=====================
"Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."
Menjadi seperti Yesus, itu impian semua orang percaya. Dan kitapun belajar untuk terus semakin mendekati gambaran Yesus. Kita berlatih untuk tekun, membiasakan diri untuk disiplin dalam bersaat teduh, mendalami Firman Tuhan, berdoa, beribadah ke gereja dan sebagainya. Kita masuk ke dalam persekutuan-persekutuan dan disana kita bertemu dengan teman-teman seiman yang saling dukung, saling mengingatkan dan saling bantu. Itu tentu baik. Amat baik malah. Tapi jika tidak hati-hati, ada roh kesombongan yang akan siap membuat kita berpikir bahwa kita paling kudus, paling suci atau paling rohani. Kalau sudah begitu, kita pun mulai tergoda untuk menghakimi orang lain. Kita mudah menilai orang lain berdosa bahkan menghujat dan menuduh. Seorang teman akhirnya memilih untuk meninggalkan gerejanya karena terus digunjingkan sesama jemaat. Alangkah ironisnya ketika kita bukannya menjadi terang tetapi malah menjadi batu sandungan. Bukannya merangkul, tapi malah membuang. Memakai atribut rohani lalu pergi kesana kemari menghakimi orang lain, bahkan lewat jalan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan dalam perilaku seperti itu. Itu kita saksikan setiap saat di dunia ini bukan? Sebagai anak Tuhan, kita sama sekali tidak boleh melakukan hal itu. Berproses untuk terus menjaga kekudusan dan menjadi seperti Yesus harus pula diikuti oleh sikap mengasihi dan rendah hati. Karena kalau tidak, roh kesombongan akan siap membuat kita menjadi orang-orang yang merasa berhak untuk berperan bagai Tuhan. Salah-salah, kita bisa terjebak untuk menjadi sombong secara rohani. Kisah perjumpaan Yesus dengan perempuan berzinah yang berhadapan dengan sekelompok orang yang siap merajamnya dalam Yohanes 7:53-8:11 memberi gambaran jelas bagaimana seharusnya kita bersikap. Pada saat itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam sampai mati dengan batu. Itu masih dilakukan oleh sebagian orang hingga hari ini. Tapi lihatlah apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Untunglah pada waktu itu para ahli Taurat dan orang Farisi masih mau berpikir jernih. Ini masih lebih baik ketimbang sebagian kelompok di negara kita hari ini yang tidak lagi bisa berpikir dan malah semakin beringas atau brutal. Kembali kepada kisah tadi, akhirnya semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa kita sebagai manusia berani-beraninya mengaku paling suci dan berhak untuk menghakimi? Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Apa yang bisa kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya haus pertolongan dan jamahan Tuhan. Kita seharusnya merangkul mereka dan membawa mereka untuk mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19).
Bagi gereja dan jemaat, janganlah mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan untuk dilakukan anak-anakNya. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia di bumi ini tanpa terkecuali. Benar Tuhan membenci dosa, tapi Tuhan tidak membenci orang berdosa. Justru Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, agar mereka bisa selamat dan terlepas dari jerat kebinasaan. Yesus mengatakannya begini: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12, Lukas 5:31). Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, akibatnya akan sangat fatal bagi kita. Hindari bersikap sombong secara rohani, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Itu bukanlah cerminan dari orang-orang benar seperti yang diinginkan Tuhan. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.
Di sisi lain, bagi mereka yang merasa kecewa karena dianggap berdosa, ingatlah bahwa manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Janji Tuhan itu "ya" dan "amin". Dia akan selalu menepati janjiNya, termasuk menganugerahkan keselamatan kepada setiap orang, termasuk anda. Jika memang ada di antara teman yang mengalami hal ini, janganlah sampai mengalami kepahitan dan semakin jauh dari Tuhan. Tidak semua orang akan bersikap seperti itu. Hendaklah anda mampu berpikir bahwa kesempatan untuk bertobat tetap diberikan Tuhan kepada diri anda kapan saja. Tidak semua orang akan bersikap negatif. Pasti masih ada orang-orang yang akan dengan tulus membimbing anda untuk kembali ke jalan Tuhan. Dosa-dosa semerah kirmizi sekalipun bisa Tuhan pulihkan menjadi putih seperti salju. (Yesaya 1:18). Itu janji Tuhan. Karena itu segeralah bertobat kemudian berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi. Miliki hati lembut yang mau diubahkan, maka Tuhan siap menopang diri anda. Tuhan mau mengampuni sang wanita yang kedapatan berzinah, Tuhan mau mengampuni Daud yang kedapatan melakukan dosa perzinahan dan pembunuhan, Tuhan mau mengampuni Saulus bahkan memakainya secara luar biasa. Jika kepada mereka-mereka ini Tuhan mau, kepada anda pun Dia bersedia!
Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali kepada jiwa-jiwa yang haus pertolongan
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Sepenting apakah sejarah itu bagi kita? Ada banyak siswa yang tidak suka pada pelajaran sejarah, tapi bagi saya sejarah itu sesungguhnya sangatlah penting. Saya selalu suka belajar dari literatur-literatur sejarah terutama di dunia musik yang menjadi profesi saya. Dari literatur manapun saya menganggap sejarah sebagai jendela untuk melihat segala sesuatu yang menjadi pengalaman orang lain, baik atau buruk. Dan itu bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan ke depan. Bukan saja dari pengalaman orang lain, tapi kita pun sebenarnya bisa belajar dari masa lalu kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana sampai kesuksesan itu hadir pada kita dahulu, atau jika dari kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup kita, setidaknya kita bisa belajar agar tidak jatuh lagi ke lubang yang sama dan tahu harus bagaimana untuk lebih baik.
"Saya sudah berusaha keras memenuhi kebutuhan keluarga, terutama anak-anak saya... apa lagi yang kurang?" kata seseorang yang sedih melihat rumah tangganya porak poranda. Bekerja keras demi kebutuhan keluarga tentu sangat baik, karena ada banyak ayah yang melupakan fungsi penting ini, dan saya pun mengenal beberapa orang seperti itu. Tapi adalah keliru jika para pria terutama yang sudah menikah mengira bahwa tugas pria hanyalah mencari nafkah sedang urusan rumah cukup diserahkan kepada istri atau ibu dari anak-anak. Fakta berbicara bahwa ada banyak kehancuran keluarga diawali dari hilangnya fungsi ayah di dalamnya. Ketika seorang ayah tidak lagi berfungsi sebagai kepala keluarga, tidak lagi mempedulikan istri dan anak-anaknya, ketika seorang ayah terlalu disibukkan dengan pekerjaan dan karirnya, atau malah terjerumus dalam dosa, maka tiang penyangga keluarga pun goyah. Itu sama saja seperti pilar-pilar gedung yang goyah, sehingga gedungnya akan berada dalam kondisi berbahaya dan bisa runtuh sewaktu-waktu. Kondisi rumah tangga yang retak atau hancur alias broken home akan memicu anak-anak untuk mengalami kehancuran masa depan mereka. Banyak diantara korban obat-obat terlarang ternyata berasal dari keluarga yang hancur. Anak perempuan remaja banyak yang jatuh ke tangan pria hidung belang karena mereka rindu belaian kasih, pujian dan perhatian yang seharusnya mereka dapatkan dari ayah mereka. Saya pun sudah bertemu dengan orang-orang yang menjadi korban seperti ini. Tidak mudah memang peran seorang ayah. Disamping tanggung jawab untuk menafkahi keluarga, mereka juga diserahi tanggung jawab untuk menjaga keutuhan rumah tangganya, menjadi tulang punggung dan tiang yang menentukan kokoh tidaknya sebuah keluarga berdiri di atasnya dan tentu saja menjadi imam dalam keluarganya. Berat, tapi itulah garis fungsi ayah yang akan membawa perbedaan nyata dalam keharmonisan bahkan keselamatan keluarganya.
Ketika saya kecil saya sangat suka melihat pelangi. Untaian rangkaian warna yang indah melengkung menghias langit itu membuat saya betah menatapnya. Pernah pada suatu kali saya mencoba mencari "pot of gold" yang di dongeng-dongeng dikatakan terletak di ujung pelangi. Tentu saja saya tidak menemukannya. Tapi meski demikian, tanpa seember emas itu pun pelangi memang indah untuk dilihat. Sampai sekarang saya senang sekali jika bisa melihat pelangi. Itu semakin jarang karena gedung-gedung tinggi semakin menutupi pandangan kita dari keindahan langit biru. Sehabis hujan tadi saya beruntung bisa kembali menyaksikan lengkungan pelangi yang indah walau hanya sebentar saja. Dan saya merasakan kebaikan Tuhan lewat pelangi itu. Kebaikan? Ya, kebaikan. Ditengah kesibukan menggunung dan tekanan-tekanan hidup, pelangi yang saya lihat seolah mengingatkan saya bahwa Tuhan tetap ada dengan kasihNya yang indah. Lengkungan pelangi seolah menjadi lengkungan senyum Tuhan yang penuh warna dalam menyapa anak-anakNya. Dan tidak terasa saya pun membalas senyum itu dengan seuntai senyum bahagia.
Bagaimana suasana ketika kita sedang menghadapi ujian baik di tingkat sekolah maupun kuliah? Biasanya suasana yang muncul adalah suasana tenang dan hening. Hampir tidak ada pengawas yang malah ribut-ribut ketika sedang mengawas ujian, kecuali pengawasnya tidak bertanggung jawab atau tidak benar. Agaknya itu menjadi bahan perenungan bagi Rick Warren sehingga ia pada suatu kali berkata: "The teacher is always silent when the test is given. If God is silent in your life right now, it's a test of faith." Rick Warren menyinggung saat-saat dimana Tuhan memilih untuk diam, bukan dengan tujuan untuk membiarkan kita menderita atau tidak peduli terhadap persoalan kita, tetapi karena Dia menginginkan sebuah pertumbuhan iman yang signifikan demi kebaikan kita sendiri, dan Rick mengambil contoh yang mudah dicerna lewat sikap seorang guru ketika mengawasi ujian. Ujian. Itu harus kita hadapi jika kita mau naik kelas atau naik ke tingkat yang lebih tinggi. Tidak ada orang yang naik kelas dan lulus tanpa melalui ujian bukan? Karenanya contoh sederhana yang disampaikan Rick Warren ini rasanya akan mudah untuk kita mengerti dalam hubungannya dengan saat-saat ketika Tuhan memutuskan untuk berdiam diri disaat kita tengah menghadapi kesesakan.
