(sambungan)
Kita harus memperhatikan betul dimana kita bisa maksimal dan berfungsi benar sebagai terang.Tanpa meletakkan dan memfungsikannya dengan benar, terang kita tidak akan terlihat dan tidak akan mampu menjangkau orang lain. Lalu kitapun gagal untuk melakukan amanat agung yang difirmankan Tuhan Yesus sesaat sebelum Dia naik ke Surga. Dan hal ini akan diperhitungkan pada hari penghakiman, dimana saat itu tidak lagi ada hal yang tersembunyi. One day all will be revealed. Hal inilah yang menjadi kelanjutan ayat bacaan di atas. "Sebab tidak ada sesuatu yang tersembunyi yang tidak akan dinyatakan, dan tidak ada sesuatu yang rahasia yang tidak akan tersingkap." (Markus 4:22). Pada saat itu, siap atau tidak, kita harus mempertanggungjawabkan segala yang kita lakukan. Apakah kita hidup sesuai firman Tuhan atau tidak. Apakah kita sudah melakukan segalanya atas dasar kasih, atau malah mementingkan diri sendiri selama hidup. Apakah kita sudah melayani Tuhan dan pekerjaanNya, atau kita malas-malasan dan hanya menuntut berkat tanpa ingin memberkati. Semua itu akan dibuka pada hari penghakiman.
Tuhan melengkapi kita dengan talenta yang cukup untuk bisa menjadi terang, Dia bahkan telah memberikan terangNya sendiri untuk menyinari kita dan memampukan kita untuk bersinar di tengah dunia yang kelam, Hendaklah talenta-talenta itu dilipat gandakan, digunakan untuk melayani dan menyelamatkan orang lain, digunakan untuk bekerja di ladang Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, bukan dipendam dalam tanah seperti yang tertulis dalam perumpamaan tentang talenta (Matius 25:14-30, Lukas 19:12-27). Lihat apa yang diputuskan Tuhan terhadap hamba yang malas dan hanya menimbun talentanya dalam perumpamaan tentang talenta ini. Pertama apa yang ia miliki diambil dan diberikan kepada orang yang melipat gandakan talenta (Matius 25:28), lalu ia dilempar ke dalam kegelapan tergelap, tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. (ay 30).
Adalah menarik jika memperhatikan bahwa ada kesamaan ayat antara perumpamaan tentang talenta dan perumpamaan tentang pelita. Perhatikan kesamaan ayat dalam perumpamaan tentang talenta: "Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya" (Matius 25:29) dengan ayat dalam perumpamaan tentang pelita. "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (Markus 4:25). Dengan demikian kita bisa melihat dengan jelas keterkaitannya, bahwa jika kita menyia-nyiakan talenta kita, dan menyimpannya di bawah kolong, maka segalanya akan diambil dan kita akan menerima ganjarannya di tempat yang penuh ratap dan kertak gigi. Sebaliknya, jika kita mempergunakan talenta-talenta kita untuk menjadi terang dan berkat bagi banyak orang, maka kepada kita akan ditambahkan lebih banyak lagi. Tuhan akan mencurahkan lebih banyak lagi berkat, yang kemudian mampu anda pergunakan pula untuk memberkati orang lain lebih banyak lagi.
Tuhan mengasihi kita dan menjanjikan hidup yang kekal. Tetapi hal tersebut bukan berarti bahwa kita boleh melakukan apapun dengan sesuka hati. Jangan pernah menyalah gunakan kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Pada saatnya nanti kita harus mempertanggungjawabkan segala yang dipercayakan Tuhan selama masa hidup kita. Ketika Tuhan telah mengaruniakan kita dengan terang, Dia akan melihat apa yang akan kita lakukan dengan terang itu. Apakah kita menerangi banyak orang dan lebih banyak lagi, apakah kita melipatgandakan talenta-talenta itu untuk tujuan mempermuliakan nama Tuhan dan membawa jiwa-jiwa untuk diselamatkan, atau sebaliknya memilih untuk tidak melakukan itu semua sama sekali dan menjadi orang yang egois dan menutup diri tanpa peduli terhadap orang lain. Pilihan ada di tangan kita, karena Tuhan sudah mencurahkan segalanya secara cukup bagi kita untuk mulai berbuat sesuatu. Tidak perlu malu, takut, merasa tidak sanggup dan sebagainya untuk menyatakan terang, karena "Ukuran yang kamu pakai untuk mengukur akan diukurkan kepadamu, dan di samping itu akan ditambah lagi kepadamu." (Markus 4:24). Inilah perumpamaan tentang Pelita yang disebutkan Yesus. Hendaknya kita semua mampu menjadi terang yang benar, seperti halnya Kristus sang "Terang Dunia". Dunia yang kita hidupi saat ini penuh dengan kegelapan dan sangat membutuhkan seberkas sinar untuk meneranginya. Jika kita mau menjadi terang sesuai firman Tuhan, maka Tuhan akan berkata: "Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu." (Yesaya 58:8).
Jadilah pelita yang berfungsi benar memberikan cahaya terang di dunia yang gelap
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Tuesday, February 21, 2012
Monday, February 20, 2012
Berfungsi Benar Sebagai Terang (1)
Ayat bacaan: Markus 4:21
===================
"Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian."
Tengah asyik-asyiknya mengetik, tiba-tiba listrik di rumah padam. Istri saya lalu mengambil beberapa buah lilin, meletakkan lilin-lilin itu pada tempatnya dan kemudian menyalakannya agar rumah tidak gelap gulita. Ia mempunyai posisi-posisi sendiri untuk meletakkan lilin, seperti di atas rak di ruang tamu, di atas meja kerja saya dan di atas rak di kamar tidur. Jika anda menyalakan lilin dalam situasi yang sama, tentu anda juga meletakkannya pada tempat-tempat seperti itu. Tidak akan ada orang yang menyalakan lilin lalu diletakkan di tempat tertutup atau terhalang sesuatu, seperti di bawah tempat tidur, dalam peti dan sebagainya. Disana lilin tidak akan bisa berbuat banyak untuk menghalau gelap dan menggantikannya dengan terang yang ia miliki. Lilin itu hanya akan berfungsi baik menerangi kegelapan apabila diletakkan di posisi terbuka yang cukup tinggi. Jika anda pegang tempat lilin dan anda angkat ke atas di dalam ruang yang gelap, disanalah lilin itu akan mampu menerangi ruang yang gelap gulita. Lilin berfungsi sebagai alat penerang, tetapi dimana kita menempatkannya akan menentukan apakah lilin itu bisa berfungsi maksimal atau sebaliknya.
Yesus pun mempergunakan fakta ini dalam perumpamaannya tentang kita sebagai terang dunia. Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, maka kita pun menerima terang, sebab Yesus adalah terang yang sejati. Yesus bersabda: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Saat terang Yesus hadir dalam diri kita, maka terang itu pun akan menyinari kita semua; Kristus sendiri yang akan bercahaya atas kita. (Efesus 5:14). Dengan demikian kita yang dulu hidup dalam kegelapan, kini berubah menjadi anak-anak terang. "Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang." (Efesus 5:8). Hidup sebagai terang akan nyata ketika hidup kita berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran. (ay 9). Dan dengan hidup dalam terang, darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. (1 Yohanes 1:7). Artinya, kita dilayakkan untuk menerima keselamatan. Namun terang yang kita peroleh dari sang "Terang Dunia" bukanlah dimaksudkan hanya untuk diri kita sendiri saja melainkan juga untuk menyinari saudara-saudara kita yang masih berada dalam kegelapan. Firman Tuhan berkata: "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2).
Pelita, lilin atau alat penerang lainnya harus dipergunakan sesuai fungsi. Alat-alat penerangan ini dinyalakan bukan untuk ditempatkan di bawah kolong atau ditutupi, namun haruslah ditempatkan pada posisi yang benar agar cahayanya bisa menerangi kegelapan. Yesus mengatakannya seperti ini: "Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian." (Markus 4:21). Bagaimana terang yang kita miliki mampu untuk menyinari orang lain, apabila kita terus menyembunyikannya? Bagaimana kita bisa maksimal apabila ibadah hanya dilakukan dalam ruang lingkup tembok gereja sekali seminggu saja? Firman Tuhan jelas berkata: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ibadah yang sejati sesungguhnya adalah sebuah kehidupan yang hidup, kudus dan berkenan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, pekerjaan, tempat pendidikan, lingkungan pertemanan dan ditengah-tengah kehidupan sosial kita.
(bersambung)
===================
"Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian."
Tengah asyik-asyiknya mengetik, tiba-tiba listrik di rumah padam. Istri saya lalu mengambil beberapa buah lilin, meletakkan lilin-lilin itu pada tempatnya dan kemudian menyalakannya agar rumah tidak gelap gulita. Ia mempunyai posisi-posisi sendiri untuk meletakkan lilin, seperti di atas rak di ruang tamu, di atas meja kerja saya dan di atas rak di kamar tidur. Jika anda menyalakan lilin dalam situasi yang sama, tentu anda juga meletakkannya pada tempat-tempat seperti itu. Tidak akan ada orang yang menyalakan lilin lalu diletakkan di tempat tertutup atau terhalang sesuatu, seperti di bawah tempat tidur, dalam peti dan sebagainya. Disana lilin tidak akan bisa berbuat banyak untuk menghalau gelap dan menggantikannya dengan terang yang ia miliki. Lilin itu hanya akan berfungsi baik menerangi kegelapan apabila diletakkan di posisi terbuka yang cukup tinggi. Jika anda pegang tempat lilin dan anda angkat ke atas di dalam ruang yang gelap, disanalah lilin itu akan mampu menerangi ruang yang gelap gulita. Lilin berfungsi sebagai alat penerang, tetapi dimana kita menempatkannya akan menentukan apakah lilin itu bisa berfungsi maksimal atau sebaliknya.Yesus pun mempergunakan fakta ini dalam perumpamaannya tentang kita sebagai terang dunia. Ketika kita menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat kita, maka kita pun menerima terang, sebab Yesus adalah terang yang sejati. Yesus bersabda: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12). Saat terang Yesus hadir dalam diri kita, maka terang itu pun akan menyinari kita semua; Kristus sendiri yang akan bercahaya atas kita. (Efesus 5:14). Dengan demikian kita yang dulu hidup dalam kegelapan, kini berubah menjadi anak-anak terang. "Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang." (Efesus 5:8). Hidup sebagai terang akan nyata ketika hidup kita berbuah kebaikan, keadilan dan kebenaran. (ay 9). Dan dengan hidup dalam terang, darah Yesus menyucikan kita dari segala dosa. (1 Yohanes 1:7). Artinya, kita dilayakkan untuk menerima keselamatan. Namun terang yang kita peroleh dari sang "Terang Dunia" bukanlah dimaksudkan hanya untuk diri kita sendiri saja melainkan juga untuk menyinari saudara-saudara kita yang masih berada dalam kegelapan. Firman Tuhan berkata: "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu." (Yesaya 60:1-2).
