Thursday, December 17, 2009

Perkatakan, Renungkan, Lakukan (2)

Ayat bacaan: Ezra 1:10
===================
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."

perkatakan, renungkan, lakukanMelanjutkan renungan kemarin, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah merenungkan firman siang dan malam. Ada perbedaan besar antara membaca dan merenungkan. Dalam perenungan, kita tidak hanya sekedar membaca tapi disertai dengan meneliti dan memikirkan dengan seksama isi yang kita baca. Untuk bisa mengetahui dengan benar suara Tuhan, tidaklah cukup hanya dengan sekedar membaca saja. Sekarang ingat, besok lupa, itulah yang akan terjadi jika kita tidak menyimak dengan seksama apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam hidup kita. Firman yang dibaca ala kadarnya bagaikan benih yang jatuh pada tanah berbatu, di pinggir jalan atau malah di semak duri. (baca Matius 13:1-8). Dibutuhkan kesungguhan untuk merenungkan firman Tuhan, menyerapnya dengan benar, sehingga benih firman itu bisa jatuh di atas "tanah yang baik" agar bisa menghasilkan buah berlipat ganda. Dikatakan berbahagialah orang "yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Seperti itulah orang-orang yang selalu menyukai firman Tuhan dan merenungkan itu siang dan malam. Bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, sehingga tidak akan mengalami kekeringan dan bisa terus bertunas dan berbuah.

Jika memperkatakan dan merenungkan firman siang dan malam sudah kita lakukan, selanjutnya kita harus pula meningkatkan itu dengan menjadi pelaku firman. Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk "bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalam Taurat Tuhan." Berhenti hanya pada memperkatakan dan merenungkan belumlah cukup jika tidak disertai dengan aplikasi nyata dalam kehidupan. Tahu kehendak Tuhan tapi tidak melakukannya adalah bentuk dari orang yang munafik. Dan Tuhan pun mengecam keras orang-orang yang bersikap munafik seperti ini. Oleh karena itulah Yakobus menekankan pentingnya untuk tidak berpuas diri hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, tapi juga harus melanjutkannya dengan perbuatan-perbuatan nyata sesuai apa yang dikehendaki Tuhan. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (ay 22) Orang-orang yang hanya mendengar atau membaca tapi tidak melakukan digambarkannya sebagai berikut: "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (Yakobus 1:23-24). Seperti ketika kita bercermin, kita hanya melihat rupa kita sebentar saja, dan setelah meninggalkan cermin kita tidak lagi tahu bagaimana rupa kita saat ini. Itulah bentuk orang yang berhenti sebelum melakukan. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25). Semua tuntunan Tuhan itu sangatlah berharga untuk menjadi bekal dalam kehidupan kita. Maka dari itu janganlah kita hanya sekedar mendengar lalu melupakan, tapi lakukanlah dengan sungguh-sungguh, maka keberhasilan demi keberhasilan pun akan mampu kita capai.

Sebagai gambaran lain kita bisa melihat hal ini lewat Ezra. Dalam awal kisah Ezra, kita bisa melihat kepulangannya dari Babel sebagai ahli kitab dilimpahi berkat lewat raja yang memberikan segala sesuatu yang ia inginkan. Bagaimana ini bisa terjadi? Dikatakan bahwa itu semua terjadi karena tangan Tuhan, Allahnya, melindungi dia. (Ezra 1:6,9). Tangan Tuhan berkenan melindungi Ezra adalah karena Ezra memiliki komitmen kuat untuk selalu meneliti firman Tuhan. Dia tidak berhenti sampai di situ saja, tapi juga kemudian melakukannya serta mengajarkan semua itu kepada orang lain. "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (ay 10). Dengan melakukan langkah-langkah inilah Ezra mendapat perlindungan langsung dari Tuhan dalam perjalanan hidupnya.

Hidup tidak mudah. Peningkatan karir akan selalu diikuti oleh peningkatan beban dan tanggungjawab. Saya gambarkan seperti ini: semakin tinggi kita naik, semakin kencang pula angin menerpa kita. Dan itu wajar. Pada satu ketika anda akan merasa bahwa tidak ada yang mudah di dunia ini, tapi di sisi lain ingatlah bahwa penyertaan Tuhan mampu membuat anda berhasil dengan sukses dalam setiap pekerjaan yang anda lakukan, bahkan yang maha berat sekalipun. Kuncinya adalah dengan memperkatakan firman, merenungkannya siang dan malam dan kemudian mengaplikasikannya secara langsung dalam kehidupan. Ketika ini anda lakukan, Tuhan akan mengulurkan tanganNya kepada anda. Berkat-berkatNya akan tercurah dan segala sesuatu yang anda lakukan akan berhasil. Kita manusia memang terbatas, namun Tuhan yang kita sembah berkuasa di atas segalanya, tidak ada apapun yang mustahil bagiNya. Itu sudah dijanjikan kepada kita. Sekarang, maukah kita mulai untuk melakukan apa yang diwajibkan kepada kita terlebih dahulu?

Membaca firman itu baik, rajin merenungkan firman akan lebih baik, dan jika disertai dengan perbuatan secara nyata, itulah yang terbaik!

