Saturday, October 16, 2010

Kaleb dan Kesetiaannya

Ayat bacaan: Yosua 14:17
====================
"Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati."

tetap setiaBerapa lama toleransi kita untuk bersabar menunggu sebuah janji digenapi? Jawaban bisa berbeda-beda pada setiap orang, dan mungkin akan tergantung pula pada situasi dan kondisi kita. Ada kalanya kita bisa bersabar, tapi ada pula waktu dimana kita sulit untuk itu.Ada banyak pasangan yang akhirnya memilih untuk bubar karena apa yang mereka harapkan tidak kunjung tiba. Mereka menginginkan pasangannya berubah, tapi ketika itu tidak kunjung terjadi hingga sebuah batas waktu yang mampu ditolerir, merekapun memutuskan untuk mengakhiri saja hubungan itu. Seringkali tidak mudah bagi kita untuk bersabar. Ketidak sabaran pun bisa menjadi salah satu alasan terbesar mengapa kesetiaan akhirnya harus dikorbankan. Terhadap sesama manusia seperti itu, kepada Tuhan pun sama. Ketika janji-janji Tuhan terasa terlalu lama menurut standar ukuran waktu kita, maka kepercayaan kita kepadaNya pun bisa goyah. Dan akhirnya, kesetiaan kepada Tuhan bukan lagi sesuatu yang penting dalam hidup kita.

Alkitab mencatat banyak contoh mengenai upah yang diterima yang berawal dari kesetiaan. Yusuf, Abraham, Musa, mereka mengalami saat-saat dimana kesabaran dan kesetiaan mereka diuji. Rentang waktu yang harus mereka jalani untuk tetap setia pun terbilang tidak singkat. Satu lagi contoh yang akan saya angkat sesuai tema hari ini adalah mengenai Kaleb bin Yefune.

Kisah Kaleb mulai kita kenal ketika Musa menugaskan 12 orang yang mewakili masing-masing suku untuk mengintai situasi dan kondisi di tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan Tuhan bagi mereka. (Bilangan 13:1-33), dan Kaleb adalah satu dari kedua belas pengintai itu. Setelah 40 hari mereka menjalankan tugas itu, maka mereka pun kembali dengan kesimpulan sebagai berikut: "Kami sudah masuk ke negeri, ke mana kausuruh kami, dan memang negeri itu berlimpah-limpah susu dan madunya, dan inilah hasilnya. Hanya, bangsa yang diam di negeri itu kuat-kuat dan kota-kotanya berkubu dan sangat besar, juga keturunan Enak telah kami lihat di sana." (ay 27-28). Tempatnya memang sangat kaya dan subur, tetapi ada orang-orang berukuran raksasa tinggal disana. Sebagian besar dari mereka kecut melihat situasi disana. Bagaimana mungkin masuk berperang melawan raksasa di kota yang dilindungi benteng-benteng kokoh? Itu kata mereka. Bahkan saking kecut hati mereka menilai diri mereka sendiri seperti belalang yang lemah, kecil dan tidak berarti dibanding bangsa Enak yang besar-besar itu. (ay 33). Tetapi tidak semua pengintai bersikap pesimis seperti itu. Kaleb adalah salah satu pengintai yang memiliki sikap hati positif. Dengan tegas ia membantah pesimisme rekan-rekannya. "Tidak! Kita akan maju dan menduduki negeri itu, sebab kita pasti akan mengalahkannya!" (ay 30). Mengapa Kaleb bisa seyakin itu? Karena ia percaya jika Tuhan sendiri berjanji untuk memberikan tanah itu kepada bangsanya, maka Tuhan pun pasti akan membantu dalam prosesnya. Tuhan yang memberi, masa Tuhan membiarkan mereka binasa? Kaleb memiliki iman yang teguh, itu membuatnya mampu percaya kepada Tuhan. Dan dari kisah selanjutnya mengenai Kaleb kita tahu bahwa kesetiaannya kepada Tuhan sungguh luar biasa.

Dalam kitab Yosua kita bisa melihat kisah Kaleb 45 tahun kemudian. Pada saat itu Kaleb sudah berusia 85 tahun. Hingga saat itu ternyata ia belum juga memperoleh apa yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Bayangkan sebuah penantian 45 tahun. Mampukah kita bersabar setengahnya saja? Tentu sulit. Tapi Kaleb menunjukkan kesetiaan yang luar biasa. Kaleb berkata "Aku berumur empat puluh tahun, ketika aku disuruh Musa, hamba TUHAN itu, dari Kadesh-Barnea untuk mengintai negeri ini; dan aku pulang membawa kabar kepadanya yang sejujur-jujurnya." (Yosua 14:7). 10 pengintai lain menyampaikan kabar dengan pesimis, sehingga kesimpulan mereka membuat bangsa Israel menjadi tawar hati. Tapi tidak bagi Kaleb, sebab ia "tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati." (ay 8). Ia melanjutkan "Pada waktu itu Musa bersumpah, katanya: Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati. Jadi sekarang, sesungguhnya TUHAN telah memelihara hidupku, seperti yang dijanjikan-Nya. Kini sudah empat puluh lima tahun lamanya, sejak diucapkan TUHAN firman itu kepada Musa, dan selama itu orang Israel mengembara di padang gurun. Jadi sekarang, telah berumur delapan puluh lima tahun aku hari ini" (ay 9-10). 85 tahun, itu usia yang sudah sangat renta. Pada usia seperti ini kondisi fisik pasti sudah jauh melemah. Tapi ternyata Kaleb memiliki semangat yang luar biasa. Ia berkata "pada waktu ini aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk." (ay 11). Mungkin fisiknya sudah lemah, namun semangat hidupnya masih tetap sama seperti 45 tahun yang lalu. Itu menunjukkan bagaimana ia masih tetap berjalan mengikuti Tuhan dengan sepenuh hati meski apa yang dijanjikan belum kunjung ia peroleh setelah sedemikian lama. Kaleb menunjukkan kesetiaan yang besar yang tidak tergantung oleh situasi, kondisi maupun waktu. Ia hanya tahu, jika Tuhan sudah berjanji, pada waktunya janji itu pasti ditepati. Ia tahu betul bahwa Tuhan bukanlah Pribadi yang suka ingkar janji. Dan pada usia ke 85 itu akhirnya Kaleb bin Yefune menerima apa yang telah dijanjikan untuknya. Ia memperoleh Hebron sebagai milik pusakanya. (ay 13). Hebron bukanlah kota yang termudah untuk ditaklukkan, justru merupakan sebuah kota yang didiami oleh orang-orang yang paling besar di antara bangsa raksasa, Enak. (ay 15). Keteguhan hati, semangat hidup, kepercayaan penuh dan kesetiaan tak terbatas mewarnai iman dari Kaleb. Dan Alkitab mencatat hal itu dengan gemilang. "Itulah sebabnya Hebron menjadi milik pusaka Kaleb bin Yefune, orang Kenas itu, sampai sekarang ini, karena ia tetap mengikuti TUHAN, Allah Israel, dengan sepenuh hati." (ay 14).

