Ayat bacaan: 2 Timotius 4:7
=====================
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman."
Baru saja kemarin seorang teman dekat saya curhat menceritakan saat ayahnya meninggal. Sang ayah merupakan wiraswasta sukses yang pada saat-saat terakhirnya sempat mengutarakan kekecewaannya melihat keluarganya mulai terpecah-pecah. Teman saya yang merupakan anak perempuan satu-satunya ternyata ia anggap sebagai yang paling mengerti, sehingga ia pun menumpahkan isi hatinya yang sedih kepada teman saya ini. Tidak lama kemudian sang ayah meninggal dunia. Teman saya bercerita bahwa di saat ia duduk di pinggir peti memandang jasad ayahnya, ia kembali merenungkan kata-kata ayahnya. Disana ia menyadari bahwa meski sukses, semasa hidup sang ayah menghadapi begitu banyak problema berat dan pergumulan termasuk dari sisi keluarga. "papa sangat kuat... apa yang papa hadapi dalam hidupnya itu sangat berat, tapi sekarang papa sudah mengakhiri pertandingan dengan baik." demikian katanya kepada saya. Kehidupan si papa ternyata menginspirasinya untuk bisa berbuat lebih baik dalam menjalani hidup. "Kalau papa bisa, aku juga harus bisa." katanya.
Perjalanan hidup seringkali hadir sebagai sebuah petualangan. Rangkaian petualangan berbeda bagi masing-masing orang, begitu pula dengan hasil akhirnya. Kalau kita lihat tokoh-tokoh dalam Alkitab, kita pun akan menemukan kisah masing-masing dengan ending yang berbeda. Ada yang memulai dengan baik lalu mengalami ujian dan berakhir baik, ada yang mulanya buruk tetapi kemudian berakhir indah, sebaliknya ada juga yang memulai dengan baik tapi kemudian berakhir tragis. Apapun itu, yang jelas mereka semua sama seperti kita, mengalami banyak pergumulan dalam hidupnya. Keputusan yang mereka ambil akan sangat menentukan akhir cerita, dan seperti itupula yang berlaku bagi kita.
Paulus menggambarkan hidup sebagai sebuah pertandingan. Dalam menghadapi pertandingan, anda bisa serius berlatih atau malas-malasan, dan hasil akhir akan sangat ditentukan dari reaksi anda menyikapinya. Anda bisa saja kalah skor tetapi tetap mendapat nilai tinggi atau menang dari segi kegigihan. Dalam kehidupan kita menuju garis akhir yang baik seperti yang diinginkan Tuhan juga sama. Bagaimana keseriusan kita dalam mentaati Firman Tuhan, berjalan tetap dalam koridor ketetapanNya akan sangat menentukan bagaimana kita mencapai garis tersebut. anda dalam berjuang. " Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1). Sangatlah penting buat kita untuk melepaskan segala beban yang bisa merintangi atau memberatkan langkah kita agar kita bisa tetap berlari dengan baik menuju garis finish sebagai pemenang. Lewat Paulus kita bisa lihat bahwa perlombaan ini merupakan perlombaan yang diwajibkan bagi setiap orang, termasuk saya dan anda. Untuk sesuatu yang wajib, kita haruslah bisa berlomba dengan tekun, melepaskan segala hal yang bisa memperlambat atau bahkan menggagalkan kita agar berhasil mencapai akhir perlombaan dengan baik.
Sebagai orang yang menyampaikan pentingnya memperhatikan betul cara berlomba untuk memenangkan pertandingan, Paulus mampu mencapai garis akhir tersebut dengan tetap menjaga imannya. Menghadapi eksekusi yang mengerikan, iman Paulus tidak bergeming sedikitpun. Ia tetap teguh menyampaikan berita keselamatan, menguatkan saudara-saudara seiman dari balik dinding penjara yang pengap dan gelap. Dalam suratnya kepada Timotius ia menuliskan bagaimana ia mengakhiri perlombaan yang diwajibkan dalam hidupnya. "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya." (2 Timotius 4:7-8). Kita bisa melihat dengan jelas bahwa Paulus memutuskan untuk tetap menjaga imannya sampai akhir. Ia mengakhiri pertandingan dengan baik dan dengan sendirinya berhak menerima mahkota kebenaran. Itu adalah pilihan Paulus yang bisa kita jadikan teladan. Ia tidak tergoda atau terganggu sedikitpun dengan permasalahan besar yang menimpanya. Ia memilih untuk terus menjaga iman apapun resikonya, dan kita bisa saksikan sendiri bagaimana pada akhirnya ia menuntaskan perlombaan itu.
Seperti halnya pada Paulus, kita hari ini dihadapkan kepada perlombaan wajib yang sama. Pertandingannya sama, tetapi keputusan yang kita ambil bisa membawa kita kepada garis akhir yang berbeda. Intinya, itu tergantung dari kita. That's a choice which depends on our decision. Kita harus tetap kuat dan terus tekun berlomba, jangan sampai menggadaikan iman dengan imbalan apapun, jangan melemah, jangan berkompromi dan sebagainya. Melihat situasi saat ini, itu tentu sulit. Tapi ingatlah bahwa tidak ada perlombaan yang mudah. Kalau Paulus sanggup, kenapa kita tidak?
Ingatlah bahwa segala permasalahan bukanlah akhir dari segala-galanya. Masalah boleh saja timbul dan bisa sewaktu-waktu hadir dalam hidup kita. Tapi apa yang penting adalah untuk terus bertekun dalam menghadapi pertandingan. Dalam kondisi seperti apapun, kita harus terus berupaya untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus, dan pada akhirnya kita akan dihadiahi mahkota kehidupan, diangkat untuk berada bersama-sama dengan Bapa di Surga, dan pada saat itulah semua akan berakhir dengan indah. Bukan bagaimana di dunia, tetapi bagaimana kita mencapai garis akhir.
How we reach the finish line depends on our decision today
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, August 7, 2013
Tuesday, August 6, 2013
Pentingnya Dongeng Sebelum Tidur
Ayat bacaan: Ulangan 11:19
====================
"Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun"
Ketika saya masih kecil, saya secara rutin mendengar dongeng sebelum tidur terutama dari nenek saya. Ada banyak cerita yang ia sampaikan baik dengan membacakan buku tentang dongeng-dongeng terkenal seperti karya H.C Andersen, Flora Annie Steel, berbagai dongeng rakyat atau rekaannya sendiri. Nenek dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan saya apabila ada bagian-bagian yang membingungkan atau sulit saya mengerti. Ia sudah lama tiada, tapi dongeng-dongengnya sebelum tidur masih melekat di benak saya hingga hari ini. Bahkan masih segar di benak saya bagaimana caranya bercerita atau suasana waktu itu. Ada banyak dari ceritanya yang sangat berguna di masa-masa pertumbuhan saya, bahkan masih sangat bermanfaat untuk diingat dan diterapkan sampai detik ini.
Berbagai dongeng ini berisi banyak pesan moral yang akan baik buat masa depan anak-anak. Dongeng sebelum tidur atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan bedtime stories memiliki banyak keuntungan. Selain anak-anak bisa tidur dengan lebih mudah dan nyaman, biasanya akan terbentuk ikatan kuat antara anak dan sosok yang rajin mendongeng buat mereka. Selain itu, berbagai keteladanan, pendidikan moral/etika maupun pelajaran-pelajaran yang berharga akan sangat berguna buat mereka ke depannya. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak akan lebih mudah menangkap pesan-pesan moril, petuah atau pengajaran di rumah pada saat menjelang tidur. Mereka biasanya lebih berkonsentrasi karena minim gangguan dari sekitarnya seperti di siang hari.
Kemarin saya menuliskan renungan mengenai bentuk pengajaran Yesus lewat begitu banyak perumpamaan yang sangat memudahkan kita untuk mengerti kebenaran-kebenaran, pesan, teguran juga isi hati Tuhan. Pada saat itu sudah banyak berkembang berbagai bentuk pengajaran dunia yang bertentangan dengan kebenaran Kerajaan Surga, sehingga Yesus pun sering harus merubah secara radikal agar manusia tidak terus tersesat. Dalam keadaan seperti itu, untuk memahami dan menerima bisa menjadi sangat sulit sehingga tepatlah apabila Yesus mengajarkan lewat perumpamaan-perumpamaan. Itu membuat manusia bisa lebih mudah menerima pengajaran yang akan sangat menentukan dalam menerima segala sesuatu yang baik dari Tuhan termasuk di dalamnya jaminan keselamatan.
Sekarang coba pikirkan betapa baiknya apabila saat-saat sebelum tidur anak-anak kita diberikan pemahaman tentang Firman Tuhan dengan disertai cerita-cerita yang mudah mereka pahami. Berbagai contoh bisa diberikan sesuai kemampuan nalar mereka di usia seperti itu. Sayang sekali para orang tua di Indonesia kebanyakan belum mengetahui manfaat yang bisa dicapai oleh anak-anak lewat mendongeng sebelum tidur ini. Banyak yang merasa malas dan menganggap hal itu cuma buang-buang waktu saja. Padahal, momen ini adalah momen emas baik buat membangun hubungan yang erat dengan anak-anak maupun untuk mengajarkan kebijaksanaan terutama mengenalkan Firman Tuhan sejak dini.
