=====================
"Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik."
Sudah mau pensiun, tapi masih korupsi. Demikian cerita tetangga saya kemarin. Atasannya di kantor hanya tinggal beberapa bulan lagi disana. Tapi di waktu yang sudah sempit itu, ia masih sempat melakukan manipulasi untuk membeli mobil untuk dipakai sendiri. Dan sialnya, tetangga saya itu yang ia perintahkan untuk menandatangani pembelian mobil. Tentu saja tetangga saya menolak dengan tegas. "Tidak apa-apa, tidak usah takut..nanti kalau ada tim audit, cat saja mobilnya dengan warna mobil dinas, setelah mereka pergi, catnya diganti lagi.." kata si atasan itu. Untung tetangga saya tidak mau terjebak. Ia masih dengan tegas menolak, walaupun mungkin resikonya ia bisa diturunkan atau kehilangan pekerjaan disana. Seperti itulah gambaran instansi-instansi di negara kita. Hampir di setiap sisi kita menemukan korupsi dalam berbagai bentuk. Sangat inovatif, sangat kreatif. Cerdik, licin, pintar berkelit dalam melakukan kecurangan. Seandainya kepintaran mereka itu dipakai untuk tujuan yang baik, negara kita mungkin sudah jauh lebih maju dari keadaan sekarang. Tapi begitulah, banyak orang yang berpikiran sangat pendek, melakukan penipuan yang sebenarnya hanya memberi kenikmatan sementara. Sama sekali tidak sebanding dengan dosa yang mereka tanggung lewat perbuatan mereka.Ayat bacaan hari ini ditulis oleh Daud: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah". Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik." (Mazmur 14:1). Kepada siapa ayat ini ditujukan? Kepada atheis? Kepada orang yang tidak percaya? Bagaimana jika saya katakan bahwa ayat ini bisa mengenai kita juga? Tentu kita tidak pernah bermimpi bahwa ayat ini dapat disematkan pula kepada kita. Bukankah kita mengakui bahwa Tuhan ada? Jika ditanya apakah Tuhan ada atau tidak, tentu kita akan dengan cepat berkata bahwa Tuhan itu jelas ada. Tapi mari kita berpikir sekali lagi. Memang benar dari mulut kita, ucapan bahwa Tuhan ada bisa keluar. Kita tidak akan pernah berkata bahwa Tuhan tidak ada. Tapi bagaimana dengan tindakan kita?
Kenyataannya kita seringkali berkompromi dengan dosa. Menganggap bahwa dosa kecil itu tidak masalah. Sedikit melakukan kecurangan itu tidak menjadi soal. Membunuh, itu dosa, tapi menyontek atau sedikit melakukan mark-up di kantor itu wajar. Meminta lebih dari kebutuhan dengan alasan yang palsu itu lumrah. Melakukan kecurangan-kecurangan itu manusiawi, toh semua orang juga demikian. Gosip sedikit itu biasa. Bukankah banyak orang percaya yang masih memiliki pola pikir seperti itu? Semua itu jelas-jelas termasuk mengabaikan perintah Tuhan. Itu bukanlah gambaran hidup sebagai orang yang benar. Sekecil apapun, dosa tetap dosa, yang harus dipertanggungjawabkan pada waktunya nanti di hadapan Tuhan. Mulut kita mungkin mengakui Tuhan ada, tapi perbuatan, perilaku kita dalam hidup belum tentu menyatakan hal yang sama. Lewat perbuatan-perbuatan kita yang bertoleransi dengan dosa, kita tanpa sadar sudah menyatakan ketidakpedulian kita terhadap keberadaan Allah yang mampu melihat segalanya. Bukankah dengan tindakan-tindakan seperti itu kita sebenarnya sedang berkata bahwa Tuhan itu tidak ada? Maka ayat bacaan ini pun bisa mengenai diri kita, orang-orang percaya.
