Sunday, July 22, 2012

Bekerja dengan Gembira

Ayat bacaan: Pengkhotbah 3:22
=======================
"Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?"

Bagi teman-teman yang sudah bekerja, apakah anda merasa bahagia dengan pekerjaan anda? Dari orang-orang yang saya kenal, ternyata jumlah yang tidak bahagia jauh lebih banyak ketimbang yang menikmati pekerjaannya dengan gembira. Saya mengenal banyak orang yang bekerja hanya untuk menyambung hidup tanpa adanya passion di dalamnya sama sekali. "Dari pada nggak makan, ya mau nggak mau lah..." kata salah seorang diantaranya. Jika ini yang ada di benak seseorang, bagaimana mungkin mengharapkan hasil yang terbaik dari pekerjaan mereka? Ada juga yang bekerja setengah hati karena merasa itu tidak sesuai dengan hobi atau selera mereka. Ada yang mengeluh beratnya pekerjaan tidak sebanding dengan gaji yang diterima, dan ada banyak lagi alasan-alasan lainnya yang bisa membuat orang bekerja hanya karena terpaksa tanpa disertai dengan hati yang gembira. Saya menjalani beberapa pekerjaan sekaligus, yang terkadang begitu menyita waktu sehingga saya masih harus bekerja hingga larut malam atau bahkan lewat tengah malam. Tapi apakah saya bahagia? Sangat. Saya tahu Tuhan siap memberkati usaha dan jerih payah saya. Saya tahu bahwa inilah 'kail' dan 'kolam' yang telah ia sediakan bagi saya, dan Dia akan memberkati hasil 'pancingan' saya. Jika demikian, mengapa saya harus tidak bahagia? Berat ringan itu relatif, besar kecilnya pendapatan pun demikian. Yang saya tahu adalah ini merupakan garis panggilan saya dalam hidup, dan saya ingin memberi yang terbaik atas segala sesuatu yang saya kerjakan. Tanpa rasa bahagia, saya tidak akan mungkin bisa melakukan itu.

Adalah menarik ketika kita melihat bahwa Pengkotbah sudah menyatakan hal seperti ini yang didasari oleh perenungan, pengalaman dan kesaksiannya sendiri. "Aku melihat bahwa tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya. Karena siapa akan memperlihatkan kepadanya apa yang akan terjadi sesudah dia?" (Pengkotbah 3:22). Mencintai profesi atau tidak, yang pasti lewat pengalamannya Pengkotbah menyimpulkan bahwa tidak ada yang lebih baik daripada bergembira dalam pekerjaannya. Mengapa? Karena itu adalah bagian kita masing-masing. Jika kita tidak berbahagia dengan pekerjaan, apa yang bisa kita dapatkan dari sana? Mungkin pendapatan kita peroleh, tapi bagaimana dengan berbagai emosi atau rasa keterpaksaan yang akan membuat kita berkeluh kesah sepanjang hari, terus merasa tidak puas dan kehilangan damai sejahtera? Adakah itu membawa manfaat atau malah membuat etos kerja kita menurun, mengganggu orang lain bahkan mendatangkan penyakit bagi diri kita sendiri? Adakah hal positif yang bisa diperoleh jika kita sulit bersyukur dan hanya bersungut-sungut karena tidak kunjung merasa puas?

Bahagia atau tidak bukanlah tergantung dari kondisi atau situasi yang kita hadapi, melainkan tergantung dari seberapa jauh kita mengijinkan Tuhan untuk ambil bagian dalam hidup kita. Kebahagiaan atau kegembiraan sesungguhnya bukan tergantung dari situasi atau kondisi melainkan berasal dari Tuhan. Di dalam Amsal disebutkan: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Atau dalam ayat lainnya: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bekerja dengan hati yang lapang, hati yang gembira, itu bagaikan obat yang manjur untuk menjaga kita agar tetap memiliki semangat untuk melakukan yang terbaik sambil terus bersukacita. Mensyukuri anugerah Tuhan akan membuat itu bisa terjadi, salah satunya dengan menghargai berkatNya atas pekerjaan yang kita peroleh saat ini. Apakah kita menikmati pekerjaan dengan penuh rasa syukur sebagai sebuah berkat dari Tuhan atau kita terus merasa kurang puas, semua itu tergantung kita. Tuhan sanggup membuat pekerjaan sekecil apapun menjadi emas. Apakah saya berbicara secara sempit mengenai harta kekayaan secara materi saja? Tentu tidak. Pekerjaan sekecil apapun bisa menjadi berkat luar biasa bagi orang lain dan bisa menjadi potret yang indah dari kemuliaan Tuhan. Sebuah pekerjaan bisa menjadi karya monumental kita yang selain akan menjadi buah yang indah dari jerih payah dan kesungguhan kita, tapi itupun akan menjadi saksi nyata kebesaran Tuhan juga menjadi sarana bagi kita untuk memuliakanNya.