Alkitab pun menganjurkan kita seperti itu. "Kamu tahu sekarang--kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu--kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung... Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 11:2,19). Dengan mengacu kepada ayat ini kita bisa melihat bahwa apa yang kita ketahui mengenai Tuhan, bagaimana karya-karyaNya dalam hidup kita, kuasaNya yang menaungi kita, segala sesuatu yang telah Dia lakukan kepada umatNya tidaklah boleh berhenti hanya sampai pada diri kita saja, melainkan harus kita teruskan kepada anak-anak kita, kepada generasi-generasi selanjutnya yang kelak akan tumbuh menjadi dewasa, para pemimpin di masa depan. Cara yang sangat baik yang bisa dipakai adalah dengan menceritakan kisah-kisah dalam Alkitab kepada mereka sejak dini secara terus menerus atau berulang-ulang. Alkitab mengandung kebenaran kekal tentu dapat membentuk karakter mereka agar bisa bertumbuh dengan pengenalan yang baik akan pribadi Tuhan.
Setelah mengenalkan pribadi dan hati Tuhan kepada anak-anak kita, langkah selanjutnya adalah dengan memberi contoh langsung lewat cara hidup kita. Dalam kitab Ulangan tadi, ayat selanjutnya berkata: "engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 20). Ini berarti bahwa membekali mereka secara berulang-ulang akan kebenaran Firman Tuhan sejak dini, termasuk di dalamnya pada saat mereka menjelang tidur saja sangatlah baik tapi belum cukup. Selanjutnya kita dituntut untuk menjadi contoh hidup dari segala sesuatu yang kita ajarkan. Ingatlah bahwa anak-anak itu polos, cenderung meniru sikap dan perilaku orang tuanya. Karena itu menjadi contoh langsung dari segala pendidikan moral terutama yang terkandung di dalam Firman Tuhan pun sangat penting. Bukankah tidak adil apabila kita menghukum mereka atas kesalahan yang dilakukan sementara kita masih dengan seenaknya melakukan kesalahan yang sama di depan mereka?
Berbagai evaluasi dan membangun nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak kita pada jam-jam menjelang tidur sangatlah efektif untuk kita lakukan. Anda bisa membacakan berbagai kisah Alkitab yang mengandung kebenaran Firman Tuhan dengan cara yang disukai dan dimengerti oleh anak-anak. Hikmat kebijaksanaan dan kebenaran Firman akan meresap di hati mereka dan tinggal untuk waktu yang lama disana. Seberapa penting bagi kita dan anak-anak untuk mengetahui semua pengalaman para tokoh di dalam Alkitab? Paulus mengatakan: "Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." (1 Korintus 10:11).
Segala pengalaman para tokoh di dalam Alkitab bisa menjadi contoh yang baik untuk mengajarkan anak-anak sejak kecil untuk mengetahui mana yang benar dan salah, termasuk pula menyadari konsekuensi-konsekuensi dari setiap tindakan. Ada tokoh yang berhasil, ada tokoh yang gagal. Ada yang berubah menjadi lebih baik, ada yang dari baik kemudian terperosok. Semua pengalaman mereka akan mampu memberikan pelajaran berharga bagi hidup mereka, di masanya mereka. Jangan lupa pula bahwa di saat-saat itu pula anda akan mendapatkan waktu yang paling indah dan strategis untuk membangun hubungan yang dekat dengan anak-anak anda. Masa depan mereka terletak di tangan kita dan sangat tergantung dari apa yang kita ajarkan maupun contohkan. Bagi teman-teman yang dikaruniai anak yang masih kecil, manfaatkanlah waktu-waktu di malam hari sekarang juga untuk menanamkan kebenaran Firman Tuhan kepada mereka. Jangan anggap sia-sia, jangan tunda, karena pada saat mereka sudah bertumbuh besar, semua itu bisa jadi sudah terlambat.
Bagaimana kita mengajarkan kebenaran kepada anak kita sejak kecil akan sangat menentukan masa depannya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
====================
"Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun"
Ketika saya masih kecil, saya secara rutin mendengar dongeng sebelum tidur terutama dari nenek saya. Ada banyak cerita yang ia sampaikan baik dengan membacakan buku tentang dongeng-dongeng terkenal seperti karya H.C Andersen, Flora Annie Steel, berbagai dongeng rakyat atau rekaannya sendiri. Nenek dengan senang hati menjawab berbagai pertanyaan saya apabila ada bagian-bagian yang membingungkan atau sulit saya mengerti. Ia sudah lama tiada, tapi dongeng-dongengnya sebelum tidur masih melekat di benak saya hingga hari ini. Bahkan masih segar di benak saya bagaimana caranya bercerita atau suasana waktu itu. Ada banyak dari ceritanya yang sangat berguna di masa-masa pertumbuhan saya, bahkan masih sangat bermanfaat untuk diingat dan diterapkan sampai detik ini.
Berbagai dongeng ini berisi banyak pesan moral yang akan baik buat masa depan anak-anak. Dongeng sebelum tidur atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan bedtime stories memiliki banyak keuntungan. Selain anak-anak bisa tidur dengan lebih mudah dan nyaman, biasanya akan terbentuk ikatan kuat antara anak dan sosok yang rajin mendongeng buat mereka. Selain itu, berbagai keteladanan, pendidikan moral/etika maupun pelajaran-pelajaran yang berharga akan sangat berguna buat mereka ke depannya. Banyak penelitian yang mengatakan bahwa anak-anak akan lebih mudah menangkap pesan-pesan moril, petuah atau pengajaran di rumah pada saat menjelang tidur. Mereka biasanya lebih berkonsentrasi karena minim gangguan dari sekitarnya seperti di siang hari.
Kemarin saya menuliskan renungan mengenai bentuk pengajaran Yesus lewat begitu banyak perumpamaan yang sangat memudahkan kita untuk mengerti kebenaran-kebenaran, pesan, teguran juga isi hati Tuhan. Pada saat itu sudah banyak berkembang berbagai bentuk pengajaran dunia yang bertentangan dengan kebenaran Kerajaan Surga, sehingga Yesus pun sering harus merubah secara radikal agar manusia tidak terus tersesat. Dalam keadaan seperti itu, untuk memahami dan menerima bisa menjadi sangat sulit sehingga tepatlah apabila Yesus mengajarkan lewat perumpamaan-perumpamaan. Itu membuat manusia bisa lebih mudah menerima pengajaran yang akan sangat menentukan dalam menerima segala sesuatu yang baik dari Tuhan termasuk di dalamnya jaminan keselamatan.
Sekarang coba pikirkan betapa baiknya apabila saat-saat sebelum tidur anak-anak kita diberikan pemahaman tentang Firman Tuhan dengan disertai cerita-cerita yang mudah mereka pahami. Berbagai contoh bisa diberikan sesuai kemampuan nalar mereka di usia seperti itu. Sayang sekali para orang tua di Indonesia kebanyakan belum mengetahui manfaat yang bisa dicapai oleh anak-anak lewat mendongeng sebelum tidur ini. Banyak yang merasa malas dan menganggap hal itu cuma buang-buang waktu saja. Padahal, momen ini adalah momen emas baik buat membangun hubungan yang erat dengan anak-anak maupun untuk mengajarkan kebijaksanaan terutama mengenalkan Firman Tuhan sejak dini.
Alkitab pun menganjurkan kita seperti itu. "Kamu tahu sekarang--kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu--kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung... Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 11:2,19). Dengan mengacu kepada ayat ini kita bisa melihat bahwa apa yang kita ketahui mengenai Tuhan, bagaimana karya-karyaNya dalam hidup kita, kuasaNya yang menaungi kita, segala sesuatu yang telah Dia lakukan kepada umatNya tidaklah boleh berhenti hanya sampai pada diri kita saja, melainkan harus kita teruskan kepada anak-anak kita, kepada generasi-generasi selanjutnya yang kelak akan tumbuh menjadi dewasa, para pemimpin di masa depan. Cara yang sangat baik yang bisa dipakai adalah dengan menceritakan kisah-kisah dalam Alkitab kepada mereka sejak dini secara terus menerus atau berulang-ulang. Alkitab mengandung kebenaran kekal tentu dapat membentuk karakter mereka agar bisa bertumbuh dengan pengenalan yang baik akan pribadi Tuhan.
