Wednesday, July 7, 2010

Penipu

Ayat bacaan: Amsal 6:12-15
========================
"Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

penipuTahukah anda kisah seorang gadis penipu yang sempat meramaikan media massa beberapa waktu yang lalu? Ia begitu lihai menipu dimana-mana, begitu banyak korbannya yang terperdaya dengan berbagai trik dan tipu muslihatnya. Ia terus berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, bahkan ketika sudah tertangkap sekalipun ia masih juga sanggup memperdaya polisi hingga ia pun kembali bebas. Apakah itu hipnotis atau tidak, apakah karena intelegensianya tinggi sehingga ia bisa mempermainkan orang secara psikologis, entahlah. Tapi satu hal yang pasti, ia adalah seorang gadis yang begitu pintar, licin melebihi belut dan hidup dari tipu muslihat.

Hampir setiap hari kita harus berhadapan dengan penipu-penipu dalam berbagai bentuk. Pernahkah anda menerima sms atau bahkan telepon yang mengatakan anda memenangi undian ini dan itu? Pegawai yang menuliskan nilai harga yang lebih tinggi di kuitansi? Bahkan anggota keluarga sekalipun bisa berbohong untuk mendapatkan uang? Pegawai atau anak murid yang mengatakan tidak bisa masuk karena sakit? Berbagai modus operandi penipuan dalam berbagai ragam bentuk dan gaya akan terus ada dan berkembang. Jangan-jangan kita sendiri pun bukan hanya korban, tetapi termasuk pula satu dari para pelaku.

Apa kata firman Tuhan mengenai berbohong? Jelas berbohong itu dosa. Masalahnya, kita sering melegalisir kebohongan itu dengan berbagai dalil. Bohong sedikit itu tidak mengapa, bohong demi kebaikan atau dikenal juga dengan white lies dan sebagainya. Padahal kebohongan apapun bentuknya tetaplah sebuah kebohongan, yang harusnya tidak bisa dibenarkan. Amsal Salomo berpanjang lebar menjabarkan hal ini. "Tak bergunalah dan jahatlah orang yang hidup dengan mulut serong,yang mengedipkan matanya, yang bermain kaki dan menunjuk-nunjuk dengan jari, yang hatinya mengandung tipu muslihat, yang senantiasa merencanakan kejahatan, dan yang menimbulkan pertengkaran. Itulah sebabnya ia ditimpa kebinasaan dengan tiba-tiba, sesaat saja ia diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 6:12-15). Lihatlah betapa seriusnya penipuan di mata Tuhan. Broken without remedy. Dalam rangkaian ayat selanjutnya kita juga bisa melihat bagaimana lidah dusta, hati yang membuat rencana jahat, saksi dusta yang menyemburkan kebohongan termasuk dalam tujuh perkara yang dibenci Tuhan dan dianggap sebagai kekejian bagi hati Tuhan. (ay 16-19).

Persekongkolan juga termasuk salah satu jenis tipu muslihat. Lebih lanjut kita bisa melihat dalam Amsal dikatakan "Siapa mengedipkan mata, menyebabkan kesusahan, siapa bodoh bicaranya, akan jatuh." (Amsal 10:10). Jadi jelaslah bahwa apapun bentuknya, kebohongan atau tipu muslihat merupakan sebuah kejahatan di mata Tuhan. Secara lebih tegas kita bisa melihat dalam surat Korintus yang mengatakan: "..Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (1 Korintus 6:9b-10).

Sebuah bentuk penipuan biasanya berasal dari hati yang jahat. Kita harus waspada menjaga hati kita karena meski kita bisa menyimpan rapi segala bentuk penipuan, sekiranya pun kita bisa menutup rapat isi hati kita, namun ingatlah bahwa tidak ada satu hal pun yang tersembunyi di hadapan Allah, "..sebab TUHAN menyelidiki segala hati dan mengerti segala niat dan cita-cita." (1 Tawarikh 28:9a). Jika tidak waspada, maka hati kita akan terus bertambah jahat sehingga berbagai bentuk penipuan akan menjadi biasa saja bagi kita untuk dilakukan. Mungkin kita memulainya dengan kebohongan kecil yang kita anggap tidak apa-apa, tetapi jika tidak hati-hati kebohongan demi kebohongan dengan eskalasi meningkat bisa terjadi, dan pada suatu ketika kita akan menjadi seorang pembohong yang tidak lagi merasa bersalah. Alangkah berbahayanya jika hal ini terjadi, karena Tuhan jelas menganggap hal itu sebagai suatu kekejian di mataNya.

Apapun alasannya, hindarilah menipu atau berbohong. Biasakan diri kita untuk bicara dan berlaku jujur sebelum kita terjebak dalam sikap hati yang jahat. Pastikan hati kita tetap dipenuhi oleh firman Tuhan agar kita bisa tetap awas terhadap berbagai jebakan yang mengarahkan kita kepada tipu muslihat dan kebohongan ini.

