(sambungan)
Sesuatu yang berbanding terbalik bisa kita lihat pada jemaat Laodikia. Jemaat Laodikia dikatakan kaya secara materi tetapi di mata Tuhan mereka sesungguhnya terlihat miskin. Lihatlah teguran yang dijatuhkan kepada mereka. "Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang." (Wahyu 3:17). Kekayaan secara materi ternyata membutakan mata mereka, sehingga mereka menjadi tidak sungguh-sungguh dalam ketaatan. Tuhan memandang itu sebagai suam-suam kuku, tidak dingin atau panas. Dan sikap itu membuahkan teguran keras. "Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku." (ay 16). Tuhan kemudian berkata: "maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas
yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga
pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan
ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu,
supaya engkau dapat melihat." (ay 18) dan memberikan sebuah peringatan yang tentu saja berlaku pula bagi kita semua hari ini: "Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!" (ay 19). Tidak mau dihajar Tuhan? Kalau begitu berbesar hatilah ketika ditegur dan segeralah bertobat. Ada perbedaan kontras antara jemaat Smirna dan Laodikia. Meski dalam penderitaan menghadapi ketidakadilan, kemiskinan, fitnahan, tekanan dan siksaan sekalipun, mereka mampu terus taat dan menyerahkan hidup mereka kepada Tuhan dengan sepenuhnya.Sebaliknya jemaat Laodikia tertutup matanya oleh segala kemewahan yang mereka miliki.
Jangan tiru jemaat Laodikia dan teladanilah sikap jemaat Smirna. Mengikuti Kristus bukanlah berarti bahwa kita kemudian hidup bebas dari masalah dan bisa berjalan tanpa hambatan, lalu bisa seenaknya berbuat apapun sesuka kita. Menjadi orang percaya pada kenyataannya bisa menempatkan kita ke dalam posisi sulit seperti yang mungkin kita alami hari ini. Disisihkan, dicemooh, diperlakukan tidak adil bahkan seperti yang dialami banyak orang percaya dalam kasus-kasus tertentu, ancaman dan aniaya pun bisa menjadi 'salib' yang harus kita pikul. Ironisnya perlakuan seperti ini bukan hanya datang dari orang-orang yang tidak mengenal Allah saja, tetapi bisa pula hadir lewat orang-orang yang mengaku beriman kepada Kristus. Bukankah kita setidaknya pernah bertemu dengan orang-orang yang mengaku percaya tetapi begitu mudah menghakimi? Bukannya membantu saudaranya yang susah, tapi malah mengata-ngatai dan menuduh bahwa kemiskinan yang mereka alami itu karena kutuk, dosa dan sebagainya tanpa terlebih dahulu melihat letak permasalahannya. Tapi semua itu hendaknya tidak melemahkan kita, sebab sejak awal Yesus sendiri sudah mengingatkan: "Kata-Nya kepada mereka semua: "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya setiap hari dan mengikut Aku." (Lukas 9:23). Tidaklah mudah untuk menyangkal diri dan memikul salib setiap hari, tetapi itulah yang dituntut dari kita. Selanjutnya Yesus berkata: "Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan menyelamatkannya." (ay 24). Kekayaan dunia mungkin menggiurkan, tetapi ingatlah kata-kata Yesus berikut ini: "Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (ay 25). Jemaat Laodikia melakukan itu, sebaliknya jemaat Smirna menunjukkan bahwa mereka tahu apa yang benar yang seharusnya mereka lakukan sebagai pengikut Kristus.
Dunia boleh saja membenci kita, memperlakukan kita tidak adil, menghina atau bahkan menuduh kita macam-macam. Tetapi hendaknya semua itu tidak boleh membuat kita berpaling dari Tuhan. Akan hal ini Yesus sudah mengingatkan kita. "Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu. Sekiranya kamu dari dunia, tentulah dunia mengasihi kamu sebagai miliknya. Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu." (Yohanes 15:18-19). Oleh karena itulah kita harus meneladani sikap jemaat Smirna yang tidak menyerah dan putus asa meski kehidupan yang mereka jalani sungguh berat. Keputusan dan sikap hidup tanpa pamrih seperti itulah yang membuahkan pujian dari Tuhan. "Jangan takut terhadap apa yang harus engkau derita! Sesungguhnya Iblis akan melemparkan beberapa orang dari antaramu ke dalam penjara supaya kamu dicobai dan kamu akan beroleh kesusahan selama sepuluh hari. Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Mahkota kehidupan akan selalu dikaruniakan Tuhan kepada siapapun yang mampu setia sampai mati. Apakah hidup anda sedang mengalami kesusahan saat ini, sedang mengalami tekanan atau perlakuan tidak mengenakkan? Apakah roda kehidupan anda saat ini sedang berada dibawah dan melindas bebatuan? Tuhan berpesan demikian: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Jangan bersungut-sungut ketika ada masalah, jangan putus asa apalagi menyerah. Ada mahkota kehidupan yang disediakan Tuhan kepada siapapun yang tetap setia kepada Tuhan dalam segala kondisi di ujung perjalanan kita. Ada banyak diantara orang percaya yang tidak sanggup menanggung kemiskinan, fitnahan dan siksaan. Mereka akan dengan cepat memilih untuk meninggalkan Tuhan ketimbang harus mengalami hal-hal tersebut. Tetapi jemaat Smirna sudah membuktikan iman mereka lewat ketabahan dan ketaatan yang luar biasa. Dan Tuhan pun memberikan pujian. Mari kita teladani jemaat Smirna dan mari pegang teguh kesetiaan kepada Tuhan, no matter what or how.
"Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?" (Lukas 9:25)
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, November 7, 2012
Tuesday, November 6, 2012
Perbedaan Jemaat Smirna dan Laodikia (1)
Ayat bacaan: Wahyu 2:9
==================
"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis."
"Saya mau ikut Yesus supaya usaha saya yang hampir bangkrut bisa kembali pulih." kata seorang yang sepertinya berprofesi sebagai pengusaha pada suatu kali sambil mesem-mesem kepada temannya. Lantas temannya menjawab, "ya, saya juga mau coba, supaya sakit saya sembuh.." Saya kebetulan berada tidak jauh dari mereka di sebuah cafe sehingga mendengarnya. Ikut Yesus kok coba-coba? Tapi banyak orang memang berpikir seperti itu. Mereka hanya ingin berkat, pertolongan dan kesembuhan saja secara sempit untuk di dunia ini. Mereka tidak berpikir soal keselamatan, apalagi berpikir untuk mengasihi Yesus secara tulus. Benar, Tuhan bisa melakukan itu semua. It's no big deal to Him. Tapi apakah hanya itu yang membuat kita menerimaNya sebagai Tuhan? Ibaratnya orang berpacaran, bagaimana perasaan anda jika pasangan anda hanya ingin coba-coba dan hanya ingin harta saja? Tentu sakit sekali rasanya bukan?
Kita tidak akan pernah bisa hidup selamanya dan sepenuhnya tanpa masalah. Menjadi pengikut Yesus tidak serta merta berarti bahwa kita akan seratus persen aman, bebas masalah, hidup nikmat tanpa kendala. Dan lihatlah betapa seringnya iman kita diuji. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa "Tuhan itu amat baik" ketika hidup sedang aman-aman saja, tetapi mampukah kita berkata hal yang sama ketika tengah mengalami penderitaan atau permasalahan? Mampukah kita tetap setia dan taat meski keadaan kita sedang tidak baik? Ini sebuah pertanyaan yang jawabannya akan menunjukkan sejauh mana kita mengasihi dan percaya kepadaNya. Jika hanya mengharapkan berkat saja kita akan cepat menjadi dingin, bahkan dengan mudahnya menuduh Tuhan dan meragukannya ketika masalah sepertinya tidak kunjung teratasi. Akan hal ini, mari kita lihat perbedaan antara dua jemaat diantara 7 jemaat yang kepada mereka diberikan pesan dan teguran dalam kitab Wahyu, yaitu jemaat Smirna dan Laodikia.
