Monday, March 7, 2011

Wanita

Ayat bacaan: Titus 2:3
================
"Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah"

wanita, sepadan, sederajat, istimewaSuatu kali ada seorang teman yang bercerita bahwa ia merasa tersisih dalam keluarganya semasa kecil. Orangtuanya ternyata lebih sayang kepada adiknya laki-laki, yang dianggap sebagai penerus silsilah. "Saya cuma perempuan..tidak ada nilainya sama sekali.." katanya sedih. Dalam adat di beberapa suku bangsa mungkin demikian. Status wanita bagi sebagian kalangan dianggap lebih rendah dibanding pria. Hak-hak mereka terbatas dalam banyak hal. Padahal sosok ibu sangatlah mulia bagi kita semua. Ungkapan "surga ada dibawah telapak kaki ibu", penyebutan ibu kota, ibu pertiwi, motherland dan sebagainya menunjukkan penghargaan yang begitu besar bagi ibu yang notabene adalah wanita. Meski demikian, saya sudah bertemu dengan beberapa wanita yang kemudian mengalami banyak masalah dengan kepercayaan diri mereka berawal dari apa yang mereka alami dalam keluarganya sejak kecil. Apakah Tuhan menciptakan wanita untuk berada di bawah nilai pria, atau hanya berfungsi sebagai pelengkap penderita saja dan tidak layak untuk mendapat kehormatan? Atau haruskah anda yang wanita menyesal dilahirkan bukan sebagai pria, seperti halnya teman saya itu? Saya yakin tidak. Di mata Tuhan semua manusia ciptaanNya sama berharga, dan sama dikasihiNya. Tidak ada perbedaan gender dalam curahan kasih yang berasal dari Allah. Dan Alkitab pun banyak mencatat bahwa wanita memiliki peran-peran yang luar biasa penting bagi kelangsungan hidup manusia. Bukan saja sebagai sosok yang melahirkan, tetapi punya peranan yang luar biasa vital pula dalam perkembangan manusia termasuk di dalamnya dari segi spiritual.

Sejak awal kitab Kejadian Tuhan sudah menyatakan peran penting figur wanita. Perhatikan ayat berikut: "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). IT IS NOT GOOD, kata Tuhan, bagi pria untuk hidup sendirian. Maka wanita pun Dia ciptakan dengan fungsi sebagai penolong. Bukan pelengkap penderita, tetapi penolong. Lalu penolong yang bagaimana? Yang sepadan. Bukan dibawah, tetapi sepadan, sederajat. Kata penolong dan sepadan menunjukkan dengan jelas bagaimana pentingnya arti wanita di mata Tuhan.

Dalam Titus kita bisa menemukan pesan penting lainnya buat wanita. Demikian bunyinya: "Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah.." (Titus 2:3). Wanita yang dewasa diingatkan agar hidup sebagai orang-orang yang beribadah. Ayat ini kemudian dilanjutkan dengan peringatan "jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik." Ini penting untuk diingat agar para wanita dewasa mampu "mendidik perempuan-perempuan muda mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati dan taat kepada suaminya." (ay 4-5). Dan semua ini dilakukan "agar Firman Allah jangan dihujat orang."  Itu artinya peran yang diemban wanita sungguhlah penting. Bukan hanya bagi diri mereka sendiri dan keluarga, tetapi lebih dari itu juga penting untuk merepresentasikan Kerajaan Allah di muka bumi ini. Seorang wanita yang mengemban tugas dengan baik dan menjalankan fungsi mereka seperti yang dikehendaki Tuhan akan menjadi kesaksian tersendiri di muka bumi ini.

Kembali kepada ayat bacaan kita di atas, para wanita diminta untuk menunjukkan kehidupan sebagai orang-orang beribadah. Kata beribadah bukanlah sekedar ke gereja atau menyanyikan puji-pujian, tetapi lebih dari itu, sebuah ibadah sejati haruslah menyangkut segala aspek kehidupan kita, termasuk mempersembahkan diri kita sendiri sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan bagi Allah. "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1).

Bayangkan bagaimana gersangnya hidup tanpa adanya sentuhan wanita didalamnya. Bayangkan bagaimana dunia tanpa adanya kehadiran para wanita. Hari ini secara khusus saya ingin memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada anda, kaum wanita. Bersyukurlah jika anda dilahirkan sebagai wanita, sebab anda istimewa di mataNya. Embanlah tugas dan fungsi seperti yang telah dipesankan Tuhan dengan sebaik-baiknya, dan jadilah kesaksian yang indah yang akan memuliakan Tuhan di mata dunia. Bagikan kehidupan yang bermakna yang mampu memperkenalkan kasih Tuhan yang begitu besar bagi manusia, karena saya tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kehadiran anda.

