Tuesday, April 7, 2015

Durhaka kepada Tuhan

Ayat bacaan: Ulangan 8:11
=====================
"Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini"

Tidak ada satupun orang tua yang menginginkan anak durhaka, tetapi masih banyak orang tua yang perih hatinya akibat perilaku anaknya. Kata durhaka secara umum mengacu kepada ingkar terhadap perintah dari orang yang seharusnya dihormati. Bentuknya bisa macam-macam, seperti melawan, membangkang, berlaku kasar, mengabaikan, merendahkan dan hal lainnya yang menyakiti hati dari mereka yang seharusnya mendapat hormat sepenuhnya dari kita. Maka istilah durhaka bisa disematkan kepada anak-anak yang berlaku seenaknya, tidak tahu terima kasih, tidak tahu membalas budi, tidak mengindahkan atau bahkan melawan nasihat dan perintah dari orang tuanya, apalagi yang tega berlaku kasar baik lewat perkataan maupun secara fisik. Sikap yang sangat tidak terpuji ini harus dihindari oleh siapapun tanpa terkecuali. Dan Alkitab pun secara tegas mengingatkan hal tersebut baik dalam hubungannya dengan orang tua, pemerintah terlebih kepada Tuhan.

Kalau saat manusia melawan orang tua bisa dicap anak durhaka, bayangkan apabila kita melukai hati Tuhan. Kita diajarkan Yesus untuk memanggil Bapa kepada Tuhan, itu menunjukkan hubungan kekerabatan yang sangat dekat seperti seorang anak dengan ayah. Kalau kepada orang tua kita harus hormat dan pantang untuk durhaka, apalagi kepada Tuhan. Sayangnya, banyak orang yang tega atau berani melawan dan menyakiti hati Tuhan baik secara sadar atau tidak. Bukankah keterlaluan ketika kita terus meminta segala yang terbaik dari Tuhan, berseru-seru kepadaNya dalam kesesakan, terus menikmati kebaikan dan kasihNya, tetapi masih saja punya kebiasaan melupakan Tuhan dan melawan segala perintah, peraturan dan ketetapanNya. Kita terus meminta hak tanpa peduli kewajiban, kita meletakkan Tuhan pada prioritas ke sekian dan dengan mudah menyingkirkanNya kapan saja kita mau. Itu pun termasuk durhaka. Padahal hukuman yang menanti itu tidak main-main.

Itulah yang diingatkan lewat ayat bacaan hari ini. Ayatnya diambil dari peringatan Tuhan yang diberikan kepada bangsa Israel. "Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini" (Ulangan 8:11). Tuhan memperingatkan mereka agar mereka tidak melupakanNya. Ternyata sikap pembangkangan dan durhaka kepada Tuhan bukan hanya masalah di jaman ini tetapi sudah berlangsung sejak dahulu kala. Tuhan memperingatkan mereka karena jelas sekali ada indikasi dan bukti penyelewengan mereka melupakan Tuhan.

Apa yang dilakukan bangsa Israel benar-benar sudah keterlaluan. Tuhan sendiri yang memimpin mereka keluar dari perbudakan di Mesir, memberi tiang awan dan tiang api dalam perjalanan mereka, membelah laut Teberau, memberi manna dari langit dan sebagainya. Mereka mengalami berbagai mukjizat silih berganti, meski mereka selalu bersungut-sungut dan terus mengeluh selama perjalanan mereka menuju tanah terjanji. Dan Tuhan pun masih bersabar dengan memberikan peringatan yang amat tegas ini. Apakah mereka menjadi taat? Israel yang tegar tengkuk ternyata memang benar-benar melupakan Tuhan yang telah begitu baik kepada mereka.

Lihatlah betapa kecewanya Tuhan. "Gunung batu yang memperanakkan engkau, telah kaulalaikan, dan telah kaulupakan Allah yang melahirkan engkau." (Ulangan 32:18). Di ayat sebelumnya kita melihat apa yang diperbuat Israel. "Lalu menjadi gemuklah Yesyurun (Israel), dan menendang ke belakang, --bertambah gemuk engkau, gendut dan tambun--dan ia meninggalkan Allah yang telah menjadikan dia, ia memandang rendah gunung batu keselamatannya. Mereka membangkitkan cemburu-Nya dengan allah asing, mereka menimbulkan sakit hati-Nya dengan dewa kekejian. mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (ay 15-17). Dalam kitab Hakim-Hakim dikatakan: "Orang Israel melakukan apa yang jahat di mata TUHAN, mereka melupakan TUHAN, Allah mereka, dan beribadah kepada para Baal dan para Asyera." (Hakim Hakim 3:7). Kurang apa lagi kebaikan Tuhan kepada mereka? Tapi ternyata segala berkat dan perlindungan Tuhan itu malah membuat mereka lupa diri. Bukannya semakin taat pada Tuhan, tapi mereka malah terlena dan membuat segala sesuatu yang merupakan kekejian di mata Tuhan. Memalingkan wajah dari Tuhan, itu bisa fatal resikonya. Maka sebelum terlambat sangatlah baik jika kita memperhatikan hal ini terlebih dahulu.

