa keberuntungan pun datangnya dari Tuhan. Bagi kita sebuah keberuntungan bisa jadi mengejutkan, tapi itu sebenarnya tetap saja tidak akan pernah terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan.Akan hal ini kita bisa melihatnya dalam kitab Yosua. Pada awal kitab ini diceritakan bahwa Yosua menerima tugas maha berat untuk menggantikan peran Musa. Siapa yang tidak gemetar menerima tugas seperti ini, terlebih setelah ia melihat langsung sikap keras kepala bangsa Israel sepanjang perjalanan disaat ia masih menjabat sebagai abdi Musa? ia sempat ragu dan gentar. Siapa yang tidak? Menuntun bangsa yang tegar tengkuk, ahli dalam bersungut-sungut dan juara melawan, itu akan sama rasanya seperti bunuh diri. Seandainya anda menjadi Yosua, tentu anda pun merasa gentar seperti Yosua. Tapi Tuhan dengan tegas memilih Yosua, dan itu sudah Dia rencanakan sejak semula. Dari mana kita tahu? Mari kita lihat fakta ini. Yosua sudah melalui proses pelatihan yang begitu panjang sejak menjadi abdi Musa di masa mudanya. Ia terus ada bersama Musa dan belajar mengenai kepemimpinan, dan tentunya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana penyertaan Tuhan terus menerus hadir dalam perjalanan panjang tersebut. Bahkan pada suatu kali ia pun turut serta ketika Musa berhadapan langsung dengan Tuhan, muka dengan muka di dalam kemah. "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (Keluaran 33:11). Jadi Yosua memang sudah sejak awal dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi penerus Musa. Tetapi tetap saja pada saat waktu bagi Yosua untuk memimpin tiba, ia sempat merasa ragu dengan kesanggupannya. Dan Tuhan pun memberi nasihat kepadanya seperti yang bisa kita baca pada awal kitab Yosua ini. Dan disinilah kita kemudian menemukan kata "beruntung", yang ternyata bukan sekedar kebetulan, tapi punya kunci agar bisa kita peroleh. Perhatikanlah kedua ayat berikut ini:
"Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:7-8)
Dari ayat diatas kita bisa melihat bahwa ada dua kunci atau petunjuk diberikan Tuhan agar kita bisa beroleh keberuntungan, yaitu:
1. Kita harus menguatkan dan meneguhkan hati, dan
2. Kita harus merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan siang dan malam
Inilah dua syarat yang akan mampu membawa keberuntungan dalam hidup kita. Bahkan dalam ayat 8 kita bisa melihat bahwa tidak saja keberuntungan, tetapi keberhasilan pun menjadi bagian kita apabila kita melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan.
Ada perbedaan nyata antara sebuah keberuntungan dan keberhasilan. Keberhasilan adalah sebuah proses, sesuatu yang bisa kita raih dengan kerja keras, ketekunan dan perjuangan. Sebagai sebuah proses, keberhasilan itu butuh waktu, yang terkadang bisa sangat panjang jangka waktunya. Keberhasilan bukanlah sebuah rejeki nomplok yang bisa kita raih dalam sehari saja. Sedang keberuntungan adalah sesuatu yang datang tidak terduga oleh kita. Lewat Firman Tuhan hari ini kita pun sadar bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan semata, tetapi merupakan hasil dari campur tangan Tuhan setelah kita melakukan perintahNya.
Selanjutnya mari kita perhatikan bahwa kata "kuatkan dan teguhkan hatimu" diulang hingga dua kali mulai dari ayat ke 6 dengan penekanan yang lebih dalam ayat ke 7. Ini menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk kita perhatikan dalam menjalani kehidupan kita. Betapa seringnya kegagalan bukan berasal dari faktor luar, tapi justru berasal dari permasalahan internal dalam diri kita sendiri. Kita terlalu cepat putus asa, menyerah dalam menghadapi masalah. Tuhan tahu itu makanya Tuhan menganggap penting untuk mengulang pesan ini hingga dua kali. Kemudian kita pun diingatkan agar tidak mengabaikan Firman Tuhan, tetapi haruslah membaca, merenungkan, memperkatakan dan mengaplikasikannya dalam hidup kita. "Bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah Kuperintahkan kepadamu" atau "sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya" kata Tuhan. Itu menyatakan keharusan agar kita tetap melangkah bersama Firman Tuhan. Dalam keadaan, situasi atau kondisi apapun kita wajib berpegang erat pada Firman Tuhan. Yesus juga mengingatkan hal tersebut. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7).
