=====================
"Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah"
Gesekan-gesekan kecil merupakan hal yang lumrah dalam rumah tangga ataupun dalam pertemanan. Kita semua memiliki kepribadian yang berbeda, pola pikir untuk menyelesaikan masalah berbeda, cara menghadapi persoalan pun bisa berbeda. Beda pendapat tentang banyak hal, itupun bisa membuat kita sekali waktu merasa kesal atau berselisih dengan orang yang dekat dengan kita. Sayangnya seringkali gesekan kecil itu dibiarkan hingga berkembang menjadi besar. Di jaman dahulu kala ketika belum ada korek api, orang menggesek-gesekkan kayu atau membenturkan batu untuk memperoleh api. Api yang muncul bermula kecil saja, bahkan jika batu yang diadu hanya menimbulkan percik kecil. Tetapi api ini bisa menjadi sebuah nyala yang besar pada suatu ketika. Demikian pula dalam hubungan keluarga dan pertemanan. Sebuah pertengkaran sering dimulai dari hal yang kecil dan sepele, namun ketika emosi meningkat, emosi mulai tidak terkendali dan bagaikan api terus membesar dan menyambar kemana-mana. Padahal jika dikembalikan pada pokok masalah, mungkin tidaklah sulit untuk diselesaikan. Tapi ketika kemarahan sudah memuncak, perselesihan sudah menyambar kesana kemari dan tiba-tiba sudah jauh dari pokok masalah. Seperti api besar bisa membakar habis rumah, sebuah area luas bahkan satu kota, begitu pula hubungan antara satu dengan yang lain.Seperti kemarin kita lihat, kita harus menghindari pertengkaran sedini mungkin sebelum itu menjadi tidak lagi bisa kita kendalikan. Yakobus mengingatkan sebuah ayat yang baik dijadikan dasar untuk menghindari hal tersebut. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:19). Ini tiga prinsip penting yang bisa menjaga situasi agar tidak berkembang lebih parah. Hari ini kita mulai dari prinsip pertama dulu, yaitu cepat untuk mendengar.
Berbeda pendapat itu normal, tidak sepakat itu biasa, namun diatas semua itu kita harus membiasakan diri kita untuk mau mendengar terlebih dahulu. Dengarkan dulu baik-baik alasan dan pendapat mereka lalu cobalah komunikasikan dengan cara-cara yang baik, sopan dan beradab. Perselisihan kerap diakibatkan oleh karena ego kita sendiri, menganggap bahwa hanya kita yang benar. Ketika sesuatu terjadi tidak sesuai dengan keinginan kita, kita pun menjadi marah. Temperaturnya bisa memuncak ketika kita membiarkan semua itu terus berkembang menjadi semakin parah. Lewat Yakobus kita diingatkan untuk mau memberi sebuah ruang tertentu dengan menjadi pendengar yang baik. Ini akan membuat kita mampu memandang sebuah permasalahan dengan lebih jelas sebelum buru-buru menarik kesimpulan hanya berdasarkan pandangan kita sendiri.
Kita bisa melihat satu contoh dari tanggapan Yesus ketika Dia berkunjung ke rumah Marta dan Maria (Lukas 10:38-42). Pada saat itu Marta memilih untuk sibuk melayani, tetapi Maria memilih untuk diam di dekat kaki Yesus dan terus mendengarkan perkataan Yesus dengan sungguh-sungguh. Yesus menganggap bahwa apa yang dilakukan Maria adalah "memilih bagian terbaik yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 42). Begitu pentingnya untuk mau mendengar dengan hati yang lembut. Bukanlah kebetulan Tuhan memberikan kita sepasang telinga sebagai indra untuk mendengar. Dua telinga dan satu mulut, itu menunjukkan bahwa mendengar itu lebih penting ketimbang berbicara. "Karena itu, perhatikanlah cara kamu mendengar.." (Lukas 8:18).
Dari Marta dan Maria di atas kita bisa melihat bahwa soal mendengar ini pun termasuk kesediaan kita untuk mendengar apa kata Tuhan. seringkali kita tidak mendengar apa kata Tuhan karena kita terlalu sibuk dengan wishlist kita di setiap doa. Bisa jadi juga kita tidak mau melembutkan hati untuk menerima nasihat, teguran dan kebenaran. Jangan keraskan hati ketika Tuhan berbicara. Jangan cepat membantah, tapi dengarkanlah dahulu baik-baik apa kata Tuhan. Miliki hati yang peka sehingga kita bisa mendengar bimbingan Roh Kudus dalam setiap langkah kehidupan yang kita jalani. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7)
Ada saat dimana kita harus berbicara dan bersikap, namun ada juga saat dimana kita harus menjadi pendengar yang baik. Seorang pendengar yang baik akan mampu mendengar dengan cepat dan cermat sebelum menarik kesimpulan dengan tergesa-gesa atau terburu-buru menuduh apalagi menyerang. Hati yang cepat mendengar akan akan membuat kita mampu melihat dengan lebih jelas permasalahan dari sudut pandang orang lain. sehingga bisa menghindarkan kita dari amarah berlebihan yang tidak akan menguntungkan siapapun tapi malah merugikan banyak orang.
