Sunday, February 7, 2010

Tidak Ada Tuhan

Ayat bacaan: Mazmur 14:1
=====================
"Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah." Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik."

tidak ada TuhanSudah mau pensiun, tapi masih korupsi. Demikian cerita tetangga saya kemarin. Atasannya di kantor hanya tinggal beberapa bulan lagi disana. Tapi di waktu yang sudah sempit itu, ia masih sempat melakukan manipulasi untuk membeli mobil untuk dipakai sendiri. Dan sialnya, tetangga saya itu yang ia perintahkan untuk menandatangani pembelian mobil. Tentu saja tetangga saya menolak dengan tegas. "Tidak apa-apa, tidak usah takut..nanti kalau ada tim audit, cat saja mobilnya dengan warna mobil dinas, setelah mereka pergi, catnya diganti lagi.." kata si atasan itu. Untung tetangga saya tidak mau terjebak. Ia masih dengan tegas menolak, walaupun mungkin resikonya ia bisa diturunkan atau kehilangan pekerjaan disana. Seperti itulah gambaran instansi-instansi di negara kita. Hampir di setiap sisi kita menemukan korupsi dalam berbagai bentuk. Sangat inovatif, sangat kreatif. Cerdik, licin, pintar berkelit dalam melakukan kecurangan. Seandainya kepintaran mereka itu dipakai untuk tujuan yang baik, negara kita mungkin sudah jauh lebih maju dari keadaan sekarang. Tapi begitulah, banyak orang yang berpikiran sangat pendek, melakukan penipuan yang sebenarnya hanya memberi kenikmatan sementara. Sama sekali tidak sebanding dengan dosa yang mereka tanggung lewat perbuatan mereka.

Ayat bacaan hari ini ditulis oleh Daud: "Orang bebal berkata dalam hatinya: "Tidak ada Allah". Busuk dan jijik perbuatan mereka, tidak ada yang berbuat baik." (Mazmur 14:1). Kepada siapa ayat ini ditujukan? Kepada atheis? Kepada orang yang tidak percaya? Bagaimana jika saya katakan bahwa ayat ini bisa mengenai kita juga? Tentu kita tidak pernah bermimpi bahwa ayat ini dapat disematkan pula kepada kita. Bukankah kita mengakui bahwa Tuhan ada? Jika ditanya apakah Tuhan ada atau tidak, tentu kita akan dengan cepat berkata bahwa Tuhan itu jelas ada. Tapi mari kita berpikir sekali lagi. Memang benar dari mulut kita, ucapan bahwa Tuhan ada bisa keluar. Kita tidak akan pernah berkata bahwa Tuhan tidak ada. Tapi bagaimana dengan tindakan kita?

Kenyataannya kita seringkali berkompromi dengan dosa. Menganggap bahwa dosa kecil itu tidak masalah. Sedikit melakukan kecurangan itu tidak menjadi soal. Membunuh, itu dosa, tapi menyontek atau sedikit melakukan mark-up di kantor itu wajar. Meminta lebih dari kebutuhan dengan alasan yang palsu itu lumrah. Melakukan kecurangan-kecurangan itu manusiawi, toh semua orang juga demikian. Gosip sedikit itu biasa. Bukankah banyak orang percaya yang masih memiliki pola pikir seperti itu? Semua itu jelas-jelas termasuk mengabaikan perintah Tuhan. Itu bukanlah gambaran hidup sebagai orang yang benar. Sekecil apapun, dosa tetap dosa, yang harus dipertanggungjawabkan pada waktunya nanti di hadapan Tuhan. Mulut kita mungkin mengakui Tuhan ada, tapi perbuatan, perilaku kita dalam hidup belum tentu menyatakan hal yang sama. Lewat perbuatan-perbuatan kita yang bertoleransi dengan dosa, kita tanpa sadar sudah menyatakan ketidakpedulian kita terhadap keberadaan Allah yang mampu melihat segalanya. Bukankah dengan tindakan-tindakan seperti itu kita sebenarnya sedang berkata bahwa Tuhan itu tidak ada? Maka ayat bacaan ini pun bisa mengenai diri kita, orang-orang percaya.

Daud menggambarkan perbuatan seperti ini dengan sangat keras. "Busuk dan jijik perbuatan mereka." Menjijikkan dan penuh kebusukan. Seperti itulah Daud mengaitkan perilaku seperti itu. Sadar atau tidak, semakin jauh orang bertindak seperti itu, semakin busuk dan menjijikkan pula dirinya. Tidak peduli kecil atau besar, dosa tetaplah dosa yang akan menjauhkan kita dari Tuhan yang kudus. Yesus pernah menegur orang-orang Farisi yang munafik. Berpenampilan rohani, hafal Taurat Tuhan, tapi perilakunya sama sekali tidak mencerminkan diri mereka sebagai duta-duta Allah di dunia ini. "Jawab-Nya kepada mereka: "Benarlah nubuat Yesaya tentang kamu, hai orang-orang munafik! Sebab ada tertulis: Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku." (Markus 7:6). Apa yang dikatakan Yesus mengacu kepada nubuat nabi Yesaya yang mengatakan "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan" (Yesaya 29:13). Perilaku seperti ini akan mendapat ganjarannya sendiri, seperti apa yang bisa kita lihat pada ayat selanjutnya. "maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (ay 14). keajaiban yang menakjubkan" disini bukanlah berbicara dalam arti positif, tapi bermakna negatif. Kehancuran dan kebinasaan akan menimpa orang-orang munafik yang perkataannya tidak sejalan dengan tindakan.