Sekarang, coba bayangkan sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh keberhasilan dan keberuntungan. Bukankah itu terdengar sangat indah? Bukan hanya salah satu, tetapi keduanya bisa kita peroleh lewat kunci yang telah diberikan Tuhan langsung. Taatlah, lakukanlah sesuai Firman Tuhan, dan tetap kuatkan serta teguhkan hati. Itu akan membawa hidup kita masuk ke dalam sebuah hidup dimana keberhasilan dan keberuntungan bukan lagi sesuatu yang langka untuk kita nikmati.
Keberhasilan dan keberuntungan akan menjadi bagian dari perjalanan kita jika kita melakukan syaratnya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Jika anda seorang gamer, anda tentu tahu bahwa dalam melakukan sebuah langkah seperti menyerang, melompati halangan dan sebagainya diperlukan 'timing' yang tepat. Timing yang tepat hanya bisa kita ambil jika kita yakin bahwa itu saat yang tepat dalam menggerakkan atau melakukan sesuatu atas tokoh yang kita kontrol. Dalam dunia nyata pun hal yang sama berlaku. Anda akan sulit untuk sukses jika anda terus melangkah disertai perasaan ragu atau bimbang. Sebelum anda bisa meyakinkan orang lain, anda harus terlebih dahulu meyakinkan diri sendiri. Suatu kali saya pernah menonton wawancara seorang aktor laga dari Hong Kong. Ia memberi tips bahwa sebelum melakukan adegan berbahaya, ia harus terlebih dahulu memastikan dirinya berada dalam kondisi baik, sehingga ia bisa membangun keyakinan untuk melakukan adegan tersebut. Ia pun kemudian bercerita mengenai insiden yang pernah ia alami dalam proses shooting sebuah film. Pada saat itu ia sedang bersiap-siap melompat dari satu gedung ke gedung berikutnya. Tepat sebelum ia melompat, tiba-tiba ia merasa ragu. Rasa itu hanya sekelebat saja, tapi ternyata itu membawa dampak buruk. Ia pun terjatuh dan mengalami cedera serius. Untung saja nyawanya selamat, sehingga ia masih bisa memberikan tips yang bukan saja berguna bagi para aktor adegan laga yang sering melakukan resiko-resiko berbahaya, tapi pesan ini sesungguhnya penting untuk kita ingat dalam segala aspek kehidupan kita, termasuk di dalamnya dalam hal kerohanian.
Meski di rumah rutin berdoa, ternyata itu tidak menjamin orang untuk berani berdoa di depan mimbar atau bahkan di depan beberapa teman sendiri. Faktanya lebih banyak orang yang menolak untuk tampil ke depan dibandingkan mereka yang berani. Demam panggung mungkin bisa menjadi salah satu alasan yang paling sering kita dengar, atau merasa malu untuk itu. Tapi tidak jarang pula mereka beranggapan bahwa mereka tidak punya cukup kepandaian untuk merangkai kata-kata yang indah agar doa itu enak didengar. Pendapat seperti ini sebenarnya adalah pendapat yang keliru. Banyak orang mengira bahwa agar doa dikabulkan Tuhan, maka doa itu harus dirangkai layaknya menulis puisi atau lirik lagu. Ada yang berusaha menambahkan begitu banyak bunga-bunga kata, sehingga akhirnya bunga kata itulah yang mendominasi doa ketimbang intinya. Ada pula yang beranggapan bahwa doa harus lama dan panjang agar mujarab. Jika singkat, jangan harap Tuhan mau mendengarnya. Yang lebih lucu lagi, ada pula yang beralasan bahwa mereka tidak menguasai sepenuhnya kaidah bahasa yang benar. Semua pendapat ini pun keliru, sebab dari apa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri, doa yang baik tidaklah tergantung dari indahnya untaian kata puitis dan mendayu-dayu apalagi panjang pendeknya. Tuhan tidak pernah menuntut kerumitan susunan kata, atau harus pakai ejaan sesuai kaidah bahasa yang benar. Lantas seperti apa? Hari ini mari dan besok kita melihat seperti apa sebenarnya doa yang baik itu lewat pengajaran Yesus sendiri.
