Wednesday, January 14, 2009

Sang Penebus

Ayat bacaan: Yohanes 1:29
====================
"Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia."

tuhan tidak adil, yesus sang penebusSeorang teman saya tadi bercerita bahwa ia baru aja membantah dosennya, karena sang dosen dengan lantang berkata bahwa Tuhan itu tidak adil. Sang dosen mengatakan bahwa berbagai bencana yang terjadi di dunia ini adalah untuk menyiksa manusia dan menunjukkan ketidakadilan Tuhan. Dengan tegas dia membantah, dan akibatnya ia mendapat hukuman di "suspend" untuk beberapa hari. Namun untunglah, dekan menganulir hukuman tersebut karena menurut si dekan, ia punya hak untuk mengeluarkan pendapatnya. Baru saja saya kemarin menulis renungan tentang kitab Yoel, dan apa yang terjadi pada teman saya itu mengingatkan saya akan renungan tersebut. Jika dibaca sepintas, terlihat hukuman yang dijatuhkan Tuhan memang mengerikan. Tapi kita harus melihat hal ini lebih luas, karena hukuman itu bukan sembarangan dijatuhkan apalagi menganggap bahwa itu adalah bentuk tindakan kesewenang-wenangan Tuhan yang mempermainkan manusia bagaikan boneka demi kepuasan pribadi. Kemarin saya sudah menuliskan bagaimana Tuhan memulihkan segala sesuatu dengan seketika begitu kita bertobat. Itu menunjukkan belas kasihNya yang luar biasa. Bahkan dosa semerah kirmizi sekalipun akan menjadi seputih salju, semerah kain kesumba pun akan seputih bulu domba. (Yesaya 1:18). Dan itu akan langsung kita peroleh. Bukan saja diampuni, tapi Allah bahkan tidak lagi mengingat dosa kita. (Yeremia 31:34). Bukti lain bahwa Tuhan adalah penuh kasih dan sangat menyayangi kita? Tuhan ternyata juga pro-aktif. Nabi demi nabi diutus untuk mengingatkan manusia agar kembali berbalik dari jalan-jalan yang sesat. Dan tidak berhenti sampai disitu. Tuhan pun mengutus AnakNya yang tunggal agar kita tidak binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal. (Yohanes 3:16).

Inilah yang diucapkan Yohanes ketika ia memperkenalkan Yesus kepada murid-muridnya. Apa yang tertulis pada Yesaya 53 akhirnya digenapi, dan Yohanes tahu dia tengah berhadapan dengan Anak Domba yang dinubuatkan dalam Yesaya. Yohanes pun tahu bahwa ia adalah orang yang ditugaskan Tuhan sebagai pembuka jalan bagi pelayanan luar biasa Yesus di dunia ini, sebagai tanda betapa Allah mengasihi kita semua. Kedatangan Yesus ke dunia ini adalah untuk membayar lunas segala dosa-dosa kita lewat karya penebusan di atas kayu salib, kemudian memulihkan hubungan kita dengan Bapa. Kedatangan Yesus ke dunia adalah bukan untuk memanggil orang benar, melainkan untuk orang berdosa. "... Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17). Penebusan Kristus pun tidak berbicara hanya bagi satu orang, satu suku atau satu bangsa saja, tapi berlaku untuk semua manusia, (1 Timotius 2:6)  untuk dosa seluruh dunia (1  Yohanes 2:2). Demikianlah besarnya kasih Tuhan pada kita semua.

Jika kita menyadari hal diatas dengan benar, tentu kita akan sadar bahwa Tuhan teramat sangat mengasihi kita. Dia sangat peduli dan tidak ingin satu pun dari kita berakhir pada tempat penuh siksaan dengan api belerang yang menyala-nyala. Dia sangat mengerti kelemahan kita, karenanya Tuhan tidak pernah berhenti mengingatkan kita, malah menganugrahkan Kristus untuk menebus dosa-dosa kita, menyelamatkan kita dan memulihkan hubungan kita denganNya. Sudah sepantasnya kita mensyukuri kasih Tuhan yang begitu besar. Bertobat dan berbaliklah dari jalan-jalan yang salah jika kita menghargai kasihNya, dan tekunlah menjaga diri agar tidak terjerumus terus menerus ke dalam dosa. Menuduh Tuhan tidak adil, seperti halnya dosen teman saya di atas tidak akan keluar dari mulut atau pikiran kita jika kita benar-benar memahami pribadi Tuhan yang sesungguhnya.

