Friday, February 11, 2011

Tuhan Menyediakan

Ayat bacaan: Keluaran 4:10
===================
"Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."

Tuhan menyediakanMenginginkan peningkatan dalam pekerjaan adalah dambaan semua orang. Tetapi berapa banyak yang berani melangkah menghadapi tantangan untuk itu? Kebanyakan orang hanya ingin gajinya atau jabatannya meningkat tanpa tambahan beban tanggung jawab dan pekerjaan. Itu tidaklah mungkin. Semakin tinggi kita naik, artinya semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita emban. Tidak jarang pula kita harus berhadapan dengan tantangan-tantangan baru yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Bagi banyak orang hal seperti ini menakutkan, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap berjalan di tempat ketimbang melangkah naik ke jenjang berikutnya. Sangatlah ironis ketika ada banyak orang termasuk anak-anak Tuhan juga yang sulit maju karena merasa tidak mampu dan takut menguji kekuatan "sayap" mereka dalam berusaha. Yang lebih ironis lagi, ada di antara anak-anak Tuhan ini yang sebenarnya menyadari bahwa semua itu merupakan jalan dari Tuhan bagi mereka untuk maju, bahkan tahu bahwa Tuhan sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan anak-anakNya, tetapi rasa takut untuk melangkah tetap saja lebih dominan dalam diri mereka ketimbang mempercayakan Tuhan di atas segalanya secara nyata.

Masalah seperti ini sudah menjadi sebuah hal klasik sejak jaman dulu. Bahkan sosok besar seperti Musa sekalipun mengawali langkahnya dengan ketidakpercayaan diri berlebihan sehingga lebih mau menolak tawaran luar biasa Tuhan ketimbang menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Ketika Musa diutus Tuhan buat kali pertama, Musa menanggapinya dengan merasa dirinya penuh kekurangan dan menyatakan tidak sanggup melakukan perintah Tuhan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10). Tuhan memberikan tugas yang mulia untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dan menuju tanah berlimpah susu dan madu. Ini sebuah tugas mulia yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Seharusnya Musa sadar bahwa itu adalah sebuah kehormatan besar. Tetapi Musa membiarkan dirinya dipenuhi berbagai alasan yang berdasar kepada keterbatasan atau bahkan kelemahannya sebagai seorang pribadi. "Aku tidak sanggup, aku gagap, mereka tidak akan mau mendengarkanku. Jadi utus saja orang lain, seperti saudaraku misalnya.." kira-kira seperti itulah jawaban Musa. Kita tidak akan tahu pasti apa yang mendasari pikiran Musa untuk merasa rendah diri seperti itu. Apakah karena ia harus terpisah dari orangtuanya sejak bayi dan harus berada dalam budaya asing, apakah karena ia merasa sebagai minoritas meski dibesarkan layaknya seorang pangeran, atau karena ia baru saja meninggalkan status kemewahannya untuk kembali kepada siapa dirinya yang sebenarnya, kita tidak tahu pasti. Tapi alasan-alasan seperti yang disampaikan Musa tersebut sesungguhnya dialami banyak orang hingga hari ini. Ada begitu banyak orang yang lebih mengarah kepada ketidakmampuannya ketimbang mempercayakan segala sumber daya, kemampuan, talenta terlebih penyertaan Tuhan untuk menapak naik.
Apa yang menjadi jawaban Tuhan atas perkataan Musa? "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (Keluaran 4:11-12). Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa semuanya ada ditanganNya, dalam kuasaNya. Artinya, jika Tuhan sudah memutuskan untuk memakai Musa, seharusnya Musa sadar bahwa Tuhan tentu sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk itu. Bahkan secara langsung Tuhan mengatakan akan: (1) menyertai lidahnya, jika itu yang menjadi masalah buat Musa, dan (2) mengajarnya untuk menyampaikan apa yang harus ia katakan. Dari sini kita bisa melihat meski tugas itu tidak mudah, tetapi Tuhan sebenarnya hanya meminta kesediaan Musa untuk menjadi penyambung lidahNya. Kepada kita pun sama. Tuhan sudah menjanjikan rancangan masa depan yang penuh harapan seperti yang Dia firmankan dalam Yeremia 29:11, tetapi untuk itu dibutuhkan keberanian kita untuk melangkah atas dasar kepercayaan kita sepenuhnya untuk berada dalam kendali Tuhan. Ketika Tuhan menghendaki kita untuk naik lebih tinggi dan menuai berkatNya lebih lagi, pada saat itu pula Tuhan sebenarnya sudah menyediakan segala yang kita butuhkan untuk itu. Dia adalah Allah yang menyediakan, dan itu harus kita imani sungguh-sungguh agar kita tidak berhenti dengan berjalan di tempat saja.

