===============================
"Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang."
Ada seorang teman yang pernah bercerita mengenai kerinduan akan imannya untuk bisa bertumbuh, tapi dia merasa masih jalan di tempat selama bertahun-tahun. Ia sudah berdoa, tapi tetap saja ia tidak merasakan adanya hasrat kuat untuk mendalami Alkitab, secara teratur menyediakan waktu untuk saat teduh, bahkan kerinduan untuk beribadah bersama di gereja. "keinginan sih jelas ada... tapi tetap aja malas rasanya untuk berdoa apalagi baca Alkitab.." begitu katanya. Saya pun pernah mengalami hal-hal seperti itu. Ada masa dimana saya mengantuk di gereja, ada masa dimana saya begitu malas membuka Alkitab, bahkan malas berdoa kalau sedang tidak ada yang saya butuhkan. Tapi itu dulu, karena sekarang saya benar-benar merasakan betapa dekatnya Tuhan, dan Dia berbicara setiap hari dalam penyertaanNya yang luar biasa dalam hidup saya. Kita tidak akan bisa bertumbuh dengan instan, dan berharap bahwa dengan satu doa, lalu abrakadabra! Kita tiba-tiba langsung bertumbuh dalam dia. Satu doa, sim salabim, kita tiba-tiba merasakan dorongan yang kuat untuk ber-saat teduh dan membaca Alkitab. No, no...that's not the way it's supposed to be.Memang benar, jika kita membaca 1 Korintus 3:7, kita akan melihat bahwa Allah-lah yang memberi pertumbuhan. Itu benar. Namun ada bagian yang harus kita lakukan. God does his part, but we have to do our part too. Ayat bacaan hari ini mengajarkan kita untuk terus melatih diri kita beribadah. "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7b). Seperti halnya orang yang ingin tubuhnya sehat, mereka pun harus melatih diri mereka agar berolahraga secara teratur. Mau punya tubuh kekar? Pergi ke fitness centre dan bentuklah tubuh disana. Ingin pintar? Belajarlah sungguh-sungguh. Everything in life is a process. Termasuk juga pertumbuhan iman, haruslah melalui proses dimana ada bagian Tuhan, dan ada pula bagian kita, yang harus kita lakukan. Melatih diri untuk beribadah itu sangat penting, karena ada janji yang terkandung disana. Janji yang tidak saja berguna untuk kehidupan di dunia, namun juga untuk kehidupan yang akan datang. (ay 8).
Selain melatih diri, kita juga diajak untuk mematikan segala hal yang bersifat duniawi. "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi..." (Kolose 3:5). Kita tidak akan pernah bisa bertumbuh dan hidup dalam Roh jika diri kita masih terus dikuasai oleh berbagai keinginan daging. Apabila kita menuruti apa yang diinginkan daging, maka kita akan mati, sebaliknya jika kita mematikan hal-hal duniawi dan membiarkan diri kita dipimpin oleh Roh, maka kita pun akan hidup. (Roma 8:13). Agar kita bisa bertumbuh dan menjadi milik Kristus, kita harus hidup dalam Roh, karena menjadi milik Kristus berarti ada Roh Allah yang diam di dalam kita. (ay 9). Roh Allah tidak akan diam di dalam kita jika kita terus membiarkan kedagingan mengambil alih kehidupan kita.
Dengan terus melatih diri untuk tekun dan rajin beribadah dan mematikan keinginan-keinginan duniawi, kita pun akan bertumbuh. Saya mengalami sendiri masa-masa dimana saya tidak bertumbuh dan hanya jalan di tempat dan sekarang merasakan sendiri bagaimana luar biasanya bertumbuh dari hari ke hari. Saya hanya ingin bilang, ada banyak hal yang akan anda lewatkan jika anda tidak bertumbuh. Bertumbuh dalam iman akan Kristus itu indahnya bukan main. Ada damai dan sukacita disana, ada kasih, ada kesabaran, ada pengharapan, dan lain-lain, semua itu begitu menguatkan saya dalam menjalani profesi dan kehidupan. Hidup dipimpin Tuhan itu luar biasa rasanya. Ada banyak hal yang disingkapkan, mata kita akan melihat segala sesuatu dari sebuah sudut pandang yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan. Itu semua adalah pengalaman yang saya alami sendiri. Berdoalah, minta Tuhan untuk melakukan bagianNya, dan lakukan pula bagian anda, dan anda akan bertumbuh. "Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya." (2 Petrus 3:18). Selamat bertumbuh!
