Thursday, June 14, 2012

Berapa Banyak?

Ayat bacaan: Kejadian 18:32
==================
"...Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu."

berapa banyakSeringkali kita menjadi apatis ketika melihat sesuatu yang rasanya mustahil kita perbaiki dengan melihat kemampuan yang ada. Kita ingin memberantas korupsi di negara ini, tapi kita kemudian berpikir, berapa banyak sih yang peduli? Untuk membersihkan tempat kita bekerja saja sudah tidak mungkin, apalagi bermimpi untuk membersihkan satu negara. Karenanya kita lebih cenderung untuk membiarkan saja, dan itu sudah baik karena ada banyak orang yang kemudian ikut-ikutan karena toh situasinya sudah seperti itu. Pertanyaan pun hadir: Berapa banyak orang benar yang dibutuhkan untuk bisa merubah nasib sebuah kota atau bahkan sebuah bangsa? Seribu? Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta atau lebih? Berapa angka yang akan membuat anda yakin mampu membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik, atau mendatangkan berkat Tuhan turun atas bangsa, setidaknya menghindarkan murka Tuhan turun atas sebuah bangsa atau negara?

Jika anda berpikir bahwa diperlukan pasukan besar untuk melakukan itu, Tuhan ternyata tidak mengatakan demikian. Tuhan tidak pernah berkata bahwa dibutuhkan ribuan atau jutaan orang agar mampu membawa perubahan. Sedikit orang percaya yang menjaga kekudusan dan ketaatan bersinergi bersama-sama ternyata sudah mampu membuat berkat turun atas bangsa. Adakah bukti yang menguatkan hal ini? Tentu saja. Kita bisa mengetahui itu lewat catatan Alkitab tentang tawar menawar antara Abraham dengan Tuhan mengenai keselamatan Sodom dalam Kejadian 18:16-33.

Bagian dalam Kejadian 18:16-33 selalu menarik buat saya untuk diperhatikan. Sebuah tawar menawar terjadi ketika Abraham berupaya mencegah Tuhan memusnahkan seisi kota Sodom yang populasinya cukup besar, Abraham memulai dengan jumlah 50 orang. "Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:24-25). Tuhan kemudian menjawab: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Melihat bahwa Tuhan tetap pada pandanganNya, itu artinya tidak ada 50 orang benar disana. Dalam ayat-ayat berikutnya kita bisa melihat usaha Abraham untuk terus menawar dengan jumlah yang makin menyusut terus hingga akhirnya sampai kepada jumlah yang sangat kecil, 10 orang. "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (Kejadian 18:32). Tuhan tidak akan memusnahkan Sodom apabila ada 10 orang saja yang taat. Tidak perlu ribuan orang, sepuluh orang pun sudah bisa membawa perubahan bagi bangsa. Itu faktanya. Tetapi kenyataannya, jumlah sekecil itu dari populasi Sodom yang besar pun tidak ada. Maka kita tahu apa yang selanjutnya terjadi pada kota itu. Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa 10 orang benar yang bersatu ternyata sudah mampu membawa dampak yang  besar. Jika dulu begitu, sekarang pun sama. Dimana pun kita tinggal saat ini, meski situasinya sama sekali jauh dari kondusif, atau di bidang manapun kita berada, walau bidang itu terlihat sama sekali buruk sekalipun, kita bisa bersatu dengan saudara-saudari seiman untuk tetap bertumbuh sekaligus membuat perubahan nyata bagi lingkungan dimana kita berada.

Semangat kerjasama, saling mendorong dan saling mendukung berulang kali diingatkan dalam alkitab. "Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan." (1 Tesalonika 5:11). Kemudian baca pula ayat berikut: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Tidak saja penting bagi kita sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung untuk bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik, bahkan dengan tegas dikatakan bahwa dengan saling tolong menolong, itu artinya kita sudah memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Selanjutnya kita juga mengetahui bahwa kepada kita masing-masing telah diberikan karunia dan panggilan tersendiri. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Bacalah 1 Korintus 12 dan anda akan mendapatkan gambaran selengkapnya. Dengan karunia dan panggilan khusus yang berbeda-beda ini kita tidak akan dapat melakukan secara optimal jika berjalan sendirian. Itulah sebabnya kita harus bekerjasama untuk mencapai hasil terbaik, termasuk pula dalam hal membawa bangsa atau negara ke arah yang lebih baik.

10 orang tidaklah banyak. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membentuk sebuah kesebelasan sepak bola. Tapi dimata Tuhan jumlah itu sudah mampu membawa perubahan dan cukup pula untuk memulai sebuah gerakan yang bisa membuka pandangan orang akan kebenaran firman Tuhan. Anda tidak perlu apatis, patah semangat atau putus asa. Jalankan tepat seperti apa yang dikehendaki Tuhan, dan disana Roh Kudus akan melakukan sesuatu lewat apa yang anda perbuat. Biar sedikit, atau walaupun anda sendirian, percayalah orang bisa melihat sesuatu yang berbeda pada diri anda. Jangan lupa pula untuk terus mendoakan bangsa dan negara lewat doa-doa syafaat, seperti yang juga diingatkan oleh Paulus. "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Buat apa? Karena "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4). Sejalan dengan renungan kemarin, temukanlah umat-umat Tuhan lainnya di mana anda tinggal, dan mulailah membangun sebuah hubungan yang erat dimana anda bisa bertumbuh bersama-sama. Jumlahnya sedikit? Itu tidak masalah. Yang jelas Tuhan sudah menempatkan umatNya yang lain disekitar anda sehingga anda tidak perlu merasa sendirian baik dalam menjaga kesehatan iman anda maupun untuk mulai melakukan perkara-perkara baik yang bisa membuka mata orang lain akan kebenaran Firman Tuhan. Tetaplah hidup seturut kehendak Allah, dan percayalah bahwa ketaatan anda akan berbuah lebat meski jumlah anda sedikit dibandingkan dunia disekitar anda.

