Thursday, January 7, 2016

Museum Pribadi Penguat Iman (2)

(sambungan)

Dari Daud kita bisa belajar banyak mengenai pentingnya melihat kembali museum pribadi kita. Ketika berhadapan dengan situasi-situasi sulit dalam hidup, kita bisa dikuatkan kembali dengan mengunjungi museum pribadi kita. Saya pun demikian. Ada begitu banyak mukjizat yang pernah saya alami, yang sebagian sudah pernah saya bagikan dalam renungan-renungan terdahulu. Tuhan mampu membuat segala yang tidak mungkin menjadi mungkin, Dia sanggup menyembuhkan, Dia sanggup melepaskan, Dia sanggup melakukan pertolongan ajaib yang bisa jadi tidak masuk akal bagi kita karena kekuatan dan kuasaNya tidak terbatas. Jika semua itu pernah saya alami di masa lalu, jika saya sudah menyaksikan sendiri kebesaran kuasa Tuhan yang terjadi pada orang lain, jika dulu Tuhan mau melakukannya untuk saya dan anda, mengapa hari ini tidak? Itu akan selalu bisa memberikan kekuatan bagi kita untuk tegar menghadapi situasi seberat apapun. Kita tidak perlu putus asa dan bisa terus teguh berdiri dengan penuh pengharapan. Mampukah kita berkata seperti Paulus: "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31). Seharusnya mampu, jika kita mau kembali melihat museum pribadi kita bersama Tuhan dan tidak terus menerus terfokus dalam kesulitan-kesulitan yang kita alami.

Pemazmur berkata: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Sangat terbukti, menunjukkan sesuatu yang sudah pernah terjadi berulang kali dan sudah dialami sendiri. Pemazmur tahu bahwa museum pribadinya pun berisikan begitu banyak bukti bagaimana kuasa Allah sanggup menolong dalam kesesakan, bagaimana Allah mampu menjadi tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai solusi atau jawaban dari setiap permasalahan yang kita alami. Alkitab jelas berkata: "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.." (Maleakhi 3:6). Dan Yesus pun demikian. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Tetap sama, kemarin, hari ini dan sampai selamanya, tidak berubah. Itu artinya, jika dahulu Tuhan bisa, hari ini pun sama, besok lusa dan sampai kapanpun Dia bisa! Ini perkataan Tuhan yang seharusnya kita ingat, namun ditengah himpitan masalah kita seringkali lupa dan hanya sibuk mengandalkan logika dan kemampuan kita yang terbatas ini untuk mengatasi kesulitan.

Tidak hanya museum pribadi, tapi Alkitab sendiri bisa menjadi sebuah museum yang mampu meneguhkan iman kita. Dalam kitab Roma kita bisa baca "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Itu dari pengalaman para tokoh Alkitab yang telah membuktikan sendiri bagaimana Tuhan mampu berbuat sesuatu yang jauh lebih tinggi dari nalar kita. Berada dekat dengan Firman Tuhan akan membuat kita bisa melihat pengalaman-pengalaman atau museum hidup dari para tokoh disana. Apabila kita menyadari Tuhan tidak pernah berubah, hal yang sama seperti para tokoh Alkitab pun bisa terjadi pada diri kita. Berkaca dari pengalaman-pengalaman ratusan tokoh Alkitab ini, seharusnya kita tidak perlu khawatir menjalani hidup yang terus semakin sulit dari hari ke hari.

Jika ada diantara teman-teman yang tengah mengalami beban berat pada hari ini, mulai merasa goyah dan meragukan janji Tuhan serta kemampuanNya, bukalah kembali museum pribadi anda. Lihat kembali satu persatu ketika anda mengalami jamahan Tuhan atau menyaksikan sendiri itu terjadi lewat orang-orang yang anda kenal. Jangan lupa pula untuk terus membaca dan merenungkan Firman Tuhan yang selalu mampu memberi kekuatan bagi kita yang lemah. Dari pada terus menangis memandang masalah, daripada hidup penuh keraguan, rasa kuatir, takut, gamang, galau dan sebagainya, mengapa tidak pindahkan pandangan anda untuk melihat museum pribadi anda masing-masing? Tuhan tetap sama. Dia tidak pernah berubah dari dulu, sekarang dan sampai selamanya. Dan Tuhan pun mengasihi semua anakNya dengan sama. oleh karena itu, kita tidak perlu khawatir.

