Friday, April 15, 2011

Berkat Kasih Karunia

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:10
======================
"Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.."

berkat kasih karunia TuhanHidup dari panggung ke panggung lainnya meliput berbagai acara musik selama beberapa tahun membuat saya memperoleh begitu banyak kisah yang jarang dipublikasikan orang. Saya bertemu berbagai macam artis dengan segala tingkah polah masing-masing. Ada yang ramah dan bersahabat, ada yang pintar berbasa-basi, ada pula yang cuek bahkan angkuh. Ada yang mau terbuka bercerita apa saja, ada yang lekas curiga. Ketenaran bukanlah alat ukur untuk sombong tidaknya seseorang, karena secara umum artis-artis yang sudah makan garam selama puluhan tahun justru sangat ramah dan bersahabat. Salah seorang artis senior yang pasti anda kenal baik jika saya sebut namanya bercerita bahwa ia kecewa melihat perilaku banyak artis muda saat ini. Mereka arogan, gampang memandang rendah orang lain bahkan dengan tidak segan-segan berani memerintah orang yang lebih senior dari mereka. Ada banyak diantara mereka, katanya, yang tidak mau merapikan alat musiknya sendiri dan hanya melenggang keluar dari panggung begitu pertunjukan selesai. Honor sangat menentukan bagi mereka, berkurang sedikit saja maka mereka akan uring-uringan bermain atau malah menolak untuk tampil. Cerita ini saya peroleh dari seorang artis legendaris kita yang kecewa melihat generasi muda dengan sikap arogan. "Mereka lupa bahwa semua itu berasal dari Tuhan dan bukan karena kehebatan mereka." katanya.

Saya memahami betul perasaannya, dan apa yang ia katakan memang menjadi gambaran secara umum mengenai kondisi panggung hiburan saat ini. Memang tidak semua, karena saya juga bertemu dengan artis-artis muda yang rendah hati, ramah dan bersahabat. Ada pula yang masih tetap melayani Tuhan dengan rajin walaupun ia sudah mencapai kesuksesan. Memang benar, kemampuan yang mereka peroleh adalah hasil kerja keras mereka belajar dan latihan hingga sukses. Tetapi kemampuan untuk menerima pelajaran, bakat dan sebagainya pun berasal dari Tuhan. Itulah sebabnya sangatlah penting bagi kita untuk menyadari betul siapa dan dimana posisi kita sebenarnya. Kita memang harus bekerja dan berusaha keras dalam hidup, tetapi tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada satupun yang bisa kita capai. Tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada pencapaian-pencapaian luar biasa yang bisa kita peroleh. Tanpa Tuhan, kita bukanlah apa-apa. Kita ada sebagaimana diri kita sekarang, itu adalah atas penyertaanNya, atas kasih karuniaNya.
Paulus menyadari betul hal ini dan dia pun menyampaikan "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." (1 Korintus 15:10). Aku ada sebagaimana aku ada sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah, dan semua itu tidak ada yang sia-sia. Kita pun demikian. Kita ada sebagaimana kita sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah. Pada kesempatan lain ia kembali mengingatkan hal yang mirip: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7). Bukankah berkat, kekuatan atau talenta itu semuanya berasal dari Tuhan? Paulus merupakan hamba Tuhan yang begitu luar biasa dalam mewartakan kabar keselamatan. Tetapi dengan tulus ia mengakui bahwa keberhasilan pelayanannya bukanlah atas hasil keberanian dan kehebatannya. Bukan karena kepintaran, kekuatan dan kesanggupannya saja, melainkan berasal dari karunia Allah yang menyertainya. Maka sudah sepantasnya pula kemuliaan menjadi milik Tuhan dan bukan untuk kita pakai menyombongkan diri di hadapan orang lain.

Yesus berkata: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Kita akan berbuah banyak jika kita berada didalam Dia dan Dia berada di dalam kita. Tanpa itu kita bukanlah apa-apa. Ayub mengatakan bahwa manusia itu singkat umurnya. "Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan." (Ayub 14:2). Apalah artinya kita tanpa kasih karunia Tuhan? Maka dari itu kita harus ingat bahwa tidak ada satupun alasan yang bisa kita pakai untuk memegahkan atau menyombongkan diri, merasa hebat ketika kita mengalami keberhasilan dalam berbagai hal. Without God we're nothing.

Jika kita menelusuri kisah hidup Yusuf dalam kitab Kejadian, kita pun bisa melihat bagaimana Yusuf muda terus berpindah dari satu masalah ke dalam masalah berikutnya. Tetapi lihatlah bagaimana ia tetap berbuah dan berhasil dalam setiap langkahnya, termasuk ketika ia sedang dalam masalah. Semua itu bukan karena kehebatannya melainkan karena penyertaan Tuhan atas dirinya. Daud tahu itu, dan Alkitab jelas mencatat akan hal itu. "..karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (Kejadian 39:23b). Dalam keadaan sulit sekalipun kita bisa tetap menuai keberhasilan, dan itu semua karena ada Tuhan yang menyertai kita, ada Roh Tuhan yang memampukan kita untuk maksimal. Dalam kitab Zakharia dikatakan: "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." (Zakharia 4:6).

Ada banyak orang yang jatuh justru disaat mereka mulai merasakan kesuksesan atau keberhasilan. Bahkan di antara orang percaya sekalipun termasuk hamba-hamba Tuhan bisa terjatuh karena kesombongan. Kemuliaan seharusnya menjadi hak Tuhan dan bukan hak kita. Dan lihat Firman Tuhan pun berkata: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30). Janganlah kita sampai berani mencuri apa yang menjadi hak Tuhan. Ingatlah bahwa kita ada sebagaimana kita ada sekarang adalah hasil dari kasih karunia Tuhan. Semakin tinggi kita naik, semakin rendah hati pula kita seharusnya. Ingatlah bahwa Roh Kudus hanya bisa bekerja bagi orang yang hatinya dipenuhi kerendahan dan mau dibentuk. Jika kesuksesan hadir hari ini, bersyukurlah dan jangan jadikan itu untuk bersikap angkuh dan lupa diri. Sebaliknya pakailah itu untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan atas segala kasih karuniaNya yang luar biasa yang telah Dia curahkan atas kita.

