Sunday, November 7, 2010

Kuasa Dalam Kelemahan

Ayat bacaan: 2 Korintus 2:9
===========================
"Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku."

Tumpukan pekerjaan bagaikan air bah yang membanjir tanpa henti. Rasanya begitu deras menerpa saya, sehingga saya merasa kelabakan untuk menyelesaikan semuanya. Satu beres, datang tiga lagi, dua beres, masuk enam lagi, kira-kira seperti itulah yang terjadi, dan saya pun gelagapan untuk menyelesaikan semuanya dengan sebaik-baiknya tepat waktu. Saya tidak pernah ingin kerja setengah-setengah, semua itu harus dikerjakan sebaik-baiknya, tetapi waktu sepertinya tidak mencukupi. Apakah saya satu-satunya orang yang sibuk setengah mati seperti ini? Ternyata tidak. Seorang teman yang berprofesi sebagai musisi jazz ternyata mengalami hal yang sama seperti saya.

Lewat sebuah situs jejaring saya berbincang-bincang dengan seorang musisi jazz yang baru menyelesaikan studinya di luar negeri. Dia adalah seorang anak Tuhan yang luar biasa. Hidup di dunia entertainment alias hiburan ternyata tidak membuatnya rusak. Ia tetap hidup setia dan taat kepada Tuhan. Tidaklah heran apabila karirnya meningkat sangat pesat meski ia baru saja kembali dari luar negeri beberapa bulan yang lalu. Tuhan memberkatinya secara luar biasa, sehingga dalam waktu singkat ia sudah mendapat kesempatan tampil di beberapa pertunjukan bahkan sudah membentuk grupnya sendiri. Berbagai kesempatan yang terbuka membuatnya sibuk melakukan berbagai persiapan. Belum lagi harus membagi waktu dengan keluarga dan tampil di beberapa kota yang berbeda dalam waktu singkat. Ia pun bercerita bahwa ia sempat "curhat" kepada Tuhan. "saya bersyukur buat berkat-berkat yang melimpah, tetapi di satu sisi saya merasa bahwa waktu untuk menyiapkan segalanya sangat kurang. Pekerjaan padat, waktu sedikit.. saya khawatir tidak maksimal." katanya. Dan ia pun berdoa menyampaikan itu kepada Tuhan. Apa yang terjadi? Ia kemudian bercerita bahwa Tuhan menjawab dan mengingatkannya kalau semua itu Tuhan izinkan untuk terjadi agar dirinya menyadari betul bahwa semua itu merupakan karunia Tuhan dan bukan hasil jerih payahnya sendiri. "Tidak ada hak saya untuk bermegah diri." katanya. Tuhan lalu mengingatkan teman saya lebih lanjut, "Bukankah selama ini dalam kelemahanmu Aku selalu menunjukkan pertolongan?" Dan ia pun merasa lega. Ia kemudian bisa mengerjakan segala sesuatu sebaik mungkin dengan tenang tanpa harus kehilangan sukacita. Waktu tidak berubah menjadi lebih lambat, pekerjaan tidak menjadi lebih ringan. Tetapi dengan percaya terhadap janji Tuhan, bahwa Dia akan selalu menunjukkan pertolongan, semua itu sanggup membuat beban yang kita pikul menjadi jauh lebih ringan.

Apa yang ia alami pernah pula dialami Paulus dalam keadaan yang mungkin jauh lebih berat. Memutuskan untuk bertobat lalu dengan giat mewartakan kabar keselamatan ternyata tidak membuat Paulus menjadi lebih nyaman. Justru pada saat seperti itulah ia mengalami begitu banyak masalah. Berbagai teror mental hingga penyiksaan kerap ia alami. Dalam surat 2 Korintus pasal 12 kita bisa melihat curhatan Paulus tentang apa yang ia rasakan. Ia tahu bahwa tidak ada hak apapun baginya untuk bermegah. Mendapatkan penglihatan, dipakai Tuhan dan menerima janji keselamatan kelak ketika ia berpulang tidak berarti bahwa ia bisa membanggakan atau menyombongkan dirinya. Paulus berkata "..atas diriku sendiri aku tidak akan bermegah, selain atas kelemahan-kelemahanku." (2 Korintus 12:6). Bangga akan kelemahan? Bagaimana mungkin? Apakah Paulus salah ucap? Tentu tidak. Paulus mengatakan lebih lanjut "Dan supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataan-penyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan Iblis untuk menggocoh aku, supaya aku jangan meninggikan diri." (ay 7). Paulus pun kemudian berdoa kepada Tuhan dan meminta Tuhan mengenyahkan duri dalam daging atau utusan iblis itu daripadanya. Perhatikanlah bagaimana reaksi Tuhan selanjutnya. "Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku." (ay 9). Di dalam kelemahan kuasa Tuhan justru akan menjadi sempurna. Mengapa? Karena seperti yang dikatakan teman saya tadi, justru dalam kelemahan itulah kita bisa mengerti akan sebuah konsep untuk bergantung sepenuhnya pada Tuhan dan bukan pada kekuatan diri sendiri atau sesama manusia lainnya. Dan mari saya tambahkan, saat-saat sibuk atau tertekan seperti itu adalah kesempatan untuk melihat betapa besarnya kuasa Allah, jauh melebih apapun yang ada di kolong langit. Being under pressure is just the perfect chance to see God's miracles.

