=====================
"Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta."

Lagu Bad Day nya Daniel Powter terasa seperti menepuk-nepuk pundak saya hari ini... Hari dimulai dengan dibangunkan pagi benar oleh montir yang hendak memperbaiki mobil saya sebelum ia berangkat kerja ke bengkelnya. Air sudah dua hari tidak jalan, dan dua hari ini kami kesulitan air. Piring dan gelas bertumpuk di dapur, begitu juga baju karena tidak ada air untuk mencuci. Jangankan mencuci, untuk mandi pun sulit. Di saat hendak berangkat kerja, mobil mogok lagi! Dan kalau itu belum cukup, gaji saya juga tertahan, belum dibayar tanpa alasan jelas. Orang mungkin maklum kalau rentetan masalah yang terjadi hari ini bisa membuat saya cepat emosi dan kesal. Tapi tidak, saya tidak mau diracuni dengan rasa kesal. Ketika menulis renungan ini, saya sedang berpesta dalam hati saya. Kok?
Saya punya satu pandangan baru sejak lahir baru, "it's all in the state of mind." Ketika hal-hal buruk terjadi, itu tidak berarti semuanya buruk. Dalam segala masalah yang menimpa, pasti ada juga hal-hal baik yang terjadi. Ya, air mati, mobil mogok, gaji belum cair, tapi di hari yang sama saya masih diberkati dengan kesehatan, masih bisa menulis renungan sambil mendengarkan musik, masih diberkati istri yang luar biasa yang saat ini sedang duduk di samping saya, serta dua anjing chihuahua lucu yang sedang bermain-main dengan riang di sekitar kami tanpa masalah. Di atas segalanya, saya tahu Yesus masih beserta kami sekeluarga, dan itu yang terpenting. Mau fokus ke arah yang mana? ke arah hal buruk atau hal baik, itu semua tergantung kita. Dalam hari yang paling indah sekalipun, kalau kita memusatkan pikiran pada hal buruk, maka hari yang indah itu akan berlalu sia-sia. Tepat seperti kata Salomo, jika hati tetap gembira, maka dalam kondisi apapun kita akan selalu berpesta.
Lord is good! Itu yang ingin saya katakan sejak awal. Berbagai masalah yang terjadi hari ini bukanlah berarti Dia sedang tidak peduli pada saya. Kesusahan boleh saja datang ke dalam hidup, tapi Yesus tetap membawa penghiburan yang penuh sukacita. Saya tidak tahu apakah besok air akan hidup kembali, saya tidak tahu kapan gaji akan cair, saya tidak tahu berapa ongkos yang harus saya keluarkan agar mobil bisa jalan lagi, tapi biarlah itu menjadi ujian buat esok hari. "Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." (Mat 6:34). Yang pasti, kemarin, saat ini dan besok, Tuhan selalu ada beserta kami. Karena mobil mogok, hari ini saya diantar kerja oleh istri saya dengan sepeda motor. Untuk pertama kali dia memberanikan diri mengendarai motor di jalan raya, dan itu jadi salah satu memori indah untuk dikenang. Kalau mobil tidak mogok, satu memori indah pasti terlewatkan.
Memiliki Yesus dalam hidup kita bukan berarti kita akan 100% hidup tanpa masalah. Tapi kehadiran Yesus akan selalu membawa damai sukacita dalam hidup yang mampu membuat hati kita terus berpesta dalam kondisi apapun. Indah bukan? Saat ini saya tersenyum, geli juga rasanya membayangkan tumpukan masalah yang terjadi. Menderita karena masalah itu biasa, tapi bersukacita dalam kesusahan, itu beda. Dan semuanya dimungkinkan karena Yesus bertahta dalam diri kita. It's all in the state of mind, the mind that is set toward Jesus.
Tersenyumlah dalam kesusahan, karena dalam Yesus ada sukacita dan damai sejahtera

Ada pepatah yang mengatakan, "tuntutlah ilmu setinggi langit". Saya yakin jika sanggup, tidak ada yang mau mencari ilmu ala kadarnya saja. Semua orang tentu ingin pintar. Orang tua pasti akan mati-matian menyekolahkan anaknya setidaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Biaya pendidikan sekarang semakin melonjak naik dari tahun ke tahun. Ada perguruan tinggi yang dalam setahun saja sudah menaikkan uang pembangunan sampai dua kali lipat. Untuk memasukkan anak ke SD yang punya kualitas baik saja sekarang biayanya sudah mencapai jutaan rupiah. Entah bagaimana tahun-tahun ke depan. Untuk apa menuntut ilmu hingga setinggi langit? Tentunya kita berharap, semakin tinggi ilmu yang kita miliki, semakin besar pula peluang untuk memiliki pekerjaan yang lebih baik. Semakin banyak yang kita pelajari, kita akan tahu lebih banyak. Setidaknya secara teoritis bakal demikian. Bayangkan jika ada orang yang belajar hingga mencapai S2 bahkan S3, tapi tidak pernah bekerja. Ilmunya tidak akan berguna sama sekali dan tidak akan menghasilkan apa-apa.
Ada banyak orang mencapai sukses berkat perjuangan orang tuanya. Dalam kotbah salah satu pendeta, saya pernah mendengar kisah seorang ibu yang diam-diam mengumpulkan beras sisa ayakan demi membayar sekolah anaknya. Ibu saya dulu mengorbankan karirnya, berhenti menjadi dokter agar fokus dalam membesarkan saya dan adik. Setelah kami berdua dewasa, barulah ibu kembali membuka praktek. Di sisi lain, ada banyak juga anak yang hancur hidupnya, karena tidak mendapatkan contoh yang baik di rumah. Keluarga yang retak, orang tua yang sering bertengkar, ayah atau ibu selingkuh, orang tua korupsi dan lain-lain membuat anak-anak mereka menjadi lepas kendali dan hidupnya berantakan.
Human trafficking atau perdagangan manusia merupakan masalah global yang masih cukup sulit untuk diatasi. Data statistik perdagangan manusia cukup memprihatinkan. Meski data sebenarnya sulit untuk diperoleh, namun diperkirakan setiap tahunnya sekitar 600.000 - 800.000 wanita dan anak-anak menjadi korbannya diseluruh dunia. Dari jumlah diatas, korban di Asia mencapai total terbanyak yaitu sekitar 375 ribu, dimana 200.000-225.000 diantaranya berasal dari Asia Tenggara. Indonesia merupakan kontributor terbesar di Asia Tenggara. Tekanan ekonomi yang berkepanjangan, kesulitan hidup yang membuat banyak keluarga berantakan, rendahnya tingkat pendidikan sehingga mudah terbuai bujuk rayu dan tertipu menjadi alasan utama mengapa kasus perdagangan manusia banyak terjadi di Indonesia. Di sisi lain, tingginya permintaan di beberapa negara, umumnya permintaan untuk dijadikan objek seksual membuat banyak orang jahat yang melihatnya sebagai sebuah peluang usaha. Tidak heran begitu banyak wanita dan anak-anak dibawah umur yang tertipu dengan iming-iming kerja di luar negeri, kemudian mengalami pelecehan seksual dan dijadikan budak seks. Ini baru bicara soal penipuan. Di kota kelahiran saya, sekitar tahun 1998, ada seorang ibu pemilik warung kopi yang rela menjual keperawanan anaknya yang masih dibawah umur. Ia "melelang" anaknya untuk ditawar selama seminggu, penawaran tertinggi akan mendapatkan keperawanan si anak. Akhirnya seorang pria tua memenangkan tawaran itu dengan "ganti rugi" hanya 1 juta rupiah. Sungguh keterlaluan.