Bukan kuat dan hebat kita, tetapi kasih karunia Allah-lah yang menjadikan kita sebagaimana kita hari ini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, April 14, 2011

Berjalan dalam Bimbingan Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 37:23
====================
"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"

berjalan dalam bimbingan Tuhan"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Memandang masa depan itu menakutkan rasanya.." keluh seorang teman saya beberapa waktu yang lalu. Ia bercerita bahwa ia sudah berganti-ganti profesi, mencoba berbisnis jual beli motor, jual pulsa hingga bekerja di perusahaan, tetapi sepertinya ia belum menemukan pekerjaan yang tepat. Seorang tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah saya pun mengalami kasus mirip. Ia terus berpindah dari satu tempat kerja ke yang lain dimana masa menganggurnya justru lebih panjang ketimbang masa bekerjanya. Akibatnya suasana rumahtangganya pun memanas. Hampir setiap hari ia bertengkar hebat dengan istrinya. Ada banyak kasus-kasus serupa yang bisa kita lihat di sekitar kita, apalagi ketika kita berada di jaman yang semakin sulit seperti sekarang ini. Mencari pekerjaan saja susahnya bukan main, apalagi mencari pekerjaan yang tepat seperti panggilan kita. Panggilan? Ya, saya menyebutnya pangggilan. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita.

Apakah Tuhaan menyembunyikan dalam-dalam rencanaNya atas kita sehingga sulit atau hampir-hampir tidak mungkin untuk kita ketahui? Sama sekali tidak. Dia bukanlah Pribadi yang tertutup. Dia bukan Pribadi yang selalu terlalu sibuk untuk kita. Tuhan adalah Bapa yang penuh kasih yang sangat mencintai anak-anakNya. Masalahnya justru di kita. Apakah kita sudah bertanya lewat doa-doa kita, atau kita malah masih malas untuk meluangkan waktu sedikitpun untuk bersekutu denganNya? Atau kita sudah teratur meluangkan waktuk tetapi seberapa jauh kita percaya dan seberapa besar iman kita untuk bisa percaya? Atau mungkin juga kita masih terus melakukan banyak hal yang tidak berkenan di mata Tuhan sehingga kita berada di luar radar kasihNya.

Dalam Mazmur kita bisa membaca tulisan Daud yang ia buat ketika ia sudah lanjut usia. Pada saat itu kematangan dan pengalaman jatuh bangunnya sejak kecil hingga masa tuanya tentu sudah membuatnya menjadi lebih bijaksana dengan segudang pengalaman yang akan sangat berharga untuk dibagikan kepada generasi-generasi setelahnya termasuk bagi kita hari ini. Daud berkata: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya" (Mazmur 37:23). Ini merupakan jawaban atas topik renungan kita hari ini. The steps of a [good] man are directed and established by the Lord. Itu janji Tuhan. Tetapi lihat ada hal yang harus kita lakukan terlebih dahulu, yaitu memastikan apakah diri kita sudah berkenan kepadaNya atau belum. Itu menjadi kunci penting apabila kita ingin Tuhan membimbing kita langkah demi langkah untuk mengetahui dan menghidupi rencanaNya. He will do that when He delights in our way. Bukan hanya sekedar melakukan, tetapi bahkan dikatakan: "He busies Himself with his (our) every step." Tuhan akan dengan senang hati menyibukkan diriNya untuk membimbing orang-orang yang berkenan kepadaNya selangkah demi selangkah. Bayangkan betapa bahagianya ketika Tuhan tidak hanya memberitahukan rencanaNya bagi kita tetapi juga menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya. Bukankah itu terdengar sangat menyenangkan?

Meski demikian, kita harus tahu pula bahwa semua itu bukan berarti bahwa kita tidak akan mengalami kesulitan apapun dalam perjalanan kita. Ada saat-saat dimana kita tidak bisa menghindar untuk bertemu dengan masalah dalam langkah-langkah kita. Tetapi tentu berbeda jika kita menghadapinya sendirian atau bersama Tuhan. Dan ini kabar baiknya. Tuhan tetap ada bersama kita dan siap memegang tangan kita dalam menghadapi masalah-masalah tersebut! Dan itu bisa kita baca dalam ayat berikutnya: "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (ay 24). Masalah boleh ada, tetapi kita tidak perlu kuatir apabila menghadapinya bersama-sama dengan Tuhan yang berkuasa di atas segalanya. Artinya bukan masalahnya yang harus kita kuatirkan, tetapi apakah kita berjalan bersama Tuhan atau sendirian, itulah yang harus menjadi perhatian kita.

Ayat selanjutnya menunjukkan kesaksian Daud sepanjang masa hidupnya tentang bagaimana Tuhan menggenapi janji penyertaanNya ini. "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;  tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (ay 25-26). Sejak masih muda hingga usia lanjut, Daud bersaksi bahwa ia tidak pernan melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat. Tuhan siap memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan prasarana untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya, itulah kunci yang akan membuat kita mendapatkan uluran tangan Allah sendiri untuk menuntun kita mencapai kemenangan demi kemenangan. Kesuksesan dan keberhasilan, itu merupakan janji yang telah disediakan Tuhan untuk kita. Jalannya memang tidak sama bagi setiap orang, tetapi semua yang sesuai dengan rencanaya adalah sesuatu yang mendatangkan damai sejahtera dan menuju kepada hari depan yang cerah, seperti Firman Tuhan dalam kitab Yeremia: "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11).

Sudahkah kita bertanya kepada Tuhan lewat doa-doa dan waktu-waktu khusus persekutuan kita denganNya? Sudahkah kita meluangkan waktu untuk mendengar apa kata Tuhan dan tidak terlalu sibuk mengisi doa kita dengan keluh kesah tanpa henti secara sepihak saja? Firman Tuhan berkata: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati." (Yeremia 29:12-13). Tuhan bukanlah Sosok yang tertutup. Dia terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membuka rencanaNya atas kita masing-masing. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita. Daud pun tahu itu, sebab itu ia berkata: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:5-6). Berjalan sesuai rencanaNya dan bersama dengan penyertaanNya secara langsung, itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya dan akan mampu membuat kita merasakan betapa indah dan bahagianya hidup itu sebenarnya.