Setelah mengenalkan pribadi dan hati Tuhan kepada anak-anak kita, langkah selanjutnya adalah dengan memberi contoh langsung lewat cara hidup kita. Dalam kitab Ulangan tadi, ayat selanjutnya berkata: "engkau harus menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 20). Ini berarti bahwa membekali mereka secara berulang-ulang akan kebenaran Firman Tuhan sejak dini, termasuk di dalamnya pada saat mereka menjelang tidur saja sangatlah baik tapi belum cukup. Selanjutnya kita dituntut untuk menjadi contoh hidup dari segala sesuatu yang kita ajarkan. Ingatlah bahwa anak-anak itu polos, cenderung meniru sikap dan perilaku orang tuanya. Karena itu menjadi contoh langsung dari segala pendidikan moral terutama yang terkandung di dalam Firman Tuhan pun sangat penting. Bukankah tidak adil apabila kita menghukum mereka atas kesalahan yang dilakukan sementara kita masih dengan seenaknya melakukan kesalahan yang sama di depan mereka?
Berbagai evaluasi dan membangun nilai-nilai kehidupan bagi anak-anak kita pada jam-jam menjelang tidur sangatlah efektif untuk kita lakukan. Anda bisa membacakan berbagai kisah Alkitab yang mengandung kebenaran Firman Tuhan dengan cara yang disukai dan dimengerti oleh anak-anak. Hikmat kebijaksanaan dan kebenaran Firman akan meresap di hati mereka dan tinggal untuk waktu yang lama disana. Seberapa penting bagi kita dan anak-anak untuk mengetahui semua pengalaman para tokoh di dalam Alkitab? Paulus mengatakan: "Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba." (1 Korintus 10:11).
Segala pengalaman para tokoh di dalam Alkitab bisa menjadi contoh yang baik untuk mengajarkan anak-anak sejak kecil untuk mengetahui mana yang benar dan salah, termasuk pula menyadari konsekuensi-konsekuensi dari setiap tindakan. Ada tokoh yang berhasil, ada tokoh yang gagal. Ada yang berubah menjadi lebih baik, ada yang dari baik kemudian terperosok. Semua pengalaman mereka akan mampu memberikan pelajaran berharga bagi hidup mereka, di masanya mereka. Jangan lupa pula bahwa di saat-saat itu pula anda akan mendapatkan waktu yang paling indah dan strategis untuk membangun hubungan yang dekat dengan anak-anak anda. Masa depan mereka terletak di tangan kita dan sangat tergantung dari apa yang kita ajarkan maupun contohkan. Bagi teman-teman yang dikaruniai anak yang masih kecil, manfaatkanlah waktu-waktu di malam hari sekarang juga untuk menanamkan kebenaran Firman Tuhan kepada mereka. Jangan anggap sia-sia, jangan tunda, karena pada saat mereka sudah bertumbuh besar, semua itu bisa jadi sudah terlambat.
Bagaimana kita mengajarkan kebenaran kepada anak kita sejak kecil akan sangat menentukan masa depannya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Monday, August 5, 2013
Perumpamaan
Ayat bacaan: Matius 13:34
==================
"Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka"
Jika anda bertanya kepada anak-anak sekolah, kebanyakan tidak suka dengan fisika, matematika atau kimia. Apa yang salah terhadap mata pelajaran ini? Tentu bukan mata pelajarannya yang salah, tetapi menurut saya karena biasanya murid hanya diarahkan untuk menghafal rumus tanpa diberitahu kegunaannya. Seperti itulah saya ingat ketika saya masih sekolah dulu, saya berusaha sendiri untuk mencari cara agar bisa menyukai mata pelajaran-mata pelajaran yang terbilang sulit itu. Apa yang saya perbuat? Misalnya, saya mencoba untuk menjatuhkan kapur dari lantai dua, yang sudah saya ukur dulu tingginya dengan memakai tali meteran. Kapur saya timbang, lalu kecepatan teman saya berjalan di bawah pun dihitung kira-kiranya. Jadi saya tahu kapan harus melepas kapur agar tepat mengenai kepalanya. Dalam pelajaran kimia saya membaca berbagai novel Agatha Christie sehingga tahu beberapa campuran zat kimia yang menghasilkan racun. Dengan melakukan hal-hal ini, saya menjadi tertarik akan pelajaran-pelajaran itu dan tidak lagi gampang lupa. Setelah saya menjadi pengajar, saya memastikan akan selalu menerangkan apa fungsi, tujuan atau aplikasi dari segala sesuatu yang mereka pelajari. Semua itu pun saya sertai contoh-contoh agar mudah dipahami karena memakai ilustrasi dari apa yang mereka lihat atau alami sehari-hari. Pada suatu kali saya harus menerangkan kepada seseorang akan pentingnya menyampaikan dengan kata-kata yang benar, saya pun memilih untuk memberi ilustrasi mudah ketimbang menimbun mereka dengan berbagai ayat. Itu akan jauh lebih efektif terlebih bagi mereka yang belum mengenal betul pesan-pesan Tuhan untuk sebuah kehidupan berkelimpahan menuju keselamatan yang kekal. Itu juga sebabnya saya selalu mengawali renungan dengan sebuah ilustrasi yang saya percaya bisa mengantar anda lebih jauh dalam memahami firman yang disampaikan.
Dalam sisi ilmu pengetahuan, teori itu penting. Dalam meningkatkan iman, mengetahui bunyi Firman Tuhan itu penting. Tetapi aplikasi nyatanya dalam kehidupan itu pun tidak kalah pentingnya. Agar kita mudah memahami, seharusnya ada bentuk-bentuk pengajaran yang disertai contoh-contoh, seperti lewat perumpamaan misalnya. Itulah tepatnya yang dilakukan Yesus dalam masa pelayananNya di muka bumi ini. Perhatikan cara pengajaran Yesus. Dia tidak cuma mau menyampaikan isi hati Tuhan kepada kita secara "teoritis" saja, tetapi Yesus suka menyertakan berbagai perumpamaan yang jauh lebih aplikatif dan mengena, lebih mudah dicerna atau dipahami. Jadi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan, teguran dan larangan saja, tetapi ada contoh yang memudahkan kita untuk mengerti terutama untuk hal-hal yang berbeda dengan apa yang dipercaya dunia.
Lihat betapa banyaknya perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Dia menyampaikan suara Tuhan bagi manusia. Mari kita ambil beberapa contoh. Lewat cerita tentang seorang ibu dan hakim yang lalim dalam Lukas 18:1-8 Yesus mengajarkan kita untuk terus berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kisah orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18:9-14 mengajarkan kita untuk tidak merasa diri paling benar, paling suci dan memandang rendah orang lain atau merasa berhak menghakimi, juga mengajarkan bagaimana bentuk pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita di masa lalu. Lantas dalam Injil Lukas pasal 15 kita bisa menemukan seperti apa besarnya kerinduan dan kasih Tuhan kepada orang-orang terhilang lewat tiga perumpamaan: tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Ketiganya dengan jelas merefleksikan sikap hati Tuhan kepada orang-orang yang hilang untuk kembali kepada jalanNya. Pengampunan tak terbatas diberikan sebagai anugerah atas dasar kasihNya yang begitu besar kepada kita. Ketiganya akan sangat membantu kita untuk mengerti sikap hati Bapa terhadap anak-anakNya. Ada banyak lagi tentunya perumpamaan-perumpamaan yang semuanya sangat bermanfaat seperti perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), perumpamaan orang kaya yang bodoh (12:13-21), perumpamaan tentang hamba yang menantikan kepulangan majikan atau tuannya (12:35-48), gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Matius 25:1-13), tentang talenta (Matius 25:14-30) dan lain-lain. Isi hati Tuhan, kebenaran Kerajaan Surga, semuanya tergambar jelas lewat perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan dengan cara yang begitu mudah untuk dimengerti.
Dalam Injil Matius ada sebuah ayat yang dengan jelas menggambarkan metode pengajaran Kristus kepada manusia. "Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka" (Matius 13:34). Yesus bertindak sebagai Guru yang Agung, yang dengan luar biasa mengajarkan lewat metode pengajaran yang disertai dengan contoh langsung yang sangat mudah dicerna. Maka tidaklah mengherankan apabila Nikodemus, orang Farisi pemimpin agama saat itu menggambarkan Yesus sebagai Rabi, guru yang diutus Allah seperti yang bisa kita baca pada Yohanes 3:2. Yesus bukan tipe guru yang bertindak otoriter dan memaksa orang menghafal atau menyampaikan searah. Dia mengambil cara mengajar dengan bercerita dalam beragam perumpamaan, often with the style of a story teller. Dengan begitu kemampuan pikir kita akan lebih mudah mengetahui isi hati Tuhan, perintahNya, kehendakNya, teguranNya dan laranganNya. Kita akan lebih mudah pula menerapkannya dalam kehidupan kita karena kita mengerti sehingga bisa membawa kita kepada sebuah frame hidup yang tepat seperti yang diinginkan Tuhan bagi kita semua.
