Thursday, August 7, 2008

Mencapai Finish Seperti Zoe

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:7
======================
"Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman"

Ada sebuah kutipan perkataan Muhammad Ali yang cukup terkenal. "Champions aren't made in the gyms.Champions are made from something they have deep inside them - a desire, a dream, a vision" Seorang juara bukan berasal dari latihan fisik di tempat pemusatan latihan, tapi terbentuk dari apa yang mereka miliki di dalam diri mereka. Kutipan ini mengingatkan saya pada sosok Zoe Koplowitz.

zoe koplowitz, renungan harianZoe Koplowitz adalah seorang ibu berusia 54 tahun, yang rutin mengikuti lomba lari maraton di New York. Total maraton yang telah beliau ikuti mencapai 20 buah, semuanya bukan dimenangi Zoe, sebaliknya Zoe selalu finish di urutan terakhir! Ketika juara pertama finish dengan waktu sekitar 2 jam, Zoe mencapai garis finish dengan menempuh waktu 33 jam dan 9 menit, dan dengan sendirinya mencatat rekor waktu terlama dalam sejarah maraton wanita. Memalukan? Tidak. Ini prestasi mencengangkan yang membuat banyak orang kagum dan menjadikan Zoe teladan bagi banyak orang. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: karena Zoe melakukan semua itu dalam keadaan lumpuh. Zoe menderita penyakit multiple sclerosis, sebuah penyakit saraf kronis yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Penyakit ini bisa mengakibatkan berbagai masalah seperti masalah penglihatan, kelemahan otot, depresi, sulit bicara, gangguan berbagai indra sampai rasa sakit. Dalam kondisi parah, multiple sclerosis bisa mengakibatkan kelumpuhan, dan itulah yang terjadi pada Zoe. Zoe hanya mampu berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat penyangga. Dia ingin membuktikan bahwa penyakitnya tidak akan mampu meredam semangat yang ada di dalam dirinya, dan tidak akan pernah menghentikan perjuangannya. Zoe berkata bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk metafora kehidupan. Orang bisa mencapai sesuatu dengan menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Semangat dan keyakinan Zoe membawanya mencapai sesuatu yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan, dengan perjuangan yang saya yakin sungguh berat melawan rasa sakit dan lain-lain, Zoe selalu mampu mencapai garis finish. Finish di tempat terakhir dengan catatan waktu jauh lebih lambat dari normal ternyata tidak menempatkan Zoe pada posisi pecundang, tapi justru seorang juara sejati.

Kehidupan kekristenan kita pun sama seperti lomba maraton. Paulus berkata dengan yakin bahwa dia telah mencapai garis akhir. Tips yang diberikan Paulus kepada Timotius cukup jelas, yaitu penguasaan diri, kesabaran menghadapi penderitaan, dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan taat dalam situasi atau kondisi apapun. Kita harus memiliki dan memelihara iman sampai garis akhir. Dalam perlombaan maraton, peserta pasti memiliki semangat ketika mereka mulai berangkat dari garis start. Tapi dalam perjalanan semua peserta akan mulai menghadapi berbagai masalah seperti rasa lelah, terpaan terik matahari, rasa haus, kaki yang sakit dan lain-lain. Sebagian mungkin menyerah di tengah jalan, tapi sebagian lagi mengatasi semua masalah tersebut dan terus berjuang hingga tiba di garis finish. Perjuangan kita menghadapi maraton kehidupan pun sama. Tidaklah mudah untuk taat mengikuti Yesus. Begitu banyak cobaan dan godaan dunia siap memikat kita untuk keluar jalur. Kesuksesan semu, gelimang harta, kegembiraan sementara, godaan nafsu dan lainnya bisa setiap saat membuat kita keluar dari jalur perlombaan dan menyerah sebelum mencapai garis finish. Terpaan masalah, sakit penyakit pun bisa membuat kita berhenti di tengah jalan. Tapi ingatlah pesan Paulus dan bercerminlah dari Zoe. Kita harus terus berjuang sampai akhir, sehingga mahkota kebenaran akan diberikan pada kita.


