Thursday, June 7, 2012

Menghindari Pertengkaran (2) : Cepat Mendengar

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=====================
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah"

menghindari pertengkaran, cepat mendengarGesekan-gesekan kecil merupakan hal yang lumrah dalam rumah tangga ataupun dalam pertemanan. Kita semua memiliki kepribadian yang berbeda, pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan pun bisa berbeda. Beda pendapat tentang banyak hal, itupun bisa membuat kita sekali waktu merasa kesal atau berselisih dengan orang yang dekat dengan kita. Sayangnya seringkali gesekan kecil itu dibiarkan hingga berkembang menjadi besar. Di jaman dahulu kala ketika belum ada korek api, orang menggesek-gesekkan kayu atau membenturkan batu untuk memperoleh api. Api yang muncul bermula kecil saja, bahkan jika batu yang diadu hanya menimbulkan percik kecil. Tetapi api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar pada suatu ketika. Demikian pula dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil dan sepele, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai tidak terkendali dan bagaikan api terus membesar dan menyambar kemana-mana. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari dan tiba-tiba sudah jauh dari pokok masalah. Seperti api besar bisa membakar habis rumah, sebuah area luas bahkan satu kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.

Seperti kemarin kita lihat, kita harus menghindari pertengkaran sedini mungkin sebelum itu menjadi tidak lagi bisa kita kendalikan. Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yaitu cepat untuk mendengar.

Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu biasa, namun diatas semua itu kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar terlebih dahulu. Dengarkan dulu baik-baik alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan dengan cara-cara yang baik, sopan dan beradab. Perselisihan kerap diakibatkan oleh karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Temperaturnya bisa memuncak ketika kita membiarkan semua itu terus berkembang menjadi semakin parah. Lewat Yakobus kita diingatkan untuk mau memberi sebuah ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik. Ini akan membuat kita mampu memandang sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri.

Kita bisa melihat satu contoh dari tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Pada saat itu Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Yesus menganggap bahwa apa yang dilakukan Maria adalah "memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. Bukanlah kebetulan Tuhan memberikan kita sepasang telinga sebagai indra untuk mendengar. Dua telinga dan satu mulut, itu menunjukkan bahwa mendengar itu lebih penting ketimbang berbicara. "Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.." (Lukas 8:18).

Dari Marta dan Maria di atas kita bisa melihat bahwa soal mendengar ini pun termasuk kesediaan kita untuk mendengar apa kata Tuhan. seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan wishlist kita di setiap doa. Bisa jadi juga kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Jangan cepat membantah, tapi dengarkanlah dahulu baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7)

Ada saat dimana kita harus berbicara dan bersikap, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik akan mampu mendengar dengan cepat dan cermat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh apalagi menyerang. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang tidak akan menguntungkan siapapun tapi malah merugikan banyak orang.

Cepatlah mendengar bukan cepat menentang atau menyerang

Follow us on twitter: http://twitter.com/daiyrho

Wednesday, June 6, 2012

Menghindari Pertengkaran (1)

Ayat bacaan: Amsal 17:14
====================
"Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai."

mengindari pertengkaranPertengkaran merupakan bunga dalam kehidupan. Itu kata bijak yang hingga batas-batas tertentu ada benarnya. Bertengkar itu tanda dekat, kata yang lain lagi, dan juga dianggap bagaikan bumbu yang melezatkan kehidupan keluarga. Tapi apabila frekuensinya dan intensitasnya tinggi, itu bukan lagi menjadi bunga dalam kehidupan melainkan benalu yang bisa mematikan. Ibarat memasak dengan bumbu yang terlalu banyak, rasanya bisa tidak karuan. Sebuah keluarga bisa sejuk, damai dan tentram penuh kasih bagai surga, tapi sebaliknya bisa panas membara dan menyiksa seperti neraka. Demikian pula dalam pertemanan. Ada seorang teman yang pernah menangis mengeluarkan isi hatinya karena ia bertengkar hebat dengan sahabat dekatnya. Untungnya ia memilih untuk tidak meneruskan perselisihan dan menjauh dulu untuk sementara waktu. Puji Tuhan, kemarin ia dengan gembira bercerita bahwa sahabatnya baru saja menelepon dan mengatakan rindu untuk bertemu dan kembali bersama seperti sedia kala.

