Sunday, January 17, 2010

Kepala, Bukan Ekor

Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

kepala, bukan ekorBerhasil dalam pekerjaan, karir meningkat, itu impian semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya. Tentu bahagia rasanya jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha apapun kita selalu ingin berhasil. Dalam kehidupan pun demikian. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, kita ingin jadi anak yang berhasil di mata orang tua, kita ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kegagalan. Namun ada banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal. Bangkrut lagi, dililit hutang lagi, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya mendapatkan promosi, tapi malah degradasi ke tingkat yang lebih rendah. Sebagai proses? Bolehlah. Tapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita. Dari perjalanan hidup Yusuf kita bisa melihat fakta menarik mengenai posisi kepala ini.

Sebelum kita melihat hidup Yusuf, mari kita lihat dulu ayat yang menyatakan keinginan Tuhan untuk posisi kita semua. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.." (Ulangan 28:13). Sampai disini dulu, kita sudah melihat bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita. Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata, jika kita ada Tuhan menyertai kita. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja , tapi dalam kekelaman yang terkelam sekalipun Tuhan tetap ada. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan. Sekarang mari kita lihat kisah Yusuf.

Sejak kecil Yusuf berbeda. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan Yusuf pun mulai mengalami rangkaian penderitaan dalam hidupnya. Apalagi ketika ia menyampaikan mimpinya kepada mereka. Ia pun hampir dibunuh. Selamat dari pembunuhan bukan berarti selamat sepenuhnya, karena ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Yusuf bisa saja mati secara perlahan di sana. Dia selamat dari sumur, tapi itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia justru dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.

Dalam posisi budak, apa yang bisa menjadi prestasi? Itu pikiran orang biasa. Tapi Yusuf berbeda. Dikatakan disana Yusuf selalu berprestasi dan ia pun mendapat promosi untuk dapat tinggal di rumah mewah tuannya Potifar. Bagaimana bisa demikian? Alkitab mencatat demikian: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (39:2). Kelihatannya Daud tidak memiliki mental yang bersungut-sungut. Ia menjalani "profesi"nya sebagai budak dengan baik, apapun yang ia buat berhasil, sehingga dalam posisi ekor sekalipun ia bisa menjadi kepala. Mengapa bisa demikian? Sebab Tuhan menyertai Yusuf. Ini bagian pertama.

Perjalanan Yusuf menjadi lebih ringan? Tidak juga. Masalah berikutnya datang. Ia digoda oleh istri Potifar, tapi Yusuf dengan tegas menolak. Dia tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat karena ia mau hidup taat. Kedagingannya mungkin mau, tapi rohnya ternyata kuat. Yusuf pun berkata "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Terus menerus ditolak, lama-lama beranglah istri Potifar. Ia pun memfitnah Yusuf, sehingga Yusuf dilemparkan ke penjara. Posisi makin anjlok, kini Yusuf berstatus bukan lagi budak, tapi terpidana. Apa yang terjadi? Ternyata mental Yusuf tetap sama. Ia tidak mengeluh atau menghujat siapapun termasuk Tuhan, tapi kelihatannya ia tetap menunjukkan sikap luar biasa, sikap yang tentu berkenan di hadapan Tuhan. Kembali kita menjumpai ayat yang mirip dengan ayat 39:2 di atas, hanya saja kali ini terjadi di dalam penjara. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23). Kesulitan boleh bertambah, tapi kenyataannya Daud tetap menjalaninya dengan sebaik yang ia sanggup. Kembali kita lihat bahwa dalam keadaan di bawah (ekor), yang lebih bawah dari budak, ternyata Yusuf tetap bisa menjadi kepala. Mengapa? "Karena Tuhan menyertai dia, dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."

Kisah ini tidak lagi asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan, yang rasanya tidak akan pernah bisa terulang kembali. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia lebih peduli untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Dan itu hanya mungkin jika Yusuf mampu memandang dari kacamata Allah.

Dari sumur gelap, penjara, dan akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku, namun ternyata dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang membuat segala yang ia lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di ujung ekor sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala? Syarat itu telah diberikan dengan jelas. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14). Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika: (1) kita mendengarkan perintah Tuhan (2) menjadi pelaku-pelaku firman yang setia (3) tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan (4) hanya menyembah Allah (huruf besar) saja, dan bukan allah lain (huruf kecil). Bukankah rangkaian kisah Yusuf menggambarkan ke 4 hal ini menjadi pedoman hidupnya secara penuh? Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, tidak mencoba alternatif lain untuk selamat, ia tidak kepahitan, ia tidak bersungut-sungut, ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syarat. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua syarat-syarat yang telah Dia tetapkan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita

Saturday, January 16, 2010

Domba Butuh Gembala

Ayat bacaan: Markus 6:34
====================
"Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka."

Domba butuh GembalaSosok yang memiliki figur pemimpin sangatlah dibutuhkan di semua tempat kerja. Figur seperti inilah yang biasanya sanggup mengendalikan bawahan, mengatasi berbagai konflik, ketegangan, situasi yang panas dan sebagainya. Seringkali orang yang mampu melakukan ini bukan soal siapa yang menjadi atasan, bukan soal kepintaran atau kecerdasan, dan bukan pula berbicara mengenai sosok yang menakutkan karena bersifat emosional, suka membentak atau marah. Sosok pemimpin ini biasanya akan segera dipatuhi meski belum mengeluarkan banyak kata. Kehadirannya saja bisa langsung membawa suasana yang berbeda. Figur seperti ini dalam keluarga pun diperlukan. Lihat saja banyaknya ibu yang mengeluh sulit mengatur anak-anaknya jika sang ayah sedang pergi ke luar kota untuk sementara waktu. Atau jika kebetulan di keluarga sosok ibu yang lebih punya figur pemimpin, maka ayah akan kelimpungan ketika si ibu tidak di rumah untuk sementara waktu. Sadar atau tidak, demikianlah manusia yang cenderung untuk selalu membutuhkan figur pemimpin atau panutan di sekitarnya. Tanpa itu, keadaan bisa jadi tidak terkendali karena masing-masing orang akan bertindak seenaknya. Itu sudah menjadi kebiasaan manusia secara umum.