Dalam Filipi Paulus berkata "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Lalu lihat pula janji Tuhan berikut: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (ay 19). Mengapa kita bisa menanggung perkara apapun? Sebab Tuhan telah menyediakan kekuatan bagi kita untuk menghadapinya. Jika demikian, mengapa kita harus takut keluar dari zona nyaman kita dan dengan berani menerima tantangan baru? Bukankah Tuhan ada bersama kita dan telah menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk bisa berhasil disana? Jika diantara teman-teman ada yang tengah mengalami pergumulan apakah harus menerima atau menolak sebuah kesempatan naik dengan tantangan yang lebih besar, marilah kita sama-sama menyadari bahwa Tuhan ada bersama kita dan menyediakan segalanya. Apakah anda merasa takut, merasa tidak pantas atas pekerjaan yang lebih baik, merasa tidak sanggup untuk kembali belajar untuk meraih gelar, menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain dan sebagainya, apapun itu yang membuat anda berpikir bahwa anda tidak mampu dan dengan demikian membuat jiwa anda mengerucut semakin kecil, ingatlah bahwa ketika Tuhan membentangkan sebuah tantangan baru di hati anda, itu artinya Dia sudah memberikan semua sumber daya yang anda perlukan untuk bisa mencapai sukses. Percayakan semuanya kepada Tuhan dan patuhlah kepada perintahNya. Anda akan bersyukur kelak ketika menyadari betapa baiknya Tuhan kita, Tuhan yang menyediakan.

Ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi terlebih dahulu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 10, 2011

Menjauh dari Keramaian

Ayat bacaan: Matius 6:6
==================
"Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu."

menjauh dari keramaianDunia semakin lama semakin padat. Tahun depan diperkirakan jumlah penduduk dunia bisa mencapai tujuh milyar jiwa. Lebih dari empat milyar diantaranya tinggal di Asia, dan Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar ke-4 dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 240 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, bisa dibayangkan hampir-hampir tidak ada lagi tempat yang sepi terutama di kota-kota besar. Kemanapun kita pergi kita hampir selalu berpapasan dengan orang lain. Suasana hiruk pikuk, antrian di pusat-pusat perbelanjaan, lokasi perparkiran yang penuh, semua menunjukkan betapa padatnya dunia saat ini. Lalu televisi, radio, berbagai rapat, tugas menumpuk, pekerjaan dan sebagainya, itupun menjadi sebuah rutinitas tersendiri yang membuat kita sulit menemukan waktu-waktu dimana kita bisa bersekutu dengan Tuhan secara khusus. Pentingkah untuk mengambil waktu khusus sejenak di tempat yang jauh dari keramaian, dan memakainya berdiam bersama Tuhan, merasakan hadiratNya, berbicara denganNya terlebih untuk mendengarNya? Sangat penting. Dan Yesus sendiri dalam banyak kesempatan menunjukkan langsung pentingnya hal itu.

Ketika kita membaca keempat kitab Injil, maka kita akan menemukan bagaimana sibuknya Yesus ditengah kerumunan banyak orang kemanapun Dia pergi. Orang akan berbondong-bondong mendatangiNya, bahkan hanya untuk sekedar menyentuh jubahNya. Betapa dunia pada saat itu benar-benar membutuhkan pertolongan, rindu akan jamahan Tuhan yang mampu memberi kesembuhan atau kelepasan seperti halnya dunia yang kita tempati hari ini. Dalam beberapa kesempatan kita bahkan melihat jumlah yang begitu besar hingga mencapai ribuan, seperti yang bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan misalnya. Berkali-kali Yesus ingin mengambil waktu untuk menyendiri sejenak buat berdoa sendirian, tetapi kerumunan orang seperti enggan melepaskanNya. "Setelah Yesus mendengar berita itu menyingkirlah Ia dari situ, dan hendak mengasingkan diri dengan perahu ke tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mendengarnya dan mengikuti Dia dengan mengambil jalan darat dari kota-kota mereka." (Matius 14:13). Yesus tidak mengabaikan saja mereka. Dikatakan, "maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit." (ay 14). Dan mukjizat lima roti dan dua ikan yang mampu mengenyangkan lima ribu orang (yang terhitung baru pria, belum wanita dan anak-anak) pun merupakan bentuk kepedulian Yesus kepada kebutuhan manusia. Pada kesempatan lain kita mendapati contoh lain: "Ketika hari siang, Yesus berangkat dan pergi ke suatu tempat yang sunyi. Tetapi orang banyak mencari Dia, lalu menemukan-Nya dan berusaha menahan Dia supaya jangan meninggalkan mereka." (Lukas 4:42). Selama pelayananNya di muka bumi ini Yesus bersinggungan dan berinteraksi dengan begitu banyak orang hampir-hampir tanpa henti. Rakyat biasa, para rasul, petinggi militer, janda, anak-anak, orang-orang sakit parah, orang yang dirasuk setan, para petinggi agama, orang-orang yang terbuang dan dijauhi seperti pengidap kusta, tidak terkecuali pula orang-orang berdosa seperti pemungut cukai, pezinah dan lain-lain, bahkan keluarga-keluarga yang baru kehilangan anggota keluarganya. Menghadapi semua ini Yesus dengan sabar melayani satu persatu dan menjawab tangisan mereka. Tetapi lihatlah bahwa meski Yesus sibuk dan selalu tergerak atas rasa belas kasihanNya, Dia tetap berusaha pula meluangkan waktu untuk mencari tempat sepi agar bisa berdoa, mendengar suara Bapa. Kalau perlu malah Yesus rela repot-repot untuk naik ke atas bukit untuk bisa mendapatkan suasana hening dan tenang, jauh dari kerumunan dan keramaian.