Alkitab mengingatkan dalam begitu banyak kesempatan akan bahaya memupuk pertengkaran. Perhatikan sebuah ayat dalam Amsal yang tegas mengatakan hal itu. "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air; jadi undurlah sebelum perbantahan mulai." (Amsal 17:14). Saya pernah lupa menutup keran karena pada saat itu air sedang macet. Ketika pulang saya pun terperanjat melihat ruang tamu, dapur dan kamar tidur semuanya tergenang air bagai banjir yang masuk ke rumah. Betapa repotnya membersihkan semua itu, tapi syukurlah air tidak sampai terlalu tinggi dan merusak berbagai peralatan elektronik yang ada di rumah. Itu baru lupa menutup keran. Bayangkan seandainya tanggul jebol. Itu bisa sangat berbahaya dan menghilangkan nyawa penduduk di sekitarnya. Seringkali jebolnya tangul bukan disebabkan oleh pecahan besar, tapi justru bermula dari retakan kecil di salah satu bagian dindingnya. Seperti itu pula seharusnya kita menyikapi sebuah pertengkaran. Berhentilah secepatnya sebelum pertengkaran itu menjadi tidak terkendali.

Pertengkaran bisa berawal dari berbagai sebab yang biasanya dimulai dengan perselisihan akan hal kecil. Kita terbiasa memandang pertengkaran sebagai sebuah hubungan sebab akibat karena kita tidak mau disalahkan, tetapi Yakobus mengatakan bahwa pertengkaran berasal dari nafsu duniawi yang ada dalam diri kita. "Dari manakah datangnya sengketa dan pertengkaran di antara kamu? Bukankah datangnya dari hawa nafsumu yang saling berjuang di dalam tubuhmu? Kamu mengingini sesuatu, tetapi kamu tidak memperolehnya, lalu kamu membunuh; kamu iri hati, tetapi kamu tidak mencapai tujuanmu, lalu kamu bertengkar dan kamu berkelahi." (Yakobus 1:4-5a). Menyimpan kekesalan atau sakit hati berlarut-larut pun berpotensi menimbulkan pertengkaran. "Sebab, kalau susu ditekan, mentega dihasilkan, dan kalau hidung ditekan, darah keluar, dan kalau kemarahan ditekan, pertengkaran timbul." (Amsal 30:33).

Selain itu, ego, keangkuhan, sikap tidak mau kalah dan sejenisnya pun bisa menimbulkan pertengkaran. Karena itulah kita diminta untuk bisa memaafkan orang dengan segera dan bersikap rendah hati, mau belajar untuk lebih memahami dan menerima orang lain apa adanya. Tidak ada manusia yang sempurna. Masalah yang timbul bisa diselesaikan baik-baik pada saat yang tepat, tidak terburu-buru. Alkitab juga mencatat fakta yang menarik dan memang benar: orang yang suka bertengkar biasanya juga suka pada pelanggaran atau dosa. "Siapa suka bertengkar, suka juga kepada pelanggaran, siapa memewahkan pintunya mencari kehancuran." (Amsal 17:19).

Jika kita terbiasa untuk lekas emosi, mudah naik pitam untuk hal-hal yang kecil sekalipun, sekarang saatnya untuk mulai belajar mengendalikannya. Kita harus bersikap tegas terhadap pertengkaran, bukan membiarkannya merusak hidup kita sendiri dan orang lain. Kita harus cermat menjaga agar tanggul pertahanan emosi kita tetap kuat sehingga tidak bisa dijebol oleh kemarahan yang pada suatu saat tidak lagi bisa kita kendalikan. Alkitab juga mengatakan bahwa amarah manusia itu tidaklah pernah menyenangkan hati Tuhan. "Sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:20). Firman Tuhan juga mengingatkan "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Dengan menghindari pertengkaran sedini mungkin, anda akan melihat bahwa hidup ini ternyata lebih indah jika dijalani tanpa pertengkaran yang disertai emosi yang tidak terkontrol.