Sebuah keteladanan hidup yang lahir dari pemahaman Firman Tuhan akan sangat berguna untuk menyatakan hati Tuhan kepada orang lain. Kita diminta menjadi saksi-saksi Kristus, baik di lingkungan tempat tinggal kita, kota, bangsa, bahkan seluruh dunia. (Kisah Para Rasul 1:8). Orang akan bisa melihat langsung bagaimana bedanya berjalan bersama Tuhan lewat cara kita hidup, Ketahuilah bahwa hidup kita pun dengan demikian akan menjadi sebuah "perumpamaan" sendiri yang akan mampu memberkati orang-orang di sekitar kita. Tuhan tidak ingin kita berhenti hanya pada tahu teori, tetapi secara praktek pun harus kita tunjukkan.
Perumpamaan lewat contoh sederhana bisa membawa kita ke dalam pemahaman lebih baik akan Firman Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka"
Jika anda bertanya kepada anak-anak sekolah, kebanyakan tidak suka dengan fisika, matematika atau kimia. Apa yang salah terhadap mata pelajaran ini? Tentu bukan mata pelajarannya yang salah, tetapi menurut saya karena biasanya murid hanya diarahkan untuk menghafal rumus tanpa diberitahu kegunaannya. Seperti itulah saya ingat ketika saya masih sekolah dulu, saya berusaha sendiri untuk mencari cara agar bisa menyukai mata pelajaran-mata pelajaran yang terbilang sulit itu. Apa yang saya perbuat? Misalnya, saya mencoba untuk menjatuhkan kapur dari lantai dua, yang sudah saya ukur dulu tingginya dengan memakai tali meteran. Kapur saya timbang, lalu kecepatan teman saya berjalan di bawah pun dihitung kira-kiranya. Jadi saya tahu kapan harus melepas kapur agar tepat mengenai kepalanya. Dalam pelajaran kimia saya membaca berbagai novel Agatha Christie sehingga tahu beberapa campuran zat kimia yang menghasilkan racun. Dengan melakukan hal-hal ini, saya menjadi tertarik akan pelajaran-pelajaran itu dan tidak lagi gampang lupa. Setelah saya menjadi pengajar, saya memastikan akan selalu menerangkan apa fungsi, tujuan atau aplikasi dari segala sesuatu yang mereka pelajari. Semua itu pun saya sertai contoh-contoh agar mudah dipahami karena memakai ilustrasi dari apa yang mereka lihat atau alami sehari-hari. Pada suatu kali saya harus menerangkan kepada seseorang akan pentingnya menyampaikan dengan kata-kata yang benar, saya pun memilih untuk memberi ilustrasi mudah ketimbang menimbun mereka dengan berbagai ayat. Itu akan jauh lebih efektif terlebih bagi mereka yang belum mengenal betul pesan-pesan Tuhan untuk sebuah kehidupan berkelimpahan menuju keselamatan yang kekal. Itu juga sebabnya saya selalu mengawali renungan dengan sebuah ilustrasi yang saya percaya bisa mengantar anda lebih jauh dalam memahami firman yang disampaikan.Dalam sisi ilmu pengetahuan, teori itu penting. Dalam meningkatkan iman, mengetahui bunyi Firman Tuhan itu penting. Tetapi aplikasi nyatanya dalam kehidupan itu pun tidak kalah pentingnya. Agar kita mudah memahami, seharusnya ada bentuk-bentuk pengajaran yang disertai contoh-contoh, seperti lewat perumpamaan misalnya. Itulah tepatnya yang dilakukan Yesus dalam masa pelayananNya di muka bumi ini. Perhatikan cara pengajaran Yesus. Dia tidak cuma mau menyampaikan isi hati Tuhan kepada kita secara "teoritis" saja, tetapi Yesus suka menyertakan berbagai perumpamaan yang jauh lebih aplikatif dan mengena, lebih mudah dicerna atau dipahami. Jadi bukan hanya sekedar menyampaikan pesan, teguran dan larangan saja, tetapi ada contoh yang memudahkan kita untuk mengerti terutama untuk hal-hal yang berbeda dengan apa yang dipercaya dunia.
Lihat betapa banyaknya perumpamaan yang diberikan Yesus ketika Dia menyampaikan suara Tuhan bagi manusia. Mari kita ambil beberapa contoh. Lewat cerita tentang seorang ibu dan hakim yang lalim dalam Lukas 18:1-8 Yesus mengajarkan kita untuk terus berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kisah orang Farisi dan pemungut cukai dalam Lukas 18:9-14 mengajarkan kita untuk tidak merasa diri paling benar, paling suci dan memandang rendah orang lain atau merasa berhak menghakimi, juga mengajarkan bagaimana bentuk pengampunan dari Tuhan atas dosa-dosa kita di masa lalu. Lantas dalam Injil Lukas pasal 15 kita bisa menemukan seperti apa besarnya kerinduan dan kasih Tuhan kepada orang-orang terhilang lewat tiga perumpamaan: tentang domba yang hilang, dirham yang hilang dan anak yang hilang. Ketiganya dengan jelas merefleksikan sikap hati Tuhan kepada orang-orang yang hilang untuk kembali kepada jalanNya. Pengampunan tak terbatas diberikan sebagai anugerah atas dasar kasihNya yang begitu besar kepada kita. Ketiganya akan sangat membantu kita untuk mengerti sikap hati Bapa terhadap anak-anakNya. Ada banyak lagi tentunya perumpamaan-perumpamaan yang semuanya sangat bermanfaat seperti perumpamaan orang Samaria yang murah hati (Lukas 10:25-37), perumpamaan orang kaya yang bodoh (12:13-21), perumpamaan tentang hamba yang menantikan kepulangan majikan atau tuannya (12:35-48), gadis-gadis yang bijaksana dan yang bodoh (Matius 25:1-13), tentang talenta (Matius 25:14-30) dan lain-lain. Isi hati Tuhan, kebenaran Kerajaan Surga, semuanya tergambar jelas lewat perumpamaan-perumpamaan yang disampaikan dengan cara yang begitu mudah untuk dimengerti.
Dalam Injil Matius ada sebuah ayat yang dengan jelas menggambarkan metode pengajaran Kristus kepada manusia. "Semuanya itu disampaikan Yesus kepada orang banyak dalam perumpamaan, dan tanpa perumpamaan suatupun tidak disampaikan-Nya kepada mereka" (Matius 13:34). Yesus bertindak sebagai Guru yang Agung, yang dengan luar biasa mengajarkan lewat metode pengajaran yang disertai dengan contoh langsung yang sangat mudah dicerna. Maka tidaklah mengherankan apabila Nikodemus, orang Farisi pemimpin agama saat itu menggambarkan Yesus sebagai Rabi, guru yang diutus Allah seperti yang bisa kita baca pada Yohanes 3:2. Yesus bukan tipe guru yang bertindak otoriter dan memaksa orang menghafal atau menyampaikan searah. Dia mengambil cara mengajar dengan bercerita dalam beragam perumpamaan, often with the style of a story teller. Dengan begitu kemampuan pikir kita akan lebih mudah mengetahui isi hati Tuhan, perintahNya, kehendakNya, teguranNya dan laranganNya. Kita akan lebih mudah pula menerapkannya dalam kehidupan kita karena kita mengerti sehingga bisa membawa kita kepada sebuah frame hidup yang tepat seperti yang diinginkan Tuhan bagi kita semua.
Sebuah keteladanan hidup yang lahir dari pemahaman Firman Tuhan akan sangat berguna untuk menyatakan hati Tuhan kepada orang lain. Kita diminta menjadi saksi-saksi Kristus, baik di lingkungan tempat tinggal kita, kota, bangsa, bahkan seluruh dunia. (Kisah Para Rasul 1:8). Orang akan bisa melihat langsung bagaimana bedanya berjalan bersama Tuhan lewat cara kita hidup, Ketahuilah bahwa hidup kita pun dengan demikian akan menjadi sebuah "perumpamaan" sendiri yang akan mampu memberkati orang-orang di sekitar kita. Tuhan tidak ingin kita berhenti hanya pada tahu teori, tetapi secara praktek pun harus kita tunjukkan.
Perumpamaan lewat contoh sederhana bisa membawa kita ke dalam pemahaman lebih baik akan Firman Tuhan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, August 4, 2013
1 Mil Ekstra (2)
(sambungan)
Sekarang mari kita lihat lebih jauh tentang ekstra satu mil ini. Mengapa kita harus berjalan 1 mil lebih dari yang diharuskan? Ayat terakhir dari Matius 41 memberikan alasannya. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Agar bisa sempurna kita tidak bisa setengah-setengah. Tidak cukup melakukan ala kadarnya, tetapi berilah perhatian lebih akan sesuatu yang kita kerjakan karena tanpa itu kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Salah satu gambaran yang jelas mengenai satu mil ekstra ini bisa kita lihat dalam hal menghadapi musuh, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27-36. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak." (ay 32-34). Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan yang lain? Ada seruan penting yang harus kita ingat bahwa dalam perjalanan hidup kita ini, kita harus berjalan menuju kesempurnaan seperti Yesus. And if we want to be like Him, we have to walk extra mile.