Sudahkah anda mendirikan dan mengaktifkan museum anda sendiri?

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 6, 2016

Museum Pribadi Penguat Iman (1)

Ayat bacaan: 1 Samuel 17:37
====================
"TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu."

Indonesia itu punya lebih dari 300 museum, tapi kebanyakan sepi pengunjung. Kenyataannya adalah orang Indonesia lebih suka ke pusat perbelanjaan, cafe dan sebagainya ketimbang ke museum. Padahal museum memberikan banyak informasi atau memorabilia tentang sejarah, seni dan budaya dari masa lalu. Dari obrolan saya dengan pengurus salah satu museum beberapa waktu lalu, permasalahannya bagaikan lingkaran setan. Museum kurang inovatif, tidak menarik dan tidak dirawat baik, kekurangan guide yang representatif seperti museum-museum di luar sana, Itu di satu sisi. Di sisi lain kurangnya pengunjung dan kurangnya perhatian dari pemerintah membuat museum kekurangan dana untuk bisa menata diri secara layak. Gaya hidup anak muda saat ini adalah nongkrong di mall, cafe dan sejenisnya. Museum dianggap kuno dan tidak gaul. Sayang sekali memang, padahal ada banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik dari museum.

Pelajaran berharga bisa kita dapati dari museum karena setiap jaman punya masanya masing-masing. Selalu ada hal-hal yang bisa kita pelajari bahkan kita jadikan pelajaran jika kita mengacu kepada sejarah-sejarah atau peninggalan dari masa lalu. Pernahkah anda berpikir bahwa setiap orang termasuk anda sendiri sebenarnya punya museum-museum pribadi pula? Pasti ada saat-saat dalam hidup kita yang masih kita ingat dengan baik hingga hari ini, yang mungkin pernah menjadi tonggak perubahan kita ke arah yang lebih baik, sesuatu yang kita jadikan pengalaman atau pelajaran berharga dan sebagainya. Ini termasuk pula berbagai pengalaman ketika kita mengalami sesuatu yang luar biasa dalam hubungan kita bersama Tuhan. Ada begitu banyak kejadian-kejadian luar biasa yang akan selalu berguna untuk diingat, terutama ketika kita sedang mengalami pergumulan-pergumulan dalam hidup. Saya percaya semua orang pasti pernah mengalami saat-saat indah ketika Tuhan mengulurkan tanganNya untuk melakukan keajaiban dalam hidup kita, melepaskan kita dari masalah, menyembuhkan kita atau berbagai mukjizat-mukjizat  lainnya. Sayangnya kebanyakan orang seringkali melupakan itu semua ketika saat ini kita kembali dilanda masalah. Hari ini percaya, besok bimbang. Hari ini mengalami kebesaran kuasa Tuhan, besok sudah galau lagi. Itu kan yang sering terjadi pada kebanyakan orang, termasuk mungkin kita sendiri? Untuk menghadapi hari-hari yang berat dan sulit, kita sesungguhnya memerlukan sebuah museum pribadi seperti ini, yang penuh berisikan kenangan akan pertolongan Tuhan. Sebuah museum pribadi yang setiap saat bisa kita lihat untuk kembali menguatkan kita di kala lemah atau berbeban berat.

Ada contoh menarik akan hal ini dari Daud. Daud pernah mengungkapkan museum pribadinya sebelum dia berhadapan dengan Goliat. Pada waktu itu tentara Israel pimpinan Saul tengah merasa ketakutan menghadapi provokasi dari Goliat dan rekan-rekannya. Secara postur dan tinggi badan, perlengkapan persenjataan dan sebagainya mereka memang kalah jauh dibanding pasukan Goliat. Itu membuat tentara-tentara israel pimpinan Saul sudah kalah sebelum bertanding.

