Sunday, July 15, 2012

Beruntung

Ayat bacaan: Yosua 1:8
=================
"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."

Dalam pertandingan-pertandingan olah raga kita sering mendengar para komentator menyebutkan kata beruntung dan kurang beruntung. Beruntung atau tidak itu ada diluar skill atau kemampuan, teknik atau penguasaan dan sebagainya. Skill oke, tapi ternyata bola melenceng diluar gawang, atau bola menyangkut di net dalam pertandingan bulu tangkis, itu artinya kurang beruntung. Penjagaan ketat, tapi bisa menjebol gawang, itu namanya beruntung. Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali orang pun menggantungkan alasan pada faktor keberuntungan ini. Lucunya ada banyak orang yang hanya berkata bahwa mereka belum beruntung tapi sesungguhnya mereka belumlah sepenuhnya serius dalam mengusahakan sesuatu. Faktor keberuntungan setiap orang pun kita anggap beragam. Ada yang selalu, ada yang sering, ada yang jarang malah ada yang merasa bahwa ia justru sebaliknya, sial melulu. Orang biasa menganggap bahwa keberuntungan itu adalah sesuatu yang terjadi secara kebetulan, tetapi ternyata Alkitab mengatakan bahwa keberuntungan pun datangnya dari Tuhan. Bagi kita sebuah keberuntungan bisa jadi mengejutkan, tapi itu sebenarnya tetap saja tidak akan pernah terjadi tanpa sepengetahuan Tuhan.

Akan hal ini kita bisa melihatnya dalam kitab Yosua. Pada awal kitab ini diceritakan bahwa Yosua menerima tugas maha berat untuk menggantikan peran Musa. Siapa yang tidak gemetar menerima tugas seperti ini, terlebih setelah ia melihat langsung sikap keras kepala bangsa Israel sepanjang perjalanan disaat ia masih menjabat sebagai abdi Musa? ia sempat ragu dan gentar. Siapa yang tidak? Menuntun bangsa yang tegar tengkuk, ahli dalam bersungut-sungut dan juara melawan, itu akan sama rasanya seperti bunuh diri. Seandainya anda menjadi Yosua, tentu anda pun merasa gentar seperti Yosua. Tapi Tuhan dengan tegas memilih Yosua, dan itu sudah Dia rencanakan sejak semula. Dari mana kita tahu? Mari kita lihat fakta ini. Yosua sudah melalui proses pelatihan yang begitu panjang sejak menjadi abdi Musa di masa mudanya. Ia terus ada bersama Musa dan belajar mengenai kepemimpinan, dan tentunya menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri bagaimana penyertaan Tuhan terus menerus hadir dalam perjalanan panjang tersebut. Bahkan pada suatu kali ia pun turut serta ketika Musa berhadapan langsung dengan Tuhan, muka dengan muka di dalam kemah. "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (Keluaran 33:11). Jadi Yosua memang sudah sejak awal dipersiapkan oleh Tuhan untuk menjadi penerus Musa. Tetapi tetap saja pada saat waktu bagi Yosua untuk memimpin tiba, ia sempat merasa ragu dengan kesanggupannya. Dan Tuhan pun memberi nasihat kepadanya seperti yang bisa kita baca pada awal kitab Yosua ini. Dan disinilah kita kemudian menemukan kata "beruntung", yang ternyata bukan sekedar kebetulan, tapi punya kunci agar bisa kita peroleh. Perhatikanlah kedua ayat berikut ini:

"Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke manapun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:7-8)

Dari ayat diatas kita bisa melihat bahwa ada dua kunci atau petunjuk diberikan Tuhan agar kita bisa beroleh keberuntungan, yaitu:
1. Kita harus menguatkan dan meneguhkan hati, dan
2. Kita harus merenungkan, memperkatakan dan melakukan Firman Tuhan siang dan malam
Inilah dua syarat yang akan mampu membawa keberuntungan dalam hidup kita. Bahkan dalam ayat 8 kita bisa melihat bahwa tidak saja keberuntungan, tetapi keberhasilan pun menjadi bagian kita apabila kita melakukan tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan.

Ada perbedaan nyata antara sebuah keberuntungan dan keberhasilan. Keberhasilan adalah sebuah proses, sesuatu yang bisa kita raih dengan kerja keras, ketekunan dan perjuangan. Sebagai sebuah proses, keberhasilan itu butuh waktu, yang terkadang bisa sangat panjang jangka waktunya. Keberhasilan bukanlah sebuah rejeki nomplok yang bisa kita raih dalam sehari saja. Sedang keberuntungan adalah sesuatu yang datang tidak terduga oleh kita. Lewat Firman Tuhan hari ini kita pun sadar bahwa keberuntungan bukanlah kebetulan semata, tetapi merupakan hasil dari campur tangan Tuhan setelah kita melakukan perintahNya.

Selanjutnya mari kita perhatikan bahwa kata "kuatkan dan teguhkan hatimu" diulang hingga dua kali mulai dari ayat ke 6 dengan penekanan yang lebih dalam ayat ke 7. Ini menunjukkan betapa pentingnya hal ini untuk kita perhatikan dalam menjalani kehidupan kita. Betapa seringnya kegagalan bukan berasal dari faktor luar, tapi justru berasal dari permasalahan internal dalam diri kita sendiri. Kita terlalu cepat putus asa, menyerah dalam menghadapi masalah. Tuhan tahu itu makanya Tuhan menganggap penting untuk mengulang pesan ini hingga dua kali. Kemudian kita pun diingatkan agar tidak mengabaikan Firman Tuhan, tetapi haruslah membaca, merenungkan, memperkatakan dan mengaplikasikannya dalam hidup kita. "Bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah Kuperintahkan kepadamu" atau "sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya" kata Tuhan. Itu menyatakan keharusan agar kita tetap melangkah bersama Firman Tuhan. Dalam keadaan, situasi atau kondisi apapun kita wajib berpegang erat pada Firman Tuhan. Yesus juga mengingatkan hal tersebut. "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya." (Yohanes 15:7).

