======================
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."
Kemarin saya menulis mengenai Menyampaikan Kebenaran Dengan Keramahan. Itu yang saya dengar dalam hati saya untuk disampaikan dalam renungan kemarin. Ketika saya menuliskan itu, saya tidak tahu apakah pesan itu ditujukan kepada seseorang atau kelompok secara khusus, kepada saya secara pribadi atau sebagai pesan umum dari Tuhan untuk mengingatkan kita agar tetap berlaku ramah, sopan, lemah lembut dan penuh kesabaran dalam menjalankan Amanat Agung. Tapi tadi pagi saya menerima sebuah sms yang membuat saya berujar "halleluya...Tuhanku, Engkau ajaib..". Apa isi sms itu? Sms itu datang dari seorang teman di Medan yang dalam waktu dekat akan melayani doa keliling di sebuah area untuk menyingkirkan otoritas perzinahan , memulihkan keluarga-keluarga dan menyelamatkan jiwa yang terhilang agar kembali kepada Kristus bersama teman-teman FA(Family Altar)nya. Dan semuanya menjadi jelas. Walaupun pesan dalam renungan kemarin berlaku buat kita semua, namun secara khusus pesan itu sungguh tepat bagi mereka. Haleluya.Tuhan terus berbicara pada kita hingga hari ini lewat berbagai cara yang ajaib. Hari ini, ketika saya selesai mendoakan pelayanan mereka, ayat ini pun hadir dalam hati saya. Ketika kita mengaku dan percaya pada Yesus, kita pun menerima terang. Sebab terang yang sejati adalah Kristus sendiri. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Tuhan Yesus memberikan terang kepada kita semua, dan kita harus berusaha untuk menjaga agar terang itu terus bersinar dan menerangi sekeliling kita. Paulus dalam surat Efesus pun berkata: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5:14). Ingatlah bahwa terang yang kita terima bukanlah untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk orang lain, terutama saudara-saudara kita yang masih berada dalam gelap. Ayat bacaan hari ini meneguhkan hal itu. Bangkitlah dan menjadi teranglah, agar kegelapan dan kekelaman yang menutupi bumi digantikan terang Tuhan yang terbit atas kita, dan kemuliaanNya dinyatakan lewat kita anak-anakNya.
Tuhan rindu anak-anakNya mampu memberi peran nyata untuk menjadi cahaya dalam kegelapan. Tuhan ingin kita terus bersinar dimana kemuliaan Tuhan akan terbit atas kita. Menjadi terang bukan hanya didapat lewat berdoa keliling atau melayani penuh waktu, tapi bisa juga lewat perbuatan-perbuatan kita yang menunjukkan perbedaan nyata dengan pola pikir duniawi. Misalnya ketika orang korupsi, kita tidak ikut-ikutan. Di tengah ketamakan akan harta milik pribadi, kita justru murah hati dan mau membantu orang lain. Ketika orang terlalu sibuk tanpa henti mengumpulkan harta, kita meluangkan waktu untuk saat teduh dan melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika orang menjadi sombong akan kesuksesannya, kita tetap rendah hati dan selalu ingat bahwa semua itu adalah berkat yang berasal dari Tuhan. Jika dunia melakukan pemaksaan lewat kekerasan, kita mengenalkan bahwa Tuhan adalah kasih lewat hidup dan perbuatan kita. Ketika orang hidup morat marit tanpa harapan, kita tetap bersukacita karena dalam Kristus selalu ada pengharapan. Ketika dunia hidup menurut kedagingan, kita hidup benar dipimpin Roh Kudus. Semua itu menunjukkan bahwa ada terang sejati yang berkuasa di dalam diri kita, dimana dunia akan melihat perbedaan nyata dan mengerti akan arti terang dalam Kristus.
"Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya." (Hakim Hakim 5:31). Bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya, penuh sinar terang, itulah yang ada dalam diri orang-orang benar yang mengasihi Tuhan. Kita harus terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lewat doa, baik doa pribadi maupun membangun mezbah keluarga dan sebagainya. Kemudian, janganlah pernah menutup diri dan hanya memusatkan segala sesuatu pada kebutuhan dan kecukupan diri sendiri saja. Lihat sekeliling kita, masih banyak yang butuh pertolongan dan terikat dalam gelap, peduli lah pada mereka. Jika kita melakukan itu, Tuhan pun akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8). Begitu banyak kegelapan di sekitar kita. Apakah anda siap untuk tampil menjadi terang? Bangkitlah dan menjadi teranglah!