Setumpuk tugas penting yang diemban menunjukkan betapa penting atau vitalnya figur wanita dalam kehidupan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 6, 2011

Bersama Tuhan

Ayat bacaan: Amsal 3:6
================
"Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu."

bersama TuhanPernahkah anda merasa kesulitan untuk merubah sifat atau perilaku buruk? Ada banyak orang yang memiliki masalah dengan hal ini. Mereka tahu apa yang mereka perbuat itu salah, tetapi mereka tidak kunjung berhasil untuk memperbaikinya. Ada yang sudah berhasil untuk beberapa saat, tetapi kemudian jatuh lagi ke dalam lubang yang sama. Seorang teman pernah berkata sambil tertawa, "orang bisa mengaku berhenti merokok apabila sudah berhasil tidak melakukannya setidaknya 6 tahun." Apa yang ia katakan menggambarkan sulitnya bagi kita manusia untuk membenahi hal-hal buruk dan bertahan untuk tidak kembali lagi hingga jangka waktu yang lama. Hari ini seorang teman saya bertanya bagaimana agar ia bisa mengatasi sebuah kebiasaan buruknya. Ia tahu itu salah, tetapi tidak tahu bagaimana mengatasinya, dan mengaku tidak sanggup. Ayat yang menjadi ayat bacaan hari inilah yang selanjutnya muncul di dalam hati saya. Sebagai manusia biasa memang kemampuan kita terbatas, tetapi bersama Tuhan kita bisa.

Hidup di dunia akan selalu membuat kita penuh godaan. Di jaman ketika semuanya masih kuno saja sudah sulit, apalagi di jaman serba modern seperti sekarang ini. Ada banyak tips tentu yang bisa dipakai untuk bisa berhenti terjatuh pada lubang yang sama, seperti salah satunya dengan berhati-hati memilih teman. Sebab firman Tuhan berkata "Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang" (Amsal 13:20), dan lihat pula ayat berikut: "Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Kita butuh dukungan pula dari sahabat-sahabat yang baik, yang peduli terhadap diri kita dan bukan justru semakin menjerumuskan atau menghancurkan. Itu tentu akan sangat membantu dalam usaha kita melepaskan diri dari kebiasaan, sifat atau perbuatan kita yang buruk.

Ada kalanya kita sulit memperhatikan langkah apa yang seharusnya kita tempuh. Kita sulit untuk tidak kembali lagi kepada kesalahan yang sama karena seringkali godaan itu terlihat begitu nikmat dan menyenangkan. Kita mungkin bisa berkata, "ah, sekali-kali kan tidak apa-apa, asal jangan keterusan.." Tetapi siapa yang bisa menjamin bahwa kita tidak kebablasan setelah bermain-main kembali pada dosa yang sama? Itulah sebabnya firman Tuhan mengingatkan kita agar tidak memberi toleransi kepada iblis, bapa dari segala penipu. "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (Efesus 4:27).

Lalu bagaimana jika kita sudah bertekad penuh tetapi masih juga sering gagal? Tuhan mengajak kita semua untuk mengandalkanNya. "Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." (Amsal 3:6). Mengakui Tuhan dalam segala perbuatan kita, artinya berjalan bersama dengan Tuhan, mengingatNya dalam segala yang kita lakukan, maka Tuhan sendiri yang akan meluruskan jalan kita. Bagaimana bayi yang baru belajar berjalan bisa berjalan lurus apabila ia melakukannya sendiri dengan kemampuannya? Tentu sulit. Tapi ketika orangtuanya memegang tangannya dan mengajarinya berjalan, maka bayi itu pun akan sampai kepada saat dimana ia bisa berjalan dengan baik dan lurus tanpa terjatuh lagi. Seperti itu pula Tuhan siap membantu mengatasi segala kelemahan kita sehingga kita mampu berjalan lurus untuk seterusnya.

Firman Tuhan mengajak kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan rasa takut dan gentar akan Dia. (Filipi 2:12). Apa yang diinginkan Tuhan jelas. Dia ingin agar kita selalu ingat kepadaNya dan selalu menyertakan Tuhan dalam segala sesuatu yang kita perbuat. Jika kita mau memutuskan untuk taat dan mengakuiNya dalam kehidupan kita, maka Tuhan akan bekerja untuk menjaga dan melindungi kita. "Karena Allahlah yang mengerjakan di dalam kamu baik kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaan-Nya." (ay 13).

Terus berpaut erat dengan firman Tuhan pun akan mampu memberi kekuatan kepada kita. Ini dikatakan Tuhan kepada Yosua dan saya percaya pesan yang sama diberikan kepada kita semua hari ini juga. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Memperkatan, merenungkan dan melakukan firman Tuhan terus menerus, itu akan membuat kita bisa berhasil dalam usaha kita dan beruntung karenanya. Jangan lupa pula pesan berikutnya, "Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi." (ay 9). Kuatkan dan teguhkan hati dan tolaklah semua godaan, jangan kecut dan menyerah, karena sesungguhnya Tuhan selalu berjalan bersama kita. Dia berjanji untuk terus menyertai kita kemanapun kiat pergi, dan itu artinya Dia selalu siap untuk meluruskan jalan-jalan yang masih bengkok. Oleh sebab itu ingatlah untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam melakukan apapun, termasuk untuk lepas dari kebiasaan, perbuatan atau sifat-sifat buruk yang masih ada di dalam diri kita.

