========================
"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing."
Instrumen musik seperti gong atau canang (cymbal) bisa membuat sebuah komposisi menjadi semakin unik, apalagi ketika dipadukan dengan instrumen-instrumen modern elektrik, maka kesan yang timbul akan jauh berbeda. Ada banyak musisi jazz yang mulai melirik penggunaan instrumen-instrumen pelengkap ini untuk menambah rasa dan warna dalam musik mereka. Gong atau canang tidak bisa dipakai untuk memainkan notasi seperti halnya piano, saxophone atau gitar. Tapi pada penggunaan yang tepat kedua instrumen ini akan melengkapi kesempurnaan sebuah komposisi. Tapi coba bayangkan seandainya gong atau canang ini dibunyikan tanpa pola, asal-asalan dan seenaknya. Tentu yang muncul adalah bunyian nyaring (cymbal) atau berdengung (gong) tanpa arti yang malah akan mengganggu pendengaran kita. Saya ingin menyambung renungan kemarin tentang kasih. Jika kemarin saya sudah menggambarkan betapa besarnya peran kasih dalam kehidupan ini, hari ini kita akan melihat lebih lanjut kasih seperti apa yang sebenarnya mampu membuat perbedaan itu. Paulus menjabarkan itu semua secara lengkap dan jelas dalam 1 Korintus 13. Mari kita lihat seperti apa kasih yang sebenarnya.
"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." (1 Korintus 13:1). Paulus mengatakan, meski dia bisa berkata-kata dengan berbagai bahasa yang ada di dunia ini bahkan bahasa malaikat sekalipun, tapi jika ia tidak memiliki kasih terhadap orang lain, maka ia tidak lebih dari bunyi gong dan canang tanpa makna, yang hanya berbunyi tapi tidak punya arti apa-apa. Lalu kita lihat ayat berikutnya. "Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (ay 2). Paulus adalah orang yang punya begitu banyak karunia. Dia memiliki karunia bernubuat, dia punya pengetahuan yang sangat dalam mengenai rahasia surgawi dan kita tahu bahwa Paulus adalah sosok yang memiliki iman yang kuat. Ia menyebutkan iman seperti yang digambarkan Yesus, dimana iman yang sebesar biji sesawi saja akan mampu memindahkan gunung untuk tercampak kelaut seperti yang bisa kita baca dalam Matius 21:21 dan Markus 11:23. Tidakkah semua itu luar biasa? Mungkinkah orang yang memiliki karunia selengkap itu dikatakan tidak berguna? Tapi Paulus menekankan, bahwa sehebat apapun orang itu, sebesar apapun kemampuan rohani seseorang, mereka tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mempunyai kasih. Selanjutnya Paulus berkata: "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." (ay 3). Suka amal? Banyak menyumbang untuk gereja? Atau bahkan merelakan diri untuk dibakar karena agama yang anda anut? Rela mati dibom demi kepercayaan? Semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kasih. Banyak orang yang salah menangkap pesan ini. Mereka mengira bahwa semakin banyak kita memberi sumbangan, maka itu berarti kita semakin mengasihi. Padahal sebenarnya ada begitu banyak motif dibalik sebuah pemberian. Lihat apa kata Yesus. "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:2). Pemberian bisa didasarkan karena mengharapkan sebuah imbalan atau balas jasa, mengharapkan pujian, agar keinginan kita dipermudah dan sebagainya. Atau malah mengira kita bisa menyuap Tuhan dengan melakukan pemberian yang besar. Dan ini seringkali dilakukan banyak orang. Tapi perhatikanlah, pemberian sebesar apapun, bahkan menyerahkan diri kita sendiri sekalipun jika tidak didasari kasih tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian. Apa yang Dia lihat adalah motif di balik sebuah pemberian itu. Itulah sesungguhnya yang akan membedakan apakah Tuhan berkenan atau tidak lewat pemberian kita itu. Dan dasar yang berkenan bagi Tuhan adalah kasih. Pemberian yang didasari kasih yang tulus, sekecil apapun itu, meski hanya sebuah senyum sekalipun, itu akan dihargai Tuhan.