Raihlah kemenangan demi kemenangan dengan gemilang bersama Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 13, 2011

Tuhan Dapat Dipercaya

Ayat bacaan: Markus 13:31
=====================
"Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."

Tuhan dapat dipercayaDunia transaksi modern telah berkembang sangat pesat setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Saat ini tidak lagi cukup untuk membuka toko atau outlet di dunia nyata, tetapi di dunia maya atau cyber world pun sama pentingnya. Memang orang-orang yang surfing di dunia maya adalah orang-orang nyata di dunia juga, tetapi komunitasnya bisa sangat berbeda seolah-olah menjadi sebuah dunia sendiri dengan penduduknya sendiri pula. Orang pun semakin ramai berjualan lewat internet, menawarkan barang dagangan yang variasinya seluas samudera, sama seperti di dunia nyata. Kita bisa membeli apa saja lewat internet saat ini, bahkan sambal dan bumbu pecal sekalipun bisa kita peroleh disana. Transaksi di internet membutuhkan sebuah elemen penting agar bisa terjadi, yaitu percaya. Prosesnya bukanlah seperti di dunia nyata yang bisa dilakukan dengan cash and carry atau cash on delivery, tetapi pembeli biasanya harus membayar terlebih dahulu baru barang dikirimkan. Tanpa kepercayaan niscaya transaksi tidak akan terjadi. Pembeli harus percaya kepada penjualnya akan mengirim sesuai dengan pesanan dan kesepakatan atau tidak akan pernah ada transaksi sama sekali. Jika dahulu orang masih sulit percaya, hari ini transaksi online bertumbuh sangat subur dan sangat menjanjikan.

Tidak hanya transaksi online, tetapi dalam berbagai aspek kehidupan pun kita akan berhadapan dengan banyak hal yang menuntut faktor kepercayaan ini. Orang tua tentu harus percaya terlebih dahulu kualitas sebuah sekolah sebelum memasukkan anak-anaknya untuk belajar disana. Jika kita berobat ke dokter, kita harus percaya bahwa resep yang ia berikan berisi obat yang paling tepat untuk menyembuhkan sakit kita. Kalau kita mau dioperasi, kita pun harus menyerahkan sepenuhnya ke dalam tangan mereka. Rakyat harus percaya kepada pemimpinnya, atau kalau tidak bangsa itu akan amburadul dan tidak akan pernah bisa maju. Jemaat harus percaya kepada gembalanya, atau mereka tidak akan bisa bertumbuh dalam komunitas gerejanya. Begitu pula dalam hal kepercayaan. Yesus berkali-kali mengingatkan manusia untuk percaya dengan iman, karena seringkali ketidakpercayaan atau kurang percaya merintangi terjadinya mukjizat Tuhan dalam hidup seseorang. Bahkan pada suatu kali Yesus berkata tegas: "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36). Padahal saat Yesus mengatakan hal itu, situasi yang dihadapi bukan lagi orang yang sakit, tetapi orang yang sudah mati, yang artinya secara logika manusia tidak ada lagi harapan apapun. Tetapi lihatlah bahwa Yesus mengaitkan hal itu dengan faktor percaya. Percaya kepada Tuhan tidaklah tergantung dari situasi, tetapi bergantung kepada seberapa besar iman yang ada untuk mendukung kepercayaan itu.

Kabar baiknya, Tuhan memberikan teladan secara langsung sebagai Sosok yang sangat dapat dipercaya. Tokoh-tokoh di dalam Alkitab sudah merasakannya secara langsung. Seandainya bisa, coba tanyakan kepada Daud, Yusuf, Abraham dan lain-lain, maka mereka pasti dengan tersenyum menceritakan bagaimana buah yang mereka petik dari iman mereka yang bisa percaya penuh kepada janji Tuhan tanpa memandang situasi dan kondisi yang sedang dialami. Lihatlah Daud misalnya yang berkata: "Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya!" (Mazmur 34:8). Kecaplah dan lihatlah, itu menunjukkan sebuah ajakan untuk merasakan sesuatu yang sudah terlebih dahulu dialami oleh orang yang mengatakannya. Tidak hanya itu, bahkan dalam Mazmur kita juga bisa membaca sebuah pengakuan yang lebih tegas: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1) Sangat terbukti. Itu kata yang dipakai, bukan sekedar mudah-mudahan, bukan mungkin atau bisa terbukti, tetapi dikatakan "SANGAT" terbukti. Lihatlah apa kata Tuhan langsung yang tercatat dalam Alkitab: "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.." (Maleakhi 3:6). Lalu Yesus berkata: "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." (Markus 13:31). Langit dan bumi pada suatu ketika akan lenyap, they will perish and pass away, tetapi FirmanNya kekal selama-lamanya. Meski Tuhan punya kuasa di atas segalanya dan berhak mengubah apapun sesuai keinginanNya, tetapi Tuhan adalah Pribadi yang konsekuen dengan janji-janjiNya. Tuhan konsisten dengan apa yang telah Dia Firmankan. Betapa bersyukurnya kita memiliki Tuhan dengan pribadi seperti itu, yang bisa kita percaya sepenuhnya, seutuhnya. Jika dahulu Tuhan sudah membuktikan Dia bisa melakukan mukjizat semustahil apapun, hari ini pun sama, besok, lusa dan sampai kapanpun Dia tetap bisa! Sebab "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8).

Jika kita bisa mempercayai pilihan orang tua kita, saudara, guru, dokter, pendeta, pimpinan dan sebagainya, jika kita bisa mempercayai penjual untuk bertransaksi, mengapa sulit bagi kita untuk percaya kepada Tuhan yang berkuasa atas segala-galaNya dan konsisten serta konsekuen dengan segala yang telah Dia ucapkan? Meski Dia berhak untuk mengubah apapun dalam kapasitasNya sebagai Pencipta segalanya, meski Tuhan berhak melakukan apapun karena segala yang ada di alam semesta ini adalah milikNya, tetapi Tuhan menunjukkan bahwa Dia adalah Pribadi yang sama dahulu sekarang dan sampai selamanya. Petrus mengatakan: "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9). Sudah seharusnya kita mengerti akan hal ini dan tidak berusaha memasukkan Tuhan ke dalam "time frame" sesuai keinginan kita. Dan yang penting pula, lakukanlah tepat seperti apa yang Dia kehendaki, sesuai isi hatiNya. Tuhan tidak lalai, Dia bukan Sosok yang ingkar janji, Dia adalah pribadi yang konsekuen dan konsisten. Bersyukurlah bahwa kita mempunyai Tuhan seperti itu, dan mulai sekarang buanglah semua keraguan yang ada atau pernah mengisi pikiran dan perasaan kita. Percayalah sepenuhnya kepada Tuhan, serahkan semuanya ke dalam tanganNya, dan selama kita percaya, segala yang terbaik akan Dia limpahkan kepada kita.