Sekecil apapun dosa itu, kita tidak boleh memberi toleransi jika kita mengakui bahwa Tuhan itu ada. Yakobus mengatakan "Sebab barangsiapa menuruti seluruh hukum itu, tetapi mengabaikan satu bagian dari padanya, ia bersalah terhadap seluruhnya." (Yakobus 2:10). Kita harus mampu menjaga diri kita dengan sebaik-baiknya, terus berusaha untuk lebih taat lagi agar mampu hidup sebagai orang-orang kudus. Bukan cuma dari perkataan tapi terlebih dari perbuatan kita. Karena seperti apa cara kita hidup akan menyatakan sejauh mana kita percaya kepada Tuhan. Bahkan firman Tuhan berkata demikian: "Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati." (Roma 12:1). Tubuh kita yang tetap dijaga kekudusannya, tetap berjalan sesuai firman Tuhan, itulah yang merupakan persembahan yang hidup, kudus dan berkenan dihadapanNya. Dan itulah ibadah yang sejati. Bukan hafalan, bukan lips service dan bukan sebatas di bibir saja. Mudah bagi kita untuk berkata bahwa Tuhan itu ada, tapi tidak segampang itu untuk menyatakannya lewat perbuatan. Mari kita mulai menjaga perbuatan-perbuatan dan tingkahlaku kita, agar setiap langkah yang kita buat akan menyatakan keberadaan Allah.

Nyatakan keberadaan Allah bukan hanya sebatas ucapan, tapi juga lewat tindakan dan perbuatan

Saturday, February 6, 2010

Duta Kristus

Ayat bacaan: 2 Korintus 5:20
======================
"Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah."

duta Kristus, corps consular Plat mobil "CC" melintas tepat di depan saya kemarin. Itu menunjukkan bahwa orang yang berada di dalam adalah duta besar sebuah negara sahabat. CC alias Corps Consular merupakan tanda milik perwakilan luar negeri dari kantor konsulat jendral negara lain, Sebagai duta dari negara sahabat, mereka memiliki kekebalan diplomatik atau diplomatic immunity yang artinya mendapat jaminan perlindungan dan tidak bisa dikenai hukum yang berlaku di negara di mana ia ditugaskan. Sepintas terlihat menguntungkan, tapi sebenarnya itu wajar, karena tugas mereka tidaklah mudah. Mereka merepresentasikan negara yang diwakili, sebagai duta yang mengurus kepentingan-kepentingan mereka di negara lain. Jika perilaku mereka jelek, maka bukan hanya diri mereka yang terkena, tapi negara yang diwakili pun akan turut kena dampaknya. Bukan saja si duta besar sendiri, tapi ini pun berlaku untuk seluruh anggota keluarganya yang turut tinggal di tempat ia ditugaskan.

Sebagai orang percaya, sadarkah anda bahwa kita pun sebenarnya merupakan duta-duta Kristus? Kita ditugaskan di dunia ini untuk menjadi terang dan garam, untuk menyebarkan injil dan menyelamatkan. Itu artinya di pundak kita disematkan tugas yang tidak kecil untuk menjadi duta atau perwakilan Kerajaan Allah di tempat kita masing-masing. Seperti halnya duta besar yang mewakili negaranya di negara lain, demikian pula kita di utus di tempat dimana kita berada saat ini untuk mengurus kepentingan dari Kerajaan Allah. Itu adalah hal yang disadari betul oleh Paulus dan rekan-rekan sepelayanannya. Mereka terus pergi dari satu tempat ke tempat lainnya sebagai duta Kristus untuk mewartakan kabar keselamatan, mengajak jiwa-jiwa untuk bertobat dan didamaikan dengan Allah. "Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah." (2 Korintus 5:20). Dalam bahasa Inggris, utusan-utusan ini digambarkan sebagai "the ambassadors" atau duta-duta. Ada keselamatan yang diberikan kepada kita, hukum Kerajaan Surga berlaku bagi kita, tapi kita harus merepresentasikan KerajaanNya di tempat kita berada.

Kita seringkali tidak menyadari tugas ini. Dalam banyak hal, orang akan mengenal pribadi Kristus lewat kita. Apakah itu pengenalan yang baik/positif atau buruk/negatif, itu akan tampak dari bagaimana sikap kita di dunia ini. Singkatnya, kita bisa menjadi terang, atau malah sebaliknya menjadi batu sandungan. Yang jelas, sebagai duta Kristus kita dituntut untuk bisa merepresentasikan Kerajaan dengan benar. Tuhan menginginkan duta-dutanya untuk bisa bertindak "sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia." (Filipi 2:15). Dan untuk itu, kita semua telah dipersiapkan Tuhan dengan berbagai kelengkapan. "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Lukas 10:19). Dan lihatlah firman Kristus berikut: "Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:17-18). Kristus memberikan namaNya agar kita bisa mendapatkan segala sesuatu dari Bapa. "Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku." (Yohanes 16:23). Dan jangan lupa pula bahwa kita sudah diberikan perlengkapan senjataNya seperti yang tertulis dalam Efesus 6:10-17.