Kita bisa mendapati contoh yang sama sebelum kisah angin sakal yang menerpa murid-murid Yesus yang terkenal itu. "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Atau lihat pula ketika Yesus menarik diri untuk menghabiskan waktu selama empat puluh hari di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa, yang bisa kita baca dalam perikop "Pencobaan di padang gurun." (Matius 4:1-11). Menjelang akhir hidupNya di dunia, Yesus kembali menarik diri dari kerumunan termasuk dari para muridNya untuk berdoa sendirian di taman Getsemani. (Markus 14:32-42). Disana dikatakan "Yesus pergi lebih jauh sedikit lalu tersungkur ke tanah dan berdoa." (ay 14a(BIS)). Semua ini menggambarkan pentingnya untuk mengambil waktu secara khusus, di sebuah tempat dimana kita bisa dengan khusyuk berdoa, merenung dan mendengar Tuhan, sebuah tempat yang sepi, jauh dari hiruk pikuk yang mampu mengganggu konsentrasi dan fokus kita.

Jika Yesus Kristus saja menunjukkan pentingnya mencari kesunyian dan ketenangan untuk berhubungan dengan Tuhan, bukankah ini artinya merupakan hal yang sangat penting pula bagi kita? Bukan saja lewat contoh, tetapi Yesus pun sudah mengingatkan langsung sebelum Dia mengajarkan doa Bapa Kami. "Tetapi jika engkau berdoa, masuklah ke dalam kamarmu, tutuplah pintu dan berdoalah kepada Bapamu yang ada di tempat tersembunyi. Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu." (Matius 6:6). Mengapa harus menutup pintu dan berdoa di tempat tersembunyi? Itu semua agar kita bisa benar-benar fokus, just you and God alone, untuk merenungkan kebaikanNya, mendengar apa kataNya kepada kita, dan berbicara dari hati ke hati tanpa harus terganggu atau terpecah konsentrasi dari kesibukan di sekitar kita. Menghadapi perjalanan kehidupan yang berat ini kita benar-benar butuh pegangan, dan Tuhan menyediakan itu. Kita harus benar-benar menyadari pentingnya sebuah kekuatan dan perlindungan dari Tuhan agar mampu melewati setiap masa sulit hingga garis akhir fase kehidupan kita di dunia ini.

Sudahkah kita menyediakan waktu yang cukup untuk berdiam diri bersama Tuhan, atau segala kesibukan pekerjaan, berbagai rapat, tugas, atau berbagai media seperti televisi, majalah, koran dan radio masih saja mengenyahkan saat-saat teduh dan waktu-waktu kita untuk berdoa serta bersekutu intim dengan Tuhan? Kita tidak perlu melakukan perjalanan hingga empat puluh hari masuk ke padang gurun demi meluangkan saat teduh bersama Tuhan. Kita tidak perlu naik jauh ke atas bukit untuk itu. Sebenarnya masalahnya hanya terletak pada kemauan untuk menyadari pentingnya menyediakan waktu untuk berdiam diri bersama Tuhan. Ambillah saat teduh yang khusus, dan rasakanlah bagaimana jiwa kita dikuatkan dan iman kita bertumbuh ketika kita menarik diri sejenak dari keramaian dan rutinitas sehari-hari untuk mendengar suaraNya.

Jangan abaikan mengambil waktu khusus untuk mendengar suaraNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 9, 2011

Kepahitan

Ayat bacaan: Ibrani 12:15
====================
"Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan KERUSUHAN dan yang MENCEMARKAN banyak orang."

kepahitanKemarin saya sempat merasa tidak enak badan. Tidak saja badan yang terasa sama sekali tidak nyaman karena meriang dan kulit terasa jauh lebih sensitif, tetapi makanan pun rasanya seperti pahit. Sensasi pahit di lidah memang menjadi sesuatu yang biasanya menyertai kita ketika kita sedang flu atau demam. Disaat seperti itu, saya merasakan bahwa pahit itu memang tidak enak. Makanan yang manis pun bisa dianggap pahit oleh lidah, sehingga nafsu makan bisa tambah terganggu. Dan pikiran saya pun tertuju kepada kepahitan yang ada di dalam hati sebagian orang. Jika pahit di lidah saja sudah tidak enak, bagaimana jika kepahitan itu menyeruak dari dalam hati kita dan menutupi segalanya dalam hidup? Efeknya bukan saja merugikan kita, tetapi juga bisa berdampak lebih jauh kepada orang-orang disekitar kita secara luas.

Kepahitan bisa timbul dari banyak hal. Bisa berakibat dari pengalaman masa kecil mendapat perlakuan buruk dari orang tua, saudara atau keluarga, dari pasangan hidup, bisa lewat kekecewaan yang kita peroleh dari orang lain atau bahkan merasa kecewa kepada Tuhan, bisa jadi karena perlakuan-perlakuan tidak adil yang dialami dalam waktu yang lama, kenyataan yang tidak sesuai harapan dan sebagainya. Seperti halnya rasa pahit di lidah kita pada waktu sakit, kepahitan yang tumbuh di dalam diri kita pun bisa membuat segalanya menjadi tidak nyaman. Kita jadi sulit bertumbuh baik dalam kehidupan di dunia maupun secara rohani, dan bukan itu saja, kesehatan kita pun bisa terganggu apabila kita terus membiarkan kepahitan ini tumbuh subur, berakar di dalam diri kita. Kita cenderung menanti agar pihak yang mengecewakan kita untuk meminta maaf, tetapi pada kenyataannya hal itu tidaklah semudah membalik telapak tangan. Sementara kepahitan berakar dan menjalar terus, bukan mereka yang terganggu, tetapi justru kita terus semakin menyiksa dan merugikan diri kita.

