Sunday, April 7, 2013

Merespon Panggilan: Bukan Kemampuan Kita, Tapi Kemauan

Ayat bacaan: Filipi 4:19
=================
"Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus."

Sewaktu kecil saya sering diminta ayah saya untuk pergi ke warung membeli sayur, bawang atau bumbu masak lainnya yang akan ia pakai untuk memasak telur dadar. Pada waktu itu hari minggu adalah satu-satunya hari yang bisa dipakai oleh ayah saya untuk melakukan kegemarannya sibuk-sibuk di dapur, karena di hari kerja jadwalnya penuh dalam bekerja sebagai dokter. Saya masih ingat betul pada mulanya saya ragu apakah saya mampu melakukan itu. Bagaimana jika saya ditipu harga, diberi kembalian yang tidak benar atau kendala-kendala lainnya seperti salah beli sayur, bumbu dan sebagainya? Satu hal yang ayah saya katakan pada waktu itu juga masih membekas dalam memori saya sampai hari ini. Ia berkata bahwa jika saya ia suruh, itu artinya ia percaya saya mampu. Akan halnya soal berhitung uang kembalian, bukankah saya sudah ia beri kesempatan untuk bersekolah, disamping ia dan ibu saya juga rajin mengajari saya dalam banyak hal termasuk matematika? Dan soal salah beli, kalaupun salah saya tinggal menukarkannya kembali, atau saya bisa bertanya kepada si penjual. Kalau begitu tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya tinggal mengaplikasikannya ke dalam bentuk nyata. Pengalaman hidup nyata yang sederhana ini ternyata teraplikasikan dalam kehidupan saya setelah dewasa, dan ternyata pula merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana reaksi kita dalam menanggapi panggilan yang diberikan Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, tantangan dan juga sebuah panggilan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Padahal apa yang diminta Tuhan bukanlah soal kemampuan kita, tetapi kemauan kita. Bukan kepintaran, kekuasaan, koneksi, keahlian atau gelar kita yang membuat Tuhan tertarik untuk memberi sebuah tanggungjawab lewat panggilan, tetapi kesediaan kita untuk mengerjakannya dengan taat, itulah sebenarnya yang diinginkan Tuhan. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang menyediakan (Jehovah Jireh), dan oleh karenanya segala keperluan kita butuhkan untuk mengerjakan sebuah panggilan tentu Tuhan sendiri yang akan sediakan. Dan lihatlah ayat yang secara tegas menyatakan hal itu. "Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:19). Jika untuk keperluan-keperluan kecil kita saja Tuhan mau sediakan, apalagi untuk sebuah tujuan besar sesuai rencanaNya yang hadir dalam bentuk panggilanNya bagi kita masing-masing.

Jadi lihatlah bahwa ada perbedaan antara ukuran kesanggupan kita menurut penilaian kita sendiri dan pandangan Tuhan tentang kesanggupan kita menurut hematNya. Kita bisa melihat sebuah contoh akan kebimbangan ini lewat kisah Musa pada saat ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Musa seperti kebanyakan dari kita langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi yang punya kelemahan fundamental yang bagi manusia mungkin akan dianggap sebagai nilai minus atau bahkan penghalang menuju keberhasilan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sejenis gagap, atau sekedar bukan orang yang pintar berbicara seperti layaknya orator ulung. Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi pelaku utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. "Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. "Akulah Aku", itu jauh lebih penting dari 'siapa aku.' Tuhan tidak melihat atau mengukur kehebatan diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. Itu saja. Selebihnya, Dialah yang akan melengkapi segala sesuatu yang kita butuhkan agar bisa berhasil menggenapi panggilanNya dengan baik.

Sikap sebaliknya kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan Musa saat mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa menghitung-hitung kemampuannya terlebih dahulu. "Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: "Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?" Maka sahutku: "Ini aku, utuslah aku!" (Yesaya 6:8). Singkat namun tegas, demikian reaksi Yesaya. "Here am I, send me." Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Narsis? Sok hebat? Saya percaya bukan itu. Saya yakin Yesaya sangat tahu sampai dimana batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki "Tuan" dengan kuasa yang tidak terbatas? Bukankah ketika sang tuannya yang menyuruh, itu artinya tuannya tahu ia mampu, dan tuannya pula yang akan melengkapi apapun yang ia perlukan untuk melaksanakan tugas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Dalam dua renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan panggilan secara maksimal. Hari ini marilah kita sadari bahwa apa yang diminta Tuhan adalah kesediaan kita, what He wants from us is simply our willingness, our obedience, our immidiate positive response based on trust and faith. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Adakah panggilan Tuhan yang masih anda abaikan karena anda masih tidak percaya bahwa anda sanggup? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: "Ini aku, utuslah aku!"