Dalam Amanat Agung kita diberikan wewenang untuk melakukan tugas-tugas sebagai wakil Kristus yang berkuasa di sorga dan bumi. "Yesus mendekati mereka dan berkata: "Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:18-20). Menjadi duta, perwakilan atau utusan dari Kerajaan Allah, itu tugas kita sebagai orang percaya. Hari ini marilah kita mulai berpikir tentang jati diri kita yang sesungguhnya. Bukan hanya sebagai pria atau wanita, orang tua, dewasa atau remaja, bukan dari gelar atau status kita di dunia saja, melainkan sebagai duta dari Allah. Hendaklah segala kepentingan KerajaanNya yang menjadi fokus perhatian yang terutama dalam pikiran dan hati kita. Kita adalah duta bagi Kristus, karenana mulailah hidup dengan sikap seorang duta mulai hari ini.

Perilaku seorang duta mencerminkan negara/kerajaan yang diwakilinya

Friday, February 5, 2010

Diselamatkan untuk Menyelamatkan

Ayat bacaan: Efesus 2:10
====================
"Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya."

diselamatkan untuk menyelamatkan"Betapa enaknya menjadi manager atau pemain bola profesional" kata seorang teman saya pada suatu kali. Bayangkan, jika seandainya mereka dikontrak selama 3 tahun, dan dalam tahun pertama prestasi mereka jeblok, mereka tetap dibayar seluruhnya seperti bekerja 3 tahun sesuai kontrak. Karenanya mereka bisa duduk-duduk tanpa bekerja, tapi gaji mereka tetap dibayar sepenuhnya. Pemain profesional pun demikian. Meski mereka tidak bisa bermain, gaji mereka akan tetap utuh. Bagi teman saya, hidup terasa tidak adil. Di saat orang harus banting tulang mati-matian untuk mencari nafkah, sebagian orang bisa menghasilkan tanpa harus bekerja.

Apa yang hendak saya sampaikan hari ini bukanlah mengenai keadilan, tapi mengenai adanya kecenderungan bagi kita orang percaya untuk menerima keselamatan tanpa mau berbuat apapun. Kita tidak boleh membiarkan diri kita berlaku seperti contoh manager atau pemain bola profesional di atas. Jangan sampai kita berpikir: "saya kan sudah selamat.. saya sudah mendapat jaminan hidup yang kekal, jadi saya tidak perlu berbuat apapun untuk Tuhan." Itu bukanlah perilaku yang diharapkan Tuhan. Keselamatan memang hadir bagi kita sebagai bentuk anugerah kasih karunia Tuhan dan bukan lewat perbuatan baik kita. Itu benar. Paulus dengan jelas menyatakan hal itu dalam suratnya kepada jemaat Efesus. "Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri." (Efesus 2:8-9). Apa yang dikatakan Paulus dalam ayat ini memang menyatakan bahwa keselamatan itu datang bukan dari usaha kita, bukan dari perbuatan-perbuatan baik, bukan dari amal dan kehebatan kita memberi sumbangan atau sedekah. Ini bukan berarti bahwa kita boleh egois, hanya menerima dan tidak ingin memberi. Dalam ayat selanjutnya Paulus menjelaskan hal itu. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (ay 10). Lihatlah dikatakan disana bahwa kita diciptakan dalam Kristus untuk melakukan pekerjaan baik, sesuai dengan apa yang dipersiapkan Allah bagi masing-masing kita, dan hendaklah kita hidup dengan melakukannya. Saya selalu menggambarkannya begini: Kita diselamatkan untuk menyelamatkan, kita diberkati untuk memberkati, kita diberi untuk memberi. Keselamatan bukanlah pemberian berdasarkan perbuatan baik kita, tapi itu sama sekali bukan berarti bahwa kita tidak perlu melakukan apapun, hanya duduk-duduk saja setelah menerima keselamatan, melainkan harus lebih giat lagi dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan di dunia ini.

Amanat Agung yang diberikan Yesus dengan jelas menginstruksikan kepada kita mengenai apa yang harus kita perbuat. "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20). Ini merupakan bukti bahwa kita tidak pernah diminta untuk duduk diam saja menerima keselamatan. Kita harus selalu peka dan peduli terhadap sesama kita, mengulurkan tangan dan memberi bantuan dalam kasih sejauh kita bisa. Tidak harus dalam bentuk materi saja, tapi lewat perhatian, kepedulian, sebagai pendengar yang baik, lewat nasihat atau sekedar senyuman pun ada kalanya bisa menjadi setetes embun bagi mereka yang sedang ditimpa kesulitan. Dikatakan juga demikian: "Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus." (Galatia 6:2). Tuhan telah memberikan tugas kepada kita seperti apa yang telah Dia rencanakan sebelumnya kepada masing-masing orang. Dan kita seharusnya melaksanakan tugas itu. Bukan karena kita berhutang atas keselamatan yang telah diberikan, tetapi untuk memuliakan Kristus yang sudah menebus kita semua hingga keselamatan bisa menjadi milik kita.