Even the small number can make a big change when the Holy Spirit works within

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, June 13, 2012

Ada Banyak Umat-Ku di Kota Ini

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 18:10
===========================
"...banyak umat-Ku di kota ini."

ada umatKu di kota iniSalah seorang sepupu saya pindah dari Indonesia ke sebuah negara lain mengikuti suaminya yang pindah kerja. Disana ia mengaku kesulitan untuk mencari gereja dimana ia bisa bertumbuh. Ia bercerita bahwa ia merasa sendirian dan tidak punya teman untuk sharing khususnya mengenai iman. Ada banyak orang juga yang mungkin mengalami situasi yang sama ketika harus pindah ke sebuah tempat yang sama sekali baru, apalagi jika disana sulit untuk menemukan gereja. Ada kalanya lingkungan yang baru sama sekali tidak mendukung pertumbuhan iman, dan disana pergumulan akan banyak kita alami. Bicara mengenai lingkungan yang mungkin relatif tidak kondusif, saya kebetulan berada di dunia hiburan khususnya musik. Dunia hiburan atau entertainment kerap diasosiasikan orang sebagai dunia yang penuh kesesatan. Pendapat itu didukung oleh fakta yang menunjukkan banyaknya artis yang tadinya baik-baik kemudian hancur karirnya akibat terpengaruh oleh pola pergaulan yang memang buruk. Tapi benarkah dunia hiburan ini melulu berisi orang-orang yang saling sesat menyesatkan saja? Tentu saja tidak. Saya mengenal beberapa musisi yang masih tetap teguh berpegang dalam iman akan Tuhan. Bahkan banyak diantara mereka yang masih melayani secara rutin setiap minggunya. Tampil di dalam gemerlap kemewahan dan ketenaran dunia hiburan ternyata tidak serta merta membuat mereka ikut terhanyut dalam pergaulan buruk. Mereka justru terpanggil untuk tampil beda dan menunjukkan sikap hidup yang benar ditengah lingkungan masing-masing. Saya sering bertukar cerita, saling menguatkan, mengingatkan dan membagi firman Tuhan lewat sms atau ketika bertemu dengan mereka dalam setiap kesempatan. Satu kesimpulan yang saya peroleh: dunianya boleh terlihat buruk atau bahkan berbahaya, namun Tuhan tetap memiliki "orang-orang"Nya tinggal disana. Selalu ada sahabat-sahabat seiman untuk sharing dan saling menguatkan dimanapun kita ditempatkan. We're never alone, because God still has His people wherever we go.

Paulus pernah mengalami perasaan terasing seperti itu. Pada suatu kali Paulus tiba di Korintus, sebuah kota yang terletak di Yunani. Pada masa itu Korintus dikenal sebagai kota yang memiliki moral buruk dan gemar melakukan kejahatan termasuk didalamnya korupsi. Itu bukanlah tempat yang bersahabat bagi orang percaya, apalagi bagi Paulus yang memiliki panggilan untuk mewartakan Kabar Keselamatan dimanapun ia sampai. Melakukan itu di kota yang terkenal buruk akhlaknya? Salah-salah hidupnya bisa berakhir disana. Paulus merasakan hal itu. Tapi Tuhan mengetahui perasaannya. Tuhan pun kemudian menganggap penting untuk meneguhkan Paulus. "Pada suatu malam berfirmanlah Tuhan kepada Paulus di dalam suatu penglihatan: "Jangan takut! Teruslah memberitakan firman dan jangan diam!" (Kisah Para Rasul 18:9). God strengthened him and encouraged him to keep going. Bukan hanya menyatakan itu, tapi Tuhan pun memberikan alasannya. "Sebab Aku menyertai engkau dan tidak ada seorangpun yang akan menjamah dan menganiaya engkau, sebab banyak umat-Ku di kota ini." (ay 10). Kita bisa melihat bagaimana Tuhan mengingatkan Paulus bahwa dia tidak sendirian berada di kota itu. Bukan saja Tuhan sendiri berada bersamanya, tetapi ada banyak umat Tuhan lainnya yang sesungguhnya berada di kota itu. Hanya saja Paulus mungkin belum bertemu atau melihat mereka, karena ia baru saja tiba disana. Oleh karena itu Paulus tidak perlu merasa was-was dan sendirian berada di sebuah kota dengan kondisi moral yang buruk.

Berkaca dari situasi Paulus ini kita bisa melihat meskipun kita berada dalam sebuah kota atau lingkungan yang sama sekali asing bagi kita, meski situasinya terlihat buruk, sesungguhnya Tuhan tetap berada bersama kita, dan saudara-saudari seiman pun tetaplah ada disana. Apa yang perlu kita lakukan adalah menemukan dimana mereka berada, tidak bersikap eksklusif. Kita harus mau membuka diri, lalu saling dukung, saling bantu dan bekerjasama dengan mereka agar bisa tumbuh bersama. Dari sanalah kita kemudian akan mampu berbuat sesuatu bagi Kerajaan Allah dalam sebuah jaringan kerjasama yang kuat, menjadi terang dan garam yang akan memberkati orang, lingkungan, kota atau bahkan negara. Jika ada diantara teman-teman yang mungkin baru pindah ke sebuah kota lain atau negara lain dan merasa kesepian disana, ingatlah bahwa anda tidak pernah sendiri. Hari ini Tuhan mengingatkan anda secara khusus bahwa anda sebenarnya tidaklah pernah sendirian. Selain Tuhan berdiri disamping anda, selalu ada saudara-saudari seiman yang akan anda temukan seandainya anda mau membuka diri, berkenalan dan bersahabat dengan mereka. Sekalipun anda mungkin sulit menemukan cabang dari gereja anda sebelumnya atau minimal yang sejenis, ingatlah bahwa di dalam Kristus kita semua bersaudara, terlepas dari denominasi apa yang anda anggap mampu mendukung pertumbuhan iman anda hingga kini. Tidak ada yang kebetulan bahwa kita ditempatkan Tuhan pada sebuah tempat tertentu dimana kita berada hari ini, dan untuk itu Tuhan pun sudah merencanakan segalanya dengan sangat baik, termasuk di dalamnya menempatkan saudara-saudari seiman yang akan bisa saling berbagi, mengingatkan dan menguatkan di tempat yang sama. Kita tidak pernah direncanakan Tuhan sebagai mahluk individual yang anti-sosial, Tuhan justru menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang mau mengulurkan jabat persahabatan dengan siapapun tanpa terkecuali. Jika anda baru saja pindah atau memasuki dunia yang sama sekali asing bagi anda, pergunakan waktu-waktu yang ada untuk berkenalan dengan banyak orang. Temukanlah umat Tuhan lainnya dan bertumbuhlah bersama. Jangan khawatir, apalagi takut, karena Tuhan sudah berkata "Jangan takut...sebab banyak umatKu di kota ini."