Kristus Sang Penebus adalah bukti nyata kasih Allah yang begitu besar bagi manusia

Tuesday, January 13, 2009

Mukjizat Kesembuhan Atas Jazzel

Ayat bacaan: Matius 18:19-20
======================
"Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."

mukjizat kesembuhan, anjing kecilBeberapa hari setelah natal menjelang tahun baru kemarin anjing betina kecil kami yang sudah kami anggap seperti anak sendiri, namanya Jazzel, tiba-tiba meraung kesakitan luar biasa ketika saya hendak menggendongnya. Saya kaget, karena tidak biasanya dia seperti itu. Saya menyadari pasti ada yang salah.. dan ketika saya melihat tubuhnya, benarlah demikian. Bagian dadanya membengkak seperti ada tulang yang patah. Saya dan istri pun sempat panik, kemudian menelpon dokter hewan. Namun tampaknya tidak ada dokter yang buka, karena bertepatan dengan hari libur umum. Sementara bentuk dada Jazzel di sebelah kanan terlihat menakutkan karena bengkak. Di tengah rasa cemas, kami memutuskan untuk berdoa bersama. Lalu kami duduk berdua, memegang punggung Jazzel yang masih gemetar kesakitan dan berdoa bersama. Apa yang terjadi? Begitu selesai berdoa, Jazzel langsung berjalan tanpa terlihat sakit, namun bengkaknya masih ada. Lima menit sesudahnya, dia sudah berani melompat turun naik di sofa. Kemudian, hampir sepanjang malam dia habiskan untuk tidur. Dan besoknya, dada Jazzel kembali normal. Ketika digendong Jazzel tidak lagi merasakan apa-apa. Haleluya!

Itu sebuah mukjizat luar biasa yang kembali hadir dalam keluarga kami. (Silahkan baca kesaksian di "Tuhan Peduli Terhadap Segala Hal" dan "The Other Side Of Taki Story" ) Bayangkan, dada yang membengkak, terlihat seperti ada yang patah, raungan Jazzel yang sangat kesakitan ketika dipegang, dalam seketika Tuhan bisa pulihkan. Dan itu terjadi bukan pada manusia, melainkan pada seekor anjing. Tuhan Yesus sungguh ajaib dan luar biasa. Apa yang menjadi dasar doa kami sore itu adalah ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini. "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Kami memutuskan untuk sepakat, bersatu dalam doa, dalam nama Yesus yang bertahta di dalam hidup dan keluarga kami. Kami menyerahkan permasalahan ke dalam tanganNya dan berdoa, kemudian percaya penuh bahwa Tuhan akan memberikan yang terbaik. Dan hasilnya luar biasa. Yesus luar biasa.

Terkadang ada orang yang ragu apakah Tuhan mau menjawab doa mereka. Apakah masalah mereka cukup layak untuk mendapat uluran tangan Tuhan. Seorang teman pernah berkata "masalahku tidak separah masalah-masalah berat yang dialami sebagian orang, dan Tuhan sudah terlalu sibuk mengurus berbagai masalah berat, pastilah masalah saya tidak lagi sempat diurusNya.." Tidak, tidak demikian. Tuhan tidak pernah terlalu sibuk! Dia selalu mendengarkan doa kita. "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu" (Yeremia 29:12). Tuhan siap menjawab doa-doa kita dan memberikan mukjizatnya. Apa yang kita perlukan adalah :
- Percaya
"Karena itu Aku berkata kepadamu: apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu." (Markus 11:24)
- Tetap hidup kudus sesuai firman Tuhan
"Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya."(Yakobus 5:16b)
- Berani melakukan langkah iman, dan melakukannya dalam nama Yesus
"Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." (Markus 16:17-18)
- Meminta sesuatu yang benar-benar berguna, bukan sekedar memuaskan hawa nafsu duniawi yang bertentangan dengan kehendak Tuhan
"Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yakobus 4:3)

Kepada Yesus telah diserahkan segala kuasa di sorga dan di bumi (Matius 28:18), maka mintalah dalam Yesus, dan Bapa di surga akan mengabulkannya. Tuhan sanggup melakukan mukjizat dalam hidup kita, anak-anakNya yang selalu taat untuk hidup kudus dan percaya sepenuhnya pada kuasaNya. Jika Tuhan sanggup menyembukan seekor anjing kecil, Dia pasti sanggup melakukan mukjizat atas hidup kita. Seperti apa yang diucapkan Ayub: "Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal." (Ayub 42:2), percayalah, Tuhan pasti selalu memberikan jawaban yang terbaik. He never fails!

