Tuesday, May 15, 2012

Penginapan Bagi si Jahat

Ayat bacaan: Efesus 4:27
=================
"Leave no (such) room or foothold for the devil" (English AMP)

ruang bagi si jahatAgar nyaman berlibur ke sebuah tempat biasanya kita akan memastikan dulu bisa mendapatkan penginapan yang paling nyaman sesuai dengan budget kita. Kita akan memesan jauh hari untuk menghindari kemungkinan hotel yang kita inginkan sudah terlanjur penuh. Hampir di semua kota kita bisa mendapatkan tempat menginap dengan kelas beragam, mulai dari penginapan murah (budget hotel), homestay, motel, sampai hotel bintang 1 hingga 5. Cara pemesanan sekarang sudah jauh lebih mudah. Selain bisa lewat travel agency, kita pun bisa memesan lewat gerai-gerai online yang memberi harga diskon lumayan besar. Dalam bepergian kita memang harus menyiapkan tempat menginap terlebih dahulu agar kita bisa berlibur atau berkunjung dengan tenang. Selama kita belum menemukannya, tentu seperti pengalaman saya di atas kita akan terus mencari sebuah tempat, kalau bisa senyaman mungkin dengan budget yang terjangkau oleh kita.

Ilustrasi di atas saya berikan sebagai contoh untuk menggambarkan hal yang digemari iblis. Apa yang dilakukan iblis kurang lebih sama. Iblis suka "travelling" dari hati seorang ke hati yang lain. Dia akan selalu berusaha mencari tempat yang paling nyaman dalam hati kita untuk kemudian "bertamu", menginap bahkan menetap di dalamnya. Petrus mengatakan hal tersebut seperti ini: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5;8). Ini menggambarkan hobi iblis dalam melakukan travelling. Sebelum ia memperoleh tempat menginap itu, iblis akan terus berkeliling mencari celah agar bisa menempati sebuah ruang di dalam hati kita. Begitu ketemu celah, ia akan masuk dan berdiam disana, dan ketika kita membiarkan itu terjadi, maka tinggal masalah waktu saja bagi kita untuk terjebak dalam berbagai bentuk dosa dan kesesatan, dan disana kehancuran menanti kita. Dengan mentolerir bentuk-bentuk penyimpangan atau dosa, dengan membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan menganggapnya hal yang biasa, jangan-jangan kita sudah memberikan sebuah tempat tumpangan yang sangat nyaman dan mewah ala bintang 5 kepada si jahat.

Alkitab sudah mewanti-wanti agar kita jangan pernah memberikan ruang kepada iblis. Dalam Alkitab tertulis "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Dalam versi KJV disebutkan dengan "Neither give place to the devil.“ Atau dalam versi English Amplified dikatakan "Leave no (such) room or foothold for the devil". Jangan berikan ruang atau tempat berpijak kepada iblis. Iblis bisa dengan nyaman tinggal di dalam diri kita dan mengobrak-abrik iman kita hingga berimbas kepada perilaku-perilaku yang tidak terpuji dan sama sekali bertentangan dengan gambaran yang seharusnya kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Dan iblis sangat senang melakukan itu. Tapi perhatikanlah kembali ayat dalam 1 Petrus 5:8 di atas. Meski iblis selalu dan akan selalu mencari celah untuk menetap dalam diri kita, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi tempat buat dia. Iblis hanya bisa berkeliling, mengaum-aum mencari siapa yang bisa ditelannya. Ia hanya bisa berkeliling di luar pagar, tidak akan bisa menembus kita sama sekali apabila kita tidak membiarkannya masuk. Ketika kita membiarkan sifat emosional kita, kepahitan, menuruti hawa nafsu, mendendam kepada orang lain, mudah membenci orang, selalu hidup khawatir dalam segala hal, cepat merasa takut dan hal-hal jelek lainnya, itu sama saja dengan memasang sebuah iklan yang akan sangat menarik buat iblis. Ketika kita membiarkan kelemahan-kelemahan kita terbuka tanpa kita pedulikan, itu akan menjadi sebuah celah yang sangat lebar bagi iblis untuk menancapkan kukunya dalam hidup kita.

Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Guard your heart seriously. Dari hatilah kehidupan itu sesungguhnya terpancar, dan apa yang ada di dalam hati kita akan tercermin dalam cara hidup kita. Jika Firman Tuhan yang mengisi ruang-ruang dalam hati kita, maka itu akan dengan jelas terlihat dari sikap dan perilaku kita. Sebaliknya jika iblis yang berdiam di dalamnya, maka itu pun akan nyata dari cara hidup kita. Yang jelas kita harus benar-benar menjaga dengan serius agar jangan sampai ada ruang kosong di dalam hati kita yang bisa menjadi tempat tinggal bagi iblis, apalagi secara langsung menyediakannya dengan memupuk segala bentuk kenegatifan kita atau menyimpan dosa. Kita harus terus mengisi hati kita dengan firman Tuhan. Lihat pesan Tuhan kepada Yosua: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Jika ruang-ruang dalam hati kita diisi dengan firman Tuhan, itu akan memampukan kita untuk bertindak hati-hati. Disana iblis tidak akan bisa masuk, bahkan lebih dari itu dikatakan kita akan berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidup kita.