Firman Tuhan berkata "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7). Kepada orang-orang taat dan dipenuhi iman seperti ini dikatakan bahwa "Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (ay 8). Seperti itulah janji Tuhan kepada kita. Masalahnya ialah, sampai dimana kita bisa mengimani hal ini? Fisik terkuras, stamina anjlok di saat sibuk seperti ini seharusnya tidak membuat kita semakin menjauh dari Tuhan. Inilah kesempatan bagi kita untuk menyaksikan sendiri kedahsyatan uluran tangan Tuhan. Ini kesempatan untuk merasakan secara langsung bagaimana luar biasanya ketika Tuhan menyatakan pertolonganNya. Berada dalam tekanan atau permasalahan hidup adalah sebuah kesempatan bagi kita untuk menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan akhirnya menjadi sempurna di dalam hidup kita.

Apakah ada di antara teman-teman yang merasakan sulitnya membagi waktu dan merasa sendirian melewatinya? Jika ada, ingatlah bahwa semua itu Tuhan ijinkan untuk terjadi pada diri kita agar kita bisa berhenti mengandalkan kekuatan diri sendiri atau orang lain tetapi sebaliknya kembali berpegang teguh kepada Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah yang kita lalui. Itu akan membuat kita tidak kehilangan sukacita meski dalam tekanan sekalipun. Meski kelabakan dalam menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk, janganlah lupa bahwa semua itu merupakan berkat dari Tuhan yang seharusnya disikapi dengan penuh rasa syukur. Dan betapa baiknya Tuhan yang masih berjanji untuk senantiasa menolong kita dalam melakukan semuanya. Tidak saja kita mendapatkan berkat dariNya, tetapi dalam kesibukan itu kita juga mendapatkan kesempatan untuk melihat bagaimana luar biasanya ketika kuasa Tuhan menjadi sempurna di atas kelemahan dan keterbatasan kita.

Tekanan adalah kesempatan untuk melihat bagaimana kuasa Tuhan menjadi sempurna

Saturday, November 6, 2010

Lewat Lagu

Ayat bacaan: Ulangan 31:19
====================
"Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel."

lewat laguBagaimana cara menyampaikan protes terhadap tindakan penguasa yang tidak baik? Sebagian besar orang akan memilih cara demonstrasi untuk menyuarakan aspirasinya. Selama melalui prosedur yang benar, sejak masa reformasi di Indonesia demonstrasi sah-sah saja dilakukan oleh siapapun yang ingin menyampaikan suaranya. Tetapi ada sebuah cara yang jauh lebih elegan dan tidak mengganggu banyak orang seperti halnya sebuah demonstrasi di jalan raya, yaitu lewat lagu. Cara ini banyak dipakai oleh para seniman dari masa ke masa. Lihatlah sebuah contoh ketika Amerika memutuskan untuk berperang dengan Vietnam. Sejumlah musisi seperti Bob Dylan kerap menyuarakan protes keras lewat lagu-lagu mereka. Di masa itu tercatat ada begitu banyak lagu yang berisikan keprihatinan sampai perlawanan terhadap keputusan untuk melakukan perang secara militer terhadap sebuah bangsa yang jauh lebih kecil dari Amerika di benua asia. Di negara kita pun demikian. Bentuk protes dan menyuarakan aspirasi banyak tampil lewat lagu, terutama di masa represif dari rezim yang berkuasa beberapa waktu lalu. Sosok seperti Iwan Fals misalnya sering menuliskan bentuk keprihatinan atau satire/sindiran lewat lirik-lirik lagu yang dikemas dengan melodi yang enak di dengar.

Sadar atau tidak, sebuah lagu bisa membawa pengaruh yang besar terhadap manusia. Kita bisa mengajarkan kebaikan, menggugah orang untuk berubah atau bahkan memberkati lewat lagu. Sebaliknya kita bisa mempengaruhi orang akan hal yang buruk atau bahkan memprovokasi orang lewat media yang sama pula. Coba perhatikan sikap kita, seringkali semua itu tergantung dari lagu-lagu seperti apa yang kita dengar. Mulai dari mencari semangat, inspirasi, atau ingin rileks, menenangkan perasaan, atau apapun, kita selalu bisa mendapatkannya dari lagu-lagu.

Tuhan pun tahu bagaimana manusia bisa terpengaruh lewat lagu. Tuhan tahu bahwa lagu bisa menggugah orang secara lebih efektif dibanding teguran langsung lewat perkataan. Lihatlah apa kata Tuhan kepada Musa untuk menggunakan media musik lewat lagu untuk mengingatkan bangsa Israel atas kejahatan mereka. Alih-alih menyuruh Musa memperingatkan mereka lewat pidato/perkataan, Tuhan justru menyuruh Musa untuk menuliskan lagu dan menyanyikannya. "Oleh sebab itu tuliskanlah nyanyian ini dan ajarkanlah kepada orang Israel, letakkanlah di dalam mulut mereka, supaya nyanyian ini menjadi saksi bagi-Ku terhadap orang Israel." (Ulangan 31:19). Tuhan tahu bahwa ada kecenderungan manusia untuk terjatuh ke dalam dosa ketika terlena dalam sebuah kemakmuran. Bangsa Israel pada saat itu akan masuk ke tanah yang dijanjikan, sebuah tanah yang berlimpah susu dan madunya, dan jika mereka terlena dalam semua kenikmatan itu, maka akan timbul pula potensi untuk berbuat dosa. Tuhan mengatakannya demikian: "Sebab Aku akan membawa mereka ke tanah yang Kujanjikan dengan sumpah kepada nenek moyang mereka, yakni tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya; mereka akan makan dan kenyang dan menjadi gemuk, tetapi mereka akan berpaling kepada allah lain dan beribadah kepadanya. Aku ini akan dinista mereka dan perjanjian-Ku akan diingkari mereka." (ay 20). Pada saat itu demikian, hingga saat ini pun sama. Betapa seringnya kita terlena ketika kita sedang berada dalam keadaan makmur. Pada saat seperti itu kita bisa lemah, dan akibatnya dosa-dosa akan membuat kita ditimpa malapetaka atau kesusahan setelahnya. Tuhan tidak pernah ingin itu terjadi. Seperti halnya pada masa itu, Musa pun diminta untuk mengingatkan bangsa yang dipimpinnya, dan secara spesifik Tuhan meminta Musa untuk menyampaikannya secara elegan lewat nyanyian. Maka Musa pun menuliskan sebuah nyanyiannya yang bisa kita baca dalam Ulangan 32, sebuah lagu yang dimaksudkan sebagai peringatan yang dirancang untuk menarik perhatian mereka agar jangan melupakan Allah dan kemudian mengarahkan diri mereka ke dalam masalah. "Maka apabila banyak kali mereka ditimpa malapetaka serta kesusahan, maka nyanyian ini akan menjadi kesaksian terhadap mereka, sebab nyanyian ini akan tetap melekat pada bibir keturunan mereka. Sebab Aku tahu niat yang dikandung mereka pada hari ini, sebelum Aku membawa mereka ke negeri yang Kujanjikan dengan sumpah kepada mereka." (ay 21).