Mukjizat terjadi pada orang yang percaya pada Yesus sepenuhnya dan taat melakukan firman

Monday, January 12, 2009

Orang Bijak Mendengar

Ayat bacaan: Amsal 1:5
=================
"baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan"

bijak mendengar, rajin bertanyaSekian lama melakukan wawancara dengan berbagai musisi baik dalam negeri, asia dan manca negara, dari yang mulai menapak karir hingga yang sudah sangat terkenal, saya menemukan satu kepuasan dalam melakukan itu. Apa yang membuat saya puas? Saya puas karena saya bisa mengajukan pertanyaan, dan jawaban dari mereka menambah pengetahuan saya. Saya menjadi tahu lebih banyak soal perkembangan musik di luar, perjuangan bagaimana mereka bisa mencapai sukses dan sebagainya. Selalu saja ada hal yang saya tidak tahu sebelumnya, dan saya sampai pada satu kesimpulan: semakin banyak yang saya tahu, semakin banyak pula yang saya tidak tahu. Karenanya semakin banyak wawancara, semakin besar pula keinginan saya untuk tahu lebih banyak lagi. Sebelum melakukan wawancara, saya pun biasanya mempersiapkan diri dengan mengenal calon narasumber saya terlebih dahulu. Biasanya saya memanfaatkan internet untuk mencari tahu siapa mereka sebenarnya, hal-hal penting dalam karir mereka, hingga latar belakang lagu-lagu yang mereka bawakan jika ada. Hasilnya? Saya berhasil menghindari pertanyaan-pertanyaan klise seperti: "sudah berapa album?" , "albumnya sudah dirilis belum?" ,  "lagi sibuk apa?" dan sebagainya. Puji Tuhan, sejauh ini semua musisi yang pernah saya wawancarai menyatakan rasa puas dan senang, karena menurut mereka saya beda dengan kebanyakan wartawan yang kerap kali mengajukan pertanyaan klise yang membosankan. Betapa senangnya mereka ketika mengetahui orang yang bertanya mengenal mereka, jenis musik yang mereka bawakan dan pola permainan mereka. Dan saya pun bisa menggali sisi-sisi teknik maupun seluk beluk lainnya dengan lebih mendalam.

Salomo mengingatkan bahwa agar menjadi bijak, hendaklah kita mau mendengar dan senantiasa haus akan ilmu pengetahuan. Selanjutnya orang yang bijaksana hendaknya selalu punya bahan pertimbangan yang luas dan tidak terlalu cepat menyimpulkan sesuatu hanya menurut pendapatnya sendiri. Masih ada begitu banyak hal yang belum kita ketahui, yang dapat menambah pengetahuan kita akan segala sesuatu, dan akhirnya bisa menjadikan kita sebagai orang dengan wawasan pemikiran luas serta bijaksana. Ketika menghadapi suatu persoalan, kita akan mampu melihat dari berbagai sisi dengan lebih tenang. Terkadang kita hanya ingin mendapat jawaban yang cepat, tapi sesungguhnya untuk membuat hidup menjadi lebih kuat, kita membutuhkan lebih banyak lagi hikmat yang bisa kita peroleh dengan banyak mendengar dan mau tetap belajar. Tidak ada orang yang sudah tahu segalanya. Kita masih harus terus belajar selama kita masih mampu untuk itu. Jangan pernah gengsi untuk bertanya kepada orang lain. Kemudian dengarkan lawan bicara dengan baik, dan berilah kesempatan pada mereka untuk mengungkapkan ide, pola pikir, kebiasaan, pengalaman, nasihat, tips, trik dan lain-lain.