Mampukah kita bersabar seperti Kaleb? Kesabaran sesungguhnya akan teruji oleh waktu, begitu pula halnya dengan kesetiaan. Kaleb, seperti halnya Yusuf, Abraham dan banyak tokoh lainnya sudah menunjukkan bahwa kesabaran dan kesetiaan mereka menuju kepada happy ending. Jika bagi mereka seperti itu, bagi kita pun sama. Tuhan tidak akan pernah ingkar janji, hanya saja waktuNya mungkin berbeda dengan keinginan kita. Di saat seperti itu, sanggupkah kita menunjukkan kesetiaan seperti Kaleb?

Percayalah bahwa janji Tuhan akan selalu digenapi, karena itu tetaplah setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 15, 2010

Jangan Malas

Ayat bacaan: Amsal 12:27
=====================
"Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga."

jangan malasAda sebuah warung makan tidak jauh dari rumah saya. Sajian mereka sangat lezat, namun mereka buka sekehendak hatinya saja. Tidak ada jadwal teratur untuk berjualan. Hari ini buka, besok tutup, dan ketika ditanyakan jawaban mereka pun terkadang begitu santai, "kemarin kita diajakin mancing pak.. jadi kita tutup." Dengan etos kerja dan disiplin seperti ini bagaimana mau maju? Anehnya si penjual masih saja heran karena merasa dagangannya tidak mengalami kemajuan. Begitulah kebiasaan kita manusia. Banyak orang cenderung mengharapkan berkat jatuh dari langit tanpa perlu berbuat apa-apa. Hanya duduk diam di rumah, uang akan turun sendiri bagai kucuran hujan. Kalau tidak? Mereka akan dengan ringan berkata itu sudah takdir. Mengatakan takdir sama saja dengan menyalahkan Tuhan yang seolah-olah menciptakan mereka untuk miskin dan menderita hidup di dunia ini.

Kemalasan semakin lama semakin membudaya dimana-mana. Hidup yang semakin sulit ternyata tidak membuat orang menjadi semakin giat berjuang, tetapi sebaliknya malah semakin malas. Ini fenomena dan realita yang bisa kita saksikan di sekitar kita. Kepinginnnya jangan hanya diberi makan, tapi disuapi sekalian. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya tumbuh menjadi orang-orang yang malas. Berkat Dia sediakan secara berlimpah, tapi kita tidak diajarkan untuk menjadi manja dan hanya menanti saja. Kita harus pula bekerja giat untuk mencapainya. Bukankah selain menyediakan berkat Tuhan pun menyediakan berbagai talenta, bakat atau kemampuan bagi kita untuk dipergunakan agar bisa menerima berkat-berkat itu? Tuhan tidak senang menyediakan segala sesuatu secara instan, meski Dia sanggup untuk itu. Mengapa? Karena itu tidak mendidik, malah akan melemahkan atau merusak. Tuhan lebih senang menyediakan kail yang dapat dipergunakan untuk memancing ikan ketimbang melemparkan ikan-ikan itu dari langit langsung ke rumah kita.

Mari kita lihat sedikit kisah ketika bangsa Israel berada di Silo (Yosua 18). Pada saat itu segenap umat Israel berkumpul dan mendirikan Kemah Pertemuan di sana. Tuhan telah menyertai mereka sedemikian rupa sehingga negeri yang dijanjikan Tuhan kepada mereka itu secara umum telah berhasil mereka taklukkan. Meski Tuhan sudah memberkati mereka dengan tanah yang melimpah madu dan susunya seperti itu, dan Tuhan sendiri pula sudah menyertai mereka dalam setiap langkah untuk merebut tanah yang dijanjikan itu, tetapi tetap saja suku-suku tersebut enggan berangkat berperang untuk menguasai wilayah yang masih tersisa. Tuhan sudah menyediakan segalanya dan membantu, tetapi mereka masih juga malas-malasan. Maka akhirnya datanglah teguran melalui Yosua atas mereka. "Sebab itu berkatalah Yosua kepada orang Israel: "Berapa lama lagi kamu bermalas-malas, sehingga tidak pergi menduduki negeri yang telah diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allah nenek moyangmu?" (ay 3). Sikap malas dan senang menunda-nunda ternyata sudah ada sejak dulu dan terus membudaya hingga hari ini. Pesan yang sama dalam konteks yang sedikit berbeda pun berlaku pula bagi kita. Berapa lama lagi kita harus bermalas-malasan sehingga tidak pergi menggapai janji-janji yang telah disediakan Tuhan bagi kita?

Ada banyak ayat yang menggambarkan ketidaksukaan Tuhan atas orang-orang yang malas. Salah satunya dikatakan: "Orang malas tidak akan menangkap buruannya, tetapi orang rajin akan memperoleh harta yang berharga." (Amsal 12:27). Bagaimana kita bisa menangkap janji Tuhan jika kita enggan bergerak dan mulai melakukan sesuatu dengan serius? Sangat disayangkan ketika Tuhan sudah meletakkan berkat-berkatNya di depan kita, tetapi kemalasan membuat kita tidak akan pernah bisa meraihnya. Mengharapkan berkat tanpa adanya usaha sama saja dengan mengharapkan bintang jatuh dari langit. Kita harus mulai melakukan sesuatu dan berhenti membuang-buang waktu serta kesempatan.

