===================
"Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel."
Melanjutkan renungan kemarin, langkah selanjutnya yang harus kita lakukan adalah merenungkan firman siang dan malam. Ada perbedaan besar antara membaca dan merenungkan. Dalam perenungan, kita tidak hanya sekedar membaca tapi disertai dengan meneliti dan memikirkan dengan seksama isi yang kita baca. Untuk bisa mengetahui dengan benar suara Tuhan, tidaklah cukup hanya dengan sekedar membaca saja. Sekarang ingat, besok lupa, itulah yang akan terjadi jika kita tidak menyimak dengan seksama apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam hidup kita. Firman yang dibaca ala kadarnya bagaikan benih yang jatuh pada tanah berbatu, di pinggir jalan atau malah di semak duri. (baca Matius 13:1-8). Dibutuhkan kesungguhan untuk merenungkan firman Tuhan, menyerapnya dengan benar, sehingga benih firman itu bisa jatuh di atas "tanah yang baik" agar bisa menghasilkan buah berlipat ganda. Dikatakan berbahagialah orang "yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:2-3). Seperti itulah orang-orang yang selalu menyukai firman Tuhan dan merenungkan itu siang dan malam. Bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, sehingga tidak akan mengalami kekeringan dan bisa terus bertunas dan berbuah. Jika memperkatakan dan merenungkan firman siang dan malam sudah kita lakukan, selanjutnya kita harus pula meningkatkan itu dengan menjadi pelaku firman. Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk "bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalam Taurat Tuhan." Berhenti hanya pada memperkatakan dan merenungkan belumlah cukup jika tidak disertai dengan aplikasi nyata dalam kehidupan. Tahu kehendak Tuhan tapi tidak melakukannya adalah bentuk dari orang yang munafik. Dan Tuhan pun mengecam keras orang-orang yang bersikap munafik seperti ini. Oleh karena itulah Yakobus menekankan pentingnya untuk tidak berpuas diri hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, tapi juga harus melanjutkannya dengan perbuatan-perbuatan nyata sesuai apa yang dikehendaki Tuhan. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (ay 22) Orang-orang yang hanya mendengar atau membaca tapi tidak melakukan digambarkannya sebagai berikut: "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (Yakobus 1:23-24). Seperti ketika kita bercermin, kita hanya melihat rupa kita sebentar saja, dan setelah meninggalkan cermin kita tidak lagi tahu bagaimana rupa kita saat ini. Itulah bentuk orang yang berhenti sebelum melakukan. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25). Semua tuntunan Tuhan itu sangatlah berharga untuk menjadi bekal dalam kehidupan kita. Maka dari itu janganlah kita hanya sekedar mendengar lalu melupakan, tapi lakukanlah dengan sungguh-sungguh, maka keberhasilan demi keberhasilan pun akan mampu kita capai.
Sebagai gambaran lain kita bisa melihat hal ini lewat Ezra. Dalam awal kisah Ezra, kita bisa melihat kepulangannya dari Babel sebagai ahli kitab dilimpahi berkat lewat raja yang memberikan segala sesuatu yang ia inginkan. Bagaimana ini bisa terjadi? Dikatakan bahwa itu semua terjadi karena tangan Tuhan, Allahnya, melindungi dia. (Ezra 1:6,9). Tangan Tuhan berkenan melindungi Ezra adalah karena Ezra memiliki komitmen kuat untuk selalu meneliti firman Tuhan. Dia tidak berhenti sampai di situ saja, tapi juga kemudian melakukannya serta mengajarkan semua itu kepada orang lain. "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (ay 10). Dengan melakukan langkah-langkah inilah Ezra mendapat perlindungan langsung dari Tuhan dalam perjalanan hidupnya.
Hidup tidak mudah. Peningkatan karir akan selalu diikuti oleh peningkatan beban dan tanggungjawab. Saya gambarkan seperti ini: semakin tinggi kita naik, semakin kencang pula angin menerpa kita. Dan itu wajar. Pada satu ketika anda akan merasa bahwa tidak ada yang mudah di dunia ini, tapi di sisi lain ingatlah bahwa penyertaan Tuhan mampu membuat anda berhasil dengan sukses dalam setiap pekerjaan yang anda lakukan, bahkan yang maha berat sekalipun. Kuncinya adalah dengan memperkatakan firman, merenungkannya siang dan malam dan kemudian mengaplikasikannya secara langsung dalam kehidupan. Ketika ini anda lakukan, Tuhan akan mengulurkan tanganNya kepada anda. Berkat-berkatNya akan tercurah dan segala sesuatu yang anda lakukan akan berhasil. Kita manusia memang terbatas, namun Tuhan yang kita sembah berkuasa di atas segalanya, tidak ada apapun yang mustahil bagiNya. Itu sudah dijanjikan kepada kita. Sekarang, maukah kita mulai untuk melakukan apa yang diwajibkan kepada kita terlebih dahulu?
