Saturday, February 7, 2015

Iman yang Radikal (1)

Ayat bacaan: Daniel 3:17-18
====================
"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

Hari ini saya membaca sebuah artikel menarik mengenai radikal. Ada banyak orang mengaitkan kata radikal dengan isu-isu terorisme dan berbagai gerakan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tega bertindak ekstrim, menghabisi nyawa orang lain yang tidak sejalan dengan mereka. Isu radikalisme pun kemudian bergeser maknanya untuk cenderung lebih ke arah negatif.

Kata radikal sebenarnya berasal dari bahasa Latin yaitu 'radix' yang artinya akar pohon. Berarti radikal kurang lebih berarti sesuatu yang sampai ke akar. Dengan demikian apabila kata radikal dikaitkan dengan sifat manusia maka orang yang radikal berarti orang yang mengerti atau paham hingga ke akar-akarnya. Sebuah perubahan radikal berarti perubahan yang menyeluruh hingga menyentuh ke dasar substansi. Kata radikal yang dipergunakan menuju kepada orang-orang yang menentang sistem, tatanan hidup dan azas-azas mendasar kebangsaan yang dibangun sejak awal negara ini berdiri tidaklah salah, karena mereka memang menentang sistem, menginginkan perubahan yang mendasar berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai kebenaran. Tetapi itu bukan berarti bahwa kata radikal harus selalu mengacu kepada makna negatif.

Sekarang mari kita renungkan: seberapa jauh kita sanggup berjalan dengan iman? Seberapa jauh kita mau percaya dan berserah kepada Tuhan dalam menjalani hidup dan mengatasi segala permasalahan yang muncul disana? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar klise. Jawabannya bisa sangat klise, tetapi kalau kita mau jujur, sebenarnya pertanyaan ini terbilang sulit untuk dijawab. Mungkin mudah bagi kita untuk percaya pada Tuhan ketika doa-doa kita segera dijawab, saat kita mengalami mukjizat, waktu berkat Tuhan turun atas kita, ketika kita dilepaskan dari pergumulan dan kesesakan atau pada masa-masa tenang tanpa ada kesusahan. Pertanyaannya sekarang, mampukah kita tetap memiliki kadar iman yang sama ketika kita tengah berada di jurang permasalahan yang dalam? Saat kita belum melihat satupun "tangga" yang dapat membawa kita keluar dari jurang tersebut, apakah kita tetap memiliki iman yang sama, iman yang penuh, teguh, percaya seutuhnya dan tidak kehilangan sedikitpun harapan? Di kala masalah datang mengguncang dan pertolongan tidak kunjung tiba, bisakah kita tetap mengerti bahwa apapun yang terjadi itu tidak akan merubah pandangan kita bahwa Tuhan itu baik? Kita bisa menerima yang baik, tapi siapkah kita menerima yang buruk?  Mengenai hal ini, mari kita lihat kisah tiga orang berani yang punya iman luar biasa akan Tuhan: Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Tersebutlah tiga pemuda yang pada suatu masa berani melawan titah raja, yang saat itu dijabat oleh raja Nebukadnezar. Pada waktu itu sang raja baru saja  membuat patung emas dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta atau kurang lebih sekitar 27 x 3 m dan begitu selesai ia memerintahkan seluruh bangsa, suku dan bahasa untuk menyembah patung tersebut atau kalau menolak, hukuman mati pun akan datang menimpa.  Mendengar perintah tersebut, bangsa-bangsa pun segera sujud menyembah patung itu agar raja tidak sampai menghukum mati mereka. Hukuman yang ditetapkan bagi pembangkang memang tidak main-main. "dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala." (Daniel 3:11). Membantah berarti dibakar hidup-hidup sampai mati. Sebagian besar tunduk, tetapi ternyata ada tiga orang yang berani membantah karena itu bertentangan dengan iman mereka. Tiga orang tersebut adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Karena berani membangkang, saat itu juga mereka ditangkap dan dibawa menghadap raja. Raja berkata: "...jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?" (ay 15). Secara logika itu akan segera membunuh mereka lewat cara yang menyakitkan. Tapi lihatlah apa jawaban mereka.  "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (ay 17-18).