Diantara ketujuh gereja dalam kitab Wahyu, hanya ada dua yang tidak ditegur Tuhan, yaitu jemaat di Smirna dan Filadelfia. Mari kita lihat bagaimana Smirna yang lokasinya terletak di salah satu bagian dari Turki saat ini bisa luput dari teguran bahkan menuai pujian langsung dari Tuhan.
Seperti apa profil jemaat Smirna? Apakah mereka jemaat yang kaya raya dan hidup berlimpah-limpah juga tanpa problema? Justru sebaliknya. Mereka bukanlah jemaat yang kaya secara finansial. Mereka pun mengalami banyak kesusahan dalam mempertahankan iman mereka. Tekanan dari penguasa Roma terus menerus menerpa mereka dan itu sangatlah menyulitkan. Mereka dianaktirikan, disisihkan dan diperlakukan tidak adil, cacian dan fitnah, bahkan tidak jarang mereka mengalami penganiayaan dalam mempertahankan iman mereka. Setiap hari dalam hidup mereka harus menghadapi cercaan dan fitnahan dari orang-orang yang menganggap diri mereka paling benar yang akan tanpa sungkan-sungkan menyakiti mereka. Sudah miskin, tertekan dan dianiaya pula. Seandainya jemaat Smirna hanya memandang atau berharap pada berkat duniawi saja, buat apa mereka rela mengalami semua itu? Tentu mereka sudah meninggalkan Tuhan dan kembali kepada kehidupan lama mereka. Tapi jemaat Smirna menunjukkan ketangguhan iman mereka. Lewat segala penderitaan mereka ternyata mereka bisa membuktikan keteguhan mereka hingga merekapun kemudian menuai pujian dari Tuhan.
Sekarang mari kita lihat seperti apa bunyi pujian yang diberikan kepada mereka. "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis." (Wahyu 2:9). Wow! Dipuji langsung oleh Tuhan, itu tentu berjuta rasanya. Meski miskin materi, tapi engkau kaya iman. Begitu kira-kira kata Tuhan. Itulah kualitas jemaat Smirna yang luar biasa. Yesus mengatakan bahwa "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Mungkin sulit bagi jemaat Smirna untuk makan enak dan mewah setiap hari, bahkan mereka mungkin merasa heran apabila satu hari berlalu tanpa adanya tekanan atau masalah. Tetapi mereka ternyata menjadi tegar dalam ketaatan mereka kepada Sang Roti Hidup, the Bread of life. Di mata dunia mereka mungkin miskin dan rendah, tetapi sama sekali tidak demikian di mata Tuhan.
(bersambung)
==================
"Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis."
"Saya mau ikut Yesus supaya usaha saya yang hampir bangkrut bisa kembali pulih." kata seorang yang sepertinya berprofesi sebagai pengusaha pada suatu kali sambil mesem-mesem kepada temannya. Lantas temannya menjawab, "ya, saya juga mau coba, supaya sakit saya sembuh.." Saya kebetulan berada tidak jauh dari mereka di sebuah cafe sehingga mendengarnya. Ikut Yesus kok coba-coba? Tapi banyak orang memang berpikir seperti itu. Mereka hanya ingin berkat, pertolongan dan kesembuhan saja secara sempit untuk di dunia ini. Mereka tidak berpikir soal keselamatan, apalagi berpikir untuk mengasihi Yesus secara tulus. Benar, Tuhan bisa melakukan itu semua. It's no big deal to Him. Tapi apakah hanya itu yang membuat kita menerimaNya sebagai Tuhan? Ibaratnya orang berpacaran, bagaimana perasaan anda jika pasangan anda hanya ingin coba-coba dan hanya ingin harta saja? Tentu sakit sekali rasanya bukan? Kita tidak akan pernah bisa hidup selamanya dan sepenuhnya tanpa masalah. Menjadi pengikut Yesus tidak serta merta berarti bahwa kita akan seratus persen aman, bebas masalah, hidup nikmat tanpa kendala. Dan lihatlah betapa seringnya iman kita diuji. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa "Tuhan itu amat baik" ketika hidup sedang aman-aman saja, tetapi mampukah kita berkata hal yang sama ketika tengah mengalami penderitaan atau permasalahan? Mampukah kita tetap setia dan taat meski keadaan kita sedang tidak baik? Ini sebuah pertanyaan yang jawabannya akan menunjukkan sejauh mana kita mengasihi dan percaya kepadaNya. Jika hanya mengharapkan berkat saja kita akan cepat menjadi dingin, bahkan dengan mudahnya menuduh Tuhan dan meragukannya ketika masalah sepertinya tidak kunjung teratasi. Akan hal ini, mari kita lihat perbedaan antara dua jemaat diantara 7 jemaat yang kepada mereka diberikan pesan dan teguran dalam kitab Wahyu, yaitu jemaat Smirna dan Laodikia.
Diantara ketujuh gereja dalam kitab Wahyu, hanya ada dua yang tidak ditegur Tuhan, yaitu jemaat di Smirna dan Filadelfia. Mari kita lihat bagaimana Smirna yang lokasinya terletak di salah satu bagian dari Turki saat ini bisa luput dari teguran bahkan menuai pujian langsung dari Tuhan.
Seperti apa profil jemaat Smirna? Apakah mereka jemaat yang kaya raya dan hidup berlimpah-limpah juga tanpa problema? Justru sebaliknya. Mereka bukanlah jemaat yang kaya secara finansial. Mereka pun mengalami banyak kesusahan dalam mempertahankan iman mereka. Tekanan dari penguasa Roma terus menerus menerpa mereka dan itu sangatlah menyulitkan. Mereka dianaktirikan, disisihkan dan diperlakukan tidak adil, cacian dan fitnah, bahkan tidak jarang mereka mengalami penganiayaan dalam mempertahankan iman mereka. Setiap hari dalam hidup mereka harus menghadapi cercaan dan fitnahan dari orang-orang yang menganggap diri mereka paling benar yang akan tanpa sungkan-sungkan menyakiti mereka. Sudah miskin, tertekan dan dianiaya pula. Seandainya jemaat Smirna hanya memandang atau berharap pada berkat duniawi saja, buat apa mereka rela mengalami semua itu? Tentu mereka sudah meninggalkan Tuhan dan kembali kepada kehidupan lama mereka. Tapi jemaat Smirna menunjukkan ketangguhan iman mereka. Lewat segala penderitaan mereka ternyata mereka bisa membuktikan keteguhan mereka hingga merekapun kemudian menuai pujian dari Tuhan.
Sekarang mari kita lihat seperti apa bunyi pujian yang diberikan kepada mereka. "Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu--namun engkau kaya--dan fitnah mereka, yang menyebut dirinya orang Yahudi, tetapi yang sebenarnya tidak demikian: sebaliknya mereka adalah jemaah Iblis." (Wahyu 2:9). Wow! Dipuji langsung oleh Tuhan, itu tentu berjuta rasanya. Meski miskin materi, tapi engkau kaya iman. Begitu kira-kira kata Tuhan. Itulah kualitas jemaat Smirna yang luar biasa. Yesus mengatakan bahwa "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4). Mungkin sulit bagi jemaat Smirna untuk makan enak dan mewah setiap hari, bahkan mereka mungkin merasa heran apabila satu hari berlalu tanpa adanya tekanan atau masalah. Tetapi mereka ternyata menjadi tegar dalam ketaatan mereka kepada Sang Roti Hidup, the Bread of life. Di mata dunia mereka mungkin miskin dan rendah, tetapi sama sekali tidak demikian di mata Tuhan.