Menghindari pertengkaran harus dilakukan secepatnya sebelum menjadi bola api yang menghanguskan banyak orang termasuk kita sendiri. Bagaimana tips yang baik untuk mencegahnya? Alkitab memberi beberapa tips untuk itu dan sebagian sudah kita lihat dalam renungan hari ini. Tapi ada sebuah ayat yang sangat baik untuk kita ingat untuk mencegah pertengkaran, yaitu lewat kitab Yakobus. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:19). Tiga hal ini: cepat untuk mendengar, lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah merupakan tips manjur untuk mencegah kita untuk terjebak dalam pertengkaran. Tiga hari ke depan kita akan melihatnya satu persatu.

Bersikap tegaslah terhadap pertengkaran dan jangan tergoda untuk memulai apalagi membiarkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 5, 2012

Alergi (2)

(sambungan)

3. Berbagai jenis percabulan/perzinahan
Selingkuh, menonton film porno dan kejahatan-kejahatan seksual lainnya pun merupakan salah satu yang sangat berbahaya. Paulus mengingatkan: "Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan." (1 Tesalonika 4:3). Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan: "supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah," (ay 4-5). Berapa istri? Satu. Lalu hiduplah dalam pengudusan dan penghormatan. Itu pesan Tuhan yang sangat penting untuk diingat oleh setiap orang percaya. Kita harus ingat bahwa bahaya perilaku seksual yang menyimpang atau melanggar firman Tuhan ini membawa dampak yang sangat membahayakan kelangsungan perjalanan kita menuju keselamatan kekal. Ada juga orang yang tidak benar-benar berselingkuh tapi hanya melihat dan berfantasi, atau membayangkan sesuatu yang kotor akan lawan jenis yang ia lihat, inipun merupakan hal yang harus dicegah. Yesus sudah mengingatkan bahwa "Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:28). Memandang tidak salah. Tapi jika sudah dibarengi dengan menginginkan, maka itu sudah sama dengan berzinah. Karena itu kita harus menjaga betul hati kita agar tidak mudah terjebak oleh fantasi-fantasi menyesatkan yang berbahaya. Firman Tuhan sudah mengingatkan "Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat." (Matius 15:19). Itu sebabnya kita diingatkan untuk selalu menjaga hati kita dengan segala kewaspadaan. (Amsal 4:23). Ada banyak ayat yang mengingatkan kita akan bahaya percabulan/perzinahan atau kejahatan-kejahatan seksual lainnya. Selain itu, Alkitab pun menyatakan bahwa aktivitas seksual antara pria dan wanita diluar ikatan pernikahan adalah hal yang tidak bermoral. Perhatikan dan renungkanlah kaitan ayat-ayat berikut ini:
-"Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging." (Kejadian 2:24)
- "Jangan berzinah." (Keluaran 20:14)
- "tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri." (1 Korintus 7:2)
- "Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9-10).
- "Hendaklah kamu semua penuh hormat terhadap perkawinan dan janganlah kamu mencemarkan tempat tidur, sebab orang-orang sundal dan pezinah akan dihakimi Allah." (Ibrani 13:4). 

Kita seharusnya alergi terhadap hal-hal yang bisa membahayakan kesehatan rohani kita dan menjauhkan kita dari janji-janji Tuhan yang sudah Dia anugerahkan bagi kita. Jika berbagai substansi atau zat bisa membuat kita alergi dan mengganggu bahkan bisa membahayakan kesehatan tubuh kita, bahaya berbagai substansi yang bisa merusak kondisi spiritual kita akan jauh lebih besar karena berpengaruh terhadap kekekalan dan bukan hanya sementara saja. Oleh karena itu pastikan diri kita untuk menjauhi segala hal yang menimbulkan alergi terhadap kerohanian kita sebelum kita menjadi hancur karenanya.

Alergi yang menyerang kondisi spiritual itu berbahaya. Jauhilah sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 4, 2012

Alergi (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5
=================
"Abstain from evil [shrink from it and keep aloof from it] in whatever form or whatever kind it may be." (English AMP)

