(sambungan)
3. Murah hati merupakan salah satu produk kasih
Perhatikan ayat ini: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4)
Inti dari keimanan kita akan Kristus adalah kasih. Kasih punya kekuatan begitu besar yang bahkan cukup punya power untuk menggerakkan Tuhan mengorbankan Yesus untuk menyelamatkan kita. Selanjutnya, dalam Galatia disebutkan bahwa kasih adalah salah satu buah Roh, alias buah-buah yang dihasilkan oleh orang yang dipimpin oleh Roh Allah, dan tidak ada satupun hukum yang mampu menentang hal tersebut. (Galatia 5:22-23). Jangan lupa bahwa kasih itu bukan sekedar perasaan hati, tapi merupakan pribadi Allah sendiri. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Allah adalah kasih. God is not just full of love, but He is the Love itself. Karena itu kita belumlah mengenal Allah apabila kita masih belum memiliki kasih dalam diri kita. Kasih terhadap Tuhan dan sesama yang ada dalam hati kita akan menghasilkan kualitas hati yang penuh dengan kemurahan dan kebaikan-kebaikan lainnya.
Kita bisa melihat bahwa kemurahan hati memiliki tiga dasar utama. Begitu pentingnya murah hati sebagai produk yang diwarisi langsung dari Bapa Surgawi, sehingga tidaklah mengherankan apabila Dia melimpahi orang-orang yang murah hatinya dengan kemurahanNya yang tak terbatas.
Selajutnya mari kita lihat beberapa hal lain mengenai murah hati.
1. Orang yang murah hati tidak akan berdiam diri saat ada orang yang ditimpa kesusahan dan membutuhkan bantuan tanpa memandang latar belakangnya.
Kita bisa melihat sebuah contoh menarik mengenai orang Samaria yang murah hati dalam Lukas 10:25-37. Disana diceritakan mengenai seseorang yang turun dari Yerusalem menuju Yerikho. Dalam perjalanan ia bertemu dengan para perampok yang bukan saja merebut barang-barang bawaannya tapi juga menyiksanya habis-habisan. Tinggallah ia dalam kondisi sekarat sendirian terkapar di tengah jalan. Ada imam yang lewat tapi sepertinya sedang buru-buru atau mungkin tidak mau terlibat, ia melewati orang yang sekarat itu dari seberangnya. Lalu ada orang Lewi yang juga melakukan hal yang sama. Orang Lewi bicara tentang para pelayan Tuhan, orang-orang yang seharusnya menjadi tombak terdepan dalam penyebaran berita kebenaran. Tapi tetap saja perilakunya sama. Barulah kemudian orang Samaria hadir disana. Untuk diketahui, bangsa Samaria punya sejarah buruk dengan bangsa Yahudi. Seharusnya si Samaria ini tertawa puas melihat ada orang Yahudi yang sekarat disana, atau mungkin bisa menambahkan satu dua penderitaan lagi. Tapi ternyata justru orang Samaria inilah yang menunjukkan kemurahan hati. Ia menolong orang Yahudi ini tanpa memandang latar belakangnya. Inilah bentuk sebuah kemurahan hati yang seharusnya ada pada kita, yang tidak terhenti hanya karena adanya perbedaan-perbedaan seperti suku, ras, agama, golongan dan lain-lain.
2. Murah Hati bukan saja mendatangkan kebaikan bagi sesama tapi juga pada diri sendiri
Jika kita mundur ke belakang, dalam Amsal disebutkan "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri." (Amsal 11:17). Sebuah sikap murah hati mendatangkan banyak kebaikan kepada diri sendiri, bukan hanya kepada orang-orang yang kita bantu saja. Sebaliknya orang yang tega melihat kesusahan orang lain dan menutup pintu hatinya rapat-rapat, itu tidaklah mendatangkan manfaat tapi malah merugikan bahkan menyiksa diri sendiri. Itu kata firman Tuhan. Bukankah firman Tuhan pun sudah berkata bahwa "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24) dan "Siapa memberi kepada orang miskin tak akan berkekurangan, tetapi orang yang menutup matanya akan sangat dikutuki." (28:27). Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa kerelaan memberi, membagikan sebagian dari apa yang ada pada kita untuk saudara-saudara kita yang tengah kesusahan tidak akan pernah membuat kita berkekurangan. Ini sejalan dengan bagian dari kotbah Yesus di atas bukit yang kita lihat kemarin, "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7).
3. Murah Hati harus ditunjukkan lewat perbuatan nyata.
Cukupkah murah hati itu diwakili oleh sebuah perasaan kasihan, ungkapan simpati yang hanya berhenti hingga kata-kata yang keluar dari mulut saja tapi tidak disertai perbuatan nyata? Tentu saja tidak. Firman Tuhan berkata: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bilang kasihan saja? Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18). Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan-perbuatan yang dilakukan/diaplikasikan secara nyata dan berakar dalam kebenaran.
(bersambung)
Friday, March 20, 2015
Thursday, March 19, 2015
Murah Hati (1)
Ayat bacaan: Lukas 6:36
=================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Sebagai orang beriman kita sudah tentu harus murah hati. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan murah hati? Kebanyakan orang berpikir bahwa murah hati itu sama dengan royal alias suka bersedekah, tidak pelit dalam memberi. Itu memang bentuk dari murah hati, tetapi murah hati tidaklah secara sempit berbicara hanya mengenai memberi dalam bentuk material saja. Kalau kita lihat dalam kamus, murah hati didefenisikan dengan sebuah perilaku yang mudah memberi, tidak pelit, tapi juga penyayang, penuh kasih, suka menolong dan baik hatinya. Artinya sebuah kemurahan hati menyangkut banyak aspek dalam kehidupan dan dalam interaksi antar manusia.
Alkitab menyebutkan begitu banyak kisah tentang kemurahan hati yang lebih dari sekedar keringanan untuk membantu sesama hanya dari sudut finansial saja. Menariknya, kemurahan hati dalam firman-firman Tuhan ini mengacu kepada perbuatan, sikap, perilaku atau bentuk hati dari Tuhan dan manusia, yang sesungguhnya saling terkait satu sama lain. Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Yesus sendiri pada masa kedatangannya ke bumi: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Pesan ini dengan jelas menyatakan bahwa kemurahan hati kita seharusnya mengikuti bentuk kemurahan hati Bapa yang begitu besar kepada anak-anakNya. Dan kemurahan hati seperti ini tidak hanya bicara soal materi tetapi lebih jauh lagi menyangkut banyak hal. Bukankah keselamatan pun diberikan kepada kita sebagai sebuah anugerah cuma-cuma? Yesus yang menanggung semuanya, menebus semuanya dan melayakkan kita yang seharusnya tidak layak untuk bisa menerima anugerah sebesar itu.
Ada beberapa poin yang bisa kita angkat sebagai dasar titik tolak mengenai murah hati. Mari kita lihat satu persatu.
1. Murah hati bukan berasal dari usaha kita melainkan merupakan kasih karunia dari Allah
Ada ayat yang berkata: "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).