Seorang juara kehidupan bukanlah orang yang finish paling cepat, melainkan orang yang mencapai garis akhir dengan ketaatan dan keyakinan, tanpa kehilangan iman

Wednesday, August 6, 2008

Belajar Dari Kelahiran Musik Jazz

Ayat bacaan: Matius 6:10
====================
"datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga."

jazz renungan harianHari ini saya diingatkan pada sejarah kelahiran musik jazz. Mendekati akhir abad ke 19, peta musik dunia didominasi oleh jenis musik blues, ragtime dan marching band. Sekitar tahun 1890 di New Orleans muncullah jenis musik baru yang menggabungkan elemen-elemen dari ketiga jenis aliran di atas, ditambah dengan pengaruh lain seperti dasar musik klasik, dan dibawakan dengan gaya yang berbeda. Musik ini diawali dari penumpahan kebebasan jiwa para budak berkulit hitam ketika menikmati saat-saat istirahat mereka. Ketika pola musik masa itu masih setia pada notasi dan partitur hasil ciptaan komposer yang dimainkan not per not sesuai komposisinya, aliran baru ini mengutamakan improvisasi. Apa yang tertera pada komposisi hanyalah menjadi referensi dasar, kerangka, atau garis batas yang dijadikan patokan bagi para musisi untuk berkreasi penuh dalam improvisasi mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi kelahiran musik jazz. Tidak heran kalau para musisi jazz bisa bebas ber-jam session dadakan tanpa cacat seperti yang tampil pada panggung-panggung live seperti pada Java Jazz 2008 kemarin. Mereka tetap dipandu oleh salah satu musisi, bisa dirigen atau salah satu pemain yang diplot menjadi panduan, sehingga kebebasan berimprovisasi mereka tetap ada dalam kerangka harmoni dari keutuhan lagu. Si "pemimpin" inilah yang mengorganisir mereka, memberi kesempatan bagi masing-masing musisi untuk berkreasi bebas pada saat-saat tertentu, yang seringkali cuma diberikan lewat kode kerlingan mata, anggukan kepala, apabila sang "pemimpin" juga memainkan salah satu jenis musik pada saat yang sama. Dalam pola jazz, tidak ada musisi yang dominan dari awal hingga akhir, yang bisa bermain seenaknya. Bayangkan jika ada salah satu musisi yang merasa bahwa dirinya lebih hebat dan tampil seenaknya tanpa perduli dengan struktur lagu atau perintah sang "pemimpin", bisa dipastikan lagu akan berantakan kehilangan segalanya.

Bentuk ini juga terlihat pada doa yang diajarkan Yesus Kristus sendiri. Bukan kehendak kita, tapi kehendak Tuhan-lah yang berlaku di bumi, seperti halnya di surga. Seringkali manusia merasa lebih hebat dari yang lain atau hidup egois menurut kepuasan pribadinya saja. Hal ini seperti sikap musisi yang merasa lebih hebat, menonjolkan kehebatan sendiri saja sehingga menyimpang dari aransemen dan pola dasar sebuah lagu, akhirnya merusak harmoni dari lagu tersebut. Tuhan Yesus mengajarkan sebuah fokus yang benar, bagaimana kekuasaan Allah, kerajaanNya dan kehendakNya seharusnya berlaku bagi kita semua, ciptaanNya yang dikasihi. Tuhan seperti seorang dirigen atau pemimpin ensembel/grup musik yang tengah memainkan sebuah mahakarya seorang Maestro, dan kita semua diminta untuk memainkan bagian-bagian kita mengikuti aransemenNya. Segala kehendak bebas yang diberikan Tuhan pada kita seperti kebebasan berimprovisasi yang tetap ada dalam kerangka dan pola lagu yang benar. Semua itu bersatu dengan harmonis bagi kemuliaan Allah.


Hidup berpusat pada diri sendiri dan merasa lebih hebat dari orang lain akan menghancurkan keharmonisan

Tuesday, August 5, 2008

Dana Lu Blessing (2) : Aroma Tuhan

Ayat bacaan: Kejadian 28:16
======================
"Ketika Yakub bangun dari tidurnya, berkatalah ia: "Sesungguhnya TUHAN ada di tempat ini, dan aku tidak mengetahuinya."