Bagi pelaku tindak kejahatan yang sudah menjalani hukuman dalam kurungan sesuai vonis yang ditetapkan hakim, seringkali cap narapidana itu akan mengikuti hidup mereka selamanya. Ketika mereka ditahan mereka disebut sebagai napi atau narapidana, dan setelah keluar ternyata cap itu masih menempel, hanya saja ditambah kata "mantan" di depannya. Artinya status itu akan terus melekat pada mereka, meski mereka sudah menjalani hukuman atau bahkan menyesali perbuatannya dan bertobat. Pola seperti ini ternyata sangat disukai oleh iblis. Lihatlah betapa banyaknya orang yang sulit bangkit dari masa lalu yang buruk. Mereka terus dihantui masa lalu mereka dan tidak yakin mereka bisa mendapat pengampunan karena merasa apa yang mereka perbuat dahulu sangatlah buruk. Seorang teman pernah berkata bahwa ia tidak yakin ia sudah diampuni Tuhan. Ia masih sering dicekam rasa takut meski ia sudah menyadari kesalahannya di waktu lampau dan bertobat. Perasaan seperti ini mungkin banyak dialami orang, bahkan masih banyak dirasakan diantara orang-orang percaya sekalipun yang sudah menjaga hidupnya. Mereka hidup bagai memanggul beban berat, menjalani setiap langkah dengan perasaan tertuduh. Dengarlah, iblis selalu berupaya mencegah atau menghalangi pertumbuhan iman kita dan akan terus berusaha menggagalkan kita dari semua janji yang sudah diberikan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan mempergunakan pola menuduh atau mendakwa kita lewat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu.
Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan bekerja secara luar biasa lewat sebuah buli-buli minyak saja. Seperti janji saya kemarin, hari ini mari kita lihat kisah lainnya yang berisi esensi yang sama, yaitu lewat kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan menjadi 5000 roti dan ikan ditambah 12 bakul sisa. Kisah ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Secara matematis itu tidaklah mungkin. Logika kita pun akan berkata mustahil. Tapi itulah tepatnya yang terjadi, Kisah "Yesus memberi makan lima ribu orang" ini tertulis pada keempat Injil, yaitu dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17 dan Yohanes 6:1-13. Jika kita baca baik-baik, yang terjadi bahkan lebih dari jumlah diatas, karena yang dihitung 5000 orang itu hanyalah laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Bagaimana mungkin dari jumlah hanya lima buah roti dan dua ekor ikan sanggup untuk memberi makan total manusia sebanyak itu bahkan berlebih? Tapi Yesus melakukan itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat kisah selengkapnyalewat apa yang tertulis dalam Injil Markus.
Bagi anda yang berlangganan TV cable tentu bertemu kembali dengan serial TV yang dahulu sangat populer di Indonesia yaitu MacGyver. Serial yang aslinya diputar sejak tahun 1985 sampai 1992 bercerita tentang seorang jagoan yang sangat pintar yang selalu mampu menyelesaikan masalah demi masalah dengan menggunakan apapun yang bisa ia jumpai. Jika kebanyakan tokoh utama film action harus mempergunakan senjata, ia memilih untuk memakai lakban dan perkakas lipat multi guna atau sering disebut Swiss Army knife. Apa yang saya suka dari tokoh ini adalah ia tidak pernah mengeluh terhadap keterbatasannya ataupun terbatasnya ketersediaan perlengkapan atau bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengalahkan musuh atau situasi sulit. Ia selalu bisa keluar dari masalah dengan memaksimalkan apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada disekitarnya. Kisah fiktif? Mungkin ya. Tapi saya suka esensinya. Terlebih ketika sikap ini semakin lama semakin sulit untuk dijumpai karena orang semakin malas dan lebih suka memilih untuk mengeluh dan menyalahkan situasi ataubahkan orang lain ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada dan bisa diolah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tuhan tidak suka orang-orang yang jago mengeluh apalagi yang hobinya mencari kambing hitam. Tuhan selalu ingin kita memeriksa dahulu apa yang ada pada kita sebelum kita menyerah dan mencari kesalahan dari orang lain maupun situasi. Hari ini dan besok, mari kita lihat apa kata Alkitab mengenai hal ini lewat dua kisah yang berbeda.