Tuesday, August 7, 2012

Sombong Rohani

Ayat bacaan: Yohanes 8:7
=====================
"Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Menjadi seperti Yesus, itu impian semua orang percaya. Dan kitapun belajar untuk terus semakin mendekati gambaran Yesus. Kita berlatih untuk tekun, membiasakan diri untuk disiplin dalam bersaat teduh, mendalami Firman Tuhan, berdoa, beribadah ke gereja dan sebagainya. Kita masuk ke dalam persekutuan-persekutuan dan disana kita bertemu dengan teman-teman seiman yang saling dukung, saling mengingatkan dan saling bantu. Itu tentu baik. Amat baik malah. Tapi jika tidak hati-hati, ada roh kesombongan yang akan siap membuat kita berpikir bahwa kita paling kudus, paling suci atau paling rohani. Kalau sudah begitu, kita pun mulai tergoda untuk menghakimi orang lain. Kita mudah menilai orang lain berdosa bahkan menghujat dan menuduh. Seorang teman akhirnya memilih untuk meninggalkan gerejanya karena terus digunjingkan sesama jemaat. Alangkah ironisnya ketika kita bukannya menjadi terang tetapi malah menjadi batu sandungan. Bukannya merangkul, tapi malah membuang. Memakai atribut rohani lalu pergi kesana kemari menghakimi orang lain, bahkan lewat jalan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan dalam perilaku seperti itu. Itu kita saksikan setiap saat di dunia ini bukan? Sebagai anak Tuhan, kita sama sekali tidak boleh melakukan hal itu. Berproses untuk terus menjaga kekudusan dan menjadi seperti Yesus harus pula diikuti oleh sikap mengasihi dan rendah hati. Karena kalau tidak, roh kesombongan akan siap membuat kita menjadi orang-orang yang merasa berhak untuk berperan bagai Tuhan. Salah-salah, kita bisa terjebak untuk menjadi sombong secara rohani.

Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan berzinah yang berhadapan dengan sekelompok orang yang siap merajamnya dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Pada saat itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Itu masih dilakukan oleh sebagian orang hingga hari ini. Tapi lihatlah apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Untunglah pada waktu itu para ahli Taurat dan orang Farisi masih mau berpikir jernih. Ini masih lebih baik ketimbang sebagian kelompok di negara kita hari ini yang tidak lagi bisa berpikir dan malah semakin beringas atau brutal. Kembali kepada kisah tadi, akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa kita sebagai manusia berani-beraninya mengaku paling suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Kita seharusnya merangkul mereka dan membawa mereka untuk mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19).

Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan anak-anakNya. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Benar Tuhan membenci dosa, tapi Tuhan tidak membenci orang berdosa. Justru Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, agar mereka bisa selamat dan terlepas dari jerat kebinasaan. Yesus mengatakannya begini: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12, Lukas 5:31). Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Hindari bersikap sombong secara rohani, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Itu bukanlah cerminan dari orang-orang benar seperti yang diinginkan Tuhan. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Di sisi lain, bagi mereka yang merasa kecewa karena dianggap berdosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu "ya" dan "amin". Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk anda. Jika memang ada di antara teman yang mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah anda mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri anda kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih ada orang-orang yang akan dengan tulus membimbing anda untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Itu janji Tuhan. Karena itu segeralah bertobat kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi. Miliki hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri anda. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada anda pun Dia bersedia!

Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali kepada jiwa-jiwa yang haus pertolongan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, August 6, 2012

Belajar dari Sejarah

Ayat bacaan: Mazmur 77:12-13
=========================
"Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu."

Sepenting apakah sejarah itu bagi kita? Ada banyak siswa yang tidak suka pada pelajaran sejarah, tapi bagi saya sejarah itu sesungguhnya sangatlah penting. Saya selalu suka belajar dari literatur-literatur sejarah terutama di dunia musik yang menjadi profesi saya. Dari literatur manapun saya menganggap sejarah sebagai jendela untuk melihat segala sesuatu yang menjadi pengalaman orang lain, baik atau buruk. Dan itu bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan ke depan. Bukan saja dari pengalaman orang lain, tapi kita pun sebenarnya bisa belajar dari masa lalu kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana sampai kesuksesan itu hadir pada kita dahulu, atau jika dari kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup kita, setidaknya kita bisa belajar agar tidak jatuh lagi ke lubang yang sama dan tahu harus bagaimana untuk lebih baik.

Menghadapi hidup yang penuh tantangan ini suka atau tidak suka kita harus banyak belajar dari para pendahulu kita dan hal-hal yang telah mereka alami. Benar, kita memang harus selalu menatap ke depan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu yang berpotensi untuk menghambat langkah kita. Tapi di sisi lain sungguh penting pula untuk belajar dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Misalnya Ketika kita berada dalam kesesakan dan merasa bahwa Tuhan seolah-olah seperti meninggalkan kita sendirian menghadapi semuanya, kita bisa menoleh sejenak ke belakang untuk melihat bahwa ada begitu banyak kemuliaan Tuhan Dia nyatakan dalam berbagai kesempatan. Mukjizat-mukjizatNya yang ajaib, berkat-berkatNya, penyertaanNya yang begitu setia, kasihNya yang luar biasa yang ternyata mampu membuat sesuatu yang besar, semua itu tercatat dengan jelas dalam Alkitab. Tidak saja berhenti sampai disitu, tapi sesungguhnya kuasa  Tuhan masih pula berlangsung hingga hari ini, dan itu semua nyata adanya.