Kita seringkali digambarkan sebagai domba dalam alkitab. Mengapa domba, bukan kuda, ular dan sebagainya? Domba diambil sebagai kiasan karena sifat dan keadaan domba yang banyak kemiripan dengan manusia. Domba adalah sosok yang rentan, lemah dan selalu butuh gembala yang mampu melindungi mereka dari berbagai ancaman. Domba dipandang sebagai santapan lezat bagi para predator seperti singa, harimau, beruang dan sebagainya. Mereka empuk dan lemah sehingga gampang untuk disergap dan disantap. Seperti itu pula manusia di mata iblis. Iblis akan terus berkeliling mencari mangsa bagaikan singa yang tengah mengincar domba. Siapa yang bisa melindungi domba? Tentu gembalanya. Ini sama halnya dengan kita yang lemah. Begitu banyak celah yang bisa menjadi pintu masuk bagi iblis untuk menyesatkan kita. Apalagi di jaman sekarang dimana kita "diserang" dari berbagai sisi oleh penyesatan-penyesatan lewat berbagai media, yang tidak selalu kasat mata. Tanpa sosok Gembala, bisa dibayangkan betapa berbahayanya hidup kita.

Sebuah catatan menarik ditulis oleh Markus dalam salah satu perjalanan pelayanan Kristus di muka bumi ini. Pada suatu kali Yesus mendarat di sebuah tempat. Begitu ia menjejakkan kakiNya turun dari perahu, ia langsung disambut begitu banyak orang. "Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka." (Markus 6:34). Ayat ini berbicara bukan hanya mengenai jumlah, tapi sepertinya apa yang Yesus lihat adalah sekumpulan orang yang terlihat sedemikian rupa sehingga hatiNya langsung tergerak oleh belas kasihan. Markus mencatat hal ini terlihat seperti sekumpulan domba yang tidak mempunyai gembala. Tidak teratur, tidak terurus, tanpa arah yang pasti, berjalan dalam ketidakjelasan, itu mungkin yang mereka rasakan dari sekumpulan orang itu. Puji Tuhan, dalam keadaan seperti itu mereka bertemu dengan sosok Gembala yang baik! Yesus langsung menyambut mereka dan mulai mengajarkan banyak hal. Dan di tempat itulah kemudian kita melihat mukjizat Yesus memberi makan 5000 orang (belum termasuk anak-anak dan wanita) hanya dengan lima roti dan dua ikan. Mukjizat luar biasa yang sudah sangat kita kenal ini bermula dari belas kasih Yesus melihat orang-orang yang bagaikan domba tanpa gembala. 

Tuhan Yesus adalah Gembala yang baik. Nubuatan Yesaya menyatakan hal itu seperti berikut: "Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati." (Yesaya 40:11). Dan di masa Yesus, kita mengetahui rangkaian firman yang menggenapi nubuatan ini dalam Matius 10:1-21. "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku." (ay 14-15). Bukan cuma untuk domba-domba yang berada dalam penggembalaan-Nya saja yang Dia perhatikan, namun juga dari "kandang" lain. "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (ay 16). Hal ini berbicara mengenai orang-orang yang belum diselamatkan, yang juga memperoleh kesempatan yang sama untuk diselamatkan dan dituntun agar tidak binasa. Jika kita lihat dari perumpamaan tentang domba yang hilang, hal ini akan terlihat lebih jelas lagi. "Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetanggan serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan." (Lukas 15:4-6). Dengan penuh kasih dan sukacita Sang Gembala akan menggendong domba itu di bahuNya. Seperti itulah sosok Gembala yang baik, yang sangat peduli kepada keselamatan domba-domba yang ada bersamaNya.

Adalah salah besar jika kita menganggap kita serba bisa dan tidak membutuhkan siapapun selain diri kita sendiri. Manusia sesungguhnya lemah dan tidak memiliki banyak kemampuan untuk mampu bertahan sendirian, seperti halnya domba. Setiap saat bahaya bisa mengancam, setiap saat kebinasaan bisa hadir di depan mata kita, setiap saat hidup kita bisa porak poranda dirusak oleh tipu muslihat iblis. Kita tidak akan kuat jika berjalan sendirian. Kita butuh figur yang mampu melindungi kita dari "cakar" iblis, dan Yesus sudah menyediakan diriNya sebagai Gembala kita yang baik. Kita butuh Kristus sebagai Gembala. Apakah hari ini anda merasa letih, berbeban berat atau menjalani hidup seolah tanpa orientasi yang jelas? Apakah anda merasa hidup anda bagaikan berada dalam kapal yang terombang-ambing tanpa arah yang pasti, atau bahkan mulai karam? Kemiskinan, kelemahan, sakit dan berbagai masalah lainnya yang seolah tanpa solusi? Datanglah pada Kristus, Sang Gembala yang baik, Gembala yang sejati. Dia peduli, Dia mengasihani kita dan selalu rindu untuk menyelamatkan kita dan menuntun kita dengan kasihNya bagaikan gembala yang menjaga kehidupan domba-dombanya. Dalam visi Daud kita bisa melihat bagaimana sosok Gembala ini menuangkan kasih dan penjagaannya. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:1-3). Padang rumput hijau, air yang tenang dan menyegarkan, itu berbicara mengenai berkat berlimpah dan kesehatan/kesegaran. Tidak hanya sampai disitu, tapi ketika kita berada dalam mara bahaya pun Tuhan siap untuk melindungi kita. "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (ay 4). Tuhan siap membela kita di hadapan lawan, melimpahkan kita dengan berkat-berkatNya (ay 5), hingga Daud bisa mengambil kesimpulan yang sangat manis seperti ini: "Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa." (ay 6). Itulah janji Gembala. Jika demikian, berjalanlah senantiasa bersamaNya, biarkan Tuhan membimbing kita melewati hari demi hari, dengan demikian tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Sadari bahwa kita bak domba yang lemah, yang setiap saat terancam bahaya serius, tapi puji Tuhan, karena Dia akan selalu ada bersama kita sebagai Gembala yang sanggup menuntun kita dengan selamat!

Domba itu lemah dan butuh perlindungan gembalanya agar bisa selamat

Friday, January 15, 2010

Tuhan adalah Gembalaku

Ayat bacaan: Mazmur 23:1-3
=======================
"TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya."

