==================
"...Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu."
Seringkali kita menjadi apatis ketika melihat sesuatu yang rasanya mustahil kita perbaiki dengan melihat kemampuan yang ada. Kita ingin memberantas korupsi di negara ini, tapi kita kemudian berpikir, berapa banyak sih yang peduli? Untuk membersihkan tempat kita bekerja saja sudah tidak mungkin, apalagi bermimpi untuk membersihkan satu negara. Karenanya kita lebih cenderung untuk membiarkan saja, dan itu sudah baik karena ada banyak orang yang kemudian ikut-ikutan karena toh situasinya sudah seperti itu. Pertanyaan pun hadir: Berapa banyak orang benar yang dibutuhkan untuk bisa merubah nasib sebuah kota atau bahkan sebuah bangsa? Seribu? Seratus ribu? Sejuta? Sepuluh juta atau lebih? Berapa angka yang akan membuat anda yakin mampu membawa sebuah perubahan ke arah yang lebih baik, atau mendatangkan berkat Tuhan turun atas bangsa, setidaknya menghindarkan murka Tuhan turun atas sebuah bangsa atau negara?Jika anda berpikir bahwa diperlukan pasukan besar untuk melakukan itu, Tuhan ternyata tidak mengatakan demikian. Tuhan tidak pernah berkata bahwa dibutuhkan ribuan atau jutaan orang agar mampu membawa perubahan. Sedikit orang percaya yang menjaga kekudusan dan ketaatan bersinergi bersama-sama ternyata sudah mampu membuat berkat turun atas bangsa. Adakah bukti yang menguatkan hal ini? Tentu saja. Kita bisa mengetahui itu lewat catatan Alkitab tentang tawar menawar antara Abraham dengan Tuhan mengenai keselamatan Sodom dalam Kejadian 18:16-33.
Bagian dalam Kejadian 18:16-33 selalu menarik buat saya untuk diperhatikan. Sebuah tawar menawar terjadi ketika Abraham berupaya mencegah Tuhan memusnahkan seisi kota Sodom yang populasinya cukup besar, Abraham memulai dengan jumlah 50 orang. "Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu? Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya karena kelima puluh orang benar yang ada di dalamnya itu?Jauhlah kiranya dari pada-Mu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik! Jauhlah kiranya yang demikian dari pada-Mu! Masakan Hakim segenap bumi tidak menghukum dengan adil?" (Kejadian 18:24-25). Tuhan kemudian menjawab: "Jika Kudapati lima puluh orang benar dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka." (ay 26). Melihat bahwa Tuhan tetap pada pandanganNya, itu artinya tidak ada 50 orang benar disana. Dalam ayat-ayat berikutnya kita bisa melihat usaha Abraham untuk terus menawar dengan jumlah yang makin menyusut terus hingga akhirnya sampai kepada jumlah yang sangat kecil, 10 orang. "Katanya: "Janganlah kiranya Tuhan murka, kalau aku berkata lagi sekali ini saja. Sekiranya sepuluh didapati di sana?" Firman-Nya: "Aku tidak akan memusnahkannya karena yang sepuluh itu." (Kejadian 18:32). Tuhan tidak akan memusnahkan Sodom apabila ada 10 orang saja yang taat. Tidak perlu ribuan orang, sepuluh orang pun sudah bisa membawa perubahan bagi bangsa. Itu faktanya. Tetapi kenyataannya, jumlah sekecil itu dari populasi Sodom yang besar pun tidak ada. Maka kita tahu apa yang selanjutnya terjadi pada kota itu. Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa 10 orang benar yang bersatu ternyata sudah mampu membawa dampak yang besar. Jika dulu begitu, sekarang pun sama. Dimana pun kita tinggal saat ini, meski situasinya sama sekali jauh dari kondusif, atau di bidang manapun kita berada, walau bidang itu terlihat sama sekali buruk sekalipun, kita bisa bersatu dengan saudara-saudari seiman untuk tetap bertumbuh sekaligus membuat perubahan nyata bagi lingkungan dimana kita berada.
