Friday, July 23, 2010

Tipuan Iblis

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 13:9-10
===============================
"Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?"

tipu iblisRupa-rupa penyesatan terus terjadi di dunia ini. Parahnya, bentuk penyesatan ini seringkali bukan berupa sesuatu yang jelas terlihat salah secara kasat mata, tetapi bisa hadir lewat sesuatu yang dikemas secara rapi, seolah-olah baik namun ternyata dibaliknya tersimpan begitu banyak jebakan. Jika tidak hati-hati kita bisa masuk dan terjebak didalamnya. Inilah pekerjaan iblis yang kita kenal sebagai bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Banyak tipuan iblis yang seolah-olah menjanjikan pertolongan instan, dan betapa banyak orang percaya yang terjerat dengan tipuan ini. Bukan saja paranormal, dukun dan sebagainya, tetapi ada banyak pula pengajaran-pengajaran kemakmuran dan sejenisnya yang ternyata berorientasi menyimpang dari firman Tuhan.

Paulus mengatakan hal ini tidaklah mengherankan. "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang." (2 Korintus 11:14). Sebagai bapa dari dusta, bapa tipu muslihat, iblis memang peniru ulung yang pintar memanfaatkan kelemahan kita untuk dimanipulasi, salah satunya lewat meniru pekerjaan yang dilakukan Tuhan. Kita bisa melihat contohnya dalam kitab Keluaran, yaitu ketika Musa dan Harun berhadapan dengan ahli sihir Mesir yang mampu meniru apa yang mereka lakukan di depan Firaun. Harun melemparkan tongkatnya kemudian tongkat itu berubah menjadi ular, tapi ahli sihir Mesir pun mampu membuat hal yang sama. (Keluaran 7:9-12). Tipuan seperti inilah yang dilakukan oleh iblis hingga hari ini yang jika tidak kita sikapi dengan cermat akan membuat orang-orang percaya termakan tipuan dan masuk ke dalam jebakannya.

Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat sebuah sosok bernama Baryseus yang berada di pulau Siprus. Dikatakan disana Baryseus adalah seorang tukang sihir dan nabi palsu. (Kisah Para Rasul 13:6). Di pulau Siprus itu ada seorang gubernur bernama Sergius Paulus yang sebenarnya adalah orang cerdas dan bijaksana. Ia sendiri yang memanggil Paulus dan Barnabas, karena kerinduannya mendengar firman Allah. (ay 7). Ada seseorang yang ingin selamat. Tentu iblis tidak tinggal diam. Lalu Baryseus alias Elimas, "tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya." (ay 8). Berbagai tipu pun ia lakukan. Paulus segera bereaksi. "Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?" (ay 10). Baryseus pun lalu terkena murka Tuhan hingga menjadi buta. Membelokkan jalan Tuhan yang lurus lewat rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, seperti itulah pekerjaan iblis lewat hamba-hambanya di muka bumi ini.

Di akhir jaman ini semakin banyak orang yang berlaku begitu rupa sehingga terlihat seperti hamba Tuhan, tetapi sebenarnya mereka adalah hamba iblis yang berusaha menyesatkan dan membinasakan kita. Seringkali kemasannya terlihat begitu rapi sehingga jika tidak dicermati baik-baik kitapun mengira bahwa semua itu sesuai firman Tuhan. Dalam Amsal dikatakan "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12), dan ini semakin banyak kita jumpai hari-hari ini. Berbagai pengajaran berorientasi kemakmuran, kesuksesan, kekayaan dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat lurus, padahal itu bertentangan dengan firman Tuhan dan jika kita turuti dengan sendirinya akan mengarahkan kita kepada ujung yang menuju maut. Dalam surat Tesalonika kita bisa melihat peringatan akan hal ini. "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka." (2 Tesalonika 2:9-10). Perhatikanlah, agar jangan sampai kita termasuk dari mereka yang dikatakan "orang-orang yang harus binasa" karena menolak keselamatan.

Agar terhindar dari jebakan-jebakan ini, kita harus selalu waspada dengan berbagai pengajaran dan penawaran yang diberikan kepada kita. Alkitab memberi solusinya seperti ini: "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." (Efesus 6:11). Perlengkapan senjata Allah itu secara rinci bisa dilihat dalam ay 14-18. Ingatlah bahwa tidak selamanya apa yang terlihat benar itu sungguh benar. Kita harus terus waspada dan memperlengkapi diri senantiasa dengan perlengkapan senjata Allah. Iblis akan selalu berusaha mencari titik lemah kita untuk dimanipulasi dan disesatkan, oleh karena itu berhati-hatilah. Ijinkan Roh Kudus terus bekerja dalam diri anda agar anda bisa peka membedakan mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang merupakan tipuan iblis.

Tipuan yang dikemas rapi bisa menyesatkan, tetaplah cermati segala sesuatu dengan sungguh-sungguh

Thursday, July 22, 2010

Spiritual Fitness

Ayat bacaan: 1 Timotius 4:8
======================
" Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."

latihan rohani, spiritual fitnessMaukah anda meluangkan waktu sekitar setengah jam setiap hari untuk berolah raga? Kebanyakan orang mau meluangkan bahkan lebih dari itu. Menjaga penampilan, membentuk tubuh agar terlihat indah menjadi impian banyak orang, dan mereka pun rela menghabiskan waktu berjam-jam dan menghabiskan banyak biaya untuk memperindah penampilan mereka. Paginya jogging, sore fitness, malam futsal. Itu jadwal seorang teman saya disela-sela pekerjaannya yang dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Itu belum termasuk waktu yang dihabiskan para wanita untuk mematut diri dengan make up dan sebagainya. Semua itu baik, karena penampilan yang baik dan kebugaran tubuh memang sangat diperlukan siapapun. Tetapi semua itu tidak akan pernah bertahan selamanya. Sehebat apapun kita membentuk otot,pada suatu saat nanti semuanya akan habis. Kita bisa memperlambat penuaan tapi kita tidak akan pernah bisa menghentikannya. Jika untuk itu kita mau meluangkan begitu banyak waktu setiap hari, mengapa seringkali sulit bagi kita meluangkan waktu untuk sesuatu yang akan berguna bukan saja dalam hidup sekarang, tetapi juga untuk kehidupan yang akan datang?