God is trustable. He will provide nothing but the best as long as we believe

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, April 12, 2011

Pesan Terakhir

Ayat bacaan: Yosua 24:14
====================
"Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN."

pesan terakhirSebuah pesan terakhir yang disampaikan orang yang akan meninggal biasanya merupakan sebuah pesan penting, sebuah amanah yang harus dipegang dan dipertanggungjawabkan oleh penerimanya. Saya ingat lebih dari 10 tahun yang lalu ketika kakek saya tengah koma dan kehilangan kesadaran dan saya tengah berada sendirian di dekatnya, tiba-tiba ia terbangun dan memanggil saya. Dengan terbata-bata ia menyampaikan pesan terakhirnya bukan kepada anak-anaknya tetapi justru kepada saya yang sebetulnya tidak begitu dekat dengannya semasa hidup. Pesan terakhirnya adalah agar saya menjaga keutuhan keluarga besar. "Jaga keluarga besar ini supaya tetap rukun. Ingatkan mereka semua agar jangan berkelahi, jangan sampai pecah. Kita semua satu, jangan saling membedakan." Kira-kira itu katanya, dan tepat setelah mengatakan itu dan mendengar saya mengiyakan, ia pun kembali kehilangan kesadaran lalu meninggal dua jam kemudian. Pada saat itu saya tidak mengerti mengapa ia berkata demikian, sebab semuanya kelihatan akur-akur saja. Tetapi hari ini, keluarga besar itu ternyata memang terpecah-pecah. Pesan terakhir kakek saya yang ketika saya terima terdengar mudah menjadi sungguh sulit untuk dilakukan hari ini. Sebuah pesan terakhir biasanya menyangkut hal yang dianggap terpenting oleh penyampainya yang harus ia katakan sebelum ia meninggal. Sebuah pesan yang tidak bisa kita sepelekan dan harus kita pegang terus sebagai amanah yang harus pula bisa kita pertanggungjawabkan.

Kisah hidup Yosua sangat menarik untuk dibaca. Penuh warna, penuh petualangan dengan beragam pengalaman yang akhirnya membentuk karakter Yosua seperti yang kita ketahui. Yosua pernah di utus sebagai satu dari selusin mata-mata yang dikirim untuk mengintai kondisi tanah yang dijanjikan Tuhan, tanah Kanaan selama 40 hari. (Bilangan 13:8,16). Ia adalah satu dari dua orang bersama Kaleb yang membawa hasil pengamatan positif karena iman yang percaya kepada janji Tuhan. Ia pernah mengalami masa sebagai prajurit perang yang gagah berani menghadapi orang Amalek (Keluaran 17:8-16). Yosua dikenal mengawali kariernya sebagai abdi Musa, yang mengikuti kemanapun Musa pergi selama masa perjalanan memasuki Kanaan ketika Israel berada di bawah kepemimpinan Musa. Pengalaman menariknya hadir pada suatu kali ketika ia menyertai Musa untuk bertemu dengan Tuhan di atas gunung Sinai. Bukan para tua-tua yang dibawa Musa ke atas, tetapi justru Yosua muda lah yang ia bawa. (Keluaran 24:12-14). Dan Yosua pun mengalami sebuah pengalaman yang luar biasa. Alkitab mencatat: "Dan TUHAN berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya; kemudian kembalilah ia ke perkemahan. Tetapi abdinya, Yosua bin Nun, seorang yang masih muda, tidaklah meninggalkan kemah itu." (33:11). Semua itu bukanlah kebetulan. Saya yakin Tuhan sejak semula mempersiapkan Yosua untuk menerima tanggungjawab berat kelak menggantikan Musa. Menyaksikan kemuliaan Tuhan secara langsung seperti itu sangatlah berkesan baginya, sampai ia dikatakan enggan beranjak keluar dari kemah yang penuh hadirat Tuhan. Maka selanjutnya kita menyaksikan bahwa ia diangkat Tuhan untuk menggantikan Musa dan memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan. "Kepada Yosua bin Nun diberi-Nya perintah, firman-Nya: "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkau akan membawa orang Israel ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka, dan Aku akan menyertai engkau."(Ulangan 31:23).

Petualangan yang panjang, penuh warna dan mengesankan mengisi buku sejarah hidupnya dengan sangat indah. Dalam Yosua pasal 24 akhirnya kita bertemu dengan Yosua di penghujung hidupnya. Ia sudah berumur lebih dari seratus tahun pada saat itu. Ia tahu bahwa sisa umurnya tidaklah lama lagi, dan "Kemudian Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua orang Israel, para kepalanya, para hakimnya dan para pengatur pasukannya, lalu mereka berdiri di hadapan Allah." (Yosua 24:1). Sikhem merupakan tempat yang penuh makna bagi bangsa Israel baik dalam kisah Abraham, Yakub dan sebagainya. Maka tepatlah jika sebuah tempat yang bersejarah ini dipakai oleh Yosua untuk menyampaikan pesan terakhirnya sekaligus memperbaharui perjanjian antara bangsa Israel dengan Tuhan. Melihat sepak terjang Yosua sejak masa mudanya hingga di penghujung hidup, tentu ada banyak yang bisa diceritakan oleh Yosua sebagai pesan atau peringatan bagi bangsa Israel bagaimana mereka harus hidup sepeninggalnya. Ada begitu banyak pesan penting, tetapi sebagaimana halnya pesan terakhir, Yosua mengambil sebuah pesan terpenting sebagai rangkuman dari sejarahnya yang sangat berharga untuk dibagikan. Pengalaman yang membawa keteladanan dirangkum dalam satu kesimpulan untuk disampaikan sebagai amanah kepada bangsa Israel. Dan itu berbunyi: "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN." (Yosua 24:14). Itulah bunyi pesan terakhir sebagai rangkuman atau kesimpulan dari segala pengalaman hidupnya dari awal hingga akhir. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah kepada tuhan dengan tulus, iklas dan setia dan jangan menyembah allah-allah lain melainkan kepada Tuhan saja. Tiga pesan yang teramat penting hadir sebagai peringatan berdasarkan pengalaman hidupnya sendiri, taken from his own impressive life story.