Sekali lagi, keselamatan bukan merupakan upah dari perbuatan baik, bukan dari sehebat apa kita memberi, bukan dari banyaknya kita berbuat baik, tapi itu merupakan "hadiah", anugerah dari Tuhan atas kasih karuniaNya melalui iman kita kepada anakNya yang tunggal Yesus Kristus. Tapi itu bukan berarti bahwa kita boleh duduk diam saja menerima keselamatan dari Tuhan tanpa melakukan apapun. Efesus 2:8-10 telah memberi gambaran jelas kepada kita tentang bagaimana konsep sebenarnya. Apa yang diberikan Tuhan sungguh merupakan sesuatu yang luar biasa besar. Dan untuk itu, sudah selayaknya kita bersyukur. Wujudkan rasa syukur itu lewat segala perbuatan baik berdasarkan kasih, dimana lewat itu semua kita bisa memuliakan Tuhan. Ingatlah bahwa adalah merupakan sebuah kehormatan besar jika kita menerima panggilan untuk melayani Tuhan.

Diselamatkan untuk menyelamatkan, diberkati untuk memberkati, diberi untuk memberi

Thursday, February 4, 2010

Menunggu

Ayat bacaan: Mazmur 70:2
====================
"Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!"

menanti, menunggu, mengantriMengantri. Sukakah anda mendengar kata ini? Rasanya jika boleh memilih, tidak ada orang yang betah mengantri. Sayangnya ada banyak urusan di dunia ini yang harus didahului dengan antrian. Kita sering kesal saat harus antri di depan ATM, ketika kita buru-buru ternyata orang di depan kita begitu lama berada di dalam. Jika di depan ATM saja sudah repot, apalagi ketika kita harus menunggu giliran dilayani di bank. Antrian bisa jauh lebih panjang dan prosesnya jauh lebih lama. Kita sering harus menunggu giliran di toilet umum, di depan loket, menunggu dipanggil ketika harus menemui customer service dan sebagainya. Bahkan di restoran pun kita sekarang sering harus mengantri terlebih dahulu. Memang mengantri termasuk hal yang melelahkan. Seandainya bisa, alangkah nyamannya jika kita tidak perlu menunggu terlalu lama ketika mengurus sesuatu, dan tidak harus membiarkan banyak waktu terbuang sia-sia.

Semua contoh antrian di atas sebenarnya baru proses menunggu yang ringan. Ringan? Ya, ringan, karena ada banyak penantian yang jauh lebih berat dari itu. Pasangan suami istri yang menunggu dikaruniai anak, orang-orang yang masih lajang menantikan pasangan hidupnya, menunggu sanak keluarga kita di rumah sakit menunjukkan tanda-tanda kesembuhan, atau menunggu kesembuhan diri kita sendiri, menanti datangnya vonis dokter, menunggu perubahan dari pasangan atau anak dari sikap tidak baik mereka dan lain-lain. Semua itu jauh lebih berat ketimbang sekedar mengantri biasa, dan seringkali terasa jauh lebih lama dari waktu normal. Seringkali sulit bagi kita untuk bersabar dalam menunggu, apalagi ketika kita dihadapkan pada masalah, berada dalam kesesakan, dan itu dirasakan hampir semua orang, termasuk Daud.

Pada suatu kali Daud berdoa demikian: "Ya Allah, bersegeralah melepaskan aku, menolong aku, ya TUHAN!" (Mazmur 70:2). Bukankah kita juga sering berdoa seperti ini? Kita berkata "Jangan tunggu lama-lama Tuhan, cepatlah tolong aku, aku sudah tidak tahan lagi.. bebaskan aku sekarang juga!" Tidak ada orang yang betah berhadapan dengan masalah. Semakin cepat selesai tentu semakin baik. Namun seringkali pertolongan Tuhan terasa lama, bahkan terkadang terasa terlambat. Karena ketidaksabaran, ada banyak orang percaya yang akhirnya terjebak pada alternatif-alternatif yang menjanjikan pertolongan cepat padahal itu adalah pilihan yang jahat di mata Tuhan dan mengarah kepada kebinasaan. Kesabaran sangatlah diperlukan, dan lebih dari sekedar sabar, iman yang percaya penuh kepada Tuhan sangat kita butuhkan. Dalam kehidupan sehari-hari kita butuh itu, apalagi ketika kita sedang mengalami persoalan.