Jangan berhenti hanya sebatas "rindu", namun lakukanlah bagian anda agar bisa merasakan pertumbuhan luar biasa dalam iman akan Kristus
Dibalik satu kisah sukses biasanya terdapat seribu kisah kegagalan. Orang mungkin melihat bagaimana suskesnya seseorang, tapi lupa bagaimana orang itu jatuh bangun dan mengalami kegagalan berkali-kali sebelum akhirnya bisa mencapai kesuksesan. Hari ini mendung, dan rumah sangat gelap jika tidak ada lampu. Dan lampu tidak akan kita nikmati jika Thomas Alva Edison berkepribadian mudah menyerah. Thomas Alva Edison memang berhasil menemukan lampu, itu sebuah keberhasilan luar biasa, namun lihatlah berapa banyak hari-hari yang ia habiskan di laboratorium bawah tanah di rumahnya karena terus menerus menemui kegagalan. Tidak kurang dari 2000 percobaan gagal dialaminya, namun itu tidak membuatnya patah semangat, menjadi lemah atau putus asa kehilangan harapan. Thomas Alva Edison berkata: "I never failed once. It just happened to be a 2000-step process" Dia tidak pernah merasa gagal. Sesuatu yang dianggap orang sebagai kegagalan itu, bagi Edison adalah sebuah proses menuju keberhasilan. Pada akhirnya, 2000 langkah proses itu pun menjadi buah karyanya yang bisa kita nikmati sampai sekarang.
Terkadang saya berpikir betapa manusia cenderung untuk sulit merasa puas. Selalu ada saja yang dikeluhkan, selalu ada yang kurang. Hal yang sama pun terjadi pada saya. Dulu, ketika saya belum memiliki pekerjaan, saya mengeluh dan terus berusaha dan meminta agar kiranya Tuhan memberkati saya dengan pekerjaan. Saat ini, ketika saya diberkati dengan pekerjaan yang begitu banyak sehingga saya tidak berhenti bekerja sejak pagi hingga lewat tengah malam selama beberapa hari terakhir ini, akhirnya malam ini tubuh saya terasa berontak. Saya merasa capai, uring-uringan dan akhirnya mengeluh. Jadi pengangguran mengeluh, punya pekerjaan banyak mengeluh. Tapi barusan saya mendapat teguran dalam hati saya, bahwa saya tidak boleh berlarut-larut membiarkan hal itu terjadi. Apa persisnya yang saya dengar? "manusia ini ya.. tidak punya kerja mengeluh, dikasih kerja mengeluh.." Itu perkataan yang saya dengar. Tuhan mengingatkan lagi pada saya, bahwa semua itu adalah berkat. Berkat yang bukan biasa-biasa, tapi luar biasa. Ada banyak orang yang mencari satu pekerjaan saja sulitnya bukan main, sedangkan saya tengah dipercayakan untuk melakukan banyak hal. Betapa keterlaluan jika saya malah mengeluh dan bukannya bersyukur bukan? Apalagi baru saja kemarin seorang murid saya berkata bahwa dia salut melihat saya, yang walaupun sedang sangat sibuk tapi tetap terlihat ceria seperti tanpa beban pikiran. Itu bentuk yang seharusnya ada dalam hidup anak-anak Tuhan. Tapi malam ini saya malah terpeleset dan kehilangan rasa gembira akibat terlalu lelah. Saya pun melakukan doa singkat, dan saat menulis renungan ini, saya sedang tersenyum. Saya kembali merasakan sukacita, merasakan kegembiraan ditengah kelelahan saya. Dan tubuh saya rasanya jauh lebih ringan.