Pesan ini diberikan kepada bangsa Israel, itu benar. Tapi pesan yang sama juga berlaku bagi kita. Jika saat ini hidup anda sedang tenang, dalam keadaan baik, jika kini kita menjadi orang yang berhasil dan serba cukup, bersyukurlah senantiasa kepada Tuhan. Itu seharusnya membuat anda semakin dekat pada Tuhan dan bukan malah mengabaikannya. Lewat ayat bacaan hari ini kita diingatkan dengan tegas agar tidak melupakan Tuhan yang telah menyediakan segalanya itu bagi kita atas dasar kasihNya yang tak terukur dalamnya. Sangatlah keterlaluan jika kita sampai meninggalkanNya dan memilih jalan yang salah. Belajarlah untuk senantiasa mengucap syukur, baik ketika kita berada dalam fase "padang gurun" , atau ketika kita sedang menapak naik mengalami berbagai berkat Tuhan dalam kelimpahan. Kita harus terus mengingat bahwa segala-galanya berasal dari Tuhan. Hargai semua yang diberikan Tuhan dengan menunjukkan ketaatan dan kedekatan kepadaNya. Patuhi perintah, ketetapanNya, jauhi laranganNya, bangun terus hubungan yang dekat denganNya. Kita tidak ada apa-apanya jika tidak karena Tuhan. Jangan pernah lupakan Tuhan dan melawan perintah serta ketetapanNya, karena semua yang kita punya hari ini berasal dari kasih dan kebaikan Tuhan.

Hargai kebaikan Tuhan dengan menunjukkan ketaatan dan menjauhi sikap durhaka

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, April 6, 2015

Tekun Berdoa (2)

(sambungan)

Jika hakim yang lalim saja bisa luluh terhadap permohonan tidak jemu-jemu, dan pada akhirnya mau mengabulkan permintaan si janda, bagaimana mungkin Tuhan yang begitu penuh kasih setia tidak mendengarkan seruan kita? "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (ay 7). Tuhan yang penuh kasih dan adil akan selalu membenarkan anak-anakNya yang siang dan malam berseru kepadaNya dengan tidak jemu-jemu! Dia akan selalu memperhatikan setiap anakNya yang terus datang dengan kerinduan dan kasih untuk berbicara dan mendengar suaraNya tanpa henti, tanpa terpengaruh hal apapun. Dia tidak akan pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong kita, Dia tidak akan pernah berbahagia melihat kita menderita.

Apa yang Tuhan Yesus ajarkan lewat perumpamaan tadi begitu jelas, memberi sebuah perumpamaan untuk menegaskan, bahwa kita seharusnya selalu berdoa dengan tekun dan tidak jemu-jemu. Yesus mengajarkan bagaimana besarnya kuasa doa, bagaimana kita sebagai anak-anak Allah sebaiknya terus berdoa siang dan malam dengan tekun, bagaimana hendaknya kita tetap hidup dalam pengharapan dan tidak putus asa. Paulus dalam beberapa kesempatan menunjuk pada doa yang terus dilakukan siang dan malam dengan sungguh-sungguh. Salah satu contoh adalah ketika Paulus menyatakan betapa ia terus berdoa siang dan malam dalam kerinduan untuk bertemu dengan para jemaat di Tesalonika dan melayani mereka. "Siang malam kami berdoa sungguh-sungguh, supaya kita bertemu muka dengan muka dan menambahkan apa yang masih kurang pada imanmu." (1 Tesalonika 3:10). Lihatlah bagaimana ketekunan dan kesungguhan Paulus dalam mendoakan jemaat disana. Ini menjadi gambaran sebuah kegigihan dan ketekunan dalam doa yang disertai pengharapan yang berakar pada iman yang percaya sepenuhnya pada Tuhan.