Siapa Daud waktu itu? Dia belum jadi raja Israel. Daud pada masa itu masih belia. Ia pun bukan seorang tentara, melainkan hanyalah sebagai penggembala sejumlah kecil domba milik ayahnya, sebuah pekerjaan yang sangat rendah di waktu itu. Dibandingkan tentara, tentu pekerjaan Daud tidak ada apa-apanya, apalagi usianya pun masih sangat muda. Tapi lihatlah bagaimana keberanian gembala ternak ini. Ia ternyata jauh lebih siap dibanding tentara yang seharusnya sudah berpengalaman dalam menghadapi peperangan. Tidak kurang dari 40 hari lamanya Goliat menantang Israel, dan selama itu pula tidak satupun dari mereka yang berani menghadapinya. Lalu Daud pun datang, dan sempat disepelekan oleh para tentara termasuk dari abangnya sendiri.

Apa sebenarnya yang membuat Daud merasa yakin mampu mengatasi Goliat? Lihatlah apa kata Daud ini: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup." (1 Samuel 17:34-36). Saat berhadapan dengan masalah yang besarnya bagai raksasa Goliat, Daud membuka museum pribadinya mengenai betapa hebatnya kuasa penyertaan Tuhan di waktu lalu.

Bekerja sebagai gembala kambing domba sepertinya terlihat sepele dan gampang. Tetapi sesungguhnya tidak demikian, karena itu membuatnya harus berhadapan dengan binatang-binatang buas seperti beruang dan singa. Dengan fisik dan tenaganya sendiri, apa yang bisa ia lakukan untuk melawan binatang-binatang buas seperti itu? Tapi Daud mengatakan mampu mengatasi itu berkali-kali. Dan Daud mengetahui dengan jelas bahwa itu bukanlah karena kehebatannya melainkan karena campur tangan Tuhan. Kekuatan Tuhan lah  yang memampukannya untuk bisa menaklukkan hewan-hewan pemangsa yang berukuran jauh lebih besar dari dia. Jika Tuhan sanggup membuatnya menang menghadapi binatang-binatang buas, mengapa tidak untuk menghadapi Goliat? Bagi Daud, Goliat tidak lebih dari singa atau beruang yang sudah pernah ia tundukkan. Singkatnya, Daud belajar dari museum pribadinya bersama Tuhan, dan itu membuatnya yakin dalam menghadapi apapun. "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 37).

(bersambung)


Tuesday, January 5, 2016

Galau (2)

(sambungan)

Dalam Surat Roma Paulus berkata "Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai!" (Roma 12:16). Ini adalah pesan penting bagi kita agar tidak mengandalkan diri kita sendiri saja. Jangan sok tahu, begitu kira-kira pesan Paulus. Ini pesan penting kepada kita yang sering terlalu cepat merasa takut terhadap sesuatu yang belum terjadi. Think simple, think wise, listen to God and follow Him. Itu dia intisari berikutnya dari perkataan Paulus ini. Apa yang dialami Petrus sering kita alami juga dalam kehidupan kita. Banyak orang yang mungkin sudah mengalami berbagai pengalaman ajaib bersama Tuhan, mengalami kuasa dan mukjizatNya yang luar biasa, namun kemudian ketika kebimbangan mulai merasuki hati dan pikiran kita, maka kita pun mulai kehilangan seluruh berkat dan janji-janjiNya.

Agar tidak bimbang, kita perlu benar-benar memahami apa yang menjadi rencana Tuhan dalam hidup kita, apa yang Dia kehendaki, dimana Dia akan ada bersama kita karena kita berjalan sesuai rencanaNya. Dalam Amsal dikatakan: "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Kita bisa bijaksana dan mendengar jalan yang ditentukan Tuhan lewat pengenalan yang baik akan Tuhan. Takut akan Tuhan, itu menjadi pembuka jalan agar kita bisa peka mengenali kehendakNya atas diri kita.

Dalam perjalanan hidup kita secara logika manusia bisa penuh dengan ketidakpastian, tapi ingatlah bahwa hidup yang terbaik bukanlah tergantung pada pendapat kita atau manusia, tapi sepenuhnya tergantung pada Tuhan. Yakobus mengingatkan kita untuk meminta dalam iman. "Hendaklah ia memintanya dalam iman, dan sama sekali jangan bimbang, sebab orang yang bimbang sama dengan gelombang laut, yang diombang-ambingkan kian ke mari oleh angin" (Yakobus 1:6). Jangan bimbang, karena dengan kebimbangan kita tidaklah akan mendapatkan apa-apa, tapi percayalah sepenuhnya pada Tuhan, karena bagi diriNya tidak ada satu pun yang mustahil.