Temukan umat Tuhan lainnya dan jadilah garam dan terang bersama-sama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 12, 2012

Korah dan Kejatuhannya

Ayat bacaan: Bilangan 26:10
==========================
"tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan."

korah, kejatuhanSeorang teman yang bekerja sebagai arsitek pernah membangun sebuah maket mini dari gedung yang akan dikerjakannya. Maket ini direncanakan akan dipajang di lokasi agar pengunjung bisa melihat seperti apa bangunan itu akan berdiri kelak. Ia bekerja siang dan malam, dan setelah berminggu-minggu akhirnya maket pun beres. Seharusnya ia lekas-lekas memasukkannya dalam kaca tebal dan segera bergegas membawa hasil kerjanya itu ke lokasi. Tapi sayangnya ia menundanya. Ia berpikir bahwa toh tenggat waktunya masih lama sehingga ia tidak perlu buru-buru merampungkan keseluruhan kerjanya. Pada suatu kali ia lupa menutup ruang kerjanya. Hanya pergi keluar sebentar, tapi ternyata anaknya yang balita masuk kesana dan merusak maket itu habis-habisan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pekerjaannya sudah hancur. Ia hanya bisa menyesali kecerobohannya. Akibatnya ia harus mengulangi lagi dari awal. Ia melanggar perjanjian batas waktu yang sudah disepakati dengan terlambat menyerahkan, dan ia pun harus menanggung konsekuensi sebagai akibatnya.

Ada banyak orang yang hancur dalam sekejap setelah mati-matian membangun karirnya bertahun-tahun hanya karena lengah atau terlena atas kesuksesan yang tengah dirasakan. Lihatlah dunia selebritis yang gemerlap. Hampir setiap hari kita melihat artis datang dan pergi, juga artis yang melesat menuju ketenaran tapi kemudian menghujam membentur bumi dalam sekejap karena melakukan hal-hal buruk. Obat terlarang dan skandal bisa jadi merupakan penyebab yang paling sering mendatangkan kehancuran. Apakah itu membuat mereka ditangkap, atau kemudian mengalami kecelakaan, atau ada juga yang citranya rusak sedemikian rupa sehingga sulit untuk dipulihkan lagi. Semua itu datang sebagai resiko akibat kesalahan yang ia perbuat sendiri. Sungguh amat disayangkan sesuatu yang telah dibangun harus hancur dalam sekejap mata karena kebodohan sendiri. Terlena dalam kesuksesan bisa membuat orang lengah terhadap dosa, dan itu bisa menjadi sangat fatal akibatnya.

Kemarin kita sudah melihat pesan penting dari Paulus yang berbunyi: "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Mempertahankan adalah jauh lebih berat ketimbang membangun sesuatu. Ada banyak faktor di dalam sebuah keberhasilan yang bisa membuat kita lupa diri, sesuatu yang mungkin tidak terjadi ketika kita sedang merintis atau membangun keberhasilan kita. Ada banyak orang yang tergelincir jatuh bukan ketika mereka berjuang, tapi justru ketika kesuksesan telah berhasil mereka raih. Maka tidaklah heran jika ketika kita sudah sukses, perjuangan bukan menjadi lebih mudah tapi malah akan menjadi jauh lebih berat lagi.

Seperti yang sudah kita lihat sedikit pada renungan kemarin, Korah merupakan salah satu contoh akan hal ini dari sekian banyak yang tertulis di dalam Alkitab. Mari kita lihat kisah Korah lebih detil. Korah awalnya merupakan seorang pemimpin yang cukup berpengaruh di masa ketika Israel keluar dari Mesir. Seperti halnya orang Lewi lainnya, Korah dipercaya untuk melakukan pekerjaan pada Kemah Suci Tuhan, bertugas bagi umat untuk melayani mereka. Dengan status seperti itu dengan sendirinya Korah mendapat kepercayaan yang lebih tinggi di banding orang Israel lainnya. Itu adalah sebuah kehormatan yang seharusnya disyukuri dan ditanggungjawabi dengan sungguh-sungguh. Namun nyatanya tidaklah demikian. Korah terperosok dalam dosa pemberontakan. Ia menjadi lupa akan hakekat kepercayaan yang telah diberikan Tuhan kepadanya setelah sukses. Ia menghargai dirinya sendiri secara berlebihan dan kemudian gagal untuk mengenal batasan yang telah ditetapkan Tuhan baginya. Ia lupa kepada apa yang menjadi garis tugasnya dan menjadi angkuh. Korah merencanakan makar, "mengajak orang-orang untuk memberontak melawan Musa, beserta dua ratus lima puluh orang Israel, pemimpin-pemimpin umat itu, yaitu orang-orang yang dipilih oleh rapat, semuanya orang-orang yang kenamaan." (Bilangan 16:1-2). Mengapa ia memberontak? Karena ia merasa dirinya hebat diatas orang lain dan haus akan jabatan. Mereka merasa iri kepada Musa. Lantas Musa pun menegur mereka: "Belum cukupkah bagimu, bahwa kamu dipisahkan oleh Allah Israel dari umat Israel dan diperbolehkan mendekat kepada-Nya, supaya kamu melakukan pekerjaan pada Kemah Suci TUHAN dan bertugas bagi umat itu untuk melayani mereka, dan bahwa engkau diperbolehkan mendekat bersama-sama dengan semua saudaramu bani Lewi? Dan sekarang mau pula kamu menuntut pangkat imam lagi?" (ay 9-10). Kesombongan Korah dan pengikut-pengikutnya membuat mereka lupa bahwa sesungguhnya yang mereka lawan bukanlah Musa dan Harun saja melainkan Tuhan yang telah menggariskan langsung seperti apa mereka harus berjalan.