Life is about making choices. Hidup itu penuh pilihan. Dan Tuhan sendiri tidak menciptakan kita sebagai robot-robot atau bagai kerbau dicocok hidung. Tuhan memberikan kita kehendak bebas, apakah kita mau mendengar dan menuruti serta melakukan FirmanNya, sesuai dengan kehendakNya agar bisa menuai janji-janjiNya termasuk keselamatan yang telah Dia anugerahkan lewat Kristus atau kita memilih untuk mengabaikan semuanya dan lebih suka untuk masuk ke dalam tempat yang sangat berbanding terbalik dengan Surga yang penuh kemuliaan Tuhan. Tuhan memberi pilihan yang bisa kita pilih, apakah berkat atau kutuk seperti dalam Ulangan 28. Ayat 1-14 berisi janji berkat, sementara ayat 15-46 berisi kutuk. Rangkaian kotbah terakhir Musa sebelum digantikan Yosua pun mengingatkan: "Ingatlah, aku menghadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kematian dan kecelakaan." (Ulangan 30:15). Lalu selanjutnya ia berpesan: "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub..." (ay 19-20). Dan Yosua pun menyampaikan soal pilihan ini. "Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini." (Yosua 24:15a). Sekali lagi, life is about making choices. Tapi bagi Yosua dan keluarganya, beribadah kepada Tuhan merupakan hal yang tidak bisa ditawar lagi. Yosua mengambil pilihan itu. Itu tergambar dari seluruh perjalanan hidupnya dan itulah yang ia sampaikan sebagai kesaksiannya kepada bangsa Israel sebelum ia dipanggil Tuhan. "Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (ay 15b).

Berdasarkan pengalaman hidupnya, Yosua menyampaikan kunci keberhasilan dalam hidup ini. Ia sudah membuktikan sendiri bagaimana iman yang percaya penuh pada Tuhan mampu membawanya pada kemenangan demi kemenangan dalam perjalanan hidup. Pesan terakhir merupakan sesuatu yang dianggap terpenting untuk disampaikan, dan Yosua menyampaikan hal yang sangat penting agar kita bisa menuai keberhasilan demi keberhasilan dalam hidup kita. Takutlah akan Tuhan, beribadahlah dengan tulus, ikhlas dan setia, dan jauhilah allah-allah lain, bukan saja terhadap kuasa-kuasa kegelapan yang menawarkan berbagai hal instan yang bisa terlihat seolah menjanjikan pertolongan, tetapi juga hal-hal duniawi yang mampu memperhambakan kita atasnya. Yosua telah menyampaikan sebuah amanah yang akan membawa kita ke dalam kemenangan hingga garis akhir, sekarang semua tergantung kita untuk memutuskan apa yang mau kita pilih.

Pesan terakhir Yosua berisi kunci yang membawa keberhasilan dalam hidup kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, April 11, 2011

Setengah Sadar

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
=======================
"Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!"

sadar sebaik-baiknyaAda kalanya saya harus bekerja menyelesaikan deadline hingga larut malam bahkan terkadang sampai subuh dan itu bisa membuat saya kesulitan bangun tepat waktu di pagi hari. Alarm sudah dipasang dan berfungsi sebagaimana mestinya. Saya pun mendengar suara alarm itu ketika mulai berdering. Namun karena masih belum cukup tidur, tubuh dan pikiran saya kerap masih belum sepenuhnya sadar. Maka meski saya terbangun ketika alarm berbunyi, keadaan setengah sadar membuat saya bisa kembali tertidur ditengah dering alarm yang semakin lama terdengar semakin redup suaranya atau malah secara tidak sadar mematikan alarm. Akibatnya saya bisa telat sampai ke tujuan. Atau jika langsung buru-buru bersiap dan berangkat, bisa jadi saya kurang konsentrasi di jalan karena belum sadar betul, dan itu bisa mengundang bahaya baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Dalam keadaan demikian biasanya saya memilih lebih baik untuk terlambat dan memulihkan kesadaran sepenuhnya terlebih dahulu daripada harus membawa resiko ketika mengemudi dalam keadaan mengantuk.

Setengah sadar bisa mendatangkan banyak resiko. Cobalah menghadapi ujian dalam keadaan seperti itu, kita akan sulit konsentrasi dan bisa gagal lulus. Resiko-resiko yang lebih fatal pun bisa menjadi akibatnya pula. Sebuah kesadaran mutlak diperlukan untuk mencegah kita melakukan hal-hal bodoh yang kelak akan kita sesali. Dalam segala aspek kehidupan kesadaran penuh diperlukan, di dalam kerohanian kita pun demikian. Dalam keadaan sadar kita mungkin bisa membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang benar dan mana yang salah, tetapi dalam keadaan setengah sadar pertimbangan kita bisa menjadi sangat lemah dan kita pun rawan melakukan sesuatu yang salah sehingga terjebak dalam dosa. Seringkali jebakan dosa ini berhasil mengecoh kita bukan karena ketidaktahuan kita, tetapi karena kita lengah dalam mengawasi kesadaran kita sendiri.