Membaca firman itu baik, rajin merenungkan firman akan lebih baik, dan jika disertai dengan perbuatan secara nyata, itulah yang terbaik!
Ketika porsi pekerjaan kecil, peningkatan karir menjadi dambaan. Ketika karir meningkat dan tanggungjawab menjadi lebih berat, yang hadir bukannya bersyukur tapi malah keluhan karena beban dan kesulitan pekerjaan bertambah. Ada banyak orang yang mengalami hal ini, termasuk salah seorang teman saya yang mengeluh karena merasa kurang sanggup menghadapi jabatan barunya yang lebih tinggi. Saya ingat betul bahwa ia dulu selalu mengeluh karena posisinya tidak kunjung meningkat, namun setelah meningkat keluhan pula yang keluar. Sesungguhnya apa yang kita inginkan? Karena jika kita menginginkan peningkatan karir tapi berharap bahwa pekerjaan atau tanggung jawab menjadi lebih kecil sementara gaji bertambah besar, itu semua tidaklah logis. Tentu saja peningkatan karir akan diikuti oleh peningkatan tanggungjawab yang seringkali diikuti dengan beban pekerjaan yang semakin besar pula.
Betapa besar perbedaan yang saya rasakan sebelum dan sesudah saya rutin membaca firman Tuhan yang terkandung di dalam alkitab. Saya menyadari saat ini betapa rapuhnya saya dahulu. Rapuh secara mental, rapuh secara iman, rapuh pula secara pribadi sehingga begitu mudahnya berbagai hal menyesatkan masuk ke dalam kehidupan saya. Untunglah itu tidak berlangsung seterusnya. Selama dua tahun terakhir tidak seharipun saya lalui tanpa membaca dan merenungkan firman Tuhan, termasuk pula menuliskan renungan yang, semoga, bisa menjadi berkat bagi teman-teman di manapun anda berada. Saya mendapati begitu banyak tuntunan yang sangat bermanfaat dalam hidup. Ada banyak rahasia-rahasia yang menjadi terang lewat tuntunan Roh Kudus, dimana semua itu sangat aplikatif untuk diterapkan ke dalam kehidupan. Perubahan pola pikir, cara pandang, kesabaran, kasih dan sebagainya, itu semua tumbuh seiring bertambahnya firman Tuhan yang masuk dengan lembut ke dalam hati. Saya mengalami sendiri bagaimana orang bisa diubahkan secara luar biasa dalam waktu yang relatif singkat, yang jika dilihat dari nalar manusia tentu sulit untuk terjadi. Begitu banyak mukjizat dan pemulihan yang saya saksikan, termasuk pula yang saya dan istri alami sendiri. Hari ini saya bisa mengatakan dengan pasti bahwa tidak ada satupun janji-janji Tuhan yang tidak terjadi. Bisa cepat, bisa lambat, tapi pada waktunya semua itu terjadi. His words never failed!
Penipuan berkedok sayembara atau undian begitu sering menjebak orang. Berkali-kali kita mendengar atau membaca komentar orang-orang yang menjadi korban penipuan ini. Kita sendiri pun mungkin sering menerima sms, email scam atau bahkan telepon yang mengatakan bahwa kita menang undian atau sayembara ini dan itu. Menang undian seharga ratusan juta rupiah, atau mobil mewah? Siapa yang tidak senang? Tapi jika kita tidak hati-hati, maka dalam waktu singkat kita pun akan mendapati diri kita tertipu dan menderita kerugian. Sudah begitu banyak korban yang jatuh akibat penipuan seperti ini, dan jumlahnya akan terus bertambah karena ada saja orang yang tergiur akan hadiah sampai-sampai lupa untuk memeriksa kebenarannya terlebih dahulu.