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, April 6, 2013

Mengatahui Panggilan dan Maksimal dalam Mengerjakannya (2)

(sambungan)

Menjaga kekudusan merupakan hal yang mutlak untuk kita lakukan agar kita bisa menjalankan panggilan dengan maksimal. Ada beberapa hal lain pula yang juga penting untuk kita perhatikan, yaitu:

1. Memberi respon yang baik terhadap panggilan Tuhan
Tanpa adanya respon dari kita terhadap sebuah panggilan, maka kita tidak akan mengetahui apa yang sebenarnya Tuhan mau untuk kita kerjakan. Merespon itu sama dengan menjawab bahwa kita siap untuk melakukan apa yang Tuhan mau. Mungkin kita tidak pernah membayangkan bahwa kita sanggup, tetapi yang Tuhan mau sebenarnya bukanlah kemampuan atau kesanggupan kita melainkan kesediaan kita untuk melakukannya. Tuhan adalah Allah yang menyediakan, dan Dia akan menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan agar kita bisa melakukannya dengan hasil yang terbaik. Saya bukanlah terlahir dari keluarga Kristen. Bertobat saja saya masih terhitung baru, dan sebelumnya tidak pernah mengenal apa-apa tentang Kristus. Terbayangkah ketika dalam waktu yang singkat saya sudah menerima panggilan untuk menulis renungan setiap hari lewat media online ini? Itu tidak masuk akal. Tetapi hari ini saya sudah menjalankannya hampir 6 tahun. Itu bisa terjadi karena saya menuruti panggilan, memberi respon terhadap panggilanNya sambil mempercayakan segala prosesnya kepada Tuhan. Tanpa itu tidak akan ada apapun yang terjadi, dan renungan harian online ini pun tidak akan pernah ada.

2. Menghidupi Panggilan itu
Panggilan yang diterima tidak otomatis menjadi sesuatu yang langsung jadi. Seperti aspek-aspek kehidupan lainnya, sebuah panggilan pun harus terus dikembangkan agar terus meningkat hingga menjadi sebuah penggenapan seperti yang menjadi tujuan Tuhan dalam hidup kita. Dengan cara terus dilatih dan dikembangkan sesuai dengan karunia dan talenta yang sudah diberikan, panggilan itu nantinya akan menjadi menghasilkan buah yang subur. Seringkali grand design Tuhan akan secara perlahan pula kita ketahui seiring perjalanan atau prosesnya. Setahap demi setahap kita melakukan panggilan Tuhan hingga akhirnya kita bisa mengetahui apa yang sebenarnya Dia mau kita lakukan dan seperti apa sebenarnya yang Dia ingin kita capai.

3. Mengubah cara kita menjadi cara Tuhan
Ingatlah bahwa panggilan yang diberikan Tuhan itu bukanlah milik kita. Bagaimanapun itu adalah milik Tuhan. Karena itu cara terbaik tentu adalah dengan memakai cara Tuhan dalam melaksanakannya, yaitu dengan megiktui tuntunan yang Dia berikan, sesuai dengan kehendakNya. Ambil satu contoh mengenai Daud. Ketika Daud dilantik menjadi raja, ia ternyata tidak langsung naik tahta dan berkuasa. Ia ternyata harus mengikuti cara Tuhan, dengan cara menjadi hamba Saul terlebih dahulu. Disini kita dituntut untuk taat, sabar dan terus memegang komitmen terhadap panggilan yang sudah kita terima.

4. Panggilan harus dilakukan secara serius seperti untuk Tuhan dan bukan manusia
Karena Dia yang memiliki panggilan itu, tentu kita pun diwajibkan untuk melakukan yang terbaik seperti melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk orang lain. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini dengan jelas menyatakan bahwa bukan sebagian saja, tetapi segala sesuatu, apapun yang kita perbuat, kita harus melakukannya dengan segenap hati seperti untuk Tuhan. Jika untuk pekerjaan biasa-biasa saja kita diminta seperti itu apalagi ketika kita menjalankan sebuah tugas mulia yang didasari oleh panggilan dari Tuhan sendiri.

