=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"
Bagi teman-teman yang sudah bekerja, apakah anda merasa bahagia dengan pekerjaan anda? Dari orang-orang yang saya kenal, ternyata jumlah yang tidak bahagia jauh lebih banyak ketimbang yang menikmati pekerjaannya dengan gembira. Saya mengenal banyak orang yang bekerja hanya untuk menyambung hidup tanpa adanya passion di dalamnya sama sekali. "Dari pada nggak makan, ya mau nggak mau lah..." kata salah seorang diantaranya. Jika ini yang ada di benak seseorang, bagaimana mungkin mengharapkan hasil yang terbaik dari pekerjaan mereka? Ada juga yang bekerja setengah hati karena merasa itu tidak sesuai dengan hobi atau selera mereka. Ada yang mengeluh beratnya pekerjaan tidak sebanding dengan gaji yang diterima, dan ada banyak lagi alasan-alasan lainnya yang bisa membuat orang bekerja hanya karena terpaksa tanpa disertai dengan hati yang gembira. Saya menjalani beberapa pekerjaan sekaligus, yang terkadang begitu menyita waktu sehingga saya masih harus bekerja hingga larut malam atau bahkan lewat tengah malam. Tapi apakah saya bahagia? Sangat. Saya tahu Tuhan siap memberkati usaha dan jerih payah saya. Saya tahu bahwa inilah 'kail' dan 'kolam' yang telah ia sediakan bagi saya, dan Dia akan memberkati hasil 'pancingan' saya. Jika demikian, mengapa saya harus tidak bahagia? Berat ringan itu relatif, besar kecilnya pendapatan pun demikian. Yang saya tahu adalah ini merupakan garis panggilan saya dalam hidup, dan saya ingin memberi yang terbaik atas segala sesuatu yang saya kerjakan. Tanpa rasa bahagia, saya tidak akan mungkin bisa melakukan itu. Adalah menarik ketika kita melihat bahwa Pengkotbah sudah menyatakan hal seperti ini yang didasari oleh perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Mencintai profesi atau tidak, yang pasti lewat pengalamannya Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Karena itu adalah bagian kita masing-masing. Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, apa yang bisa kita dapatkan dari sana? Mungkin pendapatan kita peroleh, tapi bagaimana dengan berbagai emosi atau rasa keterpaksaan yang akan membuat kita berkeluh kesah sepanjang hari, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera? Adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Adakah hal positif yang bisa diperoleh jika kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut karena tidak kunjung merasa puas?
Bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi, melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan sesungguhnya bukan tergantung dari situasi atau kondisi melainkan berasal dari Tuhan. Di dalam Amsal disebutkan: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau dalam ayat lainnya: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu bagaikan obat yang manjur untuk menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik sambil terus bersukacita. Mensyukuri anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi, salah satunya dengan menghargai berkatNya atas pekerjaan yang kita peroleh saat ini. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, semua itu tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi emas. Apakah saya berbicara secara sempit mengenai harta kekayaan secara materi saja? Tentu tidak. Pekerjaan sekecil apapun bisa menjadi berkat luar biasa bagi orang lain dan bisa menjadi potret yang indah dari kemuliaan Tuhan. Sebuah pekerjaan bisa menjadi karya monumental kita yang selain akan menjadi buah yang indah dari jerih payah dan kesungguhan kita, tapi itupun akan menjadi saksi nyata kebesaran Tuhan juga menjadi sarana bagi kita untuk memuliakanNya.
Disaat orang berpendapatan lebih besar masih mengeluh, alangkah indahnya jika kita bisa bersyukur dan hidup gembira dengan menikmati pekerjaan kita hari ini. Tuhan pun akan sangat senang apabila kita mensyukuri pekerjaan yang telah Dia sediakan untuk kita sebagai sebuah berkat, dan memakainya sebagai alat untuk memberkati orang lain sekaligus memuliakan Tuhan. Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Kita tidak akan bisa bekerja dengan segenap hati jika kita tidak ada kegembiraan atau gairah sedikitpun dalam melakukannya. Sekali lagi, besar kecilnya pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak, karena kebahagiaan sejati sesungguhnya terletak pada hubungan kita dengan Tuhan. Tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar atau pekerjaan yang mapan. Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan kesempatan pada pekerjaan kita, mulai meneteskan cinta disana, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan lalu memberikan yang terbaik dari kita? Jika itu anda lakukan, maka anda akan menyaksikan bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan.