Kalau kemurahan hati berasal dari kasih karunia Allah, mengapa masih saja sulit bagi banyak orang untuk bermurah hati? Itu terjadi karena tidak semua orang sadar dan memeriksa apa saja kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah dalam hidupnya. Ada yang tahu tapi tidak menggunakannya dalam perbuatan-perbuatan nyatanya, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang tidak sadar sama sekali. Ambil sebuah contoh sederhana. Apabila anda diberikan sebuah baju yang indah, anda bisa memakainya, tapi anda bisa juga hanya menyimpannya, memutuskan untuk tidak dipakai, bisa lupa akan keberadaannya atau bisa pula membuangnya. Seperti itu pula kemurahan hati yang sudah diberikan Allah kepada kita. Alangkah indahnya apabila kita hargai dengan mempergunakannya kepada sesama, tapi betapa sayangnya kalau itu tidak kita pakai atau malah kita abaikan sama sekali.
2. Murah hati adalah cerminan pribadi Allah
Ayatnya sudah saya sampaikan sebelumnya: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36)
Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, termasuk ayah. Seorang ayah yang memberi keteladanan baik akan menghasilkan anak-anak berkualitas moral baik pula. Selain orang tua di dunia, kita punya Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan memberkati kita. Dia tidak pernah kekurangan waktu untuk mendengar kita dan mengulurkan bantuan. Dia tidak akan berhenti mengasihi kita dengan kasih setiaNya yang tak terbatas. Oleh karena itu, kalau kita menyadari betapa besar, banyak dan tak terbatasnya kemurahan hati Tuhan atas kita, sudah seharusnya kita pun mencerminkan sikap hati yang sama denganNya. Cerminan itu harus bisa terlihat atau dirasakan oleh sesama kita sehingga mereka bisa mengenal pribadi Allah lewat diri kita anak-anakNya.
(bersambung)
=================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Sebagai orang beriman kita sudah tentu harus murah hati. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan murah hati? Kebanyakan orang berpikir bahwa murah hati itu sama dengan royal alias suka bersedekah, tidak pelit dalam memberi. Itu memang bentuk dari murah hati, tetapi murah hati tidaklah secara sempit berbicara hanya mengenai memberi dalam bentuk material saja. Kalau kita lihat dalam kamus, murah hati didefenisikan dengan sebuah perilaku yang mudah memberi, tidak pelit, tapi juga penyayang, penuh kasih, suka menolong dan baik hatinya. Artinya sebuah kemurahan hati menyangkut banyak aspek dalam kehidupan dan dalam interaksi antar manusia.
Alkitab menyebutkan begitu banyak kisah tentang kemurahan hati yang lebih dari sekedar keringanan untuk membantu sesama hanya dari sudut finansial saja. Menariknya, kemurahan hati dalam firman-firman Tuhan ini mengacu kepada perbuatan, sikap, perilaku atau bentuk hati dari Tuhan dan manusia, yang sesungguhnya saling terkait satu sama lain. Dalam ayat bacaan hari ini kita bisa melihat sebuah pesan penting yang disampaikan oleh Yesus sendiri pada masa kedatangannya ke bumi: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Pesan ini dengan jelas menyatakan bahwa kemurahan hati kita seharusnya mengikuti bentuk kemurahan hati Bapa yang begitu besar kepada anak-anakNya. Dan kemurahan hati seperti ini tidak hanya bicara soal materi tetapi lebih jauh lagi menyangkut banyak hal. Bukankah keselamatan pun diberikan kepada kita sebagai sebuah anugerah cuma-cuma? Yesus yang menanggung semuanya, menebus semuanya dan melayakkan kita yang seharusnya tidak layak untuk bisa menerima anugerah sebesar itu.
Ada beberapa poin yang bisa kita angkat sebagai dasar titik tolak mengenai murah hati. Mari kita lihat satu persatu.
1. Murah hati bukan berasal dari usaha kita melainkan merupakan kasih karunia dari Allah
Ada ayat yang berkata: "Sebab Ia berfirman kepada Musa: "Aku akan menaruh belas kasihan kepada siapa Aku mau menaruh belas kasihan dan Aku akan bermurah hati kepada siapa Aku mau bermurah hati." Jadi hal itu tidak tergantung pada kehendak orang atau usaha orang, tetapi kepada kemurahan hati Allah." (Roma 9:15-16).
Kalau kemurahan hati berasal dari kasih karunia Allah, mengapa masih saja sulit bagi banyak orang untuk bermurah hati? Itu terjadi karena tidak semua orang sadar dan memeriksa apa saja kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah dalam hidupnya. Ada yang tahu tapi tidak menggunakannya dalam perbuatan-perbuatan nyatanya, ada yang pura-pura tidak tahu, ada yang tidak sadar sama sekali. Ambil sebuah contoh sederhana. Apabila anda diberikan sebuah baju yang indah, anda bisa memakainya, tapi anda bisa juga hanya menyimpannya, memutuskan untuk tidak dipakai, bisa lupa akan keberadaannya atau bisa pula membuangnya. Seperti itu pula kemurahan hati yang sudah diberikan Allah kepada kita. Alangkah indahnya apabila kita hargai dengan mempergunakannya kepada sesama, tapi betapa sayangnya kalau itu tidak kita pakai atau malah kita abaikan sama sekali.
2. Murah hati adalah cerminan pribadi Allah
Ayatnya sudah saya sampaikan sebelumnya: "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36)
Seorang anak biasanya mewarisi sifat-sifat orang tuanya, termasuk ayah. Seorang ayah yang memberi keteladanan baik akan menghasilkan anak-anak berkualitas moral baik pula. Selain orang tua di dunia, kita punya Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita. Dia menginginkan yang terbaik bagi kita. Dia akan senantiasa menjaga, melindungi dan memberkati kita. Dia tidak pernah kekurangan waktu untuk mendengar kita dan mengulurkan bantuan. Dia tidak akan berhenti mengasihi kita dengan kasih setiaNya yang tak terbatas. Oleh karena itu, kalau kita menyadari betapa besar, banyak dan tak terbatasnya kemurahan hati Tuhan atas kita, sudah seharusnya kita pun mencerminkan sikap hati yang sama denganNya. Cerminan itu harus bisa terlihat atau dirasakan oleh sesama kita sehingga mereka bisa mengenal pribadi Allah lewat diri kita anak-anakNya.
(bersambung)
Wednesday, March 18, 2015
Mengetahui Tugas dan Panggilan (2)
(sambungan)
Bagaimana jika dalam perjalanan kita bertemu dengan kesulitan atau masalah? Berjalan bersama Tuhan bukan berarti bahwa hidup akan sepenuhnya lancar tanpa masalah. Tapi kabar baiknya adalah, bahkan dalam keadaan terjatuh Tuhan tetap ada bersama kita. Secara jelas ayat berikutnya mengatakan: "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (ay 24). Itu artinya kita tidak perlu khawatir dalam melangkah selama Tuhan ada bersama kita. Kesabaran dan ketekunan kita sangat diperlukan terutama pada masa-masa proses pembentukan. Tapi kalau memang kita menjalankan hidup yang seturut firmanNya dan melakukan apa yang menjadi rencana Tuhan (panggilan kita), tidak ada kata gagal yang boleh berada disana.
Pada ayat selanjutnya Daud kemudian memberi kesaksian bagaimana cara Tuhan bekerja dalam hidupnya. "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (ay 25-26). Kesaksian Daud kembali membawanya menuliskan bahwa sejak masih muda hingga usia lanjut, ia tidak pernah melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat. Daud menuliskan Mazmur 37 saat ia sudah lanjut usia. Di usia demikian ia sudah banyak belajar dari jatuh bangun hidupnya yang membuat ia menjadi bijaksana. Dan semua ini ia bagikan agar kita yang masih muda bisa belajar langsung dari pengalaman hidupnya. Jika Daud mengetahui kuncinya dan sudah membuktikan, kita pun tentu bisa mengalaminya.
