===============================
"Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?"
Rupa-rupa penyesatan terus terjadi di dunia ini. Parahnya, bentuk penyesatan ini seringkali bukan berupa sesuatu yang jelas terlihat salah secara kasat mata, tetapi bisa hadir lewat sesuatu yang dikemas secara rapi, seolah-olah baik namun ternyata dibaliknya tersimpan begitu banyak jebakan. Jika tidak hati-hati kita bisa masuk dan terjebak didalamnya. Inilah pekerjaan iblis yang kita kenal sebagai bapa segala dusta. (Yohanes 8:44). Banyak tipuan iblis yang seolah-olah menjanjikan pertolongan instan, dan betapa banyak orang percaya yang terjerat dengan tipuan ini. Bukan saja paranormal, dukun dan sebagainya, tetapi ada banyak pula pengajaran-pengajaran kemakmuran dan sejenisnya yang ternyata berorientasi menyimpang dari firman Tuhan.Paulus mengatakan hal ini tidaklah mengherankan. "Hal itu tidak usah mengherankan, sebab Iblispun menyamar sebagai malaikat Terang." (2 Korintus 11:14). Sebagai bapa dari dusta, bapa tipu muslihat, iblis memang peniru ulung yang pintar memanfaatkan kelemahan kita untuk dimanipulasi, salah satunya lewat meniru pekerjaan yang dilakukan Tuhan. Kita bisa melihat contohnya dalam kitab Keluaran, yaitu ketika Musa dan Harun berhadapan dengan ahli sihir Mesir yang mampu meniru apa yang mereka lakukan di depan Firaun. Harun melemparkan tongkatnya kemudian tongkat itu berubah menjadi ular, tapi ahli sihir Mesir pun mampu membuat hal yang sama. (Keluaran 7:9-12). Tipuan seperti inilah yang dilakukan oleh iblis hingga hari ini yang jika tidak kita sikapi dengan cermat akan membuat orang-orang percaya termakan tipuan dan masuk ke dalam jebakannya.
Dalam Kisah Para Rasul kita bisa melihat sebuah sosok bernama Baryseus yang berada di pulau Siprus. Dikatakan disana Baryseus adalah seorang tukang sihir dan nabi palsu. (Kisah Para Rasul 13:6). Di pulau Siprus itu ada seorang gubernur bernama Sergius Paulus yang sebenarnya adalah orang cerdas dan bijaksana. Ia sendiri yang memanggil Paulus dan Barnabas, karena kerinduannya mendengar firman Allah. (ay 7). Ada seseorang yang ingin selamat. Tentu iblis tidak tinggal diam. Lalu Baryseus alias Elimas, "tukang sihir itu, menghalang-halangi mereka dan berusaha membelokkan gubernur itu dari imannya." (ay 8). Berbagai tipu pun ia lakukan. Paulus segera bereaksi. "Tetapi Saulus, juga disebut Paulus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap dia, dan berkata: "Hai anak Iblis, engkau penuh dengan rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, engkau musuh segala kebenaran, tidakkah engkau akan berhenti membelokkan Jalan Tuhan yang lurus itu?" (ay 10). Baryseus pun lalu terkena murka Tuhan hingga menjadi buta. Membelokkan jalan Tuhan yang lurus lewat rupa-rupa tipu muslihat dan kejahatan, seperti itulah pekerjaan iblis lewat hamba-hambanya di muka bumi ini.
