=================
"Leave no (such) room or foothold for the devil" (English AMP)
Agar nyaman berlibur ke sebuah tempat biasanya kita akan memastikan dulu bisa mendapatkan penginapan yang paling nyaman sesuai dengan budget kita. Kita akan memesan jauh hari untuk menghindari kemungkinan hotel yang kita inginkan sudah terlanjur penuh. Hampir di semua kota kita bisa mendapatkan tempat menginap dengan kelas beragam, mulai dari penginapan murah (budget hotel), homestay, motel, sampai hotel bintang 1 hingga 5. Cara pemesanan sekarang sudah jauh lebih mudah. Selain bisa lewat travel agency, kita pun bisa memesan lewat gerai-gerai online yang memberi harga diskon lumayan besar. Dalam bepergian kita memang harus menyiapkan tempat menginap terlebih dahulu agar kita bisa berlibur atau berkunjung dengan tenang. Selama kita belum menemukannya, tentu seperti pengalaman saya di atas kita akan terus mencari sebuah tempat, kalau bisa senyaman mungkin dengan budget yang terjangkau oleh kita.Ilustrasi di atas saya berikan sebagai contoh untuk menggambarkan hal yang digemari iblis. Apa yang dilakukan iblis kurang lebih sama. Iblis suka "travelling" dari hati seorang ke hati yang lain. Dia akan selalu berusaha mencari tempat yang paling nyaman dalam hati kita untuk kemudian "bertamu", menginap bahkan menetap di dalamnya. Petrus mengatakan hal tersebut seperti ini: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5;8). Ini menggambarkan hobi iblis dalam melakukan travelling. Sebelum ia memperoleh tempat menginap itu, iblis akan terus berkeliling mencari celah agar bisa menempati sebuah ruang di dalam hati kita. Begitu ketemu celah, ia akan masuk dan berdiam disana, dan ketika kita membiarkan itu terjadi, maka tinggal masalah waktu saja bagi kita untuk terjebak dalam berbagai bentuk dosa dan kesesatan, dan disana kehancuran menanti kita. Dengan mentolerir bentuk-bentuk penyimpangan atau dosa, dengan membiarkan kebiasaan-kebiasaan buruk kita dan menganggapnya hal yang biasa, jangan-jangan kita sudah memberikan sebuah tempat tumpangan yang sangat nyaman dan mewah ala bintang 5 kepada si jahat.
Alkitab sudah mewanti-wanti agar kita jangan pernah memberikan ruang kepada iblis. Dalam Alkitab tertulis "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27). Dalam versi KJV disebutkan dengan "Neither give place to the devil.“ Atau dalam versi English Amplified dikatakan "Leave no (such) room or foothold for the devil". Jangan berikan ruang atau tempat berpijak kepada iblis. Iblis bisa dengan nyaman tinggal di dalam diri kita dan mengobrak-abrik iman kita hingga berimbas kepada perilaku-perilaku yang tidak terpuji dan sama sekali bertentangan dengan gambaran yang seharusnya kita miliki sebagai anak-anak Tuhan. Dan iblis sangat senang melakukan itu. Tapi perhatikanlah kembali ayat dalam 1 Petrus 5:8 di atas. Meski iblis selalu dan akan selalu mencari celah untuk menetap dalam diri kita, ia tidak akan bisa berbuat apa-apa jika kita tidak memberi tempat buat dia. Iblis hanya bisa berkeliling, mengaum-aum mencari siapa yang bisa ditelannya. Ia hanya bisa berkeliling di luar pagar, tidak akan bisa menembus kita sama sekali apabila kita tidak membiarkannya masuk. Ketika kita membiarkan sifat emosional kita, kepahitan, menuruti hawa nafsu, mendendam kepada orang lain, mudah membenci orang, selalu hidup khawatir dalam segala hal, cepat merasa takut dan hal-hal jelek lainnya, itu sama saja dengan memasang sebuah iklan yang akan sangat menarik buat iblis. Ketika kita membiarkan kelemahan-kelemahan kita terbuka tanpa kita pedulikan, itu akan menjadi sebuah celah yang sangat lebar bagi iblis untuk menancapkan kukunya dalam hidup kita.