Wednesday, December 16, 2009

Perkatakan, Renungkan, Lakukan (1)

Ayat bacaan: Yosua 1:8
===================
"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."

perkatakan, renungkan, lakukanKetika porsi pekerjaan kecil, peningkatan karir menjadi dambaan. Ketika karir meningkat dan tanggungjawab menjadi lebih berat, yang hadir bukannya bersyukur tapi malah keluhan karena beban dan kesulitan pekerjaan bertambah. Ada banyak orang yang mengalami hal ini, termasuk salah seorang teman saya yang mengeluh karena merasa kurang sanggup menghadapi jabatan barunya yang lebih tinggi. Saya ingat betul bahwa ia dulu selalu mengeluh karena posisinya tidak kunjung meningkat, namun setelah meningkat keluhan pula yang keluar. Sesungguhnya apa yang kita inginkan? Karena jika kita menginginkan peningkatan karir tapi berharap bahwa pekerjaan atau tanggung jawab menjadi lebih kecil sementara gaji bertambah besar, itu semua tidaklah logis. Tentu saja peningkatan karir akan diikuti oleh peningkatan tanggungjawab yang seringkali diikuti dengan beban pekerjaan yang semakin besar pula.

Yosua mengalami hal itu ketika ia diminta untuk menggantikan Musa yang telah mangkat untuk mengawal bangsa Israel memasuki tanah terjanji. Ini tugas yang luar biasa berat, karena selain bangsa itu besar jumlahnya, mereka pun bukanlah sosok bangsa yang taat, patuh atau manut kepada pimpinannya. Tuhan pun berjanji kepada Yosua bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan dan meninggalkannya sendirian. "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Yosua diminta untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya, bertindak hati-hati sesuai dengan seluruh hukum Tuhan, dan menjaga langkahnya dengan hati-hati agar jangan sampai menyimpang ke kanan atau kiri. Ini sesungguhnya pesan penting mengingat tugas maha berat yang dibebankan ke pundak Yosua. Mari kita lihat, Tuhan menjanjikan penyertaanNya bila Yosua mampu tegar dan bertindak sesuai firman Tuhan. Tapi bagaimana itu bisa ia lakukan jika ia tidak tahu apa yang menjadi firman Tuhan? Oleh karena itulah Tuhan menambahkan pesanNya kepada Yosua agar apa yang ia lakukan bisa berhasil. Demikian firman Tuhan: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (ay 8). Inilah tiga langkah yang harus dilakukan oleh Yosua agar ia bisa berhasil dan beruntung. Tiga langkah yang harus seiring sejalan dan tidak bisa hanya satu saja dilakukan. Pertama memperkatakan firman, kemudian merenungkannya siang dan malam, lalu bertindak sesuai firman alias menjadi pelaku firman. Ini tiga langkah yang menjadi syarat agar apapun yang dilakukan bisa mencapai keberhasilan dan membawa keberuntungan. Pekerjaan apapun, termasuk yang berat sekalipun.

Melakukan pekerjaan yang berat memang tidak mudah. Jika hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri tentu tidak akan cukup. Itulah sebabnya mengapa kita butuh penyertaan Tuhan dalam usaha kita agar bisa berhasil. Namun seringkali kita lupa bahwa untuk mendapatkan janji Tuhan itu dibutuhkan syarat yang harus kita penuhi terlebih dahulu. Dari kisah Yosua di atas kita bisa melihat ketiga syarat yang akan membuat hadirnya penyertaan Tuhan dan membawa kita mencapai keberhasilan dan beruntung.

Memperkatakan firman itu penting. Seringkali kita lebih sering mempergunakan mulut kita untuk hal-hal yang tidak berguna atau bahkan yang tidak baik. Bersungut-sungut, mengeluh, berbohong bahkan mengumpat. Itu jauh lebih sering keluar dari mulut kita ketimbang mengucap syukur dan memperkatakan firman Tuhan yang bisa memberkati orang lain. Padahal Yesus sudah mengingatkan "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Sepertinya memang kecenderungan manusia untuk terjebak pada kebiasaan mengeluarkan perkataan yang sia-sia ini. Karena itulah kita bisa belajar dari Daud yang berkata "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!" (Mazmur 141:3). Menjaga hati pun menjadi hal yang mutlak untuk kita lakukan, karena "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34).

(Bersambung)

Tuesday, December 15, 2009

Kemurnian Firman Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 12:7
===================
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."

firman Tuhan, janji TuhanBetapa besar perbedaan yang saya rasakan sebelum dan sesudah saya rutin membaca firman Tuhan yang terkandung di dalam alkitab. Saya menyadari saat ini betapa rapuhnya saya dahulu. Rapuh secara mental, rapuh secara iman, rapuh pula secara pribadi sehingga begitu mudahnya berbagai hal menyesatkan masuk ke dalam kehidupan saya. Untunglah itu tidak berlangsung seterusnya. Selama dua tahun terakhir tidak seharipun saya lalui tanpa membaca dan merenungkan firman Tuhan, termasuk pula menuliskan renungan yang, semoga, bisa menjadi berkat bagi teman-teman di manapun anda berada. Saya mendapati begitu banyak tuntunan yang sangat bermanfaat dalam hidup. Ada banyak rahasia-rahasia yang menjadi terang lewat tuntunan Roh Kudus, dimana semua itu sangat aplikatif untuk diterapkan ke dalam kehidupan. Perubahan pola pikir, cara pandang, kesabaran, kasih dan sebagainya, itu semua tumbuh seiring bertambahnya firman Tuhan yang masuk dengan lembut ke dalam hati. Saya mengalami sendiri bagaimana orang bisa diubahkan secara luar biasa dalam waktu yang relatif singkat, yang jika dilihat dari nalar manusia tentu sulit untuk terjadi. Begitu banyak mukjizat dan pemulihan yang saya saksikan, termasuk pula yang saya dan istri alami sendiri. Hari ini saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa tidak ada satupun janji-janji Tuhan yang tidak terjadi. Bisa cepat, bisa lambat, tapi pada waktunya semua itu terjadi. His words never failed!

