(sambungan)
Kalau yang menurut dunia harta berbanding lurus dengan kebahagiaan itu benar, kenapa mereka yang saya contohkan diatas tidak merasakannya? Mengapa ada banyak orang yang hidupnya pas-pasan atau bahkan yang tengah kesulitan seperti saya tetapi bisa menikmati hidupnya dengan kebahagiaan?
Alkitab sudah menyebutkan jawabannya sejak dahulu kala. Perhatikanlah ayat berikut ini:
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkhotbah 6:1-2).
Jika kita heran bagaimana banyak orang yang sungguh kaya raya, tapi tidak bisa menikmati kekayaannya, maka itu terjawab pada ayat bacaan hari ini. Ternyata kemampuan untuk menikmati pun berasal atau bersumber dari karunia Tuhan juga.
Ketika motivasi kita beralih dari mengasihi Tuhan dan membagi berkat buat sesama yang membutuhkan kepada menimbun harta sebanyak-banyaknya tanpa pernah merasa cukup, ketika kita mulai mengorbankan waktu kita bersama Allah dan mulai fokus mencari uang sebanyak-banyaknya, pada saat itu pula kita mulai meninggalkan Tuhan. Semakin jauh hal itu terjadi, semakin jauh pula karunia-karunia pergi meninggalkan kita, termasuk karunia untuk menikmati apa yang telah kita miliki.
(bersambung)
Wednesday, August 7, 2024
Kuasa Menikmati (4)
Tuesday, August 6, 2024
Kuasa Menikmati (3)
(sambungan)
Pada masa saya kuliah, ada seseorang yang saya kenal mendadak kaya entah dari mana. Ia tinggal tepat di depan rumah sahabat saya, jadi saya menyaksikan sendiri betapa drastis perubahannya.Tadinya tidak punya mobil dan rumah papan, dalam waktu singkat ia punya dua mobil, rumahnya menjadi sangat mewah dan sering mengadakan pesta.
Eh, tidak sampai setahun ia menderita sakit parah. Hartanya amblas dipakai untuk biaya pengobatan, dan beberapa waktu kemudian saat ia meninggal, jangankan hartanya masih tersisa, istri dan keluarganya terlilit utang dengan jumlah luar biasa besar. Dan semua ini terjadi kurang dari dua tahun.
Kalau itu terasa terlalu ekstrim, kita bisa lihat contoh-contoh sederhana dari kehidupan kita sehari-hari. Ada banyak orang yang secara materi lebih dari cukup bahkan melimpah ternyata gelisah hidupnya. Tidak bisa tidur, ketakutan kalau-kalau hartanya hilang. Ada yang terlalu sibuk mengejar harta, pergi pagi, pulang pagi, lalu keluarganya berantakan. Ada yang punya anak istri tapi tidak kunjung bisa menikmati kebahagiaan dengan keberadaan mereka dalam kehidupannya. Ada yang sibuk mencari kenikmatan sesaat diluar agar bisa merasa senang, tapi sesaat kemudian hatinya kembali hampa. Ada yang secara ekonomi sama sekali jauh dari masalah tapi hidupnya jauh dari bahagia.
Sejak pagi saat kita seharusnya memulai hari dengan sukacita, mereka memulainya dengan tidak tenang. Lihatlah semua dari mereka ini punya kesamaan. Sama-sama berkecukupan bahkan berkelimpahan secara kekayaan, tetapi tidak bisa menikmati apa yang ada pada mereka.
(bersambung)
Monday, August 5, 2024
Kuasa Menikmati (2)
(sambungan)
Sadarilah. Dunia terus mendorong kita untuk berlomba-lomba mengejar kekayaan. Dunia menganggap kekayaan, harta benda yang kita miliki menjadi kunci jawaban dari seluruh permasalahan yang ada.
Kaya berarti anda tidak perlu lagi berpikir panjang untuk membeli sesuatu. Anda bisa pergi berlibur kemanapun anda mau tanpa perlu repot-repot mengumpul uang dulu, apalagi ngutang atau lewat pinjol alias pinjaman online.
Rumah bisa besar, mobil yang terbaru, gadget yang terbaru atau termuktahir. Segala yang kita mau bisa kita dapatkan dengan mudah. Atau mungkin, apa yang kita ingin padahal tidak perlu pun bisa kita dapatkan langsung tanpa perlu pikir panjang kali lebar kali tinggi.