Tuhan memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan segala yang dibutuhkan untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Tapi ingatlah bahwa menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya merupakan kunci yang akan membuat kita bisa mengalaminya. Selain itu ketahui pula bahwa Tuhan tidak pernah terlalu sibuk atau senang mengabaikan kita. Firman Tuhan berkata: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati." (Yeremia 29:12-13).
Lihatlah bahwa Tuhan sama sekali bukan Sosok yang tertutup. Sebaliknya Dia sangat terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membeberkan rencanaNya atas kita masing-masing. Bisa jadi lewat visi seperti yang Dia tanamkan pada Yusuf muda, bisa pula lewat selangkah demi selangkah, dari satu sekuens ke sekuens berikutnya, dari satu kemenangan kepada kemenangan selanjutnya, seterusnya hingga rencanaNya tergenapi. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita. Daud pun tahu itu, sebab itu ia berkata: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:5-6).
Karenanya penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi tugas kita selama masa di dunia ini. Apa yang menjadi panggilan kita, kemana kita harus bergerak, bagaimana caranya kita mengoptimalkan segala talenta yang sudah dititipkan Tuhan kepada kita dan kemana kita harus memakainya. Masing-masing orang punya panggilannya sendiri, masing-masing orang punya tugasnya sendiri. Tanyakan kepada Tuhan, Dia akan dengan senang hati menjawab selama kita punya hidup yang berkenan di hadapanNya. Berjalan sesuai rencanaNya dan mengalami tuntunan Tuhan secara langsung dalam setiap langkah itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya, tepat seperti apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita.
Tuhan selalu ingin memberitahukan rencanaNya dan siap menuntun untuk mengalami keberhasilan dan kemenangan dalam setiap langkah
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Bagaimana jika dalam perjalanan kita bertemu dengan kesulitan atau masalah? Berjalan bersama Tuhan bukan berarti bahwa hidup akan sepenuhnya lancar tanpa masalah. Tapi kabar baiknya adalah, bahkan dalam keadaan terjatuh Tuhan tetap ada bersama kita. Secara jelas ayat berikutnya mengatakan: "apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (ay 24). Itu artinya kita tidak perlu khawatir dalam melangkah selama Tuhan ada bersama kita. Kesabaran dan ketekunan kita sangat diperlukan terutama pada masa-masa proses pembentukan. Tapi kalau memang kita menjalankan hidup yang seturut firmanNya dan melakukan apa yang menjadi rencana Tuhan (panggilan kita), tidak ada kata gagal yang boleh berada disana.
Pada ayat selanjutnya Daud kemudian memberi kesaksian bagaimana cara Tuhan bekerja dalam hidupnya. "Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti; tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat." (ay 25-26). Kesaksian Daud kembali membawanya menuliskan bahwa sejak masih muda hingga usia lanjut, ia tidak pernah melihat orang benar ditinggalkan Tuhan sendirian. Bahkan berkat dan penyertaan Tuhan itu tidak berhenti hanya pada orang itu saja, melainkan juga menyentuh keturunannya. Bukan saja orang benar yang berbahagia tetapi anak cucunya pun menjadi berkat. Daud menuliskan Mazmur 37 saat ia sudah lanjut usia. Di usia demikian ia sudah banyak belajar dari jatuh bangun hidupnya yang membuat ia menjadi bijaksana. Dan semua ini ia bagikan agar kita yang masih muda bisa belajar langsung dari pengalaman hidupnya. Jika Daud mengetahui kuncinya dan sudah membuktikan, kita pun tentu bisa mengalaminya.
Tuhan memberi hikmat yang memungkinkan kita untuk bisa melihat apa yang menjadi rencana atau rancanganNya bagi kita. Dia telah menyediakan segala yang dibutuhkan untuk itu lewat talenta-talenta yang telah diberikan sejak awal, dan Dia siap untuk menuntun kita dalam menjalaninya secara bertahap. Tapi ingatlah bahwa menjalani hidup yang berkenan di hadapanNya merupakan kunci yang akan membuat kita bisa mengalaminya. Selain itu ketahui pula bahwa Tuhan tidak pernah terlalu sibuk atau senang mengabaikan kita. Firman Tuhan berkata: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati." (Yeremia 29:12-13).
Lihatlah bahwa Tuhan sama sekali bukan Sosok yang tertutup. Sebaliknya Dia sangat terbuka kepada kita dan akan selalu dengan senang hati untuk membeberkan rencanaNya atas kita masing-masing. Bisa jadi lewat visi seperti yang Dia tanamkan pada Yusuf muda, bisa pula lewat selangkah demi selangkah, dari satu sekuens ke sekuens berikutnya, dari satu kemenangan kepada kemenangan selanjutnya, seterusnya hingga rencanaNya tergenapi. Rencana Tuhan tentu merupakan yang terbaik bagi kita. Daud pun tahu itu, sebab itu ia berkata: "Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak; Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang." (Mazmur 37:5-6).
Karenanya penting bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi tugas kita selama masa di dunia ini. Apa yang menjadi panggilan kita, kemana kita harus bergerak, bagaimana caranya kita mengoptimalkan segala talenta yang sudah dititipkan Tuhan kepada kita dan kemana kita harus memakainya. Masing-masing orang punya panggilannya sendiri, masing-masing orang punya tugasnya sendiri. Tanyakan kepada Tuhan, Dia akan dengan senang hati menjawab selama kita punya hidup yang berkenan di hadapanNya. Berjalan sesuai rencanaNya dan mengalami tuntunan Tuhan secara langsung dalam setiap langkah itu akan membuat hidup kita menemukan maknanya, tepat seperti apa yang Tuhan inginkan bagi hidup kita.
Tuhan selalu ingin memberitahukan rencanaNya dan siap menuntun untuk mengalami keberhasilan dan kemenangan dalam setiap langkah
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, March 17, 2015
Mengetahui Tugas dan Panggilan (1)
Ayat bacaan: Mazmur 37:23
======================
"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"
Ada seorang pria yang saya kenal baik terus bermasalah dengan mendapatkan pekerjaan yang cocok. Hampir setiap kali saya bertemu dengannya, pekerjaannya sudah berubah lagi. Ia mengaku bingung mencari tahu pekerjaan apa yang seharusnya ia lakukan, karena terus berubah-ubah seperti itu sama sekali tidak menyenangkan bahkan menyulitkan baginya. Letak permasalahan pun menurutnya bukan soal besar kecilnya upah, karena ia siap bekerja apa saja dengan baik tanpa mementingkan faktor ini. Tapi selalu ada saja hambatan, mulai dari gagal, rugi, tidak sesuai kemampuan dan lain-lain. Ketika saya tanya lebih jauh, ia ternyata tidak tahu apa yang menjadi panggilannya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi keahliannya dan bidang apa yang seharusnya ia geluti. Ia hanya mencoba sana sini, ini itu, dan itu sudah ia lakukan selama setidaknya 20 tahun. "Kalau saja Tuhan mau memberitahukan apa yang harus saya perbuat, saya tidak harus terus menerus seperti ini." katanya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak saya. Apakah benar Tuhan menyembunyikan dalam-dalam rencananya pada sebagian orang dan membuka lebar kepada sebagian kecil lainnya? Apakah begitu sulitnya mengetahui panggilan atas hidup kita sehingga kita harus dilanda kebingungan selama bertahun-tahun bahkan sampai akhir usia kita di dunia? Apakah benar Tuhan bertindak tidak adil, menyuruh kita untuk patuh dan mengikuti rencanaNya tapi keberatan untuk memberitahukan apa yang ada dalam rencana atau rancanganNya atas diri sebagian orang?