dalam pelukan TuhanJika kemarin kita telah melihat mukjizat luar biasa dari Allah yang penuh kasih turun atas Dana Lu Blessing, dimana diluar ekspektasi logika medis ternyata Dana tumbuh sehat dan diberkati, hari ini saya ingin membagikan kelanjutan kisah Dana, ketika dia berusia 5 tahun. Pada suatu hari Dana tengah duduk di pangkuan ibunya. Keduanya tengah melihat kakak Dana, Dustin, yang sedang main baseball. Di tengah obrolan santai bersama ibunya, Dana tiba-tiba terdiam. Dana lalu meletakkan kedua tangannya ke dada, seperti sedang memeluk. Dia bertanya pada ibunya,"ibu, bisa mencium sesuatu tidak?" Si ibu melihat ke langit yang tampaknya mulai mendung dan akan hujan, angin yang mulai bertiup lebih kencang, lalu menjawab: "ya, tampaknya bakal hujan. Seperti bau hujan." Dana menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak ibunya. "Tidak, tidak... ini seperti aroma Tuhan. Ini aroma yang tercium ketika aku berada dalam pelukanNya." Menangislah sang ibu. Ketika 2 bulan pertama mereka belum bisa memeluk Dana, ternyata Dana tetap berada dalam pelukan Allah yang penuh kasih. Ketika sistem saraf dan kulit Dana belum memungkinkan untuk menerima sentuhan dan belaian, tangan Tuhan ternyata memeluk dan melindungi Dana tanpa henti. Tuhan terus memeluk Dana, sampai-sampai Dana bisa mengenal aroma Tuhan dengan sangat baik.

Ketika kita ada dalam kesesakan, mungkin mudah bagi kita untuk berteriak "dimanakah Tuhan, pedulikah Engkau pada diriku dan masalahku?" Seringkali dalam timbunan masalah yang menenggelamkan, kita sulit untuk merasakan kehadiran Tuhan. Tuhan adalah Allah yang setia sampai selama-lamanya, Dia tidak pernah meninggalkan kita. Lihatlah betapa indahnya kisah di atas, bagaimana Tuhan memeluk Dana melewati masa-masa sulitnya. Orang tuanya tidak bisa melihat hal tersebut dengan kasat mata, dokter dan perawat tidak bisa melihatnya, tapi sungguh Tuhan ada bersama Dana. Kita bisa belajar lewat iman Diana dan David, orang tua Dana yang tidak pernah putus pengharapan dan percaya bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil. Ingatlah bahwa melalui Kristus, Allah telah melengkapi anak-anakNya, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan diri kita untuk menghadapi masa sulit (1 Petrus 5:10). Doa yang disertai iman, dengan iman yang mungkin hanya sebesar biji sesawi sekalipun, punya kuasa dahsyat.


Hadapilah segala sesuatu dengan iman teguh dan penuh pengharapan, jangan pernah patah semangat dan putus asa, karena meskipun tidak terlihat, Tuhan selalu ada bersama anda untuk membantu anda melewati setiap permasalahan.


Meski tidak terlihat atau mungkin sulit dirasakan, percayalah Tuhan selalu ada beserta kita

Monday, August 4, 2008

Dana Lu Blessing (1) : Tiada Yang Mustahil

Ayat bacaan: Markus 10:27
======================
"Yesus memandang mereka dan berkata: "Bagi manusia hal itu tidak mungkin, tetapi bukan demikian bagi Allah. Sebab segala sesuatu adalah mungkin bagi Allah."

Sebuah kisah mukjizat luar biasa yang lahir dari iman teguh kedua orang tua. Pada tahun 1991 di Dallas, Texas, lahir seorang anak yang hanya sempat berada 24 minggu dalam kandungan (normalnya 37-40 minggu). Anak ini, Dana Lu Blessing, hanya memiliki berat kurang dari 1 kg, hanya sekitar 0.7 kg, dengan panjang cuma 30 cm. Kulitnya sangat tipis dan sensitif, sistem syarafnya belum sempat terbentuk sempurna karena lahir prematur, sehingga orang tuanya tidak bisa menyentuhnya. Dana pun harus berada dalam perawatan intensif, penuh alat bantu. Dokter menyatakan pada kedua orang tua, Diana dan David, bahwa bayi mereka tidak punya harapan untuk hidup. Cuma 10% kemungkinan bisa hidup, itupun jika selamat, hidupnya akan penuh masalah. Kemungkinan besar tidak bisa bicara, buta, bakal mengalami kelainan otak, sampai mentalnya terbelakang. Itu vonis dokter ketika melihat kondisi Dana. Dokter malah meminta orang tua Dana untuk mempersiapkan peti buat penguburan Dana. Tapi kedua orang tua Dana menolak hal tersebut. Mereka terus berdoa agar Tuhan hadir melindungi Dana melewati masa-masa kritisnya. "Tidak! Semua itu tidak akan terjadi! Dana tidak akan mati. Satu hari nanti dia akan tumbuh normal dan tinggal bersama kami!" kata Diana. Puji Tuhan, secara perlahan berat Dana bertambah, dan ketika ia berusia 2 bulan, orang tuanya akhirnya berkesempatan menggendong Dana untuk pertama kalinya. Meski demikian, dokter masih mengingatkan bahwa kesempatan Dana untuk tumbuh normal adalah mendekati nol. Berbagai kelainan akan menimpa hidup Dana, kata dokter.