alergiJika anda mengidap alergi akan sesuatu, tentu anda akan tahu bagaimana rasanya jika anda menyentuh apa yang anda alergikan itu. Alergi adalah sebuah reaksi berlebihan yang terjadi di dalam tubuh akibat adanya kontak terhadap substansi tertentu. Penyebab alergi bisa bermacam-macam dan masuk ke dalam tubuh lewat berbagai cara. Misalnya jika terhirup (lewat pernafasan), lewat suntik, dari makanan (seperti seafood, telur dan sebagainya) atau kontak-kontak langsung pada kulit seperti kosmetik, logam pada perhiasan/jam tangan dan sebagainya. Bisa pula lewat serbuk tanaman atau jenis rerumputan tertentu, sengatan serangga, bulu hewan dan lain-lain. Berbagai zat tambahan pada makanan seperti penyedap masakan, pewarna atau pengawet pun bisa menimbulkan alergi bagi beberapa orang. Orang bisa mengalami alergi yang berbeda-beda. Seorang teman saya akan segera gatal-gatal sekujur tubuhnya jika mengkonsumsi makanan laut terutama udang. Ada pula yang alergi akan sengatan lebah atau gigitan serangga seperti semut. Saya sendiri alergi terhadap logam dari jam tangan. Setiap saya mempergunakan jam tangan yang terbuat dari logam, maka bengkak merah yang rasanya sangat gatal akan muncul di sekitar area dimana jam tangan itu bersentuhan dengan kulit. Jika kita tahu apa yang bisa membuat kita alergi, tentu kita harus menghindarinya agar kesehatan kita tidak menjadi terganggu.

Ketika alergi biasanya berpengaruh terhadap tubuh secara fisik, ada pula bahaya-bahaya yang bisa mempengaruhi kondisi kesehatan spiritual kita. Seperti halnya alergi-alergi yang menyerang tubuh di atas, kita harus mewaspadai beberapa hal yang menimbulkan alergi pada kerohanian kita. Di dalam Alkitab kita bisa menemukan beberapa hal yang harus kita hindari jika tidak mau terkena alergi rohani ini.

1. Segala jenis kejahatan (Every kind of evil).
Ayat bacaan kita hari ini menyatakan dengan jelas bahwa kita harus menjauhkan diri dari segala macam bentuk kejahatan. "Jauhkanlah dirimu dari segala jenis kejahatan." (1 Tesalonika 5:22). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "Abstain from evil [shrink from it and keep aloof from it] in whatever form or whatever kind it may be." Dengan mengingat hal ini, kita harusnya berpikir ulang akan segala sesuatu hal yang berhubungan dengan kejahatan sebelum kita melakukannya, walaupun kecil. Mengambil bagian dalam berbagai jenis kejahatan akan merusak kesehatan kita secara spiritual dan membuat kita kehilangan janji-janji Tuhan. Ketika dosa-dosa yang kita anggap besar bisa kita hindari, hendaklah kita pun mencermati dosa-dosa yang mungkin kelihatannya sepele seperti kebohongan kecil, hanya ikut kecipratan hasil korupsi, sesekali mengkonsumsi sesuatu yang buruk dalam bergaul dan sebagainya. Kita harus berhenti memberi toleransi-toleransi akan kesalahan seperti ini, karena biarpun kecil jika kita biarkan terus akan membawa dampak dalam eskalasi yang terus meningkat. Alkitab sudah mengingatkan hal itu: "Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:14-15).

2. Pertengkaran akibat soal-soal yang dicari-cari, bodoh atau tidak layak
Firman Tuhan dalam 2 Timotius 2:23 mengingatkan hal ini: "Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran." Dalam Titus pun kita bisa menemukan ayat yang kurang lebih sama. "Tetapi hindarilah persoalan yang dicari-cari dan yang bodoh, persoalan silsilah, percekcokan dan pertengkaran mengenai hukum Taurat, karena semua itu tidak berguna dan sia-sia belaka." (Titus 3:9). Selalu saja ada orang yang akan memancing perdebatan dan seringkali perdebatan itu sia-sia belaka alias tidak ada gunanya. Karena itu jika ada yang memancing pertengkaran dalam bentuk apapun, jangan terpancing. Apa yang harus kita lakukan justru adalah berusaha melakukan pekerjaan yang baik. "Perkataan ini benar dan aku mau supaya engkau dengan yakin menguatkannya, agar mereka yang sudah percaya kepada Allah sungguh-sungguh berusaha melakukan pekerjaan yang baik. Itulah yang baik dan berguna bagi manusia." (ay 8).

