======================
"Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang.."
Hidup dari panggung ke panggung lainnya meliput berbagai acara musik selama beberapa tahun membuat saya memperoleh begitu banyak kisah yang jarang dipublikasikan orang. Saya bertemu berbagai macam artis dengan segala tingkah polah masing-masing. Ada yang ramah dan bersahabat, ada yang pintar berbasa-basi, ada pula yang cuek bahkan angkuh. Ada yang mau terbuka bercerita apa saja, ada yang lekas curiga. Ketenaran bukanlah alat ukur untuk sombong tidaknya seseorang, karena secara umum artis-artis yang sudah makan garam selama puluhan tahun justru sangat ramah dan bersahabat. Salah seorang artis senior yang pasti anda kenal baik jika saya sebut namanya bercerita bahwa ia kecewa melihat perilaku banyak artis muda saat ini. Mereka arogan, gampang memandang rendah orang lain bahkan dengan tidak segan-segan berani memerintah orang yang lebih senior dari mereka. Ada banyak diantara mereka, katanya, yang tidak mau merapikan alat musiknya sendiri dan hanya melenggang keluar dari panggung begitu pertunjukan selesai. Honor sangat menentukan bagi mereka, berkurang sedikit saja maka mereka akan uring-uringan bermain atau malah menolak untuk tampil. Cerita ini saya peroleh dari seorang artis legendaris kita yang kecewa melihat generasi muda dengan sikap arogan. "Mereka lupa bahwa semua itu berasal dari Tuhan dan bukan karena kehebatan mereka." katanya. Saya memahami betul perasaannya, dan apa yang ia katakan memang menjadi gambaran secara umum mengenai kondisi panggung hiburan saat ini. Memang tidak semua, karena saya juga bertemu dengan artis-artis muda yang rendah hati, ramah dan bersahabat. Ada pula yang masih tetap melayani Tuhan dengan rajin walaupun ia sudah mencapai kesuksesan. Memang benar, kemampuan yang mereka peroleh adalah hasil kerja keras mereka belajar dan latihan hingga sukses. Tetapi kemampuan untuk menerima pelajaran, bakat dan sebagainya pun berasal dari Tuhan. Itulah sebabnya sangatlah penting bagi kita untuk menyadari betul siapa dan dimana posisi kita sebenarnya. Kita memang harus bekerja dan berusaha keras dalam hidup, tetapi tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada satupun yang bisa kita capai. Tanpa kasih karuniaNya tidak akan ada pencapaian-pencapaian luar biasa yang bisa kita peroleh. Tanpa Tuhan, kita bukanlah apa-apa. Kita ada sebagaimana diri kita sekarang, itu adalah atas penyertaanNya, atas kasih karuniaNya.
Paulus menyadari betul hal ini dan dia pun menyampaikan "Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku." (1 Korintus 15:10). Aku ada sebagaimana aku ada sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah, dan semua itu tidak ada yang sia-sia. Kita pun demikian. Kita ada sebagaimana kita sekarang, itu adalah hasil kasih karunia Allah. Pada kesempatan lain ia kembali mengingatkan hal yang mirip: "Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami." (2 Korintus 4:7). Bukankah berkat, kekuatan atau talenta itu semuanya berasal dari Tuhan? Paulus merupakan hamba Tuhan yang begitu luar biasa dalam mewartakan kabar keselamatan. Tetapi dengan tulus ia mengakui bahwa keberhasilan pelayanannya bukanlah atas hasil keberanian dan kehebatannya. Bukan karena kepintaran, kekuatan dan kesanggupannya saja, melainkan berasal dari karunia Allah yang menyertainya. Maka sudah sepantasnya pula kemuliaan menjadi milik Tuhan dan bukan untuk kita pakai menyombongkan diri di hadapan orang lain.