Tuhan tidak pernah merencanakan sesuatu yang jelek buat kita. Apa yang direncanakan Tuhan selalu sesuatu yang indah pada waktunya. Namun keterbatasan kemampuan kita untuk mengetahui apa yang dirancang Tuhan bagi kita membuat kita tidak bisa mengerti mengapa waktu Tuhan sering tidak sejalan dengan waktu kita dalam memberi pertolongan. Dalam Pengkotbah kita baca "Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir." (Pengkotbah 3:11). Dan Tuhan ternyata tahu benar akan hal ini. Dalam kesempatan lain kita temukan pesan dari Petrus mengenai waktu Tuhan ini. "Akan tetapi, saudara-saudaraku yang kekasih, yang satu ini tidak boleh kamu lupakan, yaitu, bahwa di hadapan Tuhan satu hari sama seperti seribu tahun dan seribu tahun sama seperti satu hari." (2 Petrus 3:8). Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Itu pesannya. Dan lihat penekanan di awal ayat tersebut. "Yang satu ini tidak boleh kamu lupakan." Mengapa harus ada kata ini? Karena orang percaya sekalipun seringkali terjatuh dalam hal ini. Ketidaksabaran sering menjadi batu sandungan iman seseorang. Kecenderungan memaksakan waktu Tuhan untuk sesuai dengan hitungan waktu kita seringkali membuat kita kecewa dan bersungut-sungut, mengira Tuhan tidak peduli, lupa atau lalai. Petrus pun mengingatkan lagi: "Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." (ay 9). Ya, Tuhan sesungguhnya tidak lalai. Dia tidak pernah lupa untuk menepati janjiNya. Apa yang Dia rindukan bagi setiap kita itu jelas. Dia tidak menghendaki satupun dari kita untuk binasa, melainkan agar kita mau berbalik kepadaNya dan bertobat. Waktu Tuhan tidak sama dengan waktu kita. Apa yang direncanakan Tuhan adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya. Karena itu, bersabarlah. Jangan tergesa-gesa, jangan mendesak, tetapi tetaplah memegang janji Tuhan dengan iman yang kuat tanpa kehilangan harapan sedikit pun.

Tidak gampang memang untuk bersabar ditengah tekanan. Tapi jika Tuhan sudah menjanjikan yang terbaik, seharusnya kita bisa lebih tenang menghadapinya. Di saat-saat seperti itu kita bisa mengalami proses pembentukan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih tahan uji, lebih dewasa, dan di saat-saat sulit itulah kita bisa melatih diri kita untuk belajar mengandalkan Tuhan saja. Itu proses-proses berharga yang bisa tumbuh dalam diri kita jika kita menghadapinya bersama Tuhan, jika tetap sabar menanti datangnya pertolongan sesuai waktunya Tuhan dengan harapan dan kepercayaan penuh. Pada saat yang tepat, waktu yang terbaik, Tuhan akan menurunkan pertolonganNya dan segera mengangkat kita keluar dari pergumulan-pergumulan. Dia selalu siap untuk menempatkan kita dalam keadaan baik, meski mungkin saat ini kita sulit untuk bisa melihat atau mempercayai hal itu. Pada suatu saat nanti kita akan bisa bersukacita dan akan mengakui kebesaran Tuhan. Di saat itu kita akan bisa berkata seperti Daud:"Biarlah bergirang dan bersukacita karena Engkau semua orang yang mencari Engkau; biarlah mereka yang mencintai keselamatan dari pada-Mu selalu berkata: "Allah itu besar!" (Mazmur 70:5).

Jika anda berada dalam sebuah situasi sulit hari ini, jangan patah semangat. Jangan goyah, tapi tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Bagi yang tengah mengalami situasi sulit, firman Tuhan berkata: "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Ini langkah-langkah yang paling tepat untuk diambil sementara kita menunggu datangnya pertolongan Tuhan. Pastikan diri anda tetap berada di rel yang benar, dan pada saat yang tepat semua beban akan diangkat keluar dari diri anda. Penantian memang melelahkan, namun suatu hari nanti anda akan bersyukur pernah mengalami itu dan keluar sebagai pemenang bersama Tuhan. Tidak ada satupun masalah yang berada di atas kuasa Tuhan. Karena itulah Tuhan selalu menekankan pentingnya sikap yang selalu mengandalkan Tuhan dalam menghadapi situasi apapun. Be patient, because His help is surely on the way!

Waktunya Tuhan tidak sama dengan waktu kita, dan Dia tidak pernah lalai.Karena itu bersabarlah

Wednesday, February 3, 2010

Menghadapi Penolakan

Ayat bacaan: Lukas 13:33
=====================
"Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem."

menghadapi penolakanAda seorang teman yang sudah berulang kali melamar pekerjaan tapi terus gagal. "Capai rasanya ditolak melulu", katanya getir. Mungkin banyak pula di antara teman-teman yang mengalami hal yang sama. Tidak hanya dalam melamar kerja, tapi dalam berbagai hal lainpun kita bisa berhadapan dengan penolakan. Misalnya dalam mendekati seseorang yang disukai, dalam lingkungan pertemanan, atau bahkan di keluarga. Bagi pengamen dan pengemis, masalah penolakan mungkin sudah menjadi hal yang biasa. Betapa seringnya mereka mendapatkan tangan yang menolak, atau bahkan tidak diacuhkan. Sales door to door atau sales yang menawarkan produknya di mal-mal pun pasti sering mengalami hal yang sama. Ada seorang yang saya kenal saat ini menjabat sebagai direktur sebuah perusahaan besar, tapi karirnya justru dimulai sebagai tukang bersih-bersih atau cleaning service. Dari pekerjaan itu ia kemudian menjadi salesman, mengetuk pintu dari rumah ke rumah dan terus mendapat penolakan. Tapi ia terus bekerja dengan gigih dan hari ini setelah ia sukses mencapai posisi tinggi, ia bersyukur bahwa berbagai penolakan yang ia alami dulu ternyata justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh.