Hari ini ketika saya tengah mengajar, saya tiba-tiba terkejut bukan kepalang. Bagaimana tidak, langit-langit di ruang kelas saya tiba-tiba saja pecah tepat ditengah. Dan seseorang bergantung disana dengan tangannya. Ternyata orang itu adalah salah seorang karyawan di kampus yang tengah membersihkan atap. Maklum, di musim hujan seperti ini atap bisa bocor jika saluran pembuangannya dipenuhi daun-daun yang berjatuhan dari pohon tepat di samping kelas saya. Tanpa sengaja karyawan tadi menginjak bagian yang lapuk, dan akibatnya langit-langit itu jebol, dan dia pun tergantung di langit-langit ruangan. Atap ruangan kelas pun bolong, kami buru-buru menyelamatkannya dan menggeser komputer-komputer ke pinggir agar tidak terendam jika hujan turun.
Banyak orang yang peduli pada dosa-dosa "berat", tapi sedikit yang memperhatikan dosa "ringan". Rasanya mayoritas orang akan tahu bahwa membunuh atau mencuri itu termasuk dosa, tapi tidak banyak yang peka untuk urusan kecil, seperti misalnya membuang sampah sembarangan di jalan. Dalam perjalanan beberapa hari yang lalu ketika saya berhenti di sebuah lampu merah, mobil di depan saya seenaknya melemparkan kaleng coca cola keluar dari jendela seenaknya. Dalam hati saya berkata, "itu termasuk dosa juga loh.." Beruntung orang itu tidak tinggal di Singapura, karena jika ia disana tentu ia akan mendapat hukuman denda dalam jumlah yang besar bahkan kurungan. Dan begitulah manusia, kita cenderung mentaati peraturan karena takut akan hukuman, bukan karena sebuah kesadaran dan kepatuhan dari diri sendiri. Apakah benar membuang sampah sembarangan itu termasuk dosa? Coba pikirkan, jika kaleng itu sampai melukai kaki orang yang menyeberang, atau jika tergiling oleh mobil dan menyebabkan ban orang bocor. Kaleng itu bisa membuat orang lain celaka. Littering atau membuang sampah sembarangan menunjukkan sebuah egoisme atau ketidakpedulian seseorang pada orang lain. Dan itu jelas dosa. Ketika saya melanjutkan perjalanan, dalam hati saya mendengar: "dosa membuang kaleng minuman sembarangan di jalan, tapi kasih karunia memungutnya."
Ingat lagu "Dia buka jalan" yang merupakan versi terjemahan karya Don Moen, "God Will Make A Way" ? "Dia buka jalan, saat tiada jalan..dengan cara yang ajaib, dibukaNya jalanku.." dan sebagainya.. Ini lagu yang tidak asing bagi saya. Ketika di awal perkenalan saya dengan Yesus ditengah pergumulan menghadapi ibu saya yang sedang sakit keras, lagu ini sungguh menguatkan saya. Malam ini sepulangnya saya dari undangan di sebuah pertemuan, lagu ini terus menerus hadir di dalam hati saya. Dan sepanjang jalan pun saya terus mengucap syukur dan berterimakasih pada Tuhan hingga sampai di rumah.
Hari ini sehabis mengajar, saya melihat satu murid saya laki-laki melewati saya sambil menangis tersedu-sedu. Saya pun terkejut dan bertanya mengapa. Ternyata ia merasa tidak sanggup mengikuti pelajaran dan merasa tertinggal dibanding teman-temannya. Situasinya memang berat, karena sebelumnya dia belum pernah sekalipun menyentuh komputer. Dan ketika dihadapkan pada pelajaran-pelajaran untuk mendesain web dan grafis, dia pun merasa shock. Ketika bebannya terasa semakin berat, ia mulai patah semangat dan tidak lagi sanggup menahannya sehingga menangis. Saya kemudian berbicara padanya, menguatkannya dan memberi semangat, dan berjanji akan memberikan waktu ekstra kepadanya agar ia bisa mengejar ketertinggalannya. Setelah setengah jam, akhirnya dia tersenyum lagi.