===================
"Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah."
Menginginkan peningkatan dalam pekerjaan adalah dambaan semua orang. Tetapi berapa banyak yang berani melangkah menghadapi tantangan untuk itu? Kebanyakan orang hanya ingin gajinya atau jabatannya meningkat tanpa tambahan beban tanggung jawab dan pekerjaan. Itu tidaklah mungkin. Semakin tinggi kita naik, artinya semakin besar pula tanggung jawab yang harus kita emban. Tidak jarang pula kita harus berhadapan dengan tantangan-tantangan baru yang belum pernah kita hadapi sebelumnya. Bagi banyak orang hal seperti ini menakutkan, sehingga mereka lebih memilih untuk tetap berjalan di tempat ketimbang melangkah naik ke jenjang berikutnya. Sangatlah ironis ketika ada banyak orang termasuk anak-anak Tuhan juga yang sulit maju karena merasa tidak mampu dan takut menguji kekuatan "sayap" mereka dalam berusaha. Yang lebih ironis lagi, ada di antara anak-anak Tuhan ini yang sebenarnya menyadari bahwa semua itu merupakan jalan dari Tuhan bagi mereka untuk maju, bahkan tahu bahwa Tuhan sudah berjanji untuk tidak pernah meninggalkan anak-anakNya, tetapi rasa takut untuk melangkah tetap saja lebih dominan dalam diri mereka ketimbang mempercayakan Tuhan di atas segalanya secara nyata.Masalah seperti ini sudah menjadi sebuah hal klasik sejak jaman dulu. Bahkan sosok besar seperti Musa sekalipun mengawali langkahnya dengan ketidakpercayaan diri berlebihan sehingga lebih mau menolak tawaran luar biasa Tuhan ketimbang menjalaninya dengan penuh rasa syukur. Ketika Musa diutus Tuhan buat kali pertama, Musa menanggapinya dengan merasa dirinya penuh kekurangan dan menyatakan tidak sanggup melakukan perintah Tuhan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (Keluaran 4:10). Tuhan memberikan tugas yang mulia untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan Mesir dan menuju tanah berlimpah susu dan madu. Ini sebuah tugas mulia yang tidak diberikan kepada sembarang orang. Seharusnya Musa sadar bahwa itu adalah sebuah kehormatan besar. Tetapi Musa membiarkan dirinya dipenuhi berbagai alasan yang berdasar kepada keterbatasan atau bahkan kelemahannya sebagai seorang pribadi. "Aku tidak sanggup, aku gagap, mereka tidak akan mau mendengarkanku. Jadi utus saja orang lain, seperti saudaraku misalnya.." kira-kira seperti itulah jawaban Musa. Kita tidak akan tahu pasti apa yang mendasari pikiran Musa untuk merasa rendah diri seperti itu. Apakah karena ia harus terpisah dari orangtuanya sejak bayi dan harus berada dalam budaya asing, apakah karena ia merasa sebagai minoritas meski dibesarkan layaknya seorang pangeran, atau karena ia baru saja meninggalkan status kemewahannya untuk kembali kepada siapa dirinya yang sebenarnya, kita tidak tahu pasti. Tapi alasan-alasan seperti yang disampaikan Musa tersebut sesungguhnya dialami banyak orang hingga hari ini. Ada begitu banyak orang yang lebih mengarah kepada ketidakmampuannya ketimbang mempercayakan segala sumber daya, kemampuan, talenta terlebih penyertaan Tuhan untuk menapak naik.
Apa yang menjadi jawaban Tuhan atas perkataan Musa? "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (Keluaran 4:11-12). Tuhan menyatakan dengan jelas bahwa semuanya ada ditanganNya, dalam kuasaNya. Artinya, jika Tuhan sudah memutuskan untuk memakai Musa, seharusnya Musa sadar bahwa Tuhan tentu sudah mempersiapkan segala yang dibutuhkan untuk itu. Bahkan secara langsung Tuhan mengatakan akan: (1) menyertai lidahnya, jika itu yang menjadi masalah buat Musa, dan (2) mengajarnya untuk menyampaikan apa yang harus ia katakan. Dari sini kita bisa melihat meski tugas itu tidak mudah, tetapi Tuhan sebenarnya hanya meminta kesediaan Musa untuk menjadi penyambung lidahNya. Kepada kita pun sama. Tuhan sudah menjanjikan rancangan masa depan yang penuh harapan seperti yang Dia firmankan dalam Yeremia 29:11, tetapi untuk itu dibutuhkan keberanian kita untuk melangkah atas dasar kepercayaan kita sepenuhnya untuk berada dalam kendali Tuhan. Ketika Tuhan menghendaki kita untuk naik lebih tinggi dan menuai berkatNya lebih lagi, pada saat itu pula Tuhan sebenarnya sudah menyediakan segala yang kita butuhkan untuk itu. Dia adalah Allah yang menyediakan, dan itu harus kita imani sungguh-sungguh agar kita tidak berhenti dengan berjalan di tempat saja.