Membaca dan merenungkan firman Tuhan akan membuat kita tahu apa yang menjadi janji Tuhan buat kita. Kita tahu mana yang benar dan mana yang salah, mana jalan yang menuju keselamatan dan mana yang menuju kebinasaan. Mengenal firman Tuhan membuat kita mengenal suaraNya, dan mengenal pribadiNya. Betapa banyaknya penyesatan baik yang secara langsung maupun terselubung di sekitar kita hari-hari ini. Berbagai ajaran yang berorientasi kepada kemakmuran, berpusat kepada kekuatan diri sendiri, seringkali tampak seolah-olah benar, padahal sebenarnya sangatlah bertentangan dengan firman Tuhan. Kita bisa tertipu apabila tidak benar-benar mengetahui segala perkataan Tuhan yang dimuat sepanjang tebal alkitab.

Firman Tuhan berkata: "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Seperti itulah digambarkan kemurnian janji Tuhan, sehingga sampai kapanpun kita bisa percaya bahwa janji-janji Tuhan itu teguh dan selalu dapat diandalkan. Tidak ada kata-kataNya yang sia-sia, semua mengandung kebenaran yang mutlak. Saya sudah mengalami kebenarannya, mungkin anda pun sudah. Bahkan sejak jaman Daud pun hal ini sudah diamini. "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Berbagai hal yang mungkin sulit kita terima secara logika dijanjikan Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagiNya, dan dengan demikian tidak ada yang mustahil pula bagi kita orang percaya. Semua itu nyata dan menggambarkan bagaimana Tuhan masih terus bekerja mengatasi kemustahilan dalam hidup kita semua hingga hari ini.

Semua bermula dari kerinduan kita untuk mengetahui dan mempelajari janji-janji Tuhan. Kita bagaikan domba yang lemah, yang gampang tersesat dan tidak memiliki perlindungan cukup untuk menghadapi hari-hari yang semakin lama semakin jahat. Oleh karena itulah firman Tuhan kita perlukan agar langkah-langkah kita terjaga senantiasa dari kegelapan. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Apapun yang sempurna di dunia sesungguhnya ada batasnya. Tidak ada satupun yang kekal, dan tidak ada satupun yang bisa bertahan selamanya. Tapi tidak demikian dengan firman Tuhan yang telah teruji ribuan tahun, hingga hari ini bahkan ke depannya nanti. Pemazmur melihat hal ini. "Aku melihat batas-batas kesempurnaan, tetapi perintah-Mu luas sekali." (ay 96). Begitu banyak yang bisa dipelajari dan dijadikan pedoman untuk melangkah hidup sehingga Pemazmur dan kita yang terus haus akan firman Tuhan bisa berkata "Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari." (ay 97).

Tidak saja membuat kita kuat sehingga sulit ditipu, tapi firman Tuhan pun penuh dengan petunjuk yang akan membuat kita bisa tetap tegar ditengah badai, tidak gampang patah bahkan mampu membawa kita memasuki keberhasilan demi keberhasilan, terbang bagai rajawali jauh mengatasi badai permasalahan. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Bukankah janji Tuhan ini begitu indah? Semua ini akan kita lewatkan apabila kita tidak melatih diri kita untuk bertekun dalam merenungkan firman Tuhan setiap saat. Penuh janji, penuh tuntunan, dan penuh kepastian. Tidak heran jika firman Allah digambarkan sebagai "pedang Roh" (Efesus 5:17) yang "hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Kita tidak akan gampang disesatkan oleh berbagai ajaran yang terkadang dikemas begitu rapi sehingga terlihat seolah-olah sesuai dengan firman Tuhan.

Merenungkan firman Tuhan akan membawa kita kepada pemahaman atau pengertian tentang apa saja yang menjadi kehendak Tuhan, apa yang menjadi suaraNya sehingga kita terhindar dari binasa. Kita bisa melihat dengan jelas apa yang harus kita lakukan dan sebaliknya apa yang harus kita hindari atau tinggalkan. Berdoalah terlebih dahulu dan mintalah Roh Kudus untuk menyingkap berbagai kebenaran yang terkandung dalam firman Tuhan. Jika itu terjadi, anda akan melihat begitu banyak janji Tuhan yang sungguh indah berlaku bagi anda, dan anda akan mulai mengalami satu persatu janji Tuhan itu terjadi dalam hidup anda. Jangan tunda lagi, perkayalah rohani anda hari ini juga dengan kemurnian firman Tuhan.

