========================
"Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."
Tahukah anda kisah seorang gadis penipu yang sempat meramaikan media massa beberapa waktu yang lalu? Ia begitu lihai menipu dimana-mana, begitu banyak korbannya yang terperdaya dengan berbagai trik dan tipu muslihatnya. Ia terus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan ketika sudah tertangkap sekalipun ia masih juga sanggup memperdaya polisi hingga ia pun kembali bebas. Apakah itu hipnotis atau tidak, apakah karena intelegensianya tinggi sehingga ia bisa mempermainkan orang secara psikologis, entahlah. Tapi satu hal yang pasti, ia adalah seorang gadis yang begitu pintar, licin melebihi belut dan hidup dari tipu muslihat. Hampir setiap hari kita harus berhadapan dengan penipu-penipu dalam berbagai bentuk. Pernahkah anda menerima sms atau bahkan telepon yang mengatakan anda memenangi undian ini dan itu? Pegawai yang menuliskan nilai harga yang lebih tinggi di kuitansi? Bahkan anggota keluarga sekalipun bisa berbohong untuk mendapatkan uang? Pegawai atau anak murid yang mengatakan tidak bisa masuk karena sakit? Berbagai modus operandi penipuan dalam berbagai ragam bentuk dan gaya akan terus ada dan berkembang. Jangan-jangan kita sendiri pun bukan hanya korban, tetapi termasuk pula satu dari para pelaku.
Apa kata firman Tuhan mengenai berbohong? Jelas berbohong itu dosa. Masalahnya, kita sering melegalisir kebohongan itu dengan berbagai dalil. Bohong sedikit itu tidak mengapa, bohong demi kebaikan atau dikenal juga dengan white lies dan sebagainya. Padahal kebohongan apapun bentuknya tetaplah sebuah kebohongan, yang harusnya tidak bisa dibenarkan. Amsal Salomo berpanjang lebar menjabarkan hal ini. "Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 6:12-15). Lihatlah betapa seriusnya penipuan di mata Tuhan. Broken without remedy. Dalam rangkaian ayat selanjutnya kita juga bisa melihat bagaimana lidah dusta, hati yang membuat rencana jahat, saksi dusta yang menyemburkan kebohongan termasuk dalam tujuh perkara yang dibenci Tuhan dan dianggap sebagai kekejian bagi hati Tuhan. (ay 16-19).
Persekongkolan juga termasuk salah satu jenis tipu muslihat. Lebih lanjut kita bisa melihat dalam Amsal dikatakan "Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh." (Amsal 10:10). Jadi jelaslah bahwa apapun bentuknya, kebohongan atau tipu muslihat merupakan sebuah kejahatan di mata Tuhan. Secara lebih tegas kita bisa melihat dalam surat Korintus yang mengatakan: "..Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9b-10).
Sebuah bentuk penipuan biasanya berasal dari hati yang jahat. Kita harus waspada menjaga hati kita karena meski kita bisa menyimpan rapi segala bentuk penipuan, sekiranya pun kita bisa menutup rapat isi hati kita, namun ingatlah bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Allah, "..sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita." (1 Tawarikh 28:9a). Jika tidak waspada, maka hati kita akan terus bertambah jahat sehingga berbagai bentuk penipuan akan menjadi biasa saja bagi kita untuk dilakukan. Mungkin kita memulainya dengan kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa-apa, tetapi jika tidak hati-hati kebohongan demi kebohongan dengan eskalasi meningkat bisa terjadi, dan pada suatu ketika kita akan menjadi seorang pembohong yang tidak lagi merasa bersalah. Alangkah berbahayanya jika hal ini terjadi, karena Tuhan jelas menganggap hal itu sebagai suatu kekejian di mataNya.
Apapun alasannya, hindarilah menipu atau berbohong. Biasakan diri kita untuk bicara dan berlaku jujur sebelum kita terjebak dalam sikap hati yang jahat. Pastikan hati kita tetap dipenuhi oleh firman Tuhan agar kita bisa tetap awas terhadap berbagai jebakan yang mengarahkan kita kepada tipu muslihat dan kebohongan ini.
Tipu muslihat berasal dari hati yang jahat, itu merupakan kekejian bagi Tuhan
Seekor belalang kecil melompat-lompat masuk ke dalam rumah. Agaknya belalang kecil yang lucu ini salah jalan, karena jelas lantai yang dingin bukanlah habitat dimana ia bisa hidup normal. Saya pun mengarahkannya kembali ke luar, ke rerumputan hijau. Satu ekor belalang kecil terlihat lucu juga lemah. Jika mau, dengan mudah kita bisa menghabisinya hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya. Bayangkan apabila kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang. Apa yang terjadi? Bagi para petani, serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalangpun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.