Daud menggambarkan perbuatan seperti ini dengan sangat keras. "Busuk dan jijik perbuatan mereka." Menjijikkan dan penuh kebusukan. Seperti itulah Daud mengaitkan perilaku seperti itu. Sadar atau tidak, semakin jauh orang bertindak seperti itu, semakin busuk dan menjijikkan pula dirinya. Tidak peduli kecil atau besar, dosa tetaplah dosa yang akan menjauhkan kita dari Tuhan yang kudus. Yesus pernah menegur orang-orang Farisi yang munafik. Berpenampilan rohani, hafal Taurat Tuhan, tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai duta-duta Allah di dunia ini. "Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus mengacu kepada nubuat nabi Yesaya yang mengatakan "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan" (Yesaya 29:13). Perilaku seperti ini akan mendapat ganjarannya sendiri, seperti apa yang bisa kita lihat pada ayat selanjutnya. "maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (ay 14). keajaiban yang menakjubkan" disini bukanlah berbicara dalam arti positif, tapi bermakna negatif. Kehancuran dan kebinasaan akan menimpa orang-orang munafik yang perkataannya tidak sejalan dengan tindakan.
Sekecil apapun dosa itu, kita tidak boleh memberi toleransi jika kita mengakui bahwa Tuhan itu ada. Yakobus mengatakan "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." (Yakobus 2:10). Kita harus mampu menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya, terus berusaha untuk lebih taat lagi agar mampu hidup sebagai orang-orang kudus. Bukan cuma dari perkataan tapi terlebih dari perbuatan kita. Karena seperti apa cara kita hidup akan menyatakan sejauh mana kita percaya kepada Tuhan. Bahkan firman Tuhan berkata demikian: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Tubuh kita yang tetap dijaga kekudusannya, tetap berjalan sesuai firman Tuhan, itulah yang merupakan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan dihadapanNya. Dan itulah ibadah yang sejati. Bukan hafalan, bukan lips service dan bukan sebatas di bibir saja. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak segampang itu untuk menyatakannya lewat perbuatan. Mari kita mulai menjaga perbuatan-perbuatan dan tingkahlaku kita, agar setiap langkah yang kita buat akan menyatakan keberadaan Allah.
Nyatakan keberadaan Allah bukan hanya sebatas ucapan, tapi juga lewat tindakan dan perbuatan
Plat mobil "CC" melintas tepat di depan saya kemarin. Itu menunjukkan bahwa orang yang berada di dalam adalah duta besar sebuah negara sahabat. CC alias Corps Consular merupakan tanda milik perwakilan luar negeri dari kantor konsulat jendral negara lain, Sebagai duta dari negara sahabat, mereka memiliki kekebalan diplomatik atau diplomatic immunity yang artinya mendapat jaminan perlindungan dan tidak bisa dikenai hukum yang berlaku di negara di mana ia ditugaskan. Sepintas terlihat menguntungkan, tapi sebenarnya itu wajar, karena tugas mereka tidaklah mudah. Mereka merepresentasikan negara yang diwakili, sebagai duta yang mengurus kepentingan-kepentingan mereka di negara lain. Jika perilaku mereka jelek, maka bukan hanya diri mereka yang terkena, tapi negara yang diwakili pun akan turut kena dampaknya. Bukan saja si duta besar sendiri, tapi ini pun berlaku untuk seluruh anggota keluarganya yang turut tinggal di tempat ia ditugaskan.
"Betapa enaknya menjadi manager atau pemain bola profesional" kata seorang teman saya pada suatu kali. Bayangkan, jika seandainya mereka dikontrak selama 3 tahun, dan dalam tahun pertama prestasi mereka jeblok, mereka tetap dibayar seluruhnya seperti bekerja 3 tahun sesuai kontrak. Karenanya mereka bisa duduk-duduk tanpa bekerja, tapi gaji mereka tetap dibayar sepenuhnya. Pemain profesional pun demikian. Meski mereka tidak bisa bermain, gaji mereka akan tetap utuh. Bagi teman saya, hidup terasa tidak adil. Di saat orang harus banting tulang mati-matian untuk mencari nafkah, sebagian orang bisa menghasilkan tanpa harus bekerja.
