Friday, July 16, 2010

Morning/Wake Up Call

Ayat bacaan: Ibrani 10:25
=====================
"Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat."

morning callJika kita menginap di hotel, kita bisa meminta resepsionis atau front desk untuk membangunkan kita di pagi hari supaya tidak kebablasan tidur. Ini dikenal juga dengan istilah morning call atau wake up call. Ini adalah sebuah fasilitas yang tentunya sangat diperlukan karena jarang sekali kita membawa jam weker ketika menginap di hotel. Kita bisa tidur tenang dan nyenyak, tidak perlu khawatir karena kita tahu ada orang yang akan membangunkan kita di pagi hari. Sebuah morning call bukan saja berguna di hotel, tetapi ada waktu-waktu dimana kita akan memerlukannya juga dalam kehidupan kita. Kebiasaan saya yang tidur sampai larut dahulu sering dimanfaatkan teman saya untuk membangunkannya agar bisa melanjutkan tugas-tugas. Dengan mengetahui bahwa saya pasti akan meneleponnya sesuai waktu yang ia inginkan, ia pun bisa beristirahat sejenak sebelum kembali mengerjakan tugasnya.

Sebagai manusia kita tidak mampu hidup sendirian. Dalam kehidupan kerohanian kita pun demikian. Kesadaran bahwa kita tidak diciptakan sendirian, we are not made to live alone, penting untuk kita miliki dalam menjalani kehidupan kita. Hidup ini penuh perjuangan, termasuk pula kehidupan rohani kita yang harus terus berjuang melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya. Segala tantangan dan kesulitan yang kita hadapi ketika melewati hari demi hari ini tentu sangat melelahkan dan selalu berpotensi membuat kita menyerah dan putus asa. Oleh karena itulah kita seharusnya sadar bahwa kita tidak boleh berjuang sendirian. Kita harus menghadapinya bersama-sama dengan rekan-rekan seiman yang bisa saling mendukung, saling bantu, saling menasihati, menegur dan menguatkan. Penulis Ibrani mengingatkan hal ini dengan jelas. "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Apakah itu di gereja, persekutuan dan sebagainya, itu akan sangat berguna untuk dipakai sebagai sarana untuk menjalankan prinsip saling di atas. Kita akan lebih kuat apabila kita bertumbuh bersama-sama.

Selalu saja ada alasan yang bisa kita pakai untuk melewatkan waktu-waktu persekutuan. Banyak tugas, sibuk, lelah, kurang sehat, atau hujan akan menggoda kita untuk melewatkannya. Padahal kita akan kehilangan banyak hal apabila kita melewatkan sekali saja. Pengkotbah meningatkan "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka." (Pengkotbah 4:9)  Dan ayat selanjutnya berbunyi "Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (ay 10). Tidak peduli sekuat apapun kita, kita selalu butuh kehadiran saudara-saudari seiman yang akan siap menolong kita bangkit ketika terjatuh, siap menguatkan di kala lemah, siap meringankan ketika kita berbeban, memberi penghiburan ketika kita berduka. Sebaliknya di lain waktu, kita pun harus siap melakukan ini ketika mereka membutuhkannya.

Semangat kebersamaan dalam bertumbuh ini pun sangat penting di mata Tuhan. Firman Tuhan berkata "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Hukum Kristus akan kita penuhi apabila kita peduli satu sama lain, saling bertolong-tolongan dalam segala hal. Tuhan tidak menciptakan kita untuk menjadi individu-individu yang egois, kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang harus saling isi satu sama lain untuk menuju ke arah yang lebih baik. Lihatlah dalam kitab Kejadian, dengan tegas Tuhan berkata: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja." (Kejadian 2:18). The Lord said "IT IS NOT GOOD." Ini artinya kebersamaan dalam bertumbuh, semangat kepedulian yang berisi prinsip saling bertolong-tolongan ini merupakan sebuah keharusan yang penting dalam kehendak Tuhan bagi kita. Ada saat dimana kita lemah, bukankah indah apabila kita tahu ada teman-teman yang tidak akan membiarkan kita jatuh? Atau sebaliknya, tidakkah indah jika kita bisa menjadi embun penyejuk dan berkat bagi teman kita yang sedang kesusahan?

Jangan lewatkan kesempatan untuk mengikuti persekutuan, jangan pula melewatkan beribadah bersama, memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirat Tuhan bersama-sama dengan keluarga dan saudara seiman. Ada banyak manfaat yang bisa dipetik dibalik itu, dan itu akan menutupi begitu banyak kelemahan kita sebagai manusia yang tidak sempurna. Temukan komunitas yang tepat bagi anda, temukan "habitat" anda, dan bertumbuhlah disana. Kelak anda akan merasakan betapa beruntung dan bahagianya memiliki sebuah komunitas yang erat. Let's give the morning call to each other.