Yesus bersabda "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Percaya, itu timbul dari iman. Dari mana iman timbul? "Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Berjalan bersama Kristus berarti hidup bersama kasih, dan dalam kasih itu tidak ada ketakutan. "Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih." (1 Yohanes 4:18). Artinya, tidak ada kebimbangan dan ketakutan jika kita sempurna di dalam kasih Kristus. Jangan berikan tempat bagi kebimbangan yang bisa membuat kita kehilangan janji-janji Tuhan. Alamilah terus perkara besar dalam hidup anda, hiduplah dalam kepercayaan dan ketaatan penuh dalam iman yang teguh akan Kristus.

Kebimbangan menghambat kita untuk mengalami perkara-perkara besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, January 4, 2016

Galau (1)

Ayat bacaan: Matius 14:31
=====================
"Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?"

Galau mengacu kepada kondisi hati atau perasaan yang sedih, gelisah, bingung, bimbang dan sejenisnya. Perasaan tidak enak yang bikin orang yang merasakannya jadi malas untuk ngapa-ngapain. Anehnya, industri hiburan terus mengarahkan generasi muda untuk terbiasa dengan galau, bahkan menjadikannya sebagai sebuah gaya hidup yang cool. Tidak heran kalau kita menemukan generasi galau dalam beberapa tahun belakangan ini. Ironis, karena galau bukanlah sesuatu yang membawa dampak positif bagi kita. Tanpa didorong oleh industri pun sebenarnya perasaan galau ini sudah berpotensi mengganggu atau merusak hidup kita. Galau, atau keraguan, kebimbangan, seringkali menyusup masuk dalam momen-momen penting di kehidupan kita. Jika tidak waspada, hati kita bisa dengan mudah dipenuhi oleh berbagai keraguan yang akan membuat performa atau produktivitas kita menurun. Hal ini harus disikapi sejak awal, sebelum kebimbangan menguasai diri kita dan membuat kita lemah. Dan ya, itu termasuk dalam hal keimanan.

Betapa bahayanya apabila sifat gampang galau ini merasuki keimanan kita. Dan itu terjadi pada banyak orang. Mereka percaya Kristus, sangat mengenal Firman Tuhan, tidak jarang sudah berulang kali mengalami bukti besarnya kuasa Tuhan baik dalam hidup mereka sendiri maupun lewat orang lain yang mereka kenal, tetapi iman mereka masih saja terlalu lemah untuk bisa teguh dalam iman. Mereka terus naik turun antara percaya dan ragu. Hari ini ditolong Tuhan, besok sudah bimbang lagi. Hari ini percaya, besok galau. Adakah diantara orang yang anda kenal bermasalah seperti ini? Atau mungkin anda juga masih naik turun seperti itu sampai sekarang. Susah sekali bagi mereka untuk bisa sepenuhnya percaya, tapi mudah sekali untuk bimbang atau galau. Padahal kebimbangan tidak mendatangkan keuntungan apapun melainkan justru merugikan karena membuat kita semakin jauh dari mengalami Tuhan.

Kita bisa berkaca dari peristiwa yang di alami oleh Petrus dan murid-murid Yesus lainnya dalam Matius 14:22-33. Pada suatu malam mereka tengah diombang ambingkan gelombang di tengah danau. Antara jam 3 sampai jam 6 pagi, Yesus pun datang menghampiri mereka dengan berjalan di atas air. Mereka semua kaget dan ketakutan mengira hantulah yang datang. (ay 26). Yesus pun kemudian menenangkan mereka, namun Petrus masih meragukan bahwa itu adalah Yesus. "Lalu Petrus berseru dan menjawab Dia: "Tuhan, apabila Engkau itu, suruhlah aku datang kepada-Mu berjalan di atas air." (ay 28). Yesus memanggilnya, dan Petrus pun mengalami peristiwa ajaib dengan berjalan di atas air. Ia terus berjalan di atas air menghampiri Yesus. (ay 29). Apa yang terjadi kemudian? Ternyata di tengah-tengah danau itu angin mulai membuatnya takut. Imannya memudar, dan ia kemudian mulai tenggelam. Seketika itu pula Petrus lalu berteriak minta tolong pada Yesus. Yesus kemudian menegurnya. "Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Matius 14:31). Petrus kemudian diselamatkan, dan mereka menaiki kapal. Seketika itu pula angin reda. (ay 32).