Karena itulah sangat penting bagi kita untuk menjaga hati kita. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Guard your heart seriously. Dari hatilah kehidupan itu sesungguhnya terpancar, dan apa yang ada di dalam hati kita akan tercermin dalam cara hidup kita. Jika Firman Tuhan yang mengisi ruang-ruang dalam hati kita, maka itu akan dengan jelas terlihat dari sikap dan perilaku kita. Sebaliknya jika iblis yang berdiam di dalamnya, maka itu pun akan nyata dari cara hidup kita. Yang jelas kita harus benar-benar menjaga dengan serius agar jangan sampai ada ruang kosong di dalam hati kita yang bisa menjadi tempat tinggal bagi iblis, apalagi secara langsung menyediakannya dengan memupuk segala bentuk kenegatifan kita atau menyimpan dosa. Kita harus terus mengisi hati kita dengan firman Tuhan. Lihat pesan Tuhan kepada Yosua: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Jika ruang-ruang dalam hati kita diisi dengan firman Tuhan, itu akan memampukan kita untuk bertindak hati-hati. Disana iblis tidak akan bisa masuk, bahkan lebih dari itu dikatakan kita akan berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidup kita.
Bagaimana jika iblis sudah terlanjur masuk? Lawanlah segera. Alkitab berkata "..lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu!" (Yakobus 4:7). Cara melawannya sudah diberikan dalam Efesus 6:10-20. "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis... ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu." (Efesus 6:11,13). Mungkin yang jadi masalah bukan menyimpan dosa, tetapi hidup dipenuhi kecemasan pun bisa menjadi celah buat iblis untuk masuk. Untuk hal ini Tuhan sudah berpesan "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Atau mungkin pula sikap kita membiarkan kelemahan kita tak teratasi yang menjadi awal masalah, dan untuk itu pun firman Tuhan sudah berpesan: "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh." (Ibrani 12:12-13).
Jangan beri ruang sama sekali bagi iblis untuk berdiam dalam diri kita. Apakah kita mau membiarkan atau mengusirnya, semua tergantung kita. Kita harus memastikan tidak ada dosa, kejahatan, kebencian, kepahitan dan sebagainya agar tidak ada satupun celah yang bisa dimanfaatkan iblis untuk berpijak. Isilah terus dengan firman Tuhan, agar iblis hanya bisa dengan kesal mengaum-aum berkeliling diluar tanpa bisa mendekat sedikitpun pada kita. Sesungguhnya kita adalah bait Allah, dan jika demikian tidak ada tempat bagi iblis sama sekali.
Jangan berikan ruang atau tempat berpijak bagi iblis
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Gamangkah anda menatap masa depan? Bersyukurlah jika tidak, karena ada banyak orang yang takut menanti apa jadi apa kelak di masa depan. Mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan untuk sukses. Sepertinya tidak ada bakat yang istimewa, kepandaian biasa-biasa saja, tidak punya kolusi di mana-mana, tidak punya modal, dan banyak lagi alasan yang bisa membuat orang ragu atau bahkan takut dalam menatap masa depannya. Apakah anda saat ini tengah merasakan hal itu? Ada beberapa orang yang saya kenal tengah mengalaminya. Salah satunya berkata "Seandainya saya tahu apa yang menjadi panggilan saya..." katanya sambil menghela nafas. Ada yang terus berpindah dari satu tempat kerja ke tempat lainnya, dan ditengah-tengahnya ia lebih banyak menganggur daripada bekerja. Alasannya? Karena ia terus merasa tidak cocok dimanapun ia bekerja. Semenakutkan itukah hari depan? Apakah benar kita tidak akan pernah mengetahui apa yang menjadi panggilan kita? Apakah benar Tuhan tidak memberi cukup talenta kepada sebagian orang, dan sialnya itu tepat mengena pada kita? Tidak. Tidak seperti itu. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan, seperti yang tertulis dalam Yeremia 29:11. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita.