Dalam Efesus kita bisa melihat aplikasi lainnya. "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia." (Efesus 6:5-7). Jangan cuma rajin ketika diperhatikan, atau ketika diiming-imingi bonus saja, tetapi lakukanlah apapun yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya seperti sedang melakukannya untuk Tuhan. Ini contoh lain dari menjalani tambahan 1 mil ekstra. Bagaimana dalam hal rohani? Kita sudah diselamatkan, oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan, sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi kita tidak berhenti disana, karena seharusnya kita harus belajar peduli kepada keselamatan orang lain. Membawa kabar keselamatan kepada orang lain baik lewat menolong yang membutuhkan, membagi kesaksian atau yang lebih mudah lagi yaitu dengan memberi keteladanan lewat cara hidup kita sendiri, itu semua bisa menjadi jendela bagi orang untuk bisa mengenal Juru Selamat kita.
Cepat puas dengan usaha ala kadarnya tidak akan pernah membawa kita untuk menapak ke arah kesempurnaan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melakukan sesuatu hanya setengah-setengah tidak akan membuat kita mampu menjadi garam dan terang di dunia. Kalau mind set kita masih seperti ini, kita tidaklah berbeda dari orang lain. Yesus mengajarkan murid-muridNya termasuk kita untuk mau berjalan dan melakukan lebih. Itulah yang akan membedakan kita dari kehidupan orang dunia. 1 mil ekstra ini pun sejalan dengan pesan Kristus bahwa "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Artinya kita harus siap mengorbankan apa yang ada pada kita, baik waktu, tenaga, pikiran, harta, jam-jam istirahat kita dan lain-lain agar bisa melakukan lebih dari sekedar kewajiban. Orang-orang yang berjalan hingga mil kedua adalah orang yang mau melakukan lebih dari sekedar kewajiban dan meneruskannya dengan melakukan atas dasar kasih, baik terhadap Tuhan maupun sesama. It's not easy, but that will differ you with others. Are you ready? Let's walk another one mile together!
You can't be excellent if you only walk one mile. Go further by adding another one
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sekarang mari kita lihat lebih jauh tentang ekstra satu mil ini. Mengapa kita harus berjalan 1 mil lebih dari yang diharuskan? Ayat terakhir dari Matius 41 memberikan alasannya. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." Agar bisa sempurna kita tidak bisa setengah-setengah. Tidak cukup melakukan ala kadarnya, tetapi berilah perhatian lebih akan sesuatu yang kita kerjakan karena tanpa itu kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Salah satu gambaran yang jelas mengenai satu mil ekstra ini bisa kita lihat dalam hal menghadapi musuh, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27-36. "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak." (ay 32-34). Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan yang lain? Ada seruan penting yang harus kita ingat bahwa dalam perjalanan hidup kita ini, kita harus berjalan menuju kesempurnaan seperti Yesus. And if we want to be like Him, we have to walk extra mile.
Dalam Efesus kita bisa melihat aplikasi lainnya. "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia." (Efesus 6:5-7). Jangan cuma rajin ketika diperhatikan, atau ketika diiming-imingi bonus saja, tetapi lakukanlah apapun yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya seperti sedang melakukannya untuk Tuhan. Ini contoh lain dari menjalani tambahan 1 mil ekstra. Bagaimana dalam hal rohani? Kita sudah diselamatkan, oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan, sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi kita tidak berhenti disana, karena seharusnya kita harus belajar peduli kepada keselamatan orang lain. Membawa kabar keselamatan kepada orang lain baik lewat menolong yang membutuhkan, membagi kesaksian atau yang lebih mudah lagi yaitu dengan memberi keteladanan lewat cara hidup kita sendiri, itu semua bisa menjadi jendela bagi orang untuk bisa mengenal Juru Selamat kita.
Cepat puas dengan usaha ala kadarnya tidak akan pernah membawa kita untuk menapak ke arah kesempurnaan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melakukan sesuatu hanya setengah-setengah tidak akan membuat kita mampu menjadi garam dan terang di dunia. Kalau mind set kita masih seperti ini, kita tidaklah berbeda dari orang lain. Yesus mengajarkan murid-muridNya termasuk kita untuk mau berjalan dan melakukan lebih. Itulah yang akan membedakan kita dari kehidupan orang dunia. 1 mil ekstra ini pun sejalan dengan pesan Kristus bahwa "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku." (Matius 16:24). Artinya kita harus siap mengorbankan apa yang ada pada kita, baik waktu, tenaga, pikiran, harta, jam-jam istirahat kita dan lain-lain agar bisa melakukan lebih dari sekedar kewajiban. Orang-orang yang berjalan hingga mil kedua adalah orang yang mau melakukan lebih dari sekedar kewajiban dan meneruskannya dengan melakukan atas dasar kasih, baik terhadap Tuhan maupun sesama. It's not easy, but that will differ you with others. Are you ready? Let's walk another one mile together!
You can't be excellent if you only walk one mile. Go further by adding another one
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, August 3, 2013
1 Mil Ekstra (1)
Ayat bacaan: Matius 5:41
==============
"Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil."
Ketika saya masih kuliah, salah seorang dosen saya kerap melakukan lebih dari tugasnya. Ia sangat bersemangat dalam mengajar, selalu terlihat senang ketika ada yang bertanya dan tidak pernah memperpendek jam kuliah. Apa yang luar biasa adalah ia selalu meluangkan waktu apabila ada muridnya yang ingin bertanya lebih jauh ketika jam mengajar sudah selesai. Keluar dari kelas, duduk di luar sambil dikelilingi murid, ia menjelaskan lebih banyak lagi bahkan untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran. Ia memberi motivasi, berbagi pengalaman, memberi tips-tips dan sebagainya. Beberapa kali ia bahkan mau repot-repot datang khusus untuk 'sesi istimewa' ini padahal ia sedang tidak ada jadwal ke kampus. Dedikasinya sangat menginspirasi saya. Maka ketika saya kemudian berprofesi sebagai dosen, saya pun memilih melakukan hal yang sama. Meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk murid, tidak berlaku arogan, otoriter dan sombong. Beberapa kali untuk ganti suasana saya dan beberap murid duduk di cafe, berbincang-bincang sambil menyeruput kopi. Mereka boleh menghubungi kapan saja baik lewat sms, telepon atau datang ke rumah. Tidak mudah untuk bisa melakukan ini, tetapi ada rasa bahagia yang saya rasakan, yang tidak muncul ketika saya melakukan pas atau tepat seperti apa yang menjadi tanggung jawab saya: mengajar 1 jam 40 menit, setelah itu selesai dan sampai ketemu di hari dan waktu selanjutnya. Melakukan lebih dari apa yang diminta, itu disebut dengan ekstra mile atau mil ekstra.
Dalam bisnis, extra mile merupakan sesuatu yang dipercaya bisa meningkatkan kesetiaan konsumen akan sebuah produk serta mampu mencapai tingkat kepuasan konsumen yang tinggi. Seperti apa bentuknya? Misalnya ketika anda menjual produk, anda tidak hanya berpikir bagaimana agar barang itu terjual lalu lepas tangan tetapi memberikan layanan purna jual yang bagus. Tanggap terhadap konsumen, punya customer service yang aktif 24 jam dengan memberi pelayanan ramah, Bahkan ada yang mau jauh-jauh datang ke rumah konsumen apabila ada keluhan. Ini merupakan contoh dari extra mile yang tentu saja bisa membuat produsen memiliki daya saing tinggi dibanding pesaingnya.
Tahukah anda bahwa jauh sebelum jaman ini, Yesus sudah menyarankan pengikutNya untuk melakukan extra mile? In fact, this 'extra mile' expression actually came from Jesus. Dalam injil Matius ayatnya bisa kita baca: "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 5:41). Pada masa itu ada sebagian orang Yahudi yang bekerja sebagai pengangkat ransel tentara Romawi. Mereka membawa semua peralatan atau perlengkapan dari tentara yang mereka layani lalu mengikuti kemanapun si tentara berjalan. 1 mil Romawi itu kurang lebih setara dengan 1500 meter atau 1.5 km. Mungkin jarak 1.5 km kelihatannya tidak terlalu berat, tapi ketahuilah bahwa ransel tentara Romawi itu sama sekali tidak ringan. Beratnya bisa mencapai 50 kg, sehingga menambah perjalanan 1.5 km lagi bisa sangat melelahkan dan menyiksa. Tapi Yesus memberi pesan bahwa kita harus rela berbuat seperti itu. He said, if one ask us to go one mile, we got to make it two.
Aplikasi dari pengajaran Yesus ini bisa dilakukan dalam banyak hal. Misalnya, jika dahulu kita suka menipu orang, setelah bertobat kita bukan hanya berhenti menipu tapi melanjutkan dengan suka memberi. Kalau dulu mudah marah, membenci dan mendendam, sekarang bukan saja bisa meredam emosi tetapi tingkatkan dengan mengasihi. Kalau anda sudah memberi kecupan selamat tidur untuk istri, tingkatkan dengan memberi waktu ekstra untuk mendengarnya berbicara atau ngobrol menjelang tidur. Ini baru beberapa contoh mengenai extra mile yang saya ambil dari kehidupan orang sehari-hari. Jika mil ekstra ini anda aplikasikan dalam profesi anda, anda pun pasti akan tampil berbeda dari yang lain.