dana lu blessing, renungan harian
Foto-foto Dana Lu Blessing



Tapi bagi Tuhan tidak ada yang mustahil. Dana tumbuh normal, tanpa masalah! Dia tidak mengalami kelainan apapun sama sekali, dan tumbuh seperti layaknya anak sehat. Lihatlah betapa besarnya kuasa doa yang dipanjatkan dengan iman penuh, dan lihatlah betapa Tuhan sangat mengasihi anak-anakNya. Tuhan Yesus berkata "Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya." (Mat 21:22), dan apa yang dikatakan Yesus tergenapi dari kisah ini.

Memberi mukjizat bukanlah hal yang sulit bagi Tuhan. Berkat dan karunia selalu turun buat kita yang sungguh-sungguh taat padaNya. Dia selalu setia berada di dekat kita, baik dalam suka maupun duka, dalam keadaan baik maupun dalam kondisi kita yang paling sulit sekalipun. Tuhan sangat mengasihi kita, dia adalah Allah yang peduli. Yang dibutuhkan hanyalah iman kita, dan kesungguhan hati kita untuk menyerahkan segala perkara ke dalam tanganNya, dan mengijinkan kuasa Allah bekerja atas hidup kita. "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (Filipi 4:13).


Apa yang mustahil bagi manusia, tidaklah demikian bagi Allah.

Sunday, August 3, 2008

Siapa Yang Anda Cari?

Ayat bacaan: 2 Timotius 4:3
======================
"Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya."


tujuan beribadah, renungan harianBeberapa hari yang lalu ketika saya makan malam di sebuah warung, ada sekelompok anak muda yang juga sedang makan. Saya mendengar salah seorang dari mereka berkata, "besok gue mau lihat dulu siapa yang bawa nyanyian di gereja.. kalau nggak rame gue keluar aja.." Teman-temannya pun mengiyakan. Saya heran, mereka mau beribadah untuk mendengar firman Tuhan atau mau nonton konser? Saya pernah juga melihat sebuah lowongan pekerjaan untuk pendeta di internet yang isinya benar-benar aneh. Mereka mencari pendeta-komedian. Syarat yang dibutuhkan bukanlah seorang yang dipenuhi Roh Kudus dan terbeban untuk melayani, tetapi: "Must be very funny!! Please send copy of a cd or dvd." Begitu takutnya gereja yang memuat lowongan itu kalau-kalau gerejanya sepi pengunjung, maka dia pun berusaha membuat gerejanya seperti klub humor.

Miris memang melihat hal-hal seperti di atas, dimana Yesus Kristus ataupun Roh Kudus tidak lagi menjadi subjek, ketika Tuhan tidak lagi menjadi tujuan satu-satunya untuk beribadah. Kita sering mendengar alasan atau keluhan jemaat seperti, "terang aja gue ngantuk, pendetanya boring abis gitu.." , "serius banget sih pak, humor dikit kenapa.." , "ah itu sih gue udah tau, bosen!" dan lain-lain. Atau dialamatkan pada worship leader, "jelek ah suaranya, fals, dan lain-lain. Ketika apa yang mereka dapati dalam ibadah tidak sesuai dengan keinginan alias tidak memuaskan keinginan telinga mereka, mereka pun seolah-olah menganggap tidak ada berkat di gereja itu. Suasana ibadah seolah-olah mati. Padahal apa yang kita cari ketika kita beribadah: Tuhan yang begitu luar biasa mengasihi kita atau pendeta pelawak dan pentas pertunjukan?

Hal seperti ini ternyata sudah diprediksi sejak jauh hari. Paulus telah menulis bahwa akan datang saatnya dimana orang tidak lagi fokus pada ajaran Tuhan, tapi mereka hanya mencari sesuatu yang bisa memuaskan keinginan telinga mereka. Padahal kita tetap bisa memetik pelajaran dari segala hal. Pendeta yang serius pun bisa membawa berkat buat jemaatnya, dan selalu ada hal-hal yang bisa menambah pengetahuan kita dari sesuatu yang telah kita ketahui sekalipun. Waspadalah iblis akan selalu mengaum-aum mencari mangsa (1 Petrus 5:8), dan akan memanfaatkan berbagai keinginan-keinginan daging kita untuk menjauhkan kita dari Tuhan.