Bersekutulah dengan sesama saudara seiman dalam pertumbuhan iman

Thursday, July 15, 2010

Sea Hearts

Ayat bacaan: Pengkotbah 3:11
=========================
"Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir."

indah pada waktunyaTahukah anda tentang "sea hearts"? Saya tidak tahu apa bahasa Indonesianya, karena saya juga baru mendengar jenis tumbuhan yang termasuk kacang-kacangan yang biasanya tumbuh di hutan-hutan tropis ini. Dari bentuknya saja sudah menarik, karena menyerupai bentuk hati. Tapi ada yang jauh lebih menarik daripada bentuknya, yaitu kisah perjalanan tanaman ini seperti yang baru saja saya baca di sebuah majalah. Sea heart tumbuh seperti tanaman merambat jauh di tempat tinggi. Tingginya curah hujan di hutan-hutan tropis sering membuat benih-benihnya jatuh dan terbawa arus sungai, lautan atau samudera. Dan inilah hebatnya: Benih sea heart ini bisa terus mengambang dibawa arus selama berbulan-bulan, bahkan tidak jarang bertahun-tahun, mengikuti ombak naik dan turun, lautan yang tenang dan berombak bahkan badai sekalipun hingga akhirnya mendarat di pantai, di sebuah tempat baru yang sangat jauh dari tempatnya semula. Di tempat baru ini benih sea heart akhirnya akan tumbuh menjadi sebuah tanaman baru yang subur.

Ketika membaca fakta menakjubkan dari sebuah tanaman yang jarang kita dengar namanya ini saya pun terkesima. Betapa tidak, apa yang digambarkan oleh jenis kacang ini membawa saya berpikir kepada perjalanan hidup kita. Tidakkah kita sering harus menempuh perjalanan yang panjang, terkadang penuh riak dan gelombang dalam kehidupan kita, untuk sampai kepada sesuatu yang indah pada akhirnya?  Seringkali kesabaran kita diuji. Seringkali kita harus terus bersabar menantikan Tuhan, menantikan pertolonganNya, menantikan yang terbaik buat kita sesuai waktu Tuhan dan bukan waktu kita. Dan waktu Tuhan ini bisa jadi terasa sangat lama dalam ukuran waktu kita. Ada banyak orang yang tidak sabar akhirnya terjatuh kepada berbagai hal yang salah. Bersungut-sungut, patah semangat, hilang harapan, putus asa dan menyerah, atau bahkan mulai ragu dan mempertanyakan keberadaan Tuhan hingga menghujat Tuhan.

Maka ayat hari ini akan menegaskan kembali bagaimana ukuran waktu Tuhan dibanding waktu kita, bagaimana kemampuan kita yang terbatas ini seringkali sulit dipakai untuk memahami rencana Tuhan, Allah yang tidak terbatas. Ayatnya berbunyi demikian: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Meski kita sudah menjalani hidup benar sekalipun ada kalanya kita harus mengalami masa-masa menangis dalam penderitaan. Mengapa demikian? Karena ada rencana Tuhan yang indah, ada sebuah "grand design" yang telah dipersiapkan Tuhan di depan, dan penderitaan kita itu merupakan bagian dari prosesnya. It's a part of the process. Mungkin Tuhan sedang melatih kekuatan otot rohani kita, mungkin Tuhan sedang mengajarkan kita untuk berhenti mengandalkan kekuatan sendiri dan kembali mengandalkanNya, mungkin Dia sedang menguji iman kita apakah kita masih berada dalam keyakinan teguh ketika berada dalam kesusahan atau tidak, mungkin kita sedang diajar Tuhan untuk bersabar dan sebagainya. Tapi satu hal yang pasti, meski hidup kita tengah bergejolak hari ini, selama kita tetap berada dalam firmanNya dengan taat, selama kita tetap setia berpegang teguh kepadaNya, ada rencana Tuhan yang indah di balik semua itu. We are in the process of a grand concept, and in the end it's going to be beautiful.

Hidup ini tidak bisa selamanya baik. Ada kalanya kita harus masuk ke dalam kesukaran. Sebuah ayat yang bagi saya sangat indah menjelaskan konsep Tuhan akan hal ini. "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "TO EVERYTHING there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven." Selanjutnya kita bisa melihat berbagai "season" atau masa ini, dan tidak semuanya menyenangkan. Namun di ayat ke sebelas kita melihat tujuan Tuhan dibalik musim atau masa itu: "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya." Pada suatu ketika kita akan sampai kepada sesuatu yang indah yang telah dirancangkan Tuhan. Tidak peduli kita berada di musim apa saat ini, suatu ketika nanti kita akan mengalami rancanganNya yang indah. Karena itulah kita harus bersabar dan terus menanti-nantikan Tuhan dengan tekun.

Ada banyak tokoh Alkitab yang mengalami langsung masa-masa proses atau penantian ini. Berapa lama Abraham harus besabar hingga janji Tuhan untuk memberikannya seorang anak di masa tua digenapi dalam hidupnya? Berapa lama waktu yang dibutuhkan Nuh untuk membangun bahtera super besar, dimana setiap hari mungkin ia harus menghadapi cemooh orang-orang yang tidak mengerti tujuannya pada waktu itu? Berapa lama waktu yang dibutuhkan Daud untuk menanti waktu Tuhan untuk mengangkatnya sebagai raja sesuai janji Tuhan? Bagaimana dengan Musa? Yusuf? Ayub? Dan ada banyak lagi contoh yang bisa kita lihat mengenai hal ini. Meski dalam proses itu mungkin terasa berat bahkan menyakitkan, pada akhirnya semua itu indah pada waktunya. In the end it was beautiful.