Akan tetapi jangan salah menganggap bahwa apa yang dimaksud dengan berdoa dengan tidak jemu-jemu atau doa yang dipanjatkan terus menerus siang dan malam merupakan doa yang harus terus kita ulang-ulang atau bertele-tele. Bukan begitu, karena Yesus sudah mengajarkan bagaimana cara berdoa yang baik dan benar dalam Matius 6:5-15. Bukan karena banyaknya kata-kata, keindahan rangkaian kata dalam doa, tapi doa yang disertai iman lah yang penting. Bukan pula doa yang hanya dilakukan karena ada permintaan dan kebutuhan, menjadikan doa sebagai paket permintaan, tapi dasarkan doa sebagai sarana bagi kita untuk membina keintiman hubungan dengan Tuhan. Sejauh mana kita mampu bergantung dan mau mengandalkan Tuhan akan terukur atau terlihat dari kesetiaan kita dalam berdoa.

Kalau ketekunan dalam merintis usaha, dalam bekerja, menimba ilmu pengetahuan dan lain-lain sangat penting dan bisa mendatangkan keberhasilan besar, dalam berdoa pun sama. Bertekun dalam doa, tidak jemu-jemu, siang dan malam, tidak akan pernah sia-sia. Ada kalanya jawaban Tuhan tidak akan segera datang. Mungkin waktunya belum tepat, mungkin Tuhan ingin menguji keteguhan dan ketekunan kita, tapi pada saatnya, Tuhan akan menolong dan memberkati kita sesuai janji-janjiNya. Itu adalah sebuah kebenaran yang sifatnya pasti. Karena itu, hindarilah ketidaksabaran yang bisa mengarahkan kita kepada rupa-rupa kesesatan ketika kita memilih untuk mencari alternatif atau jalan pintas yang bisa membinasakan. Adalah jauh lebih penting untuk membina hubungan karib dengan Tuhan, dan sarana untuk itu adalah melalui doa. Oleh sebab itu tetaplah bertekunlah berdoa tanpa jemu-jemu. "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibrani 10:23).

Ketekunan merupakan faktor penting yang membawa kesuksesan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, April 5, 2015

Tekun Berdoa (1)

Ayat bacaan: Roma 12:12
====================
"...dan bertekunlah dalam doa!"

Ketekunan merupakan sebuah sikap yang sangat diperlukan dan menentukan kesuksesan seseorang. Seperti apa sebenarnya tekun itu? Tekun berarti sebuah sikap yang sungguh-sungguh, serius dan dilakukan terus menerus dalam bekerja. Orang yang tekun punya sifat pantang menyerah meski mereka mengalami gangguan, kesulitan dan hambatan dalam melakukan pekerjaannya. Mereka yang tekun tidak setengah-setengah dalam mengerjakan sesuatu, tidak sambil lalu dan selalu memberi yang terbaik dari dirinya tanpa memandang besar-kecilnya imbalan yang mereka terima. Ada banyak orang yang hari ini mencapai sukses berawal dari kegigihan dan ketekunan luar biasa dalam merintis usahanya. Mereka jatuh bangun, tidak tertutup kemungkinan disepelekan atau ditertawakan, direndahkan, mengalami kerugian di sana sini, tetapi ketekunan mereka pada akhirnya menghasilkan buah setelah melalui rentang waktu yang bisa jadi panjang.

Sangat menarik kalau kita lihat ayat bacaan hari ini yang diambil dari kitab Roma. Secara lengkap ayat ini berisikan seruan Paulus kepada jemaat di Roma mengenai cara hidup yang baik. "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Bertekunlah dalam berdoa, itu merupakan salah satu poin penting selain selalu bersukacita tanpa kehilangan harapan dan tetap bersabar meski tengah ditekan kesesakan. Kedengarannya mungkin sepele, tapi pikirkanlah, berapa banyak orang yang tetap menjadikan doa sebagai sebuah gaya atau bagian hidup ditengah banyaknya kegiatan yang terus bertambah seiring berkembangnya teknologi? Bukankah lebih asyik main gadget, posting foto di jejaring sosial ketimbang menutup mata dan melipat tangan? Atau jalan-jalan, bukankah itu juga lebih menyenangkan? Ada yang menyelipkan doa sambil lalu saja ditengah bermain pada waktu senggangnya, ada yang hanya menyisakan satu-dua menit sebelum tidur untuk porsi doa, ada pula yang hanya kalau sempat atau bahkan sudah sangat jarang melakukannya.