Pelita, lilin atau alat penerang lainnya harus dipergunakan sesuai fungsi. Alat-alat penerangan ini dinyalakan bukan untuk ditempatkan di bawah kolong atau ditutupi, namun haruslah ditempatkan pada posisi yang benar agar cahayanya bisa menerangi kegelapan. Yesus mengatakannya seperti ini: "Lalu Yesus berkata kepada mereka: "Orang membawa pelita bukan supaya ditempatkan di bawah gantang atau di bawah tempat tidur, melainkan supaya ditaruh di atas kaki dian." (Markus 4:21). Bagaimana terang yang kita miliki mampu untuk menyinari orang lain, apabila kita terus menyembunyikannya? Bagaimana kita bisa maksimal apabila ibadah hanya dilakukan dalam ruang lingkup tembok gereja sekali seminggu saja? Firman Tuhan jelas berkata: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Ibadah yang sejati sesungguhnya adalah sebuah kehidupan yang hidup, kudus dan berkenan dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di rumah, pekerjaan, tempat pendidikan, lingkungan pertemanan dan ditengah-tengah kehidupan sosial kita.
(bersambung)
Sunday, February 19, 2012
Air Muka
Ayat bacaan: Amsal 15:13
==================
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."
Air muka seperti apa yang mendominasi wajah kita saat ini? Apakah senyum lebih banyak, atau cemberut atau muka dingin yang justru lebih sering muncul? Satu hal yang pasti, kerap kali air muka kita bisa mempengaruhi suasana di tengah-tengah lingkungan di mana kita berada. Ketika kita hadir kita bisa membuat suasana menjadi ceria, atau justru sebaliknya, kehadiran kita seolah membawa awan kelabu dan langsung membuat suasana menjadi suram dan muram. Apakah orang lain menjadi bersemangat dan gembira lewat kehadiran kita, atau malah langsung membuat orang menjadi malas serta kehilangan gairah? Sadar atau tidak, air muka yang kita tunjukkan kepada lingkungan sekitar kita akan sangat berpengaruh terhadap suasana. Ramahkah, bersahabatkah, mudah tersenyum kah, atau angkuh, kaku dan tidak menunjukkan sikap bersahabat, semua itu bisa tergambar dari raut muka kita. Apakah bibir kita melengkung ke atas atau melengkung ke bawah, apa yang terlihat itu bisa menentukan situasi di sekitar kita. Ada banyak anak yang ketakutan melihat ayahnya karena setiap ayahnya pulang raut mukanya tidak pernah senyum dan selalu terlihat seperti marah. Mendengar suara mobil saja anak-anak sudah berlari ke kamarnya masing-masing dan segera pura-pura tidur karena ketakutan. Di kantor pun demikian. Apa yang anda rasa jika pimpinan anda memiliki wajah yang ketus dan dingin? Bandingkan dengan pimpinan yang ramah, suka tersenyum dan mau menyapa bawahannya. Ini gambaran sederhana mengenai pengaruh air muka terhadap lingkungan sekitar. Sesuatu yang sepele, tapi seringkali tidak kita sadari dampaknya terhadap orang-orang disekitar kita.
Hari ini saya hadirkan sebuah pertanyaan penting, apakah Tuhan peduli dengan air muka yang kita tampilkan setiap hari? Jawabannya ya. Tuhan juga sangat peduli. Lihatlah sebuah contoh di awal-awal kitab Kejadian ketika Kain mulai merasa cemburu terhadap saudara kandungnya Habel. (Kejadian 4). Ketika korban persembahan Habel diterima dan korban persembahan Kain ditolak Tuhan, hatinya dikatakan menjadi sangat panas, dan itu mengakibatkan mukanya menjadi muram. (Kejadian 4:5). Lalu lihatlah tanggapan Tuhan setelahnya. "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 6-7). Tuhan sudah mengingatkan jelas bahwa air muka seharusnya berseri if we do well, tetapi sebaliknya jika tidak, maka dosa pun akan mengintip di depan pintu, menunggu untuk masuk, menyerang dan menghancurkan kita. Dan lihatlah ayat 6 di atas. Disana Tuhan menyatakan langsung bahwa ada keterkaitan antara suasana hati dengan air muka. Hati dikatakan sebagai sumber kehidupan, karenanya kita harus menjaga hati jika kita tidak mau kehilangan sukacita dan kemudian kehilangan senyum dan kegembiraan dalam hidup kita. (Amsal 4:23). Itu akan terlihat jelas dari raut atau air muka kita. Akan halnya Kain, kita tahu apa yang ia lakukan selanjutnya. Sebuah kejahatan keji pembunuhan pun kemudian terjadi, dan itu dilakukan oleh saudara kandung dari korban sendiri. Tuhan padahal sudah mengingatkan sebelum itu terjadi. Hati tidak terjaga akan mengakibatkan air muka menjadi muram, lalu dibalik itu dosa pun akan mengintip menanti saat yang tepat untuk menusuk masuk dan menghancurkan kita. Kain tidak mengindahkan itu dan lihatlah akibatnya.
Dalam salah satu bagian kitab Amsal dikatakan: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Adalah penting bagi kita untuk memiliki muka yang berseri-seri, dan itu semua secara tegas dikatakan berasal dari hati yang gembira. Dari hatilah sebenarnya kehidupan kita terpancar, salah satunya lewat air muka kita. Karenanya kita diminta untuk senantiasa mengawal hati dengan serius. Dari apa yang terjadi pada Kain di atas kita bisa melihat dengan jelas korelasi antara hati yang gembira dan air muka serta akibat yang ditimbulkan setelahnya. Tuhan mengingatkan bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Jadi ada hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita.
Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan? Caranya tidak lain adalah dengan terus menjaga kondisi hati kita agar terus berisi sukacita. Hati yang dipenuhi sukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan orang lain dan diri sendiri. Tidak heran bahwa Tuhan sendiri pun memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam keadaan apapun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Sukacita sungguh membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, hati yang gembira penuh sukacita juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan bahkan menyehatkan kita. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila belum apa-apa orang sudah bereaksi negatif dan anti pati terhadap kehadiran kita. Dalam hal kesehatan pun itu berhubungan. Firman Tuhan lewat hikmat Salomo sudah mengatakan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bayangkan ada berapa banyak penyakit yang mengantri untuk merobohkan kita apabila kita tidak memiliki sukacita dalam hidup kita.
Tuhan senang melihat orang-orang yang selalu gembira penuh sukacita dan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram. Lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan? Apakah baik jika kita terus menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat kepada orang lain? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, yang seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia. Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat. Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Untuk itu, selalu jaga hati kita supaya tetap bersukacita. Air muka apa yang ada hari ini pada wajah kita akan sangat tergantung dari apa yang tengah mengisi hati kita. Oleh karena itu pastikanlah wajah kita tetap penuh senyum dan gembira, dan alirkanlah kegembiraan itu untuk menyentuh orang-orang disekitar kita.
Air muka kita tergantung dari suasana hati
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat."
Air muka seperti apa yang mendominasi wajah kita saat ini? Apakah senyum lebih banyak, atau cemberut atau muka dingin yang justru lebih sering muncul? Satu hal yang pasti, kerap kali air muka kita bisa mempengaruhi suasana di tengah-tengah lingkungan di mana kita berada. Ketika kita hadir kita bisa membuat suasana menjadi ceria, atau justru sebaliknya, kehadiran kita seolah membawa awan kelabu dan langsung membuat suasana menjadi suram dan muram. Apakah orang lain menjadi bersemangat dan gembira lewat kehadiran kita, atau malah langsung membuat orang menjadi malas serta kehilangan gairah? Sadar atau tidak, air muka yang kita tunjukkan kepada lingkungan sekitar kita akan sangat berpengaruh terhadap suasana. Ramahkah, bersahabatkah, mudah tersenyum kah, atau angkuh, kaku dan tidak menunjukkan sikap bersahabat, semua itu bisa tergambar dari raut muka kita. Apakah bibir kita melengkung ke atas atau melengkung ke bawah, apa yang terlihat itu bisa menentukan situasi di sekitar kita. Ada banyak anak yang ketakutan melihat ayahnya karena setiap ayahnya pulang raut mukanya tidak pernah senyum dan selalu terlihat seperti marah. Mendengar suara mobil saja anak-anak sudah berlari ke kamarnya masing-masing dan segera pura-pura tidur karena ketakutan. Di kantor pun demikian. Apa yang anda rasa jika pimpinan anda memiliki wajah yang ketus dan dingin? Bandingkan dengan pimpinan yang ramah, suka tersenyum dan mau menyapa bawahannya. Ini gambaran sederhana mengenai pengaruh air muka terhadap lingkungan sekitar. Sesuatu yang sepele, tapi seringkali tidak kita sadari dampaknya terhadap orang-orang disekitar kita.Hari ini saya hadirkan sebuah pertanyaan penting, apakah Tuhan peduli dengan air muka yang kita tampilkan setiap hari? Jawabannya ya. Tuhan juga sangat peduli. Lihatlah sebuah contoh di awal-awal kitab Kejadian ketika Kain mulai merasa cemburu terhadap saudara kandungnya Habel. (Kejadian 4). Ketika korban persembahan Habel diterima dan korban persembahan Kain ditolak Tuhan, hatinya dikatakan menjadi sangat panas, dan itu mengakibatkan mukanya menjadi muram. (Kejadian 4:5). Lalu lihatlah tanggapan Tuhan setelahnya. "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (ay 6-7). Tuhan sudah mengingatkan jelas bahwa air muka seharusnya berseri if we do well, tetapi sebaliknya jika tidak, maka dosa pun akan mengintip di depan pintu, menunggu untuk masuk, menyerang dan menghancurkan kita. Dan lihatlah ayat 6 di atas. Disana Tuhan menyatakan langsung bahwa ada keterkaitan antara suasana hati dengan air muka. Hati dikatakan sebagai sumber kehidupan, karenanya kita harus menjaga hati jika kita tidak mau kehilangan sukacita dan kemudian kehilangan senyum dan kegembiraan dalam hidup kita. (Amsal 4:23). Itu akan terlihat jelas dari raut atau air muka kita. Akan halnya Kain, kita tahu apa yang ia lakukan selanjutnya. Sebuah kejahatan keji pembunuhan pun kemudian terjadi, dan itu dilakukan oleh saudara kandung dari korban sendiri. Tuhan padahal sudah mengingatkan sebelum itu terjadi. Hati tidak terjaga akan mengakibatkan air muka menjadi muram, lalu dibalik itu dosa pun akan mengintip menanti saat yang tepat untuk menusuk masuk dan menghancurkan kita. Kain tidak mengindahkan itu dan lihatlah akibatnya.