Disaat orang berpendapatan lebih besar masih mengeluh, alangkah indahnya jika kita bisa bersyukur dan hidup gembira dengan menikmati pekerjaan kita hari ini. Tuhan pun akan sangat senang apabila kita mensyukuri pekerjaan yang telah Dia sediakan untuk kita sebagai sebuah berkat, dan memakainya sebagai alat untuk memberkati orang lain sekaligus memuliakan Tuhan. Mungkin ada saat ini di antara kita yang mulai merasa jenuh dengan pekerjaannya, mungkin ada yang merasa bahwa pekerjaan saat ini tidak cukup baik, namun saya ingin mengingatkan bahwa Tuhan tidak akan pernah kekurangan cara untuk memberkati kita. Yang dituntut dari kita adalah bekerja sungguh-sungguh dengan segenap hati seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia (Kolose 3:23). Kita tidak akan bisa bekerja dengan segenap hati jika kita tidak ada kegembiraan atau gairah sedikitpun dalam melakukannya. Sekali lagi, besar kecilnya pendapatan bukanlah alasan untuk bergembira atau tidak, karena kebahagiaan sejati sesungguhnya terletak pada hubungan kita dengan Tuhan. Tidak jarang kita melihat keluarga yang hancur, hidup orang yang jauh dari bahagia, padahal mereka memiliki kekayaan yang besar atau pekerjaan yang mapan. Jika demikian, mengapa kita tidak mencoba memberikan kesempatan pada pekerjaan kita, mulai meneteskan cinta disana, mengucap syukur atas pekerjaan itu kepada Tuhan lalu memberikan yang terbaik dari kita? Jika itu anda lakukan, maka anda akan menyaksikan bagaimana luar biasanya Tuhan bisa memberkati kita lewat apapun yang kita kerjakan.

Tanpa hati yang gembira kita tidak akan pernah bisa memberikan yang terbaik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 21, 2012

Bapa Sayang AnakNya

Ayat bacaan: Mazmur 103:13
====================
"Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia."

Malam ini ketika sedang bekerja menulis sebuah artikel, dari mp3 player yang saya set dalam keadaan acak atau shuffle terdengarlah lagu rohani yang sudah cukup lama kita kenal, "Seperti Bapa Sayang Anaknya." Tak terasa kasih Tuhan pun mulai terasa mengalir ke dalam hati saya sampai-sampai saya berhenti sejenak untuk menikmati rasanya. "Seperti bapa sayang anaknya, Demikianlah Engkau mengasihiku.." dan seterusnya. Lagu ini berbicara tentang betapa Tuhan mengasihi kita seperti layaknya seorang ayah mengasihi anaknya. Seorang ayah yang baik adalah ayah yang tidak hanya sibuk mencari nafkah, tetapi tetap mampu meluangkan waktu untuk keluarga terlebih anak-anaknya ditengah kesibukan yang menggunung. Ayah yang baik mampu menjadi imam dalam keluarganya dan mampu mendidik anak-anaknya untuk tumbuh dewasa dengan budi pekerti yang baik. Dalam mendidik anak-anak seorang ayah yang bijaksana tidak akan mungkin menuruti setiap keinginan anaknya setiap saat. Bayangkan jika anak terus meminta permen atau es krim, apakah itu baik jika dituruti meski harganya relatif tidak seberapa? Tentu tidak. Hal tersebut tidak mendidik. Selain bisa membuat anaknya lupa diri dan manja, itu pun tidak baik bagi kesehatan mereka. Jika anak melakukan sesuatu kesalahan, ada kalanya harus dihukum. Mungkin sang ayah merasa perih untuk melakukannya, dan seringkali sang anak merasa sedih kenapa ayahnya berlaku begitu kejam, karena mereka belum bisa melihat bahwa hukuman terkadang harus diberikan bukan karena jahat melainkan demi kebaikan mereka sendiri. Saya rasanya perlu bersyukur karena bentuk hukuman dari ayah saya ketika saya masih kecil terbilang 'ringan' dibanding kebanyakan ayah lainnya. Ada banyak teman saya yang bercerita bahwa mereka kerap berhadapan dengan sebilah rotan atau lidi, tapi ayah saya memilih untuk menepuk telapak tangan saya apabila saya melakukan sesuatu yang salah. Meski terbilang ringan, tetap saja pada saat itu saya merasa sedih luar biasa. Saya masih ingat bagaimana perasaan saya ketika hukuman itu dijatuhkan. Tapi hari ini saya bersyukur bahwa didikan yang diberikan kedua orang tua saya sangatlah saya butuhkan untuk bisa menjadi diri saya saat ini. Tanpa itu semua, niscaya saya akan kehilangan saat-saat dimana saya dididik untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk untuk dilakukan, tentu saja termasuk bentuk hukuman ketika saya bersalah.

Kasih sayang Tuhan kepada kita hadir dalam bentuk yang begitu intim, begitu dekat, seperti kedekatan seorang ayah dengan anaknya. Lagu Jeffry S Tjandra di atas sepertinya terinspirasi dari apa yang dikatakan oleh Daud yang tertulis dalam kitab Mazmur: "Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia." (Mazmur 103:13). Ya, Tuhan sangat mengasihi kita. Agar tidak bingung, maka Tuhan pun memberikan contoh yang tentu mudah kita terima. Seperti ayah yang baik menyayangi kita, seperti itulah Tuhan mengasihi anak-anakNya yang taat dan tidak mau mengecewakanNya.Itu tentu tidak sulit untuk dipahami bukan? Dalam banyak kitab lainnya kita bisa menemukan gambaran yang sama akan Allah yang berperan sebagai Bapa yang penuh kasih kepada kita anak-anakNya. Misalnya dalam kitab Yesaya: "Bukankah Engkau Bapa kami? Sungguh, Abraham tidak tahu apa-apa tentang kami, dan Israel tidak mengenal kami. Ya TUHAN, Engkau sendiri Bapa kami; nama-Mu ialah "Penebus kami" sejak dahulu kala." (Yesaya 63:16), atau dalam Maleakhi dikatakan:  "Mereka akan menjadi milik kesayangan-Ku sendiri, firman TUHAN semesta alam, pada hari yang Kusiapkan. Aku akan mengasihani mereka sama seperti seseorang menyayangi anaknya yang melayani dia." (Maleakhi 3:17). Lebih jauh lagi kita tentu bisa melihat bagaimana Yesus selalu mengajarkan kita untuk menyebut Tuhan sebagai Bapa. Seperti halnya ayah kita di dunia menyediakan segalanya bagi kita, melindungi kita, demikian pula Bapa di Surga. Tapi di sisi lain, ketika kita melakukan kesalahan, ayah biologis kita terkadang perlu mendisiplinkan kita, dan salah satunya adalah melalui hukuman. Hal yang sama pula oleh Bapa Surgawi kita. Tuhan terkadang perlu menjatuhkan hukuman untuk mengajarkan dan mendisiplinkan kita, dan itu semua demi kebaikan kita sendiri.