Dalam Kolose pasal 2 Paulus menyatakan dengan jelas status kita setelah kita bertobat dan menerima Kristus. "Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati. Kamu juga, meskipun dahulu mati oleh pelanggaranmu dan oleh karena tidak disunat secara lahiriah, telah dihidupkan Allah bersama-sama dengan Dia, sesudah Ia mengampuni segala pelanggaran kita, dengan menghapuskan surat hutang, yang oleh ketentuan-ketentuan hukum mendakwa dan mengancam kita. Dan itu ditiadakan-Nya dengan memakukannya pada kayu salib." (Kolose 2:11-14). Seperti itulah keadaan kita setelah bertobat. Kita telah dilahirkan kembali dalam keadaan yang benar-benar bersih dan disiapkan untuk menuju kepada kehidupan kekal setelah fase kita di dunia ini berakhir. Seluruh "surat hutang" atau "surat dakwaan" telah dihapuskan lewat karya penebusan Yesus di atas kayu salib. Singkatnya, kita telah diampuni dan bersih sepenuhnya. Menjaga diri kita agar tetap bersih menjadi tugas kita selanjutnya. Dan seberapa jauh kesadaran kita akan sangat menentukan hasil akhirnya.

Karena itulah Paulus dengan jelas mengingatkan kita agar tidak terbuai dan lengah terhadap kesadaran. "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!" (1 Korintus 15:34). Sadarlah kembali, dan sadarlah benar-benar, jangan setengah-setengah. Itu kata Paulus, dan itulah yang bisa membuat kita awas akan jebakan-jebakan iblis agar kita kembali tercemar oleh berbagai dosa. Menjaga kesadaran sebaik-baiknya merupakan tugas yang sangat penting untuk kita ingat setiap hari. Mengapa? Karena hari ini, besok dan seterusnya, iblis akan terus berusaha tanpa lelah untuk menipu dan menjebak kita. Dia akan terus berusaha agar kita kembali menjadi hamba dosa. Tetapi iblis tidak akan sanggup berbuat apa-apa jika kita tetap berada dalam kondisi sadar penuh setiap hari, termasuk di dalamnya sadar sepenuhnya mengenai status atau jati diri kita sebenarnya di dalam Kristus seperti yang telah dinyatakan dalam rangkaian ayat 1 Korintus di atas. Yesus pun pernah beberapa kali mengatakan "jangan berbuat dosa lagi" secara langsung seperti dalam kisah "perempuan yang berzinah" (Yohanes 7:53-8:11). Ketika perempuan yang berzinah itu hampir dihakimi oleh para ahli Taurat dan orang Farisi dengan hukuman dirajam sampai mati akibat kesalahannya, Yesus datang memberikan pengampunan. Satu pesan yang disampaikan Yesus kepadanya: "..jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang." (8:11). Lalu pada kesempatan lain kita bisa mendapatkan pesan yang sama dengan sebuah tambahan dari Yesus, yaitu dalam kisah kesembuhan seorang yang sakit di kolam Betesda. (Yohanes 5:1-18). Kepada orang yang disembuhkan, Yesus berpesan hal yang sama: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi". Mengapa? "supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (ay 14). Dosa yang dilakukan berulang-ulang bisa membawa akibat yang semakin buruk. Begitulah berat resikonya apabila kita terus bermain-main dengan dosa. Oleh karena itulah kita harus mengingat betul pesan Paulus agar kita benar-benar memperhatikan kesadaran kita sebaik-baiknya.

Kesadaran yang sepenuhnya sangatlah penting dalam menentukan apakah kita bisa menjaga kekudusan diri kita atau tidak. Apabila kita tahu apa yang salah namun kita terus melakukannya karena kita tidak serius dalam menjaga kesadaran, maka yang terjadi bisa lebih buruk dari yang kita duga, dari yang sebelumnya. Tidaklah cukup bagi kita untuk sekedar mengetahui mana yang baik dan buruk tanpa benar-benar menjaga kesadaran kita secara baik. Jika itu kita lakukan, itu hanya akan memperburuk status kita dan dengan sendirinya kita tengah mengeluarkan diri kita dari jalan keselamatan yang sudah dibukakan Kristus untuk kita. Kelengahan akan selalu menjadi celah yang lezat buat iblis untuk kembali menancapkan kukunya atas diri kita. Maka dari itu, pastikan diri kita untuk sadar sebaik-baiknya setiap saat agar kita terhindar dari godaan untuk berbuat dosa lagi.

Tuhan telah mengampuni dan mentahirkan, tugas kita untuk menjaga dengan kesadaran yang sebaik-baiknya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 10, 2011

Fight Fire with Love

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:15
====================
"Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh."

fight fire with loveBagaimana reaksi anda ketika berhadapan dengan orang-orang yang konfrontatif lewat sikap, gaya, tindakan atau ucapan mereka? Saya bertemu dengan orang-orang bertipe seperti ini dalam berbagai kesempatan. Mereka biasanya sulit menghargai pandangan atau pendapat orang lain, selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar dan menganggap punya hak untuk menghakimi orang lain. Mereka biasanya tidak bertujuan untuk berdiskusi dan saling mengisi tetapi langsung mengambil posisi menyerang yang outputnya bisa hadir dalam berbagai bentuk bahkan bisa menuju kepada anarkisme dan kekerasan. Mereka akan sangat senang jika perilaku mereka dilihat orang banyak untuk menunjukkan betapa hebatnya mereka. Saya tidak mengacu kepada satu dua kelompok keras yang kerap bersikap frontal dalam satu aspek saja, tetapi orang-orang seperti ini bisa hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, pertemanan bahkan pelayanan. Tidak jarang diantara anak-anak Tuhan pun ada yang merasa paling benar dan punya hak untuk menghakimi saudara seimannya yang dianggap tidak sejalan dengan pandangannya lewat sikap-sikap menyerang, konfrontatif secara frontal.

Kebanyakan orang akan memproteksi dirinya dari serangan lewat kembali menyerang. Melawan kekerasan dengan kekerasan, itu dipercaya banyak orang sebagai solusi paling tepat dalam menghadapi situasi seperti ini. Padahal sadar atau tidak, sikap seperti itu akan menempatkan diri kita dalam posisi yang sama seperti mereka. Jika kita tidak suka dikasari, mengapa kita malah meniru sikap tersebut? Emosi yang tidak terkendali seringkali membuat manusia menjadi gelap mata. Itulah sebabnya Alkitab berulang kali mengingatkan kita agar mampu meredam dan mengendalikan amarah sedini mungkin sebelum kita terjebak kepada berbagai efek negatif yang pada suatu titik tidak lagi bisa kita tanggulangi. Melawan kekerasan dengan kekerasan hanya akan membawa kerugian dan tidak akan pernah membawa keuntungan bagi pihak manapun. Dengan merespon dengan kekerasan, kita malah menambah bahan bakar pada api yang sudah mereka nyalakan sehingga pada suatu ketika akan timbul api yang begitu besar hingga sanggup membakar secara luas mengenai orang-orang yang tidak bersalah apa-apa dimana tidak ada lagi yang sanggup memadamkannya.