Yesus berkata: "Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa." (Yohanes 15:5). Kita akan berbuah banyak jika kita berada didalam Dia dan Dia berada di dalam kita. Tanpa itu kita bukanlah apa-apa. Ayub mengatakan bahwa manusia itu singkat umurnya. "Seperti bunga ia berkembang, lalu layu, seperti bayang-bayang ia hilang lenyap dan tidak dapat bertahan." (Ayub 14:2). Apalah artinya kita tanpa kasih karunia Tuhan? Maka dari itu kita harus ingat bahwa tidak ada satupun alasan yang bisa kita pakai untuk memegahkan atau menyombongkan diri, merasa hebat ketika kita mengalami keberhasilan dalam berbagai hal. Without God we're nothing.
Jika kita menelusuri kisah hidup Yusuf dalam kitab Kejadian, kita pun bisa melihat bagaimana Yusuf muda terus berpindah dari satu masalah ke dalam masalah berikutnya. Tetapi lihatlah bagaimana ia tetap berbuah dan berhasil dalam setiap langkahnya, termasuk ketika ia sedang dalam masalah. Semua itu bukan karena kehebatannya melainkan karena penyertaan Tuhan atas dirinya. Daud tahu itu, dan Alkitab jelas mencatat akan hal itu. "..karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (Kejadian 39:23b). Dalam keadaan sulit sekalipun kita bisa tetap menuai keberhasilan, dan itu semua karena ada Tuhan yang menyertai kita, ada Roh Tuhan yang memampukan kita untuk maksimal. Dalam kitab Zakharia dikatakan: "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan roh-Ku, firman TUHAN semesta alam." (Zakharia 4:6).
Ada banyak orang yang jatuh justru disaat mereka mulai merasakan kesuksesan atau keberhasilan. Bahkan di antara orang percaya sekalipun termasuk hamba-hamba Tuhan bisa terjatuh karena kesombongan. Kemuliaan seharusnya menjadi hak Tuhan dan bukan hak kita. Dan lihat Firman Tuhan pun berkata: "Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil." (Yohanes 3:30). Janganlah kita sampai berani mencuri apa yang menjadi hak Tuhan. Ingatlah bahwa kita ada sebagaimana kita ada sekarang adalah hasil dari kasih karunia Tuhan. Semakin tinggi kita naik, semakin rendah hati pula kita seharusnya. Ingatlah bahwa Roh Kudus hanya bisa bekerja bagi orang yang hatinya dipenuhi kerendahan dan mau dibentuk. Jika kesuksesan hadir hari ini, bersyukurlah dan jangan jadikan itu untuk bersikap angkuh dan lupa diri. Sebaliknya pakailah itu untuk memberkati sesama dan memuliakan Tuhan atas segala kasih karuniaNya yang luar biasa yang telah Dia curahkan atas kita.
Bukan kuat dan hebat kita, tetapi kasih karunia Allah-lah yang menjadikan kita sebagaimana kita hari ini
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Memandang masa depan itu menakutkan rasanya.." keluh seorang teman saya beberapa waktu yang lalu. Ia bercerita bahwa ia sudah berganti-ganti profesi, mencoba berbisnis jual beli motor, jual pulsa hingga bekerja di perusahaan, tetapi sepertinya ia belum menemukan pekerjaan yang tepat. Seorang tetangga yang tinggal tidak jauh dari rumah saya pun mengalami kasus mirip. Ia terus berpindah dari satu tempat kerja ke yang lain dimana masa menganggurnya justru lebih panjang ketimbang masa bekerjanya. Akibatnya suasana rumahtangganya pun memanas. Hampir setiap hari ia bertengkar hebat dengan istrinya. Ada banyak kasus-kasus serupa yang bisa kita lihat di sekitar kita, apalagi ketika kita berada di jaman yang semakin sulit seperti sekarang ini. Mencari pekerjaan saja susahnya bukan main, apalagi mencari pekerjaan yang tepat seperti panggilan kita. Panggilan? Ya, saya menyebutnya pangggilan. Tuhan sudah merencanakan segala yang terbaik bagi kita. Rancangannya berupa rancangan damai sejahtera menuju hari depan yang penuh harapan. Dia sudah memberi talenta atau bakat-bakat khusus bagi setiap orang sebagai alat untuk mencapai keberhasilan itu. Tuhan sudah merencanakan yang terbaik, Tuhan sudah pula menyediakan sarana-sarana pendukungnya. Tetapi masih banyak orang yang tidak atau belum mengetahui apa yang menjadi panggilanNya sesuai dengan apa yang telah direncanakan Tuhan sejak semula atas diri mereka. Karena itu sangatlah penting untuk mengetahui apa yang menjadi rencanaNya bagi kita.