Sebuah benih sea heart tidak memiliki kemampuan untuk bersabar, tetapi kita punya itu. Jika benih-benih itu sanggup menempuh jarak ribuan mil selama bertahun-tahun untuk ahirnya sampai kepada sebuah destinasi dan tumbuh dengan subur, mengapa kita tidak? Firman Tuhan mengajarkan kita demikian: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah  dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Sabarlah, dan terus bertekun, tetaplah dalam sukacita, karena ada rancangan yang indah dari Tuhan menanti kita di depan. Kita bisa meneladani seruan Daud berikut:"Bawalah aku berjalan dalam kebenaran-Mu dan ajarlah aku, sebab Engkaulah Allah yang menyelamatkan aku, Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari." (Mazmur 25:5). Ini sebuah bentuk kesabaran yang harus kita miliki. Sementara menanti, kita bisa belajar banyak. Belajar mengandalkan Tuhan, belajar menahan diri dan bersabar, belajar untuk tetap bersukacita meski dalam kesesakan, dan semua itu akan menumbuhkan iman kita lebih lagi. Mungkin saat ini kita sedang menghadapi ombak besar, tetapi seperti benih-benih sea heart itu, pada suatu saat kita akan sampai kepada tujuan yang indah. Karena itu bertahanlah, jangan menyerah dan raihlah apa yang direncanakan Tuhan untuk anda dan saya di depan sana.

Pakailah saat-saat sukar sebagai kesempatan untuk menumbuhkan iman

Wednesday, July 14, 2010

Panggilan Tuhan: Menjadi Serupa dengan Kristus

Ayat bacaan: Roma 8:29
======================
"Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara."

menjadi serupa dengan KristusSeorang bapak yang tinggal di dekat rumah saya sudah bekerja sebagai supir pada sebuah gereja selama lebih kurang 20 tahun. Pada suatu kali ia pun bersaksi bahwa apa yang ia lihat dan rasakan selama bekerja memberi kesan mendalam baginya. Menurut bapak itu, orang Kristen memang terbukti selalu mau menolong orang yang kesusahan tanpa memandang latar belakangnya. "Meski berbeda keyakinan, tapi saya tahu bagaimana hati mereka ketika menolong orang." katanya. Puji Tuhan jika ini dampak yang dirasakan oleh lingkungan sekitar terhadap kita orang-orang yang percaya kepada Kristus. Menjadi terang dan garam merupakan suatu panggilan Tuhan bagi kita semua yang harus tercermin dalam kehidupan kita secara nyata. Tetapi di sisi lain masih banyak pula diantara kita yang menunjukkan perilaku yang jelek, sehingga bukannya tertarik tetapi orang malah anti pati atau alergi ketika berada di dekat kita. Bukannya menjadi berkat, tetapi malah sebaliknya menjadi batu sandungan bagi banyak orang. Berhati-hatilah agar jangan terjatuh ke dalam bentuk seperti ini, karena itu semua kelak harus kita pertanggungjawabkan. Mengabaikan atau melanggar panggilan Tuhan akan berbuah penyesalan yang pada saatnya nanti sudah terlambat untuk diperbaiki.

Beberapa hari kemarin kita sudah melihat beberapa panggilan Tuhan kepada kita. Sebuah panggilan, atau bahkan amanat dari Tuhan adalah sesuatu yang harus kita lakukan. Ada sebuah panggilan yang lebih spesifik bagi kita semua orang percaya, yaitu untuk menjadi serupa dengan Kristus. Ini merupakan sebuah panggilan yang khusus ditujukan bagi kita. Ketika kita lahir baru dan menerima keselamatan, perhatikanlah hidup kita dari hari ke hari. Arah yang kita tuju seharusnya adalah semakin serupa dengan Kristus, meneladaniNya dalam segala aspek kehidupan kita dan bukan sebaliknya semakin bertolak belakang.

Tidak mudah memang untuk melakukannya. Tetapi ingatlah telah dikatakan bahwa di dalam Kristus kita telah diubahkan menjadi ciptaan baru. (2 Korintus 5:17). Sebagai ciptaan baru, seharusnya kita sudah meninggalkan perilaku dan kebiasaan buruk kita di masa lalu, dan sudah semestinya kita maju menapak hari depan dengan sebuah nafas baru bersama Kristus. Roh Kudus telah dianugerahkan untuk berdiam di dalam diri kita, membantu kita, menegur, mengingatkan dan membimbing kita untuk mengetahui apa yang baik dan tidak. Dengan ini semua sudah selayaknya kita terus berproses untuk semakin mendekati pribadi Kristus. Mencerminkan Kristus yang penuh kasih dalam hidup kita dan memancarkannya kepada orang-orang disekitar kita. Mari kita baca ayat berikut: "Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara." (Roma 8:29). Untuk apa Tuhan memilih kita? Ayat hari ini memberi jawabannya, yaitu untuk menjadi serupa dengan Kristus dan menjadi saudara-saudaraNya. Ini sebuah panggilan yang sangat spesifik untuk kita ketahui.

