Saturday, August 7, 2010

Pilih Sedih atau Tertawa?

Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

sedih atau tertawaMana lebih baik, bersedih atau bergembira? Saya yakin jika ini ditanyakan kepada orang, hampir semua jawaban akan memilih untuk bergembira. Saya coba tanyakan kepada seorang teman, dan ia menjawab "hanya orang bodoh yang lebih memilih untuk sedih." Tidak ada satupun orang yang mau berada dalam kesedihan dalam hidupnya. Kalau bisa hidup ini paling enak jika hanya berisi kegembiraan. Penuh canda tawa, tanpa masalah dari awal hingga akhir. Tetapi benarkah itu? Alkitab ternyata menyatakan justru sebaliknya. Dan ini bisa kita lihat dalam kitab Pengkotbah. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", yang berisikan beberapa hikmat esensial yang penting untuk kita ingat, salah satu ayatnya berbunyi kontroversial. "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3).

Bersedih itu dikatakan lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram akan membuat hati lega. Tidakkah ini terdengar aneh? Mungkin aneh bagi kita yang menganggap sebuah kesedihan itu hanyalah sesuatu yang menyiksa, tetapi sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita peroleh dibalik sebuah kesedihan. Dalam bahasa Inggris dikatakan "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ada sesuatu dibalik kesedihan yang bisa membuat hati kita lebih baik dan mampu beroleh sukacita. Demikianlah bunyi firman Tuhan mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar. Dan ayat ini sudah ditulis lewat orang yang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini, yaitu Salomo.

Jika kita membaca ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang berbunyi lebih aneh lagi. "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Dimana kita lebih suka berada? Di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi firman Tuhan berkata justru sebaliknya. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Ini mungkin sulit untuk kita terima jika tidak kita pikirkan. Tetapi marilah kita melihat mengapa kedua ayat ini lebih menganjurkan kita untuk bersedih dan berada di dalam rumah duka.

Apa yang kita pikirkan ketika pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari stal-stal disamping meja prasmanan yang penuh dengan sajian utama, musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa sebuah perenungan bagi kita, bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Life is short! Pemazmur menulis "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. That's it. Dibanding kehidupan kekal setelahnya sungguh sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk menabung demi kehidupan yang kita tuju selanjutnya. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang berada dalam keadaan senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan membawa perenungan bagi kita bahwa hidup ini sesungguhnya singkat, hanya bagai angin, hanya bagai bayang-bayang yang berkelebat. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.

Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

"To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan saya dan anda untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Firman Tuhan berkata "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita seharusnya bersyukur bukan hanya ketika semua baik-baik saja, tetapi juga ketika kita sedang mengalami sebuah kesedihan. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika waktu untuk tertawa datang kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam "musim" sedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah untuk itu.

Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan

Friday, August 6, 2010

Rela Repot

Ayat bacaan: Kejadian 6:22
=======================
"Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya."

rela repotMenyusun perencanaan sebuah pabrik tidaklah gampang. Itu kalau kita mau mendesain sebuah pabrik yang baik. Seperti itulah pelajaran yang saya dapat dulu ketika masih kuliah. Berbagai bagian yang ada dalam sebuah pabrik harus didesain tata letaknya sedemikian rupa dengan memikirkan efisiensi, kemudahan, kesehatan dan sebagainya. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan dan itu tidak mudah, karena ada bagian yang harus berdekatan sebaliknya ada pula yang harus berjauhan. Faktor kemungkinan pengembangan pabrik pun harus dipikirkan ketika menyusun tata letak ini. Bisa saja pabrik itu dibangun asal-asalan, namun untuk ke depannya tentu akan menyusahkan dan merugikan. Dalam banyak aspek kehidupan kita pun demikian. Seringkali kita harus repot terlebih dahulu untuk bisa memperoleh hasil yang terbaik. Akan selalu ada perbedaan antara sesuatu yang dilakukan seadanya dengan sesuatu yang dibuat dengan pertimbangan matang dan serius. Keinginan manusia tentu bisa mendapatkan yang sebaik-baiknya dengan kerepotan yang seminim-minimnya, tetapi hidup tidaklah seperti itu dan dari segi kerohanian pun tidak demikian.

Meski Tuhan bisa memberi kita segala sesuatu dengan instan, Tuhan sering menunjukkan bahwa Dia tidaklah suka dengan hal yang demikian. Mengapa? Sebab biasanya sesuatu yang instan itu biasanya tidak mendidik. Easy come, easy go, begitu biasanya kita menggambarkannya. Apa yang direncanakan Tuhan bagi kita adalah yang terindah baik buat hidup saat ini hingga kehidupan kekal kelak, semua sudah Dia sediakan buat kita. Tetapi untuk mencapainya kita harus berusaha sungguh-sungguh terlebih dahulu. Rela repot untuk mencapai sebuah tujuan yang terbaik, untuk memperoleh apa yang telah direncanakan Tuhan buat kita. Paulus mengingatkan kita "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Latihan. Itu adalah sebuah proses yang memakan waktu dan memerlukan usaha serta ketekunan. Kita perlu melatih diri agar disiplin beribadah. Untuk bisa taat pun kita memerlukan latihan. Dengan kata lain kita seringkali harus repot terlebih dahulu untuk mencapai tujuan. Berakit-rakit ke hulu berenang-renang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Itu kata pepatah.