Bagaimana jika iblis sudah terlanjur masuk? Lawanlah segera. Alkitab berkata "..lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). Cara melawannya sudah diberikan dalam Efesus 6:10-20. "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis... ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu." (Efesus 6:11,13). Mungkin yang jadi masalah bukan menyimpan dosa, tetapi hidup dipenuhi kecemasan pun bisa menjadi celah buat iblis untuk masuk. Untuk hal ini Tuhan sudah berpesan "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Atau mungkin pula sikap kita membiarkan kelemahan kita tak teratasi yang menjadi awal masalah, dan untuk itu pun firman Tuhan sudah berpesan: "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh." (Ibrani 12:12-13).

Jangan beri ruang sama sekali bagi iblis untuk berdiam dalam diri kita. Apakah kita mau membiarkan atau mengusirnya, semua tergantung kita. Kita harus memastikan tidak ada dosa, kejahatan, kebencian, kepahitan dan sebagainya agar tidak ada satupun celah yang bisa dimanfaatkan iblis untuk berpijak. Isilah terus dengan firman Tuhan, agar iblis hanya bisa dengan kesal mengaum-aum berkeliling diluar tanpa bisa mendekat sedikitpun pada kita. Sesungguhnya kita adalah bait Allah, dan jika demikian tidak ada tempat bagi iblis sama sekali.

Jangan berikan ruang atau tempat berpijak bagi iblis

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, May 13, 2012

Mengetahui Rencana Tuhan (2)

(sambungan)

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat bahwa segenap pengalaman hidup Daud membuatnya sampai pada sebuah kesimpulan di hari tuanya bahwa "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya" (Mazmur 37:23). Ini adalah sebuah kesimpulan yang timbul ketika Daud merenungkan ulang perjalanannya sejak kecil sampai pada usia senjanya. Daud mengatakan itu bukan karena hidupnya mulus tanpa masalah. Kita tahu Daud mengalami begitu banyak situasi sulit yang pada saat-saat tertentu pasti membuatnya menderita. Sama seperti kita, Daud pun pernah mengalami masa-masa pergumulan. Tapi pada akhirnya ia bisa sampai pada suatu kesimpulan penting seperti itu, dan untunglah itu tercatat dalam Alkitab sehingga kita bisa belajar langsung dari Daud akan hal ini.

Kita harus tahu pula bahwa meski Tuhan sudah menjanjikan kita sebuah kehidupan yang penuh damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan, itu bukan berarti bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan apapun dalam perjalanan kita. Seperti halnya Daud, ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindar untuk bertemu dengan masalah dalam langkah-langkah kita. Tetapi pasti akan sangat berbeda ketika kita menghadapinya dalam keadaan sendirian atau bersama Tuhan. Dan ini kabar baiknya. Tuhan tetap ada bersama kita dan siap memegang tangan kita dalam menghadapi masalah-masalah tersebut! Itu bisa kita baca dalam ayat berikutnya: "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (ay 24). Masalah boleh ada dan sewaktu-waktu akan tetap ada, tetapi kita tidak perlu kuatir apabila menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan yang punya kuasa jauh di atas masalah seberat apapun. Ada saat dimana kita harus mengalami sesuatu yang sulit, dan itupun ada tujuannya. Lewat keadaan-keadaan sulit atau pergumulan kita bisa belajar untuk menjadi lebih dewasa, lebih kuat, lebih tegar. Itu bisa juga menjadi saat bagi kita untuk belajar mengandalkan Tuhan lebih dari apapun, dan itu pun menjadi kesempatan emas bagi kita untuk melihat langsung kuasa mukjizat Tuhan. Artinya bukan masalahnya yang harus kita kuatirkan, tetapi apakah kita berjalan bersama Tuhan atau sendirian, itulah yang harus menjadi perhatian kita.

Ayat selanjutnya menunjukkan kesaksian Daud sepanjang masa hidupnya tentang bagaimana Tuhan menggenapi janji penyertaanNya ini. "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;  tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (ay 25-26). Sejak masih muda hingga usia lanjut, Daud bersaksi bahwa ia tidak pernan melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat.
Tuhan siap memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan bekal untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya, itulah kunci yang akan membuat kita mendapatkan uluran tangan Allah sendiri untuk menuntun kita mencapai kemenangan demi kemenangan. Kesuksesan dan keberhasilan, itu merupakan janji yang telah disediakan Tuhan untuk kita. Jalannya memang tidak sama bagi setiap orang, tetapi semua yang sesuai dengan rencanaya adalah sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera dan menuju kepada hari depan yang cerah, seperti Firman Tuhan dalam kitab Yeremia: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11).