Tanyakan kepada tokoh-tokoh Alkitab yang pernah merasakan kepahitan. Ayub misalnya, ia sempat merasakan kepahitan karena merasa diperlakukan tidak adil oleh Tuhan. "Semuanya itu sama saja, itulah sebabnya aku berkata: yang tidak bersalah dan yang bersalah kedua-duanya dibinasakan-Nya.Bila cemeti-Nya membunuh dengan tiba-tiba, Ia mengolok-olok keputusasaan orang yang tidak bersalah.Bumi telah diserahkan ke dalam tangan orang fasik, dan mata para hakimnya telah ditutup-Nya; kalau bukan oleh Dia, oleh siapa lagi?" (Ayub 9:22-24) Terdengar sinis bukan? Kita tahu bahwa apa yang dialami Ayub memang tidaklah ringan, sehingga kepahitan yang timbul di dalam hatinya membuatnya mengeluarkan kata bernada sinis kepada Tuhan. Atau lihatlah kata-kata Ayub lainnya:"Allah menyerahkan aku kepada orang lalim, dan menjatuhkan aku ke dalam tangan orang fasik. Aku hidup dengan tenteram, tetapi Ia menggelisahkan aku, aku ditangkap-Nya pada tengkukku, lalu dibanting-Nya, dan aku ditegakkan-Nya menjadi sasaran-Nya." (16:11-12). Dalam masa yang berbeda, Naomi pun merasakan kepahitan karena kehilangan suami dan anak-anaknya ketika masih di rantau orang. "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku.Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong TUHAN memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena TUHAN telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku." (Rut 1:21-22). Demikianlah kepahitan bisa mempengaruhi diri kita sehingga tidak ada lagi sukacita dan harapan yang tersisa.

Kepahitan tidak boleh kita biarkan bercokol dalam diri kita. Jika kita membiarkan rasa pahit itu tumbuh subur dalam diri kita, maka buah-buah yang kita hasilkan pun akan pahit pula. Dalam Wahyu terdapat ayat yang berbunyi: "Nama bintang itu ialah Apsintus. Dan sepertiga dari semua air menjadi apsintus, dan banyak orang mati karena air itu, sebab sudah menjadi pahit." (Wahyu 8:11). Perhatikanlah bahwa sebuah kepahitan tidak saja merusak diri kita, tetapi bisa pula berdampak negatif kepada orang lain. Firman Tuhan berkata "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan KERUSUHAN dan yang MENCEMARKAN banyak orang." (Ibrani 12:15). Seperti halnya pohon mendapat suplai makanannya dari akar, jika akarnya pahit maka pohon pun akan tercemar dan menghasilkan buah-buah yang pahit pula. Itulah sebabnya sangat penting bagi kita untuk menjaga diri kita agar tidak membiarkan kepahitan itu berakar dalam hidup kita, karena bukan saja diri kita yang terkena getahnya, tetapi dampak negatifnya pun bisa dirasakan orang-orang terdekat kita pula.

Ayat dalam Ibrani di atas memberikan solusinya, yang ternyata bukan tergantung dari orang, tetapi justru tergantung dari keputusan kita sendiri. Solusinya ada pada keputusan kita apakah kita mau semakin mendekatkan diri pada kasih karunia Allah atau membiarkan diri kita terus menjauh dan membiarkan rasa pahit itu menyebar merusak diri kita lebih dan lebih lagi. Kasih karunia Allah akan memberi perbedaan dan membuat kita mampu memberikan pengampunan kepada orang-orang yang telah menyakiti kita. Dengan demikian kita pun bisa terhindar dari kepahitan yang bisa mencemarkan diri kita sendiri dan orang lain. Ketika menggambarkan dosa lidah, Yakobus berkata "Adakah sumber memancarkan air tawar dan air pahit dari mata air yang sama?"(Yakobus 3:11). Yakobus mengingatkan bahwa apa yang pahit dan tawar tidak akan pernah bisa keluar dari sumber yang sama. Apa yang menjadi sumber kehidupan? Dalam Amsal 4:23 kita mengetahui bahwa semua itu bersumber dari hati. Hati haruslah dijaga dan terus diisi dengan firman Tuhan yang hidup. Kesejukan hati akan membuat kita lebih mampu merasakan kasih karunia Allah. Kepahitan bukanlah tergantung dari orang lain tetapi akan sangat tergantung dari diri kita sendiri. Segala ketidak adilan atau kekecewaan boleh saja muncul dalam diri kita, tetapi atasilah itu dengan tetap berada dekat dengan kasih karunia Allah. Itulah yang akan membebaskan kita dari kepahitan meski tidak satupun situasi di dunia ini memihak kita.

Kepahitan bukan saja membuat kita sulit bertumbuh tetapi juga akan merugikan orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 8, 2011

Hari Ini

Ayat bacaaan: Ibrani 3:13
==================
"Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa."

hari iniPerlukah kita mengingatkan saudara-saudari kita yang masih menyimpang dari perintah dan larangan Tuhan? Kita mungkin akan mudah menjawab ya, tetapi pada kenyataannya kita seringkali menunda-nunda waktu untuk itu. Mungkin kita merasa segan, merasa tidak cukup bisa, atau merasa itu bukan tugas kita. Rasa individual manusia semakin lama semakin menebal. Untuk menolong orang yang jelas-jelas menangis di depan kita saja sudah semakin sulit, apalagi untuk mengingatkan orang yang terus berada dalam zona dosa. Di sekeliling kita ada banyak orang yang masih tenggelam dalam jerat-jerat dosa. Waktu mereka sama seperti kita, tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan pastinya kita dipanggil pulang. Kita cenderung menunggu sampai orang lain yang menghampiri dan mengingatkan mereka, kita cenderung berdiam diri, tetapi tidakkah kita sadari bahwa mungkin saja kita yang ditugaskan untuk itu, mengingat mereka ada di dekat kita?