Ada kalanya kita perlu menyampaikan pendapat, ada kalanya kita harus diam dan memberi kesempatan pada orang lain untuk berbicara. Di saat kita diam dan mendengar, disana kita menghargai mereka dan memiliki kesempatan untuk menyerap dan memahami hal-hal baru. Memasang gengsi terlalu tinggi atau bersikap sok tahu hanya akan merugikan kita sendiri. Terhadap suara Tuhan pun demikian. Jangan berdoa hanya satu arah, hanya menjadikan doa sebagai sarana untuk menyampaikan berbagai keinginan dan permintaan ini-itu saja, tapi pakailah doa sebagai saat-saat indah dalam hubungan dengan Tuhan, dimana kita mendengarkan apa kata Tuhan, pesan, nasihat maupun teguran dengan hati yang lapang. "..."Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu!" (Ibrani 4:7). Ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan terus berbicara mengingatkan diri kita agar jangan sampai tersesat dan terjatuh, baik lewat hati nurani, nalar ataupun dari pengalaman kita sendiri atau orang lain. Jangan sampai kita lalai,melewatkan banyak kesempatan untuk bertumbuh dan menjadi orang bebal. "Sebab orang yang tak berpengalaman akan dibunuh oleh keengganannya, dan orang bebal akan dibinasakan oleh kelalaiannya." (Amsal 1:32). Miliki roh yang peka agar kita selalu bisa mendapat berbagai masukan dari hal disekeliling kita maupun dari orang lain. Ketika kita berpura-pura tahu segalanya, disitulah kita melewatkan kesempatan untuk ditambahkan.

Belajarlah dengan mendengar lewat hati yang lunak

Sunday, January 11, 2009

Sedikit Bicara, Banyak Mendengar

Ayat bacaan: Pengkotbah 4:17-5:1
=========================
"Jagalah langkahmu, kalau engkau berjalan ke rumah Allah! Menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik dari pada mempersembahkan korban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh, karena mereka tidak tahu, bahwa mereka berbuat jahat. Janganlah terburu-buru dengan mulutmu, dan janganlah hatimu lekas-lekas mengeluarkan perkataan di hadapan Allah, karena Allah ada di sorga dan engkau di bumi; oleh sebab itu, biarlah perkataanmu sedikit."

sedikit bicara, menghampiri tahta AllahAda sebuah ungkapan yang pernah saya dengar, kira-kira bunyinya begini: "the more you talk, the more you expose yourself." Semakin banyak kita bicara, semakin terbukalah diri kita dengan segala kelemahannya. Ada juga yang pernah berkata, "the more you talk, the more stupidity fly out." Ada beberapa orang yang mengaplikasikan ungkapan-ungkapan ini secara terlalu sempit, sehingga mereka menjadi pelit kata, dan hanya bicara ala kadarnya. Sebaliknya ada yang terlalu banyak menghamburkan kata, sehingga dianggap kebanyakan omong kosong. Berbagai pemilihan kepala daerah dan calon legislatif terlalu sering memberi janji-janji muluk, orasi berapi-api yang menyatakan jika mereka terpilih, bukan saja rakyat daerah yang dipimpinnya, tapi seolah-olah dunia ini pun akan langsung makmur. Dan ketika mereka terpilih, janji hanyalah tinggal janji, karena tidak ada yang berubah secara substansial. Dalam kerohanian, ada banyak pula orang yang bernazar macam-macam agar doanya dikabulkan. Tapi begitu dikabulkan? Jangankan melakukan nazarnya, berterimakasih pun lupa.

Salomo mengingatkan agar kita menjaga langkah, sikap, perbuatan, ucapan dan perkataan ketika kita menghampiri tahta Allah. Adalah lebih baik untuk mendengar apa kata Tuhan dalam doa-doa kita, daripada melemparkan segepok daftar permintaan pada Tuhan. Apalagi kalau pakai janji macam-macam. "kalau Tuhan kabulkan, aku akan begini, begitu..." terlalu banyak janji muluk, dan ketika saatnya tiba, janji-janji itu tidak ada satupun yang terpenuhi. Ayat berikutnya dalam Pengkotbah melanjutkan lebih jauh. "Karena sebagaimana mimpi disebabkan oleh banyak kesibukan, demikian pula percakapan bodoh disebabkan oleh banyak perkataan." (Pengkotbah 5:2). Lalu dengarlah mengenai nazar: "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya." (ay 3-4).

Ketika kepada sesama manusia pun kita harus menjaga perkataan kita, lebih terutama lagi kita harus menjaga perkataan kepada Tuhan. Segala perkataan itu, sekecil apapun tetap harus dipertanggungjawabkan. Yesus mengingatkan demikian: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Jika perkataan saja sudah begitu penting, lebih penting lagi sebuah janji, apalagi jika janji itu ditujukan pada Tuhan. Karena itu, hendaklah kita tidak mengumbar terlalu banyak perkataan dan permintaan dalam setiap doa kita. Latihlah diri agar bisa menjadi pendengar yang peka saat menghampiri Tuhan, karena Dia adalah Tuhan yang sangat mengetahui  segala sesuatu yang kita butuhkan. Seperti halnya prinsip berdoa yang diajarkan Tuhan Yesus : "Lagipula dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan." (Matius 6:7), biarlah kata-kata kita sedikit agar kita bisa mendengar apa yang hendak Dia katakan dan tawarkan dalam keheningan.