Semangat kerjasama, saling mendorong dan saling mendukung berulang kali diingatkan dalam alkitab. "Karena itu nasihatilah seorang akan yang lain dan saling membangunlah kamu seperti yang memang kamu lakukan." (1 Tesalonika 5:11). Kemudian baca pula ayat berikut: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Tidak saja penting bagi kita sebagai mahluk sosial yang harus saling terhubung untuk bisa melakukan sesuatu dengan lebih baik, bahkan dengan tegas dikatakan bahwa dengan saling tolong menolong, itu artinya kita sudah memenuhi hukum Kristus. (Galatia 6:2). Selanjutnya kita juga mengetahui bahwa kepada kita masing-masing telah diberikan karunia dan panggilan tersendiri. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Bacalah 1 Korintus 12 dan anda akan mendapatkan gambaran selengkapnya. Dengan karunia dan panggilan khusus yang berbeda-beda ini kita tidak akan dapat melakukan secara optimal jika berjalan sendirian. Itulah sebabnya kita harus bekerjasama untuk mencapai hasil terbaik, termasuk pula dalam hal membawa bangsa atau negara ke arah yang lebih baik.
10 orang tidaklah banyak. Jumlah itu bahkan tidak cukup untuk membentuk sebuah kesebelasan sepak bola. Tapi dimata Tuhan jumlah itu sudah mampu membawa perubahan dan cukup pula untuk memulai sebuah gerakan yang bisa membuka pandangan orang akan kebenaran firman Tuhan. Anda tidak perlu apatis, patah semangat atau putus asa. Jalankan tepat seperti apa yang dikehendaki Tuhan, dan disana Roh Kudus akan melakukan sesuatu lewat apa yang anda perbuat. Biar sedikit, atau walaupun anda sendirian, percayalah orang bisa melihat sesuatu yang berbeda pada diri anda. Jangan lupa pula untuk terus mendoakan bangsa dan negara lewat doa-doa syafaat, seperti yang juga diingatkan oleh Paulus. "Pertama-tama aku menasihatkan: Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang, untuk raja-raja dan untuk semua pembesar, agar kita dapat hidup tenang dan tenteram dalam segala kesalehan dan kehormatan." (1 Timotius 2:1-2). Buat apa? Karena "Itulah yang baik dan yang berkenan kepada Allah, Juruselamat kita, yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran." (ay 3-4). Sejalan dengan renungan kemarin, temukanlah umat-umat Tuhan lainnya di mana anda tinggal, dan mulailah membangun sebuah hubungan yang erat dimana anda bisa bertumbuh bersama-sama. Jumlahnya sedikit? Itu tidak masalah. Yang jelas Tuhan sudah menempatkan umatNya yang lain disekitar anda sehingga anda tidak perlu merasa sendirian baik dalam menjaga kesehatan iman anda maupun untuk mulai melakukan perkara-perkara baik yang bisa membuka mata orang lain akan kebenaran Firman Tuhan. Tetaplah hidup seturut kehendak Allah, dan percayalah bahwa ketaatan anda akan berbuah lebat meski jumlah anda sedikit dibandingkan dunia disekitar anda.