Dalam Filipi Paulus berkata "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13). Lalu lihat pula janji Tuhan berikut: "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (ay 19). Mengapa kita bisa menanggung perkara apapun? Sebab Tuhan telah menyediakan kekuatan bagi kita untuk menghadapinya. Jika demikian, mengapa kita harus takut keluar dari zona nyaman kita dan dengan berani menerima tantangan baru? Bukankah Tuhan ada bersama kita dan telah menyediakan sumber daya yang dibutuhkan untuk bisa berhasil disana? Jika diantara teman-teman ada yang tengah mengalami pergumulan apakah harus menerima atau menolak sebuah kesempatan naik dengan tantangan yang lebih besar, marilah kita sama-sama menyadari bahwa Tuhan ada bersama kita dan menyediakan segalanya. Apakah anda merasa takut, merasa tidak pantas atas pekerjaan yang lebih baik, merasa tidak sanggup untuk kembali belajar untuk meraih gelar, menceritakan kebaikan Tuhan kepada orang lain dan sebagainya, apapun itu yang membuat anda berpikir bahwa anda tidak mampu dan dengan demikian membuat jiwa anda mengerucut semakin kecil, ingatlah bahwa ketika Tuhan membentangkan sebuah tantangan baru di hati anda, itu artinya Dia sudah memberikan semua sumber daya yang anda perlukan untuk bisa mencapai sukses. Percayakan semuanya kepada Tuhan dan patuhlah kepada perintahNya. Anda akan bersyukur kelak ketika menyadari betapa baiknya Tuhan kita, Tuhan yang menyediakan.
Ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi terlebih dahulu
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Dunia semakin lama semakin padat. Tahun depan diperkirakan jumlah penduduk dunia bisa mencapai tujuh milyar jiwa. Lebih dari empat milyar diantaranya tinggal di Asia, dan Indonesia merupakan negara berpenduduk terbesar ke-4 dengan jumlah penduduk mencapai sekitar 240 juta jiwa. Dengan jumlah sebanyak itu, bisa dibayangkan hampir-hampir tidak ada lagi tempat yang sepi terutama di kota-kota besar. Kemanapun kita pergi kita hampir selalu berpapasan dengan orang lain. Suasana hiruk pikuk, antrian di pusat-pusat perbelanjaan, lokasi perparkiran yang penuh, semua menunjukkan betapa padatnya dunia saat ini. Lalu televisi, radio, berbagai rapat, tugas menumpuk, pekerjaan dan sebagainya, itupun menjadi sebuah rutinitas tersendiri yang membuat kita sulit menemukan waktu-waktu dimana kita bisa bersekutu dengan Tuhan secara khusus. Pentingkah untuk mengambil waktu khusus sejenak di tempat yang jauh dari keramaian, dan memakainya berdiam bersama Tuhan, merasakan hadiratNya, berbicara denganNya terlebih untuk mendengarNya? Sangat penting. Dan Yesus sendiri dalam banyak kesempatan menunjukkan langsung pentingnya hal itu.
Kemarin saya sempat merasa tidak enak badan. Tidak saja badan yang terasa sama sekali tidak nyaman karena meriang dan kulit terasa jauh lebih sensitif, tetapi makanan pun rasanya seperti pahit. Sensasi pahit di lidah memang menjadi sesuatu yang biasanya menyertai kita ketika kita sedang flu atau demam. Disaat seperti itu, saya merasakan bahwa pahit itu memang tidak enak. Makanan yang manis pun bisa dianggap pahit oleh lidah, sehingga nafsu makan bisa tambah terganggu. Dan pikiran saya pun tertuju kepada kepahitan yang ada di dalam hati sebagian orang. Jika pahit di lidah saja sudah tidak enak, bagaimana jika kepahitan itu menyeruak dari dalam hati kita dan menutupi segalanya dalam hidup? Efeknya bukan saja merugikan kita, tetapi juga bisa berdampak lebih jauh kepada orang-orang disekitar kita secara luas.
Perlukah kita mengingatkan saudara-saudari kita yang masih menyimpang dari perintah dan larangan Tuhan? Kita mungkin akan mudah menjawab ya, tetapi pada kenyataannya kita seringkali menunda-nunda waktu untuk itu. Mungkin kita merasa segan, merasa tidak cukup bisa, atau merasa itu bukan tugas kita. Rasa individual manusia semakin lama semakin menebal. Untuk menolong orang yang jelas-jelas menangis di depan kita saja sudah semakin sulit, apalagi untuk mengingatkan orang yang terus berada dalam zona dosa. Di sekeliling kita ada banyak orang yang masih tenggelam dalam jerat-jerat dosa. Waktu mereka sama seperti kita, tidak ada satupun dari kita yang tahu kapan pastinya kita dipanggil pulang. Kita cenderung menunggu sampai orang lain yang menghampiri dan mengingatkan mereka, kita cenderung berdiam diri, tetapi tidakkah kita sadari bahwa mungkin saja kita yang ditugaskan untuk itu, mengingat mereka ada di dekat kita?
