Thursday, December 11, 2008

Bangkitlah dan Menjadi Teranglah

Ayat bacaan: Yesaya 60:1-2
======================
"Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu."

bangkitlah dan menjadi teranglahKemarin saya menulis mengenai Menyampaikan Kebenaran Dengan Keramahan. Itu yang saya dengar dalam hati saya untuk disampaikan dalam renungan kemarin. Ketika saya menuliskan itu, saya tidak tahu apakah pesan itu ditujukan kepada seseorang atau kelompok secara khusus, kepada saya secara pribadi atau sebagai pesan umum dari Tuhan untuk mengingatkan kita agar tetap berlaku ramah, sopan, lemah lembut dan penuh kesabaran dalam menjalankan Amanat Agung. Tapi tadi pagi saya menerima sebuah sms yang membuat saya berujar "halleluya...Tuhanku, Engkau ajaib..". Apa isi sms itu? Sms itu datang dari seorang teman di Medan yang dalam waktu dekat akan melayani doa keliling di sebuah area untuk menyingkirkan otoritas perzinahan , memulihkan keluarga-keluarga dan menyelamatkan jiwa yang terhilang agar kembali kepada Kristus bersama teman-teman FA(Family Altar)nya. Dan semuanya menjadi jelas. Walaupun pesan dalam renungan kemarin berlaku buat kita semua, namun secara khusus pesan itu sungguh tepat bagi mereka. Haleluya.

Tuhan terus berbicara pada kita hingga hari ini lewat berbagai cara yang ajaib. Hari ini, ketika saya selesai mendoakan pelayanan mereka, ayat ini pun hadir dalam hati saya. Ketika kita mengaku dan percaya pada Yesus, kita pun menerima terang. Sebab terang yang sejati adalah Kristus sendiri. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Tuhan Yesus memberikan terang kepada kita semua, dan kita harus berusaha untuk menjaga agar terang itu terus bersinar dan menerangi sekeliling kita. Paulus dalam surat Efesus pun berkata: "Bangunlah, hai kamu yang tidur dan bangkitlah dari antara orang mati dan Kristus akan bercahaya atas kamu." (Efesus 5:14). Ingatlah bahwa terang yang kita terima bukanlah untuk diri kita sendiri saja, tetapi juga untuk orang lain, terutama saudara-saudara kita yang masih berada dalam gelap. Ayat bacaan hari ini meneguhkan hal itu. Bangkitlah dan menjadi teranglah, agar kegelapan dan kekelaman yang menutupi bumi digantikan terang Tuhan yang terbit atas kita, dan kemuliaanNya dinyatakan lewat kita anak-anakNya.

Tuhan rindu anak-anakNya mampu memberi peran nyata untuk menjadi cahaya dalam kegelapan. Tuhan ingin kita terus bersinar dimana kemuliaan Tuhan akan terbit atas kita. Menjadi terang bukan hanya didapat lewat berdoa keliling atau melayani penuh waktu, tapi bisa juga lewat perbuatan-perbuatan kita yang menunjukkan perbedaan nyata dengan pola pikir duniawi. Misalnya ketika orang korupsi, kita tidak ikut-ikutan. Di tengah ketamakan akan harta milik pribadi, kita justru murah hati dan mau membantu orang lain. Ketika orang terlalu sibuk tanpa henti mengumpulkan harta, kita meluangkan waktu untuk saat teduh dan melayani orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Ketika orang menjadi sombong akan kesuksesannya, kita tetap rendah hati dan selalu ingat bahwa semua itu adalah berkat yang berasal dari Tuhan. Jika dunia melakukan pemaksaan lewat kekerasan, kita mengenalkan bahwa Tuhan adalah kasih lewat hidup dan perbuatan kita. Ketika orang hidup morat marit tanpa harapan, kita tetap bersukacita karena dalam Kristus selalu ada pengharapan. Ketika dunia hidup menurut kedagingan, kita hidup benar dipimpin Roh Kudus. Semua itu menunjukkan bahwa ada terang sejati yang berkuasa di dalam diri kita, dimana dunia akan melihat perbedaan nyata dan mengerti akan arti terang dalam Kristus.