Alkitab banyak berbicara mengenai cara menghadapi orang-orang atau situasi seperti ini. Not by fighting fire with fire, but fight it with ice, fight it with love. Bukan kembali mendebati mereka, bukan dengan membela diri dengan reaksi sama seperti yang mereka lakukan. Tetapi dengan berdiam diri dan tetap mengerjakan perbuatan baik seperti yang disuruh Tuhan kepada kita semua serta tetap mengatasnamakan kasih. Yesus menghadapi berbagai kecaman mulai dari sikap sinis sampai yang ekstrim dari kalangan keagamaan pada masa itu. Tapi perhatikanlah, Yesus tidak pernah melawannya kembali, meski ia lebih dari sanggup untuk itu. Sebagai gantinya, Kisah Para Rasul 10:38 menyatakan bagaimana cara Yesus menghadapi itu. "...tentang Yesus dari Nazaret: bagaimana Allah mengurapi Dia dengan Roh Kudus dan kuat kuasa, Dia, yang berjalan berkeliling sambil berbuat baik dan menyembuhkan semua orang yang dikuasai Iblis, sebab Allah menyertai Dia." Yesus terus berkeliling berbuat kebaikan seperti yang dikehendaki Allah dengan penuh kesabaran, sebab Allah sendiri terus menyertaiNya dalam setiap langkahNya. Keteladanan seperti itulah yang seharusnya kita tiru sebagai murid-murid Yesus. Dan Petrus mengungkapkannya dengan berkata: "Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh." (1 Petrus 2:15).  Melawan kepicikan orang-orang yang seperti ini, Tuhan tidak menghendaki kita untuk ikut-ikutan berlaku sama, melainkan dengan terus berbuat baik. Dan itulah cara menurut Tuhan untuk meredam kepicikan mereka.

Paulus berulang kali menyinggung mengenai sikap yang harus kita pakai dalam kehidupan kita, termasuk pula dalam menghadapi orang-orang konfrontatif dengan segala bentuk sikap kasar mereka. Kelemah lembutan dan kesabaran, itu diulang-ulang oleh rasul yang dahulunya dikenal sebagai seorang pembantai orang percaya tetapi kemudian mengalami transformasi yang begitu radikal dalam waktu yang sangat singkat. Dalam Efesus 4:2, Kolose 3:12 dan 1 Timotius 6:11 kita bisa melihat bagaimana sikap yang Dia inginkan untuk kita aplikasikan dalam hidup kita, termasuk didalamnya kesabaran dan kelemahlembutan. Yesus sendiri mengatakan: "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu." (Lukas 6:27-28). Bahkan Yesus juga berkata: "Barangsiapa menampar pipimu yang satu, berikanlah juga kepadanya pipimu yang lain, dan barangsiapa yang mengambil jubahmu, biarkan juga ia mengambil bajumu." (ay 29). Bersikap mengalah, tetap sabar dan lembut seperti itu bukanlah menunjukkan kita sebagai pecundang, tetapi ditinggikan di mata Tuhan, seperti FirmanNya berkata: "Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Matius 23:12). Lewat Petrus kita kembali menemukan janji Tuhan ini: "Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya." (1 Petrus 5:6).

Petrus berkata: "Sebab inilah kehendak Allah, yaitu supaya dengan berbuat baik kamu membungkamkan kepicikan orang-orang yang bodoh." (1 Petrus 2:15) Lalu Yesus berkata: "Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya." (Roma 12:20). Dengan cara-cara kasih seperti inilah kita bisa melawan para pengecam, penganiaya dan orang-orang yang bersifat konfrontatif lainnya. Dengan tetap mengasihi, kita justru akan mengekspos perbedaan nyata dari para pengikut Kristus yang benar dengan orang-orang yang dikuasai pola pikir dunia. Kita pun diingatkan demikian: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (2 Timotius 2:24-26). Kita tetap harus berpegang pada kebenaran seperti yang bisa kita baca dalam 2 Timotius 3:14: "Tetapi hendaklah engkau tetap berpegang pada kebenaran yang telah engkau terima dan engkau yakini, dengan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepadamu", tetapi kita tidak boleh memakai itu sebagai alasan untuk bertengkar dan bersikap kasar. Seperti kata ayat diatas, sebab mungkin kita bisa mendapatkan kesempatan untuk membawa mereka bertobat dan mengenal kebenaran. Ada banyak hal positif yang bisa kita dapatkan dari bersikap sabar dan penuh kasih terhadap orang-orang dengan emosi bersumbu pendek ini, sebaliknya kerugian bisa tidak terkendali apabila kita menanggapinya dengan kekerasan pula. Mari miliki sikap yang benar seperti yang diinginkan Tuhan dalam menghadapi orang-orang sesulit apapun. Anda menghadapi ketidakadilan, ancaman, penganiayaan dan bentuk-bentuk represif lainnya? Jangan terprovokasi, tetapi tetaplah berpegang kepada Firman Tuhan.