Di akhir jaman ini semakin banyak orang yang berlaku begitu rupa sehingga terlihat seperti hamba Tuhan, tetapi sebenarnya mereka adalah hamba iblis yang berusaha menyesatkan dan membinasakan kita. Seringkali kemasannya terlihat begitu rapi sehingga jika tidak dicermati baik-baik kitapun mengira bahwa semua itu sesuai firman Tuhan. Dalam Amsal dikatakan "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut." (Amsal 14:12), dan ini semakin banyak kita jumpai hari-hari ini. Berbagai pengajaran berorientasi kemakmuran, kesuksesan, kekayaan dikemas sedemikian rupa sehingga terlihat lurus, padahal itu bertentangan dengan firman Tuhan dan jika kita turuti dengan sendirinya akan mengarahkan kita kepada ujung yang menuju maut. Dalam surat Tesalonika kita bisa melihat peringatan akan hal ini. "Kedatangan si pendurhaka itu adalah pekerjaan Iblis, dan akan disertai rupa-rupa perbuatan ajaib, tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu, dengan rupa-rupa tipu daya jahat terhadap orang-orang yang harus binasa karena mereka tidak menerima dan mengasihi kebenaran yang dapat menyelamatkan mereka." (2 Tesalonika 2:9-10). Perhatikanlah, agar jangan sampai kita termasuk dari mereka yang dikatakan "orang-orang yang harus binasa" karena menolak keselamatan.
Agar terhindar dari jebakan-jebakan ini, kita harus selalu waspada dengan berbagai pengajaran dan penawaran yang diberikan kepada kita. Alkitab memberi solusinya seperti ini: "Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis." (Efesus 6:11). Perlengkapan senjata Allah itu secara rinci bisa dilihat dalam ay 14-18. Ingatlah bahwa tidak selamanya apa yang terlihat benar itu sungguh benar. Kita harus terus waspada dan memperlengkapi diri senantiasa dengan perlengkapan senjata Allah. Iblis akan selalu berusaha mencari titik lemah kita untuk dimanipulasi dan disesatkan, oleh karena itu berhati-hatilah. Ijinkan Roh Kudus terus bekerja dalam diri anda agar anda bisa peka membedakan mana yang berasal dari Tuhan dan mana yang merupakan tipuan iblis.
Tipuan yang dikemas rapi bisa menyesatkan, tetaplah cermati segala sesuatu dengan sungguh-sungguh
Maukah anda meluangkan waktu sekitar setengah jam setiap hari untuk berolah raga? Kebanyakan orang mau meluangkan bahkan lebih dari itu. Menjaga penampilan, membentuk tubuh agar terlihat indah menjadi impian banyak orang, dan mereka pun rela menghabiskan waktu berjam-jam dan menghabiskan banyak biaya untuk memperindah penampilan mereka. Paginya jogging, sore fitness, malam futsal. Itu jadwal seorang teman saya disela-sela pekerjaannya yang dilakukan beberapa kali dalam seminggu. Itu belum termasuk waktu yang dihabiskan para wanita untuk mematut diri dengan make up dan sebagainya. Semua itu baik, karena penampilan yang baik dan kebugaran tubuh memang sangat diperlukan siapapun. Tetapi semua itu tidak akan pernah bertahan selamanya. Sehebat apapun kita membentuk otot,pada suatu saat nanti semuanya akan habis. Kita bisa memperlambat penuaan tapi kita tidak akan pernah bisa menghentikannya. Jika untuk itu kita mau meluangkan begitu banyak waktu setiap hari, mengapa seringkali sulit bagi kita meluangkan waktu untuk sesuatu yang akan berguna bukan saja dalam hidup sekarang, tetapi juga untuk kehidupan yang akan datang?
Belajar dari pengalaman selalu menjadi sesuatu yang sangat penting bagi saya. Dahulu saya pernah sukses besar mengelola sebuah usaha, tapi kemudian semua tidak berbekas sama sekali pada akhirnya. Apa yang terjadi? Ada satu kesalahan terbesar yang saya buat pada waktu itu. Saya terlena menikmati kesuksesan, menikmati uang yang masuk hingga lupa melakukan investasi dan perencanaan matang buat ke depan. Saya lupa bahwa di dunia ini tidak ada yang kekal, termasuk pula kesuksesan. Dan ketika usaha saya menurun, saya pun tidak memiliki sesuatu yang bisa dipakai untuk mempertahankan dan menyelamatkannya. Bagai kapal karam, usaha itu pun tenggelam hingga akhirnya lenyap tak berbekas.