5. Panggilan harus dikerjakan dengan iman
Alkitab menegaskan bahwa apapun yang kita kerjakan haruslah berdasarkan iman. Mengapa? Sebab "segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa." (Roma 14:23b). Karena itulah panggilan pun harus dikerjakan dengan iman. Maksudnya adalah ketika kita mengerjakan panggilan itu, kita harus tahu bahwa itu berasal dari Tuhan dan kita harus bertanggung jawab kepadaNya. Semua itu harus ditujukan untuk kemuliaan Tuhan dan bukan untuk kepentingan-kepentingan kita pribadi. Iman yang menjadi "dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat" (Ibrani 11:1) pun akan menjadi pegangan kita dalam melangkah setapak demi setapak dalam memenuhi panggilan. Tanpa itu kita mungkin bisa merasa bosan, capai atau putus asa pada waktu-waktu tertentu.

Sebagai orang percaya kita dipanggil untuk menggenapi rencana Tuhan dalam kehidupan kita. Sudahkah anda mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan buat anda dan sudahkah anda mengerjakannya secara maksimal? Jika belum, mulailah hari ini juga. Temukan apa yang menjadi panggilan Tuhan dan kerjakanlah dengan sebaik-baiknya. Tetaplah jaga hidup dalam kekudusan, respon dan hidupi panggilan itu, lakukan dengan maksimal seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia dan lakukan dengan dasar iman. Tampillah menjadi orang-orang yang menyatakan terang Tuhan sesuai panggilan anda masing-masing, kembangkanlah itu semua sesuai talenta dan karunia yang sudah Dia sediakan. It's time to do our best to answer our callings!

Temukan panggilan anda dan lakukan yang terbaik dalam mengerjakannya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, April 5, 2013

Mengatahui Panggilan dan Maksimal dalam Mengerjakannya (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
"Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus."

Apa yang dimaksud dengan sebuah panggilan, dan apa sebenarnya panggilan kita dalam hidup? Yang jelas kita tidak akan pernah bisa melaksanakan sebuah panggilan denga nbaik apabila kita tidak mengerti atau bahkan tidak tahu apa yang menjadi panggilan Tuhan bagi kita. Kita sering mengira bahwa panggilan hanyalah semata mengenai bentuk-bentuk pelayanan dalam bidang-bidang di gereja lantas lupa bahwa ada panggilan-panggilan yang Tuhan berikan secara spesifik kepada setiap kita. Apakah anda hari ini bekerja sebagai pengusaha, pedaganng, karyawan, guru/dosen, dokter atau berbagai profesi lainnya, ataupun anda adalah seorang hamba Tuhan full time, itupun merupakan sebuah panggilan dimana anda bisa menyatakan Terang Kristus dan memberkati banyak orang. Apa yang diperlukan untuk bisa maksimal dalam melayani panggilan? Apa dasar yang perlu kita pastikan ada dalam diri kita agar kita bisa memberi yang terbaik dalam panggilan kita masing-masing?

Ayat bacaan hari ini sangat jelas menyatakan seperti apa sebenarnya gagasan Tuhan mengenai panggilanNya itu dalam bahasa yang sangat sederhana. "Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus." (1 Tesalonika 4:7). Ayat singkat ini dengan begitu tegas menyatakannya. Kita bukan dipanggil untuk melakukan apa yang cemar, bukan apa yang menyakiti hati Tuhan, apa yang dipandang jahat di mata Tuhan, apa yang mengecewakanNya, melainkan untuk hidup kudus, seturut kehendakNya, sesuai perintahNya. Ini adalah firman Tuhan yang sederhana dan singkat namun keras, karena ayat selanjutnya menyatakan: "Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu." (ay 8). Bayangkan betapa seriusnya jika apa yang kita lakukan justru dinilai sebagai perbuatan yang menolak Allah yang telah memberikan Roh Kudus kepada kita. Atas kasihNya kita ditebus, diselamatkan dan dianugerahkan Roh Kudus sebagai Sang Penolong, tapi atas segala kecemaran yang kita lakukan kita justru menolak Allah. Itu jelas sesuatu yang sangat serius.