Mari kita lihat sejenak kisah mengenai Nuh. Tuhan memerintahkan Nuh untuk membuat bahtera alias kapal besar dengan ukuran yang Dia berikan secara rinci seperti yang bisa kita lihat dalam Kejadian 6:14-16. Itu tidak gampang, apalagi sepertinya tidak seorang pun pada masa itu yang pernah melihat sebuah kapal besar. Nuh membangunnya di atas bukit bukan di pantai, itu artinya dia pun harus siap menanggung ejekan, tertawaan atau cemoohan dari orang-orang yang melihatnya membangun sesuatu yang sangat aneh. Jika sampai di situ saja sudah berat, tengoklah perintah Tuhan lainnya. "Dan dari segala yang hidup, dari segala makhluk, dari semuanya haruslah engkau bawa satu pasang ke dalam bahtera itu, supaya terpelihara hidupnya bersama-sama dengan engkau; jantan dan betina harus kaubawa. Dari segala jenis burung dan dari segala jenis hewan, dari segala jenis binatang melata di muka bumi, dari semuanya itu harus datang satu pasang kepadamu, supaya terpelihara hidupnya. Dan engkau, bawalah bagimu segala apa yang dapat dimakan; kumpulkanlah itu padamu untuk menjadi makanan bagimu dan bagi mereka." (ay 19-21). Nuh harus mengumpulkan sepasang dari segala jenis hewan yang ada di bumi, memasukkan semuanya ke dalam bahtera, serta mengumpulkan makanan yang cukup untuk dia beserta keluarganya dan untuk semua hewan-hewan dalam kapal. Bisakah anda bayangkan bagaimana repotnya semua ini untuk dilakukan? Ini sebuah pekerjaan yang rasanya mustahil untuk bisa kita lakukan. Tapi lihatlah ketaatan Nuh. Jelas dikatakan dalam alkitab: "Lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya, demikianlah dilakukannya." (ay 22). Nuh melakukan semuanya TEPAT seperti yang diperintahkan Allah. Tidak peduli bagaimana sulitnya, tidak peduli bagaimana beratnya, Nuh tidak bersungut-sungut atau mengeluh. Dia melakukan tepat seperti apa yang digariskan Tuhan. Luar biasa. Tidaklah heran jika Nuh dinyatakan sebagai seorang yang "mendapat kasih karunia di mata Tuhan" (ay 8) dan disebut sebagai "seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (ay 9).

Mungkin mustahil bagi kita, tetapi ternyata tidak bagi Nuh. Dia tahu ada sebuah agenda penting yang disediakan Tuhan baginya, sebuah misi besar, dan dia pun tahu bahwa dalam segala kerepotan yang ia hadapi selama menunaikan perintah itu Tuhan pun akan selalu menyertai dia. Maka Nuh pun melakukan semuanya tepat seperti yang diperintahkan Allah kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana ia dan keluarganya diselamatkan dari air bah yang menelan habis semua yang hidup dan bernyawa di kolong langit. Kelak Penulis Ibrani pun mencatat ketaatan Nuh ini sebagai sebuah keteladanan iman. "Karena iman, maka Nuh--dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan--dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya." (Ibrani 11:7).

Seringkali kita hanya ingin mendapatkan sesuatu dengan instan tanpa perlu berusaha apa-apa. Sangat sulit bagi kita untuk keluar dari comfort zone alias zona kenyamanan kita tetapi kita mau memperoleh segala sesuatu yang terbaik. Kita berkata mau mengikuti keinginan dan rencana Tuhan, tapi kita tidak mau repot. Tidak bisa demikian. Jika kita terus mengembangkan sikap seperti ini kita tidak akan pernah bisa menjadi seorang yang memperoleh kasih karunia di mata Tuhan seperti halnya Nuh. Kita pun tidak akan bisa mendapatkan penggenapan janji-janji dan rencana besar yang telah Tuhan sediakan bagi kita masing-masing. Untuk mengikuti perintah Tuhan kita harus rela repot. Tetapi ingatlah bahwa apa yang Dia sediakan di depan itu pastinya jauh lebih besar nilainya ketimbang segala usaha yang harus kita lakukan terlebih dahulu. Bukan hanya Nuh, tetapi Musa dan bangsa Israel, Abraham dan banyak nabi-nabi lainnya pernah mengalami tempaan Tuhan seperti ini. Harus rela repot dan keluar dari zona nyaman untuk menerima janji Tuhan. Bahkan misi yang dijalankan Yesus sesuai kehendak Allah pun sama sekali tidak mudah bukan? Tapi Yesus taat menjalankan semuanya tepat seperti apa yang dikehendaki Allah, meski sangat berat, dan lewat itulah kita bisa menjadi siapa diri kita hari ini.