Masih bagus kalau kekayaan itu diperoleh lewat cara yang baik, benar atau halal. Tapi kKalau pada kenyataannya susah lewat jalan benar, pemikiran yang dilandasi oleh kekayaan harta benda akan membuat kita mengambil jalan yang bengkok sebagai alternatif. Yang penting kaya, yang penting menimbun harta. Itu dianggap banyak orang sebagai kunci untuk bisa menikmati hidup yang bahagia.
Tapi apakah benar demikian? Kalau kita tanyakan kepada mereka yang ditangkap karena korupsi, saya yakin sebagian dari mereka saat ini menyesali perbuatannya dan kalau bisa memundurkan waktu, mereka pasti lebih memilih untuk hidup ala kadarnya tapi jujur.
(bersambung)
Sunday, August 4, 2024
Kuasa Menikmati (1)
Ayat bacaan: Pengkhotbah 6:1-2
=========================
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit."
Ada satu hal yang benar-benar saya rasakan saat tengah berada dalam kondisi keuangan yang sulit selama dua tahun terakhir. Itu adalah: saat saya mengucap syukur kepada Tuhan.
Mungkin anda bingung, kenapa saya malah menikmati dan merasakan benar mengucap syukur justu pada saat ditimpa kesulitan ekonomi? Bukankah akan mudah untuk bersyukur saat kita tengah berada dalam kelimpahan tapi susah mengucapkannya saat ada di masa-masa kekurangan? Logikanya mungkin seperti itu. Tapi saya justru merasakan betul ucapan syukur disaat seperti ini.
Kenapa? Awalnya saya pun agak bingung dengan apa yang saya rasakan. Tetapi kemudian, setelah saya merenungkannya secara khusus, saya mendapat jawabannya.
Jawabannya adalah: karena apa yang masih saya peroleh atau miliki ditengah krisis keuangan selama ini, semuanya benar-benar bisa saya nikmati. Meski sedikit atau bahkan seringkali kurang, tapi semua dalam kekurangan itu justru terasa nikmatnya, yang bisa jadi justru lebih terasa dari saat hidup masih baik-baik saja.
Masih bingung? Saya beri contoh. Misalnya, sepotong ayam. Dulu saat masih mampu, setidaknya saya makan sepotong, istri sepotong. Di saat sulit, kami hanya membeli sepotong lalu membagi dua, dan itu untuk sehari. Tapi setengah potong ayam untuk sehari itu benar-benar nikmat rasanya, dan saya bersyukur disaat sulit seperti sekarang kami masih bisa merasakan nikmatnya ayam. Sesuatu yang mungkin tidak begitu terasa pada saat kami masih mampu membeli sesuai keinginan. Dan saya sangat menikmati bersyukur.
I even really feel that every day is a gift from God. Sebuah hari baru, dimana akan ada kesempatan baru, yang masih bisa saya jalani dengan sebaik-baiknya, karena Tuhan pun sudah memberikan kesehatan dan kemampuan bagi saya untuk mengusahakannya.
Jadi, pada intinya saya menyadari bahwa dibalik semua berkat yang Tuhan bisa, mau, akan dan sudah sediakan, ada kuasa yang sangat penting untuk kita miliki agar bisa menikmatinya. Itu saya sebut dengan KUASA MENIKMATI.
(bersambung)
Saturday, August 3, 2024
Gaya Gesek Dalam Pelayanan (9)
(sambungan)
Dalam pelayanan pertengkaran harus dihindari, dalam keluarga dan berbagai lingkungan dimana kita ada pun sama. Sesungguhnya kesabaran, kebesaran hati untuk memaafkan dan mendoakan orang yang bersalah pada kita bukanlah tergantung dari orang lain maupun situasi/kondisi melainkan tergantung keputusan kita. Bisa jadi Tuhan sedang ingin mengasah mental dan menguji iman kita dengan menempatkan orang-orang sulit untuk berada dekat dengan kita. Atau, bisa jadi pula Tuhan sedang memberi kesempatan bagi mereka untuk bertobat dan menjadikan anda sebagai penuntunnya.
Jika dalam menghadapi gesekan belum apa-apa kita sudah bereaksi dengan emosional dan mengambil tindakan-tindakan tidak dewasa, itu artinya kita belumlah menjadi pelayan yang taat terhadap tuannya. Kita harus periksa akar iman kita karena jelas buah yang dihasilkan belum baik.