Selanjutnya dikatakan "Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah." (Roma 3:23). Itulah gambaran manusia yang seharusnya penuh dosa dan sebenarnya jauh dari layak untuk mendapatkan kemuliaan Allah. Tapi oleh kasih karunia Allah yang begitu besar kita sudah ditebus lunas lewat Kristus. "dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus." (ay 24). Firman Tuhan lewat Petrus berkata: "Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat." (1 Petrus 1:18-19). Ini semua telah kita terima, bahkan dikatakan dengan cuma-cuma. Artinya dengan menerima Kristus seharusnya kita bisa memulai sebuah kehidupan yang baru yang benar-benar kudus. Kecemaran akibat dosa bukanlah menjadi bagian dari kita lagi untuk menurut Tuhan. Hidup kudus, dan bukan cemar, itulah yang seharusnya kita lakukan setelah kita ditebus dan dibenarkan lewat darah Kristus.

Tuhan telah memberikan, selanjutnya tugas kita untuk mempertahankan. Kita tahu bahwa mempertahankan seringkali jauh lebih sulit dari memperoleh atau bahkan merebut. Inilah yang menjadi masalah, karena arus dunia dengan segala iming-iming yang ditawarkan di dalamnya akan terus menerus berusaha meracuni kita yang lemah ini. Segala bentuk tipu muslihat siap digelontorkan iblis untuk meruntuhkan kita. Menjauhkan kita dari kekudusan dan mengarahkan kita ke dalam berbagai bentuk kecemaran. Kelemahan kita membuat terdapatnya banyak lubang-lubang dalam pertahanan kita yang sangat rentan untuk diserang. Tapi Tuhan tahu bagaimana lemahnya kita. Tidak akan mungkin kita mampu bertahan melawan arus dunia dengan segala penyesatan di dalamnya apabila kita hanya mengandalkan kekuatan kita sendiri atau apapun yang ada di dunia ini. Oleh sebab itu Tuhan memberikan Penolong bagi kita, Roh Kudus, untuk menyertai, menolong, mengingatkan dan menguatkan kita dalam bertahan dan melawan arus ini. Jangan lupa pula bagaimana besarnya kuasa firman Tuhan yang tidak saja harus kita baca, renungkan dan perkatakan, tetapi harus diaplikasikan secara nyata pula dalam perbuatan kita. Dengan ini semua seharusnya kita mampu menjalankan apa yang menjadi panggilan Allah bagi kita. Sekali lagi bukan untuk kecemaran, melainkan untuk sebuah kekudusan.

Kita tidak akan bisa melihat Tuhan tanpa adanya kekudusan. Firman Tuhan berkata "..kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Kita tidak akan bisa mengalami kemuliaan Tuhan apabila kita masih hidup penuh kecemaran. Itulah sebabnya Tuhan mengingatkan kita "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu" (1 Petrus 1:14-15). Dengan kata lain, lewat ayat selanjutnya Tuhan berpesan "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (ay 16). Sudahkah kita memperhatikan benar-benar hidup kita untuk melakukan yang kudus sesuai panggilan Tuhan?


(bersambung)

Thursday, April 4, 2013

Menyepelekan Sebuah Janji

Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Ada beberapa teman yang suka berjanji hanya karena tidak tega menolak. Mereka mencari gampangnya dengan mengatakan ya ketika diajak atau diminta datang, tapi seringnya mereka tidak hadir pada waktu yang ditetapkan. Semudah mereka berjanji, semudah itu pula mereka melupakannya. Selalu saja ada alasan yang dikemukakan, sehingga lama-lama saya pun tidak lagi menganggap jawaban ya mereka sebagai sebuah janji. Anda pun tentu pernah bertemu orang-orang yang punya sifat seperti ini. Itu kita anggap hanyalah kebohongan kecil yang tidak terlalu merugikan. Mungkin kita kecewa, mungkin kita kesal, tapi biasanya hanya sampai sebatas itu saja, dan itu jauh lebih ringan dibanding banyak kebohongan-kebohongan yang lebih besar dengan daya rusak yang lebih besar pula.

Ada kalanya kita pun bisa terjebak pada situasi demikian. Karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lain, kita bisa tergoda untuk melakukan "lips-service" dengan membuat sebuah janji atau mengatakan ya. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Toh alasan bisa dicari belakangan. Perilaku ini mungkin kita anggap manusiawi dan wajar apalagi kalau hanya dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu yang mendesak saja. Padahal sikap seperti ini sangatlah tidak dianjurkan dalam Alkitab. Perilaku ingkar janji atau mudah mengatakan ya tanpa diniatkan atau dianggap serius sebenarnya tidak berbeda jauh dengan berbohong. Dan Yesus sudah menyatakan hal itu. "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya: "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkanNya dari 10 Perintah Allah: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Kenyataannya, dan ironisnya, manusia terkadang begitu mudahnya bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Ini jelas-jelas melanggar firman Tuhan. Tuhan sangat tidak suka, bahkan dikatakan jijik dengan sikap/kebiasaan seperti ini seperti apa yang dikatakan Daud: "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh. Tidak salah, karena penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan orang, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain dengan segala kebohongannya. Salomo di kemudian hari mengingatkan lebih lanjut: "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