Adalah lebih penting untuk mendengar perkataan Tuhan daripada menumpuk daftar permintaan

Saturday, January 10, 2009

Iman Yang Radikal

Ayat bacaan: Daniel 3:17-18
====================
"Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu."

iman yang radikal, sadrakh, mesakh, abednegoSeberapa jauh kita sanggup berjalan dengan iman? Seberapa besar kasih kita pada Tuhan? Ini sebuah pertanyaan yang mungkin terdengar klise, dan jawabannya pun mungkin klise, namun jika kita benar-benar renungkan, ini sebuah pertanyaan yan sebenarnya sulit untuk dijawab, apalagi untuk dijalankan secara nyata dalam kehidupan kita. Mungkin mudah bagi kita untuk percaya pada Tuhan ketika doa-doa kita dijawab, ketika mukjizat terjadi, ketika berkat Tuhan turun atas kita, ketika kita dilepaskan dari pergumulan dan kesesakan. Namun, mampukah kita memiliki iman yang sama ketika kita tengah berada dalam jurang masalah, ketika kita belum melihat satupun "tangga" yang dapat membawa kita keluar dari jurang tersebut? Tadi malam sebelum tidur, saya diingatkan akan kisah tiga orang berani yang punya iman luar biasa akan Tuhan: Sadrakh, Mesakh dan Abednego.

Alkisah, ada tiga pemuda yang berani melawan titah raja Nebukadnezar. Pada saat itu, sang raja baru membuat patung emas dengan tinggi enam puluh hasta dan lebar enam hasta (kurang lebih 27 x 3 m), dan ia memerintahkan seluruh bangsa, suku dan bahasa untuk menyembah patung tersebut. Mendengar perintah tersebut, bangsa-bangsa itu pun sujud menyembah patung tersebut, agar raja tidak menimpakan murka dan menghukum mati mereka yang membantah. Hukuman yang ditetapkan bagi pembangkang tidak main-main. "dan bahwa siapa yang tidak sujud menyembah, akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala." (Daniel 3:11). Namun lihatlah, diantara mereka yang tunduk, ternyata ada 3 orang yang berani membantah. Mereka adalah Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Seketika mereka pun ditangkap dan dibawa menghadap raja. Raja pun berkata: "...jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dan dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?" (ay 15). Apa jawab mereka? "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (ay 17-18). Mendengar itu, Nebukadnezar pun murka. Dia memerintahkan prajuritnya untuk menyiapkan perapian tujuh kali lebih panas dari biasanya untuk membakar ketiga pemuda itu hidup-hidup. Saking panasnya, api itu sampai membakar orang-orang yang mengangkat Sadrakh, Mesakh dan Abednego ke perapian. Apa yang terjadi selanjutnya? Nebukadnezar kaget melihat bahwa ketiga orang itu tidak terbakar sama sekali. Bahkan ia melihat ada "orang keempat" berjalan bebas ditengah-tengah api, dan seluruhnya tidak terbakar. (ay 25). Lalu takutlah Nebukadnezar dan segera bergegas membebaskan ketiga pemuda tadi. Mereka tidak terbakar sama sekali, bahkan bau hangus pun tidak ada pada mereka. (ay 27). Sang raja pun kemudian berkata "Terpujilah Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego! Ia telah mengutus malaikat-Nya dan melepaskan hamba-hamba-Nya, yang telah menaruh percaya kepada-Nya, dan melanggar titah raja, dan yang menyerahkan tubuh mereka, karena mereka tidak mau memuja dan menyembah allah manapun kecuali Allah mereka." (ay 28).