Pemazmur menyadari pentingnya melihat kembali bagaimana kuasa Tuhan mampu membawa perbedaan yang luar biasa dari pendahulunya. "Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu." (Mazmur 77:1-13). Pemazmur mengambil waktu sejenak untuk mengenang kembali bagaimana keajaiban-keajaiban yang pernah di lakukan Tuhan sebelumnya, bagaimana Tuhan menyatakan kuasa dan kemuliaanNya turun atas manusia. Setelah merenungkan segala kebaikan Tuhan, pemazmur pun berseru: "Ya Allah, jalan-Mu adalah kudus! Allah manakah yang begitu besar seperti Allah kami?" (ay 14). Inilah fokus yang seharusnya kita ambil dalam menjalani hidup termasuk berbagai kesulitan yang menghampiri kita di dalamnya. Jika kita fokus hanya kepada penderitaan kita saja maka kita akan segera kehilangan sukacita, bahkan iman kita pun akan merosot drastis. Daripada seperti itu, alangkah baiknya apabila kita kembali mengingat-ingat segala sesuatu yang telah Tuhan lakukan kepada begitu banyak orang di masa lalu. Jika dulu Tuhan bisa melakukannya, maka hari ini pun Tuhan bisa, karena Tuhan tidak pernah berubah, baik dahulu, sekarang maupun selamanya. (Ibrani 13:8)

Seluruh isi Alkitab mencatat bagaimana perbuatan-perbuatan Tuhan yang telah nyata tertulis di dalamnya. Disana kita bisa melihat kisah begitu banyak tokoh dalam mengalami kuasa Tuhan. Paulus mengingatkan bahwa ada masa-masa dimana penderitaan akan menghampiri kita, bahkan aniaya sekalipun. Orang jahat akan semakin jahat dan saling menyesatkan. Menghadapi itu semua, hendaklah kita tidak menjadi kehilangan harapan dan patah semangat. Kita diingatkan untuk terus berpegang kepada kebenaran, dan selalu mengingat orang yang telah mengajarkannya kepada kita. (2 Timotius 3:14). "Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci yang dapat memberi hikmat kepadamu dan menuntun engkau kepada keselamatan oleh iman kepada Kristus Yesus." (ay 15). Paulus juga menekankan bahwa "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (ay 16). Ini sungguh penting. Dengan memahami ini, kita bisa memperlengkapi diri kita untuk hidup tegar menghadapi kesulitan tanpa harus kehilangan iman kita. Pesan yang sama diberikan Paulus pula kepada jemaat Roma. "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Alkitab berisi begitu banyak hal yang dapat kita jadikan tuntunan bagaimana kita harus berlaku ketika kita menghadapi sesuatu. Kita bisa mendapatkan berbagai tips dan peringatan agar tetap hidup sesuai kehendak Tuhan. Disana kita bisa mendapat penghiburan yang meneguhkan. Kita bisa belajar dari begitu banyak pergumulan tokoh-tokoh di dalamnya, dimana sebagian besar pergumulan itu kita alami juga hari ini. Para nabi dan tokoh-tokoh Alkitab kita bisa belajar lewat bagaimana mereka menyikapi situasi sulit tersebut hingga akhirnya kemuliaan Tuhan hadir dalam diri mereka, melepaskan mereka dan memberi mereka kemenangan. Ada pula tokoh-tokoh yang akhirnya gagal, dan kita pun bisa belajar mengapa mereka akhirnya gagal. Semua itu bisa kita jadikan pelajaran berharga, menjadi bekal yang sempurna dan lengkap untuk menata hidup kita dalam terus melangkah.

Berhentilah terbenam dalam keputus asaan. Bangkitlah dan ingatlah bahwa ada banyak hal yang bisa kita dapatkan dari pengalaman-pengalaman para tokoh di Alkitab bersama Tuhan di masa lalu. Pergulatan dan turun naiknya iman banyak tokoh jelas dituliskan dalam Alkitab dan itu akan sangat baik untuk kita jadikan pelajaran. Jika mereka bisa mengalaminya, kenapa kita tidak? Tuhan tetap sama, dulu sekarang dan sampai selamanya. Selain itu kita bisa belajar dari apa yang pernah kita alami sendiri, lewat pengalaman orang tua kita, orang-orang terdekat atau kesaksian-kesaksian banyak orang yang mengalami mukjizat Tuhan di masa kini. Jika kita mau membuka mata untuk melihat semua ini, kita pun akan tahu bahwa Tuhan mampu melakukan segala sesuatu bahkan yang paling mustahil sekalipun. Pada akhirnya kita akan sampai pada kesimpulan yang sama dengan pemazmur ketika ia mengatakan "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:1). Tidak akan pernah sia-sia untuk mengandalkan Tuhan. Ketika kita sedang mengalami pergumulan, mari kita ingat kembali bagaimana Tuhan melakukan mukjizat-mukjizatNya di waktu lampau, dan marilah bersyukur sebab Tuhan yang kita sembah saat ini adalah Tuhan yang sama, baik kuasaNya, kasih setiaNya maupun kasihNya.

Belajarlah dari sejarah masa lalu untuk menatap masa depan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, August 5, 2012

Fungsi Pria sebagai Ayah dan Kepala Rumah Tangga

Ayat bacaan: Keluaran 12:42
=======================
"Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN."