Semua itu tentu jauh dari pengertian tekun. Bertekun dalam doa adalah menjalankan doa secara serius, sungguh-sungguh, sepenuh hati, tidak menyerah dan putus asa meski jawaban doa belum hadir saat itu juga. Bertekun dalam doa adalah meluangkan waktu secara khusus, fokus sepenuhnya dalam membangun komunikasi dengan Tuhan, bukan dilakukan sambil lalu, diselipkan sana sini ditengah beraktivitas. Bertekun dalam doa adalah kerajinan dan semangat dalam memanjatkan doa dengan didasari kerinduan dan iman yang percaya penuh disertai kesabaran. Tidak kenal lelah, dilakukan terus menerus dengan serius, sepenuh hati. Seperti itulah seharusnya kita berdoa.

Dalam menghadapi masalah, seberapa besar kesabaran kita untuk berharap pada Tuhan? Seringkali ketidaksabaran ini menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk menikmati janji-janji Tuhan. Betapa seringnya kita hanya mencoba sebentar, hanya berdoa selama beberapa waktu, tetapi kemudian kita pun cepat merasa kecewa dan berhenti berdoa. Kita mau Tuhan menjawab dengan instan sesuai waktu yang kita inginkan, jika tidak maka secepat itu pula kita meninggalkan Tuhan. Sebagian orang lalu akan segera mencari alternatif-alternatif lain akibat merasa kecewa kepada Tuhan.

Atau tidak jarang pula orang terlebih dahulu mencoba segala sesuatu dan baru mencari Tuhan sebagai alternatif terakhir, atau ada pula yang menganggap doa sebagai sesuatu yang sekedar "nothing to loose." Ya dicoba saja, berhasil syukur kalau tidak ya sudah.." seperti itu pikiran sebagian orang. Itu bentuk doa yang tidak disertai keyakinan sedikitpun bahwa Tuhan mendengar dan sanggup menjawab doa mereka. Yang sering menjadi akar permasalahan, selain tidak yakin, mereka pun sulit menerima kenyataan bahwa waktunya Tuhan yang terbaik, untuk menyediakan segala yang terbaik bagi kita. Waktu yang terbaik yang kita anggap benar hanyalah berpusat pada pandangan kita pribadi, bukan lagi waktunya Tuhan. Tidak jarang pula orang malah hanya menganggap doa seperti mengirim paket permintaan semata. Ada perlu baru berdoa, jika semua berjalan sesuai keinginan, maka doa pun tidak dibutuhkan lagi. Padahal doa merupakan sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Semakin rajin kita berdoa, hubungan kita akan semakin dekat, kita pun akan semakin peka terhadap suaraNya. Dan itu membutuhkan ketekunan.

Tuhan Yesus memberikan sebuah perumpamaan yang sangat menarik mengenai pentignnya sebuah ketekunan dalam berdoa seperti yang bisa kita baca dalam Lukas 18:1-8. Mengambil perumpamaan tentang seorang janda, sosok yang lemah dan sering digambarkan sebagai figur yang tertindas dan diperlakukan tidak adil di dalam Alkitab, dan seorang hakim yang lalim. Demikian bunyi ayat pembuka perikop ini. "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (Lukas 18:1). Dalam kisah ini, si janda diceritakan terus memohon kepada hakim lalim agar haknya dibela. (ay 3). Sementara si hakim bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan sikapnya arogan dan lalim, tidak menghormati siapapun. Sesuai dengan gambaran pribadi si hakim, sudah tentu ia menolak permohonan janda ini. Tapi lihatlah janda itu tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon. Dengan gigih janda itu berjuang. Kegigihan menunjukkan bahwa ia masih menaruh harapan agar permohonannya dikabulkan, karena tidak ada orang yang akan gigih jika mereka tidak punya harapan sama sekali. Lalu pada akhirnya sang hakim yang lalim pun luluh dan membenarkan si janda. Dan Yesus pun berkata, "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!" (ay 6).

(bersambung)

Saturday, April 4, 2015

Boss Syndrome (2)

(sambungan)

Kita bisa melihat sebuah Firman Tuhan yang bunyinya sebagai berikut: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Lihatlah bahwa mentaati pemimpin dan tunduk atas otoritas mereka merupakan sesuatu yang sangat penting di mata Tuhan. Jika tidak dilakukan maka firman Tuhan berkata kita tidak akan mendapatkan keuntungan dalam hidup kita. Dan itupun harus dilakukan dengan sukarela dan gembira, bukan atas keterpaksaan. Pemimpin disini menyangkut pemimpin baik di rumah, kantor, kota, negara maupun gereja.