Sebuah transformasi sudah dianugerahkan Tuhan ketika kita menerima Kristus. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Selanjutnya adalah tugas kita untuk menjaga agar transformasi itu tidak berhenti atau mundur, tetapi terus bertahan bahkan meningkat ke arah yang lebih baik dari hari ke hari. Mengandalkan manusia mungkin sulit, tetapi keberadaan Tuhan yang selalu dekat dengan kita menjelaskan bahwa kita bisa selalu mengandalkanNya. Jika ada di antara teman-teman yang masih sulit lepas dari hal-hal buruk, mulailah hari ini untuk mengandalkanNya. Sesulit apapun itu, ingatlah bahwa tidak ada yang mustahil bagi Allah yang berkuasa di atas segala-galanya.

Berjalanlah bersama Tuhan dan andalkan Dia untuk terus maju

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 5, 2011

Bersabarlah

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 5:14
==================
"sabarlah terhadap semua orang."

sabarPernahkah anda bertemu dengan orang-orang yang memakai fasilitas umum sesuka mereka? Saya rasa ini adalah sesuatu yang kita alami sehari-hari. Misalnya ketika mengantri di ATM, selalu saja ada orang yang tidak peduli dengan antrian panjang dibelakangnya. Mereka santai di dalam sehingga membuat orang-orang dibelakangnya kesal. Itupun setelah keluar sama sekali tidak merasa bersalah. Jangankan minta maaf, rona mukanya pun tidak menunjukkan apa-apa. Mengantri di bank pun demikian. Selalu saja ada orang yang berlama-lama ketika sudah mendapat giliran. Demikian pula di antrian-antrian lainnya. Atau bagaimana dengan orang yang berkendara di jalan tapi tidak mematuhi tata tertib berlalu lintas? Contoh kecil saja, berjalan pelan di tengah jalan, membuat kendaraan di belakangnya harus tersendat semua. Atau setelah lampu hijau tapi tidak segera maju, parkir di tengah jalan dan sebagainya. Masalah-masalah kecil seperti ini biasa kita hadapi, dan sedikit banyak bisa membuat kita kehilangan kesabaran. Kita merasa kesal, menggerutu, dan lama-lama mengutuk dan sebagainya. Saya aslinya merupakan orang yang gampang tersulut emosinya. Dan butuh waktu yang tidak sedikit bagi saya untuk pelan-pelan merubah sifat itu. Menjadi sabar bukanlah perkara yang mudah. Tidak peduli seberapa besar keinginan saya dahulu untuk berubah, kerap kali saya gagal. Apa yang membuat saya akhirnya bisa berubah adalah dengan terlebih dahulu merubah pola pikir saya, mengisi hati dan pikiran saya dengan kasih. Ada kalanya saya masih bisa kesal tentu saja, tetapi setidaknya sebuah pandangan untuk mengasihi orang lain akan cepat membuat saya reda sehingga saya tidak harus terjebak pada berbagai jebakan di balik emosi atau kemarahan.

Pesan untuk menjadi orang yang sabar berulangkali disampaikan dalam Alkitab, baik di Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yakobus mengingatkan "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah." (Yakobus 1:19-20). Janganlah cepat emosi, jangan cepat beradu argumen, tetapi dengarkanlah dahulu apa kata orang, atau cobalah berpikir hal-hal yang positif sebelum kita buru-buru berkomentar. Paulus dalam suratnya kepada jemaat Filipi berkata "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." (Filipi 4:8). Dan itu adalah baik untuk diterapkan agar kita tidak cepat emosi. Orang lama di ATM misalnya, itu bisa mengesalkan kita. Berpikir positiflah tentang itu. Mungkin ada banyak yang harus ia kerjakan, mungkin ia sedang dalam kesulitan, dan pikiran-pikiran seperti itu mampu menjauhkan kita dari ungkapan-ungkapan sesaat akibat kekesalan namun seperti yang dikatakan dalam ayat Yakobus di atas, itu tidaklah mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Kesabaran itu harus bisa mengisi hari-hari kita. Kekristenan selalu berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu. Bukankah Tuhan sendiri begitu sabar menghadapi kita? Bayangkan apabila sedikit saja salah kita langsung dibinasakan, apa jadinya kita? Tapi Tuhan bukanlah Pribadi yang seperti itu. Dia selalu sabar menghadapi kita, dan selalu menyambut kita dengan penuh sukacita ketika kita datang kepadaNya. Jika Bapa saja seperti itu, masa kita anak-anakNya malah menunjukkan sikap yang bertolak belakang? Dan Alkitab memang berbicara soal kesabaran dalam menanggung segala sesuatu secara luas. Dalam situasi paling sulit pun kita harus bersabar, apalagi dalam situasi-situasi kecil saja, itu seharusnya tidaklah susah untuk diatasi. Bagaimana Tuhan bisa begitu bersabar kepada kita? Jawabannya hanya satu: karena Dia sungguh sangat mengasihi kita. Kasih punya kekuatan besar untuk mentransformasi manusia dan membawa perbedaan nyata ke arah kebaikan secara luas. Dan Firman Tuhan pun sudah menyatakan demikian.