Spiritual Fitness, begitu saya menyebutnya. Sama seperti tubuh yang harus dijaga dan dilatih dengan sungguh-sungguh agar kita bisa mencapai kondisi prima, kebugaran dan kesehatan yang baik, kondisi kerohanian atau spiritual kita pun penting untuk dijaga dan ditingkatkan. Latihan badani atau fisik itu perlu, latihan untuk kerohanian pun demikian. Menghadapi dunia yang sulit ini rohani kita setiap saat bisa terkena polusi dan hal-hal lain yang mampu melemahkan kita. Jika tidak mawas diri, bisa-bisa dalam kelemahan kita akan terjatuh dan pada akhirnya kehilangan apa yang sebenarnya disediakan Tuhan bagi kita.

Paulus telah mengingatkan hal ini secara persis dua ribu tahun yang lalu. "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Paulus membandingkan pentingnya melatih jasmani kita dengan melatih rohani. Ia tidak mengatakan bahwa latihan jasmani itu tidak penting, tetapi ia mengingatkan bahwa ada latihan lain yang jauh lebih bermanfaat. " Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani, berolahraga, fitness, jogging, futsal atau apapun bentuknya itu tentu baik, tetapi seperti kata Paulus sesungguhnya terbatas gunanya. Setelah kita meninggalkan dunia ini kelak, semua itu tidak lagi memberi manfaat apa-apa. Tetapi latihan rohani akan sangat berguna dalam segala hal. Kita bisa tegar menghadapi berbagai masalah yang harus dihadapi, kita bisa menghindari berbagai jerat atau jebakan iblis dalam berbagai cara dan bentuk, kita tahu mana yang baik dan mana yang buruk, dan tentu saja kita pun bisa menghidupi janji-janji Tuhan, bukan saja dalam hidup ini semata tetapi juga untuk hidup yang akan datang.

Latihan atau training. Itu kata yang dipakai. Seperti layaknya sebuah latihan, sesuatu yang kita tuju sebagai hasil tidaklah akan tercapai dengan instan. Orang yang baru memulai komitmennya untuk lari pagi biasanya harus terlebih dahulu mengalahkan keinginan akan kenyamanan untuk terus berlama-lama berbaring di atas kasur yang empuk, melawan rasa malas dan sebagainya. Rasa lelah yang luar biasa atau bahkan kebosanan mungkin akan menjadi masalah awal ketika kita baru memulai untuk berolahraga secara rutin. Itu wajar, karena ritme tubuh kita belum terprogram sepenuhnya untuk sebuah kegiatan baru. Itulah sebabnya kita harus berlatih. Lalu coba tanyakan kepada mereka yang sudah lama secara rutin berolahraga. Mereka biasanya mengaku gelisah apabila jadwal olahraganya berhalangan. Mereka akan merasa ada sesuatu yang kurang, tidak lengkap jika mereka melewatkannya sekali saja. Tubuh mereka biasanya sudah terprogram untuk melakukan latihan pada waktu-waktu yang ditentukan. Bukan hanya masalah kedisiplinan, tetapi body clock dan body rhythm mereka sudah berada dalam kondisi seperti itu. Inilah hal yang bisa kita dapatkan dari sebuah rangkaian proses bernama latihan. Dan kondisi kebugaran optimal hanya akan dicapai jika latihan itu dilakukan secara disiplin, rutin, teratur dan tentunya kontinu.

Seperti halnya latihan jasmani, proses latihan rohani juga seperti itu. Kita harus membiasakan diri kita secara rutin meluangkan waktu untuk merenungkan firman Tuhan, berdoa, bersaat teduh dan sebagainya. Kita harus terus melatih diri kita hingga terbiasa untuk menghidupi firman Tuhan, mempercayakan jalannya hidup kita setiap saat ke dalam tangan Tuhan. Lihatlah mengapa Daud begitu mencintai firman Tuhan. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,  tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.  Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Lebih rinci lagi kita bisa melihat Mazmur 119 yang menjelaskan secara lengkap bagaimana bahagianya orabng yang hidup menurut Firman Tuhan. Penulis Ibrani menyerukan "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Ada begitu banyak manfaat yang akan kita peroleh dengan mendisiplinkan diri untuk terus melatih kerohanian kita. Bukan saja untuk kehidupan saat ini, tetapi juga berlaku untuk kehidupan kita yang akan datang. Jika demikian, kalau untuk latihan jasmani yang gunanya terbatas saja kita mau menghabiskan banyak waktu, mengapa untuk sesuatu yang berguna dalam segala hal dan kekal kita tidak mau? Ambillah komitmen dari sekarang untuk mempergunakan waktu-waktu secara khusus bersama Tuhan. Mendengarkan suaraNya, diam di hadiratNya, merenungkan firmanNya dan menghidupi itu semua dalam segala yang kita lakukan sehari-hari. Mungkin berat pada mulanya, tetapi pada suatu ketika anda akan merasakan manfaatnya secara luar biasa.