Sekarang, coba bayangkan sebuah kehidupan yang dipenuhi oleh keberhasilan dan keberuntungan. Bukankah itu terdengar sangat indah? Bukan hanya salah satu, tetapi keduanya bisa kita peroleh lewat kunci yang telah diberikan Tuhan langsung. Taatlah, lakukanlah sesuai Firman Tuhan, dan tetap kuatkan serta teguhkan hati. Itu akan membawa hidup kita masuk ke dalam sebuah hidup dimana keberhasilan dan keberuntungan bukan lagi sesuatu yang langka untuk kita nikmati.

Keberhasilan dan keberuntungan akan menjadi bagian dari perjalanan kita jika kita melakukan syaratnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 14, 2012

Keraguan yang Merusak

 Ayat bacaan: Matius 14:31
=====================
"Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

kebimbangan, keraguanJika anda seorang gamer, anda tentu tahu bahwa dalam melakukan sebuah langkah seperti menyerang, melompati halangan dan sebagainya diperlukan 'timing' yang tepat. Timing yang tepat hanya bisa kita ambil jika kita yakin bahwa itu saat yang tepat dalam menggerakkan atau melakukan sesuatu atas tokoh yang kita kontrol. Dalam dunia nyata pun hal yang sama berlaku. Anda akan sulit untuk sukses jika anda terus melangkah disertai perasaan ragu atau bimbang. Sebelum anda bisa meyakinkan orang lain, anda harus terlebih dahulu meyakinkan diri sendiri. Suatu kali saya pernah menonton wawancara seorang aktor laga dari Hong Kong. Ia memberi tips bahwa sebelum melakukan adegan berbahaya, ia harus terlebih dahulu memastikan dirinya berada dalam kondisi baik, sehingga ia bisa membangun keyakinan untuk melakukan adegan tersebut. Ia pun kemudian bercerita mengenai insiden yang pernah ia alami dalam proses shooting sebuah film. Pada saat itu ia sedang bersiap-siap melompat dari satu gedung ke gedung berikutnya. Tepat sebelum ia melompat, tiba-tiba ia merasa ragu. Rasa itu hanya sekelebat saja, tapi ternyata itu membawa dampak buruk. Ia pun terjatuh dan mengalami cedera serius. Untung saja nyawanya selamat, sehingga ia masih bisa memberikan tips yang bukan saja berguna bagi para aktor adegan laga yang sering melakukan resiko-resiko berbahaya, tapi pesan ini sesungguhnya penting untuk kita ingat dalam segala aspek kehidupan kita, termasuk di dalamnya dalam hal kerohanian.

Akan hal ini kita bisa belajar dari peristiwa yang di alami oleh Petrus dan murid-murid lainnya seperti yang tertulis dalam Matius 14:22-33. Pada suatu malam mereka berada di tengah danau dan gelombang yang cukup parah mengombang ambingkan mereka disana. Alkitab mencatat, antara jam 3 sampai jam 6 pagi, Yesus datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Dalam keadaan tengah panik, mereka semua kaget dan ketakutan mengira bahwa yang datang itu hantu (ay 26). Ketakutan membuat mata kita tidak bisa melihat jelas dan bisa mengarahkan kita pada sebuah kesimpulan atau arah yang salah. Yesus kemudian menenangkan mereka. Tapi namanya sudah terlanjur takut, Petrus masih meragukan bahwa itu adalah benar-benar Yesus. "Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (ay 28). Yesus memanggilnya, dan terjadilah sebuah peristiwa ajaib, yaitu Petrus berjalan di atas air seperti Yesus. Ia terus berjalan di atas air ke arah Yesus. (ay 29). Apa yang terjadi kemudian? Ternyata desir angin di tengah-tengah danau itu mulai membuatnya gentar. Imannya memudar, ia pun mulai ragu dan itu membuatnya mulai tenggelam. Seketika itu pula Petrus lalu berteriak minta tolong pada Yesus. Yesus menolong Petrus sambil menegurnya. "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31). Lewat pertolongan Yesus, Petrus kemudian selamat, dan mereka menaiki kapal. Seketika itu pula angin reda. (ay 32).

Ini kesaksian hidup Petrus dan para murid Yesus yang bisa kita baca sampai hari ini. Lihatlah bahwa apa yang dialami Petrus pada mulanya luar biasa. Petrus sudah mengalami keajaiban dengan berjalan di atas air. Tapi ketika rasa takut membuat perasaan ragu atau bimbang timbul, maka kegagalan pun segera hadir. Ia pun mulai tenggelam. Padahal ia sudah mengawali dengan baik. Ini sebuah gambaran jelas bagaimana kebimbangan bisa menghancurkan kita. Seperti Petrus, kita pun bisa mengalami perkara-perkara besar dan ajaib dalam hidup kita jika iman yang kita miliki cukup mampu menimbulkan rasa percaya pada Tuhan. Tapi lihatlah ketika kita mulai tergoda akan perasaan-perasaan ragu yang seringkali bias, maka kita pun akan tenggelam. Iblis, bapa dari segala tipu muslihat akan dengan senang hati memanfaatkan kebimbangan manusia untuk masuk dan menghancurkan segala yang sudah dibangun dengan baik. Iblis akan selalu berusaha menghabisi iman kita dengan cara menyerang kita lewat kebimbangan demi kebimbangan. Kebimbangan akan membuat kita ragu-ragu dalam melangkah. Itu seperti membangun ketidakpercayaan diri dan kepercayaan terhadap Tuhan. Ketidakpercayaan ini akan mengarah pada ketidaktaatan, dan akhirnya kita pun akan tenggelam dan binasa.