(bersambung)
==============
"Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil."
Ketika saya masih kuliah, salah seorang dosen saya kerap melakukan lebih dari tugasnya. Ia sangat bersemangat dalam mengajar, selalu terlihat senang ketika ada yang bertanya dan tidak pernah memperpendek jam kuliah. Apa yang luar biasa adalah ia selalu meluangkan waktu apabila ada muridnya yang ingin bertanya lebih jauh ketika jam mengajar sudah selesai. Keluar dari kelas, duduk di luar sambil dikelilingi murid, ia menjelaskan lebih banyak lagi bahkan untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan mata pelajaran. Ia memberi motivasi, berbagi pengalaman, memberi tips-tips dan sebagainya. Beberapa kali ia bahkan mau repot-repot datang khusus untuk 'sesi istimewa' ini padahal ia sedang tidak ada jadwal ke kampus. Dedikasinya sangat menginspirasi saya. Maka ketika saya kemudian berprofesi sebagai dosen, saya pun memilih melakukan hal yang sama. Meluangkan waktu sebanyak-banyaknya untuk murid, tidak berlaku arogan, otoriter dan sombong. Beberapa kali untuk ganti suasana saya dan beberap murid duduk di cafe, berbincang-bincang sambil menyeruput kopi. Mereka boleh menghubungi kapan saja baik lewat sms, telepon atau datang ke rumah. Tidak mudah untuk bisa melakukan ini, tetapi ada rasa bahagia yang saya rasakan, yang tidak muncul ketika saya melakukan pas atau tepat seperti apa yang menjadi tanggung jawab saya: mengajar 1 jam 40 menit, setelah itu selesai dan sampai ketemu di hari dan waktu selanjutnya. Melakukan lebih dari apa yang diminta, itu disebut dengan ekstra mile atau mil ekstra.
Dalam bisnis, extra mile merupakan sesuatu yang dipercaya bisa meningkatkan kesetiaan konsumen akan sebuah produk serta mampu mencapai tingkat kepuasan konsumen yang tinggi. Seperti apa bentuknya? Misalnya ketika anda menjual produk, anda tidak hanya berpikir bagaimana agar barang itu terjual lalu lepas tangan tetapi memberikan layanan purna jual yang bagus. Tanggap terhadap konsumen, punya customer service yang aktif 24 jam dengan memberi pelayanan ramah, Bahkan ada yang mau jauh-jauh datang ke rumah konsumen apabila ada keluhan. Ini merupakan contoh dari extra mile yang tentu saja bisa membuat produsen memiliki daya saing tinggi dibanding pesaingnya.
Tahukah anda bahwa jauh sebelum jaman ini, Yesus sudah menyarankan pengikutNya untuk melakukan extra mile? In fact, this 'extra mile' expression actually came from Jesus. Dalam injil Matius ayatnya bisa kita baca: "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 5:41). Pada masa itu ada sebagian orang Yahudi yang bekerja sebagai pengangkat ransel tentara Romawi. Mereka membawa semua peralatan atau perlengkapan dari tentara yang mereka layani lalu mengikuti kemanapun si tentara berjalan. 1 mil Romawi itu kurang lebih setara dengan 1500 meter atau 1.5 km. Mungkin jarak 1.5 km kelihatannya tidak terlalu berat, tapi ketahuilah bahwa ransel tentara Romawi itu sama sekali tidak ringan. Beratnya bisa mencapai 50 kg, sehingga menambah perjalanan 1.5 km lagi bisa sangat melelahkan dan menyiksa. Tapi Yesus memberi pesan bahwa kita harus rela berbuat seperti itu. He said, if one ask us to go one mile, we got to make it two.
Aplikasi dari pengajaran Yesus ini bisa dilakukan dalam banyak hal. Misalnya, jika dahulu kita suka menipu orang, setelah bertobat kita bukan hanya berhenti menipu tapi melanjutkan dengan suka memberi. Kalau dulu mudah marah, membenci dan mendendam, sekarang bukan saja bisa meredam emosi tetapi tingkatkan dengan mengasihi. Kalau anda sudah memberi kecupan selamat tidur untuk istri, tingkatkan dengan memberi waktu ekstra untuk mendengarnya berbicara atau ngobrol menjelang tidur. Ini baru beberapa contoh mengenai extra mile yang saya ambil dari kehidupan orang sehari-hari. Jika mil ekstra ini anda aplikasikan dalam profesi anda, anda pun pasti akan tampil berbeda dari yang lain.
(bersambung)
Friday, August 2, 2013
Mengemban Tanggung Jawab ala Daud
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:34-35
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."
Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita? Maksud saya begini. Yang biasa dilakukan oleh orang, sebuah tanggung jawab akan diterima dengan senang hati kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, bertanggungjawab secara penuh dengan memberi yang terbaik hanya berdasarkan tinggi rendahnya kompensasi saja? Saya percaya Tuhan tidak menginginkan anak-anaknya berbuat seperti itu.
Kisah tentang Daud dan Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Jika dalam beberapa renungan kemarin kita sudah belajar mengenai cara menghadapi dan menyelesaikan masalah ala Daud dan sikap mentalnya, hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab lewat kisah yang sama.
Ayat bacaan kali ini adalah jawaban Daud atas ketidakpercayaan Saul bahwa Daud sanggup mengatasi Goliat. Saul berkata: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (1 Samuel 17:33). Apa jawab Daud? "Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (ay 34-37). Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa ia tidak ragu sedikitpun karena mengandalkan Tuhan, tapi selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggungjawab akan pekerjaannya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Tapi perhatikan bagaimana Daud berkomitmen serius dan penuh, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika dihadapkan kepada Goliat, Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat. Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah terjadi.
Meski tidak dibayar, Daud menunjukkan betapa seriusnya ia mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang tidak lain hanyalah kumpulan hewan yang bahkan bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas demi binatang yang digembalakannya? Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang digembalakannya binasa. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga, bahkan apabila harus berhadapan dengan maut. Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.
Keputusan Daud kelak menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).
Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun melayani, apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan. Perhatikan ayat berikut ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima dari situ. Itu tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya. Mungkin kompensasinya tidak terlihat secara langsung, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Tuhan bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan. Percayakah anda bahwa saya memulai kerja hanya dengan dibayar 30 ribu rupiah sekitar 10 tahun lalu, tapi kemudian bisa meningkat lebih dari cukup dan sekarang itu menjadi sebuah 'stepping stone' untuk sesuatu yang jauh lebih besar lagi? Saya sudah membuktikan kebenaran firman Tuhan dan membuktikan pula bahwa apa yang terjadi pada Daud bisa terjadi pula kepada kita hari ini.
Adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab? Pesan saya, do your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangungjawab anda semampu yang anda bisa. Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah, tidak akan pernah ada yang sia-sia.
"Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life." (Galatia 6:5, [The Message])
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==========================
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya..."
Seberapa jauh kita rela berkomitmen menjalankan tanggung jawab terhadap sesuatu yang dipercayakan kepada kita? Maksud saya begini. Yang biasa dilakukan oleh orang, sebuah tanggung jawab akan diterima dengan senang hati kalau disertai imbalan yang besar pula. Tapi bagaimana jika imbalannya kecil atau bahkan tidak ada sama sekali? Kebanyakan orang akan mengerjakannya asal-asalan dan tidak lagi menganggap penting sebuah tanggung jawab. Itupun masih untung kalau masih bersedia mengerjakan. Apakah kita memang harus mengukur keseriusan kita bekerja, bertanggungjawab secara penuh dengan memberi yang terbaik hanya berdasarkan tinggi rendahnya kompensasi saja? Saya percaya Tuhan tidak menginginkan anak-anaknya berbuat seperti itu.
Kisah tentang Daud dan Goliat memiliki banyak pelajaran yang sangat baik buat hidup kita. Jika dalam beberapa renungan kemarin kita sudah belajar mengenai cara menghadapi dan menyelesaikan masalah ala Daud dan sikap mentalnya, hari ini kita bisa belajar mengenai keseriusan dalam mengemban tanggung jawab lewat kisah yang sama.