Apakah anda sedang menghadapi sesuatu yang sangat merepotkan hari ini demi memenuhi sebuah panggilan dari Tuhan? Jika ya, bersyukurlah karena itu artinya ada sesuatu yang besar sedang menanti anda di depan. Jalani semuanya dengan ketaatan dan kepercayaan penuh, dan jangan bersungut-sungut atau mengeluh. Pakai masa-masa repot itu untuk belajar banyak hal. Lakukanlah TEPAT seperti apa yang digariskan Tuhan kepada anda, dan kelak dapatkan berkat TEPAT seperti apa yang direncanakan Tuhan untuk anda sejak semula. "Hiduplah sebagai anak-anak yang taat.." (1 Petrus 1:14). Ketaatan tidak akan pernah sia-sia, segala upaya dan kesulitan yang kita tempuh saat ini tidak akan pernah sia-sia. Dengarkan jelas suaraNya, pahami panggilanNya dan percayalah dengan melakukan segalanya seperti yang telah Dia perintahkan. Kelak anda akan bersyukur karena telah taat melakukan tepat seperti apa yang Tuhan perintahkan.

Kita harus rela repot jika mau mengikuti kehendak Tuhan

Thursday, August 5, 2010

Patah Hati

Ayat bacaan: Mazmur 147:3
=========================
"Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka;"

patah hatiPatah hati bagi kebanyakan dari kita merupakan salah satu kenyataan yang paling pahit dan paling menyakitkan. Tidak gampang memang untuk menghadapi kenyataan berakhirnya sebuah hubungan cinta yang mungkin sudah terjalin sekian lama. Ada banyak perasaan, memori indah di masa lalu yang akhirnya harus berakhir. Ada banyak harapan dan impian yang kandas di tengah jalan. Apalagi jika sebuah hubungan itu berakhir dengan tidak baik-baik. Rasa sakit hati pun mungkin bisa menetap di dalam diri kita, menorehkan luka hingga waktu yang lama. Tidak jarang pula hal ini membuat harga diri yang mengalaminya terhempas, anjlok dalam sekejap mata. Bumi seakan jungkir balik, kita merasa tidak lagi punya semangat untuk melakukan apapun. Luka-luka yang timbul dari patah hati akibat putusnya hubungan cinta memang sangat menyiksa dan tidak akan mudah dilupakan. Ada orang yang hidupnya hancur selama bertahun-tahun, sulit untuk memulai hubungan lagi dan hidup diliputi kesedihan dan kekecewaan hingga puluhan tahun. Sebagian akan lari kepada obat-obatan untuk mengurangi keperihan akibat lukanya. Ada pula yang tidak tahan lagi terhadap rasa sakit dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seorang teman yang baru saja mengalami patah hati berkata bahwa luka itu menimbulkan goresan-goresan tajam di hatinya yang setiap saat begitu menyiksa. Semua ini menunjukkan bahwa luka yang ditimbulkan dari patah hati memang parah.


Jika di antara teman-teman ada yang mengalami masalah yang sama hari ini, ayat bacaan hari ini mudah-mudahan dapat memberikan sebuah kekuatan baru. Tidakkah melegakan bagi kita ketika mengetahui bahwa Tuhan tahu persis bagaimana rasa sakit yang ditimbulkan dari patah hati? Dan bukan itu saja, Tuhan bahkan berjanji untuk menyembuhkan dan membalut luka-luka ini secara langsung dengan tanganNya sendiri. Setidaknya kita akan tahu, bahwa kita tidak sendirian untuk menghadapinya. "Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka." (Mazmur 147:3). Tuhan siap membantu dan merawat anda hingga pulih seperti sediakala!

Dalam keadaan seperti apapun Tuhan sebenarnya selalu menyertai kita. Hidup ini memang tidak akan pernah 100% tanpa masalah. Selalu saja ada tekanan-tekanan dan rasa sakit dalam hidup kita, yang jika tidak kita sikapi dengan baik akan mampu meruntuhkan kita dalam sekejap mata, setiap saat. Tapi kabar baiknya, Tuhan tidak akan pernah membiarkan kita mengalami itu semua sendirian! Karena itu kita tidak perlu takut. Rasa sakit memang pasti akan kita alami, namun dengan pertolongan Tuhan kita pasti akan diteguhkan dan dipulihkan. Demikian bunyi firman Tuhan: "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10). Dalam kesempatan lain firman Tuhan berbunyi: "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Tuhan telah berjanji berulang-ulang bahwa Dia tidak akan pernah membiarkan kita berjalan sendirian di tengah kecamuk perasaan dan kehancuran hati. Dia siap untuk hadir dan memberikan pertolongan, membalut luka kita dan menjagai kita hingga sembuh.