Dalam 1 Korintus 13:4-7 Paulus merinci secara lengkap mengenai hal-hal yang tercakup dalam kasih, dan sabar itu merupakan satu di dalamnya, bahkan disebutkan paling depan. "Kasih itu sabar..." (ay 3). Jadi menerapkan kasih seharusnya bisa membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang lebih sabar. Itu sudah saya buktikan dan ternyata berhasil. Kemudian membiarkan diri kita hidup dipimpin oleh Roh, itupun akan mampu menghasilkan buah-buah Roh dimana salah satunya adalah kesabaran. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Hidup oleh kasih dan dipimpin oleh Roh akan membuat kita menjadi pribadi-pribadi yang baik seperti yang diharapkan Tuhan.

Seruan untuk menjadi orang-orang yang sabar berulang kali diserukan di dalam Alkitab. Dalam Efesus tertulis: "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2). Serangkaian nasihat sebelum Paulus menutup suratnya kepada jemaat Tesalonika pun berisi pesan agar kita bisa menjadi orang-orang yang sabar. "sabarlah terhadap semua orang." (1 Tesalonika 5:14).

Kita tidak bisa menghindari persinggungan dengan orang-orang yang sulit ataupun situasi sulit. Membiarkan diri kita gampang kesal hingga emosi tidaklah baik buat diri kita maupun bagi orang-orang disekitar kita. Kita tidak bisa mengelak dari bertemu dengan kondisi-kondisi seperti itu, tapi kita bisa merubah paradigma berpikir kita dengan hal-hal positif, dan mengisi hati kita dengan sikap yang mengasihi orang lain. Kedua hal ini akan mampu membuat diri kita teduh, sejuk dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita dan bisa tetap menikmati hari demi hari secara maksimal. Jika anda berhadapan dengan orang-orang atau situasi yang berpotensi mengesalkan anda, andalkanlah Tuhan. Rohnya ada didalam anda, sehingga buah-buah yang dihasilkan Roh itu akan mampu membuat anda memandang situasi atau orang tersebut dengan pandangan yang berbeda.Miliki pandangan atas dasar kasih dan buah-buah Roh, itu akan membuat kita menjadi orang-orang yang jauh lebih sabar dalam menghadapi situasi apapun.

Hiduplah dalam kasih dan hasilkanlah buah-buah Roh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 4, 2011

Belajar dari Kisah Zakheus (2)

(sambungan)

Kedua, Tuhan bukanlah Pribadi yang hanya berpangku tangan, tetapi lebih daripada itu Dia adalah Sosok yang bersikap Pro-Aktif. Dalam beberapa kesempatan Tuhan menunjukkan betapa Dia rela mengulurkan tanganNya terlebih dahulu untuk menggugah kita agar segera bertobat dan kembali ke jalanNya. Dalam kasus Zakheus Yesus menunjukkan hal itu. Dia mau menyapa dan mendatangi orang yang berdosa seperti apapun dan membuka kesempatan untuk bertobat. Dalam kisah kemunculan Yesus di kolam Betesda (Yohanes 5:1-18) Dia mendatangi seseorang yang tampaknya sudah kehilangan harapan karena tidak mampu bersaing dengan para pesakitan lainnya dan menawarkan kesembuhan juga keselamatan. "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (ay 14).Dalam kisah perjumpaan Yesus dengan wanita Samaria di sumur (Yohanes 4:1-42) kita kembali menyaksikan reaksi yang sama. Seorang wanita dari bangsa yang dianggap hina oleh bangsa Yahudi Dia hampiri dan diberikan air hidup. (ay 10), dimana "..barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." (ay 14).

Tuhan selalu mau menjangkau kita terlebih dahulu sebelum kita menjangkauNya. Bahkan Yesus sendiri telah mati ketika kita sendiri masih bergelimang dosa. (Roma 5:8). Dia begitu mengasihi kita dan tidak pernah ingin siapapun dari kita untuk binasa. Dia ingin kita semua selamat, itu kerinduanNya, dan untuk itu Dia tidak segan-segan untuk menjamah kita terlebih dahulu. Firman Tuhan berkata: "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku." (Wahyu 3:20). Yesus tidak hanya berpangku tangan, menunggu dan membiarkan kita untuk terus mengarah kepada jurang kebinasaan, tetapi Dia mau mengetuk pintu hati kita agar mau menerimaNya lalu menerima keselamatan daripadaNya. Tidak ada kata terlambat, kesempatan selalu terbuka bagi kita selama kita masih hidup. Dan Tuhan tidak sungkan untuk bertindak terlebih dahulu untuk itu.

Hal ketiga yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah Zakheus adalah, jika Tuhan saja mau menjangkau orang berdosa, yang tertolak atau yang dianggap hina dimata masyarakat, mengapa kita tidak mau melakukannya? Mengapa kita tega ikut-ikutan menganggap bahwa mereka memang tidak pantas diselamatkan, tidak jarang pula ada yang tega mengutuki mereka? Seperti halnya kita, mereka pun merupakan ciptaan Tuhan yang Dia kasihi, dan sama-sama Dia inginkan untuk selamat. Aliran kasih Tuhan bisa tersalur kepada mereka lewat kita, representatif Kerajaan Allah di muka bumi pada saat ini. Begitu pentingnya pesan ini maka Yesus pun menyatakan "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40).