(bersambung)
Monday, November 5, 2012
Pelaku atau Penonton?
Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"
Setiap akhir pekan kita dimanjakan oleh pertandingan sepakbola dari liga-liga terkemuka di Eropa. Tim-tim favorit kita dari Inggris, Spanyol atau Italia akan membuat kita bersorak atau geregetan tergantung dari permainan mereka. Dalam setiap pertandingan sepak bola akan ada dua sisi disana. Di satu sisi ada pemain-pemain yang berjuang di lapangan. Mereka berusaha mati-matian mengeluarkan segenap kemampuan yang ada untuk menang, jatuh bangun, bahkan tidak jarang dalam keadaan cedera sekalipun mereka akan tetap memaksakan diri untuk bertanding dan memberi yang terbaik dari mereka. Di sisi lain kita melihat pula ribuan supporter atau penonton yang akan bersorak mensupport tim favorit, termasuk di dalamnya kita yang menonton dari layar televisi. Layaknya penonton yang tidak terlibat langsung dalam permainan, kita akan puas hanya dengan menikmati pertandingan. Kita bersorak ketika tim kita membobol gawang lawan, berteriak memprotes keputusan wasit, juga dengan mudah mencela ketika sebuah tim tampil buruk. Komentar-komentar pedas, menghujat pelatih atau pemain pun akan sangat mudah kita keluarkan. Kita bahkan sering menjadi komentator-komentator yang seolah lebih hebat dari pelatih.
Dalam kehidupan kerohanian kita dimanakah posisi kita berdiri? Apakah kita berada di posisi pemain atau masih sebagai penonton? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, alias berperan sebagai pemain. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi seringkali dianggap jauh lebih penting ketimbang menerima panggilan Tuhan yang menurut kita hanya buang-buang waktu dan tidak membawa keuntungan apa-apa secara materi.
Apakah Tuhan hanya menginginkan sebagian orang saja buat berperan secara aktif mewartakan Injil? Tidak. Firman Tuhan secara tegas berkata: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan dan bukan hanya segelintir pribadi. Kita dikatakan imamat yang rajani. Itu artinya kita dimata Tuhan dianggap sebagai imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood, yang tidak lain kepunyaan Allah sendiri. Dan ini bukanlah pemberian gelar tanpa maksud. Gelar sebesar itu menunjukkan panggilan bagi kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali, termasuk anda dan saya tentunya. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).
Untuk menjalankan itu semua kita pun sudah dipersiapkan secara baik. selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Dan Yesus juga berkata "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri sebagai penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini.
Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Kenyataannya lebih banyak orang yang hanya datang ke gereja sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Mereka hanya mau menerima tanpa pernah mau peduli terhadap orang lain ataupun terhadap tugas yang sebenarnya sudah diberikan kepada mereka sebagai anak-anak Tuhan penyandang gelar imamat yang rajani. Yesus sendiri sudah menyatakan, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentil mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.
Marilah kita menjadi terang yang bercahaya dalam kehidupan kita. Yesus menghimbau kita "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya disimpan dibawah kolong atau dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi hanya sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. Siapkah anda bermain dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pemain-pemain tangguh dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya bagi kita.
Kita adalah pemain-pemain tangguh dan bukan penonton
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"
Setiap akhir pekan kita dimanjakan oleh pertandingan sepakbola dari liga-liga terkemuka di Eropa. Tim-tim favorit kita dari Inggris, Spanyol atau Italia akan membuat kita bersorak atau geregetan tergantung dari permainan mereka. Dalam setiap pertandingan sepak bola akan ada dua sisi disana. Di satu sisi ada pemain-pemain yang berjuang di lapangan. Mereka berusaha mati-matian mengeluarkan segenap kemampuan yang ada untuk menang, jatuh bangun, bahkan tidak jarang dalam keadaan cedera sekalipun mereka akan tetap memaksakan diri untuk bertanding dan memberi yang terbaik dari mereka. Di sisi lain kita melihat pula ribuan supporter atau penonton yang akan bersorak mensupport tim favorit, termasuk di dalamnya kita yang menonton dari layar televisi. Layaknya penonton yang tidak terlibat langsung dalam permainan, kita akan puas hanya dengan menikmati pertandingan. Kita bersorak ketika tim kita membobol gawang lawan, berteriak memprotes keputusan wasit, juga dengan mudah mencela ketika sebuah tim tampil buruk. Komentar-komentar pedas, menghujat pelatih atau pemain pun akan sangat mudah kita keluarkan. Kita bahkan sering menjadi komentator-komentator yang seolah lebih hebat dari pelatih.Dalam kehidupan kerohanian kita dimanakah posisi kita berdiri? Apakah kita berada di posisi pemain atau masih sebagai penonton? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, alias berperan sebagai pemain. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya ingin menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terlibat langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan. Melayani Tuhan itu hanya tugas pendeta atau para pengerja. Urusan duniawi seringkali dianggap jauh lebih penting ketimbang menerima panggilan Tuhan yang menurut kita hanya buang-buang waktu dan tidak membawa keuntungan apa-apa secara materi.
Apakah Tuhan hanya menginginkan sebagian orang saja buat berperan secara aktif mewartakan Injil? Tidak. Firman Tuhan secara tegas berkata: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan dan bukan hanya segelintir pribadi. Kita dikatakan imamat yang rajani. Itu artinya kita dimata Tuhan dianggap sebagai imam-imam yang melayani raja atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan royal priesthood, yang tidak lain kepunyaan Allah sendiri. Dan ini bukanlah pemberian gelar tanpa maksud. Gelar sebesar itu menunjukkan panggilan bagi kita untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan secara aktif lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali, termasuk anda dan saya tentunya. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya lewat Amanat Agung yang Dia berikan tepat sebelum kenaikanNya kembali ke Surga. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).
Untuk menjalankan itu semua kita pun sudah dipersiapkan secara baik. selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Dan Yesus juga berkata "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri sebagai penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini.
Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Kenyataannya lebih banyak orang yang hanya datang ke gereja sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Mereka hanya mau menerima tanpa pernah mau peduli terhadap orang lain ataupun terhadap tugas yang sebenarnya sudah diberikan kepada mereka sebagai anak-anak Tuhan penyandang gelar imamat yang rajani. Yesus sendiri sudah menyatakan, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentil mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.
Marilah kita menjadi terang yang bercahaya dalam kehidupan kita. Yesus menghimbau kita "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya disimpan dibawah kolong atau dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika diletakkan di atas dalam kegelapan. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton saja, apalagi hanya sibuk mengomentari, mengeluh, memprotes dan mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. Siapkah anda bermain dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pemain-pemain tangguh dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya bagi kita.
Kita adalah pemain-pemain tangguh dan bukan penonton
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sunday, November 4, 2012
Tuhan Mengasihi Orang Berdosa
Ayat bacaan: Matius 9:12
=====================
"Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit."
"Saya rasa Tuhan sangat membenci saya.. saya melakukan begitu banyak kesalahan yang sangat bodoh.." kata seorang teman pada suatu kali sambil menangis. Ia memang banyak melakukan hal buruk di masa lalu. Lahir dari keluarga broken home, dia tidak merasakan seperti apa rasanya dikasihi oleh orang tuanya. Ia bercerita betapa iri rasanya melihat anak yang dipeluk dan punya hubungan yang akrab dengan orang tua. Ia pun kemudian terjerumus ke dalam banyak bentuk dosa sebagai pelarian untuk mengatasi luka-luka batinnya. Pada suatu ketika ia merasa bahwa semua itu tidak pernah memberi rasa lega malah membuat perasaannya semakin berat. Tidak saja ia merasa bahwa dunia membencinya, tapi ia pun mengira bahwa Tuhan pun demikian karena dosa-dosa yang ia lakukan menurutnya sudah sedemikian banyak. Apakah benar Tuhan membenci dia, atau orang-orang yang pernah berbuat dosa? Jika seperti itu, kita semua hari ini sudah musnah atas murka Tuhan. Tapi itu pandangan yang sebenarnya keliru. Benar bahwa Tuhan membenci dosa, tapi Tuhan tidak membenci orang berdosa melainkan begitu mengasihinya. Apakah tuhan membenci teman saya itu? Tentu tidak! Tuhan mengasihinya sama seperti Dia mengasihi anda dan saya. Tuhan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anakNya yang bertobat. Dia menyambut dengan penuh sukacita dan memberi pengampunan total bagi siapapun yang bertobat dan kembali kepadaNya.