"Demikianlah akan binasa segala musuh-Mu, ya TUHAN! Tetapi orang yang mengasihi-Nya bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya." (Hakim Hakim 5:31). Bagaikan matahari terbit dalam kemegahannya, penuh sinar terang, itulah yang ada dalam diri orang-orang benar yang mengasihi Tuhan. Kita harus terus meningkatkan hubungan kita dengan Tuhan lewat doa, baik doa pribadi maupun membangun mezbah keluarga dan sebagainya. Kemudian, janganlah pernah menutup diri dan hanya memusatkan segala sesuatu pada kebutuhan dan kecukupan diri sendiri saja. Lihat sekeliling kita, masih banyak yang butuh pertolongan dan terikat dalam gelap, peduli lah pada mereka. Jika kita melakukan itu, Tuhan pun akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8). Begitu banyak kegelapan di sekitar kita. Apakah anda siap untuk tampil menjadi terang? Bangkitlah dan menjadi teranglah!

Terang membawa sukacita dan keselamatan bukan hanya untuk kita tapi juga untuk orang lain

Wednesday, December 10, 2008

Menyampaikan Kebenaran Dengan Keramahan

Ayat bacaan: 2 Timotius 2:24
=======================
"sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang.."

bersikap ramah, menyampaikan kebenaran dengan keramahan, sabar, lemah lembutDalam mengajar saya berhadapan dengan berbagai orang dengan daya tangkap yang berbeda-beda. Saat ini saya tengah mengajar sebuah kelas kursus singkat sebulan dengan jumlah siswa 6 orang. Kali ini saya merasa sungguh sulit mengajarkan mereka. Mengapa? Karena daya tangkap ke enam siswa tersebut sama-sama lemah. Saya pun harus berulang-ulang mengajarkannya, dan setiap kali harus memperpanjang waktu mengajar agar mereka punya lebih banyak waktu untuk belajar. Ada kalanya rasa kesal mulai muncul, terutama ketika mereka bingung pada bagian yang padahal baru saja saya sebutkan. Tapi saya segera membuang rasa kesal itu dan tetap bersikap ramah. Saya yakin kekesalan tidak akan menyelesaikan masalah, malah sebaliknya akan membuat mereka akan semakin tidak mengerti. Justru dengan ketenangan dan keramahan, mereka akan bisa menangkap pelajaran dengan lebih baik, meskipun saya harus meluangkan lebih banyak waktu.

Pulang mengajar hari ini, saya diingatkan dengan ayat bacaan diatas. Paulus mengingatkan Timotius, dan tentu bagi kita semua, bahwa sebagai seorang hamba Tuhan, ia tidak boleh emosi, tetapi haruslah ramah kepada semua orang. Timotius juga dituntut untuk cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut menuntun orang dalam pelayanannya. (2 Timotius 2:24) Kenapa demikian? "sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran, dan dengan demikian mereka menjadi sadar kembali, karena terlepas dari jerat Iblis yang telah mengikat mereka pada kehendaknya." (masih pada ayat 24). Ketika orang melawan dan menentang kebenaran, Timotius haruslah memperbaikinya dengan ramah, sabar dan lemah lembut, karena Tuhan selalu bersikap adil dalam memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat, tanpa terkecuali, tanpa pandang bulu. Tidak ada pilih kasih bagi Tuhan, karena siapapun manusia itu adalah hasil ciptaanNya yang Dia kasihi. "Atau adakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga adalah Allah bangsa-bangsa lain!" (Roma 3:29). Tuhan tidak menganak-emaskan suatu bangsa tertentu, Dia akan memberi berkat melimpah dan keselamatan bagi siapapun yang berseru kepadaNya. "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:12-13). Tapi bagaimana orang bisa mengenal Tuhan jika mereka belum percaya? Bagaimana orang bisa mengenal Tuhan tanpa ada yang memberitakan-Nya? (ay 14). Oleh sebab itulah Kristus sendiri mengutus kita lewat Amanat Agung untuk mewartakan kabar gembira bagi semua orang. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20). Persoalannya adalah bagaimana kita bisa memberitakan tentang kebenaran dan keselamatan dalam Kristus jika kita mengandalkan emosi dan kekerasan? Disinilah kita melihat pentingnya sebuah kelemah-lembutan, kesabaran dan keramahan yang berpusat pada kasih.