Musa lalu mengajak bangsa Israel untuk melihat siapa yang benar. "Sesudah itu berkatalah Musa: "Dari hal inilah kamu akan tahu, bahwa aku diutus TUHAN untuk melakukan segala perbuatan ini, dan hal itu bukanlah dari hatiku sendiri: jika orang-orang ini nanti mati seperti matinya setiap manusia, dan mereka mengalami yang dialami setiap manusia, maka aku tidak diutus TUHAN. Tetapi, jika TUHAN akan menjadikan sesuatu yang belum pernah terjadi, dan tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka beserta segala kepunyaan mereka, sehingga mereka hidup-hidup turun ke dunia orang mati, maka kamu akan tahu, bahwa orang-orang ini telah menista TUHAN." (ay 28-30). Dan yang terjadi selanjutnya sangat fatal. Murka Tuhan turun atas mereka dan kebinasaan pun menimpa mereka. "Baru saja ia selesai mengucapkan segala perkataan itu, maka terbelahlah tanah yang di bawah mereka, dan bumi membuka mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya dan dengan semua orang yang ada pada Korah dan dengan segala harta milik mereka. Demikianlah mereka dengan semua orang yang ada pada mereka turun hidup-hidup ke dunia orang mati; dan bumi menutupi mereka, sehingga mereka binasa dari tengah-tengah jemaah itu." (ay 31-33). Hal ini kemudian disinggung kembali pada bagian lain. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10). Korah dan orang-orangnya akhirnya binasa, turun hidup-hidup ke dunia orang mati. Hukuman Tuhan jatuh atas orang-orang sombong yang melupakan hakekat dirinya lalu berani melawan Tuhan. Dan ayat ini berkata dengan tegas agar hendaknya kita menjadikannya peringatan, jangan sampai kita mengulangi kesalahan yang sama dalam hidup kita.

Merasa percaya diri itu baik. Mengetahui potensi dan kemampuan pun tentu baik. Menghargai diri sendiri itu baik. Tapi jika itu kita nikmati secara berlebihan, kita bisa terjatuh kepada berbagai dosa yang akan membuat apa yang telah susah payah kita bangun menjadi hancur berantakan dalam sekejap mata. Ketika kita sudah berhasil, bersyukurlah kepada Tuhan yang telah memberikan itu semua. Dan jangan berhenti disitu, tapi pertahankanlah kesuksesan itu dan jauhilah segala hal yang bisa menjatuhkan kita. Jangan ikuti contoh buruk dari Korah. Ingatlah bahwa Di luar Tuhan kita bukanlah apa-apa (Yohanes 15:5). Jangan lupa diri sehingga merasa bahwa kitalah yang terhebat kemudian melupakan dan merebut kemuliaan yang menjadi hak Tuhan. Ketika kita menjadi sukses, jagalah prestasi itu dengan baik, teruslah bersikap rendah hati, berkati orang lain lebih lagi dan teruslah muliakan Tuhan.  Tetap jaga garis batas yang ditetapkan Tuhan bagi kita, dan waspadalah terhadap dosa kesombongan. Ada banyak jebakan yang siap memerangkap kita dibalik setiap kesuksesan, oleh karenanya kita harus tetap waspada agar apa yang telah kita bangun tidak musnah tetapi akan terus mengarah kepada keberhasilan demi keberhasilan lainnya yang akan mengikuti setiap langkah kita kedepannya.

Jagalah keberhasilan agar tidak malah menghancurkan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 11, 2012

Jangan Jatuh

Ayat bacaan: 1 Korintus 10:12
==========================
"Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!"

jangan jatuhDahulu ramah dan rendah hati, sekarang menjadi arogan. Pernahkah anda bertemu dengan orang yang sikapnya berubah seperti itu akibat mulai populer atau tenar? Di dunia musik saya menjumpai beberapa orang yang berubah menjadi angkuh setelah menikmati kesuksesan. Salah satunya saya kenal sangat dekat. Dahulu ia saya kenal sebagai orang-orang yang ramah dan sangat bersahabat. Tapi sekarang sikapnya sungguh berbeda. Bukan hanya saya yang merasakannya tapi ada beberapa rekan artis yang juga merasakan sikap arogansinya. Yang memprihatinkan, ia adalah orang percaya yang dahulu selalu mengembalikan semua perjalanannya menuju sukses kepada Tuhan. "Popularity really kills..." kata salah seorang temannya kepada saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia hanya melintas tanpa menyapa. Betapa seringnya kita melihat tokoh-tokoh terkenal yang kemudian hancur ketika sedang berada di puncak ketenaran. Ada banyak di antara mereka yang tadinya orang baik-baik, orang yang takut akan Tuhan, tetapi ketika ketenaran mulai ada dalam diri mereka, mereka pun berubah sikap menjadi sombong, atau bahkan lebih jauh lagi terjebak pada berbagai jerat dosa yang akhirnya menghancurkan karir mereka. Seringkali kehancuran ini begitu parah sehingga mereka sulit untuk mengembalikan popularitas mereka ke titik semula, atau malah hanya untuk sekedar lepas dari pengaruh-pengaruh buruk yang sempat memerangkap mereka. Berbagai bentuk godaan dunia biasanya akan sulit ditolak ketika kita merasa berada di puncak, ketika kita terlena dalam kesuksesan, ketika kita merasa kuat. Kesombongan, ketamakan, skandal, korupsi, dan sebagainya sering membuat para tokoh terkenal dan orang-orang sukses kemudian menjadi hancur. Kalau saja mereka mau menyadari sejak semula bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan yang seharusnya mereka pakai untuk memberkati lebih banyak orang lagi dan bukan untuk disombongkan, mereka tentu tidak harus rusak reputasi dan karirnya. Sangatlah disayangkan melihat mereka yang terjebak pada keangkuhan dan jerat-jerat dunia yang menyesatkan lalu hancur, mengingat banyak di antara mereka yang telah membangun dengan susah payah selama bertahun-tahun tapi kemudian harus berantakan dalam sekejap mata.