Latihlah kerohanian anda untuk mencapai spiritual fitness yang optimal

Wednesday, July 21, 2010

Investasi

Ayat bacaan: Matius 6:19-20
=========================
"Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya."

investasi, mengumpulkan harta di surgaBelajar dari pengalaman selalu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi saya. Dahulu saya pernah sukses besar mengelola sebuah usaha, tapi kemudian semua tidak berbekas sama sekali pada akhirnya. Apa yang terjadi? Ada satu kesalahan terbesar yang saya buat pada waktu itu. Saya terlena menikmati kesuksesan, menikmati uang yang masuk hingga lupa melakukan investasi dan perencanaan matang buat ke depan. Saya lupa bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, termasuk pula kesuksesan. Dan ketika usaha saya menurun, saya pun tidak memiliki sesuatu yang bisa dipakai untuk mempertahankan dan menyelamatkannya. Bagai kapal karam, usaha itu pun tenggelam hingga akhirnya lenyap tak berbekas.

Apa yang anda lakukan hari ini untuk mempertahankan hidup anda? Ada orang yang melakukan investasi lewat berbagai bentuk asuransi. Asuransi kecelakaan, asuransi untuk tabungan anak dan berbagai asuransi lainnya biasanya dipakai banyak orang sebagai alat antisipasi untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi nanti. Ada pula yang menanamkan modalnya dalam bentuk deposito, batang emas, properti atau bahkan membuka usaha-usaha baru. Semua ini tentu baik untuk menjadi proteksi masa depan kita dan keluarga di dunia. Jika anda menganggap semua yang saya gambarkan di atas itu cukup, tunggu dulu.Semua ini mungkin cukup buat pertahanan di dunia yang fana, tetapi tidak akan pernah cukup sebagai investasi buat kehidupan kita nanti pada fase berikutnya yang kekal. 

Ketika ada banyak orang yang mengira mengumpulkan harta di dunia akan membuat mereka bisa bahagia dan sejahtera, maka Yesus mengingatkan bahwa ada sesuatu yang jauh lebih penting dan jauh lebih aman untuk kita pikirkan sebagai investasi. Money can buy many things, but it's not everything. Menabung, menanam modal dan sebagainya itu baik, tetapi itu bukanlah yang terpenting. Sehebat-hebatnya kita mencadangkan harta, atau bahkan menimbun harta sebanyak-banyaknya, semua itu bisa lenyap pada suatu ketika. Dan lebih dari itu, semuanya tidak akan berguna untuk bekal kehidupan selanjutnya. Jika lupa investasi di dunia saja bisa membuat jerih payah kita lenyap tak berbekas seperti pengalaman saya dahulu, bagaimana jika kita lupa berinvestasi untuk sebuah hidup yang kekal kelak?

Yesus mengatakan demikian: "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya." (Matius 6:19-20). Ini sebuah seruan penting yang seringkali menjadi sumber kekeliruan kita dalam memandang prioritas dalam hidup. Daripada sibuk mengumpulkan harta di bumi tanpa kepastian dan selalu beresiko, mengapa tidak mengumpulkan harta di tempat yang paling aman, yang akan mampu menjamin kelangsungan dan kelanjutan hidup anda kelak, yaitu di surga? Itulah satu-satunya tempat yang teraman, dan itulah yang akan lebih bermanfaat terutama karena kekal sifatnya karena tidak akan pernah bisa dicuri atau dirusak oleh apapun atau siapapun.

Jika demikian bagaimana kita mengumpulkan harta di surga? Ingatlah bahwa mengumpulkan harta di surga tidak sama dengan di dunia. Jika di dunia kita menimbun dan terus menimbun, atau selalu menerima dan terus menerima, maka untuk mengumpulkan harta di surga yang berlaku justru sebaliknya, yaitu dengan memberi atau menabur. Apakah itu lewat persepuluhan (Maleakhi 3:10-12), memberi kepada kaum yang tidak mampu yang artinya memiutangi Tuhan (Amsal 19:17) dan melakukan sesuatu untuk Tuhan alias doing a favor to God (Matius 25:40), atau menanam investasi dengan harta yang kita miliki terlebih juga hidup kita sendiri untuk mewartakan firman (Markus 10:29-30), semuanya berbicara mengenai kerinduan untuk memberi. Dan itulah yang akan membuat kita terus mengumpulkan harta di surga. Tapi bukan itu saja. Perhatikan pula dari ayat-ayat di atas kita bisa melihat bahwa setiap kita mengumpulkan harta di surga, maka dengan sendirinya kebutuhan kita di dunia pun dijamin Tuhan secara langsung. Artinya dengan mengumpulkan harta di surga kehidupan kita saat ini pun akan berada dalam pemeliharaan Tuhan. Itu bisa kita nikmati sejak sekarang, dan sanggup membawa kita untuk masuk ke dalam kehidupan kekal kelak. Tidakkah itu jauh lebih baik dan lebih berguna?

Yakobus pada suatu kali menegur dengan keras orang-orang kaya yang kikir dan hanya berpikir untuk terus menimbun hartanya tanpa mempedulikan nasib orang lain. Semua itu bisa kita baca dalam Yakobus 5:1-6. "Jadi sekarang hai kamu orang-orang kaya, menangislah dan merataplah atas sengsara yang akan menimpa kamu! Kekayaanmu sudah busuk, dan pakaianmu telah dimakan ngengat! Emas dan perakmu sudah berkarat, dan karatnya akan menjadi kesaksian terhadap kamu dan akan memakan dagingmu seperti api. Kamu telah mengumpulkan harta pada hari-hari yang sedang berakhir." (Yakobus 5:1-3). Sungguh mengerikan, karena kita bisa membaca ayat selanjutnya: "Dalam kemewahan kamu telah hidup dan berfoya-foya di bumi, kamu telah memuaskan hatimu sama seperti pada hari penyembelihan" (ay 5), seolah-olah sedang menggemukkan diri untuk hari penyembelihan kelak. Kita bisa melihat bagaimana fatalnya kesalahan seperti ini dan menjadikannya peringatan agar jangan sampai kita termasuk dari kelompok orang yang mendapat teguran keras tersebut.