Paulus menjabarkan apa saya yang menjadi bagian dari kasih yang sungguh-sungguh ini. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Inilah gambaran dari buah-buah yang dihasilkan oleh kasih yang sesungguhnya. Inilah sebentuk kasih yang bisa membawa perubahan nyata. Kasih seperti inilah yang mampu membuat perbedaan. Ketika kita memiliki kasih yang seperti ini, kita akan melihat langsung betapa kasih itu tidak akan pernah gagal. We'll see how love never fails to make a difference. We'll see how love never fails to succeed in every aspects of our lives. Iman, pengharapan dan kasih merupakan tiga hal yang sangat penting untuk kita miliki. Paulus menyebutkannya demikian. Tapi jangan lupa bahwa ia menekankan: "yang paling besar di antaranya ialah kasih." (ay 13). Pengetahuan dan nubuatan pada suatu saat akan lenyap, pengharapan dan iman akan selesai ketika kita sudah sampai di hadapan tahta Allah dengan selamat dan sudah melihat segala bukti dengan sempurna kelak, namun kasih akan terus bersama kita dalam kehidupan kekal. Karenanya kasihpun disebutkan Paulus sebagai yang terbesar. "Kasih tidak berkesudahan." (ay 8).
Penting bagi kita untuk mengetahui kasih seperti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk kita aplikasikan dalam hidup. Dia sudah memberikan itu semua lewat Roh Kudus (Roma 5:5). Sekarang keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau mengaplikasikannya dalam setiap sisi kehidupan kita, mencurahkan kasih Allah kepada orang lain juga, atau kita hanya mau menyimpannya untuk diri sendiri saja. Sesungguhnya kedua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan manusia itu haruslah berjalan secara bersamaan. Bayangkan jika kita hanya terus menyumbang untuk Tuhan namun melupakan sesama kita yang sedang tertimpa kesusahan. Kita membuka dompet lebar-lebar untuk pembangunan gereja, namun tetangga kita yang ditimpa masalah tidak kita pedulikan. Atau sebaliknya, kita rajin menyumbang sesama, namun tidak mau mengambil bagian dalam pekerjaan Tuhan. Itu bukanlah bentuk kasih yang penuh.Lakukan keduanya sejalan, dan dasarkan dalam kasih, bukan kepentingan-kepentingan lainnya.
Pengharapan terhadap dunia yang fana ini akan sia-sia. Tapi kasih yang bersumber dari Allah, yang dikaruniakan lewat Roh Kudus itu mampu membebaskan. Meski kita bisa berbicara dalam berbagai bahasa, hebat dalam menyampaikan berita dari Tuhan, memiliki pengetahuan hingga rahasia-rahasia firman Tuhan, memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut, sangat royal menyumbang bahkan rela dibakar sekalipun demi kepercayaan yang kita anut, jika kita tidak mempunyai kasih maka semuanya akan sama sekali tidak berguna, sia-sia atau percuma. Tuhan Yesus mengingatkan "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Dan Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan kasih, di dalam kasih. Jika bentuk kasih yang sebenar-benarnya ini yang kita miliki, disanalah orang akan bisa melihat kemuliaan Tuhan secara nyata. Itulah yang akan membedakan kita dari dunia ini. Hari ini mari kita baca baik-baik dan renungkan kemudian perkatakan 1 Korintus 13 ini. Dan mulailah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Kasih seperti itu sudah dicurahkan Tuhan bagi kita, tinggal kita yang mengeluarkan, mengolah dan memakainya untuk bisa menjadi berkat bagi siapapun tanpa terkecuali. Only then you will witnesss that love really never fails.
Sehebat apapun kita, tanpa kasih semua hanya akan sia-sia
Antara manusia dan hewan terdapat perbedaan bahasa sehingga sulit untuk berkomunikasi. Beberapa jenis hewan pintar memang bisa dilatih untuk mengerti bahasa kita, tapi itu pun tidak seluruhnya. Mereka belajar dari kebiasaan hingga akhirnya bisa mulai mengerti satu dua hal. Secara umum kita tidak bisa berkomunikasi layaknya seperti kepada sesama manusia. Demikian pula ketika kedua anjing kami hadir melengkapi keluarga di waktu yang berbeda. Mereka tidak mengerti dan terus melakukan kesalahan demi kesalahan, tapi lama kelamaan mereka mulai menyerap peraturan-peraturan yang ditetapkan bagi keduanya. Apa yang menjadi dasar atau awal? Tentu hubungan personal antara kita dan hewan peliharaan harus dibina terlebih dahulu. Jika tidak, maka mustahil mereka mau menuruti apa yang kita perintahkan. Membina hubungan memerlukan sebuah awal pula, dan awal yang terbaik untuk itu adalah kasih. Itu yang kami terapkan di rumah, dan kini kedua hewan ini sangat mengerti apa yang benar dan salah. Itu semua dimulai dari kasih. Kedua anjing kami tahu bahwa mereka dikasihi. Mereka belajar segalanya bermula dari kasih. Jika kepada hewan saja kasih mampu menciptakan sebuah ikatan dengan tujuan kebaikan, apalagi kepada sesama manusia. Singkatnya, saya percaya satu hal yang juga ditekankan oleh alkitab: Kasih tidak pernah gagal.