Mempertahankan adalah jauh lebih sulit daripada memulai. Mengapa? Karena di saat kesuksesan hadir dalam diri kita, ada banyak faktor yang siap membuat kita lupa diri. Dan disanalah iblis akan membentangkan perangkapnya. Keadaan seperti ini biasanya tidak menerpa ketika kita sedang merintis sesuatu, tapi justru ketika kita mulai merasa di atas angin dengan menikmati popularitas atau tingginya jabatan/pangkat dan sebagainya secara berlebihan. Jadi jelaslah bahwa meski membangun atau merintis sesuatu itu tidak mudah, tetapi mempertahankan akan jauh lebih sulit lagi.

Paulus dengan tegas mengingatkan akan hal ini "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Ketika kita merasa kuat, ketika kita merasa sukses, di saat seperti itulah kita harus lebih hati-hati dari sebelumnya. Di saat kita mengira kita sudah teguh berdiri, ketika kita berada di puncak karir atau popularitas dan sebagainya, di saat kita merasa di atas angin, itulah sebenarnya yang merupakan masa paling rawan bagi kita untuk jatuh. Therefore let anyone who thinks he stands, who feels sure that he has a steadfast mind and is standing firm, take heed lest he fall, and that means fall into sin.

Alkitab pun mencatat banyak contoh tokoh yang sebenarnya luar biasa, berprestasi atau setidaknya sangat menjanjikan alias potensial, namun mereka tersandung jatuh hanya karena masalah yang relatif kecil yang seharusnya bisa mereka hindari. Lihat Musa yang mencapai antiklimaks justru di saat-saat terakhir. Ia telah begitu sabar menuntun bangsa Israel yang tegar tengkuk selama puluhan tahun, akhirnya gagal memasuki tanah terjanji karena ia tidak bisa menahan emosi pada suatu ketika. Lihat beberapa raja Israel yang jatuh ketika berada di puncak karir dan popularitas mereka. Daud jatuh akibat dosa perzinaan, Salomo jatuh dalam dosa penyembahan berhala, atau lihatlah Saul yang tadinya begitu cemerlang sinarnya namun akhirnya binasa akibat serangkaian kebodohan yang ia perbuat. Dalam kisah lain, Korah merasa dirinya terlalu hebat kemudian haus akan kekuasaan dan jabatan lalu memberontak. akibatnya Korah dan orang-orangnya pun mengalami akhir yang mengerikan. "tetapi bumi membuka mulutnya dan menelan mereka bersama-sama dengan Korah, ketika kumpulan itu mati, ketika kedua ratus lima puluh orang itu dimakan api, sehingga mereka menjadi peringatan." (Bilangan 26:10). Jangan, jangan sampai kita harus mengalami itu karena terlena dalam keberhasilan. Ada banyak lagi kisah sejenis yang dicatat dalam Alkitab. Kisah menara Babel, jemaat Laodikia dalam kitab Wahyu dan sebagainya, semua menunjukkan bahwa ketika situasi sedang sangat baik, ketika sedang berada di puncak, disanalah ada bahaya mengancam. Saat seperti itulah yang sebenarnya menjadi titik rawan bagi kita untuk jatuh.

Kepada jemaat Filadelfia dalam kitab Wahyu ada sebuah pesan yang sangat penting untuk kita cermati. "Aku datang segera. Peganglah apa yang ada padamu, supaya tidak seorangpun mengambil mahkotamu." (Wahyu 3:11). Peganglah terus, pertahankan agar tidak lepas. Itu sebuah seruan yang sangat penting dalam perjalanan hidup kita, terlebih ketika aroma kesuksesan dan kenyamanan berada di atas sedang memenuhi diri kita. Penulis Ibrani pun mengingatkan hal yang sama. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Ini sebuah pesan yang sangat penting agar kita lebih teliti, lebih jeli dan lebih berhati-hati menapak ke depan. Keselamatan yang telah kita peroleh sebenarnya sungguh tinggi nilainya, karenanya berhati-hatilah agar jangan apa yang telah kita genggam akhirnya harus luput dari tangan kita. Demikian dikatakan oleh Penulis Ibrani: "Karena kita telah beroleh bagian di dalam Kristus, asal saja kita teguh berpegang sampai kepada akhirnya pada keyakinan iman kita yang semula." (3:14).

Apakah saat ini anda sedang menikmati buah dari usaha yang telah kita rintis selama bertahun-tahun? Apakah anda sedang berada pada kondisi yang sangat nyaman atas keberhasilan-keberhasilan yang berhasil anda capai? Apakah anda sedang berada pada puncak karir atau kesuksesan anda? Jika itu yang sedang anda alami saat ini, inilah saatnya bagi anda untuk benar-benar berhati-hati. Sesungguhnya ada banyak jebakan dan jerat yang siap menjatuhkan jika kita lengah. 1 Petrus 5:8 sudah mengingatkan kita bahwa iblis akan terus mengaum-aum mencari mangsa, termasuk orang-orang percaya yang dapat ditelannya. Di saat kita sedang merasa kuat, disanalah sebenarnya masa-masa rawan yang harus benar-benar kita awasi. Marilah kita terus mengingatkan diri kita agar apa yang sudah dianugerahkan jangan sampai lenyap dari diri kita. Berhati-hatilah terhadap berbagai jebakan dosa, apalagi yang tidak kasat mata, terlihat hanya sepele, kita anggap sangat kecil sehingga boleh diberi toleransi dan sejenisnya. Sudah terlalu banyak contoh kejatuhan anak-anak Tuhan disaat mereka sedang terlena dalam kesuksesan, di kala mereka sedang merasa kuat dan hebat. Oleh karena itu peganglah teguh apa yang sudah anda miliki hari ini dari Tuhan, pertahankanlah, dan tetaplah bersyukur dan hidup rendah hati. Pakailah setiap detak kesuksesan anda untuk memberkati lebih banyak orang dan memuliakan Tuhan lebih dari sebelumnya.

