====================
"Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."
Berapa lama toleransi kita untuk bersabar menunggu sebuah janji digenapi? Jawaban bisa berbeda-beda pada setiap orang, dan mungkin akan tergantung pula pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk bubar karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu yang mampu ditolerir, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk bersabar. Ketidak sabaran pun bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidup kita. Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, Musa, mereka mengalami saat-saat dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Rentang waktu yang harus mereka jalani untuk tetap setia pun terbilang tidak singkat. Satu lagi contoh yang akan saya angkat sesuai tema hari ini adalah mengenai Kaleb bin Yefune.
Kisah Kaleb mulai kita kenal ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dan Kaleb adalah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu, maka mereka pun kembali dengan kesimpulan sebagai berikut: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi tidak semua pengintai bersikap pesimis seperti itu. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif. Dengan tegas ia membantah pesimisme rekan-rekannya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Karena ia percaya jika Tuhan sendiri berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pun pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, masa Tuhan membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa kesetiaannya kepada Tuhan sungguh luar biasa.
Dalam kitab Yosua kita bisa melihat kisah Kaleb 45 tahun kemudian. Pada saat itu Kaleb sudah berusia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar setengahnya saja? Tentu sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya." (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia "tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (ay 8). Ia melanjutkan "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini" (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh melemah. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah, namun semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan, justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb. Dan Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. "Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (ay 14).
Mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada happy ending. Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?
Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu tetaplah setia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Ada sebuah warung makan tidak jauh dari rumah saya. Sajian mereka sangat lezat, namun mereka buka sekehendak hatinya saja. Tidak ada jadwal teratur untuk berjualan. Hari ini buka, besok tutup, dan ketika ditanyakan jawaban mereka pun terkadang begitu santai, "kemarin kita diajakin mancing pak.. jadi kita tutup." Dengan etos kerja dan disiplin seperti ini bagaimana mau maju? Anehnya si penjual masih saja heran karena merasa dagangannya tidak mengalami kemajuan. Begitulah kebiasaan kita manusia. Banyak orang cenderung mengharapkan berkat jatuh dari langit tanpa perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk diam di rumah, uang akan turun sendiri bagai kucuran hujan. Kalau tidak? Mereka akan dengan ringan berkata itu sudah takdir. Mengatakan takdir sama saja dengan menyalahkan Tuhan yang seolah-olah menciptakan mereka untuk miskin dan menderita hidup di dunia ini.
Indikator keberhasilan merupakan sesuatu yang mutlak untuk kita perhatikan. Setiap orang tentu ingin mengetahui apakah yang dikerjakannya berhasil atau tidak. Dalam organisasi, lembaga atau perusahaan pun demikian. Tidak ada orang yang hanya melakukan sesuatu tanpa ingin mengetahui hasilnya. Karena itulah kita mengenal kata indikator atau tolok ukur. Dengan adanya indikator yang kita tetapkan, kita akan bisa melihat apa yang telah kita capai lewat usaha kita selama ini. Indikator bisa berbeda-beda tergantung apa yang menjadi tujuan kita. Apakah kita sudah mengalami peningkatan, memiliki pendapatan yang memadai, mencapai sebuah tingkat sesuai target dan sebagainya, semua ini adalah contoh dari indikator atau tolok ukur yang bisa kita jadikan acuan untuk melihat apakah kita sudah berjalan di rel yang benar atau tidak.
Life is full of uncertainty. Hidup penuh dengan ketidakpastian. Semakin lama kita berjalan dalam kehidupan, semakin pula kita berhadapan dengan ketidakpastian. Anda sudah bekerja mati-matian, tetapi hasil yang diperoleh sangatlah tidak sebanding dengan hasil jerih payah anda. Sebuah proyek sudah 99% sukses, ternyata yang 1% lah yang terjadi. Semua sudah direncanakan sejak jauh hari, tetapi justru pada hari H terjadi sesuatu yang membuat semua rencana menjadi hancur berantakan. Dan ada banyak lagi contoh yang menggambarkan betapa sulitnya untuk menjalani kehidupan yang baik dan adil di dunia ini. Beberapa hari terakhir ini saya merasa sangat lelah, pekerjaan bagai air bah tidak ada habisnya. Deadline demi deadline terus membanjir. Bagi orang yang memiliki beberapa pekerjaan berbeda seperti saya tentu pernah merasa kelabakan seperti yang saya alami saat ini. Semua menuntut hasil terbaik, sementara waktu dan tenaga terbatas. Dan ada kalanya lewat segala usaha ini terasa seolah sia-sia. Gaji tertunda, ucapan maaf atau terima kasih pun tidak ada. Saya yakin teman-teman pun pernah mengalami hal ini. Saya bisa saja kesal, bersungut-sungut, atau kecewa dan meninggalkan semua pekerjaan ini. Tetapi itu tidak saya lakukan. Saya mau berbuat yang terbaik dalam setiap pekerjaan sebagai bentuk ucapan syukur saya atas berkat Tuhan atas beberapa pekerjaan yang Dia berikan kepada saya. Besar atau kecilnya pendapatan itu relatif. Sekecil-kecilnya pendapatan, itupun dari Tuhan yang harus kita syukuri. Dimana tanggungjawab kita terhadap sesuatu yang dipercayakan Tuhan jika kita terus menerus terlalu cepat merasa tidak puas atau malah menyerah? Saya percaya Tuhan bisa memakai kondisi apapun untuk menjadi ladang berkatNya. Yang saya tahu, saya harus mengerjakan yang terbaik bukan seperti untuk manusia, melainkan seperti untuk Tuhan. (Kolose 3:23).