Bagi saya yang hidup di dunia entertainment, melihat artis yang mencapai sukses setelah bersusah payah membangunnya dan kemudian bagai komet menghujam bumi dalam waktu yang relatif singkat itu sudah biasa. Saya sering melihat sebagian dari mereka begitu mudahnya terjerumus ke dalam berbagai jerat karena silau dengan popularitas dan kekayaan. Akibatnya, waktu mereka untuk redup jauh lebih cepat ketimbang waktu yang mereka butuhkan untuk menapak naik setingkat demi setingkat. Mempertahankan tampaknya jauh lebih sulit ketimbang membangun. Belakangan ini saya sering bergerilya untuk mengingatkan para artis yang mulai naik untuk tidak silau terhadap kesuksesan mereka. Saya terus mengingatkan mereka agar tetap rendah hati dan membumi seperti dahulu ketika mereka belum mencapai tingkatan sekarang dan jangan sampai berubah menjadi sombong atau arogan. Saya tidak tahu sejauh mana efektivitas saya dalam mengingatkan mereka, tapi saya merasa perlu untuk melakukan itu, meski untuk itu saya seringkali harus mengeluarkan biaya untuk menelepon mereka satu persatu. Ada begitu banyak contoh dimana setelah orang mencapai sesuatu dengan gemilang, mereka akan terlena dan akhirnya jatuh dan binasa. Ketika orang sudah mencapai sukses, mereka lupa menjaga kesuksesan itu dengan baik. Ada yang jatuh pada ketamakan, ada yang jatuh pada kesombongan, menggunakan obat-obat terlarang atau dalam berbagai perilaku lainnya yang hanya akan membawa kerugian pada diri sendiri.
Jika kita melihat iklan-iklan di televisi maka kita pun akan melihat bahwa produk-produk itu biasanya mengarahkan kita untuk percaya bahwa kebahagiaan itu selalu dapat dibeli, terutama ketika kita membeli produk-produk tersebut. Seperti itulah memang dunia berpikir. Kebahagiaan dianggap akan menjadi milik kita apabila kita mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Semakin banyak semakin baik dan semakin puas. Bukankah tanpa uang kita tidak bisa bisa beli rumah, mobil mewah, buka usaha dimana-mana, punya cukup modal untuk menghias dan mempercantik diri, mampu membeli berbagai aksesoris sesuai trend jetset, bisa membeli baju dan perlengkapan dengan merek terkenal, memiliki gadget yang paling up to date sehingga tidak dianggap ketinggalan jaman, bisa liburan ke luar negeri kapan saja kita mau, dan sebagainya? Banyak orang yang percaya bahwa semua ini bisa mendatangkan kebahagiaan. Anda bisa melihat sebuah iklan mobil yang menunjukkan wajah paling bahagia sedunia dari sebuah keluarga yang tersenyum lebar sampai giginya tampil lengkap semua ketika mengendarai mobil itu. Seperti itulah bentuk dunia berpikir dalam mencari kebahagiaan. So, kalau mau bahagia, ya beli mobil itu. Orang diluar mobil itu pasti mukanya menekuk semuanya. Di samping itu, ada banyak juga yang mengacu kepada sisi emosional untuk mencari kebahagiaan. Mereka akan terus mencari pujian, pengakuan, penghargaan dan popularitas alias ketenaran. Mereka ini biasanya selalu haus pujian, maunya selalu dihormati, ingin disanjung tinggi, dipuja dan dipuji. Kenyataannya, berbagai hal yang dianggap mampu memberikan kebahagiaan di atas seringkali tidak mampu untuk menjawab kebutuhan kita akan sebuah kebahagiaan atau damai sejahtera. Mungkin untuk jangka waktu tertentu yang singkat hal-hal tersebut di atas bisa memberikan rasa puas dan senang, tapi tidak dalam waktu yang lama. Saya pribadi sudah bertemu dengan begitu banyak orang yang secara fisik tidak ada kekurangan, begitu juga dari sisi materi mereka lebih dari cukup, tapi mereka tidak merasakan damai sejahtera dalam diri mereka. Ada bagian kosong dalam hati mereka yang tidak pernah bisa tertutupi meski sebanyak apapun mereka menggelimangi lubang itu lewat materi, pujian atau apapun yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Disisi lain, saya mengenal banyak orang yang hidupnya pas-pasan dan tidak punya mobil seperti dalam iklan diatas, tetapi mereka tetap bahagia dengan senyum yang cerah.