Firman Tuhan akan menerangi langkah anda meski dalam perjalanan tergelap sekalipun

Monday, December 14, 2009

Penipuan Berkedok Sayembara

Ayat bacaan: Galatia 1:6
===================
"Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus."

penipuan, mengenal suara TuhanPenipuan berkedok sayembara atau undian begitu sering menjebak orang. Berkali-kali kita mendengar atau membaca komentar orang-orang yang menjadi korban penipuan ini. Kita sendiri pun mungkin sering menerima sms, email scam atau bahkan telepon yang mengatakan bahwa kita menang undian atau sayembara ini dan itu. Menang undian seharga ratusan juta rupiah, atau mobil mewah? Siapa yang tidak senang? Tapi jika kita tidak hati-hati, maka dalam waktu singkat kita pun akan mendapati diri kita tertipu dan menderita kerugian. Sudah begitu banyak korban yang jatuh akibat penipuan seperti ini, dan jumlahnya akan terus bertambah karena ada saja orang yang tergiur akan hadiah sampai-sampai lupa untuk memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.

Apa yang seolah-olah terlihat menggiurkan ternyata sama sekali tidak menguntungkan, bahkan merugikan. Kita mengira kita untung, tapi malah buntung yang ada. Secara spiritual kita pun bisa jatuh ke dalam jebakan-jebakan seperti ini. Begitu banyak tawaran yang hadir di depan kita, apalagi di jaman yang sangat modern seperti saat ini, berbagai media menyajikan bermacam tawaran tepat di depan mata kita. Semuanya menggiurkan, semuanya terlihat menjanjikan, namun jika tidak hati-hati kita bisa terjebak ke dalam kesesatan yang tentu akan sangat merugikan. Bukan saja di dunia ini tapi terlebih lagi akan berakibat fatal pada kehidupan atau kematian pada fase berikutnya. Murid-murid Yesus telah berulangkali mengingatkan hal ini. Seperti Paulus, Petrus, Yohanes, mereka telah menyarankan kita untuk mewaspadai bahaya berbagai ajaran palsu. Kepada jemaat Galatia misalnya, Paulus menegur mereka karena mereka begitu gampang terpengaruh ajaran yang sebenarnya memutarbalikkan Injil Kristus. "Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus." (Galatia 1:6). Petrus berkata "Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka." (2 Petrus 2:1). Dan Yohanes berkata: "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia." (1 Yohanes 4:1). Yesus sendiri pernah mengingatkan hal yang sama. "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas." (Matius 7:15). Mereka akan terlihat begitu baik, tawaran-tawaran akan terlihat begitu indah, tapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang akan dengan buas memangsa siapapun yang terpikat dengan tipu muslihat mereka. Bukan hanya guru-guru atau nabi palsu, tapi mesias palsu pun akan muncul, lengkap dengan tanda-tanda dan mukjizat-mukjizat yang dahsyat, yang jika tidak hati-hati, akan pula menyesatkan anak-anak Tuhan sekalipun. "Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga." (Matius 24:24). Begitu mulusnya penipuan ini, sampai-sampai mungkin sulit bagi kita untuk membedakan mana yang benar berasal dari Tuhan dan mana yang sebenarnya pemutarbalikan kebenaran.

Jika demikian, bagaimana kita bisa mengetahui mana yang benar dan salah? Caranya adalah dengan benar-benar mengetahui firman-firman Allah dalam alkitab. Akan sulit bagi kita untuk membedakan apabila kita jarang membuka alkitab dan membaca apa saja yang berasal dari Tuhan. Sebaliknya jika kita rajin membuka, membaca, merenungkan hingga melakukan firman-firman Tuhan, kita pun tidak akan mudah terjebak. Pengenalan yang baik akan firman Tuhan akan membuat kita mengenal suaraNya dan tahu kemana kita harus melangkah mengikuti Sang Gembala. "Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya." (Yohanes 10:4). Kepada kita juga telah dikaruniakan Roh Kudus. Apabila Roh Kudus kita ijinkan berdiam dan berkuasa atas hidup kita lewat ketaatan dan kesetiaan kita dalam menjaga setiap langkah, maka Roh Kudus pun akan menolong kita untuk mengetahui ajaran yang benar dan sesat. Yohanes menggambarkannya demikian: "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4).

Keselamatan kekal hanya disediakan Tuhan lewat kasih karuniaNya yang hanya bisa diperoleh dengan iman dalam Yesus Kristus, dengan percaya dan menerimaNya dengan sungguh-sungguh. The salvation is available only by grace through Jesus. (Galatia 2:16, Efesus 2:8-9). Tidak ada jalan lain selain itu. Dia sudah datang ke dunia, menunaikan tugasNya seperti yang digariskan Bapa, mengambil rupa seperti kita dan menebus kita semua agar kita semua mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal. Berhati-hatilah agar jangan tertipu dengan iming-iming lainnya yang menjanjikan kekayaan, keberhasilan, kesuksesan, kemakmuran atau lainnya yang berada di luar itu. Hiduplah bersama firman Tuhan, jangan malas membaca alkitab agar kita selalu mengenal suara Tuhan dengan benar. Berbagai bentuk penipuan akan selalu hadir di sekitar kita, namun domba-domba yang mengenal suara GembalaNya tidak akan bisa terjebak di dalamnya.