Mendengar itu, Nebukadnezar pun mengamuk. Dia memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan perapian tujuh kali lebih panas dari biasanya untuk membakar ketiga pemuda itu hidup-hidup. Saking panasnya, api itu bahkan membakar orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke perapian. Orang yang masuk ke dalam tungku sepanas itu tidak akan mungkin bisa hidup. Tetapi yang terjadi selanjutnya sungguh mengagetkan. Nebukadnezar melihat langsung bahwa ketiga orang itu ternyata tidak terbakar sama sekali. Bahkan ia melihat ada "orang keempat" berjalan bebas ditengah-tengah api, dan seluruhnya tidak terbakar. (ay 25). Lalu takutlah Nebukadnezar dan segera bergegas membebaskan ketiga pemuda tadi. Bukan saja tidak terbakar sama sekali, tetapi bau hangus pun tidak ada pada mereka. (ay 27). Sang raja pun kemudian berkata "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka." (ay 28).

(bersambung)

Friday, February 6, 2015

Hal Pengampunan (2)

(sambungan)

Perumpamaan ini sesungguhnya sederhana dan secara jelas menerangkan alasan mengapa Tuhan mengharapkan kita mau mengampuni untuk menerima pengampunan daripadaNya. Dia penuh kasih dan kasihNya memerdekakan kita. Segala hutang kita dilunasi Kristus di atas kayu salib, dan itu dimungkinkan ketika Tuhan tergerak didorong oleh besarnya kasihNya kepada kita. Kalau kita menerima anugerah keselamatan yang begitu besar, bukankah sangat keterlaluan apabila kita malah berlaku sebaliknya kepada orang lain? Perumpamaan ini sangatlah jelas menerangkan alasan mengapa antara mengampuni dan diampuni itu saling berhubungan. Kalau kita hubungkan dengan pesan Yesus lainnya dalam Lukas 6:38 yang berbunyi "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu", maka kita juga akan melihat bahwa ada hubungan sebab akibat yang sama. Kalau kita mau diberi pengampunan, maka kita harus memberi pengampunan terlebih dahulu kepada orang yang bersalah kepaa kita. Ingatlah bahwa ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kembali kepada kita.

Jika kita melihat Matius 18:35 di atas, maka kita harus tahu bahwa pengampunan yang kita lepaskan hendaklah dilakukan dengan segenap hati dan bukan ala kadarnya dan asal-asalan. Kita tidak boleh memaafkan hanya di mulut saja tetapi hati kita masih menyimpan dendam. Itu bukanlah bentuk pengampunan yang benar. Kita tentu tidak mau kalau Tuhan melakukan itu kepada kita bukan? Karenanya kita pun tidak boleh tanggung dalam mengampuni.

Mari kita periksa diri kita masing-masing. Apakah kita masih termasuk orang yang sulit mengampuni atau memaafkan orang lain? Jika ya, sadarilah bahwa itu akan menjadi penghalang bagi kita untuk menerima pengampunan dari Tuhan. Apabila memang masih sangat sulit, belajarlah mulai sekarang untuk bisa. Berdoalah dan mintalah bantuan Roh Kudus untuk melembutkan hati anda. Menyimpan dendam dan menolak memaafkan orang tidak akan pernah membawa kebaikan bagi kita, tapi malah menambah banyak masalah. Kita bisa kehilangan damai sejahtera, rasa bahagia, rasa tenang dan tidak bisa menikmati hidup kalau kita menyimpan dendam, terlebih lagi kita bisa kehilangan semua janji Allah apabila kita menyimpan kepahitan dan benci terhadap orang lain. Jangan biarkan roh seperti itu bercokol di dalam diri kita. Berilah pengampunan maka Tuhan akan dengan senang hati mengampuni kita.