Tanpa hati yang gembira kita tidak akan pernah bisa memberikan yang terbaik
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Malam ini ketika sedang bekerja menulis sebuah artikel, dari mp3 player yang saya set dalam keadaan acak atau shuffle terdengarlah lagu rohani yang sudah cukup lama kita kenal, "Seperti Bapa Sayang Anaknya." Tak terasa kasih Tuhan pun mulai terasa mengalir ke dalam hati saya sampai-sampai saya berhenti sejenak untuk menikmati rasanya. "Seperti bapa sayang anaknya, Demikianlah Engkau mengasihiku.." dan seterusnya. Lagu ini berbicara tentang betapa Tuhan mengasihi kita seperti layaknya seorang ayah mengasihi anaknya. Seorang ayah yang baik adalah ayah yang tidak hanya sibuk mencari nafkah, tetapi tetap mampu meluangkan waktu untuk keluarga terlebih anak-anaknya ditengah kesibukan yang menggunung. Ayah yang baik mampu menjadi imam dalam keluarganya dan mampu mendidik anak-anaknya untuk tumbuh dewasa dengan budi pekerti yang baik. Dalam mendidik anak-anak seorang ayah yang bijaksana tidak akan mungkin menuruti setiap keinginan anaknya setiap saat. Bayangkan jika anak terus meminta permen atau es krim, apakah itu baik jika dituruti meski harganya relatif tidak seberapa? Tentu tidak. Hal tersebut tidak mendidik. Selain bisa membuat anaknya lupa diri dan manja, itu pun tidak baik bagi kesehatan mereka. Jika anak melakukan sesuatu kesalahan, ada kalanya harus dihukum. Mungkin sang ayah merasa perih untuk melakukannya, dan seringkali sang anak merasa sedih kenapa ayahnya berlaku begitu kejam, karena mereka belum bisa melihat bahwa hukuman terkadang harus diberikan bukan karena jahat melainkan demi kebaikan mereka sendiri. Saya rasanya perlu bersyukur karena bentuk hukuman dari ayah saya ketika saya masih kecil terbilang 'ringan' dibanding kebanyakan ayah lainnya. Ada banyak teman saya yang bercerita bahwa mereka kerap berhadapan dengan sebilah rotan atau lidi, tapi ayah saya memilih untuk menepuk telapak tangan saya apabila saya melakukan sesuatu yang salah. Meski terbilang ringan, tetap saja pada saat itu saya merasa sedih luar biasa. Saya masih ingat bagaimana perasaan saya ketika hukuman itu dijatuhkan. Tapi hari ini saya bersyukur bahwa didikan yang diberikan kedua orang tua saya sangatlah saya butuhkan untuk bisa menjadi diri saya saat ini. Tanpa itu semua, niscaya saya akan kehilangan saat-saat dimana saya dididik untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan, tentu saja termasuk bentuk hukuman ketika saya bersalah.
Mike Tyson adalah salah satu petinju terbesar sepanjang masa. Mendapat julukan si leher beton, atau di Amerika disebut "The Iron" alias si manusia besi, Tyson memiliki pukulan mengerikan yang bisa membuat lawannya KO dengan telak dalam satu kali pukulan. Terlepas dari pribadinya yang kontroversi, kita harus akui bahwa di masanya Tyson sangat sulit atau hampir-hampir tidak mungkin dikalahkan. Kemenangan KO atas lawan pun memenuhi catatan karirnya. Meski lawannya sibuk memukul secara sporadis kemana-mana, ia hanya butuh satu pukulan saja, tapi telak sehingga bisa merontokkan lawan. Bagi saya ini adalah bentuk bertanding yang efektif. Tidak mengumbar tenaga atau energi sehingga cepat habis sia-sia, tapi tenaga baru ia kerahkan sepenuhnya ketika peluang itu sudah tiba, terlebih ketika lawan sudah kehabisan tenaga karena diforsir sejak awal.
Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata 'penyembah-penyembah yang benar'? Sebagian besar orang akan segera membayangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas bermusik dan bernyanyi dalam memanjatkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Tim musik di gereja, WL (Worship Leader), singers/choirs, mungkin itu tepatnya yang langsung terlintas dipikiran kita ketika mendengar istilah ini. Apalagi ada sebuah kelompok musik rohani yang sangat terkenal sejak tahun 1996 dan terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya bernama True Worshippers. Menghubungkan kata penyembah yang benar dengan aktivitas menyampaikan pujian-penyembahan lewat lagu dan musik tentu tidak salah. Tapi apakah kata penyembah hanya secara sempit mengacu kepada kegiatan ini? Satu lagi pertanyaannya, apakah ada istilah bahwa kita terlalu muda atau belum siap untuk menjadi penyembah-penyembah yang benar? Hari ini saya rindu mengajak teman-teman untuk melihat pandangan Kerajaan Allah akan hal ini.
Berdoa sekedarnya, begitu tidak dikabulkan lantas berhenti dan menuduh Tuhan tidak peduli atau bahkan tidak ada. Itu menjadi kebiasaan banyak orang, terlebih di jaman sekarang ketika semuanya menuntut hal-hal yang instan, mudah dan cepat. Doa dianggap sebagai sarana meminta yang harus dikabulkan, atau kalau tidak maka Tuhan bersalah. Bagi mereka Tuhan tak ubahnya seperti kopi instan 3 in 1 yang hanya tinggal diseduh air panas langsung jadi. Kita mungkin bisa belajar dari kegigihan seorang anak dalam meminta sesuatu yang pada akhirnya membuat orang tuanya menyerah dan mengabulkan permintaan mereka. Bukan lewat merengek-rengek tentu, karena itu biasanya tidak akan membawa hasil kecuali mendapat teguran atau dimarahi orang tuanya, tapi lewat wajah mereka yang polos dan penuh harap atau lewat usaha-usaha yang mampu membuat hati orang tuanya luluh. Begitu sayangnya kepada anak, orang tua biasanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan anaknya. Apalagi jika apa yang mereka minta merupakan sesuatu yang penting, tentu orang tua akan lebih mati-matian lagi berusaha memenuhinya.
Seorang teman saya baru saja bercerita bahwa anaknya yang masih balita suka membawakan secangkir kopi yang dibuatkan istrinya setiap dia pulang bekerja dan akan memeluknya didepan pintu. "Itu membuat rasa lelah saya bekerja dan terjebak macet di jalan terbayar lunas", katanya sambil tersenyum senang. Sambutan yang mencerminkan kasih sayang sang anak akan sangat berarti bagi seorang ayah, apalagi setelah lelah bekerja sehari penuh. Bandingkanlah keluarga harmonis ini dengan gambaran sebaliknya yang dialami banyak keluarga lainnya. Situasi di rumah tidak harmonis, istri entah dimana, anak-anak sibuk dengan dunia masing-masing, tidak ada satupun yang menyambut seolah mereka tidak butuh kehadiran sang ayah sama sekali di rumah. "Saya yakin tidak ada ayah yang tidak bahagia mendapat sambutan seperti ini dari anaknya, kecuali si ayah itu mati rasa", katanya lagi sambil tertawa. Apa yang ia katakan benar. Siapapun kita tentu merindukan perasaan dikasihi, dihargai dan dipedulikan dari orang lain, terlebih dari orang yang kita sayang. Jika kita merasa seperti itu, pernahkah kita berpikir bahwa Bapa Surgawi kita pun rindu untuk mendapat sambutan penuh kasih sayang dari anak-anaknya? Lalu, jika kita ingin melakukan itu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita menghidangkan secangkir kopi panas yang nikmat? Memijat pundakNya? Memeluk? Tentu tidak demikian, karena Tuhan tidak hadir secara fisik di depan kita seperti ayah biologis kita di dunia. Hari ini mari kita lihat bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan, membuatNya merasa dikasihi dan dicintai oleh kita, anak-anakNya.