Hati yang tulus mencari Tuhan, motivasi yang murni untuk beribadah akan membuat kita melembutkan hati untuk mendengar firman Tuhan, untuk memuji dan menyembah Tuhan dengan segala yang ada di diri kita. Siapapun yang kotbah, siapapun pemimpin pujian, itu bukanlah prioritas utama, karena Tuhan tetap hadir disana. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Mat 18:20). Tuhan bisa melakukan sesuatu dalam ibadah, melalui siapapun. Kita harus selalu menjaga tujuan utama kita untuk beribadah, yaitu untuk mencari dan bertemu Tuhan, bukan hal lain. Berkat akan selalu hadir buat anda dan saya dalam beribadah, siapapun yang melayani.

Mencari dan bertemu Tuhan adalah yang terpenting dalam beribadah

Saturday, August 2, 2008

Dari Penampilan Luar

Ayat bacaan: Yakobus 2:1
=====================
Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka.


orang miskin, renungan harianSaya masih ingat ketika mal pertama kali hadir di kota kelahiran saya. Pada waktu itu, satpam yang menjaga di depan, terutama di depan supermarket seakan-akan memiliki dua wajah. Ketika yang datang orang yang berpakaian rapi dan bersepatu, kelihatan mewah, mereka pun memasang wajah ramah. Tapi sebaliknya bagi yang berpenampilan lusuh, atau sendal jepit. Jangankan belanja, masuk pun mereka tidak diijinkan. Saya merasa heran, kenapa mereka menilai seseorang hanya dari penampilan luar. Apakah orang tidak mampu sudah pasti akan mencuri? apakah orang yang berpenampilan luar mewah sudah pasti tidak mencuri? Kenyataannya begitu banyak orang-orang kaya yang terus menerus korupsi, mencuri uang negara bermilyar bahkan trilyunan. Saya pun jadi ingat sebuah anekdot yang pernah saya baca sekian waktu yang lalu, yang saya lupa sumbernya.

Pada suatu kali ada seorang peminta-minta yang tergerak hatinya untuk datang ke gereja. Di depan pintu dia dihadang oleh para penyambut jemaat, dan diusir ke luar,karena tidak boleh meminta-minta di dalam gereja. Begitu kata mereka. Dia pun duduk di parkiran, dan hanya mendengar sayup-sayup pujian-penyembahan dan kotbah dari luar. Tiba-tiba ada seseorang yang datang mendekatinya dan bertanya, "Sedang apa bapak disini?" Dia menjawab, "saya sedang mengikuti kebaktian.." Kemudian orang itu bertanya, "kenapa tidak masuk saja? Kan lebih jelas kalau duduk di dalam?" Sang peminta-minta menjawab,"saya tidak diijinkan masuk, karena saya kotor.." Si orang menghela nafas dan berkata, "namaku Yesus, saya pun tidak mereka ijinkan ke dalam."

Perhatian para diaken, para pelayan Tuhan, dan terutama kita anak-anak Tuhan! Sadar atau tidak, kita seringkali memandang sesama kita berdasarkan penampilan luar. Yakobus telah mencontohkan langsung bagaimana orang dengan penampilan mewah disanjung dan diberi perlakuan spesial, diprioritaskan, di beri tempat duduk nyaman dan lain lain. Sementara orang yang biasa-biasa, terlihat lusuh tidak dipandang sama sekali. Beberapa evangelis yang pernah saya dengar kotbahnya juga menceritakan bahwa di beberapa gereja yang pernah mereka datangi hal tersebut masih terjadi. "dari pintu masuk pun sudah begitu terasa perbedaannya.." Yakobus mengingatkan kita bahwa Allah bisa memilih orang miskin sekalipun untuk menjadi ahli waris KerajaanNya, dan menjadi kaya dalam iman (Yakobus 2:5). Di sisi lain, orang-orang kaya juga bisa jahat dan menghujat Tuhan (Yakobus 2:6-7).

Kita perlu belajar agar tidak menilai orang hanya dari penampilan luar saja. Hati kita harus tetap dipasangi kacamata kasih, agar kita bisa melihat dan memperlakukan orang secara adil tanpa memandang siapa orang itu. Ketika kita melihat mereka yang kumal dan tidak mampu, ingatlah bahwa Yesus mencintai mereka. "Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku" (Matius 25:40).


Yesus tidak membeda-bedakan dan mengasihi semua manusia, bagaimana dengan kita?