Mengenai bentuk pendisiplinan ini, Penulis Ibrani sudah menyebutkannya dengan sangat jelas. "Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: "Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya." (Ibrani 12:5). Mengapa begitu? Bukankah diperingatkan atau dihukum itu tidak enak? Tentu saja, tapi itu adalah bentuk perhatian Tuhan kepada kita. Akan jauh lebih baik kita diingatkan sekeras-kerasnya sekarang selagi masih ada kesempatan ketimbang dibiarkan tersesat hingga harus binasa dalam api yang menyala-nyala kelak bukan? Dan ayat selanjutnya pun berkata: "karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak." (ay 6). Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan lebih jauh di ayat selanjutnya. "Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (ay 7-8). Jika lewat ayah kita di dunia kita didisplinkan, dan kita menghormati mereka, apalagi terhadap Bapa Surgawi kita, yang tetap mendidik kita demi kebaikan kita sendiri, agar kita layak untuk memperoleh bagian dalam kekudusanNya. (ay 9-10). Pada saat hukuman jatuh atas kita tentu menyakitkan. Tapi lihatlah hasil akhirnya, jika kita mau memperbaiki diri dan menerima hukuman itu dengan ketulusan, hasil dari hukuman itu akan menghasilkan buah kebenaran yang menyelamatkan kita.

Bentuk pendisiplinan yang terkadang hadir dalam bentuk hukuman dari Tuhan bukan terjadi atas keinginan untuk menyakiti dan menyiksa kita, tapi sebaliknya, karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita binasa akibat perbuatan-perbuatan bodoh yang kita lakukan. Tuhan selalu menganggap penting untuk mendidik kita seperti layaknya seorang ayah mengajari anaknya. "Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya." (Ulangan 8:5). Ingatlah bahwa dalam banyak kesempatan, penderitaan yang kita lalui adalah sebuah proses pemurnian dan pendisiplinan untuk mendatangkan kebaikan bagi kita sendiri juga.  Jadi ketika kita sedang dididik atau bahkan dihukum Tuhan, itu terkadang bisa sakit sekali rasanya. Tapi daripada terus melawan dan menuduh, bersyukurlah karena itu tandanya Tuhan mengasihi kita seperti bapa yang sayang anaknya.

Tuhan mendisiplinkan kita karena Dia sangat mengasihi kita sebagai anak-anakNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 20, 2012

Belajar lewat Sikap Atlit Sejati (2)

 (sambungan)

Tidak hanya Paulus, Petrus pun mengingatkan pentingnya hal yang sama. Petrus berpesan: "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu, tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu." (1 Petrus 1:14-15). Berbagai godaan akan terus berusaha masuk melalui daging. Paulus pun sudah merincinya. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Galatia 5:19-21a). oleh karena itulah penting bagi kita untuk menguasai diri terhadap godaan-godaan atau serangan-serangan itu. Caranya sudah disampaikan pula dalam beberapa ayat sebelumnya: "Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging." (ay 16).

2. Atlit yang baik bertanding dengan efektif
Kalimat bijak yang saya kutip kemarin berkata: "Real power doesn't hit hard but straight to the point." Apakah kalimat ini diambil dari Firman Tuhan atau tidak saya tidak tahu, tapi yang pasti Firman Tuhan jelas menyatakan hal yang sama. "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul" (ay 26). Atlit panah akan berusaha mengarahkan busurnya tepat ke tengah sasaran. Pemain sepakbola akan menjaga staminanya agar tahan bermain 90 menit penuh. Petinju yang baik akan tahu kapan harus mempergunakan tenaga dalam memukul dan kapan harus menyimpannya. Pelari maraton harus menjaga kecepatannya agar sanggup berlari hingga mencapai garis finish. Tanyakan kepada atlit-atlit bela diri, maka mereka pun akan mengatakan bahwa sebuah serangan efektif adalah serangan yang 'on target' atau tepat sasaran. Intinya: Efektiflah dalam melakukan sesuatu. Jangan buang tenaga secara sia-sia. Melayani itu baik, tapi masihkah itu baik jika kita melakukannya berlebihan lalu itu membuat kita kehilangan momen-momen indah untuk bersekutu secara pribadi dengan Tuhan, atau membuat kita tidak lagi punya waktu khusus dengan keluarga? Demikian juga dengan orang yang melakukan pekerjaan terus menerus siang dan malam. Selain itu, kondisi tubuh yang tidak dijaga dengan cukup beristirahat dan olahraga pun bisa menimbulkan akibat-akibat yang sama-sama tidak kita inginkan. Atlit yang baik akan tahu kapan menyimpan tenaga dan kapan memakainya, tanpa itu mereka tidak akan bisa keluar sebagai pemenang. Demikian pula kita dalam perlombaan menuju garis akhir kehidupan kita.