Kita tidak akan mampu mewartakan kabar gembira apapun jika kita memakai pola pemaksaan, kekerasan, penyiksaan dan sebagainya. Selain hal tersebut tidak akan membawa manfaat apa-apa dan malah semakin menjauhkan orang dari kebenaran, hal tersebut juga bertentangan dengan firman Tuhan. Kita justru diajak untuk bersabar dan tetap bersikap ramah. Dengan cara demikianlah kita bisa melepaskan mereka dari jerat iblis. Lihat, orang-orang yang melawan dan menolak kebenaran bukanlah musuh sesungguhnya yang harus kita perangi, tapi mereka adalah korban-korban jeratan iblis. Jika anda rindu pada mereka agar bisa diselamatkan, wartakanlah kabar gembira dengan ramah, sabar dan lemah lembut. Kenalkan Kristus dengan kasih, karena kebenaran tanpa kasih adalah sesuatu yang tidak akan pernah bisa menyentuh hati. Ada kesempatan bagi siapapun untuk bertobat dan kembali kepada Tuhan, dan itu bisa terjadi jika kita mampu menjadi anak-anakNya yang rindu untuk mengenalkan Kristus Sang Juru Selamat dengan ramah dan penuh kasih.

Kebenaran dinyatakan dengan sikap mengasihi akan menyentuh hati dan membawa keselamatan bagi mereka yang belum percaya

Tuesday, December 9, 2008

Menabrak Tembok

Ayat bacaan: Yesaya 59:1-2
==========================
"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

menabrak tembok, dosa menghalangi hubungan kita dengan TuhanBelakangan ini hujan turun setiap hari di kota saya. Hujan tersebut menimbulkan kabut dan mengaburkan kaca mobil saya, sehingga saya sulit melihat dengan jelas terutama untuk melihat ke belakang. Tadi malam ketika saya pulang kerja, seperti biasa saya hendak memarkirkan mobil dengan cara mundur ke dalam garasi. Sesuatu yang rutin saya lakukan, seharusnya tidak ada masalah untuk itu. Tapi kabut yang menutupi kaca mobil bagian belakang ternyata membuat saya sulit melihat, dan saya pun menabrak tembok rumah saya. Untunglah cuma bemper yang pecah, lampu mobil saya tidak sampai terkena dan pecah. Saya pun diingatkan tentang apa yang terjadi jika kita tidak bisa melihat dengan jelas ketika melangkah.

Ada orang yang menganggap Tuhan tidak mendengar doa mereka, tidak menjawab permintaan mereka dan sebagainya. Memang terkadang masalah waktu kita dengan waktunya Tuhan itu berbeda, dan apa yang dibuat Tuhan itu adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. (Pengkotbah 3:11). Namun ada satu hal yang juga harus kita waspadai, dan kita pastikan tidak sedang berkuasa atas diri kita, yaitu: dosa. Kita harus memastikan benar bahwa tidak ada kejahatan dalam diri kita, tidak ada dosa yang kita sembunyikan lagi dalam diri kita. Dosa itu bisa merintangi hubungan antara kita dengan Tuhan, sehingga Dia tidak mendengar dan menjawab doa-doa kita.

Jangan sembunyikan dosa-dosa anda, karena biar bagaimana pun Tuhan mengetahuinya dan hal tersebut bisa menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat dan keselamatan dari Tuhan. Salomo berkata: "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka." (Amsal 28:13-14).Kita harus segera membereskan dosa-dosa kita, mengakuinya dan bertobat. Tuhan Yesus mengingatkan hal yang sama pula. Mari kita lihat Yohanes 5 mengenai kisah Yesus ketika mengunjungi kolam yang disebut Betesda dan menyembuhkan orang yang sudah tiga puluh delapan tahun menderita penyakit. Setelah orang itu disembuhkan, Yesus berpesan padanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14). Dosa, baik besar atau kecil haruslah segera diselesaikan, diakui sehingga tidak menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan.

Seperti halnya kejadian menabrak tembok yang menimpa saya di awal renungan hari ini, dosa yang ada dalam diri kita bisa menghalangi pandangan kita, sehingga kita menjadi sulit melihat sesuai firman Tuhan dan akhirnya menjadi celaka. Saya sudah kenal betul posisi rumah saya, tapi masih juga bisa mengalami kecelakaan dengan menabrak tembok, seperti itu pula kita, yang mungkin sudah mengenal Tuhan, mengenal pribadiNya, namun dosa bisa menghalangi dan menjauhkan kita dariNya dan akhirnya mengalami celaka. Jangan beri toleransi pada dosa sekecil apapun, karena baik besar atau kecil tetaplah dosa yang bisa menjadi penghalang. "Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan." (Galatia 5:9). Karena itu, ingatlah selalu pesan Yesus: "Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan."(Matius 12:35) Singkirkan kabut yang menghalangi kita dengan Tuhan, sehingga kita jangan sampai "menabrak tembok" dan bisa selamat dalam perjalanan hidup kita.