Forgiveness is the key to freedom

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 5, 2015

Hal Pengampunan (1)

Ayat bacaan: Matius 6:12
=================
"dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami"

Ada seorang teman yang merasa sangat kesal terhadap teman dekatnya. Ia bercerita bahwa temannya itu punya kebiasaan mudah tersinggung. Sangat sensitif, sedikit saja tidak pas maka ia pun ngambek. Kalau sudah begitu, sulit bagi orang yang membuatnya tersinggung untuk kembali berbaikan. Minta maafnya harus lama, itupun tergantung kerelaan dia untuk mau berbaikan atau tidak. Lucunya, disaat dia yang menyakiti orang, dia gengsi untuk minta maaf. Paling banter dia hanya diam, atau malah merasa kesal saat orang tidak mau normal lagi kepadanya dengan segera. Itu merupakan gambaran sifat banyak orang. Mau dimaafkan tapi sulit memaafkan. Seperti yang saya sampaikan kemarin, itu sejalan dengan kebiasaan manusia yang lebih suka menerima ketimbang memberi. Sangat sulit untuk memaafkan, lebih enak mendendam menyimpan kesalahan. Sementara kalu kita berbuat salah, kita ingin lekas-lekas dimaafkan, baik dalam hubungan dengan manusia terlebih dengan Tuhan.

Kita semua tentu tahu bahwa Tuhan yang panjang sabar dan setia serta penuh kasih akan selalu siap memberikan pengampunan dan pemulihan. Tapi bukannya memghargai dan mensyukuri, banyak orang yang hanya memanfaatkan kebaikan Tuhan itu. They take it for granted, terus berbuat dosa, minta ampun, lantas kembali melakukannya. Di sisi lain, mereka juga mudah mendendam, merasa berat untuk memaafkan orang yang bersalah kepada mereka. Pertanyaannya sekarang, adakah hubungan antara mendapatkan pengampunan dari Tuhan dan keikhlasan kita untuk mengampuni orang lain? Apakah itu berkaitan?

Sangatlah menarik apabila kita melihat bagaimana Tuhan Yesus memberitahukan hal tersebut lewat doa yang Dia ajarkan sendiri, yaitu doa yang dikenal dengan doa Bapa Kami yang dicatat dalam Matius 6:9-13. Salah satu bagian dari doa yang diajarkan Yesus ini berbunyi "dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami." (ay 12). Dalam versi BIS dikatakan "Ampunilah kami dari kesalahan kami, seperti kami sudah mengampuni orang yang bersalah kepada kami." 

Perhatikan bahwa saat Yesus memberi sebuah formula doa yang luar biasa dan sangat sempurna, ada hubungan sebab akibat antara memohon pengampunan Tuhan dan keikhlasan kita untuk mengampuni orang lain. Ampuni kami, seperti kami SUDAH mengampuni orang yang bersalah kepada kami. Artinya, apabila kita mengharapkan pengampunan dari Tuhan, kita harus terlebih dahulu memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Dan ini sejalan dengan peringatan Kristus setelahnya: "Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu." (ay 14-15).

Dalam sebuah perumpamaan dalam Matius 18:21-35, Yesus bahkan memberi sebuah perumpamaan tentang pengampunan. Mari kita lihat perumpamaan tersebut.

"Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.  Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.  Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu! Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku. Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya." (Matius 18:23-34).

Dan Yesus kemudian memberi kesimpulan: "Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu." (ay 35).

(bersambung)


Wednesday, February 4, 2015

Menghargai Pengampunan dari Tuhan (2)

(sambungan)

Ingatkan diri anda kembali bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa-dosa kita tanpa memandang ukuran. Dia rela disiksa sebegitu sadis, dipaku dan mati di kayu salib demi memberikan penebusan kepada kita. Sebesar apapun dosa kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, hati yang remuk, tersungkur di kakiNya mengakui segala dosa-dosa yang telah kita perbuat, pengampunan pun segera Tuhan berikan. Perkataan yang sama akan Yesus berikan pada kita juga. "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" 