Firman Tuhan mengingatkan "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (Ibrani 3:13). Ini pesan penting yang mengingatkan kita agar tidak menutup mata ketika melihat ada orang-orang yang masih sesat. Kita sendiri mungkin masih melakukan beberapa hal yang bertentangan dengan firman Tuhan, dan untuk itu kita pun membutuhkan nasihat, teguran atau peringatan dari orang lain yang dekat dengan kita. Jika mereka menutup mata dan membiarkan kita tersesat, bukankah kita sendiri yang rugi? Begitu pula saudara-saudari kita yang masih melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Sebuah panggilan untuk menjadi terang dan garam bukan saja berarti bahwa kita harus berbuat baik dalam hidup kita, tetapi termasuk pula di dalamnya untuk saling mengingatkan, saling menasihati dan saling bantu.

Penulis Ibrani menekankan kata "HARI INI". Mengapa harus ada penekanan seperti itu? Karena kita tidak tahu kapan waktu kita dipanggil kembali menghadapNya. Bisa puluhan tahun lagi, bisa beberapa tahun lagi, beberapa bulan, beberapa hari, atau bahkan mungkin saja ini hari terakhir kita di muka bumi. Pemazmur berkata "Masa hidupku ada dalam tangan-Mu." (Mazmur 31:16). Panjang pendeknya usia kita ada dalam tangan Tuhan. Menyia-nyiakan waktu yang masih ada untuk membawa yang sesat kembali ke jalan Tuhan akan membuat kita melewatkan sebuah kesempatan untuk memenuhi tugas sesuai panggilan kita di bumi ini. Hari ini mungkin merupakan kesempatan terakhir kita untuk memperoleh pengampunan Tuhan, atau jika kita sudah berjalan sesuai dengan kehendakNya, hari ini bisa menjadi kesempatan terakhir kita untuk membagikan kasih dan keselamatan yang telah dihadiahkan Tuhan kepada saudara-saudari kita, orang-orang terdekat dan yang kita kasihi.

Tuhan Yesus sendiri telah mengingatkan agar kita bisa menghargai waktu yang ada dan memakainya semaksimal mungkin untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang telah dibebankan kepada kita. "Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam, di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja." (Yohanes 9:4). Ada waktu dimana kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa, oleh karena itulah kita harus bisa mempergunakan waktu dengan semaksimal mungkin. Yakobus mengingatkan kita bahwa hidup itu singkat. "sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap." (Yakobus 4:14). Musa menyadari betul akan hal itu, sehingga ia berkata dalam doanya: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12).

Jika ada kesempatan yang masih diberikan Tuhan hari ini, baik untuk diri kita sendiri maupun untuk menasihati orang lain, manfaatkanlah itu dengan sebaik-baiknya dan jangan sia-siakan. Mari kita periksa diri kita dan lihat ke sekeliling kita hari ini juga, karena tidak ada satupun dari kita yang tahu apa yang akan terjadi esok.

Manfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk menghargai kesempatan yang masih diberikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 7, 2011

Mazmur 23

Ayat bacaan: Mazmur 23:1
===================
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku."

Tuhan adalah gembalaku, Mazmur 23"The Lord is my Sheperd, I shall not lack." Ayat ini sudah tidak asing lagi karena merupakan ayat yang banyak dikutip dalam berbagai kesempatan. Mazmur 23 ini bagi saya pribadi merupakan bagian dari Alkitab yang sangat unik dan indah karena mampu menggambarkan kerinduan hati Tuhan untuk melimpahkan kasihNya kepada manusia secara singkat tapi jelas. Mazmur 23 hanya terdiri atas 6 ayat, sangat singkat, tetapi isinya lengkap menunjukkan sosok Tuhan sebagai Gembala yang luar biasa bagi kita umatNya, bagaimana Dia memimpin dan membimbing kita dalam melalui petualangan kehidupan. Ada banyak janjiNya di dalam pasal ini yang akan sangat menguatkan kita apabila kita renungkan dan simak baik-baik. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk fokus kepada satu demi satu ayat yang ditulis oleh Daud dalam pasal 23 ini.

1. Sosok Tuhan sebagai Gembala
Pertama, dari ayat satu kita melihat sebuah pembuka yang merupakan kunci penting dari ayat-ayat yang menyusul setelahnya. Tuhan adalah gembalaku. The Lord is my shepherd. Gembala adalah sosok yang bertanggungjawab atas kehidupan dan keselamatan ternaknya. Dalam Yohanes 10:1-21 kita bisa melihat rincian lebih jauh mengenai pribadi Gembala yang baik melalui Yesus. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." (ay 11). "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku." (ay 14-15). Yesus sudah membuktikan sendiri akan hal itu, dan kita bisa tahu pasti bahwa bersama Sang Gembala seperti Yesus kita tidak akan perlu khawatir dalam menjalani hidup kita. Kembali kepada Mazmur 23, Kata sheperd dalam versi Bahasa Inggris dijelaskan lebih jauh dengan "to feed, guide and shield me". Keselamatan domba-domba itu terletak di tangan gembalanya, dan Tuhan siap menuntun, menjaga dan melindungi kita seperti gembala yang baik.