Lagu seringkali sanggup menggugah orang secara elegan. Musik sebagai salah satu ciptaan Tuhan yang terindah ternyata mampu berfungsi jauh lebih banyak daripada sekedar hiburan saja. Sebuah lagu sanggup menyampaikan pesan-pesan yang baik yang bisa menggugah orang untuk berbalik dari kesalahannya seperti pada jaman Musa di atas, bahkan lebih dari itu, kita bisa melihat dalam Alkitab bagaimana puji-pujian sanggup meruntuhkan tembok Yerikho seperti yang tertulis di dalam Yosua 6. Ada kuasa besar di balik puji-pujian, bahkan Daud secara tegas mengatakan bahwa Tuhan bersemayam di atas puji-pujian. (Mazmur 22:4).

God loves music, He can use it as a powerful media to remind us of many things, and we can glorify Him through the songs we sing as well. Jika pada jaman Musa hal seperti itu bisa berlaku, apakah di jaman sekarang hal yang sama masih bisa dijalankan? Tentu saja. Lihatlah bagaimana lagu-lagu rohani sanggup menggugah pendengarnya, memanggil kita kembali kepada kesetiaan kita mula-mula kepada Tuhan yang selalu mengasihi kita dengan setia. Selektiflah memilah-milah lagu, karena seringkali kita akan terbentuk sesuai dengan lagu yang sering kita dengar. Yang jelas, Tuhan selalu siap mengingatkan kita kapan saja agar kita terhindar dari keinginan-keinginan untuk berbuat dosa, dan media musik atau lagu merupakan salah satu media yang bisa Tuhan pergunakan.

Lagu bisa lebih efektif menjangkau kita dibanding perkataan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 5, 2010

Bapa Penuh Kejutan

Ayat bacaan: 1 Korintus 2:9
====================
"Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia."

bapa penuh kejutanSukakah anda terhadap kejutan? Saya rasa sebagian besar orang akan sangat senang mendapatkan kejutan. Untuk menyenangkan orang-orang yang kita sayangi kita sering memberi kejutan terutama pada momen-momen spesial dalam hidup mereka. We are human who like surprises. Hari ini saya dan istri saya baru saja memberi kejutan untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepada adik ipar saya. Kami menunggu di depan pintu lift sebuah mall sambil membawa kue tart dengan lilin menyala, dan ia terlihat sangat terkejut ketika melihat kami berdiri tepat di depannya begitu pintu lift terbuka. Coba kejutkan pasangan anda dengan seikat bunga yang tidak ia duga sebelumnya, berbagai hadiah atau puisi, hal-hal seperti itu akan sangat bermakna bagi mereka, sesuatu yang tidak akan mudah dilupakan. Atau perhatikan wajah gembira anak-anak ketika mereka mendapat kejutan dari orang tuanya. Mereka akan menangkap perhatian dan rasa sayang kita secara lebih baik lewat kejutan-kejutan membahagiakan seperti itu.

Sekarang pertanyaannya, bagaimana dengan Tuhan? Mengetahui bahwa manusia menyukai kejutan, apakah Tuhan berlaku sebagai Bapa yang suka pula memberi kejutan ini kepada anak-anakNya? Tentu saja. Malam ini saya merenungkan betapa Tuhan sering berlaku sebagai Bapa yang senang memberi kejutan. He's such a loving Father who likes to give surprises. Tidak terhitung banyaknya kejutan yang telah hadir dalam hidup saya dan istri. Sesuatu yang tidak diduga-duga sebelumnya, namun hadir sebagai sebuah kejutan indah dari Tuhan. Mukjizat kesembuhan, berkat-berkat, pertolongan tepat pada waktunya, semua itu sudah pernah kami alami dan dengan iman kami percaya akan ada banyak lagi kejutan seperti itu di masa datang. Mengapa? Because we both know and believe He's such a loving father who likes to give surprises.