Keselamatan pun demikian. Kita memang mendapatkan keselamatan lewat iman sebagai kasih karunia yang diberikan Allah pada kita dan bukan karena hasil pekerjaan kita (Efesus 2:8), tetapi kita tidak berhenti disana. Kita masih tetap harus bekerja keras memelihara keselamatan itu agar tidak lepas dari genggaman kita. Paulus mengatakan hal itu dengan menyatakan bahwa kita harus terus mengerjakan keselamatan kita. "Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir." (Filipi 2:12). Tuhan sudah begitu baiknya, Dia bahkan telah mengatakan bahwa Dia sendirilah yang bekerja di dalam kita untuk memampukan kita (ay 13). Tapi semua itu akan sia-sia jika kita tidak mau bergerak dan memilih untuk diam saja. Lihatlah ketika Tuhan Yesus memberi perumpamaan ini: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu." (Matius 7:24). Tuhan Yesus memberi perumpamaan dengan membangun rumah. Itu berbicara mengenai sebuah proses terus menerus, berkelanjutan dan usaha yang tidak sedikit. Ketika kita sudah mendengar firman Tuhan, kita harus melanjutkannya ke tahap selanjutnya, yaitu melakukannya. Itupun melalui proses secara bertahap dan kontinu, seperti sedang membangun rumah.

Contoh lain, lihatlah ketika Yesus bertemu Petrus untuk pertama kalinya (Lukas 5:1-11). Pada saat itu Petrus sedang bersedih karena ia tidak menangkap seekor ikan pun semalaman. Apa yang dilakukan Yesus? Dia tidak menurunkan ikan secara langsung dari langit, tetapi Dia malah menyuruh Simon untuk kembali bertolak ke tempat yang dalam dan kembali menebarkan jala. (ay 4). Meski Yesus sanggup untuk langsung memberi ikan, tetapi Dia lebih memilih untuk memberkati lewat usaha kita. Ikan-ikan, atau berkat-berkat, sudah disediakan Tuhan di depan bagi kita. Ia pun sudah menyediakan kail atau jala untuk menangkapnya. Semua tinggal tergantung kita, apakah kita mau masuk ke dalam untuk melemparkan jala atau memilih hanya menjadi penonton di luar tanpa melakukan apapun. Orang malas tidak akan pernah bisa mendapatkan buruannya, tetapi hanya orang yang rajinlah yang akan memperoleh harta yang berharga.

Dimana kita saat ini? Apakah kita masih berleha-leha menyia-nyiakan berbagai peluang mulai dari peluang kesuksesan hingga keselamatan, atau kita sudah berusaha untuk mencapainya dengan serius dan sungguh-sungguh? Marilah kita berhenti sebagai orang malas, dan mulai berpikir untuk mewujudkan rencana-rencana Tuhan bagi kita lewat sebuah kehidupan yang rajin. Tuhan tidak menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang-orang yang manja dan malas. Dia sudah menyiapkan berkat bagi kita, maukah kita bergerak untuk mendapatkannya?

Jadilah orang-orang rajin yang mau menggapai berkat Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 14, 2010

Indikator Kasih

Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-7
========================
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

indikator kasihIndikator keberhasilan merupakan sesuatu yang mutlak untuk kita perhatikan. Setiap orang tentu ingin mengetahui apakah yang dikerjakannya berhasil atau tidak. Dalam organisasi, lembaga atau perusahaan pun demikian. Tidak ada orang yang hanya melakukan sesuatu tanpa ingin mengetahui hasilnya. Karena itulah kita mengenal kata indikator atau tolok ukur. Dengan adanya indikator yang kita tetapkan, kita akan bisa melihat apa yang telah kita capai lewat usaha kita selama ini. Indikator bisa berbeda-beda tergantung apa yang menjadi tujuan kita. Apakah kita sudah mengalami peningkatan, memiliki pendapatan yang memadai, mencapai sebuah tingkat sesuai target dan sebagainya, semua ini adalah contoh dari indikator atau tolok ukur yang bisa kita jadikan acuan untuk melihat apakah kita sudah berjalan di rel yang benar atau tidak.

Kekristenan berbicara soal kasih. Saya pernah mengatakan, apabila Alkitab diperas maka kasih akan keluar sebagai sarinya. Inti dasar kekristenan adalah kasih, dan bentuk kasih yang diwajibkan untuk kita miliki jauh lebih besar ketimbang sekedar menyayangi orang-orang terdekat bagi kita. Itulah yang bisa membedakan kita dengan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Tingkatan kasih seperti apa yang harus kita miliki? Yesus berkata "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Ini sebuah tingkatan yang sungguh tinggi. Kita tahu bagaimana kasih yang dimiliki Kristus. Dia bukan saja menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat-mukjizat dimana-mana, tetapi kasih yang dimiliki Kristus bahkan membuatnya rela untuk menjalani penderitaan dan kesakitan hingga mati di atas kayu salib. Lewat karya penebusanNya kita dianugerahkan keselamatan, sesuatu yang justru diberikan pada saat kita tengah berlumur dosa. Firman Tuhan mengatakan demikian: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Ketika Yesus berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13), ia tidak berhenti hanya pada wacana saja melainkan sudah melakukannya sendiri, menjadikan diriNya sebagai keteladanan secara langsung. Sesuai dengan pesan Kristus, maka kita seharusnya memiliki bentuk kasih Kristus dalam hidup kita. Sebuah tingkatan kasih yang jauh lebih besar dari pengertian kasih yang kita ketahui sehari-hari. Ada banyak aspek di dalamnya yang bukan hanya sekedar menyampaikan ungkapan rasa cinta, tetapi di dalamnya juga terdapat pengorbanan, kerelaan untuk menderita dan kesanggupan untuk mengampuni. Ini hal-hal yang sungguh tidak mudah untuk dijalankan, tetapi kasih yang memiliki elemen-elemen seperti itulah yang seharusnya menguasai diri kita.

