=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."
Mana lebih baik, bersedih atau bergembira? Saya yakin jika ini ditanyakan kepada orang, hampir semua jawaban akan memilih untuk bergembira. Saya coba tanyakan kepada seorang teman, dan ia menjawab "hanya orang bodoh yang lebih memilih untuk sedih." Tidak ada satupun orang yang mau berada dalam kesedihan dalam hidupnya. Kalau bisa hidup ini paling enak jika hanya berisi kegembiraan. Penuh canda tawa, tanpa masalah dari awal hingga akhir. Tetapi benarkah itu? Alkitab ternyata menyatakan justru sebaliknya. Dan ini bisa kita lihat dalam kitab Pengkotbah. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", yang berisikan beberapa hikmat esensial yang penting untuk kita ingat, salah satu ayatnya berbunyi kontroversial. "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3). Bersedih itu dikatakan lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram akan membuat hati lega. Tidakkah ini terdengar aneh? Mungkin aneh bagi kita yang menganggap sebuah kesedihan itu hanyalah sesuatu yang menyiksa, tetapi sesungguhnya ada banyak hal yang bisa kita peroleh dibalik sebuah kesedihan. Dalam bahasa Inggris dikatakan "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ada sesuatu dibalik kesedihan yang bisa membuat hati kita lebih baik dan mampu beroleh sukacita. Demikianlah bunyi firman Tuhan mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar. Dan ayat ini sudah ditulis lewat orang yang paling berhikmat yang pernah ada di muka bumi ini, yaitu Salomo.
Jika kita membaca ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang berbunyi lebih aneh lagi. "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Dimana kita lebih suka berada? Di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi firman Tuhan berkata justru sebaliknya. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Ini mungkin sulit untuk kita terima jika tidak kita pikirkan. Tetapi marilah kita melihat mengapa kedua ayat ini lebih menganjurkan kita untuk bersedih dan berada di dalam rumah duka.
Apa yang kita pikirkan ketika pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari stal-stal disamping meja prasmanan yang penuh dengan sajian utama, musiknya bagus atau tidak dan sebagainya. Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa sebuah perenungan bagi kita, bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Life is short! Pemazmur menulis "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. That's it. Dibanding kehidupan kekal setelahnya sungguh sangat singkat. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk menabung demi kehidupan yang kita tuju selanjutnya. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang berada dalam keadaan senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan membawa perenungan bagi kita bahwa hidup ini sesungguhnya singkat, hanya bagai angin, hanya bagai bayang-bayang yang berkelebat. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di rumah bersukaria.
Dalam kesedihan kita bisa belajar banyak. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik dan lebih kuat. Karena itu ketika Tuhan mengijinkan kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.
"To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita. Jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karena itu, jika Tuhan mengijinkan saya dan anda untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.
Firman Tuhan berkata "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita seharusnya bersyukur bukan hanya ketika semua baik-baik saja, tetapi juga ketika kita sedang mengalami sebuah kesedihan. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika waktu untuk tertawa datang kita tidak akan terlena melupakannya. Apakah anda sedang berada dalam "musim" sedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah untuk itu.
Ada banyak pelajaran yang dapat kita petik dibalik sebuah kesedihan
Menyusun perencanaan sebuah pabrik tidaklah gampang. Itu kalau kita mau mendesain sebuah pabrik yang baik. Seperti itulah pelajaran yang saya dapat dulu ketika masih kuliah. Berbagai bagian yang ada dalam sebuah pabrik harus didesain tata letaknya sedemikian rupa dengan memikirkan efisiensi, kemudahan, kesehatan dan sebagainya. Ada banyak faktor yang harus diperhatikan dan itu tidak mudah, karena ada bagian yang harus berdekatan sebaliknya ada pula yang harus berjauhan. Faktor kemungkinan pengembangan pabrik pun harus dipikirkan ketika menyusun tata letak ini. Bisa saja pabrik itu dibangun asal-asalan, namun untuk ke depannya tentu akan menyusahkan dan merugikan. Dalam banyak aspek kehidupan kita pun demikian. Seringkali kita harus repot terlebih dahulu untuk bisa memperoleh hasil yang terbaik. Akan selalu ada perbedaan antara sesuatu yang dilakukan seadanya dengan sesuatu yang dibuat dengan pertimbangan matang dan serius. Keinginan manusia tentu bisa mendapatkan yang sebaik-baiknya dengan kerepotan yang seminim-minimnya, tetapi hidup tidaklah seperti itu dan dari segi kerohanian pun tidak demikian.