Tipu muslihat berasal dari hati yang jahat, itu merupakan kekejian bagi Tuhan

Tuesday, July 6, 2010

Belalang

Ayat bacaan: Amsal 30:27
========================
"The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands

belalangSeekor belalang kecil melompat-lompat masuk ke dalam rumah. Agaknya belalang kecil yang lucu ini salah jalan, karena jelas lantai yang dingin bukanlah habitat dimana ia bisa hidup normal. Saya pun mengarahkannya kembali ke luar, ke rerumputan hijau. Satu ekor belalang kecil terlihat lucu juga lemah. Jika mau, dengan mudah kita bisa menghabisinya hanya dengan sedikit tenaga saja. Tapi coba bayangkan jika belalang itu tidak sendirian melainkan membawa teman-temannya. Bayangkan apabila kita diserbu ratusan bahkan ribuan belalang. Apa yang terjadi? Bagi para petani, serbuan belalang seperti ini bisa sangat merepotkan dan merugikan. Maka belalangpun dikategorikan ke dalam hama yang bisa merusak hasil pertanian mereka.

Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi ketika Firaun tetap mengeraskan hatinya untuk melepaskan Israel dari perbudakan di negaranya Mesir. Meski sudah diingatkan Tuhan lewat Musa dan Harun, ia tetap membandel. Dan serangkaian tulah pun hadir menimpa bangsanya. Tulah ke delapan yang dijatuhkan adalah segerombolan belalang dalam jumlah yang begitu besar. Persisnya inilah yang terjadi. "Datanglah belalang meliputi seluruh tanah Mesir dan hinggap di seluruh daerah Mesir, sangat banyak; sebelum itu tidak pernah ada belalang yang demikian banyaknya dan sesudah itupun tidak akan terjadi lagi yang demikian. Belalang menutupi seluruh permukaan bumi, sehingga negeri itu menjadi gelap olehnya; belalang memakan habis segala tumbuh-tumbuhan di tanah dan segala buah-buahan pada pohon-pohon yang ditinggalkan oleh hujan es itu, sehingga tidak ada tinggal lagi yang hijau pada pohon atau tumbuh-tumbuhan di padang di seluruh tanah Mesir." (Keluaran 10:14-15). Sungguh mengerikan. Jika kita pernah melihat bagaimana kesulitan yang dihadapi penduduk di suatu daerah ketika menghadapi serangan belalang, disini dikatakan bahwa pada saat itu serangan jauh lebih besar dari yang pernah ada, dan tidak akan pernah ada serangan belalang yang lebih besar lagi setelahnya. Dalam sekejap mata Mesir berubah menjadi lautan belalang yang mengubah Mesir menjadi gurun gersang dalam waktu singkat.

Satu belalang tidak akan berpengaruh apa-apa, tapi dalam jumlah banyak belalang bisa sangat merepotkan. Agur bin Yake pun mengatakan: "belalang yang tidak mempunyai raja, namun semuanya berbaris dengan teratur." (Amsal 30:27). Dalam versi Bahasa Inggris (Amplified) ditulis: "The locusts have no king, yet they go forth all of them by bands". Meski belalang  tidak memiliki raja, namun mereka bisa bersatu dengan kuat dalam sebuah kelompok besar untuk satu tujuan tertentu. Jika melihat bagaimana manusia hari-hari ini yang begitu sulit untuk bersatu, selalu memperbesar jurang perbedaan dan terus bertikai kita patut malu terhadap belalang ini. Lihatlah betapa sulitnya kita yang seiman untuk bersatu. Segala perbedaan selalu dijadikan alasan, kita terus menerus merendahkan, memandang negatif dan curiga terhadap saudara seiman yang memiliki tata cara peribadatan yang berbeda dengan kita. Padahal kita memiliki Raja yang sama, Raja diatas segala raja, Yesus Kristus. Jika belalang yang tidak memiliki raja bisa bersikap demikian, betapa memalukannya kita yang memiliki Raja tidak bisa melakukannya.


Meskipun Perjanjian Baru banyak memberi penekanan kepada pertumbuhan iman kita masing-masing, tetapi Tuhan tidak pernah menginginkan kita untuk menjadi individu-individu yang eksklusif. Gereja tidak akan pernah bisa menjadi terang dan garam jika hanya dibatasi oleh dinding-dinding tanpa pernah berpikir untuk menjangkau lebih banyak jiwa yang berada di luar dinding itu. Penulis Ibrani menyampaikan firman Tuhan yang berbunyi: "Dan marilah kita saling memperhatikan supaya kita saling mendorong dalam kasih dan dalam pekerjaan baik." (Ibrani 10:24). Prinsip saling yang positif harus terus kita kembangkan, karena kita harus menyadari bahwa kita ini terbatas dan lemah, seperti halnya belalang. Menghadapi hari-hari yang semakin sukar ini, kita harus lebih menekankan kebersamaan, membangun hubungan kekeluargaan dan persaudaraan erat dengan saudara-saudari kita lainnya. Apa yang dikatakan Tuhan itu jelas. Berhentilah menjadi pribadi yang eksklusif! "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (ay 25).

Jangan abaikan fellowship atau persekutuan, karena disana kita bisa saling menguatkan, menegur dan meneguhkan. Firman Tuhan berkata: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Lalu dalam ayat lain kita bisa membaca: "Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan."(ay 12). Belalang jika hanya seekor akan mudah dipatahkan, tetapi akan memiliki kekuatan yang luar biasa ketika mereka bersatu. Hari-hari yang kita jalani sesungguhnya sulit. Oleh karena itu marilah kita lebih giat lagi bersekutu, saling support, saling bantu, saling dorong, agar kita bisa sama-sama terus bertumbuh dalam Tuhan.

Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh

Monday, July 5, 2010

Dosa Tersembunyi (2)

Ayat bacaan: 2 Samuel 22:31
==========================
"Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya."

dosa tersembunyi"Tidak sulit kok pak, sebenarnya tinggal mendengar saja suara mesin atau suara-suara lainnya. Jika bapak mendengar bunyi-bunyi yang aneh, itu artinya mobil harus dibawa segera ke bengkel." Begitu kata montir di sebuah bengkel pada suatu kali. Secara teori terdengar mudah bukan? Tapi saya memang tidak mendalami seluk beluk mobil, termasuk perawatannya. Maka biasanya saya baru akan ke bengkel ketika mobil saya benar-benar sudah ambruk. Ketidaktahuan akan perawatan mobil akan membuat saya berpikir semua baik-baik saja, meski mungkin bunyi-bunyian yang disebutkan si montir tadi sudah saya dengar. Jika mobil masih bisa jalan, bukankah itu artinya baik? Tapi ada banyak resiko kecelakaan yang sebenarnya tengah mengintai jika saya masih saja memaksakan mobil itu untuk berlalu-lalang di jalan raya.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana berbahayanya sebuah dosa yang tersimpan rapi di dalam diri kita. Ada dosa yang jelas kita ketahui, tapi ada pula dosa yang mungkin samar-samar, tersembunyi atau tidak kita sadari. Dosa seperti ini akan sama saja bisa menghambat hubungan kita dengan Tuhan. Dan seperti ilustrasi mobil di atas, dosa ini pun bisa dengan tenang tersembunyi ketika kehidupan kita terasa baik-baik saja. Tetapi sebuah dosa, apapun bentuk dan ukurannya tetaplah dosa, yang siap memporak-porandakan hidup kita dalam sekejap mata pada saatnya. Oleh karena itulah kita tetap perlu membereskan dosa-dosa yang tak terlihat atau tak disadari ini. Daud melakukannya seperti yang telah kita lihat kemarin. Lihat salah satu pengakuannya: "Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari." (Mazmur 19:13). Berkali-kali pula Daud meminta Tuhan untuk menyelidikinya, seperti dalam Mazmur 26:1, 139:22-24 atau 51:12 misalnya. Tetapi ingatlah bahwa sebelum kita meminta Tuhan menyelidiki hati dan pikiran kita, terlebih dahulu kita harus membereskan segala dosa-dosa yang jelas-jelas atau nyata-nyata kita ketahui masih mengotori diri kita. Meminta Tuhan untuk menguji hati kita setelah kita bereskan itu bagus. Artinya kita memberikan otoritas kepada Tuhan dengan kerelaan hati sepenuhnya untuk diperiksa dan disucikan. Namun ada beberapa langkah yang juga bisa membantu kita untuk membereskan dosa-dosa tersembunyi ini.

Salah satu hal mendasar yang membuat orang tidak menyadari dosanya adalah kurangnya pemahaman akan firman Tuhan. Membaca Alkitab saja sudah malas, apalagi merenungkannya. Akibatnya kita hanya tahu kulit luarnya saja secara garis besar dan melewatkan banyak detail yang terkandung di dalam sekian banyak firman Tuhan. Dan hal itu akan membuat kita begitu mudah untuk memberi toleransi kepada berbagai bentuk dosa. Kita menganggap itu sebagai kebiasaan saja, cuma kenakalan sesaat, iseng-iseng atau alasan lainnya, padahal mungkin apa yang kita buat itu merupakan kejahatan serius di mata Tuhan. Setiap firman Tuhan itu punya kuasa. Setiap firman Tuhan itu hidup. Daud mengatakan seperti ini: "Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda TUHAN itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya." (2 Samuel 22:31). Dan ini kembali bisa kita baca dalam Mazmur 18:31. Begitu murninya firman Tuhan, hingga Daud menggambarkannya demikian: "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mazmur 12:7). Seperti itulah kira-kira kemurnian firman Tuhan. Firman Tuhan itu teguh, tetap sifatnya, dan selalu dapat diandalkan. Melewatkan kesempatan mengenal firman Tuhan sama artinya dengan membiarkan diri kita dimasuki berbagai macam kesesatan, membuka pintu untuk diperdaya oleh iblis, dan dengan sendirinya mengarahkan diri kita untuk meluncur deras ke jurang kebinasaan. Itulah sebabnya di awal kitab Mazmur kita langsung berhadapan dengan ayat yang menggambarkan bagaimana berbahagianya orang yang suka berdiam dalam firman Tuhan. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3).

Selain membangun keintiman dengan firman Tuhan, jangan lupa pula bahwa ada Roh Kudus yang tinggal diam di dalam diri kita. Seperti apa yang dikatakan Yesus, "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran." (Yohanes 14:16-17a). Roh Kudus akan selalu siap bertindak sebagai penolong, pembimbing, penegur dalam setiap langkah hidup kita. Ada kalanya kita lemah, ada kalanya kita terpengaruh atau diperdaya, di saat seperti itu kita harus menyadari dengan segera bahwa Roh Allah itu hadir di dalam diri kita, mengingatkan dan membimbing kita untuk tidak terjatuh ke dalam berbagai macam jebakan. Dalam surat Roma kita baca: "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan." (Roma 8:26). Ada banyak anak-anak Tuhan yang belum sepenuhnya menyadari keberadaan Roh Kudus yang telah dianugerahkan dalam hidup mereka. Padahal dalam menghadapi samudera kehidupan yang maha sulit ini kita jelas butuh tuntunan Roh Kudus.