Even the small number can make a big change when the Holy Spirit works within
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Salah seorang sepupu saya pindah dari Indonesia ke sebuah negara lain mengikuti suaminya yang pindah kerja. Disana ia mengaku kesulitan untuk mencari gereja dimana ia bisa bertumbuh. Ia bercerita bahwa ia merasa sendirian dan tidak punya teman untuk sharing khususnya mengenai iman. Ada banyak orang juga yang mungkin mengalami situasi yang sama ketika harus pindah ke sebuah tempat yang sama sekali baru, apalagi jika disana sulit untuk menemukan gereja. Ada kalanya lingkungan yang baru sama sekali tidak mendukung pertumbuhan iman, dan disana pergumulan akan banyak kita alami. Bicara mengenai lingkungan yang mungkin relatif tidak kondusif, saya kebetulan berada di dunia hiburan khususnya musik. Dunia hiburan atau entertainment kerap diasosiasikan orang sebagai dunia yang penuh kesesatan. Pendapat itu didukung oleh fakta yang menunjukkan banyaknya artis yang tadinya baik-baik kemudian hancur karirnya akibat terpengaruh oleh pola pergaulan yang memang buruk. Tapi benarkah dunia hiburan ini melulu berisi orang-orang yang saling sesat menyesatkan saja? Tentu saja tidak. Saya mengenal beberapa musisi yang masih tetap teguh berpegang dalam iman akan Tuhan. Bahkan banyak diantara mereka yang masih melayani secara rutin setiap minggunya. Tampil di dalam gemerlap kemewahan dan ketenaran dunia hiburan ternyata tidak serta merta membuat mereka ikut terhanyut dalam pergaulan buruk. Mereka justru terpanggil untuk tampil beda dan menunjukkan sikap hidup yang benar ditengah lingkungan masing-masing. Saya sering bertukar cerita, saling menguatkan, mengingatkan dan membagi firman Tuhan lewat sms atau ketika bertemu dengan mereka dalam setiap kesempatan. Satu kesimpulan yang saya peroleh: dunianya boleh terlihat buruk atau bahkan berbahaya, namun Tuhan tetap memiliki "orang-orang"Nya tinggal disana. Selalu ada sahabat-sahabat seiman untuk sharing dan saling menguatkan dimanapun kita ditempatkan. We're never alone, because God still has His people wherever we go.
Seorang teman yang bekerja sebagai arsitek pernah membangun sebuah maket mini dari gedung yang akan dikerjakannya. Maket ini direncanakan akan dipajang di lokasi agar pengunjung bisa melihat seperti apa bangunan itu akan berdiri kelak. Ia bekerja siang dan malam, dan setelah berminggu-minggu akhirnya maket pun beres. Seharusnya ia lekas-lekas memasukkannya dalam kaca tebal dan segera bergegas membawa hasil kerjanya itu ke lokasi. Tapi sayangnya ia menundanya. Ia berpikir bahwa toh tenggat waktunya masih lama sehingga ia tidak perlu buru-buru merampungkan keseluruhan kerjanya. Pada suatu kali ia lupa menutup ruang kerjanya. Hanya pergi keluar sebentar, tapi ternyata anaknya yang balita masuk kesana dan merusak maket itu habis-habisan. Betapa terkejutnya ia ketika melihat pekerjaannya sudah hancur. Ia hanya bisa menyesali kecerobohannya. Akibatnya ia harus mengulangi lagi dari awal. Ia melanggar perjanjian batas waktu yang sudah disepakati dengan terlambat menyerahkan, dan ia pun harus menanggung konsekuensi sebagai akibatnya.
Dahulu ramah dan rendah hati, sekarang menjadi arogan. Pernahkah anda bertemu dengan orang yang sikapnya berubah seperti itu akibat mulai populer atau tenar? Di dunia musik saya menjumpai beberapa orang yang berubah menjadi angkuh setelah menikmati kesuksesan. Salah satunya saya kenal sangat dekat. Dahulu ia saya kenal sebagai orang-orang yang ramah dan sangat bersahabat. Tapi sekarang sikapnya sungguh berbeda. Bukan hanya saya yang merasakannya tapi ada beberapa rekan artis yang juga merasakan sikap arogansinya. Yang memprihatinkan, ia adalah orang percaya yang dahulu selalu mengembalikan semua perjalanannya menuju sukses kepada Tuhan. "Popularity really kills..." kata salah seorang temannya kepada saya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya ketika ia hanya melintas tanpa menyapa. Betapa seringnya kita melihat tokoh-tokoh terkenal yang kemudian hancur ketika sedang berada di puncak ketenaran. Ada banyak di antara mereka yang tadinya orang baik-baik, orang yang takut akan Tuhan, tetapi ketika ketenaran mulai ada dalam diri mereka, mereka pun berubah sikap menjadi sombong, atau bahkan lebih jauh lagi terjebak pada berbagai jerat dosa yang akhirnya menghancurkan karir mereka. Seringkali kehancuran ini begitu parah sehingga mereka sulit untuk mengembalikan popularitas mereka ke titik semula, atau malah hanya untuk sekedar lepas dari pengaruh-pengaruh buruk yang sempat memerangkap mereka. Berbagai bentuk godaan dunia biasanya akan sulit ditolak ketika kita merasa berada di puncak, ketika kita terlena dalam kesuksesan, ketika kita merasa kuat. Kesombongan, ketamakan, skandal, korupsi, dan sebagainya sering membuat para tokoh terkenal dan orang-orang sukses kemudian menjadi hancur. Kalau saja mereka mau menyadari sejak semula bahwa semua itu adalah anugerah Tuhan yang seharusnya mereka pakai untuk memberkati lebih banyak orang lagi dan bukan untuk disombongkan, mereka tentu tidak harus rusak reputasi dan karirnya. Sangatlah disayangkan melihat mereka yang terjebak pada keangkuhan dan jerat-jerat dunia yang menyesatkan lalu hancur, mengingat banyak di antara mereka yang telah membangun dengan susah payah selama bertahun-tahun tapi kemudian harus berantakan dalam sekejap mata.