Seorang teman hari ini baru saja menceritakan beberapa permasalahan yang menimpanya. Tumpukan masalah ini tak pelak membuatnya stres dan tidak tahu bagaimana menyelesaikannya. Jangankan menyelesaikan, mengurai permasalahannya saja dia kelihatannya sudah sulit. Terkadang masalah itu hadir demikian sulitnya sehingga membuat kita tidak mampu berkata-kata lagi. Untuk berdoa pun bisa bingung, karena beban berat itu membuat kita sulit merangkainya dalam bentuk perkataan. Kita tahu bahwa Tuhan sanggup, namun kita tidak tahu bagaimana menyampaikannya. Kita tahu Tuhan itu Maha Tahu, tapi kita merasa kurang pas jika kita tidak mengatakannya. Ini seringkali jadi permasalahan banyak orang, terutama yang tengah ditimbuni beberapa persoalan berat sekaligus seperti teman saya tadi. Lidah serasa kelu, kita tidak lagi bisa berpikir jernih dan mulai gelisah bahkan stres. Sesungguhnya Tuhan mengerti mengenai hal ini, dan Dia pun telah menyediakan solusi yang bisa membantu kita dalam menghadapi persoalan, terutama persoalan berat yang membuat kita tidak lagi bisa menyampaikannya.
Pernahkah anda merasa frustasi menghadapi kelemahan-kelemahan dari kedagingan anda? Pernahkan anda bertekad untuk tidak lagi menyerah kepada dosa tertentu yang secara khusus seringkali menjerumuskan anda, namun pada akhirnya lagi-lagi anda terjatuh dalam lubang yang sama ketika godaan itu muncul? Pernahkah anda mengalami sebuah pemulihan ketika mengikuti retret atau altar call, namun setelah itu anda kembali jatuh pada kebiasaan buruk yang lama? Kita semua pernah terjadi atas diri kita. Tidak hanya kita, bahkan para rasul pun pernah mengalaminya. Petrus misalnya. Ia baru saja bersumpah untuk tidak akan pernah menyangkal Yesus. "Kata Petrus kepada-Nya: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua murid yang lainpun berkata demikian juga." (Matius 26:35). Tapi beberapa saat kemudian ia terjatuh bahkan melakukannya berkali-kali. "Dan ia menyangkalnya pula dengan bersumpah: "Aku tidak kenal orang itu." (ay 72). Paulus pernah juga mengalami perasaan seperti ini. "Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat." (Roma 7:19). Betapa sulitnya menundukkan diri kita meski kita sudah bertekad penuh untuk berubah. Ini permasalahan banyak orang dari dulu hingga kini. Bagaikan menyusun bangunan dengan kartu, sedikit tersentuh saja atau tertiup angin kartu-kartu itu bisa rontok kembali. Atau seringkali kita seperti tikus yang terus saja terjebak dalam perangkap tikus dengan umpan yang memikat daging kita. Kita memang merupakan pribadi yang sangat rentan. Alkitab berkata: "roh memang penurut, tapi daging lemah."