Sudahkah kita bertanya kepada Tuhan lewat doa-doa dan waktu-waktu khusus persekutuan kita denganNya? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendengar apa kata Tuhan dan tidak terlalu sibuk mengisi doa kita dengan keluh kesah tanpa henti secara sepihak saja? Firman Tuhan berkata: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati." (Yeremia 29:12-13). Tuhan bukanlah Sosok yang tertutup. Dia terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membuka rencanaNya atas kita masing-masing. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita, karena di atas segalanya, Tuhanlah yang paling mengenal siapa diri kita lebih dari orang lain, bahkan lebih dari diri kita sendiri. Daud tahu itu, oleh sebab itu ia berkata: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:5-6). Berjalan sesuai rencanaNya dan bersama dengan penyertaanNya secara langsung, itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya dan akan mampu membuat kita merasakan betapa indah dan bahagianya hidup itu sebenarnya.

Tuhan bukanlah Pribadi yang suka menutup-nutupi, Dia akan dengan senang hati membuka segala rencanaNya kepada orang yang berkenan kepadaNya


Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, May 12, 2012

Mengetahui Rencana Tuhan (1)

Ayat bacaan: Mazmur 37:23
====================
"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"

mengetahui rencana TuhanGamangkah anda menatap masa depan? Bersyukurlah jika tidak, karena ada banyak orang yang takut menanti apa jadi apa kelak di masa depan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk sukses. Sepertinya tidak ada bakat yang istimewa, kepandaian biasa-biasa saja, tidak punya kolusi di mana-mana, tidak punya modal, dan banyak lagi alasan yang bisa membuat orang ragu atau bahkan takut dalam menatap masa depannya. Apakah anda saat ini tengah merasakan hal itu? Ada beberapa orang yang saya kenal tengah mengalaminya. Salah satunya berkata "Seandainya saya tahu apa yang menjadi panggilan saya..." katanya sambil menghela nafas. Ada yang terus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lainnya, dan ditengah-tengahnya ia lebih banyak menganggur daripada bekerja. Alasannya? Karena ia terus merasa tidak cocok dimanapun ia bekerja. Semenakutkan itukah hari depan? Apakah benar kita tidak akan pernah mengetahui apa yang menjadi panggilan kita? Apakah benar Tuhan tidak memberi cukup talenta kepada sebagian orang, dan sialnya itu tepat mengena pada kita? Tidak. Tidak seperti itu. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan, seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita.

Apakah benar Tuhan menyembunyikan dalam-dalam rencanaNya atas kita sehingga sulit atau hampir-hampir tidak mungkin untuk kita ketahui? Banyak orang mengira demikian, tapi sesungguhnya itu keliru. Tuhan bukanlah Pribadi yang tertutup dan suka membuat kita hidup dalam kebimbangan atau bahkan ketakutan. Dia bukan Pribadi yang selalu terlalu sibuk untuk kita sehingga gemar membuat kita menunggu tanpa jawaban pasti. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih yang sangat mencintai anak-anakNya. Apa yang Dia sediakan adalah segala sesuatu yang terbaik bagi kita, termasuk pula segala kebaikan dalam kelimpahan menuju masa depan yang penuh harapan. Masalahnya justru ada pada diri kita. Apakah kita sudah bertanya lewat doa-doa kita, atau kita malah masih malas untuk meluangkan waktu sedikitpun untuk bersekutu denganNya? Mungkin kita sudah berdoa, tapi apakah kita memberi waktu kepada Tuhan untuk berbicara dan kita mendengar, atau kita masih terlalu sibuk berbicara satu arah menyampaikan wishlist atau keluh kesah kita dan tidak memberi kesempatan sedikitpun bagi Tuhan untuk menyampaikan sesuatu? Atau kita sudah teratur meluangkan waktu tetapi seberapa jauh kita percaya dan seberapa besar iman kita untuk bisa percaya? Atau mungkin juga kita masih terus melakukan banyak hal yang tidak berkenan di mata Tuhan sehingga kita berada di luar radar kasihNya. Semua ini bisa membuat kita tidak mengetahui apapun mengenai rencana Tuhan dalam hidup kita, sehingga masa depan pun terlihat gelap, suram dan penuh ketidakpastian.

Dalam Mazmur kita bisa membaca tulisan Daud ketika usianya sudah tua. Pada saat itu kematangan dan pengalaman jatuh bangunnya sejak kecil hingga masa tuanya tentu sudah membuatnya menjadi lebih bijaksana dengan segudang pengalaman yang akan sangat berharga untuk dibagikan kepada generasi-generasi setelahnya termasuk bagi kita semua yang hidup pada hari ini. Daud berkata: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya" (Mazmur 37:23). Ini merupakan jawaban atas topik renungan kita hari ini. The steps of a [good] man are directed and established by the Lord when He delights in his way [and He busies Himself with his every step]. Seperti itulah janji Tuhan. Tetapi lihat ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu, yaitu memastikan apakah diri kita sudah berkenan kepadaNya atau belum. apakah kita sudah termasuk good man di mataNya, orang yang berkenan atau tidak. Itu menjadi kunci penting apabila kita ingin Tuhan membimbing kita langkah demi langkah untuk mengetahui dan menghidupi rencanaNya. Dia akan dengan senang hati membuka semuanya ketika kita berkenan bagiNya. Bukan hanya sekedar melakukan, tetapi bahkan dikatakan: "He busies Himself with his every step." Bahasa Indonesianya: Tuhan akan dengan senang hati menyibukkan diriNya untuk membimbing orang-orang yang berkenan kepadaNya selangkah demi selangkah. Bayangkan betapa bahagianya ketika Tuhan tidak hanya memberitahukan rencanaNya bagi kita tetapi juga menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya. Seperti itulah janji Tuhan, itulah kerinduanNya.