Ayat bacaan kali ini adalah jawaban Daud atas ketidakpercayaan Saul bahwa Daud sanggup mengatasi Goliat. Saul berkata: "Tidak mungkin engkau dapat menghadapi orang Filistin itu untuk melawan dia, sebab engkau masih muda, sedang dia sejak dari masa mudanya telah menjadi prajurit." (1 Samuel 17:33). Apa jawab Daud? "Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup."Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau." (ay 34-37). Dari jawaban panjang Daud ini kita bisa melihat bahwa ia tidak ragu sedikitpun karena mengandalkan Tuhan, tapi selain itu kita bisa pula melihat bahwa Daud sangat bertanggungjawab akan pekerjaannya sebagai gembala kambing domba milik ayahnya. Apakah ia dibayar untuk itu? Saya yakin tidak. Tapi perhatikan bagaimana Daud berkomitmen serius dan penuh, dan disana Tuhan ternyata menyertainya dan menjaganya dari berbagai bahaya. Berkaca dari hal itulah ketika dihadapkan kepada Goliat, Daud tidak perlu merasa takut. Kalau Tuhan ada bersamanya dan sudah berulang kali memberinya kekuatan untuk mengatasi hewan-hewan pemangsa yang buas, tentu Tuhan pun akan berbuat sama ketika ia harus berhadapan dengan Goliat. Seandainya Daud tidak serius dalam bekerja, ia tidak akan pernah punya pengalaman bersama Tuhan. Jika itu yang terjadi, maka kisah Daud dan Goliat mungkin tidak akan pernah terjadi.
Meski tidak dibayar, Daud menunjukkan betapa seriusnya ia mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang tidak lain hanyalah kumpulan hewan yang bahkan bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas demi binatang yang digembalakannya? Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang digembalakannya binasa. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga, bahkan apabila harus berhadapan dengan maut. Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.
Keputusan Daud kelak menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: "Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu." (Yohanes 10:11-12).
Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik itu bekerja, belajar maupun melayani, apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan. Perhatikan ayat berikut ini: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini secara jelas menyatakan bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia, tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima dari situ. Itu tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya. Mungkin kompensasinya tidak terlihat secara langsung, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Tuhan bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan. Percayakah anda bahwa saya memulai kerja hanya dengan dibayar 30 ribu rupiah sekitar 10 tahun lalu, tapi kemudian bisa meningkat lebih dari cukup dan sekarang itu menjadi sebuah 'stepping stone' untuk sesuatu yang jauh lebih besar lagi? Saya sudah membuktikan kebenaran firman Tuhan dan membuktikan pula bahwa apa yang terjadi pada Daud bisa terjadi pula kepada kita hari ini.
Adakah diantara anda yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab? Pesan saya, do your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangungjawab anda semampu yang anda bisa. Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah, tidak akan pernah ada yang sia-sia.
"Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life." (Galatia 6:5, [The Message])
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, August 1, 2013
Memiliki Mental Seperti Singa
Ayat bacaan: Amsal 30:30
======================
"Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun."
Mengapa singa dijuluki sebagai raja rimba? Ada banyak hal yang bisa dijadikan dasarnya. Singa merupakan yang terbesar ukurannya diantara empat genus Panthera dan menurut penelitian dikatakan sebagai yang terkuat. Dengan berat yang bisa mencapai 250 kg, panjang sekitar 2.7 meter belum termasuk ekornya yang bisa mencapai 1 meter. Bentuknya gagah, berkarisma, otot-otot yang kokoh serta gigi yang sangat kuat dalam mengoyak mangsanya. Keberadaan singa sudah ditemukan setidaknya sekitar satu juta tahun yang lalu lewat gambar-gambar di gua prasejarah, sedang fosil singa pertama berumur 700.000 tahun ditemukan di Italia. Singa tidak pernah takut menyerang atau diserang, meski harus menghadapi sekelompok hewan buas lainnya. Singa juga dikenal sebagai pemangsa hewan-hewan berukuran besar. Dengan data fakta seperti ini, singa tentu pantas mendapat predikat sebagai raja rimba, predikat yang sudah disandang selama ratusan ribu tahun. Di dalam kitab Amsal singa pun disebutkan sebagai yang terkuat. "Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun." (Amsal 30:30).
Saya masih ingin melanjutkan kisah Daud dan Goliat. Dalam tiga renungan terdahulu kita sudah belajar mengenai cara Daud menghadapi masalah, kali ini mari kita lihat dari sudut pandang yang lain yaitu dari segi mental. Dari kisah lengkapnya di 1 Samuel 17 kita tahu bahwa Goliat beserta prajurit Filistin sudah 40 hari lamanya mengintimidasi prajurit Israel. Tidak satupun dari mereka berani maju karena merasa sudah pasti kalah dalam segala hal. Prajurit Israel disana bukanlah tanpa modal. Mereka tentu punya peralatan perang meski mungkin tidak secanggih tentara Filistin dan Goliat. Mereka juga pasti sudah punya pengalaman bertempur. Tapi pada kenyataannya mereka masih tidak berani maju menghadapi lawan. Tidak demikian halnya dengan Daud. Ia masih sangat muda, belum pernah bertugas di ketentaraan dan sehari-hari hanyalah dipekerjakan sebagai gembala ternak ayahnya. Tapi ternyata Daud jauh lebih berani dibandingkan tentara Israel bahkan raja pada waktu itu yaitu Saul. Seorang Daud kecil bisa mengalahkan keberanian sekelompok tentara Israel dan raja, tanpa memiliki peralatan perang dan perisai apa-apa? Yang membedakan adalah mentalnya, sebuah mental yang didasarkan oleh kepercayaan teguh kepada Tuhan yang ia ketahui tidak pernah meninggalkannya.
Kita bisa melihat sebuah sikap mental tidaklah tergantung dari kelengkapan peralatan yang dimiliki. Sikap mental tidak tergantung dari berapa banyak uang yang ada, kekuatan otot kita, keahlian dan lain-lain. Ini yang masih sering dilupakan orang. Banyak orang mengukur kekuatannya hanya berdasarkan faktor-faktor fisik sementara mereka mengabaikan sisi psikisnya. Maka tidak heran kita melihat banyak orang yang gagal bukan karena mereka tidak sanggup, kurang pintar, kurang skil dan sejenisnya, tetapi justru karena mental mereka yang lemah. Daya juang yang rapuh, semangat yang gampang pudar, rasa takut akan kegagalan, mengukur kapasitas diri terlalu kecil dan cenderung memandang kepada besarnya masalah atau tantangan seringkali membuat orang menyerah sebelum bertanding.
Oleh karena itu kita memerlukan sebuah mental baja yang tidak kenal takut layaknya singa, seperti yang dimiliki oleh Daud. Lewat Daud pula kita bisa belajar bahwa sebuah mental yang kuat akan sulit dibangun dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi akan bisa tumbuh jika kita berpusat kepada Allah yang punya kuasa melebihi segalanya.
Singa punya banyak hal untuk bisa dikatakan sebagai raja rimba, tetapi apa yang disorot dalam Amsal 30:30 diatas ternyata bukanlah dari segi kemampuan bertarung, ketajaman gigi atau kuku, bukan soal kegagahan atau karismanya, tetapi ternyata diukur dari kemampuan mentalnya menghadapi tantangan. Inilah seharusnya yang menjadi gambaran tentang kita orang percaya.
Bagaimana agar mental kita bisa menjadi sekuat singa? Lewat Daud kita bisa belajar bahwa ia mampu memiliki mental seperti itu karena mendasari dan menyerahkan ke dalam tangan Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dalam menghadapi tantangan. Imannya membuatnya mampu melakukan hal-hal yang bagi orang lain mustahil untuk dicapai, sebuah iman yang didasari kepercayaan teguh serta pengalaman akan pertolongan Tuhan yang pernah ia alami sebelumnya. Ada begitu banyak janji Tuhan yang berbicara mengenai pertolongan, kelepasan dari belenggu yang menghambat, menjadi sumber kekuatan dan lain-lain yang seharusnya bisa membuat kita bisa hidup tanpa perlu merasa takut. Ada jaminan penyertaan bahkan keselamatan yang menjadi bagian dari orang-orang percaya yang mengetahui dan melakukan firman Tuhan sebagai bagian dalam hidupnya. Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan akal budi, daya pikir, hati dan begitu banyak talenta. Bahkan Tuhan sudah mengatakan bahwa RohNya sendiri berdiam dalam hati kita (Galatia 4:6). Kita diciptakan bukan sebagai pecundang tetapi dikatakan sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37). Bagaimana kita bisa dikatakan lebih dari pemenang? Masih dari Roma 8 ada tertulis: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28) Perhatikan, bahwa bagi kita yang mengasihi Tuhan, Dia sudah berjanji untuk turut bekerja, bukan untuk satu-dua hal melainkan untuk segala sesuatu, bukan untuk hal sia-sia atau merugikan melainkan untuk mendatangkan kebaikan. Bukankah janji-janji ini seharusnya bisa membantu kita untuk mampu membangun mental sekuat singa? Daud bukanlah prajurit perang terlatih. Ia masih sangat muda dan tidak punya otot-otot tebal untuk berkelahi.Baju perang dengan topi tembaga pun terlalu berat bagi ukuran tubuhnya. (bacalah 1 Samuel 17:38-39). Tapi mental Daud yang sekuat dan seberani singa terbukti mampu melebihi segala perlengkapan perang, pengalaman bertarung dan persenjataan yang dimiliki pasukan Israel. Dengan mental kuat yang disertai iman seperti itu Daud mampu mengalahkan binatang-binatang buas yang mencoba memangsa ternak kawalannya, dan ia pun mampu mengalahkan Goliat hanya dengan memakai batu lontar (umban) sederhana. Jika Daud bisa, kita pun bisa.