Agar selamat dalam menempuh hidup, kita harus menyingkirkan kabut dosa yang menghalangi hubungan kita dengan Tuhan

Monday, December 8, 2008

Kemiskinan Yang Paling Miskin

Ayat bacaan: Amsal 21:13
========================
"Siapa menutup telinganya bagi jeritan orang lemah, tidak akan menerima jawaban, kalau ia sendiri berseru-seru."

kemiskinan yang paling miskin, bunda teresa, mengasihi sesama, membantu orang lainAda seorang pengemis yang selalu saya jumpai setiap hari dalam perjalanan menuju tempat kerja saya. Seorang bapak tua yang berjalan tertatih-tatih dari mobil ke mobil di sebuah lampu merah, mengharapkan belas kasihan pengendara yang lewat untuk menghidupi dirinya. Ketika saya tidak punya uang pecahan untuk diberikan padanya, saya mengucapkan maaf sambil tersenyum kepadanya. Pada suatu kali, bapak itu tiba-tiba mendekati saya dan berkata: "pak, bapak memang tidak setiap hari memberi saya uang sedekah, tapi bapak setiap hari memberi senyum. Ada banyak mobil yang memberi uang, tapi hanya sedikit yang memberi senyum..saya merasa senang sekali.." Dan dia mulai mendoakan saya seraya mengucapkan terima kasih. Apa yang anda pikirkan ketika melihat seorang pengemis? tentunya memberi uang sedekah bukan? Ternyata di balik itu mereka pun memiliki kerinduan untuk dihargai, dikasihi dan diperhatikan.

Jika berbicara mengenai kepedulian terhadap orang miskin, ingatan saya akan segera tertuju pada Bunda Teresa. Hampir sepanjang hidupnya dihabiskan di Kalkuta, India. Bunda Teresa ada ditengah-tengah masyarakat yang sangat miskin di sana, melayani Tuhan di antara yang termiskin, terbuang dan sangat membutuhkan. Bunda Teresa melayani orang yang lapar, gelandangan, buta, pincang, lepra dan sakit penyakit lain, orang yang telanjang, hingga orang yang tidak dicintai, tidak diinginkan, tidak diperhatikan atau orang-orang tertolak. Tentu pengalaman sekian banyak dasawarsa itu membuat Bunda Teresa tahu betul apa yang dibutuhkan orang. Dengarlah apa katanya:

"We think sometimes that poverty is only being hungry, naked and homeless. The poverty of being unwanted, unloved and uncared for is the greatest poverty. We must start in our own homes to remedy this kind of poverty."

Kemiskinan terbesar bukanlah kelaparan, telanjang dan tidak punya rumah, melainkan rasa tidak diinginkan, tidak dicintai, tidak dipedulikan. Itulah kemiskinan yang paling miskin. Begitu banyak orang yang mengalami kepahitan bukan karena mereka tidak mampu secara finansial, tapi karena mereka merasa tertolak, merasa tidak dikasihi dan sebagainya. Ada beberapa orang yang saya kenal mengalami hal seperti ini, meskipun secara ekonomi mereka berkecukupan.

Amsal Salomo mengingatkan kita untuk memiliki telinga peka terhadap jeritan orang yang membutuhkan pertolongan. Jika tidak, maka jeritan kita ketika membutuhkan pertolongan pun tidak akan didengar Tuhan. Mengapa demikian? Karena Allah adalah kasih. (1 Yohanes 4:8). Kedatangan Kristus ke dunia untuk menebus dosa kita adalah bukti nyata betapa besar kasih Allah pada kita. Karena Allah begitu mengasihi kita, maka kita pun harus mengasihi orang lain. (1 Yohanes 4:11). Mengasihi tidaklah harus selalu berbentuk pemberian materi, tapi lewat perhatian, lewat membagikan sebagian waktu kita untuk mendengarkan mereka yang membutuhkan pertolongan, atau yang paling mudah, lewat senyum tulus, itu bisa meringankan penderitaan mereka.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini merasa tidak diinginkan atau tidak dicintai (unwanted and unloved), dan sementara ini tidak ada dukungan moril, kepedulian atau empati dari saudara-saudara seiman, ingatlah ini: bahwa diatas segalanya ada Tuhan yang selalu peduli dan tidak pernah terlalu sibuk untuk mendengar anda. Anda tidak pernah sendirian. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Meski mungkin orang terlihat tidak menghargai anda, tapi anda berharga di mata Tuhan. Bacalah Mazmur 139:13-18, disana tertulis bahwa kita adalah hasil "tenunan" Tuhan sendiri, itu adalah sebuah kejadian yang dahsyat dan ajaib. Tuhan peduli, dan Dia punya rencana istimewa bagi anda.