"Saya sudah berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga, terutama anak-anak saya... apa lagi yang kurang?" kata seseorang yang sedih melihat rumah tangganya porak poranda. Bekerja keras demi kebutuhan keluarga tentu sangat baik, karena ada banyak ayah yang melupakan fungsi penting ini, dan saya pun mengenal beberapa orang seperti itu. Tapi adalah keliru jika para pria terutama yang sudah menikah mengira bahwa tugas pria hanyalah mencari nafkah sedang urusan rumah cukup diserahkan kepada istri atau ibu dari anak-anak. Fakta berbicara bahwa ada banyak kehancuran keluarga diawali dari hilangnya fungsi ayah di dalamnya. Ketika seorang ayah tidak lagi berfungsi sebagai kepala keluarga, tidak lagi mempedulikan istri dan anak-anaknya, ketika seorang ayah terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan karirnya, atau malah terjerumus dalam dosa, maka tiang penyangga keluarga pun goyah. Itu sama saja seperti pilar-pilar gedung yang goyah, sehingga gedungnya akan berada dalam kondisi berbahaya dan bisa runtuh sewaktu-waktu. Kondisi rumah tangga yang retak atau hancur alias broken home akan memicu anak-anak untuk mengalami kehancuran masa depan mereka. Banyak diantara korban obat-obat terlarang ternyata berasal dari keluarga yang hancur. Anak perempuan remaja banyak yang jatuh ke tangan pria hidung belang karena mereka rindu belaian kasih, pujian dan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan dari ayah mereka. Saya pun sudah bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban seperti ini. Tidak mudah memang peran seorang ayah. Disamping tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, mereka juga diserahi tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangganya, menjadi tulang punggung dan tiang yang menentukan kokoh tidaknya sebuah keluarga berdiri di atasnya dan tentu saja menjadi imam dalam keluarganya. Berat, tapi itulah garis fungsi ayah yang akan membawa perbedaan nyata dalam keharmonisan bahkan keselamatan keluarganya.

Kita bisa melihat sebuah contoh lewat Tuhan sendiri yang tercatat dalam Alkitab. Setelah menetap di Mesir sebagai budak selama sekitar 430 tahun, akhirnya tibalah masa bagi mereka untuk keluar dari Mesir dan menuju tanah terjanji. Meski Musa dan Harun yang bertindak sebagai pemimpin dalam perjalanan mereka keluar dari perbudakan di tanah Mesir pada waktu itu, tapi dari kitab Keluaran kita bisa melihat bahwa semua itu sesungguhnya langsung dipimpin oleh Tuhan sendiri. Ayat bacaan kita hari ini berbicara jelas mengenai bagaimana hebatnya penyertaan Tuhan atas umatNya. "Malam itulah malam berjaga-jaga bagi TUHAN, untuk membawa mereka keluar dari tanah Mesir. Dan itulah juga malam berjaga-jaga bagi semua orang Israel, turun-temurun, untuk kemuliaan TUHAN." (Keluaran 12:42). Tuhan sendiri yang berjaga-jaga atas mereka! Ini sebuah gambaran yang bisa kita jadikan pedoman dalam memahami fungsi bapa/ayah atau kepala rumah tangga. Seperti halnya Bapa kita di Surga yang menjalankan fungsiNya sebagai Bapa dari umatNya, seperti itu pula seharusnya kita, para pria, suami dari istri dan ayah dari anak-anak kita untuk menjalankan peran dengan baik.

Paulus memberikan gambaran posisi seorang ayah/suami digambarkan dalam suratnya kepada jemaat Korintus. "Tetapi aku mau, supaya kamu mengetahui hal ini, yaitu Kepala dari tiap-tiap laki-laki ialah Kristus, kepala dari perempuan ialah laki-laki dan Kepala dari Kristus ialah Allah." (1 Korintus 11:3). Kristus adalah kepala atas umatNya, dan pria adalah kepala atas keluarganya. Para pria, perhatikanlah bahwa kata "berjaga-jaga" dalam hubungannya sebagai kepala berbicara mengenai keharusan kita untuk mengawasi dan melindungi keluarga kita dari apapun yang dapat menimbulkan potensi untuk menghancurkan hidup istri dan anak-anak kita. Kita harus tetap waspada, karena iblis tidak akan pernah berhenti mencari mangsa. Iblis akan selalu siap menelan siapapun yang dapat ditelannya. "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Oleh karena itu para ayah haruslah selalu sadar dan berjaga-jaga, melindungi keluarganya agar tidak rapuh dan berpotensi untuk disesatkan. Tuhan telah menempatkan anda dan saya, para pria sebagai kepala atas keluarga kita. Dia telah menitipkan seorang istri dan anak-anak ke dalam tangan kita lewat ikatan pernikahan yang langsung dimateraikan oleh Tuhan sendiri. Karena itu para suami/ayah haruslah bertanggung jawab dengan menjaga baik-baik apa yang telah dititipkan Tuhan kepada mereka. Berjaga-jagalah atas istri dan anak-anak kita. Berperanlah sebagai kepala keluarga yang bijaksana dan mengasihi keluarga, memberi waktu yang cukup bagi mereka, senantiasa berdoa dan menjadi imam bagi mereka, selalu memperlengkapi mereka semua dengan senjata rohani, dan mengawasi keadaan kerohanian mereka dari waktu ke waktu. Bukan hanya secara teoritis, tapi terutama dengan menjadi teladan bagi mereka lewat sikap, tingkah laku dan perbuatan kita. Jangan beri peluang kepada iblis, walau sekecil apapun. Jangan tunda lagi. Segeralah berjaga-jaga atas istri dan anak-anak kita, perkokohlah keluarga sebelum iblis menyentuh mereka atau malah anda terlebih dahulu.

Hai ayah dan kepala rumah tangga, berjaga-jagalah setiap waktu agar keluarga anda tetap terlindungi dan bahagia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, August 4, 2012

Pelangi dan Kebaikan Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

Ketika saya kecil saya sangat suka melihat pelangi. Untaian rangkaian warna yang indah melengkung menghias langit itu membuat saya betah menatapnya. Pernah pada suatu kali saya mencoba mencari "pot of gold" yang di dongeng-dongeng dikatakan terletak di ujung pelangi. Tentu saja saya tidak menemukannya. Tapi meski demikian, tanpa seember emas itu pun pelangi memang indah untuk dilihat. Sampai sekarang saya senang sekali jika bisa melihat pelangi. Itu semakin jarang karena gedung-gedung tinggi semakin menutupi pandangan kita dari keindahan langit biru. Sehabis hujan tadi saya beruntung bisa kembali menyaksikan lengkungan pelangi yang indah walau hanya sebentar saja. Dan saya merasakan kebaikan Tuhan lewat pelangi itu. Kebaikan? Ya, kebaikan. Ditengah kesibukan menggunung dan tekanan-tekanan hidup, pelangi yang saya lihat seolah mengingatkan saya bahwa Tuhan tetap ada dengan kasihNya yang indah. Lengkungan pelangi seolah menjadi lengkungan senyum Tuhan yang penuh warna dalam menyapa anak-anakNya. Dan tidak terasa saya pun membalas senyum itu dengan seuntai senyum bahagia.