Teman, inilah bentuk iman yang radikal. Radikal bukan berarti bahwa kita harus memusuhi saudara-saudara kita yang tidak seiman, apalagi sampai melakukan kekerasan atau membunuh. Radikal bukanlah berarti melakukan sebuah gerakan penuh kebencian. Namun radikal yang saya maksudkan adalah mengacu pada pengertian sebenarnya, yakni sampai ke akar suatu masalah, mengerti secara mendalam hingga ke akar-akarnya, bahkan melewati batas-batas logika atau fisik yang ada. Apa yang dimiliki Sadrakh, Mesakh dan Abednego adalah bentuk iman yang radikal, yang tidak pamrih dan hanya terfokus pada berkat dan pertolongan Tuhan semata. Lihatlah sekali lagi jawaban mereka: "Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami...tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku." Ada pertolongan atau tidak, iman mereka tidak goyah sedikitpun. Inilah iman sesungguhnya yang berakar secara radikal dalam hidup mereka.

Ketika kita dihadapkan pada sebuah persimpangan dimana iman kita harus diuji, mampukah kita memiliki keyakinan seperti Sadrakh, Mesakh dan Abednego? Mampu kita mendahulukan iman kita lebih dari segalanya? Mampukah kita berkorban demi iman kita akan Kristus? Hari ini, marilah kita memiliki iman radikal kepada Kristus, percaya sepenuhnya dan tidak pernah putus pengharapan. Ketika pertolongan Tuhan belum tiba pada anda, janganlah tergesa-gesa meragukan kemampuan Tuhan, apalagi sampai meragukan keberadaanNya. Apa yang direncanakan Tuhan bagi setiap kita adalah rancangan damai sejahtera, bukan rancangan kecelakaan untuk memberikan hari depan yang penuh harapan. (Yeremia 29: 11). Dan ingatlah bahwa segala yang diturunkan Bapa pada kita adalah pemberian yang baik dan anugrah yang sempurna. (Yakobus 1:17). Jika anda merasa belum mendapat jawaban, jangan putus asa, dan tetaplah pegang janji Tuhan dengan iman penuh. Ketika anda merasakan berkat Tuhan luar biasa mengalir dalam hidup anda, jangan lupa bersyukur. Dan yang paling penting, ada berkat, pertolongan, mukjizat atau tidak, iman terhadap Tuhan tidak boleh goyah sedikitpun. Marilah miliki iman yang radikal terhadap Tuhan. Trust him fully with all our heart, mind and soul.

Iman radikal adalah mematuhi Tuhan dengan serius bukan karena apa yang dapat Dia lakukan, namun semata-mata karena mengasihiNya sepenuh hati

Friday, January 9, 2009

Ucapan Syukur

Ayat bacaan: Lukas 17:18
========================
"Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?"

ucapan syukur, terimakasih, thank youSulitkah mengucapkan terimakasih? Rasanya tidak akan sulit untuk mengeluarkan dua patah kata itu dari mulut kita. Tapi kenyataannya, ada banyak orang yang sulit untuk mengucapkan terimakasih. Ada seorang pemilik sebuah situs musik yang terkenal dan sukses di Indonesia, dan ia ternyata merupakan salah satu orang yang sulit mengucapkan terimakasih. Beberapa teman saya yang mengenalnya berkata bahwa ia tidak pernah mengucapkan kata itu ketika mendapatkan sesuatu dari orang lain. "jangankan bilang terimakasih, senyum saja tidak", kata salah seorang teman. Apakah ia tidak menghargai? saya tidak tahu, karena saya tidak dalam kapasitas untuk menilai atau menghakiminya. Tapi yang saya tahu, ia termasuk orang yang sulit mengucapkan kata itu. Beberapa tahun yang lalu, saya bertemu lagi dengan salah seorang teman yang baru saja selesai kuliah dari luar negeri. Ketika saya mengucapkan terimakasih pada pelayan yang mengantarkan minuman, dengan tertawa ia berkata,"buat apa bilang terimakasih? itu memang tugasnya kok.." Apakah mengucapkan terimakasih itu tabu? atau memang ucapan terimakasih yang disampaikan dengan tulus itu tidak penting? Saya merasa ucapan terimakasih dan rasa syukur itu patut kita sampaikan sebagai tanda apresiasi dan penghargaan kita terhadap pemberian,usaha atau perbuatan orang lain. Saya yakin semua orang senang jika mendapat ucapan terimakasih. Bagi saya pribadi, itu membuat saya tahu bahwa apa yang telah saya perbuat itu dihargai.