A promise is a promise. Never promise something that you can't keep. Itu kata-kata bijak yang sebenarnya baik untuk kita resapi dan renungkan. Kita harus belajar untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita akan sebuah janji, dan itu akan jauh lebih "valid" dibanding kepercayaan yang bisa diperoleh lewat sumpah. Demikian pula dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4).

Seperti apa yang diajarkan Yesus, hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari iblis. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh, like you really mean it. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Belajar membenarkan kebohongan kecil bisa membuat kita terbiasa berbohong, dan pada suatu ketika nanti kita berubah menjadi penipu ulung yang tidak lagi merasa bersalah dalam melakukan kebohongan yang besar. Kebohongan-kebohongan kecil bisa menjadi lahan subur bagi iblis untuk menghancurkan kita. Hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk mengacak-acak hidup kita. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan juga sebuah dosa menjijikkan di hadapan Tuhan.

When you make a promise, be serious with it and make sure to keep it

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, April 3, 2013

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (2)

(sambungan)

Firman Tuhan  sudah mengingatkan akan pentingnya menjaga hati dari berbagai hal yang merusak. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Bahagia tidaknya kita hidup di dunia akan sangat tergantung dari kondisi atau keadaan hati kita, dan itupun akan sangat menentukan kemana kita akan pergi kelak. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya, dan itu bisa kita lihat pula ayatnya. "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Dan firman Tuhan kemudian berkata: "Itulah yang menajiskan orang." (ay 20).

Ketika kita bertobat dan menerima Kristus kita sudah diubahkan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Hati kita pun ikut diperbaharui sehingga tidak seharusnya segala kepahitan, kekecewaan, keraguan dan keputus-asaan masih bercokol dalam diri kita. Dengan hati yang bersih itulah kita lalu bisa mendekati Allah karena hati kita tidak lagi berisi hal-hal yang jahat tetapi penuh dengan iman yang teguh dan ketulusan. "Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni." (Ibrani 10:22). Pemulihan hati setelah pertobatan ini pun sudah disinggung dalam kitab Ulangan, "Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup." (Ulangan 30:6).

Satu hal yang harus kita ingat, meski sebentuk hati yang baru sudah diberikan kepada kita, hati tetaplah rentan akan pencemaran. Walaupun sudah dipulihkan dan diperbaharui, kita tetap perlu menjaganya agar tidak kembali kotor seperti sebelumnya. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan tetap berjalan bersama Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah dan tetap mengisi hati kita dengan firmanNya. "Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang." (Ibrani 12:15). Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang. Adalah penting bagi kita untuk terus tekun menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena dari sanalah seluruh kehidupan kita akan terpancar. Mari terus giat menjaga hati agar kita bisa tetap memiliki hati yang lembut, hati yang mau mengampuni, hati yang tidak kehilangan harapan, hati yang penuh ucapan syukur dan bersukacita, terlebih hati yang mengasihi, lalu pancarkan itu untuk memberkati sesama. Jangan biarkan berbagai 'benda asing' yang jahat masuk membuat hati kita tercemar, sakit dan bahkan hancur. Kita bisa memberkati orang lain, bisa pula melukai orang lain. Kita bisa tetap bersukacita dalam segala situasi dan keadaan, kita bisa gelisah, putus asa dan penuh kebencian. Semua itu akan sangat tergantung dari bagaimana kondisi hati kita.

Suasana hati akan sangat mempengaruhi kehidupan kita sekarang dan yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, April 2, 2013

Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (1)

Ayat bacaan: Amsal 4:23
===================
"Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan."

Secara fisik kita akan dengan cepat belajar mengenai berbagai hal yang bisa menimbulkan rasa sakit terhadap diri kita, yang bisa menghadirkan luka atau penderitaan pada tubuh. Tentu tidak butuh waktu lama bagi kita untuk mengetahui bahwa api, baranya atau bahkan peralatan-peralatan panas lainnya seperti alat panggang menyala atau setrika dapat mengakibatkan luka serius pada bagian tubuh kita apabila terkena. Kita mengajar anak-anak agar tidak bermain dengan benda-benda tajam seperti gunting, pisau, atau korek api dan sebagainya yang bisa menimbulkan masalah serius baik bagi diri mereka sendiri maupun orang lain. Dengan kecepatan yang sama pula kita akan mengetahui hal-hal yang bisa menimbulkan kenyamanan atau kenikmatan fisik. Kedua hal itu seringkali menjadi faktor yang paling memotivasi kita untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu.