Ketika sukses, berhati-hatilah agar jangan sampai jatuh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, June 10, 2012

Pilih Sendiri Petualanganmu

Ayat bacaan: Ulangan 30:19
=====================
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu"

pilih sendiri petualanganmuKetika saya masih kecil ada sebuah buku serial yang dinamai "Pilih Sendiri Petualanganmu." Buku ini menarik buat saya karena disetiap lembarannya kita akan diberikan pilihan. Misalnya saja ketika kita bertemu sebuah pintu, lalu kita bisa memilih masuk ke pintu yang kiri atau kanan. Jika memilih kiri maka kita akan menuju ke halaman tertentu, sedang kalau memilih kanan kita akan menuju ke halaman yang berbeda. Akhir dari ceritanya bisa berbeda-beda tergantung pilihan-pilihan yang kita ambil. Seperti buku itu, dalam hidup kita selalu berhadapan dengan banyak pilihan, mulai dari pilihan yang kecil hingga pilihan yang akan sangat menentukan masa depan kita. Ketika bangun tidur, apa yang kita pilih? Ke kamar mandi, bersaat teduh, sarapan atau tidur-tiduran terlebih dahulu? Itu contoh pilihan yang sederhana. Setelah tamat SMA, universitas mana yang kita pilih dan mengambil fakultas/jurusan apa? Itu contoh pilihan yang akan sangat berpengaruh terhadap masa depan kita.

Hidup adalah penuh dengan pilihan. Sejak kecil kita sudah dihadapkan dengan berbagai pilihan yang akan sangat menentukan kemana kita seterusnya melangkah. Kita memilih apakah kita mau rajin belajar atau lebih suka bermain-main buang waktu, apakah kita mau hidup teratur atau acak-acakan, menuruti orang tua atau membangkang, jujur atau bohong dan lain sebagainya. Hingga dewasa pilihan-pilihan hidup bukannya menjadi lebih sedikit tapi justru menjadi semakin banyak dan kompleks. Apakah kita mau mengambil pekerjaan tertentu atau terus mencari atau malah memilih untuk bermalas-malasan, apakah kita mau membantu orang lain atau terus mempergunakan harta yang dipercayakan Tuhan hanya untuk berfoya-foya, kita menentukan pilihan dalam memutuskan siapa yang menjadi pendamping kita dan lain-lain. Ketika beberapa orang mengira bahwa mereka tidak punya pilihan dalam hidup, sesungguhnya manusia hidup dengan begitu banyak pilihan setiap harinya. Meski sebagian menjalani hidup dengan paksaan, sadar atau tidak kita semua bisa memilih apa yang hendak kita putuskan pada setiap waktu. Dan setiap keputusan itu akan berdampak pada arah masa depan kita, bahkan bisa berdampak pada orang lain pula. Kita perlu pertimbangan yang matang untuk memilih setiap langkah karena mengambil dan memutuskan sebuah pilihan itu seringkali bukanlah hal yang mudah.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan memberi kehendak bebas kepada kita dan membebaskan kita untuk memilih. Benar, Tuhan menginginkan anak-anakNya untuk menjadi orang yang taat dan patuh kepadaNya agar tidak kehilangan janji keselamatan yang telah Dia hadiahkan kepada kita dan bisa berhasil dalam hidup sesuai rencanaNya. Tetapi manusia tidaklah Dia ciptakan sebagai robot-robot yang bergerak tanpa kehendak, perasaan dan pilihan. Tuhan memberi manusia kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, termasuk untuk memilih jalan hidup yang bertentangan dengan kehendakNya dan FirmanNya. Tapi ingatlah bahwa biar bagaimanapun ada konsekuensi-konsekuensi yang akan datang dari setiap keputusan yang kita ambil. Dan itu tergambar dalam banyak ayat. Ijinkan saya mengajak teman-teman untuk melihat ayat-ayat yang berhubungan akan hal ini.

Dalam Amsal kita bisa menemukan banyak ayat yang menunjukkan konsekuensi  dari keputusan yang kita ambil baik positif maupun negatif. Beberapa diantaranya tertulis dalam Amsal: "Siapa mencintai didikan, mencintai pengetahuan; tetapi siapa membenci teguran, adalah dungu." (Amsal 12:1), "Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk." (Amsal 10:7), "Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak." (Amsal 20:3). Dalam kitab Mazmur kita bisa menemukan juga ayat-ayat berisikan pilihan seperti ini, misalnya: "Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan; tetapi pendurhaka-pendurhaka akan dibinasakan bersama-sama, dan masa depan orang-orang fasik akan dilenyapkan." (Mazmur 37:37-38). Lihatlah dalam ayat-ayat tersebut terdapat pesan yang berbanding terbalik, beberapa diantaranya bahkan bisa terasa cukup keras. Tuhan mengatakan ada manusia yang dungu, bodoh dan fasik, tetapi di sisi lain ada yang bijaksana, terhormat dan dipenuhi berkat. Termasuk yang mana kita saat ini tergantung dari pilihan yang kita ambil. Satu hal yang pasti, ayat-ayat ini menggambarkan dengan jelas bahwa hidup penuh dengan pilihan, dan kita bisa bebas memilih jalan mana yang akan kita ambil.

Kehendak bebas yang diberikan Tuhan kepada kita untuk memilih langkah hidup kita sesungguhnya merupakan bukti kasihNya yang besar. Dia tidak menginginkan kita menjadi robot-robot tanpa nyawa, atau bagaikan lembu atau kuda yang harus terus diikat tali kekang atau dicambuk setiap saat agar bisa taat. Tuhan tidak membuat kita seperti itu. Dia membuat kita secara amat istimewa seperti gambar dan rupaNya sendiri, dan sangat ingin kita bisa patuh dan taat kepadaNya tanpa harus diikat dan dicambuk dengan kasar lewat kekerasan. Tuhan ingin kita bersekutu denganNya dalam kelembutan, dalam kasih yang mesra, untuk itu Dia memberi begitu banyak Firman yang berisi peringatan-peringatan mengenai jalan yang hendak kita pilih.

Dalam kitab Ulangan kita bisa melihat sebuah pesan yang langsung mengacu kepada pengambilan keputusan ini. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu, dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (Ulangan 30:19-20). Dengan sangat jelas Tuhan berkata bahwa ada pilihan yang dihadapkan kepada kita yang bisa bermuara pada ujung yang sama sekali berbeda seperti buku Pilih Sendiri Petualanganmu dalam ilustrasi awal di atas. Kehidupan atau kematian, berkat atau kutuk itu menjadi arah atas pilihan-pilihan kita. Dan kerinduan Tuhan bukanlah kepada kematian kita, tetapi justru kepada kehidupan. Ayat ini jelas mengatakan hal itu dengan menjabarkan bagaimana caranya kita memilih kehidupan dan apa yang bisa kita peroleh dari pilihan yang benar itu.