Kenalkah anda dengan nama Sylvester Stallone? Nama ini tentu tidak asing lagi bagi kita. Sosok pemeran John Rambo dan Rocky Balboa yang fenomenal ini merupakan sebuah nama yang akan sangat tepat jika kita lihat sebagai contoh mengenai penolakan. Ia terlahir dengan keterbatasan-keterbatasan fisik yang membuatnya mengalami banyak penolakan sepanjang hidupnya. Jika kita perhatikan, ia terdengar lucu ketika berbicara, dan posisi bibirnya pun tidak seperti orang pada umumnya ketika bicara. Berbagai keterbatasan itu membuatnya kerap ditolak ketika melamar untuk sebuah peran. Tapi ia tidak menyerah. Ketika ia membuat script film Rocky yang terkenal itu, ia pergi ke berbagai perusahaan film untuk menawarkan hasil karyanya. Tapi ia selalu mengalami penolakan. Mengapa? Karena ia tidak mau menjual script Rocky jika bukan ia sendiri yang memerankannya. Melihat dirinya yang banyak kekurangan apalagi tidak terkenal, maka produser-produser pun seperti janjian menolak dirinya. Setelah terus berjuang tanpa patah semangat, akhirnya ada produser yang tertarik, dan ia pun diijinkan untuk memerankan tokoh ciptaanya ini. Film Rocky mencapai sukses besar, meraih piala Oscar, fenomenal dan sangat dikenal orang hingga hari ini. Jika saja Stallone tipe orang yang gampang menyerah, kita tidak akan mengenal nama dan tokoh-tokoh yang diperankannya seperti Rocky atau Rambo.

Siapapun yang hidup di dunia ini pasti pernah merasakan bagaimana tidak enaknya mengalami penolakan. Ketika Tuhan Yesus datang ke dunia Dia pun pernah merasakannya. Bukan hanya satu dua kali tapi sering. Lihat saja ketika ada yang berniat menjatuhkan Yesus dari atas tebing (Lukas 4:29), mendapat ancaman akan dibunuh oleh Herodes jika masih bersikeras memasuki Yerusalem (13:31). Dalam kesempatan lain kita tahu pula bahwa Yesus pernah menghadapi persekongkolan orang Farisi yang merasa gerah menghadapi sepak terjang Yesus. Mereka berusaha mencobai (Matius 16:1) bahkan mencoba membunuhNya. (3:6). Orang-orang yang berseru "Hosana! Hosana!" (Markus 11:7-10) adalah orang-orang yang sama mengucapkan "salibkan Dia! salibkan Dia!" (15:12-14). Jika kita mengalami hal ini mungkin kita akan merasa kecil hati, merasa kecewa dan sakit hati, dendam atau kehilangan pegangan. Tapi tidak bagi Yesus. Yesus terus melakukan pelayanan dengan semangat pantang mundur. Mengapa bisa seperti itu? Karena Yesus tahu tujuanNya turun ke dunia. Dia turun bukan untuk mencari pengakuan atau penghormatan dari manusia, melainkan untuk menyelesaikan kehendak Bapa yang mengutusNya."Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33). Itu fokus Yesus sesuai dengan tugas yang diembanNya seperti yang dikehendaki Bapa. Oleh karena itulah Yesus tidak surut walau mendapat berbagai penolakan bahkan ancaman pembunuhan sekalipun, karena fokusnya jelas, melakukan kehendak Bapa dan bukan tergantung dari respon manusia.

Berbagai penolakan pernah kita alami dan akan terus terjadi. Jagalah agar berbagai penolakan jangan sampai membuat kita patah semangat dan hancur berantakan dalam kegagalan. Justru penolakan-penolakan itu seharusnya mampu menjadi stimulus atau penyemangat, dan pembelajaran bagi kita agar kita bisa tumbuh lebih kuat dalam berjuang mencapai tujuan. Jika orang yang saya gambarkan di awal renungan ini cepat menyerah, ia tidak akan bisa sukses seperti sekarang. Jika Stallone gampang putus asa dan merasa hancur melihat keterbatasannya, ia tidak akan bisa menjadi tenar seperti sekarang. Jika Yesus menyerah saat mendapat tekanan-tekanan berat, hari ini kita tidak akan mengalami hidup dalam jaminan keselamatan dan bisa merasakan hadirat Tuhan yang begitu indah. Penolakan akan selalu terjadi kapan saja, tapi jangan pernah menyerah. Tetaplah bersukacita dalam keadaan apapun, sebab sukacita sejati bukan berasal dari manusia atau keadaan di dunia, melainkan berasal dari Tuhan. "Ya, karena Dia hati kita bersukacita, sebab kepada nama-Nya yang kudus kita percaya." (Mazmur 33:21). Sukacita sejati yang berasal dari Tuhan sesungguhnya jauh berada di atas segala permasalahan, penolakan dan orang-orang yang mengecewakan kita. Fokuslah kepada rencana Tuhan bagi hidup anda, dan pakailah pengalaman tertolak itu sebagai batu loncatan untuk sebuah kesuksesan.