Agar tidak bimbang, adalah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, apa yang Dia kehendaki, dimana Dia akan ada bersama kita karena kita berjalan sesuai rencanaNya. Amsal berkata "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Kita bisa bijaksana dan mengetahui rencana Tuhan lewat hikmat yang dimulai dari pengenalan yang baik akan Tuhan. Takut akan Tuhan, itu menjadi pembuka jalan agar kita bisa peka mengenali kehendakNya atas diri kita. Dalam perjalanan hidup ini kita bisa setiap saat berhadapan dengan dengan ketidakpastian, tapi ingatlah bahwa hidup yang terbaik bukanlah tergantung pada pendapat kita sendiri atau orang lain, tapi sepenuhnya tergantung pada Tuhan. Tuhan seringkali menyuruh kita melakukan hal-hal yang mungkin terdengar atau terlihat aneh, tapi jika itu yang Dia minta, mengapa kita harus ragu dalam melakukannya? Hal-hal yang tadinya aneh atau bahkan menjadi cemoohan orang bisa berubah menjadi sesuatu yang besar di tangan Tuhan. Anda berpikir bahwa anda tidak ada apa-apanya, sehingga tidak mungkin bisa sukses dalam hidup? Berhentilah berpikir seperti itu. Itu artinya anda belum memeriksa betul-betul apa yang Tuhan telah sediakan bagi anda sebagai sarana untuk menuai janji-janji Tuhan yang besar dan indah buat anda.

Selain daripada itu, Yakobus mengingatkan kita untuk meminta dalam iman yang teguh dimana kebimbangan tidak boleh ada didalamnya. "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin" (Yakobus 1:6). Jangan bimbang, karena dengan kebimbangan kita tidak akan bisa memperoleh apa-apa. Percayalah sepenuhnya pada Tuhan, karena bagi diriNya tidak ada satu pun yang mustahil. Yesus berkata "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Percaya, itu timbul dari iman. Lalu, dari mana iman timbul? Firman Tuhan berkata "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Berjalan bersama Kristus berarti hidup bersama kasih, dan dalam kasih itu tidak ada ketakutan. "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." (1 Yohanes 4:18). Artinya, tidak boleh ada kebimbangan dan ketakutan jika kita sempurna di dalam kasih Kristus. Jangan berikan tempat bagi kebimbangan yang bisa membuat kita kehilangan janji-janji Tuhan. Alamilah terus perkara besar dalam hidup anda, hiduplah dalam kepercayaan dan ketaatan penuh dalam iman yang teguh akan Kristus.

Kebimbangan akan merusak diri kita dan menghalangi kita untuk mengalami perkara-perkara besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 13, 2012

Berdoa yang Baik dan Benar (2)

 (sambungan)

Begitu pentingnya masalah doa ini hingga Yesus pun memberikan pengajaran secara khusus dan disertai contoh akan hal tersebut. Itu bisa kita lihat dalam Matius 6:5-15, dimana Yesus mengajarkan doa Bapa Kami. Dalam perikop ini Yesus mengajarkan:

1. Jangan tiru sikap  orang yang munafik ketika berdoa.
Orang munafik akan selalu berupaya agar mereka terlihat begitu suci dan hebat dalam berdoa, seperti yang dipertontonkan oleh para ahli Taurat dan Farisi pada masa itu. Mereka bukan mencari Tuhan, tetapi mencari popularitas agar terlihat hebat dihadapan orang banyak.
"Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (ay 5).
2. Ambil waktu khusus dan tempat yang tenang untuk berdoa.
Ketika orang mengira bahwa berdoa itu harus didengar orang lain, atau demonstratif, Yesus mengajarkan justru sebaliknya.
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (ay 6)
3. Jangan bertele-tele
Seperti yang sudah kita lihat kemarin, doa yang baik justru bukan doa yang berpanjang lebar tanpa juntrungan. Tidak dilarang memang untuk berdoa lama, tapi hanya jika itu memang berdasarkan kerinduan hati kita dan bukan melakukan perulangan-perulangan yang dimaksudkan agar Tuhan tidak lupa atau mengira bahwa durasi lama itu akan membuat doa kita didengar Tuhan. Ini bentuk-bentuk pemahaman yang keliru dan justru akan membuat doa kita tidak punya kekuatan sama sekali.
"Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan. Jadi janganlah kamu seperti mereka, karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya." (ay 7-8).
4. Bereskan dahulu sekiranya ada sesuatu yang masih mengganjal antara kita dengan orang lain
Masih menyimpan dendam terhadap seseorang akan menjadi penghalang doa kita untuk sampai kepada Tuhan. Hal ini seringkali tidak disadari oleh banyak orang. Mereka mengira bahwa mereka tetap akan didengar Tuhan meski masih mendendam atau benci kepada orang lain. Firman Tuhan berkata: "Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu." (Markus 11:25).
Untuk diperhatikan, Yesus pun kemudian memberikan sebuah contoh lewat doa yang dikenal sebagai Doa Bapa Kami (Matius 6:9-13). Bacalah selengkapnya di dalam Alkitab untuk bisa melihat bagaimana sebenarnya berdoa yang baik itu langsung lewat Yesus sendiri.