Sebelum Yosua meninggal, ia pun sempat menyampaikan seruan agar bangsanya hendaknya bijaksana dalam memilih. "Oleh sebab itu, takutlah akan TUHAN dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan setia. Jauhkanlah allah yang kepadanya nenek moyangmu telah beribadah di seberang sungai Efrat dan di Mesir, dan beribadahlah kepada TUHAN. Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!" (Yosua 24:14-15). Semua ini menggambarkan bahwa ada pilihan yang bisa bebas kita ambil, tetapi konsekuensi dari pilihan itu jelas ada. Yang jelas, Tuhan sudah mengingatkan pilihan mana yang terbaik untuk kita ambil. Bagaimana caranya untuk mengambil pilihan yang benar, dan apa yang akan kita peroleh dari pilihan yang benar itu.

Hidup ini penuh pilihan dan akan selalu berisi berbagai pilihan. Pilihlah untuk hidup seperti jalan yang diinginkan Tuhan dan nikmati senyum kasihNya sebagai orang yang berkenan di mata Tuhan, dimana Dia akan senang terhadap setiap pilihan yang kita ambil. Sebaliknya, kita bisa saja memilih yang bodoh, dungu, lalu masuk ke dalam kematian. Pilihan manapun yang kita ambil akan menentukan masa depan kita. Mana yang kita pilih akan menentukan seperti apa masa depan kita kelak. Hari ini marilah kita tanya pada diri kita, keputusan apa yang akan kita ambil. Let's make a good choice today.

Bijak dan bijaksana dalam menentukan pilihan akan membuat kita tidak salah langkah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 9, 2012

Menghindari Pertengkaran (4) : Lambat Marah

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=========================
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah"

lambat marah, menghindari pertengkaranEmosi negatif bukan saja menyebalkan bagi orang yang melihat, tetapi bisa sangat membahayakan tubuh kita. Pada sebuah buku disebukan bahwa aamrah selain meningkatkan tekanan darah juga mampu memicu berkurangnya asupan darah ke otot jantung dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mengherankan jika ada banyak penyakit yang bercokol dalam tubuh kita ketika kita memanjakan amarah dan membiarkannya menguasai diri kita. Ada begitu banyak hal yang bisa mendatangkan emosi setiap hari. Kemacetan jalan raya, cuaca buruk, tetangga yang sulit, teman sekerja, pimpinan, guru atau orang-orang yang suka mencari masalah atau tidak peka terhadap perasaan orang lain. Hidup yang kita jalani tidak akan pernah selalu mulus, dan setiap saat kita bisa berhadapan dengan situasi, kondisi atau orang-orang yang bisa mendatangkan emosi. Tapi meski demikian, adalah sebuah pilihan apakah kita mau mengontrol amarah atau membiarkan diri kita dikuasai olehnya.

Melanjutkan pembahasan kita beberapa hari sebelumnya mengenai tips Yakobus untuk menghindari perselisihan, selain kita harus cepat mendengar dan lambat berkata-kata, kita pun diingatkan agar lambat untuk marah. (Yakobus 1:19). Seorang ahli psikologi bernama Charles Spielberger,PhD menjelaskan apa yang dimaksud dengan "kemarahan". "Anger is an emotional state that varies in intensity from mild irritation to intense fury and rage." Terjemahannya: Kemarahan adalah sebuah tingkat emosional dengan intensitas tertentu antara hanya merasa terganggu hingga tingkat tinggi seperti mengamuk atau murka. Seperti jenis perasaan lainnya, kemarahan juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Detak jantung menjadi cepat, tekanan darah meninggi, beberapa hormon pun mengalami peningkatan level. Tidak heran faktor kemarahan yang tidak terkendali bisa merugikan orang lain, menimbulkan kekerasan yang tidak hanya merugikan orang lain tapi juga diri sendiri. Selain itu kemarahan tak terkontrol juga bisa menimbulkan berbagai penyakit pada kita sendiri dimana sebagian besar diantaranya berpotensi untuk menutup kelanjutan usia kita.

Marah memang merupakan bagian jiwa manusia, sehingga rasanya tidak akan ada orang yang sama sekali tidak pernah marah. Jika pada kondisi tertentu kita marah itu tentu wajar. Dan terkadang dalam situasi tertentu, kita memang perlu marah. Tetapi kita diingatkan utnuk menghindari marah secara berlebihan, berkepanjangan hingga lambat laun menjadi tidak terkendali. Kita pun tidak boleh menjadikan amarah sebagai sebuah kebiasaan yang akan segera muncul begitu kita berada pada kondisi tidak nyaman/tidak sesuai dengan keinginan kita, apalagi memakainya hanya untuk menunjukkan tingginya kekuasaan kita atau hanya untuk menunjukkan wibawa. Kita perlu berhati-hati ketika amarah mulai terasa, karena pada saat itu ada banyak dosa sedang mengintip peluang untuk masuk dan memporakporandakan kita.

Lewat Daud kita bisa belajar bagaimana cara bersikap ketika sedang marah. "Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam." (Mazmur 4:5). Ini tips yang sangat menarik. Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Maka berhati-hatilah ketika kita sedang marah. Lalu Paulus mengajarkan hal yang sama dengan kalimat yang berbeda. "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:26-27). Jangan sampai marah kita berlarut-larut dalam waktu terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis untuk melakukan sesuatu yang buruk pada kita. Yakobus mengingatkan agar kita "lambat untuk marah", dan ia punya alasan akan hal ini. Apakah itu? Perhatikan ayat selanjutnya: "sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah. Tidak ada kebenaran dibalik sebuah kemarahan, dan itu pun merugikan kita.