Tuhanlah gembalakuBanyak orang yang akan segera membuka kitab Mazmur ketika butuh penghiburan. Mazmur adalah sebuah kitab yang menyenangkan untuk dibaca karena hampir seluruh isinya menggambarkan hubungan erat antara para penulisnya dan Tuhan. Ada begitu banyak kata-kata penghiburan yang mampu menguatkan kita kembali bisa dijumpai di kitab Mazmur yang cukup tebal itu. 150 pasal penuh dengan tulisan-tulisan yang seringkali puitis, dan mestinya mampu menyentuh segala sendi kehidupan kita. Tidaklah mengherankan jika John Calvin dalam bukunya "Heart Aflame" mendeskripsikan Mazmur sebagai "an anatomy of all the parts of the soul." alias "anatomi dari seluruh bagian jiwa." Mengapa demikian? Ini alasannya "since every experience, every emotion, all the heights and depths, all the joys and sorrows, all the mysteries of human life, are here." Segala yang berhubungan dengan sisi kehidupan kita disinggung di dalam kitab Mazmur. Sebagian besar dari Mazmur akan bermuara kepada satu nama yang sangat tidak asing lagi, yaitu Daud. Ada setidaknya 73 bagian yang mencatat Daud sebagai penulisnya. Selain tulisannya sendiri, berbagai bagian dalam Mazmur juga dikumpulkan atas usahanya. Itulah sebabnya kitab Mazmur lebih sering diasosiasikan dengan Daud. Kita bisa melihat bagaimana hubungan yang sangat intim antara Daud dan Tuhan di dalam Mazmur. Apakah Daud orang yang tidak pernah mengalami masalah? Tentu saja tidak. Justru dia mengalami begitu banyak pergumulan, tapi begitu sering pula kita melihat bagaimana ia tidak membiarkan masalah itu mengganggu sukacitanya, karena ia percaya Tuhan akan selalu berada bersamanya dalam keadaan apapun. Dalam salah satu tulisannya dia menyatakan bahwa Tuhan adalah gembalanya. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:1-3) Inilah yang hendak saya angkat dalam renungan hari ini.

Pernahkah anda berpikir mengapa Daud menyebutkan Tuhan sebagai Gembala? Saya berpendapat bahwa itu tidak terlepas dari pengalamannya menggembalakan domba milik ayahnya sejak kecil. Ia anak yang tidak dianggap pantas untuk diurapi sebagai raja oleh Samuel. Tugasnya hanya satu: menggembalakan domba. Tapi ternyata Daudlah yang menjadi raja Israel bahkan dikatakan sebagai yang terbesar. Pengalamannya menggembala domba ternyata merupakan sebuah persiapan tersendiri mengenai bagaimana menjadi pemimpin yang baik, dan juga menjadi kesempatan untuk mengalami Tuhan secara langsung.

Mari kita lihat kata-kata Daud ketika ia merasa terbakar mendengar provokasi yang dilakukan Goliat dan tentara-tentara Filistin lainnya. Pada saat itu semua tentara Israel termasuk Saul merasa ketakutan karena mereka jelas kalah besar dan kalah lengkap dibandingkan Goliat, tentara Filistin dan seluruh peralatan perang mereka yang lengkap, termasuk perisai dan baju besi pelindung yang secara detail disebutkan dalam 1 Samuel 17:4-7. Tapi ada perbedaan nyata memandang itu semua antara Daud dan para prajurit Israel lainnya. Apa yang membedakan adalah sebuah pengalaman pribadi bersama Tuhan. Itu kelebihan Daud yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dan uniknya semua itu ia alami dalam masa-masa dirinya menjadi seorang gembala domba. Daud berkata: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya." (ay 34-35). Bayangkan anak kecil yang mampu melawan singa atau beruang demi melindungi domba-domba gembalaannya! Jika ia mampu menghadapi singa dan beruang, mengapa harus takut kepada Goliat? "Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (ay 36). Pertanyaannya sekarang, bagaimana mungkin seorang anak kecil yang lemah secara fisik mampu melakukan itu sendirian? Daud memberikan jawabannya. "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37). Daud mungkin lemah, tapi Tuhan tidak! Tuhanlah yang melepaskan dirinya dari semua bahaya. Ia tahu bahwa ia berada bersama Tuhan dalam pekerjaannya, dan Tuhan memberkati pekerjaannya yang mungkin tidak ada apa-apanya di mata orang. Ketika yang lain dengan gagah menjadi tentara, ia hanyalah seorang gembala domba. Tapi lihatlah bagaimana penyertaan Tuhan mampu memberikan perbedaan. Justru dalam pekerjaan "sederhana" nya itu ia mengalami penyertaan Tuhan secara nyata, secara pribadi. Dan itu membuat cara pandang Daud berbeda dari orang Israel lainnya. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Daud berhasil mengalahkan Goliat hanya dengan senjata sederhana, batu dan umban (ketapel).

Saya membayangkan inilah yang diingat Daud ketika ia tengah memuji Tuhan dan merenungkan kebaikanNya. Dan ayat emas yang saya angkat sebagai ayat bacaan hari ini pun lahir. "TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya." (Mazmur 23:1-3). Daud ingat akan pengalamannya sebagai gembala, yang rela mengorbankan nyawa demi melindungi domba-dombanya. Dia bekerja melindungi domba-domba yang dituntunnya agar selamat. Bukankah Tuhan pun demikian? Penyertaan Tuhan terbukti mampu melindunginya dari cakaran singa dan beruang,  juga dari raksasa Goliat yang berperalatan lengkap, dan itu merupakan sebuah pengalaman pribadi tersendiri yang luar biasa. Itulah sebabnya Daud bisa berkata bahwa Tuhan adalah gembalanya. Di kemudian hari Yesus kembali menyatakan dengan sangat jelas mengenai hal ini. "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya." (Yohanes 10:11). Apa yang membedakan antara gembala yang baik dan hanya sekedar orang yang menjalankan tugas saja? "..seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu." (ay 12-13). Sedangkan seorang gembala yang baik akan mengenal domba-dombanya dan sebaliknya domba-domba pun mengenalnya. (ay 14). Dan seperti itulah bentuk dari gembala yang baik, dimana Yesus bukan hanya sekedar menyatakan tapi telah pula membuktikan diriNya sebagai Gembala yang baik. "Sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku." (ay 15). Perkataan Yesus ini menggambarkan hubungan tepat seperti apa yang dialami Daud, dan inilah yang berlaku juga kepada kita hari ini. Kita adalah domba-domba yang lemah, yang rentan, namun bersama Gembala yang baik, kita tidak perlu khawatir. Tuhanlah gembalaku, takkan kekurangan aku.