Apa saja indikator kasih, yang membuat kita dapat mengetahui apakah kita sedang berjalan dalam kasih atau tidak? Alkitab sesungguhnya telah memberikan indikator-indikator kasih secara terperinci. Kita bisa melihatnya dalam surat 1 Korintus berikut. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah berbagai indikator kasih itu. Kesabaran, kemurahan hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, berlaku spoan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, mau mengampuni, tidak mendendam, tidak senang dengan kejahatan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tahan menghadapi segala sesuatu, mau percaya akan yang terbaik pada setiap orang, hidup dalam pengharapan tanpa henti dan sabar dalam menanggung segala sesuatu. Dengan adanya indikator-indikator ini kita bisa dengan mudah mengetahui apakah kita sedang berjalan dalam kasih atau tidak. Ketika kita mulai memperhitungkan kejahatan yang dilakukan orang lain, ketika kita menyimpan amarah dan dendam, ketika kita selalu merasa iri hati terhadap kesuksesan orang lain, itu artinya kita sedang tidak berjalan dalam kasih.

Selama kita berjalan bersama Tuhan dan tetap dipenuhi Roh Kudus, kasih Allah akan hidup dalam diri kita. Itulah yang akan memampukan kita untuk memenuhi indikator-indikator kasih di atas. Yohanes pun menghimbau kita sebagai anak-anakNya untuk saling mengasihi. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah." (1 Yohanes 4:7). Kita tidak bisa mengaku sebagai anak Allah yang mengenal Bapanya apabila kita tidak memiliki kasih dalam diri kita. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (ay 8). Dan Yohanes pun melanjutkan: "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (ay 11-12).

Kekristenan sejati akan tergambar dari sejauh mana kasih menguasai hidup kita. Yesus telah mengingatkan kita untuk saling mengasihi, seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. Dan selanjutnya Yesus pun berkata "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Bagaimana Kristus akan tergambar dari perilaku dan perbuatan kita dalam hidup. Sebagai contoh yang benar, maka seharusnya cara kita menerapkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari seharusnya mampu menyatakan kemuliaan Allah. Dan itu akan dilihat oleh dunia, sehingga dunia bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang Kristus lewat diri kita, murid-muridNya. Mari kita periksa sejauh mana kasih menguasai kita hari ini lewat indikator-indikator kasih di atas. Apakah kita sudah berada dalam rel yang benar? Apakah kita sedang berjalan dalam kasih hari ini?

Indikator kasih akan membuat kita mengetahui apakah kita sedang berada dalam kasih atau tidak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 13, 2010

Menghadapi Ketidakpastian Esok Hari

Ayat bacaan: Mazmur 62:2
======================
"Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku."

menghadapi esok hariLife is full of uncertainty. Hidup penuh dengan ketidakpastian. Semakin lama kita berjalan dalam kehidupan, semakin pula kita berhadapan dengan ketidakpastian. Anda sudah bekerja mati-matian, tetapi hasil yang diperoleh sangatlah tidak sebanding dengan hasil jerih payah anda. Sebuah proyek sudah 99% sukses, ternyata yang 1% lah yang terjadi. Semua sudah direncanakan sejak jauh hari, tetapi justru pada hari H terjadi sesuatu yang membuat semua rencana menjadi hancur berantakan. Dan ada banyak lagi contoh yang menggambarkan betapa sulitnya untuk menjalani kehidupan yang baik dan adil di dunia ini. Beberapa hari terakhir ini saya merasa sangat lelah, pekerjaan bagai air bah tidak ada habisnya. Deadline demi deadline terus membanjir. Bagi orang yang memiliki beberapa pekerjaan berbeda seperti saya tentu pernah merasa kelabakan seperti yang saya alami saat ini. Semua menuntut hasil terbaik, sementara waktu dan tenaga terbatas. Dan ada kalanya lewat segala usaha ini terasa seolah sia-sia. Gaji tertunda, ucapan maaf atau terima kasih pun tidak ada. Saya yakin teman-teman pun pernah mengalami hal ini. Saya bisa saja kesal, bersungut-sungut, atau kecewa dan meninggalkan semua pekerjaan ini. Tetapi itu tidak saya lakukan. Saya mau berbuat yang terbaik dalam setiap pekerjaan sebagai bentuk ucapan syukur saya atas berkat Tuhan atas beberapa pekerjaan yang Dia berikan kepada saya. Besar atau kecilnya pendapatan itu relatif. Sekecil-kecilnya pendapatan, itupun dari Tuhan yang harus kita syukuri. Dimana tanggungjawab kita terhadap sesuatu yang dipercayakan Tuhan jika kita terus menerus terlalu cepat merasa tidak puas atau malah menyerah? Saya percaya Tuhan bisa memakai kondisi apapun untuk menjadi ladang berkatNya. Yang saya tahu, saya harus mengerjakan yang terbaik bukan seperti untuk manusia, melainkan seperti untuk Tuhan. (Kolose 3:23).

Saat ini saya memutuskan untuk break sebentar dari pekerjaan dan beristirahat sejenak dengan menulis renungan ini. Saya merasa lelah, tetapi saya masih merasakan sukacita. Saya tidak tahu apa yang terjadi esok hari. Ketidakpastian akan selalu hadir kapan saja, tetapi saya tidak perlu khawatir akan hal itu. Saya bisa tetap tenang dan fokus untuk mengerjakan bagian saya dengan sebaik-baiknya. Mengapa bisa? Karena ayat bacaan hari ini menjadi pegangan saya yang sudah terbukti selalu sanggup menjauhkan saya dari kegelisahan akan hari esok atau masa depan. Sebuah ayat yang terbukti mampu menyingkirkan awan kelabu dari dalam pikiran kita yang selalu membuat kita sulit berpikir jernih apalagi tenang. Ayat itu berbunyi demikian: "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2).