Friday, August 1, 2008

Apa Yang Anda Lihat?

Ayat bacaan: 2 Korintus 10:5
=======================
"...Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.."

titik hitam, renungan harian
Gambar apa yang anda lihat di sebelah kiri? Sebuah titik hitam? Kalau ya, anda sama seperti saya ketika mendapatkan penglihatan kertas seperti itu pada suatu malam. Saya ingat betul, siangnya saya baru saja mengeluarkan komentar yang negatif. Istri saya hobi mengumpulkan kupon yang diperoleh dari hasil belanja di Matahari Hypermart. Ketika kupon telah terkumpul,dia hendak menukarkannya dengan satu set sendok saji yang sejak awal dia idamkan. Tapi ternyata sendok saji itu telah habis stoknya, dan yang ada hanyalah set sendok yang terlihat biasa saja. Saya pun berkata dengan ringan, bahwa itu akal-akalan penjual saja, iming-iming barang bagus yang jumlahnya stoknya sedikit. Dia dengan yakin berkata bahwa barangnya akan masuk lagi, dan dia akan menunggu. Malamnya saya mendapat penglihatan kertas putih dengan titik hitam. Dan ada pertanyaan yang muncul di dalam hati saya: "Apa yang kamu lihat?" Saya jawab, "titik hitam". Kemudian saya mendengar lagi, "kenapa titik hitam itu yang dilihat, kenapa tidak bagian lain berwarna putih, yang jelas lebih besar porsinya ketimbang titik hitam itu?" Saya pun tersentak. Ya, itu bentuk pikiran negatif saya yang hanya melihat dari satu sisi, hanya titik hitam, tapi tidak melihat gambaran keseluruhan dari apa yang disajikan di depan saya, di hidup saya.

Hingga hari ini sebenarnya saya merasa saya telah banyak berubah. Sejak kecil saya terbentuk menjadi orang yang selalu pesimis, berpikiran negatif dan penuh kekhawatiran. Perlahan tapi pasti, sejak menerima Yesus dalam hidup saya, transformasi pikiran itu pun terjadi. Tuhan telah membantu saya untuk merubah pola pikiran negatif yang telah berakar sekian lama menjadi bentuk-bentuk pikiran positif. Saya bisa memandang orang dan dunia ini dengan kacamata yang lebih terang, dengan dasar kasih. Tapi ternyata itu semua belum cukup. Terkadang saya masih juga terjatuh pada pola pikiran negatif. Itu terbukti dari penglihatan kertas putih bertitik hitam ini.

Manusia cenderung lebih melihat sisi negatif daripada positif. Kita lebih tertarik pada tajamnya duri ketimbang merasakan harumnya bunga. Ironisnya, ini seringkali kita lakukan tanpa sadar. Sejak awal saya memang ingin sekali mentransformasi pola pikiran negatif ini untuk keluar dari hidup saya. Hidup positif jauh lebih sehat, lebih baik bagi diri, hati dan jiwa kita. Memang dalam hidup kita sering dihadapkan pada berbagai situasi yang memancing sisi negatif kita untuk keluar, tapi kita harus berusaha sekuatnya agar titik hitam itu tidak mendominasi kita, apalagi kalau sampai titik hitam itu semakin besar.

Dunia penuh dengan negativisme, tapi kita punya Yesus Kristus, dimana kita seharusnya tampil beda dengan apa yang menjadi kecenderungan dunia. Kita harus mampu menawan semua hal tersebut, jangan tenggelam dalam pemikiran yang salah, menghakimi terlalu cepat sebelum kita melihat dulu keseluruhan kondisi.Kita harus segera keluar dari pola negatif ini, dan pilihlah pikiran positif. Kita harus selalu mulai melihat sisi positif dari segala hal seperti yang diingatkan Paulus pada Filipi 4:8 "Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu." Dan dengan demikian, damai sejahtera akan selalu menyertai hidup kita. Akan halnya cerita diatas, istri saya ternyata benar. Dia mendapatkan sendok saji yang dia idamkan.

Hidup penuh pikiran positif, mendasarkan pikiran pada hal-hal yang baik, selain menyehatkan diri, juga akan membuat kita tampil beda, penuh damai sejahtera dan sukacita. Mari kita sama-sama belajar untuk fokus kepada kertas putih ketimbang titik hitam.



Hidup luar biasa dengan pikiran positif ditengah dunia yang negatif menunjukkan kita adalah anak-anak Allah yang mencerminkan diri-Nya.

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...