Bagi kita yang tidak mengalami "kemiskinan yang paling miskin" ini, sudahkah kita perduli kepada saudara-saudara kita yang tengah menjerit meminta pertolongan? Jika pengabdian seperti Bunda Teresa terasa begitu jauh dan sulit, sudahkah kita memperhatikan orang-orang yang sangat dekat di sekitar kita? Maukah kita menyisihkan sebagian dari diri kita untuk mereka, atau kita malah bersungut-sungut karena merasa terganggu dengan kehadiran mereka? Yesus berkata: "..sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40) Menjelang perayaan Natal untuk memperingati kelahiran Yesus ke dunia, marilah kita mengimani dengan sungguh-sungguh perbuatan Kristus yang melayani tanpa terkecuali dengan penuh kasih.

Beri bantuan pada yang membutuhkan atas dasar kasih, karena Tuhan yang kita sembah juga adalah kasih

Sunday, December 7, 2008

Jalan Menuju Keselamatan

Ayat bacaan: Roma 3:23
======================
"Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah"

Yesus jalan keselamatanSemua orang telah berbuat dosa, semua orang telah kehilangan kemuliaan Allah. Itu berita buruk. Saya membayangkan seandainya saya adalah salah satu jemaat Roma yang membaca surat dari Paulus itu, rasanya saya akan merasa terpukul. Mungkin sebagian besar jemaat Roma telah berusaha melakukan kebaikan, rajin beramal dan sebagainya, namun ternyata semuanya itu belum cukup untuk menyelamatkan, membersihkan diri dari dosa atau mengembalikan kemuliaan Allah ke dalam hidup mereka. Ayat hari ini saya garis bawahi sebagai sebuah dasar yang sangat penting disadari bagi hadirnya pemulihan hidup. Coba kita lihat bagaimana kehidupan anak-anak kecil. Adakah orang tua yang mengajarkan mereka untuk berbohong, mencuri dan sebagainya? Tapi tanpa diajari, kita sering menjumpai anak-anak kecil yang belum mengerti apa-apa ternyata telah berani berbohong atau mencuri sesuatu. Ini membuktikan bahwa ternyata sejak lahir manusia memang telah membawa bibit-bibit dosa. Di sisi lain, kita melihat bahwa begitu banyak orang terus menerus tergoda oleh keinginan daging, sehingga kerap kali terpeleset ke dalam dosa meskipun sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat sekalipun. Wajar jika manusia kehilangan kemuliaan Allah karena antara manusia cenderung untuk tunduk pada keindahan dan kenikmatan akibat kedagingan yang bermuara pada dosa.

Ada kabar buruk kedua: perbuatan baik kita, sebaik apapun, ternyata tidak mampu menjadi kendaraan yang mampu mengantarkan kita menuju keselamatan. Titus 3:5 menggambarkan hal tersebut dengan jelas. Pada Roma 3:27 pun Paulus mengingatkan hal yang sama, bahwa tidaklah ada gunanya bermegah berdasarkan perbuatan. Kekristenan bukanlah mengajarkan bahwa kita boleh berbuat jahat, sebaliknya kita sangat diharuskan untuk selalu berbuat baik tanpa terkecuali dan mendasarkan segala sesuatu dalam kasih, seperti halnya Tuhan mengasihi kita. Namun perbuatan baik saja belumlah cukup.