Kenali suara Tuhan agar tidak terjebak pada suara lain

Sunday, December 13, 2009

Pulang

Ayat bacaan: Lukas 15:32
====================
"Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali."

come home, kembali, pulang"There's no place like home" adalah sebuah quote terkenal dari salah satu film terpopuler sepanjang jaman, "The Wizard of Oz". Film dari tahun 1939 ini mengisahkan seorang anak gadis berusia 15 tahun bernama Dorothy yang tinggal di sebuah peternakan di pinggiran kota. Merasa bosan dengan kehidupannya, ia pun memimpikan tempat yang lebih indah, yang ia gambarkan sebagai "Somewhere Over The Rainbow". Ia pun kemudian mengalami petualangan seru di dunia mimpi. Tapi walau demikian, Dorothy rindu pulang ke rumahnya. Maka kata "There's no place like home" pun ia sebutkan di dunia mimpi yang membawanya kembali terbangun dari tidur. Film "The Wizard of Oz" memang sebuah kisah fantasi, namun bisa jadi menggambarkan apa yang banyak dialami anak-anak Tuhan. Ada banyak orang yang mulai merasa bosan dengan kehidupannya yang terkesan itu-itu saja lalu rindu untuk mendapatkan atau memulai sesuatu yang baru. Sayangnya hal ini sering dimanfaatkan iblis yang menawarkan berbagai gemerlap dunia yang sebenarnya berisi penuh jebakan. Tak terasa, tiba-tiba orang bisa menjadi begitu sesat bergelimang dosa. Masalahnya, jika Dorothy cukup menyebutkan "There's no place like home" untuk kembali, banyak orang yang merasa sudah terlalu jauh meninggalkan Tuhan dan merasa malu atau tidak layak lagi untuk kembali pulang.

Sebenarnya tidaklah perlu untuk berpikir demikian. Setiap saat Tuhan merindukan anak-anakNya yang sudah meninggalkanNya, bahkan yang sudah jauh sekalipun, untuk kembali. Setiap saat itu pula Tuhan siap menyambut dengan penuh sukacita dengan pelukanNya untuk kembali melimpahi kita dengan berkat-berkatNya. Kisah Perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:32 yang diberikan Yesus menggambarkan itu dengan jelas. Si anak bungsu meminta bagian warisannya dan segera mempergunakan itu untuk bertualang ke negeri yang jauh, meninggalkan ayahnya. Sepintas hidup terasa luar biasa indah. Ia menghabiskan semuanya untuk berfoya-foya. Dalam waktu singkat ia pun melarat, bahkan harus mulai makan ampas sisa makanan babi untuk bertahan hidup. Ia pun menyadari kesalahannya dan berpikir untuk kembali, meski harus dihukum dan tidak lagi mendapat hak sebagai anak sekalipun. Dia pun pulang. Tapi apa yang terjadi selanjutnya? Lihatlah reaksi ayahnya. "Ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia." (Lukas 15:20b). Ia tidak dihukum, bahkan diomeli pun tidak. Ayahnya berlari merangkul dan menciumnya. Bahkan segera memberikan jubah terbaik, cincin, sepatu dan menyembelih anak sapi tambun untuk menyambut kembalinya si anak dengan penuh sukacita. (ay 22-23). Betapa besar sukacita sang ayah karena anaknya yang hilang telah kembali. "Kita patut bersukacita dan bergembira karena adikmu telah mati dan menjadi hidup kembali, ia telah hilang dan didapat kembali." (ay 32).

Lewat dosa-dosa yang kita lakukan kitapun seharusnya mati. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kedatangan Kristus ke dunia ini justru untuk mencegah kita semua masuk ke dalam kematian kekal dan memberikan kita semua jalan untuk memperoleh keselamatan. Yesus berkata "..Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13b), "Karena Anak Manusia datang untuk menyelamatkan yang hilang." (18:11). Keselamatan. Inilah berkat terbesar yang diberikan Tuhan buat manusia. Tuhan selalu rindu menantikan kita semua untuk kembali kepadanya. Tidak peduli apa yang telah kita lakukan, sejauh mana kita tersesat, Dia akan selalu siap menyambut kita dengan tangan terbuka. Tuhan siap melemparkan dosa kita jauh ke dalam tubir laut (Mkha 7:19), membuang dosa-dosa kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12), mengampuni kesalahan kita bahkan tidak lagi mengingat-ingat dosa-dosa yang telah kita lakukan. (Yeremia 31:34).

Menyambut peringatan kelahiran Kristus tahun ini, marilah kita menyadari betul betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, sehingga AnakNya yang tunggal pun rela Dia anugerahkan kepada kita agar tidak satupun dari kita binasa melainkan beroleh kehidupan yang kekal. (Yohanes 3:16). Tidak peduli dosa apapun yang telah kita lakukan, Tuhan siap memberikan pengampunannya kepada kita, dan akan menyambut kita dengan penuh sukacita. Tidak perlu merasa takut, tidak perlu sungkan, karena Tuhan selalu mengasihi kita semua dan akan segera menyambut kepulangan kita kapan saja. Jangan tunda lagi, pulanglah sekarang juga dan biarkan Tuhan dan seisi Surga bersukacita menyambut anda.