Jadi apa yang seharusnya kita lakukan dalam berdoa, pastikan tidak ada dendam terhadap siapapun, carilah tempat tenang dimana kita tidak terganggu dengan hiruk pikuk di sekitar kita, datanglah kepada Bapa dengan segala kerendahan hati dalam kondisi hati yang bersih, jujur dan tulus , berdoa dengan iman, berikan ucapan syukur sebagai persembahan terbaik bagi Dia, dan lakukan dalam nama Yesus. Just be simple, just be yourself. Tidak perlu berpikir terlalu rumit, tidak perlu bertele-tele, karena apa yang Tuhan pentingkan adalah hati kita. Pengkotbah juga mengingatkan kita: "Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit" (Pengkotbah 5:1). Doa bukanlah kompetisi merangkai kata, menyusun kata puitis dan dramatis, dan bukan pula sebuah hafalan. Doa pun bukanlah sebuah formalitas atau sekedar ritual, seremonial, sementara hati seseorang sebenarnya tidak tertuju padaNya. yang Tuhan sungguh mengenal setiap ciptaanNya. Dia tahu apa yang kita alami dan rasakan, Dia tahu hati kita. Karena itu, berdoalah dengan cara seperti adanya diri kita sendiri, tidak perlu meniru gaya orang lain, apalagi pura-pura. Doa adalah sebuah anugrah yang luar biasa, anugrah berupa kesempatan dimana kita bisa menghampiri tahta kasih karunia, menghampiri Bapa dan berkomunikasi atau berhubungan secara timbal balik denganNya. Jadilah diri anda sendiri, berdoalah dengan sederhana dan jujur, dan sembahlah Dia dalam roh dan kebenaran. "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." (Yoh 4:24)

Just be simple and be yourself honestly in every prayers you make

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 12, 2012

Berdoa yang Baik dan Benar (1)

Ayat bacaan: Matius 6:7
====================
"Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan."

Meski di rumah rutin berdoa, ternyata itu tidak menjamin orang untuk berani berdoa di depan mimbar atau bahkan di depan beberapa teman sendiri. Faktanya lebih banyak orang yang menolak untuk tampil ke depan dibandingkan mereka yang berani. Demam panggung mungkin bisa menjadi salah satu alasan yang paling sering kita dengar, atau merasa malu untuk itu. Tapi tidak jarang pula mereka beranggapan bahwa mereka tidak punya cukup kepandaian untuk merangkai kata-kata yang indah agar doa itu enak didengar. Pendapat seperti ini sebenarnya adalah pendapat yang keliru. Banyak orang mengira bahwa agar doa dikabulkan Tuhan, maka doa itu harus dirangkai layaknya menulis puisi atau lirik lagu. Ada yang berusaha menambahkan begitu banyak bunga-bunga kata, sehingga akhirnya bunga kata itulah yang mendominasi doa ketimbang intinya. Ada pula yang beranggapan bahwa doa harus lama dan panjang agar mujarab. Jika singkat, jangan harap Tuhan mau mendengarnya. Yang lebih lucu lagi, ada pula yang beralasan bahwa mereka tidak menguasai sepenuhnya kaidah bahasa yang benar. Semua pendapat ini pun keliru, sebab dari apa yang diajarkan Tuhan Yesus sendiri, doa yang baik tidaklah tergantung dari indahnya untaian kata puitis dan mendayu-dayu apalagi panjang pendeknya. Tuhan tidak pernah menuntut kerumitan susunan kata, atau harus pakai ejaan sesuai kaidah bahasa yang benar. Lantas seperti apa? Hari ini mari dan besok kita melihat seperti apa sebenarnya doa yang baik itu lewat pengajaran Yesus sendiri.

Tuhan Yesus sendiri mengajarkan bahwa doa tidak perlu bertele-tele. Mengapa demikian? "..karena Bapamu mengetahui apa yang kamu perlukan, sebelum kamu minta kepada-Nya" (Matius 6:8). Kitapun tentu mengenal ayat ini dengan baik: "manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.  "(1 Samuel 16:7). Tuhan tidak mementingkan apa yang dilihat manusia, ritual, hafalan yang tepat titik komanya dan sebagainya, tetapi Dia melihat hati kita. Kerendahan hati, penyerahan diri total, kesederhanaan dan tampil jujur apa adanya, itulah yang penting, termasuk juga dalam memanjatkan doa-doa kita. Bagi yang ingin bertobat, akui segala kesalahan dengan jujur di hadapanNya. Bagi yang punya beban, katakan beban kita dan mohonlah pada Tuhan dengan kesederhanaan dan kejujuran untuk menguatkan kita. Bolehkah meminta pertolongan? Tentu saja boleh. Tapi jangan lupa menyampaikan ucapan syukur, baik lewat kata-kata, nyanyian pujian maupun penyembahan. Sebab firman Tuhan sudah berkata: "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (Filipi 4:6).