Dalam salah satu bagian kitab Amsal dikatakan: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Adalah penting bagi kita untuk memiliki muka yang berseri-seri, dan itu semua secara tegas dikatakan berasal dari hati yang gembira. Dari hatilah sebenarnya kehidupan kita terpancar, salah satunya lewat air muka kita. Karenanya kita diminta untuk senantiasa mengawal hati dengan serius. Dari apa yang terjadi pada Kain di atas kita bisa melihat dengan jelas korelasi antara hati yang gembira dan air muka serta akibat yang ditimbulkan setelahnya. Tuhan mengingatkan bahwa raut wajah yang muram akan timbul ketika tidak ada sukacita dalam diri kita, ketika tidak ada kasih Tuhan berkuasa atas kita. Dan ketika itu terjadi, ada dosa yang sudah mengintip di depan pintu dan tengah bersiap-siap untuk menerkam kita. Jadi ada hubungan yang kuat antara apa yang ada dalam hati dengan apa yang terpancar keluar lewat air muka kita.
Lantas bagaimana caranya agar kita bisa memiliki air muka yang menyenangkan? Caranya tidak lain adalah dengan terus menjaga kondisi hati kita agar terus berisi sukacita. Hati yang dipenuhi sukacita akan memancarkan sinar cerah di wajah kita yang bisa membahagiakan orang lain dan diri sendiri. Tidak heran bahwa Tuhan sendiri pun memerintahkan kita untuk setiap saat terus bersukacita dalam keadaan apapun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Sukacita sungguh membawa banyak manfaat. Selain membawa pengaruh kepada orang-orang disekitar kita, hati yang gembira penuh sukacita juga akan membuat kita lebih luwes dalam pergaulan bahkan menyehatkan kita. Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila belum apa-apa orang sudah bereaksi negatif dan anti pati terhadap kehadiran kita. Dalam hal kesehatan pun itu berhubungan. Firman Tuhan lewat hikmat Salomo sudah mengatakan: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22). Bayangkan ada berapa banyak penyakit yang mengantri untuk merobohkan kita apabila kita tidak memiliki sukacita dalam hidup kita.
Tuhan senang melihat orang-orang yang selalu gembira penuh sukacita dan tidak suka kepada orang yang air mukanya muram. Lihatlah bagaimana kesal dan kecewanya Tuhan melihat bangsa Israel yang terus saja bersungut-sungut meski mereka terus mendapat curahan berkat dan penyertaan Tuhan. Haruskah kita mencontoh perilaku mereka dan terus mengecewakan Tuhan? Apakah baik jika kita terus menjadi orang yang cepat marah, cepat tersinggung, egois, tidak mau mengerti orang lain dan memasang wajah kaku tak bersahabat kepada orang lain? Tuhan sendiri tidak menginginkan hal seperti itu untuk dilakukan anak-anakNya. Kasih Tuhan yang tercurah setiap hari kepada anak-anakNya seharusnya mendatangkan sukacita, dan selanjutnya terpancar lewat raut muka, sikap dan perilaku yang bersinar terang, yang seharusnya dapat dengan mudah dilihat oleh dunia. Jadilah orang yang ramah, murah senyum, punya sikap bersahabat. Jangan pernah biarkan kesulitan-kesulitan dan tekanan dalam hidup merampas sukacita dalam diri kita dan menghilangkan senyum dari wajah kita. Untuk itu, selalu jaga hati kita supaya tetap bersukacita. Air muka apa yang ada hari ini pada wajah kita akan sangat tergantung dari apa yang tengah mengisi hati kita. Oleh karena itu pastikanlah wajah kita tetap penuh senyum dan gembira, dan alirkanlah kegembiraan itu untuk menyentuh orang-orang disekitar kita.
Air muka kita tergantung dari suasana hati
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Saturday, February 18, 2012
Service Excellence
Ayat bacaan: Kejadian 18:6
=======================
"Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!"
Hari ini saya masih ingin bercerita mengenai pengalaman saya dalam berlibur ke pulau Penang beberapa waktu lalu. Pada suatu malam saya dan istri pergi ke sebuah gerai pujasera dengan banyak stal makanan berjejer di sekeliling tempat. Setelah kami kenyang makan, ternyata ada sebuah lagi pojok makanan yang kembali menarik perhatian istri saya. Lalu kami pun menuju kesana. Penjualnya adalah seorang bapak tua yang ternyata sangat menyenangi pekerjaannya. Dia dengan bersemangat menerangkan makanan yang dijualnya. Apa saja isinya, bumbunya, sampai rasanya. Ia bahkan memberi kami kesempatan untuk mencicipinya tanpa kami minta terlebih dahulu. Semangatnya menjual membuat kami kemudian memesan satu untuk dibungkus pulang. Kembali dengan bersemangat ia menyarankan kami untuk memakannya ditempat karena menurutnya akan jauh lebih nikmat untuk dimakan langsung ketimbang dibungkus dan dibawa ke hotel. Kami yang sudah kenyang pun kemudian menghabiskan sepiring berdua sambil ditemani oleh si bapak penjual yang terus bercerita macam-macam dengan ramahnya. Setelah selesai ia masih memberi diskon harga tanpa diminta. Untuk teman harga spesial, katanya sambil tertawa. Padahal kami baru saja mengenalnya kurang dari setengah jam. Bapak tua ini menunjukkan sebuah service excellence, going extra mile, yang semakin lama semakin jarang kita temui dalam bisnis modern terutama di negara ini.
Ada banyak strategi penjualan yang menawarkan berbagai kemudahan dan potongan harga. Tetapi banyak sekali diantaranya memiliki motivasi tersembunyi atau jebakan dibalik tawaran itu. Tidaklah heran jika kita mendapati begitu banyak keluhan tentang pelayanan atau penipuan di kolom surat pembaca setiap harinya. Jenis keluhan yang muncul di koran itu begitu beragam, mulai dari pelayanan purna jual yang buruk, merasa tertipu, dikasari dan sebagainya. Persaingan antar produsen pun berlangsung sengit bahkan cenderung kasar. Persaingan tidak lagi cukup berbicara mengenai mutu dan harga, tapi harus pula ke dalam zona pelayanan. Sebaik-baiknya sebuah produk, jika tidak didasari dengan pelayanan yang baik lama kelamaan akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Kesigapan, kecepatan pelayanan, keramahan dan kepedulian dalam menangani konsumen menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan oleh penjual sebagai salah satu bagian penting dari pelayanan untuk memenuhi kepuasan konsumen. Costumer Service yang siaga 24 jam dan cakap dalam menangani keluhan konsumen menjadi sesuatu yang wajib untuk dimiliki perusahaan-perusahaan besar hari ini. Pelayanan yang cepat, ramah dan cakap akan mampu memberikan perbedaan signifikan dari keberhasilan sebuah perusahaan dalam memasarkan produknya. Bapak tua itu bukan direktur perusahaan, ia hanya penjual makanan pinggir jalan. Tetapi "service excellence" yang diberikannya ternyata berkesan sangat baik bagi konsumen seperti saya. Dan saya pun belajar dari dirinya akan pentingnya memperhatikan sebuah pelayanan ekstra yang akan memberikan perbedaan signifikan dari keberhasilan menjual.
Sejak jaman dahulu sebenarnya Alkitab sudah menekankan akan pentingnya memberi pelayanan yang baik, setidaknya sejak jaman Abraham seperti yang bisa kita baca dalam Kejadian 18. Mari kita lihat bagaimana reaksi Abraham ketika mendapat kunjungan 3 "orang" di kala ia sedang duduk lelah kepanasan di depan kemahnya. Mendapat kunjungan 3 Sosok istimewa seperti itu, kita melihat gambaran kesigapan Abraham dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi mereka. "Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." (Kejadian 18:4-5a). Abraham tengah melepas lelah ditengah teriknya matahari. Tapi ia tetap menunjukkan kesigapan dalam melayani. He showed one excellent service. Tidak cuma sekedar kata, tapi lihatlah ayat selanjutnya, bagaimana Abraham dengan cekatan langsung bergerak meminta Sara untuk menyediakan yang terbaik dengan secepat mungkin. "Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" (ay 6). Sementara Sara menyediakan roti, Abraham pun kemudian bergegas menyediakan yang lainnya. "Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan." (ay 7-8). Ini menunjukkan sebuah service excellence.
Kisah ini menunjukkan bagaimana kesigapan Abraham dalam melakukan pelayanan yang terbaik bagi tamunya. Ia memberikan bentuk respon yang sangat cepat lebih dari apa yang diharapkan. Kita tahu usia Abraham sudah lanjut pada saat itu, dan ia tengah lelah kepanasan. Jika ia bergerak lambat sekalipun mungkin kita bisa mengerti. Jika ia hanya menyuruh bujangnya atau berteriak saja kepada istrinya pun kita tentu maklum. Tapi tidaklah demikian halnya dengan Abraham. Meski ia sudah lanjut usia, Abraham ternyata masih berpikir pentingnya bersikap gesit dalam memberikan pelayanan terbaik. Tidak heran jika Abraham menjadi orang yang berhasil dan diberkati dengan memiliki gaya hidup seperti ini.