3. Atlit yang baik akan terus berlatih
Sehebat-hebatnya bakat seorang atlit, mungkinkah mereka bisa menjadi yang terbaik apabila mereka tidak berlatih? Tentu saja tidak. Atlit yang baik akan berlatih secara rutin beberapa jam setiap harinya. Mereka memiliki porsi latihan teratur dan dengan disiplin menjalankannya. Kita melihat atlit-atlit yang tadinya bersinar kemudian redup bukan karena bakatnya tiba-tiba hilang, tapi ternyata karena mereka bermalas-malasan dalam berlatih. Berlatih itu berbicara mengenai proses yang berkesinambungan atau berkelanjutan dan teratur. Untuk menjadi atlit yang baik kita harus terus berlatih dengan giat, untuk mencapai hasil atau performance terbaik dalam berbagai aspek kehidupan pun kita memerlukan itu, terlebih dalam hal ibadah. Paulus mengingatkan: "Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (1 Timotius 4:7b-8). Jika anda baru mulai berolahraga anda akan mulai ringan-ringan saja dahulu. Berjalan 1 atau 2 km, atau kalau mengangkat beban anda akan mulai dari berat yang ringan dulu baru kemudian ditingkatkan secara perlahan. Ini pun berlaku dalam hal-hal kehidupan lainnya termasuk dalam melakukan ibadah. Kedisiplinan tidak akan bisa dicapai dalam sekali waktu. Itu memerlukan proses yang kontinu, dan itulah yang sangat baik untuk kita lakukan.

Anda mungkin tidak menjalani panggilan sebagai seorang atlit, tapi sesungguhnya anda tetap bisa meneladani pola kehidupan atlit yang baik untuk bisa menjadi pemenang dalam perlombaan hidup kita. Life is like a race, and in fact we are in the middle of it. Semua orang turut berlomba, tapi tidak semua bisa keluar menjadi pemenang. Oleh karena itu Paulus berkata, "larilah begitu rupa sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24b) Sebelum saya tutup, mari kita lihat bagaimana ayat ini ditulis dalam versi The Message (MSG): "You've all been to the stadium and seen the athletes race. Everyone runs; one wins. Run to win. All good athletes train hard. They do it for a gold medal that tarnishes and fades. You're after one that's gold eternally. " (ay 24-25). Since we are all running inside the race, let's act like one true athlete. Berjuanglah dengan sebaik-baiknya agar keluar menjadi pemenang.

We are after one crown of eternal blessedness, so run to win!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 19, 2012

Belajar lewat Sikap Atlit Sejati (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:26
=======================
"Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul."

Mike Tyson adalah salah satu petinju terbesar sepanjang masa. Mendapat julukan si leher beton, atau di Amerika disebut "The Iron" alias si manusia besi, Tyson memiliki pukulan mengerikan yang bisa membuat lawannya KO dengan telak dalam satu kali pukulan. Terlepas dari pribadinya yang kontroversi, kita harus akui bahwa di masanya Tyson sangat sulit atau hampir-hampir tidak mungkin dikalahkan. Kemenangan KO atas lawan pun memenuhi catatan karirnya. Meski lawannya sibuk memukul secara sporadis kemana-mana, ia hanya butuh satu pukulan saja, tapi telak sehingga bisa merontokkan lawan. Bagi saya ini adalah bentuk bertanding yang efektif. Tidak mengumbar tenaga atau energi sehingga cepat habis sia-sia, tapi tenaga baru ia kerahkan sepenuhnya ketika peluang itu sudah tiba, terlebih ketika lawan sudah kehabisan tenaga karena diforsir sejak awal.

Sebuah peribahasa mengatakan: "Real power doesn't hit hard but straight to the point." Kekuatan yang sesungguhnya bukanlah dengan memukul keras melainkan tepat pada sasaran. Betapa kata bijak ini sangat terpakai dalam pertandingan olah raga, dan berlaku juga di berbagai aspek kehidupan kita. Betapa seringnya kita mengeluarkan energi sia-sia untuk sesuatu yang sia-sia pula. Kita terus memaksakan diri untuk melakukan segala sesuatu sendirian lalu melupakan banyak aspek lain yang sebenarnya tidak kalah pentingnya. Akan hal ini kita bisa belajar dari para atlit yang memiliki gaya efektif seperti Tyson. Uniknya, Paulus pernah memakai gaya atlit ini dalam sebuah perumpamaannya. Ia mengibaratkan kita sebagai peserta yang berlomba di gelanggang. Sebuah mahkota kehidupan yang abadi disediakan di depan, .."dan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah" demikian kata Paulus dalam 1 Korintus 9:24. Oleh karena itu apabila kita menyadari hal ini, ..."larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" sambung Paulus. Bukankah aneh kalau kita sadar kita tengah berlomba tetapi kita tidak mengeluarkan kemampuan terbaik untuk keluar menjadi pemenang?

Pertama-tama mari kita lihat terlebih dahulu selengkapnya apa yang dikatakan Paulus mengenai atlit. "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi. Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul. Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (1 Korintus 9:25-27). Secara garis besar, dalam perumpamaan Paulus ini kita bisa mengambil 3 poin penting dimana kita bisa belajar dari rahasia sukses para atlit dalam mencapai sukses untuk keluar menjadi pemenang.