Jika di antara teman-teman ada yang mengalami rasa sakit yang tidak terperikan akibat patah hati hari ini, janganlah melakukan tindakan gegabah yang bisa menghancurkan hidup menuju kebinasaan. Sebaliknya, datanglah kepada Tuhan dengan membawa hati kita yang tengah tergores-gores parah dengan luka menganga di mana-mana. Curahkan semua perasaan anda di hadapanNya, dan mintalah pertolonganNya, maka Tuhan sendiri yang akan membalut luka-luka itu satu persatu dan dengan telaten merawat kita hingga sembuh. Saya sendiri pernah mengalami hal ini, bahkan sudah beberapa kali. Saya tahu persis bagaimana sakitnya. Namun seperti janji Tuhan, saya tidak perlu harus mengambil jalan-jalan yang salah untuk mengurangi rasa sakit tersebut, dan pada saatnya Tuhan benar-benar memulihkan diri saya, tepat seperti perkataanNya. Jika ini berlaku buat saya, mengapa tidak buat anda? Satu sisi positif yang saya dapat sebagai pelajaran adalah, justru di saat sakit seperti itulah saya bisa mengalami langsung bagaimana luar biasanya kuasa Tuhan dalam menyembuhkan kita dari luka parah akibat patah hati ini. Malam ini datanglah kehadapanNya dan bawa hati kita yang tengah luka, dan alamilah secara langsung bagaimana Tuhan sanggup memulihkan apa yang menurut anda tidak lagi mungkin bisa disembuhkan.

Tuhan peduli dan selalu siap menyembuhkan luka-luka yang timbul akibat patah hati

Wednesday, August 4, 2010

Motivasi dalam Mencari Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 6:24
======================
"Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus."

mencari Yesus, motivasi terselubungSiapa yang kita cari ketika kita sakit? Biasanya orang akan segera mencari dokter, atau setidaknya mencari orang tuanya, keluarga dan sebagainya yang dianggap bisa menyembuhkan atau setidaknya meringankan sakit yang tengah diderita. Seorang dokter pernah sambil tertawa berkata kepada saya bahwa ia memang sering dicari orang, namun itu karena orang memerlukan pertolongannya dan bukan karena merindukannya. Di kalangan teman-teman pun demikian. Teman bisa banyak, tapi sahabat biasanya terbatas jumlahnya. Ada banyak orang yang mengaku dirinya sebagai teman tapi hanya mendatangi kita ketika mereka memerlukan bantuan. Jika tidak, maka merekapun melupakan kita.

Ayat bacaan hari ini bercerita tentang banyak orang yang mencari Yesus. Ketika mendapati bahwa Yesus dan murid-muridNya tidak lagi berada di sana, mereka pun bergegas pergi mencari Yesus dengan naik ke perahu-perahu mereka dan menuju ke Kapernaum, dimana Yesus diduga tengah berada. "Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus." (Yohanes 6:24). Kenapa mereka sampai sibuk mencari Yesus? Tentu ada sesuatu yang membuat mereka tertarik kepada Yesus. Mereka sudah menyaksikan sendiri bahwa Yesus bukanlah manusia biasa seperti mereka. Mereka tahu Yesus sanggup melakukan berbagai mukjizat, termasuk yang belum lama mereka alami sendiri ketika Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan, yang tercatat dalam beberapa perikop sebelumnya. (Yohanes 6:1-15). Kini setelah Yesus berangkat ke seberang danau, mereka pun bergegas mencari Yesus. Setelah sampai di seberang, mereka pun bertemu dengan Yesus disana. Tapi apa kata Yesus kepada mereka? "Yesus menjawab mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang." (ay 26). Perhatikan bahwa Yesus menegur mereka karena motivasi mereka untuk mencari Yesus sesungguhnya salah. Mereka bukan mencariNya karena mengerti apa maksud di balik segala mukjizat dan keajaiban yang dilakukan Yesus, tetap karena mereka hanya membutuhkan pertolongan semata. Bukan karena mereka ingin mengenal pribadi Yesus sesungguhnya, bukan karena mereka peduli terhadap Yesus, namun semata-mata karena mereka ingin kebutuhan mereka dipenuhi.