Kita sering kesal atau bahkan marah ketika hujan membasahi bumi. Seringkali kita hanya mengeluhkan apa yang kita dapatkan dari cuaca yang kita anggap buruk. Padahal tanpa hujan itu, mungkinkah bunga-bunga yang cantik bermekaran, atau mungkinkah pelangi yang indah hadir menghias langit? Hari yang panas pun salah juga. Terik matahari membuat kita berkeringat dan kita seringkali kesal ketika harus berada dibawah terik matahari ketika sedang berada di tengah jalan atau di saat terjebak kemacetan. Padahal tanpa matahari itu tidak satupun mahluk hidup yang bisa bertahan. Keindahan matahari terbit, senja yang berwarna merah, langit biru penuh awan, matahari yang bersinar, bintang-bintang yang berkilauan, bulan berbentuk sabit atau ketika sedang utuh, burung-burung yang berkicau menjelang pagi, semua itu ada yang menciptakan. Begitu indahnya apa yang diciptakan Tuhan, begitu indah seolah-olah itu semua merupakan bentuk senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap harinya. Apakah kita menanggapi sapaan itu dan mengingat Pribadi yang menciptakan, atau kita malah mengeluh terhadap segala sesuatu yang Dia ciptakan karena mengasihi kita? Daud tidak terperangkap pada hal itu. Dia menyadari betul betapa kreatifnya Tuhan menciptakan segala sesuatu dengan sangat indah. "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24).

Begitu luasnya alam semesta, begitu banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta isinya, dan itu semua diciptakan oleh Dia atas dasar kasihNya yang begitu besar kepada kita. Apa yang Dia ciptakan dengan begitu indah seringkali lewat dari pandangan kita. Semua itu tertutupi oleh keluh kesah atau kesibukan kita pada hal-hal lainnya. Padahal ada begitu banyak keindahan yang seharusnya lebih dari cukup buat menjadi dasar bagi kita untuk mengucap syukur kepadaNya. Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang luas. Bagaimana mengenai kita, manusia yang Dia ciptakan secara begitu istimewa menurut gambar dan rupaNya? Lihat apa kata Tuhan mengenai kita: "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:15-16). Seperti itulah Tuhan mengasihi kita. Yesus memberikan janji yang sama dari sisi lain. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Jika burung pipit yang kecil dan lemah saya saja diperhatikan Tuhan, apalagi kita yang Dia ciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri. Tangan Tuhan menciptakan alam semesta yang begitu besar, luas dan tak terukur berikut isinya, tapi tangan yang sama bisa juga memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud melihat ini semua dan berkata: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Dan ia lalu menutup Mazmur bagian ini dengan indah: "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!" (ay 10).

Menurut pandangan kita, hidup mungkin penuh ketidakpastian. Karena itu kita bekerja keras, terkadang malah terlalu keras sehingga diri kita rontok, untuk memampukan kita menghadapi segala ketidakpastian itu. Bekerja keras itu baik Namun janganlah lupa untuk berhenti sejenak untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan, pelangi dan sinar matahari. Semua itu menggambarkan kebesaranNya, dan semua itu adalah hal-hal yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita. Seharusnya keindahan alam dan segala isi alam semesta yang kita lihat dengan mata kepala sendiri ini bisa dipakai sebagai 'reminder' atas kasih Tuhan yang luar biasa besarnya bagi kita. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Sudahkah anda mengucap syukur atas kasih setia, penyertaan dan kebaikanNya hari ini?

"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!" (Mazmur 105:1)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, August 3, 2012

Ujian

Ayat bacaan: Amsal 24:10
====================
"Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu."

Bagaimana suasana ketika kita sedang menghadapi ujian baik di tingkat sekolah maupun kuliah? Biasanya suasana yang muncul adalah suasana tenang dan hening. Hampir tidak ada pengawas yang malah ribut-ribut ketika sedang mengawas ujian, kecuali pengawasnya tidak bertanggung jawab atau tidak benar. Agaknya itu menjadi bahan perenungan bagi Rick Warren sehingga ia pada suatu kali berkata: "The teacher is always silent when the test is given. If God is silent in your life right now, it's a test of faith." Rick Warren menyinggung saat-saat dimana Tuhan memilih untuk diam, bukan dengan tujuan untuk membiarkan kita menderita atau tidak peduli terhadap persoalan kita, tetapi karena Dia menginginkan sebuah pertumbuhan iman yang signifikan demi kebaikan kita sendiri, dan Rick mengambil contoh yang mudah dicerna lewat sikap seorang guru ketika mengawasi ujian. Ujian. Itu harus kita hadapi jika kita mau naik kelas atau naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak ada orang yang naik kelas dan lulus tanpa melalui ujian bukan? Karenanya contoh sederhana yang disampaikan Rick Warren ini rasanya akan mudah untuk kita mengerti dalam hubungannya dengan saat-saat ketika Tuhan memutuskan untuk berdiam diri disaat kita tengah menghadapi kesesakan.