Hari ini mari kita periksa diri kita. Sudahkah kita memaksimalkan kesempatan yang masih diberikan kepada kita untuk mendalami firman Tuhan lebih lagi, dan menyadari benar keberadaan Roh Kudus di dalam hidup kita? Mari pastikan bahwa tidak ada dosa-dosa tersembunyi lagi di dalam hidup kita. Mari kita bersihkan segala yang mencemari hidup kita, menodai dan memutus hubungan kita dengan Tuhan yang kudus. Hidupilah sebuah kehidupan yang dipimpin langsung oleh Allah, sebuah kehidupan dimana Allah yang berdaulat di dalamnya, sebuah kehidupan yang kita kenal sebagai kehidupan dalam Kerajaan Allah. Inilah sebuah kehidupan yang tidak akan tergoncangkan yang telah diberikan Tuhan kepada setiap anak-anakNya. Jangan lewatkan kesempatan itu dengan kelemahan kita yang masih saja menyimpan dosa baik yang kita sadari maupun yang tersembunyi. Jangan tunggu dosa itu menghancurkan kita, bereskanlah segera dari sekarang.

Tuhan telah memberikan lebih dari cukup bekal bagi kita untuk hidup kudus. Pakailah semaksimal mungkin

Sunday, July 4, 2010

Dosa Tersembunyi (1)

Ayat bacaan: Mazmur 19:13
========================
"Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari."

dosa tersembunyiSekitar satu dasawarsa yang lalu sepupu saya pernah mengalami kecelakaan yang nyaris merenggut nyawanya. Pada saat itu ia sedang berlibur ke luar kota. Ada sebuah truk yang berada tepat di depan mobilnya. Truk itu berjalan normal, tapi pada sebuah tanjakan tiba-tiba saja satu ban belakang truk itu terlepas dan meluncur kencang menuju mobilnya. Untunglah pada saat itu sang supir memiliki reaksi yang cepat. Segera ia membanting setir ke kiri, dan ban besar itu "hanya" menggesek sisi kanan mobil. Nyawa selamat, tapi sisi kanan mobil menjadi rusak parah akibatnya. Sepanjang perjalanan ban itu terlihat aman-aman saja, si pengemudi truk pun pasti tidak menyadarinya. Tapi pada suatu ketika masalah yang ada pada ban yang tidak diwaspadai itu menimbulkan masalah di perjalanan bahkan hampir saja menewaskan orang.

Hidup kita pun sering seperti itu. Dosa-dosa yang kita sadari atau ketahui mungkin bisa kita selesaikan melalui pertobatan yang sungguh-sungguh. Ketika itu kita lakukan, maka Allah yang maha setia dan maha adil akan segera mengampuni dosa dan menyucikan kita. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Meskipun hal ini sering tidak mudah untuk kita lakukan, tetapi setidaknya dengan menyadari dosa itu kita masih punya peluang untuk membereskannya hingga tuntas. Tetapi bagaimana dengan dosa-dosa tersembunyi yang tidak kita sadari? Bagaikan api dalam sekam dosa bisa tersimpan rapi di dalam diri kita tanpa kita sadari, dan pada saatnya api itu bisa timbul besar dan membakar diri kita. Bahaya dosa yang tersembunyi ini sungguh serius, karena apa pun bentuknya dan besarnya, sebuah dosa tetaplah dosa.

Daud menyadari hal itu. Dengan terbuka Daud pun berkata "Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari." (Mazmur 19:13). Untuk jenis kesalahan atau kesesatan yang tersembunyi ini kita bisa meminta Tuhan untuk memeriksa dan membebaskan kita. Untuk itu dibutuhkan sebuah kerelaan untuk diperiksa oleh Tuhan. Bereskan terlebih dahulu segala dosa yang kita sadari, kemudian bukalah hati sepenuhnya untuk diperiksa oleh Tuhan, agar jangan sampai ada masalah yang mungkin sudah berakar di dalam diri kita tapi belum kita sadari. Dosa yang dibiarkan ada dalam diri kita, baik yang nyata-nyata kita sadari, kita tolerir untuk terus ada atau yang tidak kita ketahui tetap sama. Semua itu bisa membuat hubungan kita terputus dari Tuhan. Dalam Mazmur kita bisa melihat kesadaran mengenai hal ini. "Seandainya ada niat jahat dalam hatiku, tentulah Tuhan tidak mau mendengar." (66:18). Yesaya pun mengingatkan "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Artinya, berapapun ukuran dari dosa kita, terlihat atau tidak, disadari atau tidak, semua itu akan membuat kita luput dari penyertaan Tuhan.

Daud berkali-kali berseru meminta Tuhan untuk menyucikan dirinya dari segala dosa. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:1), "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (Mazmur 139:23-24), atau "Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!" (Mazmur 51:12). Ini semua adalah seruan yang bagi saya cukup berani, karena Daud tentu sudah membereskan terlebih dahulu segala dosa yang ia sadari dari dalam hatinya sebelum meminta Tuhan untuk menguji dirinya. Tuhan siap untuk menguji diri kita, memeriksa kita dan menyucikan kita, bahkan dari yang tersembunyi sekalipun. Tapi kita harus terlebih dahulu membereskan segala sesuatu yang masih bisa kita sadari. Lakukan perenungan menyeluruh, periksa hati kita terlebih dahulu dan bereskanlah semuanya yang kita ketahui masih menghambat pertumbuhan rohani dan kedekatan kita dengan Tuhan. Dan setelah itu ijinkan Tuhan masuk memeriksa segala hal yang tersembunyi di dalam diri kita. Dosa yang tidak kita sadari tetaplah sebuah dosa yang memiliki potensi membahayakan hidup dan keselamatan kita kelak, karena itu pastikan bahwa tidak ada noda apapun yang masih tersisa mengotori hati kita.