Perhatikan ayat berikut ini: "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9). Ini adalah ayat yang dengan jelas menggambarkan betapa Allah suka memberi kejutan. Sesuatu yang tidak kita duga, tidak terbayangkan, tidak terpikirkan, bahkan kita tidak merasa layak menerimanya sekalipun, semua itu disediakan Tuhan bagi siapapun yang mengasihiNya dengan sepenuh hati. Tuhan mampu, mau dan senang menyediakan itu semua sebagai bentuk kejutan bagi anak-anakNya yang sungguh-sungguh mengasihiNya. Perhatikanlah apa yang menggerakkan Tuhan untuk memberi kejutan seperti itu. Kasih. Itulah yang membuat Tuhan dengan senang hati melimpahi kita dengan segala sesuatu yang tidak terbayangkan atau terpikirkan oleh kita. Itulah sebuah bukti nyata bahwa "Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8). Saya akan ambil sebuah contoh yang nyata kami alami. Terpikirkah oleh anda bahwa anda bisa memiliki rumah, tanpa perlu KPR (kredit) selama bertahun-tahun dengan jumlah tabungan yang hanya cukup menebus seperempat harganya? Masuk akalkah? Sama sekali tidak. Tetapi Tuhan menyediakan itu semua. Saya dan istri mampu memperoleh sebuah rumah tanpa perlu mencicil sama sekali. Tidak hanya itu, Tuhan bahkan kemudian mengembalikan jumlah tabungan kami dengan jumlah yang sama. It was an unforgettable pleasant surprise, satu dari sekian banyak keajaiban yang dihadirkan Tuhan dalam keluarga saya sebagai bentuk kejutan penuh kasih dari Bapa kepada anakNya.

Apa yang menjadi kebutuhan anda hari ini? Apakah anda khawatir anda tidak dapat memenuhinya? Anda tidak perlu takut. Kita punya Bapa yang penuh kejutan, dan siap memberikan kita lebih dari apapun yang kita pikir kita butuhkan. Dalam surat kepada jemaat Efesus kita bisa pula melihat pernyataan ini. "Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita."(Efesus 3:20). Tuhan sanggup melakukan jauh lebih banyak dari apa yang kita doakan atau pikirkan, dan Dia mau memberikan itu dengan senang hati. Bersyukurlah kita punya Bapa yang sudah merencanakan "rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan" (Yeremia 29:11), lengkap dengan berbagai kejutan di dalamnya. Fokus mengasihi Dia, mencari KerajaanNya, maka tanpa kita minta pun semua itu akan ditambahkan kepada kita.

Tuhan adalah Bapa yang suka memberi kejutan bagi anak-anakNya. Syaratnya hanya satu: mengasihiNya dengan sungguh-sungguh. Di dalam kata mengasihiNya itu terkandung ketaatan, kehidupan yang takut dan gentar akan Tuhan, menjauhi laranganNya, mendengar dan mematuhi perintahNya. Dia mengenal kita, Dia tahu apa yang kita butuhkan bahkan lebih dari itu. Tuhan siap melimpahkan kejutan-kejutan, dan hendaklah semua itu kita pakai untuk memuliakan Dia lebih lagi dan bukan untuk dihabiskan sia-sia, ditimbun atau malah dipakai untuk tujuan yang salah. When we love Him fully and honestly with all of our hearts, He will pour down many surprises onto us.

Tuhan adalah Bapa yang suka memberi kejutan indah kepada anak-anakNya yang mengasihi Dia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 4, 2010

Ingin Cepat Kaya?

Ayat bacaan: Lukas 12:15
====================
"Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu."

ingin cepat kayaAda begitu banyak iklan yang menjanjikan kekayaan lewat segala cara. Menjual berbagai metode agar cepat kaya selalu laris di mata banyak orang, apalagi di jaman sekarang dimana segalanya serba sulit. Seminggu dapat sekian puluh juta, sehari langsung meraup dollar dan banyak lagi iming-iming yang akan membuat orang tergoda untuk mencobanya. Tidak ada orang yang mau hidup miskin. Kita bekerja dan berusaha agar bisa hidup layak, dan alangkah baiknya apabila kita juga berpikir untuk bisa mengumpulkan hasil jerih payah kita bukan untuk kita sendiri melainkan untuk memberi kepada orang-orang yang berkekurangan. Yang tidak baik adalah berorientasi kepada kekayaan, mendasarkan segala sesuatu kepada uang dan harta. Menghalalkan segala cara demi meraup untung sebesar-besarnya, kalau perlu mengorbankan orang lain, itulah yang salah.

Pada suatu kali ada seseorang yang saya rasa sangat keterlaluan bertanya kepada Yesus "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." (Lukas 12:13). Ini kelewatan. Ia bertemu dengan Yesus, ia punya kesempatan untuk mengenal Kristus secara langsung dari dekat, ia berkesempatan mengenalNya lebih dalam, tetapi lihatlah yang ia inginkan malah harta dan lebih banyak harta lagi. Kita mungkin bisa tertawa melihatnya, namun bukankah ini gambaran yang banyak kita lihat hari ini? Orang pergi ke gereja dan berdoa bukan lagi didasarkan kepada kerinduan untuk mengenal Yesus secara lebih dekat, tetapi karena membutuhkan sesuatu. Ingin cepat kaya, ingin usahanya yang bangkrut bisa selamat, ingin sukses dan sebagainya, bahkan banyak pula yang ke gereja karena ingin cepat dapat jodoh. Semua hanyalah demi kepentingan pribadi, dan itulah satu-satunya target yang ingin dicapai. Bagi mereka Tuhan tidak lebih dari "alat" yang harus memenuhi tuntutan mereka. Jika dalam waktu singkat tidak terjadi, maka mereka pun akan berpindah haluan sesegera mungkin.

Kembali kepada orang yang keterlaluan di atas, sungguh menarik melihat apa reaksi Yesus. Yesus menjawab "Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." (ay 15). Hidup tidak pernah bisa sepenuhnya tergantung kepada kelimpahan harta. Kita melihat banyak orang kaya yang tidak merasakan kebahagiaan dalam hidupnya, tidak sedikit pula yang mengalami kehancuran dalam keluarga mereka. Dan Yesus sudah mengingatkan hal itu sejak semula. Lalu Yesus pun memberikan perumpamaan tentang orang yang kayanya luar biasa. Begitu kayanya hingga ia tidak punya lagi cukup tempat untuk menyimpannya. Hasil tuaiannya berlimpah ruah sehingga ia harus bergegas mendirikan lumbung-lumbung yang lebih besar lagi. Orang itu lalu berpikir, "Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!" (ay 19). Hal seperti ini sering menjadi dasar pemikiran banyak orang hingga hari ini. Kita mengira bahwa dengan banyaknya harta kita akan bisa bersenang-senang sepuasnya tanpa perlu berbuat apa-apa lagi. Tapi apa pandangan Tuhan akan hal ini? "Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?" (ay 20). Dan Yesus pun menutup perumpamaan ini dengan "Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah." (ay 21).