Apa yang ditunjukkan oleh Abraham sesungguhnya harus kita adopsi hari ini, apalagi di tengah dunia yang semakin mementingkan kecepatan seperti sekarang. Sikap seperti ini perlu dimiliki oleh kita semua, termasuk dalam pekerjaan kita. Dan kita melakukan itu bukan saja untuk memberi sebuah pelayanan yang berbeda kepada konsumen, tetapi terlebih untuk Tuhan. Yesus pun mengingatkan kita akan hal ini. "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 5:41). Berikan yang terbaik bukan hanya sebagai kewajiban tetapi terlebih karena kita mengasihi Tuhan dan ingin memuliakan Tuhan lewat segala sesuatu yang kita kerjakan. Konsep seperti ini akan mampu memberi perbedaan signifikan yang mengarah kepada keberhasilan. Jangan pernah puas untuk memberi "performance" standar sesuai kewajiban, tapi mari kita melangkah memasuki mil kedua sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan yang tidak pernah habis-habisnya memberkati kita.
Berikan service excellence dan muliakan Tuhan didalamnya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=======================
"Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!"
Hari ini saya masih ingin bercerita mengenai pengalaman saya dalam berlibur ke pulau Penang beberapa waktu lalu. Pada suatu malam saya dan istri pergi ke sebuah gerai pujasera dengan banyak stal makanan berjejer di sekeliling tempat. Setelah kami kenyang makan, ternyata ada sebuah lagi pojok makanan yang kembali menarik perhatian istri saya. Lalu kami pun menuju kesana. Penjualnya adalah seorang bapak tua yang ternyata sangat menyenangi pekerjaannya. Dia dengan bersemangat menerangkan makanan yang dijualnya. Apa saja isinya, bumbunya, sampai rasanya. Ia bahkan memberi kami kesempatan untuk mencicipinya tanpa kami minta terlebih dahulu. Semangatnya menjual membuat kami kemudian memesan satu untuk dibungkus pulang. Kembali dengan bersemangat ia menyarankan kami untuk memakannya ditempat karena menurutnya akan jauh lebih nikmat untuk dimakan langsung ketimbang dibungkus dan dibawa ke hotel. Kami yang sudah kenyang pun kemudian menghabiskan sepiring berdua sambil ditemani oleh si bapak penjual yang terus bercerita macam-macam dengan ramahnya. Setelah selesai ia masih memberi diskon harga tanpa diminta. Untuk teman harga spesial, katanya sambil tertawa. Padahal kami baru saja mengenalnya kurang dari setengah jam. Bapak tua ini menunjukkan sebuah service excellence, going extra mile, yang semakin lama semakin jarang kita temui dalam bisnis modern terutama di negara ini.Ada banyak strategi penjualan yang menawarkan berbagai kemudahan dan potongan harga. Tetapi banyak sekali diantaranya memiliki motivasi tersembunyi atau jebakan dibalik tawaran itu. Tidaklah heran jika kita mendapati begitu banyak keluhan tentang pelayanan atau penipuan di kolom surat pembaca setiap harinya. Jenis keluhan yang muncul di koran itu begitu beragam, mulai dari pelayanan purna jual yang buruk, merasa tertipu, dikasari dan sebagainya. Persaingan antar produsen pun berlangsung sengit bahkan cenderung kasar. Persaingan tidak lagi cukup berbicara mengenai mutu dan harga, tapi harus pula ke dalam zona pelayanan. Sebaik-baiknya sebuah produk, jika tidak didasari dengan pelayanan yang baik lama kelamaan akan ditinggalkan oleh pelanggannya. Kesigapan, kecepatan pelayanan, keramahan dan kepedulian dalam menangani konsumen menjadi hal mutlak yang harus diperhatikan oleh penjual sebagai salah satu bagian penting dari pelayanan untuk memenuhi kepuasan konsumen. Costumer Service yang siaga 24 jam dan cakap dalam menangani keluhan konsumen menjadi sesuatu yang wajib untuk dimiliki perusahaan-perusahaan besar hari ini. Pelayanan yang cepat, ramah dan cakap akan mampu memberikan perbedaan signifikan dari keberhasilan sebuah perusahaan dalam memasarkan produknya. Bapak tua itu bukan direktur perusahaan, ia hanya penjual makanan pinggir jalan. Tetapi "service excellence" yang diberikannya ternyata berkesan sangat baik bagi konsumen seperti saya. Dan saya pun belajar dari dirinya akan pentingnya memperhatikan sebuah pelayanan ekstra yang akan memberikan perbedaan signifikan dari keberhasilan menjual.
Sejak jaman dahulu sebenarnya Alkitab sudah menekankan akan pentingnya memberi pelayanan yang baik, setidaknya sejak jaman Abraham seperti yang bisa kita baca dalam Kejadian 18. Mari kita lihat bagaimana reaksi Abraham ketika mendapat kunjungan 3 "orang" di kala ia sedang duduk lelah kepanasan di depan kemahnya. Mendapat kunjungan 3 Sosok istimewa seperti itu, kita melihat gambaran kesigapan Abraham dalam memberi pelayanan yang terbaik bagi mereka. "Biarlah diambil air sedikit, basuhlah kakimu dan duduklah beristirahat di bawah pohon ini; biarlah kuambil sepotong roti, supaya tuan-tuan segar kembali; kemudian bolehlah tuan-tuan meneruskan perjalanannya; sebab tuan-tuan telah datang ke tempat hambamu ini." (Kejadian 18:4-5a). Abraham tengah melepas lelah ditengah teriknya matahari. Tapi ia tetap menunjukkan kesigapan dalam melayani. He showed one excellent service. Tidak cuma sekedar kata, tapi lihatlah ayat selanjutnya, bagaimana Abraham dengan cekatan langsung bergerak meminta Sara untuk menyediakan yang terbaik dengan secepat mungkin. "Lalu Abraham segera pergi ke kemah mendapatkan Sara serta berkata: "Segeralah! Ambil tiga sukat tepung yang terbaik! Remaslah itu dan buatlah roti bundar!" (ay 6). Sementara Sara menyediakan roti, Abraham pun kemudian bergegas menyediakan yang lainnya. "Lalu berlarilah Abraham kepada lembu sapinya, ia mengambil seekor anak lembu yang empuk dan baik dagingnya dan memberikannya kepada seorang bujangnya, lalu orang ini segera mengolahnya. Kemudian diambilnya dadih dan susu serta anak lembu yang telah diolah itu, lalu dihidangkannya di depan orang-orang itu; dan ia berdiri di dekat mereka di bawah pohon itu, sedang mereka makan." (ay 7-8). Ini menunjukkan sebuah service excellence.
Kisah ini menunjukkan bagaimana kesigapan Abraham dalam melakukan pelayanan yang terbaik bagi tamunya. Ia memberikan bentuk respon yang sangat cepat lebih dari apa yang diharapkan. Kita tahu usia Abraham sudah lanjut pada saat itu, dan ia tengah lelah kepanasan. Jika ia bergerak lambat sekalipun mungkin kita bisa mengerti. Jika ia hanya menyuruh bujangnya atau berteriak saja kepada istrinya pun kita tentu maklum. Tapi tidaklah demikian halnya dengan Abraham. Meski ia sudah lanjut usia, Abraham ternyata masih berpikir pentingnya bersikap gesit dalam memberikan pelayanan terbaik. Tidak heran jika Abraham menjadi orang yang berhasil dan diberkati dengan memiliki gaya hidup seperti ini.
Apa yang ditunjukkan oleh Abraham sesungguhnya harus kita adopsi hari ini, apalagi di tengah dunia yang semakin mementingkan kecepatan seperti sekarang. Sikap seperti ini perlu dimiliki oleh kita semua, termasuk dalam pekerjaan kita. Dan kita melakukan itu bukan saja untuk memberi sebuah pelayanan yang berbeda kepada konsumen, tetapi terlebih untuk Tuhan. Yesus pun mengingatkan kita akan hal ini. "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 5:41). Berikan yang terbaik bukan hanya sebagai kewajiban tetapi terlebih karena kita mengasihi Tuhan dan ingin memuliakan Tuhan lewat segala sesuatu yang kita kerjakan. Konsep seperti ini akan mampu memberi perbedaan signifikan yang mengarah kepada keberhasilan. Jangan pernah puas untuk memberi "performance" standar sesuai kewajiban, tapi mari kita melangkah memasuki mil kedua sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Tuhan yang tidak pernah habis-habisnya memberkati kita.
Berikan service excellence dan muliakan Tuhan didalamnya
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Friday, February 17, 2012
Hati yang Gembira
Ayat bacaan: Amsal 17:22
=====================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."
Ketika berlibur di pulau Penang Malaysia saya dan istri duduk melepas lelah di sebuah pinggiran pantai di suatu senja. Ada banyak orang yang duduk disepanjang lokasi yang memang menyediakan tempat bersantai itu. Kemudian lewatlah seorang pria paruh baya mengendarai motor secara perlahan dengan banyak koran bergelantungan di dekatnya. Sepertinya ia bertugas sebagai loper koran yang menyalurkan koran terbitan sore ke gerai-gerai di sekitaran pantai. Sepanjang jalan ia terus menyapa orang yang dilewatinya. "Hello..", "Have a Nice Day", "Enjoy your stay" katanya sambil tersenyum kepada orang-orang disana yang sebagian besar merupakan turis seperti saya. Disaat orang berlibur duduk di pinggir pantai, ia harus bekerja membawa begitu banyak koran. Tapi itu tidak membuatnya bersungut-sungut. Ia tersenyum bahagia dan menyapa orang yang dilaluinya dengan ramah. Ini sebuah pemandangan yang bagi saya mencerahkan. Ketika banyak orang yang mengeluh karena harus membanting tulang, pria paruh baya ini memilih untuk bersukacita sambil menyapa orang-orang yang tidak ia kenal dengan ramah. Sukacita ternyata tidak tergantung dari besar kecilnya pendapatan dan capai tidaknya kita bekerja. Sukacita bukan tergantung dari kenyamanan atau kemewahan hidup. Sukacita pun tidak bergantung pada ada tidaknya masalah. Sukacita adalah masalah hati, dan itu adalah pilihan.