Titus 3:1 mengingatkan hal yang sama. "Ingatkanlah mereka supaya mereka tunduk pada pemerintah dan orang-orang yang berkuasa, taat dan siap untuk melakukan setiap pekerjaan yang baik." Ayat yang serupa bisa kita lihat pula melalui Paulus dalam Kolose 3:22 dan Efesus 6:5 yang menyebutkan bahwa kita harus taat kepada tuan di dunia sama seperti kita taat pada Kristus. Petrus berkata: "Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja sebagai pemegang kekuasaan yang tertinggi, maupun kepada wali-wali yang diutusnya untuk menghukum orang-orang yang berbuat jahat dan menghormati orang-orang yang berbuat baik." (1 Petrus 2:13-14). Penundukan terhadap otoritas atasan bahkan dikatakan bukan saja kepada yang baik tetapi kepada yang berlaku kejam sekalipun. "Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis." (1 Petrus 2:18).

Selain kepada atasan, penundukan diri juga berkaitan dengan bentuk-bentuk hubungan lainnya. Anak-anak hendaklah tunduk kepada orang tuanya (Efesus 6:1, Kolose 3:20), istri tunduk kepada suami (Kolose 3:18, Efesus 5:22, 1 Petrus 3:1), anak muda tunduk kepada yang lebih tua (1 Petrus 5:5) dan tentu saja di atas segalanya kita harus menundukkan diri kepada Kristus. Firman Tuhan berkata: "Maka sekarang, hai orang Israel, apakah yang dimintakan dari padamu oleh TUHAN, Allahmu, selain dari takut akan TUHAN, Allahmu, hidup menurut segala jalan yang ditunjukkan-Nya, mengasihi Dia, beribadah kepada TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, berpegang pada perintah dan ketetapan TUHAN yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, supaya baik keadaanmu." (Ulangan 10:12-13). Semua ini merupakan hal yang penting untuk kita perhatikan. Kita harus mampu meredam ego atau ke-aku-an kita agar bisa mengaplikasikan sikap penundukan diri seperti yang diinginkan Tuhan. Jelas diperlukan sebuah kerendahan hati untuk bisa mempraktekkan sikap ini dalam hidup kita.

Apakah hari ini diantara teman-teman ada yang sedang bermasalah dengan sikap penundukan diri ini, baik dengan anggota keluarga, orang tua, dalam pekerjaan, sekolah atau pelayanan? Jika ya berdoalah dan berusahalah untuk memperkuat sikap rendah hati sehingga anda bisa belajar tunduk kepada otoritas orang yang berada di atas anda. Yesus sendiri sudah mencontohkan bahwa penundukan diri merupakan hal yang sangat penting untuk kita lakukan sebelum menerima otoritas yang lebih tinggi lagi. Mari teladani sikapNya tersebut dalam hidup kita dan hindari godaan boss syndrome sesegera mungkin.

"..Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (1 Petrus 5:5)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, April 3, 2015

Boss Syndrome (1)

Ayat bacaan: Lukas 2:51
=======================
"Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya."

Ada seorang pengusaha besar yang menjadi diaken di gereja saya. Sehari-hari ia mengepalai ribuan karyawan yang tersebar di berbagai perusahaan miliknya, mulai dari pabrik, lapangan golf sampai resor. Meski ia merupakan seorang pemimpin, ia ternyata tidak punya masalah untuk merendahkan diri melayani jemaat setiap minggunya. Iseng saya bertanya kepadanya, dan ia berkata bahwa setinggi apapun posisinya dalam karir, ia tetaplah seorang hamba Tuhan. Jadi setiap hari Minggu ia justru senang karena bisa melatih penundukan diri, menjadi pelayan Tuhan dengan hati hamba.

Jarang sekali ada orang seperti ini. Yang banyak justru orang yang belum apa-apa sudah terkena boss syndrome. Merasa diri absolut, gampang tersinggung dan sok kuasa. Begitu punya sedikit posisi saja boss syndrome seperti ini biasanya sudah berpotensi muncul. Orang terus bermasalah dengan penguasaan diri. Belum apa-apa mereka sudah menunjukkan keengganan untuk setia dan taat kepada instansi dimana mereka bekerja atau kepada pimpinan. Mereka melanggar peraturan seenaknya, dan malah tersinggung atau marah ketika mendapat teguran. Harga diri disetel terlalu tinggi tapi disisi lain mereka berbuat sesuka hati. Kita sering bertemu dengan orang-orang yang bersikap seperti ini. Masalah penundukan diri, sikap kerendahan hati itu menjadi isu yang penting untuk kita perhatikan sebagai orang percaya yang terus berproses untuk semakin seperti Yesus.