Don't fight fire with fire, but fight fire with love

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, April 9, 2011

Peran Seorang Sahabat Sejati

Ayat bacaan: Amsal 16:24
===================
"Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang."

peran sahabat sejatiKetika anda sudah berusaha mati-matian dan yang anda tuai hanya kritik, apa rasanya ketika tiba-tiba ada seorang teman yang menghargai dengan mengucapkan kata-kata yang manis? Bagi saya rasanya bagaikan sepercik air segar menerpa muka yang sedang kepanasan dan kelelahan. It's like a splash of fresh, cold water on a hot sunny day. Manis rasanya. Menyegarkan, melegakan, menyenangkan, menggembirakan. Saya bukan orang yang suka mencari pujian dari orang lain, tetapi jujur, ada kalanya saya merasa sedih ketika usaha keras saya tidak mendapat apresiasi apa-apa dari siapapun. Ada atau tanpa pujian saya akan terus maju mengerjakan apapun yang ada di pundak saya dengan sebaik-baiknya, tetapi betapa bahagia rasanya jika ada satu atau dua ucapan yang menyemangati dan mengapresiasinya. Ada beberapa musisi yang sudah berkecimpung di dunia musik secara total menuangkan kreatifitas, waktu, tenaga bahkan tidak jarang mensupport diri sendiri secara finansial selama beberapa dasawarsa, namun mereka merasa tidak ada yang peduli. Salah satunya pernah berkata kepada saya "Yang kenal saja jarang, apalagi yang menghargai", katanya miris. Ketika bertemu dengan orang yang ternyata peduli dan mengerti mereka, itu sangatlah berharga rasanya. "Rasanya tidak sia-sia saya berjuang 20 tahun ini, akhirnya ada yang mengerti saya." katanya. Kita hidup di dalam dunia yang semakin lama semakin individualis, semakin malas untuk menghargai apalagi memberi dukungan termasuk lewat kata-kata yang menyemangati. Penghargaan atas usaha dan kerja keras semakin langka, dan orang lebih tertarik untuk mengkritik atau bahkan berburuk sangka ketimbang mengeluarkan kata-kata tulus yang sedap didengar.

A splash of cold water on a hot sunny day, itu tentu sangat menyegarkan dan bermakna. Dan itu bisa kita rasakan bahkan lewat satu orang saja ditengah ketidakpedulian ribuan orang. Itu tidak akan pernah ada apabila kita tidak memiliki seorang teman pun. Sebuah penelitian yang pernah saya baca mengatakan bahwa kehadiran teman sejati bisa menurunkan tekanan darah, membuat rileks, tenang dan sebagainya. Dengan demikian kita bisa hidup lebih lama dan lebih baik, bahkan ada sebuah penelitian lain yang menyebutkan bahwa wanita secara umum hidup lebih lama dari pria karena wanita relatif punya lebih banyak waktu untuk dilewatkan bersama teman-temannya. Mencari teman di saat kita senang tentu mudah, tapi seorang sahabat sejati biasanya hadir justru di saat kita sedang susah. Salomo berkata: "Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran." (Amsal 17:17). Dan ketika ada seorang sahabat seperti ini hadir dalam hidup kita, bersyukurlah, karena tidak semua orang bisa merasakannya, apalagi di hari-hari dimana egoisme dan individualisme semakin langka di dunia ini. Dari mereka kita bisa mendapatkan penghiburan, setidaknya kita tahu ada orang yang akan selalu siap mendengar dan memberi penghiburan meski mungkin tidak bisa membantu lebih dari itu. Dan Amsal Salomo pun mengatakan: "Perkataan yang menyenangkan adalah seperti sarang madu, manis bagi hati dan obat bagi tulang-tulang." (Amsal 16:24). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan, "Pleasant words are as a honeycomb, sweet to the mind and healing to the body." Dari sahabat sejati meski satu orang pun, kita bisa merasakan manisnya arti pertemanan yang bukan saja terasa bagai madu tetapi juga bisa menyehatkan atau menyembuhkan tubuh.

Tidaklah heran apabila Paulus menganjurkan kita: "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Semua yang manis, sedap didengar, yang disebut kebajikan dan patut dipuji. Itu yang seharusnya menjadi fokus perhatian kita. Paulus bukan bermaksud mengajak kita untuk bermanis mulut karena ada agenda terselubung dibelakangnya. Dia tidak meminta kita untuk manis jika ada maunya. Paulus mengajak kita untuk tidak mahal memberi pujian dan mengucapkan kata-kata yang membesarkan hati dengan tulus, karena itu akan sangat berarti, bagai sarang madu dan bisa menyehatkan tubuh orang yang menerimanya. Saya yakin tidak terlalu susah bagi kita untuk memberi pujian secara tulus atas usaha keras seseorang, dan itu tidak memerlukan biaya sama sekali. Tetapi lihatlah faedahnya bagi orang yang dituju. Tidak jarang kita melihat orang kembali punya semangat hidup melihat dukungan teman-temannya, bahkan tidak jarang pula orang cepat sembuh dari sakitnya bukan karena obat tetapi justru karena ia merasakan kasih dari para sahabat yang sejati.

Bagi yang pernah mengalaminya tentu tahu betapa besar peran sahabat dalam hidup kita ini. Jika kita merasakannya, mengapa kita tidak menempatkan diri kita sendiri pula sebagai seorang sahabat yang baik bagi teman-teman kita? Mengapa kita harus malas dan merasa rugi untuk membesarkan semangat teman yang sedang jatuh dan seringkali begitu sulit untuk memberi pujian? Serangkaian kata-kata manis pujian bisa begitu berharga seperti segelas air dingin yang manis ketika kita sedang kehausan. Alkitab berkata manis bagai sarang madu dan bisa berfungsi lebih jauh untuk menyembuhkan, obat bagi tulang-tulang, healing to the body.

Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang mau merasakan penderitaan kita, mau menangis bersama dan memberi kenyamanan di saat-saat sulit. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang selalu tertawa bersama kita disaat senang, dan selalu siap membangkitkan kembali rasa sukacita. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang dengan rajin mendoakan temannya. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang tidak sungkan untuk memberi masukan atau kritikan membangun dengan cara yang bijaksana. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang mau berbagi hati dan membuka diri agar bisa saling mengenal dengan lebih baik. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang tidak menyimpan-nyimpan kesalahan tetapi mau memaafkan dan dimaafkan, karena disana kita bisa mengaplikasikan kasih Allah bagi manusia. Seorang sahabat sejati adalah sahabat yang siap menjadi teman bertumbuh hingga tua, saling berbagi dan mengisi dalam kondisi apapun. Seorang sahabat sejati itu baik bagi jiwa. Jika kita mengharapkan kehadiran seorang sahabat seperti ini dalam hidup kita, bagaimana kalau kita yang memulainya terlebih dahulu?

Jadilah seorang sahabat sejati seperti halnya Kristus mengulurkan jabat persahabatan dengan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...