Semakin besar dosa kita, semakin besar pula penghargaan akan sebuah pengampunan. Tak peduli sebesar apapun dosa yang pernah kita lakukan, Tuhan selalu menyediakan pengampunan secara total dan tidak akan pernah setengah-setengah. Jika demikian, semuanya tergantung kita. Apakah kita sudah menunjukkan sebentuk hidup yang berdasarkan kasih? Sudahkah kita mengaplikasikan kebenaran dalam hidup sehari-hari? Apakah kita sudah menghormati Tuhan sepenuhnya, mau melepas segala atribut, status dan sebagainya, mengalahkan ego kita dan merendahkan diri dihadapanNya? Jangan sampai karena merasa punya status sosial yang terhormat, pangkat dan jabatan yang tinggi lantas merasa sudah terlalu tinggi sehingga tidak lagi pantas untuk bersujud di hadapan Tuhan.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa Yesus sudah menutup pintu dan tidak berkenan lagi mengampuni, itu adalah pemikiran yang keliru. Dia selalu rindu untuk mengampuni kita tanpa memandang atau mengukur ukuran kesalahan kita sebelumnya. Orang yang menyadari dan mengakui dosa-dosaNya sudah diampuni, dan penghargaan akan pengampunan itu akan berbuah kasih yang besar pula pada sesama. Lihat ayat berikut ini: "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (Efesus 4:32). Makna ayat tersebut bisa memiliki efek yang jauh lebih besar bagi mereka yang sudah ditebus dari dosa-dosa yang mungkin bagi manusia tidak terampuni.

Dari kisah dalam Lukas pasal 7 di atas kita bisa melihat bahwa Yesus tidak memandang berat ringannya dosa di masa lalu. Yang ia pandang adalah sejauh mana kita menghargai, menghormati dan mengasihi Tuhan lewat hidup dan perbuatan-perbuatan kita. Sejauh mana kita menghargai pengampunan yang Dia berikan kepada kita tanpa melihat besar-kecilnya dosa yang pernah kita perbuat di masa lalu, sejauh mana kesungguhan kita untuk datang dan mengakui semua kesalahan kita dengan jujur dengan bersujud merendahkan diri di kakiNya. Yang diperlukan adalah pengakuan kita dan pertobatan kita, disertai sebuah komitmen untuk tidak lagi mengulangi hal yang sama. Hati yang remuk dan hancur jika kita bawa ke hadapan tahta Allah akan menjadi sebuah korban sembelihan bagi Dia. "Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah." (Mazmur 51:19).

Sukacita sejati akan kita rasakan saat kita mengakui betapa buruk dan besarnya dosa-dosa kita lalu membandingkannya dengan sebesar apa pengampunan yang diberikan Tuhan kepada kita. Maka tidak perduli sebesar apa dosa yang membelenggu anda hari ini, percayalah bahwa pengakuan anda akan membawa anda pada sebuah pengampunan total dari Tuhan yang begitu mengasihi anda.

Lepaskan diri anda dari belenggu dosa hari ini juga, ketahuilah bahwa pengakuan anda dihadapanNya akan berbuah sebuah pengampunan penuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 3, 2015

Menghargai Pengampunan dari Tuhan (1)

Ayat bacaan: Lukas 7:47
===================
"Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih."

Seberapa besar batas maksimal pengampunan dari Tuhan? Sampai titik mana Tuhan tidak lagi bersedia mengampuni? Ini bisa jadi pertanyaan banyak orang terutama yang di masa lalunya pernah melakukan kesalahan atau kejahatan yang tergolong berat dalam hidupnya. Dalam ukuran manusia bentuk kesabaran dan batas pemberian kemaafan ada batasnya. Kalaupun sudah diampuni, belum tentu pengampunan itu benar-benar total. Ambil contoh sederhana saja, para pelaku tindak kejahatan yang masuk ke dalam lembaga pemasyarakatan mungkin sudah menjalani masa hukumannya dan bertobat, tapi mereka biasanya tetap sulit untuk bisa kembali mendapat tempat di tengah masyarakat dengan baik. Cap mantan napi saja sudah menunjukkan bahwa meski hukuman sesuai undang-undang sudah mereka lalui, tetapi hukuman di kalangan masyarakat tetap harus mereka sandang seumur hidupnya. Maka kita pun cenderung berpikir bahwa Tuhan akan berlaku sama bagi manusia. Di sisi lain, adalah merupakan sebuah 'kebiasaan' bagi banyak orang untuk ingin diampuni tetapi sulit mengampuni, hanya ingin menerima tapi enggan memberi. Kalau begitu, sejauh mana sebenarnya pengampunan Tuhan atas kesalahan yang pernah kita perbuat di masa lalu dan adakah kaitan antara diampuni dan berbuat kebajikan berdasarkan kasih dalam hidup? Untuk itu, mari kita lihat sebuah perikop dalam Lukas 7.