Bagi saya ayat ini merupakan ayat yang sangat menguatkan dan mampu memberi ketenangan. Ketenangan sejati berasal dari Allah dan bukan dari kondisi kita di dunia. Bukan dari limpahan uang, status, tingkat pekerjaan dan sebagainya, tetapi hanyalah dari Tuhan saja. Artinya kondisi boleh tidak pasti atau tidak jelas, hidup mungkin sedang berada dalam titik rendah saat ini, namun kehadiran Tuhan bersama kita seharusnya mampu membuat kita tetap tenang. Keselamatan kita ada dalam tanganNya, tidak peduli apapun yang kita hadapi saat ini. Jika kita melanjutkan pada ayat berikutnya, peneguhan akan semakin kuat pula. "Hanya Dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah." (ay 3). Teruskan membaca pasal ini,  maka kita akan menemukan kembali ayat yang berbunyi mirip: "Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku." (ay 6).  Mau terguncang seperti apapun kita saat ini, kita punya gunung batu dan kota benteng yang kokoh. Berpeganglah disana maka kita tidak akan bisa digoyahkan. Kita bisa tetap tenang fokus untuk memberi atau melakukan yang terbaik jika kita mau menyadari bahwa Allah selalu berada dekat dengan kita.

Ada kalanya kita harus berhadapan dengan masalah. Berjalan bersama Tuhan bukan berarti bahwa kita akan selalu 100% hidup tanpa masalah. Namun lihatlah apa kata Tuhan: "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Matius 6:34). Ayat ini hadir didahului oleh sebuah ayat yang juga sudah kita kenal baik "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 33). Gabungkan kedua ayat ini, maka kita akan tahu bahwa meski di delam kesusahan yang bisa hadir esok hari, Tuhan akan tetap berada disana.  Hari esok akan punya kesusahannya sendiri. Kekhawatiran yang mengeruhkan pikiran kita hari ini akan hari esok tidak akan merubah apapun. Tidak ada hasil yang bisa diperoleh dengan kekhawatiran, malah kita akan menambah masalah baru. Mau khawatir seperti apapun, hari esok akan tetap hadir dengan kesusahannya sendiri. Tapi jika kita mengimani benar bahwa selalu ada Tuhan yang siap menambahkan semuanya dalam situasi demikian, mengapa kita harus khawatir?

Hari esok akan datang dengan kesusahannya sendiri. Akan tetapi sadarilah bahwa kesusahan bukan satu-satunya yang akan hadir esok hari. Sebab Firman Tuhan berkata, "Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:22-23). Selain kesusahan, His compassion, mercy and loving-kindness yang selalu baru setiap pagi pun akan menghampiri kita. Semua itu akan lebih dari cukup untuk melewati hari-hari yang sulit.

Apakah ada di antara teman-teman yang sedang menghadapi kekhawatiran akan hari esok? Adakah di antara anda yang sedang merasa takut menghadapi ketidakpastian? Mendekatlah kepada Tuhan, dan perolehlah ketenangan serta kekuatan. Jangan biarkan keraguan memenuhi pikiran anda. "Percayalah kepada-Nya setiap waktu, hai umat, curahkanlah isi hatimu di hadapan-Nya; Allah ialah tempat perlindungan kita." (Mazmur 62:9). Masalah boleh saja hadir, bumi boleh gonjang ganjing, tetapi kita tidak perlu khawatir karena kita punya Tuhan yang sangat peduli. Berada di dekatNya akan mampu membuat kiat tenang. KekokohanNya akan mampu membuat kita tidak mudah goyah. Dunia boleh saja terus menawarkan ketidakpastian, namun ada kepastian dalam janji Tuhan. Semua inilah yang saya rasakan saat ini disaat lelah, dan mendasari pikiran dengan janji tuhan seperti ini ternyata mampu membuat pikiran dan hati saya tetap tenang. Sebentar lagi saya masih harus melanjutkan pekerjaan, lalu tidur. Hari esok akan datang membawa kesusahannya sendiri, tetapi di samping itu rahmat Tuhan pun akan hadir pula, sebuah rahmat yang selalu baru setiap pagi, always fresh every morning. Meski lelah saya tetap tenang dan merasa bahagia. Saya tidak perlu takut menghadapi hari esok karena saya tahu Tuhan ada bersama saya. Jika Tuhan sudah memberikan janji-janjiNya seperti ini, mengapa kita harus takut? Let's greet the new dawn, and let's enter it together with God.

Bukan hanya kesusahan yang hadir esok hari, tetapi rahmat Tuhan pun akan hadir dalam kondisi serba baru

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 12, 2010

Kaya Salah, Miskin Salah

Ayat bacaan: Amsal 30:7-8
=====================
"Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku."

kaya salah miskin salahKaya salah, miskin salah. Lalu di mana kita seharusnya berdiri? Demikian kata seorang teman pada suatu kali sambil tertawa. Tidak ada orang yang menginginkan hidup berkekurangan. Kalau bisa, tentu kita semua ingin bisa hidup dengan nyaman tanpa harus berpikir panjang ketika hendak membeli sesuatu. Tapi ketika kita berada pada zona kenyamanan berkelimpahan seperti ini ada banyak pula godaan yang bisa membuat kita membuka diri terhadap dosa. Faktanya memang demikian. Ada banyak orang yang tadinya baik-baik kemudian menjadi rusak setelah kesuksesan, popularitas dan kemakmuran menghampiri mereka. Seorang penyanyi dalam sebuah kontes mencari bakat bisa menjadi contoh mengenai topik hari ini. Di saat ia masih mengamen, hidup terasa sangat berat. Untuk makan saja sulitnya bukan main, ia harus berhitung cermat untuk memenuhi kebutuhannya dan keluarga. Namun ketika ia sukses dan terkenal, sikapnya berubah. Ia bukan lagi dirinya yang dulu, Karirnya pun jatuh kembali seketika. Kaya salah, miskin salah.