Ini kesaksian hidup Petrus dan para murid Yesus yang tidak asing lagi bagi kita. Mari kita lihat lebih dekat apa yang terjadi saat itu. Perhatikan bahwa apa yang dialami Petrus pada mulanya luar biasa. Petrus sudah mengalami keajaiban dengan berjalan di atas air. Bukankah itu sudah menjadi bukti kuasa Tuhan yang tidak terbatas? Tapi ketika rasa bimbang mulai timbul disertai rasa takut, maka ia pun mulai tenggelam. Lihatlah bahwa saat tengah mengalami Tuhan pun orang tetap saja bisa galau kalau pikirannya tidak dikendalikan dengan baik. Berawal luar biasa, tapi kemudian kebimbangan membuat iman memudar lantas membuatnya tenggelam.

Ini sebuah gambaran jelas bagaimana kebimbangan bisa menghancurkan kita. Seperti Petrus, kita pun bisa mengalami perkara-perkara besar dan ajaib dalam hidup kita, ketika kita taat pada Tuhan. Tapi lihatlah ketika kita mulai mengandalkan perasaan yang seringkali bias dan dipenuhi kebimbangan, maka kita pun akan tenggelam. Perhatikan dengan baik bahwa hal ini terjadi pada Petrus, yang notabene merupakan murid Tuhan yang tentu percaya kepadaNya. Bahkan Yesus sendiri saat menegur Petrus mengatakan : "Hai orang yang kurang percaya," bukan "Hai orang yang tidak percaya". Kurang percaya itu artinya sebenarnya percaya, tapi kurang besar tingkat percayanya.

Hal inilah yang sering memperlambat pertumbuhan iman kita orang percaya. Kita bukannya tidak percaya, tapi kurang. Kurang besar, kurang kokoh, kurang stabil atau labil. Naik turun, maju mundur, goyah atau goyang. Bukan saja yang tidak percaya yang gagal menerima janji Tuhan, tapi yang tanggung seperti itu pun sama. Ketahuilah bahwa iblis raja tipu muslihat sangat suka memanfaatkan kebimbangan manusia untuk masuk dan menghancurkan diri kita dari dalam. Iblis akan selalu berusaha menghabisi iman kita dengan cara menyerang kita lewat kebimbangan demi kebimbangan. Kebimbangan akan membuat kita ragu-ragu dalam melangkah, dan bisa menimbulkan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan ini akan mengarah pada ketidaktaatan, dan akhirnya kita pun akan tenggelam dan berakhir sia-sia.

(bersambung)


Sunday, January 3, 2016

Curahan Roh Kudus

Ayat bacaan: Yoel 2:28
================
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan."

Kemarin kita sudah melihat pentingnya berbalik arah dari jalan-jalan yang menyimpang untuk kembali kepada jalan Tuhan. Dalam renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana janji Tuhan yang luar biasa melimpah kepada kita yang melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh. Hujan awal dan hujan akhir, pemulihan dari tahun-tahun yang hasilnya habis dimakan belalang, kehadiran bala tentara Tuhan yang besar ketengah-tengah kita, semua itu akan diberikan kepada kita yang mau berbesar hati untuk menyadari penyimpangan-penyimpangan kita dan kemudian bertobat, kembali kepada Tuhan. Semua itu tertulis dalam Yoel 2:18-27. Ada sebuah janji lagi yang juga sudah saya singgung kemarin, yaitu Tuhan pun akan mencurahkan RohNya, Roh Kudus, ke atas kita semua. Hari ini mari kita lihat lebih jauh mengenai hal ini.

Yoel menubuatkan perihal curahan Roh Kudus sebagai berikut: "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." (Yoel 2:28-29). Ini sebuah nubuatan yang sangat penting bagi kehidupan kita di dunia yang sulit seperti sekarang ini. Tuhan sudah berjanji mencurahkan Roh Kudus ke atas kita. Musa sudah pernah mengungkapkan keinginan hatinya akan hal ini: "Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" (Bilangan 11:29). Dan Petrus pun menyinggung akan nubuatan Yoel ini dalam Kisah Para Rasul 2:16-21.