Jika dunia cenderung berpikir bahwa dengan mengumpulkan sebanyak-banyaknya hidup akan aman, kita tidak perlu ikut-ikutan berpikir seperti itu. Tuhan Yesus mengingatkan kita agar jangan khawatir terhadap apapun. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?" (Matius 6:31) Ketika dunia khawatir, seharusnya kita tidak perlu ikut-ikutan karena Tuhan telah mengingatkan bahwa Dia tahu segala sesuatu yang kita butuhkan. "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu." (ay 32). Firman Tuhan dengan tegas mengingatkan kita untuk tidak ikut-ikutan dengan kecenderungan pola pikir dunia. "Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia" (Efesus 4:17). Apa yang harus kita lakukan jelas. Kita harus mulai fokus memikirkan untuk mengumpulkan harta di surga. Dan Yesus pun telah menyatakan sebuah kesimpulan yang harus selalu kita camkan sungguh-sungguh: "Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Matius 6:33).

Investasi yang kita pilih biasanya adalah sesuatu yang paling menguntungkan. Hari ini mari kita belajar melihat apa sebenarnya yang paling menguntungkan buat kita, bukan saja buat perjalanan kehidupan kita saat ini, tetapi yang lebih penting lagi buat kehidupan selanjutnya yang kekal. Menimbun harta di surga berbicara mengenai kerinduan untuk memberkati orang lain dengan segala berkat yang telah dicurahkan Tuhan buat kita, mengembalikan apa yang menjadi hak Tuhan dan mempersembahkan hidup dan segala yang kita miliki sepenuhnya buat Tuhan. Itulah bentuk investasi di surga, dimana tidak ada satupun hal yang bisa merusak atau menghilangkannya. Kemana anda melakukan investasi saat ini akan menentukan bagaimana masa depan anda nanti.

Investasi di surga akan memberi jaminan keselamatan yang pasti dan aman bagi masa depan kita

Tuesday, July 20, 2010

Syarat Untuk Menjadi Sempurna

Ayat bacaan: Matius 19:21
=====================
"Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku."

syarat menjadi sempurnaIming-iming kekayaan memang seringkali bisa membutakan mata kita. Kemarin saya diundang seorang teman yang juga orang percaya untuk menawarkan sesuatu yang katanya kerjasama bisnis. Saya pun datang kesana, dan ternyata ia menawarkan sebuah bentuk networking. Presentasinya sejak awal mengarahkan kita kepada pemikiran bahwa kita bisa mendapatkan segalanya. Uang berlimpah, mobil dan rumah mewah, kapal pesiar, bahkan hingga pesawat terbang pribadi. "Mana yang kamu lebih suka, bekerja tapi dapatnya sedikit atau tanpa bekerja malah dapat kekayaan seperti ini?" katanya. Saya pun menolak dan menjawab bahwa bagi saya uang bukanlah segalanya. Apa yang penting bagi saya, penyertaan Tuhan dalam hidup jauh melebihi segalanya. Kemewahan dan harta berlimpah bukan menjadi impian saya, karena hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Saya lebih tertarik untuk kehidupan berikutnya yang kekal, dan saya tidak akan mau menukarkan kesempatan itu dengan kekayaan sehebat apapun di dunia ini. Ia pun terdiam dan tidak lagi melanjutkan tawarannya.

Kesempurnaan selalu diinginkan setiap manusia. Dan Tuhan pun menginginkan hal itu, karena firman Tuhan berkata kita harus mengejar kesempurnaan seperti yang dimiliki oleh Bapa. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (Matius 5:48). Lantas bagaimana kita bisa memperoleh kesempurnaan? Apakah dengan harta berlimpah? Mampukah timbunan harta membuat kita menjadi sempurna? Faktanya sama sekali tidak demikian, meskipun bagi banyak orang kemilau harta di dunia bisa membuat kita tergiur hingga melupakan segalanya. Lupa bahwa hidup di dunia ini sangatlah singkat, tidak sebanding dengan kekekalan yang akan datang kelak, lupa bahwa tanpa kuasa menikmati semua itu hanyalah akan berakhir sia-sia (bacalah Pengkotbah 6:2), dan itu semua sudah begitu sering terbukti. Bukankah kita kerap melihat keluarga yang hancur berantakan meski mereka kaya raya? Pada suatu ketika mereka akan sadar bahwa uang bukanlah segalanya. Uang/harta tidak pernah bisa membeli kebahagiaan sejati, tidak akan pernah bisa menjadi solusi atas segalanya. Kembali kepada pertanyaan di atas, bagaimana agar kita bisa menjadi sempurna? Dalam kisah perjumpaan seorang pemuda kaya dengan Yesus dalam Matius 19:16-26 kita bisa melihat apa jawaban Tuhan mengenai hal ini. "Kata Yesus kepadanya: "Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku." (Matius 9:21).