(bersambung)

Sunday, June 3, 2012

Berlarilah Begitu Rupa (2)

(sambungan)

Selanjutnya, dalam menghadapi perlombaan kita, apa yang menjadi hadiahnya? Paulus melanjutkan ayat diatas dengan "Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi." (ay 25). Ya, ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana, melinkan sebuah mahkota yang abadi. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai garis akhir dengan gemilang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. "Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia." (Yakobus 1:12).

Sesungguhnya kita telah dibekali segala sesuatu untuk menjadi pemenang. Bahkan Alkitab berkata kita lebih dari pemenang. "Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita." (Roma 8:37). Karena itu selain usaha-usaha kita di atas, kita perlu pula memiliki mental juara. Mari kita periksa diri kita hari ini. Seberapa beranikah kita hari ini menghadapi tantangan? Sudahkah kita memiliki keberanian seperti eekor singa dalam menghadapi tekanan, atau kita masih termasuk golongan yang mudah menyerah, sedikit saja terguncang sudah langsung ambruk? Kita diciptakan Tuhan untuk menjadi seperti singa yang tidak mundur menghadapi tantangan. Kita diciptakan bukan untuk menjadi pecundang melainkan sebagai sosok yang lebih dari orang menang. Kita diciptakan sebagai anak-anak sulungNya, dan karenanya kita semua telah dibekali berbagai keahlian dan kelebihan untuk bisa tampil dengan sosok seperti singa. Dan bukan itu saja, karena ada Tuhan bersama kita yang akan selalu siap untuk membawa kita ke setiap tingkatan keberhasilan, tidak peduli sesulit apapun situasi yang kita hadapi saat ini. "Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Roma 8:28). Ada Roh Tuhan yang berdiam di dalam diri kita (Galatia 4:6), dan semua ini seharusnya membuat kita tampil sebagai atlit-atlit yang tangguh, memiliki mental seperti singa yang gagah berani. Jika demikian, mengapa kita harus takut menghadapi apapun? Bahkan kita harus ingat, "Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?" (Roma 8:31).

Kita harus tahu seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: "Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul." (1 Korintus 9:26). Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia atau tidak ada gunanya. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasinya, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, keep running on track and do the best you can. Selalu ada rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini, tetapi bersama Tuhan kita akan mampu mengatasinya dengan gemilang. Jangan mundur di tengah jalan, jangan menyerah, tetaplah berjuang. Teruslah maju, jangan terus menoleh ke belakang dan raihlah apa yang dirancangkan Tuhan dalam hidup anda. Terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita sehingga gagal keluar sebagai pemenang. Paulus juga mengingatkan hal tersebut. "aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Ingatlah bahwa hidup ini adalah sebuah arena perlombaan, dan kita adalah peserta di dalamnya. Karena itu berlarilah begitu rupa, dengan ketahanan, kekuatan stamina dan mental disertai latihan dan persiapan yang teratur dan baik, sehingga kita bisa keluar sebagai pemenang. Selamat berlomba!

Berlarilah begitu rupa sehingga kita mampu meraih mahkota kemenangan yang telah dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 2, 2012

Berlarilah Begitu Rupa (1)

Ayat bacaan: 1 Korintus 9:24
=======================
"Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!"

lari begitu rupaSalah satu jenis lomba lari yang bagi saya terlihat sangat sulit adalah lomba lari gawang atau disebut juga dengan hurdle race. Dalam jenis ini pelari berlomba bukan hanya dengan kecepatan berlari tapi juga harus melompati gawang-gawang yang disediakan di sepanjang lintasan. Itu tentu tidak mudah, karena salah perkiraan sedikit saja orang bisa jatuh tersandung gawang-gawang yang cukup tinggi itu. Jumlah pelari boleh banyak, namun yang bisa menjadi juara dan merebut medali emas hanya satu. Itu yang biasanya kita lihat dalam setiap perlombaan di berbagai gelanggang kejuaraan. Hitungan diberlakukan sampai kepada mili detik karena ada kalanya pelari masuk bersamaan yang secara kasat mata bisa terlihat seperti tepat pada saat yang sama. Meski demikian, tetap saja ada satu orang yang pasti berada paling depan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis, dan merekalah yang keluar sebagai pemenang. Seringkali kita lupa bahwa kita pun sebenarnya tengah berlomba untuk bisa keluar menjadi pemenang pada akhir perlombaan kita. Apa yang kita lombakan pun lebih dari hanya sekedar berlari, karena ada banyak rintangan-rintangan bagai gawang yang harus kita lompati atau lewati dengan baik agar bisa berhasil menjadi juara.