Lalu apa yang terjadi? Kita kemudian melihat bagaimana Roh Kudus turun dicurahkan Allah dari surga, turun bagai lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di atas para jemaat gereja mula-mula (bacalah Kisah Para Rasul 2). Setelah itu kita bisa melihat berulangkali kisah tercurahnya Roh Kudus ini hadir dalam pasal-pasal berikutnya, misalnya dalam Kisah Para Rasul 10 (ayat 44-46), pasal 11 (ayat 15-18), pasal 19 (ayat 6-7) dan sebagainya. Semua itu hadir dalam berbagai manifestasi secara rohani seperti berbicara dalam bahasa roh, bernubuat dan memuji Tuhan, tepat seperti apa yang dinubuatkan Yoel sekian ratus tahun sebelumnya.

Pertobatan merupakan langkah awal yang sangat penting untuk kita ambil. Selanjutnya Yoel juga mengingatkan "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." (Yoel 2:32). Paulus kemudian mengutip hal ini dalam surat Roma: "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13-14). Janji ini berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali.

Sadarilah bahwa dosa bagaikan batu yang jika semakin ditimbun akan semakin berat. Semakin jauh kita menyimpang maka akan semakin sulit bagi kita untuk berbalik arah. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk melepaskan diri dari dosa-dosa itu secepat mungkin dan melakukan pertobatan menyeluruh. Dan firman Tuhan pun berkata "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Kita harus menyadari betul tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Tuhan menjanjikan curahan Roh-Nya ke atas diri kita, yang akan memungkinkan kita mampu menjalani kehidupan yang berat di muka bumi ini, melihat berbagai mukjizat Tuhan terjadi, dan juga membuat kita menerima kuasa yang memampukan kita untuk menjadi saksi dimanapun kita berada. (Kisah Para Rasul 1:8). Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dalam memasuki tahun yang baru dengan segala kondisi yang mungkin sedikit banyak mengkhawatirkan kita. Marilah kita periksa diri kita dan memperbaikinya dalam memasuki tahun yang baru sejak awal, agar semua yang baik yang disediakan Tuhan tidak harus luput dari kita.

Tuhan menjanjikan Roh Kudus tercurah ke atas anak-anakNya yang taat kepadaNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 2, 2016

Berbalik Segera (2)

(sambungan)

Semua ini hadir sebagai janji Tuhan kepada orang yang mau berbalik dari jalannya yang keliru dan melakukan pertobatan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, pencurahan Roh Kudus yang memberkati secara rohani pun juga Tuhan janjikan, seperti ayat-ayat pada perikop selanjutnya dalam Yoel 2:28-32.

Dalam Yeremia kita juga melihat salah satu hasil dari pertobatan yang berkenan di hadapan Tuhan. "Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya." (Yeremia 25:5).

Dengan bertobat, kita akan bisa tetap diam di tanah yang diberikan Tuhan. Tanah seperti apa? Tanah yang berlimpah susu dan madunya seperti yang berulang-ulang disebutkan dalam kitab Keluaran, Bilangan, Ulangan dan beberapa kitab lainnya. Sebuah tanah yang penuh dengan hujan awal dan hujan akhir. Sebuah tanah dimana segala sesuatu dipulihkan berkelimpahan. Inilah tempat yang seharusnya kita peroleh sebagai pemberian Allah. Dengan bertobat secara sungguh-sungguh, maka kita pun bisa kembali mendiaminya, tidak peduli sejauh manapun kita sudah tersesat dan menyimpang dari tanah yang Dia janjikan itu.

Perhatikanlah. Tuhan begitu mengasihi kita, kita begitu berharga dan mulia di mataNya, sehingga segala yang baik telah Dia sediakan kepada kita dengan segala kelimpahan di dalamnya. Kalaupun kita menyimpang, sebuah pertobatan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita kembali menempati posisi seperti yang Dia inginkan. Tuhan selalu begitu rindu agar tidak satupun anakNya terhilang dan terlepas dari peluang mendapatkan segala yang baik ini. Seruan bertobat pun berulang-ulang kita dapati bahkan sampai kitab Wahyu. Memasuki tahun baru 2016, mari kita perbaharui ketaatan dan kesetiaan kita. Jika masih ada hal-hal yang kita lakukan ternyata masih menyimpang, marilah kita segera berbalik dan kembali kepadanya. Mari songsong tahun yang baru dengan semangat baru, dengan komitmen baru, sehingga berkat-berkat berkelimpahan Tuhan bisa menjangkau kita semua di tahun ini. Selamat tahun baru, Tuhan Yesus memberkati.