(bersambung)

Friday, May 11, 2012

Saling Bantu

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:12
====================
"Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."

saling bantuSudah tahu kita lemah, tapi malah membiarkannya dan terus saja menjalaninya sendirian. Ada banyak orang yang memilih sikap seperti ini. Semakin mereka lemah, semakin pula mereka menutup rapat diri mereka. Mereka mengira dengan lari dari kenyataan mereka bisa semakin baik. Itu tidak pernah terjadi. Yang justru terjadi adalah kita akan semakin kehilangan arah dan itu tidak akan membuat apapun menjadi lebih baik. Lari jauh dari realita kehidupan bukanlah jawaban, karena biar bagaimanapun semuanya tetap harus kita hadapi. Kelemahan memang merupakan bagian hidup semua orang, siapapun punya kelemahannya masing-masing, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus menyerah atas kelemahan itu. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan pun telah mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi kelemahan, "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh" (Ibrani 12:12-13), dan lewat Daud kita tahu bahwa kita selalu bisa bertumpu pada Tuhan agar tidak gampang goyah. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mazmur 16:8). Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk membangun hubungan yang saling dukung, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri. Manusia sejatinya adalah mahluk sosial, seperti itulah kita diciptakan Tuhan. Kita adalah bagian dari masyarakat, alangkah baiknya apabila kita menyadari bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tetap berjalan dengan baik dan benar atau bahkan semakin baik lagi dari hari ke hari.

Dalam banyak kesempatan Firman Tuhan berulang kali mengingatkan kita agar tidak berjalan sendiri. Kita tidak pernah dirancang untuk menjadi manusia yang absolut dan merasa kita sanggup melakukan segalanya sendirian. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya...Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan." (Pengkotbah 4:9-10,12). Dalam berbagai aspek kehidupan itu berlaku, dalam hal kerohanian pun demikian. Kita butuh membangun network yang kokoh, bukan saja untuk kepentingan kita, kelompok atau sesama manusia secara umum, tetapi juga untuk menyatakan terang Allah dan memperluas KerajaanNya di muka bumi ini.

Kita tidak pernah sanggup berjalan sendirian, karena tekanan dan godaan akan selalu ada disekitar kita setiap saat. Dunia yang kita hidupi ini tidaklah mudah. Cepat atau lambat kita kekuatan kita akan habis. Kita akan mengalami kelelahan dan menjadi lemah. Atau berbagai titik lemah kita pun rawan untuk menjadi santapan empuk baik oleh iblis atau orang-orang yang berhati jahat. Disaat seperti itulah kita butuh dukungan dari teman-teman terutama yang seiman agar kita bisa tetap kuat, atau apabila sudah terlanjur jatuh bisa kembali bangkit dari keterpurukan. Sebuah network yang baik adalah kumpulan orang-orang yang memiliki tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama dan berisi orang-orang yang saling peduli satu sama lain dan tidak mementingkan diri sendiri serta diarahkan kepada tujuan-tujuan yang positif, baik dan membangun. Itulah yang ideal. Saling menasihati, memberi masukan, menegur jika perlu, dan saling mengulurkan tangan untuk membantu, itu akan membuat kita semua bisa bertumbuh dengan baik dan dapat kembali bangkit dari keterpurukan. Dikala kita butuh ada teman, dikala teman butuh ada kita. Indah bukan?

Dalam Ibrani kita bisa memperoleh ayat yang menyatakan hal ini dengan jelas. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24) Inilah kuncinya. Saling memperhatikan, saling mendorong. Dalam apa? Ayat ini menyebutkan: dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Untuk itulah kita diingatkan agar tidak menjauh dari pertemuan-pertemuan dimana kita bisa saling mengisi dan menguatkan lewat firman Tuhan, saling mengingatkan akan janji-janji Tuhan termasuk apa yang harus kita lakukan untuk menuainya. Ayat selanjutnya berbunyi: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25). Cara hidup jemaat mula-mula yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 bisa kita jadikan cerminan akan hal ini.