Cepatlah mendengar bukan cepat menentang atau menyerang
Follow us on twitter: http://twitter.com/daiyrho
Pertengkaran merupakan bunga dalam kehidupan. Itu kata bijak yang hingga batas-batas tertentu ada benarnya. Bertengkar itu tanda dekat, kata yang lain lagi, dan juga dianggap bagaikan bumbu yang melezatkan kehidupan keluarga. Tapi apabila frekuensinya dan intensitasnya tinggi, itu bukan lagi menjadi bunga dalam kehidupan melainkan benalu yang bisa mematikan. Ibarat memasak dengan bumbu yang terlalu banyak, rasanya bisa tidak karuan. Sebuah keluarga bisa sejuk, damai dan tentram penuh kasih bagai surga, tapi sebaliknya bisa panas membara dan menyiksa seperti neraka. Demikian pula dalam pertemanan. Ada seorang teman yang pernah menangis mengeluarkan isi hatinya karena ia bertengkar hebat dengan sahabat dekatnya. Untungnya ia memilih untuk tidak meneruskan perselisihan dan menjauh dulu untuk sementara waktu. Puji Tuhan, kemarin ia dengan gembira bercerita bahwa sahabatnya baru saja menelepon dan mengatakan rindu untuk bertemu dan kembali bersama seperti sedia kala.
Jika anda mengidap alergi akan sesuatu, tentu anda akan tahu bagaimana rasanya jika anda menyentuh apa yang anda alergikan itu. Alergi adalah sebuah reaksi berlebihan yang terjadi di dalam tubuh akibat adanya kontak terhadap substansi tertentu. Penyebab alergi bisa bermacam-macam dan masuk ke dalam tubuh lewat berbagai cara. Misalnya jika terhirup (lewat pernafasan), lewat suntik, dari makanan (seperti seafood, telur dan sebagainya) atau kontak-kontak langsung pada kulit seperti kosmetik, logam pada perhiasan/jam tangan dan sebagainya. Bisa pula lewat serbuk tanaman atau jenis rerumputan tertentu, sengatan serangga, bulu hewan dan lain-lain. Berbagai zat tambahan pada makanan seperti penyedap masakan, pewarna atau pengawet pun bisa menimbulkan alergi bagi beberapa orang. Orang bisa mengalami alergi yang berbeda-beda. Seorang teman saya akan segera gatal-gatal sekujur tubuhnya jika mengkonsumsi makanan laut terutama udang. Ada pula yang alergi akan sengatan lebah atau gigitan serangga seperti semut. Saya sendiri alergi terhadap logam dari jam tangan. Setiap saya mempergunakan jam tangan yang terbuat dari logam, maka bengkak merah yang rasanya sangat gatal akan muncul di sekitar area dimana jam tangan itu bersentuhan dengan kulit. Jika kita tahu apa yang bisa membuat kita alergi, tentu kita harus menghindarinya agar kesehatan kita tidak menjadi terganggu.
Salah satu jenis lomba lari yang bagi saya terlihat sangat sulit adalah lomba lari gawang atau disebut juga dengan hurdle race. Dalam jenis ini pelari berlomba bukan hanya dengan kecepatan berlari tapi juga harus melompati gawang-gawang yang disediakan di sepanjang lintasan. Itu tentu tidak mudah, karena salah perkiraan sedikit saja orang bisa jatuh tersandung gawang-gawang yang cukup tinggi itu. Jumlah pelari boleh banyak, namun yang bisa menjadi juara dan merebut medali emas hanya satu. Itu yang biasanya kita lihat dalam setiap perlombaan di berbagai gelanggang kejuaraan. Hitungan diberlakukan sampai kepada mili detik karena ada kalanya pelari masuk bersamaan yang secara kasat mata bisa terlihat seperti tepat pada saat yang sama. Meski demikian, tetap saja ada satu orang yang pasti berada paling depan dengan perbedaan waktu yang sangat tipis, dan merekalah yang keluar sebagai pemenang. Seringkali kita lupa bahwa kita pun sebenarnya tengah berlomba untuk bisa keluar menjadi pemenang pada akhir perlombaan kita. Apa yang kita lombakan pun lebih dari hanya sekedar berlari, karena ada banyak rintangan-rintangan bagai gawang yang harus kita lompati atau lewati dengan baik agar bisa berhasil menjadi juara.
Berjanji itu mudah, tapi menepatinya bagi banyak orang bisa jadi sulit. Hampir setiap hari kita bertemu dengan orang yang dengan cepat memberi janji tetapi kemudian mangkir dengan berbagai alasan. Selalu ada saja alasan yang mereka pakai sebagai pembenaran untuk melanggar janjinya. Tidakkah anda kesal apabila anda sudah menunggu lama tapi ternyata orang yang anda tunggu itu tidak jadi datang? Apalagi kalau tanpa pemberitahuan. Ini baru salah satu contoh yang mungkin hanya menimbulkan rasa kesal dan tidak terlalu merugikan. Tapi bayangkan apabila hal seperti ini terjadi dalam pekerjaan. Anda sudah berjanji untuk menyelesaikan pesanan pada tanggal sekian misalnya, tapi kemudian pelanggan harus bolak balik karena pekerjaan itu molor tanpa alasan jelas. Ini tentu bisa merugikan konsumen dan akibatnya merugikan kita sendiri juga.