Buat saya, hidup itu penuh dengan ujian. Kita tidak akan bisa mandiri apabila terus bersikap manja. Saya memutuskan untuk meninggalkan kota kelahiran saya dan pergi ke kota yang jauh tanpa bekal apapun tepat sebelas tahun yang lalu agar bisa kuat berdiri di atas kaki sendiri tanpa dibantu orang tua atau orang lain. Saya melewati saat-saat sulit yang berlangsung lumayan lama yaitu sekitar 5 tahun. Selain saya mencoba membangun segalanya dari awal, di saat itu pula saya melewati pembentukan Tuhan yang seringkali terasa menyakitkan. Ego saya dikikis, sikap malas, suka menggerutu dan cepat emosi juga mengalami penataan ulang selama masa-masa sulit tersebut. Hari ini saya bersyukur melewati itu semua. Rasanya sangat senang, karena tanpa itu saya tidak akan bisa menjadi siapa saya hari ini. Meski demikian, itu bukan berarti saya sekarang bisa berhenti berproses. Tidak akan pernah demikian. Bagi saya, sekarang harus berbeda dengan saya esok, dan saya esok harus berbeda dengan saya lusa, seminggu lagi saya sudah harus lebih baik lagi, dan seterusnya. Itu sudah menjadi tekad saya. Tidak saja dalam bersikap, bertingkah laku, tidak saja dalam hal ilmu, tapi juga dalam mendalami suara hati Tuhan bagi manusia yang terkandung dalam Alkitab. Apakah itu artinya saya merupakan orang yang kaku, sok rohani atau super serius? Tidak juga. Saya menikmati hidup, tapi saya juga menghadapinya dengan serius. That's the fun part of life. I love to play and have fun, but I don't wanna just play around and forget to learn. Begitu kira-kira. Ujian-ujian kehidupan bisa ringan, bisa juga berat, dan seperti halnya ujian lainnya, kita bisa lulus dan bisa gagal. Bagaimana kalau gagal, haruskah kita menyerah? Yang paling penting adalah bagaimana kita bisa menyikapi sebuah kegagalan dan belajar dari kegagalan itu untuk mencapai sukses luar biasa lain kali. Kesempatan untuk berhasil akan selalu ada selama masih hidup. Itu pasti.

Dalam menghadapi berbagai ujian lewat segala macam dimensi problema kehidupan ada sesuatu yang penting untuk kita perhatikan. Masalah boleh hadir, tapi bagaimana sikap kita menghadapinya akan membawa perbedaan nyata. Kita bisa memilih untuk mengeluh, kecewa atau larut dalam mengasihani diri sendiri secara berlebihan atau kita bisa menguji iman kita, sampai dimana kita kenal Yesus, sampai dimana kekuatan pengharapan lewat iman kita. Jika kita gampang menyerah, itu artinya kita belum mampu untuk percaya sepenuhnya kepada kuasa Kristus. Lihatlah apa yang tertulis dalam Amsal. "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10). Kalau kita gampang menyerah ketika menghadapi kesesakan, kita tidak akan pernah bisa bertumbuh baik secara mental maupun rohani. Kekuatan kita akan tetap kecil atau malah menyusut. Ujian demi ujian yang kita hadapi akan mampu membawa kita ke level yang lebih tinggi. Despite of the outcome, either you win or lose, either you succeed or fail, jika kita menyikapinya dengan benar, tetap dalam pengharapan yang tidak pernah padam di dalam Kristus, kita akan mendapatkan hasil luar biasa dalam pertumbuhan iman kita. Lihatlah apa yang dihadapi tokoh-tokoh Alkitab. Mereka bertemu dengan ujian-ujian yang sungguh berat, yang bagi logika manusia kelihatannya tidak masuk akal. Tapi mereka berhasil membuktikan bahwa percaya sepenuhnya pada Tuhan akan membawa hasil luar biasa. Daud harus bertemu dengan Goliat di usia yang masih sangat muda. Itu adalah ujian yang tidak main-main dan taruhannya nyawa. Tapi Daud mengandalkan Tuhan, percaya penuh kepadaNya dan ternyata sukses. Dari sanalah Daud kemudian dikenal. Abraham mengalami ujian yang sungguh berat. Menanti janji Tuhan begitu lama di usia yang sudah tua renta, dan ketika ia memperolehnya, ia malah diminta mengorbankan anaknya. Tapi Abraham percaya pada Tuhan, dan ia melalui ujian dengan baik dan lulus dengan sangat memuaskan. Ia pun disebut bapa orang beriman lewat serangkaian ujian tersebut. Ujian boleh datang, namun cara kita menyikapinyalah yang akan membuat perbedaan.

Mari kita lihat apa kata Yakobus. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh dan tak kekurangan suatu apapun." (Yakobus 1:2-4). Ujian terhadap iman menghasilkan ketekunan. Lalu ketekunan itu pada suatu ketika akan memperoleh buah yang matang, dan kita pun menjadi semakin sempurna, utuh dan tak kekurangan apapun. Anda mungkin bisa stres dalam menghadapi ujian di sekolah, tapi anda tentu tahu bahwa tanpa itu anda tidak akan pernah lulus dan akan menjadi siswa atau mahasiswa abadi. Maka suka atau tidak, anda akan menghadapi ujian dengan sungguh-sungguh dan berharap bahwa anda melakukannya dengan baik dan setelahnya dinyatakan lulus. Begitu pula dengan ujian terhadap iman. Kalau begitu buat apa kita meratap, mengamuk atau melakukan reaksi-reaksi negatif lainnya? Yakobus mengatakan: "anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan." Kita bukan harus bersedih, tapi seharusnya bahagia. Karena alasannya jelas, untuk kebaikan kita sendiri juga, untuk menghasilkan buah dalam hidup kita. Kita tidak akan bisa bertumbuh dan naik ke jenjang yang lebih tinggi apabila kita tidak menghadapi atau gagal dalam ujian. So don't give up! Kita tidak akan memperoleh hasil apa-apa selain kegagalan dengan tawar hati. Bukannya baik, malah hanya akan menambah masalah saja nantinya.