Tentu saja Tuhan tidak berpikir seperti itu. Kalau Tuhan ingin kita berjalan sesuai rencanaNya, Dia tentu ingin kita tahu apa yang ada dalam rencanaNYa. Tuhan bukanlah pribadi yang tertutup yang menyimpan rapat-rapat segala kebaikan buat kita. Sebaliknya, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita, anak-anakNya yang bahkan Dia buat seperti gambar dan rupaNya sendiri. Kalau keselamatan saja Dia anugerahkan, kenapa hal-hal lainnya tidak? Jika demikian kita perlu berpikir lagi. Sudahkah kita bertanya kepadaNya lewat doa-doa kita atau kita malah masih terlalu malas untuk membangun hubungan dengan Dia? Atau mungkin kita sudah berdoa, tapi seberapa besar iman yang menyertai kita untuk bisa percaya dan mendengar? Mungkin kita masih terlalu sering digoda rasa cemas, takut, khawatir atau perasaan-perasaan lain yang menghambat kepekaan kita untuk mendengarNya. Atau mungkin juga kita masih terlalu sering melakukan hal yang buruk sehingga Tuhan tidak berkenan atas perilaku kehidupan kita.
Pertama, ada ayat yang secara eksplisit menyatakan demikian: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya" (Mazmur 37:23). Secara tegas mengatakan bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang. Pertanyaannya, orang yang bagaimana? Dalam ayat ini dikatakan kepada orang yang hidupya berkenan kepadaNya. Jadi apakah kita sudah berkenan kepadaNya atau belum merupakan kunci penting untuk mengalami bimbingan Tuhan atas setiap langkah kita, dalam setiap sekuens kehidupan kita. Dia akan dengan senang hati turut serta membimbing langkah demi langkah. Bukankah luar biasa jika kita mengetahui bahwa bukan saja Tuhan sudah menyiapkan rencana penuh damai sejahtera menyongsong hari depan penuh harapan (Yeremia 29:11) tapi juga turut serta menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya? Itulah tepatnya yang siap dilakukan Tuhan kepada setiap orang yang punya kehidupan yang berkenan kepadaNya.
(bersambung)
======================
"TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya"
Ada seorang pria yang saya kenal baik terus bermasalah dengan mendapatkan pekerjaan yang cocok. Hampir setiap kali saya bertemu dengannya, pekerjaannya sudah berubah lagi. Ia mengaku bingung mencari tahu pekerjaan apa yang seharusnya ia lakukan, karena terus berubah-ubah seperti itu sama sekali tidak menyenangkan bahkan menyulitkan baginya. Letak permasalahan pun menurutnya bukan soal besar kecilnya upah, karena ia siap bekerja apa saja dengan baik tanpa mementingkan faktor ini. Tapi selalu ada saja hambatan, mulai dari gagal, rugi, tidak sesuai kemampuan dan lain-lain. Ketika saya tanya lebih jauh, ia ternyata tidak tahu apa yang menjadi panggilannya. Ia tidak tahu apa yang sebenarnya menjadi keahliannya dan bidang apa yang seharusnya ia geluti. Ia hanya mencoba sana sini, ini itu, dan itu sudah ia lakukan selama setidaknya 20 tahun. "Kalau saja Tuhan mau memberitahukan apa yang harus saya perbuat, saya tidak harus terus menerus seperti ini." katanya.
Hal ini menimbulkan pertanyaan di benak saya. Apakah benar Tuhan menyembunyikan dalam-dalam rencananya pada sebagian orang dan membuka lebar kepada sebagian kecil lainnya? Apakah begitu sulitnya mengetahui panggilan atas hidup kita sehingga kita harus dilanda kebingungan selama bertahun-tahun bahkan sampai akhir usia kita di dunia? Apakah benar Tuhan bertindak tidak adil, menyuruh kita untuk patuh dan mengikuti rencanaNya tapi keberatan untuk memberitahukan apa yang ada dalam rencana atau rancanganNya atas diri sebagian orang?
Tentu saja Tuhan tidak berpikir seperti itu. Kalau Tuhan ingin kita berjalan sesuai rencanaNya, Dia tentu ingin kita tahu apa yang ada dalam rencanaNYa. Tuhan bukanlah pribadi yang tertutup yang menyimpan rapat-rapat segala kebaikan buat kita. Sebaliknya, Tuhan adalah Bapa yang sangat mengasihi kita, anak-anakNya yang bahkan Dia buat seperti gambar dan rupaNya sendiri. Kalau keselamatan saja Dia anugerahkan, kenapa hal-hal lainnya tidak? Jika demikian kita perlu berpikir lagi. Sudahkah kita bertanya kepadaNya lewat doa-doa kita atau kita malah masih terlalu malas untuk membangun hubungan dengan Dia? Atau mungkin kita sudah berdoa, tapi seberapa besar iman yang menyertai kita untuk bisa percaya dan mendengar? Mungkin kita masih terlalu sering digoda rasa cemas, takut, khawatir atau perasaan-perasaan lain yang menghambat kepekaan kita untuk mendengarNya. Atau mungkin juga kita masih terlalu sering melakukan hal yang buruk sehingga Tuhan tidak berkenan atas perilaku kehidupan kita.
Pertama, ada ayat yang secara eksplisit menyatakan demikian: "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya" (Mazmur 37:23). Secara tegas mengatakan bahwa Tuhan menetapkan langkah-langkah orang. Pertanyaannya, orang yang bagaimana? Dalam ayat ini dikatakan kepada orang yang hidupya berkenan kepadaNya. Jadi apakah kita sudah berkenan kepadaNya atau belum merupakan kunci penting untuk mengalami bimbingan Tuhan atas setiap langkah kita, dalam setiap sekuens kehidupan kita. Dia akan dengan senang hati turut serta membimbing langkah demi langkah. Bukankah luar biasa jika kita mengetahui bahwa bukan saja Tuhan sudah menyiapkan rencana penuh damai sejahtera menyongsong hari depan penuh harapan (Yeremia 29:11) tapi juga turut serta menuntun kita selangkah demi selangkah untuk menggenapinya? Itulah tepatnya yang siap dilakukan Tuhan kepada setiap orang yang punya kehidupan yang berkenan kepadaNya.
(bersambung)
Monday, March 16, 2015
Naik Pangkat
Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."
Kalau anda menekuni profesi dengan jenjang karir, anda tentu ingin bisa naik pangkat. Seorang pegawai negeri akan berusaha bisa naik pangkatnya setinggi mungkin yang biasanya akan berbanding lurus dengan tingginya gaji, uang pensiun dan berbagai hal lainnya. Ada yang mengincar posisi-posisi strategis, ada yang mencari posisi 'basah', maksudnya posisi yang memungkinkan seseorang untuk mendapat uang tambahan selain yang resmi, tapi ada banyak pula yang tidak berpikir untuk melakukan kecurangan melainkan semata-mata ingin mewujudkan mimpinya untuk meraih jenjang setinggi mungkin. Nah, kalau ingin naik jabatan atau mendapat promosi, apa yang harus kita lakukan? Di jaman sekarang, bekerja sebaik mungkin dengan menghasilkan prestasi cemerlang saja tidaklah cukup. Ada banyak orang yang harus pakai 'pelicin' agar lajunya mantap meluncur ke arah yang diinginkan. Kalau takut ketahuan dan ketangkap tangan, bisa lewat banyak cara lainnya seperti pemberian diputar lewat banyak tangan perantara misalnya. Kalau bukan lewat uang ya bisa juga lewat rajin memberi bingkisan di hari-hari besar dengan tujuan agar namanya diingat pimpinan. Atau ada juga yang rajin menjilat agar bisa naik. Kalau ada aroma persaingan, maka saling sikut pun dihalalkan. Mau teman, mau lawan, semua sikat saja yang penting menang. Ada pula yang rela menggadaikan hak kesulungannya agar tidak terhambat untuk naik pangkat. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat ketidakjujurannya lumayan 'mantap'.
Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. Sebab kalau tidak demikian, lupakan saja soal mendapat promosi. Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya. Kita malah memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan menuruti cara serong dunia, lantas seolah merasa bahwa soal naik dan turun tidak ada urusannya dengan Tuhan. Kita melupakan sebuah fakta bahwa masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia lain, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.
Apakah ada ayat yang menyatakan hal ini? Tentu saja ada, misalnya dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakannya seperti ini: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplifiednya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.
Kenapa saya berani berkata demikian? Karena Alkitab jelas-jelas berkata bahwa apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja melainkan telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Itu tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya sia-sia bahkan menghancurkan hidup pelaku, keluarganya dan banyak orang. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kehilangan gaya setelah vonis dijatuhkan. Benar bahwa ada yang masih bisa senyam-senyum tanpa rasa malu karena mereka berpikir bisa tetap menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel bintang lima. Tapi meski begitu, kelak di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Disanalah letak pertanggungjawaban sebenarnya. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun. Kalau begitu, buat apa harus melegalkan segala bentuk pelanggaran hanya untuk naik pangkat.
Seperti yang saya katakan kemarin, apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.
Berhati-hatilah agar jangan sampai masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, tapi tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dan menghancurkan hidup maupun janji keselamatan kita jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan secara penuh dalam pekerjaan, sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Mau perusahaannya berbasis kolusi mau tidak, perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan tentu saja itu akan sangat dihargai Tuhan juga. Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi tinggi. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.
Peningkatan hanya soal waktu apabila kita melakukan kehendak Tuhan dengan setia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."
Kalau anda menekuni profesi dengan jenjang karir, anda tentu ingin bisa naik pangkat. Seorang pegawai negeri akan berusaha bisa naik pangkatnya setinggi mungkin yang biasanya akan berbanding lurus dengan tingginya gaji, uang pensiun dan berbagai hal lainnya. Ada yang mengincar posisi-posisi strategis, ada yang mencari posisi 'basah', maksudnya posisi yang memungkinkan seseorang untuk mendapat uang tambahan selain yang resmi, tapi ada banyak pula yang tidak berpikir untuk melakukan kecurangan melainkan semata-mata ingin mewujudkan mimpinya untuk meraih jenjang setinggi mungkin. Nah, kalau ingin naik jabatan atau mendapat promosi, apa yang harus kita lakukan? Di jaman sekarang, bekerja sebaik mungkin dengan menghasilkan prestasi cemerlang saja tidaklah cukup. Ada banyak orang yang harus pakai 'pelicin' agar lajunya mantap meluncur ke arah yang diinginkan. Kalau takut ketahuan dan ketangkap tangan, bisa lewat banyak cara lainnya seperti pemberian diputar lewat banyak tangan perantara misalnya. Kalau bukan lewat uang ya bisa juga lewat rajin memberi bingkisan di hari-hari besar dengan tujuan agar namanya diingat pimpinan. Atau ada juga yang rajin menjilat agar bisa naik. Kalau ada aroma persaingan, maka saling sikut pun dihalalkan. Mau teman, mau lawan, semua sikat saja yang penting menang. Ada pula yang rela menggadaikan hak kesulungannya agar tidak terhambat untuk naik pangkat. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat ketidakjujurannya lumayan 'mantap'.
Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. Sebab kalau tidak demikian, lupakan saja soal mendapat promosi. Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya. Kita malah memilih untuk tidak mematuhi Tuhan dan menuruti cara serong dunia, lantas seolah merasa bahwa soal naik dan turun tidak ada urusannya dengan Tuhan. Kita melupakan sebuah fakta bahwa masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia lain, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.
Apakah ada ayat yang menyatakan hal ini? Tentu saja ada, misalnya dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakannya seperti ini: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplifiednya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.
Kenapa saya berani berkata demikian? Karena Alkitab jelas-jelas berkata bahwa apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja melainkan telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Itu tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya sia-sia bahkan menghancurkan hidup pelaku, keluarganya dan banyak orang. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kehilangan gaya setelah vonis dijatuhkan. Benar bahwa ada yang masih bisa senyam-senyum tanpa rasa malu karena mereka berpikir bisa tetap menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel bintang lima. Tapi meski begitu, kelak di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Disanalah letak pertanggungjawaban sebenarnya. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun. Kalau begitu, buat apa harus melegalkan segala bentuk pelanggaran hanya untuk naik pangkat.
Seperti yang saya katakan kemarin, apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.
Berhati-hatilah agar jangan sampai masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, tapi tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dan menghancurkan hidup maupun janji keselamatan kita jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan secara penuh dalam pekerjaan, sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Mau perusahaannya berbasis kolusi mau tidak, perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan tentu saja itu akan sangat dihargai Tuhan juga. Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi tinggi. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.
Peningkatan hanya soal waktu apabila kita melakukan kehendak Tuhan dengan setia
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, March 15, 2015
Bergembira dalam Pekerjaan
Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"
Saya mengenal seorang supir angkot yang usianya ada di kisaran 40 an tahun. Ia bergelar sarjana dan sempat bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan baik. Suatu hari perusahaannya bangkrut dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Tidak gampang untuk melamar kerja lagi ke mana-mana sementara anak dan istri harus dicukupi kebutuhannya. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi supir angkot, mengambil trayek yang kebetulan sering saya lalui. Satu hal yang menarik adalah perilakunya saat bekerja. Kalau sebagian besar supir angkot ugal-ugalan kejar setoran, tidak banyak bicara dan hanya fokus mencari sewa di pinggir jalan, supir yang satu ini secara kasat mata tampak menikmati betul profesinya. Ia terus bercanda dengan penumpangnya baik yang duduk di sebelahnya maupun yang di belakang. Ia terlihat sangat gembira sehingga siapapun yang naik dalam angkotnya serasa piknik ramai-ramai. Menjadi supir angkot bukanlah pekerjaan yang membanggakan bagi kebanyakan orang. Kita jarang melihat anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi supir angkot. Tapi yang satu ini terlihat bangga. Kenapa bangga? Karena setidaknya ia masih bekerja dengan halal di tengah kondisi ekonomi sulit seperti ini. Ia masih bisa menyekolahkan anaknya, membiayai keluarga, itu merupakan sebuah kebanggaan baginya. Punya gelar tapi nyupir? Kenapa tidak, selama itu halal. Toh rejeki ada ditangan Yang Diatas, katanya.
Hari ini ada banyak orang yang bekerja hanya semata karena harus mencukupi hidup. Mereka merasa terpaksa melakukan itu karena tuntutan kebutuhan. Bagaimana mungkin orang bisa bergembira melakukan sesuatu kalau judulnya terpaksa? Dan bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan hasil terbaik kalau mindsetnya seperti itu.
Alkitab mengingatkan kita untuk mencintai pekerjaan, yang artinya melakukan bagian dari pekerjaan masing-masing dengan hati yang gembira. Itulah yang diingatkan Pengkotbah yang tampaknya didasari perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. Demikian bunyi ayatnya. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Apakah mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Mengapa? Karena itu adalah bagian atau panggilan kita. Apa yang kita kerjakan hari ini bukan suatu kebetulan. Ada sesuatu yang menanti disana apabila kita melakukannya dengan hati lapang dan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita tidak bahagia dalam bekerja, kalau terpaksa atau melakukannya dengan hati yang berat, apa sih keuntungan yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan, emosi, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera, adakah itu membawa manfaat? Yang ada malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain, membuat kita tidak berkembang dan kehilangan kesempatan untuk maju karena hasil pekerjaan yang tidak istimewa, bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri. Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Akankah itu baik bagi diri kita, keluarga kita, dan apakah itu menyenangkan hati Tuhan? Semua ini penting untuk kita renungkan terlepas dari apapun pekerjaan yang sedang kita geluti saat ini.
Satu hal yang harus kita ingat, soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Selanjutnya Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap sehat, awet muda dan memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu semua tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi seindah atau seberharga emas. Tidak ada satupun orang yang bisa tahu apa yang akan terjadi di depan bukan? Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu sangatlah sempit, tetapi mengenai hasil atau pencapaian yang bisa kita peroleh lewat hati yang gembira dalam bekerja. Itulah yang akan membuat kita mampu menghasilkan karya-karya yang 'monumental'.
Pekerjaan yang tampaknya rendah atau sepele hari ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa pada suatu hari nanti. Tapi itu tidak akan bisa terjadi kalau kita mengerjakannya secara terpaksa, dengan berat hati dan asal-asalan. Apa yang tampaknya biasa saja kalau dikerjakan dengan baik bisa menjadi sumber melimpahnya berkat Tuhan kepada kita. Kalau Tuhan berkenan dan senang kepada usaha serius kita, kenapa tidak? Itu saya tahu pasti, dan pernah pula mengalaminya sendiri sekian tahun lalu. Bayangkan, dari gaji awal yang hanya 30.000 rupiah sebagai asisten, saya akhirnya bisa mencukupi kebutuhan hidup lebih dari sekedar pas-pasan. Pekerjaan yang kata orang biasa belum tentu sama di mata Tuhan. Tidak ada pekerjaan rendah dan tidak ada pekerjaan yang tidak bisa diberkati Tuhan secara luar biasa.
Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaan, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, hanya dikerjakan karena terpaksa untuk mencari nafkah. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Akan sangat sulit untuk bisa sampai ke tahapan seperti itu apabila kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya.
Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang dalam pandangan dunia dianggap melakukan pekerjaan kasar atau dinilai rendah, tapi mereka tetap saja bisa bersukacita dalam melakukannya dan itu mendatangkan hasil yang baik. Akibatnya merekapun terus meningkat dalam pekerjannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba meneteskan setitik cinta pada pekerjaan kita? Apapun itu pekerjaannya, selama itu halal, mengucap syukurlah atas pekerjaan tersebut kepada Tuhan dan lakukanlah dengan hati gembira segala yang menjadi bagian kita masing-masing. Kalau itu sudah dilakukan, lihatlah nanti bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan. Mari belajar untuk bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan dengan hati yang gembira.
Syukuri pekerjaan yang diberikan Tuhan, lakukan dengan gembira
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"
Saya mengenal seorang supir angkot yang usianya ada di kisaran 40 an tahun. Ia bergelar sarjana dan sempat bekerja di sebuah perusahaan dengan penghasilan baik. Suatu hari perusahaannya bangkrut dan ia pun kehilangan pekerjaannya. Tidak gampang untuk melamar kerja lagi ke mana-mana sementara anak dan istri harus dicukupi kebutuhannya. Ia kemudian memutuskan untuk menjadi supir angkot, mengambil trayek yang kebetulan sering saya lalui. Satu hal yang menarik adalah perilakunya saat bekerja. Kalau sebagian besar supir angkot ugal-ugalan kejar setoran, tidak banyak bicara dan hanya fokus mencari sewa di pinggir jalan, supir yang satu ini secara kasat mata tampak menikmati betul profesinya. Ia terus bercanda dengan penumpangnya baik yang duduk di sebelahnya maupun yang di belakang. Ia terlihat sangat gembira sehingga siapapun yang naik dalam angkotnya serasa piknik ramai-ramai. Menjadi supir angkot bukanlah pekerjaan yang membanggakan bagi kebanyakan orang. Kita jarang melihat anak-anak yang bercita-cita ingin menjadi supir angkot. Tapi yang satu ini terlihat bangga. Kenapa bangga? Karena setidaknya ia masih bekerja dengan halal di tengah kondisi ekonomi sulit seperti ini. Ia masih bisa menyekolahkan anaknya, membiayai keluarga, itu merupakan sebuah kebanggaan baginya. Punya gelar tapi nyupir? Kenapa tidak, selama itu halal. Toh rejeki ada ditangan Yang Diatas, katanya.
Hari ini ada banyak orang yang bekerja hanya semata karena harus mencukupi hidup. Mereka merasa terpaksa melakukan itu karena tuntutan kebutuhan. Bagaimana mungkin orang bisa bergembira melakukan sesuatu kalau judulnya terpaksa? Dan bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan hasil terbaik kalau mindsetnya seperti itu.
Alkitab mengingatkan kita untuk mencintai pekerjaan, yang artinya melakukan bagian dari pekerjaan masing-masing dengan hati yang gembira. Itulah yang diingatkan Pengkotbah yang tampaknya didasari perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. Demikian bunyi ayatnya. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Apakah mencintai profesi atau tidak, Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam melakukan pekerjaan masing-masing. Mengapa? Karena itu adalah bagian atau panggilan kita. Apa yang kita kerjakan hari ini bukan suatu kebetulan. Ada sesuatu yang menanti disana apabila kita melakukannya dengan hati lapang dan dengan sungguh-sungguh. Kalau kita tidak bahagia dalam bekerja, kalau terpaksa atau melakukannya dengan hati yang berat, apa sih keuntungan yang bisa kita dapatkan? Berkeluh kesah sepanjang hari? Mengasihani diri berlebihan, emosi, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera, adakah itu membawa manfaat? Yang ada malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain, membuat kita tidak berkembang dan kehilangan kesempatan untuk maju karena hasil pekerjaan yang tidak istimewa, bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri. Apakah baik apabila kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut tidak pernah merasa puas? Akankah itu baik bagi diri kita, keluarga kita, dan apakah itu menyenangkan hati Tuhan? Semua ini penting untuk kita renungkan terlepas dari apapun pekerjaan yang sedang kita geluti saat ini.
Satu hal yang harus kita ingat, soal bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan sejati berasal dari Tuhan dan bukan dari keadaan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Selanjutnya Amsal mengatakan bahwa "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau lihatlah ayat lain: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu adalah obat yang manjur dan menjaga kita agar tetap sehat, awet muda dan memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik. Dan rasa syukur kita dalam menikmati anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, itu semua tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi seindah atau seberharga emas. Tidak ada satupun orang yang bisa tahu apa yang akan terjadi di depan bukan? Saya tidak berbicara mengenai kekayaan materi saja karena itu sangatlah sempit, tetapi mengenai hasil atau pencapaian yang bisa kita peroleh lewat hati yang gembira dalam bekerja. Itulah yang akan membuat kita mampu menghasilkan karya-karya yang 'monumental'.