Ditolak boleh saja, tapi jangan biarkan sukacita kita hilang karenanya

Tuesday, February 2, 2010

Kaki Rusa

Ayat bacaan: Mazmur 18:33-34
========================
"Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit"

kaki rusaSelagi mengajar, saya melihat gambar seekor rusa di halaman depan buku tulis salah seorang murid. Betapa anggunnya rusa itu. Berdiri di atas kaki-kaki yang lentik dan selalu siap melompat tinggi untuk mendaki gunung. Jalanan yang berbatu-batu bukan masalah bagi seekor rusa untuk bisa mencapai puncak bukit, dimana rusa akan jauh lebih aman dari kejaran binatang-binatang buas di tengah hutan. Rusa selalu digambarkan sebagai hewan yang manis dan baik, seperti di film kartun Bambi karya Walt Disney misalnya. Rusa termasuk hewan yang lemah dan selalu menjadi incaran predator-predator buas di hutan, namun kakinya kuat dan mampu meloncat jauh.

Kita berada dalam posisi yang sama. Sebagai manusia kita ini lemah dan rentan mendapat serangan dari segala sisi. Berbagai deraan masalah sering mengancam kita bagai binatang-binatang buas yang siap menerkam rusa. Jalan yang kita lalui dalam hidup pun seringkali tidak mulus. Jalan terjal, berliku dan berbatu-batu sangat melelahkan untuk dilewati. Seandainya kita punya kaki seperti rusa, kita tentu akan bisa lebih kuat dan lebih lincah untuk mendaki jalan berbatu untuk sampai dengan selamat di atas bukit. Dan seperti itulah janji Tuhan kepada kita.

Daud tahu Tuhan mampu memberikan kekuatan seperti itu. Lihat apa katanya: "Allah, Dialah yang mengikat pinggangku dengan keperkasaan dan membuat jalanku rata; yang membuat kakiku seperti kaki rusa dan membuat aku berdiri di bukit" (Mazmur 18:34). Ayat yang kurang lebih sama bisa kita dapati dalam kitab lainnya. "ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku." (Habakuk 3:19). Mengandalkan kemampuan kita yang terbatas, cepat atau lambat kita akan menyerah kalah oleh kesulitan-kesulitan hidup. Kita tidak akan mampu keluar dari beban persoalan jika hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Tuhan tahu batas kemampuan kita. Ketika kita sendiri tidak mampu, Tuhan siap menjadi jawaban. Dia mampu membuat kaki-kaki kita lincah dan kuat seperti rusa untuk mampu melewati jalan berbatu dan terjal dan sampai di atas bukit. Tuhan siap membuat kita naik lebih tinggi di atas semua masalah dan keluar menjadi pemenang. Berada di tempat tinggi di atas bukit menggambarkan sebuah tempat di mana masalah tidak lagi mampu menyulitkan kita. Dalam Yesaya dikatakan di tempat tinggi itulah rumah Tuhan akan berdiri tegak, bukan terhuyung-huyung dan mudah jatuh ketika diterpa badai. "Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung tempat rumah TUHAN akan berdiri tegak di hulu gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; segala bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: "Mari, kita naik ke gunung TUHAN, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya, dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran dan firman TUHAN dari Yerusalem." (Yesaya 2:2-3). Rumah Tuhan, atau bait Allah, itu berbicara mengenai diri kita. (1 Korintus 3:16). Jadi apa yang dijanjikan Tuhan adalah sebuah pertolongan yang akan memampukan diri kita untuk meloncat dengan lincah melewati batu-batu masalah untuk sampai di atas bukit dan berdiri dengan tegak disana.

Untuk lepas dari masalah, naiklah ke tempat yang lebih tinggi. Terus latih kehidupan rohani kita agar semakin meningkat dan terus tumbuh. Teruslah menapak naik, terus kenali Tuhan lebih jauh dan lebih dekat lagi. Semakin tinggi kita berada, semakin sulit pula bagi masalah untuk menggoyahkan kita. Sungguh kita membutuhkan firman Tuhan agar kita mampu melangkah maju. Pemazmurpun menyadarinya dan berkata "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." (Mazmur 119:105). Di tempat tinggi kita berdiri tegak, tidak mudah terseret ke dalam hal-hal yang sifatnya duniawi, tidak mudah goyah meski digoyang masalah berat sekalipun. Di tempat itulah kita akan mampu mendirikan rumah Tuhan yang kokoh dan tahan terhadap goncangan apapun. Di tempat tinggi itu kita akan mampu berkata: "Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang, namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku." (Habakuk 3:17-18). Bergantung kepada kekuatan diri sendiri yang terbatas lambat laun kita tidak akan sanggup mendakit naik ke atas. Karena itu andalkanlah Tuhan. Dia siap menjadikan kaki kita seperti kaki rusa yang mampu naik hingga berdiri tegak di atas bukit.

Tuhan menyediakan kaki rusa yang akan mampu membuat kita berdiri tegak di atas bukit

Monday, February 1, 2010

Dengarkan Istrimu

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:7
====================
"Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang."