Sudah tahu kita lemah, tapi malah membiarkannya dan terus saja menjalaninya sendirian. Ada banyak orang yang memilih sikap seperti ini. Semakin mereka lemah, semakin pula mereka menutup rapat diri mereka. Mereka mengira dengan lari dari kenyataan mereka bisa semakin baik. Itu tidak pernah terjadi. Yang justru terjadi adalah kita akan semakin kehilangan arah dan itu tidak akan membuat apapun menjadi lebih baik. Lari jauh dari realita kehidupan bukanlah jawaban, karena biar bagaimanapun semuanya tetap harus kita hadapi. Kelemahan memang merupakan bagian hidup semua orang, siapapun punya kelemahannya masing-masing, tapi itu bukan berarti bahwa kita harus menyerah atas kelemahan itu. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan pun telah mengingatkan kita akan pentingnya mengatasi kelemahan, "Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh" (Ibrani 12:12-13), dan lewat Daud kita tahu bahwa kita selalu bisa bertumpu pada Tuhan agar tidak gampang goyah. "Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah." (Mazmur 16:8). Selain daripada itu, adalah penting pula bagi kita untuk membangun hubungan yang saling dukung, saling bantu, saling mengingatkan atau kalau perlu saling menegur agar kita tidak terperangkap oleh kelemahan-kelemahan kita sendiri. Manusia sejatinya adalah mahluk sosial, seperti itulah kita diciptakan Tuhan. Kita adalah bagian dari masyarakat, alangkah baiknya apabila kita menyadari bahwa kita butuh orang lain untuk bisa tetap berjalan dengan baik dan benar atau bahkan semakin baik lagi dari hari ke hari.
Everybody has a weakness. Semua orang punya kelemahan. Tidak peduli sehebat, setangguh, sekuat atau sepintar apapun kita, kita punya kelemahan masing-masing. Seorang teman saya berkata, "saya paling tidak bisa mengatakan tidak...akhirnya saya terus dimanfaatkan teman-teman saya." Uangnya dipinjam tapi tidak dikembalikan, temannya terus memperalatnya untuk mengerjakan tugas-tugas dan ia pun akhirnya seringkali rugi dan repot karena kelemahannya adalah sulit menolak. Dalam kasus yang lebih berat, ada banyak orang yang lemah ketika dihadapkan pada 3 Ta, harTA, tahTA dan waniTA. Tiga hal ini memang merupakan lahan bermain yang paling menyenangkan bagi iblis. Popularitas bisa membuat orang lupa diri. Kemilau harta dan kecantikan wanita pun bisa menjadi titik lemah yang jika tidak diwaspadai bisa membuat orang hancur dalam waktu singkat. Setiap orang memiliki kelemahannya sendiri, tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh pasrah begitu saja terhadap kelemahan-kelemahan itu. Kita tidak boleh berkata, "ya apa boleh buat, memang saya lemah dalam soal itu, jadi biarkan saja.." Tidak. Itu bukan solusi yang baik. Seringkali apa yang sudah kita bangun mati-matian bisa runtuh dalam sekejap bukan karena salah siapa-siapa tapi karena kelemahan kita sendiri. Ada seorang teman yang luar biasa pintar tapi memiliki kelemahan dalam memegang tanggung jawab. Ia takut dalam berkomitmen dan mudah merasa stres ketika diberi tanggungjawab dan akibatnya ia pun tidak kunjung maju dalam hidupnya. Sangat disayangkan semua talenta yang ia miliki belum juga maksimal ia pergunakan.