Hari ini mungkin kita tidak berhadapan dengan raksasa Goliat dengan perangkat perang lengkap seperti itu secara fisik, tetapi ada banyak 'Goliat-Goliat' yang harus kita hadapi seperti masalah-masalah besar, berbagai tantangan dan sebagainya. Sebuah mental atau sikap pemenang yang berakar/berpusat pada Allah akan memampukan anda melewati semuanya mengatasi kemustahilan dan keluar sebagai pemenang. Apa yang menjadi masalah anda hari ini? Jangan takut, itu tidaklah pernah bisa lebih besar dari kuasa Allah yang selalu menyertai anda.
Miliki mental pemenang seperti singa bukan pecundang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
======================
"Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun."
Mengapa singa dijuluki sebagai raja rimba? Ada banyak hal yang bisa dijadikan dasarnya. Singa merupakan yang terbesar ukurannya diantara empat genus Panthera dan menurut penelitian dikatakan sebagai yang terkuat. Dengan berat yang bisa mencapai 250 kg, panjang sekitar 2.7 meter belum termasuk ekornya yang bisa mencapai 1 meter. Bentuknya gagah, berkarisma, otot-otot yang kokoh serta gigi yang sangat kuat dalam mengoyak mangsanya. Keberadaan singa sudah ditemukan setidaknya sekitar satu juta tahun yang lalu lewat gambar-gambar di gua prasejarah, sedang fosil singa pertama berumur 700.000 tahun ditemukan di Italia. Singa tidak pernah takut menyerang atau diserang, meski harus menghadapi sekelompok hewan buas lainnya. Singa juga dikenal sebagai pemangsa hewan-hewan berukuran besar. Dengan data fakta seperti ini, singa tentu pantas mendapat predikat sebagai raja rimba, predikat yang sudah disandang selama ratusan ribu tahun. Di dalam kitab Amsal singa pun disebutkan sebagai yang terkuat. "Singa, yang terkuat di antara binatang, yang tidak mundur terhadap apapun." (Amsal 30:30).
Saya masih ingin melanjutkan kisah Daud dan Goliat. Dalam tiga renungan terdahulu kita sudah belajar mengenai cara Daud menghadapi masalah, kali ini mari kita lihat dari sudut pandang yang lain yaitu dari segi mental. Dari kisah lengkapnya di 1 Samuel 17 kita tahu bahwa Goliat beserta prajurit Filistin sudah 40 hari lamanya mengintimidasi prajurit Israel. Tidak satupun dari mereka berani maju karena merasa sudah pasti kalah dalam segala hal. Prajurit Israel disana bukanlah tanpa modal. Mereka tentu punya peralatan perang meski mungkin tidak secanggih tentara Filistin dan Goliat. Mereka juga pasti sudah punya pengalaman bertempur. Tapi pada kenyataannya mereka masih tidak berani maju menghadapi lawan. Tidak demikian halnya dengan Daud. Ia masih sangat muda, belum pernah bertugas di ketentaraan dan sehari-hari hanyalah dipekerjakan sebagai gembala ternak ayahnya. Tapi ternyata Daud jauh lebih berani dibandingkan tentara Israel bahkan raja pada waktu itu yaitu Saul. Seorang Daud kecil bisa mengalahkan keberanian sekelompok tentara Israel dan raja, tanpa memiliki peralatan perang dan perisai apa-apa? Yang membedakan adalah mentalnya, sebuah mental yang didasarkan oleh kepercayaan teguh kepada Tuhan yang ia ketahui tidak pernah meninggalkannya.
Kita bisa melihat sebuah sikap mental tidaklah tergantung dari kelengkapan peralatan yang dimiliki. Sikap mental tidak tergantung dari berapa banyak uang yang ada, kekuatan otot kita, keahlian dan lain-lain. Ini yang masih sering dilupakan orang. Banyak orang mengukur kekuatannya hanya berdasarkan faktor-faktor fisik sementara mereka mengabaikan sisi psikisnya. Maka tidak heran kita melihat banyak orang yang gagal bukan karena mereka tidak sanggup, kurang pintar, kurang skil dan sejenisnya, tetapi justru karena mental mereka yang lemah. Daya juang yang rapuh, semangat yang gampang pudar, rasa takut akan kegagalan, mengukur kapasitas diri terlalu kecil dan cenderung memandang kepada besarnya masalah atau tantangan seringkali membuat orang menyerah sebelum bertanding.
Oleh karena itu kita memerlukan sebuah mental baja yang tidak kenal takut layaknya singa, seperti yang dimiliki oleh Daud. Lewat Daud pula kita bisa belajar bahwa sebuah mental yang kuat akan sulit dibangun dengan mengandalkan kekuatan dan kemampuan sendiri, tetapi akan bisa tumbuh jika kita berpusat kepada Allah yang punya kuasa melebihi segalanya.
Singa punya banyak hal untuk bisa dikatakan sebagai raja rimba, tetapi apa yang disorot dalam Amsal 30:30 diatas ternyata bukanlah dari segi kemampuan bertarung, ketajaman gigi atau kuku, bukan soal kegagahan atau karismanya, tetapi ternyata diukur dari kemampuan mentalnya menghadapi tantangan. Inilah seharusnya yang menjadi gambaran tentang kita orang percaya.
Bagaimana agar mental kita bisa menjadi sekuat singa? Lewat Daud kita bisa belajar bahwa ia mampu memiliki mental seperti itu karena mendasari dan menyerahkan ke dalam tangan Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dalam menghadapi tantangan. Imannya membuatnya mampu melakukan hal-hal yang bagi orang lain mustahil untuk dicapai, sebuah iman yang didasari kepercayaan teguh serta pengalaman akan pertolongan Tuhan yang pernah ia alami sebelumnya. Ada begitu banyak janji Tuhan yang berbicara mengenai pertolongan, kelepasan dari belenggu yang menghambat, menjadi sumber kekuatan dan lain-lain yang seharusnya bisa membuat kita bisa hidup tanpa perlu merasa takut. Ada jaminan penyertaan bahkan keselamatan yang menjadi bagian dari orang-orang percaya yang mengetahui dan melakukan firman Tuhan sebagai bagian dalam hidupnya. Tuhan sudah memperlengkapi kita dengan akal budi, daya pikir, hati dan begitu banyak talenta. Bahkan Tuhan sudah mengatakan bahwa RohNya sendiri berdiam dalam hati kita (Galatia 4:6). Kita diciptakan bukan sebagai pecundang tetapi dikatakan sebagai pemenang, bahkan lebih dari pemenang (Roma 8:37). Bagaimana kita bisa dikatakan lebih dari pemenang? Masih dari Roma 8 ada tertulis: "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28) Perhatikan, bahwa bagi kita yang mengasihi Tuhan, Dia sudah berjanji untuk turut bekerja, bukan untuk satu-dua hal melainkan untuk segala sesuatu, bukan untuk hal sia-sia atau merugikan melainkan untuk mendatangkan kebaikan. Bukankah janji-janji ini seharusnya bisa membantu kita untuk mampu membangun mental sekuat singa? Daud bukanlah prajurit perang terlatih. Ia masih sangat muda dan tidak punya otot-otot tebal untuk berkelahi.Baju perang dengan topi tembaga pun terlalu berat bagi ukuran tubuhnya. (bacalah 1 Samuel 17:38-39). Tapi mental Daud yang sekuat dan seberani singa terbukti mampu melebihi segala perlengkapan perang, pengalaman bertarung dan persenjataan yang dimiliki pasukan Israel. Dengan mental kuat yang disertai iman seperti itu Daud mampu mengalahkan binatang-binatang buas yang mencoba memangsa ternak kawalannya, dan ia pun mampu mengalahkan Goliat hanya dengan memakai batu lontar (umban) sederhana. Jika Daud bisa, kita pun bisa.
Hari ini mungkin kita tidak berhadapan dengan raksasa Goliat dengan perangkat perang lengkap seperti itu secara fisik, tetapi ada banyak 'Goliat-Goliat' yang harus kita hadapi seperti masalah-masalah besar, berbagai tantangan dan sebagainya. Sebuah mental atau sikap pemenang yang berakar/berpusat pada Allah akan memampukan anda melewati semuanya mengatasi kemustahilan dan keluar sebagai pemenang. Apa yang menjadi masalah anda hari ini? Jangan takut, itu tidaklah pernah bisa lebih besar dari kuasa Allah yang selalu menyertai anda.
Miliki mental pemenang seperti singa bukan pecundang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...
-
Ayat bacaan: Ibrani 10:24-25 ====================== "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih ...