Apa gunanya kekayaan di tempat tujuan kita selanjutnya? Tidak ada. Kita tidak bisa membawa semua harta kita ke surga dan berpikir bahwa uang itu akan berfungsi banyak untuk memberi lebih banyak fasilitas di banding orang lain yang lebih miskin. Kasarnya, uang tidak bisa dibawa mati. Alangkah sia-sianya jika kita berorientasi kepada kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja lalu mengorbankan kesempatan untuk mengumpulkan harta di surga. Yesus pun memberikan peringatan penting akan hal itu. "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19). Harta di bumi tidak akan pernah bisa seratus persen aman. Setiap saat semua itu berpotensi untuk lenyap dengan berbagai cara. Kita pun akan hidup ketakutan setiap saat kalau-kalau ada orang yang mencuri atau ada kejadian yang bisa melenyapkan semuanya itu. Kita akan sulit hidup tenang apalagi dipenuhi sukacita. Lalu dimana kita harus mengumpulkannya? Yesus melanjutkan "Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (ay 20). Jika menjadi kaya di dunia berarti menimbun, di surga caranya justru terbalik, yaitu dengan menabur. Berbuat kebajikan, dipenuhi belas kasih dan tergerak untuk menolong sesama, semua itulah yang akan memampukan kita untuk mengumpulkan harta di surga, dimana tidak ada satu apapun yang bisa merusak atau mencurinya.

Jangan sampai kita terus berfokus untuk menimbun kekayaan dan melupakan apa yang menjadi tugas kita di dunia ini, mengabaikan peran yang diberikan Tuhan kepada setiap anak-anakNya untuk menjadi terang dan garam. Kita mungkin bisa berdalih bahwa kita hanya khawatir tidak akan dapat makan dan minum secukupnya atau sepuasnya, tetapi lihatlah apa kata Yesus mengenai hal ini. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 31-32). Tanpa anda minta pun Tuhan selalu sanggup memenuhi semua kebutuhan penting anda. Itu sudah menjadi janji Tuhan. Apa yang harus kita lakukan adalah ini: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (ay 33).

Seberapa banyakpun harta yang sanggup kita kumpulkan tidak akan pernah menjamin kebahagiaan hidup kita. Tanyakan hal ini kepada orang terkaya yang pernah ada di muka bumi ini, Salomo, maka ia pasti menangis dan menceritakan bagaimana semua kekayaannya yang begitu luar biasa melimpah tidak bisa memberi kebahagiaan sejati dalam hidupnya. Di mata dunia mungkin orang-orang yang kaya bisa mendapatkan banyak fasilitas dan kemudahan, bisa mempengaruhi banyak orang dan memperoleh keuntungan-keuntungan lainnya, tetapi di mata Tuhan mreka tidaklah lebih dari orang yang bodoh. Bukan karena ia kaya di dunia tetapi karena ia tidak kaya di hadapan Allah, fokus kepada sisi yang salah. Dalam hidup ini kita akan banyak mendengar berbagai metode agar bisa cepat menjadi kaya. Tetapi ingatlah bahwa Yesus sudah menyampaikan tentang apa yang penting untuk menjadi fokus kita sebenarnya. Bukan soal kekayaan harta atau uang, tetapi soal kekayaan hubungan kita dengan Dia secara pribadi, dan bagaimana sukacita berlimpah yang akan kita peroleh dari hubungan itu sanggup mengubah karakter ketamakan kita menjadi orang yang penuh kasih dan murah hati.

Belajarlah untuk menjadi kaya di hadapan Allah dan bukan di dunia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 3, 2010

Langit dan Cakrawala

Ayat bacaan: Mazmur 19:2
====================
"Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya"

langit dan cakrawalaDuduk berkumpul bersama beberapa tetangga di teras membuat saya berkesempatan memandang langit di malam hari. Betapa indahnya. Lengkungan langit malam yang gelap dihiasi kerlap kerlip bintang dan bulan yang bersinar terang. Pemandangan langit di malam hari seperti itu bagi saya terasa sangatlah puitis. Saya pun tidak berhenti memandang ke atas dan bersyukur atas kebaikan Tuhan menciptakan segala sesuatu yang begitu indah seperti langit yang saya amati malam ini. Siang hari kita melihat langit yang cerah, dengan awan bagaikan kapas lembut terserak di sana, matahari yang bersinar cerah, dan beberapa burung terbang dengan gemulai di sekitarnya. Keindahan matahari terbit dengan warna lembut mulai menerangi cakrawala, atau keindahan matahari terbenam yang membawa keindahan tersendiri, yang seringkali sulit dilukiskan dengan kata-kata. Tidak jarang orang mau bersusah-susah pergi ke beberapa lokasi tertentu dimana mereka bisa menikmati keindahan matahari terbit dan terbenam ini seperti ke Bali atau puncak gunung Bromo misalnya. Itulah karya keagungan Tuhan yang sanggup berbicara mengenai kemuliaan Tuhan dengan caranya tersendiri.