Sebuah adegan yang mengharukan muncul di televisi beberapa waktu yang lalu. Saya lupa persisnya acara apa, yang pasti itu adalah sebuah reality show dengan hidden camera yang mencoba menguji kejujuran dan ketulusan seseorang. Jika ia lulus dari ujian itu, maka ia akan mendapatkan sejumlah besar uang sebagai imbalan dari kejujuran dan ketulusannya. Saya terharu melihat bahwa ternyata masih ada orang yang jujur dan tulus di dunia ini, sesuatu yang mungkin sudah menjadi pemandangan langka di jaman yang semakin sulit. Dan itu tertangkap kamera. Ada seorang pengantar uang yang pura-pura kesulitan mencari alamat. Ia menghampiri sebuah warung kecil, dan meminta tolong kepada seorang ibu yang kebetulan ada di sana untuk membantu mengantarkan uang itu. Uang itu ditujukan kepada seorang bapak yang sedang sakit. Ibu itu kemudian bersedia mengantarkan dan segera beranjak pergi menuju rumah si bapak yang sedang sakit itu. Saya mula-mula mengira bahwa alamat yang dituju tidak jauh. Ternyata ibu itu harus berjalan jauh dan dua kali berpindah angkutan umum untuk bisa mencapai rumah bapak yang sakit. Ia tidak sedikitpun membuka amplop uang itu sepanjang perjalanan. Dan belakangan diketahui ternyata ibu itu pun sedang sakit pula. Dalam keadaan yang juga tidak sehat, ia masih rela pergi jauh untuk mengantarkan sesuatu kepada orang yang tidak ia kenal, dan menyerahkan seluruh isi amplop itu. Akibat kejujurannya, sang ibu mendapat ganjarannya, ia dihadiahkan segepok uang yang serta merta membuatnya menangis dalam penuh rasa syukur.
Bagi banyak orang Natal dan Tahun Baru identik dengan salju. Kita melihat begitu banyak kartu-kartu ucapan yang didesain dengan mengikutsertakan salju di dalamnya. Foto-foto pun demikian. Betapa indahnya melihat segala sesuatu yang putih bersih berpadu dengan kerlap kerlip lampu dan berbagai hiasan. Tidak jarang orang meletakkan kapas pula di pohon natalnya agar mendapatkan sedikit efek menyerupai salju. Ada pula yang membeli snow spray yang bentuknya lebih mirip lagi dibanding kapas. Sepuluh tahun yang lalu saya sempat merasakan sendiri bagaimana syahdunya natal di sebuah negara Skandinavia yang penuh salju. Benar-benar sangat indah. Saya masih ingat betul betapa bahagia rasanya ketika salju turun dengan lembut menerpa wajah ketika saya berjalan di luar rumah. "Christmas wouldn't be complete without snow.." kata teman saya pada waktu itu. Teman dekat saya lainnya yang tinggal di Kanada pernah pula mengirimkan foto suasana penuh salju di dekat rumahnya, itu pun sangat indah. Terlepas dari dinginnya udara ketika musim dingin, tapi kehadiran salju memang sudah menjadi hal yang tidak terpisahkan dari sebuah suasana Natal dan Tahun Baru yang indah.
Pesimis atau optimiskah anda memandang tahun yang baru ini? Beberapa teman pengusaha memandang tahun ini sebagai tahun yang akan lebih sulit lagi dari tahun sebelumnya. Ada banyak perusahaan gulung tikar di tahun 2009, ada banyak yang mengalami kesulitan. Bagi saya pribadi, justru tahun 2009 kemarin adalah tahun yang luar biasa. Memegang janji Tuhan terbukti tidak pernah sia-sia. Ada begitu banyak mukjizat dan berkat yang Dia sediakan sehingga saya dan keluarga sama sekali tidak merasakan kegoncangan apapun selama tahun 2009. Bahkan sebuah rumah yang indah hadir di penghujung tahun 2009 kemarin. Itu berkat yang luar biasa, mengingat dari gaji standar yang saya terima, saya seharusnya tidak akan mampu membelinya. Pindah dari rumah kontrakan ke rumah sendiri tentu merupakan sebuah hal yang luar biasa, apalagi tanpa perlu menyicilnya selama bertahun-tahun. Perlukah saya korupsi agar saya mampu membeli rumah? Perlukah saya cemas memikirkan tempat tinggal? Perlukah saya terus berkeluh kesah dalam kekhawatiran dalam setiap doa? Tidak. Tuhan tahu persis apa yang kita butuhkan. Tahun lalu saya melangkah dengan iman memasuki tahun yang menurut sebagian orang merupakan tahun yang sangat sulit, dan itu terbukti. Tuhan mampu mencukupi bahkan menurunkan berkatNya di saat dunia berada dalam kondisi apapun. Sebab Tuhan kita adalah Tuhan yang tidak terbatas.