Dosa yang tidak kita sadari tetaplah sebuah dosa yang sama berbahayanya

Saturday, July 3, 2010

Motivasi Untuk Mengikuti Yesus

Ayat bacaan: Yohanes 2:14
=====================
"Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ."

motivasi mengikuti YesusSeandainya sebuah pertanyaan diajukan kepada pasangan anda, mengapa ia mencintai anda? Apa jawaban yang anda harapkan untuk keluar darinya? Saya rasa kita semua sepakat berharap bahwa jawaban yang keluar adalah karena mereka mencintai kita. Tapi coba bayangkan jika jawaban yang keluar bukan itu, melainkan "karena dia kaya", "karena harta warisannya besar", "karena statusnya tinggi", atau jawaban seperti ini: "saya tidak tahu pasti.." , pasti jawaban itu akan mengecewakan dan menyakitkan bukan? Kebutuhan kita akan cinta sungguh sangat besar, dan cinta memang punya kekuatan yang dahsyat untuk bisa merubah banyak hal. Love makes the world go round, itu kata mutiara yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Nyatanya cinta kasih memang merupakan hal besar yang berasal dari Tuhan. Jangankan buat kita, buat Tuhan saja pernyataan cinta atau kasih itu sangatlah besar nilainya.

Hari ini mari kita melihat sebuah kisah yang mencatat kemarahan Yesus yang begitu besar ketika Dia hadir di muka bumi ini dalam bentuk fisik manusia. Pada sebuah Hari Paskah Yahudi, Yesus pergi ke Yerusalem dan datang ke Bait Suci. Apa yang tercatat pada ayat berikutnya sungguh ironis. "Dalam Bait Suci didapati-Nya pedagang-pedagang lembu, kambing domba dan merpati, dan penukar-penukar uang duduk di situ." (Yohanes 2:14). Ketika saya membaca ayat ini untuk pertama kali, saya sempat bertanya, "Ini gereja apa pasar sih?" Bayangkan di Bait Suci itu bukan berisi orang-orang yang ingin menyembah dan memuliakan Tuhan, tetapi justru penuh dengan para pedagang beserta hewan dagangannya, ditambah lagi para penukar uang alias money changer melakukan bisnisnya disana. Saya bisa membayangkan betapa hiruk pikuknya suasana di Bait Suci yang kudus pada saat itu. Yang terjadi selanjutnya saya yakin mengagetkan semua orang di sana, dan mungkin juga kita. Yesus marah besar. "Ia membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: "Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan." (ay 15-16). Anda mungkin heran mengapa Yesus bisa marah seperti itu. Padahal menurut jalan pikiran kita, ada banyak hal yang seharusnya bisa membuat Yesus lebih marah. Ketika Yesus dihina, ditinggalkan, difitnah, disiksa dan disalib hingga mati misalnya. Bagi kita itu tentu lebih serius daripada sekedar melihat orang berdagang di rumah bukan? Kita akan mudah marah ketika kita mendapat perlakuan seperti itu dari orang lain, tetapi Yesus sama sekali tidak marah ketika diperlakukan demikian. Dia tetap tenang menjalani semuanya seperti apa yang dikehendaki Bapa. Tapi melihat orang-orang berdagang di Bait Suci, kemarahan Yesus pun timbul. Jika Yesus yang begitu sabar dan lembut hati hingga bisa marah seperti itu, tentu itu merupakan hal yang sangat serius. Apa yang membuat Yesus marah sedemikian rupa saat itu?

Kemarahan Yesus timbul karena melihat banyaknya orang yang mencari untung dengan memanfaatkan Tuhan. Kita mungkin bisa tertawa dan mengatakan bahwa kita tidak berdagang sapi atau burung di gereja, tetapi sadarkah kita bahwa ada banyak orang yang mencari Tuhan hanya untuk keuntungan semata? Dalam ayat 21 kita membaca: "Tetapi yang dimaksudkan-Nya dengan Bait Allah ialah tubuh-Nya sendiri." Ada banyak orang yang mau mengikut Yesus agar bisnisnya lancar, bisa mendapat untung besar, ada banyak pula orang yang berharap bisa mendapat jodoh, karirnya naik, sembuh dari penyakit dan sebagainya. Tuhan bisa menyediakan itu semua, itu benar sekali. Namun semua itu seharusnya bukan menjadi prioritas utama. Coba tanyakan, jika mengikut Yesus berarti siap memanggul salib, harus mengalami penderitaan, maka akan ada banyak orang yang mengundurkan diri. Mereka hanya melihat Tuhan sebagai pemberi berkat, itu motivasi utama, dan bukan karena mereka mengasihi Tuhan. Ini adalah hal yang ironis dan keterlaluan. Mengapa? Karena kita harus sadar bahwa Tuhan sudah terlebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang dimiliki Tuhan atas kita manusia sungguh teramat sangat besar. Bayangkan Tuhan yang begitu besar mau repot-repot mengurusi manusia di dunia yang sangat kecil di tengah alam semesta. Dia rela mengambil rupa seorang hamba, disiksa dan mati di atas kayu salib demi menyelamatkan kita semua dari kebinasaan kekal. Ini sebuah misi penyelamatan yang mencengangkan.