Alkitab banyak berbicara akan hal ini. Salah satunya yang sangat jelas bisa kita lihat ketika Yesus bertemu dengan Matius. Matius adalah seorang pemungut cukai alias penagih pajak sedang duduk di kantornya. Menyandang status sebagai pemungut cukai otomatis membuat Matius memiliki status buruk, dijauhi oleh masyarakat. Ia dianggap antek-antek Romawi yang memeras bangsa sendiri. Tapi lihat bagaimana reaksi Yesus terhadapnya. Apakah Yesus mencaci dan mengusirnya? Ternyata tidak. Yesus malah mengajak Matius untuk ikut. (Matius 9:9). Bukan itu saja, Yesus lalu duduk makan di rumah Matius bersama pemungut cukai lainnya dan orang-orang yang dianggap buruk oleh masyarakat. (ay 10). Orang Farisi pun kemudian bereaksi keras menentang keputusan Yesus itu. "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" (ay 11). Tapi Yesus mendengar hal tersebut dan memberi jawaban yang cerdas. "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (ay 12). Lalu melanjutkan perkataanNya: "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."(ay 13). Ini sebuah keteladanan dari Yesus yang menunjukkan bahwa Dia merangkul semua orang dan ingin orang-orang berdosa itu tetap bisa memperoleh keselamatan seperti halnya orang-orang yang benar. KedatanganNya ke dunia dan kerelaanNya menanggung semua beban dosa kita di atas kayu salib jelas menunjukkan hatiNya yang penuh dengan kasih. Dan Dia datang justru untuk melepaskan kita, orang-orang yang berdosa ini dari jerat dosa. Singkatnya, Yesus menunjukkan bahwa siapapun itu layak untuk menerima diriNya dan diselamatkan.
Ada banyak orang yang sudah begitu lama terjerumus dalam banyak bentuk dosa dan tidak lagi punya kesempatan untuk selamat. Mereka merasa Tuhan pasti benci habis-habisan kepada mereka. Mereka ragu terhadap keselamatan karena banyaknya pelanggaran yang pernah mereka lakukan. Banyak orang mengira bahwa Yesus membenci orang berdosa, tapi dari apa yang kita lihat hari ini justru menggambarkan sebaliknya. Yesus tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosa, bukan orangnya. Kedatangan Yesus ke dunia ini justru untuk menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari binasa masuk ke dalam jurang maut. Kasih Allah sungguh tak terhingga buat kita. Begitu besar kasihNya sehingga Yesus pun Dia relakan turun ke dunia untuk menyelamatkan kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Yesus sangat mengasihi manusia yang berlumur dosa. Begitu mengasihi hingga Dia mengatakan rela meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor domba yang sesat. (Lukas 15:4). Kehadiran Yesus justru untuk menyelamatkan orang-orang yang sesat, agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam kiasan yang mudah dimengerti, Yesus menggambarkannya dengan dibutuhkannya dokter bukan oleh orang sehat, melainkan oleh orang sakit.
Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa dosa yang sudah sangat banyak dan berat dengan warna merah menyala sekalipun bisa menjadi putih kembali seperti salju, atau seputih bulu domba jika kita mau bertobat dan berbalik dari jalan-jalan yang salah untuk kembali kepadaNya. Tuhan adalah Allah yang sangat penuh dengan kasih setia. Dia selalu menyediakan pengampunan bagi orang-orang berdosa yang mengakui dosa-dosanya. Yohanes menyampaikannya demikian: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:19). Pengampunan total dan langsung disediakan Tuhan kepada orang yang mau datang dengan hati yang hancur, menyesali dan mengakui dosa-dosa mereka. Begitu kita melakukan pertobatan sungguh-sungguh, saat itu juga Tuhan memberikan pengampunan. Itulah sebentuk kasih karunia yang dianugrahkan Tuhan kepada kita semata-mata karena Dia teramat sangat mengasihi kita dan tidak menginginkan satupun dari kita untuk binasa.
Jika diantara teman-teman yang saat ini ada yang merasa tidak layak atau ragu bahwa anda masih punya kesempatan untuk diselamatkan, ingatlah bahwa Yesus telah mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan kita semua dari ketidaklayakan akibat dosa-dosa itu. Tuhan memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat. Berbaliklah dari jalan-jalan sesat dan jadikan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi anda. Firman Tuhan berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah." (Yohanes 3:18). Sekali lagi, Tuhan tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosanya dan bukan orangnya. Tuhan akan selalu membuka tanganNya lebar-lebar untuk menyambut kembalinya orang berdosa kepadaNya.
Bereskan seluruh dosa lewat pertobatan dalam nama Yesus dan terimalah keselamatan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=====================
"Yesus mendengarnya dan berkata: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit."
"Saya rasa Tuhan sangat membenci saya.. saya melakukan begitu banyak kesalahan yang sangat bodoh.." kata seorang teman pada suatu kali sambil menangis. Ia memang banyak melakukan hal buruk di masa lalu. Lahir dari keluarga broken home, dia tidak merasakan seperti apa rasanya dikasihi oleh orang tuanya. Ia bercerita betapa iri rasanya melihat anak yang dipeluk dan punya hubungan yang akrab dengan orang tua. Ia pun kemudian terjerumus ke dalam banyak bentuk dosa sebagai pelarian untuk mengatasi luka-luka batinnya. Pada suatu ketika ia merasa bahwa semua itu tidak pernah memberi rasa lega malah membuat perasaannya semakin berat. Tidak saja ia merasa bahwa dunia membencinya, tapi ia pun mengira bahwa Tuhan pun demikian karena dosa-dosa yang ia lakukan menurutnya sudah sedemikian banyak. Apakah benar Tuhan membenci dia, atau orang-orang yang pernah berbuat dosa? Jika seperti itu, kita semua hari ini sudah musnah atas murka Tuhan. Tapi itu pandangan yang sebenarnya keliru. Benar bahwa Tuhan membenci dosa, tapi Tuhan tidak membenci orang berdosa melainkan begitu mengasihinya. Apakah tuhan membenci teman saya itu? Tentu tidak! Tuhan mengasihinya sama seperti Dia mengasihi anda dan saya. Tuhan selalu membuka pintu selebar-lebarnya bagi anak-anakNya yang bertobat. Dia menyambut dengan penuh sukacita dan memberi pengampunan total bagi siapapun yang bertobat dan kembali kepadaNya. Alkitab banyak berbicara akan hal ini. Salah satunya yang sangat jelas bisa kita lihat ketika Yesus bertemu dengan Matius. Matius adalah seorang pemungut cukai alias penagih pajak sedang duduk di kantornya. Menyandang status sebagai pemungut cukai otomatis membuat Matius memiliki status buruk, dijauhi oleh masyarakat. Ia dianggap antek-antek Romawi yang memeras bangsa sendiri. Tapi lihat bagaimana reaksi Yesus terhadapnya. Apakah Yesus mencaci dan mengusirnya? Ternyata tidak. Yesus malah mengajak Matius untuk ikut. (Matius 9:9). Bukan itu saja, Yesus lalu duduk makan di rumah Matius bersama pemungut cukai lainnya dan orang-orang yang dianggap buruk oleh masyarakat. (ay 10). Orang Farisi pun kemudian bereaksi keras menentang keputusan Yesus itu. "Mengapa gurumu makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?" (ay 11). Tapi Yesus mendengar hal tersebut dan memberi jawaban yang cerdas. "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (ay 12). Lalu melanjutkan perkataanNya: "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."(ay 13). Ini sebuah keteladanan dari Yesus yang menunjukkan bahwa Dia merangkul semua orang dan ingin orang-orang berdosa itu tetap bisa memperoleh keselamatan seperti halnya orang-orang yang benar. KedatanganNya ke dunia dan kerelaanNya menanggung semua beban dosa kita di atas kayu salib jelas menunjukkan hatiNya yang penuh dengan kasih. Dan Dia datang justru untuk melepaskan kita, orang-orang yang berdosa ini dari jerat dosa. Singkatnya, Yesus menunjukkan bahwa siapapun itu layak untuk menerima diriNya dan diselamatkan.