Patah hati bagi kebanyakan dari kita merupakan salah satu kenyataan yang paling pahit dan paling menyakitkan. Tidak gampang memang untuk menghadapi kenyataan berakhirnya sebuah hubungan cinta yang mungkin sudah terjalin sekian lama. Ada banyak perasaan, memori indah di masa lalu yang akhirnya harus berakhir. Ada banyak harapan dan impian yang kandas di tengah jalan. Apalagi jika sebuah hubungan itu berakhir dengan tidak baik-baik. Rasa sakit hati pun mungkin bisa menetap di dalam diri kita, menorehkan luka hingga waktu yang lama. Tidak jarang pula hal ini membuat harga diri yang mengalaminya terhempas, anjlok dalam sekejap mata. Bumi seakan jungkir balik, kita merasa tidak lagi punya semangat untuk melakukan apapun. Luka-luka yang timbul dari patah hati akibat putusnya hubungan cinta memang sangat menyiksa dan tidak akan mudah dilupakan. Ada orang yang hidupnya hancur selama bertahun-tahun, sulit untuk memulai hubungan lagi dan hidup diliputi kesedihan dan kekecewaan hingga puluhan tahun. Sebagian akan lari kepada obat-obatan untuk mengurangi keperihan akibat lukanya. Ada pula yang tidak tahan lagi terhadap rasa sakit dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seorang teman yang baru saja mengalami patah hati berkata bahwa luka itu menimbulkan goresan-goresan tajam di hatinya yang setiap saat begitu menyiksa. Semua ini menunjukkan bahwa luka yang ditimbulkan dari patah hati memang parah.
Siapa yang kita cari ketika kita sakit? Biasanya orang akan segera mencari dokter, atau setidaknya mencari orang tuanya, keluarga dan sebagainya yang dianggap bisa menyembuhkan atau setidaknya meringankan sakit yang tengah diderita. Seorang dokter pernah sambil tertawa berkata kepada saya bahwa ia memang sering dicari orang, namun itu karena orang memerlukan pertolongannya dan bukan karena merindukannya. Di kalangan teman-teman pun demikian. Teman bisa banyak, tapi sahabat biasanya terbatas jumlahnya. Ada banyak orang yang mengaku dirinya sebagai teman tapi hanya mendatangi kita ketika mereka memerlukan bantuan. Jika tidak, maka merekapun melupakan kita.
Make the world as a better place. Impian menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih nyaman pasti menjadi impian semua orang. Kita menyesalkan berbagai peperangan, perselisihan, pertikaian yang terjadi di mana-mana, sementara kita lupa bahwa kita pun sebenarnya punya andil yang tidak kalah penting dalam membuat dunia ini menjadi lebih nyaman atau semakin buruk untuk ditinggali. Bagaimana bisa? Bukankah kita tidak berperang dengan orang lain? Mungkin kita tidak sedang berperang melawan orang, itu benar, tapi secara tidak sadar kita seringkali dengan mudahnya memupuk kebencian terhadap orang lain. Kita mudah marah dan gampang mengeluarkan kata-kata yang penuh dengan caci maki, menghujat atau mengomentari orang lain dengan sinis. Kita mudah untuk merasa iri terhadap kesuksesan orang lain, bahkan tidak sedikit orang yang berlaku kasar kepada istri dan anak-anaknya sendiri. Alasan stres kerja, tekanan di kantor dan sebagainya bisa jadi dipakai sebagai alasan pembenaran tindakan yang sama sekali tidak baik ini. Kita lebih mudah mengkritik ketimbang memuji. Kita lebih mudah untuk sinis ketimbang dengan tulus mengakui kelebihan orang lain. Jika demikian, bagaimana mungkin kita bisa memimpikan sebuah tatanan dunia yang ramah, damai dan penuh kasih, jika kita sendiri tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu?
Betapa sulitnya bagi saya dahulu untuk membiasakan diri membaca dan merenungkan firman Tuhan. Dalam banyak kesempatan, saya mendapati diri saya tertidur ketika sedang membaca alkitab. Tapi itu dulu. Saat ini saya tidak melewatkan satu hari pun untuk membaca firman Tuhan karena ada begitu banyak janji bahkan rahasia yang terdapat di dalamnya yang teramat sangat berguna untuk menjalani hidup. Alangkah sayangnya jika satu hari terlewatkan tanpa firman Tuhan. Kita akan sangat sulit untuk bergairah mendalami firman Tuhan sebelum kita menyadari bahwa sesungguhnya firman Tuhan itu lebih dari sekedar kumpulan janji yang diilhami Tuhan sendiri. Firman Allah sesungguhnya mengandung kuasa yang mampu membuat segala janji itu menjadi kenyataan dan hidup di dalam diri kita.