Apa yang menggerakkan Tuhan untuk itu bukanlah untuk keuntungan diriNya. Perhatikan ayat berikut: "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).  Lihatlah bahwa misi penyelamatan yang mencengangkan itu hadir karena didasari cinta kasih yang begitu besar kepada kita. Bentuk cinta kasih Tuhan yang besar itulah yang menggerakkanNya untuk bersikap pro-aktif menyelamatkan kita secara langsung lewat penebusan Kristus. Jika Tuhan begitu mengasihi kita dan menganggap kita yang penuh dosa ini begitu berharga dan layak dicintai, tidakkah keterlaluan jika kita malah berhitung untung rugi untuk menjadi pengikut Yesus? Maka wajarlah jika Yesus pun begitu marah ketika melihat orang-orang yang datang mencari Tuhan untuk mencari keuntungan pribadi.

Yesus sudah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah bisa mengabdi kepada dua tuan. "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian, ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon." (Matius 6:24). Prioritas haruslah jelas, motivasi kita pun juga harus benar. Ingatlah bahwa "Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka." (2 Korintus 5:15). Semua itu didasari kasih Bapa yang begitu besar, dan sudah seharusnya kita pun mendasari iman kita kepadaNya bukan karena embel-embel lain selain kasih. Karena kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, raga dan roh kita. Apa yang menjadi motivasi kita hari ini untuk menerima Yesus? Apakah kita berpikir untuk mendapatkan laba besar, bisnis lancar, karir meningkat, jodoh datang, sakit disembuhkan, dan sebagainya, atau semata-mata karena kita mengasihi Yesus, yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita justru ketika kita masih berlumur dosa? Jika jawaban kita masih didasari kepada motivasi untuk mencari keuntungan, berubahlah sekarang sebelum Yesus harus marah kepada kita dan menjungkirbalikkan semuanya.

Dasarkan penyerahan hidup kita kepada Tuhan atas dasar kasih dan bukan untuk mencari keuntungan

Friday, July 2, 2010

Kriteria Rendah Hati

Ayat bacaan: Mazmur 149:4
====================
"Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan."

kriteria rendah hatiBerkecimpung di dunia musik membuat saya mengenal banyak pemusik di negeri ini, baik yang sudah terkenal maupun yang masih menapak naik. Ada yang sudah terkenal namun masih tetap ramah dan akrab dengan fansnya, sebaliknya ada pula yang masih berjuang tapi sikapnya sudah seperti artis paling top sedunia. Saya melihat sendiri ada musisi-musisi yang tiba-tiba berubah menjadi angkuh ketika kesuksesan mulai tercium, memasang tarif setinggi langit, jual mahal, dan yang terjadi biasanya adalah kehancuran karir dini. Ada sebuah grup yang saya kenal sebetulnya sangat menjanjikan, sayangnya perilaku mereka ternyata tidak baik. Mereka kerap hadir terlambat, tampil acak-acakan dan menurut penuturan panitia dan teman musisi lain ternyata sikap mereka pun tidak cukup sopan. Akibatnya saya tidak mendengar lagi nama mereka hari ini. Sungguh sayang ketika keangkuhan atau tinggi hati ternyata mampu menguasai kita. Ada begitu banyak hal yang baik akan sirna dari diri kita apabila kita membiarkan hal ini berlarut-larut. Bukan hanya manusia saja, tetapi Tuhan pun sangat menekankan sikap rendah hati ini.

Rendah hati berulang-ulang diingatkan sepanjang Alkitab. Mulai dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru kita akan mendapati begitu banyak pesan Tuhan mengenai soal kerendahan hati ini. Mengapa harus demikian? Karena sepertinya ada tendensi orang mudah menjadi sombong ketika kehidupannya sukses. Tidakkah kita sering melihat orang berubah sikap ketika mereka sedang meningkat? Ada pula yang mengira mereka akan terlihat berwibawa dan berpengaruh jika mereka tampil angkuh atau terus omong besar. Jika hal ini kita lakukan, tidak saja kita akan dijauhi orang lain, tetapi kita pun akan bermasalah dengan Tuhan. Sikap rendah hati merupakan sebuah keharusan untuk dimiliki oleh anak-anak Tuhan.

Lihatlah salah satu dari sekian banyak janji Tuhan terhadap orang yang rendah hati. "Sebab TUHAN berkenan kepada umat-Nya, Ia memahkotai orang-orang yang rendah hati dengan keselamatan." (Mazmur 149:4). Keselamatan, itu sebuah anugerah yang terbesar yang bisa kita peroleh. Dan itu siap disematkan kepada kita apabila kita memiliki sebuah sikap rendah hati. Tapi seperti apa sebenarnya rendah hati itu? Apakah Alkitab menjelaskan kriteria rendah hati? Tentu saja. Setidaknya ada 4 hal yang bisa kita lihat sebagai gambaran apa yang disebut dengan rendah hati menurut firman Tuhan.