Sedang asyik-asyiknya mengetik, tahu-tahu lampu di rumah mendadak padam. Untung saya sedang memakai netbook dengan baterai sehingga pekerjaan saya tidak sampai hilang. Saya melanjutkan mengetik walau gelap, tapi saya hanya tahan beberapa saat saja karena mata saya tidak kuat melihat nyala pada layar monitor dalam ruangan yang gelap. Di siang hari kita tidak terlalu memerlukan lampu kecuali jika berada pada ruang yang tertutup total tanpa ventilasi. Tapi di malam hari tentu kita butuh lampu jika masih harus beraktivitas melakukan sesuatu. Betapa pentingnya pelita jika anda berada dalam kegelapan. Bayangkan sulitnya mencari jalan di tempat gelap tanpa bantuan cahaya. Jalanan sepi pun akan rawan dari orang jahat seperti perampok atau gang berandalan apabila tidak dilengkapi dengan penerangan jalan yang memadai. Ada lagi kisah menarik yang saya peroleh dari sepupu saya pada suatu kali. Ia bercerita bahwa ia pernah ke satu kota di sebuah negara di Eropa Utara sana dimana pada saat musim dingin mereka bisa berhari-hari tanpa cahaya matahari. Statistik menunjukkan tingkat depresi di kota itu sangatlah tinggi, yang menyebabkan angka bunuh diri pun meningkat tajam disaat mereka tengah melewati hari-hari yang gelap. Semua ini menunjukkan pentingnya cahaya bagi kita dalam banyak hal.
Gereja seharusnya menjadi tempat dimana orang bisa bertumbuh bersama dalam iman, mengalami jamahan Tuhan, pemulihan, dan merasakan hadiratNya. Gereja seharusnya menjadi tempat anak-anak Tuhan untuk saling berbagi, saling menguatkan, saling bantu dan bekerja sama dalam menjalani hari-hari yang berat, juga untuk membawa terang keluar dari dinding-dinding pembatas lalu menjangkau lingkungan sekitarnya, kota, bangsa maupun dunia. Tetapi betapa memprihatinkannya ketika sebagian dari hamba-hamba Tuhan di dalamnya yang seharusnya menjadi panutan justru sebaliknya berubah menjadi batu sandungan bagi jemaatnya sendiri. Saya melihat sendiri beberapa orang yang menjadi apatis karena kecewa melihat oknum-oknum hamba Tuhan yang perkataan dan kehidupannya tidak sinkron. Bayangkan, ada gereja yang terang-terangan mendahulukan donatur untuk duduk di depan, sementara jemaat biasa harus dibelakang walaupun di depan masih kosong. Ada juga orang yang setiap hari Minggu terlihat suci tetapi di dalam pekerjaan mereka melakukan banyak kecurangan. Ada yang sepertinya sangat kudus dengan gaya yang selalu menasihati orang lain seolah dirinya tanpa cela, tetapi mereka terus hidup dalam pesta pora, minum-minum dan menghamburkan uang tidak pada tempatnya. Saya pun terkejut ketika mendengar adanya "makelar-makelar rohani" yang menjanjikan pengkotbah menjadi populer dalam waktu singkat. Mereka merampas hak Tuhan untuk popularitas diri sendiri. Dan sayangnya ada banyak pula pengkotbah atau pendeta yang setuju untuk memakai jasa makelar ini. Orang-orang ini menciptakan peraturan sendiri mengenai mana yang boleh dan tidak sesuai dengan kesukaan mereka, bahkan tidak jarang mereka menciptakan sosok Tuhan menurut versi mereka sendiri. Saya membayangkan betapa sakitnya hati Tuhan, betapa kecewanya Dia melihat orang-orang menyimpang seperti ini. Bukan saja mereka menjadi batu sandungan bagi banyak orang, tetapi juga menjadi penghalang yang bisa menggagalkan pekerjaan Tuhan di dunia ini.