Daud adalah sosok yang tampaknya suka mengamati keindahan alam dan menyadari betul kemuliaan Tuhan yang terpancar dari segala sesuatu yang Dia ciptakan dengan sangat baik. Beberapa kali Daud melakukan perenungan dari keindahan pemandangan alam yang ia nikmati lalu menuliskan apa yang ia rasakan setelah memandang semua itu. Dalam Mazmur 19 kita bisa melihat salah satunya. Mazmur Daud berkata "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya." (Mazmur 19:2). Daud menyimpulkannya singkat saja tetapi penuh dengan makna. Betapa keindahan langit sebenarnya mampu memberi gambaran tersendiri akan kemuliaan Allah dan cakrawala sanggup menceritakan hasil pekerjaan tangan Tuhan yang sangat artistik sebagai hasil dari Maestro teragung. Daud melanjutkan kata-katanya secara puitis: "hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam.Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi." (ay 3-5). Keindahan alam yang begitu luar biasa, baik siang ataupun malam adalah sesuatu yang bisa dinikmati semua manusia setiap saat di manapun kita berada, bahkan sampai ke ujung bumi sekalipun. Lewat langit, cakrawala, dan secara luas alam semesta, Tuhan berbicara mengenai keberadaan dan kemuliaanNya kepada semua manusia. Semua itu bisa kita saksikan, semua itu bisa kita lihat dan nikmati. Tapi berapa banyak orang yang mampu menyadari kemuliaan Tuhan dari apa yang ia lihat seperti Daud?

Kembali dalam Mazmur 104 kita mendapati perenungan Daud akan segala karya agung Tuhan lewat keindahan alam hasil ciptaanNya. Bacalah seluruh ayat di dalamnya maka anda akan merasakan sebuah perenungan yang sangat puitis dari Daud akan buah tangan Tuhan, sebuah bukti kemuliaanNya yang selalu bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata. Daud mengatakan "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (ay 31). Itulah seharusnya yang terjadi. Atas semua keindahan yang telah Dia ciptakan dengan sangat artistik, seharusnya Tuhan bersukacita atas itu. Tuhan sendiri sudah menugaskan kita sejak awal untuk berkuasa atas itu semua dan mengelolanya dengan baik. (Kejadian 1:28). Tetapi apa yang kita lakukan justru sebaliknya. Seringkali kita tidak menyadari keagungan Tuhan yang luar biasa ini dan bersyukur atasnya. Kita bukannya menjaga kelestarian keindahan alam tetapi malah merusaknya. Global warming menjadi masalah terbesar yang dialami manusia hari ini, dan itu semua adalah akibat dari kegagalan kita bertanggungjawab atas otoritas yang diberikan Tuhan untuk menjaga alam semesta yang telah Dia ciptakan dengan amat sangat baik. Seharusnya kita bersyukur, bertanggung jawab dan memuliakan Tuhan, membuatNya bersuka cita atas segala karyaNya yang istimewa, tetapi kita malah membuatNya berduka dengan segala sifat destruktif kita.

Keindahan alam di pagi hari adalah sebuah bentuk senyum Tuhan yang menyapa kita dengan penuh kasih setiap hari. Keindahan langit di malam hari bagaikan nyanyian selamat malam dari Tuhan yang akan membuat kita tidur dengan seuntai senyuman. Apakah kita sudah menanggapi sapaan Tuhan itu, mengingat Dia yang menciptakan segalanya dengan teramat sangat indah atau kita malah terus menjauh dan mengisi hidup kita dengan kebimbangan, keluh kesah, protes, kekecewaan dan sebagainya? Daud mengingatkan jiwanya untuk menyadari setiap keindahan yang diciptakan Tuhan. "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Sejauh mana kita merenungkan apa yang kita lihat saat ini seperti halnya Daud? Sejauh mana kita memuliakan Tuhan kembali atas segala yang telah Dia anugerahkan kepada kita? Sudahkah kita bersyukur ketika kita masih bisa menghirup udara yang segar di pagi hari, ditemani cahaya matahari dalam beraktifitas di siang hari, dan tidur berselimutkan langit penuh bintang di malam hari? Tuhan menyapa kita dengan semua itu, sudahkah kita menanggapinya dengan benar dan kembali menyapa Tuhan dengan penuh kasih pula?

Tangan yang sama yang dipakai Tuhan untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk, memberkati, melindungi dan menjaga kita. Segala keindahan langit, cakrawala dan alam semesta beserta isinya merupakan hasil ciptaan Tuhan yang akan bisa dinikmati umat manusia dimanapun mereka berada. Anda tinggal mengarahkan perhatian anda ke jendela, atau keluar dari pintu rumah anda, maka anda akan melihat betapa besar kemuliaan Tuhan menciptakan alam semesta yang indah ini. Apabila ada di antara teman-teman yang tengah mengalami pergumulan dengan keyakinan anda akan keberadaan Tuhan, pandanglah langit malam ini. Rasakanlah bagaimana langit yang indah itu berbicara banyak secara mengagumkan tentang kasih Allah pada kita, dan bebaskan diri anda untuk diarahkan kepada Maestro teragung, Sang Pencipta langit dan bumi beserta isinya.

Kemuliaan Tuhan terasa secara nyata lewat keindahan langit dan cakrawala ciptaanNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, November 2, 2010

Hanyut Dibawa Arus (2)

Ayat bacaan: 2 Petrus 3:17
====================
"Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh."

hanyut dibawa arusApa yang anda lakukan jika berhadapan dengan arus deras yang berbahaya? Selagi masih bisa, tentu kita akan sedapat mungkin menghindar sejauh-jauhnya. Tidak ada seorangpun yang mau dengan sengaja masuk ke dalam pusaran arus deras untuk kemudian binasa bukan? Tetapi ketika sudah terlanjur masuk terjebak ke dalam arus, kita akan berusaha mencari pegangan dengan segala daya upaya kita. Kita akan berusaha berpegang pada batang pohon, batu atau apapun yang cukup kuat untuk menahan laju badan kita untuk terhanyut. Jika tidak, pada suatu ketika kita tidak akan punya cukup tenaga lagi untuk melawan arus dan akhirnya menyerah terseret menuju maut.