Mengantri. Sukakah anda mendengar kata ini? Rasanya jika boleh memilih, tidak ada orang yang betah mengantri. Sayangnya ada banyak urusan di dunia ini yang harus didahului dengan antrian. Kita sering kesal saat harus antri di depan ATM, ketika kita buru-buru ternyata orang di depan kita begitu lama berada di dalam. Jika di depan ATM saja sudah repot, apalagi ketika kita harus menunggu giliran dilayani di bank. Antrian bisa jauh lebih panjang dan prosesnya jauh lebih lama. Kita sering harus menunggu giliran di toilet umum, di depan loket, menunggu dipanggil ketika harus menemui customer service dan sebagainya. Bahkan di restoran pun kita sekarang sering harus mengantri terlebih dahulu. Memang mengantri termasuk hal yang melelahkan. Seandainya bisa, alangkah nyamannya jika kita tidak perlu menunggu terlalu lama ketika mengurus sesuatu, dan tidak harus membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.
Ada seorang teman yang sudah berulang kali melamar pekerjaan tapi terus gagal. "Capai rasanya ditolak melulu", katanya getir. Mungkin banyak pula di antara teman-teman yang mengalami hal yang sama. Tidak hanya dalam melamar kerja, tapi dalam berbagai hal lainpun kita bisa berhadapan dengan penolakan. Misalnya dalam mendekati seseorang yang disukai, dalam lingkungan pertemanan, atau bahkan di keluarga. Bagi pengamen dan pengemis, masalah penolakan mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Betapa seringnya mereka mendapatkan tangan yang menolak, atau bahkan tidak diacuhkan. Sales door to door atau sales yang menawarkan produknya di mal-mal pun pasti sering mengalami hal yang sama. Ada seorang yang saya kenal saat ini menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan besar, tapi karirnya justru dimulai sebagai tukang bersih-bersih atau cleaning service. Dari pekerjaan itu ia kemudian menjadi salesman, mengetuk pintu dari rumah ke rumah dan terus mendapat penolakan. Tapi ia terus bekerja dengan gigih dan hari ini setelah ia sukses mencapai posisi tinggi, ia bersyukur bahwa berbagai penolakan yang ia alami dulu ternyata justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.
Selagi mengajar, saya melihat gambar seekor rusa di halaman depan buku tulis salah seorang murid. Betapa anggunnya rusa itu. Berdiri di atas kaki-kaki yang lentik dan selalu siap melompat tinggi untuk mendaki gunung. Jalanan yang berbatu-batu bukan masalah bagi seekor rusa untuk bisa mencapai puncak bukit, dimana rusa akan jauh lebih aman dari kejaran binatang-binatang buas di tengah hutan. Rusa selalu digambarkan sebagai hewan yang manis dan baik, seperti di film kartun Bambi karya Walt Disney misalnya. Rusa termasuk hewan yang lemah dan selalu menjadi incaran predator-predator buas di hutan, namun kakinya kuat dan mampu meloncat jauh.
Bagi para suami yang sudah beristri, pernahkah anda merasa bahwa istri anda seakan-akan tidak peka terhadap kelelahan anda? Saya rasa semua suami pernah mengalaminya, sedikitnya berpikir seperti itu. Ada kalanya kita, para suami masih berhadapan dengan berbagai keluhan, permintaan atau persoalan-persoalan yang masih harus dibereskan. Kita ingin beristirahat setelah lelah bekerja seharian, tapi masih saja ada "tugas-tugas" tambahan dari pasangan kita. Mungkin kita merasa kesal karenanya, tidak jarang pula hal ini menjadi sumber perselisihan. Saya mengalami hal ini berkali-kali. Yang terbaru adalah ketika kami harus mengurus surat pindah untuk membuat KTP baru di alamat yang baru. Saya sudah bekerja dari pagi hingga larut malam, dan untuk mengurus surat pindah itu kami harus menempuh jarak yang jauh. Saya menganggap itu akan membuang waktu, namun meski kesal saya mengikuti anjurannya. Dan setelah urusannya selesai, saya sadar bahwa nasihat istri saya untuk mengurus KTP secepatnya itulah yang benar. Saya harus mengakui bahwa dia benar, dan saya yang salah. Biar bagaimanapun sebuah kartu keluarga dan KTP itu penting untuk diurus, meskipun melelahkan. Dan itu memang tugas saya sebagai suami. Lelah atau tidak, itu tanggung jawab saya.