Tidak sedikit di antara kita yang rajin mencari Yesus. Mencari Yesus itu tentu baik. Tapi itu hanya baik jika didasari motivasi yang benar. Kenyataannya banyak orang yang akhirnya sibuk mencari Yesus bukan karena mengalami pertobatan yang sesungguhnya atau ingin hidupnya diperbaharui namun karena kita mempunyai daftar panjang permintaan yang ingin dipenuhi. Maksud-maksud terselubung seperti ini sesungguhnya tidaklah menjadi dasar yang baik untuk mencari Yesus. Ada orang yang mencari Yesus karena bisnisnya bangkrut, sedang sakit, ingin mendapatkan jodoh, terlilit masalah dan sebagainya. Tidak jarang pula yang menjadikan Yesus sebagai pintu gerbang pertolongan terakhir, ketika semua usaha dan daya upaya yang dilakukan semuanya mentok. Siapa tahu Yesus bisa menolong, begitu pikir mereka. Yesus jelas lebih dari sanggup melakukan mukjizat dan memberikan apa yang kita inginkan. Memang firman Tuhan berkata "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu. Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan." (Matius 7:7-8). Tapi janganlah motivasi kita untuk mencari Yesus semata-mata didasarkan kepada keinginan meminta sesuatu. Kenyataannya ada banyak orang yang segera meninggalkan Yesus setelah apa yang mereka telah dipulihkan dan segera kembali kepada kehidupan mereka yang lama.

Ayat bacaan hari ini mengingatkan kita untuk kembali memeriksa motivasi kita untuk mendatangi Yesus. Pastikan bahwa kita tidak memiliki motivasi-motivasi terselubung dalam mencari Dia, dan mendasarkannya pada kerinduan dan kasih kita yang mendalam kepada Kristus. Daud dulu pernah mengingatkan anaknya Salomo akan hal ini. Daud berkata: "Dan engkau, anakku Salomo, kenallah Allahnya ayahmu dan beribadahlah kepada-Nya dengan tulus ikhlas dan dengan rela hati, sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita. Jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membuang engkau untuk selamanya." (1 Tawarikh 28:9). Beribadah dengan tulus, ikhlas dan rela hati itu penting. Bukan dengan selubung daftar permintaan tetapi karena kita memang mengasihiNya dan merindukanNya untuk tinggal di dalam kita. Hari ini marilah kita datang kepada Yesus dengan motivasi yang benar, sehingga Tuhan yang memeriksa isi hati kita akan berkenan untuk ditemui.

Carilah Yesus karena kita mengasihiNya dan rindu untuk melakukan apa yang menjadi kehendakNya

Tuesday, August 3, 2010

Lebih Baik Bersyukur

Ayat bacaan: Roma 12:18
=======================
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

lebih baik bersyukurMake the world as a better place. Impian menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih nyaman pasti menjadi impian semua orang. Kita menyesalkan berbagai peperangan, perselisihan, pertikaian yang terjadi di mana-mana, sementara kita lupa bahwa kita pun sebenarnya punya andil yang tidak kalah penting dalam membuat dunia ini menjadi lebih nyaman atau semakin buruk untuk ditinggali. Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak berperang dengan orang lain? Mungkin kita tidak sedang berperang melawan orang, itu benar, tapi secara tidak sadar kita seringkali dengan mudahnya memupuk kebencian terhadap orang lain. Kita mudah marah dan gampang mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan caci maki, menghujat atau mengomentari orang lain dengan sinis. Kita mudah untuk merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, bahkan tidak sedikit orang yang berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya sendiri. Alasan stres kerja, tekanan di kantor dan sebagainya bisa jadi dipakai sebagai alasan pembenaran tindakan yang sama sekali tidak baik ini. Kita lebih mudah mengkritik ketimbang memuji. Kita lebih mudah untuk sinis ketimbang dengan tulus mengakui kelebihan orang lain. Jika demikian, bagaimana mungkin kita bisa memimpikan sebuah tatanan dunia yang ramah, damai dan penuh kasih, jika kita sendiri tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu?

Sesungguhnya pesan Tuhan begitu jelas bagi kita. Apapun alasannya, kita selalu dianjurkan untuk berdamai. Dan ini berlaku untuk kita jalankan kepada siapapun tanpa terkecuali. Firman Tuhan berkata: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Dengan semua orang. Bukan hanya kepada saudara/saudari seiman, tetapi semua orang, termasuk dengan orang yang berbeda, orang yang sulit, bahkan orang yang menyinggung atau menyakiti kita sekalipun. Karena berdamai dengan orang baik tentu gampang, tapi untuk bisa tetap menjaga perdamaian dengan orang yang sulit untuk diajak akur, itulah yang sulit, dan justru itu yang harus mampu kita lakukan. Mengapa demikian? Sebab tidak ada tempat bagi pemarah, pendendam, sirik, iri hati dan hal-hal jeleknya dalam kasih, hal esensial yang menjadi inti dasar dari kekristenan. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7).