Iming-iming kekayaan memang seringkali bisa membutakan mata kita. Kemarin saya diundang seorang teman yang juga orang percaya untuk menawarkan sesuatu yang katanya kerjasama bisnis. Saya pun datang kesana, dan ternyata ia menawarkan sebuah bentuk networking. Presentasinya sejak awal mengarahkan kita kepada pemikiran bahwa kita bisa mendapatkan segalanya. Uang berlimpah, mobil dan rumah mewah, kapal pesiar, bahkan hingga pesawat terbang pribadi. "Mana yang kamu lebih suka, bekerja tapi dapatnya sedikit atau tanpa bekerja malah dapat kekayaan seperti ini?" katanya. Saya pun menolak dan menjawab bahwa bagi saya uang bukanlah segalanya. Apa yang penting bagi saya, penyertaan Tuhan dalam hidup jauh melebihi segalanya. Kemewahan dan harta berlimpah bukan menjadi impian saya, karena hidup di dunia ini hanyalah sementara saja. Saya lebih tertarik untuk kehidupan berikutnya yang kekal, dan saya tidak akan mau menukarkan kesempatan itu dengan kekayaan sehebat apapun di dunia ini. Ia pun terdiam dan tidak lagi melanjutkan tawarannya.
Dalam bekerja kita sering berhadapan dengan deadline, yaitu masa dimana apa yang kita kerjakan harus sudah rampung. Ini adalah realita yang akan dihadapi ketika seseorang masuk ke dalam dunia pekerjaan profesional, dan hal ini selalu saya tekankan kepada para siswa-siswi saya. Dan saya pun melatih mereka agar serius memandang deadline lewat syarat pengumpulan tugas yang tepat waktu, tidak molor sedikitpun. Tidak semua siswa patuh terhadap hal ini, karena seperti kebiasaan banyak manusia, mereka selalu bersantai-santai dahulu, kemudian kalang kabut mengerjakan ketika waktu sudah mepet. Akibatnya seringkali tugas itu belum rampung pada saatnya. Ketika seharusnya tugas itu sudah dikumpulkan, mereka kedapatan masih sibuk mengerjakan.
"Perusahaan X, Selamat siang, dengan A disini, ada yang bisa dibantu?" Ini sebuah jawaban standar yang akan selalu kita dengar ketika kita menghubungi costumer service lewat telepon. Ketika mereka mengatakan hal ini, artinya mereka siap melayani keluhan dari kita dan mencoba mencari solusi pemecahannya, minimal mencatat dan meminta kita menunggu dalam selang waktu tertentu untuk dibereskan. Jaman semakin maju, ada banyak perusahaan yang menyediakan costumer service di internet, yang bisa kita hubungi dalam jam kerja semudah kita melakukan chatting. Saya kerap berpikir, betapa kemajuan jaman ini memang memberikan banyak kemudahan, sebab ketika saya kecil dahulu, pelayanan seperti ini belumlah ada. Melihat perkembangan layanan purna jual yang terus dibenahi semakin baik dari jaman ke jaman membuat saya menyadari betapa manusia tidak pernah mampu hidup sendirian. Kita selalu butuh untuk terhubung dengan orang lain dalam hidup ini, minimal untuk mengurangi kesulitan yang akan timbul ketika melakukannya sendirian.
Kerja ya kerja, spiritual ya spiritual. Ada banyak orang yang membagi kedua hal ini menjadi bagian yang benar-benar terpisah dan berbeda. Bekerja itu murni dan mutlak untuk menyambung hidup, mencari nafkah, memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Artinya, tidak ada makna spiritual apapun yang bisa dikaitkan dengan pekerjaan atau profesi kita sehari-hari. Bicara soal spiritual beda lagi, yang dipikirkan adalah doa, pujian dan penyembahan, saat teduh dan kegiatan rohani lainnya. Menjadi pendeta, misionaris, diaken atau worship leader dan tim musik, itulah urusan rohani, sedangkan dalam bekerja tidak ada kaitan sama sekali dengan spiritual. Ini adalah sebuah misconcept, sebuah pemikiran yang keliru.