Ayat ini sering dianggap sebagai keharusan bagi orang percaya untuk hidup miskin. Padahal bukanlah demikian. Kita bisa melihat ayat berikut untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas. "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1 Timotius 6:10). Yang salah bukanlah uangnya, tetapi cinta terhadap uangnya, yang melebihi segalanya, itulah yang menjadi masalah. Dan itulah pula yang menjadi akar permasalahan si pemuda kaya dalam kisah diatas. Ia menolak menyerahkan segala harta miliknya, itu artinya ia menganggap hartanya sebagi hal terpenting dalam hidupnya, dan bukan Tuhan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Tuhan telah menjanjikan berkat berlimpah kepada kita, tetapi jangan sampai itu menjadi fokus terutama kita melebihi ketaatan berdasarkan kasih dan rasa takut akan Tuhan. Ketika itu terjadi, artinya kita telah mengabdikan diri kepada harta, menghamba kepada harta dan menomorduakan Tuhan dibawahnya. Ketika itu terjadi, artinya kita sedang meninggalkan panggilan untuk menuju kesempurnaan dan membawa diri kita kedalam kehancuran.

Pemuasan terhadap keinginan daging mungkin bisa kita peroleh lewat harta, tetapi itu adalah sebuah perlawanan (hostile) di hadapan Allah. "Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya." (Roma 8:7). Dan dengan tegas dikatakan "Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah." (ay 8). Apalah artinya kekayaan berlimpah yang kita miliki jika hanya bisa dipakai dalam jangka waktu yang amat sangat singkat dibanding sebuah kekekalan yang akan datang kelak? Sebuah kesempurnaan hanya akan mungkin kita peroleh apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu yang kita miliki untuk takluk kepada kehendak Tuhan, bahkan yang kita anggap penting bagi kita sekalipun. Abraham sudah membuktikannya ketika ia taat dan rela menyerahkan anaknya yang sangat ia kasihi, Ishak untuk dijadikan korban bakaran. Tidak heran jika Abraham pun diakui sebagai Bapa orang beriman karena ketaatan dan imannya yang luar biasa. Dan itulah yang Tuhan kehendaki, karena sudah seharusnya posisi Tuhan berada di atas segalanya dalam hidup kita. Adalah tidak benar apabila kita mengakui beriman kepada Kristus namun masih terus lebih mementingkan segala hal lain selain Dia dalam hidup kita. Bagaimana mungkin kita mengaku beriman tetapi tidak menyertainya dengan perbuatan nyata?

Ada banyak orang yang ternyata jauh lebih mementingkan miliknya yang berharga ketimbang Tuhan dalam hidup mereka. Bagi si pemuda dalam Matius 19 itu adalah harta kekayaan, mungkin bagi orang lain itu bisa berupa hal lain. Kita harus rela menyerahkan itu semua jika Tuhan meminta itu, dan itulah yang bisa membawa kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita harus kembali ingat bahwa semua berasal dari Tuhan. Dibanding apapun yang kita miliki saat ini, tentu Sang Pemberi harus berada dalam posisi teratas. Keberadaan dan penyertaan Tuhan, kebersamaan kita berjalan bersama Tuhan seturut kehendakNya, itulah yang seharusnya kita kejar lebih dari apapun juga. Panggilan untuk menjadi sempurna hanyalah akan bisa kita capai apabila kita rela menyerahkan segala sesuatu untuk mengikuti Tuhan sepenuhnya tanpa berbantah, tanpa bersungut-sungut, tanpa syarat. Are we ready to surrender it all to follow Him?


"Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah, usahakanlah dirimu supaya sempurna. Terimalah segala nasihatku! Sehati sepikirlah kamu, dan hiduplah dalam damai sejahtera; maka Allah, sumber kasih dan damai sejahtera akan menyertai kamu!" (2 Korintus 13:11)

Monday, July 19, 2010

Going the Extra Mile

Ayat bacaan: Matius 5:41
========================
"Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil."

mil keduaDalam bekerja kita sering berhadapan dengan deadline, yaitu masa dimana apa yang kita kerjakan harus sudah rampung. Ini adalah realita yang akan dihadapi ketika seseorang masuk ke dalam dunia pekerjaan profesional, dan hal ini selalu saya tekankan kepada para siswa-siswi saya. Dan saya pun melatih mereka agar serius memandang deadline lewat syarat pengumpulan tugas yang tepat waktu, tidak molor sedikitpun. Tidak semua siswa patuh terhadap hal ini, karena seperti kebiasaan banyak manusia, mereka selalu bersantai-santai dahulu, kemudian kalang kabut mengerjakan ketika waktu sudah mepet. Akibatnya seringkali tugas itu belum rampung pada saatnya. Ketika seharusnya tugas itu sudah dikumpulkan, mereka kedapatan masih sibuk mengerjakan.

Sudah menjadi sifat kebanyakan manusia untuk tidak serius mengerjakan sesuatu sejak awal. Kesibukan dan keseriusan baru akan muncul ketika deadline sudah mepet, dan akhirnya apa yang dikerjakan pun seringkali tidak sempurna alias hanya seadanya, ala kadarnya. Padahal firman Tuhan menegaskan bahwa kita haruslah melakukan segala sesuatu dengan serius. Tidak hanya serius, bahkan dikatakan bahwa kita harus melakukan lebih dari yang seharusnya. Dan inilah yang dikenal dengan sebutan "going the extra mile".

Yesus berkata "Dan siapapun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil." (Matius 7:41). Bagi kita mungkin berjalan satu mil saja sudah berat, kalau bisa setengahnya saja atau tidak usah sama sekali. Tetapi Tuhan menginginkan kita untuk melakukan lebih dari itu, menambah satu mil lagi.