Keempat, lihatlah bahwa pertobatan kita bisa berdampak luas bukan saja kepada diri kita sendiri tapi bisa menjangkau seisi rumah atau keluarga kita. Yesus dengan jelas  berkata kepada Zakheus: "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham." (Lukas 19:9). Lihatlah bahwa pertobatan satu orang Zakheus ternyata membawa keselamatan kepada seluruh keluarganya. Kembali hal yang sama bisa kita saksikan atas kepala penjara Filipi yang memenjarakan dan memasung Paulus dan Silas. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Dalam kisah itu si kepala penjara menyaksikan sendiri bagaimana kuasa tangan Tuhan melepaskan Paulus dan Silas sebagai jawaban atas doa dan puji-pujian yang mereka panjatkan sepanjang malam. Menyaksikan itu, ia pun terhenyak dan ingin bertobat. Paulus dan Silas menjawab: "Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu." (ay 31). Pertobatan kita bisa menjamah hati seisi keluarga, dan Tuhan bisa memakai pertobatan kita untuk membawa keselamatan secara luas bagi keluarga kita. Bagaimana di jaman ini? Seorang Pendeta baru saja memberi kesaksian, bahwa lewat pertobatan seorang wanita, seluruh keluarga besarnya kemudian bertobat  dengan Jumlah mencapai lebih dari 100 orang.

Sebuah kasih yang sejati dari Allah memiliki kuasa yang sangat besar untuk membawa transformasi baik kepada pribadi orang per-orang bahkan kepada kota, negara bahkan dunia. Kasih sejati dari Allah itu sanggup menyentuh hati dan mengubah hidup. Tidak peduli seberapa besar dosa kita di masa lalu, selalu ada pengampunan untuk itu. "Marilah, baiklah kita berperkara! --firman TUHAN--Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba." (Yesaya 1:18). Kepada salah seorang yang disalibkan di sebelah Yesus, Dia berkata "..sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus." (Lukas 23:43). Tuhan selalu membuka pintu selebar-lebarnya untuk menerima pertobatan dan mengampuni kita, lebih dari itu Dia pun tidak segan-segan bertindak pro-aktif untuk menjangkau kita terlebih dahulu. Begitu besar kasih karunia Tuhan kepada kita, sehingga sudah seharusnya kita pun tidak menutup mata dari orang-orang yang mungkin dikucilkan dari masyarakat atau yang merasa tidak lagi punya pengharapan. Merekapun dikasihi Tuhan sama seperti kita, dan itu harus kita sampaikan kepada mereka. Marilah kita bersyukur atas kebaikan Tuhan yang terus mencurahkan berkat dan kasih karuniaNya kepada kita, dan marilah kita salurkan semua itu kepada orang lain.

Kasih yang tulus mampu menyentuh hati dan membawa transformasi hidup

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 3, 2011

Belajar dari Kisah Zakheus (1)

Ayat bacaan: Lukas 19:5
==================
"Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."

Sampai sebatas mana besar dosa kita agar masih punya kesempatan untuk diampuni? Ini merupakan pertanyaan yang mungkin sering muncul di pikiran banyak orang. Saya sudah bertemu dengan banyak orang yang merasa dirinya tidak lagi pantas untuk diselamatkan. Mereka terus merasa tertuduh akibat segala perbuatan mereka yang menyimpang di masa lalu dan merasa sulit untuk lepas dari trauma masa lalunya. Tidak jarang di antara mereka berpikir bahwa Tuhan jijik terhadap mereka dan kesempatan buat mereka sudah tertutup. Menjadi orang yang terbuang sepanjang masa, seperti yang mungkin sudah mereka alami sehari-hari dari sikap sesama manusia yang menolak mereka. Apakah Alkitab menyatakan demikian? Apakah Tuhan pada suatu ketika akan merasa putus asa dan berhenti mengasihi seseorang karena dosa-dosanya di waktu lalu? Tidak, Alkitab tidak pernah menyatakan demikian. Tuhan selalu menantikan anak-anakNya untuk segera berbalik dan kembali kepadaNya. Dia akan segera menyambut dengan penuh sukacita, bersama seisi Surga ketika satu anakNya melakukan pertobatan. Perumpamaan Anak yang Hilang dalam Lukas 15:1-32 menggambarkan hati Bapa itu dengan sangat jelas. Tapi hari ini tidak akan membahas perumpamaan ini. Saya ingin mengajak teman-teman sekalian untuk melihat apa yang terjadi pada Zakheus, seorang pemungut cukai yang dibenci masyarakat.