Kemarin kita sudah melihat berbagai arus penyesatan yang berpotensi membinasakan diri kita apabila tidak kita waspadai atau cermati secara serius. Arus-arus penyesatan bisa muncul dari berbagai arah terlebih dalam dunia modern seperti sekarang ini sehingga jika tidak hati-hati, kita bisa menjadi hancur bukan karena kemauan kita sendiri melainkan karena hanyut terbawa arus. Hari ini saya akan membagikan Firman Tuhan mengenai cara menghindari arus-arus ini, atau apa yang bisa anda pegang agar bisa keluar dengan selamat dari pusaran arus yang membinasakan.

Yang pertama adalah dengan mengetahui dengan benar Firman Allah yang terkandung dalam Alkitab. Dalam surat Paulus kepada Timotius kita bisa membaca "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Alkitab berisi begitu banyak Firman Tuhan yang sangat bermanfaat dalam segala hal, termasuk seperti dikatakan dalam ayat ini untuk mendidik dalam kebenaran. Kita mungkin percaya akan hal itu, tetapi pertanyaannya, bagaimana mungkin kita bisa mengetahui kebenaran yang terkandung di dalamnya jika membaca saja kita malas? Akan sangat riskan bagi kita untuk bisa tetap berjalan lurus apabila kita tidak mengetahui apa yang diilhamkan Tuhan lewat berbagai tulisan di dalam Alkitab.

Yang kedua, kita harus pula mengenal suaraNya. Kita harus tahu kemana kita melangkah mengikuti Sang Gembala kita. Yesus mengatakan "Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya." (Yohanes 10:4). Yesus juga bersabda "Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku." (10:14). Pikirkanlah. Bukankah itu benar? Sosok gembala yang baik tentu mengenal domba-dombanya, dan sebaliknya domba-dombanya pun mengenal dia. Tuhan akan senantiasa berbicara kepada kita lewat banyak hal, seperti lewat bisikan dalam hati nurani kita yang bisa membuat kita merasa gelisah atau tidak tenang ketika sedang melakukan sesuatu yang salah, bisa pula lewat kejadian-kejadian, lewat orang lain, lewat pengalaman dan sebagainya. Kepekaan kita untuk mendengar suaraNya, pengenalan kita yang baik akan Dia, itu semua akan mampu membuat perbedaan nyata mengenai bagaimana kita hidup. Bahkan iman pun timbul dari pendengaran, seperti apa yang bisa kita baca dalam kitab Roma. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).

Satu hal lagi yang tidak boleh kita lupakan adalah keberadaan Roh Kudus yang telah dikaruniakan untuk tinggal diam dalam diri kita. Dengan memiliki Roh Kudus kita akan punya Penolong yang akan selalu membantu kita untuk mengajarkan, menasihati, mengingatkan dan menegur kita terhadap segala sesuatu yang kita hadapi dalam perjalanan hidup kita. Roh Kudus akan memampukan kita untuk bisa membedakan mana yang benar dan salah, sebab Roh Kudus sesungguhnya jauh lebih besar dari roh apapun dalam dunia ini. Lihatlah apa yang diingatkan Yohanes berikut: "Kamu berasal dari Allah, anak-anakku, dan kamu telah mengalahkan nabi-nabi palsu itu; sebab Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia." (1 Yohanes 4:4).

Ketiga hal ini merupakan pegangan yang penting untuk kita miliki dan lakukan agar kita bisa terhindar dari arus deras penyesatan yang akan selalu siap memangsa kita. Alangkah berbahayanya hidup ini jika kita membiarkan diri kita lemah tanpa pegangan apapun dalam menjalaninya. Penyesatan akan hadir dari segala arah dan selalu siap menyedot atau menyeret kita untuk masuk ke dalamnya, terlebih di jaman seperti sekarang yang sudah begitu maju. Maka sebuah pesan yang hadir ribuan tahun yang lalu masih sangat relevan untuk kita ingat sekarang. "Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya.Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh." (2 Petrus 3:17). Ketiga hal di atas pun kemudian terangkum dalam ayat selanjutnya "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (ay 18) Arus penyesatan baik yang kecil maupun besar akan selalu ada, namun bagaimana kita mampu menyikapinya, itulah yang akan membuat perbedaan, yang akan mampu membuat kita waspada sehingga terhindar dari arus-arus yang siap menghanyutkan ini.

Kita butuh pegangan agar bisa terhindar dari terseret arus yang membinasakan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 1, 2010

Hanyut Dibawa Arus (1)

Ayat bacaan: Ibrani 2:1
==================
"Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus."

hanyut dibawa arusUntuk kesekian kalinya saya membaca di koran mengenai anak kecil yang meninggal dunia karena terseret arus ketika mandi di sungai. Disamping banyak di antara mereka yang belum bisa berenang, secara fisik anak kecil pun masih lemah dan belum tahu bagaimana cara melawan arus. Jangankan anak kecil, orang dewasa sekalipun akan sulit melawannya jika mereka berada di dalam arus deras. Segala sesuatu yang lebih lemah di bandingkan sebuah arus tentu akan dengan mudah terseret olehnya. Anak-anak kecil yang malang ini tidak mengetahui bahaya yang bisa timbul akibat terseret arus. Mereka mungkin hanya ingin merasa senang bermain-main di sungai, tetapi ketidaktahuan mereka itu bisa menimbulkan malapetaka.