Kita bisa bersukacita, kita bisa murung dan bersungut-sungut. Kita bisa tetap bergembira di tengah kesesakan, sebaliknya kita pun bisa terus merasa tidak puas atau gelisah ketika hidup sebenarnya baik-baik saja. Sukacita merupakan sebuah pilihan dan itu tergantung dari bagaimana sikap hati kita dalam menyikapi dan menikmati hidup. Terkadang kita lupa bahwa berkat yang relatif "lebih kecil" dibandingkan orang-orang yang hidupnya kita lihat makmur yang kita punyai pun sebenarnya merupakan berkat Tuhan juga yang patut kita syukuri. Pria paruh baya yang bekerja sebagai loper koran itu pun tentu menyadari bahwa setidaknya ia memiliki pekerjaan dan itu jauh lebih baik dari menganggur. Gajinya tentu tidak seberapa dibandingkan pengusaha kaya atau direktur perusahaan, tapi itu tidak membuatnya bersedih. Ia menikmati pekerjaannya, ia menikmati hidupnya. Dan itulah gambaran bagaimana kita, anak-anak Tuhan seharusnya bersikap terhadap orang asing atau orang yang tidak kita kenal. Ironisnya banyak dari kita yang justru bersikap eksklusif dan tidak mau peduli kepada orang yang tidak dikenal. Mereka memilih untuk menjaga jarak bahkan memandang curiga orang lain. Sedikit senyum ketika berpapasan mata pun dirasa sebagai sesuatu yang mubazir atau tidak berguna. Ada banyak pula yang memilih untuk terus hidup tanpa sukacita. Sekali lagi, semua itu tergantung dari sikap hati dalam memandang hidup, dan itu adalah pilihan.
Penulis Amsal berkata: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22) Dengan jelas ayat ini mengatakan bahwa kegembiraan yang berasal dari hati sangatlah bermanfaat, saking bermanfaatnya bahkan mampu berfungsi sebagai obat yang manjur. Dalam pasal lain kita bisa pada kitab Amsal kita bisa menemukan ayat lainnya mengenai ini. "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Hati yang gembira akan mendatangkan senyum ceria, wajah kita akan terlihat ceria dan membuatnya berseri-seri. Hati yang gembira ini pun bisa mendatangkan kebahagiaan dan meningkatkan harapan hidup disamping bermanfaat bagai obat yang manjur, sebaliknya kepedihan atau kepahitan hati bisa menjadi racun yang berbahaya bagi hidup kita.
Tekanan hidup memang terkadang berat untuk dihadapi. Berbagai beban akan segera mencoba merampas kegembiraan dari hidup kita. Murung, depresi, cemas, takut atau stres jika semakin dibiarkan akan semakin menghilangkan senyuman dari wajah kita. Fokus kepada kekurangan dan tidak melihat kelebihan dan berkat yang ada akan membuat kita kehilangan sukacita dalam hati kita. Dan bukan itu saja, berbagai penyakit seperti stroke, darah tinggi dan sebagainya hingga kanker pun bisa menyerang kita dan menamatkan usia kita dalam waktu singkat. Bapak paruh baya tadi tentu punya kesulitan hidupnya sendiri, sama seperti anda dan saya. Tapi dari sikapnya kita bisa belajar bahwa sukacita atau kegembiraan itu bukan tergantung dari kondisi melainkan merupakan pilihan. Artinya, apakah kita mau tetap bersukacita atau memilih untuk tenggelam dalam masalah dan depresi, itu semua tergantung dari pilihan dan keputusan kita. Sebuah sukacita sejati seharusnya tidak tergantung dari apa yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa? Karena sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan karena keadaan sekitar. Lewat Nehemia Firman Tuhan berkata "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:10b). Dalam Mazmur pun kita bisa membaca "dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." (Mazmur 37:4). Kegembiraan atau sukacita sejati yang berasal dari Tuhan bahkan mampu menurunkan berkat-berkat Tuhan, memenuhi keinginan hati kita. Jika kita membaca dalam versi Bahasa Inggrisnya, kegembiraan dalam Tuhan ini bukan saja menjawab "what our hearts desire" tetapi juga mampu menggerakkan Tuhan untuk mengabulkan "secret petitions of your heart" alias keinginan-keinginan yang bahkan tidak kita sadari. Meski tekanan hidup sedang berat, atau anda sedang jenuh, kehilangan semangat, gairah atau mood hari ini, sukacita tidak sepatutnya hilang dari diri anda karena sebuah sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan dari situasi yang sedang anda hadapi saat ini. Semua itu adalah masalah sikap hati kita, dan itu pula yang diingatkan oleh Firman Tuhan. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23).
Sebagai anak-anak Tuhan seharusnya kita bisa selalu tersenyum bahagia lalu memberkati orang lain dengan kebahagiaan kita itu. Buat apa kita harus cemas, takut, depresi, stres, murung, mengeluh, bersungut-sungut dan sebagainya ketika kita seharusnya hidup dalam pengharapan yang tidak akan pernah mengecewakan lewat kasih Allah yang telah dicurahkan oleh Roh Kudus seperti yang dijanjikan Tuhan dalam Roma 5:5? Paulus mengingatkan kita untuk terus bersukacita dalam Tuhan dalam segala hal, bahkan dalam himpitan beban sekalipun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Jika anda merasa bahwa kegembiraan anda mulai dirampas oleh himpitan beban yang anda hadapi hari ini, jika itu membuat senyum dari wajah anda terampas dan sudut bibir anda mulai sulit melengkung ke atas, ambillah keputusan untuk menghentikan itu semua. Gantikan dengan janji-janji Tuhan dan kembalilah bersukacita. Memelihara perasaan negatif tidak akan membawa manfaat apa-apa selain menambah lebih banyak lagi masalah. Apakah anda merasa gembira hari ini? Apakah anda sudah tersenyum? Sudahkah anda merasakan kebahagiaan karena kebaikan Tuhan nyata atas diri anda hari ini? Mari pancarkan kebahagiaan itu kepada sekitar kita dengan sebuah senyuman yang berasal dari hati bersukacita.
Sukacita bukan tergantung dari situasi melainkan merupakan pilihan sikap hati kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
=====================
"Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."
Ketika berlibur di pulau Penang Malaysia saya dan istri duduk melepas lelah di sebuah pinggiran pantai di suatu senja. Ada banyak orang yang duduk disepanjang lokasi yang memang menyediakan tempat bersantai itu. Kemudian lewatlah seorang pria paruh baya mengendarai motor secara perlahan dengan banyak koran bergelantungan di dekatnya. Sepertinya ia bertugas sebagai loper koran yang menyalurkan koran terbitan sore ke gerai-gerai di sekitaran pantai. Sepanjang jalan ia terus menyapa orang yang dilewatinya. "Hello..", "Have a Nice Day", "Enjoy your stay" katanya sambil tersenyum kepada orang-orang disana yang sebagian besar merupakan turis seperti saya. Disaat orang berlibur duduk di pinggir pantai, ia harus bekerja membawa begitu banyak koran. Tapi itu tidak membuatnya bersungut-sungut. Ia tersenyum bahagia dan menyapa orang yang dilaluinya dengan ramah. Ini sebuah pemandangan yang bagi saya mencerahkan. Ketika banyak orang yang mengeluh karena harus membanting tulang, pria paruh baya ini memilih untuk bersukacita sambil menyapa orang-orang yang tidak ia kenal dengan ramah. Sukacita ternyata tidak tergantung dari besar kecilnya pendapatan dan capai tidaknya kita bekerja. Sukacita bukan tergantung dari kenyamanan atau kemewahan hidup. Sukacita pun tidak bergantung pada ada tidaknya masalah. Sukacita adalah masalah hati, dan itu adalah pilihan.Kita bisa bersukacita, kita bisa murung dan bersungut-sungut. Kita bisa tetap bergembira di tengah kesesakan, sebaliknya kita pun bisa terus merasa tidak puas atau gelisah ketika hidup sebenarnya baik-baik saja. Sukacita merupakan sebuah pilihan dan itu tergantung dari bagaimana sikap hati kita dalam menyikapi dan menikmati hidup. Terkadang kita lupa bahwa berkat yang relatif "lebih kecil" dibandingkan orang-orang yang hidupnya kita lihat makmur yang kita punyai pun sebenarnya merupakan berkat Tuhan juga yang patut kita syukuri. Pria paruh baya yang bekerja sebagai loper koran itu pun tentu menyadari bahwa setidaknya ia memiliki pekerjaan dan itu jauh lebih baik dari menganggur. Gajinya tentu tidak seberapa dibandingkan pengusaha kaya atau direktur perusahaan, tapi itu tidak membuatnya bersedih. Ia menikmati pekerjaannya, ia menikmati hidupnya. Dan itulah gambaran bagaimana kita, anak-anak Tuhan seharusnya bersikap terhadap orang asing atau orang yang tidak kita kenal. Ironisnya banyak dari kita yang justru bersikap eksklusif dan tidak mau peduli kepada orang yang tidak dikenal. Mereka memilih untuk menjaga jarak bahkan memandang curiga orang lain. Sedikit senyum ketika berpapasan mata pun dirasa sebagai sesuatu yang mubazir atau tidak berguna. Ada banyak pula yang memilih untuk terus hidup tanpa sukacita. Sekali lagi, semua itu tergantung dari sikap hati dalam memandang hidup, dan itu adalah pilihan.
Penulis Amsal berkata: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang." (Amsal 17:22) Dengan jelas ayat ini mengatakan bahwa kegembiraan yang berasal dari hati sangatlah bermanfaat, saking bermanfaatnya bahkan mampu berfungsi sebagai obat yang manjur. Dalam pasal lain kita bisa pada kitab Amsal kita bisa menemukan ayat lainnya mengenai ini. "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Hati yang gembira akan mendatangkan senyum ceria, wajah kita akan terlihat ceria dan membuatnya berseri-seri. Hati yang gembira ini pun bisa mendatangkan kebahagiaan dan meningkatkan harapan hidup disamping bermanfaat bagai obat yang manjur, sebaliknya kepedihan atau kepahitan hati bisa menjadi racun yang berbahaya bagi hidup kita.