Selanjutnya, yang juga penting untuk diingat, berdoalah dalam nama Yesus "...supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16) , "dan apa juga yang kamu minta dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan di dalam Anak. Jika kamu meminta sesuatu kepada-Ku dalam nama-Ku, Aku akan melakukannya." (14:13-14). Yesus adalah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa jika tidak melalui Dia (ay 14:6).

Disamping itu, kita pun diminta untuk mencari tempat yang tenang dalam berdoa. Meski kita tidak dilarang untuk berdoa kapan dan dimana saja, tetapi tidak bisa dipungkiri bahwa hiruk pikuk dan gangguan dari sekitar kita bisa membuat konsentrasi kita terpecah. Kita tidak perlu mempertontonkan kita tengah berdoa, kita tidak perlu membentuk sebuah doa bagai sebuah pengumuman agar didengar orang lain. Dalam banyak kesempatan, kita melihat bahwa Yesus pun mengambil waktu-waktu khusus untuk bersaat teduh. Dia naik ke atas bukit dimana Dia bisa menikmati suasana yang tenang dan khusuk untuk mendengar suara Bapa. Ada waktu dimana kita bisa berdoa bersama-sama, fellowship, di mesbah keluarga dan sebagainya, tapi ada pula saat dimana kita memerlukan waktu khusus sejenak untuk fokus sepenuhnya secara pribadi bersama Tuhan. Besok saya akan membagi lebih jauh seperti apa doa yang baik itu seperti yang diajarkan Tuhan Yesus langsung.

(bersambung)

Wednesday, July 11, 2012

Satan, The Accuser

Ayat bacaan: Ayub 1:12
===============
"...Satan (the adversary and the accuser)..." (English AMP)

Bagi pelaku tindak kejahatan yang sudah menjalani hukuman dalam kurungan sesuai vonis yang ditetapkan hakim, seringkali cap narapidana itu akan mengikuti hidup mereka selamanya. Ketika mereka ditahan mereka disebut sebagai napi atau narapidana, dan setelah keluar ternyata cap itu masih menempel, hanya saja ditambah kata "mantan" di depannya. Artinya status itu akan terus melekat pada mereka, meski mereka sudah menjalani hukuman atau bahkan menyesali perbuatannya dan bertobat. Pola seperti ini ternyata sangat disukai oleh iblis. Lihatlah betapa banyaknya orang yang sulit bangkit dari masa lalu yang buruk. Mereka terus dihantui masa lalu mereka dan tidak yakin mereka bisa mendapat pengampunan karena merasa apa yang mereka perbuat dahulu sangatlah buruk. Seorang teman pernah berkata bahwa ia tidak yakin ia sudah diampuni Tuhan. Ia masih sering dicekam rasa takut meski ia sudah menyadari kesalahannya di waktu lampau dan bertobat. Perasaan seperti ini mungkin banyak dialami orang, bahkan masih banyak dirasakan diantara orang-orang percaya sekalipun yang sudah menjaga hidupnya. Mereka hidup bagai memanggul beban berat, menjalani setiap langkah dengan perasaan tertuduh. Dengarlah, iblis selalu berupaya mencegah atau menghalangi pertumbuhan iman kita dan akan terus berusaha menggagalkan kita dari semua janji yang sudah diberikan Tuhan. Salah satu caranya adalah dengan mempergunakan pola menuduh atau mendakwa kita lewat kesalahan-kesalahan yang pernah kita lakukan di masa lalu.

Iblis dikatakan sebagai pendusta dan bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan "a liar and the father of lies and all that is false." Iblis memang tukang tipu yang ulung. Betapa sering kita terperdaya oleh tipu muslihatnya. Dan itu sudah terjadi sejak awal sekali, seperti yang dialami oleh Adam dan Hawa. Selain sebagai bapa segala dusta, iblis pun disebut dalam Alkitab sebagai penuduh atau pendakwa. Ini bisa kita lihat dalam awal kisah Ayub, yaitu dalam pasal 1 ayat 12. Dalam Alkitab versi Terjemahan Baru yang kita pakai memang tidak disebutkan demikian, tapi lihatlah versi English amplified-nya. Disana ada penekanan di depan kata iblis yang ditulis dalam tanda kurung, dimana iblis disebutkan sebagai "the adversary and the accuser". Dalam bahasa Indonesia berarti "musuh dan pendakwa atau penuduh". Seperti inilah salah satu metode kerja iblis. Dia  terus berusaha melemahkan kita. Iblis tidak ingin kita diselamatkan. Iblis akan terus berusaha mendakwa atau menuduh kita sampai kita putus asa dan semakin lama semakin jatuh dalam rasa bersalah. Yang dipakai untuk mendakwa adalah dosa kita, maka untuk membungkam dan mematahkan tuduhan iblis, kita harus segera mengakui dosa kita. Begitu kita mengakui dosa kita dan memohon ampun, saat itu pula Allah mengampuni kita. Tidak ada alasan untuk meragukan itu, karena itu berasal dari janji Tuhan sendiri. Karenanya imani dan percayalah akan hal itu. Jadi intinya, untuk mematahkan dakwaan iblis, kita harus mengakui dosa dan segera bertobat. Jika itu kita lakukan, tidak ada alasan lagi bagi iblis untuk mendakwa kita, karena kita sudah mengakuinya dan sudah diampuni.