Dunia transaksi modern telah berkembang sangat pesat setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Saat ini tidak lagi cukup untuk membuka toko atau outlet di dunia nyata, tetapi di dunia maya atau cyber world pun sama pentingnya. Memang orang-orang yang surfing di dunia maya adalah orang-orang nyata di dunia juga, tetapi komunitasnya bisa sangat berbeda seolah-olah menjadi sebuah dunia sendiri dengan penduduknya sendiri pula. Orang pun semakin ramai berjualan lewat internet, menawarkan barang dagangan yang variasinya seluas samudera, sama seperti di dunia nyata. Kita bisa membeli apa saja lewat internet saat ini, bahkan sambal dan bumbu pecal sekalipun bisa kita peroleh disana. Transaksi di internet membutuhkan sebuah elemen penting agar bisa terjadi, yaitu percaya. Prosesnya bukanlah seperti di dunia nyata yang bisa dilakukan dengan cash and carry atau cash on delivery, tetapi pembeli biasanya harus membayar terlebih dahulu baru barang dikirimkan. Tanpa kepercayaan niscaya transaksi tidak akan terjadi. Pembeli harus percaya kepada penjualnya akan mengirim sesuai dengan pesanan dan kesepakatan atau tidak akan pernah ada transaksi sama sekali. Jika dahulu orang masih sulit percaya, hari ini transaksi online bertumbuh sangat subur dan sangat menjanjikan.
Sebuah pesan terakhir yang disampaikan orang yang akan meninggal biasanya merupakan sebuah pesan penting, sebuah amanah yang harus dipegang dan dipertanggungjawabkan oleh penerimanya. Saya ingat lebih dari 10 tahun yang lalu ketika kakek saya tengah koma dan kehilangan kesadaran dan saya tengah berada sendirian di dekatnya, tiba-tiba ia terbangun dan memanggil saya. Dengan terbata-bata ia menyampaikan pesan terakhirnya bukan kepada anak-anaknya tetapi justru kepada saya yang sebetulnya tidak begitu dekat dengannya semasa hidup. Pesan terakhirnya adalah agar saya menjaga keutuhan keluarga besar. "Jaga keluarga besar ini supaya tetap rukun. Ingatkan mereka semua agar jangan berkelahi, jangan sampai pecah. Kita semua satu, jangan saling membedakan." Kira-kira itu katanya, dan tepat setelah mengatakan itu dan mendengar saya mengiyakan, ia pun kembali kehilangan kesadaran lalu meninggal dua jam kemudian. Pada saat itu saya tidak mengerti mengapa ia berkata demikian, sebab semuanya kelihatan akur-akur saja. Tetapi hari ini, keluarga besar itu ternyata memang terpecah-pecah. Pesan terakhir kakek saya yang ketika saya terima terdengar mudah menjadi sungguh sulit untuk dilakukan hari ini. Sebuah pesan terakhir biasanya menyangkut hal yang dianggap terpenting oleh penyampainya yang harus ia katakan sebelum ia meninggal. Sebuah pesan yang tidak bisa kita sepelekan dan harus kita pegang terus sebagai amanah yang harus pula bisa kita pertanggungjawabkan.