Mari kita baca Lukas 19:1-10. Zakheus adalah seorang yang kaya raya, dengan kekayaan yang ia peroleh dari sebuah pekerjaan yang dibenci rakyat yaitu sebagai kepala pemungut cukai atau penagih pajak alias tax collector. Itu sebuah pekerjaan yang sangat tidak terpuji di mata rakyat. Bekerja pada penjajah, seorang pengkhianat yang memeras saudara-saudara sebangsanya sendiri demi kekayaan penjajah termasuk memperkaya dirinya sendiri. Meski kaya raya, ia dikatakan bertubuh pendek. Itulah sebabnya ia kesulitan untuk bisa melihat seperti apa Yesus itu ketika berkunjung ke kotanya. Ia kesulitan menembus kerumunan orang dan kalah tinggi dibanding kerumunan orang pada umumnya. Sebuah pertanyaan muncul di pikiran saya: seandainya ia memang kaya raya, mengapa ia tidak memakai hartanya untuk mendapat fasilitas lebih? Dengan kekayaannya mungkin ia bisa menyewa karpet merah atau menutup jalan. Saya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu. Mungkin ia sudah begitu dibenci orang sehingga ia bisa celaka jika melakukan hal-hal seperti itu, atau bisa jadi ia sudah mulai menyesali perbuatannya pada waktu itu dan tidak mau melakukan sesuatu yang bisa membuatnya semakin buruk. Keinginannya untuk melihat Yesus, itu bisa menjadi dasar pemikiran saya bahwa pada saat itu Zakheus sudah mulai menyesali pekerjaannya tetapi merasa ragu apakah ia masih layak diampuni atau tidak. Keingintahuannya akan Yesus kemudian membuatnya melakukan demikian: "Maka berlarilah ia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ." (ay 4). Perhatikan usahanya. Ia berlari dan segera memanjat pohon agar ia bisa punya kesempatan untuk melihat Yesus, sebab dengan ukuran tubuhnya ditambah kebencian orang terhadapnya, tidak akan ada peluang baginya untuk bersaing dengan kerumunan orang banyak. Tidak akan ada orang yang mau memberinya jalan, jadi buat apa bersusah payah? Lebih baik memanjat pohon, dengan resiko terjatuh sekalipun, agar saya bisa melihat Yesus. Itu mungkin yang ada di pikirannya.

Lalu Yesus pun melihatnya sedang bertengger di atas pohon sendirian. Sebuah pemandangan yang lucu bagi kita, tapi tidak bagi Yesus. Yesus berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu."(ay 5). Dari sekian banyak orang disana, mengapa Yesus malah menyapa Zakheus yang dibenci sebagai lintah dan penghianat bangsa, bahkan meminta untuk menumpang di rumahnya? Tetapi itulah yang dilakukan Yesus. Maka Zakheus pun segera turun dan menyambut Yesus dengan penuh sukacita. (ay 6). Yesus tidak peduli meski begitu banyak orang yang kemudian mencibir terhadap keputusanNya tersebut. Selanjutnya kita tahu bahwa Zakheus bertobat. "Tetapi Zakheus berdiri dan berkata kepada Tuhan: "Tuhan, setengah dari milikku akan kuberikan kepada orang miskin dan sekiranya ada sesuatu yang kuperas dari seseorang akan kukembalikan empat kali lipat." (ay 8). Dan saat itu juga keselamatan pun menjadi milik Zakheus berserta seluruh keluarganya. "Kata Yesus kepadanya: "Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham." (ay 9). Zakheus yang dibenci orang banyak, tertolak bahkan disebut sebagai "orang berdosa" (ay 7), tetapi pertobatannya membuatnya mengalami keselamatan beserta keluarganya.

Dari kisah ini kita bisa melihat beberapa hal. Pertama, Tuhan memang membenci dosa, tetapi Dia jelas tidak membenci orang berdosa. Justru sebaliknya, Tuhan mengasihi orang-orang seperti ini dan semua manusia tanpa terkecuali, termasuk anda dan saya. Dan justru untuk orang-orang yang berdosa seperti kitalah Yesus rela turun ke dunia dan menanggung semuanya demi membebaskan kita. Semua karena kasihNya yang begitu besar kepada kita. Yesus berkata: "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 10). Pada saat berbeda Yesus juga menyatakan: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit...Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (ay 12-13) juga berkata "..sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya." (Yohanes 12:47). Zakheus memang mengambil pilihan yang keliru pada mulanya. Ia berbuat dosa sama seperti kita juga yang tidak luput dari kesalahan. Tetapi yang membedakan adalah bagaimana kita menyikapi dosa itu. Apakah kita mau bertobat dan berhenti melakukannya atau masih terus memilih untuk menjalaninya. Zakheus mengambil pilihan tepat dengan melakukan pertobatan, dan ia pun selamat. Bukan hanya dirinya tetapi seisi rumahnya juga menerima anugerah keselamatan itu, tanpa memandang besar kecilnya dosa yang pernah ia perbuat. Jika kepada Zakheus kasih karunia Tuhan yang besar itu bisa turun, mengapa tidak pada kita? Selama kita mau mengakui kesalahan dan bertobat, maka saat itu juga pengampunan diberikan Tuhan dengan sambutan yang penuh sukacita.Tuhan siap menganugerahkan keselamatan kepada orang yang mau datang kepadaNya.