Ada banyak orang yang sudah begitu lama terjerumus dalam banyak bentuk dosa dan tidak lagi punya kesempatan untuk selamat. Mereka merasa Tuhan pasti benci habis-habisan kepada mereka. Mereka ragu terhadap keselamatan karena banyaknya pelanggaran yang pernah mereka lakukan. Banyak orang mengira bahwa Yesus membenci orang berdosa, tapi dari apa yang kita lihat hari ini justru menggambarkan sebaliknya. Yesus tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosa, bukan orangnya. Kedatangan Yesus ke dunia ini justru untuk menebus dosa-dosa kita dan menyelamatkan kita dari binasa masuk ke dalam jurang maut. Kasih Allah sungguh tak terhingga buat kita. Begitu besar kasihNya sehingga Yesus pun Dia relakan turun ke dunia untuk menyelamatkan kita. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Yesus sangat mengasihi manusia yang berlumur dosa. Begitu mengasihi hingga Dia mengatakan rela meninggalkan 99 ekor domba untuk mencari seekor domba yang sesat. (Lukas 15:4). Kehadiran Yesus justru untuk menyelamatkan orang-orang yang sesat, agar tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Dalam kiasan yang mudah dimengerti, Yesus menggambarkannya dengan dibutuhkannya dokter bukan oleh orang sehat, melainkan oleh orang sakit.
Selanjutnya mari kita lihat ayat berikut. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa dosa yang sudah sangat banyak dan berat dengan warna merah menyala sekalipun bisa menjadi putih kembali seperti salju, atau seputih bulu domba jika kita mau bertobat dan berbalik dari jalan-jalan yang salah untuk kembali kepadaNya. Tuhan adalah Allah yang sangat penuh dengan kasih setia. Dia selalu menyediakan pengampunan bagi orang-orang berdosa yang mengakui dosa-dosanya. Yohanes menyampaikannya demikian: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:19). Pengampunan total dan langsung disediakan Tuhan kepada orang yang mau datang dengan hati yang hancur, menyesali dan mengakui dosa-dosa mereka. Begitu kita melakukan pertobatan sungguh-sungguh, saat itu juga Tuhan memberikan pengampunan. Itulah sebentuk kasih karunia yang dianugrahkan Tuhan kepada kita semata-mata karena Dia teramat sangat mengasihi kita dan tidak menginginkan satupun dari kita untuk binasa.
Jika diantara teman-teman yang saat ini ada yang merasa tidak layak atau ragu bahwa anda masih punya kesempatan untuk diselamatkan, ingatlah bahwa Yesus telah mengorbankan diriNya untuk menyelamatkan kita semua dari ketidaklayakan akibat dosa-dosa itu. Tuhan memberikan kesempatan bagi siapapun untuk bertobat. Berbaliklah dari jalan-jalan sesat dan jadikan Yesus sebagai Juru Selamat pribadi anda. Firman Tuhan berkata: "Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah." (Yohanes 3:18). Sekali lagi, Tuhan tidak membenci orang berdosa. Yang Dia benci adalah dosanya dan bukan orangnya. Tuhan akan selalu membuka tanganNya lebar-lebar untuk menyambut kembalinya orang berdosa kepadaNya.
Bereskan seluruh dosa lewat pertobatan dalam nama Yesus dan terimalah keselamatan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, November 3, 2012
Pohon Badam
Ayat bacaan: Yeremia 1:11
=====================
"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."
Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk hidup berjaga-jaga. Mereka menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, karena berpikir bahwa mereka masih punya banyak waktu untuk itu. Selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang-senang sepuasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua saja. Mereka lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Syukur kalau bisa puluhan tahun lagi. Bagaimana jika tinggal setahun lagi atau malah sebentar lagi? Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Saya salut melihat anak-anak muda yang sudah rajin melayani di usia remaja. Mereka penuh semangat bahkan aktif dalam berbagai kegiatan, memakai segala kreativitas mereka untuk memuliakan Tuhan pada usia yang masih belia. Tinggal di kota besar yang punya banyak godaan sama sekali tidak membuat mereka lemah. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya tanpa memandang usia saat ini.
Seperti yang sudah saya janjikan dalam renungan sebelumnya, kali lini kita akan secara khusus membahas penglihatan Yeremia yaitu sebatang dahan pohon badam. Gambar yang saya pajang hari ini adalah gambar dari sebatang dahan pohon badam yang sedang berbunga. Mungkin seperti itulah bentuk penglihatan Yeremia saat itu. "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat jelas merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya, dan ia menangkapnya dengan benar, sebab Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Seperti apa pohon badam itu? Pohon badam (almond tree) adalah pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan di musim salju, ketika pohon-pohon lain pada umumnya meranggas, pohon badam mampu terus berbunga dengan indahnya. Pohon badam ini juga sering disebut sebagai pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih "tidur" disaat musim salju di luar sana.
Badam adalah bahasa Ibrani yang jika diterjemahkan berarti "yang berjaga", "yang bangun" atau "yang menonton". Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat atau karakter pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu berbunga di musim apapun seperti yang disebutkan diatas. Dalam kitab Bilangan kita mendapati kisah ketika tongkat Harun bertunas dan mengeluarkan bunga bahkan buah badam. (Bilangan 17:8). Ini berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang "mati" secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati, tapi kita harus seperti pohon badam yang mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah. Disamping itu jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita atau mengalami banyak "kematian" dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga, pelayanan dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.
Semua gambaran di atas menjelaskan mengapa Yeremia melihat dahan pohon badam. Pada masa itu kejahatan dari umat Tuhan terlihat bagitu nyata. Itu mengarah pada visi kedua dari Yeremia adalah periuk mendidih yang datang dari utara (ay 13), yang menggambarkan akan datangnya malapetaka menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda. "Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri." (ay 16). Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih, namun di sisi lain, 'dahan pohon badam' tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap berjaga-jaga, tidak ikut-ikutan melakukan kejahatan dan memilih untuk bertobat kembali kepada Tuhan. Tuhan kemudian mengatakan kepada Yeremia: "Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!" (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Tuhan yang telah menjanjikan segala yang indah bagi mereka. Jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka, sebaliknya hendaknya pohon badam lah yang akan menjadi bagian atas mereka.
Kitab Yeremia di satu sisi berbicara banyak tentang penghukuman, tapi di sisi lain kita mendapatkan banyak pula janji Tuhan akan pengampunan bahkan ikatan janji baru dengan Tuhan yang sungguh indah di masa depan. (31:31-34). Sesungguhnya akan selalu ada hukuman bagi siapapun yang berbuat kejahatan bagi Tuhan, namun sebaliknya ada kehidupan baru, pengampunan penuh bagi siapapun yang berbalik dari segala jalan yang sesat untuk kembali kepadaNya.