Jika anda adalah atau pernah menjadi atlit tentu tahu bahwa sebagai olahragawan termasuk pelari, mengukir prestasi dan menjadi juara tentu menjadi sebuah tujuan yang ingin dicapai. Tidak ada satupun olahragawan yang tidak ingin menjuarai perlombaan yang ia ikuti bukan sekedar ikut-ikutan saja. Dan itu tidaklah mudah. Mereka harus memiliki latihan teratur dan rutin, menjaga pola makan dan kesehatan disamping terus meningkatkan skill atau kemampuan mereka, dalam hal pelari tentunya kecepatan mereka. Rentang kaki, tolakan telapak kaki dalam berlari, bahkan kecermatan di saat start itu semua menjadi sangat penting untuk diperhatikan jika ingin berprestasi sebagai seorang atlit lari. Tidak saja olahragawan, tapi semua orang di bidang-bidang lainpun pasti ingin berprestasi apakah dalam karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Itu semua merupakan "gelanggang-gelanggang" yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi. Tentu saja tidak mudah, karena kerja keras, semangat dan ketekunan sangatlah perlu agar bisa mencapai sebuah prestasi gemilang. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk berhasil. Tanpa itu semua jangan harap kita bisa menggapai prestasi.

Paulus rasanya bukan seorang atlit di masa hidupnya. Sehari-hari setelah bertobat ia dikatakan berprofesi sebagai pembuat kemah seperti yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 18:2-3. Tapi lihatlah beberapa kali mengumpakan bentuk kehidupan kita sebagai orang Kristen seperti perjuangan atlit dalam mengukir prestasi dan mencapai kemenangan. To him, life is like a race. Hidup adalah sebuah perlombaan. Layaknya perlombaan, tidak semua orang mampu untuk mencapai garis finish lalu keluar menjadi pemenang. Itu kira-kira gambaran dari apa yang sering diibaratkan Paulus mengenai kehidupan iman kita. Dalam suratnya kepada jemaat Korintus ia berkata: "Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!" (1 Korintus 9:24). Tidak tahukah kamu, katanya, itu menggambarkan sesuatu yang seharusnya kita pahami sejak semula. Sebuah gambaran dunia yang bagaikan arena perlombaan, maka kita yang hidup di dalamnya haruslah menempatkan diri sebagai peserta-peserta perlombaan yang ingin menjadi juara, keluar sebagai pemenang. Bukan bersantai-santai tanpa tujuan, bukan hanya membuang-buang waktu sia-sia tanpa memiliki satu tujuan akhir. Itu bentuk dari sebuah perlombaan, karena itu, berlarilah dengan begitu rupa agar kita bisa menjadi pemenang.

Lalu mari kita lihat kata-kata Paulus berikutnya. "Karena itu larilah begitu rupa...". Berlari begitu rupa berbicara mengenai keseriusan kita untuk berlomba habis-habisan. Untuk itu tentu kita butuh banyak persiapan. Baik pola latihan, ketekunan, keseriusan, disiplin, pengorbanan, kegigihan dan sebagainya. Ketika berlomba pun kita harus bisa berjuang dengan sekuat tenaga, seserius mungkin agar kita bisa mencapai hasil yang terbaik. Seperti halnya atlit di gelanggang olahraga, demikian pula kehidupan iman kita. Kita harus terus melatih diri kita beribadah seperti yang diingatkan dalam 1 Timotius 4:7, terus berusaha lebih dalam lagi dan lebih dekat lagi dengan Tuhan, rajin mencariNya, mampu menguasai diri kita dari berbagai godaan kedagingan yang ditawarkan seringkali dengan kemasan-kemasan penuh kenikmatan, tekun mempelajari firman-firmanNya dan kemudian menjadi pelaku-pelakunya. Seperti halnya dalam perlombaan lari gawang, akan ada banyak rintangan yang harus kita hadapi dalam kehidupan ini. Jadi bukan saja harus terus berlari, tapi kita juga harus melewati berbagai rintangan dengan baik. Rintangan sebesar apapun bukanlah penghalang untuk sukses apabila kita mau sungguh-sungguh bertekun dengan benar dalam menjalaninya.