1. Orang yang rendah hati memiliki kerelaan atau keberanian untuk mengakui kesalahan.
Ini merupakan hal yang sungguh sulit untuk dilakukan oleh sebagian besar orang. Rasa gengsi yang terlalu besar, takut kehilangan harga diri, takut disepelekan dan sebagainya ering membuat kita berat untuk meminta maaf secara terbuka. Padahal masalah kerelaan untuk meminta maaf merupakan hal yang sangat esensial di mata Tuhan. Sebab bagaimana mungkin kita bisa diampuni Tuhan apabila kita tidak mengakui dosa-dosa kita secara terbuka di hadapanNya? Firman Tuhan pun berkata: "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9). Perhatikan bahwa Tuhan siap mengampuni dan menyucikan kita sesegera mungkin, tetapi diperlukan kerendahan hati kita untuk mau mengakui dosa-dosa kita.

2. Orang yang rendah hati mau diajar dan belajar.

Ada sebuah firman Tuhan berbunyi: "Ia membimbing orang-orang yang rendah hati menurut hukum, dan Ia mengajarkan jalan-Nya kepada orang-orang yang rendah hati." (Mazmur 25:9). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa orang-orang yang rendah hati memiliki kemauan untuk diajar dan terus belajar. Jalan Tuhan terbentang luas di dalam Alkitab. Dan hanya orang yang rendah hatilah yang mau terus membenahi diri untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Tuhan siap membimbing orang-orang yang mau mengakui kekurangannya dan terus belajar, membaca, meneliti, merenungkan, memperkatakan dan melakukan firman Tuhan. Bagaimana Tuhan mau mengajar orang yang merasa dirinya hebat, bahkan lebih pintar dari Tuhan? Bagaimana firman Tuhan bisa tertanam dan bertumbuh apabila firman itu jatuh di atas tanah yang keras berbatu? Keangkuhan akan merugikan kita sendiri. Dengan memiliki kerendahan hati berarti kita pun memiliki kesempatan untuk dibimbing secara langsung oleh Tuhan, karena kita memang selalu siap untuk terus belajar dan belajar lagi.

3. Orang yang rendah hati tidak sombong.
Tinggi hati atau sombong, angkuh, dan berbagai sinonim lainnya adalah lawan kata dari rendah hati. Artinya orang yang rendah hati tidak akan bersikap sombong, dan begitu juga sebaliknya. Dengan bersikap sombong bukan saja kita dijauhi orang lain, tapi Tuhan pun akan menjauhi kita, bahkan dikatakan menentang kita. "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6b). Mengasihani dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "gives grace, continually". Lihatlah bagaimana penghargaan Tuhan atas sikap rendah hati. Sebaliknya Tuhan sendiri akan menjadi lawan kita apabila kesombongan atau kecongkakan terus kita pertahankan dalam diri kita.

4. Orang yang rendah hati tidak mendahulukan kepentingan diri sendiri.
Ini juga merupakan poin penting. Bagaimana sebuah ikatan, persekutuan atau bentuk-bentuk perkumpulan lainnya bisa tetap kokoh apabila anggotanya terus menerus hanya mementingkan diri sendiri saja? Keangkuhan bisa membuat orang besar kepala dan lupa diri, sehingga menganggap diri mereka yang paling penting. Sebuah band musik bisa hancur seketika gara-gara sikap seperti ini, keutuhan keluarga bisa runtuh, begitu pula dengan persekutuan, organisasi atau ikatan lainnya. Orang yang rendah hati tidak akan bersikap demikian karena mereka akan memikirkan orang lain terlebih dahulu ketimbang kepentingan dirinya sendiri. Firman Tuhan berkata: "..Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3-4). Sifat rendah hati mampu memunculkan sikap seperti ini.

Dari 4 hal di atas kita bisa melihat kualitas tinggi yang akan tampil apabila kita hidup dengan kerendahan hati. Karena itu tidaklah heran jika Tuhan pun meninggikan orang-orang yang memiliki sifat rendah hati, bahkan siap memahkotai dengan keselamatan. Bukan hanya keselamatan dari bahaya, sakit penyakit dan sebagainya, tetapi keselamatan jiwa yang kekal sifatnya, atau dalam bahasa Inggrisnya disebut dengan salvation. Itulah yang dimahkotai Tuhan kepada orang-orang yang rendah hati seperti yang bisa kita baca dalam Mazmur 149:4 di atas. Seharusnya kita ingat bahwa kita hanyalah berasal dari debu (Mazmur 103:14), dan semua yang kita miliki sesungguhnya berasal dari Tuhan. (Ulangan 8:14-18). Oleh karena itu, milikilah sifat rendah hati, teruslah ingatkan diri kita untuk itu, dan itulah yang akan menyenangkan hati Tuhan.