Kalau demikian, bagaimana dengan Yesus. Yesus jelas punya otoritas yang jauh lebih tinggi dari pimpinan negara, perusahaan dan lembaga apapun di dunia ini. Dia memegang kunci surga, dan hanya lewat Dia lah kita bisa masuk ke dalam kesukacitaan kekal yang besar. Jadi kalau bicara soal kuasa, tidak ada lagi siapapun yang besarnya seperti Yesus. Menariknya, Yesus menunjukkan sebuah penundukan diri terhadap orang tua duniawinya.

Pada suatu kali Yesus yang masih berusia 12 tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah bersama kedua orang tuanya. Seusai perayaan, Maria dan Yusuf baru sadar bahwa ternyata Yesus tidak berada bersama mereka. Dan itu mereka sadari saat mereka sudah berada ditengah jalan pulang. Mereka pun bergegas kembali ke Yerusalem untuk mencari Yesus. Bisa dibayangkan betapa cemasnya orang tua yang kehilangan anaknya di tempat ramai seperti itu. Perjalanan kembali untuk mencari itu pun makan waktu yang cukup lama. Alkitab mencatat bahwa tiga hari kemudian barulah mereka berhasil menemukan Yesus yang ternyata ada di dalam Bait Allah. "Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama, sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan kepada mereka." (Lukas 2:46).

Kecerdasan Yesus dalam menjawab para alim ulama itu sungguh mencengangkan semua yang ada disana, termasuk pula Maria dan Yusuf. Seperti orang tua pada umumnya, saat itu Maria dan Yusuf pasti diliputi perasaan campur aduk, antara lega dan marah. Mereka pun menegur Yesus karena menghilang diam-diam seperti itu. Perhatikan, meski dalam Alkitab tertulis bahwa Yesus sempat mengatakan bahwa memang disanalah Dia harus berada, yaitu di dalam rumah Bapa (ay 49), tetapi Yesus mengambil keputusan untuk taat dan tunduk kepada orang tuanya duniawinya. Ayat selanjutnya menggambarkan hal tersebut. "Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya." (ay 51). Yesus memutuskan untuk taat mengikuti permintaan keuda orang tuaNya. Ia pulang ke Nazaret mengikuti mereka dan tetap hidup dalam asuhan mereka. Yesus tahu benar bahwa penundukan diri adalah hal yang pertama sekali harus dilakukan sebelum menerima sebuah otoritas.

Hidup dengan penundukan diri seringkali merupakan hal yang sangat sulit untuk kita lakukan. Kita harus mampu mengalahkan ego kita, kebanggaan diri dan sebagainya karena bagi sebagian orang sikap seperti itu dianggap bisa merendahkan harga diri mereka. Padahal kalau kita terus mempertahankan sikap buruk itu, bukan saja kita akan mendapat masalah dalam karir, keluarga atau hubungan sosial dalam masyarakat, tetapi kita pun melanggar firman Tuhan yang ternyata banyak berbicara mengenai soal penundukan diri ini.

(bersambung)

Thursday, April 2, 2015

Menjadi Saksi Kristus (2)

(sambungan)

3. Roh Kuduslah yang memberikan kekuatan dan kemampuan untuk bersaksi.

Dari ayat yang sama kita bisa melihat bahwa Roh Kudus akan memberikan kita kekuatan khusus untuk melakukan itu. Kita tidak akan pernah dituntut untuk melakukan itu semua sendirian. Ketika kita membagikan kasih Tuhan kepada orang lain, disana akan ada kuasa Roh Kudus yang sedang bekerja dalam diri kita. Yang penting adalah kita tidak menolak ketika panggilan itu sedang turun pada kita. Jangan lari dari panggilan, jangan mengelak dan jangan pula gentar, karena seringkali kesempatan yang baik akan sulit terulang kembali. Kita hanya perlu mulai membagikan pengalaman atau kisah hidup kita lewat kesaksian-kesaksian, dan Tuhan akan bekerja lewat Roh-nya agar semua kesaksian kita itu bisa tertanam lembut dalam hati orang yang mendengarkannya.