Bukti dari hal itu bisa kita lihat dalam ayat berikut. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Dosa semerah kirmizi bisa putih seputih salju, semerah kain kesumba sekalipun bisa seputih bulu domba. (Yesaya 1:18). Ingatlah syaratnya adalah mengakui dosa, karena bagaimana Tuhan mengampuni jika kita tetap menyimpan dosa di dalam diri kita? Dosa yang tidak diakui akan merintangi dan merusak hubungan antara kita dengan Tuhan. Dan itupun sudah diingatkan pada kita dalam Alkitab. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar;tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (59:1-2).

Sebagai manusia kita tentu tidak luput dari berbuat kesalahan. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh membiarkan berbagai kesalahan terus terjadi dan memakai alasan kita manusia yang lemah sebagai pembenaran. Kita harus mengawasi betul masuknya dosa, dan jika sudah terlanjur terjadi, segeralah bereskan, baik langsung kepada orang yang bersangkutan terlebih dengan mengakuinya di depan Tuhan dan memohon pengampunan. Kalau perlu, pengalaman kita itu bisa pula kita angkat sebagai kesaksian bagi banyak orang. Bukankah Wahyu 12:11 mengatakan bahwa iblis dikalahkan oleh darah anak domba dan oleh kesaksian kita?

Jangan pernah ragu akan pengampunan Tuhan. "Sebab di dalam Dia dan oleh darah-Nya kita beroleh penebusan, yaitu pengampunan dosa, menurut kekayaan kasih karunia-Nya,yang dilimpahkan-Nya kepada kita dalam segala hikmat dan pengertian." (Efesus 1:7). Kita memilki Allah yang luar biasa yang sangat ingin kita diselamatkan. Karena itulah Yesus turun ke dunia untuk menebus dosa-dosa manusia. Jika kita berbuat dosa, segeralah berbalik pada Tuhan, mohon pengampunan lalu hiduplah dalam terang. "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7). Jika anda masih merasa dakwaan iblis seakan membelenggu anda, katakanlah segera bahwa anda telah mengakui segalanya dan menerima pengampunan dari Yesus. Bebaslah dari dakwaan iblis, dan bertumbuhlah dalam kasih Kristus.

Iblis tidak bisa mendakwa dosa yang sudah kita buka dan sudah diampuni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 10, 2012

Periksalah (2) : Anak Kecil Pemilik Lima Roti dan Dua Ikan

Ayat bacaan: Markus 6:38
=========================
"Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tuhan bekerja secara luar biasa lewat sebuah buli-buli minyak saja. Seperti janji saya kemarin, hari ini mari kita lihat kisah lainnya yang berisi esensi yang sama, yaitu lewat kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan menjadi 5000 roti dan ikan ditambah 12 bakul sisa. Kisah ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Secara matematis itu tidaklah mungkin. Logika kita pun akan berkata mustahil. Tapi itulah tepatnya yang terjadi, Kisah "Yesus memberi makan lima ribu orang" ini tertulis pada keempat Injil, yaitu dalam Matius 14:13-21, Markus 6:30-44, Lukas 9:10-17 dan Yohanes 6:1-13. Jika kita baca baik-baik, yang terjadi bahkan lebih dari jumlah diatas, karena yang dihitung 5000 orang itu hanyalah laki-laki saja, belum termasuk wanita dan anak-anak. Bagaimana mungkin dari jumlah hanya lima buah roti dan dua ekor ikan sanggup untuk memberi makan total manusia sebanyak itu bahkan berlebih? Tapi Yesus melakukan itu. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat kisah selengkapnyalewat apa yang tertulis dalam Injil Markus.

Mukjizat lima roti dan dua ikan berawal dari rasa belas kasihan Yesus melihat begitu banyak orang bagaikan domba tanpa gembala. (Markus 6:34). Pada saat itu Yesus mengajar ribuan orang itu hingga hari mulai gelap. Murid-muridnya pun mulai berpikir bahwa tidaklah mungkin mereka bisa memberi makan sebegitu banyak orang, sementara jam makan malam sudah tiba. Mereka kemudian meminta Yesus untuk menyuruh orang banyak itu pulang agar bisa makan. Tapi Yesus malah berkata "kamu harus memberi mereka makan!" (Markus 6:37) Murid-murid Yesus tentu kaget mendengarnya. Bagaimana caranya memberi makan 5000 pria plus wanita dan anak-anak? Tentu saja Yesus sanggup membuat mukjizat dengan mendatangkan makanan secara instan. Tapi apa yang dilakukan Yesus ternyata tidaklah demikian. Yesus menunjukkan bahwa Dia tidak mau memanjakan orang dan ingin menunjukkan bahwa berkat akan turun berlimpah lewat apa yang ada pada diri kita. Yesus ingin kita tahu terlebih dahulu potensi apa yang ada pada kita, dan Dia pun akan memberkati kita lewat itu secara berlimpah. Maka Yesus meminta partisipasi dari murid-muridNya. "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan."(Markus 6:38). Yesus bertanya, "berapa banyak roti yang ada padamu?" Lalu Yesus berseru: "Cobalah periksa!" Mereka tidak melihat apapun sebelumnya, dan setelah memeriksa, maka mereka pun tahu bahwa ada lima roti dan dua ikan, yang kemudian ternyata lebih dari cukup untuk memberi makan ribuan orang. Darimana asal roti dan ikan itu? Dalam kitab Yohanes itu ternyata dimiliki oleh seorang anak laki-laki yang berada disana. "Di sini ada seorang anak, yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan; tetapi apakah artinya itu untuk orang sebanyak ini?" (Yohanes 6:9). Kita bisa melihat adanya hubungan kerjasama disini. Murid-murid memeriksa, lalu menemukan seorang anak membawa bekal, dan si anak rela memberikan bekalnya ketika diminta. Dari sanalah kemudian mukjizat luar biasa itu terjadi. Sekali lagi dalam kisah ini kita bisa melihat cara apa yang disukai Tuhan untuk menolong dan memberkati anak-anakNya.