Pekerjaan yang tampaknya rendah atau sepele hari ini bisa menjadi sesuatu yang luar biasa pada suatu hari nanti. Tapi itu tidak akan bisa terjadi kalau kita mengerjakannya secara terpaksa, dengan berat hati dan asal-asalan. Apa yang tampaknya biasa saja kalau dikerjakan dengan baik bisa menjadi sumber melimpahnya berkat Tuhan kepada kita. Kalau Tuhan berkenan dan senang kepada usaha serius kita, kenapa tidak? Itu saya tahu pasti, dan pernah pula mengalaminya sendiri sekian tahun lalu. Bayangkan, dari gaji awal yang hanya 30.000 rupiah sebagai asisten, saya akhirnya bisa mencukupi kebutuhan hidup lebih dari sekedar pas-pasan. Pekerjaan yang kata orang biasa belum tentu sama di mata Tuhan. Tidak ada pekerjaan rendah dan tidak ada pekerjaan yang tidak bisa diberkati Tuhan secara luar biasa.
Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaan, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, hanya dikerjakan karena terpaksa untuk mencari nafkah. Tetapi saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Akan sangat sulit untuk bisa sampai ke tahapan seperti itu apabila kita tidak memiliki hati yang gembira dalam melakukannya.
Tinggi rendah pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak. Saya sudah beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang dalam pandangan dunia dianggap melakukan pekerjaan kasar atau dinilai rendah, tapi mereka tetap saja bisa bersukacita dalam melakukannya dan itu mendatangkan hasil yang baik. Akibatnya merekapun terus meningkat dalam pekerjannya. Sebaliknya, tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar. Kalau begitu, kenapa kita tidak mencoba meneteskan setitik cinta pada pekerjaan kita? Apapun itu pekerjaannya, selama itu halal, mengucap syukurlah atas pekerjaan tersebut kepada Tuhan dan lakukanlah dengan hati gembira segala yang menjadi bagian kita masing-masing. Kalau itu sudah dilakukan, lihatlah nanti bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan. Mari belajar untuk bersyukur dan menikmati pekerjaan kita bersama Tuhan dengan hati yang gembira.
Syukuri pekerjaan yang diberikan Tuhan, lakukan dengan gembira
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, March 14, 2015
Kuasa Menikmati
Ayat bacaan: Pengkhotbah 6:1-2
=========================
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit."
Apakah uang menjamin kebahagiaan? Banyak yang berpikir seperti itu. Mereka terus berlomba mengeruk uang sebanyak mungkin dengan cara apapun, dan kita lihat betapa banyaknya yang pada akhirnya kandas di balik jeruji besi dan mendatangkan penderitaan bagi keluarganya. Di sisi lain, mau korupsi atau tidak, apa benar uang membuat kita hidup terjamin bahagia? Mungkin mudah bagi kita untuk berkata, kenapa tidak? Bukankah mau beli apa-apa itu butuh uang? Kalau uang banyak, berarti masalah hidup pun selesai. Faktanya ternyata tidak seperti itu. Ambil contoh sederhana saja, salah satu tetangga saya. Mereka sama sekali tidak punya masalah secara finansial. Beberapa kali mereka membeli tanah hanya bagai membeli kacang goreng saja mudahnya. Tanpa perencanaan, tanpa harus mengumpul uang terlebih dahulu, tapi begitu kepikiran kepingin tanah, maka saat itu juga langsung beli secara tunai.
Apakah hidup mereka bahagia? Nyatanya tidak. Berkali-kali mereka bertengkar hebat hingga kedengaran tetangga dan sang suami sendiri sering curhat pada saya. Ia berkata tidak habis pikir mengapa mereka tidak kunjung bisa menikmati hidup, padahal secara ekonomi mereka lebih dari cukup. Kenapa setiap mereka beli sesuatu yang besar ujung-ujungnya ribut? Kenapa mereka kemudian berkali-kali mengalami kerugian, seperti beberapa tanah yang akhirnya tidak bisa diapa-apakan karena bersengketa dengan penduduk setempat? Dan menurutnya, ia pun heran melihat saya dan istri yang meski secara kemampuan finansial jauh dibawah mereka tapi bisa hidup harmonis dan bahagia. Ia bingung, karena selama ini apa yang ia tahu adalah uang merupakan sumber jaminan keamanan, ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan.
Ada ayat yang secara khusus menyebutkan hal ini di Alkitab yang jarang diketahui orang. "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkhotbah 6:1-2). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa ada satu kuasa yang berasal dari anugerah Tuhan yang jarang diketahui orang, yaitu kuasa untuk menikmati. Ternyata berkat bukan hanya bicara soal harta dan benda-benda berbentuk fisik saja, tetapi kuasa untuk menikmati semua itu pun merupakan berkat tersendiri yang kita butuhkan. Kita bisa bergelimang harta, tapi tanpa adanya kuasa untuk menikmati, maka semua itu tidaklah berguna, sia-sia dan tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Pengkotbah bahkan menggambarkan hal itu sebagai sebuah kemalangan, kesia-siaan bahkan penderitaan yang pahit.
Ayat ini ada dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Salomo, anak Daud, raja di Yerusalem. Sangatlah menarik jika melihat bahwa peringatan akan kesia-siaan kekayaan tanpa adanya kuasa menikmati justru berasal dari Salomo yang notabene merupakan orang terkaya yang pernah ada di muka bumi. Kalau kita baca ayat tersebut dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari, dikatakan bahwa "Ada kalanya Allah memberi kekayaan, kehormatan dan harta benda kepada seseorang, sehingga tak ada lagi yang diinginkannya. Tetapi Allah tidak mengizinkan dia menikmati semua pemberian itu. Sebaliknya, orang yang tidak dikenal-Nya akan menikmati kekayaan itu. Jadi, semua itu sia-sia dan menyedihkan." Tuhan memang menyediakan berkat melimpah termasuk pula kelimpahan termasuk dalam hal finansial, tapi kita harus mengetahui betul bahwa kita pun butuh kuasa untuk menikmati agar bisa memperoleh manfaat yang baik dari semua itu.
Di dalam Pengkotbah pasal 3 kita bisa kembali menemukan pesan Salomo yang berhubungan. "Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah." (Pengkotbah 3:13). Jika kita bisa menikmati makan, minum serta menikmati hasil kerja kita, itu pun merupakan pemberian atau anugerah dari Tuhan dan bukan atas usaha kita. Lantas dalam pasal 5 kembali kita diingatkan bahwa "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19)
Kekayaan, harta benda atau berkat-berkat jasmani merupakan karunia Allah yang tentunya patut disyukuri. Tapi jangan lupa bahwa kita pun memerlukan kuasa (the power, capacity) untuk menikmatinya. Agar bisa menikmati hasil jerih payah dan berbahagia lewat perolehan kita, itu pun juga merupakan karunia Tuhan. Rangkaian ayat hari ini berbicara jelas akan kuasa untuk menikmati sebagai karunia dari Tuhan yang harus tetap kita perhatikan.