Dalam Efesus kita menjumpai firman Tuhan yang berbunyi: "Demikian juga perkataan yang kotor, yang kosong atau yang sembrono--karena hal-hal ini tidak pantas--tetapi sebaliknya ucapkanlah syukur." (Efesus 5:4). Ya, bukankah jauh lebih baik bagi kita untuk mengucap syukur ketimbang mengeluarkan kata-kata sia-sia atau hujatan, cacian dan makian? Harus kita sadari bahwa memang dari mulut yang sama bisa keluar keduanya. Dan Alkitab dengan tegas mengingatkan kita bahwa apa yang keluar dari mulut kita berasal dari hati. "Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya." (Lukas 6:45). Dalam kesempatan lain Yesus kembali berkata: "Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang." (Matius 15:18). Oleh karena itulah untuk mencegah diri kita untuk terus dikuasai kebencian, iri hati dan emosi, kita harus mampu menjaga hati kita. Mengucap syukur, menaikkan pujian kepada Tuhan, akan membuat hati kita senantiasa dalam kondisi sejuk sehingga yang keluar dari mulut kita pun bukan lagi hal-hal jelek yang mampu membuat kita semakin jauh dari kata damai terhadap orang-orang di sekeliling kita.

Jika diantara kita ada yang terbiasa untuk berbicara kasar, membiarkan diri dikuasai kebencian dan iri hati, mulailah mengubah kebiasaan itu sekarang juga. Bila ada orang yang menyakiti, merugikan atau merintangi anda di kantor, di sekolah atau di mana saja, dan itu mulai membuat anda tergoda untuk segera mencabik-cabik mereka, mengumpat dengan kata-kata kasar atau mendendam, segera kuasai diri anda. Luangkan waktu sesegera mungkin untuk mengucap syukur dan memuji Tuhan. Segera pikirkan segala kebaikan Tuhan. Segera penuhi hati anda dengan ucapan syukur, dan itu akan selalu mampu membuat anda tenang kembali dan terhindar dari kebencian kepada siapapun, termasuk kepada orang yang menyakiti anda secara langsung. Adalah penting bagi kita untuk terus menjaga hati kita agar tetap dalam kondisi yang tepat di mata Tuhan. Tidak heran jika pesan Paulus pun mengingatkan hal ini. "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur." (Kolose 4:2). Mari kita senantiasa melatih lidah kita untuk menaikkan pujian, mengisi hati kita selalu dengan kebaikan Tuhan yang mampu membuat mulut kita mengeluarkan ucapan syukur dalam situasi dan kondisi apapun. Hidup berdamai tidak akan sulit lagi bagi kita, meski ketika berhadapan dengan orang-orang yang luar biasa sulit sekalipun. Ingin dunia menjadi tempat tinggal yang nyaman? Mulailah dari diri kita sendiri.

"Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18)

Monday, August 2, 2010

Menanam Benih

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:23
=======================
"Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal."

menanam benihBetapa sulitnya bagi saya dahulu untuk membiasakan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan. Dalam banyak kesempatan, saya mendapati diri saya tertidur ketika sedang membaca alkitab. Tapi itu dulu. Saat ini saya tidak melewatkan satu hari pun untuk membaca firman Tuhan karena ada begitu banyak janji bahkan rahasia yang terdapat di dalamnya yang teramat sangat berguna untuk menjalani hidup. Alangkah sayangnya jika satu hari terlewatkan tanpa firman Tuhan. Kita akan sangat sulit untuk bergairah mendalami firman Tuhan sebelum kita menyadari bahwa sesungguhnya firman Tuhan itu lebih dari sekedar kumpulan janji yang diilhami Tuhan sendiri. Firman Allah sesungguhnya mengandung kuasa yang mampu membuat segala janji itu menjadi kenyataan dan hidup di dalam diri kita.

Firman itu bagaikan benih yang ditanam di dalam diri kita, yang pada suatu ketika akan menghasilkan buah yang berlipat ganda banyaknya, bahkan lebih dari yang sanggup kita pikirkan. Sulitkah mempercayai itu? Mari kita sederhanakan dengan sebuah analogi sederhana.

Tetangga saya beberapa waktu yang lalu menanam biji mangga. Dari tiga biji mangga itu, satu ternyata berhasil tumbuh. Kemarin ia dengan bangga memperlihatkan bahwa biji yang ia tanam itu sudah menghasilkan beberapa helai daun dan batang yang masih kecil. Sulitkah bagi kita untuk mempercayai bahwa dari sebuah biji mangga ternyata ada kuasa untuk menghasilkan batang yang kelak jauh lebih besar dari biji itu sendiri? Tentu tidak sulit bukan? Dari biji itu nantinya akan muncul batang yang tinggi dan besar, lengkap dengan dedaunan dan akar yang panjang menembus bumi, berikut buah mangga yang subur. Itu tidak akan sulit untuk diterima akal bukan? Kita dengan mudah bisa mengetahui bahwa meskipun biji mangga itu tidak tampak seperti sebuah pohon mangga yang besar saat ini, jika diberi lingkungan hidup yang tepat, tanah yang baik dan dipupuk/disiram/dijaga dengan teratur, maka pada suatu saat nanti akan menjelma sebuah pohon mangga yang subur dan rimbun dengan hasil berlipat-lipat kali banyaknya.