Tekanan hidup memang terkadang berat untuk dihadapi. Berbagai beban akan segera mencoba merampas kegembiraan dari hidup kita. Murung, depresi, cemas, takut atau stres jika semakin dibiarkan akan semakin menghilangkan senyuman dari wajah kita. Fokus kepada kekurangan dan tidak melihat kelebihan dan berkat yang ada akan membuat kita kehilangan sukacita dalam hati kita. Dan bukan itu saja, berbagai penyakit seperti stroke, darah tinggi dan sebagainya hingga kanker pun bisa menyerang kita dan menamatkan usia kita dalam waktu singkat. Bapak paruh baya tadi tentu punya kesulitan hidupnya sendiri, sama seperti anda dan saya. Tapi dari sikapnya kita bisa belajar bahwa sukacita atau kegembiraan itu bukan tergantung dari kondisi melainkan merupakan pilihan. Artinya, apakah kita mau tetap bersukacita atau memilih untuk tenggelam dalam masalah dan depresi, itu semua tergantung dari pilihan dan keputusan kita. Sebuah sukacita sejati seharusnya tidak tergantung dari apa yang kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari. Mengapa? Karena sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan karena keadaan sekitar. Lewat Nehemia Firman Tuhan berkata "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:10b). Dalam Mazmur pun kita bisa membaca "dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu." (Mazmur 37:4). Kegembiraan atau sukacita sejati yang berasal dari Tuhan bahkan mampu menurunkan berkat-berkat Tuhan, memenuhi keinginan hati kita. Jika kita membaca dalam versi Bahasa Inggrisnya, kegembiraan dalam Tuhan ini bukan saja menjawab "what our hearts desire" tetapi juga mampu menggerakkan Tuhan untuk mengabulkan "secret petitions of your heart" alias keinginan-keinginan yang bahkan tidak kita sadari. Meski tekanan hidup sedang berat, atau anda sedang jenuh, kehilangan semangat, gairah atau mood hari ini, sukacita tidak sepatutnya hilang dari diri anda karena sebuah sukacita sejati sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan dari situasi yang sedang anda hadapi saat ini. Semua itu adalah masalah sikap hati kita, dan itu pula yang diingatkan oleh Firman Tuhan. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23).
Sebagai anak-anak Tuhan seharusnya kita bisa selalu tersenyum bahagia lalu memberkati orang lain dengan kebahagiaan kita itu. Buat apa kita harus cemas, takut, depresi, stres, murung, mengeluh, bersungut-sungut dan sebagainya ketika kita seharusnya hidup dalam pengharapan yang tidak akan pernah mengecewakan lewat kasih Allah yang telah dicurahkan oleh Roh Kudus seperti yang dijanjikan Tuhan dalam Roma 5:5? Paulus mengingatkan kita untuk terus bersukacita dalam Tuhan dalam segala hal, bahkan dalam himpitan beban sekalipun. "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" (Filipi 4:4). Jika anda merasa bahwa kegembiraan anda mulai dirampas oleh himpitan beban yang anda hadapi hari ini, jika itu membuat senyum dari wajah anda terampas dan sudut bibir anda mulai sulit melengkung ke atas, ambillah keputusan untuk menghentikan itu semua. Gantikan dengan janji-janji Tuhan dan kembalilah bersukacita. Memelihara perasaan negatif tidak akan membawa manfaat apa-apa selain menambah lebih banyak lagi masalah. Apakah anda merasa gembira hari ini? Apakah anda sudah tersenyum? Sudahkah anda merasakan kebahagiaan karena kebaikan Tuhan nyata atas diri anda hari ini? Mari pancarkan kebahagiaan itu kepada sekitar kita dengan sebuah senyuman yang berasal dari hati bersukacita.
Sukacita bukan tergantung dari situasi melainkan merupakan pilihan sikap hati kita
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Thursday, February 16, 2012
Memberi Tumpangan
Ayat bacaan: Ibrani 13:2
====================
"Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat."
Sebuah film yang baru saja saya tonton dalam sebuah adegannya mengisahkan sang tokoh yang tengah tersesat di sebuah jalan kosong. Ia berusaha memperoleh tumpangan dari kendaraan yang lewat agar bisa mencapai kota terdekat untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mengacungkan jempolnya tetapi semua kendaraan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan dirinya. Itu gambaran dari sikap manusia saat ini. Di jaman modern ini manusia semakin berubah menjadi individualis yang tidak lagi peduli terhadap orang lain yang tidak mereka kenal. Di kota besar hampir tidak lagi mungkin untuk mendapatkan tumpangan, persis seperti apa yang digambarkan film tadi. Memang kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya untuk tidak memberi tumpangan, karena ada banyak orang jahat pula yang berpura-pura seperti itu untuk melancarkan aksi jahatnya. Karena itulah saya merasa kagum terhadap seorang ibu di gereja saya yang dengan murah hati sering memberi tumpangan bahkan terhadap orang-orang yang tidak ia kenal tanpa terkecuali. Saya sempat bertanya, "Tidak takut bertemu orang jahat, bu?" Ia tertawa dan berkata, "Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai pengikut Kristus..soal jahat atau tidak, Tuhan pasti jaga saya." Ibu itu melakukan panggilannya dengan senang hati. Dan Alkitab sudah mengingatkan kita untuk tidak berat dalam memberi tumpangan atau bantuan. Bahkan dikatakan bisa jadi pada suatu ketika kita malah menjamu malaikat dalam melakukannya tanpa kita ketahui.
Dalam surat Ibrani 13, sang Penulis menyatakannya seperti ini: "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (Ibrani 13:2). Terbayangkankah oleh anda bahwa kita hidup dikelilingi oleh banyak malaikat yang bisa jadi tampil dalam wujud-wujud tak ubahnya seperti kita manusia? Alkitab menyatakan seperti itu. Dalam bahasa Inggrisnya (Amplified) dikatakan: "Do not forget or neglect or refuse to extend hospitality to strangers, for through it some have entertained angels without knowing it." Jangan lupa, jangan mengabaikan atau menolak untuk menawarkan bantuan dalam keramahan untuk orang-orang asing. karena dengan berbuat demikian bisa jadi kita tengah menyenangkan para malaikat tanpa kita sadari. Luar biasa bukan?
Meski menjamu malaikat itu rasanya luar biasa, tetapi apa yang harus kita ingat adalah motivasi utama kita dalam memberi bantuan kepada orang asing yang tidak kita kenal sekalipun. Biar bagaimanapun motivasi dalam melakukannya seharusnya adalah kasih. "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kolose 3:14). Ini sebuah pesan penting yang hendaknya harus selalu kita ingat. Dan kemudian Kristus sendiri mengingatkan kita untuk mencerminkan kemurahan hati Bapa dalam hidup kita seperti yang bisa kita baca dalam ayat yang sudah saya tuliskan kemarin. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Dalam memberi tumpangan atau bantuan, bisa jadi memang kita menjamu malaikat tanpa kiat sadari, tetapi seharusnya bukan itu yang menjadi motivasi utama kita, melainkan atas dasar kasih. Menyadari bahwa Allah mengasihi kita, dan juga mengasihi semua manusia termasuk orang-orang yang tidak kita kenal disekitar kita, sudah seharusnya kita bisa menjadi perantara Allah dengan menjadi saluran kasih yang mengalirkan kasih Surgawi kepada mereka. Sudah saatnya gereja berhenti bersikap eksklusif dan hanya bertumpu pada kehidupan di balik tembok-tembok masing-masing saja. Itu bukanlah bentuk gereja yang digambarkan Tuhan, karena bentuk kasih yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk kita miliki seharusnya jauh lebih luas dari ukuran gedung atau ruang gereja. Sudah saatnya kita menjadi terang dan garam yang mengaplikasikan bentuk iman dan kasih secara nyata, lewat perbuatan-perbuatan yang nyata pula. Simaklah bahwa Yakobus sudah mengingatkan seperti ini: "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (Yakobus 2:2). Ada hubungan erat antara iman dan perbuatan nyata, dan disanalah iman itu akan kemudian menjadi sempurna.
Petrus mengatakan: "Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut." (1 Petrus 4:9). Dan ayat ini hadir mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi: "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (ay 8). Gambaran bahwa ada keterkaitan antara iman dan perbuatan dimana lewat perbuatan itu iman menjadi sempurna salah satunya tergambar jelas dari ayat ini. Dalam kesempatan lain Paulus pun menyerukan hal yang sama. "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13). Tumpangan atau bantuan bisa jadi kecil nilainya buat kita, tetapi bisa sangat besar maknanya bagi orang yang sedang membutuhkan.
Kita harus ingat betul untuk apa kita diberkati Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup tanpa perasaan peduli dan murah hati. Kita tidak akan pernah bisa menjadi anak-anak Tuhan yang sejati tanpa memiliki kasih. Memberi tumpangan atau bantuan merupakan salah satu bentuk nyata yang bisa kita lakukan dalam memenuhi kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Ya, mungkin saja tanpa kita ketahui kita sudah menjamu malaikat ketika mengulurkan tangan buat orang-orang yang membutuhkan meski mereka tidak kita kenal sama sekali. Tetapi lebih dari itu, milikilah hati yang mengasihi tanpa pandang bulu. Bentuknya bisa bermacam-macam, dan tergantung dari kesanggupan atau kemampuan kita. Selama itu berasal dari kasih yang keluar dari hati yang tulus, itu bisa memberikan sebuah perbedaan nyata dalam kehidupan disekitar kita. Dunia mungkin masih perlu memandang tujuan untuk apa seseorang membantu, apa motivasinya, keuntungan apa yang bisa mereka peroleh atau bahkan hanya melegalkan untuk membantu kelompok sendiri atau hanya menjangkau sesama penganut kepercayaan tertentu saja, tetapi kasih Kristus seharusnya bisa menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Mari kita miliki sikap murah hati yang siap memberi bantuan atau tumpangan sejauh yang kita mampu kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan, siapapun mereka.
Alirkan kasih kepada sesama tanpa terhalang oleh sekat perbedaan dalam bentuk apapun
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
====================
"Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat."