Lukas 7:36-50 berbicara tentang Yesus yang diurapi oleh seorang perempuan berdosa. Begini ceritanya. Pada suatu hari, Simon seorang Farisi mengundang Yesus untuk makan di rumahnya. Yesus pun datang memenuhi undangan. Pada saat itu disana ada seorang perempuan yang hidupnya bergelimang dosa. Ketika ia mendengar kedatangan Yesus ke rumah Simon, dia bergegas datang membawa buli-buli pualam berisi minyak wangi. Apa yang ia lakukan sangatlah mengharukan. Dia mendekati Yesus dari belakang, lalu menangis hingga membasahi kaki Yesus dengan air matanya. Sadar bahwa air matanya membasahi kaki Yesus, ia segera menyeka kaki Yesus, bukan dengan sapu tangan atau kain melainkan dengan rambutnya sendiri. Lalu ia mencium kaki Yesus dan meminyaki dengan minyak wangi yang sudah ia persiapkan.

Melihat kejadian itu, Simon orang Farisi pun bergumam dalam hatinya. Kata Simon: "Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa." (ay 39). Dalam bahasa Inggrisnya ayat ini mengatakan bahwa perempuan itu adalah "a notorious sinner,a social outcast, devoted to sin." Seorang wanita yang terkenal penuh dosa, orang yang terpinggirkan dalam strata sosial kemasyarakatan dan seorang yang mengabdikan diri pada dosa. Itu sudah masuk pelaku dosa kategori kronis.

Yesus kemudian memanggil Simon dan memberikan sebuah perumpamaan. Ada dua orang yang berhutang. Yang satu berhutang 500 dinar, sedangkan satunya "hanya" 50 dinar. Karena tidak sanggup membayar, orang yang dipiutangi memberi pengampunan, menghapuskan hutang keduanya. Yesus bertanya: "Siapakah di antara mereka yang akan terlebih mengasihi dia?" (ay 42). Simon menjawab: "Aku kira dia yang paling banyak dihapuskan hutangnya." (ay 43). Benar. Orang yang lebih banyak hutangnya tentu akan jauh lebih bersyukur dan berterimakasih kepada orang yang menghapuskan hutang dan akan lebih menghargai ketimbang orang yang hutangnya hanya sedikit saja.

Sekarang mari kita lihat lebih jauh. Apa maksud dari perumpamaan ini? Mari kita baca penjelasan dari Yesus. " Dan sambil berpaling kepada perempuan itu, Ia berkata kepada Simon: "Engkau lihat perempuan ini? Aku masuk ke rumahmu, namun engkau tidak memberikan Aku air untuk membasuh kaki-Ku, tetapi dia membasahi kaki-Ku dengan air mata dan menyekanya dengan rambutnya. Engkau tidak mencium Aku, tetapi sejak Aku masuk ia tiada henti-hentinya mencium kaki-Ku. Engkau tidak meminyaki kepala-Ku dengan minyak, tetapi dia meminyaki kaki-Ku dengan minyak wangi." (Ay 44-46). Simon merasa dirinya tidaklah seburuk si wanita pendosa. Ia menerima Yesus hanya sebagai tamu biasa, sedang si wanita pendosa tahu benar bahwa dosa yang ia perbuat sudah terlalu banyak, sehingga ia sangat membutuhkan pengampunan. Bertemu Yesus secara langsung merupakan sebuah kehormatan yang sangat besar sehingga ia merendahkan dirinya sedemikian rupa, menangis, menyeka kaki, mencium dan meminyaki kaki Yesus. Perbandingan antara Simon dan si perempuan yang bergelimang dosa sangat kontras. Yesus kemudian menyampaikan kesimpulan: "Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. Tetapi orang yang sedikit diampuni, sedikit juga ia berbuat kasih." (ay 47). Dan wanita yang dianggap pendosa kronis dan kambuhan itu ternyata menerima pengampunan.  "Lalu Ia berkata kepada perempuan itu: "Dosamu telah diampuni...Imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (ay 48,50).

(bersambung)

Monday, February 2, 2015

Tidak Percaya sebagai Penghalang Doa

Ayat bacaan: Markus 9:24
=====================
"Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!"