1. Atlit yang baik menguasai dirinya dalam segala hal.
"Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Menguasai diri merupakan hal yang sangat penting, karena tidak peduli sehebat dan sekuat apapun kita, ada banyak bahaya yang mengancam lewat keteledoran kita membiarkan keinginan-keinginan daging masuk dan berkuasa atas diri kita. Paulus pun tercatat berkali-kali mengingatkan akan pentingnya penguasaan diri ini. Dalam ayat 27 Paulus menyatakan bagaimana ia melakukan hal yang sama, terlebih ketika ia menjalani panggilannya sebagai pewarta Injil. "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak." (ay 27) Apakah cukup bagi kita untuk menguasai sebagian saja? Tidak. Paulus mengingatkan agar kita mampu menguasai seluruhnya, dalam segala hal. Dalam suratnya kepada Titus, Paulus berkata: "Demikian juga orang-orang muda; nasihatilah mereka supaya mereka menguasai diri dalam segala hal." (Titus 2:6).

(bersambung)

Wednesday, July 18, 2012

Penyembah yang Benar

Ayat bacaan: Yohanes 4:23
====================
"It's who you are and the way you live that count before God. Your worship must engage your spirit in the pursuit of truth. That's the kind of people the Father is out looking for: those who are simply and honestly themselves before him in their worship." [The Message (MSG)]

Apa yang terlintas di pikiran anda ketika mendengar kata 'penyembah-penyembah yang benar'? Sebagian besar orang akan segera membayangkan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktivitas bermusik dan bernyanyi dalam memanjatkan pujian dan penyembahan kepada Tuhan. Tim musik di gereja, WL (Worship Leader), singers/choirs, mungkin itu tepatnya yang langsung terlintas dipikiran kita ketika mendengar istilah ini. Apalagi ada sebuah kelompok musik rohani yang sangat terkenal sejak tahun 1996 dan terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya bernama True Worshippers. Menghubungkan kata penyembah yang benar dengan aktivitas menyampaikan pujian-penyembahan lewat lagu dan musik tentu tidak salah. Tapi apakah kata penyembah hanya secara sempit mengacu kepada kegiatan ini? Satu lagi pertanyaannya, apakah ada istilah bahwa kita terlalu muda atau belum siap untuk menjadi penyembah-penyembah yang benar? Hari ini saya rindu mengajak teman-teman untuk melihat pandangan Kerajaan Allah akan hal ini.

Mari kita lihat sebuah ayat yang tidak asing lagi bagi kita dimana kata penyembah-penyembah benar ini disebutkan. "Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian." (Yohanes 4:23). Dalam versi BIS dikatakan: "Tetapi waktunya akan datang, malahan sudah datang, bahwa dengan kuasa Roh Allah orang-orang akan menyembah Bapa sebagai Allah yang benar seperti yang diinginkan Bapa." Atau dalam bahasa Inggrisnya, "...true (genuine) worshippers will worship Father in spirit and in truth (reality)..." (English AMP). Dari sini kita bisa melihat bahwa penyembah-penyembah yang benar alias true worshippers itu adalah orang-orang yang menyembah Bapa sebagai Allah yang benar baik dalam spirit (roh) maupun kebenaran, alias in truth atau reality. Reality, atau realitas berbicara mengenai kehidupan kita sehari-hari, sehingga lebih dari sekedar menyanyikan pujian-penyembahan, seorang penyembah yang benar akan memperhatikan betul kehidupannya di tengah masyarakat sehari-hari, baik di rumah, kantor, sekolah, kampus, warung, ketika hangout bersama teman-teman dan lain sebagainya. Seorang penyembah yang benar akan mencerminkan kebenaran tentang Allah baik ketika tengah berada ditengah keramaian, bersama orang lain atau ketika sendirian. Disaat seperti inilah kita bisa membuktikan apakah karakter, gaya hidup, sikap dan tingkah laku atau gaya bicara bahkan integritas kita sudah mencerminkan Tuhan yang kita sembah atau belum.

Mari kita lihat satu versi lagi dari versi The Message. Disana ayat Yohanes 4:23 ini dikatakan sebagai berikut: "It's who you are and the way you live that count before God. Your worship must engage your spirit in the pursuit of truth. That's the kind of people the Father is out looking for: those who are simply and honestly themselves before him in their worship." Perhatikan kata yang dicetak tebal: "It's who you are and the way you live that count before God." Bukan merdunya suara kita, bukan keindahan lagu dan aransemen, bukan tangisan, teriakan atau pengakuan-pengakuan secara lisan saja, bukan pula berapa besar uang yang kita kasih, apa yang bisa kita capai, kehebatan kita, kekuatan kita dan sebagainya, tapi apa yang penting ternyata adalah "who we are and the way we live". Siapa diri kita dan bagaimana cara kita hidup. Itulah yang akan menunjukkan apakah kita sudah merupakan penyembah-penyembah yang benar atau belum. A true worshipper is the one who has his spirit engaged/attached in the pursuit of truth. Orang-orang yang menghidupi kebenaran Tuhan dalam segala sesuatu yang dilakukan sehari-hari. Orang yang hidupnya sesuai dengan kemauan Tuhan, kemauan dari "Yang Disembah". Itulah sosok penyembah benar yang sejati.

Selanjutnya, adakah alasan bagi kita bahwa kita masih terlalu muda untuk menjadi penyembah yang benar? Tentu saja tidak. Alkitab sudah menegaskan: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12). Secara spesifik ayat ini tertulis dalam surat Paulus yang ditujukan untuk mempersiapkan Timotius menjadi hamba Tuhan yang hebat sejak masa mudanya, tapi inipun berlaku bagi kita semua, terutama anak-anak muda. Perhatikan bahwa keteladanan dalam segala sisi kehidupan bukan saja merupakan kewajiban dari orang-orang tua atau dewasa, tetapi juga harus diadopsi dan diaplikasikan oleh anak-anak muda. Singkatnya, anak muda pun bisa menjadi teladan yang bersinar terang bagi orang-orang yang berusia lebih dari mereka.