(bersambung)

Wednesday, March 2, 2011

Menghargai Berkat

Ayat bacaan: Yohanes 6:12
====================
"Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang."

membuang makananAda seorang teman saya yang setiap kali makan benar-benar tanpa sisa. Sehabis makan piringnya bisa kelihatan mengkilat seperti tidak pernah disentuh makanan. Kalau makan ikan benar-benar sampai bagian yang sama sekali tidak bisa dimakan. Begitu juga kalau makan daging bertulang atau ayam. Karenanya saya selalu tertarik melihatnya makan sampai selesai. Suatu kali saya menanyakan kenapa dia sampai makan seperti itu. Ia pun bercerita sebuah pengalaman ketika masih kecil. Pada suatu hari ia mengambil makanan begitu banyak. Ibunya membiarkan saja ia mengambil berlebih seperti itu. Tentu saja akhirnya makanan itu bersisa banyak. Disaat itulah kemudian ibunya memarahi dan kemudian mengharuskannya menghabiskan semuanya sampai tuntas. Ia menangis dan dengan terpaksa makan semua yang telah ia ambil sambil ditunggui ibunya. Sejak saat itu ia belajar untuk tidak lagi membuang-buang makanan. Ini pelajaran yang mungkin keras bagi anak kecil, tetapi itu adalah sebuah ajaran yang baik karena membuang-buang makanan bukanlah hal yang bagus untuk dilakukan, terlebih Tuhan pun tidak ingin kita melakukannya.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana dua kali Tuhan mengabulkan permintaan bangsa Israel akan makanan dalam Ulangan 16:1-36. Dalam dua kali kesempatan ketika Tuhan menurunkan roti dan burung puyuh, dua kali pula Tuhan berpesan agar mereka mengambil secukupnya sesuai kebutuhan dan tidak membuang-buang sisanya, yaitu pada ayat 4 dan 13. Tuhan tidak suka jika berkatNya kita buang sia-sia. Disaat orang lain ada yang membutuhkan, ada yang mati kelaparan, bagaimana mungkin kita tega membuang makanan tanpa peduli akan nasib mereka? Jika itu kita lakukan, bagaimana kita bisa menjadi terang dan garam, dan bagaimana kita bisa mengaku mengenal Tuhan?

Sebuah contoh lain mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap membuang-buang berkat atau dalam skala kecil salah satunya membuang-buang sisa makanan bisa kita lihat dalam kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Yang harus diberi makan pada saat itu bukan hanya puluhan, bukan ratusan tetapi ribuan orang. Apa yang dipergunakan Yesus pada saat itu tidak lain adalah sisa makanan yang ada pada seorang anak, yaitu lima roti dan dua ikan. Itulah yang kemudian mampu mengenyangkan ribuan orang dan masih bersisa. Berkat yang berkelimpahan dijanjikan Tuhan, dan itu bisa kita lihat kembali pada kisah ini seperti halnya kepada bangsa Israel di jaman Musa di atas. Tapi lihatlah apa kata Yesus mengenai makanan sisa ini. "Dan setelah mereka kenyang Ia berkata kepada murid-murid-Nya: "Kumpulkanlah potongan-potongan yang lebih supaya tidak ada yang terbuang." (Yohanes 6:12). Begitu pentingnya pesan ini, sehingga keempat Penulis Injil menuliskan hal tersebut yaitu dalam Matius 14:20, Markus 6:43 dan Lukas 9:17.

Membuang-buang sisa makanan itu sama artinya dengan tidak menghargai Pemberi berkat.Untuk disimpan sendiri saja sudah salah, apalagi jika kita buang-buang? Tidakkah kita seharusnya sedih dan merasa tergerak melihat begitu banyaknya gelandangan, orang terlantar dan anak-anak yang kelaparan bahkan hingga mati di berbagai tempat, termasuk di sekitar kita? Ketika kita menghamburkan uang untuk membeli sesuatu yang hanya kita buang sia-sia dalam waktu singkat atau hidup dalam limpahan kemewahan berlebihan, sudahkah kita peduli bahwa ada anak yang tengah menangis kelaparan pada saat yang sama? Kita bisa berpikir bahwa itu hak kita, karena uang yang kita pakai pun adalah hasil jerih payah kita bekerja. Tetapi jangan lupa bahwa semua itu berasal dari Tuhan yang memberkati pekerjaan kita. Intinya seperti yang saya katakan kemarin, kita tidak boleh lupa bahwa kita diberkati untuk memberkati. Tuhan tidak ingin anak-anakNya menjadi tamak, egois dan serakah atas berkatNya. Dia mau kita menjadi terang dan garam, menjadi saluran berkat bagi orang lain, dan dengan demikian semakin banyak pula orang yang akan memuliakan Tuhan. Firman Tuhan juga berkata: "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Ini adalah sesuatu yang harus pula kita ingat baik-baik.