Ada kalanya saya harus bekerja menyelesaikan deadline hingga larut malam bahkan terkadang sampai subuh dan itu bisa membuat saya kesulitan bangun tepat waktu di pagi hari. Alarm sudah dipasang dan berfungsi sebagaimana mestinya. Saya pun mendengar suara alarm itu ketika mulai berdering. Namun karena masih belum cukup tidur, tubuh dan pikiran saya kerap masih belum sepenuhnya sadar. Maka meski saya terbangun ketika alarm berbunyi, keadaan setengah sadar membuat saya bisa kembali tertidur ditengah dering alarm yang semakin lama terdengar semakin redup suaranya atau malah secara tidak sadar mematikan alarm. Akibatnya saya bisa telat sampai ke tujuan. Atau jika langsung buru-buru bersiap dan berangkat, bisa jadi saya kurang konsentrasi di jalan karena belum sadar betul, dan itu bisa mengundang bahaya baik bagi diri saya sendiri maupun orang lain. Dalam keadaan demikian biasanya saya memilih lebih baik untuk terlambat dan memulihkan kesadaran sepenuhnya terlebih dahulu daripada harus membawa resiko ketika mengemudi dalam keadaan mengantuk.
Bagaimana reaksi anda ketika berhadapan dengan orang-orang yang konfrontatif lewat sikap, gaya, tindakan atau ucapan mereka? Saya bertemu dengan orang-orang bertipe seperti ini dalam berbagai kesempatan. Mereka biasanya sulit menghargai pandangan atau pendapat orang lain, selalu ingin menang sendiri, merasa paling benar dan menganggap punya hak untuk menghakimi orang lain. Mereka biasanya tidak bertujuan untuk berdiskusi dan saling mengisi tetapi langsung mengambil posisi menyerang yang outputnya bisa hadir dalam berbagai bentuk bahkan bisa menuju kepada anarkisme dan kekerasan. Mereka akan sangat senang jika perilaku mereka dilihat orang banyak untuk menunjukkan betapa hebatnya mereka. Saya tidak mengacu kepada satu dua kelompok keras yang kerap bersikap frontal dalam satu aspek saja, tetapi orang-orang seperti ini bisa hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, pertemanan bahkan pelayanan. Tidak jarang diantara anak-anak Tuhan pun ada yang merasa paling benar dan punya hak untuk menghakimi saudara seimannya yang dianggap tidak sejalan dengan pandangannya lewat sikap-sikap menyerang, konfrontatif secara frontal.
Ketika anda sudah berusaha mati-matian dan yang anda tuai hanya kritik, apa rasanya ketika tiba-tiba ada seorang teman yang menghargai dengan mengucapkan kata-kata yang manis? Bagi saya rasanya bagaikan sepercik air segar menerpa muka yang sedang kepanasan dan kelelahan. It's like a splash of fresh, cold water on a hot sunny day. Manis rasanya. Menyegarkan, melegakan, menyenangkan, menggembirakan. Saya bukan orang yang suka mencari pujian dari orang lain, tetapi jujur, ada kalanya saya merasa sedih ketika usaha keras saya tidak mendapat apresiasi apa-apa dari siapapun. Ada atau tanpa pujian saya akan terus maju mengerjakan apapun yang ada di pundak saya dengan sebaik-baiknya, tetapi betapa bahagia rasanya jika ada satu atau dua ucapan yang menyemangati dan mengapresiasinya. Ada beberapa musisi yang sudah berkecimpung di dunia musik secara total menuangkan kreatifitas, waktu, tenaga bahkan tidak jarang mensupport diri sendiri secara finansial selama beberapa dasawarsa, namun mereka merasa tidak ada yang peduli. Salah satunya pernah berkata kepada saya "Yang kenal saja jarang, apalagi yang menghargai", katanya miris. Ketika bertemu dengan orang yang ternyata peduli dan mengerti mereka, itu sangatlah berharga rasanya. "Rasanya tidak sia-sia saya berjuang 20 tahun ini, akhirnya ada yang mengerti saya." katanya. Kita hidup di dalam dunia yang semakin lama semakin individualis, semakin malas untuk menghargai apalagi memberi dukungan termasuk lewat kata-kata yang menyemangati. Penghargaan atas usaha dan kerja keras semakin langka, dan orang lebih tertarik untuk mengkritik atau bahkan berburuk sangka ketimbang mengeluarkan kata-kata tulus yang sedap didengar.