Seperti itulah firman Tuhan bekerja. Ada kuasa mukjizat di dalamnya. Ada banyak berkat dan janji Tuhan yang siap bertumbuh subur berlipat-lipat lewat benih firman yang mulai kita tanam dari sekarang. Petrus bahkan mengatakan bahwa kita dilahirkan kembali bukanlah dengan sembarang benih, tapi dari benih yang kekal, yaitu dari firman Tuhan. "Karena kamu telah dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana, tetapi dari benih yang tidak fana, oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal." (1 Petrus 1:23). Lebih lanjut ia menambahkan "Sebab: "Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya." Inilah firman yang disampaikan Injil kepada kamu." (ay 24-25). Apa yang ia sampaikan mengacu kepada kitab Yesaya 40:7-8. Firman yang kita tanam saat ini mungkin belum terlihat sebagai sesuatu yang nyata, tetapi benih itu akan terus bertumbuh dan berbuah jika kita menjaganya dengan baik dalam diri kita. Firman Allah itu hidup, dan bukan hanya hidup tapi juga kekal sifatnya.

Yesus sendiri menggambarkan perihal ini dalam Perumpamaan tentang penabur dalam Matius 13:1-23. Benih itu akan mampu hidup jika jatuh di tanah yang baik, bukan di pinggir jalan (ay 4), di tanah berbatu-batu (ay 5-6) atau semak duri (ay 7). "Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (ay 8). Perumpamaan ini mengarah pada kesimpulan seperti ini: "Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat." (ay 23). Firman itu jelas adalah benih, yang hidup dan kekal. Masalahnya adalah apakah kita mau mulai menanam benih itu, dan kemana benih itu akan mendarat. Jika benih itu kita taburkan di tempat yang baik, maka jelas benih itu akan mampu menghasilkan buah berlipat ganda. Semua tergantung keputusan kita hari ini.

Ketika kita membaca firman dan merenungkannya, kita bukan hanya sekedar membaca saja, melainkan kita tengah menanam benih-benih. Benih perlindungan, benih keselamatan, benih kemakmuran, benih kesehatan, benih kemenangan dan sebagainya dalam kehidupan kita, semua itu siap untuk berbuah berlipat kali ganda jika kita mulai menaburnya di tanah yang baik. Semua benih itu siap untuk menjadi berkat dalam segala segi kehidupan kita. Berhentilah menganggap bahwa Alkitab sebagai sebuah buku biasa. Alkitab itu bukan buku. Itu adalah sebuah benih rohani yang mengandung kuasa luar biasa yang mampu menghasilkan panen seumur hidup. Karena itu marilah kita mulai membaca janji-janji Tuhan hari ini. Mulailah menanam, dan bersiaplah untuk memetik buahnya kelak secara berkelimpahan.

"Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah." (Matius 4:4)

Sunday, August 1, 2010

Miskin, Kaya dan Cukup

Ayat bacaan: Amsal 30:8
===================
"Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku."

Berorientasi kepada kekayaan merupakan gaya hidup banyak orang. Rasanya tidak ada satupun orang yang menginginkan hidup miskin, serba kekurangan dan terus kesulitan dalam memenuhi biaya hidup yang terus semakin tinggi. Tapi di sisi lain, sebuah status kekayaan akan dengan mudah menjerumuskan kita ke dalam rasa kepuasan berlebihan yang malah bisa membuat kita lupa kepada Sang Pemberi, lalu kemudian lupa bahwa semua itu dia sediakan bukan untuk ditimbun melainkan untuk dipakai untuk memberkati saudara-saudara kita yang lain.

Lalu pertanyaan berikut, apakah jika demikian kita tidak boleh untuk menjadi kaya? Tidak juga, karena Tuhan sendiri menjanjikan kita sebuah kehidupan yang berkelimpahan. Tetapi seharusnya kekayaan itu hadir ketika kita sudah benar-benar siap untuk menerimanya. Arti siap disini adalah sudah mengetahui terlebih dahulu dengan benar untuk apa sebenarnya Tuhan memberkati kita dan untuk apa semuanya itu seharusnya dipakai, lalu siap untuk melakukan sesuai dengan kehendak Tuhan. Sebab Yesus berkata: "Karena siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya." (Matius 13:12). Mempunyai apa? Dalam versi bahasa Inggris dikatakan mempunyai "spiritual knowledge", pengetahuan dan pemahaman yang benar akan maksud Tuhan. Inilah yang mampu membuat kita tetap taat dan setia dalam kondisi apapun, termasuk ketika harta kekayaan hadir dalam diri kita. Inilah yang memampukan kita untuk tidak terjatuh dan tersesat karena silaunya gelimang harta. Kita perlu hikmat dari Tuhan agar bisa tetap berada dalam rel yang benar agar tidak rusak oleh kekayaan.