Apakah kekhawatiran hari ini masih menyita hidup anda? Apakah berbagai tekanan terus melemahkan anda? Apakah pekerjaan anda hari ini terasa begitu biasa-biasa saja dan kelihatan rendah di mata orang lain? Dari pengalaman Daud kita bisa berkaca bahwa Tuhan bisa memakai itu semua secara luar biasa. Tuhan tetap bisa pakai itu agar kita bisa mengalamiNya secara pribadi. Sesungguhnya mengalami Tuhan secara pribadi mampu memberikan cara pandang yang berbeda. Ayub sendiri akhirnya mengakui bahwa lewat penderitaanlah ia akhirnya mengenal Tuhan secara pribadi, bukan lagi atas apa kata orang semata. "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau." (Ayub 42:5). Kita akan bisa mengakui bahwa Tuhan adalah Gembala yang baik, yang tidak akan membiarkan kita kekurangan, ketika kita sudah mengalami sendiri pengalaman-pengalaman indah bersama Tuhan. Dan itu bisa terjadi lewat pekerjaan kecil sekalipun, lewat berbagai penderitaan dan masalah yang mungkin sedang kita alami. Oleh karena itu jangan kecil hati, jangan patah semangat, tapi bersyukurlah senantiasa. Alamilah penyertaan Tuhan secara pribadi, hingga pada suatu ketika kita bisa dengan keyakinan penuh berkata: "Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku."

THE LORD is my Shepherd, I shall not lack

Thursday, January 14, 2010

Kasih Persaudaraan

Ayat bacaan: Ibrani 13:1
=======================
"Peliharalah kasih persaudaraan!"

kasih persaudaraan, filadelfiaSiapa yang mau menjamu makan malaikat? Saya yakin ada banyak orang yang akan berebutan melakukannya. Tapi jika pertanyaannya diganti menjadi menjamu makan anak jalanan, gelandangan atau pengemis, tentu orang akan berpikir dua kali. Jangankan memberi makan pengemis, untuk mengenal sesama saudara seiman yang sama-sama berjemaat di gereja yang sama saja mungkin susah. Setiap minggu bertemu, tapi menyapa atau tersenyum saja sulit. Di gereja saja begitu apalagi jika berpapasan di luar. Kasih merupakan hukum yang terutama yang menjadi dasar utama dari kekristenan, yang secara luas harus menyentuh siapapun yang berada di sekitar kita tanpa terkecuali. Kita mengasihi Tuhan dengan segenap diri kita, kita mengalirkan kasih Tuhan kepada semua orang di sekitar kita. Tapi bagaimana mungkin itu bisa kita lakukan jika terhadap saudara-saudara kita seiman saja sudah bukan main sulitnya? Masih ada begitu banyak sekat-sekat duniawi yang selalu kita sematkan kepada perorangan, golongan atau kelompok tertentu. Kaya-miskin, suku, budaya, bahasa, bangsa, status, latar belakang, usia dan sebagainya, seringkali menjadi hambatan bagi kita untuk bisa saling kenal dan saling mengasihi. 

Mengapa saya membuka renungan hari ini dengan menjamu malaikat? Tidakkah contoh itu terlalu ekstrim? Sama sekali tidak. Saya memakai itu sebagai pembuka karena itulah salah satu bagian penting dari sebuah kasih persaudaraan seperti yang ditulis oleh Penulis kitab Ibrani. Sang Penulis membukanya dengan seruan "Peliharalah kasih persaudaraan!" (Ibrani 13:1). Kasih Persaudaraan (Filadelfia, gabungan dari kata Fhileo yang artinya kasih tulus tanpa menuntut imbalan/balasan dan Delfho yang artinya ikatan persaudaraan yang kuat) merupakan pesan yang sangat penting untuk dimiliki oleh semua gereja dan umat Tuhan di muka bumi ini. Penulis Ibrani kemudian melanjutkannya dengan "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (ay 2). Begitu pentingnya kita untuk memelihara kasih persaudaraan sehingga dengan melakukannya bisa jadi kita tengah menjamu malaikat-malaikat. Betapa luar biasa membayangkan adanya malaikat yang berkeliaran di sekitar kita. Tidak perlu mencari sosok berkilauan dengan sayap putih bersih, karena mereka bisa jadi tampil seperti orang biasa, bahkan dalam wujud yang tertolak bagi dunia sekalipun. Tapi apakah kita perlu memastikan dulu bahwa mereka adalah malaikat baru kita tergerak untuk menolongnya? Tentu tidak. Karena apakah mereka malaikat atau bukan, pesan kasih persaudaraan tetap berlaku sama terhadap kita semua yang percaya kepada Kristus.

Menyinggung nama Filadelfia, kita akan teringat kepada sebuah gereja yang disebutkan dalam kitab Wahyu. Dalam Wahyu 3:7-13 ada pesan yang diberikan secara khusus kepada jemaat di Filadelfia. Lihatlah dari rangkaian pesan kepada tujuh jemaat, hanya ada dua jemaat yang tidak mendapat teguran, yaitu Filadelfia dan Smirna. Kepada jemaat Filadelfia pesan Tuhan sungguh indah. "Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi." (ay 10). Seperti itulah janji Tuhan kepada jemaat dan umatNya yang menerapkan bentuk kasih persaudaraan dalam kehidupannya.

Bentuk kasih persaudaraan ini bisa pula kita teladani dari gaya hidup gereja mula-mula. Dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 kita bisa melihat bagaimana cara hidup jemaat yang pertama. Mereka dikatakan selalu tekun dalam pengajaran dan persekutuan, selalu berkumpul, bersama-sama memecah roti dan berdoa (ay 42). Tidak hanya itu, tapi mereka semua bersatu, tanpa memandang latar belakang, status sosial dan sebagainya. Bahkan dikatakan "segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing." (ay 44-45). Tidaklah heran jika gereja itu berkembang sangat pesat. Perikop ini dimulai dengan pertobatan ribuan jiwa (ay 41) dan diakhiri dengan berkat Tuhan yang terus menambah jumlah mereka dengan orang-orang yang diselamatkan. (ay 47). Salah satu hal penting yang membuat mereka diberkati secara luar biasa seperti itu adalah karena mereka memegang teguh kasih persaudaraan dan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup.