Dalam surat kepada jemaat Roma, Paulus mengatakan demikian: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Lihatlah bawha ibadah yang sejati di mata Tuhan bukanlah ibadah rutin kita setiap hari Minggu atau aktivitas-aktivitas peribadatan lainnya, tapi justru seluruh diri kita sendiri. Seluruh hidup kita, our whole-selves yang kudus dan berkenan, dalam bersinggungan dengan kehidupan masyarakat sehari-hari atau ketika kita sedang sendirian. Seperti itulah ibadah yang sejati di mata Tuhan, seperti itulah sikap seorang yang menyembah Tuhan dengan benar. That's the spirit of a true worshipper. Jika demikian, mari kita pertanyakan diri kita hari ini: sudahkah kita menjadi penyembah-penyembah yang benar? Kenyataannya lebih banyak orang yang lebih tertarik menjadi 'true gossipers' ketimbang true worshippers. Kita tidak akan pernah bisa membuat perbedaan-perbedaan menuju ke arah yang lebih baik sebelum kita berubah menjadi sosok penyembah yang benar. We can't never make a change, menjadi terang dan garam di dunia sebelum kita memperhatikan sikap dan gaya hidup kita. Sebelum kita berharap lebih banyak, mari pastikan terlebih dahulu diri kita sebagai penyembah yang benar.

The time has come when what we're called and where we go to worship don't matter anymore. It's who we are and the way we live that count before God

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 17, 2012

Tak Jemu-Jemu Berdoa

Ayat bacaan: Lukas 18:1
====================
"Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu."

Berdoa sekedarnya, begitu tidak dikabulkan lantas berhenti dan menuduh Tuhan tidak peduli atau bahkan tidak ada. Itu menjadi kebiasaan banyak orang, terlebih di jaman sekarang ketika semuanya menuntut hal-hal yang instan, mudah dan cepat. Doa dianggap sebagai sarana meminta yang harus dikabulkan, atau kalau tidak maka Tuhan bersalah. Bagi mereka Tuhan tak ubahnya seperti kopi instan 3 in 1 yang hanya tinggal diseduh air panas langsung jadi. Kita mungkin bisa belajar dari kegigihan seorang anak dalam meminta sesuatu yang pada akhirnya membuat orang tuanya menyerah dan mengabulkan permintaan mereka. Bukan lewat merengek-rengek tentu, karena itu biasanya tidak akan membawa hasil kecuali mendapat teguran atau dimarahi orang tuanya, tapi lewat wajah mereka yang polos dan penuh harap atau lewat usaha-usaha yang mampu membuat hati orang tuanya luluh. Begitu sayangnya kepada anak, orang tua biasanya akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengabulkan permintaan anaknya. Apalagi jika apa yang mereka minta merupakan sesuatu yang penting, tentu orang tua akan lebih mati-matian lagi berusaha memenuhinya.

Dalam menghadapi masalah dan mengharapkan pertolongan Tuhan, seberapa besar kesabaran kita untuk berharap kepadaNya? Seperti yang sudah sering saya sampaikan, seringkali ketidaksabaran ini menjadi penghalang terbesar bagi kita untuk menikmati janji-janji Tuhan. Awalnya mungkin kita berdoa dengan rajin, tapi ketika jawaban tidak kunjung datang secepat yang kita kehendaki, intensitas doa pun menurun drastis hingga akhirnya sampai ke titik nadir alias berhenti total. Sebagian orang akan segera mencari alternatif-alternatif lain akibat merasa kecewa kepada Tuhan. Sulit bagi mereka untuk bersabar dengan menerima kenyataan bahwa waktunya Tuhanlah yang terbaik, lebih baik dari apa yang baik menurut kita, dan Tuhan sudah berjanji untuk sediakan segala yang terbaik itu kepada kita semua. Waktu yang terbaik menurut kita hanyalah berpusat pada pandangan kita pribadi, dimana waktunya Tuhan tidak lagi punya nilai apa-apa disana. Sebagian orang malah hanya menganggap doa seperti mengirim paket permintaan semata. Ada perlu baru berdoa, jika semua berjalan sesuai keinginan, maka doa pun selesai. Padahal lebih dari apapun, doa merupakan sarana bagi kita untuk berhubungan dengan Tuhan. Semakin rajin kita berdoa, hubungan kita akan semakin dekat, kita pun akan semakin peka terhadap suaraNya. Itu akan sangat bermanfaat baik buat hidup kita saat ini maupun yang kekal nanti.

Akan hal ini, Yesus memberikan sebuah perumpamaan menarik mengenai kekuatan dari ketekunan berdoa seperti yang tertulis dalam Lukas 18:1-8. Perikop ini dibuka dengan kalimat berikut: "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (Lukas 18:1). Yesus mengambil perumpamaan tentang seorang janda, sosok yang lemah dan sering digambarkan sebagai figur yang tertindas, hidup susah dan diperlakukan tidak adil di dalam Alkitab, dan seorang hakim yang lalim. Dalam kisah ini, seorang janda diceritakan terus memohon kepada hakim yang lalim agar berkenan membela haknya. (ay 3). Sementara hakim dalam kisah ini bukanlah orang yang takut akan Tuhan, dan mempunyai sikap arogan yang  tidak menghormati siapapun. Sesuai dengan gambaran pribadi si hakim, sudah tentu ia menolak mentah-mentah permohonan janda ini. Tapi lihatlah kegigihan si ibu janda. Ia tidak jemu-jemu mendatanginya dan memohon, dan akhirnya ia berhasil meluluhkan hakim yang lalim itu. Dan Yesus pun berkata, "Camkanlah apa yang dikatakan hakim yang lalim itu!" (ay 6). Jika hakim yang lalim saja bisa luluh terhadap permohonan tidak jemu-jemu, dan pada akhirnya mau mengabulkan permintaan si janda, masakan Tuhan yang begitu penuh kasih setia, begitu mengasihi kita manusia ciptaanNya sendiridan menganggap kita begitu istimewa tidak mendengarkan seruan kita? "Tidakkah Allah akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?" (ay 7). Tuhan yang penuh kasih dan adil akan selalu mengulurkan tanganNya, bukan mengulur-ulur waktu, untuk menolong kita anak-anakNya yang siang dan malam berseru kepadaNya dengan tidak jemu-jemu. Tuhan tidak bakal dan tidak akan pernah mengulur-ulur waktu untuk menolong kita.

