======================
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman"
Ada sebuah kutipan perkataan Muhammad Ali yang cukup terkenal. "Champions aren't made in the gyms.Champions are made from something they have deep inside them - a desire, a dream, a vision" Seorang juara bukan berasal dari latihan fisik di tempat pemusatan latihan, tapi terbentuk dari apa yang mereka miliki di dalam diri mereka. Kutipan ini mengingatkan saya pada sosok Zoe Koplowitz.
Zoe Koplowitz adalah seorang ibu berusia 54 tahun, yang rutin mengikuti lomba lari maraton di New York. Total maraton yang telah beliau ikuti mencapai 20 buah, semuanya bukan dimenangi Zoe, sebaliknya Zoe selalu finish di urutan terakhir! Ketika juara pertama finish dengan waktu sekitar 2 jam, Zoe mencapai garis finish dengan menempuh waktu 33 jam dan 9 menit, dan dengan sendirinya mencatat rekor waktu terlama dalam sejarah maraton wanita. Memalukan? Tidak. Ini prestasi mencengangkan yang membuat banyak orang kagum dan menjadikan Zoe teladan bagi banyak orang. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: karena Zoe melakukan semua itu dalam keadaan lumpuh. Zoe menderita penyakit multiple sclerosis, sebuah penyakit saraf kronis yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Penyakit ini bisa mengakibatkan berbagai masalah seperti masalah penglihatan, kelemahan otot, depresi, sulit bicara, gangguan berbagai indra sampai rasa sakit. Dalam kondisi parah, multiple sclerosis bisa mengakibatkan kelumpuhan, dan itulah yang terjadi pada Zoe. Zoe hanya mampu berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat penyangga. Dia ingin membuktikan bahwa penyakitnya tidak akan mampu meredam semangat yang ada di dalam dirinya, dan tidak akan pernah menghentikan perjuangannya. Zoe berkata bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk metafora kehidupan. Orang bisa mencapai sesuatu dengan menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Semangat dan keyakinan Zoe membawanya mencapai sesuatu yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan, dengan perjuangan yang saya yakin sungguh berat melawan rasa sakit dan lain-lain, Zoe selalu mampu mencapai garis finish. Finish di tempat terakhir dengan catatan waktu jauh lebih lambat dari normal ternyata tidak menempatkan Zoe pada posisi pecundang, tapi justru seorang juara sejati.Kehidupan kekristenan kita pun sama seperti lomba maraton. Paulus berkata dengan yakin bahwa dia telah mencapai garis akhir. Tips yang diberikan Paulus kepada Timotius cukup jelas, yaitu penguasaan diri, kesabaran menghadapi penderitaan, dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan taat dalam situasi atau kondisi apapun. Kita harus memiliki dan memelihara iman sampai garis akhir. Dalam perlombaan maraton, peserta pasti memiliki semangat ketika mereka mulai berangkat dari garis start. Tapi dalam perjalanan semua peserta akan mulai menghadapi berbagai masalah seperti rasa lelah, terpaan terik matahari, rasa haus, kaki yang sakit dan lain-lain. Sebagian mungkin menyerah di tengah jalan, tapi sebagian lagi mengatasi semua masalah tersebut dan terus berjuang hingga tiba di garis finish. Perjuangan kita menghadapi maraton kehidupan pun sama. Tidaklah mudah untuk taat mengikuti Yesus. Begitu banyak cobaan dan godaan dunia siap memikat kita untuk keluar jalur. Kesuksesan semu, gelimang harta, kegembiraan sementara, godaan nafsu dan lainnya bisa setiap saat membuat kita keluar dari jalur perlombaan dan menyerah sebelum mencapai garis finish. Terpaan masalah, sakit penyakit pun bisa membuat kita berhenti di tengah jalan. Tapi ingatlah pesan Paulus dan bercerminlah dari Zoe. Kita harus terus berjuang sampai akhir, sehingga mahkota kebenaran akan diberikan pada kita.