Sebuah gereja dan jemaat yang diberkati haruslah memiliki kasih persaudaraan sebagai landasan utamanya. Jangan menjadi sebuah ikatan yang eksklusif, hanya terbatas pada dinding dan kotak-kotak/sekat-sekat yang justru semakin bertolak belakang dari pesan kasih tanpa pamrih seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri. Pada kenyataannya alkitab bercerita begitu banyak mengenai kasih, dan ini menggambarkan betapa pentingnya bagi kita anak-anakNya untuk selalu hidup dalam kasih. Kasih persaudaraan merupakan sebuah bukti apakah kita sudah mengenal Tuhan yang kita sembah atau belum. Karena dikatakan demikian: "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:7-8). Dan ingatlah pula bahwa "Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita. Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia." (ay 16).

Seperti yang dipesankan kepada jemaat Filadelfia, sesungguhnya kedatangan Kristus tidak akan lama lagi. Oleh karena itu kita harus benar-benar hidup dalam kasih persaudaraan ini agar mahkota yang telah kita pegang tidak sampai lepas dari genggaman kita. (Wahyu 3:11). Pada saat kedatangan Kristus, semua bangsa akan dikumpulkan dan dipisahkan bagai memisahkan kambing dengan domba. Dan kepada domba (mengacu kepada orang-orang yang diselamatkan) Sang Raja akan berkata: "Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku." (Matius 25:34-36). Itulah bentuk kasih persaudaraan yang tidak memandang latar belakang apapun. Hari ini marilah kita belajar menjadi gereja/jemaat yang memiliki kasih persaudaraan dalam diri kita. Sapalah kiri dan kanan anda, dan ulurkan salam sebagai sesama saudara yang saling mengasihi. Hilangkan sekat-sekat yang merintangi kasih untuk dapat bertumbuh, hiduplah senantiasa dalam kasih persaudaraan.

Jadilah gereja/jemaat yang memiliki kasih persaudaraan yang kuat di dalamnya

Wednesday, January 13, 2010

Sadar Sebaik-baiknya

Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
==========================
"Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!"

sadar sebaik-baiknya, sepenuhnyaJam weker berbunyi di pagi hari membangunkan kita, dan sebuah hari baru pun hadir. Biasanya kita tidak akan langsung bangun dan sadar. Kita masih akan malas-malasan, tergeletak setengah sadar untuk sementara waktu sebelum akhirnya kita terbangun sepenuhnya dan berdiri untuk memulai pagi hari kita dengan saat teduh, mandi, sarapan dan bersiap-siap untuk memulai aktifitas. Tentu anda berharap anda sudah sepenuhnya sadar ketika anda menjalani hari bukan? Karena apa yang anda kerjakan tidak akan maksimal jika anda lakukan masih dalam keadaan setengah sadar seperti baru bangun. Hari ini saya terbangun dengan mendapatkan pesan ini dalam hati saya. Seperti halnya kita harus benar-benar bangun dulu sebelum memulai aktifitas setiap pagi, demikian pula sebenarnya kehidupan kita. Alangkah rawannya jika kita menjalani hidup dalam keadaan setengah sadar, karena ada banyak godaan dan jebakan yang akan selalu mengintip kita setiap saat. Sedikit saja tidak awas, kita bisa tersandung dan jatuh, terjebak masuk ke dalam perangkap dosa.

Keinginan daging bisa setiap saat menjatuhkan kita. Iblis selalu berjalan berkeliling mencari mangsa. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Ini berpotensi menjatuhkan kita jika kita lengah. Apabila roh kita lemah, maka daginglah yang akan berkuasa, dan lemahnya daging akan membuat kita rentan untuk diserang oleh rupa-rupa jebakan. Oleh karena itu Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41, Markus 14:38). Berjaga-jaga tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang setengah sadar. Itulah sebabnya Paulus mengingatkan kita agar bisa sadar sepenuhnya, dengan sebaik-baiknya. "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!" (1 Korintus 15:34). Ini sesungguhnya sebuah pesan yang penting agar kita jangan terus terlena, terbuai dalam berbagai kesesatan. Jangan setengah sadar atau sadar ala kadarnya, tapi sadarlah dengan benar-benar, dengan sebaik-baiknya mulai sekarang.

Firman Tuhan berkata demikian: "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang!" (Roma 13:12). Kita harus benar-benar menjaga hidup dengan terhormat seperti yang biasa dilakukan orang pada siang hari dan bukan hidup terbuai dalam mimpi atau keadaan tidak sadar. "Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (ay 13). Tapi sebaliknya "kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (ay 14). Kita harus menyadari dengan sungguh-sungguh bahwa pada hakekatnya lewat Kristus kita telah dijadikan ciptaan baru (2 Korintus 5:17) dan telah diberikan status baru sebagai anak Allah. "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya." (Yohanes 1:12). Kita harus menyadarkan kembali diri kita bahwa itulah kenyataannya, bahwa kita telah dianugerahi kebenaran dan diberi kedudukan yang benar bersama Tuhan. Itu harus kita jaga dengan baik, dan itu hanya bisa kita lakukan jika kita sadar dengan sebaik-baiknya dan berhenti berbuat dosa, yang akan semakin menjauhkan kita dari Tuhan dan segala kebenaranNya.

Sebagai manusia baru kita seharusnya tidak lagi berbuat seperti orang-orang yang tidak mengenalNya. Kita harus sadar, "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:22-24). Kita harus mampu "menanggalkan semua beban dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1). Dosa siap memperhambakan kita. Iblis siap menjebak kita masuk ke dalam jeratnya kapan saja. Tapi jika kita tetap berada dalam ketaatan, hidup benar dan kudus sesuai firman Tuhan, dalam keadaan yang benar-benar sadar, kita akan mampu terhindar dari itu semua. Bukan karena kekuatan kita, tapi Roh Allah lah yang akan memampukan kita. Dia siap untuk itu. Tetapi itu semua tidak akan bisa terjadi jika kita belum mampu mengenal secara benar-benar siapa jati diri kita sebenarnya di dalam Kristus.