Untuk memperluas Kerajaan Allah dan menyatakan kemuliaanNya di muka bumi ini pun demikian. Kita tidak bisa melakukan segala sesuatunya sendirian saja. Tuhan telah mengaruniai talenta atau bakat-bakat tersendiri kepada setiap anakNya yang akan bisa menjadi sesuatu yang luar biasa jika disinergikan dengan orang-orang lain yang memiliki talenta berbeda untuk mencapai tujuan yang sama, berjalan ke arah yang sama. Talenta-talenta itu tidak akan pernah bisa dipakai maksimal apabila kita hanya berjuang sendirian. Paulus telah mengingatkan hal tersebut dalam surat Roma. "Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita.." (Roma 12:4-6). Dan ingatlah bahwa kita semua adalah anggota-anggota tubuh dengan Kristus sendiri sebagai Kepala (Efesus 4:15), "Dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (ay 16).

Kita perlu mengisi hari-hari kita dengan merenungkan firman Tuhan, membahasnya bersama teman-teman dalam persekutuan, saling mempehatikan lewat pertemuan, telepon, email, sms dan sebagainya agar kita tidak lemah dan bisa terus bertumbuh meski dalam kondisi apapun. Kita harus mau mengakui bahwa kita adalah manusia yang terbatas dan punya kelemahan. Jangan biarkan kelemahan menggerogoti kita dan terus menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan. Jangan biarkan kelemahan kita menghilangkan damai sukacita dalam diri kita. Jangan biarkan kelemahan terus terbuka sehingga gampang untuk diserang. Oleh karena itu jangan abaikan kesempatan untuk saling berbagi dan menguatkan selagi kesempatan masih ada. Selain agar kita bisa bertumbuh bersama-sama mengatasi kelemahan-kelemahan kita, temukanlah potensi-potensi yang telah diberikan Tuhan. Pergunakan dan kembangkanlah secara bersama-sama, sehingga masing-masing potensi yang berbeda itu bisa bersatu menjadi sebuah kekuatan yang luar biasa dimana Tuhan bisa kita permuliakan di dalamnya.

Never let your weakness overcome you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, May 10, 2012

Mengatasi Kelemahan

Ayat bacaan: Ibrani 12:12-13
========================
"Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh."

mengatasi kelemahanEverybody has a weakness. Semua orang punya kelemahan. Tidak peduli sehebat, setangguh, sekuat atau sepintar apapun kita, kita punya kelemahan masing-masing. Seorang teman saya berkata, "saya paling tidak bisa mengatakan tidak...akhirnya saya terus dimanfaatkan teman-teman saya." Uangnya dipinjam tapi tidak dikembalikan, temannya terus memperalatnya untuk mengerjakan tugas-tugas dan ia pun akhirnya seringkali rugi dan repot karena kelemahannya adalah sulit menolak. Dalam kasus yang lebih berat, ada banyak orang yang lemah ketika dihadapkan pada 3 Ta, harTA, tahTA dan waniTA. Tiga hal ini memang merupakan lahan bermain yang paling menyenangkan bagi iblis. Popularitas bisa membuat orang lupa diri. Kemilau harta dan kecantikan wanita pun bisa menjadi titik lemah yang jika tidak diwaspadai bisa membuat orang hancur dalam waktu singkat. Setiap orang memiliki kelemahannya sendiri, tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh pasrah begitu saja terhadap kelemahan-kelemahan itu. Kita tidak boleh berkata, "ya apa boleh buat, memang saya lemah dalam soal itu, jadi biarkan saja.." Tidak. Itu bukan solusi yang baik. Seringkali apa yang sudah kita bangun mati-matian bisa runtuh dalam sekejap bukan karena salah siapa-siapa tapi karena kelemahan kita sendiri. Ada seorang teman yang luar biasa pintar tapi memiliki kelemahan dalam memegang tanggung jawab. Ia takut dalam berkomitmen dan mudah merasa stres ketika diberi tanggungjawab dan akibatnya ia pun tidak kunjung maju dalam hidupnya. Sangat disayangkan semua talenta yang ia miliki belum juga maksimal ia pergunakan.

Kelemahan memang merupakan bagian dari hidup kita, tapi itu bukanlah sesuatu yang tidak bisa kita perbaiki. Ada kalanya kita harus melalui proses terlebih dahulu agar bisa menjadi lebih kuat dan lebih dewasa, termasuk dalam hal keimanan kita. Penulis Ibrani mengatakan demikian: "Sebab mereka (orang tua kita) mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya." (Ibrani 12:10). Pendisiplinan tentu tidak nyaman rasanya. Namun semua itu bisa mematangkan kita. "Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya." (ay 11). Perhatikan bagaimana Penulis Ibrani kemudian mengaitkannya dengan memperkuat diri. "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh." (ay 12-13). Kita tidak boleh membiarkan diri kita untuk menjadi lemah dan goyah. Membiarkan itu semua bercokol dalam diri kita akan membuat kita tidak akan pernah bisa berjalan lurus dalam kondisi baik dan tidak pincang.  Ingatlah bahwa iblis akan terus mencari kesempatan untuk merusak hati dan pikiran kita, dan iblis akan berpesta pora melihat celah masuk lewat kelemahan yang kita biarkan ada dalam diri kita. Bukan saja iblis, tapi orang-orang yang jahat pun siap memanipulasi kita, memanfaatkan diri kita demi keuntungan mereka apabila kita lemah. Karena itu adalah penting bagi kita untuk mengatasi kelemahan dan memperkuat diri, seperti yang sudah disampaikan lewat firman Tuhan.