Kelanjutan ayat bacaan hari ini menjelaskan sebuah konsep keselamatan. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (Roma 3:24) Ya, penebusan dalam Yesus, itulah yang membebaskan kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan manusia dengan Tuhan, sehingga manusia mampu beroleh kembali kemuliaan Tuhan untuk dinyatakan dalam hidupnya. Semua itu diberikan dengan cuma-cuma karena karya penebusan Kristus. Itu bukti nyata betapa Tuhan mengasihi manusia dan tidak ingin satupun dari kita untuk binasa. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Tuhan Yesus menanggung dosa kita di atas kayu salib untuk membebaskan kita dari belenggu dosa, dan kemudian mampu hidup menurut kehendak Tuhan. (1 Petrus 2:24). Allah telah melakukan sebuah langkah luar biasa sehingga kita semua bisa terlepas dari belenggu dosa yang selama ini merintangi hubungan kita dengan-Nya. Selanjutnya giliran kita, apa yang harus kita lakukan? Puji Tuhan jawabannya pun telah disediakan. "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan." (Roma 10:9-10). Kita hanya diminta untuk mengakui dan percaya. Kenyataannya tidaklah mudah untuk mengakui dengan mulut, apalagi percaya. Padahal ini adalah hal penting. Dengar apa kata Yesus: "Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang mengakui Aku di depan manusia, Anak Manusia juga akan mengakui dia di depan malaikat-malaikat Allah." (Lukas 12:8). Untuk itulah, kita sebagai anak-anak Allah yang telah mengalami sendiri penyertaan Tuhan dengan berbagai berkatNya harus tampil dengan kesaksian-kesaksian kita, dengan pola hidup kita, seperti yang dipesankan Kristus, agar semua lidah mengaku bahwa Yesus lah Tuhan. Anugrah keselamatan sungguh mahal, dan itu semua diberikan cuma-cuma lewat karya penebusan Kristus.

Demikianlah firman Tuhan: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah." (Yohanes 3:18). Ini sebuah penekanan penting. Kita hanya bisa dibebaskan dari hukuman, menerima kembali kemuliaan Allah dan menerima keselamatan jika dan hanya jika kita mengaku dan percaya bahwa Yesus adalah Tuhan dan Juru Selamat kita. Mari kita membuka hati kita untuk menerima Yesus sepenuhnya, sehingga kita tidak harus berakhir sia-sia ke dalam hukuman kekal, melainkan memperoleh kemenangan penuh damai dan sukacita bersama Allah.

Yesus pikul dosa kita di atas kayu salib agar kita diselamatkan adalah anugrah terindah karena Allah mengasihi kita

Saturday, December 6, 2008

Belajar Dari Ibu Penjual Jamu

Ayat bacaan: Matius 28:19-20a
=============================
"Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu."

bersikap ramah, kasih, mengasihiKemarin saya sudah bercerita tentang mobil saya yang tiba-tiba mogok. Pagi hari tadi saya pergi ke bengkel, dan menunggu disana selama berjam-jam. Siang harinya istri saya datang menemani. Ketika sedang duduk, datanglah seorang ibu penjual jamu menghampiri istri saya, menawarkan jamu terbaru. Istri saya menolak, tapi si ibu itu tidak patah semangat! Ia terus ngobrol menggambarkan khasiat jamu dagangannya, dan ketika saya mendekati mereka, saya pun ditawari berbagai macam produknya. Ibu penjual jamu itu sangat ramah, keramahannya tidak seperti dibuat-buat, dengan senyum lebarnya ia terus menerangkan berbagai jamunya satu persatu. Bagaimana selanjutnya? Saya pun membeli segelas telur ayam kampung dicampur madu, yang menurut si ibu menghilangkan pegal-pegal dan baik untuk kelelahan. Mungkin dia tahu saya sudah dari pagi "terdampar" di bengkel. Apakah ibu itu bohong? Tidak. Segelas campuran telur dan madu itu membuat saya menjadi segar hingga malam, dan punya tenaga untuk mengangkat ember demi ember untuk mengisi bak mandi saya, karena kami belum juga mendapatkan pasokan air hingga saat ini. Saya akan melewatkan kesempatan untuk sesuatu yang menyehatkan jika ibu tadi tidak menawarkan (bukan memaksakan) dengan ramah dan penuh senyum canda.