Ketika jam weker anda berdering pagi ini, jangan hanya berusaha untuk bangun dan memulai hari yang baru untuk melakukan rutinitas, tetapi bangunlah pula dengan kesadaran penuh yang sebaik-baiknya bahwa kita telah dijadikan dalam kebenaran Tuhan dan diberi kedudukan tinggi sebagai anak-anak Allah. Sadari ini sepenuhnya. Miliki tekad hari ini untuk berjalan dalam kesadaran penuh sesuai kedudukan kita yang benar di hadapan Allah. Hiduplah lebih dekat lagi kepadaNya dalam setiap langkah yang kita tempuh dalam yang benar-benar sadar. Anda merasa khawatir akan hari ini? Petrus mengingatkan "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Sesungguhnya segala rancangan yang terbaik sudah Tuhan berikan. Dia siap mengangkat kita keluar dari segala permasalahan, tapi itu tidak akan terjadi jika kita belum menyadari dengan benar hakekat sebenarnya mengenai siapa diri kita. Hendaklah kita semua sadar dengan sebaik-baiknya siapa kita di hadapan Tuhan agar kita bisa menerima segala berkatNya secara utuh.

Jangan sekedar sadar, tapi sadarlah dengan sebaik-baiknya siapa jati diri kita di hadapan allah

Tuesday, January 12, 2010

Mengandalkan Tuhan

Ayat bacaan: Yeremia 17:7
=====================
"Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!"

mengandalkan Tuhan, menang bersama TuhanAdakah orang yang mati-matian berusaha untuk kalah? Tentu tidak ada. Semua orang berusaha mengeluarkan seluruh kemampuannya untuk berhasil atau untuk menang. Jika tidak, untuk apa berusaha? Saya ingat waktu saya kecil dulu saya pernah begitu banyak mengeluh. Rupanya ayah saya kesal mendengar semua omelan dan keluhan saya, dan ia pun berkata: "hidup ini tidak pernah mudah! Kalau mau berhasil ya harus berusaha!" Itu saya ingat sampai sekarang dan membentuk saya menjadi seorang yang tidak pernah bisa diam berpangku tangan menghadapi apapun. Saya boleh punya banyak kekurangan, tapi kemalasan tidak pernah saya ijinkan untuk menguasai saya sejak saat itu. Masalahnya, seringkali meskipun kita sudah mati-matian berusaha, kita sudah mengerahkan segenap daya upaya, kekuatan dan kepintaran kita, namun hasilnya tetap saja sia-sia. Gagal lagi, kalah lagi. Usaha itu penting. Ketekunan itu penting. Latihan itu penting. Tapi semua itu hanyalah akan sia-sia apabila kita tidak meletakkan itu semua kepada Tuhan. Sudah berulangkali hal itu saya buktikan sepanjang hidup saya, dan ketika saya memilih untuk bertobat, lahir baru dan menerima Yesus, sayapun merubah paradigma saya, bahwa bukan kekuatan saya yang menentukan, tapi penyertaan Tuhan. Dan puji Tuhan, semua itu benar adanya hingga hari ini.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana kunci kemenangan Daud. Kita sudah melihat semuanya itu mengarah pada pribadi Daud yang bersikap selayaknya seorang anak kecil yang menggantungkan seluruh harapannya hanya kepada Tuhan. Ia boleh menjadi raja terbesar Israel, ia boleh menjadi orang yang sangat berpengaruh, ternama, berkharisma dan berkuasa di dunia, namun di hadapan Tuhan ia tampil dengan jujur, apa adanya. Jika ia mau menari, ia menari buat Tuhan tanpa mempedulikan statusnya. "Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan." (2 Samuel 6:14). Bahkan meski mendapat cibiran sekalipun ia tetap menari dan meloncat-loncat seperti anak kecil yang sedang senang di hadapan Tuhan. (ay 16). Daud tahu bahwa mengandalkan manusia itu adalah sia-sia belaka. Ia berkata "Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita." (Mazmur 60:13-14). Itu bentuk gaya hidup Daud yang ternyata berkenan bagi Tuhan. Dan ketika ia berperang, ia selalu memperoleh kemenangan. Bukan karena kehebatannya, tapi karena "TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang." (2 Samuel 8:6b,14b).

Itu kunci kemenangan Daud. Kunci yang sama berlaku pada tokoh-tokoh alkitab lainnya. Daniel dikatakan memiliki kepintaran, kearifan dan segala kelebihan lainnya bukan karena kehebatannya sendiri, namun jelas dikatakan karena "ia mempunyai roh yang luar biasa" di dalam dirinya. (Daniel 6:3). Ketaatannya bahkan menyelamatkannya dari maut di kandang singa. Yusuf? Setali tiga uang. Meski terus menghadapi pergumulan dan penderitaan, namun di balik itu semua ia mendapatkan berbagai keberhasilan. Bukan karena kebetulan beruntung, bukan karena kehebatannya, tapi dikatakan karena Tuhan menyertai Yusuf. Ini dikatakan berkali-kali seperti misalnya dalam Kejadian 39:2 yang berbunyi "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." Itu baru sebagian kecil dari banyaknya tokoh yang telah membuktikan bagaimana dahsyatnya jika kita hidup bersama dengan Tuhan. Kita boleh masuk ke dalam pergumulan dan peperangan, namun Tuhan menjanjikan kita bukan untuk kalah melainkan untuk mencapai kemenangan demi kemenangan. Dan kuncinya adalah dengan mengandalkan Tuhan secara penuh. Bukan sebagai alternatif terakhir tapi sebaliknya sebagai yang terutama. Tidak heran jika tokoh-tokoh alkitab pada akhirnya mencapai kemenangan yang gemilang. Itu semua bukan karena kuat dan hebat mereka, namun semua itu adalah karena iman mereka yang percaya dan terus mengandalkan Tuhan dalam situasi dan kondisi apapun.