"Bapak percaya atau tidak sama saya? Kalau percaya serahkan saja sepenuhnya pak, supaya bapak tidak perlu repot lagi." Itulah kata seorang montir di bengkelnya kepada teman saya yang ragu meninggalkan mobilnya dan menyerahkan mandat untuk memberi onderdil. Kalau tidak percaya alamat tambah repot, karena selain ia tidak mengerti seluk beluk sparepart yang harus dibeli, ia pun harus meluangkan waktu di jam kerja untuk itu. Karena ia terlihat ragu, si montir pun berkata demikian. Dalam masalah keimanan kita pun sering bermasalah dengan keraguan. Mudah bagi kita untuk berkata percaya, tetapi semakin kita dililit masalah, biasanya tingkat percaya kita pun semakin berkurang. Padahal seharusnya justru disaat seperti itu kita harus lebih meningkatkan lagi. Mengapa? Karena kita suka tidak sadar bahwa seringkali yang menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berbagai jawaban doa dan curahan berkat Tuhan bukan karena apa-apa tapi karena kita kurang atau tidak percaya.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan doa kita tidak kunjung dijawab. Mungkin memang belum waktunya menurut Tuha, mungkin kita belum membereskan masalah-masalah yang masih tinggal di dalam diri kita di hadapan Tuhan sebelum berdoa, mungkin terhalang karena kita masih terus melakukan dosa atau berbohong terhadap pasangan, tapi tidak jarang pula masalahnya ada pada ketidak-yakinan kita akan kuasa doa. Kita berdoa, tapi doa yang kita panjatkan tidak didasari dengan rasa percaya dalam iman yang cukup. Maka masalah percaya penuh sering menjadi hambatan turunnya jawaban Tuhan atas doa kita. Mungkin bukan karena dengan sengaja tidak mau percaya, tetapi tidak cukup mampu untuk membangun rasa itu. Himpitan beban yang begitu berat bisa membuat keraguan kita muncul setiap kali kita mengharapkan turunnya tangan Tuhan untuk melepaskan kita. Kita mau percaya, tapi tetap ragu bahwa itu terjadi atas diri kita. Antara percaya, ragu dan tidak percaya atau tidak yakin, itu bisa mengambang bebas dalam diri kita. Kalau ini yang masih terjadi, sulit bagi kita untuk mengharapkan perkara-perkara besar, berbagai mukjizat dan pertolongan Tuhan bisa benar-benar menjadi kenyataan bagi kita.

Hari ini mari kita belajar lewat kisah di dalam Alkitab mengenai seorang ayah membawa anaknya yang kerasukan roh jahat ke hadapan Yesus. (Markus 9:14-29). Betapa paniknya si ayah, karena bukan saja roh itu sudah membisukan anaknya sejak kecil, tapi juga mengakibatkan hal-hal yang parah. "Dan setiap kali roh itu menyerang dia, roh itu membantingkannya ke tanah; lalu mulutnya berbusa, giginya bekertakan dan tubuhnya menjadi kejang." (Markus 9:18). Itu sudah separah film-film horor saja, bahkan lebih parah. Tidak satupun murid Yesus yang sanggup berbuat sesuatu. Si ayah pun berkata: "Dan seringkali roh itu menyeretnya ke dalam api ataupun ke dalam air untuk membinasakannya. Sebab itu jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." (ay 22).

Sampai disitu dulu. Perhatikan si ayah mengatakan "jika Engkau dapat berbuat sesuatu, tolonglah kami dan kasihanilah kami." JIKA Engkau DAPAT berbuat sesuatu. Adakah hal yang tidak dapat dilakukan Tuhan? Tentu kita semua tahu jawabannya. Dan itulah yang dikatakan Yesus. "Jawab Yesus: "Katamu: jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" (ay 23). Lihat bahwa Yesus menekankan kepada kata "percaya." Itu adalah salah satu kunci penting untuk mendapatkan jawaban atas doa. Jawaban selanjutnya dari si ayah sungguh menarik untuk kita simak. "Segera ayah anak itu berteriak: "Aku percaya. Tolonglah aku yang tidak percaya ini!" (ay 24). Percaya atau tidak? Ini perkataan yang kontradiktif yang ia ucapkan dalam setarik nafas, dalam satu kalimat. Yang benar mana?