Jika Pengkotbah merasa perlu mengingatkan pesan ini berulang-ulang, tentu itu artinya ini adalah hal yang sangat penting. Kita hendaknya bisa belajar dari apa yang telah dialami Pengkotbah, karena ia menuliskan itu agar menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak melupakan bahwa ada yang namanya kuasa untuk menikmati yang berasal dari Tuhan sendiri. Itulah kunci yang memampukan kita untuk bisa menikmati setiap hasil jerih payah kita dengan penuh sukacita. Kita memang harus mencari nafkah, tapi kebahagiaan bukan tergantung dari besaran harta yang kita miliki. Sejauh mana kedekatan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan, itulah yang akan menentukan, apakah kita bisa menerima berkat yang lengkap dari Sang Pemberi, baik berkat-berkat jasmani, kesehatan, kecukupan, kelengkapan maupun sebuah kesempatan bagi kita untuk menikmati itu semua.
Berkat jasmani bukan segalanya, tapi kuasa untuk menikmati juga merupakan karunia yang berasal dari Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=========================
"Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit."
Apakah uang menjamin kebahagiaan? Banyak yang berpikir seperti itu. Mereka terus berlomba mengeruk uang sebanyak mungkin dengan cara apapun, dan kita lihat betapa banyaknya yang pada akhirnya kandas di balik jeruji besi dan mendatangkan penderitaan bagi keluarganya. Di sisi lain, mau korupsi atau tidak, apa benar uang membuat kita hidup terjamin bahagia? Mungkin mudah bagi kita untuk berkata, kenapa tidak? Bukankah mau beli apa-apa itu butuh uang? Kalau uang banyak, berarti masalah hidup pun selesai. Faktanya ternyata tidak seperti itu. Ambil contoh sederhana saja, salah satu tetangga saya. Mereka sama sekali tidak punya masalah secara finansial. Beberapa kali mereka membeli tanah hanya bagai membeli kacang goreng saja mudahnya. Tanpa perencanaan, tanpa harus mengumpul uang terlebih dahulu, tapi begitu kepikiran kepingin tanah, maka saat itu juga langsung beli secara tunai.Apakah hidup mereka bahagia? Nyatanya tidak. Berkali-kali mereka bertengkar hebat hingga kedengaran tetangga dan sang suami sendiri sering curhat pada saya. Ia berkata tidak habis pikir mengapa mereka tidak kunjung bisa menikmati hidup, padahal secara ekonomi mereka lebih dari cukup. Kenapa setiap mereka beli sesuatu yang besar ujung-ujungnya ribut? Kenapa mereka kemudian berkali-kali mengalami kerugian, seperti beberapa tanah yang akhirnya tidak bisa diapa-apakan karena bersengketa dengan penduduk setempat? Dan menurutnya, ia pun heran melihat saya dan istri yang meski secara kemampuan finansial jauh dibawah mereka tapi bisa hidup harmonis dan bahagia. Ia bingung, karena selama ini apa yang ia tahu adalah uang merupakan sumber jaminan keamanan, ketentraman, kenyamanan dan kebahagiaan.
Ada ayat yang secara khusus menyebutkan hal ini di Alkitab yang jarang diketahui orang. "Ada suatu kemalangan yang telah kulihat di bawah matahari, yang sangat menekan manusia:orang yang dikaruniai Allah kekayaan, harta benda dan kemuliaan, sehingga ia tak kekurangan suatupun yang diingininya, tetapi orang itu tidak dikaruniai kuasa oleh Allah untuk menikmatinya, melainkan orang lain yang menikmatinya! Inilah kesia-siaan dan penderitaan yang pahit." (Pengkhotbah 6:1-2). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa ada satu kuasa yang berasal dari anugerah Tuhan yang jarang diketahui orang, yaitu kuasa untuk menikmati. Ternyata berkat bukan hanya bicara soal harta dan benda-benda berbentuk fisik saja, tetapi kuasa untuk menikmati semua itu pun merupakan berkat tersendiri yang kita butuhkan. Kita bisa bergelimang harta, tapi tanpa adanya kuasa untuk menikmati, maka semua itu tidaklah berguna, sia-sia dan tidak akan pernah bisa membuat kita bahagia. Pengkotbah bahkan menggambarkan hal itu sebagai sebuah kemalangan, kesia-siaan bahkan penderitaan yang pahit.
Ayat ini ada dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Salomo, anak Daud, raja di Yerusalem. Sangatlah menarik jika melihat bahwa peringatan akan kesia-siaan kekayaan tanpa adanya kuasa menikmati justru berasal dari Salomo yang notabene merupakan orang terkaya yang pernah ada di muka bumi. Kalau kita baca ayat tersebut dalam Bahasa Indonesia Sehari-hari, dikatakan bahwa "Ada kalanya Allah memberi kekayaan, kehormatan dan harta benda kepada seseorang, sehingga tak ada lagi yang diinginkannya. Tetapi Allah tidak mengizinkan dia menikmati semua pemberian itu. Sebaliknya, orang yang tidak dikenal-Nya akan menikmati kekayaan itu. Jadi, semua itu sia-sia dan menyedihkan." Tuhan memang menyediakan berkat melimpah termasuk pula kelimpahan termasuk dalam hal finansial, tapi kita harus mengetahui betul bahwa kita pun butuh kuasa untuk menikmati agar bisa memperoleh manfaat yang baik dari semua itu.
Di dalam Pengkotbah pasal 3 kita bisa kembali menemukan pesan Salomo yang berhubungan. "Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah." (Pengkotbah 3:13). Jika kita bisa menikmati makan, minum serta menikmati hasil kerja kita, itu pun merupakan pemberian atau anugerah dari Tuhan dan bukan atas usaha kita. Lantas dalam pasal 5 kembali kita diingatkan bahwa "Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya--juga itupun karunia Allah." (Pengkotbah 5:19)
Kekayaan, harta benda atau berkat-berkat jasmani merupakan karunia Allah yang tentunya patut disyukuri. Tapi jangan lupa bahwa kita pun memerlukan kuasa (the power, capacity) untuk menikmatinya. Agar bisa menikmati hasil jerih payah dan berbahagia lewat perolehan kita, itu pun juga merupakan karunia Tuhan. Rangkaian ayat hari ini berbicara jelas akan kuasa untuk menikmati sebagai karunia dari Tuhan yang harus tetap kita perhatikan.
Jika Pengkotbah merasa perlu mengingatkan pesan ini berulang-ulang, tentu itu artinya ini adalah hal yang sangat penting. Kita hendaknya bisa belajar dari apa yang telah dialami Pengkotbah, karena ia menuliskan itu agar menjadi sebuah pelajaran bagi kita untuk tidak melupakan bahwa ada yang namanya kuasa untuk menikmati yang berasal dari Tuhan sendiri. Itulah kunci yang memampukan kita untuk bisa menikmati setiap hasil jerih payah kita dengan penuh sukacita. Kita memang harus mencari nafkah, tapi kebahagiaan bukan tergantung dari besaran harta yang kita miliki. Sejauh mana kedekatan, kesetiaan dan ketaatan kita kepada Tuhan, itulah yang akan menentukan, apakah kita bisa menerima berkat yang lengkap dari Sang Pemberi, baik berkat-berkat jasmani, kesehatan, kecukupan, kelengkapan maupun sebuah kesempatan bagi kita untuk menikmati itu semua.
Berkat jasmani bukan segalanya, tapi kuasa untuk menikmati juga merupakan karunia yang berasal dari Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...