Selanjutnya lihatlah firman Tuhan berkata bahwa orang yang menyerah kalah dan memilih untuk terus terperangkap dalam keadaan lemah dan pincang tidaklah berkenan di hadapan Tuhan. "Tetapi orang-Ku yang benar akan hidup oleh iman, dan apabila ia mengundurkan diri, maka Aku tidak berkenan kepadanya." (Ibrani 10:38) Penulis Ibrani mengingatkan bahwa sebagai anak-anak Tuhan, seharusnya kita ada dalam posisi yang penuh ketekunan dan ketaatan sebagai orang-orang percaya sehingga beroleh keselamatan. (ay 39). Titik-titik lemah kita bisa menjadi awal kehancuran yang akan menjauhkan kita dari keselamatan. Oleh karena itu kita harus terus melawan kelemahan-kelemahan dalam diri kita sehingga segala sesuatu yang sudah direncanakan Tuhan dan Dia janjikan tidak sampai gagal kita peroleh. Kita harus terus memenuhi diri kita dengan firman Tuhan secara terus menerus. Rajin-rajinlah mendengar dan membaca firman Tuhan, rajinlah berdoa, dekatkan diri kepada Tuhan, teruslah mengucap syukur dan fokuskan pandangan senantiasa kepadaNya. Find out all His promises to us and stick with it. Itu akan membuat kita tidak gampang jatuh menjadi lemah dan mudah goyah. Secara singkat Daud menyebutkan seperti ini: "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mazmur 16:8). Selain itu ingatlah bahwa kita bukan didesain Tuhan untuk sendirian. Kita butuh sahabat-sahabat yang bisa saling mengingatkan dan menguatkan terlebih disaat kita lemah. Kembali firman Tuhan sudah mengingatkan hal itu. "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik. Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.""(Ibrani 10:24-25).

Seperti halnya satu atau dua bagian tubuh yang mengalami masalah bisa menimbulkan kesulitan besar bagi kita, begitu pula ketika tubuh, jiwa atau roh kita menjadi lemah. Iblis akan terus mengincar titik-titik lemah kita sebagai pintu masuk untuk menghancurkan kita. Begitu pula orang-orang yang punya niat buruk. Karenanya, tetaplah jaga tubuh, jiwa dan roh kita agar tetap kuat. Jangan beri kesempatan kepada si jahat untuk memporakporandakan apa yang sudah kita bangun dengan baik sejak semula. Tetaplah berdiri tegar, jangan lemah dan jangan pernah lelah agar kita bisa terus melangkah dengan benar hingga akhir.

Membiarkan diri dalam kondisi lemah berlarut-larut akan semakin menjauhkan kita sukacita dan keselamatan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, May 9, 2012

Pelita yang Tetap Menyala

Ayat bacaan: Lukas 12:35
====================
"Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala."

pelita menyalaSedang asyik-asyiknya mengetik, tahu-tahu lampu di rumah mendadak padam. Untung saya sedang memakai netbook dengan baterai sehingga pekerjaan saya tidak sampai hilang. Saya melanjutkan mengetik walau gelap, tapi saya hanya tahan beberapa saat saja karena mata saya tidak kuat melihat nyala pada layar monitor dalam ruangan yang gelap. Di siang hari kita tidak terlalu memerlukan lampu kecuali jika berada pada ruang yang tertutup total tanpa ventilasi. Tapi di malam hari tentu kita butuh lampu jika masih harus beraktivitas melakukan sesuatu. Betapa pentingnya pelita jika anda berada dalam kegelapan. Bayangkan sulitnya mencari jalan di tempat gelap tanpa bantuan cahaya. Jalanan sepi pun akan rawan dari orang jahat seperti perampok atau gang berandalan apabila tidak dilengkapi dengan penerangan jalan yang memadai. Ada lagi kisah menarik yang saya peroleh dari sepupu saya pada suatu kali. Ia bercerita bahwa ia pernah ke satu kota di sebuah negara di Eropa Utara sana dimana pada saat musim dingin mereka bisa berhari-hari tanpa cahaya matahari. Statistik menunjukkan tingkat depresi di kota itu sangatlah tinggi, yang menyebabkan angka bunuh diri pun meningkat tajam disaat mereka tengah melewati hari-hari yang gelap. Semua ini menunjukkan pentingnya cahaya bagi kita dalam banyak hal.