It's never too late to come home to God

Saturday, December 12, 2009

Bukan Cuma Hasil

Ayat bacaan: Amsal 16:8
===================
"Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan."

bukan cuma hasil, menghalalkan segala caraAda banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk sukses. Mulai dari menyuap/menyogok, menipu/memanipulasi, memanfaatkan relasi/orang lain hingga menggunakan kuasa gelap. Orientasi kesuksesan adalah ketika mereka menjadi terkenal, kaya raya dan berbagai hal-hal yang duniawi saja, padahal itu tidaklah kekal sifatnya. Serangkaian kecurangan pun dihalalkan, yang penting berhasil. Itu target akhirnya, yang seringkali tidak berhenti sampai di situ. Kata berhasil biasanya tidak memiliki akhir, sangat relatif sifatnya. Sifat manusia yang cenderung tidak pernah puas akan memperburuk semuanya, dan akhirnya banyak manusia yang berakhir sebagai orang yang menjadi hamba uang atau hamba status, jabatan atau hamba dunia. Tidak hanya di dunia bisnis, dalam dunia olah raga pun demikian. Ada begitu banyak atlit yang melakukan kecurangan agar ia bisa lebih dari pesaing-pesaingnya. Dalam dunia kehidupan pun sama. Kita sangat peduli terhadap status kita di masyarakat, atau lingkungan teman-teman yang sayangnya bukan dalam konteks status manusia yang memiliki terang dan berfungsi bagai garam, namun lebih kepada manusia dalam status sosial tinggi lewat harta dan ketenaran.

Banyak orang beranggapan bahwa memiliki harta melimpah akan membuat mereka bahagia. Itulah titik kebahagiaan bagi mereka. Padahal kenyataannya tidaklah demikian. Ada begitu banyak orang yang kaya namun hidupnya tetap tidak bahagia. Ketenaran pun tidaklah memastikan kita untuk bisa bahagia. Jauh sebelum hari ini Pengkotbah mengingatkan: "orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkotbah 6:2). Bisa memiliki kekayaan lewat jalan jujur, itu merupakan karunia, tapi jangan lupa pula bahwa untuk bisa menikmati, untuk bisa bersukacita dalam jerih payah, itu pun juga karunia Tuhan. (Pengkotbah 5:19). Banyak orang hanya berorientasi pada hasil akhir yang sangat semu ujungnya, padahal Tuhan menekankan bahwa bukan hasil akhir saja yang menentukan, tapi bagaimana proses kita dalam pencapainya, itu pun tidak kalah pentingnya.

Mari kita lihat sejenak bagaimana raja Ahab begitu bernafsu untuk mengambil kebun anggur milik Nabot dalam kitab 1 Raja Raja 21:1-29. Kebun anggur Nabot yang terletak tepat di sebelah istananya sungguh terlihat menggiurkan. Oleh karena itulah Ahab meminta kebun itu agar menjadi miliknya. (ay 2). Tapi Nabot menolak, karena tanah itu merupakan pusaka dari nenek moyangnya. (ay 3). Ahab pun merasa kesal dan uring-uringan. Izebel istrinya ternyata bukanlah tipe istri yang baik. Bukannya mengingatkan suaminya agar tidak iri terhadap milik orang lain, ia malah menyarankan cara-cara keji untuk memuaskan keinginan suaminya. Jebakan pun dipasang Izebel hingga Nabot pun menemui ajalnya. (ay 9-14). Tuhan pun kemudian menegur Ahab dengan sangat keras melalui nabi Elia. Ahab dianggap "sudah memperbudak diri dengan melakukan apa yang jahat di mata TUHAN." (ay 20). Dan karena itu, hukuman Tuhan pun jatuh atas Ahab dan keluarganya. (ay 21-26). Ahab menganggap bahwa ia akan lebih hebat jika bisa memiliki kebun anggur orang lain, dan bersama istrinya ia menghalalkan segala cara untuk itu. Perbuatan keji itu merupakan proses yang salah dan dianggap sebagai sebuah perbuatan yang jahat di mata Tuhan. Akhirnya ia dan keluarganya pun menerima hukumannya.

Memiliki cita-cita atau keinginan untuk meraih sesuatu atau mencapai sebuah hasil yang bagus memang tidak salah. Sangat baik malah apabila kita mau berupaya sungguh-sungguh dengan serius untuk bisa mencapainya. Namun ketika untuk mencapai itu kita mulai menghalalkan segala cara, menipu, mencuri, menyuap dan berbagai bentuk kekejian lainnya yang melanggar hukum dan tentunya jahat di mata Tuhan, di sanalah masalah mulai muncul. Hasil akhir yang baik tentu menjadi impian semua orang, berhasil menggapai cita-cita dan mendapatkan apa yang kita inginkan itu baik selama prosesnya juga baik.

Amsal berkata: "Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran, dari pada penghasilan banyak tanpa keadilan." (Amsal 16:8). Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang menentukan. (ay 9). Ini sebuah prinsip yang sesungguhnya harus menjadi dasar bagi kita untuk mencapai cita-cita atau keberhasilan. Jangan lupa bahwa semua itu sesungguhnya berasal dari Tuhan, bukan atas kehebatan dan kuasa kita. Kita bisa saja melakukan hal yang jahat untuk memperoleh sesuatu, namun semua itu pada akhirnya hanyalah akan sia-sia saja, baik di dunia maupun kelak setelah urusan kita di dunia ini berakhir. Mencapai keberhasilan itu penting, tapi proses untuk mencapainya pun tidak kalah penting.