Dalam kehidupan ini kita pun akan banyak berhadapan dengan berbagai arus berbahaya. Betapa seringnya kita melihat atau mendengar orang-orang yang tadinya baik lalu berubah menjadi sesat karena terbawa pengaruh yang salah dari lingkungan pergaulan mereka. Kejatuhan anak-anak Tuhan seringkali terjadi bukan karena mereka sendiri ingin berbuat dosa, tetapi justru karena hanyut di bawa arus. Di akhir zaman seperti sekarang ini, berbagai arus penyesatan bisa tampil dari segala arah. Dari pertemanan, lingkungan, berbagai media seperti bacaan, televisi, internet, lagu-lagu dan sebagainya. Dan parahnya, seringkali arus penyesatan ini hadir samar-samar, tidak terlihat kasat mata sehingga kita tidak sadar ketika mulai terseret masuk di dalamnya. Jika kita membiarkan diri kita terus hanyut terseret arus seperti ini maka pada suatu ketika di saat kita sadar, bisa jadi kita sudah sulit melepaskan diri lagi. Maka banyak korban yang akan jatuh akibat terseret arus dalam kehidupan seperti ini, di mana banyak di antaranya adalah anak-anak Tuhan yang tadinya hidup kudus dan taat. 

Firman Tuhan mengingatkan benar akan hal ini. "Karena itu harus lebih teliti kita memperhatikan apa yang telah kita dengar, supaya kita jangan hanyut dibawa arus." (Ibrani 2:1). Hanyut terbawa arus sudah merupakan masalah yang dihadapi manusia sejak jaman dahulu sampai sekarang. Ketika kita lemah, maka akan sangat mudah bagi kita untuk terhanyut dalam berbagai kesesatan. Dan Alkitab mengingatkan kita agar terus berhati-hati terhadap kemungkinan seperti ini. Salah satu caranya adalah dengan benar-benar memperhatikan dengan teliti dan seksama akan segala sesuatu yang kita dengar, memiliki kemampuan memilah-milah mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, mana yang harus diterima dan ditolak dan sebagainya.

Seperti yang saya sebutkan di atas, ada banyak arus dalam dunia yang berpotensi menghancurkan kita. Dan Alkitab pun banyak mengingatkan akan hal ini. Arus penyesatan bisa timbul dari pertemanan yang salah. Hal seperti ini sudah sering kita lihat, bahkan mungkin sudah kita alami sendiri. Dan Tuhan mengingatkan "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut" (Amsal 1:10). Sesungguhnya ini pesan yang penting yang dihadirkan lewat Salomo. Sebagai orang paling berhikmat tentu ia sudah melihat adanya kecenderungan manusia untuk terjebak pada bujuk rayu orang lain. Salomo melanjutkan "Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka." (ay 15). Kaki orang berdosa digambarkan sedang "lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah" (ay 16), dan dengan demikian "mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri." (ay 18). Terseret arus seperti ini akan membawa kita masuk ke dalam situasi yang sama pula. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk tidak terjebak dan terseret dalam arus ini.

Selain dari lingkungan pertemanan, Alkitab pun mengingatkan kita agar waspada terhadap nabi-nabi palsu dengan ajaran-ajaran mereka yang sesat. Ini adalah arus kesesatan lain yang seringkali dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat seolah-olah baik, seolah-olah sejalan dengan firman Tuhan padahal orientasi atau dasarnya sangatlah jauh. Tuhan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita akan hal ini. "Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas." (Matius 7:15). Mereka bisa tampil seperti lurus dengan kemasan-kemasan yang mampu memperdaya kita. Ada begitu banyak ajaran berorientasi kepada kemakmuran, kesukesan, keberhasilan dan sebagainya yang terlihat seolah-olah benar namun semua itu ternyata bertentangan dengan Firman Tuhan. Terhadap hal seperti ini kita haruslah berhati-hati. Yesus pun memberikan cara bagaimana kita bisa membedakannya. "Dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka." (ay 16a).

Tidak hanya itu saja, sebenarnya ada banyak arus-arus lain yang bisa datang dari segala arah dan siap menghanyutkan kita. Berbagai arus ini siap menjanjikan banyak hal yang sepertinya membahagiakan dan nikmat, tetapi sebenarnya sedang mengarahkan manusia untuk lenyap dalam kenikmatannya. Hal ini sudah diingatkan oleh Yohanes. "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:17). Dunia akan cenderung mengarah kepada arus-arus seperti ini, tetapi bagi kita anak-anak Tuhan sudah diingatkan dengan jelas agar tidak ikut-ikutan terbawa arus. Sebuah firman Tuhan yang sudah sangat kita kenal wajib untuk kita ingat. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2)

Lewat Petrus Tuhan menasihatkan "Tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, kamu telah mengetahui hal ini sebelumnya. Karena itu waspadalah, supaya kamu jangan terseret ke dalam kesesatan orang-orang yang tak mengenal hukum, dan jangan kehilangan peganganmu yang teguh." (2 Petrus 3:17). Kita wajib waspada, karena kelemahan-kelemahan kita akan selalu siap untuk dimanfaatkan oleh si jahat untuk menyesatkan kita lewat berbagai arus penyesatan baik yang terlihat kasat mata maupun yang dikemas secara rapi. Apa yang harus kita lakukan bisa kita baca dalam ayat berikutnya. "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (ay 18).  Jangan bermain-main dengan arus penyesatan seperti apapun. Berhati-hatilah terhadap arus-arus yang siap menghanyutkan kita hingga binasa. Biasakan diri untuk teliti terhadap segala sesuatu yang kita dengar dan lihat agar kita terhindar dari bahaya seperti ini.

Teliti dan cermati segala sesuatu agar kita tidak mudah terbawa arus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...