Kita bisa belajar dari keteladanan Kristus akan banyak hal. Kita tahu bagaimana ketaatanNya, penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan, kesabaran yang luar biasa, hal mengampuni dan tentu saja bagaimana besarnya kasih Kristus kepada manusia. Sebagai manusia kita akan sulit untuk berlaku seperti halnya Kristus apabila mengandalkan diri sendiri, tetapi sebagai ciptaan baru yang telah diubahkan dan telah menerima Roh Kudus untuk tinggal di dalam kita, seharusnya kita bisa terus berlatih dan bertumbuh untuk semakin lama semakin mendekati gambaran Kristus yang sesungguhnya. Yesus tidak melawan ketika dihina, disiksa bahkan hingga mati di atas kayu salib. Dia terus taat terhadap kehendak Bapa sambil terus memanjatkan pengampunan kepada mereka yang jahat. Lihatlah ketika Yesus masih sanggup berdoa bagi para penyiksanya. "Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah  mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Lalu lihat bagaimana pesan Yesus mengenai kedalaman arti sebuah persahabatan. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13). Kata-kata ini tidak hanya sekedar pesan, tetapi Yesus sendiri telah membuktikannya secara langsung. Perhatikan bagaimana hati Kristus tetap tergerak oleh rasa belas kasihan kemanapun Dia pergi. Semua ini merupakan cerminan pribadi Kristus yang harus kita tuju. Kita harus terus berusaha untuk bisa mencapai tingkatan seperti itu. Menjadi serupa dengan Kristus, itulah yang diinginkan Tuhan bagi kita.

Firman Tuhan hadir lewat Yohanes yang bunyinya demikian: "Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup." (1 Yohanes 2:6). Tidak ada gunanya kita mengaku sebagai orang Kristen apabila kita tidak mencerminkan pribadi Kristus dalam kehidupan kita. Menjadi serupa dengan Kristus akan mampu mengarahkan kita untuk masuk ke dalam Kerajaan dan kemuliaan Tuhan. Dengan menerima Kristus kita "telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya." (Kolose 3:9-10). Artinya, dari hari ke hari seharusnya kita terus mengalami pembaharuan dan semakin mendapatkan gambaran yang benar akan Kristus. Dengan demikian kita terus berproses untuk semakin menyerupaiNya.

Sejak awal Tuhan menciptakan kita dengan tujuan mulia. Kita diciptakan sesuai gambar dan rupaNya, dan hanya kitalah yang dirancangNya seperti demikian. Dan kini setelah diselamatkan, kita dipanggil untuk menjadi serupa dengan gambaran AnakNya, Yesus Kristus, menjadikan Yesus sebagai yang sulung, dan kita meneladani Dia dengan serius dan sungguh-sungguh. Itu panggilan spesifik yang diberikan Tuhan kepada setiap orang percaya. Mungkin berat, karena dikatakan bahwa untuk mengikuti Yesus kita harus siap "menyangkal diri dan memikul salib" (Matius 16:24), tetapi jika itu panggilan Tuhan, mengapa tidak?Mungkin tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi proses berkesinambungan ke arah itu harus kita mulai sejak awal. Teladani Yesus dalam segala yang kita perbuat atau kerjakan, dalam segenap aspek kehidupan kita, dan teruslah lebih baik lagi hingga kita semakin lama semakin mendekati gambaranNya.

Menjadi serupa dengan Kristus adalah panggilan yang secara khusus ditujukan kepada kita

Tuesday, July 13, 2010

Panggilan Tuhan: Menjalankan Amanat Agung

Ayat bacaan: Matius 18:19-20
========================
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."

amanat agungSaya rasa kita semua setuju bahwa amanat itu sangatlah penting. Sebuah amanat merupakan instruksi, pesan atau perintah yang berasal dari atas yang statusnya lebih tinggi dari kita. Sebuah amanat biasanya akan kita usahakan untuk lakukan betapapun beratnya. Katakanlah seandainya anda mendapat amanat dari presiden sebagai pemegang kekuasaan tertinggi di negara kita, tidakkah anda segera bergegas untuk melakukannya? Jika kepada presiden yang notabene manusia juga sama seperti kita nilai amanat sudah begitu penting, bagaimana dengan amanat yang berasal dari Tuhan, Sang Pencipta segalanya? Jika amanat biasa saja sudah tinggi, bagaimana dengan sebuah amanat yang dikatakan sebagai Amanat Agung?

Sebuah panggilan penting dari Tuhan hadir lewat Yesus Kristus sesaat sebelum Dia naik kembali ke tahtaNya di surga. Yesus menyampaikan sebuah tugas khusus bagi kita semua para pengikutNya, dan tugas itu berbunyi seperti ini: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Inilah yang kemudian kita kenal dengan Amanat Agung alias the Great Commission. Kita diselamatkan memang secara cuma-cuma karena kasih Tuhan yang begitu luar biasa besarnya. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu melakukan apa-apa, hanya duduk diam berpangku tangan tanpa mempedulikan keselamatan orang lain. Tuhan sudah menegaskannya secara langsung. Ini bahkan merupakan pesan terakhir Yesus sebelum Dia meninggalkan permukaan bumi ini. Artinya, ini pesan yang luar biasa pentingnya. Sebuah amanat yang agung yang harus kita jalankan karena Tuhan sendiri yang memberikannya.