Apa yang dialami si ayah sesungguhnya sering pula kita alami dalam hidup kita. Ketika beban pergumulan memuncak kita menjadi terombang-ambing antara keadaan ingin percaya tapi tidak cukup bisa untuk mempercayainya. Kita ingin ditolong tapi kita ragu apakah mungkin pertolongan itu bisa hadir. Sekali lagi, yang menjadi masalah bukanlah ketidak-inginan kita untuk percaya, tapi justru lebih kepada ketidaksanggupan kita untuk mengimaninya. Beban terkadang menimpa dengan sangat berat sehingga sulit bagi kita untuk tetap fokus dengan iman disertai rasa percaya yang penuh ketika kita memohon pertolongan Tuhan lewat doa kita. Maka teriakan si ayah pun mewakili apa yang sering kita alami hari ini.

"I want to believe, please help me to believe!" Sederhananya seperti itulah pergumulan si ayah menghadapi keadaan anaknya. Apakah Tuhan mau menolong kita untuk percaya, apabila kita sendiri tidak sanggup untuk itu? Puji Tuhan, Dia bukanlah Allah yang kaku dan hanya menyuruh. Dia adalah Allah yang peduli akan pergumulan kita. Ketika kita diminta untuk percaya, dan kita belum cukup sanggup untuk itu, bukankah sangat melegakan ketika kita mengetahui bahwa Tuhan pun bersedia membantu kita untuk percaya, untuk mengatasi keraguan kita? Dan Tuhan siap untuk melakukannya. Dia bersedia untuk itu. Dan itu tentu kabar baik karena kita hanyalah manusia biasa yang punya banyak kelemahan dan keterbatasan.

Masalah percaya merupakan hal yang sangat penting. Berulang kali Yesus menegur murid-muridNya yang kurang percaya. Termasuk si ayah pun ditegur karena tidak percaya. Kenyataannya, Yesus mau membantu sisi kurang percaya si ayah dan menyembuhkan anaknya. Kalau kita melihat kejadian lain ketika Yesus menyembuhkan orang sakit kusta (Lukas 5:12-16), kita melihat perbedaan iman dari orang kusta ini dengan ayah dari anak yang kerasukan tadi. Orang berpenyakit kusta ini berkata: "Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku." (ay 12). Itu perbedaan nyata antara imannya dengan iman si ayah yang berkata "jika Engkau dapat." Tuhan selalu dapat, dan bagi orang percaya tidak ada kata mustahil. Si orang dengan penyakit kusta tahu bahwa Tuhan dapat, dan kalau Tuhan berkenan, seketika ia bisa sembuh meski secara logika itu tidak mungkin. Karena itu kita harus terus melatih diri kita untuk mampu memiliki iman yang dipenuhi rasa percaya. Jika kita masih tidak sanggup memilikinya, berdoalah dan minta Tuhan membantu kita untuk bisa percaya terlebih dahulu sebelum kita mulai memohon pertolonganNya. Yesus sudah mengingatkan kita "Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku." (Yohanes 14:1), atau "Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36) dan banyak lagi Firman Tuhan yang menyuruh kita untuk memiliki sebentuk rasa percaya yang cukup untuk bisa mendapatkan jawaban atas permasalahan-permasalahan kita. "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24).

Begitu pentingnya sebuah iman yang percaya dalam menerima uluran tangan Tuhan, maka dari itu marilah hari ini kita berdoa agar Tuhan meneguhkan kepercayaan kita kepadaNya. Kalau kita sudah menjaga diri agar tetap kudus, tidak meminta untuk memuaskan keinginan daging, tidak menyimpan kebohongan, tidak berbuat atau berpikir dosa dan membangun doa dengan keyakinan teguh, tidak akan ada lagi hal yang mustahil bagi kita.