Kita bisa melihat lebih jelas mengenai hal ini lewat kitab Yeremia. Apa yang terjadi kepada orang yang memilih untuk mengandalkan kekuatannya sendiri atau manusia? "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!" (Yeremia 17:5). Ini merupakan peringatan yang sangat keras. Seperti apa jadinya orang yang terus memilih untuk bergantung kepada kekuatan dirinya sendiri dan manusia lain? "Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk." (ay 6). Sebaliknya, lihatlah apa yang akan terjadi kepada orang yang mengandalkan Tuhan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (ay 7). Kepada orang seperti ini dikatakan bahwa "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8). Sungguh sebuah pemandangan yang kontras terlihat kepada orang yang mengandalkan Tuhan dan dengan yang mengandalkan kekuatannya sendiri atau bergantung kepada manusia. Dalam kitab Yesaya pun kita mendapatkan pesan yang sama. "Celakalah orang-orang yang pergi ke Mesir minta pertolongan, yang mengandalkan kuda-kuda, yang percaya kepada keretanya yang begitu banyak, dan kepada pasukan berkuda yang begitu besar jumlahnya, tetapi tidak memandang kepada Yang Mahakudus, Allah Israel, dan tidak mencari TUHAN. Akan tetapi Dia yang bijaksana akan mendatangkan malapetaka, dan tidak menarik firman-Nya; Ia akan bangkit melawan kaum penjahat, dan melawan bala bantuan orang-orang lalim. Sebab orang Mesir adalah manusia, bukan allah, dan kuda-kuda mereka adalah makhluk yang lemah, bukan roh yang berkuasa. Apabila TUHAN mengacungkan tangan-Nya, tergelincirlah yang membantu dan jatuhlah yang dibantu, dan mereka sekaliannya habis binasa bersama-sama." (Yesaya 31:1-3). Lewat pesan-pesan ini Tuhan sudah mengingatkan dari awal bahwa bukan kehebatan atau kekuatan kita yang penting, tapi kebersamaan kita kepada Tuhan, penyerahan diri kita dan keputusan kita untuk mengandalkan Tuhan-lah yang akan memberikan perbedaan. Itu kunci yang akan dapat membawa kita ke dalam berbagai kemenangan, tidak peduli sebesar apapun peperangan yang tengah atau akan kita hadapi.

Sebuah hidup yang mengalami penyertaan Allah hanyalah hidup yang berpusat kepada Allah. Banyak manusia lupa akan hal ini dan terus berusaha mempergunakan otak, pikiran, tenaga maupun harta mereka saja dalam menghadapi masalah. Mereka lupa bahwa sehebat apapun yang mereka miliki, semua itu terbatas dan pada suatu ketika tidak akan mampu lagi memberikan jawaban. Di sisi lain, Tuhan punya kuasa yang tidak terbatas. Jika demikan, mengapa tidak beralih mengandalkan Tuhan? Ingatlah semua berpusat pada Tuhan. "Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!" (Roma 11:36). Bersama Tuhan terletak kemenangan sejati! Oleh karena itu, jika anda memiliki kelebihan-kelebihan, janganlah menjadi sombong karenanya. Sebaliknya jika anda merasa memiliki banyak kekurangan, jangan menjadi rendah diri dan terburu-buru menyerah. Ingatlah bahwa letak kekuatan sebenarnya bukan di tangan anda, namun semua itu ada di tangan Tuhan. Jika ini anda lakukan, jangan heran seandainya mukjizat terus menerus hadir dalam hidup anda. Ingin memiliki hidup yang penuh kemenangan? Andalkanlah Tuhan. Berjalanlah bersamanya melewati apapun dan raihlah kemenangan gemilang dari setiap peperangan anda.

Dalam Tuhan terletak kemenangan sejati!

Monday, January 11, 2010

Kunci Kemenangan Daud

Ayat bacaan: 2 Samuel 8:14b
======================
"TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang."

kunci kemenangan Daud, hidup seperti anak kecilHidup ini sungguh penuh perjuangan. Hampir di seluruh lini kehidupan kita harus berjuang untuk mencapai keberhasilan. Orang rela belajar berpuluh-puluh tahun untuk kemudian bisa mencapai sukses. Jika anda ingin bisa memetik hasil, anda harus menanam terlebih dahulu dan memupuk, mengurusinya selama bertahun-tahun terlebih dahulu. Seringkali di tengah perjuangan itu kita akan menghadapi hambatan-hambatan. Ada berbagai pergumulan yang harus kita hadapi dalam prosesnya dan itu bisa jadi tidak mudah. Kita berperang melawan hawa nafsu, melawan keinginan-keinginan daging yang terus berusaha menguasai dan menyesatkan kita. Kita juga menghadapi peperangan melawan roh-roh jahat di udara. Saya sering menyebutkan bahwa hidup ini adalah sebuah medan peperangan. Life is a battlefield. Semua berperang, namun tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Ada banyak orang yang tidak bisa terlepas dari pergumulannya, dari kebiasaan buruknya atau dari berbagai kesesatan yang tidak berkenan bagi Tuhan. Ada banyak orang yang jatuh bangun, terus berusaha untuk bangkit namun lagi-lagi gagal. Karena itu kita perlu belajar dari orang yang memiliki banyak pengalaman akan keberhasilan. Salah satu tokoh yang hidupnya penuh dengan kemenangan adalah Daud. Hari ini mari kita belajar dari Raja Israel besar ini.

Dalam 2 Samuel 8 kita melihat serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud dengan gemilang. Daud memukul kalah orang Filistin (ay 1), mengalahkan orang Moab (ay 2), menundukkan raja Hadadezer raja Zoba di hulu sungai Efrat (ay 3), daripadanya menangkap 1700 tentara berkuda dan 20.000 pasukan berjalan kaki (ay 4), menumpas orang Aram yang hendak menolong Hadadezer sejumlah puluhan ribu orang (ay 5-6), dan dalam perjalanan pulang ia kembali mengalahkan 18.000 orang Edom di Lembah Asin. (ay 13). Lihatlah serangkaian kemenangan yang diperoleh Daud. Tidak sekalipun disebutkan disana bahwa ia kalah. Apakah itu karena kehebatan Daud? Apakah ia kita kenal sebagai ahli strategi perang? Apakah karena persenjataan Daud memiliki teknologi muktahir yang jauh di atas musuh-musuhnya? Bukan itu yang disebutkan alkitab sebagai alasannya. Alkitab berkata bahwa kemenangan-kemenangan Daud itu bukan karena kuat dan hebatnya Daud, tetapi karena pemberian Tuhan. "TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang." (2 Samuel 8:6b, 14b). Dua kali kalimat ini diulangi, menunjukkan penekanan bahwa keberhasilan Daud adalah berkat penyertaan Tuhan dalam setiap peperangan yang ia hadapi.