Apakah benar kekristenan tidak mengijinkan kita untuk kaya? Tentu saja kita tidak dilarang untuk berhasil mengalami peningkatan dalam banyak hal termasuk pula di dalamnya berkat materi. Ada banyak janji Tuhan untuk memberikan kepada kita kelimpahan. Lihat janji berkatNya dalam Ulangan 28:1-14 misalnya, disana Tuhan menjanjikan berkat berlimpah ruah kepada semua orang yang "baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya." (ay 1). Tapi ada hal yang harus kita ingat, jangan sampai berkat materi yang diberikan Tuhan kepada kita malah membuat kita semakin jauh dari Tuhan dan semakin sesat menjalani hidup. Berkat yang diperoleh seharusnya kita pergunakan juga untuk  menjadi saluran untuk memberkati orang lain. Kepada kita semua diberikan tugas khusus untuk menjadi terang dan garam, karenanya segala sesuatu yang dipercayakan Tuhan kepada kita seharusnya kita manfaatkan untuk menjalankan tugas ini dengan sebaik-baiknya.

Dalam surat Paulus kepada Timotius kita bisa melihat penekanan akan hal ini. Paulus secara spesifik menyinggung pesan kepada Timotius untuk mengingatkan jemaat-jemaat kaya. Ia tidak menuntut para orang kaya untuk menyingkirkan harta mereka, tetapi ia meminta Timotius mengingatkan mereka untuk menyikapi kekayaan mereka dengan benar. "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. "Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:17-19). Bukannya menjadi kaya dengan menimbun harta di dunia lalu memakainya untuk hal-hal yang jahat, tidak berguna atau sia-sia, tetapi seharusnya justru dipergunakan untuk menolong sesama, agar mereka menjadi kaya dalam kebajikan. Dan itulah yang akan berguna bagi kehidupan yang sebenarnya. Paulus tidak sekedar mengingatkan, ia pun sudah memberikan contoh langsung. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Inilah yang seharusnya menjadi pemikiran kita ketika Tuhan menghadirkan kelimpahan berkatNya secara materi dalam kehidupan kita.

Ketika kita diberkati kekayaan, akan ada banyak godaan yang siap membuat kita menjauh dari Tuhan dan mengancam gagalnya kita untuk menuai janji-janji keselamatanNya. Jika tidak hati-hati maka kita bisa terpeleset jatuh ke dalamnya. Itulah sebabnya kita harus benar-benar menyiapkan mental kita dengan baik sejak dini ketika kesuksesan dan kekayaan mulai menghampiri kita. Dalam Amsal kita bisa melihat sebuah doa dari Agur bin Yake. "Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku." (Amsal 30:7-8). Ini doa yang sungguh baik kita panjatkan terlebih ketika kita masih belum yakin akan kekuatan iman kita menghadapi limpahan materi. Agur bin Yake melanjutkan dengan memberi alasannya. "Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku." (ay 9).

Gaya hidup dunia akan selalu cenderung berorientasi kepada kemewahan. Dan kita sebagai pengikut Kristus bukannya dilarang untuk hidup berlimpah. Yang penting adalah apa yang harus kita lakukan dalam menyikapi kekayaan itu. Apakah kita akan bersyukur dan mempergunakannya untuk membantu orang-orang yang lemah, menjadi terang dan garam di dunia, atau kita malah semakin menjauh dari Tuhan, itulah yang seharusnya menjadi pertimbangan kita. Ada banyak jerat yang akan siap memerangkap kita bila kita berorientasi kepada kekayaan atau kemewahan. "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (ay 9).

Jika belum mencapai tingkat kemakmuran seperti itu, kita pun tidak boleh kecil hati. Hidup berkecukupan sesungguhnya sudah merupakan berkat tak terhingga dari Tuhan. Seperti apa cukup dalam Alkitab? "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Jika kedua hal ini ada pada kita, seharusnya kita sudah bisa bersyukur atas hal tersebut. Dan ingat pula bahwa ibadah yang disertai rasa cukup, disertai ucapan syukur yang sungguh-sungguh akan membawa keuntungan besar. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (1 Timotius 6:6)

Ketika kita diberkati secara materi, bersyukurlah dan pergunakan itu untuk menjadi saluran berkat bagi sesama. Berfungsilah sebagai terang dan garam dalam dunia. Mengapa harus takut menjadi kurang ketika kita membantu orang lain? Bukankah Tuhan mampu menambahkan lebih lagi? Itu sebabnya Firman Tuhan berbunyi demikian: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya." (ukas 19:26). Apabila kita belum mencapai tahapan itu, tetaplah bersyukur juga, karena biar bagaimanapun Tuhan baik kepada kita. Jika anda masih bisa makan dan masih berpakaian saat ini, itupun harus dipandang sebagai berkat yang besar dari Tuhan. Dimanapun posisi anda hari ini, sikap hati yang benar akan membuat anda hidup dalam kebahagiaan sejati yang berasal dari Tuhan.

Pakailah berkat Tuhan untuk memberkati orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 11, 2010

Uang Bukan Segalanya

Ayat bacaan: 1 Timotius 6:17
========================
"Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati."

uang bukan segalanyaAda pepatah yang mengatakan "money can't buy happiness". Apakah anda termasuk yang setuju dengan kalimat ini atau tidak? Seorang teman saya tidak sependapat. Ia berkata orang yang mengatakan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan hanyalah orang miskin yang berdalih. Mungkin untuk saat-saat tertentu singkat uang memang bisa menjanjikan kebahagiaan, tapi itu hanya berlaku dalam waktu singkat. Pada akhirnya sekaya apapun kita akan sampai pada kesimpulan bahwa uang bukanlah segalanya. Kalau tidak hati-hati malah kekayaan bisa menimbulkan banyak masalah dalam hidup kita. Terjerumus masuk ke dalam berbagai dosa adalah salah satu dampak negatif dari ketidak hati-hatian kita terhadap hal-hal yang bisa diperoleh lewat uang. Bukannya semakin dekat, tapi kita malah bisa semakin jauh dari Tuhan justru ketika kita diberkati dengan melimpah. Ada banyak orang kaya yang saya kenal malah gelisah karena takut hartanya lenyap. Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya dalam kemewahan pun seringkali menyesal pada akhirnya ketika anaknya tumbuh dengan kepribadian yang kurang baik. Ada banyak contoh dimana anak-anak yang terjerumus obat-obatan terlarang biasanya berasal dari keluarga mampu yang tidak mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya. Orang tua sering berpikir bahwa jika mereka bisa melimpahi anaknya dengan uang itu sudah cukup. Mereka tidak lagi menganggap penting untuk meluangkan waktu mendidik anak-anaknya. Dan hal seperti itu kerap kali menjadi awal dari sebuah kehancuran.

Mari kita lihat sosok Salomo, orang yang dikatakan terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini. Begitu kayanya, bahkan dikatakan bahwa kekayaannya belum pernah dinikmati raja-raja sebelumnya, dan tidak akan pernah pula sanggup ditandingi oleh siapapun sampai kapanpun. (2 Tawarikh 1:12). Dengan kekayaan berlimpah seperti ini, jika benar uang mampu membeli segalanya, maka Salomo seharusnya menjadi orang paling bahagia yang pernah hidup di muka bumi ini. Tapi faktanya sama sekali tidak. Salomo justru banyak mengingatkan kita bahwa uang bukanlah hal terpenting dalam hidup kita. Dalam banyak ayat yang mencatat tulisan-tulisan hikmat Salomo kita bisa mendapatkan begitu banyak ayat yang menyinggung hal ini. Atau lihatlah kitab Pengkotbah yang menunjukkan begitu banyak kesia-siaan terhadap segala sesuatu, termasuk harta kekayaan. Tidakkah ironis ketika kitab ini justru datang dari orang terkaya yang pernah hidup di muka bumi ini?

Dalam Amsal, Pengkotbah dan beberapa ayat lainnya diluar kedua kitab itu kita bisa mendapatkan beberapa contoh yang menunjukkan bahwa ada hal-hal yang tidak dapat dibeli dengan uang, antara lain:
Hikmat: "Memperoleh hikmat sungguh jauh melebihi memperoleh emas, dan mendapat pengertian jauh lebih berharga dari pada mendapat perak." (Amsal 16:16)
Ketenangan: "Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan." (Amsal 15:16), "Segenggam ketenangan lebih baik dari pada dua genggam jerih payah dan usaha menjaring angin." (Pengkotbah 4:6)
Ketentraman: "Lebih baik sekerat roti yang kering disertai dengan ketenteraman, dari pada makanan daging serumah disertai dengan perbantahan." (Amsal 17:1)
Tidur nyenyak: "Enak tidurnya orang yang bekerja, baik ia makan sedikit maupun banyak; tetapi kekenyangan orang kaya sekali-kali tidak membiarkan dia tidur." (Pengkotbah 5:11)
Damai sejahtera: "Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. Inipun sia-sia." (Pengkotbah 5:10)
Hidup benar: "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan." (Amsal 16:8), "Lebih baik orang miskin yang bersih kelakuannya dari pada orang yang berliku-liku jalannya, sekalipun ia kaya." (28:6)
Kesehatan: sebuah kisah perempuan yang menderita pendarahan selama 12 tahun menggambarkan hal itu. "Di antaranya ada pula seorang wanita yang sudah dua belas tahun sakit pendarahan yang berhubungan dengan haidnya. Ia telah menghabiskan segala miliknya untuk berobat pada dokter, tetapi tidak ada yang dapat menyembuhkannya." (Lukas 8:43 BIS)
Karunia Allah: "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang."  (ay 20).
Keselamatan: "Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan." (Kisah Para Rasul 4:12)

Kita tentu sudah sering melihat bukti nyata dari poin-poin di atas baik dari pengalaman orang lain bahkan mungkin sudah kita alami sendiri. Ada banyak hal yang memang bisa kita beli dengan uang, tetapi ada banyak pula hal yang tidak akan mampu kita beli tidak peduli berapa banyak uang yang kita miliki sekalipun. Jelaslah uang bukan segalanya. Jika contoh-contoh di atas tidak bisa kita peroleh lewat harta, bagaimana mungkin kita bisa bahagia? Maka pepatah yang mengatakan "money can't buy happiness" pun benar adanya.

Daud bermazmur: "Ia hanyalah bayangan yang berlalu! Ia hanya mempeributkan yang sia-sia dan menimbun, tetapi tidak tahu, siapa yang meraupnya nanti." (Mazmur 39:7). Alangkah sayangnya apabila kita terus mengejar untuk menimbun harta sebanyak mungkin tetapi pada akhirnya semua itu sia-sia. Uang memang penting bagi kehidupan kita, saya setuju itu, tetapi bukanlah yang terpenting. Uang seharusnya menjadi hamba bagi kita, bukan sebaliknya kita menjadi hamba uang. Kita perlu bekerja mencari uang untuk mencukupi kebutuhan kita dan keluarga, juga untuk memberkati orang lain, tetapi bukan untuk ditimbun dan mengira bahwa uang mampu menjadi jawaban atas segalanya. Dalam pesannya kepada Timotius, Paulus tidak meminta Timotius untuk menyuruh orang-orang kaya agar meninggalkan harta mereka, tetapi ia meminta Timotius untuk mengingatkan mereka agar membangun sikap yang benar terhadap kekayaan yang mereka miliki. "Peringatkanlah kepada orang-orang kaya di dunia ini agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati." (1 Timotius 6:17). Selanjutnya ia berpesan "Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya." (1 Timotius 6:18-19). Ketika kita diberkati dengan harta, pakailah itu untuk memuliakan Tuhan lewat menyatakan kasih kita kepada orang lain. Itulah yang seharusnya kita lakukan, dan bukan berharap kita bisa memperoleh kebahagiaan sepenuhnya lewat timbunan harta yang kita miliki. Hari ini marilah kita miliki pandangan yang benar tentang uang sesuai apa yang dikatakan firman Tuhan. Dan janganlah melupakan Tuhan apabila kita sudah diberkati secara materi hari ini. Semua itu berasal dari Tuhan, oleh karena itu pakailah untuk memuliakanNya.

Money can't buy happiness, money is not everything

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 10, 2010

Tuhan Tidak Sabar

Ayat bacaan: Yesaya 30:18
====================
"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!"

tidak sabarTentu kita semua pernah merasakan jatuh cinta kepada seseorang. Ketika cinta ini berbalas dan sebuah hubungan cinta mulai terjalin, maka biasanya pasangan akan saling merindukan ketika sedang berjauhan. Normalnya setiap orang yang sedang jatuh cinta akan tidak sabar untuk berbuat yang terbaik bagi orang yang dicintainya. Hari ini sudah baik, besok harus lebih baik lagi. Menunjukkan perhatian, kepedulian, dorongan, bantuan, dan sebagainya akan terasa sebagai sebuah kewajiban dan bukan keterpaksaan. Secara umum itu akan kita rasakan apabila kita sedang jatuh cinta. Ada sebuah ungkapan yang mengatakan bahwa cinta bagaikan sebuah reaksi kimia yang tidak dapat dijelaskan secara logika. Bukankah kita cenderung mengesampingkan logika dan menuruti perasaan ketika sedang mengalami sebuah perasaan cinta seperti ini? Saling tidak sabar untuk menunjukkan kasih dan perhatian, itu akan menjadi warna tersendiri kepada pasangan yang saling mencintai.

Sebuah hubungan yang terjalin mesra dan manis antara Tuhan dan manusia pun bisa menghasilkan reaksi seperti itu. Kita tentu sudah mengenal sebuah ayat yang berbunyi seperti ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Bagi sebagian orang terkadang ayat ini agaknya sulit untuk diraih. Mengapa? Karena bagi mereka seringkali tangan Tuhan itu rasanya turun terlalu lama. Ketidaksabaran bisa membuat orang hilang pengharapan dan segera pergi meninggalkan Tuhan lalu mencari berbagai alternatif-alternatif lainnya yang seolah-olah mampu memberi jawaban. Seorang teman yang merasa tidak tahan lagi menghadapi persoalan pernah berkata, "Saya sudah capai menantikan Tuhan, tapi sepertinya Dia tidak peduli lagi kepada saya. Saya sudah mencoba untuk setia, tetapi Tuhan ternyata membiarkan saya." Benarkah demikian? Apakah cinta kita kepada Tuhan tidak berbalas? Apakah Tuhan memilih-milih siapa yang mau Dia kasihi dan siapa yang tidak? Tentu saja tidak demikian. Janji Tuhan berbunyi seperti ini: "..sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6b). Pertanyaan selanjutnya, apakah kasih Tuhan itu biasa-biasa saja untuk kita, dan memang berniat berlama-lama untuk berbuat sesuatu bagi kita?

Alkitab dengan jelas menyatakan tidak. Dalam banyak ayat kita mengetahui bahwa Allah adalah Sosok yang panjang sabar dalam memberikan kesempatan bagi kita untuk bertobat dan memperbaiki diri. Tetapi untuk masalah mengasihi manusia, justru Tuhan menunjukkan sikap ketidaksabaran. Lihatlah ayat berikut: "Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Ada kasih yang berbalas-balasan antara manusia dengan Tuhan ketika hubungan mesra terjalin. Tuhan mengatakan bahwa Dia tidak sabar menanti-nantikan saat untuk menyatakan kasihNya kepada kita. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "earnestly waits (expecting, looking and longing) to be gracious to you." Tuhan selalu ingin memberikan yang terbaik bagi kita semua, karena Dia sungguh-sungguh mengasihi kita dengan setia. Yang sering terjadi justru masalahnya ada di kita. Kita hanya menuntut tanpa melakukan bagian kita. Ketika kita berharap Tuhan menumpahkan kasihNya kepada kita, sudahkah kita melakukan bagian kita pula untuk mengasihi dan memberikan yang terbaik kepadaNya? Bisakah hubungan mesra terjalin jika hanya satu pihak yang peduli? "Berjalankah dua orang bersama-sama, jika mereka belum berjanji?" (Amos 3:3).

Selain ada kalanya masalah terletak dalam perbedaan antara waktu yang terbaik menurut kita dan menurut Tuhan, seperti yang bisa kita baca dalam Pengkotbah "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11), bisa pula kendala muncul dari diri kita sendiri yang masih berdosa. Dosa punya kemampuan untuk menghambat hubungan kita dengan Tuhan. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2-3). Dosa merupakan penghambat keselamatan, yang bisa membuat kelancaran hubungan kita dengan Tuhan terganggu.

Adalah penting bagi kita untuk memastikan bahwa kita sudah berjalan sesuai dengan firmanNya, tetap berada dalam koridor atau rel yang tepat dan menjauhkan diri kita dari berbagai bentuk dosa. Penting bagi kita untuk melakukan bagian kita sebelum kita menuntut atau mempersalahkan Tuhan dengan cepat. Ketika kita sudah melakukan hal ini, dan kita terus menanti-nantikan Tuhan lebih dari segalanya, maka Tuhan pun tidak akan sabar untuk menunggu lama untuk mencurahkan kasihNya kepada kita. Jika semua bagian kita sudah kita lakukan, kita akan melihat sendiri bagaimana tidak sabarnya Tuhan untuk melimpahkan kasih dan berbagai berkat-berkatNya bagi kita. Sebuah hubungan harmonis yang indah hanya akan muncul apabila kedua belah pihak sama-sama saling peduli dan saling mengasihi. Yang pasti, Tuhan sedang tidak sabar menanti-nantikan saat untuk mencurahkan kasihNya kepada kita. Bagaimana dengan kita? Apakah kita juga merasakan hal yang sama, tidak sabar untuk menyatakan betapa besar kita mengasihiNya?

Rasa cinta bisa menggerakkan siapapun untuk memberi yang terbaik, termasuk Tuhan

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...