"Tidak sulit kok pak, sebenarnya tinggal mendengar saja suara mesin atau suara-suara lainnya. Jika bapak mendengar bunyi-bunyi yang aneh, itu artinya mobil harus dibawa segera ke bengkel." Begitu kata montir di sebuah bengkel pada suatu kali. Secara teori terdengar mudah bukan? Tapi saya memang tidak mendalami seluk beluk mobil, termasuk perawatannya. Maka biasanya saya baru akan ke bengkel ketika mobil saya benar-benar sudah ambruk. Ketidaktahuan akan perawatan mobil akan membuat saya berpikir semua baik-baik saja, meski mungkin bunyi-bunyian yang disebutkan si montir tadi sudah saya dengar. Jika mobil masih bisa jalan, bukankah itu artinya baik? Tapi ada banyak resiko kecelakaan yang sebenarnya tengah mengintai jika saya masih saja memaksakan mobil itu untuk berlalu-lalang di jalan raya.
Sekitar satu dasawarsa yang lalu sepupu saya pernah mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Pada saat itu ia sedang berlibur ke luar kota. Ada sebuah truk yang berada tepat di depan mobilnya. Truk itu berjalan normal, tapi pada sebuah tanjakan tiba-tiba saja satu ban belakang truk itu terlepas dan meluncur kencang menuju mobilnya. Untunglah pada saat itu sang supir memiliki reaksi yang cepat. Segera ia membanting setir ke kiri, dan ban besar itu "hanya" menggesek sisi kanan mobil. Nyawa selamat, tapi sisi kanan mobil menjadi rusak parah akibatnya. Sepanjang perjalanan ban itu terlihat aman-aman saja, si pengemudi truk pun pasti tidak menyadarinya. Tapi pada suatu ketika masalah yang ada pada ban yang tidak diwaspadai itu menimbulkan masalah di perjalanan bahkan hampir saja menewaskan orang.
Seandainya sebuah pertanyaan diajukan kepada pasangan anda, mengapa ia mencintai anda? Apa jawaban yang anda harapkan untuk keluar darinya? Saya rasa kita semua sepakat berharap bahwa jawaban yang keluar adalah karena mereka mencintai kita. Tapi coba bayangkan jika jawaban yang keluar bukan itu, melainkan "karena dia kaya", "karena harta warisannya besar", "karena statusnya tinggi", atau jawaban seperti ini: "saya tidak tahu pasti.." , pasti jawaban itu akan mengecewakan dan menyakitkan bukan? Kebutuhan kita akan cinta sungguh sangat besar, dan cinta memang punya kekuatan yang dahsyat untuk bisa merubah banyak hal. Love makes the world go round, itu kata mutiara yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Nyatanya cinta kasih memang merupakan hal besar yang berasal dari Tuhan. Jangankan buat kita, buat Tuhan saja pernyataan cinta atau kasih itu sangatlah besar nilainya.
Berkecimpung di dunia musik membuat saya mengenal banyak pemusik di negeri ini, baik yang sudah terkenal maupun yang masih menapak naik. Ada yang sudah terkenal namun masih tetap ramah dan akrab dengan fansnya, sebaliknya ada pula yang masih berjuang tapi sikapnya sudah seperti artis paling top sedunia. Saya melihat sendiri ada musisi-musisi yang tiba-tiba berubah menjadi angkuh ketika kesuksesan mulai tercium, memasang tarif setinggi langit, jual mahal, dan yang terjadi biasanya adalah kehancuran karir dini. Ada sebuah grup yang saya kenal sebetulnya sangat menjanjikan, sayangnya perilaku mereka ternyata tidak baik. Mereka kerap hadir terlambat, tampil acak-acakan dan menurut penuturan panitia dan teman musisi lain ternyata sikap mereka pun tidak cukup sopan. Akibatnya saya tidak mendengar lagi nama mereka hari ini. Sungguh sayang ketika keangkuhan atau tinggi hati ternyata mampu menguasai kita. Ada begitu banyak hal yang baik akan sirna dari diri kita apabila kita membiarkan hal ini berlarut-larut. Bukan hanya manusia saja, tetapi Tuhan pun sangat menekankan sikap rendah hati ini.
Gegap gempitanya perhelatan Piala Dunia 2010 di Afrika yang tengah berlangsung memang sungguh menarik. 32 tim terbaik dunia bertanding untuk memperebutkan piala yang paling prestisius di persepakbolaan dunia ini. Kita dimanjakan dengan suguhan pertandingan secara langsung, menyaksikan sendiri berbagai gol indah dan drama di lapangan baik melalui siaran langsung ataupun tunda. Setiap kali menonton pertandingan sepak bola maka kita akan melihat dua sisi disana. Di satu sisi ada pemain-pemain yang berjuang di lapangan, berusaha mati-matian untuk memenangkan pertandingan. Jatuh bangun, jungkir balik, bahkan tidak jarang dalam keadaan cedera sekalipun mereka masih juga memaksakan diri untuk bertanding, memberi yang terbaik dari mereka. Di sisi lain kita melihat pula ribuan supporter atau penonton yang akan bersorak mensupport tim favoritnya, termasuk kita yang menonton dari layar televisi. Layaknya penonton yang tidak terlibat langsung dalam permainan, kita akan puas hanya dengan menikmati pertandingan. Kita bersorak ketika gol terjadi, berteriak memprotes keputusan wasit, juga dengan mudah mencela ketika sebuah tim tampil buruk. Komentar-komentar pedas, menghujat pelatih atau pemain pun akan sangat mudah kita keluarkan. Kita bahkan sering menjadi komentator-komentator yang seolah lebih baik dari pelatih.