Tuhan mengingatkan kita bahwa kita haruslah selalu bertekun untuk mendengarkan dan melakukan apa yang Dia suarakan. Jika itu kita lakukan, maka Tuhan pun siap memberkati segala sesuatu yang kita buat. Serangkaian janji berkat Tuhan dalam Ulangan 28:1-14 menjadi gambarannya. "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang."(ay 1-3) dan sebagainya. Ini paralel dengan apa yang diajarkan Tuhan Yesus. "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33). Kita perlu secara serius melihat langkah demi langkah, keputusan demi keputusan yang kita ambil dalam proses agar tidak satupun dari proses itu yang menjadi sebuah kejahatan di mata Tuhan. Jika itu terjadi, bukan berkat yang kita peroleh tapi malah kutuk. Selain itu kita harus waspada pula, karena "ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 16:25). Pelanggaran firman Tuhan bisa secara sengaja kita lakukan, tapi terkadang bisa pula terjadi tanpa kita sadari. Untuk itulah kita harus benar-benar memperhatikan setiap langkah yang kita ambil dalam proses untuk menggapai cita-cita atau impian kita.

Jika anda hari ini masih menapak secara perlahan bahkan terlalu lambat dalam karir, bersyukurlah untuk itu. Berdoalah senantiasa dan bersekutulah dengan Tuhan secara teratur, lalu dengarkan suaraNya dan lakukanlah apa yang berkenan bagiNya. Lakukan pekerjaan anda sebaik mungkin seperti anda melakukannya untuk Tuhan, dan lihatlah bagaimana Tuhan bisa bekerja memberkati pekerjaan anda secara luar biasa. Tidak perlu terpikat lewat cara-cara curang atau keji, tidak perlu tergoda lewat perbuatan-perbuatan melanggar hukum apalagi sesuatu yang dianggap jahat di mata Tuhan, karena itu semua tidak akan pernah membawa kebahagiaan apapun. Pada akhirnya semua itu akan menjadi sia-sia. Tuhanpun menginginkan kita semua untuk berhasil, lebih dari apa yang kita impikan. Dan Dia siap memberikan itu semua bagi anak-anakNya yang taat melakukan firmanNya. Mungkin hari ini karir masih berjalan lambat, jangan khawatir. Tetaplah berjalan sesuai dengan apa yang digariskan Tuhan. Bekerjalah dengan jujur dan giat, dan pada waktunya anda akan melihat bagaimana Tuhan memberkati anda berkelimpahan disertai kuasa untuk menikmati dan bersukacita atas jerih payah anda.

Jangan hanya melihat hasil saja, namun perhatikanlah baik-baik prosesnya

Friday, December 11, 2009

Ikut Menderita

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:3
======================
"Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus."

ikut menderita, amanat agung, mewartakan injilSudah diselamatkan, lalu apa lagi? Pikiran seperti ini bisa hadir di benak orang-orang percaya. Ada banyak yang sudah cukup puas dengan keselamatan yang hadir bagi mereka ketika menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Keselamatan itu memang hadir cuma-cuma, atas kasih karunia Tuhan. Ketika kita menerima Kristus, kita pun dilayakkan untuk menerima hak waris Kerajaan Surga. Tapi benarkah setelahnya kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi? "Ah, karunia saya adalah karunia jemaat.." ujar seorang teman sambil tertawa. Untuk selamat semua orang pasti tertarik, tapi bagaimana ketika diminta untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan di muka bumi ini? Jumlah yang tertarik akan turun drastis. Sangat sibuk kerja, tidak punya waktu lagi, kurang sehat, tidak punya kemampuan, sampai tidak terpanggil, semua bisa dipakai sebagai alasan. Keselamatan cukuplah sampai pada dirinya saja. Urusan menyelamatkan yang lain itu urusan pengerja, gembala, pendeta dan sebagainya. Tidaklah heran ada banyak gereja yang mengeluh kekurangan pengerja. Seorang teman di ibu kota yang melayani di gerejanya bercerita tentang hal itu, betapa gerejanya kekurangan tenaga untuk melayani sehingga ia merangkap banyak hal bersama istrinya.

Panggilan untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan sesungguhnya bukanlah hanya tugas para pengerja dan hamba-hamba Tuhan. Panggilan itu sebenarnya diperuntukkan kepada siapapun yang sudah diselamatkan. Amanat Agung Tuhan Yesus berkata demikian: "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Pesan ini diberikan kepada murid-murid Yesus, dan di jaman sekarang, kitalah murid-muridNya. Oleh karena itu kita pun mengemban tugas yang sama. Tuhan Yesus sungguh mengerti bahwa ini bukanlah tugas yang mudah. Karena itulah Dia menekankan penyertaanNya dalam setiap misi pelayanan kita dan generasi-generasi selanjutnya sampai kepada akhir jaman. Tuhan Yesus pun menganugerahkan Roh Kudus, Sang Penolong untuk turun menyertai setiap langkah yang kita lakukan. "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Tuhan tidak berpangku tangan dan hanya menyuruh saja. Dia menyediakan dan mempersiapkan kita untuk mampu melakukan Amanat Agung. Karenanya keterlaluan jika kita menyia-nyiakan apa yang telah dianugerahkan Tuhan ini dan memilih untuk berpangku tangan, melepaskan tanggung jawab kita.