2. Tuhan menyediakan kebutuhan fisik kita
Ayat selanjutnya berkata "Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang." (ay 2). Kerinduan Tuhan adalah meletakkan kita di padang rumput hijau, di air yang tenang, bukan di gurun gersang atau padang belantara. Tuhan siap menyediakan semua kebutuhan fisik kita sehingga kita tidak berkekurangan bahkan berkelimpahan. Tutuplah mata anda dan coba bayangkan diri anda berbaring di sebuah padang rumput hijau dengan aliran air yang tenang. Bukankah itu terasa sangat nyaman? Seperti itulah yang Dia sediakan bagi kita.

3. Tuhan menyediakan kebutuhan rohani kita
Ayat 3 berkata "Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." Disini Tuhan menyatakan secara langsung bahwa Dia tidak akan membiarkan jiwa kita gersang dan kering. Ada "Air Hidup" yang siap Dia alirkan bagi kita, seperti yang dikatakan Yesus kepada seorang wanita Samaria di sumur. "Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berkata kepadamu: Berilah Aku minum! niscaya engkau telah meminta kepada-Nya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup..barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (Yohanes 4:11,14).

4. Penyertaan dalam masa-masa sukar
Lebih lanjut dalam ayat berikutnya kita bisa menemukan sebuah janji yang tidak kalah pentingnya, yaitu penyertaan Tuhan dalam masa-masa sukar. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (ay 4). Lihatlah bahwa Tuhan mengatakan:
- Tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian di luar sana, out there in the wilderness, even in the deep, sunless valley of the shadow of death.
- Menuntun kita kembali ketika kita memerlukan koreksi arah dengan "gada dan tongkatNya"
- Menyediakan penghiburan, dengan terus bersekutu dengan kita di masa-masa sukar yang tergelap sekalipun.

5. Memberi kesejahteraan melimpah
Ayat berikutnya mengatakan "Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah." (ay 5). Tidak hanya sekedar menyediakan sedikit, tetapi memberikannya dalam kelimpahan, until our cup runs over. God is the greatest Giver, Dia sangat murah hati dan siap menyediakan segala sesuatunya hingga berkelimpahan.

6. Memberi segala sesuatu yang baik bagi masa depan kita
"Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (ay 6). Disini kita bisa melihat sebuah masa depan yang indah disediakan bagi kita. Berada dalam rumah Tuhan akan menjamin semua kebutuhan kita tercukupi. Ada pengharapan dan masa depan yang pasti ketika kita ada di dalam Dia, dan Dia tinggal di dalam kita.

Mazmur 23 memuat kunci-kunci penting akan kebaikan Tuhan yang siap Dia limpahkan kepada kita. Mengetahui bahwa Tuhan menyediakan kebutuhan-kebutuhan kita dan akan selalu menyertai kita merupakan sebuah penghiburan dan kekuatan yang luar biasa. Tidakkah kita membutuhkan itu semua dalam menjalani kehidupan di muka bumi ini yang sulit, terkadang bahkan bisa lebih sulit dari perkiraan atau kemampuan kita. Maka janji-janji Tuhan ini akan sangat menguatkan kita dalam menjalaninya. Knowing that God never ignores us, He cares, and He loves us. Isn't it wonderful? Mari kita renungkan dalam-dalam Mazmur 23 hari ini, dan lepaskanlah kekhawatiran dari diri anda, because The Lord is our shepard, we shall not lack.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 6, 2011

Hikmat

Ayat bacaan: Yakobus 1:5
===================
"Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--,maka hal itu akan diberikan kepadanya."

hikmatDunia semakin lama semakin sulit. Semakin lama lahan kesempatan terlihat semakin sempit. Seorang pengusaha yang saya kenal pernah berkata bahwa pada saat sekarang ini kita hampir-hampir tidak lagi punya kesempatan untuk coba-coba dalam memulai usaha. Sekali salah bisa mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Itulah sebabnya seorang pengusaha pernah mengatakan, "you got to know exactly what to do, and nail it right away." Masalahnya, dari mana kita bisa tahu bentuk usaha apa yang harus kita rintis? Memeriksa apa yang kita miliki, entah itu talenta, keahlian-keahlian tertentu, modal dan sebagainya itu bisa merupakan awal yang baik. Finding what God has in store for us, what He has equipped us from the beginning, itu bisa dijadikan titik awal dalam pemikiran kita. Diatas semua itu, tentu yang terbaik adalah mengetahui dengan pasti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita. Dalam Amsal dikatakan "Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada." (Amsal 8:23). Lebih lanjut firman Tuhan pun berkata bahwa semua tentang kita sudah Dia rencanakan jauh sebelum kita ada "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16). Dan rencana Tuhan atas kita adalah "rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Masalahnya, apakah kita tahu apa rencana Tuhan bagi diri kita secara spesifik? Jika benar dunia semakin sulit dan semakin sempit kesempatan kita untuk mencoba-coba usaha yang tepat, maka kita perlu dengan segera mengetahui rancangan Tuhan yang telah Dia sediakan itu. Dan cara untuk mengetahuinya adalah melalui hikmat.