Umat Tuhan yang benar seharusnya punya karakter seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Ini menggambarkan keharusan kita untuk tetap berjaga-jaga, tidak boleh lalai atau lengah dalam segala situasi maupun kondisi. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjebak kita. Jatuh bangun itu wajar, sekali waktu kita mungkin akan terperosok melakukan kesalahan. Tapi janganlah kita lalai dan terus terlena dalam dosa, melainkan segera bertobat, berbalik dari jalan yang salah dan segera kembali mencari Tuhan, masuk ke hadiratNya membawa diri kita yang dipenuhi pertobatan sebagai persembahan yang harum bagiNya. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus senantiasa berjaga-jaga. Yesus mengingatkan kita berkali-kali akan hal ini. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." (Matius 24:42) dan "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (25:13). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim, termasuk pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua diinginkan Tuhan. Kita harus mampu bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun, tetap tekun berjaga-jaga setiap waktu agar segala yang Dia janjikan tidak sampai lepas dari genggaman kita.
Miliki karakter seperti pohon badam agar periuk mendidih tidak jatuh atas kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=====================
"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam."
Ada banyak orang yang merasa masih terlalu muda untuk hidup berjaga-jaga. Mereka menganggap bahwa belum saatnya untuk hidup kudus, karena berpikir bahwa mereka masih punya banyak waktu untuk itu. Selagi masih muda, waktu yang ada sebaiknya dipakai untuk bersenang-senang sepuasnya. Urusan hidup kudus adalah urusan orang dewasa atau tua saja. Mereka lupa bahwa sesungguhnya tidak ada yang tahu kapan waktu kita tiba. Syukur kalau bisa puluhan tahun lagi. Bagaimana jika tinggal setahun lagi atau malah sebentar lagi? Itu adalah rahasia Tuhan yang tidak akan pernah bisa kita ketahui dengan pasti. Saya salut melihat anak-anak muda yang sudah rajin melayani di usia remaja. Mereka penuh semangat bahkan aktif dalam berbagai kegiatan, memakai segala kreativitas mereka untuk memuliakan Tuhan pada usia yang masih belia. Tinggal di kota besar yang punya banyak godaan sama sekali tidak membuat mereka lemah. Ini adalah sebuah contoh yang sangat baik tentang mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya tanpa memandang usia saat ini. Seperti yang sudah saya janjikan dalam renungan sebelumnya, kali lini kita akan secara khusus membahas penglihatan Yeremia yaitu sebatang dahan pohon badam. Gambar yang saya pajang hari ini adalah gambar dari sebatang dahan pohon badam yang sedang berbunga. Mungkin seperti itulah bentuk penglihatan Yeremia saat itu. "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (Yeremia 1:11). Apa yang ia lihat jelas merupakan visi yang diberitahukan Tuhan kepadanya, dan ia menangkapnya dengan benar, sebab Tuhan membenarkan apa yang ia lihat. (ay 12). Seperti apa pohon badam itu? Pohon badam (almond tree) adalah pohon yang mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan di musim salju, ketika pohon-pohon lain pada umumnya meranggas, pohon badam mampu terus berbunga dengan indahnya. Pohon badam ini juga sering disebut sebagai pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih "tidur" disaat musim salju di luar sana.
Badam adalah bahasa Ibrani yang jika diterjemahkan berarti "yang berjaga", "yang bangun" atau "yang menonton". Tentu asal nama ini pada mulanya diambil dari sifat atau karakter pohon ini yang seolah-olah tetap berjaga dan mampu berbunga di musim apapun seperti yang disebutkan diatas. Dalam kitab Bilangan kita mendapati kisah ketika tongkat Harun bertunas dan mengeluarkan bunga bahkan buah badam. (Bilangan 17:8). Ini berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Bagi anak-anak Tuhan, hidup ditengah keduniawian yang "mati" secara rohani bukan berarti bahwa kita harus ikut-ikutan mati, tapi kita harus seperti pohon badam yang mampu tetap bertunas, berbunga bahkan berbuah. Disamping itu jika kita mengalami kekeringan rohani dan kehilangan kasih mula-mula kemudian kehilangan damai sukacita atau mengalami banyak "kematian" dalam kehidupan kita, baik dalam pekerjaan, pendidikan, keluarga, pelayanan dan sebagainya, kita bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali masuk ke dalam hadirat Tuhan lewat pertobatan sungguh-sungguh.
Semua gambaran di atas menjelaskan mengapa Yeremia melihat dahan pohon badam. Pada masa itu kejahatan dari umat Tuhan terlihat bagitu nyata. Itu mengarah pada visi kedua dari Yeremia adalah periuk mendidih yang datang dari utara (ay 13), yang menggambarkan akan datangnya malapetaka menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara (ay 14-15). Ini merupakan hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda. "Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri." (ay 16). Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih, namun di sisi lain, 'dahan pohon badam' tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap berjaga-jaga, tidak ikut-ikutan melakukan kejahatan dan memilih untuk bertobat kembali kepada Tuhan. Tuhan kemudian mengatakan kepada Yeremia: "Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!" (ay 17). Inilah tugas Yeremia, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Tuhan yang telah menjanjikan segala yang indah bagi mereka. Jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka, sebaliknya hendaknya pohon badam lah yang akan menjadi bagian atas mereka.
Kitab Yeremia di satu sisi berbicara banyak tentang penghukuman, tapi di sisi lain kita mendapatkan banyak pula janji Tuhan akan pengampunan bahkan ikatan janji baru dengan Tuhan yang sungguh indah di masa depan. (31:31-34). Sesungguhnya akan selalu ada hukuman bagi siapapun yang berbuat kejahatan bagi Tuhan, namun sebaliknya ada kehidupan baru, pengampunan penuh bagi siapapun yang berbalik dari segala jalan yang sesat untuk kembali kepadaNya.
Umat Tuhan yang benar seharusnya punya karakter seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak mendukungpun tetap bisa mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Ini menggambarkan keharusan kita untuk tetap berjaga-jaga, tidak boleh lalai atau lengah dalam segala situasi maupun kondisi. Memang tidak mudah bagi kita, karena setiap saat ada banyak godaan yang siap menjebak kita. Jatuh bangun itu wajar, sekali waktu kita mungkin akan terperosok melakukan kesalahan. Tapi janganlah kita lalai dan terus terlena dalam dosa, melainkan segera bertobat, berbalik dari jalan yang salah dan segera kembali mencari Tuhan, masuk ke hadiratNya membawa diri kita yang dipenuhi pertobatan sebagai persembahan yang harum bagiNya. Tidak ada yang tahu berapa lama lagi kesempatan untuk bertobat dan membersihkan diri dari segala noda dosa itu ada bagi kita. Untuk itulah kita harus senantiasa berjaga-jaga. Yesus mengingatkan kita berkali-kali akan hal ini. "Karena itu berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang." (Matius 24:42) dan "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya." (25:13). Seperti halnya pohon badam yang terus mampu bertahan bahkan berbunga, berbuah dalam keempat musim, termasuk pada musim yang bagi sebagian besar tumbuhan lainnya akan sangat sulit untuk sekedar bertahan, demikianlah kita semua diinginkan Tuhan. Kita harus mampu bertunas, berbunga dan berbuah dalam kondisi seperti apapun, tetap tekun berjaga-jaga setiap waktu agar segala yang Dia janjikan tidak sampai lepas dari genggaman kita.