mendengar istriBagi para suami yang sudah beristri, pernahkah anda merasa bahwa istri anda seakan-akan tidak peka terhadap kelelahan anda? Saya rasa semua suami pernah mengalaminya, sedikitnya berpikir seperti itu. Ada kalanya kita, para suami masih berhadapan dengan berbagai keluhan, permintaan atau persoalan-persoalan yang masih harus dibereskan. Kita ingin beristirahat setelah lelah bekerja seharian, tapi masih saja ada "tugas-tugas" tambahan dari pasangan kita. Mungkin kita merasa kesal karenanya, tidak jarang pula hal ini menjadi sumber perselisihan. Saya mengalami hal ini berkali-kali. Yang terbaru adalah ketika kami harus mengurus surat pindah untuk membuat KTP baru di alamat yang baru. Saya sudah bekerja dari pagi hingga larut malam, dan untuk mengurus surat pindah itu kami harus menempuh jarak yang jauh. Saya menganggap itu akan membuang waktu, namun meski kesal saya mengikuti anjurannya. Dan setelah urusannya selesai, saya sadar bahwa nasihat istri saya untuk mengurus KTP secepatnya itulah yang benar. Saya harus mengakui bahwa dia benar, dan saya yang salah. Biar bagaimanapun sebuah kartu keluarga dan KTP itu penting untuk diurus, meskipun melelahkan. Dan itu memang tugas saya sebagai suami. Lelah atau tidak, itu tanggung jawab saya.

Dalam banyak hal lain pun demikian. Saya sampai pada kesimpulan bahwa saya seharusnya bersyukur punya istri yang tanggap dan cakap, dan terus mengingatkan saya. Karena seperti urusan KTP tadi, seandainya semua itu hanya dipasrahkan kepada saya, maka saya tidak akan pernah bergerak untuk melakukannya. Sebagai manusia, memang kita punya banyak kelemahan dan sangat terbatas, sehingga sulit rasanya untuk menjadi sempurna tanpa kehadiran seorang pendamping. Ada kalanya kita harus diingatkan, ada kalanya kita harus dinasihati, ada kalanya kita harus ditegur, dan itu wajar. Dan sebuah rumah tangga akan berjalan dengan baik jika keduanya, suami dan istri, membuka diri sepenuhnya untuk saling mengingatkan.

Tuhan tahu hal itu sejak semula di awal proses penciptaan manusia. Lihatlah apa yang dikatakan Allah ketika melihat Adam. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Seorang penolong, yang sepadan. Itulah ide awal dari penciptaan wanita, yang secara istimewa dibuat dengan mengambil tulang rusuk pria. (ay 21). Seorang wanita diciptakan secara spesial bukan untuk direndahkan, bukan untuk diremehkan. Tidak lebih rendah dari pria, tidak pula hanya sebagai pelengkap penderita atau sebagai objek saja. Para suami Kristen seharusnya bisa memahami hakekat kehadiran wanita, dalam hal ini istri, dalam membina rumah tangganya.

Petrus berbicara lantang untuk mengingatkan kita para suami. "Demikian juga kamu, hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang." (1 Petrus 3:7). Kaum yang lebih lemah, itu seringkali dipakai para suami atau pria sebagai alasan untuk menindas istrinya. Menyepelekan, merendahkan, menganggap mereka hanya sebagai objek pelengkap yang tidak punya hak bersuara, karena toh mereka merupakan kaum yang lebih lemah. Itu bukanlah gambaran yang benar menurut firman Tuhan. Suami ada pada posisi mengasihi dan melindungi. Meski dikatakan kaum yang lebih lemah, bukan berarti wanita berada dalam posisi yang lebih rendah. Firman Tuhan pun jelas menggambarkannya sebagai sepadan. Para suami dituntut untuk hidup secara bijaksana bersama istri. Bagaimana mungkin kita mengaku bijaksana jika kita tidak mau mendengarkan suara istri kita? Bijaksana artinya kita harus memberikan kesempatan bagi mereka untuk menyampaikan pendapat, keluh kesah, unek-unek atau masukan, dan mau mempertimbangkannya, bahkan menuruti apabila apa yang mereka katakan itu membawa kebaikan untuk keluarga. Bijaksana artinya menyampingkan ego pribadi dan lebih mementingkan apa yang terbaik bagi kita dan keluarga. Jelas pula dikatakan selanjutnya bahwa kita harus menghormati istri kita sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Itu menyatakan dengan jelas betapa tinggi posisi wanita yang sebenarnya menurut kacamata Tuhan. Begitu tinggi, bahkan dikatakan doa pun bisa terhalang apabila kita mengenyampingkan hal ini dalam kehidupan berumah tangga.

Dalam Amsal dikatakan: "Isteri yang cakap siapakah akan mendapatkannya? Ia lebih berharga dari pada permata." (Amsal 31:10). Seorang istri cakap itu lebih berharga dari permata, tetapi berapa banyak suami yang sadar bahwa mereka memiliki seseorang yang jauh lebih berharga dari permata di sisi mereka? Berapa banyak yang menganggap istri hanyalah sebagai objek pelengkap yang tidak berhak bersuara apa-apa? Bukankah sudah seharusnya sebuah penghargaan khusus layak kita berikan kepada para istri, yang sudah menjadi sosok penolong luar biasa dalam rumah tangga? Pesan Tuhan kepada para suami Kristen jelas. Kita harus bertindak bijaksana, mau mendengarkan mereka, mengasihi, menghargai dan melindungi, termasuk pula menghormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia. Hari ini, berikan ucapan terima kasih kepada mereka dan mungkin juga ungkapan maaf apabila kita masih kurang pantas memperlakukan mereka. Betapa hampanya hidup tanpa mereka, oleh karena itu bersyukurlah jika hari ini anda masih dikaruniai seorang istri yang luar biasa.

Istri bukan untuk ditindas tetapi dikasihi dan dihargai

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...