Ada sebuah doa yang bagus dalam Amsal mengenai hal ini. "Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku." (Amsal 30:7-8). Mari kita fokus kepada hal kedua dalam doa ini, yaitu jangan berikan kemiskinan dan kekayaan, tetapi berilah apa yang menjadi bagianku. Alasan dari permohonan ini ada di ayat selanjutnya. "Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama Allahku." (ay 9). Sesungguhnya ini penting, karena Tuhanlah sebenarnya yang tahu sampai dimana kemampuan dan kapasitas kita untuk menerima sesuatu. Jangan sampai kita menderita miskin lalu sulit untuk melakukan firman Tuhan, di sisi lain jangan sampai kekayaan membuat hubungan kita malah rusak dengan Tuhan. Apa yang baik adalah sesuai dengan takaran Tuhan, bukan takaran kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan, Dia jauh lebih mengenal diri kita, oleh karena itu yang terbaik adalah menyerahkan keputusan ke dalam tangan Tuhan.

Alkitab pun banyak berbicara mengenai hal ini dalam ayat-ayat lain. Lihatlah bagaimana doa yang diajarkan Tuhan Yesus juga berisikan pesan yang sama. "Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya." (Matius 6:11). Secukupnya. Lalu kita mungkin bertanya, seberapa cukupkah secukupnya itu? Masing-masing orang mungkin memiliki standar yang berbeda mengenai kata cukup. Cukup untuk jalan-jalan? Cukup untuk beli mobil mewah, rumah gedung? Tetapi Alkitab kemudian menuliskan seperti ini: "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Makanan dan pakaian, itulah kebutuhan paling mendasar dalam hidup manusia, sehingga seharusnya jika keduanya sudah terpenuhi, itu sudah cukup untuk mendatangkan rasa syukur. Jika tidak menyadari hal ini maka kita pun akan lupa bersyukur dan akan terus hidup penuh dengan rasa tidak puas. Lalu yang terjadi kemudian: "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." (ay 9). Kebinasaan, itu bisa menjadi ujung akhir ketika kita berorientasi kepada kekayaan.

Oleh sebab itulah yang terbaik bagi kita adalah membiarkan Tuhan yang menentukan seberapa banyak yang sebaiknya kita terima. Tuhan bisa memberikan segalanya hingga berkelimpahan, namun sanggupkah kita menerimanya tanpa kemudian menjadi rusak? Mampukah kita tetap bersyukur dan mempergunakannya lebih lagi untuk memberkati sesama, atau kita malah terjebak kepada ketamakan untuk terus mengejar lebih banyak lagi demi kepentingan diri sendiri? Belajarlah untuk bersyukur dalam segala keadaan. Rasa terus kekurangan akan membuat kita melupakan segalanya kecuali terus mengejar harta. Kita akan lupa membangun hubungan dengan Tuhan, kita tidak akan ingat lagi untuk bersyukur. Jika Alkitab sudah mengatakan bahwa makanan dan pakaian itu sudah cukup, bukankah itu seharusnya sudah mampu membuat kita bersyukur? Saya sendiri tidak mau memfokuskan diri kepada mengejar kekayaan, dan akan selalu menjaga diri dengan sungguh-sungguh agar tidak tergiur kepadanya. Bagi saya, penyertaan Tuhan dalam hidup adalah jauh lebih penting. Dia akan selalu tahu apa yang saya butuhkan, Dia sudah berjanji untuk mencukupi semuanya itu, dan itu jauh lebih penting ketimbang hal lainnya. Itulah yang akan mampu membuat kita selalu dipenuhi rasa syukur dan tidak membuat ibadah kita sia-sia tanpa makna. "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (1 Timotius 6:6). Biarlah Tuhan yang menentukan seberapa besar kita layak terima, dengan besar yang cukup sesuai kapasitas kita dan tidak sampai membuat kita lupa diri dan lupa kepadaNya. Tuhan tahu seberapa jauh kita bisa dipercaya, dan hendaklah kita mengisi doa-doa kita seperti doa yang diajarkan Tuhan Yesus dan doa dalam Amsal di atas. Biarlah Tuhan memberikan tepat secukupnya bagi kita untuk tetap bisa bersyukur dan memberkati sesama.

Bukan kekayaan yang penting, tetapi penyertaan Tuhan

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...