Disamping itu Yesus sendiri sudah berkata bahwa Dia akan selalu menyertai kita di dalam menjalankan Amanat Agung itu sampai akhir jaman. Kita tidak akan dibiarkan sendirian untuk melakukan itu. Jika anda menghadapi kesulitan, berdoalah, karena ada Roh Kudus yang akan selalu siap mendampingi anda dalam memberi kesaksian. Kita bisa melihat apa yang terjadi pada Petrus, Yohanes dan rekan-rekan sekerjanya pada suatu kali. Mereka pernah mengalami langsung bagaimana turunnya Roh Kudus membuat perubahan mengatasi ketakutan mereka terhadap ancaman orang banyak ketika hendak mewartakan Injil. "Dan ketika mereka sedang berdoa, goyanglah tempat mereka berkumpul itu dan mereka semua penuh dengan Roh Kudus, lalu mereka memberitakan firman Allah dengan berani." (Kisah Para Rasul 4:31). Tidaklah mengherankan apabila kemudian mereka bisa dengan berani mengatakan "Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu itu, kami dan Roh Kudus, yang dikaruniakan Allah kepada semua orang yang mentaati Dia."(5:32)

4. Allah sendiri yang akan mempertemukan kita kepada orang-orang yang harus dijangkau

Jangan lupa pula bahwa Allah sendiri yang akan memimpin kita untuk bertemu dengan orang-orang yang terbuka, mau menerima dan siap mendengar tentang besar kasih setia Allah kepada manusia tanpa terkecuali. Ada sebuah contoh yang tercatat dalam Kisah Para Rasul 16:4-12 ketika Paulus dipimpin untuk menuju Filipi yang terletak di Makedonia melalui sebuah penglihatan. Pada kesempatan lain kita bisa melihat Filipus dipimpin malaikat menuju seorang pembesar atau sida-sida di Ethiopia. (Bacalah Kisah Para Rasul 8:26-40). Ini menunjukkan bahwa bukan kepintaran kita mencari orang, tetapi Tuhan sendiri yang akan menuntun kita untuk bertemu dengan seseorang dan membagikan kesaksian kita kepadanya.

Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan adalah: apakah kita siap untuk berbagi? Apakah kita bersedia untuk itu, sebagai penggenapan panggilan yang telah diberikan kepada kita semua murid-murid Kristus? Kita harus ingat bahwa kesaksian yang harus kita sampaikan bukanlah hanya sekedar kata-kata saja, tetapi ada kekuatan Roh Kudus yang bekerja di dalamnya. "Sebab Injil yang kami beritakan bukan disampaikan kepada kamu dengan kata-kata saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh. Memang kamu tahu, bagaimana kami bekerja di antara kamu oleh karena kamu." (1 Tesalonika 1:5). Lalu apa yang harus kita lakukan? Petrus mengatakan "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni.." (1 Petrus 3:15-16).

Sementara kita menanti panggilan Tuhan, kita harus tetap menjaga kekudusan kita dan selalu siap sedia untuk itu, sehingga ketika panggilan itu datang, kita akan mampu melakukannya. Kalau kita sendiri masih belum beres, bukan saja kita tidak punya kesaksian apa-apa untuk dibagikan, tetapi bahkan bisa menjadi batu sandungan bagi orang lain. Bagaimana mau memberi kesaksian kalau kita saja masih menunjukkan perilaku buruk di masyarakat? Jadilah saksi-saksi Kristus yang mampu membagikan kasih dan berkat Tuhan kepada sesama.

Jadilah saksi-saksi Kristus yang mampu membawa pertobatan orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 1, 2015

Menjadi Saksi Kristus (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 1:8
========================
"Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi."

Seperti apa kuatnya sebuah kesaksian, dan seberapa pentingkah peran kita dalam bersaksi di mata Tuhan? Ada banyak orang yang mengira bahwa itu tidak penting. Ada yang berdalih mereka tidak tahu bagaimana caranya dan mengira bahwa itu hanyalah tugas mereka yang terpanggil menjadi hamba Tuhan seperti pendeta dan pengerja saja. Padahal tepat sebelum Yesus naik kembali ke Surga, Dia sudah memberikan Amanat Agung yang berlaku buat semua yang percaya kepadaNya dan sudah menerima anugerah keselamatan sebagai hasil dari penebusanNya. Banyak diantara orang percaya yang hanya beribadah seminggu sekali, itupun cuma datang, duduk, diam, doa, bernyanyi lalu pulang, dan sampai ketemu minggu depan. Kekristenan menurut mereka cukup dengan hanya sebagai "pengunjung" saja di gereja. Tidaklah heran jika sejak jaman dahulu sampai sekarang masalah yang ada tetap sama. "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37). Ada banyak orang percaya yang hanya berminat untuk mendapat berkat tetapi tidak mau berusaha untuk memberkati orang lain. Secara sempit mereka berpikir bahwa untuk memberkati orang lain sama dengan harus menjadi pendeta terlebih dahulu. Padahal Firman Tuhan sama sekali tidak mengatakan demikian.