Beberapa waktu yang lalu saya sudah menyampaikan nasihat untuk berjaga-jaga hingga kedatangan Yesus yang kedua kali yang secara simbolis mempergunakan ikat pinggang. Selain ikat pinggang, ada hal lain yang juga penting kita persiapkan seperti yang bisa kita lihat pada ayat hari bacaan hari ini, yaitu pelita. Ayat bacaan hari ini diambil dari Injil Lukas yang berbunyi: "Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala." (Lukas 12:35). Ayat ini menyatakan bahwa selain ikat pinggang, kita juga harus memastikan pelita kita tetap menyala. Apa yang dimaksud dengan pelita pada ayat ini? Kita bisa menemukan jawabannya dalam kitab Amsal. "Roh manusia adalah pelita TUHAN, yang menyelidiki seluruh lubuk hatinya." (Amsal 20:27) Ayat ini secara jelas menjelaskan bahwa Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang mampu menerangi/menyelidiki seluruh lubuk hatinya. Tuhan ternyata telah memberi kita semua dengan pelita atau lampu yang dapat selalu menuntun kita, menerangi kita, menjauhkan kita dari kegelapan. Tapi ingatlah bahwa pelita ini hanya bisa berfungsi apabila berada dalam keadaan menyala. Anda tidak akan mendapatkan fungsi apapun dari lampu jika dalam keadaan mati bukan? Roh manusia adalah pelita Tuhan, yang tidak ada pada mahluk lainnya. Roh manusia dilengkapi sebentuk hati nurani, yang selalu bereaksi mengingatkan kita setiap kali kita ingin berbuat dosa. Roh yang menyala seperti pelita merupakan wakil Tuhan untuk menerangi diri kita hingga bagian terdalam.

Betapa pentingnya pelita untuk menjauhkan kita dari kegelapan. Dunia yang kita tempati sekarang berisi banyak hal yang berpotensi yang dapat menggiring kita semua menuju kegelapan rohani. Tidak heran jika Paulus mengingatkan jemaat di Roma untuk memastikan roh mereka tetap menyala-nyala. "Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan." (Roma 12:11). Roh yang tetap menyala, bagaikan pelita yang terus bercahaya adalah sebuah tanda kesiapan kita menantikan kedatangan Kristus. Roh yang tetap menyala akan membuat kita tetap bersemangat untuk melayani Tuhan. Roh yang menyala akan membuat kita terhindar dari kegelapan. Bukan itu saja, cahaya itu pun seharusnya bisa memancar untuk menerangi saudara-saudara kita yang belum mengenal Tuhan. Alangkah indahnya apabila Kristus mendapati kita tengah melayani Tuhan dengan pelita yang menyala terang ketika Dia datang untuk kali kedua. Sebaliknya, apa yang terjadi jika pelita kita padam? Kita bisa mendapatkan jawabannya dalam kitab Ayub. "Betapa sering pelita orang fasik dipadamkan, kebinasaan menimpa mereka, dan kesakitan dibagikan Allah kepada mereka dalam murka-Nya!" (Ayub 21:17). Pelita yang padam akan membawa kita pada kebinasaan, dan kesakitan dalam murkaNya. Ini adalah sesuatu yang mengerikan. Tidak seorang pun yang tahu kapan Yesus datang kembali. Hendaklah kita semua tetap berjaga-jaga, melengkapi diri kita setiap saat dengan ikat pinggang dan pelita yang menyala.

Pastikan pelita anda tetap menyala agar terhindar dari berbagai hal yang berpotensi menggiring anda masuk dalam kegelapan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, May 8, 2012

Mewaspadai Ragi Farisi

 Ayat bacaan: Matius 23:13-14
=========================
"Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk...Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat."

ragi orang FarisiGereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa bertumbuh bersama dalam iman, mengalami jamahan Tuhan, pemulihan, dan merasakan hadiratNya. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama dalam menjalani hari-hari yang berat, juga untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas lalu menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya melihat sendiri beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat oknum-oknum hamba Tuhan yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Bayangkan, ada gereja yang terang-terangan mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Saya pun terkejut ketika mendengar adanya "makelar-makelar rohani" yang menjanjikan pengkotbah menjadi populer dalam waktu singkat. Mereka merampas hak Tuhan untuk popularitas diri sendiri. Dan sayangnya ada banyak pula pengkotbah atau pendeta yang setuju untuk memakai jasa makelar ini. Orang-orang ini menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Saya membayangkan betapa sakitnya hati Tuhan, betapa kecewanya Dia melihat orang-orang menyimpang seperti ini. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Sifat ini bukanlah hal baru karena sudah ada setidaknya di jaman Yesus turun ke bumi. Yesus sudah pernah menyinggung mengenai perihal kemunafikan dari orang-orang yang seharusnya menjadi teladan bagi jemaat. Kemunafikan ini disebutkan Tuhan sebagai ragi orang Farisi. "Sementara itu beribu-ribu orang banyak telah berkerumun, sehingga mereka berdesak-desakan. Lalu Yesus mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: "Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi." (Lukas 12:1). Orang-orang Farisi dikenal sebagai pemuka-pemuka agama yang tampil sangat alim dimanapun mereka ada. Mereka mengenal dengan mendalam hukum-hukum Taurat dan hafal luar kepala, selalu berkata tentang kebenaran, tetapi perilaku mereka jauh dari semua yang mereka ajarkan. Mereka selalu merasa diri paling benar, paling suci dan paling bersih, sehingga mereka merasa berhak untuk menghakimi orang lain menurut penilaian mereka pribadi. Inilah ragi Farisi yang sangat dikecam Tuhan. Dan lihatlah kepada siapa pesan ini ditujukan Yesus seperti yang saya tulis tebal di atas,yaitu kepada murid-murid Yesus, termasuk kita di dalamnya terutama yang melayani. Perhatikan apa kata Yesus. "Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.)" (Matius 23:13-14). Hukuman yang lebih berat, itu akan menjadi ganjaran akan orang-orang dengan perilaku seperti ini, dan itu tidaklah mengherankan. Mereka sudah mengetahui kebenaran tetapi masih juga melanggarnya. Mereka menyelewengkan kebenaran dan memanfaatkannya hanya sebagai topeng agar mereka terlihat hebat di mata manusia. Dan bukan itu saja, mereka pun menjadi batu sandungan bagi banyak orang, sesuatu yang berbanding terbalik dengan apa yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya, yaitu sebagai terang dan garam bagi orang lain. (Matius 5:13-16).