Ketika saya masih kecil ada sebuah buku serial yang dinamai "Pilih Sendiri Petualanganmu." Buku ini menarik buat saya karena disetiap lembarannya kita akan diberikan pilihan. Misalnya saja ketika kita bertemu sebuah pintu, lalu kita bisa memilih masuk ke pintu yang kiri atau kanan. Jika memilih kiri maka kita akan menuju ke halaman tertentu, sedang kalau memilih kanan kita akan menuju ke halaman yang berbeda. Akhir dari ceritanya bisa berbeda-beda tergantung pilihan-pilihan yang kita ambil. Seperti buku itu, dalam hidup kita selalu berhadapan dengan banyak pilihan, mulai dari pilihan yang kecil hingga pilihan yang akan sangat menentukan masa depan kita. Ketika bangun tidur, apa yang kita pilih? Ke kamar mandi, bersaat teduh, sarapan atau tidur-tiduran terlebih dahulu? Itu contoh pilihan yang sederhana. Setelah tamat SMA, universitas mana yang kita pilih dan mengambil fakultas/jurusan apa? Itu contoh pilihan yang akan sangat berpengaruh terhadap masa depan kita.
Emosi negatif bukan saja menyebalkan bagi orang yang melihat, tetapi bisa sangat membahayakan tubuh kita. Pada sebuah buku disebukan bahwa aamrah selain meningkatkan tekanan darah juga mampu memicu berkurangnya asupan darah ke otot jantung dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mengherankan jika ada banyak penyakit yang bercokol dalam tubuh kita ketika kita memanjakan amarah dan membiarkannya menguasai diri kita. Ada begitu banyak hal yang bisa mendatangkan emosi setiap hari. Kemacetan jalan raya, cuaca buruk, tetangga yang sulit, teman sekerja, pimpinan, guru atau orang-orang yang suka mencari masalah atau tidak peka terhadap perasaan orang lain. Hidup yang kita jalani tidak akan pernah selalu mulus, dan setiap saat kita bisa berhadapan dengan situasi, kondisi atau orang-orang yang bisa mendatangkan emosi. Tapi meski demikian, adalah sebuah pilihan apakah kita mau mengontrol amarah atau membiarkan diri kita dikuasai olehnya.
Berapa jumlah kata yang bisa diucapkan orang dalam semenit? Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang rata-rata mampu berbicara sebanyak 150 an kata per menit. Itu rata-rata, karena saya mengenal beberapa teman yang bisa berbicara dengan super cepat. Presenter radio atau televisi saat ini dituntut untuk mampu berbicara cepat dengan lafal yang jelas ditangkap telinga. Jika talenta ini dipakai untuk hal yang bermanfaat tentu baik. Tapi alangkah memprihatinkan apabila kita terbiasa cepat berkata-kata ketika kita tidak setuju dengan sesuatu sebelum terlebih dahulu mendengar atau membaca dengan teliti. Apalagi jika yang keluar adalah tuduhan, cacian, hinaan, hujatan bahkan kutuk. Hal itu akan berbahaya. Mengapa? Karena ada kuasa dibalik perkataan yang keluar dari bibir dan lidah kita.