Penulis Amsal mengatakan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Tidak dikatakan "hati yang gembira pada saat kita sedang tidak ada masalah", tapi hati yang tetap gembira dalam situasi dan kondisi apapun, itu akan tetap bisa menjadi obat yang manjur. Maka tepatlah kalau Yakobus menyarankan agar kita menghadapi ujian dengan kegembiraan, itu kalau kita menyadari ada hal-hal luar biasa yang dapat kita petik dari berbagai ujian hidup itu. Tanpa ujian, kita akan berjalan di tempat, atau malah makin merosot. Karenanya, hadapilah ujian dengan penuh ungkapan syukur. Jangan lari dari masalah, tapi hadapilah dengan tegar sambil terus berpegang teguh pada pengharapan dalam iman akan Tuhan. Adakah diantara anda yang hari ini tengah menghadapi ujian? Bergembiralah dalam menghadapinya, dan percayalah ada sesuatu yang indah di depan sana yang akan anda petik begitu anda lulus dari ujian itu.

Tanpa ujian kita tidak akan pernah bisa naik kelas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, August 2, 2012

Saul

Ayat bacaan: 1 Samuel 13:13-14
=========================
"Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu."

Bagi saya yang hidup di dunia entertainment, melihat artis yang mencapai sukses setelah bersusah payah membangunnya dan kemudian bagai komet menghujam bumi dalam waktu yang relatif singkat itu sudah biasa. Saya sering melihat sebagian dari mereka begitu mudahnya terjerumus ke dalam berbagai jerat karena silau dengan popularitas dan kekayaan. Akibatnya, waktu mereka untuk redup jauh lebih cepat ketimbang waktu yang mereka butuhkan untuk menapak naik setingkat demi setingkat. Mempertahankan tampaknya jauh lebih sulit ketimbang membangun. Belakangan ini saya sering bergerilya untuk mengingatkan para artis yang mulai naik untuk tidak silau terhadap kesuksesan mereka. Saya terus mengingatkan mereka agar tetap rendah hati dan membumi seperti dahulu ketika mereka belum mencapai tingkatan sekarang dan jangan sampai berubah menjadi sombong atau arogan. Saya tidak tahu sejauh mana efektivitas saya dalam mengingatkan mereka, tapi saya merasa perlu untuk melakukan itu, meski untuk itu saya seringkali harus mengeluarkan biaya untuk menelepon mereka satu persatu.  Ada begitu banyak contoh dimana setelah orang mencapai sesuatu dengan gemilang, mereka akan terlena dan akhirnya jatuh dan binasa. Ketika orang sudah mencapai sukses, mereka lupa menjaga kesuksesan itu dengan baik. Ada yang jatuh pada ketamakan, ada yang jatuh pada kesombongan, menggunakan obat-obat terlarang atau dalam berbagai perilaku lainnya yang hanya akan membawa kerugian pada diri sendiri.

Dalam kitab Perjanjian Lama ada satu tokoh terkenal yang bisa kita angkat sebagai contoh akan hal ini, yaitu Saul. Saul awalnya adalah seorang yang diurapi Tuhan. Ia dikatakan elok rupanya, badannya tinggi (1 Samuel 9:2). Saul juga dikenal sebagai pribadi yang rendah hati (ay 20-21). Ia penuh Roh Allah seperti halnya nabi (10:10-13). Lihatlah bahwa Saul mengawali segalanya dengan gemilang. Tapi yang terjadi kemudian sangatlah ironis atau malah bisa dikatakan tragis. Dalam pasal ke 13 kita mulai melihat tanda-tanda kejatuhan Saul. Kejayaan Saul ternyata tidak sanggup ia pertahankan. Kesuksesannya tidak diikuti dengan ketaatan dan kesetiaan pada Tuhan. Ia mulai hilang pengharapan, ketaatan dan kesabaran. Perhatikan bagaimana Daud kemudian mulai meminta petunjuk dari arwah karena gentar menghadapi bangsa Filistin dan karena khawatir tidak lagi didukung oleh bangsanya (13:11-12). Ia tidak lagi percaya kepada Tuhan dan menyerahkan segala sesuatu ke dalam tangan Tuhan, melainkan mulai mencari alternatif-alternatif sendiri yang jelas-jelas merupakan kejahatan di mata Tuhan. Samuel pun kemudian mengeluarkan kecaman keras terhadap Saul. "Kata Samuel kepada Saul: "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Samuel 13:13-14). Kebodohan Saul membuat awal gilang gemilangnya kemudian harus berakhir mengenaskan. Alkitab bahkan menyatakan bahwa Tuhan sampai merasa menyesal menjadikannya raja. "Aku menyesal, karena Aku telah menjadikan Saul raja, sebab ia telah berbalik dari pada Aku dan tidak melaksanakan firman-Ku." (15:11). Dan Saul pun akhirnya mati mengenaskan dengan mengakhiri hidupnya sendiri karena menyerah kalah seperti yang dapat kita baca dalam 1 Samuel 31:4 dan 1 Tawarikh 10:4. Dalam Tawarikh dikatakan demikian: "Demikianlah Saul mati karena perbuatannya yang tidak setia terhadap TUHAN, oleh karena ia tidak berpegang pada firman TUHAN, dan juga karena ia telah meminta petunjuk dari arwah, dan tidak meminta petunjuk TUHAN. Sebab itu TUHAN membunuh dia dan menyerahkan jabatan raja itu kepada Daud bin Isai." (1 Tawarikh 10:13-14). Awal yang gemilang kemudian berakhir dengan kehancuran dan kebinasaan, dan Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa itu adalah akibat sikapnya sendiri yang menghianati Tuhan.