Bagaimana cara kita mendapatkan hikmat? Salomo mengatakan "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10), sebuah pernyataan yang sejalan pula dengan pewahyuan suara Tuhan lewat ayahnya Daud: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10). Takut akan Tuhan, sebuah rasa takut yang positif, sebuah sikap hormat yang tepat, itulah yang akan membuka jalan bagi turunnya hikmat Tuhan menerangi akal pikiran kita. Ini adalah hal yang penting bagi hidup kita. Jika melakukan segala sesuatu yang hanya menurut kita saja maka itu tidak akan bisa sebaik mengikuti rencana yang sudah dicanangkan Tuhan sejak awal. Para rasul pun menyadari betul akan hal ini. Dalam surat kepada jemaat Kolose Paulus mengatakan "kami tiada berhenti-henti berdoa untuk kamu. Kami meminta, supaya kamu menerima segala hikmat dan pengertian yang benar, untuk mengetahui kehendak Tuhan dengan sempurna, sehingga hidupmu layak di hadapan-Nya serta berkenan kepada-Nya dalam segala hal, dan kamu memberi buah dalam segala pekerjaan yang baik dan bertumbuh dalam pengetahuan yang benar tentang Allah." (Kolose 1:9-10).

Sebuah pernyataan yang juga penting mengenai hikmat ini bisa kita peroleh lewat Yakobus. "Tetapi apabila di antara kamu ada yang kekurangan hikmat, hendaklah ia memintakannya kepada Allah, --yang memberikan kepada semua orang dengan murah hati dan dengan tidak membangkit-bangkit--, maka hal itu akan diberikan kepadanya." (Yakobus 1:5). Perhatikan, Tuhan membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi kita untuk meminta hikmat kepadaNya. Dengan cara apa? Ayat selanjutnya mengatakan "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin." (ay 6). Kita bisa memintanya dalam iman, dan melangkahlah dengan pasti. Kebimbangan akan membuat semuanya mentah, tanpa iman pun kita tidak akan bisa menuai hikmat apapun yang sejati berasal dari Tuhan.

Hikmat yang sejati tidak akan pernah kita peroleh dari dunia, "Karena Tuhanlah yang memberikan hikmat, dari mulut-Nya datang pengetahuan dan kepandaian." (Amsal 2:6). Semakin sulit kita berjalan, semakin besar pula kebutuhan kita akan hikmat. Adalah penting bagi kita untuk mengandalkan Tuhan saja dalam hidup ini. Oleh sebab itu, "Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:6). Jika anda ingin tahu apa yang Tuhan rindu untuk anda lakukan dalam hidup ini, segeralah bertanya dan mintalah hikmat kepadaNya. Mungkin ada di antara teman-teman yang sedang mengalami dilema, menghadapi keputusan yang berat, atau masih memikirkan apa langkah anda selanjutnya, ini saat yang tepat untuk datang kepada Tuhan dengan rasa takut akan Dia, dan mintalah hikmat sejati daripadaNya yang akan Dia curahkan dengan penuh kemurahan hati.

Look up to the source of Wisdom and find out what He has been planning for you

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 5, 2011

Menyikapi Situasi Sulit

Ayat bacaan: Yakobus 1:2-4
==================
"Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun."

menyikapi situasi sulitMengapa harus ada bagian yang sulit dan penuh penderitaan dalam hidup? Itu mungkin menjadi pertanyaan dari sebagian besar manusia, termasuk pula diantaranya orang-orang percaya. Ada banyak diantara kita yang mengira bahwa mengikuti Yesus artinya bebas secara total dari penderitaan. Itu sebabnya ada orang-orang yang memiliki motivasi mereka sendiri untuk beribadah. Tidak salah sama sekali memang untuk meminta pertolongan Tuhan, dan Tuhan sendiri menjanjikan begitu banyak berkat, mukjizat dan pertolonganNya kepada siapapun yang berseru kepadaNya dalam Kristus. Tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa walau bagaimanapun ada saat-saat dimana kita harus melewati situasi sulit, penuh duri yang menyakitkan. Apakah Tuhan senang menyiksa kita sewaktu-waktu? Tentu tidak. Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Jika Dia senang, Dia tidak perlu repot-repot mengorbankan AnakNya sendiri untuk memastikan keselamatan kita bukan? Saya akan mengambil sebuah analogi yang sederhana. Anak-anak kecil biasanya akan sangat suka dengan permen yang manis. Mereka bisa sangat gembira dan menghabiskan banyak permen dalam waktu yang sangat singkat. Namun baikkah itu bagi mereka? Tentu saja tidak. Gigi mereka bisa rusak, dan mereka pun akan kekurangan gizi akibat tidak lagi mau makan makanan yang mengandung gizi baik. Ada saatnya kita harus memberi mereka sayur-sayuran yang tentu saja tidak seenak permen. Sayur bisa sangat pahit, tetapi justru mengandung banyak manfaat bagi kesehatan dan pertumbuhan mereka. Dalam kerohanian pun demikian. Selalu berada dalam keadaan nyaman tidak akan baik bagi pertumbuhan iman kita. Kita bisa terbentuk menjadi orang-orang manja yang tidak peduli lagi kepada orang lain, terbuai dalam kenikmatan hidup dan kenyamanan.