Mengapa harus ada amanat agung? Ini berkaitan dengan begitu besarnya kasih Allah kepada dunia ini. Lihatlah sebuah ayat sangat indah yang sudah sangat kita kenal berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Kedatangan Yesus adalah bentuk besarnya kasih Allah, bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya. (ay 17). Tuhan ingin tidak satupun dari kita yang gagal mendapatkan keselamatan. "..karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (2 Petrus 3:9). Begitu pentingnya agenda ini di mata Tuhan sehingga AnakNya yang tunggal pun rela Dia karuniakan kepada kita. Sebagai duta-duta Tuhan di muka bumi ini, kitapun seharusnya memiliki kerinduan yang sama. Itu sudah sepantasnya, apalagi Tuhan sendiri telah memberikan langsung sebuah amanat agung berkenaan dengan hal itu untuk kita laksanakan.

Begitu banyak alasan yang biasanya dikemukakan orang agar tidak perlu repot-repot melayani. Belum cukup umur, terlalu tua, terlalu sibuk, kurang sehat, tidak pandai bicara, tidak memiliki keahlian apa-apa, tidak berani dan sebagainya. Banyak orang mengira bahwa mewartakan kabar gembira artinya harus pandai berkotbah di depan umum. Padahal tidaklah demikian. Tidaklah kebetulan jika kita dikaruniai talenta-talenta, bakat atau keahlian tertentu. Tidak pula kebetulan jika kita ditempatkan dimana kita berada hari ini. Kita seharusnya memakai itu semua sebagai sarana dan tempat untuk menjalankan amanat agung. Menjadi terang dan garam (Matius 5:13-14), mengikuti panggilan Tuhan untuk hidup kudus dan bukan cemar. (1 Tesalonika 4:7). Apa yang bisa kita lakukan untuk menjalankan amanat agung itu sesuai dengan talenta kita? Pikirkanlah dan jika sudah menemukan panggilan itu, lakukanlah. Paulus mengambil sebuah perumpamaan yang cukup menarik dalam 1 Korintus 12. Tubuh kita, katanya, bukan terdiri hanya atas satu organ tetapi atas banyak organ. Bayangkan jika semua tubuh kita hanya tersusun atas mata, tentu aneh bahkan mengerikan bukan? Tetapi Tuhan menciptakan kita dengan sangat lengkap. Berbagai organ itu bersatu sesuai fungsi masing-masing dan membuat kita mampu melakukan banyak hal. Seperti itu pulalah kita bisa berfungsi di tempat atau posisi masing-masing. "Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya." (1 Korintus 12:18). Kita semua adalah tubuh Kristus dan masing-masing adalah anggotanya (ay 27), dan kita semua "bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah kepala." (Efesus 4:15). Dan "dari pada-Nyalah seluruh tubuh, --yang rapih tersusun dan diikat menjadi satu oleh pelayanan semua bagiannya, sesuai dengan kadar pekerjaan tiap-tiap anggota--menerima pertumbuhannya dan membangun dirinya dalam kasih." (Efesus 4:16). Jika satu bagian tidak bekerja, jika ada yang timpang, maka pertumbuhan itu pun tidak akan sempurna. Oleh karena itulah sebagai bagian dari tubuh Kristus sudah seharusnya kita menjalankan amanat agung ini sesuai dengan kapasitas kita masing-masing dimana kita ditempatkan.

Jika Tuhan tidak mengasihi kita, Dia tidak perlu mengaruniakan Kristus untuk mati demi menebus kita. Tuhan bisa saja menghukum dunia ini sampai hancur luluh dalam sekali tepuk seandainya Dia mau. Tapi Tuhan sangat mengasihi kita, masterpieceNya yang dibuat khusus seperti gambar dan rupaNya sendiri. Dengan tegas firman Tuhan berkata "Dan Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa, sesudah itu barulah tiba kesudahannya." (Matius 24:14). Injil mutlak harus diberitakan keseluruh dunia, menjangkau sebanyak mungkin jiwa-jiwa. Dan itu merupakan garis tugas kita, sesuai dengan kemampuan dan talenta yang telah diberikan Tuhan.

Tidak ada alasan bagi kita untuk menolak menjalankan sebuah amanat agung yang berasal langsung dari Tuhan. Jangan sampai perumpamaan tentang talenta yang tercatat dalam Matius 25:14-30 itu tidak kita indahkan, dan kemudian kita berakhir seperti hamba dengan satu talenta di dalam perumpamaan itu, dicampakkan ke dalam kegelapan yang paling gelap dimana hanya ada ratap tangis dan kertak gigi. Bukan hanya talenta yang telah disiapkan Tuhan, tetapi lihatlah ayat bacaan di atas. Bukankah Yesus sendiri sudah menjanjikan akan menyertai kita senantiasa dalam menjalankannya? Kalau begitu kurang apa lagi? Panggilan Tuhan lewat amanat agungnya sesungguhnya jelas, dan itu berlaku bagi kita semua anak-anakNya. Kita ada di tempat kita saat ini bukanlah kebetulan. Talenta, keistimewaan, bakat atau keahlian yang diberikan Tuhan juga bukanlah sembarangan. Jangan sia-siakan itu semua, pakailah untuk mewartakan berita keselamatan dan muliakanlah Allah dengan itu semua sebagai bagian dari menjalankan panggilanNya dan sebagai bentuk kasih kita kepadaNya.