(bersambung)

Friday, June 1, 2012

Jika Berjanji, Tepatilah

Ayat bacaan: Matius 5:37
===============
"Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

jika berjanji, tepatilahBerjanji itu mudah, tapi menepatinya bagi banyak orang bisa jadi sulit. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang yang dengan cepat memberi janji tetapi kemudian mangkir dengan berbagai alasan. Selalu ada saja alasan yang mereka pakai sebagai pembenaran untuk melanggar janjinya. Tidakkah anda kesal apabila anda sudah menunggu lama tapi ternyata orang yang anda tunggu itu tidak jadi datang? Apalagi kalau tanpa pemberitahuan. Ini baru salah satu contoh yang mungkin hanya menimbulkan rasa kesal dan tidak terlalu merugikan. Tapi bayangkan apabila hal seperti ini terjadi dalam pekerjaan. Anda sudah berjanji untuk menyelesaikan pesanan pada tanggal sekian misalnya, tapi kemudian pelanggan harus bolak balik karena pekerjaan itu molor tanpa alasan jelas. Ini tentu bisa merugikan konsumen dan akibatnya merugikan kita sendiri juga.

Kita terkadang bisa terjebak pada situasi demikian. Dalam kasus lain, karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lain, kita bisa melakukan "lips-service" dengan membuat sebuah janji atau dengan ringan mengatakan ya. Soal ditepati atau tidak itu soal nanti, yang penting janjikan saja dulu. Alasan bisa dicari belakangan. Sakit, kurang enak badan, urusan keluarga, mogok, mungkin menjadi alasan paling favorit bagi banyak orang untuk melanggar janjinya. Bagi kebanyakan orang perilaku seperti ini mungkin dianggap manusiawi dan wajar. Bagaimana menurut Tuhan? Perilaku ini tidak diperbolehkan bagi orang percaya. Mengapa demikian? Karena perilaku ingkar janji ini tidak berbeda jauh dengan berbohong. Yesus berkata tegas: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). Atau dalam bahasa Inggrisnya: "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one." Aturannya jelas. Jika kita sudah mengatakan ya, tepatilah, sebelum si jahat menemukan sebuah lahan bermain yang menyenangkan dalam diri kita dan kemudian membuat kita terus bertumbuh menjadi pembohong-pembohong kelas kakap yang tidak lagi merasa bersalah ketika melakukannya.

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah,yang mengacu kepada 10 Perintah Allah: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Pada kenyataannya, manusia terkadang begitu mudah bersumpah demi segala sesuatu, bahkan berani bersumpah dengan mengatasnamakan Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Ini jelas-jelas merupakan sebuah pelanggaran. Tuhan sangat tidak suka, begitu tidak sukanya sampai dikatakan jijik dengan sikap/kebiasaan seperti ini. Lewat kitab Mazmur kita bisa melihat ayatnya. "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa menipu bukanlah pelanggaran ringan. Seorang penipu itu disamakan dengan pembunuh. Hal ini masuk akal, karena dengan menipu atau ingkar janji kita bisa membunuh harapan dan kepercayaan orang dan bisa merugikan orang lain. Ada seorang teman saya yang mengalami masalah untuk mempercayai orang lain karena semasa kecilnya ia sering diberi janji-janji kosong oleh orang tuanya. Lihatlah bahwa menipu bisa membawa kerusakan berat dalam gambar diri atau kepribadian seseorang yang akan butuh waktu lama untuk dipulihkan. Tidak mengherankan apabila Tuhan memberi hukuman berat kepada orang yang gemar berbohong atau menipu. Salomo mengingatkan lebih lanjut akan hal ini. "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seriusnya, hingga ketika seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

Belajarlah sejak dini untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Demikian pula dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4). Seperti apa yang diajarkan Yesus, hendaklah kita mau menghormati janji dengan menepatinya. Jika ya, katakanlah ya. Jika tidak, katakan tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari si jahat. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Ada sebuah ungkapan dalam bahasa Inggris yang berbunyi  "never make a promise you can't keep", dan ini baik untuk kita ingat. Hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk berpesta pora menghancurkan segala yang sudah kita bangun dengan susah payah. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan juga sebuah dosa menjijikkan di hadapan Tuhan.

Never make a promise you can't keep

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...