"There's no place like home" adalah sebuah quote terkenal dari salah satu film terpopuler sepanjang jaman, "The Wizard of Oz". Film dari tahun 1939 ini mengisahkan seorang anak gadis berusia 15 tahun bernama Dorothy yang tinggal di sebuah peternakan di pinggiran kota. Merasa bosan dengan kehidupannya, ia pun memimpikan tempat yang lebih indah, yang ia gambarkan sebagai "Somewhere Over The Rainbow". Ia pun kemudian mengalami petualangan seru di dunia mimpi. Tapi walau demikian, Dorothy rindu pulang ke rumahnya. Maka kata "There's no place like home" pun ia sebutkan di dunia mimpi yang membawanya kembali terbangun dari tidur. Film "The Wizard of Oz" memang sebuah kisah fantasi, namun bisa jadi menggambarkan apa yang banyak dialami anak-anak Tuhan. Ada banyak orang yang mulai merasa bosan dengan kehidupannya yang terkesan itu-itu saja lalu rindu untuk mendapatkan atau memulai sesuatu yang baru. Sayangnya hal ini sering dimanfaatkan iblis yang menawarkan berbagai gemerlap dunia yang sebenarnya berisi penuh jebakan. Tak terasa, tiba-tiba orang bisa menjadi begitu sesat bergelimang dosa. Masalahnya, jika Dorothy cukup menyebutkan "There's no place like home" untuk kembali, banyak orang yang merasa sudah terlalu jauh meninggalkan Tuhan dan merasa malu atau tidak layak lagi untuk kembali pulang.
Ada banyak orang yang menghalalkan segala cara untuk sukses. Mulai dari menyuap/menyogok, menipu/memanipulasi, memanfaatkan relasi/orang lain hingga menggunakan kuasa gelap. Orientasi kesuksesan adalah ketika mereka menjadi terkenal, kaya raya dan berbagai hal-hal yang duniawi saja, padahal itu tidaklah kekal sifatnya. Serangkaian kecurangan pun dihalalkan, yang penting berhasil. Itu target akhirnya, yang seringkali tidak berhenti sampai di situ. Kata berhasil biasanya tidak memiliki akhir, sangat relatif sifatnya. Sifat manusia yang cenderung tidak pernah puas akan memperburuk semuanya, dan akhirnya banyak manusia yang berakhir sebagai orang yang menjadi hamba uang atau hamba status, jabatan atau hamba dunia. Tidak hanya di dunia bisnis, dalam dunia olah raga pun demikian. Ada begitu banyak atlit yang melakukan kecurangan agar ia bisa lebih dari pesaing-pesaingnya. Dalam dunia kehidupan pun sama. Kita sangat peduli terhadap status kita di masyarakat, atau lingkungan teman-teman yang sayangnya bukan dalam konteks status manusia yang memiliki terang dan berfungsi bagai garam, namun lebih kepada manusia dalam status sosial tinggi lewat harta dan ketenaran.
Sudah diselamatkan, lalu apa lagi? Pikiran seperti ini bisa hadir di benak orang-orang percaya. Ada banyak yang sudah cukup puas dengan keselamatan yang hadir bagi mereka ketika menerima Kristus sebagai Juru Selamat pribadinya. Keselamatan itu memang hadir cuma-cuma, atas kasih karunia Tuhan. Ketika kita menerima Kristus, kita pun dilayakkan untuk menerima hak waris Kerajaan Surga. Tapi benarkah setelahnya kita tidak perlu berbuat apa-apa lagi? "Ah, karunia saya adalah karunia jemaat.." ujar seorang teman sambil tertawa. Untuk selamat semua orang pasti tertarik, tapi bagaimana ketika diminta untuk terlibat dalam pekerjaan Tuhan di muka bumi ini? Jumlah yang tertarik akan turun drastis. Sangat sibuk kerja, tidak punya waktu lagi, kurang sehat, tidak punya kemampuan, sampai tidak terpanggil, semua bisa dipakai sebagai alasan. Keselamatan cukuplah sampai pada dirinya saja. Urusan menyelamatkan yang lain itu urusan pengerja, gembala, pendeta dan sebagainya. Tidaklah heran ada banyak gereja yang mengeluh kekurangan pengerja. Seorang teman di ibu kota yang melayani di gerejanya bercerita tentang hal itu, betapa gerejanya kekurangan tenaga untuk melayani sehingga ia merangkap banyak hal bersama istrinya.