Saya pernah mengalami proses pembentukan karakter selama 5 tahun. Itu masa-masa tersulit bagi saya yang mengalami langsung bagaimana semuanya dijungkirbalikkan justru setelah saya menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Pahit, pedih, sakit, semua itu saya jalani bertahun-tahun. Ketika mengalaminya tentu tidak enak sama sekali. Tetapi hari ini saya bisa bersyukur mengalami itu semua, dan tidak sia-sia rasanya ketika itu saya menangis sambil tetap tersenyum dan berusaha untuk mengucap syukur kepada Tuhan. Tanpa mengalami itu semua, niscaya hari ini saya masih menjadi pribadi yang penuh pelanggaran mulai dari yang kecil sampai yang besar. Sampai hari ini pun ada kalanya kesulitan datang, tetapi saya terus menyikapinya dengan sikap yang sama. Tidak enak ketika kita berada dalam masalah, tetapi ada beberapa sisi positif pula. Kesulitan atau beban masalah biasanya saya pergunakan untuk belajar banyak. Itu bisa juga menjadi "a good wake up call", jika ada hal-hal yang saya lakukan sudah melenceng dari kehendak Tuhan, dan yang pasti, itu adalah saat dimana saya bisa menyadari betapa terbatasnya kemampuan manusia dan menggantungkan segalanya kepada Tuhan lebih lagi. Dan satu lagi, masalah adalah sebuah kesempatan besar untuk melihat langsung mukjizat Tuhan.

Jika masalah sehari-hari kita sudah berat, lihatlah bagaimana tekanan-tekanan yang dihadapi oleh orang percaya yang bisa sangat mengerikan di berbagai belahan dunia. Bentuk-bentuk represif bahkan penganiayaan sampai pembunuhan dialami sebagian dari kita dari waktu ke waktu. Bahkan di awal milenium ketiga dalam hitungan tahun Masehi ini pun tetap saja ada pengikut Kristus yang harus jadi martir atas imannya. Masalah yang kita hadapi mungkin belumlah seberapa dibanding mereka, tetapi sebesar apapun masalah itu, Firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak menyerah dan kehilangan harapan. Bahkan kita tidak dianjurkan untuk bermuram atau bersedih. Firman Tuhan mengingatkan kita agar tetap bersukacita meski tengah berada dalam situasi seberat apapun.

Yakobus menyampaikan Firman Tuhan yang berbunyi: "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Apakah Yakobus sedang berada dalam keadaan baik ketika menulis ini? Tidak. Dia sudah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa mengerikannya penganiayaan dan siksaan kejam hingga mati yang dijatuhkan kepada orang-orang yang mempertahankan imannya pada Kristus, termasuk pula dirinya sendiri. Bahkan Yakobus membuktikan ketaatannya sampai mati. Dalam Kisah Para Rasul 12:2 kita melihat dirinya dibunuh berdasarkan perintah Herodes dengan sebilah pedang. Tetapi dari dirinyalah kita bisa melihat seruan Tuhan tentang bagaimana kita harus menyikapi berbagai pencobaan itu. Yakobus menghimbau semua orang percaya untuk menghadapi semua pencobaan dan ujian dengan sukacita, iman dan optimisime. Yakobus sama seperti kita, tidak pernah mengharapkan terjadinya masa-masa sukar, tetapi ia mengingatkan kita agar tidak kehilangan pegangan dan tetap menyikapi kondisi sesulit apapun dengan sikap hati bersukacita. Mengapa? Karena masa-masa sulit itu, apakah itu berhubungan dengan kesulitan finansial, masalah kesehatan fisik dan psikis, hubungan atau relasi, karir atau pekerjaan, pendidikan dan lain-lain, apabila kita menyikapi itu semua dengan iman maka itu menjadi sebuah kesempatan besar bagi kita untuk bisa menjadi manusia dengan rohani yang dewasa dan matang.

Sebuah ujian seperti apapun bisa menghasilkan ketekunan yang akan berbuah matang. Oleh sebab itulah penting bagi kita untuk menyikapi dengan benar situasi-situasi sulit yang hadir dalam hidup kita. Diatas segalanya kita harus tahu bahwa dalam keadaan seperti apapun Tuhan tidak pernah meninggalkan kita. Dia terus dengan setia berada bersama kita, bahkan dalam keadaan tergelap sekalipun, seperti apa yang bisa kita baca dalam Mazmur. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Seberat apapun masalah yang kita hadapi, penghiburan selalu disediakan Tuhan bagi kita.

Segala sesuatu di muka bumi ini ada masanya. Alkitab menyatakan hal itu. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya" (Pengkotbah 3:1), termasuk "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4) Pada saat kita dihadapkan pada waktu untuk menangis dan meratap, itu bukanlah saat Tuhan sedang bertindak kejam dan tertawa menyiksa kita. Disaat seperti itu kita bisa belajar banyak tentang kehidupan. Ada banyak manfaat yang akan sangat berguna bagi kita kelak yang akan sangat sia-sia apabila kita lewatkan hanya dengan keluh kesah, mengasihani diri berlebihan atau berputus asa. Ada kesempatan untuk menjadi rohani yang lebih matang dan dewasa ketika kita diijinkan untuk berada dalam situasi yang tidak nyaman. Sementara kita masih berada dalam situasi seperti itu, tetaplah bersyukur dan biarkan Tuhan terus mengisi hati anda dengan sukacitaNya yang sejati, sehingga pada waktu untuk tertawa dan menari itu datang kita akan memetik buah yang matang kelak.

"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau. Sebab Akulah TUHAN, Allahmu, Yang Mahakudus, Allah Israel, Juruselamatmu." (Yesaya 43:2-3a)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...