Sebuah film yang baru saja saya tonton dalam sebuah adegannya mengisahkan sang tokoh yang tengah tersesat di sebuah jalan kosong. Ia berusaha memperoleh tumpangan dari kendaraan yang lewat agar bisa mencapai kota terdekat untuk melanjutkan perjalanannya. Ia mengacungkan jempolnya tetapi semua kendaraan berlalu begitu saja tanpa mempedulikan dirinya. Itu gambaran dari sikap manusia saat ini. Di jaman modern ini manusia semakin berubah menjadi individualis yang tidak lagi peduli terhadap orang lain yang tidak mereka kenal. Di kota besar hampir tidak lagi mungkin untuk mendapatkan tumpangan, persis seperti apa yang digambarkan film tadi. Memang kita tidak bisa menyalahkan sepenuhnya untuk tidak memberi tumpangan, karena ada banyak orang jahat pula yang berpura-pura seperti itu untuk melancarkan aksi jahatnya. Karena itulah saya merasa kagum terhadap seorang ibu di gereja saya yang dengan murah hati sering memberi tumpangan bahkan terhadap orang-orang yang tidak ia kenal tanpa terkecuali. Saya sempat bertanya, "Tidak takut bertemu orang jahat, bu?" Ia tertawa dan berkata, "Saya hanya menjalankan kewajiban saya sebagai pengikut Kristus..soal jahat atau tidak, Tuhan pasti jaga saya." Ibu itu melakukan panggilannya dengan senang hati. Dan Alkitab sudah mengingatkan kita untuk tidak berat dalam memberi tumpangan atau bantuan. Bahkan dikatakan bisa jadi pada suatu ketika kita malah menjamu malaikat dalam melakukannya tanpa kita ketahui. Dalam surat Ibrani 13, sang Penulis menyatakannya seperti ini: "Jangan kamu lupa memberi tumpangan kepada orang, sebab dengan berbuat demikian beberapa orang dengan tidak diketahuinya telah menjamu malaikat-malaikat." (Ibrani 13:2). Terbayangkankah oleh anda bahwa kita hidup dikelilingi oleh banyak malaikat yang bisa jadi tampil dalam wujud-wujud tak ubahnya seperti kita manusia? Alkitab menyatakan seperti itu. Dalam bahasa Inggrisnya (Amplified) dikatakan: "Do not forget or neglect or refuse to extend hospitality to strangers, for through it some have entertained angels without knowing it." Jangan lupa, jangan mengabaikan atau menolak untuk menawarkan bantuan dalam keramahan untuk orang-orang asing. karena dengan berbuat demikian bisa jadi kita tengah menyenangkan para malaikat tanpa kita sadari. Luar biasa bukan?
Meski menjamu malaikat itu rasanya luar biasa, tetapi apa yang harus kita ingat adalah motivasi utama kita dalam memberi bantuan kepada orang asing yang tidak kita kenal sekalipun. Biar bagaimanapun motivasi dalam melakukannya seharusnya adalah kasih. "Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan." (Kolose 3:14). Ini sebuah pesan penting yang hendaknya harus selalu kita ingat. Dan kemudian Kristus sendiri mengingatkan kita untuk mencerminkan kemurahan hati Bapa dalam hidup kita seperti yang bisa kita baca dalam ayat yang sudah saya tuliskan kemarin. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Dalam memberi tumpangan atau bantuan, bisa jadi memang kita menjamu malaikat tanpa kiat sadari, tetapi seharusnya bukan itu yang menjadi motivasi utama kita, melainkan atas dasar kasih. Menyadari bahwa Allah mengasihi kita, dan juga mengasihi semua manusia termasuk orang-orang yang tidak kita kenal disekitar kita, sudah seharusnya kita bisa menjadi perantara Allah dengan menjadi saluran kasih yang mengalirkan kasih Surgawi kepada mereka. Sudah saatnya gereja berhenti bersikap eksklusif dan hanya bertumpu pada kehidupan di balik tembok-tembok masing-masing saja. Itu bukanlah bentuk gereja yang digambarkan Tuhan, karena bentuk kasih yang sesungguhnya diinginkan Tuhan untuk kita miliki seharusnya jauh lebih luas dari ukuran gedung atau ruang gereja. Sudah saatnya kita menjadi terang dan garam yang mengaplikasikan bentuk iman dan kasih secara nyata, lewat perbuatan-perbuatan yang nyata pula. Simaklah bahwa Yakobus sudah mengingatkan seperti ini: "Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna." (Yakobus 2:2). Ada hubungan erat antara iman dan perbuatan nyata, dan disanalah iman itu akan kemudian menjadi sempurna.
Petrus mengatakan: "Berilah tumpangan seorang akan yang lain dengan tidak bersungut-sungut." (1 Petrus 4:9). Dan ayat ini hadir mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi: "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (ay 8). Gambaran bahwa ada keterkaitan antara iman dan perbuatan dimana lewat perbuatan itu iman menjadi sempurna salah satunya tergambar jelas dari ayat ini. Dalam kesempatan lain Paulus pun menyerukan hal yang sama. "Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan!" (Roma 12:13). Tumpangan atau bantuan bisa jadi kecil nilainya buat kita, tetapi bisa sangat besar maknanya bagi orang yang sedang membutuhkan.
Kita harus ingat betul untuk apa kita diberkati Tuhan. Perhatikan ayat berikut ini: "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." (1 Petrus 3:9). Kita tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam apabila kita hidup tanpa perasaan peduli dan murah hati. Kita tidak akan pernah bisa menjadi anak-anak Tuhan yang sejati tanpa memiliki kasih. Memberi tumpangan atau bantuan merupakan salah satu bentuk nyata yang bisa kita lakukan dalam memenuhi kewajiban kita sebagai anak-anak Tuhan. Ya, mungkin saja tanpa kita ketahui kita sudah menjamu malaikat ketika mengulurkan tangan buat orang-orang yang membutuhkan meski mereka tidak kita kenal sama sekali. Tetapi lebih dari itu, milikilah hati yang mengasihi tanpa pandang bulu. Bentuknya bisa bermacam-macam, dan tergantung dari kesanggupan atau kemampuan kita. Selama itu berasal dari kasih yang keluar dari hati yang tulus, itu bisa memberikan sebuah perbedaan nyata dalam kehidupan disekitar kita. Dunia mungkin masih perlu memandang tujuan untuk apa seseorang membantu, apa motivasinya, keuntungan apa yang bisa mereka peroleh atau bahkan hanya melegalkan untuk membantu kelompok sendiri atau hanya menjangkau sesama penganut kepercayaan tertentu saja, tetapi kasih Kristus seharusnya bisa menjangkau semua orang tanpa terkecuali. Mari kita miliki sikap murah hati yang siap memberi bantuan atau tumpangan sejauh yang kita mampu kepada saudara-saudari kita yang membutuhkan, siapapun mereka.
Alirkan kasih kepada sesama tanpa terhalang oleh sekat perbedaan dalam bentuk apapun
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Wednesday, February 15, 2012
Murah Hati
Ayat bacaan: Lukas 6:36
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Beberapa waktu yang lalu saya mengambil cuti sejenak untuk berlibur bersama istri ke Penang, Malaysia. Betapa kagumnya saya melihat sistim transportasi yang tertata rapi di sana. Tidak sulit sama sekali untuk pergi kemana-mana dengan menggunakan bus yang biayanya sangat murah. Karenanya kami pun pergi kemana-mana dengan menggunakan bus. Pada suatu kali di malam hari bus yang kami naiki penuh sesak. Saya dan istri beruntung masih sempat memperoleh tempat duduk sebelum bus menjadi penuh dengan masuknya banyak penumpang lainnya. Diantara penumpang itu terdapat seorang nenek tua yang jalannya tertatih-tatih. Ia tampaknya sendirian saja memasuki bus. Karena penuh, ia pun bersiap-siap untuk berpegangan saja. Saya memilih untuk berdiri dan mempersilahkannya duduk di kursi saya. Ia sangat senang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. "Jarang sekali ada yang peduli kepada orang tua seperti saya", katanya dengan bahasa yang patah-patah. Perjalanan masih lumayan jauh, saya harus berdiri sambil menenteng tas ransel berat dan banyak barang bawaan. Apakah saya menyesal karena otomatis menjadi kecapaian setelahnya? Tidak, saya justru merasa bersuka cita. Apakah saya kemudian merasa menjadi superhero alias pahlawan dengan berbuat itu? Sama sekali tidak. Apakah saya berbuat itu untuk sok baik atau sok hebat? Sama sekali tidak terpikir sedikitpun. Apa saya melihat-lihat dulu siapa ibu, apa latar belakang, suku atau kepercayaannya sebelum saya beri kursi saya? Nope, tidak sama sekali juga. Apa yang saya lakukan hanyalah sebagian kecil dari kewajiban yang sudah seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Yesus mengorbankan diriNya di atas kayu salib demi saya, anda dan juga ibu itu, tanpa memandang latar belakang dan lain-lain, termasuk seberapa besar dosa kita di masa lalu. Jika Yesus rela mengorbankan nyawaNya demi saya, apa yang saya lakukan untuk ibu itu hanyalah sepersejuta atau sepersemiliar kecilnya dibandingkan pengorbanan Tuhan sendiri buat saya. Dan saya yakin dua ratus persen, seandainya Yesus tengah berada disana, Dia pasti akan memberikan tempat duduknya dengan senang hati dan memberkati ibu itu.
Kemurahan hati merupakan salah satu sikap yang harus memenuhi orang-orang percaya tanpa terkecuali dan tanpa terkait dengan situasi atau kondisi apapun. Kemurahan hati tidak selalu harus berbentuk sumbangan berbentuk uang atau benda, tapi hal-hal kecil yang kita lakukan sebagai perwujudan kasih pun bisa menunjukkan sebuah kemurahan hati. Alkitab berkata: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4). Disini jelas bahwa murah hati merupakan bagian dari perwujudan kasih yang bisa nyata dirasakan oleh orang lain, dan merupakan salah satu hal yang bisa menunjukkan sejauh mana kita mengaplikasikan kasih Surgawi dan memuliakan Bapa di dalamnya dalam segala sesuatu yang kita lakukan adlam kehidupan kita. Kata kemurahan hati menunjukkan bahwa kemurahan adalah jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sikap hati, artinya kemurahan tidaklah pernah tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Tidakkah memalukan apabila kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi, atau juga ketidakpedulian kita? Yohanes mengatakan: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is not just the source of love, but He is THE LOVE itself. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Jika kita mengenal Allah sebagai Kasih, seharusnya kita pun hidup dengan penuh kasih. Setiap saat kita berhadapan dengan kesempatan-kesempatan dimana kita bisa menyatakan kasih Allah kepada sesama kita, menjalankan kewajiban kita sekaligus memuliakan Tuhan di dalamnya, dan seharusnya kita bisa bersukacita dalam mempergunakan setiap kesempatan yang ada.