Keraguan atau ketidakpercayaan merupakan penghalang terjawabnya doa

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 1, 2015

Karena Tidak Percaya (2)

(Sambungan)

Salah satu contoh bisa kita lihat ketika Yesus diminta menyembuhkan anak Yairus. Pada saat itu ketika Yesus sampai dirumahnya, anak Yairus ternyata sudah keburu meninggal. Secara logika manusia tidak ada lagi yang bisa dilakukan. Itulah yang disampaikan orang-orang yang keluar dari rumahnya. "Ketika Yesus masih berbicara datanglah orang dari keluarga kepala rumah ibadat itu dan berkata: "Anakmu sudah mati, apa perlunya lagi engkau menyusah-nyusahkan Guru?" (Markus 5:35). Perhatikan baik-baik. Orang-orang ini tahu dan kenal siapa Yesus. Mereka tahu Dia sanggup melakukan mukjizat luar biasa. Mereka bahkan merupakan gambaran dari hamba-hamba Tuhan yang melayani di rumah ibadah. Sayangnya logika manusiawi mereka masih membatasi mereka untuk percaya penuh. Bagaimana reaksi Yesus? "Tetapi Yesus tidak menghiraukan perkataan mereka dan berkata kepada kepala rumah ibadat: "Jangan takut, percaya saja!" (ay 36). Selanjutnya ketika Yesus mengatakan bahwa anak itu hanya tidur, mereka kembali menertawakan Yesus. (ay 39-40). Untunglah Yairus tetap percaya. Yang terjadi kemudian, anak perempuan Yairus itu pun hidup kembali, bangun dan langsung berjalan. Lihatlah bahwa kuasa Tuhan berada jauh di atas kemampuan daya pikir dan nalar manusia. Kalau dulu bisa, kenapa sekarang tidak? Kalau itu bisa terjadi pada Yairus dan anaknya, kenapa kita tidak bisa mengalaminya? Mukjizat yang sama, bahkan yang lebih besar sekalipun bisa turun atas kita, namun untuk bisa mengalami itu semua dibutuhkan kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan.

Yesus mengatakan demikian: "Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24). Agar kita bisa mendapatkan permohonan kita dibutuhkan rasa percaya. Tanpa itu kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan mukjizat, berkat dan pertolongan Tuhan. Dalam kesempatan lain Yesus kembali mengingatkan hal yang sama: "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Matius 21:22). Artinya jelas, bahwa rasa percaya penuh merupakan syarat mutlak agar apa yang kita doakan bisa benar-benar terjadi secara nyata dalam kehidupan kita. Memang mukjizat Tuhan tidak terjadi kepada semua orang, tapi ingat bahwa dasar turunnya mukjizat Tuhan bukan didasarkan atas latar belakang seseorang, karena Tuhan tidak pernah memandang muka, tetapi didasarkan pada percaya atau tidak.

Kalau kita percaya sepenuhnya pada Tuhan dan kemampuan kuasaNya, maka mukjizat akan terjadi pada kita. Ini sesuatu yang mengandung kepastian, karena firman Tuhan dalam Matius 21:22 di atas mengatakan "akan menerima" bukan "mungkin menerima". Lihatlah apa yang diberikan Tuhan kepada orang-orang percaya. "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:17-18). Jelaslah ada perbedaan nyata antara orang yang percaya dengan orang yang terus hidup dalam kebimbangan.

Marilah kita sebagai anak-anak Tuhan memiliki pengenalan yang sebenarnya akan Tuhan dan segala kemampuanNya. Seringkali kita gagal mengalami mukjizat, pemulihan, atau lawatan Tuhan justru dari kegagalan kita sendiri untuk percaya. Keraguan kita sendirilah yang menghambat turunnya mukjizat Tuhan secara nyata. Seringkali kita terlalu sibuk mempergunakan kemampuan daya pikir kita yang terbatas ini dan membatasi Tuhan untuk bekerja leluasa sebebas-bebasnya dalam hidup kita. Kita meragukan kuasaNya, dan tidak mengijinkan Tuhan melakukan pekerjaanNya yang dahsyat dan ajaib. Akibatnya kita tidak pernah mengalami sesuatu perkara besar dalam diri kita. Bukan karena Tuhan tidak peduli, namun ternyata karena kita gagal memiliki iman yang percaya penuh kepadaNya. Bila kita percaya, yakinlah bahwa tidak ada satupun hal yang mustahil bagi Tuhan. Dan yakinlah bahwa semua itu akan kita terima. Alami pengalaman luar biasa bersama Tuhan lewat kepercayaan penuh kita kepadaNya.

There can/will be miracle, when you believe

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...