Lakukan amanat agung sesuai dengan kapasitas yang kita miliki

Monday, July 12, 2010

Panggilan Tuhan: Menjadi Terang dan Garam

Ayat bacaan: Matius 5:13-14
=========================
"Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi."

terang dan garamBagaikan sayur tanpa garam, itu sebuah ungkapan yang sering kita pakai untuk menggambarkan sesuatu yang hambar atau kurang greget. Bayangkan jika tidak ada garam di dunia ini. Makanan yang kita makan pun akan terasa hambar, tidak berasa. Bukan cuma itu fungsi garam. Garam juga bisa dipakai untuk mengawetkan bahkan bisa pula berfungsi sebagai obat. Garam hanya akan bermanfaat apabila garam itu keluar dari botol penyimpanannya. Jika hanya disimpan, apa yang bisa diperoleh dari fungsi garam? Tidak ada. Garam itu malah akan menjadi rusak, mengeras dan tidak lagi berguna sama sekali. Apalagi jika garam menjadi tawar. Jika itu terjadi, artinya garam itu tinggal dibuang saja. Sekarang mari kita lihat terang. Terang hanya akan terlihat bercahaya apabila berada di tempat terbuka yang gelap. Jika anda meletakkan senter di dalam sebuah kotak kemudian menguncinya, maka terang itu tidak akan berarti apa-apa. Coba letakkan sebuah lentera di bawah kolong tempat tidur, kemudian bandingkan terangnya ketika anda menggantungnya di atas. Mana yang akan lebih bermanfaat untuk menerangi kegelapan? Kedua hal ini dipakai Yesus sebagai contoh bagaimana kita harus berlaku di dunia ini. Menjadi terang dan garam, itu panggilan Tuhan buat kita.

Setelah kemarin kita melihat panggilan Tuhan bagi kita untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, hari ini kita melihat sebuah panggilan yang merupakan keharusan untuk dimiliki dan dilakukan oleh anak-anakNya. Tidak ada alasan bagi kita untuk menyimpan berkat Tuhan untuk diri sendiri, dan tidak ada alasan pula bagi kita untuk tidak menjaga sikap, tingkah laku, perbuatan dan perkataan kita seperti apa yang digariskan Tuhan. Kenyataannya ada banyak orang Kristen yang berpikir bahwa beribadah setiap hari Minggu itu sudah cukup, lalu dari Senin sampai Sabtu hidupnya sama sekali tidak mencerminkan terang dan garam bagi orang-orang disekitarnya. Mereka lupa bahwa kita dituntut untuk menjadi saluran berkat, menjadi duta-duta Kerajaan Surga di muka bumi ini. Yesus menggambarkan panggilan ini dengan terang dan garam. "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi." (Matius 5:13-14). Garam hanya akan berguna ketika keluar dari botol, sedangkan terang hanya akan bercahaya jika diletakkan pada tempat yang tepat. "Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu." (ay 15). Dan inilah seruan Yesus yang harus kita amalkan: "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (ay 16).

Mengapa kita harus menjadi terang? Sebab segala tentang Allah adalah terang. Kedatangan Kristus sendiri adalah sebagai Terang yang memberikan cahaya keselamatan dan pengharapan kepada kita, manusia yang sudah terlalu lama berselubung kegelapan. "Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12) Kita sebagai orang-orang percaya tentunya harus pula menghidupi Terang ini. Bukan demi nama baik, pamor, popularitas kita, tetapi untuk memuliakan Bapa di surga seperti yang dikatakan Yesus dalam Matius 5:16 di atas. Panggilan menjadi terang ini secara jelas juga bisa kita baca dalam Yesaya. "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2). Ketika Terang Kristus, terang dunia ada di dalam diri kita, bagian kita selanjutnya adalah untuk menyinari dunia yang gelap. Ini tidak bisa kita lakukan apabila kita terus menerus berperilaku kurang terpuji, terus terpengaruh atau ikut-ikutan dalam arus kesesatan dunia, membiarkan diri kita untuk jatuh berulang-ulang dalam dosa atau terus hidup dalam kecemaran. Dalam 1 Tesalonika 4:7 kita baca "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." Dan ini adalah seruan yang sangat penting. Tanpa memastikan hidup kita kudus, taat dan patuh seturut kehendak Allah kita tidak akan mampu menjadi terang dan garam bagi dunia. Bukannya menjadi teladan dimana Tuhan bisa dipermuliakan, tapi kita malah menjadi batu sandungan dan contoh buruk. Ini harus kita hindari, karena salah satu panggilan Tuhan menghendaki kita agar mampu menjadi terang dan garam, yang mampu menerangi dan memberi banyak manfaat bagi banyak orang yang hidup kesulitan di dunia yang kejam ini.