Dan saya bersyukur bahwa Tuhan menuntun saya ke sebuah bengkel hingga bertemu si ibu tadi. Dari dia, saya pun diingatkan dan belajar akan satu hal. Ini sebuah analogi dari bagaimana kita sebagai murid Yesus harus bersikap menghadapi dunia. Ayat bacaan hari ini menulis bahwa Yesus meminta kita para muridNya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa muridNya. Mengapa demikian? Karena kepada Yesus telah diberikan segala kuasa, baik di bumi maupun di surga. (Matius 28:18).Tidak ada orang yang bisa datang pada Tuhan tanpa melalui Yesus (Yohanes 14:6). Yesus adalah pintu, dimana siapapun yang masuk melalui Dia, maka orang itu akan selamat dan mempunyai hidup lengkap dengan segala kelimpahan. (Yohanes 10:9-10). Tuhan Yesus selalu merindukan domba-dombaNya yang hilang dan menginginkan mereka semua kembali padaNya, dan karenanya akan diselamatkan dari kematian yang kekal. "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Kita sebagai murid-muridNya diutus untuk mewartakan kabar gembira, menyelamatkan banyak jiwa untuk mendapatkan keselamatan dalam kehidupan kekal yang penuh damai sejahtera.

Bagaimana seharusnya sikap kita untuk menjadi murid Yesus yang benar? Kita diminta untuk memiliki sikap-sikap baik kepada orang lain sebagai berikut: "Karena itu, sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi-Nya, kenakanlah belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Sabarlah kamu seorang terhadap yang lain, dan ampunilah seorang akan yang lain apabila yang seorang menaruh dendam terhadap yang lain, sama seperti Tuhan telah mengampuni kamu, kamu perbuat jugalah demikian." (Kolose 3:12-13). Semua kualitas baik di atas haruslah didasarkan oleh kasih. "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (ay 14). Kasih menjadi dasar kekristenan yang seharusnya kita miliki jika terang Kristus ada dalam diri kita. Kita harus mengasihi siapapun di dunia ini tanpa pandang bulu. Kita diminta untuk saling melayani lewat kasih, dan tidak menyalahgunakan kemerdekaan yang berasal dari Tuhan malah untuk berbuat dosa. "Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih." (Galatia 5:13). Kita harus selalu ramah dan bersikap lemah lembut terhadap semua orang (Titus 3:2), dan dengan demikian orang akan mengenal Yesus. Lewat siapa lagi terang Kristus akan memancar dan memantul kepada orang lain jika tidak melalui kita?

Jagalah agar jangan sampai kita menjadi batu sandungan. Jangan diskriminatif, memasang pagar tinggi terhadap saudara-saudari kita yang lain, terutama yang belum mengenal Kristus. Jangan pasang double, triple atau multiply standard, tetapi perlakukanlah semua orang dengan baik berdasarkan kasih, seperti halnya Kristus mengasihi kita. Ibu penjual jamu gendong diatas menawarkan dagangannya dengan kelemahlembutan, kesabaran dan keramahan, dan saya mendapat manfaatnya untuk menjaga stamina saya yang terkuras habis beberapa hari belakangan ini. Kita pun bisa belajar dari ibu penjual jamu untuk bersikap sama terhadap orang yang belum mengenal Tuhan. Sebagai murid-murid Yesus, kita seharusnya memiliki kerinduan yang sama dengan Yesus agar lebih banyak lagi jiwa terhilang bisa diselamatkan. Bukan lewat kekerasan, lewat caci maki, penghinaan atau pemaksaan, karena semua itu tidaklah ada gunanya dan tidak ada untungnya baik bagi kita maupun bagi saudara-saudara kita. Tidak ada jalan lain untuk memperkenalkan pribadi Yesus yang sesungguhnya dan segala berkat, hidup yang kekal dan pintu keselamatan menuju Bapa tanpa segala sesuatu sikap baik yang berdasar pada kasih.

Kenalkan Kristus dengan bersikap ramah dan penuh kasih pada sesama

Friday, December 5, 2008

Everyday Is A Test

Ayat bacaan: 2 Korintus 12:9
======================
"Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

everyday is a test, setiap hari ada masalah, masalah bertubi-tubi, menghadapi masalah beruntunBosan mendengar air mati di rumah saya? Itulah yang lagi-lagi terjadi. Sudah dua hari air kembali mati. Tadi pagi komputer istri saya sepertinya terkena virus, sehingga tugas saya pun bertambah lagi, membawa komputer untuk direparasi. Cukup? Tidak, karena malam setelah saya selesai mengajar dan hendak pulang, mobil tiba-tiba rusak. Sabar, tentu itu yang seharusnya saya lakukan, dan saya tahu Tuhan pun menginginkan saya untuk bisa bersabar menghadapi berbagai masalah. Tapi sejak air berhenti mengalir kemarin, saya terus menerus mendengarkan ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini di dalam hati saya.