"The Lord is my Sheperd, I shall not lack." Ayat ini sudah tidak asing lagi karena merupakan ayat yang banyak dikutip dalam berbagai kesempatan. Mazmur 23 ini bagi saya pribadi merupakan bagian dari Alkitab yang sangat unik dan indah karena mampu menggambarkan kerinduan hati Tuhan untuk melimpahkan kasihNya kepada manusia secara singkat tapi jelas. Mazmur 23 hanya terdiri atas 6 ayat, sangat singkat, tetapi isinya lengkap menunjukkan sosok Tuhan sebagai Gembala yang luar biasa bagi kita umatNya, bagaimana Dia memimpin dan membimbing kita dalam melalui petualangan kehidupan. Ada banyak janjiNya di dalam pasal ini yang akan sangat menguatkan kita apabila kita renungkan dan simak baik-baik. Hari ini saya ingin mengajak teman-teman untuk fokus kepada satu demi satu ayat yang ditulis oleh Daud dalam pasal 23 ini.
Dunia semakin lama semakin sulit. Semakin lama lahan kesempatan terlihat semakin sempit. Seorang pengusaha yang saya kenal pernah berkata bahwa pada saat sekarang ini kita hampir-hampir tidak lagi punya kesempatan untuk coba-coba dalam memulai usaha. Sekali salah bisa mengakibatkan kerugian yang tidak sedikit. Itulah sebabnya seorang pengusaha pernah mengatakan, "you got to know exactly what to do, and nail it right away." Masalahnya, dari mana kita bisa tahu bentuk usaha apa yang harus kita rintis? Memeriksa apa yang kita miliki, entah itu talenta, keahlian-keahlian tertentu, modal dan sebagainya itu bisa merupakan awal yang baik. Finding what God has in store for us, what He has equipped us from the beginning, itu bisa dijadikan titik awal dalam pemikiran kita. Diatas semua itu, tentu yang terbaik adalah mengetahui dengan pasti apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita. Dalam Amsal dikatakan "Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada." (Amsal 8:23). Lebih lanjut firman Tuhan pun berkata bahwa semua tentang kita sudah Dia rencanakan jauh sebelum kita ada "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16). Dan rencana Tuhan atas kita adalah "rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (Yeremia 29:11). Masalahnya, apakah kita tahu apa rencana Tuhan bagi diri kita secara spesifik? Jika benar dunia semakin sulit dan semakin sempit kesempatan kita untuk mencoba-coba usaha yang tepat, maka kita perlu dengan segera mengetahui rancangan Tuhan yang telah Dia sediakan itu. Dan cara untuk mengetahuinya adalah melalui hikmat.
Mengapa harus ada bagian yang sulit dan penuh penderitaan dalam hidup? Itu mungkin menjadi pertanyaan dari sebagian besar manusia, termasuk pula diantaranya orang-orang percaya. Ada banyak diantara kita yang mengira bahwa mengikuti Yesus artinya bebas secara total dari penderitaan. Itu sebabnya ada orang-orang yang memiliki motivasi mereka sendiri untuk beribadah. Tidak salah sama sekali memang untuk meminta pertolongan Tuhan, dan Tuhan sendiri menjanjikan begitu banyak berkat, mukjizat dan pertolonganNya kepada siapapun yang berseru kepadaNya dalam Kristus. Tetapi tidak bisa kita pungkiri bahwa walau bagaimanapun ada saat-saat dimana kita harus melewati situasi sulit, penuh duri yang menyakitkan. Apakah Tuhan senang menyiksa kita sewaktu-waktu? Tentu tidak. Tuhan tidak pernah senang melihat anak-anakNya menderita. Jika Dia senang, Dia tidak perlu repot-repot mengorbankan AnakNya sendiri untuk memastikan keselamatan kita bukan? Saya akan mengambil sebuah analogi yang sederhana. Anak-anak kecil biasanya akan sangat suka dengan permen yang manis. Mereka bisa sangat gembira dan menghabiskan banyak permen dalam waktu yang sangat singkat. Namun baikkah itu bagi mereka? Tentu saja tidak. Gigi mereka bisa rusak, dan mereka pun akan kekurangan gizi akibat tidak lagi mau makan makanan yang mengandung gizi baik. Ada saatnya kita harus memberi mereka sayur-sayuran yang tentu saja tidak seenak permen. Sayur bisa sangat pahit, tetapi justru mengandung banyak manfaat bagi kesehatan dan pertumbuhan mereka. Dalam kerohanian pun demikian. Selalu berada dalam keadaan nyaman tidak akan baik bagi pertumbuhan iman kita. Kita bisa terbentuk menjadi orang-orang manja yang tidak peduli lagi kepada orang lain, terbuai dalam kenikmatan hidup dan kenyamanan.