Selanjutnya kita tahu Daud lah yang menggantikan Saul. Hidup Daud pun bukannya lancar-lancar saja. Kita tahu bagaimana Daud dikejar-kejar dan mendapat ancaman pembunuhan berkali-kali. Tapi berbeda dengan Saul, Daud memilih untuk taat penuh pada Tuhan. Daud yakin dengan kuasa Tuhan dan mau menyerahkan seluruhnya ke dalam perlindungan Tuhan. Ia tetap memuji dan memuliakan Tuhan meski hidupnya terancam, dan Daud pun menerima berkat Tuhan seperti yang tertulis dalam 2 Samuel 7:1-17. "Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya."(2 Samuel 7:14-16).

Ketika kita menerima Kristus sebagai Juru Selamat, saat itu sebenarnya kita sudah memulai sebuah awal yang gemilang. Kita menerima berbagai janji perlindungan, pemeliharaan dan keselamatan dari Tuhan. Namun jika kita terlena dan menjauh dari Tuhan, kemudian mulai berbuat hal-hal yang menyakiti hati Tuhan, maka kita pun membuka pintu dan membiarkan diri kita masuk ke dalam kehancuran seperti halnya Saul.Setelah memulai awal yang gemilang dengan menerima Kristus dalam hidup kita secara pribadi, kita harus melanjutkannya dengan terus taat dan setia mengikuti Tuhan. Mengambil keputusan yang benar itu sudah sangat baik, tapi selanjutnya kita masih punya tugas untuk menjaga dan mempertahankannya hingga garis akhir. Menyerahkan hidup kita sepenuhnya ke dalam rencanaNya, yang sudah pasti akan indah pada waktunya. Dalam keadaan tertekan, terjepit, dihimpit persoalan, percayalah bahwa Tuhan punya kuasa yang lebih dari apapun, dan sanggup melepaskan anda tepat pada waktuNya. Jangan tergiur mencari alternatif-alternatif lain akibat tidak sabar. Atau ketika hidup sudah aman, janganlah lupa untuk terus bersyukur kepada Tuhan. Jadikan Tuhan berkuasa atas hidup kita, baik dalam suka maupun duka, agar kita bisa mengakhiri awal yang gemilang dengan akhir yang gemilang pula. Jangan mengulangi pengalaman Saul yang kehilangan segala berkat Tuhan karena kebodohannya sendiri. Lewat kisah Saul hari ini kita sudah jelas melihat konsekuensi atau akibat yang harus kita tanggung jika kita melupakan atau menghianati Tuhan. Sudahkah kita taat sepenuhnya pada Tuhan atau masih bergantung pada hal-hal lain di luar Dia? Semua tergantung keputusan kita sendiri.

Pastikan awal yang baik akan berakhir baik pula

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, August 1, 2012

Bahagia dan Damai Sejahtera

Ayat bacaan: Yesaya 48:18
======================
"Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti."

Jika kita melihat iklan-iklan di televisi maka kita pun akan melihat bahwa produk-produk itu biasanya mengarahkan kita untuk percaya bahwa kebahagiaan itu selalu dapat dibeli, terutama ketika kita membeli produk-produk tersebut. Seperti itulah memang dunia berpikir. Kebahagiaan dianggap akan menjadi milik kita apabila kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik dan semakin puas. Bukankah tanpa uang kita tidak bisa bisa beli rumah, mobil mewah, buka usaha dimana-mana, punya cukup modal untuk menghias dan mempercantik diri, mampu membeli berbagai aksesoris sesuai trend jetset, bisa membeli baju dan perlengkapan dengan merek terkenal, memiliki gadget yang paling up to date sehingga tidak dianggap ketinggalan jaman, bisa liburan ke luar negeri kapan saja kita mau, dan sebagainya? Banyak orang yang percaya bahwa semua ini bisa mendatangkan kebahagiaan. Anda bisa melihat sebuah iklan mobil yang menunjukkan wajah paling bahagia sedunia dari sebuah keluarga yang tersenyum lebar sampai giginya tampil lengkap semua ketika mengendarai mobil itu. Seperti itulah bentuk dunia berpikir dalam mencari kebahagiaan. So, kalau mau bahagia, ya beli mobil itu. Orang diluar mobil itu pasti mukanya menekuk semuanya. Di samping itu, ada banyak juga yang mengacu kepada sisi emosional untuk mencari kebahagiaan. Mereka akan terus mencari pujian, pengakuan, penghargaan dan popularitas alias ketenaran. Mereka ini biasanya selalu haus pujian, maunya selalu dihormati, ingin disanjung tinggi, dipuja dan dipuji. Kenyataannya, berbagai hal yang dianggap mampu memberikan kebahagiaan di atas seringkali tidak mampu untuk menjawab kebutuhan kita akan sebuah kebahagiaan atau damai sejahtera. Mungkin untuk jangka waktu tertentu yang singkat hal-hal tersebut di atas bisa memberikan rasa puas dan senang, tapi tidak dalam waktu yang lama. Saya pribadi sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang secara fisik tidak ada kekurangan, begitu juga dari sisi materi mereka lebih dari cukup, tapi mereka tidak merasakan damai sejahtera dalam diri mereka. Ada bagian kosong dalam hati mereka yang tidak pernah bisa tertutupi meski sebanyak apapun mereka menggelimangi lubang itu lewat materi, pujian atau apapun yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Disisi lain, saya mengenal banyak orang yang hidupnya pas-pasan dan tidak punya mobil seperti dalam iklan diatas, tetapi mereka tetap bahagia dengan senyum yang cerah.