Seorang juara kehidupan bukanlah orang yang finish paling cepat, melainkan orang yang mencapai garis akhir dengan ketaatan dan keyakinan, tanpa kehilangan iman
Hari ini saya diingatkan pada sejarah kelahiran musik jazz. Mendekati akhir abad ke 19, peta musik dunia didominasi oleh jenis musik blues, ragtime dan marching band. Sekitar tahun 1890 di New Orleans muncullah jenis musik baru yang menggabungkan elemen-elemen dari ketiga jenis aliran di atas, ditambah dengan pengaruh lain seperti dasar musik klasik, dan dibawakan dengan gaya yang berbeda. Musik ini diawali dari penumpahan kebebasan jiwa para budak berkulit hitam ketika menikmati saat-saat istirahat mereka. Ketika pola musik masa itu masih setia pada notasi dan partitur hasil ciptaan komposer yang dimainkan not per not sesuai komposisinya, aliran baru ini mengutamakan improvisasi. Apa yang tertera pada komposisi hanyalah menjadi referensi dasar, kerangka, atau garis batas yang dijadikan patokan bagi para musisi untuk berkreasi penuh dalam improvisasi mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi kelahiran musik jazz. Tidak heran kalau para musisi jazz bisa bebas ber-jam session dadakan tanpa cacat seperti yang tampil pada panggung-panggung live seperti pada Java Jazz 2008 kemarin. Mereka tetap dipandu oleh salah satu musisi, bisa dirigen atau salah satu pemain yang diplot menjadi panduan, sehingga kebebasan berimprovisasi mereka tetap ada dalam kerangka harmoni dari keutuhan lagu. Si "pemimpin" inilah yang mengorganisir mereka, memberi kesempatan bagi masing-masing musisi untuk berkreasi bebas pada saat-saat tertentu, yang seringkali cuma diberikan lewat kode kerlingan mata, anggukan kepala, apabila sang "pemimpin" juga memainkan salah satu jenis musik pada saat yang sama. Dalam pola jazz, tidak ada musisi yang dominan dari awal hingga akhir, yang bisa bermain seenaknya. Bayangkan jika ada salah satu musisi yang merasa bahwa dirinya lebih hebat dan tampil seenaknya tanpa perduli dengan struktur lagu atau perintah sang "pemimpin", bisa dipastikan lagu akan berantakan kehilangan segalanya.
Jika kemarin kita telah melihat mukjizat luar biasa dari Allah yang penuh kasih turun atas Dana Lu Blessing, dimana diluar ekspektasi logika medis ternyata Dana tumbuh sehat dan diberkati, hari ini saya ingin membagikan kelanjutan kisah Dana, ketika dia berusia 5 tahun. Pada suatu hari Dana tengah duduk di pangkuan ibunya. Keduanya tengah melihat kakak Dana, Dustin, yang sedang main baseball. Di tengah obrolan santai bersama ibunya, Dana tiba-tiba terdiam. Dana lalu meletakkan kedua tangannya ke dada, seperti sedang memeluk. Dia bertanya pada ibunya,"ibu, bisa mencium sesuatu tidak?" Si ibu melihat ke langit yang tampaknya mulai mendung dan akan hujan, angin yang mulai bertiup lebih kencang, lalu menjawab: "ya, tampaknya bakal hujan. Seperti bau hujan." Dana menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak ibunya. "Tidak, tidak... ini seperti aroma Tuhan. Ini aroma yang tercium ketika aku berada dalam pelukanNya." Menangislah sang ibu. Ketika 2 bulan pertama mereka belum bisa memeluk Dana, ternyata Dana tetap berada dalam pelukan Allah yang penuh kasih. Ketika sistem saraf dan kulit Dana belum memungkinkan untuk menerima sentuhan dan belaian, tangan Tuhan ternyata memeluk dan melindungi Dana tanpa henti. Tuhan terus memeluk Dana, sampai-sampai Dana bisa mengenal aroma Tuhan dengan sangat baik.
Beberapa hari yang lalu ketika saya makan malam di sebuah warung, ada sekelompok anak muda yang juga sedang makan. Saya mendengar salah seorang dari mereka berkata, "besok gue mau lihat dulu siapa yang bawa nyanyian di gereja.. kalau nggak rame gue keluar aja.." Teman-temannya pun mengiyakan. Saya heran, mereka mau beribadah untuk mendengar firman Tuhan atau mau nonton konser? Saya pernah juga melihat sebuah lowongan pekerjaan untuk pendeta di internet yang isinya benar-benar aneh. Mereka mencari pendeta-komedian. Syarat yang dibutuhkan bukanlah seorang yang dipenuhi Roh Kudus dan terbeban untuk melayani, tetapi: "Must be very funny!! Please send copy of a cd or dvd." Begitu takutnya gereja yang memuat lowongan itu kalau-kalau gerejanya sepi pengunjung, maka dia pun berusaha membuat gerejanya seperti klub humor.
Saya masih ingat ketika mal pertama kali hadir di kota kelahiran saya. Pada waktu itu, satpam yang menjaga di depan, terutama di depan supermarket seakan-akan memiliki dua wajah. Ketika yang datang orang yang berpakaian rapi dan bersepatu, kelihatan mewah, mereka pun memasang wajah ramah. Tapi sebaliknya bagi yang berpenampilan lusuh, atau sendal jepit. Jangankan belanja, masuk pun mereka tidak diijinkan. Saya merasa heran, kenapa mereka menilai seseorang hanya dari penampilan luar. Apakah orang tidak mampu sudah pasti akan mencuri? apakah orang yang berpenampilan luar mewah sudah pasti tidak mencuri? Kenyataannya begitu banyak orang-orang kaya yang terus menerus korupsi, mencuri uang negara bermilyar bahkan trilyunan. Saya pun jadi ingat sebuah anekdot yang pernah saya baca sekian waktu yang lalu, yang saya lupa sumbernya.