Setiap orang percaya seharusnya bisa melihat bahwa memberitakan kabar gembira, mewartakan Injil merupakan kewajiban yang penting. Kita harus mampu melihat bahwa setiap kita adalah penghubung antara generasi dalam menyampaikan kabar keselamatan ini. Tidak semua orang harus menjadi pendeta, tidak harus semua orang menjadi pengerja atau hamba Tuhan, tidak semua orang harus tampil melayani di gereja. Tapi kita semua bisa berperan di tempat kita masing-masing. Di kota tempat tinggal, di lingkungan sekitar, di kantor, dan sebagainya. Setidaknya kita bisa menjadi terang dan garam bagi sekitar kita lewat gaya hidup, sikap, tingkah laku dan perbuatan kita yang berbeda dari kebanyakan orang dunia.

Untuk bisa melakukan itu memang tidak mudah. Selalu saja ada harga yang harus dibayar. Pengorbanan dari segi waktu, tenaga, uang dan sebagainya, itu semua merupakan harga yang harus dibayar. Intinya, ada saat-saat dimana kita harus berkorban, dan mungkin juga menderita. "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24) sebaliknya "Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak layak bagi-Ku." (10:38). Mungkin susah, kita mungkin harus meninggalkan zona kenyamanan kita dan mengalami masalah karenanya, tapi saya ingin memberitahukan ini: ketika anda melihat seseorang bertobat, menerima Kristus dan hidupnya dipulihkan, anda akan merasakan sebuah sukacita dan kebahagiaan yang begitu luar biasa yang tidak akan dapat dibeli dengan harga apapun. Adalah sebuah pengalaman tersendiri yang tak terlupakan ketika anda melihat orang-orang yang mengalami Tuhan secara nyata tepat di hadapan anda.

Paulus tahu persis mengenai harga yang harus ia bayar. Ia bahkan mengalami begitu banyak penderitaan hingga harus mengorbankan hidupnya sendiri. Kepada jemaat Korintus ia berkata "..kami menunjukkan, bahwa kami adalah pelayan Allah, yaitu: dalam menahan dengan penuh kesabaran dalam penderitaan, kesesakan dan kesukaran, dalam menanggung dera, dalam penjara dan kerusuhan, dalam berjerih payah, dalam berjaga-jaga dan berpuasa.." (2 Korintus 6:4-5). Kemudian kembali Paulus menggambarkan penderitaan yang ia alami. "..lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut. Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.."(2 Korintus 11:23-25) dan seterusnya. Tapi Paulus tahu bahwa itu adalah harga yang harus dibayar, karena ada mahkota kehidupan yang disediakan Allah jika kita terus setia melakukan kehendakNya hingga akhir. Dan mahkota ini pun tersedia bagi kita semua yang rela melakukan kehendak Tuhan seperti Paulus. Kepada Timotius, Paulus mengingatkan pula bahwa pekerjaan ini tidaklah mudah. Hendaklah Timotius tetap setia, tidak patah semangat dan tetap kuat. Paulus berkata: "Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus." (2 Timotius 2:3). Pemberitaan Injil bisa membuat kita mengalami penderitaan, dipersalahkan, namun ingatlah bawha firman Allah tidak akan bisa dihambat. (ay 9). Lalu ia melanjutkan: "Karena itu aku sabar menanggung semuanya itu bagi orang-orang pilihan Allah, supaya mereka juga mendapat keselamatan dalam Kristus Yesus dengan kemuliaan yang kekal." (ay 10).

Kerinduan Paulus ini hendaknya bisa menjadi kerinduan kita pula. Kita bisa dihambat, tapi firman Allah tidak akan pernah bisa dibelenggu. Sepantasnya kerinduan ini muncul pada kehidupan orang-orang percaya yang tahu tugasnya. Mewartakan Injil adalah kewajiban yang sudah digariskan Tuhan kepada siapapun anak-anakNya yang sudah menerima keselamatan. Compassion, sympathy and affetion to others, itu perasaan yang seharusnya sudah kita miliki ketika kita hidup di dalam Kristus. "Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan" (Filipi 2:1). Dan ingatlah bahwa Tuhan telah mengaruniakan kita dengan talenta masing-masing, yang pasti akan sangat bermanfaat untuk dipergunakan bagi keselamatan banyak jiwa. Ada Roh Kudus yang membimbing dan menuntun kita, Yesus sendiri sudah menyatakan bahwa Dia akan menyertai kita hingga akhir jaman. Artinya semua telah diberikan Tuhan, tinggal kita yang memutuskan, apakah kita rindu melihat jiwa-jiwa dimenangkan seperti halnya kita atau memilih untuk berpangku tangan dan menyimpan semua janji itu secara egois hanya untuk diri sendiri saja. Sekali lagi, mungkin sulit, karena duna yang kita hadapi saat ini adalah dunia dimana "..orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng." (2 Timotius 4:3-4). Tapi kita harus mampu melakukannya dengan tekun dan sabar, karena itu semua sudah menjadi tugas dan kewajiban kita sebagai anak-anakNya. "Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tuaikanlah tugas pelayananmu!" (ay 5). Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk diberkati. Ada begitu banyak orang yang butuh penghiburan, butuh pertolongan dan butuh keselamatan di luar sana. Apakah anda di market place, di kantor, sekolah, lingkungan rumah dan sebagainya, bahkan mungkin di dalam keluarga sendiri. Selalu ada alasan mengapa anda ditempatkan disana sebagai orang percaya. Mari singsingkan lengan baju dan bekerjalah bersama Tuhan.

Ketika anda selamat, sudahkah anda memikirkan keselamatan orang lain?

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...