"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna." What a wonderful God He is! Dalam tiap titik kesulitan di atas, saya merasakan kuasa Tuhan dinyatakan. Bagaimana? Mari saya ajak teman-teman melihat situasinya satu persatu.

  • Pertama, air mati. Ternyata di bawah rumah saya ada selang kecil yang lubangnya kira-kira sebesar sedotan (straw). Untuk menampung satu ember membutuhkan kira-kira setengah jam, tapi air itu mengalir dari gunung dan tidak berhenti, sehingga saya bisa menampung dengan sabar terus menerus untuk mengisi bak mandi saya. Tidakkah saya bersyukur bahwa Tuhan memberi saya tenaga yang cukup untuk menggotong ember demi ember sehingga kami tidak harus kekurangan air? Tidakkah saya bisa bersyukur bahwa masih ada selang yang walaupun kecil tapi masih bisa mengalirkan air ke dalam ember? Itu jauh lebih baik daripada tidak ada sumber air sama sekali, atau jika saya dalam keadaan sakit sehingga tidak mampu mengangkat ember. 
  • Kedua, kasus komputer yang terkena virus. Saya tinggal membawa komputer itu ke kampus dimana saya mengajar, karena disana ada teknisi-teknisi yang siap membantu memperbaiki tanpa biaya. Ya, saya memang harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membongkar pasang komputer, dan membawanya ke kampus, tapi saya masih punya tenaga lebih dari cukup untuk itu. 
  • Ketiga, mobil mogok, ternyata Tuhan kembali menunjukkan kuasaNya. Walaupun hari sudah malam, tapi saya bertemu dengan montir sepeda motor yang bersedia membantu, setidaknya hingga mobil bisa saya bawa kembali ke rumah dengan selamat. Dan luar biasa, walaupun orang itu tidak saya kenal, dia tidak mau menerima bayaran sama sekali meski telah mengutak atik mobil berjam-jam. "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." That's absolutely right, and I praise the Lord for that. Haleluya!

Everyday's a test. Setiap hari adalah ujian, apakah kita mampu taat dan tetap bersukacita ketika menghadapi permasalahan hidup atau tenggelam dalam keluhan dan kekecewaan. Petrus mengingatkan akan hal yang sama pula. "Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya." (1 Petrus 4:13). Berbagai ujian itu pun akan mendatangkan ketekunan (Yakobus 1:3). Kita belajar sabar, belajar tekun, dan yang lebih penting lagi, belajar percaya sepenuhnya pada Tuhan bukan ketika kita sedang aman-aman saja, tapi justru ketika kita menghadapi kesulitan hidup. Kita bisa bersungut-sungut dan mengeluh karena kesulitan itu menyita waktu, tenaga dan pikiran kita, sebaliknya kita bisa bersukacita dan bersyukur bahwa Tuhan selalu beserta kita dalam hal apapun. Mukjizat dimana Tuhan menyatakan kuasaNya tidak harus selalu dari hal-hal "bombastis" seperti orang mati dibangkitkan, orang sakit parah tiba-tiba sembuh dan sebagainya, tapi dalam banyak hal yang mungkin terlihat kecil, - terkadang sangat kecil sehingga banyak yang tidak menyadarinya karena fokus pada masalahnya dan bukan pada penyelesaian - , itu semua tetaplah mukjizat Tuhan yang nyata, tidak kurang hebatnya dari mukjizat-mukjizat di atas. Tiga masalah yang saya alami beruntun mulai kemarin semuanya menjadi bukti bahwa penyertaan Tuhan tetap ada, dan mukjizatNya tetap terjadi. Semua telah dicukupkan, dan Dia tetap hadir dengan kuasaNya yang ajaib.

Apapun masalah yang tengah kita hadapi, itu semua adalah ujian, dan bagaimana sikap dan cara menjawabnya semua tergantung diri kita sendiri. Saya percaya, Tuhan menjanjikan berkat yang lebih lagi bagi anak-anakNya yang mampu melewati berbagai ujian dengan sukacita berlimpah dan tetap percaya penuh pada kuasaNya. Jadi ketika anda menghadapi masalah beruntun dan bertubi-tubi, bersukacitalah karena Allah telah mencukupkan kasih karuniaNya bagi kita agar mampu menghadapi semuanya itu. Haleluya!

Anda tengah didera masalah bertubi-tubi? Bersyukurlah karena itu artinya anda akan merasakan kuasa Allah yang ajaib

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...