Ingatlah bahwa di atas segalanya kita melayani karena mengasihi Kristus lebih dari segalanya. Taklukkanlah hal-hal lain yang mungkin merintangi pelayanan kita dengan kasih dan saling memaafkan dan fokuslah kembali pada tujuan dan visi yang sesungguhnya. Jangan biarkan motivasi menjadi kabur lalu membiarkan hal-hal negatif muncul karena adanya pergeseran arah tujuan pelayanan.
Si jahat selalu dengan senang hati mencoba merusak tujuan anda lewat hal-hal seperti ini. Seperti gaya gesekan akan muncul saat ada benda yang bersentuhan, kita pun bisa mengalami gaya gesekan yang sama setiap saat. Tapi, seperti halnya minyak pelumas yang bisa memperpanjang umur benda dengan menghindarkannya dari aus dan rusak, kita pun memiliki minyak pelumas yaitu Firman Tuhan.
Pertanyaannya, apakah kita mau memberi minyak pelumas atau membiarkan gesekan itu terjadi pada dua permukaan keras sampai panas dan api terpercik disana? Itu tergantung kita.
"Peace is not the absence of conflict, but the ability to cope with it" - Dorothy Thomas
Friday, August 2, 2024
Gaya Gesek Dalam Pelayanan (8)
(sambungan)
Bayangkan kalau diantara pelayan Tuhan saja saling bertengkar, mau bagaimana bisa menuntun orang lain untuk mengenal kebenaran, dengan lemah lembut pula? Bayangkan saat Tuhan buka kesempatan bagi seseorang untuk bertobat, tapi tidak ada satupun dari kita yang siap karena pada sibuk bertengkar dan saling benci? Kalau anda ada di posisi Tuhan yang sudah menganugerahi keselamatan bagi semua orang, memberi berkat dan rahmat yang baru setiap pagi, memberi kasih setia yang tak terbatas panjang, lebar dan besarnya, tapi yang diberi masih belum mampu menundukkan dirinya, bagaimana reaksi anda?
Orang-orang menjengkelkan mungkin akan terus ada. Orang yang dengan gampang mengkritik dengan cara yang kurang pantas bisa terus berada di sekitar kita.
Perselisihan dalam pelayanan bisa terjadi kapan saja. Gesekan-gesekan akan selalu ada ketika kita berada dalam sekelompok orang yang sama setiap hari. Itu sangat wajar.
Gesekan menimbulkan panas, itu benar. Tetapi yang harus kita perhatikan adalah sikap hati kita dalam menghadapi hal itu. Daripada membiarkan diri panas dan aus karena terus bergesek keras dengan mereka, lebih baik bersabar, maafkan dan doakan mereka. Kalaupun memang mereka keterlaluan, bicaralah baik-baik tanpa mengganggu pelayanan. Jangan biarkan emosi atau kemarahan mengalahkan dan menjauhkan anda dari tugas utama anda sebagai murid Kristus.
(bersambung)
Thursday, August 1, 2024
Gaya Gesek Dalam Pelayanan (7)
(sambungan)
Kita bisa meneladani mereka, seperti yang diingatkan oleh Yakobus. "Saudara-saudara, turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhan." (Yakobus 5:10). Kedatangan Yesus ke dunia pun tidak lepas dari berbagai penderitaan. Tapi karena kasihNya yang luar biasa besar bagi kita, Dia menggenapkan kehendak Bapa hingga tuntas, mati di atas kayu salib demi menebus dosa-dosa kita.
Lantas bagaimana jika gesekan atau perselisihan sudah terlanjur terjadi?
Yang terbaik adalah berusaha secepatnya untuk berdamai dan saling memaafkan. Kembali kepada tujuan semula dan belajar untuk saling lebih mengerti serta menghormati satu sama lain. Meski beda sifat, gaya dan cara, belajarlah untuk memikirkan orang lain sebelum kita berbuat atau mengatakan sesuatu. Dan, hendaknya bisa sehati sepikir dalam persatuan yang erat.
Itu tepat seperti apa yang diingatkan oleh Paulus agar menghindarkan diri dari perpecahan. "Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, demi nama Tuhan kita Yesus Kristus, supaya kamu seia sekata dan jangan ada perpecahan di antara kamu, tetapi sebaliknya supaya kamu erat bersatu dan sehati sepikir." (1 Korintus 1:10).
Seperti halnya Tuhan selalu siap membukakan pintu pengampunanNya bagi kita, demikian pula kita harus selalu siap untuk saling memaafkan satu sama lain. "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32).
Dengarkan pula nasihat Paulus kepada Timotius berikut: "sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran." (2 Timotius 2:24-25).
(bersambung)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...