Bagaimana caranya? Ada banyak contoh yang mungkin bisa kita pakai sebagai bentuk aplikasi dari going extra mile ini. Misalnya jika dahulu mencuri, setelah menerima Yesus bukan saja berhenti mencuri, tetapi tingkatkan hingga memberi. Jika dahulu mudah marah dan membenci, sekarang bukan saja berhenti membenci dan mengurangi emosi, tetapi tingkatkan hingga bisa mengasihi. Ini baru dua contoh dari sekian banyak hal yang bisa kita lakukan sebagai aplikasi nyata dari going extra mile dalam kehidupan kita sehari-hari.

Mengapa kita harus berjalan lebih dari yang diharuskan? Ayat 48 memberikan alasannya. "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.". Untuk menjadi sempurna kita tidak bisa setengah-setengah, tidak cukup melakukan ala kadarnya, tetapi keseriusan yang sungguh-sungguh haruslah menjadi gaya hidup kita. Tanpa itu niscaya kita tidak akan pernah bisa menjadi sempurna. Salah satu gambaran yang jelas mengenai going extra mile ini bisa kita lihat dalam hal menghadapi musuh, seperti yang tertulis dalam Lukas 6:27-36. Perhatikan firman Tuhan berikut: "Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian. Dan jikalau kamu meminjamkan sesuatu kepada orang, karena kamu berharap akan menerima sesuatu dari padanya, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun meminjamkan kepada orang-orang berdosa, supaya mereka menerima kembali sama banyak." (ay 32-34). Kalau kita puas dan berhenti sampai disitu saja, lantas apa bedanya kita dengan orang lain? Ada seruan penting yang harus kita ingat bahwa dalam perjalanan hidup kita ini, kita harus berjalan menuju kesempurnaan seperti halnya Bapa. We are going towards it, and for that we are told to walk extra mile.

Dalam Efesus kita bisa melihat aplikasi dalam dunia pekerjaan. "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia dengan takut dan gentar, dan dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan hati orang, tetapi sebagai hamba-hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah, dan yang dengan rela menjalankan pelayanannya seperti orang-orang yang melayani Tuhan dan bukan manusia." (Efesus 6:5-7). Jangan cuma rajin ketika diperhatikan, atau ketika diiming-imingi bonus saja, tetapi lakukanlah apapun yang kita kerjakan dengan sebaik-baiknya seperti untuk Tuhan. Ini contoh lain dari menjalani mil kedua. Bagaimana dalam hal rohani? Kita sudah diselamatkan, oleh karena itu kita harus menjaga diri kita agar tetap berjalan dalam koridor firman Tuhan, sesuai dengan apa yang dikehendakiNya. Tetapi kita tidak berhenti disana, karena seharusnya kita pun terpanggil untuk peduli kepada keselamatan orang lain. Membawa orang yang tersesat kembali kepada Tuhan, membawa jiwa-jiwa untuk bertobat, memberi kepada yang membutuhkan dengan sifat murah hati berdasarkan kasih dan sebagainya. 

Terlalu cepat puas dengan usaha ala kadarnya tidak akan pernah membawa kita untuk menapak ke arah kesempurnaan seperti yang dikehendaki Tuhan. Melakukan sesuatu setengah-setengah tidak akan membuat kita mampu menjadi terang di dunia. Yesus mengajarkan murid-muridNya termasuk kita untuk mau berjalan lebih, to go the extra mile. Dan inilah yang seharusnya membedakan kita dari kehidupan orang dunia. Ketika mil pertama mengacu kepada kewajiban, mil kedua itu mengacu kepada kasih. Orang-orang yang berjalan hingga mil kedua adalah orang yang mau melakukan lebih dari sekedar kewajiban dan meneruskannya dengan melakukan atas dasar kasih. Siapkah anda? Let's move on to the next mile!

1 mile is not enough, we have to take the next step towards the next one

Sunday, July 18, 2010

Ada Yang Bisa Saya Bantu?

Ayat bacaan: Matius 5:7
=====================
"Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan."

murah hati"Perusahaan X, Selamat siang, dengan A disini, ada yang bisa dibantu?" Ini sebuah jawaban standar yang akan selalu kita dengar ketika kita menghubungi costumer service lewat telepon. Ketika mereka mengatakan hal ini, artinya mereka siap melayani keluhan dari kita dan mencoba mencari solusi pemecahannya, minimal mencatat dan meminta kita menunggu dalam selang waktu tertentu untuk dibereskan. Jaman semakin maju, ada banyak perusahaan yang menyediakan costumer service di internet, yang bisa kita hubungi dalam jam kerja semudah kita melakukan chatting. Saya kerap berpikir, betapa kemajuan jaman ini memang memberikan banyak kemudahan, sebab ketika saya kecil dahulu, pelayanan seperti ini belumlah ada. Melihat perkembangan layanan purna jual yang terus dibenahi semakin baik dari jaman ke jaman membuat saya menyadari betapa manusia tidak pernah mampu hidup sendirian. Kita selalu butuh untuk terhubung dengan orang lain dalam hidup ini, minimal untuk mengurangi kesulitan yang akan timbul ketika melakukannya sendirian.

Sebuah karakter yang wajib dimiliki oleh kita pengikut Kristus adalah murah hati. Seperti apa yang dikatakan costumer sercvice di atas, kita pun seharusnya tetap peka dalam melihat permasalahan orang-orang yang berada di sekitar kita dan siap menanyakan hal yang sama: "Ada yang bisa saya bantu?" We have to be ready to lend a hand, to help. Kemurahan hati merupakan sebuah karakter atau sikap yang harus hidup dan bertumbuh subur dalam diri kita.