Kita tahu bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. KuasaNya jelas mampu mengatasi segala bentuk persoalan yang ada dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan sendiri sudah berkata: "Sesungguhnya, Akulah TUHAN, Allah segala makhluk; adakah sesuatu apapun yang mustahil untuk-Ku?" (Yeremia 32:27). Kuasa yang tak terbatas ini akan selalu dengan senang hati Dia berikan kepada anak-anakNya yang mau percaya dan taat sepenuhnya kepadaNya. Lalu Yesus berkata: "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (Markus 9:23). Tapi dari kedua kisah yang kita lihat sejak kemarin, Tuhan tidak mau melakukan sesuatu yang tidak mendidik, yang akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi manja yang hanya mau enaknya saja. Tuhan mau kita memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Talenta kita, kemampuan kita, atau hal-hal lain yang masih kita miliki. Seberapapun tidak berartinya itu bagi kita, di tangan Tuhan itu bisa menjadi luar biasa. Tuhan sanggup mempergunakan bahkan melipatgandakan itu untuk menurunkan mukjizatNya hingga berkelimpahan. Janda nabi di masa Elisa membuktikannya, 5000 orang plus anak-anak dan wanita di masa Yesus pun mengalami hal yang sama. Masalah berat boleh saja hadir, tetapi jangan pernah lupakan kebaikan Tuhan dan jangan abaikan kemampuan atau apapun yang ada pada kita. Apa yang anda miliki, meski kecil sekalipun, itu juga merupakan berkat Tuhan yang indah. Periksalah apa yang telah Dia sediakan bagi kita, olah, kembangkan dan maksimalkan itu, lalu  lihatlah bagaimana Tuhan bisa mempergunakan hal yang "kecil" itu untuk membuat hal-hal besar, bahkan hingga berkelimpahan. Apa yang ada pada anda? Periksalah terlebih dahulu sebelum menyalahkan siapa-siapa.

Tuhan sanggup mempergunakan apa yang dianggap tidak berarti bagi manusia untuk melakukan perkara besar. Oleh karena itu, periksalah apa yang anda punya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 9, 2012

Periksalah (1) : Elisa dan Janda dengan Buli-Buli Minyak

Ayat bacaan: 2 Raja Raja 4:2
======================
"Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak."

Bagi anda yang berlangganan TV cable tentu bertemu kembali dengan serial TV yang dahulu sangat populer di Indonesia yaitu MacGyver. Serial yang aslinya diputar sejak tahun 1985 sampai 1992 bercerita tentang seorang jagoan yang sangat pintar yang selalu mampu menyelesaikan masalah demi masalah dengan menggunakan apapun yang bisa ia jumpai. Jika kebanyakan tokoh utama film action harus mempergunakan senjata, ia memilih untuk memakai lakban dan perkakas lipat multi guna atau sering disebut Swiss Army knife. Apa yang saya suka dari tokoh ini adalah ia tidak pernah mengeluh terhadap keterbatasannya ataupun terbatasnya ketersediaan perlengkapan atau bahan-bahan yang dapat digunakan untuk mengalahkan musuh atau situasi sulit. Ia selalu bisa keluar dari masalah dengan memaksimalkan apa yang ada pada dirinya dan apa yang ada disekitarnya. Kisah fiktif? Mungkin ya. Tapi saya suka esensinya. Terlebih ketika sikap ini semakin lama semakin sulit untuk dijumpai karena orang semakin malas dan lebih suka memilih untuk mengeluh dan menyalahkan situasi ataubahkan orang lain ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada dan bisa diolah untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat. Tuhan tidak suka orang-orang yang jago mengeluh apalagi yang hobinya mencari kambing hitam. Tuhan selalu ingin kita memeriksa dahulu apa yang ada pada kita sebelum kita menyerah dan mencari kesalahan dari orang lain maupun situasi. Hari ini dan besok, mari kita lihat apa kata Alkitab mengenai hal ini lewat dua kisah yang berbeda.