Kaya salah, miskin salah. Lalu di mana kita seharusnya berdiri? Demikian kata seorang teman pada suatu kali sambil tertawa. Tidak ada orang yang menginginkan hidup berkekurangan. Kalau bisa, tentu kita semua ingin bisa hidup dengan nyaman tanpa harus berpikir panjang ketika hendak membeli sesuatu. Tapi ketika kita berada pada zona kenyamanan berkelimpahan seperti ini ada banyak pula godaan yang bisa membuat kita membuka diri terhadap dosa. Faktanya memang demikian. Ada banyak orang yang tadinya baik-baik kemudian menjadi rusak setelah kesuksesan, popularitas dan kemakmuran menghampiri mereka. Seorang penyanyi dalam sebuah kontes mencari bakat bisa menjadi contoh mengenai topik hari ini. Di saat ia masih mengamen, hidup terasa sangat berat. Untuk makan saja sulitnya bukan main, ia harus berhitung cermat untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Namun ketika ia sukses dan terkenal, sikapnya berubah. Ia bukan lagi dirinya yang dulu, Karirnya pun jatuh kembali seketika. Kaya salah, miskin salah.
Ada pepatah yang mengatakan "money can't buy happiness". Apakah anda termasuk yang setuju dengan kalimat ini atau tidak? Seorang teman saya tidak sependapat. Ia berkata orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan hanyalah orang miskin yang berdalih. Mungkin untuk saat-saat tertentu singkat uang memang bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi itu hanya berlaku dalam waktu singkat. Pada akhirnya sekaya apapun kita akan sampai pada kesimpulan bahwa uang bukanlah segalanya. Kalau tidak hati-hati malah kekayaan bisa menimbulkan banyak masalah dalam hidup kita. Terjerumus masuk ke dalam berbagai dosa adalah salah satu dampak negatif dari ketidak hati-hatian kita terhadap hal-hal yang bisa diperoleh lewat uang. Bukannya semakin dekat, tapi kita malah bisa semakin jauh dari Tuhan justru ketika kita diberkati dengan melimpah. Ada banyak orang kaya yang saya kenal malah gelisah karena takut hartanya lenyap. Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dalam kemewahan pun seringkali menyesal pada akhirnya ketika anaknya tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Ada banyak contoh dimana anak-anak yang terjerumus obat-obatan terlarang biasanya berasal dari keluarga mampu yang tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Orang tua sering berpikir bahwa jika mereka bisa melimpahi anaknya dengan uang itu sudah cukup. Mereka tidak lagi menganggap penting untuk meluangkan waktu mendidik anak-anaknya. Dan hal seperti itu kerap kali menjadi awal dari sebuah kehancuran.
Tentu kita semua pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang. Ketika cinta ini berbalas dan sebuah hubungan cinta mulai terjalin, maka biasanya pasangan akan saling merindukan ketika sedang berjauhan. Normalnya setiap orang yang sedang jatuh cinta akan tidak sabar untuk berbuat yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Hari ini sudah baik, besok harus lebih baik lagi. Menunjukkan perhatian, kepedulian, dorongan, bantuan, dan sebagainya akan terasa sebagai sebuah kewajiban dan bukan keterpaksaan. Secara umum itu akan kita rasakan apabila kita sedang jatuh cinta. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa cinta bagaikan sebuah reaksi kimia yang tidak dapat dijelaskan secara logika. Bukankah kita cenderung mengesampingkan logika dan menuruti perasaan ketika sedang mengalami sebuah perasaan cinta seperti ini? Saling tidak sabar untuk menunjukkan kasih dan perhatian, itu akan menjadi warna tersendiri kepada pasangan yang saling mencintai.