Ada banyak orang rela memberi, tetapi tidak semua berasal dari karakter kemurahan hati. Perhatikanlah ada banyak orang yang memberi dengan mengharapkan imbalan atau balas jasa. Ada orang yang memberi demi agendanya pribadi, demi tujuan tertentu yang memberikan keuntungan bagi dirinya secara pribadi atau golongan. Ada pula yang ketika memberi mereka berharap mereka dapat menguasai atau mengubah orang yang diberi sesuai dengan keinginan mereka, membantu seseorang untuk menjadikannya boneka yang bisa diatur sekehendak hati. Yang seperti ini bukanlah sebuah pemberian yang didasari sebuah sikap kemurahan hati yang berasal dari kasih. Apa yang mendasari sebuah uluran tangan untuk membantu haruslah murni dari kemurahan hati, dan kemurahan hati ini harus pula berlandaskan kasih. Inilah yang dikehendaki Tuhan untuk kita miliki.

Kemurahan hati mutlak harus kita miliki sebagai pengikut Yesus. Dia telah menyampaikan hal ini dalam kotbah di atas bukit yang sangat terkenal itu. "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Hal ini sejalan dengan apa yang tertulis jauh sebelumnya, yaitu dalam Amsal: "Orang yang murah hati berbuat baik kepada diri sendiri, tetapi orang yang kejam menyiksa badannya sendiri." (Amsal 11:17). Hanya dengan bersikap murah hati yang benar-benar tuluslah kita akan beroleh kemurahan. Jika kita hanya berpura-pura baik dalam membantu atau memberi padahal kita punya begitu banyak agenda terselubung dibelakangnya, maka hal itu bukanlah sesuatu yang berkenan di mata Tuhan.

Cukupkah murah hati itu diwakili oleh sebuah perasaan kasihan, ungkapan simpati yang hanya berhenti hingga kata-kata yang keluar dari mulut saja? Tentu tidak. Perhatikan firman Tuhan berikut: "Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (1 Yohanes 3:17). Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bergumam kasihan saja kepada orang lain? Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18). Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan nyata dan dalam kebenaran.

Ketika menjelaskan hakekat iman, Yakobus pun menyinggung hal kemurahan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata ini. "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16). Bukankah kita sering melakukan ini? Ketika orang butuh bantuan, kita mungkin menunjukkan kepedulian kita dengan kata-kata nasihat yang panjang, bahkan menguliahi atau mengkotbahi mereka, tetapi kita tidak melakukan apapun secara nyata untuk meringankan beban mereka. Yakobus mengingatkan bahwa semua itu tidaklah berguna. Ini sama dengan iman yang hanya kita katakan, kita hanya mengakui kita memiliki iman, tapi kita tidak menyertainya dengan perbuatan. Dan iman seperti ini dikatakan pada hakekatnya adalah mati. (ay 17). Kemurahan hati seperti halnya iman haruslah diikuti dengan sebuah perbuatan nyata, dan ini penting untuk kita ingat.

Jika kita mengaplikasikan kasih dan kemurahan hati berdasarkan sebab akibat, itupun tidak tepat. Memberi hanya karena membalas pemberian orang, atau berharap diberi kembali, berbuat baik karena orang baik kepada kita, mengasihi orang karena mereka mengasihi kita, itu semua masih terlalu dangkal. Yesus mengatakan "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?" (Matius 5:46-47). Dan inilah yang dituntut dari kita: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (ay 48). Seperti halnya Bapa di surga mengasihi semua orang dengan sempurna, seperti itu pula kita dituntut untuk berlaku. Membantu, memberi tanpa pamrih, tergerak dan terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata bukan karena mengharap imbalan atau memiliki tujuan tersembunyi di belakangnya, tapi murni karena belas kasihan, sebuah kemurahan hati yang berdasarkan kasih. Bukan sembarang kasih, tetapi seperti kasih Allah yang tinggal diam di dalam diri kita.

"Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya." (1 yoh 4:21) Yesus juga berkata: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Sesungguhnya kasih memiliki posisi yang sangat tinggi dalam kekristenan. Itu adalah sebuah esensi dasar Kekristenan. Sudahkah kita memilikinya? Sudahkah kita peka terhadap kesulitan orang di sekeliling kita dan bergerak untuk memberikan bantuan nyata? Atau kita masih berhenti pada rasa iba tanpa perbuatan, masih berhitung untung rugi, memikirkan manfaat apa yang bisa kita peroleh dibaliknya, atau malah tidak peduli sama sekali? Simpati atau iba itu baik, tapi tidak akan ada hasilnya jika tidak diikuti dengan perbuatan nyata. Dan itu haruslah berasal dari hati yang mengasihi. Itulah sebuah kemurahan hati yang selayaknya dimiliki oleh kita. Kehidupan secara global semakin berat, itu artinya semakin banyak orang yang butuh uluran tangan saudara-saudaranya. Siapkah anda untuk datang kepada mereka dan berkata, "adakah yang bisa saya bantu?"

Kemurahan hati berdasarkan kasih akan mampu membuat perbedaan nyata dalam kehidupan

Saturday, July 17, 2010

Makna Spiritual dalam Bekerja

Ayat bacaan: Kolose 3:23
===================
"Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia."

bekerjaKerja ya kerja, spiritual ya spiritual. Ada banyak orang yang membagi kedua hal ini menjadi bagian yang benar-benar terpisah dan berbeda. Bekerja itu murni dan mutlak untuk menyambung hidup, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Artinya, tidak ada makna spiritual apapun yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi kita sehari-hari. Bicara soal spiritual beda lagi, yang dipikirkan adalah doa, pujian dan penyembahan, saat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Menjadi pendeta, misionaris, diaken atau worship leader dan tim musik, itulah urusan rohani, sedangkan dalam bekerja tidak ada kaitan sama sekali dengan spiritual. Ini adalah sebuah misconcept, sebuah pemikiran yang keliru.