Pagi tadi saya diingatkan akan kisah 10 orang kusta yang tertulis dalam Lukas 17:11-19. Pada suatu kali ketika Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea dalam perjalanannya menuju Yerusalem, ada 10 orang kusta yang menjumpai Yesus. Mereka memohon belas kasihan Yesus. Yesus pun menyembuhkan mereka. Namun berapa orang yang mengucap syukur dan berterimakasih atas mukjizat kesembuhan dari Yesus itu? Hanya 1 orang. Dan itupun orang Samaria. "Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria." (Lukas 17:15-16). Kemana yang lainnya? Mungkin mereka terlalu gembira karena telah sembuh, dan lupa untuk berterimakasih. Maka Yesus pun heran dan berkata: Lalu Yesus berkata: "Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?" (ay 17-18).

Ada banyak orang, dan mungkin kita pun pernah berlaku seperti itu. Ketika masalah menerpa, ketika kita tengah menderita penyakit, kita pun terus menerus berdoa memohon Tuhan melepaskan kita, membebaskan dan menyembuhkan kita. Tapi begitu kita lepas dari masalah, begitu kita sembuh, ketika mukjizat terjadi, kitapun menikmati itu semua secara berlebihan sehingga lupa untuk mengucap syukur atau berterimakasih kepada Tuhan. Doa lebih banyak diisi dengan "Wish list", permintaan dan permohonan ini dan itu. Orang akan terus berdoa ketika mereka butuh sesuatu, namun ketika hidup menjadi nyaman tanpa masalah, orang akan lupa berdoa. Tidakkah kita pun akan merasa sedih ketika apa yang kita perbuat seakan-akan tidak dihargai sama sekali oleh orang yang telah kita bantu? Saya membayangkan betapa kecewanya Tuhan dengan anak-anakNya yang tidak tahu berterimakasih. Dalam kehidupan dengan sesama manusia pun seperti itu. Sebuah ucapan terimakasih yang tulus bisa menjadi jembatan indah sebuah hubungan yang akrab dengan orang lain. Ucapan terimakasih dan ucapan penghargaan bisa membuat semangat orang meningkat, kinerjanya meningkat, bahkan bisa mewakili mengalirnya kasih dari diri kita kepada orang lain.

Dalam Efesus, Paulus mengingatkan kita agar selalu mengucapkan syukur atas segala sesuatu. "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita" (Efesus 5:20) Dalam surat untuk jemaat Tesalonika, ia kembali mengulangi pesan yang sama. "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18). Tidak hanya dalam keadaan cukup, tidak hanya ketika anda berada dalam zona nyaman, tapi ketika dalam himpitan masalah dan berbagai pergumulan, biasakanlah untuk tetap mengucap syukur. Karena seperti ayat bacaan kemarin berbunyi: "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar" (Yesaya 59:1) Tuhan tahu segala pergumulan kita, dan dia tetap memberikan yang terbaik lengkap dengan anugrah yang sempurna. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." (Yakobus 1:17). Oleh karena itu, meskipun mungkin saat ini kita masih belum melihat pertolongan Tuhan turun atas kita, janganlah putus pengharapan. Bahkan yang tidak bisa kita lihat sekalipun, yang tidak terpikirkan sebelumnya, yang tidak bisa dianalisa secara logika sekalipun dapat hadir dalam hidup kita jika kita menantikan dengan tekun. (Roma 8:25). Karena itu, hendaklah kita senantiasa mengucapkan syukur dan terimakasih, baik kepada orang lain sebagai ungkapan rasa syukur dan penghargaan atas jerih payah, pemberian maupun atas usaha mereka, terlebih kepada Tuhan atas berkat, rahmat, karunia dan penyertaanNya yang setia sepanjang hidup kita. Ucapan syukur dan memuliakan Tuhan yang keluar dari mulut kita bahkan merupakan sebuah persembahan korban syukur yang indah bagi Tuhan. "Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya." (Ibrani 13:15).

Learn how to always be thankful and say it sincerely right from your heart

Thursday, January 8, 2009

Ajaibnya Tuhan

Ayat bacaan: Yesaya 59:1
===================
"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar"