Kita harus menjaga setiap aspek kehidupan kita untuk bisa menjadi bukti nyata bagaimana sebentuk kehidupan yang dipimpin oleh Kristus. Yesus mengingatkan: "Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang." (Yohanes 12:36). Yesus telah mengangkat kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terang Tuhan. Di dalam Dia kita telah menjadi ciptaan baru. Oleh karena itu kita harus benar-benar menyikapi hidup sebagai anak-anak terang. Paulus berkata "Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran." (Efesus 5:8-9). Dan lihatlah apa yang kita peroleh. "Tetapi jika kita hidup di dalam terang sama seperti Dia ada di dalam terang, maka kita beroleh persekutuan seorang dengan yang lain, dan darah Yesus, Anak-Nya itu, menyucikan kita dari pada segala dosa." (1 Yohanes 1:7). Hidup dalam terang bukan berarti menyimpannya untuk diri sendiri. Ingatlah bahwa terang tidak akan berarti apa-apa jika tidak ditempatkan pada posisi yang tepat.

Menjadi terang dan garam bagi dunia merupakan sebuah panggilan Tuhan untuk kita lakukan. Kita tidak akan bisa melakukannya apabila pola kehidupan yang kita pertontonkan kepada orang sama sekali tidak mencerminkan kasih Kristus sama sekali. Bagaimana mungkin kita bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup jahat, kerap berkelahi, berlaku curang dan sebagainya? Kehidupan kita dalam keluarga akan dilihat oleh banyak orang. Kehidupan di tempat kerja, ketika belajar, bermasyarakat dan sebagainya akan selalu diperhatikan orang. Sudahkah kita menjadi contoh yang baik? Kita harus mulai memakai kehidupan kita sendiri sebagai terang dan garam untuk memuliakan Tuhan, dan itulah salah satu panggilan Tuhan yang penting buat kita. Jadilah terang yang bercahaya dan garam yang bermanfaat dan menyempurnakan bagi banyak orang.

Menjadi terang dan garam merupakan panggilan Tuhan bagi kita

Sunday, July 11, 2010

Panggilan Tuhan: Menguasai Bumi Beserta Isinya

Ayat bacaan: Kejadian 1:26
========================
"Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi."

menguasai bumiSetujukah anda jika dikatakan bumi yang kita diami saat ini sudah semakin tua? Seperti itulah memang kenyataannya. Begitu banyak masalah yang mulai timbul seperti bencana alam, es di kutub yang terus mencair, bahkan global warming menjadi sebuah masalah besar yang mampu menimbulkan malapetaka jika tidak cepat disikapi. Jangankan nanti, saat ini saja sudah banyak dampak yang timbul akibat global warming ini. Bumi semakin panas, perubahan cuaca sangat ekstrim dan sebagainya, dan itulah kenyataannya yang kita hadapi dari hari ke hari. Bumi memang semakin tua. Tetapi bukankah salah kita juga yang tidak mau memelihara bumi dengan baik sejak awal? Pencemaran lingkungan dari berbagai segi terus terjadi. Kecenderungan manusia mementingkan diri sendiri dan tidak mempedulikan kerusakan lingkungan berlangsung dari satu generasi ke generasi berikutnya. Manusia terus bersifat destruktif. Bagaimana dengan hewan? Sama saja. Semakin hari semakin banyak hewan yang terus terancam punah, bahkan tidak sedikit yang sudah tercatat punah sama sekali.

Jika ada banyak manusia yang bingung mengenai apa tujuan mereka ada di muka bumi ini, salah satunya ternyata sudah dilanggar dengan berbagai hal di atas. Lihatlah ketika Tuhan menciptakan manusia buat kali pertama. Di sana "job description" buat kita sudah jelas disebutkan oleh Tuhan sendiri. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (Kejadian 1:26). Tugas ini semakin dipertegas dalam ayat selanjutnya: "Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (ay 28). Berkuasalah atas ikan-ikan di laut, burung-burung di udara, atas ternak, atas binatang melata yang merayap di darat, atas seluruh bumi beserta isinya. Bukan cuma berkuasa, tapi juga dikatakan taklukkan alias tundukkan. Itu panggilan buat kita. Pesan Tuhan ini penting, tetapi sayangnya apa yang kita lakukan justru bertolak belakang dari apa yang menjadi panggilan bagi kita sesungguhnya dari Tuhan.