Miliki karakter seperti pohon badam agar periuk mendidih tidak jatuh atas kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, November 2, 2012
What Do You See? (2)
(sambungan)
Ini semua sangat penting untuk dicermati oleh orang percaya, terlebih oleh para pemimpin termasuk di dalamnya para gembala. Sebagai pemimpin tentunya harus tahu apa yang menjadi visi dalam menggembalakan jemaat seperti yang Tuhan mau. Visi yang jelas yang berasal dari Tuhan harus dimiliki oleh para pemimpin agar pelayanannya sejalan dengan apa yang dikehendaki Tuhan dan bukan atas kehendak sendiri. Tanpa itu, semua akan jalan di tempat, melenceng dari tujuan dan akhirnya mengarah pada kegagalan.Kita semua telah dibekali kreativitas dan kemampuan daya pikir, tenaga, kepandaian dan berbagai talenta lainnya, itu benar. Tapi semua itu hanya akan maksimal jika dipakai untuk melakukan apa yang sesuai dengan visi Tuhan.
Dalam kitab Yeremia Tuhan pun mengingatkan kriteria gembala yang baik. "Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian." (Yeremia 3:15). Dari sini kita bisa melihat bahwa gembala yang akan berhasil adalah gembala yang:
(1). Sesuai dengan hati Tuhan,
(2). Memiliki Pengetahuan, dan
(3). Memiliki pengertian/hikmat.
Ini 3 kriteria penting untuk bisa tampil menjadi pemimpin yang baik, yang tepat seperti apa yang Tuhan mau. Lihatlah poin pertama, bahwa pemimpin harus merupakan orang yang sesuai dengan hati Tuhan. Itu artinya para pemimpin perlu untuk selalu mencari tahu isi hati Tuhan sehingga bisa memimpin dengan visi yang jelas yang berasal dari Tuhan. Di sisi lain Tuhan pun mengingatkan mengenai para pemimpin yang akan gagal. "Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai." (10:21). Gembala akan gagal, dan dikatakan menjadi bodoh apabila mereka tidak mendasari segala perencanaan atau konsep penggembalaannya seperti apa kata Tuhan. Pemimpin yang gagal adalah pemimpin yang tidak menanyakan petunjuk Tuhan, sedang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengetahui visi jelas sesuai hati Tuhan.
Jika anda merupakan pemimpin, baik di gereja, dalam persekutuan, bagi anak-anak muda, pemimpin pujian dan sebagainya, ingatlah bahwa anda ditempatkan Tuhan sebagai wakilnya untuk menggembalakan jemaat seturut visi Tuhan. Karenanya dasarkanlah segala keputusan dan konsep-konsep menurut apa yang digambarkan Tuhan. Untuk mengetahui itu, tidak ada jalan lain selain rajin berdoa dan bertanya kepada Tuhan, peka terhadap suaraNya dan terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan sepenuhnya. Para pemimpin wajib tahu apa yang Tuhan mau dalam hidup dan panggilan pelayanannya, dan dari situlah para pemimpin bisa membuat misi, rencana dan strategi untuk diikuti jemaatnya. Secara umum kepada yang bukan pemimpin, hal yang sama berlaku, karena kita hanya akan berhasil dengan gemilang jika kita menjalankan apa yang telah Tuhan rencanakan bagi setiap kita sejak awal. Apabila saat ini Tuhan bertanya kepada kita, "apa yang kau lihat..", sudahkah kita bisa menjawabnya?
Miliki visi yang jelas dari Tuhan agar apa yang kita perbuat mencapai hasil gemilang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Ini semua sangat penting untuk dicermati oleh orang percaya, terlebih oleh para pemimpin termasuk di dalamnya para gembala. Sebagai pemimpin tentunya harus tahu apa yang menjadi visi dalam menggembalakan jemaat seperti yang Tuhan mau. Visi yang jelas yang berasal dari Tuhan harus dimiliki oleh para pemimpin agar pelayanannya sejalan dengan apa yang dikehendaki Tuhan dan bukan atas kehendak sendiri. Tanpa itu, semua akan jalan di tempat, melenceng dari tujuan dan akhirnya mengarah pada kegagalan.Kita semua telah dibekali kreativitas dan kemampuan daya pikir, tenaga, kepandaian dan berbagai talenta lainnya, itu benar. Tapi semua itu hanya akan maksimal jika dipakai untuk melakukan apa yang sesuai dengan visi Tuhan.
Dalam kitab Yeremia Tuhan pun mengingatkan kriteria gembala yang baik. "Aku akan mengangkat bagimu gembala-gembala yang sesuai dengan hati-Ku; mereka akan menggembalakan kamu dengan pengetahuan dan pengertian." (Yeremia 3:15). Dari sini kita bisa melihat bahwa gembala yang akan berhasil adalah gembala yang:
(1). Sesuai dengan hati Tuhan,
(2). Memiliki Pengetahuan, dan
(3). Memiliki pengertian/hikmat.
Ini 3 kriteria penting untuk bisa tampil menjadi pemimpin yang baik, yang tepat seperti apa yang Tuhan mau. Lihatlah poin pertama, bahwa pemimpin harus merupakan orang yang sesuai dengan hati Tuhan. Itu artinya para pemimpin perlu untuk selalu mencari tahu isi hati Tuhan sehingga bisa memimpin dengan visi yang jelas yang berasal dari Tuhan. Di sisi lain Tuhan pun mengingatkan mengenai para pemimpin yang akan gagal. "Sungguh, gembala-gembala sudah menjadi bodoh, mereka tidak menanyakan petunjuk TUHAN. Sebab itu mereka tidak berbahagia dan seluruh binatang gembalaan mereka cerai-berai." (10:21). Gembala akan gagal, dan dikatakan menjadi bodoh apabila mereka tidak mendasari segala perencanaan atau konsep penggembalaannya seperti apa kata Tuhan. Pemimpin yang gagal adalah pemimpin yang tidak menanyakan petunjuk Tuhan, sedang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mengetahui visi jelas sesuai hati Tuhan.
Jika anda merupakan pemimpin, baik di gereja, dalam persekutuan, bagi anak-anak muda, pemimpin pujian dan sebagainya, ingatlah bahwa anda ditempatkan Tuhan sebagai wakilnya untuk menggembalakan jemaat seturut visi Tuhan. Karenanya dasarkanlah segala keputusan dan konsep-konsep menurut apa yang digambarkan Tuhan. Untuk mengetahui itu, tidak ada jalan lain selain rajin berdoa dan bertanya kepada Tuhan, peka terhadap suaraNya dan terus mengarahkan pandangan kepada Tuhan sepenuhnya. Para pemimpin wajib tahu apa yang Tuhan mau dalam hidup dan panggilan pelayanannya, dan dari situlah para pemimpin bisa membuat misi, rencana dan strategi untuk diikuti jemaatnya. Secara umum kepada yang bukan pemimpin, hal yang sama berlaku, karena kita hanya akan berhasil dengan gemilang jika kita menjalankan apa yang telah Tuhan rencanakan bagi setiap kita sejak awal. Apabila saat ini Tuhan bertanya kepada kita, "apa yang kau lihat..", sudahkah kita bisa menjawabnya?
Miliki visi yang jelas dari Tuhan agar apa yang kita perbuat mencapai hasil gemilang
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, November 1, 2012
What Do You See? (1)
Ayat bacaan: Yeremia 1:11a
=====================
"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?"
Mata akan melihat lurus ke arah mana kita menoleh. Kalau kita mengarahkan mata ke depan, maka apa yang didepan kitalah yang kita lihat. Demikian juga kalau melihat ke samping, belakang, ke bawah atau ke atas. Mata kita didesain seperti itu, bukan seperti ikan yang letaknya disamping. Seperti itu pula mata rohani kita. Kita sering diliputi kebimbangan dalam hidup. Kita terbiasa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dan mengandalkan logika kita yang padahal terbatas ini untuk menilai segala sesuatu ketimbang bertanya kepada Tuhan dan mengaktifkan kepekaan terhadap suaraNya. Tidaklah mengherankan ketika kita mendapatkan pesan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu, yang mungkin secara logika kita terlihat diluar kemampuan kita, kitapun serta merta merasa ragu untuk melakukannya. Kita lupa bahwa Tuhan mampu melakukan segalanya, dan jika Tuhan berkehendak, Dia sendiri pula yang akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang ada dalam rencanaNya. Lalu kemudian kita pun akan terlalu sibuk tenggelam dalam keraguan kita dan lupa bertanya kepada Tuhan. Kita tentu sudah cukup paham bahwa rencana atau rancangan Tuhan itu selalu yang terbaik. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terbaik kalau kita tidak bertanya kepadaNya atau mencari tahu apa yang menjadi rencanaNya buat kita?
Dari pengalaman Yeremia kita bisa belajar akan hal itu. Di awal kisah Yeremia kita akan melihat bagaimana firman Tuhan datang kepadanya. Yeremia sejak semula sudah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, dan kini waktunya tiba. (Yeremia 1:4-5). Maka ia pun kaget mendengar hal itu. Dia langsung menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (ay 6). Yeremia langsung mengukur kemampuannya menurut diri sendiri dalam memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan pun kemudian mengingatkan Yeremia. "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 7-8). Dari sini kita pun melihat sebuah ayat yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (ay 11). Dan Tuhan pun membenarkan penglihatan Yeremia. Untuk kali ini saya akan fokus kepada bentuk pertanyaan terlebih dahulu, selanjutnya saya akan membahas makna dari dahan pohon badam yang ia lihat.
Apa yang Tuhan tanyakan kepada Yeremia adalah apa yang dilihatnya. God asked him, what's your vision, what do you see? Seperti itulah bunyi pertanyaan Tuhan kepada Yeremia. Tuhan sering mempertanyakan hal yang sama pula kepada kita. Apa yang kita lihat? Kemanakah kita mengarahkan pandangan mata rohani kita saat ini? Apakah kepada Tuhan dan rencanaNya yang indah buat kita atau kepada masalah demi masalah yang sepertinya sulit untuk diatasi? Sudahkah kita mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Apa panggilan kita yang diberikan Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kita, yang tidak akan mampu kita jawab jika kita tidak rajin bertanya langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita, memiliki kepekaan yang cukup untuk mendengar suaraNya atau apakah kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan atau tidak.
Adalah wajib bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi garis rencana Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Mengetahui apa panggilanNya, apa yang telah Dia rencanakan sejak awal kepada diri kita. Kenapa? Tidak lain karena apa yang telah Dia rencanakan jelas merupakan yang terbaik bagi diri kita. "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (29:11). Kita bisa saja berusaha membenarkan atau mengambil keputusan hanya dengan mengandalkan pikiran, logika dan kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau juga mengandalkan orang lain namun semua itu bukanlah yang terbaik jika tidak sejalan dengan apa yang telah Dia gariskan sejak semula. Mencari dan menemukan panggilanNya adalah yang terbaik. Mengarahkan pandangan kepadaNya itulah yang tepat, karena dengan berjalan seturut rencanaNya kita pun akan mengalami penyertaan Tuhan dan menerima semua yang baik yang telah Dia persiapkan buat kita.
(bersambung)
=====================
"Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?"
Mata akan melihat lurus ke arah mana kita menoleh. Kalau kita mengarahkan mata ke depan, maka apa yang didepan kitalah yang kita lihat. Demikian juga kalau melihat ke samping, belakang, ke bawah atau ke atas. Mata kita didesain seperti itu, bukan seperti ikan yang letaknya disamping. Seperti itu pula mata rohani kita. Kita sering diliputi kebimbangan dalam hidup. Kita terbiasa mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk melakukan sesuatu, dan mengandalkan logika kita yang padahal terbatas ini untuk menilai segala sesuatu ketimbang bertanya kepada Tuhan dan mengaktifkan kepekaan terhadap suaraNya. Tidaklah mengherankan ketika kita mendapatkan pesan dari Tuhan untuk melakukan sesuatu, yang mungkin secara logika kita terlihat diluar kemampuan kita, kitapun serta merta merasa ragu untuk melakukannya. Kita lupa bahwa Tuhan mampu melakukan segalanya, dan jika Tuhan berkehendak, Dia sendiri pula yang akan mempersiapkan segala sesuatunya, termasuk mempersiapkan kita untuk melakukan segala sesuatu yang ada dalam rencanaNya. Lalu kemudian kita pun akan terlalu sibuk tenggelam dalam keraguan kita dan lupa bertanya kepada Tuhan. Kita tentu sudah cukup paham bahwa rencana atau rancangan Tuhan itu selalu yang terbaik. Bagaimana kita bisa tahu apa yang terbaik kalau kita tidak bertanya kepadaNya atau mencari tahu apa yang menjadi rencanaNya buat kita?Dari pengalaman Yeremia kita bisa belajar akan hal itu. Di awal kisah Yeremia kita akan melihat bagaimana firman Tuhan datang kepadanya. Yeremia sejak semula sudah ditetapkan menjadi nabi bagi bangsa-bangsa, dan kini waktunya tiba. (Yeremia 1:4-5). Maka ia pun kaget mendengar hal itu. Dia langsung menjawab: "Ah, Tuhan ALLAH! Sesungguhnya aku tidak pandai berbicara, sebab aku ini masih muda." (ay 6). Yeremia langsung mengukur kemampuannya menurut diri sendiri dalam memenuhi panggilan Tuhan. Tuhan pun kemudian mengingatkan Yeremia. "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 7-8). Dari sini kita pun melihat sebuah ayat yang saya ambil menjadi ayat bacaan hari ini. "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (ay 11). Dan Tuhan pun membenarkan penglihatan Yeremia. Untuk kali ini saya akan fokus kepada bentuk pertanyaan terlebih dahulu, selanjutnya saya akan membahas makna dari dahan pohon badam yang ia lihat.
Apa yang Tuhan tanyakan kepada Yeremia adalah apa yang dilihatnya. God asked him, what's your vision, what do you see? Seperti itulah bunyi pertanyaan Tuhan kepada Yeremia. Tuhan sering mempertanyakan hal yang sama pula kepada kita. Apa yang kita lihat? Kemanakah kita mengarahkan pandangan mata rohani kita saat ini? Apakah kepada Tuhan dan rencanaNya yang indah buat kita atau kepada masalah demi masalah yang sepertinya sulit untuk diatasi? Sudahkah kita mengetahui apa yang Tuhan mau dalam hidup kita? Apa panggilan kita yang diberikan Tuhan? Ini pertanyaan-pertanyaan yang penting bagi kita, yang tidak akan mampu kita jawab jika kita tidak rajin bertanya langsung kepada Tuhan lewat doa-doa kita, memiliki kepekaan yang cukup untuk mendengar suaraNya atau apakah kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan atau tidak.
Adalah wajib bagi kita untuk mengetahui apa yang menjadi garis rencana Tuhan dalam hidup kita masing-masing. Mengetahui apa panggilanNya, apa yang telah Dia rencanakan sejak awal kepada diri kita. Kenapa? Tidak lain karena apa yang telah Dia rencanakan jelas merupakan yang terbaik bagi diri kita. "Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan." (29:11). Kita bisa saja berusaha membenarkan atau mengambil keputusan hanya dengan mengandalkan pikiran, logika dan kekuatan atau kemampuan kita sendiri, atau juga mengandalkan orang lain namun semua itu bukanlah yang terbaik jika tidak sejalan dengan apa yang telah Dia gariskan sejak semula. Mencari dan menemukan panggilanNya adalah yang terbaik. Mengarahkan pandangan kepadaNya itulah yang tepat, karena dengan berjalan seturut rencanaNya kita pun akan mengalami penyertaan Tuhan dan menerima semua yang baik yang telah Dia persiapkan buat kita.
(bersambung)
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...