Tuhan selalu menepati janjiNya. Itu pasti. Yang sering jadi masalah justru karena seringkali kita memandang hanya berdasarkan apa yang terbaik menurut kita sendiri saja, bukan kepada apa yang terbaik menurut Tuhan. "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Apa yang Tuhan Yesus ajarkan lewat perumpamaan tadi begitu jelas. Mari kita lihat sekali lagi ayat bacaan hari ini: "Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu." (Lukas 18:1). Yesus mengajarkan bagaimana kuasa doa, bagaimana kita sebagai anak-anak Allah sebaiknya terus berdoa siang dan malam dengan tidak jemu-jemu, tanpa putus asa, tanpa pupus pengharapan. Paulus dalam beberapa kesempatan menunjuk pada doa yang terus dilakukan siang dan malam dengan sungguh-sungguh. Salah satu contoh adalah ketika Paulus menyatakan betapa ia terus berdoa siang dan malam dalam kerinduan untuk bertemu dengan para jemaat di Tesalonika dan melayani mereka. (1 Tesalonika 3:10).

Berdoa dengan tidak jemu-jemu, doa yang dipanjatkan terus menerus siang dan malam bukanlah berarti doa harus terus kita ulang-ulang atau bertele-tele. Bukan pula dengan cara-cara memaksa. Hal berdoa diajarkan dengan jelas oleh Yesus sendiri dalam Matius 6:5-15, dan hendaknya itu menjadi acuan kita. Bukan karena banyaknya kata-kata, keindahan rangkaian kata dalam doa, tapi doa yang disertai iman lah yang penting. Bukan pula doa yang hanya dilakukan karena ada permintaan dan kebutuhan, menjadikan doa sebagai paket berisi wishlist atau daftar permintaan, tapi dasarkan doa sebagai sarana bagi kita untuk membina keintiman hubungan dengan Tuhan. Sejauh mana kita mampu bergantung dan mau mengandalkan Tuhan, itu akan terlihat dari kesetiaan kita dalam berdoa. Dalam Roma kita diingatkan agar senantiasa "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Bertekun dalam doa, tidak jemu-jemu, siang dan malam, tidak akan pernah berakhir sia-sia. Ada kalanya jawaban Tuhan tidak akan segera datang. Mungkin waktunya belum tepat, mungkin Tuhan ingin menguji keteguhan dan ketekunan kita, tapi pada saatnya, Tuhan akan menolong dan memberkati kita sesuai janji-janjiNya. Karena itu, hindarilah ketidaksabaran yang bisa mengarahkan kita kepada rupa-rupa kesesatan ketika kita memilih untuk mencari alternatif atau jalan pintas yang bisa membinasakan. Adalah jauh lebih penting untuk membina hubungan karib dengan Tuhan, dan sarana untuk itu adalah melalui doa. Bertekunlah berdoa. Jangan jemu-jemu. "Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, sebab Ia, yang menjanjikannya, setia." (Ibrani 10:23).

Jangan pernah jemu untuk berdoa, karena pada saatnya Tuhan pasti bertindak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 16, 2012

Menyenangkan Hati Bapa

Ayat bacaan: Hosea 6:6
===================
"Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran."

menyenangkan hati BapaSeorang teman saya baru saja bercerita bahwa anaknya yang masih balita suka membawakan secangkir kopi yang dibuatkan istrinya setiap dia pulang bekerja dan akan memeluknya didepan pintu. "Itu membuat rasa lelah saya bekerja dan terjebak macet di jalan terbayar lunas", katanya sambil tersenyum senang. Sambutan yang mencerminkan kasih sayang sang anak akan sangat berarti bagi seorang ayah, apalagi setelah lelah bekerja sehari penuh. Bandingkanlah keluarga harmonis ini dengan gambaran sebaliknya yang dialami banyak keluarga lainnya. Situasi di rumah tidak harmonis, istri entah dimana, anak-anak sibuk dengan dunia masing-masing, tidak ada satupun yang menyambut seolah mereka tidak butuh kehadiran sang ayah sama sekali di rumah. "Saya yakin tidak ada ayah yang tidak bahagia mendapat sambutan seperti ini dari anaknya, kecuali si ayah itu mati rasa", katanya lagi sambil tertawa. Apa yang ia katakan benar. Siapapun kita tentu merindukan perasaan dikasihi, dihargai dan dipedulikan dari orang lain, terlebih dari orang yang kita sayang. Jika kita merasa seperti itu, pernahkah kita berpikir bahwa Bapa Surgawi kita pun rindu untuk mendapat sambutan penuh kasih sayang dari anak-anaknya? Lalu, jika kita ingin melakukan itu, apa yang harus kita lakukan? Apakah kita menghidangkan secangkir kopi panas yang nikmat? Memijat pundakNya? Memeluk? Tentu tidak demikian, karena Tuhan tidak hadir secara fisik di depan kita seperti ayah biologis kita di dunia. Hari ini mari kita lihat bagaimana kita bisa menyenangkan hati Tuhan, membuatNya merasa dikasihi dan dicintai oleh kita, anak-anakNya.