ajaibnya TuhanSebagai seorang wartawan, mengejar narasumber untuk mendapatkan berita merupakan hal mutlak. Begitu pula dengan sebuah tugas dalam festival Jazz internasional di Jakarta akhir bulan November yang lalu. Ada seorang musisi legendaris asal Indonesia yang sekarang tinggal di luar negeri tampil di sana. Selain harus berjuang untuk memintanya bersedia di wawancara, saya juga adalah fans beratnya sejak dulu. Begitu banyak orang yang mengejarnya untuk foto bareng, sementara dia juga harus meluangkan waktu untuk makan malam dan bertemu dengan teman-teman lamanya, para musisi dari Indonesia, membuatnya membatasi kesempatan untuk bersama para penggemar. Saya bisa bayangkan, jika ia ladeni semuanya, mungkin seluruh waktunya akan habis tersita. Maka restoran tempat ia makan pun dijaga, pengunjung yang masuk ke dalam dibatasi selama ia berada disana. Saya tidak punya waktu banyak, karena di saat yang sama, ada 4 atau 5 panggung lainnya yang harus saya liput, belum lagi mencari kesempatan wawancara dengan musisi-musisi lainnya. Dalam hati saya berdoa, singkat saja, mungkin terkesan sambil lalu.. saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi saya percaya Tuhan mampu memungkinkan saya bertemu dengan si artis legendaris itu. Singkat saja, saya cuma berkata demikian dan menyerahkan pada Tuhan. Haleluya, mukjizat terjadi. Tuhan menjawab doa saya dengan instan. Begitu saya ucapkan "amin"... tiba-tiba artis itu menoleh ke arah saya dan memanggil saya. Ia pun memanggil saya untuk masuk ke ruangan restoran. Apa katanya? Dia berkata, bahwa dia sudah melihat saya beberapa kali di area acara, dan ada sesuatu yang berbeda dari saya, katanya. Dia tidak tahu saya wartawan, tapi yang dia tahu dia harus memanggil dan bertemu saya. Akhirnya, tidak hanya bisa foto bersama, tapi dia juga memberikan nomor telepon dan emailnya. "you can contact me anytime you want.." begitu katanya.Ajaib.

Urusan seperti di atas mungkin sepele bagi sebagian orang, tapi bagi seorang fans dan wartawan, itu adalah sangat penting. Ketika kita mendengar kata mukjizat, banyak orang yang mengartikan mukjizat dengan mengacu pada sesuatu yang "besar", seperti orang mati dihidupkan, orang sakit berat disembuhkan, orang lumpuh berjalan, orang buta melihat dan sebagainya. Tapi sebenarnya mukjizat Tuhan tidaklah terbatas pada itu saja. Dalam hal-hal yang relatif "kecil" dan mungkin subjektif, seperti kesaksian saya diatas pun, itu tetap merupakan mukjizat dari Tuhan. Hal yang sangat mustahil, bukan saya yang menemukan jalan bertemu dengan si artis, tapi malah si artis yang memanggil saya.Padahal saya berada di tengah kerumunan begitu banyak orang. Jika itu bukan atas kuasa Tuhan yang ajaib, bagaimana hal itu mungkin dengan logika manusia? Ketika menghadapi kendala, kita seringkali sibuk sendiri mencari jalan sesuai logika dan kemampuan daya pikir kita sendiri, namun kita lupa bahwa ada Tuhan yang pegang kendali atas hidup kita. Jika penyertaan Tuhan ada dalam pekerjaan dan hidup kita, maka mukjizat demi mukjizat baik besar maupun kecil bukan lagi merupakan hal yang aneh. Ketika kita mau hidup sesuai kehendakNya, terus berusaha hidup kudus, maka ayat bacaan hari ini menjadi nyata. "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar.."(Yesaya 59:1). Haleluya. Tuhan Yesus telah berkali-kali mengingatkan akan hal ini juga. Matius 17:20 misalnya, mengatakan jika kita punya iman meski sebesar biji sesawi saja, gunung sekalipun akan pindah. "..dan takkan ada yang mustahil bagimu". Dalam Markus 9:23 Yesus juga berkata, "Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!" Atau ayat berikut: "Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."(Markus 10:27).

Tidak ada yang mustahil, semua mungkin bagi Tuhan. Tangan Tuhan tidak pernah kurang panjang untuk menolong, dan telingaNya tidak pernah kurang tajam untuk mendengar kita. Hiduplah dengan benar, lalu serahkanlah seluruh hidup kita ke dalam tanganNya. Tuhan kita adalah Allah yang peduli, yang tahu pasti apa yang menjadi kebutuhan kita. Alami hari-hari penuh berkat, penuh mukjizat, rasakan kehadiranNya yang ajaib dalam setiap pergumulan anda, karena bagi Tuhan tidak ada yang mustahil.

Tuhan mampu bekerja secara ajaib diluar batas logika manusia

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...