"Setiap orang yang tinggi hati adalah kekejian bagi TUHAN; sungguh, ia tidak akan luput dari hukuman." (Amsal 16:5)

Thursday, July 1, 2010

Pemain dan Penonton

Ayat bacaan: 1 Petrus 2:9
==================
"Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib"

Gegap gempitanya perhelatan Piala Dunia 2010  di Afrika yang tengah berlangsung memang sungguh menarik. 32 tim terbaik dunia bertanding untuk memperebutkan piala yang paling prestisius di persepakbolaan dunia ini. Kita dimanjakan dengan suguhan pertandingan secara langsung, menyaksikan sendiri berbagai gol indah dan drama di lapangan baik melalui siaran langsung ataupun tunda. Setiap kali menonton pertandingan sepak bola maka kita akan melihat dua sisi disana. Di satu sisi ada pemain-pemain yang berjuang di lapangan, berusaha mati-matian untuk memenangkan pertandingan. Jatuh bangun, jungkir balik, bahkan tidak jarang dalam keadaan cedera sekalipun mereka masih juga memaksakan diri untuk bertanding, memberi yang terbaik dari mereka. Di sisi lain kita melihat pula ribuan supporter atau penonton yang akan bersorak mensupport tim favoritnya, termasuk kita yang menonton dari layar televisi. Layaknya penonton yang tidak terlibat langsung dalam permainan, kita akan puas hanya dengan menikmati pertandingan. Kita bersorak ketika gol terjadi, berteriak memprotes keputusan wasit, juga dengan mudah mencela ketika sebuah tim tampil buruk. Komentar-komentar pedas, menghujat pelatih atau pemain pun akan sangat mudah kita keluarkan. Kita bahkan sering menjadi komentator-komentator yang seolah lebih baik dari pelatih.

Sebuah pertanyaan besar hadir buat saya selama menonton Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan ini. Dalam kehidupan kerohanian kita, siapakah kita sebenarnya? Apakah kita berada di posisi pemain atau masih sebagai penonton? Pada kenyataannya lebih banyak orang Kristen yang puas dengan hanya berada di bangku penonton ketimbang aktif secara langsung dalam melakukan pekerjaan Tuhan, atau bertindak sebagai pemain. Kebanyakan lebih suka untuk berpangku tangan, hanya menerima berkat buat diri sendiri dan tidak mau terjun langsung untuk menjadi agen-agen Tuhan di dunia ini. Melayani Tuhan? Itu tugas pendeta atau pengerja-pengerja saja. Urusan duniawi seringkali jauh lebih menggiurkan ketimbang menerima panggilan sebagai wakil Tuhan yang dianggap menyita waktu dan merugikan secara materi.

Apakah Tuhan hanya meminta sebagian orang saja untuk terjun langsung secara aktif dalam mewartakan Injil? Tentu saja tidak. Sebab Firman Tuhan secara tegas berkata: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9). Sebuah bangsa, itu bicara tentang keseluruhan, dan bukan hanya segelintir pribadi. Dan kita dikatakan imamat yang rajani, imam-imam yang melayani raja atau royal priesthood, yang tidak lain kepunyaan Allah sendiri. Dan ini bukanlah pemberian tanpa maksud, karena kita dipanggil untuk memberitakan perbuatan-perbuatan besar Tuhan lewat berbagai kesaksian akan karya nyata Tuhan dalam hidup kita. Ini adalah sebuah panggilan untuk semua anak-anak Tuhan tanpa terkecuali di muka bumi ini. Yesus sendiri sudah berpesan dengan sangat jelas agar kita menjadi rekan sekerjaNya. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:19-20).

Untuk menjalankan itu semua, selain Yesus sudah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, Dia juga telah membekali kita dengan kuasa-kuasa luar biasa. "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Dan Yesus juga berkata "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi." (Kisah Para Rasul 1:8). Kuasa diberikan agar kita mampu berperan langsung menjadi saksi Kristus baik di lingkungan kita bahkan bisa meningkat sampai ke ujung bumi. Semua ini dengan jelas menyatakan bahwa tidak satupun dari kita yang dipanggil hanya untuk berpuas diri sebagai penonton saja. Kita semua dituntut untuk menjadi pemain-pemain yang siap berbuat yang terbaik dengan segala yang kita miliki, sesuai dengan panggilan kita masing-masing, untuk menjadi rekan-rekan sekerja Tuhan di muka bumi ini.

Tugas yang diberikan kepada kita tidaklah mudah. Itu adalah pekerjaan besar yang tidak akan sanggup dilakukan oleh segelintir orang saja. Jika anda rindu untuk melihat Kerajaan Allah terus diperluas di dunia ini, maka itu artinya anda harus pula terjun dan berperan secara langsung di dalamnya. Pada kenyataannya lebih banyak orang yang hanya datang ke gereja sebagai penonton saja, hanya mencari berkat bagi diri mereka sendiri dan tidak mempedulikan keselamatan orang-orang di sekitarnya. Yesus sendiri sudah berkata, "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37). Seharusnya kita tersentak mendengar kata-kata Yesus ini dan mulai mau berpikir untuk melakukan karya nyata kita secara langsung.

Marilah kita menjadi terang yang bercahaya dalam kehidupan kita. Yesus menghimbau kita "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 9:16). Tidak ada terang yang akan berfungsi jika hanya berada dibawah kolong atau dalam kotak. Terang hanya akan bercayaha jika terletak di atas. Jika terang sudah berfungsi sebagaimana mestinya, maka tidak ada satupun kegelapan yang mampu menelan terang. Demikian pula kita semua, anak-anak Tuhan hendaklah bertindak sebagai pemain-pemain andalan Tuhan secara langsung dan tidak berhenti hanya sebagai penonton, apalagi hanya sibuk mengomentari, memprotes, mencela tanpa mau berbuat sesuatu yang nyata. Siapkah anda bermain dalam arena Kerajaan Allah? Siapkan diri anda, jadilah pemain-pemain tangguh dan beritakanlah betapa besar perbuatan-perbuatanNya bagi kita.

Kita adalah pemain-pemain tangguh dan bukan penonton

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...