Janganlah terburu-buru untuk marah, jangan biasakan memupuk emosi, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita juga secara luas merugikan orang lain. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Kita sudah melihat di televisi atau media-media lainnya bagaimana orang yang dikuasai kemarahan terlihat sangat buruk dan mengerikan. Air wajah yang sadis dan kejam itu sama sekali tidak menarik siapapun. Apalagi ketika mereka mengamuk dan merusak, menganiaya atau bahkan membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan, selain itu mengekspos kebodohan diri sendiri tapi juga mempermalukan keyakinan mereka sendiri. Ini pun berlaku bagi kita. Memupuk amarah bisa membuat kita justru menjadi batu sandungan bagi orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Jika anda orang percaya yang termasuk mudah terpancing emosi, berhentilah segera. Yakobus 1:19 memberikan sebuah tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri. Marah memang wajar pada waktu-waktu tertentu, tetapi sebenarnya sangatlah sulit untuk marah tanpa berbuat dosa. Maka dari itu adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik dan pada suatu ketika tidak lagi bisa kita kendalikan. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah). Berselisih itu wajar, bertengkar itu biasa, tapi pakailah tips ini agar akibatnya jangan sampai menimbulkan dosa dan membuka pintu masuk bagi iblis untuk menghancurkan kita.

Kendalikan amarah sebelum amarah mengendalikan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, June 8, 2012

Menghindari Pertengkaran (3) : Lambat Berkata-Kata

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
====================
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah"

menghindari pertengkaran, lambat berkata-kataBerapa jumlah kata yang bisa diucapkan orang dalam semenit? Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang rata-rata mampu berbicara sebanyak 150 an kata per menit. Itu rata-rata, karena saya mengenal beberapa teman yang bisa berbicara dengan super cepat. Presenter radio atau televisi saat ini dituntut untuk mampu berbicara cepat dengan lafal yang jelas ditangkap telinga. Jika talenta ini dipakai untuk hal yang bermanfaat tentu baik. Tapi alangkah memprihatinkan apabila kita terbiasa cepat berkata-kata ketika kita tidak setuju dengan sesuatu sebelum terlebih dahulu mendengar atau membaca dengan teliti. Apalagi jika yang keluar adalah tuduhan, cacian, hinaan, hujatan bahkan kutuk. Hal itu akan berbahaya. Mengapa? Karena ada kuasa dibalik perkataan yang keluar dari bibir dan lidah kita.

Kemarin kita sudah melihat pentingnya cepat untuk mendengar sebagai poin satu dari tips yang diberikan Yakobus untuk menghindari pertengkaran dalam Yakobus 1:19.  Hari ini mari kita lihat hubungannya dengan mengeluarkan perkataan. Cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata. Kita perlu berhati-hati dengan segala perkataan yang kita ucapkan. Selain alasan mendasar di atas yaitu ada kuasa dibalik kata yang keluar dari mulut kita, terlalu banyak omong juga akan membuka kelemahan kita atau malah menunjukkan kebodohan kita sehingga bisa mempermalukan diri sendiri. Salah satu dosen saya dahulu pernah mengatakan sesuatu yang masih saya ingat sampai sekarang. Kira-kira begini katanya: "kita bisa mengukur seseorang dari apa yang mereka ucapkan.." Artinya, suka atau tidak, akan ada orang-orang yang mempelajari siapa diri kita, atau titik lemah kita ketika kita tidak menjaga perkataan kita. Terdidik atau tidak, sopan atau tidak, atau bahkan beradab atau tidak, itu bisa terlihat dari cara kita berbicara. Tingkat intelektual pun ternyata sedikit banyak bisa tergambar dari apa yang kita ucapkan. Seringkali orang yang dikuasai emosi akan mempermalukan diri mereka sendiri dengan mengumbar kata-kata menyerang yang provokatif tanpa mempelajari sesuatu terlebih dahulu dengan cukup. Protes tak berdasar, menyerang orang lain hanya didasarkan pendapat pribadi, atau langsung menghina tanpa mengetahui dengan jelas selain tidak baik tapi juga bisa membuat orang anti-pati. Maka tepatlah apa yang tertulis pada Amsal berikut ini: "Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya." (Amsal 18:2), atau ini: "Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya." (ay 13).

Yesus sendiri mengajarkan sesuatu yang sangat menarik perihal perkataan. Yesus berkata: "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34b). Lalu dilanjutkan dengan: "Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat." (ay 35). Yesus pun menegaskan bahayanya memiliki mulut yang tidak terkontrol. "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman."(ay 36) dan: "Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (ay 37).

Perselisihan yang besar bisa dihindarkan dengan tips Yakobus. Cepatlah mendengar, tapi lambatlah berkata-kata. Jangan terburu-buru mengeluarkan kata-kata sebelum segala sesuatunya jelas betul. Dengarkanlah terlebih dahulu agar kita dapat mengerti. Orang yang sebelum mendengar sudah langsung berbicara sesungguhnya tengah mempermalukan diri mereka sendiri. Bukan orang yang dimarahi atau diserang yang malu, tapi yang belum apa-apa sudah marah dan mengeluarkan hinaan, merekalah sebenarnya yang memalukan. Amsal menuliskan, bahkan orang bodoh sekalipun bisa disangka bijak jika ia berdiam diri. "Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya." (Amsal 17:27-28).

Selanjutnya Yakobus juga mengatakan bahwa sekecil-kecilnya lidah dibanding anggota tubuh lainnya, lidah sesungguhnya dapat menimbulkan banyak perkara-perkara besar. Seperti halnya api, meski kecil, tapi dapat membakar hutan yang lebat, (Yakobus 3:5). "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka." (ay 6). Semua ini menunjukkan begitu pentingnya untuk menjaga perkataan kita.

Hindarilah pertengkaran dengan tidak cepat mengeluarkan perkataan sebelum terlebih dahulu mendengar dengan baik dan cermat. Selain dapat mempermalukan diri kita sendiri, lidah yang tak terjaga juga dapat membakar habis sebuah hubungan dan menghancurkan seluruh hidup kita. Jika anda tidak sependapat dengan orang lain, ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan pendapat anda, ambillah sikap tenang. Dengarlah terlebih dahulu, cepatlah mendengar, tapi lambatlah berkata-kata. Hal itu akan menjauhkan kita dari berbagai sikap tercela dan akan menunjukkan kebijakan atau kearifan diri kita.

Terlalu cepat berbicara sebelum mendengar terlebih dahulu artinya mempermalukan diri sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...