Begitu banyak orang yang menyalah artikan "menguasai dan menaklukkan" ini. Mereka mengira bahwa menguasai berarti mempergunakan segala sesuatu untuk kepentingan diri sendiri seenak hati saja tanpa mempedulikan dampak yang ditimbulkan. Kata berkuasa dan menaklukkan diartikan sebagai menghabiskan tanpa tanggung jawab. Padahal seharusnya tidak seperti itu. Seharusnya menguasai dan menaklukkan ini berkaitan erat dengan tanggung jawab untuk menjaga dan melestarikan apa yang telah dititipkan Tuhan kepada kita. Bukankah Tuhan sudah berkata bahwa segala yang diciptakanNya itu baik adanya? (Kejadian 1:12). Semua yang ada di muka bumi ini adalah milik Tuhan, dan itu bisa kita baca dalam Mazmur 24:1 yang berbunyi: "Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya." Dan kepada kita diberi otoritas untuk menguasainya seperti yang kita baca dalam Kejadian 1 ayat 26 dan 28 tadi. Artinya Tuhan memberi otoritas kepada kita untuk menentukan bagaimana masa depan bumi ini kelak. Apakah menjadi semakin hancur, atau tetap indah seperti apa yang diinginkan Tuhan ketika Dia menciptakan sejak awal, semua itu tergantung kita.

Bacalah Mazmur 104 maka kita akan mendapatkan bagaimana keindahan alam itu diciptakan Tuhan secara luarbiasa. Dan semua itu merupakan karya nyata Tuhan, sebuah bukti kebesaran Tuhan yang tidak dapat disangkal. Dalam surat Roma kita baca "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Alangkah keterlaluannya kita merusak apa yang diciptakan dengan baik oleh Tuhan, padahal kita sejak awal sudah dipanggil untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, artinya menjaga kelestarian, keindahan dan kesinambungan hidup segala mahluk hidup di bumi.

Seperti yang kita baca kemarin, firman Tuhan berkata "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Bukan mencemarkan lingkungan, tetapi melakukan segala sesuatu yang kudus yang berkenan di mata Tuhan. Menghancurkan lingkungan dan merusak bumi jelas tidak termasuk di dalamnya. Lebih lanjut lagi kita bisa melihat sebuah ayat pada surat Efesus, "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus, untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan apa yang telah direncanakan Allah sejak awal. Ini yang seharusnya menguasai pola pikir kita, dan bukan sebaliknya.

Kerusakan memang telah terjadi dan butuh bertahun-tahun untuk memperbaikinya, itupun jika seluruh manusia di bumi ini mau bersatu secara kompak untuk mulai melakukan hal itu. Tetapi ingatlah bahwa meski kita hanya sebagian yang sangat kecil dari komunitas dunia, kita tetap bisa mulai melakukan sesuatu. Mungkin dari halaman kita, dari lingkungan kita, dan biarlah itu menjadi awal dari sebuah pergerakan kepedulian lingkungan yang akan terus membesar. Salah satu panggilan Tuhan yang penting adalah untuk menguasai dan menaklukkan bumi beserta isinya, menjaga kelestarian dan keindahannya agar bisa dinikmati oleh anak cucu kita kelak. Mulailah dari sekarang. You can make a change.


Bumi beserta isinya merupakan ciptaan Tuhan yang baik dan kita diberi otoritas untuk menjaganya

Saturday, July 10, 2010

Hidup Kudus Sesuai Panggilan

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

hidup kudusSekali waktu saya pernah membaca ucapan seorang artis mengenai perceraiannya. "Sudah takdir Yang Maha Kuasa 'kali ya.." katanya ringan. Ketika itu saya terperangah. Bagaimana mungkin Tuhan yang penuh kasih merencanakan kita untuk berpisah? Bukankah kehadiran Hawa dalam proses penciptaan manusia buat kali pertama pun karena kita dikatakan tidak baik jika sendirian saja? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan menghendaki sebuah perceraian terjadi? Tapi begitulah kita manusia yang cenderung mencari kambing hitam atas kesalahan yang kita buat sendiri. Jika menyalahkan orang lain saja sudah tidak baik, apalagi menyalahkan Tuhan. Begitu ringannya ia melempar kata tanpa menyadari konsekuensi dari perkataannya itu kelak bisa fatal akibatnya. Berhati-hati dalam berpikir, merasa dan berbicara itu sungguh penting. Tapi bukan itu yang ingin saya angkat hari ini menjadi bahan renungan, melainkan seperti apa sebenarnya panggilan Tuhan kepada setiap kita, anak-anakNya.

Ayat bacaan hari ini sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya panggilan Tuhan itu. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan apa yang cemar, apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah firman Tuhan yang keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika kita dianggap menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan Roh Kudus sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Serius bukan?

Dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan tidak layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi agenda kita selanjutnya menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.

Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatana di dalamnya apabila kita hanya mempergunakan kekuatan kita sendiri. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, Roh Kudus, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk kekudusan.

Tanpa kekudusan kita tidak akan bisa melihat Tuhan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan? Jika belum, mulailah hari ini juga. Berhentilah menyalahkan Tuhan ketika kita sulit terlepas dari kebiasaan buruk atau melakukan hal yang jahat di mata Tuhan. Tuhan tidak pernah menghendaki kita untuk tercemar, untuk tersesat dan binasa. Jika AnakNya yang tunggal saja sudah Dia anugerahkan demi keselamatan kita, itu artinya keselamatan kita merupakan agenda yang sangat penting bagi Tuhan. Mulailah sebentuk hidup kudus hari ini juga.

Kita tidak layak menerima kemuliaan Tuhan tanpa kekudusan, karenanya hiduplah kudus sesuai panggilanNya

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...