Pertobatan adalah awal dari pemulihan dan meraih kembali janji-janji Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 1, 2016

Berbalik Segera (1)

Ayat bacaan: Yoel 2:23
=============
"Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu."

Ada sebuah film lawas yang pernah saya tonton tapi lupa judulnya. Film ini mengisahkan tentang beberapa sahabat yang hendak pergi menonton pertandingan olah raga. Ditengah jalan mereka terjebak macet. Karena tidak ingin terlambat, mereka memutuskan untuk mengambil jalan alternatif yang lebih kecil yang sebenarnya tidak mereka kenal. Ternyata itu adalah pilihan yang sangat keliru, karena disana ada banyak kumpulan penjahat yang membuat malam yang seharusnya menyenangkan di stadiun itu berubah menjadi malam penuh teror buat mereka.

Sebenarnya sederhana saja. Kalau salah jalan, ya tinggal berbalik saja kemudian memilih jalan yang benar. Tetapi coba bayangkan jika anda salah jalan di kota besar seperti Jakarta dan kota-kota besar lainnya dengan alur yang rumit. Bisa jadi anda harus menghabiskan waktu lebih dari setengah jam untuk memutar balik hanya karena anda salah jalan sedikit saja, atau dalam contoh kasus ekstrim bisa jadi sedikit salah jalan bisa mendatangkan malapetaka seperti film di awal renungan ini. Dalam kehidupan kita tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita mengambil langkah-langkah yang salah. Ada begitu banyak percabangan dalam perjalanan kehidupan kita, dan jika kita salah mengambil jalan maka kita pun bisa tersesat, sehingga gagal mencapai tujuan kita. Semakin lama kita salah jalan, maka semakin repot pula kita untuk kembali ke jalur yang benar. Itulah sebabnya kita harus segera berbalik begitu menyadari bahwa kita mengambil arah yang salah secepat mungkin, sebelum semuanya menjadi semakin berat.Mumpung kita memasuki awal tahun yang baru, alangkah baiknya jika hal ini kita perhatikan segera.

Bicara soal salah jalan dalam mengambil langkah dan pilihan dalam hidup, kitab Yoel berbicara mengenai bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang dijatuhkan kepada bangsa Yehuda yang secara keseluruhan sudah menyimpang dari ajaranNya. Jika anda baca sejak awal, maka anda sudah bisa melihat adanya serbuan belalang yang merusak pertanian serta perekonomian mereka dengan sangat mengerikan membawa kehancuran bagi bangsa itu sebagai akibat dari penyimpangan mereka. (Yoel 1:4-12). Maka Yoel pun menyerukan pertobatan menyeluruh dan sungguh-sungguh secara nasional pula. Lalu bagaimana janji yang diberikan Tuhan kepada bangsa yang mau benar-benar bertobat, berbalik dari jalan-jalannya yang salah? Janji yang diberikan Tuhan lewat Yoel ini sangatlah indah seperti yang disebutkan dengan rinci pada pasal 2.

Lihatlah betapa baiknya Tuhan. Meski sudah menyimpang sejauh apapun, Tuhan berkenan memberikan kesempatan kedua dan tetap menyambut anak-anakNya yang berbalik kembali kepadaNya dengan segera dan dengan penuh sukacita, seperti apa yang dicontohkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang. Dalam kitab Yoel pun gambaran Allah yang sama bisa kita lihat pula. Mari kita lihat janji Tuhan kepada umatNya yang bertobat. "Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak." (Yoel 2:23-24).

Ini seruan Allah yang menjanjikan hujan awal, masa menanam atau investasi, hingga hujan akhir, masa menuai yang sama berkelimpahan. Pemulihan setelah kehancuran akibat penyimpangan-penyimpangan yang telah kita perbuat pun Dia janjikan pula. "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu." (ay 25). Dari sana, "maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya." (ay 26-27).

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...