Tetapi coba bandingkan dengan belajar menjaga hati kita dari hal-hal yang bisa menimbulkan masalah serius dalam hidup. Banyak orang yang lambat atau bahkan sama sekali tidak kunjung belajar dari pengalaman bahwa kemalasan, kebencian, ketidakjujuran atau kebohongan, rasa putus asa, iri hati, ketakutan, kemarahan dan sejenisnya merupakan 'benda-benda berbahaya' yang dapat pula melukai hidup kita. Semua 'benda' ini bukan saja tidak produktif tetapi bisa menimbulkan penderitaan untuk waktu yang panjang, bahkan telah menghancurkan masa depan banyak orang dan menimbulkan kesakitan yang tidak sedikit. Tidak banyak dari kita yang akhirnya menyadari sebuah kesimpulan bahwa semuanya akan sangat tergantung dari satu hal, yaitu hati.

Ada banyak contoh dalam Alkitab yang menunjukkan seberapa fatalnya akibat yang bisa terjadi jika kita tidak menjaga hati kita dari masuknya 'benda-benda' yang merusak di atas. Mari kita ambil satu contoh dalam Alkitab, yaitu ketika Kain membunuh saudara kandungnya sendiri, Habel. Kita bisa mengetahui bahwa asal mula terjadinya pembunuhan itu berawal dari rasa iri. Darimana iri itu muncul? Tentu saja dari hati. Dan Alkitab pun mencatatnya dengan jelas. "Tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram." (Kejadian 4:6). Hatinya panas, itu kemudian membuat wajahnya menjadi muram. Ia menjadi gelap mata, tidak lagi bisa berpikir sehat dan akhirnya ia pun melakukan kekejian, yang rasanya tidak akan mungkin dilakukan oleh manusia normal. Sebuah kejahatan yang fatal terjadi, dan itu semua berasal dari hati yang tidak terjaga dengan baik.

Kepahitan pun bisa timbul dari hati yang kecewa. Dalam hal ini mungkin Naomi bisa menjadi contoh. Tidak tanggung-tanggung, Naomi mengalami kepahitan karena kecewa kepada Tuhan. "Tetapi ia berkata kepada mereka: "Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku." (Rut 1:20). Ayub pun merupakan salah satu contoh yang sempat mengalami kepahitan. Satu kesimpulan yang bisa kita ambil, hati akan sangat menentukan bagaimana kita menjalani hidup. Apakah kita optimis atau pesimis, apakah kita bersukacita atau penuh kepahitan, semua bermuara pada satu hal, yaitu kondisi hati kita.


(bersambung)

Monday, April 1, 2013

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (2)

(sambungan)

Kisah hidup Yusuf bukanlah kisah yang asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan diluar logika manusia. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam atas segala penderitaannya selama ini yang berawal dari perlakuan buruk dan kejam saudara-saudaranya itu. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia jauh lebih tertarik untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Sikap terpuji seperti itu tidaklah mudah dilakukan jika kita yang berada di posisi Yusuf. Tapi jika kita melihat bagaimana Yusuf tetap berjalan bersama Tuhan, dan berkali-kali kita menyaksikan adanya Roh Tuhan menyertainya, maka semua itu menjadi mungkin.

Dari sumur gelap, fitnah, penjara, dan pada akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku. Tetapi dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang ternyata mampu membuat segala yang Yusuf lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di bawah sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari Firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala sesungguhnya sudah diberitahukan dengan jelas. Mari kita lihat kembali ayat bacaan dari renungan ini. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14).

Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika:
- kita mendengarkan perintah Tuhan
- menjadi pelaku-pelaku firman yang setia
- tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan
- hanya menyembah Allah saja, dan bukan allah lain

Rangkaian kisah Yusuf menggambarkan dengan jelas bagaimana keempat hal ini menjadi pedoman hidup yang ia pegang sepenuhnya. Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, ia tidak mengeluh,  ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama dengan Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syaratnya. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua ketetapan yang telah Dia berikan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...