Terang membawa sukacita dan keselamatan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain
Dalam mengajar saya berhadapan dengan berbagai orang dengan daya tangkap yang berbeda-beda. Saat ini saya tengah mengajar sebuah kelas kursus singkat sebulan dengan jumlah siswa 6 orang. Kali ini saya merasa sungguh sulit mengajarkan mereka. Mengapa? Karena daya tangkap ke enam siswa tersebut sama-sama lemah. Saya pun harus berulang-ulang mengajarkannya, dan setiap kali harus memperpanjang waktu mengajar agar mereka punya lebih banyak waktu untuk belajar. Ada kalanya rasa kesal mulai muncul, terutama ketika mereka bingung pada bagian yang padahal baru saja saya sebutkan. Tapi saya segera membuang rasa kesal itu dan tetap bersikap ramah. Saya yakin kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan membuat mereka akan semakin tidak mengerti. Justru dengan ketenangan dan keramahan, mereka akan bisa menangkap pelajaran dengan lebih baik, meskipun saya harus meluangkan lebih banyak waktu.
Belakangan ini hujan turun setiap hari di kota saya. Hujan tersebut menimbulkan kabut dan mengaburkan kaca mobil saya, sehingga saya sulit melihat dengan jelas terutama untuk melihat ke belakang. Tadi malam ketika saya pulang kerja, seperti biasa saya hendak memarkirkan mobil dengan cara mundur ke dalam garasi. Sesuatu yang rutin saya lakukan, seharusnya tidak ada masalah untuk itu. Tapi kabut yang menutupi kaca mobil bagian belakang ternyata membuat saya sulit melihat, dan saya pun menabrak tembok rumah saya. Untunglah cuma bemper yang pecah, lampu mobil saya tidak sampai terkena dan pecah. Saya pun diingatkan tentang apa yang terjadi jika kita tidak bisa melihat dengan jelas ketika melangkah.
Ada seorang pengemis yang selalu saya jumpai setiap hari dalam perjalanan menuju tempat kerja saya. Seorang bapak tua yang berjalan tertatih-tatih dari mobil ke mobil di sebuah lampu merah, mengharapkan belas kasihan pengendara yang lewat untuk menghidupi dirinya. Ketika saya tidak punya uang pecahan untuk diberikan padanya, saya mengucapkan maaf sambil tersenyum kepadanya. Pada suatu kali, bapak itu tiba-tiba mendekati saya dan berkata: "pak, bapak memang tidak setiap hari memberi saya uang sedekah, tapi bapak setiap hari memberi senyum. Ada banyak mobil yang memberi uang, tapi hanya sedikit yang memberi senyum..saya merasa senang sekali.." Dan dia mulai mendoakan saya seraya mengucapkan terima kasih. Apa yang anda pikirkan ketika melihat seorang pengemis? tentunya memberi uang sedekah bukan? Ternyata di balik itu mereka pun memiliki kerinduan untuk dihargai, dikasihi dan diperhatikan.
Semua orang telah berbuat dosa, semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu berita buruk. Saya membayangkan seandainya saya adalah salah satu jemaat Roma yang membaca surat dari Paulus itu, rasanya saya akan merasa terpukul. Mungkin sebagian besar jemaat Roma telah berusaha melakukan kebaikan, rajin beramal dan sebagainya, namun ternyata semuanya itu belum cukup untuk menyelamatkan, membersihkan diri dari dosa atau mengembalikan kemuliaan Allah ke dalam hidup mereka. Ayat hari ini saya garis bawahi sebagai sebuah dasar yang sangat penting disadari bagi hadirnya pemulihan hidup. Coba kita lihat bagaimana kehidupan anak-anak kecil. Adakah orang tua yang mengajarkan mereka untuk berbohong, mencuri dan sebagainya? Tapi tanpa diajari, kita sering menjumpai anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa ternyata telah berani berbohong atau mencuri sesuatu. Ini membuktikan bahwa ternyata sejak lahir manusia memang telah membawa bibit-bibit dosa. Di sisi lain, kita melihat bahwa begitu banyak orang terus menerus tergoda oleh keinginan daging, sehingga kerap kali terpeleset ke dalam dosa meskipun sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat sekalipun. Wajar jika manusia kehilangan kemuliaan Allah karena antara manusia cenderung untuk tunduk pada keindahan dan kenikmatan akibat kedagingan yang bermuara pada dosa.
Kemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi "terdampar" di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.
Bosan mendengar air mati di rumah saya? Itulah yang lagi-lagi terjadi. Sudah dua hari air kembali mati. Tadi pagi komputer istri saya sepertinya terkena virus, sehingga tugas saya pun bertambah lagi, membawa komputer untuk direparasi. Cukup? Tidak, karena malam setelah saya selesai mengajar dan hendak pulang, mobil tiba-tiba rusak. Sabar, tentu itu yang seharusnya saya lakukan, dan saya tahu Tuhan pun menginginkan saya untuk bisa bersabar menghadapi berbagai masalah. Tapi sejak air berhenti mengalir kemarin, saya terus menerus mendengarkan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini di dalam hati saya.