Ketika kita berdoa meminta Tuhan memberkati usaha kita dan memberi kelimpahan buat kita, ingatlah bahwa ada kewajiban yang harus kita lakukan disana. Apakah kita sudah menghargai berkat Tuhan secara benar dan menjalankan kewajiban kita seperti yang Dia kehendaki? Ingatlah bahwa semua yang kita miliki bukanlah atas hasil jerih payah kita semata, tetapi itu merupakan berkat yang indah dari Tuhan. Kita semua punya hak untuk memakai uang yang kita peroleh dari pekerjaan kita, itu benar, tetapi Tuhan mengingatkan kita untuk memakai secukupnya dan tidak melupakan orang lain yang pada saat yang sama. Tuhan tidak pernah terbatas untuk melimpahkan berkatNya bagi kita, jadi tidak ada yang perlu kita takutkan. Kita harus terus melatih diri kita hingga kita bisa merasakan kebahagiaan ketika kita memberi, sampai firman Tuhan berikut ini bisa tertanam di dalam diri kita: "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Agar kita bisa menghargai berkat Tuhan secara baik kita bisa mulai dari yang kecil, seperti tidak membuang-buang makanan misalnya. Mari kita lihat ke sekeliling kita, adakah tetangga yang sedang kesusahan? Maukah kita membagi berkat kepada mereka?

Bersyukurlah atas berkat Tuhan dengan membagikannya kepada sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 1, 2011

Hidup dengan Rasa Cukup

Ayat bacaan: Ulangan 16:16
====================
"Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."

hidup dengan rasa cukupSeorang teman dalam status di akun jejaring sosialnya menulis: "Bumi cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia tetapi tidak cukup untuk mencukupi satu orang tamak." Apa yang ia tuliskan ini tampaknya diambil dari sebuah kutipan kata-kata bijak Mahatma Gandhi yang berbunyi: “Earth provides enough to satisfy every man's need, but not every man's greed". Apa yang dikatakan oleh Mahatma Gandhi ini sesungguhnya mengandung makna penting agar kita bisa bersyukur dengan apa yang kita miliki karena Tuhan telah menyediakan segalanya dengan baik dan cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh manusia di bumi ini. Betapa seringnya kita terus merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang berani menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini.

Sebuah kisah mengenai cukup dan tamak diperlihatkan oleh bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Bangsa Israel adalah bangsa keras kepala yang selalu sulit untuk bersyukur. Meski sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung bagaimana penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut. Dalam Keluaran 16:1-36 kita bisa melihat sebuah contoh mengenai sifat mereka ini. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin, setelah satu setengah bulan berada dalam perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka bersungut-sungut dan berkata "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (ay 3). Tuhan mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." (ay 4). Perhatikan bahwa dalam ayat ini meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun ada sebuah pesan penting dari Tuhan agar mereka memungut secukupnya saja. Tapi mereka merasa belum juga cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." (ay 16). Dari kisah ini kita bisa melihat bahwa meski Tuhan bisa memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki oleh anak-anakNya.

Ada banyak orang yang salah kaprah dalam menyikapi berkat yang diberikan Tuhan. Mereka berpikir bahwa semua itu adalah untuk membuat mereka bisa hidup mewah, berfoya-foya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak perlu benar. Kita harus ingat bahwa Tuhan memberi berkat bukan untuk kita simpan sendiri tetapi untuk memberkati orang lain. Kita diberkati untuk memberkati. Dalam kitab Yehezkiel dikatakan: "Kalau seseorang adalah orang benar dan ia melakukan keadilan dan kebenaran..tidak menindas orang lain, ia mengembalikan gadaian orang, tidak merampas apa-apa, memberi makan orang lapar, memberi pakaian kepada orang telanjang, tidak memungut bunga uang atau mengambil riba, menjauhkan diri dari kecurangan.." dan sebagainya. (bacalah Yehezkiel 18:5-9) Dalam Perjanjian Baru pun pesan seperti ini disampaikan beberapa kali, misalnya lewat Yakobus. "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Perhatikanlah bahwa Tuhan menginginkan kita untuk menjadi saluran berkatNya dan bukan untuk membuat kita menjadi orang-orang yang serakah.

Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Apa yang dikatakan cukup oleh firman Tuhan? "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah bahwa "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (ay 6). Sebaliknya apabila anda diberkati hari ini dengan penghasilan yang besar, bersyukurlah dan pergunakan untuk memberkati sesama. Membantu yang kekurangan, menolong yang kelaparan, memberi pakaian bagi yang kurang mampu, semua itu adalah tugas dan kewajiban kita sebagai orang percaya. Apa yang dikatakan Gandhi benar. Bumi ini sudah diciptakan Tuhan dengan begitu baik sehingga cukup untuk semua manusia, terlebih ketika kita orang percaya bisa berfungsi secara benar sesuai panggilan Tuhan. Tetapi dunia dan segala isinya ini tidak akan pernah cukup bagi orang-orang yang tamak atau serakah, yang ingin selalu memiliki lebih dan lebih lagi tanpa pernah merasa bersyukur. Hendaklah kita semua hidup dengan rasa cukup dan tidak dikuasai oleh sifat serakah. Dalam keadaan apapun tetaplah bersyukur dan ingatlah bahwa di atas segalanya Tuhan sendiri yang akan memelihara hidup kita.

Hiduplah dengan rasa cukup dan hindari sifat tamak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...