Saya teringat kepada sebuah kesimpulan dari seorang ahli matematika dan fisika terkenal yang juga rajin menulis filsafat bernama Blaise Pascal. Disamping banyaknya teori yang berasal dari Pascal yang menjadi dasar ilmu pengetahuan sampai sekarang, ia pun pernah memberikan sebuah  pernyataan yang sangat esensial mengenai kehidupan. "There is a God shaped vacuum in the heart of every man which cannot be filled by any created thing, but only by God, the Creator, made known through Jesus." Kalau diterjemahkan bunyinya kira-kira demikian: Ada sebuah rongga yang tidak akan pernah bisa diisi oleh siapapun atau apapun, kecuali oleh Tuhan, melalui Yesus. Alangkah menarik ketika kesimpulan lewat perenungan ini keluar dari orang yang justru dikenal sebagai ahli dalam ilmu pengetahuan. Setinggi-tingginya kita menguasai ilmu, sehebat-hebatnya kita sebagai manusia, sekaya-kayanya diri kita, ternyata ada sebuah rongga atau "God shaped vacuum" yang akan selalu ada di dalam diri kita yang tidak akan mampu dipenuhi oleh hal apapun selain oleh Tuhan sendiri.

Baik lewat pernyataan Pascal maupun lewat contoh-contoh nyata yang saya atau anda juga mungkin sering lihat langsung, kebahagiaan sejati hanyalah bisa kita peroleh secara rohani lewat hubungan kita dengan Tuhan. Karenanya, ketaatan dan kedekatan terhadap Tuhan merupakan kunci penting untuk bisa memperoleh kebahagiaan yang sejati. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca sebuah ayat yang secara jelas mengatakannya. "Sekiranya engkau memperhatikan perintah-perintah-Ku, maka damai sejahteramu akan seperti sungai yang tidak pernah kering, dan kebahagiaanmu akan terus berlimpah seperti gelombang-gelombang laut yang tidak pernah berhenti." (Yesaya 48:18). Wow, perhatikan. Tuhan menjanjikan sebentuk kebahagiaan bisa kita peroleh secara melimpah tanpa henti, bagai gelombang laut yang tidak pernah berhenti dan damai sejahtera bagai sungai yang tidak pernah kering. Dan itu semua diberikan Tuhan pada kita apabila kita memperhatikan  setiap perintah Tuhan secara serius dan sungguh-sungguh. Ketaatan kita akan membuat Tuhan berada dekat dengan kita, di dalam diri kita, dan dengan demikian rongga kosong dalam hati kita itu pun akan terisi oleh satu-satunya Pribadi yang sanggup untuk itu. Dan disanalah kita bisa merasakan kebahagiaan dan damai sejahtera sesungguhnya yang berasal dari Tuhan, yang tidak akan tergantung oleh baik buruknya situasi dalam hidup kita sehari-hari. Kalau kita bertanya mengapa seperti itu, jawabannya adalah, sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera. (Roma 15:33, 16:20).

Keinginan daging secara sekilas akan seolah mampu memberikan jawaban untuk pencarian kebahagiaan. Banyak orang akan begitu kerasnya berusaha untuk memuaskan keinginan dagingnya dan untuk mencapai itu bahkan rela mengorbankan hubungan dengan Tuhan. Mereka mencoba terus lebih dekat lagi kepada hal-hal duniawi yang dianggap mampu menjawab kebutuhan akan kebahagiaan itu, tetapi sesungguhnya lewat Roh-lah kita akan mampu memperolehnya. Bagi dunia keinginan daging dianggap mampu menjadi solusi, padahal Firman Tuhan berkata "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Dalam Galatia 5:22-23 pun kita bisa melihat bahwa damai sejahtera dan sukacita merupakan dua dari beberapa buah Roh. Rongga kosong dalam hati kita akan tetap ada selama kita mencoba mencari solusi yang tidak tepat, semua itu tidak akan mampu mengisi kekosongan kecuali Tuhan sendiri.

Lalu mari kita lihat bahwa Yesus juga sudah mengatakan: "..Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus." (Roma 14:17). Bukan cuma fisik kita saja yang butuh diberi makan dan minum, tetapi jiwa dan roh kita pun butuh nutrisi. Disitulah letaknya jawaban akan kebutuhan kita akan kebahagiaan ini, yang akan mampu memenuhi rongga kosong dalam hati kita dalam kepenuhan untuk mencapai kebahagiaan yang penuh dengan sukacita, dan akan mampu bertahan untuk waktu lama. Kebahagiaan sejati hanya bisa disediakan oleh Tuhan, dan itu hanya akan bisa terjadi jika Kerajaan Allah hadir dalam kehidupan kita. Harta benda, kekayaan, jabatan, pujian dan penghargaan tidak akan pernah mampu menjawab kebutuhan kita akan kebahagiaan ini.

Kita mungkin bisa mengira bahwa uang merupakan jawaban atas segala-galanya, yang sepertinya mampu memenuhi segala kebutuhan kita atas berbagai produk yang terus menawarkan kebahagiaan. Tapi pada suatu ketika nanti, kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa ada ruang kosong yang tidak akan pernah bisa diisi penuh oleh apapun kecuali oleh Tuhan. Ketika rongga itu terpenuhi, disanalah kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung lewat berbagai kesusahan di dunia ini. Semakin meninggalkan atau menjauh dari Tuhan dan terus mengejar hal-hal dunia yang nikmat bagi daging kita justru akan membuat rongga kosong ini terus melebar, menenggelamkan setiap sukacita yang seharusnya menjadi bagian dari kita lewat Kristus. Jika anda saat ini sedang tidak dalam keadaan terdesak atau sulit, tapi ada rasa kosong dalam hati anda yang membuat anda merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, itu tandanya anda harus mulai berpikir bukannya semakin menjauh dari Tuhan, tetapi seharusnya malah semakin dekat. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8). Temukanlah rongga kosong itu dan biarkan Tuhan mengisinya. Mendekatlah kepada Tuhan dan dengarkan perintah-perintahNya. Itu akan mengundang Tuhan untuk segera menambal kekosongan itu dengan kebahagiaan sejati yang hanya berasal daripadaNya.

Kebahagiaan dan damai sejahtera yang melimpah tanpa henti menjadi milik orang-orang yang taat pada perintahNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...