Paulus mengingatkan kita bahwa sejatinya kita bukan sekedar orang-orang percaya yang tidak terlihat di dunia ini, tetapi kita dikatakan sebagai "surat Kristus" (2 Korintus 3:3), Ayat ini selanjutnya menyatakan kita sebagai surat Kristus yang istimewa yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Dan sudah seharusnya surat itu dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang, seperti yang dikatakan Paulus dalam satu ayat sebelumnya. Seharusnya kita bisa mencerminkan Kristus lewat sikap hidup, gaya, tingkah laku dan perbuatan kita. Seharusnya kita bisa memperkenalkan pribadi Kristus lewat cara hidup kita. Itulah yang dimaksud dengan surat Kristus. Sebagaimana adanya Kristus, sebuah surat Kristus tentu penuh dengan pernyataan kasih Bapa kepada semua manusia, dan itu harusnya tergambar dari segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdiri sekitar hampir satu jam dengan ransel berat beserta barang bawaan lain, itu hanyalah sepersekian kecil dari apa yang Tuhan sudah lakukan buat saya. Tuhan sangat mengasihi ibu itu, dan jika ada sedikit saja dari kasih Kristus dalam diri saya, itu sudah cukup untuk membuat saya berdiri dan mempersilahkan ibu itu duduk. Saya tidak mengenalnya, saya mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, tetapi saya tahu Tuhan mengenal dan mengasihi ibu itu. Saya merasa bahagia dan bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu dengannya dan membagi sedikit kasih Kristus kepadanya lewat perbuatan nyata. Masih ada banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan dalam berbagai bentuk, masih ada banyak orang di dekat kita yang saat ini tengah menghadapi kesulitan atau merasa sendirian menghadapi beban hidup. Jangan abaikan mereka, mari kita nyatakan kasih Kristus kepada mereka tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Sekedar memberi tempat duduk, memberi tumpangan atau sekedar senyuman dan pelukan bisa menjadi sebuah bentuk kemurahan hati yang tidak saja mungkin besar maknanya bagi mereka yang tengah berbeban berat, tetapi juga akan sangat dihargai oleh Bapa.
Jadilah surat Kristus yang penuh kemurahan hati dan penuh kasih bagi sesama
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
==================
"Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati."
Beberapa waktu yang lalu saya mengambil cuti sejenak untuk berlibur bersama istri ke Penang, Malaysia. Betapa kagumnya saya melihat sistim transportasi yang tertata rapi di sana. Tidak sulit sama sekali untuk pergi kemana-mana dengan menggunakan bus yang biayanya sangat murah. Karenanya kami pun pergi kemana-mana dengan menggunakan bus. Pada suatu kali di malam hari bus yang kami naiki penuh sesak. Saya dan istri beruntung masih sempat memperoleh tempat duduk sebelum bus menjadi penuh dengan masuknya banyak penumpang lainnya. Diantara penumpang itu terdapat seorang nenek tua yang jalannya tertatih-tatih. Ia tampaknya sendirian saja memasuki bus. Karena penuh, ia pun bersiap-siap untuk berpegangan saja. Saya memilih untuk berdiri dan mempersilahkannya duduk di kursi saya. Ia sangat senang dan berkali-kali mengucapkan terima kasih. "Jarang sekali ada yang peduli kepada orang tua seperti saya", katanya dengan bahasa yang patah-patah. Perjalanan masih lumayan jauh, saya harus berdiri sambil menenteng tas ransel berat dan banyak barang bawaan. Apakah saya menyesal karena otomatis menjadi kecapaian setelahnya? Tidak, saya justru merasa bersuka cita. Apakah saya kemudian merasa menjadi superhero alias pahlawan dengan berbuat itu? Sama sekali tidak. Apakah saya berbuat itu untuk sok baik atau sok hebat? Sama sekali tidak terpikir sedikitpun. Apa saya melihat-lihat dulu siapa ibu, apa latar belakang, suku atau kepercayaannya sebelum saya beri kursi saya? Nope, tidak sama sekali juga. Apa yang saya lakukan hanyalah sebagian kecil dari kewajiban yang sudah seharusnya dilakukan oleh anak-anak Tuhan. Yesus mengorbankan diriNya di atas kayu salib demi saya, anda dan juga ibu itu, tanpa memandang latar belakang dan lain-lain, termasuk seberapa besar dosa kita di masa lalu. Jika Yesus rela mengorbankan nyawaNya demi saya, apa yang saya lakukan untuk ibu itu hanyalah sepersejuta atau sepersemiliar kecilnya dibandingkan pengorbanan Tuhan sendiri buat saya. Dan saya yakin dua ratus persen, seandainya Yesus tengah berada disana, Dia pasti akan memberikan tempat duduknya dengan senang hati dan memberkati ibu itu. Kemurahan hati merupakan salah satu sikap yang harus memenuhi orang-orang percaya tanpa terkecuali dan tanpa terkait dengan situasi atau kondisi apapun. Kemurahan hati tidak selalu harus berbentuk sumbangan berbentuk uang atau benda, tapi hal-hal kecil yang kita lakukan sebagai perwujudan kasih pun bisa menunjukkan sebuah kemurahan hati. Alkitab berkata: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 Korintus 13:4). Disini jelas bahwa murah hati merupakan bagian dari perwujudan kasih yang bisa nyata dirasakan oleh orang lain, dan merupakan salah satu hal yang bisa menunjukkan sejauh mana kita mengaplikasikan kasih Surgawi dan memuliakan Bapa di dalamnya dalam segala sesuatu yang kita lakukan adlam kehidupan kita. Kata kemurahan hati menunjukkan bahwa kemurahan adalah jelas merupakan sikap hati. Karena merupakan sikap hati, artinya kemurahan tidaklah pernah tergantung dari berapa jumlah harta yang kita miliki. Ketika kemurahan mewarnai sikap hati kita, kita akan rela memberi dengan sukacita tanpa peduli apapun keadaan kita saat ini. Mengapa kita harus memiliki sikap kemurahan ini? Karena Allah yang kita sembah adalah Bapa yang murah hati. Hal ini ditegaskan Yesus sendiri yang bisa kita baca di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Tidakkah memalukan apabila kita mengaku anak Tuhan tetapi tidak memiliki kasih, dimana salah satu bentuknya adalah keengganan atau beratnya dalam memberi, atau juga ketidakpedulian kita? Yohanes mengatakan: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih" (1 Yohanes 4:8). God is not just the source of love, but He is THE LOVE itself. Mengaku mengenal Allah artinya kita mengenal kasih. Jika kita mengenal Allah sebagai Kasih, seharusnya kita pun hidup dengan penuh kasih. Setiap saat kita berhadapan dengan kesempatan-kesempatan dimana kita bisa menyatakan kasih Allah kepada sesama kita, menjalankan kewajiban kita sekaligus memuliakan Tuhan di dalamnya, dan seharusnya kita bisa bersukacita dalam mempergunakan setiap kesempatan yang ada.
Paulus mengingatkan kita bahwa sejatinya kita bukan sekedar orang-orang percaya yang tidak terlihat di dunia ini, tetapi kita dikatakan sebagai "surat Kristus" (2 Korintus 3:3), Ayat ini selanjutnya menyatakan kita sebagai surat Kristus yang istimewa yang ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia. Dan sudah seharusnya surat itu dikenal dan dapat dibaca oleh semua orang, seperti yang dikatakan Paulus dalam satu ayat sebelumnya. Seharusnya kita bisa mencerminkan Kristus lewat sikap hidup, gaya, tingkah laku dan perbuatan kita. Seharusnya kita bisa memperkenalkan pribadi Kristus lewat cara hidup kita. Itulah yang dimaksud dengan surat Kristus. Sebagaimana adanya Kristus, sebuah surat Kristus tentu penuh dengan pernyataan kasih Bapa kepada semua manusia, dan itu harusnya tergambar dari segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Berdiri sekitar hampir satu jam dengan ransel berat beserta barang bawaan lain, itu hanyalah sepersekian kecil dari apa yang Tuhan sudah lakukan buat saya. Tuhan sangat mengasihi ibu itu, dan jika ada sedikit saja dari kasih Kristus dalam diri saya, itu sudah cukup untuk membuat saya berdiri dan mempersilahkan ibu itu duduk. Saya tidak mengenalnya, saya mungkin tidak akan pernah bertemu lagi dengannya, tetapi saya tahu Tuhan mengenal dan mengasihi ibu itu. Saya merasa bahagia dan bersyukur diberi kesempatan untuk bertemu dengannya dan membagi sedikit kasih Kristus kepadanya lewat perbuatan nyata. Masih ada banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tangan dalam berbagai bentuk, masih ada banyak orang di dekat kita yang saat ini tengah menghadapi kesulitan atau merasa sendirian menghadapi beban hidup. Jangan abaikan mereka, mari kita nyatakan kasih Kristus kepada mereka tanpa dibatasi oleh sekat apapun. Sekedar memberi tempat duduk, memberi tumpangan atau sekedar senyuman dan pelukan bisa menjadi sebuah bentuk kemurahan hati yang tidak saja mungkin besar maknanya bagi mereka yang tengah berbeban berat, tetapi juga akan sangat dihargai oleh Bapa.
Jadilah surat Kristus yang penuh kemurahan hati dan penuh kasih bagi sesama
Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho
Subscribe to:
Posts (Atom)
Tidur (10)
(sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...
-
Ayat bacaan: Amsal 22:7 ======================= "Orang kaya menguasai orang miskin, yang berhutang menjadi budak dari yang menghutan...
-
Ayat bacaan: Mazmur 149:4 ==================== "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati den...
-
Ayat bacaan: Mazmur 23:4 ====================== "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau...