=====================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."
Jika kita menginap di hotel, kita bisa meminta resepsionis atau front desk untuk membangunkan kita di pagi hari supaya tidak kebablasan tidur. Ini dikenal juga dengan istilah morning call atau wake up call. Ini adalah sebuah fasilitas yang tentunya sangat diperlukan karena jarang sekali kita membawa jam weker ketika menginap di hotel. Kita bisa tidur tenang dan nyenyak, tidak perlu khawatir karena kita tahu ada orang yang akan membangunkan kita di pagi hari. Sebuah morning call bukan saja berguna di hotel, tetapi ada waktu-waktu dimana kita akan memerlukannya juga dalam kehidupan kita. Kebiasaan saya yang tidur sampai larut dahulu sering dimanfaatkan teman saya untuk membangunkannya agar bisa melanjutkan tugas-tugas. Dengan mengetahui bahwa saya pasti akan meneleponnya sesuai waktu yang ia inginkan, ia pun bisa beristirahat sejenak sebelum kembali mengerjakan tugasnya. Sebagai manusia kita tidak mampu hidup sendirian. Dalam kehidupan kerohanian kita pun demikian. Kesadaran bahwa kita tidak diciptakan sendirian, we are not made to live alone, penting untuk kita miliki dalam menjalani kehidupan kita. Hidup ini penuh perjuangan, termasuk pula kehidupan rohani kita yang harus terus berjuang melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya. Segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi ketika melewati hari demi hari ini tentu sangat melelahkan dan selalu berpotensi membuat kita menyerah dan putus asa. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar bahwa kita tidak boleh berjuang sendirian. Kita harus menghadapinya bersama-sama dengan rekan-rekan seiman yang bisa saling mendukung, saling bantu, saling menasihati, menegur dan menguatkan. Penulis Ibrani mengingatkan hal ini dengan jelas. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Apakah itu di gereja, persekutuan dan sebagainya, itu akan sangat berguna untuk dipakai sebagai sarana untuk menjalankan prinsip saling di atas. Kita akan lebih kuat apabila kita bertumbuh bersama-sama.
Selalu saja ada alasan yang bisa kita pakai untuk melewatkan waktu-waktu persekutuan. Banyak tugas, sibuk, lelah, kurang sehat, atau hujan akan menggoda kita untuk melewatkannya. Padahal kita akan kehilangan banyak hal apabila kita melewatkan sekali saja. Pengkotbah meningatkan "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkotbah 4:9) Dan ayat selanjutnya berbunyi "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (ay 10). Tidak peduli sekuat apapun kita, kita selalu butuh kehadiran saudara-saudari seiman yang akan siap menolong kita bangkit ketika terjatuh, siap menguatkan di kala lemah, siap meringankan ketika kita berbeban, memberi penghiburan ketika kita berduka. Sebaliknya di lain waktu, kita pun harus siap melakukan ini ketika mereka membutuhkannya.
Semangat kebersamaan dalam bertumbuh ini pun sangat penting di mata Tuhan. Firman Tuhan berkata "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Hukum Kristus akan kita penuhi apabila kita peduli satu sama lain, saling bertolong-tolongan dalam segala hal. Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi individu-individu yang egois, kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling isi satu sama lain untuk menuju ke arah yang lebih baik. Lihatlah dalam kitab Kejadian, dengan tegas Tuhan berkata: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18). The Lord said "IT IS NOT GOOD." Ini artinya kebersamaan dalam bertumbuh, semangat kepedulian yang berisi prinsip saling bertolong-tolongan ini merupakan sebuah keharusan yang penting dalam kehendak Tuhan bagi kita. Ada saat dimana kita lemah, bukankah indah apabila kita tahu ada teman-teman yang tidak akan membiarkan kita jatuh? Atau sebaliknya, tidakkah indah jika kita bisa menjadi embun penyejuk dan berkat bagi teman kita yang sedang kesusahan?
Jangan lewatkan kesempatan untuk mengikuti persekutuan, jangan pula melewatkan beribadah bersama, memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirat Tuhan bersama-sama dengan keluarga dan saudara seiman. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dibalik itu, dan itu akan menutupi begitu banyak kelemahan kita sebagai manusia yang tidak sempurna. Temukan komunitas yang tepat bagi anda, temukan "habitat" anda, dan bertumbuhlah disana. Kelak anda akan merasakan betapa beruntung dan bahagianya memiliki sebuah komunitas yang erat. Let's give the morning call to each other.
Bersekutulah dengan sesama saudara seiman dalam pertumbuhan iman
Tahukah anda tentang "sea hearts"? Saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, karena saya juga baru mendengar jenis tumbuhan yang termasuk kacang-kacangan yang biasanya tumbuh di hutan-hutan tropis ini. Dari bentuknya saja sudah menarik, karena menyerupai bentuk hati. Tapi ada yang jauh lebih menarik daripada bentuknya, yaitu kisah perjalanan tanaman ini seperti yang baru saja saya baca di sebuah majalah. Sea heart tumbuh seperti tanaman merambat jauh di tempat tinggi. Tingginya curah hujan di hutan-hutan tropis sering membuat benih-benihnya jatuh dan terbawa arus sungai, lautan atau samudera. Dan inilah hebatnya: Benih sea heart ini bisa terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya mendarat di pantai, di sebuah tempat baru yang sangat jauh dari tempatnya semula. Di tempat baru ini benih sea heart akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.
Seorang bapak yang tinggal di dekat rumah saya sudah bekerja sebagai supir pada sebuah gereja selama lebih kurang 20 tahun. Pada suatu kali ia pun bersaksi bahwa apa yang ia lihat dan rasakan selama bekerja memberi kesan mendalam baginya. Menurut bapak itu, orang Kristen memang terbukti selalu mau menolong orang yang kesusahan tanpa memandang latar belakangnya. "Meski berbeda keyakinan, tapi saya tahu bagaimana hati mereka ketika menolong orang." katanya. Puji Tuhan jika ini dampak yang dirasakan oleh lingkungan sekitar terhadap kita orang-orang yang percaya kepada Kristus. Menjadi terang dan garam merupakan suatu panggilan Tuhan bagi kita semua yang harus tercermin dalam kehidupan kita secara nyata. Tetapi di sisi lain masih banyak pula diantara kita yang menunjukkan perilaku yang jelek, sehingga bukannya tertarik tetapi orang malah anti pati atau alergi ketika berada di dekat kita. Bukannya menjadi berkat, tetapi malah sebaliknya menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Berhati-hatilah agar jangan terjatuh ke dalam bentuk seperti ini, karena itu semua kelak harus kita pertanggungjawabkan. Mengabaikan atau melanggar panggilan Tuhan akan berbuah penyesalan yang pada saatnya nanti sudah terlambat untuk diperbaiki.
Saya rasa kita semua setuju bahwa amanat itu sangatlah penting. Sebuah amanat merupakan instruksi, pesan atau perintah yang berasal dari atas yang statusnya lebih tinggi dari kita. Sebuah amanat biasanya akan kita usahakan untuk lakukan betapapun beratnya. Katakanlah seandainya anda mendapat amanat dari presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negara kita, tidakkah anda segera bergegas untuk melakukannya? Jika kepada presiden yang notabene manusia juga sama seperti kita nilai amanat sudah begitu penting, bagaimana dengan amanat yang berasal dari Tuhan, Sang Pencipta segalanya? Jika amanat biasa saja sudah tinggi, bagaimana dengan sebuah amanat yang dikatakan sebagai Amanat Agung?
Bagaikan sayur tanpa garam, itu sebuah ungkapan yang sering kita pakai untuk menggambarkan sesuatu yang hambar atau kurang greget. Bayangkan jika tidak ada garam di dunia ini. Makanan yang kita makan pun akan terasa hambar, tidak berasa. Bukan cuma itu fungsi garam. Garam juga bisa dipakai untuk mengawetkan bahkan bisa pula berfungsi sebagai obat. Garam hanya akan bermanfaat apabila garam itu keluar dari botol penyimpanannya. Jika hanya disimpan, apa yang bisa diperoleh dari fungsi garam? Tidak ada. Garam itu malah akan menjadi rusak, mengeras dan tidak lagi berguna sama sekali. Apalagi jika garam menjadi tawar. Jika itu terjadi, artinya garam itu tinggal dibuang saja. Sekarang mari kita lihat terang. Terang hanya akan terlihat bercahaya apabila berada di tempat terbuka yang gelap. Jika anda meletakkan senter di dalam sebuah kotak kemudian menguncinya, maka terang itu tidak akan berarti apa-apa. Coba letakkan sebuah lentera di bawah kolong tempat tidur, kemudian bandingkan terangnya ketika anda menggantungnya di atas. Mana yang akan lebih bermanfaat untuk menerangi kegelapan? Kedua hal ini dipakai Yesus sebagai contoh bagaimana kita harus berlaku di dunia ini. Menjadi terang dan garam, itu panggilan Tuhan buat kita.
Setujukah anda jika dikatakan bumi yang kita diami saat ini sudah semakin tua? Seperti itulah memang kenyataannya. Begitu banyak masalah yang mulai timbul seperti bencana alam, es di kutub yang terus mencair, bahkan global warming menjadi sebuah masalah besar yang mampu menimbulkan malapetaka jika tidak cepat disikapi. Jangankan nanti, saat ini saja sudah banyak dampak yang timbul akibat global warming ini. Bumi semakin panas, perubahan cuaca sangat ekstrim dan sebagainya, dan itulah kenyataannya yang kita hadapi dari hari ke hari. Bumi memang semakin tua. Tetapi bukankah salah kita juga yang tidak mau memelihara bumi dengan baik sejak awal? Pencemaran lingkungan dari berbagai segi terus terjadi. Kecenderungan manusia mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan kerusakan lingkungan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manusia terus bersifat destruktif. Bagaimana dengan hewan? Sama saja. Semakin hari semakin banyak hewan yang terus terancam punah, bahkan tidak sedikit yang sudah tercatat punah sama sekali.
Sekali waktu saya pernah membaca ucapan seorang artis mengenai perceraiannya. "Sudah takdir Yang Maha Kuasa 'kali ya.." katanya ringan. Ketika itu saya terperangah. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih merencanakan kita untuk berpisah? Bukankah kehadiran Hawa dalam proses penciptaan manusia buat kali pertama pun karena kita dikatakan tidak baik jika sendirian saja? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan menghendaki sebuah perceraian terjadi? Tapi begitulah kita manusia yang cenderung mencari kambing hitam atas kesalahan yang kita buat sendiri. Jika menyalahkan orang lain saja sudah tidak baik, apalagi menyalahkan Tuhan. Begitu ringannya ia melempar kata tanpa menyadari konsekuensi dari perkataannya itu kelak bisa fatal akibatnya. Berhati-hati dalam berpikir, merasa dan berbicara itu sungguh penting. Tapi bukan itu yang ingin saya angkat hari ini menjadi bahan renungan, melainkan seperti apa sebenarnya panggilan Tuhan kepada setiap kita, anak-anakNya.