Hari ini mari kita belajar lewat mengenai seorang janda dengan dua anak yang dicatat dalam kitab 2 Raja Raja. Pada suatu hari datanglah janda dari salah seorang nabi yang baru saja ditinggal mati suaminya dan terlilit masalah. Ini menjadi awal dari kitab 2 Raja Raja pasal 4. "Salah seorang dari isteri-isteri para nabi mengadukan halnya kepada Elisa, sambil berseru: "Hambamu, suamiku, sudah mati dan engkau ini tahu, bahwa hambamu itu takut akan TUHAN. Tetapi sekarang, penagih hutang sudah datang untuk mengambil kedua orang anakku menjadi budaknya." (2 Raja Raja 4:1). Apa yang tengah dihadapi ibu ini sungguh berat. Baru saja ditinggal suami ia sudah harus terlilit hutang dan terancam kehilangan kedua anaknya yang siap untuk diambil untuk melunasi hutang. Saat itu penagih hutang sudah datang, maka ia pun harus siap kehilangan anaknya untuk dijadikan budak. Dari ayat ini kita bisa melihat seruannya bahwa sangatlah tidak adil jika ini terjadi pada dirinya sementara sang suami dengan jelas dikatakan sebagai hamba Tuhan yang taat.  Tapi itulah problema yang tengah dialami oleh ibu janda ini. Ia punya alasan untuk mengeluh atau merasa diperlakukan tidak adil. Tapi untunglah ia tidak terjebak untuk mengambil keputusan yang salah atau mencari kambing hitam. Ia memilih untuk mengambil keputusan yang benar. dengan  membawa persoalannya kepada Elisa. Elisa pun kemudian bertanya apa yang bisa ia perbuat bagi ibu itu. Menariknya, tanggapan Elisa tidak hanya berhenti pada apa yang bisa ia perbuat untuk menolong sang janda, tapi juga bertanya apa yang ada pada janda itu. "Jawab Elisa kepadanya: "Apakah yang dapat kuperbuat bagimu? Beritahukanlah kepadaku apa-apa yang kaupunya di rumah." Berkatalah perempuan itu: "Hambamu ini tidak punya sesuatu apapun di rumah, kecuali sebuah buli-buli berisi minyak." (ay 2). Perhatikan baik-baik. Elisa bukannya segera memberi uang atau bereaksi secara langsung, tetapi ia menanggapi dengan menanyakan apa yang dipunyai si ibu. Jika hal itu ditanyakan pada kita yang tengah dirundung masalah berat, mungkin kita akan marah dan segera pergi meninggalkan Elisa. Tapi si ibu bereaksi positif dan menjawab bahwa ia tidak punya apa-apa lagi selain sebuah buli-buli berisi minyak. Ia memang tidak punya apa-apa lagi, tapi setidaknya ia masih mengingat sebuah buli-buli atau botol berisi minyak miliknya yang tersisa. Lalu Elisa berkata: "Pergilah, mintalah bejana-bejana dari luar, dari pada segala tetanggamu, bejana-bejana kosong, tetapi jangan terlalu sedikit. Kemudian masuklah, tutuplah pintu sesudah engkau dan anak-anakmu masuk, lalu tuanglah minyak itu ke dalam segala bejana. Mana yang penuh, angkatlah!" (ay 3-4). Pikirkanlah. Apakah itu masuk akal untuk dilakukan? Logika akan berkata tidak. Tapi si ibu memilih untuk taat lalu mengikuti persis seperti apa yang diminta Elisa. Hasilnya ajaib! Si ibu ternyata bisa terus menuang minyak memenuhi bejana demi bejana sepenuhnya. Minyaknya tidak berhenti mengalir sampai seluruh bejana yang ada terpenuhi. (ay 5-6). Dan si ibu pun dengan sukacita kembali datang memberitahukan mukjizat Tuhan itu kepada Elisa. Maka selanjutnya Elisa memberi instruksi selanjutnya: "Pergilah, juallah minyak itu, bayarlah hutangmu, dan hiduplah dari lebihnya, engkau serta anak-anakmu." (ay 7). Ternyata lewat satu buli-buli minyak, ia bukan saja bisa lepas dari jerat hutang itu tapi juga memperoleh sisa yang cukup untuk hidupnya bersama kedua anaknya.

Tuhan tentu lebih dari sekedar sanggup untuk menolong secara instan. Tapi pada kenyataannya Tuhan jauh lebih suka untuk melimpahkan berkatNya melalui apa yang kita punya. Dia memberkati lewat usaha yang kita lakukan untuk mengolah apa yang ada pada kita. Itu jauh lebih mendidik ketimbang menjadikan kita pribadi-pribadi yang manja yang mau memiliki segalanya tapi tidak mau berusaha. Orang tua yang baik tentu tidak memanjakan anaknya secara berlebihan dan mau mengajarkan anak untuk berusaha dan mandiri bukan? Tuhan pun seperti itu. Tuhan lebih suka memberi kail atau pancing dan menyediakan ikan di laut ketimbang melemparkan ikan-ikan tepat di atas kepala kita, apalagi yang sudah langsung dimasak dan tinggal makan. Sebuah proses itu penting di mata Tuhan, dan Tuhan akan sangat senang jika kita mau mencari tahu apa yang kita miliki lalu mempergunakannya. Talenta, bakat, berbagai kelebihan yang sudah ia berikan kepada kita adalah karuniaNya juga yang sudah ia sediakan sejak semula buat semua manusia tanpa terkecuali. Semua tergantung kita, apakah kita mau mengetahui dan mengoptimalkannya atau kita memilih untuk menutup mata dan hanya terus meminta tanpa berusaha. Tuhan tidak suka orang yang hanya mengeluh dan mencari kambing hitam tanpa memeriksa terlebih dahulu apa yang ia miliki dan apa yang bisa dilakukan dengan itu. Ibu janda ini diberkati melimpah lewat harta satu-satunya yang masih ia miliki secara ajaib. Tidak hanya sanggup melunasi hutangnya tetapi juga mendapatkan lebih dari itu yang bisa ia pergunakan untuk menghidupi keluarganya. Ia memang masih harus menjual terlebih dahulu, tetapi bukankah itu sudah sangat luar biasa dibandingkan harus kehilangan kedua anaknya? Hanya lewat minyak sebotol mukjizat Tuhan bisa mengubah keadaan dalam seketika. Dan Tuhan lebih dari sanggup untuk itu. Besok kita akan melihat contoh lainnya akan hal ini.

Tuhan tidak suka memanjakan kita, Dia ingin kita mandiri dan disanalah Dia akan melimpahkan berkatNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...