Benar bahwa kita bekerja untuk menyambung hidup. Benar bahwa kita harus bekerja untuk mencari nafkah, mencukupi kehidupan rumah tangga dan kebutuhan istri dan anak-anak. Alkitab pun berkata dengan keras mengenai sebuah keharusan untuk giat bekerja. "Jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan." (2 Tesalonika 3:10). Tidak ada kemalasan dalam kamus kehidupan kekristenan. Jika kita melihat orang-orang yang dipakai Tuhan di sepanjang alkitab, kita pun akan menemukan bahwa mereka yang dipakai Tuhan adalah orang-orang yang kedapatan sedang bekerja. Tuhan tidak memakai orang malas, Dia tidak pernah berkenan kepada sesuatu yang bernama kemalasan ini. Namun ingatlah bahwa prinsip kekristenan memandang kerja bukan hanya sekedar untuk menyambung hidup atau mencari nafkah saja, melainkan juga untuk memuliakan Tuhan di dalamnya. Lebih dari sekedar memenuhi kebutuhan, bekerja seharusnya juga memiliki makna spiritual di dalamnya.

Apa yang menjadi tugas manusia yang diberikan Allah lewat Adam? Dalam Kejadian 2 kita bisa membaca bahwa Adam ditugaskan untuk "mengusahakan dan memelihara taman Eden" (Kejadian 2:15), lebih lanjut juga ditugaskan seperti ini: "Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi." (1:28). Perhatikan bahwa Adam bukan ditugaskan untuk berdoa, menyanyi dan menari untuk Tuhan, tetapi untuk melakukan serangkaian tugas seperti yang tertulis dalam ayat di atas. Artinya untuk menyenangkan dan memuliakan Tuhan kita bukan hanya terbatas pada kegiatan-kegiatan kerohanian semata, tapi lewat pekerjaan atau profesi kita sehari-haripun kita harus memperhatikan untuk melakukan hal-hal yang bisa menyenangkan hati Tuhan, dimana Tuhan dimuliakan di dalamnya.

Mari kita lihat sejenak sosok Paulus. Paulus adalah seorang yang radikal dalam mewartakan berita keselamatan kemanapun ia pergi. Dia tidak takut, dia tidak bersungut-sungut, dia tidak hitung-hitungan untung rugi, semua dia lakukan karena ketaatan dan kasih yang besar kepada Kristus. Bahkan nyawanya sekalipun ia berikan demi menjalankan apa yang telah ditugaskan kepadanya. Namun lihatlah bahwa Paulus masih tetap bekerja. Paulus bekerja sebagai pembuat kemah (Kisah Para Rasul 18:2-3), dan itu dia gunakan untuk membiayai keperluan dan kebutuhannya beserta teman-teman sekerja dalam melayani. (20:34). Paulus tidak meminta hak khusus untuk tidak bekerja, meskipun waktu dan fisiknya jelas tersita untuk melayani kemana-mana. Ia mengalami deraan, siksaan dan sebagainya, namun ia tetap bekerja. Bahkan lebih dari sekedar untuk membiayai pelayanan, Paulus pun menyatakan bahwa ia bekerja agar bisa memberi, membantu orang lain. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (ay 35). Dari rangkaian fakta ini kita bisa menyimpulkan bahwa Paulus menyadari ia bisa memuliakan Tuhan lewat pekerjaannya. Tidak bersungut-sungut dalam melayani dan bekerja sekaligus, membiayai pelayanannya dan rekan-rekan, plus memberi bantuan kepada orang lain, bukankah semua itu merupakan sesuatu yang berharga di mata Tuhan? Artinya jelas, ada makna spiritual yang harus terkandung di dalam pekerjaan yang kita lakukan sehari-hari.

Firman Tuhan berkata: "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk  manusia." (Kolose 3:23). Ayat ini mengikuti ayat sebelumnya yang berbunyi "Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena takut akan Tuhan." (ay 22). Ada sebuah alasan yang lebih dari sekedar menyambung hidup dalam bekerja, yaitu untuk menyenangkan hati Tuhan. Dan karena itulah kita dituntut untuk bekerja dengan serius dan sungguh-sungguh, bukan seperti untuk manusia melainkan seperti untuk Tuhan. Tokoh reformasi gereja Martin Luther pernah berkata: "Even if I knew that tomorrow the world would go to pieces, I would still plant my apple tree." Ia akan tetap bekerja meski besok dunia hancur lebur. Semua ini bisa membuka cakrawala pemikiran kita bahwa sudah seharusnya pekerjaan kita memiliki nilai spiritual yang sama dalamnya dengan segala kegiatan kerohanian kita seperti berdoa, membaca firman Tuhan, beribadah, bersekutu dan sebagainya. Bekerja adalah sebuah hal yang sangat penting di mata Tuhan, bukan saja karena Tuhan tidak menyukai orang malas, tetapi karena ada banyak hal yang bisa kita lakukan di dalamnya untuk menyatakan kemuliaan Tuhan. Oleh sebab itu kita harus memandang dan memperlakukan pekerjaan kita sama serius dan dalamnya seperti segala kegiatan kerohanian kita. Mulai hari ini, mari kita sama-sama pastikan bahwa kita telah memandang pekerjaan atau profesi kita hari ini seperti apa yang Tuhan kehendaki.

Ada makna spiritual yang seharusnya terkandung di dalam pekerjaan, karena itu lakukanlah dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...