Dalam renungan kemarin kita sudah melihat sendiri bagaimana Tuhan memandang pentingnya sebuah kesaksian. Kisah orang dari Gerasa yang kerasukan selegiun roh jahat (Markus 5:1-20) menunjukkan hal itu dengan jelas. Setelah ia disembuhkan dari kuasa roh jahat yang telah sekian lama menyiksanya, orang ini menyatakan keinginannya untuk mengikuti Yesus. Tetapi Yesus memintanya untuk bersaksi tentang apa yang ia alami ke wilayah dimana ia tinggal. "Yesus tidak memperkenankannya, tetapi Ia berkata kepada orang itu: "Pulanglah ke rumahmu, kepada orang-orang sekampungmu, dan beritahukanlah kepada mereka segala sesuatu yang telah diperbuat oleh Tuhan atasmu dan bagaimana Ia telah mengasihani engkau!" (Markus 5:19).

Sebuah kesaksian bisa membawa dampak luar biasa bagi yang mendengar. Itu bisa lebih efektif untuk menyentuh orang lain yang belum mengenal Kristus ketimbang kita mengkotbahi mereka dengan serangkaian ayat. Orang akan sulit menolak sebuah kenyataan yang sudah dialami sendiri secara langsung, dan itu bisa membuka pemikiran mereka tentang apa yang mungkin selama ini mereka bantah kebenarannya.

Apakah untuk menjadikan semua bangsa sebagai murid Yesus kita semua dituntut untuk menjadi pendeta? Tentu saja tidak. Kita semua tidak dipanggil untuk menjadi pendeta, tetapi dipanggil untuk menjadi saksi. Mari kita simak baik-baik apa yang dikatakan Yesus berikut: "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Inilah sebuah panggilan yang sangat penting untuk kita camkan.

1. Kita diminta untuk menjadi saksi Kristus.
Apa sebenarnya yang harus dilakukan oleh saksi? Saksi jelas tugasnya bersaksi. Sederhana saja. Sebagai saksi artinya kita diminta untuk menceritakan kisah hidup kita, bagaimana kasih dan kuasa Tuhan mampu memberi perbedaan dalam hidup kita selama ini. Kita tidak perlu mengajarkan sebuah pelajaran Alkitab secara mendetail atau lengkap, atau bahkan memahami teologi terlebih dahulu untuk menceritakan pengalaman kita bersama Tuhan, kecuali anda memang terpanggil untuk itu. Tetapi intinya, sebagai saksi kita hanya perlu mengetahui apa yang telah dilakukan Tuhan kepada kita, lalu menceritakan atau membagikan kebaikanNya kepada orang lain. Itulah tugas saksi, dan itulah panggilan yang diberikan kepada kita.

2. Kuasa diberikan lewat Roh Kudus.

Mari kita lihat penggalan ayat Kisah Para Rasul 1:8 sekali lagi. "kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu." Artinya Tuhan bukan menggantungkan semuanya kepada kemampuan kita, seperti kemampuan berbicara, kemampuan menjaring masa, kemampuan mengajar, kemampuan menguasai Alkitab dan lain-lain. Tuhan mengatakan bahwa semua itu merupakan pekerjaan Roh Kudus. Kita hanya perlu bersaksi lalu kita serahkan kepada Roh Kudus untuk menjamah mereka. Bahkan seringkali yang diminta hanyalah kesediaan kita, dan Roh Kudus lah yang akan membimbing setiap perkataan yang keluar dari dalam diri kita. "Apabila mereka menyerahkan kamu, janganlah kamu kuatir akan bagaimana dan akan apa yang harus kamu katakan, karena semuanya itu akan dikaruniakan kepadamu pada saat itu juga. Karena bukan kamu yang berkata-kata, melainkan Roh Bapamu; Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu." (Matius 10:19-20). Sekali lagi, bukanlah pekerjaan kita untuk meyakinkan orang, tetapi itu adalah pekerjaan Roh Kudus, dan kita harus menyerahkan sepenuhnya kedalam tanganNya, bukan dengan memaksakan kehendak atau melakukan tekanan-tekanan yang malah akan menjadikan kita sebagai batu sandungan.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...