Hukuman yang lebih berat menanti orang-orang yang munafik. Orang yang seharusnya menjadi guru dengan keteladanan tetapi malah sebaliknya merintangi orang lain untuk selamat lewat cara hidupnya yang sama sekali tidak menunjukkan pribadi Kristus yang sebenarnya dikatakan akan menerima konsekuensinya, dan itu akan jauh lebih berat dari orang-orang biasa. Yakobus pun mengingatkan seperti itu ketika menyinggung masalah dosa lidah. "Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat." (Yakobus 3:1). Sangatlah disayangkan jika anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi cermin Kristus di dunia ternyata malah menjadi batu sandungan bagi sesamanya. Alangkah ironis ketika kita seharusnya menjadi terang dan garam, tetapi malah menjadi awan gelap dan empedu pahit bagi orang lain. Seharusnya kita menjadi sumber kasih seperti halnya Tuhan sendiri mengasihi kita, tapi kita malah menunjukkan sikap memusuhi, menghakimi, menjelek-jelekkan orang lain, atau malah menunjukkan perilaku yang tidak terpuji. Kenyataannya ada banyak orang percaya yang berpikir bahwa hidup lurus cukup dilakukan hanya pada hari Minggu saja, itupun hanya ketika berada di dalam ruang gereja. Begitu pulang, kehidupan duniawi dengan segala kesesatan pun kembali mewarnai hidup. Kemunafikan seperti ini bisa membawa konsekuensi fatal bagi kita, oleh karena itu kita harus ingat betul bahwa tidak hanya di gereja, tetapi dalam kehidupan sehari-hari pun Firman Tuhan tidak boleh sedikitpun dikesampingkan. Dalam hal menjadi hamba Tuhan, perhatikan pula kepada siapa kemuliaan itu ditujukan, apakah kepada Tuhan sepenuhnya atau malah dipelintir untuk popularitas pribadi. Jika Yesus meminta kita untuk menggembalakan domba-dombaNya seperti dalam Yohanes 21:15-19, tidakkah keterlaluan apabila kita malah mengusir domba-dombaNya untuk pergi menjauh lewat sikap ragi Farisi ini? Tidakkah ironis jika anak-anak Tuhan yang seharusnya berperan dalam mengenalkan kebenaran justru membuat orang semakin jauh dari kebenaran?

Ragi orang Farisi akan dengan sangat mudah hinggap pada diri kita ketika kita merasa diri kita paling benar. Mengetahui firman Tuhan memang bagus, tapi jika tidak disertai perbuatan, maka iman kita itu hanyalah sebentuk iman yang mati, dan disitulah kita bisa terjebak pada berbagai dosa kesombongan dan kemunafikan. Kecenderungan seperti ini memang cenderung hadir dalam diri manusia. Oleh karenanya Paulus mengingatkan "Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung!" (Roma 14:13). Betapa pesan ini baik untuk selalu kita ingat. Jika kita sudah dibebaskan dengan menerima Kristus sebagai Juru Selamat kita, langkah selanjutnya adalah komitmen kita untuk terus menjaga diri kita, agar kebebasan itu jangan sampai menjadi batu sandungan bagi yang lemah. (1 Korintus 8:9).Sebagai wakil-wakilNya di dunia, seharusnya kita selalu melakukan apa yang bisa mendatangkan damai sejahtera dan bisa membangun bahkan menyelamatkan orang lain. "Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun” (Roma 14:19), bukan sebaliknya mendatangkan kepahitan dan menghancurkan masa depan orang. Merusak pekerjaan Allah adalah fatal akibatnya. Setiap renungan yang saya tulis pun bagaikan pedang bermata dua yang bukan saja saya tujukan untuk membagi berkat kepada teman-teman, tapi juga berlaku sebagai peringatan bagi saya sendiri. Hukuman yang lebih berat akan hadir kepada orang-orang yang bersikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat pada masa itu. Karenanya, mari perhatikan benar bagaimana cara kita hidup agar kita tidak termasuk orang-orang yang terkontaminasi oleh ragi Farisi ini.

Hindari ragi Farisi dalam kehidupan kita sebagai orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...