Mari kita lihat kitab Hosea. Dalam pasal 6 kita bisa menemukan bagaimana cara kita untuk menyenangkan hati Bapa Surgawi kita. Perhatikan ayat berikut: "..Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." (Hosea 6:6). Kasih dan kesetiaan kita yang besar bagi Tuhan yang tidak lekang dimakan jaman, tidak gampang luntur karena cemaran berbagai warna-warni duniawi, dan kerinduan kita tanpa henti untuk mengenal pribadi Bapa lebih lagi, itulah yang menyenangkan Tuhan. Dan itu dikatakan lebih dari "TUHAN senang kepada orang-orang yang takut akan Dia, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setia-Nya." (Mazmur 147:11). Menyenangkan hati Tuhan bisa kita lakukan dengan hidup takut akan Tuhan dan terus percaya penuh kepadaNya tanpa pernah ragu atau putus asa. Hal-hal seperti inilah yang bisa kita lakukan untuk menyenangkan hatiNya. Lewat pengenalan akan Tuhan, mengasihiNya dengan setia, menyadari dan percaya sepenuhnya kasih setia Tuhan dalam kondisi apapun yang kita alami, dan terus menjalani hidup dengan rasa takut akan Tuhan, itulah yang bisa kita perbuat untuk mengetuk pintu hati Tuhan dan menyenangkanNya.

Dalam bagian lain pada kitab Mazmur pasal 147 tadi kita bisa melihat juga bahwa memberikan puji-pujian, bermazmur bagiNya, itu pun menyenangkan Tuhan jika kita lakukan dengan hati yang tulus. Sebelum Pemazmur menuliskan hal yang membuat Tuhan senang dalam ayat 11 di atas, kita dapati ayat yang berbunyi "Bernyanyilah bagi TUHAN dengan nyanyian syukur, bermazmurlah bagi Allah kita dengan kecapi!" Itu tertulis dalam ayat 7. Tuhan tentu akan disenangkan apabila kita memiliki gaya hidup yang senantiasa memuji dan menyembahNya, bermazmur bagiNya baik dalam keadaan suka maupun duka, baik dalam keadaan senang maupun susah, dan melakukan itu semua dengan hati yang tulus sepenuhnya karena mengasihi Tuhan lebih dari segalanya bukan karena mengharapkan sesuatu imbalan atau lainnya.

Kita harus benar-benar waspada karena ada begitu banyak keinginan daging yang akan selalu berusaha untuk menjauhkan kita dari Tuhan dan merusak hubungan kita denganNya. Seringkali kita menyerah untuk memberi toleransi kepada keinginan-keinginan kedagingan, dan mengira bahwa itu tidaklah apa-apa jika kita anggap hanya sekali-kali atau sedikit-sedikit saja. Padahal kenyataannya Tuhan sama sekali tidak berkenan kepada orang-orang yang memilih untuk hidup dalam daging dan menomor duakan keinginan Roh. "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (Roma 8:8). Selanjutnya yang juga penting, apakah kita sudah berkenan meluangkan waktu untuk berdoa bagi orang lain, untuk pemerintah dari tingkat regional hingga nasional? Sudahkah kita menaikkan permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur buat orang lain, buat pemimpin-pemimpin kita? Hal ini pun penting untuk kita cermati, karena firman Tuhan berkata "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita" (1 Timotius 2:3). Lalu ingat pula bahwa kita bisa melakukan sesuatu untuk membalas segala kebaikan Tuhan dan menunjukkan kasih kita kepadaNya bukan dengan menyogok Tuhan lewat berbagai cara, tapi justru dengan melakukan sesuatu untuk saudara-saudari kita yang membutuhkan uluran tangan kita. "Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).

Kita mungkin tidak bisa membuat secangkir kopi buat Tuhan atau memijatNya. Tapi Alkitab sudah memberitahukan bagaimana caranya kita bisa menyenangkan hati Bapa. Lebih dari korban bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia kita dan usaha kita untuk semakin jauh mengenal pribadiNya. Tuhan rindu untuk dapat bergaul karib dengan kita. Kepada kita yang menyenangkan hatiNya, yang berkenan di hadapanNya, Tuhan tidak akan menahan-nahan berkatNya untuk tercurah. "Sebab TUHAN Allah adalah matahari dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan dari orang yang hidup tidak bercela." (Mazmur 84:11). Ini janji Tuhan kepada setiap anakNya yang selalu berusaha menyenangkan hatiNya bukan karena berharap sesuatu atau pamrih tapi semata-mata karena mengasihi Tuhan lebih dari segala hal lainnya. Tuhan akan sangat senang jika kita menjadikan diriNya prioritas utama dalam hidup kita. Dia akan sangat bangga jika kita mempersembahkan ibadah sejati kita dengan mempersembahkan tubuh kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepadaNya. (Roma 12:1). Tetap percaya dan berpegang kepadaNya dalam kondisi dan situasi apapun, selalu melakukan kehendakNya dengan sepenuh hati, tetap bersukacita dan bersyukur meski dalam kesesakan sekalipun, dan tentunya tidak sekali-kali menomorduakan apalagi meninggalkan Tuhan demi kenikmatan sesaat. Anda siap menyukakan hati Bapa?

Lebih dari korban-korban sembelihan atau bakaran, Tuhan lebih menyukai kasih setia dan kerinduan kita untuk mengenalNya lebih jauh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...