Bagaimana Daud bisa mendapat penyertaan Tuhan seperti itu yang membuatnya berhasil dalam setiap peperangan? Kita bisa melihat penyebabnya dalam Mazmur 60. Mazmur 60 menuliskan apa yang dilakukan Daud sebelum ia berperang melawan orang Aram dan Edom seperti yang tertulis pada 2 Samuel 8 di atas. Mazmur 60:1-12 mencatat bagaimana bentuk doa Daud memohon belas kasih Tuhan untuk memberinya kemenangan. Demikian bunyi doa Daud: "Supaya terluput orang-orang yang Kaucintai, berikanlah keselamatan dengan tangan kanan-Mu dan jawablah kami!...Berikanlah kepada kami pertolongan terhadap lawan, sebab sia-sia penyelamatan dari manusia. Dengan Allah akan kita lakukan perbuatan-perbuatan gagah perkasa, sebab Ia sendiri akan menginjak-injak para lawan kita." (ay 7, 13-14). Daud tahu benar bahwa usaha manusia semata hanyalah akan sia-sia. Daud tahu bahwa kunci kemenangan hanya ada apabila Tuhan menyertainya, apabila Tuhan yang ikut berperang dan Dia lah yang akan mengalahkan musuh kita, sehingga kita bisa memperoleh kemenangan demi kemenangan yang gemilang. Daud adalah raja Israel, dia adalah pemimpin pasukan, dia orang hebat. Tapi di hadapan Tuhan, Daud merendahkan dirinya. Dia melepas segala atribut kekuasaan dunia yang ia miliki dan selalu tampil polos seperti halnya anak kecil di hadapan Tuhan. Dia tidak mengandalkan kekuatannya dalam peperangan, tapi justru melepaskannya dan berserah secara penuh kepada Tuhan. Itulah kunci yang membuat Daud berhasil dalam segala peperangan. Tidakkah ini terbalik dengan kita, yang seringkali hanya mengandalkan kekuatan kita saja dalam menghadapi segala sesuatu? Tuhan akan jadi alternatif terakhir, ketika semua usaha kita sudah mentok. Kita terbiasa cenderung mengandalkan kuat dan hebatnya manusia, padahal Daud sudah mengatakan semua itu hanya akan mengarah kepada hasil yang sia-sia. Seharusnya Tuhan-lah yang ditempatkan di depan. Itu yang dilakukan Daud, dan kita bisa menyaksikan hasilnya. Daud memperoleh rangkaian kemenangan, sebab "TUHAN memberi kemenangan kepada Daud ke manapun ia pergi berperang."

Sekali lagi, Daud adalah raja besar Israel, bahkan dikatakan juga sebagai raja terbesar Israel. Tapi dia tidak memegahkan dirinya di hadapan Tuhan. Hampir di sepanjang kitab Mazmur kita melihat bagaimana keintiman Daud kepada Tuhan, bagaimana ia tunduk dan menyerahkan segala hidupnya kepada Tuhan. Ia sosok yang penuh kharisma dan luar biasa, namun di hadapan Tuhan ia menempatkan dirinya tidak lebih dari anak kecil. Lihatlah bagaimana tingkah laku Daud ketika ia membawa tabut Allah ke Yerusalem. "Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan." (2 Samuel 6:14). Yang menari-nari ini bukanlah orang biasa, bukan orang yang tidak terkenal, tapi ini adalah Daud, raja Israel! Ketika ia berurusan dengan Tuhan, ia tidak peduli apakah orang akan menertawakannya, atau bahkan memandang rendah dirinya seperti pandangan Mikhal anak Saul ketika melihat Daud menari dan meloncat-loncat di hadapan Tuhan (ay 16). Ia mempersembahkan dirinya secara polos kepada Tuhan, seperti seorang anak kecil di hadapan orang tuanya. Seperti itulah gambaran perilaku Daud di hadapan Tuhan, dan oleh sebab itulah Tuhan berkenan kepadaNya dan menganugerahkan kemenangan demi kemenangan dalam peperangan.

Raja besar tapi berperilaku seperti anak kecil ketika berada di hadapan Tuhan. Norak? Memalukan? Mungkin demikian dari pemikiran duniawi, tapi sesungguhnya Tuhan menginginkan kita untuk meneladani perilaku anak kecil ketika berhadapan denganNya. Yesus sendiri mengatakan demikian. "Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya." (Markus 10:14-15). Bersikaplah seperti anak kecil, sebab yang seperti itulah yang empunya kerajaan Allah! Seperti apa perilaku anak kecil yang berkenan itu? Lihatlah bagaimana reaksi anak kecil yang menyenangkan hati kita. Keluguan dan kepolosan mereka, bagaimana mereka tidak menutupi keriangan ketika menyambut kita pulang. Rasa lelah bekerja seharian pun bisa hilang ketika anak-anak kita berlari dengan ceria, penuh tawa memeluk kita di pintu. Anak kecil tidak sibuk menjaga imagenya, mereka tampil apa adanya dan selalu bergantung kepada orang tuanya. Mereka akan selalu merasa aman apabila ada di dalam dekapan orang tuanya. Semua itu merupakan ciri-ciri anak kecil yang harus bisa kita teladani ketika kita berhadapan dengan Allah, Bapa kita yang penuh kasih.

Peperangan demi peperangan akan terus kita hadapi. Ada yang mudah tapi banyak pula yang sulit. Setiap saat kegagalan bisa mengintip, setiap saat kita bisa dikalahkan. Tapi Tuhan sudah menjanjikan kemenangan, dan kita bisa melihat kunci untuk memperolehnya melalui apa yang dilakukan oleh Daud. Daud tidak mengandalkan kekuatannya, kehebatannya, ketenarannya, kharismanya, namun ia sepenuhnya mengandalkan Tuhan. Ia merendahkan dirinya secara total karena ia tahu semua itu tidak akan ada gunanya jika tidak memiliki penyertaan Tuhan dalam hidup. Tuhan ingin kita menyambutNya seperti sikap seorang anak kecil. Tuhan ingin kita bergantung sepenuhnya kepadaNya seperti anak kecil yang mengandalkan orang tuanya. Tuhan ingin kita bersikap polos, jujur apa adanya ketika berhadapan denganNya. Ini semua yang akan membawa kita kepada berbagai kemenangan, bukan kekuatan atau kepintaran dan kehebatan diri kita sendiri atau manusia lainnya. Belajarlah dari Daud agar kita bisa memperoleh hasil gemilang dari setiap peperangan yang kita hadapi.

Justru ketika kita berserah, Tuhan memberikan kita kemenangan

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...